Kuliah, Kerja, Nyantai / 85
ps. unedited, im tired sowwy x
Taehyung mendorong gerobak pasir bersama Yugyeom karena benda itu berat, penuh dengan tanah becek yang basah lalu membuang isinya ke jurang di seberang jalan.
Tanah longsor yang dimaksud ternyata adalah sepertiga dari halaman PAUD, menutupi nyaris setengah jalan akses utama desa sehingga semua warga bergegas turun untuk membantu membereskan longsoran itu. Anak-anak KKN tiba saat longsor mulai dibereskan dan langsung terjun membantu.
Jeongguk salah satu dari beberapa orang dengan tulang punggung terkuat, dia menggemburkan tanah dengan cekatan dan Taehyung nyaris yakin dia adalah seorang petani di masa lalu karena keterampilannya menggunakan alat tani nyaris menakjubkan.
Dia suka mengamati bagaimana otot Jeongguk bergerak saat dia bekerja, otot lengan atasnya yang mengencang saat dia mengayunkan cangkulnya dan bagaimana dia fokus pada pekerjaannya—dia jadi berkali-kali lipat lebih seksi dari biasanya.
Gotong royong hari itu jauh lebih lama karena volume longsor yang lebih banyak daripada kemarin. Anak-anak bekerja bahu-membahu bersama warga desa menyingkirkan tanah dari jalanan dengan gerobak pasir dan juga ember-ember hitam besar. Momo dan Tzuyu membantu dengan mengangkat ember besar berdua sementara Dahyun yang lututnya belum terlalu sehat, tinggal di pondokan—memasak untuk mereka makan siang bersama Ibu.
Semua orang bekerja sembari mengobrol akrab dan Jeongguk yang memang akrab dengan Karang Taruna Desa, bekerja jauh lebih berisik dari teman-temannya; dia tertawa dan berbagi humor dengan para pemuda yang bagi Yugyeom serta Yoongi lebih sulit untuk mereka dekati. Mungkin karena Jeongguk mendekati mereka dengan rokok, hal yang biasanya langsung membuat para lelaki terkoneksi.
Gotong royong baru selesai menjelang makan siang dan Dzuhur. Mereka duduk di pinggir jalan, makan kerupuk dan minum teh seperti biasa seraya menunggu sisa tanah disapu bersih agar tidak ada yang terpeleset di jalan. Setelahnya, mereka pulang dengan memaggul cangkul—bersiap-siap ke Masjid sementara para anak KKN kembali dengan punggung nyeri.
“Boyokku,” keluh Yugyeom saat mereka akhirnya tiba di pondokan dan semuanya beristirahat di ruang tengah setelah mencuci kaki dan alat-alat Bapak yang meninggalkan mereka bekerja setelah beberapa menit.
“Itu pertama kalinya aku mencoba mencangkul sesuatu dan tidak akan melakukannya lagi,” keluh Tzuyu yang tadi nekat mencoba meraih cangkul yang diletakkan Jeongguk dan menggemburkan tanah; dia berhenti dicangkulan kedua karena otot punggungnya nyeri.
“Kau kurang melatih punggungmu,” sahut Jeongguk yang berbaring terjauh, lelah dan sangat butuh mandi namun dia kalah suit dengan Momo yang menguasai kamar mandi pertama karena dia harus buang air besar.
“Kalian mau makan dulu?” Dahyun muncul dari dapur, tertatih-tatih karena lukanya mulai menyembuhkan diri dan terasa semakin kaku, sulit digerakkan. “Sambil menunggu Momo mandi.”
Mereka mengiyakan, beranjak ke dapur dan mulai makan seraya mengobrol. Ruang makan hanyalah petak kecil dengan dua kursi berseberangan yang bisa digunakan jika mereka enggan beranjak ke ruang tengah untuk makan. Jeongguk duduk di sudut, terdekat dengan makanan dan Taehyung duduk di sisinya.
Mereka hari itu mendapatkan suntikan lauk dari Ibu yang memasak sayur rebung. Yugyeom senang sekali saat membuka tutup panci dan menemukan sayur itu, mengambil banyak-banyak dengan nasi serta lauknya.
“Kau makan sayur rebung?” Tanya Jeongguk saat menyendok sayur, menoleh ke Taehyung di sisinya yang mengamati makanan itu. “Coba saja sedikit, jika tidak mau kau bisa memberikannya padaku.”
Maka Taehyung mengangguk, membiarkan Jeongguk menuang sedikit sayur rebung ke atas makanannya. Mereka beranjak ke meja makan, duduk bersebelahan dan Jeongguk mengambilkan Taehyung lauk, meletakkannya di sisi piringnya.
“Lagi tidak?” Tanyanya setelah meletakkan dua potong tempe di piring Taehyung. “Sambal?”
“Tolonglah, ada yang LDR di sini.” Keluh Dahyun yang duduk di hadapan mereka saat Jeongguk meraih mangkuk terisi sambal terasi untuk menyendokkannya ke piring Taehyung yang memangku piringnya.
“Tidak ramah jomlo,” gerutu Yoongi, menunggu mangkuk sambal di sisi Jeongguk yang memutar bola matanya.
“Makanya, kau tentukan pilihanmu. Jimin atau Dokter Seokjin.” Sahut Jeongguk menyerahkan mangkuk sambal ke Yoongi setelah menyendok untuk dirinya sendiri.
“Sudah kukatakan,” kata Yoongi, menuang sambal ke makanannya lalu meletakkan mangkuk kembali di dalam tudung saji makanan. “Aku tidak menyukai Jimin, kami hanya kenal karena aku sering di student hall dan dia mahasiswa aktif Psikologi.”
“Oh, jadi pada Dokter Seokjin suka, ya?”
“Terserahlah, Gguk.”
Jeongguk tertawa, “Aku hanya bertanya, kenapa kau sewot sekali, sih?” Tambahnya saat Yoongi duduk di sisi Taehyung yang sekarang menyingkirkan rebung di piringnya.
Jeongguk menunduk, menatap rebung yang dipidahkan ke piringnya. “Kau tidak suka, ya?” Tanyanya dengan nada rendah ke Taehyung yang menggeleng, membereskan rebung di piringnya; memindahkannya ke piring Jeongguk.
“Karena kau berisik.” Gerutu Yoongi, mulai menyuap makanannya dengan satu kaki ditumpangkan ke atas kaki lainnya.
“Aku hanya berisik saat aku benar,” sahut Jeongguk, mendengus keras seraya mendekatkan piringnya ke Taehyung yang sibuk memindahkan sayur yang tidak disukainya ke piring Jeongguk. “Jadi, apa kau sudah bertukar pesan dengan Seokjin?” Tanyanya, menunduk ke piringnya—memastikan Taehyung sudah selesai memindahkan sayurnya.
“Bukan urusamu kurasa,” sahut Yoongi seketika itu juga dan semuanya terkekeh.
“Berarti sudah.” Sahut Yugyeom kalem, meletakkan piringnya di meja dan duduk menyamping untuk makan—mengambil sepotong tempe lagi untuk dimakan. “Besok dia datang lagi, omong-omong. Untuk membantu kita program kerja utama juga mengecek beberapa ternak.”
Taehyung mengangguk, menjilat telunjuk dan ibu jarinya yang tadi digunakannya untuk memindahkan lauk ke piring Jeongguk. “Sudah,” katanya pada Jeongguk yang bertanya 'sudah semua?' sebelum menjawab Yugyeom. “Jimin juga akan datang.”
“Boom!” Seru Yugyeom tertawa serak dan Jeongguk terkekeh di kursinya, membereskan makanan yang dipindahkan Taehyung ke piringnya. “Besok akan terjadi prahara rumah tangga!”
“Jimin ini, yang mana orangnya?” Tanya Dahyun, mengunyah makanannya—sejak tadi mengamati para lelaki membahas gebetan Yoongi.
“Aku tidak suka pada Jimin,” kata Yoongi, mendelik. “Setidaknya bukan suka yang itu, berhentilah menggodaku dan dia. Aku tidak mau hubunganku dengan Jimin jadi kikuk.”
“Ya, berarti sukanya pada Dokter Seokjin?” Sahut Tzuyu, tersenyum seperti kucing saat Yoongi mendelik padanya. “Aku, 'kan, hanya bertanya. Kau bisa menjawab persis seperti yang kaujawab saat membicarakan Jimin jika kau memang,” dia meletakkan piringnya di pangkuannya lalu membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya, “Tidak suka pada Dokter Seokjin, kok.”
“Burn,” Taehyung terkekeh, menyadari bahwa Yoongi sebentar lagi akan termakan omongannya sendiri. “Ah, jangan lupakan Desi. Kasihan anak itu, cintanya tak terbalaskan.”
“Oh, demi Tuhan!” Erang Yoongi dan semuanya tertawa.
“Sulit sekali jika kita punya Casanova di kelompok ini, 'kan?” Ledek Jeongguk membiarkan Taehyung mengambil jatah tempe gorengnya—mereka biasanya menjatah lauk 3-4 potong per orang karena mereka menghemat uang makan dan Jeongguk biasanya merelakan dua potong lauknya untuk Taehyung walaupun dia makan seperti monster.
Taehyung selalu ingin mengganti lauk itu dengan ciuman. “Nanti kuganti,” katanya tersenyum lalu mulai makan lagi namun Jeongguk hanya mengangguk sambil lalu, sudah terbiasa Taehyung melakukannya.
“Membuat semua orang jatuh cinta lalu mematahkan hatinya, duh.” Katanya melanjutkan menggoda Yoongi sementara Taehyung terkekeh di sisinya dengan dua potong tempe hasil jarahan dari piring Jeongguk. “Jangan lupa karma, Yoon.”
“Bicara sekali lagi, kupukul rahangmu, Gguk.”
“Tae, dia jahat padaku!”
Taehyung terkekeh, mengulurkan tangan dan menepuk kepala Jeongguk sayang—seperti seekor anak anjing yang mengibaskan ekornya saat diberi cemilan. “Jangan nakal,” katanya.
“Apa-apaan ini?” Seru Momo yang baru muncul dari kamar mandi, dengan handuk di bahunya dan tas terisi alat mandi di tangannya. “Aku baru habis mandi dan mereka pacaran di depanku? Tidak sopan!”
Jeongguk merangkul pinggang Taehyung yang tertawa, menariknya mendekat hingga piring Taehyung nyaris terguling jatuh dari pangkuannya lalu mengecup puncak kepalanya dengan suara keras hingga semua orang mengerang. Termasuk Taehyung yang tertawa, senang mendapatkan ciuman yang diinginkannya lalu balas merangkul pinggang Jeongguk erat.
“Bagaimana dengan itu, hah?” Tanyanya dan kemudian mengaduh saat Dahyun menendang tulang keringnya dengan kakinya yang sehat.
Semua orang benci Jeongguk, itu valid.
“Ayo, Mas, Mbak.”
“Ya, Pak!”
Semua anak bergegas keluar dari kamar, wangi dan rapi bersiap untuk berangkat ke tempat rewang 40 Harian dilaksanakan. Bapak sudah rapi dengan peci dan batik, membawa senter besar yang akan menerani jalan mereka. Jeongguk berdiri di pintu dan menunggu Taehyung yang bergegas menghampirinya; mereka berdua mengenakan batik yang serasi, tidak sengaja.
Taehyung mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter sementara Jeongguk berjalan di sisinya, menyalakan rokok. “Aku mau,” katanya dan membiarkan teman-teman mereka yang tidak kuat asap untuk jalan duluan.
Jeongguk meletakkan kotak rokoknya di tangan Taehyung yang langsung mengeluarkan sebatang, menyelipkannya di bibirnya lalu menggunakan pematik Jeongguk untuk menyalakannya. Sejenak wajah Taehyung diterangi warna jingga dari api pematik sebelum padam setelah rokok menyala.
Dia mengembalikan pematiknya seraya menghisap rokoknya dalam-dalam, mengehembuskannya dari hidung dan mulutnya. Mereka kemudian berjalan bersisian, di bawah sinar bulan purnama yang temaram dan Taehyung memutuskan untuk mematikan senter ponselnya karena cahaya cukup untuk menerangi jalan mereka.
Obrolan anak-anak yang berjalan di depan mereka terdengar sayup-sayup, Dahyun digandeng Tzuyu dan Momo sebagai pengganti alat bantu berjalan, kakinya sudah semakin baik tapi proses penyembuhannya masih berlangsung. Kulit mulai tumbuh di lukanya, perlahan tapi pasti menyembuhkan diri.
“Jadi besok Jimin akan datang?” Tanya Jeongguk kemudian, Taehyung mengangguk seraya menghembuskan asap rokoknya.
“Dia sudah akan datang beberapa hari lalu tapi aku melarangnya karena proker kita lumayan melelahkan.” Taehyung menyelipkan rokok ke bibirnya, menyesapnya khidmat hingga ujungnya berkilau oleh api. “Baru besok dia kuizinkan datang dan sekalian membantu kita proker utama.”
Tadi sore, para lelaki sudah turun ke kota untuk membeli semua peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan besok termasuk bahan-bahan fermentasinya. Bapak berjanji akan mencarikan batang pisang besok sebelum acara pukul sembilan pagi dan juga sudah mempersiapkan kain-kain terpal untuk digunakan mencampur bahan-bahan besok.
“Aku sudah membayangkan betapa lelahnya besok.” Keluh Taehyung dan Jeongguk mengulurkan tangannya, merangkul pinggang Taehyung hangat seraya merokok.
“Kita punya warga untuk menolong, tenang saja.” Dia menghembuskan asap rokoknya ke jalan dan Taehyung balas merangkul pinggangnya.
Benar kata Taehyung saat mereka di kamar Jeongguk, setelah bercinta seperti orang sinting mereka merasa lebih sulit menjaga tangan dari satu sama lain. Taehyung harus benar-benar menahan diri agar tidak menyentuh Jeongguk di muka umum, atau di tempat-tempat yang ingin disentuhnya. Ambil contohnya: dia suka mencubit dada Jeongguk jika dia menyebalkan dan harus benar-benar mengerahkan pengendalian dirinya agar tidak melakukannya secara spontan di depan semua orang.
Mereka bergegas melepaskan tangan mereka saat suara motor terdengar di kejauhan. Mereka menghabiskan rokok mereka, mematikannya di aspal sebelum mengantungi puntungnya dan bergegas menyusul teman-teman mereka yang sekarang mulai mendaki jalur berbatu yang licin.
“Oh, ya Tuhan,” gumam Taehyung dan Jeongguk terkekeh.
Mereka hari ini sangat aktif mendaki jalanan terjal, belum lagi bergotong royong menyingkirkan tanah di jalan dan juga belanja ke Klaten kebutuhan program kerja mereka. Tubuh mereka terasa remuk dan Yugyeom bahkan membeli koyo yang sekarang digunakannya—membawa aroma koyo ke mana pun dia pergi.
“Aku akan minta koyo Yugyeom malam ini,” keluh Jeongguk saat dia membantu Taehyung menaiki jalanan yang mendaki—bebatuannya tajam dan membuat Jeongguk meringis jika dia salah menginjak.
“Aku juga.” Sahut Taehyung, mengerang karena otot di belakang lehernya mulai nyeri karena kelelahan. “Tolong pijati aku juga malam ini, ya?” Katanya pada Jeongguk yang mengangguk.
“Koyo selalu siap.” Yugyeom menjawab beberap meter di depan mereka. “Aku juga punya Hot & Cream yang lebih paten,”
Yoongi tertawa di sisinya, merapatkan jaketnya saat angin malam berhembus. “Kita seperti orang tua, kalian sadar tidak?” Keluhnya dan keempatnya tertawa. “Padahal umurku belum dua puluh dua.”
“Semua karena cangkul.” Yugyeom menyentuh punggungnya yang terisi koyo. “Aku benar-benar menderita di bawah koyo ini.”
“Kau rasakan seharian mondar-mandir mendaki bukit melewati lembah sebelum bicara,” Taehyung merangkulnya dari belakang dan mendesah. “Aromamu seperti koyo, aku ingin pulang dan tidur.”
Yugyeom terkekeh, menepuk tangannya yang merangkul lehernya. “Sabar, kita harus bersosialisasi dulu.”
Mereka kemudian tiba di rumah yang dimaksud, di atas bukit dan menuruni jalanan curam yang hanya muat untuk satu orang bergiliran. Taehyung turun duluan, dipegangi Jeongguk dari atas sebelum mengulurkan tangan membantu Jeongguk turun—seperti biasa dan mereka dipersilakan masuk ke ruang tamu yang dibereskan menjadi begitu luas.
“Kak Gguk!”
Jeongguk menoleh, mendapati Mutia berlari ke arahnya dengan senyuman ompongnya lalu Jeongguk berjongkok, menerima beban tubuh mungil itu di pelukannya dengan suara 'hup!' berat lalu menggendongnya. “Kau dengan mamamu?” Tanyanya.
Mutia mengangguk, memeluk leher Jeongguk lalu menunjuk ke sudut di mana ibunya melambai pada Jeongguk. “Maaf, ya, Mas!” Kata ibunya saat menyadari Mutia sudah berada dalam gendongan Jeongguk.
“Mboten menopo, Bu.” Tidak apa-apa, Bu. Sahut Jeongguk kalem, menaikkan Mutia di gendongannya dan anak itu menempel semalaman dengan Jeongguk, bahkan duduk di pangkuannya saat acara 40 Harian di mulai.
Mereka duduk di atas tikar, mendapatkan jajanan basah yang dibungkus dalam plastik satu kilogram. Taehyung menerima plastik itu lalu menggeleng saat seseorang menyerahkan satu lagi padanya.
“Sudah, Mas.” Katanya lalu Bapak di hadapan mereka berdecak.
“Bukan, Mas. Itu satu bungkus untuk satu orang.” Kata Bapak dan semuanya kecuali Yoongi terkesirap, menatap Bapak kaget hingga beberapa orang terkekeh.
“Ini banyak, Pak.” Kata Yugyeom, menatap makanannya yang terisi sekitar dua belas jenis makanan basah termasuk roti isi kacang hijau yang sedang dimakannya—kelaparan.
Taehyung menatap makanannya, kaget sementara Jeongguk di sisinya sedang bermain 'Kotak Pos Belum Diisi' dengan Mutia yang terkikik-kikik ceria saat Jeongguk menggelitik perutnya setiap dia kalah.
“Memang begitu, diterima saja daripada dianggap tidak menghormati yang punya hajat,” bisik Yoongi ke teman-temannya yang akhirnya menerima makanan itu; isinya jajanan basah, roti, buah salak pondoh yang manis, apem, roti kukus dan masih banyak lagi.
Taehyung mengunyah rotinya, lapar karena Bapak meminta mereka tidak makan dulu sebelum ke hajatan tetangga. Jeongguk masih menikmati waktu berkualitasnya dengan Mutia yang sekarang bersandar nyaman di dadanya, mengantuk.
“Aku iri,” gerutu Taehyung saat Jeongguk mengusap rambut Mutia hingga terlelap. “Aku juga ingin tidur di situ dan dimanjakan.”
Jeongguk terkekeh, mengerlingnya geli. “Nanti, ya?” Sahutnya lembut dan Taehyung mendesah mendengar nada itu—lembut dan sangat sarat kasih sayang, nada yang jarang digunakan Jeongguk namun sekali terbit, nada itu menikam langsung ke jantungnya.
Taehyung tersenyum ke arahnya, memandang Jeongguk yang sedang mengusap kaki kecil Mutia agar dia semakin lelap di pelukannya. Jeongguk membisikkan lagu, menenangkannya dan Mutia nampak sangat nyaman di pelukannya. Tetap lelap bahkan saat acara dimulai.
Mereka tidak paham karena tidak ada yang beragama Islam dan berasal dari desa, jadi mereka hanya menunduk dan mendengarkan dengan khidmat. Tidak ada yang bicara atau saling berbisik, berusaha menghormati acara itu sebaik mungkin.
Taehyung berpikir kue basah dalam plastik 1 kilogram itulah satu-satunya hal paling mengerikan hari itu hingga akhirnya makanan datang; nasi yang agak keras dengan semur daging di atasnya.
Mereka semua berpandangan, sudah terlanjur makan kue basah hingga nyaris kenyang dan masih harus memakan makanan di piring.
“Harus dihabiskan, jika tidak mau dianggap tidak sopan.” Yoongi memperingatkan dan mulai makan makanannya dengan ringkas, menghabiskan porsinya yang sebenarnya tidak banyak jika saja mereka belum menghabiskan kue basah.
“Ya Tuhan,” bisik Taehyung dan Jeongguk terkekeh. Mutia tadi digendong ibunya untuk dibaringkan di belakang karena tidak enak pada Jeongguk yang sudah mulai kesemutan memangkunya.
Namun mereka menghabiskannya juga kecuali para perempuan yang sudah benar-benar kekenyangan sebelum akhirnya mereka kembali pulang; lelah, mengantuk, dan kekenyangan. Jeongguk sudah sangat ingin merebahkan diri di kasur, memejamkan mata dengan tangan Taehyung digenggamannya.
Mereka pulang dalam keadaan lelah dan mengantuk, besok mereka masih harus menyelesaikan program kerja utama mereka dan yakin mereka akan menghabiskan akhir pekan dengan kelelahan. Taehyung hanya berharap Jeongguk tidak sakit lagi kali ini, atau siapa pun anggota mereka tidak jatuh sakit karena kelelahan.
Mereka tiba di pondokan, tidak ada yang bicara semuanya bersiap-siap tidur dalam diam. Anak-anak perempuan langsung tidur, tidak berbicara apa pun lagi sementara Taehyung menggelar kasur dan kantung tidur mereka saat Yugyeom keluar dari kamar.
“Gguk,” panggilnya pada Jeongguk yang merokok di pintu samping.
“Hm?” Sahut Jeongguk dengan rokok di bibirnya. “Kenapa?”
“Nguyuh, ra?” Mau pipis tidak?
Jeongguk menghembuskan asap rokoknya dan mengangguk, “Nguyuh.” Sahutnya.
Yoongi melongok dari kamar. “Arep nguyuh? Melu!” Mau pipis, ya? Aku ikut! Katanya bergegas mengejar Yugyeom dan Jeongguk yang berbarengan ke kamar mandi.
“Kalian pipis bertiga?” Tanya Taehyung saat ketiganya kembali dan Jeongguk masih merokok.
“Bertiga.” Ketiganya mengangguk.
Taehyung mengerjap. “Berhadap-hadapan?” Tanyanya lagi.
“Tidak,” Yugyeom menggeleng ngeri. “Aku di toilet, Gguk dan Kak Yoon di depan bak mandi saling memunggungi. Terbayang tidak?”
Taehyung mengerjap, sudah di dalam kantung tidurnya—siap berbaring menunggu Jeongguk di sisinya. Jika dipikir-pikir, kegiatan tidur mereka seperti kegiatan pasangan yang sudah menikah karena mereka praktis berbagi ranjang saat ini—walaupun tidak seintim itu.
“Tidak mau membayangkan.” Tukasnya lalu keduanya masuk kamar dan Jeongguk mematikan rokoknya, menutup pintu samping—menyelotnya lalu merangkak ke kasur mereka.
Dia meraih koyo yang ada di dekat mereka, mengulurkannya pada Taehyung yang bergegas membantunya. Jeongguk menaikkan kausnya, memaparkan punggungnya ke Taehyung dan membuat tato elangnya menatap Taehyung.
“Sakit sekali, ya?” Tanya Taehyung saat dia meraih selembar koyo dan melepaskannya dari kertas perekatnya. “Di mana?” Tanyanya.
Jeongguk mengulurkan tangannya ke belakang, menyentuh titik di punggungnya yang terasa nyeri. Taehyung menempelkan koyo di sana, lalu menekannya lembut hingga Jeongguk mendesah saat hangatnya koyo mulai menjalar di ototnya yang nyeri.
Kemudian Jeongguk memasangkan koyo di punggung Taehyung, sebelum keduanya berbaring dan mendesah panjang—sangat kelelahan setelah seharian beraktivitas di luar dugaan mereka.
“Malam, Gguk.” Gumam Taehyung, lelah dan mengantuk. “Terima kasih untuk hari ini.”
“Malam, Tae.” Balas Jeongguk parau, tangan mereka terpaut di dalam keremangan sebelum keduanya memejamkan mata. “Terima kasih juga untuk hari ini. Semoga besok lebih baik.”
Lalu mereka lelap, begitu saja.