Kuliah, Kerja, Nyantai / 97

ps. unedited, im tired. sowwy xx


“Aku lari dulu!”

Taehyung menguap, melambai saat Jeongguk mulai beranjak keluar dan berlari kecil naik ke jalan besar. Dia meraih kacamatanya yang tergeletak beberapa meter dari kantung tidurnya, mengenakannya sebelum semua nampak jelas. Dia menguap sekali lagi, mendapati Yugyeom keluar dari dapur dengan rambut awut-awutan dan tengah mengaduk gelas terisi Energen.

“Pagi, Tae.”

Taehyung terkekeh, melipat kantung tidurnya. “Pagi, Yugyeom. Tidurmu nyenyak?”

Yugyeom duduk di kursi, melipat kakinya hingga lututnya berada di dadanya—matanya menerawang setengah mengantuk seraya menyesap sarapannya yang panas. “Nyenyak,” katanya parau.

Taehyung menoleh, “Bangun dulu.” Godanya sebelum meregangkan tubuh dan beranjak ke kamar mandi. Pagi itu suasana berkabut karena hujan semalam, dinginnya menggigit kulitnya.

Dia berhenti di depan kamar mandi karena seseorang sedang di dalam lalu meregangkan tubuhnya. Menguap keras dan menggaruk kepalanya yang terasa gatal, menyelipkan tangannya ke dalam kaus untuk menggaruk badannya. Dia ingin buang air kecil.

Di kandang, Pulgoso menatapnya lalu mengembik berharap Taehyung akan memberikannya setangkai rumput gajah yang terikat di bawah kandangnya. Taehyung tertawa kecil, menggeleng.

“Tidak, aku bukan Jeongguk.” Katanya lalu pintu kamar mandi terbuka, Dahyun tertatih-tatih keluar dan Taehyung bergegas mengulurkan tangan membantunya menuruni undakan dari pintu kamar mandi ke tanah. “Hati-hati,” gumamnya.

“Trims, Tae.” Dahyun tersenyum, membawa handuk dan tas alat mandinya beranjak kembali ke dalam rumah dan Taehyung memasuki kamar mandi.

Dia buang air kecil lalu mencuci wajahnya, menyugar rambutnya yang setengah basah sebelum menyiram kakinya dengan air yang sedingin es sebelum mengerang karena suhunya yang membuat tulangnya ngilu. Dia bergegas keluar, melangkah dengan sandal yang berisik karena basah ke arah jemuran di samping rumah untuk mengelap wajahnya.

Dia menoleh ke tanjakan arah pondokan, melihat Tzuyu sedang duduk di sana dengan ponsel menempel ke telinganya. Rambutnya diikat dengan jepit, membentu gelung longgar di atas kepalanya—beberapa anak rambut luruh dari ikatannya dan wajahnya masih mengantuk. Dia mengenakan kaus KKN dan celana pendek.

Taehyung mengelap tangannya, memutuskan untuk bergabung dengan Tzuyu. Dia masuk ke dalam pondokan, meraih kotak rokoknya dan Jeongguk (mereka berbagi karena membeli Marlboro di sini sulit sekali) serta pematiknya lalu beranjak naik.

Dia sengaja bergerak perlahan, memberikan waktu untuk Tzuyu menyudahi panggilannya. Namun detik berikutnya ketika dia mendongak, gadis itu sedang menakupkan telapak tangannya di wajahnya—bahunya terguncang.

Astaga!

“Tzu??” Taehyung bergegas berlari menaiki jalan yang agak rusak itu dan duduk di sisinya, menyingkirkan ponsel Tzuyu dari sana—mengamankannya. “Hei, hei, kau oke?” Tanyanya lembut.

Tzuyu masih terisak, suaranya lirih namun cukup untuk membuat Taehyung ngilu. Dia menepuk bahu Tzuyu lembut, dua kali karena merasa tidak sopan jika dia tiba-tiba memeluknya. Walaupun dia tidak suka perempuan, bukan berarti dia bisa seenaknya menyentuh perempuan tanpa izin.

“Kau mau kupanggilkan Momo atau Dahyun?” Tawarnya.

Tzuyu menggeleng, dia mengangkat wajahnya—menyeka air mata dan anak rambut yang menempel di wajahnya karena air mata. Wajah, hidung, dan matanya merah padam karena tangis.

Taehyung menatapnya, menunggunya hingga tenang sementara dia menyeka air matanya dengan lengan bajunya yang sekarang basah. “Kau mau cerita?” Tanyanya. “Aku bisa mendengarkan, kok.”

Tzuyu menoleh, menatapnya sejenak sebelum membersit. Taehyung tertawa, dia merogoh sakunya selalu memiliki tisu di sana karena dia punya sinus—dingin membuatnya pilek. Dia mengeluarkan selembar dan memberikannya pada Tzuyu yang menerimanya dengan penuh syukur.

Dia membersit keras ke tisu, “Maaf.” Katanya sengau lalu meremas tisunya hingga menjadi bola. “Aku hanya bertengkar dengan kekasihku,” katanya kemudian perlahan, menatap ke tiga siluet gunung yang nampak di hadapan mereka kapan pun cuaca pondokan cukup cerah.

“Apakah kalian sering bertengkar?” Tanyanya lagi, lembut dan tidak mendesak. Dia ingin Tzuyu nyaman mencurahkan perasaannya.

Tzuyu mengangguk, menunduk menatap tisu di tangannya. “Tapi belakangan ini alasannya semakin aneh-aneh saja.” Keluhnya, mulai gemetar lagi menahan tangis. “Dia tahu aku sedang KKN, dia juga sedang KKN. Pondokannya di desa sebelah, tapi dia selalu marah-marah jika aku terlambat membalas pesannya. Aku sudah jelaskan jika di pondokan ini susah sinyal. Bukan salahku, 'kan, jika di pondokannya ada sinyal dan di pondokan kita tidak?”

“Bukan, jelas bukan.” Sahut Taehyung tenang.

Tzuyu membersit lagi ke tisu yang sudah kumal di tangannya. Taehyung mengulurkan kemasan tisunya dan Tzuyu menerimanya dengan penuh syukur. “Katanya dia akan main besok Minggu,” dia membersit lagi hingga Taehyung tersenyum kecil. “Ingin mengecek teman-teman sepondokanku. Curiga aku selingkuh.”

Taehyung menghela napas. “Kenapa kau masih bertahan dengan lelaki seperti ini?” Tanyanya kemudian. “Dari ceritamu, sepertinya sudah tidak ada lagi hal baik dalam dirinya. Dia posesif, penuh curiga, pemarah.” Dia menatap Tzuyu yang sedang mengeringkan air matanya. “Tidakkah kau... lelah?”

Tzuyu menelan ludahnya, menatap tisu di tangannya dan mendongak—nampak merah padam karena tangisannya. “Karena Kak Tae mengatakannya,” dia kemudian menyeka hidungnya kembali. “Aku lelah. Lelah sekali.” Bisiknya.

“Lalu apa yang kauharapkan?” Tanya Taehyung lagi. “Sudah coba membicarakan dengannya tentang ini? Memberi tahunya betapa lelahnya kau dengan sikapnya?”

Tzuyu mengangguk, “Dia bilang maaf lalu berjanji akan berubah. Lalu dia memang berubah dua hari sebelum kembali bersikap menyebalkan.” Dia menyeka hidungnya. “Katanya aku berharga, sulit didapatkan maka dia harus menjagaku baik-baik.”

Taehyung tertawa, tidak sengaja melakukannya namun dia tetap membiarkan tawa itu lepas hingga Tzuyu mendongak—kaget. “Dia sedang insecure pada dirinya sendiri dan menproyeksikan emosi itu padamu.” Katanya kemudian setelah tawanya reda. “Apakah kau akan pergi darinya? Berselingkuh darinya jika dia tidak bersikap seperti ini?”

Tzuyu diam, menatap Taehyung.

“Sama seperti merokok,” Taehyung melambaikan kotak rokoknya di hadapan Tzuyu. “Aku tidak pernah melarang kekasihku merokok, malah membiarkannya. Aku tidak pernah bicara apa-apa tentang Jeongguk yang merokok seperti orang kesetanan. Bukan karena aku tidak sayang padanya. Tapi karena aku tahu dia sudah dewasa,”

Dia membalik kotak itu, menunjukkan pada Tzuyu gambar mengerikan yang digunakan produsen rokok untuk mengancam orang-orang. “Mereka sudah memberikan gambaran masa depan jika Jeongguk terus merokok tapi apa yang dilakukannya? Apa yang kami lakukan?”

Tzuyu sejenak diam. “Tetap merokok?” Sahutnya, perlahan.

“Ya.” Taehyung tersenyum. “Aku hanya bisa mengingatkannya agar tidak terlalu sering. Melarang itu akan membuat pasanganmu merasa tidak nyaman. Lalu dia akan melakukan hal yang dilarang itu diam-diam. Artinya, akan ada kebohongan kecil. Dan kebohongan-kebohongan kecil, secara konstan dan berkelanjutan akan membutuhkan kebohongan-kebohongan besar untuk menutupinya.

“Percayalah,” Taehyung menaikkan kacamatanya. “Perselingkuhan itu dimulai karena satu, ketidaknyamanan pasangan dengan pasangannya yang sekarang atau dua, karena dia memang bajingan. Aku yakin, jika dia terus menekanmu seperti ini, kau akan benar-benar melakukan apa yang dilarangnya.”

“Dulu kekasihku juga selingkuh,” dia kemudian melanjutkan. “Aku tidak tahu apa yang salah dariku kenapa dia bisa begitu tega melakukannya. Kemudian aku menyadari, aku mungkin selama ini sangat menggantungkan bahagiaku padanya. Aku kehilangan diriku sendiri yang membuatnya tertarik, aku membuatnya tidak nyaman karena begitu bergantung padanya.”

Tzuyu diam, menatapnya. “Y-yah,” katanya sengau kemudian. “Belakangan ini aku memang sering keluar dengan teman lelakiku dan mengatakan padanya aku pergi dengan teman perempuan. Setelahnya aku merasa bersalah, tapi ketika dia meneleponku dan merongrongku dengan pertanyaan tentang apa yang kulakukan, siapa saja yang kuajak pergi, mana fotonya—aku kembali marah.

“Kak Tae benar, aku tidak nyaman.” Tzuyu memainkan jemari kakinya, mengayunkan kakinya perlahan.

“Tentu saja tidak.” Sahut Taehyung. “Siapa pun yang diperlakukan seperti itu tentu saja tidak akan nyaman. Instingmu pasti ingin melepaskan diri darinya, melakukan segala yang dibencinya.”

Diwud datang berlari dengan lidah menjulur, terengah-engah dan Taehyung menyadari sebentar lagi Jeongguk pasti kembali. “Lihat Diwud,” katanya kemudian saat anjing itu menjilati tangannya. “Dia dibiarkan berkeliaran begitu saja tanpa kalung, apakah kemudian dia pergi? Meninggalkan Ibu?”

Tzuyu menatap Diwud yang menyalak ceria dalam genggaman Taehyung. “Tidak.” Katanya.

“Lalu pikirkan anjing yang seumur hidupnya diikat dengan tali sepanjang satu meter, dibatasi segala geraknya, dipukuli, dilarang pergi dengan kedok 'sayang' dan 'menjaga'.” Taehyung menatapnya, Tzuyu sedang membelai telinga Diwud. “Sekali mereka merasakan kebebasan, mereka tidak akan kembali. Binatang saja paham kapan mereka harus menyerah, kenapa manusia terus bertahan dan berharap suatu hari semuanya akan lebih baik ketika jelas-jelas dia tidak akan membaik? Kau sudah membuktikannya sendiri.

“Hubungan itu sebuah seni,” kata Taehyung lagi. “Kau harus belajar memberikan sesuatu secukupnya. Perhatian secukupnya, kasih sayang secukupnya, larangan secukupnya; jika kau melakukannya berlebihan atau kurang dari itu, pasanganmu tidak akan nyaman bersamamu.

“Sebaliknya, jika kau memberikan seluruh dirimu pada mereka—seluruh hatimu, seluruh cintamu, seluruh hidupmu hanya karena kau ingin mencintai mereka sepenuhnya, kau tidak punya apa pun yang tertinggal untuk dirimu sendiri. Sama seperti yang kulakukan pada mantan kekasihku kemarin.

“Lalu ketika mereka pergi, kau hanyalah kerang kosong yang terombang-ambing. Kau kehilangan dirimu sendiri karena kau memberikan segalanya pada mereka, tidak menyisakan apa pun untuk dirimu sendiri.” Taehyung tersenyum hangat, menyemangati Tzuyu.

“Kehilangan dirimu sendiri karena mencintai orang lain adalah harga yang terlalu mahal.”

Tzuyu diam, memikirkan kata-kata Taehyung di kepalanya. “Aku...” bisiknya lirih, “Aku akan membicarakan ini dengannya.”

Taehyung tidak menyukai gagasan itu namun dia mengangguk, “Terdengar oke. Tapi jika dia melakukan sesuatu yang melewati batas, kau selalu tahu kapan harus hengkang dari hubungan itu, oke?”

Tzuyu mengangguk, sekarang nampak lebih baik. “Trims, Kak Tae.” Bisiknya.

“Tidak masalah,” balas Taehyung persis saat Jeongguk muncul di puncak tanjakan, dengan wajah merah padam setelah berlari dan keringat berkilauan di atas tubuhnya yang liat.

“Hei!” Sapanya tersengal, rambutnya basah oleh keringat—dia mengenakan kaus tanpa lengan, celana pendek yang memamerkan tatonya dan sepatu Taehyung. Diwud langsung melepaskan diri dari Taehyung, menghampirinya dan melompat-lompat di kakinya, senang karena baru saja berjalan-jalan bersama Jeongguk.

“Kau menggunakan sepatuku lagi,” gerutunya dan Jeongguk nyengir. Dia berhenti di dekat Tzuyu, menyugar rambutnya.

“Maaf aku bau keringat,” katanya saat mengamati Tzuyu, menyadari wajahnya yang merah padam dan jejak air mata di wajahnya. “Tapi, apa yang terjadi padamu? Siapa yang membuatmu menangis?”

Tzuyu mengerang lalu kembali menangis hingga Jeongguk berjengit—kaget menatap Taehyung memohon pertolongan. “Aku tidak melakukan apa-apa!” Katanya panik.

Taehyung meringis, “Kau bertanya apa yang terjadi,” katanya kemudian menepuk bahu Tzuyu lagi pelan-pelan lalu menatap Jeongguk dan mengatakan tanpa suara, “Pacar bajingan.”

Bibir Jeongguk membentuk O saat dia menyadarinya dan duduk di sisi Tzuyu yang lainnya, beberapa meter jauhnya agar aroma keringatnya tidak mengganggu. Diwud langsung naik ke sisinya, berbaring di pangkuannya—persis seperti peliharaan Jeongguk yang langsung mengusap kepalanya sayang.

“Oh, ya,” kata Taehyung kemudian, mencoba mencairkan suasana sementara suara tangis Tzuyu perlahan tenang. “Kata Mbak Irma, ada air terjun bagus di dekat sini. Besok sore kita akan main ke sana. Dan hari ini kita punya proker PAUD, ada bubur kacang hijau.”

“Kau akan baik-baik saja,” kata Jeongguk kemudian, tersenyum. “Jika dia kurang ajar padamu, kami semua akan menolongmu.” Dia menambahkan. “Jangan biarkan seseorang mengontrol hidupmu dengan cara itu.”

Tzuyu menatapnya, memicingkan mata.

Jeongguk mengedikkan bahu, “Kau tidak perlu bertato dan merokok untuk bisa jadi seorang bajingan, 'kan? Jangan stereotyping begitu.”

Tzuyu sejenak diam lalu tertawa parau, “Benar.” Katanya.

Tzuyu kemudian merasa lebih baik setelah mengobrol dengan keduanya. Dia beranjak kembali ke pondokan untuk bersiap-siap ke PAUD untuk program kerja mereka hari ini. Meninggalkan Taehyung dan Jeongguk di sana, duduk beberapa meter jauhnya mengamati awan yang mulai menyibak untuk membiarkan matahari terbit.

“Dari ekspresinya, sepertinya masalahnya serius?” Tanya Jeongguk kemudian dan Taehyung mengedikkan bahunya, mendesah panjang.

“Kau tahu apa yang orang-orang 'terlalu sayang' alami, 'kan?” Dia menatap Jeongguk yang terkekeh kecil, mengusap kepala Diwud. “Mereka bertahan, terus bertahan. Berharap suatu hari nanti pasangan mereka mungkin berubah. Mengorbankan diri menjadi pusat rehabilitasi. Beberapa berhasil melepaskan diri namun beberapa berkelanjutan hingga pernikahan.”

“Peluang berubahnya kecil, kecuali kau sedang menjadi pemain utama di film Catatan Hati Seorang Istri.” Jeongguk tertawa, lalu melompat turun dan meregangkan tubuhnya sementara Taehyung menimpali tawanya.

“Kita tidak bisa menyalahkan manusia juga karena berharap pada setitik kemungkinan itu, 'kan? Itulah mengapa harapan menolak meninggalkan benjana yang dibuka Pandora.” Tambah Jeongguk saat mereka menuruni tanjakan.

“Aku tidak tahu kau membaca mitologi Yunani?” Taehyung tersenyum.

“Apa yang menurutmu kubaca?”

“Hmm. Tidak.” Sahutnya lalu mengaduh saat Jeongguk menonjok lengan atasnya. “Aku berubah pikiran, aku tidak akan mengatakannya.”


Makanan bergizi yang dimaksud adalah bubur kacang hijau, roti isi ayam, telur rebus, susu UHT, dan nasi kuning yang dibungkus dalam kotak mika dengan lauk tempe manis, serundeng, dan irisan mentimun.

Makanan biasa saja yang cukup membuat Jeongguk menginginkan nasi kuning untuk dirinya sendiri karena aromanya sangat harum. Dahyun dan Momo sejak pagi membantu di rumah Ibu Sinta untuk mempersiapkan semuanya. Mereka punya empat puluh set makanan dan ternyata anak-anak batita pun datang bersama orang tuanya.

PAUD dibanjiri bayi yang berceloteh ceria dan Tzuyu syukurnya, merasa lebih baik setelah menggendong cucu Pak RT 8 yang sangat menggemaskan—pipinya bulat, matanya yang besar, dan suka sekali tersenyum pada semua orang. Para perempuan berebut ingin menggendongnya sementara semua anak-anak mulai makan makanan yang diberikan.

Jeongguk bergabung, tentu saja minum sekotak Ultra Mimi berwarna merah muda, makan telur rebus di sisi Mutia yang menyendok makanannya sendiri—Taehyung tidak yakin yang mana yang nampak lebih bayi. Lelaki jangkung bertato yang sekarang belum bercukur atau balita di sisinya yang makan dengan kaki terbuka lebar.

“Lihat binatang buasmu,” komentar Yoongi seraya menyerahkan sebungkus bubur kacang hijau pada anak PAUD. “Dia diam hanya dengan telur rebus dan susu UHT anak-anak bergambar beruang,”

Taehyung tersenyum lebar, mengamati Jeongguk yang membantu Mutia makan dengan tekun. Menghabiskan telur rebusnya dalam dua suapan besar hingga pipinya mengembang seperti tupai. Jeongguk memang menggemaskan, Taehyung baru menyadari itu sekarang.

Merasa diamati, Jeongguk mendongak dan mereka bertemu mata. Taehyung melambaikan telur rebus di tangannya. “Lagi?” Tawarnya geli.

Jeongguk tersenyum, lebar hingga pangkal hidungnya mengerut dan matanya membentuk bulan sabit kembar. “Tidak, tidak.” Katanya dan Taehyung terkekeh.

Tidak banyak yang mereka lakukan selama program kerja itu, hanya membagikan makanan lalu anak-anak PAUD mengikuti kelas—lebih ramai karena beberapa batita memutuskan untuk bergabung bernyanyi bersama di kelas. Merecoki kakak-kakak mereka dengan mencoret gambar atau pekerjaan rumah mereka.

Di akhir acara, semua anak KKN merasa senang dan hangat—setelah bermain dengan para batita yang betah digendong, beberapa menangis karena takut pada Jeongguk dan Yoongi, beberapa sangat menempel pada Momo, dan membawa pulang masing-masing satu set makanan bergizi juga.

Jeongguk sedang meminum susu UHT keduanya saat mereka melangkah pulang.

“Kita tetap masak, dong!” Protes Yugyeom, mengupas telur rebusnya sambil berjalan. “Memangnya Mbak pikir dengan makanan porsi bayi ini bisa membuatku kenyang? Bayangkan berapa banyak yang dibutuhkan Jeongguk dan Taehyung!”

Dan argumen itu akhirnya membuat Yugyeom, Momo dan Yoongi akhirnya terjun ke dapur untuk memasak makan siang mereka. Ibu memasak oseng daun pepaya, mempersilakan anak-anak untuk ikut 'menumpang' lauk dengan dapurnya sehingga mereka hanya perlu memasak lauk karena pagi tadi Momo sudah menanak nasi.

“Daun pepayanya sama sekali tidak pahit!” Komentar Yugyeom, takjub saat mereka makan. “Sihir apa yang digunakan Ibu??”

“Sihir bernama tanah lempung,” sahut Yoongi memutar bola matanya. “Aku bertemu Ibu tadi saat kalian bersiap-siap, mengambil seember tanah di bawah sana. Saat kutanya, katanya untuk mengurus daun pepaya.”

Taehyung mengunyah makanannya, menyadari bahwa tidak ada sedikit pun jejak rasa pahit dalam daun pepaya itu. “Luar biasa,” katanya. Ibunya pun yang selama ini selalu dianggapnya sebagai seorang master chef di rumah, oseng daun pepayanya tetap memiliki setitik rasa pahit di akhir kunyahannya.

Dia akan memberi tahu ibunya tentang rahasia ini.

Karena siang itu mereka tidak memiliki kegiatan apa pun, Taehyung mengajak Jeongguk untuk berjalan-jalan ke sekitar desa—menikmati pemandangan. Mereka berjalan kaki, di pinggir jalan sambil merokok dan mengobrol—menyusuri jalan utama desa dan menyapa semua orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka.

“Aku tidak ingin kembali,” kata Jeongguk menghembuskan asap rokoknya. “Di sini menyenangkan. Teman-temanku menyenangkan.”

Taehyung terkekeh, menjentikkan abu rokoknya ke pinggir jalan. “Setuju.” Katanya kemudian menyesap rokoknya. “Tapi setiap perjumpaan akan memiliki akhir, 'kan?”

“Perjumpaan kita tidak, kuharap?” Balasnya dan Taehyung menatapnya.

“Tentu saja tidak.”