Kuliah, Kerja, Nyantai / 82
cw // horror .
Jeongguk membayar minuman mereka yang semuanya tidak menggunakan es batu dan menerima kantung plastik terisi tujuh minuman berwarna-warni sesuai pesanan teman-teman mereka di grup.
Taehyung menerimanya, bagasi depan motor Dahyun sudah terisi kotak-kotak ayam geprek yang mereka beli di Olive Fried Chicken tadi, beberapa meter di Selatan kosan Jeongguk. Dia juga sudah mengemas selimut dan celana jins dalam kantung plastik di bagasi depan karena jok mereka terisi dua jas hujan. Bawaan mereka agak padat karena makanan, pakaian Jeongguk dan juga minuman yang dipegang Taehyung. Mereka juga membeli beberapa cemilan dalam kemasan satu kilo di Selokan Mataram, langganan Jeongguk untuk menemani mereka di pondokan.
“Kita seperti akan mengunjungi korban bencana alam,” keluh Taehyung di jok belakang saat Jeongguk menaiki motornya dan terkekeh saat memasang helmnya.
“Kita terlalu lama di kosanku,” Jeongguk mengedikkan bahu dan menatap langit yang mulai jingga keunguan—sebentar lagi Maghrib dan mereka masih di Yogyakarta. Dia tidak mau membayangkan rute yang mereka harus lalui saat menuju pondokan dengan pencahayaan minim.
Jeongguk mengendarai motornya, lebih cepat dari biasanya karena takut mereka akan tiba di Klaten terlalu malam. Dia juga menyadari langit yang kelabu berat, takut jika hujan akan segera turun dan mempersulit perjalanan mereka.
“Yah, mau bagaimana.” Taehyung mendesah dari belakang dan Jeongguk melirik di spion, melihat Taehyung mencibir menggemaskan. “Benar katamu. Sekali aku merasakanmu, aku tidak akan ingin berhenti.” Desahnya, merona membayangkan seks gila-gilaan mereka tadi.
“Rasanya seperti baru saja maraton berkilo-kilo meter.” Dia mendesah dan wajahnya nampak bersinar karena kekuatan orgasme. “Baru kali ini aku bercinta dengan seseorang sehebat itu.”
“Jangan begitu,” keluh Jeongguk namun dengan hidung mengembang bangga—dia senang dipuji, apalagi oleh Taehyung yang adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang ingin dibuatnya senang. “Aku nanti keenakan dipuji.”
Taehyung tertawa saat mereka meluncur di bawah jembatan penyeberangan Ambarrukmo Plaza ke Grand Ambarrukmo, menyelip di antara padatnya lalu lintas wilayah Royal Ambarrukmo. Mereka mungkin kembali terlalu malam tapi Jeongguk senang karena dia menghabiskan waktu berkualitas dengan Taehyung.
Setelah puas bercinta, mereka mandi—bergiliran karena Jeongguk sungguh tidak ingin mengambil risiko jika mereka berakhir saling menggagahi lagi di dalam kamar mandi. Dia bersiul panjang saat Taehyung keluar dari kamar mandi dengan handuknya, menggantung rendah di pinggulnya dan tidak bisa menahan diri untuk tidak memojokkannya di dinding dan menciumnya.
“Oh, kau bangsat keras kepala,” Taehyung menyelipkan jemarinya ke rambut Jeongguk dan menjambaknya, menarik ciuman mereka lepas lalu mencium lehernya—menghisap lembut titik di balik telinga Jeongguk, tepat di atas denyut nadinya.
“Kau tidak bisa jadi anak baik sekali saja, ya?” Geramnya di kulit Jeongguk. Pemuda itu terkekeh.
“Make me,” bisiknya tercekat saat Taehyung menjilat telinganya. “Sir.” Tambahnya dan ternyata itu membuat Taehyung malah mendorongnya ke ranjang, menaunginya dengan rahang terkatup rapat; satu kakinya naik ke ranjang membuat handuknya tersibak dengan cara yang sangat menarik.
“Oh,” bisiknya terkekeh geli, mengulurkan tangan dan membelai wajah Taehyung yang mendengkur seperti seekor kucing. “Kau suka itu? Kau suka saat aku memanggilmu 'Sir'?” Tambahnya dan Taehyung mengerang. “Aku suka kink-mu.”
Jeongguk menyelipkan tangan ke balik handuk Taehyung yang mengerang. Dan mereka kemudian saling memberikan blowjob sebelum benar-benar berkemas untuk kembali ke pondokan mereka. Membereskan kamar Jeongguk yang beraroma pekat seks lalu berangkat membeli pesanan teman-temannya.
Perjalanan mereka lancar saja hingga akhirnya keluar dari Yogyakarta dan memasuki Klaten. Langit mulai bergemuruh dan Jeongguk mulai merasa gelisah; dia benar-benar tidak ingin berkendara dengan bawaan sebanyak ini di tengah hujan. Namun toh akhirnya Tuhan tidak mendengarkan doanya karena saat mereka berputar balik di depan eks-Pabrik Gula untuk menuju jalan pintas ke Wedi, Klaten, hujan gerimis turun.
Jeongguk menepi, “Kita pakai jas hujan,” katanya lalu membuka jok, menyerahkan jas hujan Taehyung yang langsung menggunakannya.
Mereka mengikat semua bawaan mereka baik-baik agar hujan tidak merembes masuk. Jeongguk mengenakan helmnya, menoleh untuk memastikan Taehyung sudah mengenakan jas hujannya dengan benar sebelum naik ke motor lagi dan menembus hujan yang semakin deras.
“Sial,” gerutu Jeongguk saat mereka melintasi jalan Wedi yang mulai sepi; hujan semakin deras hingga jarak pandang mereka hanya satu meter di hadapan mereka.
“Pelan-pelan saja,” kata Taehyung di tengah suara hujan yang membuat telinga mereka berdenging.
Jalanan di depan mereka nampak putih oleh fatamorgana derasnya hujan. Jeongguk tidak berani mengambil risiko mengendarai motornya di atas empat puluh meter per jam. Dia memicingkan matanya, senang karena dia memutuskan mengendarai motor alih-alih membiarkan Taehyung yang menggunakan kacamata. Setidaknya matanya sehat dan tidak ada kacamata penuh air hujan di depan matanya.
“Kau berlindung di balikku saja, ya?” Kata Jeongguk kemudian, mengusap air hujan dari pelindung helmnya dan memfokuskan diri pada jalanan di depannya, berusaha melihat jalanan dari balik derasnya hujan.
Jeongguk berdoa dengan keras di dalam hati saat mereka mulai membelok di depan Puskesmas, akan menanjak di Clongop yang tidak akan baik hati. Jeongguk belum pernah sefokus itu dalam berkendara seumur hidupnya, dia berusaha mempertahankan motor tetap melaju stabil sementara dia kesulitan melihat bahkan melihat marka jalan di hadapannya.
Dia was-was jika dari depan muncul mobil dan dia tidak sengaja berkendara melewati marka jalan. Taehyung memeluk pinggangnya, menepuk perutnya dengan lembut—menenangkannya selama dia berusaha menundukkan Clongop di bawah hujan deras.
“Puji Tuhan!” Serunya saat akhirnya mereka melewati Clongop dan Taehyung juga menyerukan hal yang sama.
“Jeongguk?” Panggilnya dari belakang sana, suaranya terdengar mencicit setelah beberapa saat kemudian. Jeongguk seketika memperlambat motornya.
“Ya? Kau oke?” Tanyanya pada Taehyung, meliriknya dari spion namun tidak bisa melihat wajahnya di tengah gelapnya malam dan derasnya hujan.
“Aku takut... petir.” Katanya, menunduk semakin dalam berusaha menyembunyikan wajahnya di balik helmnya dan hati Jeongguk terasa diremas-remas, setengah dirinya merasa bersalah.
Jika saja dia tadi tidak menggoda Taehyung setelah mandi, mereka mungkin bisa naik lebih awal dan tidak terjebak hujan badai sederas ini. Dia menurunkan tangan kirinya dari stang motor dan meremas tangan Taehyung di perutnya.
“Maaf, ya?” Katanya lembut, “Maaf. Kita akan tiba sebentar lagi.” Tambahnya.
Taehyung baru saja akan menjawab saat suara lecutan keras terdengar. Berderak keras seperti sebatang pohon yang ditebang dan sejenak langit diterangi cahaya perak yang terang benderang. Petir yang begitu dahsyat menyambar persis di langit di depan mereka; membelah langit dengan cahaya perak dan retakan rambutnya. Membuat sejenak, sekeliling mereka terang seperti siang hari dan Taehyung berteriak keras.
Begitu keras hingga hati Jeongguk terasa diremas-remas. Dia bergerak di jok belakang, terkejut hingga motor sejenak oleng. Jeongguk berhasil menjejak kakinya di aspal sebelum mereka berdua terguling jatuh. Taehyung gemetar di belakangnya, bernapas melalui mulutnya.
“Maaf,” gumamnya tercekat dan Jeongguk meringis. “Trauma bodoh.” Tambahnya, meremas bagian depan jas hujan Jeongguk—begitu kuat hingga Jeongguk takut jas hujannya robek.
Mereka berhasil berkendara perlahan melewati jalanan dengan Taehyung meringkuk di balik punggung Jeongguk karena di kejauhan petir terus menyambar dan gemuruhnya tidak bisa diabaikan. Angin kencang berhembus hingga Jeongguk merasa tangan kanannya kram, berusaha menjaga agar motor tidak oleng oleh tiupan angin.
Setelah ini dia akan menjerang air untuk Taehyung mandi, bersikap bertanggung jawab karena bersalah. Dia mengencangkan genggamannya pada stang motor dan sesekali meremas tangan Taehyung di atas perutnya. Dia tidak yakin mereka tiba di wilayah mana karena dia tidak bisa menatap apa pun.
Dia menuruni jalanan kecil yang dikenalnya, dua kilometer jauhnya dari pondokan mereka dan merasakan sentakan rasa damai karena mereka sebentar lagi tiba. Dia menepuk tangan Taehyung lembut lalu berkendara sedikit lebih cepat karena tidak sabar untuk tiba di pondokan.
Jeongguk melewati jalan lebar yang diapit tebing dengan pemandangan lepas ke arah kota yang terlihat kecil. Jurang besar yang menandai dekatnya perjalanan mereka ke pondokan.
“Sebentar lagi kita tiba,” katanya pada Taehyung yang masih tidak mau mengangkat kepalanya—dia masih gemetaran karena petir hebat tadi dan Jeongguk yakin di suatu tempat pasti ada tanah longsor akibat petir itu.
Jeongguk berkendara perlahan, fokus pada jalanan saat dia membelok ke kiri di tengah hujan yang mulai membuat tangannya mati rasa karena dihajar derasnya hujan yang sebesar bola kelereng. Dia melewati jalan kecil yang diapit oleh sawah yang membentang dan pepohonan rimbun, satu setengah kilometer dari pondokan saat sesuatu melewati depan motor mereka.
Jeongguk terkesirap, menyerukan nama Tuhan dengan keras seraya mengerem motornya, takut melindas sesuatu itu dengan panik; nyaris membuat mereka berdua terpental dari motor. Taehyung ikut terkesirap karena Jeongguk mengerem dengan begitu mendadak.
Mereka berhenti di sana, di tengah jalan yang diapit persawahan yang luas, tanpa penerangan kecuali lampu motor Dahyun dan Jeongguk yang terengah-engah kaget—menatap ke jalan di hadapannya. Menunduk ke jalan yang disinari lampu, mencari tahu apa yang baru saja lewat di hadapan mereka.
“Jeongguk?” Panggil Taehyung, dia menelan ludah. “Kau oke?” Tanyanya.
Hujan semakin deras dan Jeongguk belum juga berhasil menenangkan dirinya setelah kejadian barusan. Dia tidak yakin pada apa yang dilihatnya namun dia juga tidak mau menyebutkannya karena otaknya yakin dia memiliki jawaban atas itu.
Namun dia urung mengatakannya, dia tidak mau memberi tahu Taehyung. Maka dia menelan ludah, mengucapkan doa di dalam hatinya—menenangkan jantungnya yang bertalu-talu dan mencoba menghalau otaknya yang terus-terusan meneriakinya nama sesuatu yang mungkin dilihatnya.
Dia kemudian kembali berkendara, kali ini jauh lebih perlahan. “Tidak apa-apa,” katanya gemetar—ingin meringkuk dan menangis karena otaknya tidak juga berhenti menyerukan nama itu di kepalanya. “Hanya perasaanku saja, maaf.” Tambahnya.
Mereka berdua bungkam saat akhirnya mereka tiba di jalan menuju pondokan. Menatap tanda jingga norak itu tidak pernah terasa membahagiakan seperti saat ini. Jeongguk mengemudi turun perlahan, mengklakson pondokan yang langsung terbuka. Dahyun berseru keras saat mereka akhirnya memarkir motor mereka di halaman.
“MEREKA DATANG!” Serunya mengalahkan suara hujan dan semua anggota kelompok bergegas membantu mereka.
Keduanya tiba dalam keadaan terguncang—satu karena petir dan satu lagi karena sesuatu yang sama sekali tidak ingin disebutkannya. Jeongguk membiarkan Yugyeom dan Yoongi mengambil barang bawaan mereka, menyelamatkan makanan mereka dari air hujan yang semakin deras.
Jeongguk berdiri di sana, di teras saat teman-temannya membawa semua barangnya masuk dan Taehyung membuka jas hujannya. Dia menerawang jauh ke atas jalan besar yang tadi dilewatinya, masih memikirkan kejadian tadi.
Hanya sepersekian detik tapi dia sekarang mulai yakin apa yang dilihatnya. Dia menelan ludah dan bergegas memalingkan wajah, membuka jas hujannya dengan terburu-buru dan melemparkannya begitu saja ke kursi depan—buru-buru masuk dan menutup pintu saat dia yakin seseorang balas menatapnya dari atas sana.
Jeongguk tidak mau memikirkannya.
Taehyung menerima gelasnya yang terisi wedang uwuh panas sementara di sisinya teman-teman mereka mulai makan, membongkar titipan mereka yang syukurnya tidak basah sama sekali karena terlindung di bawah kaki Jeongguk.
Jeongguk duduk di sisinya, sudah mandi dan mencuci rambutnya lalu menerima juga segelas wedang uwuh panas sementara teman-temannya menikmati ayam dan minuman mereka yang langsung dibongkar dan diberikan es batu buatan mereka sendiri.
Taehyung menoleh ke Jeongguk yang diam. “Kau oke?” Tanyanya dengan alis berkerut. “Kau tidak mau makan?”
Jeongguk mengerjap, seolah baru saja ditampar sadar dari mimpi. Dia menoleh ke Taehyung, menjilat bibir bawahnya dan menghela napas dalam-dalam. “Ya, ini aku akan makan.” Katanya kemudian, meraih makanannya dan kembali menerawang.
Taehyung mengerutkan alis, menyadari sesuatu yang salah pada Jeongguk saat Momo bersuara. “Jangan dipikirkan.” Katanya tegas.
Semua menoleh pada Momo yang menatap Jeongguk, lurus nyaris marah.
“Apa?” Tanya Jeongguk, mengerjap—linglung.
“Jangan dipikirkan. Jangan memikirkannya. Jangan memikirkannya.” Kata Momo, matanya bergerak sejenak sebelum mengerjap dan kembali menatap Jeongguk.
Taehyung merinding. Teringat saat Jeongguk mengerem motornya mendadak dan menoleh ke arahnya. Jeongguk menggertakkan rahangnya dan Momo bangkit, dia melangkah ke kamar dan memberi Jeongguk rosarionya yang selalu dibawanya tidur—warnanya hijau dan dibungkus dalam kantung rajutan kecil.
“Berdoalah.” Katanya kemudian, meletakkan benda itu di pangkuan Jeongguk. “Siapa tahu membuatmu baikan.”
Taehyung tidak mau bertanya siapa dia yang dimaksud Momo. Jeongguk kemudian bangkit, meraih rosario itu lalu melangkah ke kamar. Setahu Taehyung, Jeongguk selalu membawa rosario di tasnya. Mungkin dia akan menggunakan rosarionya sendiri di kamar.
Semua orang diam setelah Momo memberikan rosarionya kepada Jeongguk. Mereka makan di tengah guyuran suara hujan yang menggila dan juga gemuruh petir di kejauhan. Sesekali kilat membuat ruangan terang sebelum kembali gelap. Jeongguk di kamar begitu lama hingga anak-anak membereskan makan malam, menyisihkan makanannya yang belum tersentuh.
Setelah dia keluar, dia nampak lebih tenang dan Taehyung menyadari rosarionya terkalung di lehernya dan dia mengembalikan milik Momo. “Trims,” katanya sebelum mulai makan.
Taehyung melirik Yugyeom yang balas menatapnya—takut. Dia kemudian mendekati Jeongguk yang makan dengan tenang—nampak seperti dirinya sendiri. Taehyung menyentuh bahunya dan Jeongguk menoleh.
“Kau oke?” Tanyanya lembut.
Jeongguk mengangguk, “Maaf.” Katanya mendesah, “Aku benar-benar tidak ingin menceritakannya.” Dia tersenyum lalu mulai makan kembali.
Setelahnya, dia nampak kembali normal. Menonton televisi dan menikmati minumannya seraya bermain UNO Stacko dengan semuanya. Taehyung berbaring di atas kasur mereka, mengenakan kantung tidur yang dilapisi selimut Jeongguk yang beraroma pekat parfum binatu langganannya—membaca buku.
“Semoga besok semuanya baik-baik saja,” bisik Taehyung saat mereka berbaring bersisian untuk tidur.
Jeongguk meraih tangannya, menggenggamnya erat. “Amin.” Katanya sebelum tersenyum. “Maaf, karena aku kita jadi kemalaman kembali ke pondokan dan terjebak hujan.”
Taehyung tersenyum lebar, “Bukan salahmu.” Dia menepuk tangan Jeongguk lembut. “Kita saja yang sial. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.”
Jeongguk akhirnya tenang, dia terlelap lebih dulu dari Taehyung yang masih memandanginya; menelusuri garis wajahnya dengan pandangannya. Menyadari bekas luka di tulang pipinya dan bekas tindikan di telinganya. Dia mengulurkan tangan, menyeka rambutnya yang membentuk tirai di keningnya sebelum akhirnya memejamkan mata—ikut terlelap.
Di luar, hujan badai tidak juga berhenti.
Note.
Di sini, aku tukar pemerannya yaa!
Yang bawa motor pas aku kehujanan ini Tae harusnya. Dan kami kemaleman naik ke pondokan karena aku kelamaan di Starbucks nerjemahin rangkuman tesis S2 temenku yang mau dipake besoknya jadi kami naik sekitar maghrib dan nyampe di pondokan jam 9 malem.
Aku yang trauma sama kilat sama petir, trauma setrauma-traumanya kalo ujan deres banget aku biasanya gak bisa tidur karena takut petir dan kilat. Terus yg bagian “ngeliat ke atas kayak ada yg bales natap” itu aku, bukan Tae. Terus ngerem mendadak itu juga gak tau apa, si Tae gak mau bilang sampe sekarang :'DD Jadi mengira-ngira saja. Terus adegan Momo ngasih rosario itu harusnya di kamar pas kita beres2 mau tidur, minta Tae berdoa.
Aku ubah biar bumbu fiksi dikit gitu biar agak sedep hehehe :( Jadi KKN ini bener2 mixed dengan IRL-nya, susah kalo mau dijabarin hahahahah Aku tukar karena tadi pagi yang bawa motornya Tae, jadi biar balance aja.
Thankies! ire, x