Kuliah, Kerja, Nyantai / 103
“Kau yakin tidak apa-apa?”
Jeongguk mengerang, berbaring telungkup di kasurnya saat Yugyeom menyentuh punggungnya yang sekarang berdenyut-denyut. Tidak jauh berbeda dengannya, Taehyung juga sedang berbaring di kasurnya—mengerang. Pagi tadi saat mereka bangun, seluruh tulang Jeongguk terasa ngilu dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain mengerang.
Bedanya, saat beranjak siang, Taehyung sudah mulai merasa tubuhnya jauh lebih baik kecuali bagian kanan tubuhnya yang terasa sakit dan kram, sulit digerakkan sehingga dia melangkah tertatih-tatih dengan kaki kirinya sementara kaki kanannya ngilu.
Jeongguk belum bisa bangkit karena seluruh tubuhnya terasa ngilu. Seolah daging meleleh dari belulangnya yang sekarang digerus oleh rasa sakit. Sebelum berangkat ke PAUD, Taehyung meninggalkan air di sisi kepalanya.
“Minum air, oke?” Katanya sebelum mengecup telapak tangannya dan menempelkan ciuman itu di kening Jeongguk yang mengerang. Dia menyisir rambut Jeongguk dengan jemarinya sementara pemuda di bawahnya memejamkan mata, menikmati sentuhannya yang terasa sangat menyejukkan dibanding sakit yang menyerang tubuhnya.
“Aku akan kembali sebelum kau merindukanku.” Taehyung kemudian menumpukan tangan kirinya di dinding dan mencoba berdiri tanpa menggunakan kaki kanannya yang ngilu—Yugyeom bergegas menghampirinya, membantunya berdiri.
Yoongi akan tiba nanti, dia mengambil jatah turun menginapnya dan sudah berjanji akan membawakan obat yang mungkin dibutuhkan Jeongguk. Juga membawakan semua makanan yang diinginkan teman-temannya. Khususnya pesanan Yugyeom: durian.
“Durian!” Seru Momo setuju, nampak sangat menyukai ide itu. “Dan petai! Tolong beli petai, aku ingin sekali!”
Dahyun langsung balas mengerang, “Petai!” Timpalnya heboh.
Dan walaupun Jeongguk benci petai, tapi Taehyung nampak mengantisipasi makanan bau itu juga. Maka dia diam, apa saja agar Taehyung senang dan selama mereka menyiram urin mereka baik-baik setelah makan.
Jeongguk mendesah saat pintu depan ditutup, teman-temannya menuju PAUD—seminggu lagi mereka akan mengakhiri masa KKN mereka di Desa Watugajah. Jumat nanti mereka akan melaksanakan evaluasi terakhir di pondokan terakhir, pondokan Jaehyun yang sekarang jadi lumayan akrab dengan Taehyung tiap mereka bertemu di evaluasi. Ternyata bersikap menyebalkan membuat Jaehyun akrab dengan Taehyung.
Besok mereka akan melaksanakan program kerja terakhir mereka, pemasangan papan penunjuk jalan yang sudah dibuat oleh ketua RT 07.
Jeongguk takut dia mungkin tidak bisa membantu teman-temannya karena ngilu di sekujur tubuhnya. Dahyun di sisi lain sudah mulai bisa menekuk kakinya karena luka di lututnya sekarang sudah berwarna merah muda sehat—dia sudah bergerak dengan lebih leluasa, agak menyesalkan karena menghabiskan waktu KKN-nya dengan terpincang-pincang.
Taehyung yakin ngilunya akan hilang sebentar lagi dan Jeongguk mau tidak mau percaya padanya—begitu saja.
Tidak bisa melakukan apa pun, Jeongguk memutuskan untuk bermain game di ponselnya—menghabiskan waktu sementara teman-temannya sibuk di PAUD. Dia baru saja menyelesaikan lima level di Candy Crush Jelly Saga saat suara motor Yoongi terdengar.
Dia menjulurkan lehernya, melihat Yoongi memarkir motor lalu membawa kantung-kantung plastik yang terisi makanan masuk. Dia mendorong pintu dengan sikunya dan langsung menatap Jeongguk yang terbaring menyedihkan di kasurnya. Dia nampak geli karena Jeongguk yang biasanya begitu dinamis dan susah diminta diam, sekarang terbaring di kasurnya.
“Kasihan.” Katanya terkekeh serak lalu meletakkan semua makanan di atas meja. “Kau sudah makan? Aku membawakan kalian Olive.” Tambahnya seraya melepas sarung tangan, masker dan jaket berkendaranya.
Jeongguk mendesah, meletakkan ponselnya. “Aku mau makan.” Sahutnya saat berusaha mendorong tubuhnya untuk duduk dan Yoongi langsung bergegas menghampirinya, membantunya mendudukkan diri di kasurnya.
“Ya, Tuhan!” Keluh Jeongguk saat dia akhirnya berhasil duduk, kelelahan hanya karena melakukan hal sesederhana itu. Yoongi berdiri di sisinya, dengan telapak tangan menempel di punggung atas Jeongguk, bersiaga jika dia oleng tidak kuat duduk.
“Kau yakin tidak perlu ke dokter?” Tanya Yoongi kemudian setelah yakin Jeongguk bisa duduk tegak sendirian. “Puskesmas?”
Jeongguk berusaha melemaskan otot lehernya, perlahan hingga terdengar suara keretak lembut. Dia kemudian berusaha menegakkan punggungnya, menggeram saat rasa sakit menyerang ototnya sebelum akhirnya menyerah.
“Tidak, tidak.” Katanya kemudian lalu menerima gelas plastik terisi minuman yang disodorkan Yoongi. “Mungkin hanya syok karena benturan kemarin. Seharusnya besok sudah lebih baik.”
Dia menyesap minumannya, mendongak saat Yoongi datang membawakannya segelas es batu untuk minumannya. Yoongi kemudian membantunya membuka makan siang di pangkuannya sebelum Jeongguk makan.
“Kau membelikan mereka petai?” Tanyanya dengan tulang ayam di bibirnya, sedang digerogoti dengan khidmat karena sumsumnya terasa sangat lezat.
Yoongi mengangguk, “Semua pesanan. Lengkap.” Dia membongkar tasnya yang nampak penuh. Menarik keluar seikat petai yang membuat Jeongguk tertawa geli.
Dia membawa benda itu ke dapur, meletakkannya di meja makan untuk diurus para penggemarnya nanti sebelum melangkah keluar dan membawa dua buah durian berukuran sedang, meletakannya di sudut ruangan. Aromanya langsung membuat Jeongguk mendesah.
“Benar-benar matang, ya?” Tanyanya, menggerogoti tulang ayamnya seraya menatap Yoongi yang melepaskan celana jinsnya sehingga dia menggunakan celana pendek dalamannya di pondokan.
“Aku memilihkan yang paling matang.” Tambahnya seraya melangkah ke kamar, menggantung pakaiannya di balik pintu. “Agar kita bisa langsung makan malam ini.”
“Aromanya membuatku senang,” desah Jeongguk menyuap nasinya—sesakit apa pun dia, makanan tidak akan pernah gagal membuatnya bersemangat. “Tidak sabar untuk segera membelahnya.”
Yoongi terkekeh, menyugar rambutnya. Sekarang sudah mengganti bajunya menjadi kaus tipis yang nyaman dan nampak lelah setelah perjalanan dari Yogyakarta. Dia meraih kotak makanannya sendiri lalu duduk di sisi Jeongguk, makan dengan khidmat.
“Jadi bagaimana hubunganmu dengan Seokjin?” Tanya Jeongguk kalem, menyesap tulang rusuk ayam di tangannya; mencari lemak-lemak tipis disela-selanya yang teras sedap.
“Kau makan tulang itu sudah sepuluh menit,” gerutu Yoongi menatapnya seolah Jeongguk sudah sinting karena dia melepaskan semua daging dari tulangnya dan menggerogoti tulangnya sebelum makan dengan daging ayamnya. “Menjijikkan.”
Jeongguk membiarkan tulangnya menggantung di bibirnya, “Aku sangat mengapresiasi usahamu untuk mengalihkan pembicaraan, tapi tidak.” Dia menyesap tulangnya, “Jadi, kalian sudah jadian belum?”
Yoongi mendesah keras, mulai membuka kotak ayam gorengnya hingga menjadi lembar yang memudahkannya untuk makan. Dia bangkit, mencuci tangannya ke dapur sebelum kembali dan menemukan Jeongguk masih menggerogoti tulangnya dengan kalem.
“Yah, sebenarnya,” katanya kemudian dan Jeongguk menaikkan kedua alisnya—tidak menyangka Yoongi akan menceritakan satu-dua hal mengenai hubungannya dengan Seokjin. “Dia sudah mengajakku pacaran. Atau setidaknya, pergi keluar berdua saja—berkencan, makan malam, dan hal-hal begitu.”
Jeongguk menyesap tulangnya dengan suara keras hingga Yoongi mengernyit sebal. “Lalu? Apa yang membuatmu tidak nyaman?” Tanyanya saat—akhirnya, meletakkan tulangnya yang bersih ke sisi tempat makan.
Yoongi mengedikkan sebelah bahunya, mulai menyuap ayamnya. “Entahlah.” Katanya kemudian dengan suara kecil hingga Jeongguk menoleh.
“Kau bisa cerita jika mau? Maksudku, aku tahu mulutku ini sampah sekali tapi aku tidak akan melakukan apa pun pada rahasiamu.” Dia tersenyum, menunduk kembali lalu mulai makan.
“Entahlah, Gguk,” katanya kemudian, mulai makan bersama Jeongguk. “Dia nampak terlalu.... bersinar? Bagaimana kau menyebutkannya? Seolah dia tidak serius padamu, dia nampak terlalu jauh untuk diraih? Maksudku, apa yang dilakukan seorang dokter hewan muda dengan mahasiswa tingkat akhir?”
Jeongguk berhenti mengunyah, menatap Yoongi yang sekarang memelototi potongan ayam salut tepungnya seolah benda itu sudah melakukan hal yang sangat jahat padanya.
“Aku mungkin akan bertanya-tanya juga,” sahut Jeongguk kemudian dan Yoongi mendesah keras, membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu yang membuat rasa percaya dirinya semakin rusak namun Jeongguk menyelanya, “Tapi apakah itu kemudian adil bagi Seokjin?”
Yoongi tidak jadi menjawab, raut wajahnya mengerut—ekspresi rubah yang selalu dipasangnya jika dia merasa bingung atau terganggu. “Maksudmu?”
Jeongguk mengedikkan bahunya kalem, “Apakah itu adil bagi perasaan Seokjin yang sudah memilihmu dan kau malah sibuk dengan dirimu sendiri?” Tambahnya kemudian menyuap makanannya. “Aku tidak menyalahkan perasaan takutmu, seperti mungkin saja Seokjin suatu hari nanti berubah pikiran atau apa, tapi menurutku kenapa tidak hidup di hari ini saja?
“Dia merasa yakin padamu, maka yakinlah padanya. Percayalah. Kau juga suka padanya, 'kan? Menurutku itu cukup. Rengkuh saja perasaan itu selama masih berkobar, hangatkan dirimu di sana. Buat dirimu nyaman, temukan hal-hal menarik tentang diri kalian masing-masing; beri dia kesempatan untuk membuatmu percaya bahwa seseorang sepertimu layak mendapatkan perhatiannya.”
Yoongi menatapnya, bibirnya terbuka. “Wow.” Katanya kemudian dan Jeongguk nyengir. “Apakah ayamnya beracun?”
“Tidak, Sob.” Jeongguk mengangguk serius. “Memangnya menurutmu apa lagi alasan lelaki seserius Taehyung mau padaku?”
“Entahlah. Seks?”
“Itu juga, sih.”
Yoongi tertawa dan Jeongguk tersenyum lebar, senang setidaknya Yoongi tertawa. “Yah, kurasa kau benar.” Katanya. “Aku memikirkan ini sepanjang hari—ketakutan jika suatu hari dia mungkin bosan padaku.”
“Kau tidak hidup di masa sekarang,” Jeongguk menyuap nasi pulennya, mengunyahnya sebelum menjawab. “Mencemaskan hal yang belum terjadi sama sekali.”
Yoongi meringis, “Benar lagi.” Dia mulai menyuap makanannya. “Kurasa aku juga sudah menyakitinya karena ketakutanku sendiri.”
“Tidak ada yang menyalahkanmu, kok.” Jeongguk tersenyum hangat, menyemangati. “Kau merasa takut, itu wajar. Tapi jangan biarkan ketakutanmu itu menguasai segala aspek dalam hidupmu. Jangan sampai dia memanipulasimu dengan bayangan bahwa kau tidak layak bahagia.”
“Aku pikir kau tidak punya otak.”
“Trims. Kau bukan orang pertama yang bilang begitu.”
Yoongi tertawa, nampak jauh lebih rileks sekarang—bahunya naik dan Jeongguk suka itu.
“Mulailah menghargainya sedikit, jika kau masih takut—kau selalu bisa membicarakannya pada Seokjin. Dia mungkin malah akan membantumu, membuatmu yakin. Komunikasi itu penting, menghindari drama yang tidak perlu.” Tambah Jeongguk menandaskan nasi di kotaknya dan mendesah.
Yoongi menatap makanannya, memikirkan prospek komunikasi yang ditawarkan Jeongguk padanya. “Kau benar,” katanya kemudian, mendesah berat. “Lagi.”
“Hubungan tidak akan berjalan jika tidak ada komunikasi.” Jeongguk mengedikkan bahu. “Menurutku malah itulah kenapa manusia diberikan bahasa dan kecerdasan itu, 'kan? Untuk bicara jika ada hal yang tidak disukainya atau disukainya.”
“Kau pernah bertengkar dengan Taehyung?” Tanya Yoongi kemudian setelah mereka bersidiam beberapa saat.
“Saat dia cemburu pada Jaehyun, kurasa? Selebihnya hal-hal yang tidak terlalu serius.” Jeongguk terkekeh, “Tapi kemudian aku menjelaskan dia siapa dan bahkan memintanya untuk bicara langsung pada Jaehyun tentang hubungan kami, dia percaya dan aku menghargai rasa percaya itu.”
Yoongi menatap makanannya, memikirkan banyak perspektif baru setelah Jeongguk bicara. “Kau ternyata tidak seburuk itu,” katanya kemudian—memberikan senyuman kucingnya yang menggemaskan pada Jeongguk yang balas tersenyum lebar.
“Nah, sekarang tolong bantu ambilkan aku nasi, Yoon.” Jeongguk meringis dan Yoongi memutar bola matanya.
“Baru saja semenit lalu kupikir kau ini keren,” dia beranjak dan melangkah ke dapur sementara Jeongguk terkekeh di tempatnya. “Trims, Yoon!” Serunya pada Yoongi yang menggerutu.
Dia kembali dengan sepiring nasi hangat yang diterima Jeongguk dengan penuh syukur. Menyingkirkan topik tentang Seokjin saat teman-teman mereka datang dengan riuh langsung menyerbu makan siang yang dibawakan Yoongi sementara Taehyung tiba terakhir dengan Yugyeom yang membimbingnya.
“Lihat dirimu,” goda Jeongguk dan Taehyung mendelik padanya, duduk di sisinya dengan kaki diluruskan dan mendesah kelelahan. “Lelah, ya?”
Taehyung mengangguk, tidak mengatakan apa pun saat menandaskan isi gelas minuman Jeongguk—dia beraroma pekat matahari dan udara, membuat Jeongguk menghirup napas dalam-dalam, memetakan aroma itu di otaknya.
“Kau membelikanku pisau cukur tidak, Yoon?” Tanyanya kemudian, mengusap dagunya yang kasar dan Jeongguk terkekeh, dia mengulurkan tangan—ikut membelai jenggot-jenggot baru di sana, meraskan teksturnya yang seperti lidah kucing.
“Ada, di tasku.” Yoongi mengangguk, menelan kunyahan terakhirnya lalu membereskan makanannya sementara para perempuan berseru senang menemukan petai di dapur.
“Kak Tae!” Tzuyu melongok dari dapur, “Mau petai goreng tidak?”
Taehyung mendesah panjang, “Ya! Tolong!”
Tzuyu terkekeh, “Oke!” Serunya lalu beranjak kembali ke dapur dan Yugyeom menyusul mereka dengan minuman di tangannya.
“Tolong siram urinmu dengan baik setelah ini,” gerutu Jeongguk menyelesaikan makanannya dan Taehyung terkekeh. “Nih,” dia meraih kulit ayamnya—bagian yang tidak disukainya dan mengulurkannya ke Taehyung yang langsung membuka mulutnya, menerima bagian terbaik dari ayam goreng itu.
“Kau tidak suka petai?” Tanya Taehyung, mengunyah kulit ayamnya dan meraih remahan tepung ayam yang rontok di sekitar tempat makan Jeongguk. “Dan kulit ayam?”
“Ya,” sahut Jeongguk menatapnya. “Semua bagian terbaik dunia kuberikan padamu.” Dia mengecup telapak tangannya lalu menempelkannya di pipi Taehyung yang terkekeh.
“Terbaik hanya karena kau tidak suka,” dia nyengir mengusap minyak di pipinya karena mulut Jeongguk penuh minyak setelah makan ayam.
Jeongguk nyengir. “Setidaknya aku memberikan hal-hal yang lezat, 'kan?” Dia melipat kotak ayam gorengnya, membungkus tulangnya dengan rapi agar Diwud tidak memakannya dan tersedak.
Dia meraih kotak ayam Taehyung yang berada di dekatnya, menggerang saat gerakan sederhana itu menyakiti punggungnya kemudian membantu Taehyung membuka kotaknya sementara para perempuan datang membawa piring terisi petai goreng.
Jeongguk duduk di sana, menerima semangkuk air bersih untuk cuci tangan dari Yoongi karena dia belum bisa bangkit menonton Taehyung makan dan sesekali menerima suapan daging ayam yang disuapkan Taehyung padanya. Jeongguk mengamati bagaimana Taehyung nampak senang sekali dengan makanan sesederhana petai goreng sehingga dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memijat tengkuk Taehyung yang sedang makan.
Mereka kemudian terlalu kenyang untuk membelah durian mereka sehingga semuanya memutuskan untuk berbaring—bermalas-malasan karena sebentar lagi penarikan dan program kerja mereka sudah hampir habis.
“Ayo mengisi buku harian KKN,” Momo datang membawa setumpuk buku putih yang membuat semuanya mengerang keras—mereka belum mengisinya sejak dua minggu lalu.
Tzuyu yang masih makan mendongak, “Contek saja punyaku. Aku mengisinya tiap malam, kok.” Katanya seperti seorang malaikat dan semuanya bergegas membuka buku Tzuyu, menyalin isinya beramai-ramai.
“Oh, iya,” Dahyun kemudian bicara seraya menulis, teman-temannya membungkuk di sekitarnya—menyalin isi buku harian Tzuyu yang masih menikmati makan siangnya. “Kita akan membuat perpisahan, 'kan? Memanggang ayam atau ikan maksudku?”
Yugyeom mendongak, sejenak baru menyadari itu. “Benar juga,” katanya kemudian.
“Uang aman, kok. Masih ada cukup untuk membeli ayam kurasa, kita makannya hemat.” Dahyun menambahkan dan Yugyeom mengangguk-angguk.
“Bagaimana?” Tanyanya ke teman-temannya.
“Tidak masalah untukku,” sahut Taehyung dengan Jeongguk yang bersandar di bahunya, nampak nyaman seperti bayi yang kenyang dan terkantuk-kantuk. “Bukankah itu hal yang biasa dilakukan?”
Yugyeom mengangguk, “Benar juga, sih. Nanti aku bicarakan dengan Ibu dan Bapak.” Katanya sebelum kembali menulis.
“Kita panggang ayam saja, nanti kita turun ke Pasar Wedi karena pasar di bawah pasti tidak ada ayam yang cukup.” Yoongi menjawab tanpa mendongak. “Sekitar sepuluh ekor mungkin cukup? Jeongguk bisa mengundang Sobat Sebat-nya.”
Jeongguk mengacungkan jempolnya, masih sibuk mengisi buku hariannya. “Tidak masalah,” katanya menoleh ke buku Taehyung, menyalin apa yang ditulis Taehyung. “Mereka juga mau membantu.”
“Kira-kira besok tubuhmu sudah enakan belum, Gguk?” Tanya Yugyeom kemudian.
“Kuharap begitu,” keluh Jeongguk, mencoba menegakkan punggungnya yang nyeri. Menyadari dengan kesal sakit itu benar-benar menyiksanya. “Kita akan ke rumah Pak RT07, ya? Mengerjakan proker terakhir?”
Yugyeom mengangguk, kembali menulis di buku hariannya. “Jika kau tidak bisa bermotor, mungkin kau tinggal di pondokan saja? Taehyung bisa dengan Yoongi.”
“Tidak, tidak,” tukas Jeongguk kemudian, “Aku besok akan lebih baik tenang saja. Ini hanya memar otot karena kaget saja.”
Sesiangan itu dihabiskan Jeongguk dan Taehyung untuk berbaring—mengistirahatkan tubuh mereka yang nyeri seraya bermain Candy Crush Jelly Saga sementara teman-temannya bermalas-malasan. Memar di punggung Jeongguk sekarang berwarna hijau kebiruan, sakit jika disentuh namun tidak ada tanda pendarahan dalam yang berarti.
Dia sudah berjanji jika besok sakitnya masih terasa tidak tertahankan, Jeongguk harus turun ke Puskesmas.
“Setelah penarikan,” kata Jeongguk dengan suara rendah sehingga hanya Taehyung yang mendengarnya.
“Hm?” Tanya Taehyung, fokus mengalahkan musuh di game-nya.
“Kau masih akan bertemu denganku, tidak?”
Taehyung mengerjap, lalu menoleh pada Jeongguk yang meringis. “Pertanyaan macam apa itu?” Dia memicingkan matanya dan Jeongguk menjilat bibirnya, bersalah.
“Yah? Mungkin saja setelah penarikan kita tidak punya spark lagi sehingga kau—”
Taehyung menghentikannya bicara dengan mencubit bibirnya, keras sekali hingga Jeongguk mengerang keras, berusaha menarik tangannya lepas dari bibirnya. “Kau berisik.” Katanya melepaskan tangannya dan Jeongguk mengusap bibirnya yang sakit.
“Tentu saja aku akan bertemu denganmu, Bodoh.” Gerutunya kemudian hingga Jeongguk tersenyum lebar. “Malah aku akan dengan senang hati terus mengajakmu pergi, aku tidak akan mau berjauhan denganmu.”
“Oh,” Jeongguk mengusap kepala Taehyung. “Bayiku,” dia terkekeh senang dan Taehyung mendenguskan senyuman lebar. “Aku tidak akan berjauhan darimu. Ikat saja aku di pinggangmu.”
Taehyung terkekeh, “Bagaimana jika setiap Jumat malam, kita saling menginap? Antara kau di kosanku atau aku di kosanmu?”
“Aku suka itu.” Jeongguk mengangguk, “Setiap Jumat jika tidak ada kegiatan besoknya, bagaimana? Aku tidak mau membuatmu lelah.”
Taehyung menyerigai. “Lelah kenapa?” Tanyanya.
Jeongguk mengerlingnya. “Entahlah. Menurutmu apa?”
Taehyung menggerakan lidahnya sensual hingga Jeongguk bergidik nikmat, membayangkan lidah itu di bagian tubuhnya yang lain. Membayangkan Taehyung membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya dan dia bisa menjambak Taehyung kapan pun dia butuh pemuda itu memeluk tubuhnya lebih dalam lagi....
”... Melamun jorok.”
Jeongguk mengusap wajahnya berat dan Taehyung terkekeh. “Menyerah. Kau terlalu menggoda sehingga isi kepalaku semuanya melibatkanmu dan ranjang,”
Taehyung tertawa, “Kau bajingan bangsat.”
“Bajingan bangsat yang siap membenamkan wajahnya di antara kedua kakimu dan membuatmu mendesah nikmat, ya. Itu aku.”