Kuliah, Kerja, Nyantai / 75
cw // sexual flirt .
“Terima kasih banyak, Kak, bantuannya!”
Jeongguk yang sekarang tidak lagi menganggap Namjoon sebagai saingannya menyalami pemuda itu hangat atas bantuan mereka selama program kerja kemarin. Mereka kembali ke Yogyakarta pagi-pagi sekali karena Seokjin harus siap di klinik pukul sembilan pagi. Mereka membereskan barang-barang mereka sesigap mungkin dan langsung berangkat tanpa mandi atau sarapan.
“Kembali kasih,” Namjoon tersenyum. “Besok saat program kerja utama kalian, fermentasi paka ternak, aku akan datang lagi dengan Seokjin, kurasa.” Dia mengerling Seokjin yang berdeham keras, merapikan kemejanya yang sudah rapi.
“Ada beberapa hewan yang harus aku cek lebih lanjut, jadi aku akan ikut. Beberapa warga sudah menghubungiku, ingin mengobati ternak mereka yang sakit. Jadi, yah,” dia berdeham. “Aku ikut.”
“Oke, Kak. Kami tunggu.” Taehyung tersenyum lebar, melirik Yoongi yang duduk di dalam sedang bermain gitar—nampak sama sekali tidak tersentuh oleh kegiatan pamit teman-teman Taehyung.
Namjoon melirik Seokjin, jelas menggoda dengan senyuman lebar di bibirnya. “Pak Dokter, ada yang ingin disampaikan sebelum pulang?”
Seokjin sekali lagi berdeham dan Jeongguk tidak tahan lagi, “Kau ingin kuambilkan segelas air? Sepertinya tenggorokanmu sakit.” Tanyanya menggoda dan beberapa orang terkekeh.
Seokjin terlihat kikuk, dia menggaruk pelipisnya sebelum berdeham lagi hingga Jeongguk geram ingin sekali menyarangkan pukulan ke kepalanya karena dia begitu lambat. Dia punya semalaman kemarin untuk mendekati Yoongi tapi dia malah mengamati pemuda itu begitu saja seperti pungguk merindukan bulan. Jeongguk bukan dokter, tapi setidaknya dia tahu caranya mendekati seseorang.
Jika dia bodoh seperti Seokjin, dia tidak akan mengenggam Taehyung sekarang.
“Yoongi, mereka mau pulang.” Jeongguk menoleh ke dalam, ke arah Yoongi yang sekarang mendesah lalu akhirnya berdiri—meletakkan gitarnya di dinding dan menghampiri mereka yang sekarang berdiri di depan pintu seperti rombongan sirkus.
“Ya, hati-hati di jalan. Terima kasih bantuannya.” Katanya, melirik Seokjin yang menatapnya seperti orang buta yang baru melihat matahari lalu memalingkan wajah dan Jeongguk mencibir karena tingkah mereka.
Anak TK bisa bersikap lebih baik saat mendekati seseorang, Jeongguk yakin.
Semuanya diam—menunggu.
Seokjin menoleh pada adik tingkatnya, “Kenapa? Ayo?” Dia sudah nyaris kehabisan pesona dokter mudanya yang sejak tadi berusaha digunakannya. Berhadapan dengan Yoongi membuatnya kikuk dan menggemaskan—seperti seekor anak anjing lucu yang ingin diperhatikan.
Namjoon berdeham, “Tidak ada yang... ingin diminta atau apa, mungkin? Dok?”
Seokjin merona, seperti kepiting rebus. Entah ke mana perginya dokter muda cemerlang yang semalam mengevaluasi kinerja adik-adiknya dalam memberikan vaksin. Mengevaluasi manajemen waktu mereka dalam mengerjakan tugas dan berharap kedepannya mereka bisa lebih efisien dalam bekerja. Dia nampak bersinar saat bicara di depan adik-adiknya, menjelaskan banyak hal dan mendiskusikan kasus-kasus baru yang mereka terima dari masyarakat.
Dia kemudian meraih ponselnya, mengulurkannya ke Yoongi yang mengerjap kaget. Jeongguk menyadari telinga Yoongi yang memerah; satu-satunya penanda saat dia gugup atau malu.
“Boleh minta nomor ponselmu?” Tanyanya kemudian, ujung kalimatnya gemetar.
Jeongguk terserang serangkaian batuk panjang yang terdengar seperti tawa, dia menyamarkan tawanya menjadi batuk keras dan memalingkan wajah sementara semua orang mulai menggoda mereka; bersorak-sorak seperti anak SMA yang temannya baru mulai pendekatan.
Yoongi menatap ponsel itu sementara teman-temannya semakin berisik.
“Sudahlah, beri saja nomormu!” Jeongguk menyikutnya, hingga Yoongi terhuyung nyaris terjerembab.
“Ayo, beri saja!” Yugyeom ikut menyoraki di belakangnya, mengipasi api dan menuangkan bensin ke atasnya dengan ceria. “Kau tidak harus membayar apa pun kok memberikannya nomormu! Bersedekah itu baik, Mas Yoon!”
Yoongi berdecak, terdengar jengkel walaupun telinganya memerah hingga ke lehernya. Semua anggota kelompok mereka dan juga kedua adik tingkat Seokjin sedang tertawa, menikmati tontonan gratis di hadapan mereka saat ini.
Dia meraih ponsel Seokjin, mengetikkan nomornya lalu mengembalikannya ke Seokjin yang menerima kembali ponselnya seolah sedang menerima sebuah anugerah yang akan mengubah hidupnya. Dia mengamati serangkaian nomor di layar ponselnya sebelum menatap Yoongi yang menolak menatapnya.
“Disimpan,” kata Jeongguk berusaha serius walaupun bibir bawahnya bergetar menahan tawa, “Jika tidak sengaja terhapus bisa gawat.”
Seokjin bergegas menyimpan nomor itu dan adik-adik tingkatnya tertawa karena gerakannya yang nyaris panik ketika melakukannya. Dia kemudian menekan tombol panggil dan menunggu.
Yoongi mendesah dan menatapnya, masih tengan telinga memerah. “Tidak ada sinyal.” Katanya nyaris merajuk.
Jeongguk nyaris melolong karena mendengar jawaban Yoongi yang sangat berlawanan dari sifatnya sehari-hari. Taehyung mencubit pahanya agar tidak tertawa dan Jeongguk balas mencubitnya—mereka saling mencubit, menahan tawa. Jeongguk menggeleng, seolah mengatakan 'aku tidak bisa lagi!' dan Taehyung balas menggeleng dengan bibir gemetar menahan tawa.
“Oh, iya. Maaf.” Kata Seokjin kikuk lalu menyelipkan ponselnya ke saku. “Sampai ketemu lagi, Yoongi.” Pamitnya, “Jaga kesehatan.”
Dan baris itulah yang menjadi obrolan panas di pondokan selama sisa hari itu.
Jeongguk tidak henti tertawa geli, “Aku tidak tahu ternyata selevel dokter pun sepayah itu saat mendekati seseorang!”
“Kau memang terlalu banyak bicara,” kata Yoongi, menunduk ke gitarnya—berusaha mengabaikan teman-temannya yang terus menggoda tentang Seokjin. “Let it slide already! What's wrong with you?” Dia menggertak teman-temannya yang tidak berhenti menggodanya.
“Huuu, takuuuut!” Goda Yugyeom dan bertukar high-five dengan Jeongguk yang masih tertawa, nyaris terjungkal dari kursinya karena teringat bagaimana keduanya nampak sangat kikuk ketika digoda.
”'Jaga kesehatan, Yoongi.'” Taehyung meniru nada Seokjin seraya merokok di pintu samping pondokan. “'Sampai ketemu lagi, ya?'” Dia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya melalui hidungnya.
“Tidak, tidak.” Yugyeom menggeleng. “Bukan begitu, terbalik.” Dia kemudian berdeham, meniru mimik wajah Seokjin yang merona dan kikuk lalu mengatakan dengan suara Seokjin paling mirip yang bisa dilakukannya, “'Sampai ketemu lagi, Yoongi. Jaga kesehatan.'”
“Begitu!” Yugyeom menjentikkan jarinya dan semua tertawa.
Yoongi mengambil sandalnya yang ada di pinggir tikar ruang tengah lalu melemparnya ke Yugyeom yang terlambat menghindarinya. Sandal itu mendarat di kepalanya dan dia mengaduh keras. Kesal, dia menyambar sandal itu lalu melemparnya ke luar. Sandal malang itu mendarat di tanah dengan suara keras, jauh dari jangakuan Yoongi.
“Kurang ajar!” Seru Yoongi, merangkak di atas tikar menatap sandalnya yang sekarang berada di bawah jemuran yang penuh oleh pakaian dalam mereka. “Sandalku!”
Yugyeom menjulurkan lidahnya, “Ambil sendiri!”
Mereka sedang bertengkar saat Bapak pulang dari sawah, dengan sepatu karet dan cangkul di bahunya lalu berhenti di pintu—tertawa serak melihat mereka semua saling meneriaki sebelum berdeham.
“Mas, Mbak,” katanya dan semuanya berhenti bertingkah, menoleh untuk mendengarkan Bapak. “Besok malam bantu acara 40 harian, ya? Dekat kok cuma di sana.” Dia menunjuk arah Utara. “Pakai pakaian yang rapi, ya?” Lalu beliau berlalu—memang tidak pernah bergabung dengan anak-anak KKN selain untuk memberi tahu mereka ada hal yang bisa mereka bantu di sekitar sana.
Jeongguk langsung mengerang keras, teringat pakaiannya yang semua baru dibawa turun ke binatu dekat pasar dua hari lalu. “Celana jinsku masih di binatu! Dan yang satu lagi basah!” Keluhnya, menatap celana jinsnya yang kemarin langsung dicucinya karena ternoda lumpur setelah proker. “Ada yang membawa celana lebih?”
“Aku hanya bawa satu,” Yoongi langsung menjawab dari luar, melompat di atas satu kakinya yang beralas sandal untuk meraih sandalnya. “Hanya yang kugunakan. Dan satunya juga di binatu.”
Taehyung mendesah, “Kenapa kau hanya bawa dua, sih?” Tanyanya setengah jengkel. “Lagi pula jika ada yang membawa lebih, tidak ada yang punya ukuran persis seperti ukuranmu.” Dia menepuk tato Jeongguk di paha dengan keras.
“Ya, aku mana tahu jika celanaku akan kotor dan kebetulan di binatu semua, 'kan?” Balasnya mendelik pada Taehyung yang menghabiskan rokoknya lalu mematikan puntungnya sebelum membuangnya. “Aku izin turun, ya? Aku akan mengambil celana lagi.”
“Turun menginap atau turun setengah hari?” Tanya Yugyeom kemudian, bangkit meraih formulir turun dari pondokan yang harus diisi dan ditandatangani oleh Bapak.
“Setengah saja,” kata Jeongguk menerima formulir itu. “Aku akan mengambil celana lalu kembali lagi sorenya. Tapi aku tidak ikut les di Masjid, ya? Kalian ingin kubelikan sesuatu?”
“Ayam geprek!” Seru Dahyun dari kamar, suaranya keras sekali hingga semua terlonjak kaget. “Gguk, aku mau ayam geprek!” Dia kemudian bangkit dengan suara gedebak-gedebuk lalu muncul di pintu. “Ayam geprek!”
“Jika kau menyebutkan ayam geprek sekali lagi, aku akan memberimu hadiah payung cantik.” Kata Jeongguk, menunduk mengisi formulir dengan pulpen.
Dahyun nyengir, “Ayam geprek!”
“Matio!”
Taehyung duduk di sisinya, mengamati dia mengisi formulir lalu berdeham. “Aku ikut.” Katanya kemudian, penuh tekad.
Jeongguk berhenti menulis lalu menoleh, menatap Taehyung yang sekarang merona tipis. “Kau mau mengambil sesuatu juga?” Tanyanya kemudian kembali menunduk ke formulir yang diisinya.
“Selimut.” Kata Taehyung kemudian setelah sejenak berpikir. “Sekarang aku menggunakan selimutmu, 'kan? Kau tidur tanpa selimut.”
Jeongguk mengedikkan bahu, “Tenang saja. Aku akan mengambil satu selimut hari ini di kosan dan kau bisa gunakan selimutku.” Dia menyelesaikan formulirnya lalu menandatanganinya.
Taehyung meraih buku formulir dan meminjam pulpen Jeongguk. “Aku ikut.” Katanya, kali ini tegas dan Jeongguk mengerutkan alis.
“Oke, oke. Tenang. Tidak perlu menyalak,” katanya pada Taehyung yang menatapnya. “Apa masalahmu?” Tanyanya lagi, alisnya berkerut saat menoleh menatap Taehyung yang balas mentapnya.
Mata mereka bertemu; semenit, dua menit....
Pemahaman melintasi kepala Jeongguk seperti komet yang terang benderang.
Oh.
Sekarang, Jeongguk yang berdeham. “Oke, aku dan Taehyung turun hari ini. Kalian yang ingin ayam geprek, tulis saja ingin cabai berapa dan makanan apa lagi yang harus kami beli.” Dia bangkit.
“Aku pinjam motormu, ya, Dahyun? Karena kalian nampaknya akan memesan banyak makanan, sebaiknya aku membawa motor yang praktis.”
“Pakai saja,” Dahyun sekarang sibuk menulis pesanan ayam gepreknya dengan Momo dan Tzuyu. “Kami mau banyak tidak apa-apa, ya?” Tanyanya kemudian pada Jeongguk yang mengganti celana boksernya denga training lusuh.
Jeongguk menutup pintu kamar untuk mengganti celananya. “Tidak apa-apa, asal kalian memberiku uang.” Sahutnya meraih celana yang teronggok di kakinya lalu menggantungnya di balik pintu.
Dia terpaksa turun ke Yogyakarta dengan celana tidur itu karena dia tidak punya celana lain yang cocok digunakan untuk perjalanan jauh. Dia keluar kamar saat Taehyung berdiri dengan surat meninggalkan pondokannya untuk ditandatangani Bapak. Jeongguk meraihnya, membiarkan Taehyung bersiap saat dia mencari Bapak ke belakang.
“Pak, saya dan Taehyung akan turun untuk mengambil celana panjang. Celana saya basah dan di binatu.” Katanya dan Bapak meraih surat mereka serta pulpen yang disodorkan ke arahnya.
“Jangan kemalaman, ya, kembalinya. Nanti hujan.” Kata Bapak dengan rokok kretek di bibirnya, aromanya manis dan pekat. Dia menyerahkan surat Jeongguk lalu menandatangani surat Taehyung.
Jeongguk mengangguk. “Siap, Pak. Terima kasih.” Lalu dia bergegas meraih jaketnya dan Taehyung sudah siap di depan, di teras dengan pakaian siap berkendara.
“Kalian sudah menulis semua yang kalian inginkan dari kota?” Tanya Jeongguk meraih helmnya dan mengenakannya. Teman-temannya yang duduk di ruang tengah mengangguk—hari ini PAUD libur, maka mereka juga libur. Hanya memiliki jadwal untuk les di Masjid sore nanti yang tidak dihadiri Taehyung dan Jeongguk.
“Sudah, semuanya di Taehyung.” Dahyun tersenyum lebar; senang akan mendapatkan ayam geprek sebagai menu makan malam hari ini.
“Hati-hati di jalan!” Yugyeom melambai saat keduanya bersiap-siap di motor Dahyun. “Jangan kemalaman, nanti hujan.”
Jeongguk memberikan jempolnya pada Yugyeom sebelum kemudian melangkah ke tanjakan, menunggu Taehyung di sisi jalan besar. Taehyung mengendarai motor Dahyun naik setelah mengklakson teman-temannya tanda pamit lalu berhenti di sisi Jeongguk.
Jeongguk menyerigai, paham apa yang akan mereka lakukan begitu mereka tidak di pondokan. Dan dia tidak sabar.
“Kosmu atau kosku?” Tanyanya dan dia bisa merasakan tubuhnya berdenyar—dia akan mendapatkan ciumannya hari ini, dia yakin sekali. Dan mungkin lebih dari ciuman jika menilik betapa bertekadnya Taehyung tadi saat mengatakan dia akan ikut turun ke Yogyakarta.
“Kosmu.” Sahut Taehyung kering, dia menelan ludah dengan sulit. Jeongguk tahu, tidak hanya dia yang selama ini menahan diri karena tidak ingin membuat suasana pondokan tidak kondusif. “Lebih dekat.”
Jeongguk tersenyum lebar, menaiki jok belakang dan menepuk paha Taehyung dari belakang. “Kau memang cerdas, aku sama sekali tidak memikirkan itu.”
“Karena kau bodoh!” Sahut Taehyung saat akhirnya mereka meluncur ke jalan, menuju Klaten.
“Baiklah, apakah jika aku bodoh aku tidak berhak mendapatkan blowjob?” Tanyanya ceria, mendekatkan wajahnya ke bahu Taehyung yang mengemudi dengan wajah meringis.
“Kau akan mendapatkan blowjob tidak peduli apakah kau pintar atau bodoh, oke?” Sahutnya dan mendesah keras saat Jeongguk mengusap pahanya dari belakang. “Diam, Bangsat.” Katanya.
“Kita punya seharian untuk bersama tanpa memikirkan teman-teman kita,” Jeongguk menjawab, merasa perutnya seolah terisi ratusan kembang api yang meletup-letup. Seperti berondong jagung yang dipanaskan. Jeongguk menyelipkan tangannya ke balik jaket Taehyung dan mengusap perutnya yang langsung mengejang.
“Bangsat,” ludah Taehyung menggigil. “Seharusnya kau saja yang mengendarai motornya tadi.”
“Tidak mau,” dendang Jeongguk senang; tangannya bergerak di atas perut Taehyung—melingkar, mengusap lembut, menggunakan telunjuknya untuk memutar di dalam pusar Taehyung hingga lelaki itu menggertakkan giginya.
“Setidaknya jangan di jalan,” keluh Taehyung saat mereka berbelok ke arah Klaten, sebentar lagi menuruni tanjakan Clongop yang melegenda. “Aku tidak mau mati, oke?”
Jeongguk mendesah, “Baiklah.” Dia menarik tangannya dan menegakkan duduknya. “Aku akan membalaskan dendamku nanti di kamarku.”
Taehyung mengerang, “Oh, aku sangat berharap kau akan membalaskan semua dendammu. Aku akan memohonmu untuk melakukannya.” Dia tertawa tinggi, nyaris histeris.
Mereka meluncur menuruni Clongop yang asri—semua daun berwarna hijau cerah karena hujan yang terus mengguyur Gunung Kidul selama ini. Hawa sejuk menerpa wajah mereka karena turun lumayan pagi. Jalanan tidak terlalu ramai saat mereka akhirnya tiba di wilayah Wedi, Klaten. Pasar sedang menggeliat untuk tutup ketika mereka lewat untuk belok kiri.
“Siapa yang di atas?” Tanya Jeongguk kemudian, iseng saat mereka mendekati jalan utama—jalan Yogyakarta-Solo.
“Kau.” Tandas Taehyung seketika itu juga, bahkan tidak berpikir.
“Hah, tidak mau.” Sahut Jeongguk, setengah berdendang menyebalkan. “Aku lelah. Kau saja.”
“Yakin tidak mau jadi yang di atas untuk pertama kalinya?” Tanya Taehyung kemudian. “Kau punya kondom, tidak?” Tanyanya.
“Kurasa ada,” Jeongguk mengingat-ingat laci kamarnya—sepertinya dia punya cadangan kondom di suatu tempat di sana namun tidak yakin karena sudah lama sekali sejak Jeongguk aktif secara seksual. “Tidak perlu cemas, di ujung gang kosanku ada mini market, kita selalu bisa membelinya.”
“Oke.” Sahut Taehyung, memasang sein dan berhenti di depan rel kereta api yang berbunyi keras—tanda kereta akan tiba. “Jadi siapa yang di atas?” Tanyanya lagi, mendesak dan Jeongguk terkekeh.
“Baiklah, kita lakukan yang adil. Kita suit.”
“Oke.” Taehyung tertawa dan Jeongguk senang mendengar tawa kering yang gemetar itu—menunjukkan betapa banyak yang mereka tahan selama ini di pondokan. “Kita suit.”
“Siapa yang kalah, dia yang di bawah.”
“Apa-apaan?!” Taehyung menoleh saat kereta lewat dengan suara gemuruh memekakkan telinga. “Siapa yang menang di bawah, dong! Kita memperebutkan posisi bawah!”
“Aku yang membuat peraturannya.” Jeongguk mendengus congkak lalu kemudian diam sejenak dan memutuskan, “Baiklah, yang kalah di bawah. Tapi yang menang boleh di bawah saat 69, bagaimana?”
Taehyung memicingkan matanya, memikirkan kesepakatan itu dengan baik lalu mengangguk. “Oke, sepakat. Aku akan membuat diriku kalah.” Katanya kemudian, bergegas mengendarai motornya lagi melewati rel yang ramai setelah palangnya diangkat.
“Sayang sekali, padahal aku ingin mendengarmu menggunakan suara beratmu yang mendominasi itu,” Jeongguk mendesah, membayangkan suara berat Taehyung di kulitnya—memuji betapa indahnya dia, memuji betapa menyenangkannya bercinta dengannya.
“Memangnya aku tidak ingin mendengar suaramu?” Tanya Taehyung kemudian, jengkel dan Jeongguk terkekeh. “Bagaimana jika yang kalah suit akan di bawah untuk ronde pertama dan di atas untuk ronde kedua? Adil, 'kan?”
Jeongguk tertawa semakin keras, “Baiklah!” Katanya, akhirnya menyerah karena jika mereka terus berdebat tentang posisi, mereka tidak akan jadi bercinta. “Kau memang berkemauan keras, 'kan?”
Taehyung mendengus, mendapatkan apa yang diinginkannya. “Hanya tentangmu.” Sahutnya lugas.