Kuliah, Kerja, Nyantai / 98


Hari ini mereka tidak memiliki agenda apa-apa kecuali bertamu ke rumah ketua RT 07 untuk mendiskusikan masalah pembuatan papan nama perangkat desa baru yang mereka anggarkan sebagai program kerja.

Rumah ketua RT 07 berada persis sebelum turunan ke arah Masjid yang mereka gunakan sebagai tempat belajar bersama anak-anak. Memasuki jalan rusak berbatu yang becek dan licin dengan rimbun bambu di kanan kirinya.

Jeongguk mengendarai motornya dengan perlahan, membiarkan semua teman-temannya dengan motor bebek dan matic untuk mendahuluinya melewati kubangan lumpur lumayan dalam. Di bawah mereka ada sungai kecil yang airnya lumayan deras, dengan kucuran air deras yang tersumbat ranting pepohonan; memberikan suasana yang sangat menyenangkan dengan suara hewan, suara gemericik air, dan gemerisik dedaunan.

Di sekitar mereka hening, hanya ada suara serangga dan cicadas seperti musim panas di dalam komik-komik Jepang. Hawanya sejuk, sinar matahari yang redup tidak bisa menembus celah dedaunan yang lebat di atas mereka—gemerisik menggoyangkan titik-titik air sisa hujan semalam ke bawah. Suaranya gemuruh saat angin menerpa sela batang bambu di sekitar mereka.

“Kau mungkin mau turun saja?” Tanya Jeongguk sementara Momo mengendarai motor Dahyun perlahan melewati kubangan itu, berhati-hati agar air tidak menyiprati Yugyeom yang berada persis di belakangnya. “Air mungkin menyiprati punggungmu karena ban motorku.”

Taehyung menaikkan kacamatanya, menoleh ke belakang dan menyadari kata-kata Jeongguk mungkin benar. “Yah, kau benar.” Katanya lalu melompat turun dari motor, berjalan ke pinggir.

Jeongguk menatapnya, menumpukan lengannya di kepala motornya; menatapnya dengan keterpesonaan yang membuat Taehyung merona. Dia ingin memeluk Jeongguk, ingin menimangnya, ingin menciumnya...

“Kau cantik sekali,” katanya dan Taehyung memutar bola matanya. “Ada yang pernah bilang padamu, tidak?”

“Hal yang akan dikatakan buaya pada sasarannya.” Sahut Taehyung kemudian terkekeh dan Jeongguk tersenyum lebar.

“Bisa diperdebatkan, karena kau memang indah.” Katanya kemudian bersiap, dia menegakkan tubuhnya dan motornya karena Yugyeom sudah melewati setengah jalan becek itu.

Taehyung mencibir geli lalu berjalan di pinggir, mencari tanah yang tidak becek untuk dijejak dengan sandal gunungnya sementara Jeongguk bersiap-siap untuk lewat. Karena motornya memang dirancang untuk medan ekstrim dan kubangan, dia melewati tanah itu dengan lancar—hanya terkena cipratan lumpur di kakinya yang terbalut celana pendek selutut.

Dia meluncur mulus, tiba di ujung kubangan sementara Taehyung masih berusaha mencari tanah untuk dijejak. Dia melompat ke batu di tengah kubangan sebelum melompat ke seberang—namun dia salah memperhitungkan lompatannya karena kemudian, kakinya meleset dari tanah padat dan melesak ke dalam lumpur, dia mengerang keras. Syukurnya berhasil menahan dirinya sendiri agar tidak mengumpat.

Jeongguk langsung menoleh, panik takut sesuatu terjadi padanya lalu mendenguskan tawa keras saat melihat Taehyung sedang mengibaskan kakinya dari lumpur.

Yugyeom yang menoleh juga, ikut tertawa setelah menyadari mereka tidak apa-apa. “Hitung-hitung sambutan selamat datang, Tae!” Katanya ceria. “Nanti dicuci di rumah Pak RT.”

Taehyung mengerang, dia melangkah dengan satu kaki yang basah oleh lumpur hingga ke betis. Tangannya menarik celananya agar tidak terkena lumpur di kakinya dan Jeongguk tertawa.

“Oh, kasihan sekali, Sayangku.” Katanya lalu mengaduh saat Taehyung menempeleng helmnya hingga mengeluarkan suara 'duk!' keras.

Taehyung naik ke jok belakang, kedua tangannya di bahu Jeongguk dan kakinya yang basah oleh lumpur diluruskan. “Jalan,” gerutunya dan Jeongguk tertawa.

“Ada apa denganmu? Kenapa jadi jengkel?” Tanyanya saat motor bergerak menembus hutan bambu ke arah rumah ketua RT 7 yang masih sekitar satu hingga dua kilometer dari jalan besar.

“Kakiku basah.” Sahut Taehyung dan Jeongguk kembali tertawa, benar-benar terhibur dengan omelan Taehyung. “Untung saja aku tidak terjerembab di sana tadi.”

“Nanti kita cuci, kau tidak akan mati hanya karena kakimu mencelus di lumpur,” Jeongguk meliriknya dari spion dan Taehyung tersenyum lebar.

Mereka tiba di rumah ketua RT 07, satu-satunya pengerajin kayu di desa itu. Dia memiliki rumah produksi dan banyak sisa serutan kayu menumpuk di halamannya. Taehyung langsung mengampiri kran air dan mencuci kakinya sementara Momo dan Tzuyu menemukan hal menarik dengan sapi yang diikat di pinggir jalan, tidur santai sambil memamahbiak.

Yugyeom bicara dengan Pak RT mengenai program mereka dan mencari tahu kira-kira berapa yang mereka harus bayarkan sementara teman-temannya dengan tidak suportifnya pergi ke kebun srikaya Pak RT yang sedang berbuah.

“Kau pernah makan srikaya?” Tanya Taehyung saat mengulurkan tangan, memijit buah srikaya terendah dan tersenyum puas saat menyadari buah itu sudah matang. Dia memutarnya lembut hingga lepas dari tangkainya.

Istri Pak RT mengizinkan mereka memetik sesuka mereka, ada lima pohon dan semuanya sedang berbuah ranum-ranum nyaris sebesar kepalan tangan. Mereka memetik lima buah dan menikmatinya dengan berbagi satu buah berdua karena tidak ingin menghabiskan isi kebun orang.

Jeongguk menggeleng saat Taehyung berdiri di depannya, membelah buah itu menjad dua dan menyerahkan separuh kepada Jeongguk yang menerimanya. Dia mengamati daging buah berwarna putih dan bermata banyak itu.

“Kau makan saja, jangan telan bijinya.” Kata Taehyung, dia menyuap buahnya lalu mengeluarkan biji-biji hitamnya ke tangannya—mengunyah daging buahnya lalu menelannya. “Begitu.” Lalu dia mendesah, “Ini manis.”

Jeongguk mengamati buah di tangannya lalu mencontoh apa yang dilakukan Taehyung. Lalu memasang wajah terkejut karena rasanya ternyata enak—legit dan lembut. Dia membuang biji di dalam mulutnya dan tersenyum senang.

Taehyung nyengir, “Enak, 'kan?” Tanyanya.

Jeongguk mengangguk, melanjutkan makannya dengan diam—kapan pun dia mendapatkan makanan lezat untuk dirinya sendiri. Beberapa meter setelah kebun, ada jalan menurun yang lumayan terjal dan kata anak Pak RT yang kebetulan salah satu siswa mereka setiap memberi bimbingan belajar, di bawah sana ada rumah juga.

Jeongguk mundur, “Aku tidak membayangkan tinggal di bawah sana,” katanya, menyelipkan kedua tangannya ke saku celana pendeknya—setiap dia berjalan mata singa di pahanya mengintip. “Saat hujan deras air pasti turun ke sana seperti air terjun.”

“Ada apa di bawah sana, Ilham?” Tanya Yoongi kemudian, meladeni anak lelaki itu bermain sepak bola. “Maksudku di ujung jalan?”

Ilham memainkan bola, mengopernya dengan kaki ke Yoongi yang menerimanya—mereka bermain bola dengan lincah di halaman sementara semua anak KKN makan buah srikaya.

“Sungai,” sahut Ilham kemudian, berhenti memainkan bolanya—menginjak bola itu di bawah kakinya. “Sungai deras.”

“Mereka semua tinggal di medan yang ekstrim.” Kata Taehyung kemudian dan Jeongguk terkekeh, setuju.

Perjalanan pulang mereka ternyata lebih menegangkan dari perjalanan ke rumah ketua RT tadi. Jeongguk akhirnya tidak mengizinkan Taehyung turun di tanah becek itu, berkendara perlahan agar air tidak menciprati bagian belakang pakaian Taehyung. Namun saat mereka melewati tanjakan berbatu seratus meter dari jalan utama, Yugyeom salah memasukkan gigi motornya.

Itulah awal bencananya. Yugyeom yang berhenti mendadak, membuat Jeongguk juga harus mendadak berhenti. Jeongguk kaget, tidak sempat mengembalikan gigi motornya ke netral dan terlanjur memuntir gasnya sehingga motor menggeram dan melonjak kaget.Dia menyentakkan stang motornya, menghindari Yugyeom yang berhenti di depannya—motornya meraung keras.

Semua anak berteriak kaget saat ban depan Jeongguk selip dan motor oleng.

“Jeongguk!” Seru Taehyung saat menyadari mereka akan jatuh dan Jeongguk berusaha menjejakkan kakinya ke tanah, agar motor tidak terguling. Namun terlambat, kakinya mencelus ke tanah becek dan dia kehilangan keseimbangannya.

Dia mendengar Taehyung terkesirap keras sebelum keduanya jatuh ke tanah becek, Taehyung beruntung dia sempat menutupi wajahnya dengan lengan sehingga dia mendarat dengan tangan kanannya di tanah dan motor menimpa tubuh mereka berdua dengan suara keras. Jeongguk berhasil menolehkan wajahnya sehingga helm full face-nya tidak mencederai wajahnya saat terantuk ke tanah. Keduanya berbaring di tanah yang becek. Jeongguk merasakan air mulai merembes ke pakaiannya.

“Tae! Gguk!”

Teman-temannya bergegas memarkir motor mereka, berlari turun menghampiri (kecuali Dahyun) untuk membantu mereka. Jeongguk menghela napas, menoleh ke Taehyung yang masih menutup wajahnya. Yugyeom dan Yoongi melompati tanah becek dengan lincah, menghampiri mereka untuk membantu mereka berdiri.

“Tae?” Panggilnya serak, hatinya mencelos—takut terjadi sesuatu pada Taehyung atau melukainya. “Maafkan aku. Apakah kau—”

Dan untuk mengejutkan semuanya, Taehyung tertawa—terbahak-bahak hingga suaranya menggema ke seluruh penjuru. Jeongguk mengerjap dan semua anak yang baru saja merunduk untuk mengangkat motor Jeongguk diam.

“Punggungku sakit!” Rengek Taehyung, namun tersengal akibat tawa. Dia kemudian menurunkan tangannya, kacamataya ternoda lumpur—begitu juga wajah dan pakaiannya. Dia mengulurkan tangan lalu menoyor kepala Jeongguk, yang masih termangu karena tawanya.

“Apa, sih, masalahmu?!” Tawanya.

Jeongguk sejenak kebingungan sebelum akhirnya tertawa—keduanya histeris karena adrenalin yang menyembur seperti gunung meletus saat mereka berusaha menjejak tanah agar tidak jatuh, namun akhirnya terguling seperti dua ekor kuda nil ke dalam lumpur basah yang sekarang merembes ke pakaian dalam keduanya.

“Sinting!” Gerutu Yoongi namun tak ayal tertawa saat dia mendirikan motor Jeongguk dan mengembalikan giginya menjadi netral sebelum mematikan mesinnya. “Bisa-bisanya kalian tertawa! Ayo, bangun dari sana!”

Yugyeom tertawa, tinggi dan bersalah saat dia membantu Taehyung berdiri dan Momo serta Tzuyu membantu Jeongguk berdiri. Keduanya nampak mengerikan, setengah pakaian mereka kotor oleh lumpur. Wajah Taehyung setengahnya adalah lumpur, lensa kanan kacamatanya tertutup sepenuhnya oleh lumpur. Namun keduanya tertawa, tersenyum lebar.

Hari itu, saat Jeongguk menatap Taehyung yang tertawa dengan wajah separuh ternoda lumpur—dia tahu, Taehyung tidak akan pernah pergi dari hidupnya. Dia akan selalu jadi bagian hidup Jeongguk, tidak peduli bagaimana dan kenapa.

Jeongguk akan menggenggam Taehyung begitu erat di jantungnya agar pemuda itu tahu, dialah yang membuat jantungnya belakangan ini berdetak dengan jauh lebih bersemangat.

Dia jatuh cinta pada Taehyung, itu jelas. Namun jatuh begitu dalam hingga dia tidak sudi diselamatkan, adalah hal baru.


“Lho?? Kenapa ini? Jatuh di mana??”

Jeongguk tertawa dan Taehyung turun dari jok motornya, tersenyum lebar pada Ibu yang kaget karena mereka pulang dalam keadaan kotor oleh lumpur.

“Jatuh di jalan ke rumah Pak RT 07, Bu.” Sahut Yugyeom, membantu Jeongguk memarkir motornya yang baret dan kotor oleh lumpur; dia nampak bersalah karena dialah keduanya jadi jatuh. “Saya salah memasukkan gigi dan Jeongguk jadi korbannya.”

Ibu tertawa kecil, agak tegang namun wajahnya sarat dengan kekhawatiran saat menghampiri Jeongguk dan Taehyung, mengecek luka. “Tapi tidak kenapa-kenapa?” Tanyanya menyentuh Jeongguk—keduanya adalah anak kesayangan Ibu karena tidak pernah absen mengekor Ibu ke sawah atau ke kebun untuk membantunya.

“Tidak, Bu.” Sahut Jeongguk, tertawa. “Hanya lecet sedikit,” dia menunjukkan sikunya yang sedikit terluka sekarang tertutup lumpur yang mulai mengering.

Ibu menyentuh sikunya dan mendesah, “Sana, cuci dulu terus diobati, cepat.”

Keduanya bergegas ke PAH, mencuci kaki, tangan dan wajah mereka dengan air. Membilasnya berkali-kali sebelum Jeongguk mengambilkan handuk Taehyung yang sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi. Dia menyempatkan diri mengganti bajunya dulu, membawa pakaian kotornya ke belakang untuk dicuci seraya membawakan handuk Taehyung.

Dia mengentuk pintu kamar mandi, “Handukmu!” Serunya.

Terdengar suara air mengucur dari dalam, suara air yang diguyurkan ke badan sebelum suara menggema Taehyung, “Sebentar!”

Jeongguk meraih ember mencuci Ibu, meletakkan pakaiannya di sana dan mulai menuang deterjen ke dalamnya setelah menyampirkan handuk Taehyung di bahunya. Dia baru membuka kran, mengisi embernya dengan air saat pintu kamar mandi terbuka.

“Handukku, Gguk!”

Jeongguk menoleh, mendapati Taehyung mengintip dari pintu yang terkuak kecil. “Don't be shy,” katanya meraih handuk di bahunya. “Buka sedikit lagi. Aku tidak bisa melihat apa pun.”

Ndasmu!” Sahut Taehyung, tak ayal tertawa dan mengulurkan tangannya. “Mana handukku!”

Jeongguk tertawa, mengulurkan handuknya yang langsung disambar Taehyung sebelum dia membanting pintunya kembali tertutup. “Kau tidak perlu membantingnya begitu!” Seru Jeongguk geli pada Taehyung yang tertawa dari dalam kamar mandi.

Setelah mereka berdua mandi, barulah Jeongguk merasakan sakit di tubuhnya. Dia mengerang, menarik kausnya naik dan meminta Taehyung mengecek punggungnya hanya untuk menemukan memar samar dan luka kecil di cerukan punggungnya, dua jengkal di bawah garis lehernya.

“Kita ke dokter?” Tanya Yugyeom saat Taehyung menekan tempat itu perlahan untuk mengecek sakitnya dan Jeongguk meringis. “Mungkin terbentur saat jatuh tadi?”

“Tidak, tidak.” Kata Jeongguk kemudian, dia kembali mengenakan kausnya dan mengizinkan Tzuyu kembali mengobati lukanya di lengan dan juga lututnya—tergores bagian motornya. “Tidak apa-apa, kurasa.”

“Jika besok memarnya semakin mengerikan, kau tidak boleh mendebat kami.” Sahut Yoongi yang mengobati luka Taehyung.

“Baik, baik.” Desahnya panjang saat Tzuyu membubuhkan obat merah ke lukanya yang langsung terasa nyeri.

Namun sakit yang mendera mereka pun tidak mengentikan keduanya untuk ikut berangkat ke air terjun bersama Ibu dan Irma, anak kedua Ibu. Mereka berangkat dari pondokan, menuruni tanjakan Clongop lalu mengambil jalan lurus di depan Puskesmas yang mereka biasa dilewati.

“Kau yakin punggungmu oke?” Tanya Taehyung yang berkendara karena cideranya tidak separah Jeongguk—setidaknya tulang keringnya aman.

“Oke, kok.” Sahut Jeongguk di belakangnya, tidak terlalu memikirkan luka-luka di tubuhnya. “Belum sakit, sih. Mungkin besok.” Tambahnya lalu mengedikkan bahunya kalem. “Kau juga terluka. Jangan lupa.”

Taehyung mengangguk saat mengoper gigi motor Jeongguk yang menggeram di bawah kakinya, “Tidak terlalu sakit. Aku hanya punya lecet di siku dan lutut.” Dia menggerakkan kakinya sedikit, sudah diobati Yoongi tadi.

Mereka menelusuri jalan desa yang sepi dan rindang. Anak-anak bermain di pinggir jalan dan menyapa mereka saat lewat. Lalu menelusuri jalan yang diapit oleh sungai yang airnya tidak terlalu deras. Irma di depan memimpin mereka dengan motornya, nampak hafal dengan jalanan desa di hadapannya.

Kemudian motor berhenti di sebuah bangunan kecil dengan dua kamar mandi dan satu meja retribusi. Mereka parkir di sana. Taehyung membiarkan Jeongguk turun dulu sebelum menaikkan motornya ke tempat parkir dan mematikan mesinnya. Mereka membayar retribusi yang hanya lima ribu per kepala sebelum menuruni jalan ke arah air terjun.

“Airnya tidak terlalu deras,” kata penjaganya saat mereka mulai berangkat. “Tapi tetap hati-hati, ya, nanti terbawa arus. Jangan melompat ke sungai, airnya tidak sedalam itu untuk menyelam.”

Mereka mengangguk sebelum para lelaki mendahului turun sebelum membantu para perempuan menuruni jalan buatan yang lumayan curam. Dahyun yang lukanya mulai mengering dibantu oleh Momo menuruni tangga-tangga lebar menuju aliran sungai yang terdengar deras.

Air terjun itu diapit dua tebing, membentuk ceruk kecil yang sebagai tempat air tumpah ke sungai di bawahnya—seperti berada di canyon kecil. Air terjunnya mengintip dari celah tebing dengan air yang nampak dalam di sekitarnya.

Melihat air, tentu saja membuat semua lelaki bergegas melepas celana dan kausnya—hanya mengenakan celana bokser mereka sebelum Jeongguk jadi yang pertama menceburkan diri ke air yang ternyata lebih dalam dari yang dipikirkannya, menyentuh dadanya. Dia berenang seperti seekor berang-berang saat Yugyeom, Yoongi dan Taehyung bergabung sementara para perempuan puas duduk di pinggir dengan kaki dicelupkan ke air.

Cuaca di sekitar air terjun cerah, langit biru membentang di atas mereka dengan gumpalan awan-awan besar dan pepohonan rindang menaungi mereka di sungai. Airnya jernih, tidak ada sampah yang hanyut di airnya—dedaunan pun tidak terlalu banyak. Hanya ada mereka di sana, memiliki seluruh sungai untuk diri mereka sendiri.

Jeongguk berenang ke arah cerukan air terjun, menyadari arusnya yang lumayan kuat lalu berbalik. “Deras!” Serunya pada Yugyeom yang sudah berenang mengekornya—mereka akhirnya puas hanya berenang-renang di sekitar sana.

Jeongguk mengambang di permukaan air, mengamati saat Taehyung beranjak naik. Mengusap rambutnya ke belakang lalu menepuk-nepuk telinganya sambil memiringkan kepalanya agar air keluar dari sana sebelum tertawa pada Yugyeom yang mengatakan sesuatu. Tubuhnya lentur, dengan otot-otot panjang yang langsing—membuatnya nampak sangat indah.

Dia punya S-line yang ajaibnya sangat menakjubkan dengan pantat yang indah dan pinggang yang kecil. Dadanya bidang, bersih sementara lengannya dipenuhi dengan bulu halus yang membuat Jeongguk geli. Celana boksernya menempel di pahanya yang padat, menonjolkan bagian-bagian menarik yang membuat Jeongguk mendengkur senang.

Taehyung menyelipkan tangannya ke karet celananya, menariknya lebih tinggi ke pinggangnya seraya bicara dengan Yugyeom—Jeongguk bahkan tidak repot mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena sibuk mengamati Taehyung.

Dia belum bercukur, jenggot tipis menghiasi dagunya dan dia nampak terganggu sekali dengan jenggot itu. Dia berbalik, hendak kembali menceburkan diri ke air saat menyadari Jeongguk sedang menatapnya.

“Apa?” Tanyanya tanpa suara.

Jeongguk menggeleng, menyapukan tatapan kagum ke tubuhnya yang langsung menjawab pertanyaan Taehyung sebelum berenang ke arah tepi dan mengulurkan tangan, Taehyung menariknya naik.

Taehyung tidak akan pernah terbiasa melihat Jeongguk dengan tubuh basah kuyup, rambut yang menempel ke kening dan tengkuknya saat dia bangkit keluar dari air. Dia mengusap wajahnya, menyeka rambutnya ke belakang lalu membersit—mengeluarkan air dari telinganya. Celana boksernya menempel di pahanya yang berotot, tato serigala di ulu hatinya menatap Taehyung saat dia berdiri menghadap Taehyung.

Dia tinggi, jangkung—seperti manekin yang memamerkan koleksi celana renang. Dengan tato di tubuhnya dan aura petualangan eksotis dan erotis yang menetes dari tubuhnya. Taehyung menaikkan sebelah alisnya, menggoda saat mata mereka bertemu dan Jeongguk terkekeh.

“Kau indah,” puji Jeongguk dengan suara rendah.

“Kau juga.” Balas Taehyung seketika itu juga, menyentuh pinggang ramping Jeongguk dengan telapak tangannya yang besar dan dingin setelah berenang di air terjun.

Mereka menghabiskan hari bermain air hingga menjelang sore di sana, kembali ke pondokan pukul lima sore untuk mandi dan mulai memasak untuk makan siang. Jeongguk belum merasakan sakit di tubuhnya sama sekali, persis Taehyung—semuanya terasa baik-baik saja.

Hingga keesokan harinya.