Kuliah, Kerja, Nyantai / 90

cw // Jealous Taehyung issa thing, get ready. Wear your seatbelt. Also, rapidly moving POV.


“Jeongguk!”

“Oit!”

Taehyung baru saja mengerem motor, bahkan belum benar-benar menjejak tanah saat Jeongguk melompat turun dari motornya dan langsung menghampiri orang yang baru saja menyapanya. Alis Taehyung berkerut saat mereka bersalaman akrab, tertawa bersama—nyaris sama liar dan liatnya.

Pemuda itu jangkung, nyaris sama tingginya dengan Jeongguk dengan tato di punggung telapak kakinya. Saat dia berdiri di sisi Jeongguk, mereka nampak seperti sepasang binatang liar eksotis yang hanya bisa dilihat—jika menyentuhnya, tanganmu mungkin putus karena tergigit.

Taehyung mencabut kunci motor Jeongguk saat pemuda itu merogoh waist bag-nya dan mengulurkan kotak rokoknya. Temannya meraih kotak itu, mengatakan sesuatu yang membuat Jeongguk terkekeh seraya mematik api ke ujung rokok yang terselip di bibirnya. Pemuda di hadapan Jeongguk menyalakan rokoknya juga saat Jeongguk mengatakan sesuatu—dia tertawa, nyaris tersedak asap rokoknya sendiri.

Taehyung tidak menyukainya. Oh, sama sekali tidak.

Dia benci karena menyadari mereka nampak sangat natural bersama. Indah, bersinar seperti dewa muda.

Dia mengamit Tzuyu yang terkesirap kaget, “Siapa yang bersama Jeongguk?” Tanyanya.

Tzuyu mengerjap, melirik ke balik bahu Taehyung dan bibirnya membentuk O menggemaskan saat menyadari siapa yang dimaksud. “Oh, itu Kak Jaehyun.” Katanya, tersenyum kecil rikuh. “Dia memang dekat dengan Kak Gguk, kok. Sering nongkrong bersama. Katanya, sih—katanya, ya, aku tidak yakin juga.” Dia menggaruk keningnya, sejenak ragu.

“Katakan saja.” Alis Taehyung berkerut; binatang liar di dasar perutnya sedang menggeram—teritorinya sedang diganggu dan dia tidak suka itu. Jaehyun sebaiknya menjaga tangan dan sikapnya di sekitar Jeongguk atau Taehyung akan benar-benar mengamuk.

Tzuyu nampak menyadari perubahan ekspresi Taehyung dan berdeham kikuk, dia tidak bisa kabur karena tangannya digenggam erat oleh Taehyung—terasa kuat dan panas.

“Katanya,” dia melirik Dahyun, memohon pertolongan. “Katanya Kak Jae itu mantan kekasih Kak Gguk, semacam cinta pertama?” Dia menggumam lalu bergegas menambahkan saat wajah Taehyung menggelap—nyaris seperti pemubunuh berantai yang siap membunuh siapa saja yang menganggunya.

“Tapi katanya!” Tzuyu nyaris menangis, “Aku sungguh tidak tahu kebenarannya! Mereka hanya akrab! Itu saja,” dia menggumam kecil, takut dan Taehyung mengerjap.

Dia melepaskan tangan Tzuyu, menyadari bahwa dia mungkin baru saja kelewatan. “Maafkan aku,” desahnya sementara Tzuyu mengernyit, ketakutan. “Maaf, maaf. Aku membuatmu takut, ya?”

”'Takut' would be an insult,” kata Dahyun kemudian saat mereka duduk di dalam pondokan kelompok lain yang mereka gunakan sebagai lokasi evaluasi. “Kau nyaris membuatnya pingsan.”

Taehyung mengedikkan bahu, masih cukup beradab untuk nampak malu. “Aku tidak suka milikku diganggu.” Katanya kemudian, dingin hingga tiada satu orang pun yang berani menjawabnya saat itu, bahkan tidak menggodanya.

Dia menatap Tzuyu yang terlonjak kecil karena tatapan Taehyung menikamnya, “Apa lagi yang kautahu tentang mereka?”

“Tae,” Yoongi memperingatinya. “Kau membuat anak malang itu ketakutan, kontrol dirimu. Mereka mungkin hanya teman akrab, seperti kau dan Namjoon. Tapi Jeongguk tidak berkeliaran mengancam orang-orang, menempelkan pisau di tenggorokan mereka memaksa mereka memberi informasi.”

Taehyung menghela napas, jengkel. Dia menoleh kembali ke Jeongguk dan Jaehyun yang sekarang mengbrol akrab dengan satu orang lain, berbagi rokok dan tertawa. Jeongguk bahkan tertawa hingga pangkal hidungnya mengerut seperti kipas dan kedua matanya membentuk bulan sabit—tawa paling menggemaskan dan paling ceria.

Dia berdiri di sana, jangkung dan indah dengan satu tangan di dalam saku celana jinsnya sedang merokok mendengarkan Jaehyun dan temannya bicara. Nampak sangat menggoda dengan aura liarnya yang mengundang, rambutnya diikat asal-asalan, beberapa anak rambut luruh di tengkuknya.

Jeongguk adalah sesuatu yang semua orang inginkan namun hanya segelintir orang yang bisa mendapatkannya.

Dan Taehyung adalah orang yang tidak suka saat hal-hal yang menjadi miliknya, diganggu. Maka saat Jaehyun mengulurkan tangan untuk menonjok bahu Jeongguk main-main dan pemuda itu tertawa, mengulurkan tangan menggenggam pergelangan tangan Jaehyun santai—Taehyung tersenyum.

Jeongguk memang ingin dibunuh rupanya.

“Kau bisa membakar mereka dengan tatapanmu.” Kata Yugyeom di sisinya, mengunyah makaroni bersalut bumbu rujak asam-manis-pedas yang dihidangkan sebagai camilan di depannya.

Taehyung memicingkan matanya, “Jika saja Jaehyun itu menjaga jarak dari Jeongguk.” Katanya setengah menggeram hingga Yugyeom berdeham, langsung kapok karena berusaha mencairkan suasana.

Yoongi mengedikkan bahu, sadar tidak ada yang bisa dilakukan. “Siapa sangka jika Jeongguk nampak begitu menggemaskan saat cemburu,” bisiknya pada Momo yang terkekeh tanpa suara. “Tapi Taehyung yang nampak mendayu-dayu, hopeless romantic, ternyata begitu buas saat cemburu. Aku turut prihatin pada Jeongguk.”

Tzuyu merendahkan suaranya, “Salahku, ya?” Tanyanya, takut. “Mereka tidak akan ribut, 'kan?”

“Yah,” Yoongi tersenyum lebar, alisnya terangkat. “Jika mereka ribut, bukankah itu menyenangkan?”

“Kau sakit jiwa,” gerutu Dahyun, meraih sepotong ubi ungu rebus dan mulai membelahnya menjadi dua, meniup-niupnya. “Tapi boleh juga.” Dia tersenyum lebar lalu bertukar high five tanpa suara di balik punggung Taehyung. “Aku bertaruh mereka akan bertengkar hebat,”

“Oh, ya.” Dengkur Yoongi, senang. “Saling meneriaki, dramatis. Lalu Taehyung akan menonjok Jeongguk hingga terkapar. Maksudku, lihat lengannya.” Dia melirik lengan Taehyung yang ditumpangkan di atas pangkuannya, lengan atasnya; mengancam.

Tzuyu mengerang, “Aku seharusnya tidak tertawa, tapi ini lucu.” Keluhnya namun tak ayal tertawa tanpa suara bersama Momo yang tertawa lirih, mengupas ubi ungunya yang dibagi dua dengan Dahyun.

“Lima puluh ribu untuk rahang,” Dahyun mengulurkan tangan pada Yoongi yang langsung menjabatnya senang.

“Lima puluh ribu untuk ulu hati.” Sahutnya hingga Tzuyu tertawa kaget.

“Kejam sekali, Kak!” Komentarnya dan Yoongi mengedikkan bahu.

“Kau lihat ekspresi Taehyung, kau tahu dia serius.” Yoongi mengangguk serius, seolah mereka sedang bertukar informasi rahasia tentang transaksi narkoba. “Aku tidak akan kaget jika dia menggunakan lututnya untuk mengenai ulu hati Jeongguk.”

Lalu untuk membuat suasana semakin keruh, Jeongguk kemudian masuk saat DPL mereka datang lalu duduk di sisi Taehyung dengan Jaehyun di sisi satunya. Dia nampak senang, wajahnya memerah karena tertawa.

“Tae, ini temanku. Jaehyun.” Katanya menunjuk Jaehyun yang tersenyum lebar—jenis senyuman yang membuat siapa saja tergoda untuk jatuh dalam personanya, persis Jeongguk. “Jae, ini temanku. Taehyung.”

Yoongi menelengkan wajahnya ke Dahyun yang membekap mulutnya, menahan tawa. “'Teman',” bisiknya, Dahyun mendengus keras—menahan tawanya agar tidak keluar. “That was an oopsie, a big one.”

Taehyung tersenyum namun Jaehyun tahu ada sesuatu yang salah saat Taehyung menjabat tangannya. Dia meremasnya, kuat hingga Jaehyun meringis kaget. Dia langsung menyadari situasinya dan menggertakkan rahangnya, menahan tawa.

“Halo,” sapanya dingin, nyaris mengiris. “Aku Taehyung, teman Jeongguk.”

Jeongguk mengerjap, menyadari betapa beracunnya kata itu di bibir Taehyung lalu melirik Yoongi yang ada di belakang punggung Taehyung. Menyadari bahwa dia baru saja melakukan hal yang salah.

Yoongi memberikannya dua jempol sambil mengedipkan satu matanya. Dahyun, Momo dan Tzuyu nyaris pingsan menahan tawa di belakangnya. “Kerja bagus!” Katanya tanpa suara.

Jeongguk berdeham, menggaruk tengkuknya kikuk. “Y-yah, begitulah.” Katanya saat tangan Taehyung melepaskan tangan Jaehyun. “Dia ini,” Jeongguk menelan ludah dengan sulit saat Taehyung tersenyum—nampak ramah bagi orang yang baru mengenal Taehyung.

Namun bagi teman-teman KKN mereka, senyuman itu palsu.

“Bisa jadi pacarmu jika saja kau tidak begitu pemilih,” sela Jaehyun, terkekeh serak lalu merangkul bahunya, menepuknya akrab.

Jeongguk melirik Yoongi yang sekarang menggerakkan jempol kanannya secara agresif, “You go, Gguk!” Dia berkata tanpa suara. “Luar biasa!” Dan Dahyun di sisi Yoongi turut melambaikan jempolnya, menggoyangkannya seolah memberi semangat.

“Ayo, ribut!” Katanya tanpa suara dan Momo nyaris berguling di tikar karena tertawa. “Kami butuh hiburan!”

Yugyeom yang ada persis di sisi Taehyung hanya diam, makan kacang dengan khidmat—tidak mau terlibat dalam drama yang terjadi di antara anggota KKN-nya. Dia sama sekali tidak menoleh, tidak mau bicara dengan siapa pun. Tidak mau terlibat, hanya dia dan kacang rebus. Tidak ada yang lain.

Dia akan menikahi kacang rebus, hidup bahagia selama-lamanya sementara Jeongguk dan Taehyung saling menggigit tenggorokan satu sama lain seperti dua ekor serigala alfa memperebutkan teritori.

Taehyung tersenyum, semakin ramah namun semakin menyeramkan. “Oh,” katanya sopan dan Jeongguk meringis. “Kalian dekat, ya?”

Jaehyun mengedikkan bahu, terkekeh dalam hati saat menyadari ekspresi Jeongguk yang nampak seolah seseorang baru saja menyurukkan sikat gigi ke pantatnya.

“Yah, begitulah. Kami dulu satu kelompok inisiasi dan ternyata satu jurusan dan satu kelas.” Dia mengusap lengan atas Jeongguk sebelum melepaskannya.

Bagus. Karena jika dia memegang Jeongguk satu menit lebih lama lagi, Taehyung akan menarik lengannya lepas dari tubuhnya.

“Pernah pacaran, mungkin?” Tanyanya lagi, meraih gelas tehnya sementara DPL mereka mulai membagikan formulir presensi untuk anak-anak KKN yang menjadi tanggung jawabnya bersama segenggam pulpen.

“Tidak, kok!” Sahut Jeongguk kemudian, nyaris panik lalu tertawa—berusaha mencairkan suasana namun tidak menolong sama sekali karena Taehyung terlanjur murka. “Kami hanya berteman saja. Cukup.”

Jaehyun nampak tidak setuju, bibir bawahnya gemetar menahan tawa. “Bagaimana kau menjelaskan hubungan kita dulu saat semester 2? Gelang kembar itu?” Dia menyugar rambutnya. “Maksudku, semua orang tahu, 'kan? Tanya saja Tzuyu.” Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Tzuyu yang langsung terlonjak kaget.

“Hai, Tzu!”

Dia nyengir, meremas tangan Dahyun. Sama sekali tidak mau terlibat. “Hai, Kak Jae!” Sahutnya, menambahkan tawa kaku di ujung kalimatnya. “Aku tidak tahu, sih....”

Jeongguk berdecak, “Gelang kembar tidak berarti kita jadian. Kau memang selalu yang paling bodoh,” gerutunya, melirik Taehyung yang menyimak semuanya dengan kalem.

We are the dumb and the dumber,” sahut Jaehyun, terkekeh. “Semua orang tahu itu.”

“Ini akan jadi panas,” bisik Yoongi pada Dahyun yang tertawa tanpa suara. “Seratus ribu?”

“Seratus ribu,” sahut Dahyun setuju, mengangguk pada lengan Taehyung. “Lihat urat-urat Taehyung, mereka bisa meledak kapan saja.”

Kemudian DPL mereka memulai evaluasi, meminta setiap kormadus untuk melaporkan kemajuan program kerja mereka di masing-masing lokasi seraya menikmati camilan dan teh yang terus diisi ulang. DPL mereka juga mengingatkan mereka untuk selalu menjaga sopan santun selama berada di rumah orang, karena mereka membawa nama universitas selama mereka berada di desa ini.

Tidak banyak hal menarik selama evaluasi selain makanan. Para kormadus kemudian tinggal untuk berdiskusi lebih lanjut dengan DPL mereka sementara teman-teman mereka mendapatkan waktu bebas. Beberapa pulang mendahului kormadus mereka, namun kelompok Taehyung memutuskan untuk tinggal karena lokasi mereka lumayan jauh.

Setelah mengobrol dengan anak-anak kelompok lain, mereka menyadari bahwa lokasi mereka yang paling tinggi dan pojok, lokasi terakhir. Rata-rata mendapatkan lokasi di bawah Clongop, pondokan yang berada di LDII, beberapa meter dari pondokan mereka mengira mereka yang paling tinggi.

“Tidak, kami masih melewati satu tanjakan lagi.” Sahut Yoongi serius, duduk di teras pondokan.

“Ke arah Green Village?” Tanya teman mereka.

“Persis di bawah Green Village,” sahut Yoongi dan mereka meringis mendengar lokasi mereka—terjauh, tertinggi dan terpojok.

Jeongguk duduk di sisi Taehyung yang diam, merokok dengan khidmat. Dia nampak seperti anak SMA yang kena hukum karena terlambat datang ke sekolah. Jaehyun sudah pulang, mengatakan:

“Semangat, ya, Gguk.” Seraya tertawa dan Jeongguk nyaris menonjoknya karena membuatnya harus menghadapi Taehyung yang murka.

Dia diam, sangat diam namun Jeongguk tahu, jika dia salah sedikit saja Taehyung mungkin akan menggoroknya. Maka dia diam, duduk di sisinya dengan pose menyerah, tangan ditumpangkan di atas pahanya—menunggu hingga Taehyung berkenan bicara padanya. Dahyun diam-diam mengangkat kameranya, mengambil gambar mereka lalu tertawa tanpa suara.

“Jangan marah,” gumamnya pada Taehyung, nyaris merengek seperti bayi. “Dia hanya temanku, kok. Sumpah.”

“Aku tidak marah.” Sahut Taehyung ketus, menyesap rokoknya dalam-dalam.

“Bohong,” Jeongguk mendesah. “Kau marah. Kau bisa saja mengulitiku, mengeluarkan jeroanku lalu membuat gulai tambusu dengan usus besarku sekarang.”

Taehyung menatapnya, alisnya naik sebelah. “Kenapa, sih, kepalamu isinya hal-hal mengerikan?”

Jeongguk mengedikkan bahu, memainkan benang yang keluar dari waist bag-nya. “Entahlah. Kau tipe yang bisa melakukannya saat marah.” Katanya menunduk dan Taehyung tidak bisa lagi menahan senyumannya.

Lihat dia.

Menggemaskan sekali saat memohon maaf dari Taehyung yang bersikap kekanakan dengan cemburu pada hal-hal kecil bahkan tanpa repot bertanya pada Jeongguk. Dia marah karena asumsinya sendiri, dan menjadikan Jeongguk sebagai korbannya.

Taehyung memalukan. Tapi dia sangat menikmati lelaki seperti Jeongguk, yang selalu besar kepala dan bermulut besar sekarang duduk di sisinya—menyerah dan memohon maafnya. Oh, ya. Itu makanan lezat untuk egoismenya.

“Oh, ya?” Tanyanya kemudian, memutuskan untuk menggoda Jeongguk sedikit lagi. “Apa yang mungkin bisa kulakukan padamu?”

Jeongguk masih memainkan benangnya, seperti anak kecil yang dihukum orang tuanya. “Yah, menonjokku, mungkin?” Dia menatap Taehyung yang langsung menggertakkan giginya, menahan senyuman lebarnya. “Kau akan menonjokku, tidak?”

Taehyung tidak tahan lagi, dia tertawa. Membuat semua orang kaget karena tawanya begitu lepas dan bahagia. Dia tersengal, lalu merangkul Jeongguk yang terkejut dengan akrab.

“Tentu saja tidak!” Katanya kemudian, tersengal—berusaha mengendalikan diri dari tawanya. “Aku tidak akan menonjokmu. Mungkin akan memberimu sedikit hukuman tapi menonjok bukan salah satunya. Aku lebih suka membuatmu,” dia merendahkan suaranya. “Tidak bisa orgasme daripada kekerasan.”

Jeongguk bergidik lalu mendengus. “Kau mengerjaiku, ya?” Bisiknya dan Taehyung terkekeh.

“Kau mudah digoda,” sahutnya, nyaris berdendang dan Jeongguk menggeram.

“Jika ini tidak di lokasi KKN, aku akan memojokkanmu di dinding lalu menciummu.” Gumamnya di bawah napasnya, namun cukup keras untuk didengar Taehyung yang langsung bergidik nikmat karena suara paraunya. “Aku akan mencium lehermu, menariknya hingga ke dadamu lalu menjilat putingmu—menghisapnya, mengigitnya dan membuatmu merengek tapi aku tidak akan sudi untuk berhenti.”

“Cukup.” Geram Taehyung, merasakan tubuhnya mulai menggeliat gelisah karena membayangkan apa yang akan dilakukan Jeongguk padanya. “Aku menderita.” Keluhnya.

Jeongguk menyugar rambutnya, mendengus. “Deserved.” Sahutnya. “Jika kau berani melakukan itu lagi padaku, aku akan menghabisimu.” Katanya mengancam dan Taehyung tersenyum.

Oh, dia suka ini.

“Oh, ya?” Balasnya kalem. “Bagaimana jika aku ingin kau menghabisiku? Memangnya apa yang bisa kaulakukan?”

Rahang Jeongguk mengencang, dia tersenyum separuh—nyaris menyerigai memamerkan gigi taringnya. “Kau tidak akan menyangka apa yang bisa kulakukan padamu,” dia menyapukan pandangan kurang ajar ke tubuh Taehyung sebelum menyodok bagian dalam pipinya dengan lidah.

Taehyung membalas tatapannya, “Aku yakin aku bisa melakukan hal yang jauh lebih luar biasa dari itu.” Katanya, menyugar rambutnya, mengepit rokoknya di sudut bibirnya. “Mau bertaruh?”

Jeongguk terkekeh parau, “Dia yang kalah akan menjadi bottom selama satu minggu.”

Taehyung mengulurkan tangannya, “Sepakat.”

Jeongguk menjabatnya. “Sepakat.”

“Yah, sial.” Gerutu Yoongi dan Momo tertawa, ceria. Mengamati keduanya dari kejauhan, menyadari suasana mencekam di antara mereka perlahan melarut menjadi ketegangan seksual seperti biasa—hingga mereka muak. “Mereka tidak jadi saling tonjok. Menyebalkan.”

Dahyun menggerutu bersamanya, “Mereka payah. Tidak tahu jika kita butuh tontonan.”

“Itu artinya,” kata Yugyeom bijak saat bergabung dengan mereka dan tidak sengaja menangkap percakapan itu. “Kalian tidak boleh bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Amitaba.”

“Ayo, pulang!” Serunya kemudian pada Jeongguk dan Taehyung yang bergegas mematikan rokoknya.

Jeongguk menghembuskan napas lega saat dia naik ke motornya, menyalakan mesinnya dan merasakan Taehyung naik ke jok belakang. Setidaknya usus besarnya selamat hari ini.

Dan dia akan membuat perhitungan dengan Jaehyun. Bajingan tengik!