Kuliah, Kerja, Nyantai / 63
Jeongguk bosan!
“Taehyung, jalan-jalan, yuk.”
Taehyung mendongak dari buku harian KKN yang sedang diisinya bersama Momo seharian karena mereka sudah tidak mengisinya sekitar seminggu. Tidak mau jika harus mengisi semuanya sekaligus dalam satu hari di masa penarikan nanti.
Jeongguk sedang berbaring di atas kasur lipat mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu, dekat dengan pintu samping—kebosanan. Dia tadi pagi berlari jauh sekali hingga ke desa sebelah lalu kembali dengan tampang puas dan keringat yang aromanya luar biasa menjijikkan.
Dia mandi lalu ikut ke PAUD, akhirnya ada dua anak yang mau berteman dengan Jeongguk karena dia suka mengangkat anak-anak ke bahunya, memutar mereka seperti sedang menaiki pesawat—anak-anak lelaki mulai suka padanya dan bertanya tetang tato dan rambutnya. Jeongguk bahkan mengizinkan mereka menguncir rambutnya dengan pita merah jambu agar mereka senang.
Dia duduk di sana, tenang saat anak-anak menyibak rambutnya dan menguncirnya sehingga para ibu bisa dengan lega menyuapi mereka makan siangnya. Jeongguk senang bisa membantu, nampak sejinak burung merpati saat berada di sekitar anak-anak yang terkikik-kikik menguncir rambutnya.
“Jalan ke mana?” Tanya Taehyung, memberikan buku hariannya ke Momo yang akan mencontek isinya.
“Naik motor, yuk.” Jeongguk melompat bangkit, meraih jaketnya dan mengenakannya. Dia meraih kunci motor Dahyun. “Dahyun, pinjam motor!” Katanya lalu bergegas keluar dan mau tidak mau, Taehyung menyusulnya.
“Apakah ada yang ingin kalian beli?” Tanya Taehyung saat mengenakan jaketnya ke Momo dan Dahyun yang bersantai di ruang tengah sementara Yoongi dan Yugyeom sedang membantu Bapak di kandang sapi, membereskan Biogas.
“Tidak.” Sahut Momo, masih berkutat dengan buku harian KKN-nya.
“Gorengan, dong.” Dahyun mendongak dari ponselnya, bermain bubble popper sejak tadi. “Nanti jam empat anak-anak datang, jangan terlambat, ya? Ketemu di Masjid.”
“Oke.” Taehyung menyelipkan dompet ke saku celana pendeknya dan keluar, mendapati Jeongguk sudah menunggu di jalan besar. “Kau sungguh tidak sabaran,” katanya seraya mendaki jalan tanjakan pondokan lalu naik ke boncengan belakang.
Dia meletakkan tangannya di bahu Jeongguk namun pemuda itu meraih tangannya, meletakkannya di pangkuan Jeongguk dan Taehyung tertawa serak. “Ayo, kita mau ke mana?”
Jeongguk mengendarai motornya, perlahan. “Entahlah, ke mana saja jalan ini membawa kita.”
Mereka menelusuri jalan desa yang mulus dan hanya cukup untuk satu mobil, diapit persawahan dan lembah hijau yang cantik. Pohon-pohon bunga Desember yang masih berbunga sisa akhir tahun kemarin, gemerisik dedaunan yang tertiup angin dan bebungaan yang segar karena kombinasi suhu dingin serta sinar matahari. Taehyung membiarkan rambutnya tersibak angin, begitu juga rambut Jeongguk yang mengemudi di hadapannya.
Mereka melintasi jalan turunan, kantor balai desa tetangga, sebuah palang menuju tempat wisata yang mereka tandai jika mereka memiliki waktu luang dan ingin bertamasya. Lalu mereka memasuki wilayah desa tetangga. Melihat banyak papan-papan jingga norak Pondokan KKN USD yang sama terpasang di beberapa tempat.
“Kau mau es krim?” Tanya Jeongguk saat mereka melewati toko kelontong kecil dan Taehyung menggeleng, “Nanti saja ketika kita kembali. Sekalian membelikan yang lain.”
Mereka kembali melaju, membelah jalanan. Melewati sungai dan beberapa anak yang sedang bermain air dan menikmati hamparan sawah hijau yang baru ditanami; permukaannya beriak saat angin berhembus dan Taehyung mendesah.
“Suasananya enak.” Katanya, mendekatkan wajahnya ke bahu Jeongguk yang tertawa—napasnya beraroma pekat tembakau dan Taehyung ingin sekali menciumnya; menghirup aroma itu dalam-dalam, menjelajah mulutnya dengan lidahnya.
Lalu tiba-tiba saja seseorang membunyikan klakson kepada mereka. Keduanya mengerjap, kaget karena pengendara itu tersenyum ramah pada mereka. Taehyung menoleh, membaca tulisan di gerobaknya “Bakso Bakar”.
“Penjual bakso bakar.” Kata Taehyung pada Jeongguk yang mengintip dari kaca spion depannya.
“Aku mau bakso bakar!” Jeongguk berseru, langsung menepi dan Taehyung tertawa, seperti anak kecil yang mudah dialihkan perhatiannya.
“Apa kejutannya? Kau memang ingin makan apa saja.” Sahutnya geli. “Bagaimana jika kita telusuri jalan ini sampai habis dulu, lalu kita beli baksonya sambil kembali ke pondokan?”
Jeongguk berpikir sejenak, “Baiklah. Ayo.” Jeongguk kemudian kembali melaju, menghabiskan jalan yang mereka telusuri; mencari tahu di mana ujungnya.
Taehyung mendesah, merasakan debaran di jantungnya; merasakan hangat yang menyeruak di atas permukaan dadanya. Rasa hangat karena dia ternyata sangat menyukai Jeongguk yang ini—yang seenaknya, yang lucu, yang menarik, yang tidak bisa diatur, yang selengekan dan petantang-petenteng.
Dia suka kebebasan yang dijanjikan Jeongguk; bagaimana dia nampak sangat rileks menjalani hidupnya. Tidak memiliki beban, seperti seekor elang yang berkoak di langit yang luas; mengumumkan betapa dia sangat bebas dengan dirinya sendiri sementara Taehyung adalah sebatang pohon yang tumbuh di hutan, ada namun tidak disadari. Karena di sekitarnya, ada jutaan pohon lain.
Satu pohon tidak akan membuat perbedaan yang signifikan; seperti menyembunyikan hijau di atas warna hijau.
Lalu dia merasa sangat senang ketika seekor elang terbang cukup rendah ke dahannya, beristirahat di sana dan merasa nyaman. Mengajaknya mengobrol, menemaninya, menemukan hal menarik dari dirinya—memilihnya alih-alih jutaan pohon lain untuk dihinggapi, mengistirahatkan sayapnya yang megah.
Jeongguk nampak sarat kebebasan, dia nampak seperti petualangan. Eksotis, binatang liar yang menarik dan Taehyung, sebatang pohon di tengah hutan, merasa sangat beruntung karena elang itu meliriknya. Memutuskan dia jauh lebih menarik dari pepohonan lain yang mungkin lebih tinggi, lebih rimbun dan lebih luar biasa darinya.
“Tidak,” tiba-tiba saja Jeongguk menjawab dan Taehyung mengerjap, apakah dia baru saja menyuarakan isi kepalanya?
“Hah?” Tanyanya.
“Terkadang Elang itu juga iri pada si Pohon karena bisa dicintai begitu banyak orang. Bisa meneduhkan, bisa melindungi begitu banyak binatang. Tidak ditakuti dan dihindari hanya karena dia terbang dan berkoak, tidak ditakuti karena sayapnya yang lebar dan paruhnya yang tajam, mengancam. Predator.” Katanya dan Taehyung berdesir mendengarnya.
“Tidakkah kau berpikir kadang si Elang juga kesepian terbang di atas sana sendirian? Tidak bisa berteman karena semua binatang takut padanya? Lalu tiba-tiba dia mendarat, hinggap di sebatang pohon yang menyambutnya dengan ramah?” Jeongguk melirik dari spion, tersenyum hangat. “Sudah yakin akan diusir atau mendengar binatang lain mendesis, menjauhinya seolah si Elang akan membawa bencana hebat.”
Teringat bagaimana terlukanya Jeongguk saat anak-anak menjerit menjauhinya di PAUD pada hari pertama, Taehyung tersenyum. Jeongguk memiliki kesulitan dalam berteman; dia kikuk, walaupun nampak sangat percaya diri, Taehyung tahu dia kadang merasa kikuk. Takut tidak diterima, takut pembawaannya yang nyentrik dan berbeda akan membuatnya sulit berteman.
Taehyung mengaitkan jarinya di atas perut Jeongguk yang tertawa serak.
“Si Elang merasa sangat asing dengan perasaan diterima itu, hangatnya persahabatan yang ditawarkan si Pohon. Teduhnya ranting dan dedaunannya, bagaimana dia menerima si Elang untuk tinggal berlindung di bawah naungannya. Si Elang tidak pernah merasa senyaman itu seumur hidupnya, tidak pernah merasa senyaman itu. Untuk pertama kalinya,”
Dia menatap Taehyung lalu mendenguskan senyuman lebar, menatap ke jalan di hadapan mereka. “Si Elang merasa dia tidak lagi sendirian.”
“Apakah sekarang si Elang senang?” Tanya Taehyung terkekeh, melepaskan pelukannya sebelum orang-orang menyadari mereka.
“Tergantung,” kata Jeongguk, hangat dan Taehyung mendesah. “Apakah si Pohon juga senang?”
Taehyung tersenyum lebar, tatapan mata mereka bersirobok di spion; cukup untuk melecutkan perasaan penuh cinta yang hangat di dalam perut Taehyung yang terasa bergemuruh. “Senang.” Katanya. “Si Pohon senang karena si Elang memutuskan mampir dan menjadi sahabatnya. Dia akan menerima si Elang kapan saja dia lelah dan butuh tempat untuk pulang.”
“Maka, ya.” Jeongguk meraih tangan Taehyung dan meremasnya. “Si Elang senang—bahagia, bahkan.”
“Baiklah,” Taehyung nyengir dan Jeongguk langsung membalas senyumannya, begitu saja. “Ayo beli bakso bakar.”
Jeongguk tertawa. “Kau benar-benar menggemaskan!”
“Katakan itu pada dirimu sendiri.”
“Memangnya,” kata Jeongguk saat mereka menyusuri jalan mereka, mengikuti jalur sungai di sisi mereka. “Si Pohon tidak takut saat pertama kali Elang mendarat di dahannya?”
Taehyung tersenyum simpul, bisa mendengar gugup dan kikuknya Jeongguk saat menanyakan itu. “Tidak,” katanya ringan, mengedikkan bahunya. “Si Pohon malah senang karena si Elang memutuskan untuk memilihnya alih-alih pohon lain karena, kau tahu, si Elang indah sekali. Dia gagah, dia keren, dinamis dan menguasai langit. Si Pohon ingin mendengar ceritanya, ingin tahu bagaimana rasanya jadi dinamis; berpindah ke sana kemari karena dia tetap di tempatnya, diam dan statis.”
“Tidak merasa terancam dengan kuku-kuku tajam dan paruh runcingnya?”
“Tidak.”
“Sama sekali?”
“Sama sekali. Karena si Pohon paham, jika dia harus menguasai langit dia pasti harus nampak sekeren mungkin, 'kan?”
Jeongguk tertawa, “Wow. Aku suka Pohon ini. Dia keren.”
Jantung Taehyung berdebar. “Ya?”
“Ya.” Dia mengangguk, menelusuri jalan perlahan—mengulur waktu agar mereka bisa lebih lama bersama. “Karena si Elang terbiasa ditakuti, terbiasa tidak diterima di kelompok mana pun, terbiasa diasingkan karena dia menyeramkan. Bayangkan betapa senangnya dia saat si Pohon menerimanya begitu saja.”
“Syukurlah si Pohon tidak menilai dari penampilannya, ya?”
“Ya.” Jeongguk mendesah senang, “Syukurlah.”
Mereka berhenti di ujung jalan, yang adalah bendungan. Di hadapan mereka, jalan aspal berhenti menjadi jalan tanah dengan rerumputan liar. Di sisi mereka ada bentangan sawah yang hijau, ada SD yang berdiri beberapa meter dari jalan aspal, ada perbukitan di kejauhan membingkai persawahan yang asri. Di sisi mereka ada pohon-pohon jati rindang dan Jeongguk memarkir motornya, duduk di pos siskamling yang ada di dekat mereka.
Taehyung menirunya. Duduk di sisinya, mengamati pemandangan di hadapan mereka dan langit yang keemasan oleh sinar matahari sore. Angin berhembus, membelai ujung hidung Taehyung dan dia memejamkan mata.
Jeongguk berbaring di sisinya, menggunakan kedua tanannya yang terlipat sebagai bantal. “Aku suka di sini.” Katanya dan Taehyung mengangguk. “Tempatnya sejuk dan nyaman, jauh dari keramaian. Tidak ada pesan-pesan mengganggu, kita bisa... hidup di masa sekarang. Benar-benar berhenti dan menikmati setiap harinya, tidak dikejar-kejar apa pun.”
“Setuju.” Taehyung tertawa, suara air sungai di bawah mereka gemuruh. “Aku jadi punya banyak waktu untuk memikirkan diriku sendiri, pilihan-pilihanku, merefleksikan emosiku setiap harinya. Nyaris seperti meditasi.”
“Perspective changing.”
“Ya.” Taehyung terkekeh. Begitulah yang dirasakannya selama beberapa hari ini lokasi KKN; tenang dan damai. Mereka hanya fokus menyelesaikan satu hari, tidak dikejar-kejar apa pun. Kesulitan sinyal nyatanya membuat mereka jadi lebih dekat satu sama lain, mengobrol dan bercanda—tidak sibuk dengan ponsel masing-masing.
Mereka selalu menghabiskan malam mereka dengan menyeduh wedang uwuh dan makan cemilan dari Ibu—nanti malam, mereka dapat sukun goreng. Hasil kebun Ibu. Membicarakan rencana esok hari dan bertukar cerita. Taehyung selalu suka tiap mereka duduk bersama di ruang tengah, bercerita hingga mengantuk.
Jeongguk meregangkan tubuhnya, menguap dan nampak sangat nyaman di sana; berbaring di atas balai yang keras menikmati waktunya. Petani-petani yang baru pulang menyapa mereka saat lewat dan Taehyung balas menyapanya dengan ramah.
“Kau percaya kebetulan?” Tanya Jeongguk kemudian, menegakkan tubuhnya duduk di sisi Taehyung, menggoyangkan kakinya.
“Tidak.” Taehyung terkekeh. “Menurutku Semesta tidak mungkin semalas itu. Semua hal yang terjadi pasti ada tujuannya, entah untuk saat ini atau di masa yang akan datang. Tidak ada yang kebetulan.”
“Jeongguk?”
“Ya?”
Taehyung meletakkan tangannya di atas balai, telapak tangannya menghadap ke atas. “Boleh pegang tanganmu, tidak?”
Jeongguk tersenyum lebar, hatinya meledak oleh perasaan senang karena pertanyaan sesederhana itu lalu mengangguk. “Tentu.” Dia meletakkan tangannya di dalam genggaman tangan Taehyung yang langsung meremasnya hangat.
Lalu Taehyung mengaitkan kelingking mereka berdua dengan erat dan menikmati pemandangan di hadapan mereka. Hingga akhirnya Taehyung mengingatkannya untuk kembali karena mereka harus bersiap mengajari anak-anak pekerjaan rumah.
Jeongguk mengerang, “Bakso bakar?”
“Iya, iya.” Taehyung terkekeh dan Jeongguk bangkit, mengangkat tangannya ke udara, meregangkan tulang punggungnya yang bergemeretak lembut merespon gerakannya.
Kausnya terangkat dan itulah saat di mana Taehyung menyadari tempat tato ketiga Jeongguk.
Gambar permanen itu mengintip, mengedip padanya dan Taehyung merasa seperti baru saja ditembak tepat di kepalanya. Limbung sejenak dan mengerjap, geli dan nyaris histeris. Dia berdeham, tidak menyangka bahwa ternyata lokasinya di sana. Dan ternyata gambarnya adalah burung elang yang kedua sayapnya terentang, tidak terlalu besar, mungkin hanya seukuran dua jari tapi lokasinya cukup membuat Taehyung gemetar.
“Aku suka tato ketigamu.” Pujinya kalem walaunpun kepalanya pening—ada alarm yang berdering nyaring di sana, nyaris panik karena mengetahui lokasi tato ketiganya.
Dia berdiri di sisi Jeongguk yang mengerjap—sejenak bingung sebelum tersenyum lebar hingga kerutan muncul di pangkal hidungnya dan matanya membentuk sepasang bulan sabit mungil.
“Oh?” Katanya, terhibur. “Kau menemukannya?”
Taehyung melirik tempatnya, yang sekarang kembali tertutup kaus. “Yah, begitulah.” Katanya menatap Jeongguk, alisnya naik sebelah dan Jeongguk menyerigai padanya. “Aku suka.” Dia mengangguk-angguk serius dan Jeongguk tertawa.
“Aku tidak menyangka gambarnya elang? Maksudku... Bagaimana bisa??” Tanyanya, tertawa teringat perumpamaan yang mereka gunakan tadi—Taehyung hanya memilih binatang liar yang dipikirkannya akan sangat cocok untuk Jeongguk.
Dan bum! Dia punya tato binatang itu tersembunyi di balik kausnya.
“Kebetulan?” Jeongguk menaikkan sebelah alisnya.
Taehyung menggeleng, tertawa. “Tidak. Kau memang cocok dengan binatang itu.”
“Kau boleh menyentuhnya jika mau.” Sahut Jeongguk kalem. Wajah Taehyung seketika merona dan Jeongguk tertawa. “Oh, lihat dirimu! Mudah sekali digoda!”
“Kau bajingan sial.” Taehyung tertawa saat mengekornya ke motor, memutuskan untuk menggodanya sedikit. “Mungkin nanti aku akan menciumnya, menjilatnya. Bagaimana menurutmu?”
Sekarang, wajah Jeongguk yang merona—hingga ke telinganya dan Taehyung mendengus puas. Berhasil membalaskan dendamnya. “Oh, eh.” Dia berdeham, menaiki motornya dan menelan ludah. “Tentu.” Katanya, menggaruk pelipisnya, gugup. “Jika kau.... eh, mau.”
Taehyung menaiki joknya, “Tentu saja mau.” Dia tersenyum lebar, menyadari rona merah di telinga Jeongguk walaupun dia juga merasakan wajahnya sendiri panas karena melemparkan godaan itu.
“Bakso bakar saja, aku ingin bakso bakar.” Jeongguk mengangguk, menyalakan mesin motor. “Nanti,” dia tercekat. “Masalah, eh, menjilat tato bisa kita bicarakan nanti.”
Taehyung merona. “Kau bedebah sial.” Dia menoyor bahu Jeongguk yang tertawa keras.
“Kau yang mulai!”
“Kau yang punya tato di sana!”
“Lho? Terserah aku, dong??? Tatoku tidak bersalah!”
“Salahmu!”
“Salahmu!”
“Diam atau kucium!”
“Ayo, cepat sekarang!”
Jeongguk tertawa dan Taehyung menimpalinya; begitu saja, natural saja. Seolah mereka sudah berteman sejak mereka lahir alih-alih baru beberapa waktu. Bergerak sinkron seperti Bulan yang mengorbit di sekitar Bumi; begitu saja.
Tidak perlu banyak dipikirkan.
“Kalian dari mana??” Tanya Yoongi saat mereka memasuki rumah dari pintu depan setelah memarkir motor Dahyun.
Jeongguk menyerahkan sekantung bakso bakar hangat yang langsung diterima para perempuan yang menyambutnya ceria. “Jalan-jalan dan beli bakso bakar, di depan Puskesmas di desa sebelah.”
Yugyeom membuka plastiknya, menemukan puluhan tusuk bakso bakar yang hangat lalu meraihnya. Menyuapnya dan mendesah karena ledakan rasa lezat bumbu bakarnya, “Wow!”
Dia langsung membagikannya dengan semangat sementara Taehyung menuang air putih di meja dan meneguknya. Dia dan Jeongguk masing-masing menghabiskan tiga puluh ribu untuk membeli bakso tusuk yang sebatangnya seharga dua ribu rupiah, duduk di depan Puskesmas dan mengobrol dengan penjualnya yang ramah.
“Aku akan mandi dulu, kita berangkat ke Masjid jam empat, 'kan?” Jeongguk keluar dari pintu samping yang mengarah ke jemuran, meraih handuknya yang dijemur di sana.
“Ya.” Taehyung duduk di singgasana sinyal, mengirim pesan untuk temannya dengan setangkai bakso bakar di tangannya. “Cepatlah, aku juga ingin mandi.”
Jeongguk mengerlingnya. “Bareng saja bagaimana?”
Momo mengerang, disusul Dahyun dan Tzuyu yang sedang menyuap bakso mereka. “MENJIJIKKAN!”
Tusuk bakso bakar dilempar ke arahnya dan Jeongguk tertawa, berlari menghindari serangan teman-temannya yang anarkis. “Itukah balasan kalian setelah aku membelikan kalian bakso bakar?? Benar-benar, deh!”
“Simpan semua kemesumanmu untuk dirimu sendiri!” Seru Yoongi, nyaris melempar Jeongguk dengan gitarnya.
“Ya, nanti akan kusampaikan ke Jimin kau punya kasus hati.” Jeongguk mengedip genit. “Kubantu juga untuk mendekatinya karena kau ini kelihatannya payah sekali—Baiklah, BAIK! Aku diam!” Lalu berlari heboh seraya tertawa menjauhi Yoongi yang sudah akan beranjak, ingin menonjoknya.
“EAAA!” Serunya dari dapur.
Yugyeom terbahak-bahak. Mereka kemudian berangkat ke Masjid setelah Jeongguk dan Taehyung membersihkan diri, bertemu anak-anak yang sudah menunggu mereka di Masjid. Momo membuka kuncinya, mempersilakan anak-anak masuk dan mulai riuh meminta bantuan kakak-kakak mereka untuk mengajari mereka pekerjaan rumah.
“Kau tahu tidak,” Jeongguk berbisik pada Taehyung yang sedang mengajari sepuluh anak mengerjakan PR Matematika mereka. “Anak itu naksir Yoongi.”
Taehyung mendongak dari papan yang digunakannya untuk menjelaskan persamaan akar sederhana, “Hah? Siapa?” Balasnya.
“Dia,” Jeongguk menggunakan matanya untuk melirik anak perempuan di sudut yang duduk di dekat Yoongi yang sedang bermain gitar. “Dia selalu menanyakan Yoongi padaku: 'Mas Yoongi di mana, Kak? Mas Yoongi bagaimana, Kak?'”
Taehyung tertawa tanpa suara. “Sungguh??”
“Sungguh!” Jeongguk kemudian teralihkan sejenak oleh anak yang dibantunya mengerjakan tugas Bahasa Inggris sebelum kembali ke Taehyung. “Dia memanggil Yoongi 'Mas' sementara memanggil kita semua 'Kak'.”
“Anak itu namanya Desi, bukan?”
Jeongguk mengedikkan bahu. “Tidak tahu,” katanya terkekeh. “Tapi dia punya kasus hati pada Yoongi.”
“Memang, Kak!”
Mereka berdua menoleh pada murid yang sedang diajari Jeongguk, Siti yang setau Jeongguk sering berjalan bergandengan tangan dengan Desi. Mereka bersahabat, duduk sebangku di sekolah dan bertetangga. Bertetangga di sini rumah mereka berjarak setidaknya 1 kilometer, jarak terdekat antarrumah di wilayah KKN mereka. Rumah Desi ada di atas bukit tidak jauh dari Masjid sementara rumah Siti ada di belakang Masjid, menuruni jalan curam berbatu dan melewati hutan bambu yang mengerikan.
“Apanya yang memang?” Tanya Taehyung.
Siti melirik Desi lalu memelankan suaranya hingga Jeongguk serta Taehyung mendekat untuk mendengarkan. “Dia naksir Kak Yoongi. Katanya keren, bisa main gitar. Cool orangnya.”
Jeongguk tersedak, lalu terbatuk-batuk keras yang terdengar seperti tawa hingga semua orang menoleh ke arahnya. “Maaf, maaf!” Katanya dan Yoongi menatapnya dingin, dengan mata rubahnya; seolah tahu sedang dibicarakan.
“Hanya,” dia berdeham dan Taehyung mendelik, memperingatinya.
Tapi Jeongguk adalah Jeongguk.
“Aku baru menyadari kalau Yoongi itu keren sekali,” dia mengedip genit dan Yoongi nyaris melempar gitar di tangannya ke kepala Jeongguk.
Yugyeom yang otaknya memang sangat terkoneksi dengan otak Jeongguk menyambarnya. “Oooh!” Serunya, tertawa liar dan Jeongguk membalasnya. “Memang Mas Yoongi keren sekali!”
“Kalian kenapa, sih?” Yoongi menatap keduanya, nampak seperti penderita wasir.
“Kami memujimu!” Balas Jeongguk, defensif namun dengan kekehan liar di bibirnya. “Mas Yoongi keren, tidak, Teman-teman?”
“Keren!” Balas semuanya dan Desi di sisi Yoongi menjawab paling semangat, mengangguk-angguk hingga hijabnya nyaris terlepas dari kepalanya. Dan Yoongi menatapnya, matanya menyipit; jelas akan membuat perhitungan dengan Jeongguk nanti—setelah ini.
Jeongguk terkekeh lalu bertukar high-five dengan Siti di hadapannya yang tertawa ceria. “Kita berhasil!” Katanya dan Siti mengangguk, “Kak Gguk keren!”
“Kau keturunan iblis,” Taehyung tertawa.
Setelahnya, mereka semua beristirahat karena penjual siomai lewat di depan Masjid. Mereka langsung keluar, bermain bola dan membeli siomay. Duduk di pinggir jalan, menikmati siomay sementara para lelaki bermain bola dengan anak-anak di jalanan.
“Awas motor!” Sesekali, salah seorang dari mereka berseru dan permainan terpaksa dihentikan, motor dibiarkan lewat sebelum permainan kembali dilanjutkan.
Jeongguk menjadi penyerang bersama Taehyung. Mereka tadi membagi diri menjadi kelompok tujuh-tujuh lalu suit, yang kalah harus membuka baju mereka untuk menandakan diri sebagai tim lawan.
Dan sialnya, tim Jeongguk kalah.
Dia bermain dengan telanjang dada, ketiga tatonya terpapar udara karena dia mengenakan celana pendek—wajah singa di pahanya mengintip tiap kali dia berlari. Mata serigala di dadanya yang dibuat sehidup mungkin balas menatap siapa saja yang mengamati tatonya.
Anak-anak berseru heboh saat dia membuka pakaiannya, mengamati tatonya dengan tertarik. Menyentuhnya dan bertanya berisik apakah membuatnya sakit? Berapa lama Jeongguk membuatnya? Bisa dihapus tidak?
“Sakit,” katanya serius, mengangguk menakut-nakuti mereka. “Tidak bisa dihapus juga. Jadi jika kalian ingin, pertimbangkan baik-baik, ya?” Katanya pada anak-anak yang terpesona di sekitarnya.
Dia melirik Taehyung yang sedang berdiri di depan gawangnya sendiri, mengepit bola di bawah ketiaknya. Dia tersenyum, menyemangati Jeongguk karena mendapatkan perhatian karena cakar dan paruhnya yang mengintimidasi.
“Wow.” Kata Momo serius, duduk di pinggir jalan dengan seplastik siomai yang dibaginya dengan anak-anak. “Tato ketigamu...” Dia berdeham, mengangguk segan pada Taehyung yang tertawa.
“Menarik.” Dahyun mengangguk-angguk, duduk di pohon mangga di depan Masjid—satu-satunya tempat di mana dia bisa duduk dengan kaki diluruskan. “Apakah sakit membuat tato di sana?”
Jeongguk menyentuh tato ketiganya, yang berada di punggung—titik tepat di seberang pusarnya. Beberapa senti di atas tulang ekor dan garis celananya, menggaruknya. “Tidak.” Katanya mengedikkan bahu. “Yah, sebenarnya semuanya sakit.” Tambahnya meringis, “Tapi yang paling sakit ada di pahaku.”
Dia mengangkat kakinya, membiarkan semua orang melihat tato di pahanya. “Ini mengerikan.” Dia bergidik, tidak ingin lagi mengalami kesakitan semacam itu dalam hidupnya.
“Jadi,” dia berkacak pinggang pada semua anak di sekitarnya. “Jangan bertato!”
Semuanya tertawa dan menjawab serentak, “Siap, Kak Gguk!”
Sebelum akhirnya memulai permainan hingga sore menjelang dan permainan dimenangkan oleh tim Taehyung. Jeongguk membelikan anak-anak masing-masing sebungkus simoai sebelum melambai pada semuanya yang harus pulang, bersiap-siap untuk Maghrib.
“Terima kasih, Kak Gguk!” Seru mereka saat pulang, melambai ceria pada anak-anak KKN yang balas melambai.
“Sama-sama!” Balas Jeongguk. “Sampai ketemu besok di sini, ya! Jangan lupa bawa bolanya lagi, Ilham!”
Ilham tertawa, “Siap, Kak! Besok kita harus menang!”
“Tentu saja!” Sahut Jeongguk, nyengir. “Kita permalukan Kak Tae!”
“Harus!” Balas anak-anak rekan se-tim Jeongguk semangat, bersorak heboh bertengkar dengan rekan se-tim Taehyung yang berada di sekitarnya.
Jeongguk meraih kausnya yang teronggok di jalan, mengenakannya kembali dan menatap Taehyung yang balas menatapnya. “Ayo pulang.” Katanya, nyengir.
“Aku lapar!” Keluh Yugyeom saat mereka turun untuk mengambil motor mereka dan Jeongguk merangkulnya, “Aku bisa makan satu kilo nasi untukku sendiri.” Sahut Jeongguk, mendesah keras karena perutnya benar-benar lapar.
“Kau bisa saja memakan kursi yang diberi garam, aku tidak kaget.” Sahut Yoongi.
Jeongguk mengerang genit, “Yah, baiklah, Mas Yoongi yang keren.”
Semuanya tertawa.
“Siapa, sih, yang naksir Yoongi??” Tanya Tzuyu dari atas, menunggu anak-anak lelaki membawa motor naik.
“Desi!” Taehyung tertawa. “Tidakkah kau lihat caranya mengamati Yoongi? Mas Yoongi begini, Mas Yoongi begitu.” Dia tertawa.
Jeongguk menyalakan motornya yang meraung. “Ya ampun, Mas Yoongi keren!”
“Bicara sekali lagi, Gguk, kujejalkan kepalan tanganku ke mulutmu!”
“Aw, takut!”