Kuliah, Kerja, Nyantai / 67

ps. boleh sambil dengerin Mirror-nya Justin Timberlake, mood-nya cocok :')


Taehyung langsung membuka matanya saat mendengar suara erangan itu.

Dia bergegas bangkit, menoleh ke kantung tidur di sisinya sementara di luar sana hujan deras menghajar atap pondokan mereka. Hujan selalu turun setiap malam sebelum mereka tidur dan untuk beberapa anak seperti Taehyung, hal itu merupakan sebuah kemewahan karena dia bisa tidur dengan sangat nyenyak dengan suara hujan.

“Jeongguk?” Bisiknya, menyentuh kantung tidur Jeongguk dan menyingkap tutup kepalanya, menemukan Jeongguk menggigil. “Ya Tuhan,” bisiknya terkesirap. “Ada apa denganmu?” Dia menempelkan punggung tangannya ke kening Jeongguk dan mendesah saat menyadari suhu tubuhnya.

“Kau demam.” Bisiknya lalu meraih baju yang dilipat Jeongguk di sisi kepalanya sebelum tidur. Tadi sebelum tidur, persis setelah makan, dia sudah mulai bersin-bersin, hidungnya mulai memerah namun dia merasa sehat-sehat saja; paling hanya karena cuaca yang agak dingin katanya, maka dia minum segelas wedang uwuh lalu tidur lebih awal.

Sekarang badannya panas sekali.

“Tidak enak,” erangnya, bergerak di kantung tidur dan Taehyung mendesah.

“Tentu saja tidak.” Dia bergegas bangkit, menuju kamar lelaki dan meraih sweternya—mungkin akan kesempitan untuk Jeongguk tapi lebih baik daripada kaus tipisnya. Dia berusaha membuat sedikit mungkin suara saat masuk ke kamar agar tidak membangunkan Yoongi dan Yugyeom, namun ternyata Yoongi menyadarinya.

Yoongi terbangun, mendongak dengan wajah mengantuk. “Tae? Ada apa?” Tanyanya menguap dan menggaruk kepalanya, di sisinya Yugyeom terlelap seperti seekor panda.

“Jeongguk sakit.” Katanya, membongkar tasnya mencari sweternya yang cukup tebal untuk digunakan Jeongguk. “Apakah kalian bawa parasetamol?” Tanyanya.

Yoongi menggeleng. “Obat-obatan di kamar anak perempuan.” Katanya lalu bangkit. “Jeongguk tidur di dalam saja, di sana dingin.” Dia mengekor Taehyung keluar kamar, mendekati Jeongguk yang terengah namun menggigil di atas kantung tidurnya.

Taehyung berjongkok, mengangkangi perutnya lalu menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Jeongguk; menariknya duduk dengan lembut dan perlahan. Mendengus saat merasakan bobot tubuh Jeongguk di kedua lengannya. Yoongi bergegas menghampirinya, membantu Taehyung menahan Jeongguk tetap tegak saat dia membantu Jeongguk mengenakan kaus dan sweter Taehyung yang agak terlalu ketat di badannya, membungkus tubuhnya seperti lontong.

“Pusing,” keluh Jeongguk, membersit keras dan terdengar sangat tersiksa dengan hidungnya yang mampet. Dia mengistirahatkan keningnya di bahu Taehyung saat pemuda itu membenahi tempat tidurnya; memasukkan selimutnya sendiri ke dalam kantung Jeongguk agar dia lebih hangat.

“Tae,”

Taehyung mendesah, bayi besar ini memang. “Ya?” Tanyanya lembut, lalu perlahan membaringkan Jeongguk lagi di kantung tidurnya. Suhu tubuh Jeongguk yang menempel di bahunya terasa membakar, Taehyung merasakan sentakan rasa cemas dan panik di dasar perutnya.

Apakah Jeongguk sakit parah?

“Aku ingin kencing.” Desahnya, sangat terganggu pada fakta itu dan Taehyung melirik jam dinding—merinding saat menyadari jarum panjang baru saja berhenti di angka 12.

Pukul dua pagi, tepat.

Dia selalu menyadari Jeongguk bangkit dari sisinya setiap pukul dua pagi sejak belakangan ini dan pergi ke kamar mandi. Satu-dua kali, terasa normal namun ini sudah lima hari penuh Jeongguk terbangun tepat pukul dua pagi untuk buang air kecil. Selalu di jam yang persis sama.

“Kau kencing di botol saja bagaimana?” Tanya Yoongi, parau karena mengantuk dan Taehyung tertawa tanpa suara. Turun dari atas Jeongguk dan duduk di sisinya, mengusap rambut dari keningnya.

“Menjijikkan.” Keluh Jeongguk dengan suara paraunya, dia menggigil di dalam kantung tidurnya. “Aku benar-benar harus kencing,” tambahnya. “Aku pernah menahannya dan sakit sekali rasanya.”

Taehyung mendongak ke Yoongi yang mengedikkan bahu. Akhirnya Taehyung kembali meraih Jeongguk, membantunya berdiri dan memapahnya ke kamar mandi ditemani Yoongi yang membukakan pintu untuk mereka. Di luar hujan mulai mereda, setidaknya tidak lagi mengamuk dengan suara gemuruh. Dia membantu Jeongguk hingga di depan kamar mandi.

“Kau bisa sendiri?” Tanyanya dan Jeongguk mengangguk saat melangkah terhuyung-huyung ke kamar mandi, berpegangan sepenuhnya di dinding di sisinya. “Pintu tidak kututup, ya?” Katanya lalu memunggungi pintu yang terbuka, menatap ke halaman pondokan mereka.

Daun bambu di sisi kamar mandi bergemerisik oleh tiupan angin dan Yoongi berdeham. “Aku tidak suka di sini,” katanya dan Taehyung mau tidak mau setuju.

Ada sesuatu tentang kamar mandi pondokan yang membuat mereka tidak nyaman. Khususnya para lelaki. Momo mengiyakan saat mereka duduk bersama di ruang tengah, mengobrol tentang itu. Namun gadis itu menolak menjelaskan lebih lanjut dan Yugyeom secara harfiah berteriak heboh menahannya menceritakan semuanya.

“Jangan, Mbak, jangan!” Jika dia bisa, dia pasti sudah berlutut di kaki Momo agar gadis itu tidak menceritakan apa pun tentang sisi pondokan yang itu.

Dan Taehyung sendiri juga merasakan beberapa hal di tempat tidurnya dengan Jeongguk. Sebenarnya secara Jawa, kata Dahyun, tidak baik untuk tidur di depan pintu masuk utama—posisi tidur Jeongguk yang persis lurus dengan pintu masuk utama. Namun tidak ada pilihan lain lagi karena kamar lelaki terlalu sempit untuk mereka berempat. Dan Momo nampak tidak setuju saat Taehyung bilang dia akan menggeser tempat tidur lebih dekat ke pintu samping.

Demi menghormati Yugyeom yang nyalinya hanya sebesar kacang hijau, Taehyung urung bertanya kenapa pada Momo.

“Jeongguk selalu bangun pukul dua pagi untuk buang air kecil.” Kata Taehyung menatap Yoongi yang mengerutkan alis, tentu tidak menyukai sama sekali informasi itu. Di dalam, Jeongguk mulai menyiram urinnya, gemuruh air mengucur menjadi hiburan mereka selain rintik hujan.

“Selalu, tidak bisa tidak.”

Yoongi menggaruk pelipisnya. “Kau sudah bertanya pada Momo?” Katanya seolah Momo adalah semacam dukun-nya kelompok mereka.

Taehyung terkekeh, “Dan menakuti si Bayi?” Dia mengerling kamar lelaki dan Yoongi tertawa serak.

Diwud melongok dari dalam ruangan; mencari tahu apa yang dilakukan mereka malam-malam di depan kamar mandi, ekornya mengibas saat menyadari aroma Jeongguk di sekitar sana.

Jeongguk kemudian keluar, mengerang dan nyaris ambruk ke pelukan Taehyung saat dia menuruni tangga dari kamar mandi. Taehyung langsung kembali memapahnya, merasakan suhu tubuhnya yang terus naik sementara dia gemetar. Yoongi terpaksa membangunkan anak perempuan. Momo yang pertama bangun, dia bergegas keluar dengan rambut kusut membawa kotak obat mereka yang akhirnya diletakkan di meja televisi agar bisa diakses siapa saja.

Momo membuka satu buah parasetamol untuk Jeongguk yang menggigil sementara Taehyung menyeduhkannya teh dengan air sisa termos yang sudah nyaris hangat-hangat kuku—sisa semalam tapi lebih baik daripada tidak. Dia membawakan segelas air putih hangat dan teh ke ruang depan. Berlutut di sisi Jeongguk dan membantunya minum obat.

“Kau mau tidur di dalam?” Tanyanya, mengusap rambut Jeongguk di keningnya dan Momo mengulum senyuman, memalingkan wajah dari momen intim itu. “Di sini dingin.”

Jeongguk menggeleng, membersit. “Aku di sini saja.” Dia mengangguk. “Sudah minum obat. Tidak akan k'napa-k'napa.” Katanya lalu kembali berbaring di kantung tidurnya.

“Kau yakin?” Tanya Yoongi yang berdiri beberapa meter darinya. “Cukup untuk bertiga, kok.”

Jeongguk menggeleng, kali ini tegas dan keras kepala. “Membiarkan Taehyung tidur sendirian di sini? Yang benar saja.” Dia memalingkan wajah, menolak untuk berdebat dan Yoongi memutar bola matanya.

Taehyung terkekeh. Teman-temannya bangkit lalu kembali tidur setelah Taehyung meyakinkan mereka sebaiknya mengikuti mau Jeongguk saja. Dia masih bersila di sisi Jeongguk yang memejamkan mata, nampak gelisah karena suhu tubuhnya—menyentuh kening Jeongguk yang langsung meraih tangannya dan menggenggamnya ke atas jantungnya yang berdebar lebih kuat karena demam.

“Kau yakin ingin tidur di sini?” Tanyanya lembut, menggunakan tangannya yang bebas untuk menyeka rambut Jeongguk dan merasakan suhu tubuhnya dengan permukaan tangannya. “Dingin, lho.”

Jeongguk mengerang dan Taehyung terkekeh, dia tidak suka didebat. Taehyung paham namun dia suka mengisenginya agar terus mengomel. Taehyung akhirnya masuk ke kantung tidurnya setelah menariknya lebih dekat ke Jeongguk yang tersenyum—senang.

“Ayo, tidur.” Katanya. “Besok demammu akan lebih baik.” Dia mengusap rambut Jeongguk lembut lalu mendendangkan lagu lembut agar pemuda itu rileks dan tertidur di bawah pengaruh obatnya.


Demamnya tidak membaik.

Mereka terpaksa meninggalkan Jeongguk di pondokan, tidur di dalam kantung tidurnya di kamar lelaki dengan semangkuk sup di sudut ruangan untuk makan jika dia lapar. Ibu berjanji akan mengeceknya setiap saat selama mereka berkegiatan di PAUD.

Taehyung tidak bisa fokus. Dia memikirkan Jeongguk yang pagi tadi menggigil di bawah kantung tidurnya, sama sekali tidak membaik dengan vertigo ringan yang membuatnya mengerang keras dan juga hidungnya yang tidak berfungsi. Dia bernapas melalui mulutnya yang gemuruh.

Hari itu di PAUD, hari imunisasi. Mereka semua diminta membantu guru PAUD dan juga orang tua anak-anak untuk mengkondisikan para siswa yang ketakutan pada jarum suntik. Mutia sebagai yang paling berani, preman cilik didikan Jeongguk menjadi yang pertama maju menerima jarumnya. Nampak puas, tersenyum lebar pada perawat yang menyelesaikan imunisasinya.

“Pintar!” Perawat tersenyum, memberikannya sebuah biskuit yang diterimanya dengan sorakan ceria.

Mendapati dia mendapatkan makanan setelah imunisasi, perlahan anak-anak mendekat. Della, Dilla, Bagas... Mereka mulai berani, ada yang menangis ada yang berteriak saat jarum ditusukkan ke tangan mereka namun setelahnya mereka duduk di ruang kelas, makan biskuit cokelat dengan ceria bersama-sama.

Taehyung melirik jam tangannya, sejam lagi PAUD selesai namun dia sudah ingin pulang. Mengecek keadaan Jeongguk yang saat mereka meninggalkannya tadi sama sekali tidak membaik.

“Kau mau pulang saja?” Tanya Yoongi, memahami Taehyung yang nampak sangat gelisah—duduk dekat dengan pintu masuk dan siap melenting keluar kapan saja ada kesempatan.

“Sekalian belikan saja obat,” Yugyeom mengangguk. “Jika flu aku biasa minum Tremenza, benda itu ampuh. Dia akan sembuh dalam sehari.

“Pulang saja, tidak apa-apa.” Kata Dahyun di sisinya, duduk dengan kaki diluruskan ke arah luar karena tidak ada tempat untuk kakinya di dalam. “Bawa saja motorku.”

Taehyung menaikkan kacamatanya lalu akhirnya mengangguk, menggumamkan permisi dia kemudian setengah berlari keluar dari PAUD. Menuruni jalan berbatu ke jalan utama, dia kemudian berlari ke pondokan yang berada seratus meter dari PAUD. Dia memilih jalan pintas, melewati jalan becek berbatu dengan hutan bambu yang lebat yang langsung tembus ke depan kandang hewan Bapak.

Dia melepas jaket almamaternya yang gerah lalu melepas sepatunya di depan pintu yang terbuka lebar. Langsung menghambur ke kamar lelaki, membukanya dan menemukan Jeongguk masih terlelap dalam kantung tidurnya.

“Hei,” sapanya, terengah-engah berlutut di sisinya. Menyentuh keningnya dan menyadari suhunya masih tinggi. Dia mulai gelisah. Jeongguk sehat, tidak pernah kehujanan selama dia di sini lalu kenapa dia bisa sakit?

Apakah karena tidur di ruang tengah menemani Taehyung? Dia merasakan sentakan rasa bersalah jika memang itu penyebabnya. Taehyung meletakkan almamaternya di sisi kaki Jeongguk yang membuka sebelah matanya, menatapnya mengantuk lalu berbatuk serak.

“Sudah pulang?” Tanyanya parau dan Taehyung meringis, suaranya seperti monster rawa.

“Aku akan turun ke Klaten, membelikanmu obat. Ada makanan yang kauinginkan?” Dia mengulurkan tangan, membelai keningnya dengan lembut lalu tidak bisa menahan dirinya sendiri, dia mencondongkan tubuhnya; mengecup kening Jeongguk.

Bibirnya menyentuh kulit Jeongguk dan kulit sensitif itu merasakan suhu tubuhnya dengan lebih ekstrim lagi hingga Taehyung meringis lalu menegakan tubuhnya, menatap Jeongguk yang menatapnya—kaget.

“Wow.” Katanya lalu merona dan Taehyung juga merasakan wajahnya merona karena tidak bisa menahan dirinya sendiri. “Itu termasuk mesum di pondokan, tidak? Aku belum bekerja, aku tidak bisa menafkahimu jika kita menikah.”

Taehyung tertawa, jantungnya berdebar. Jeongguk yang mabuk adalah kesukaannya. “Tidak, kurasa? Apakah kita akan dibawa ke Balai Desa untuk dinikahkan?”

“Cium sekali lagi kalau begitu, kita tes.” Bisik Jeongguk, setengah merengek dan Taehyung terkekeh geli, menyentil kening Jeongguk yang mengerang.

“Kurasa kita sebaiknya tidak menguji pemilik tempat ini.” Sahutnya dan Jeongguk mengerang. Taehyung terkekeh, membelai wajahnya sayang lalu berdiri. “Aku pergi ke Klaten sebentar, oke? Kau mau kubawakan sesuatu?”

Jeongguk menatapnya, tersenyum lembut dan Taehyung merasa jauh lebih baik setelah melihat senyumannya. “Bakso? Boleh?”

Taehyung mengangguk, meraih jaketnya yang digantung di balik pintu. “Mie ayam?” Tawarnya, tersenyum lebar dan Jeongguk mengangguk—dia senang setidaknya nafsu makan Jeongguk masih normal. “Bilang pada semuanya jangan masak hari ini, kita makan bakso saja.”

Lalu Taehyung keluar dari pondokan, meraih helm Jeongguk dan mengenakannya. Dia menaiki motor Jeongguk, memutarnya di halaman lalu menyalakan mesinnya dengan menggunakan kick starter. Motor meraung saat dinyalakan, dia memasukkan gigi lalu mengendarainya. Butuh sekitar dua puluh menit bagi Taehyung untuk tiba di Klaten, di depan Pasar Klaten yang mulai sepi.

Dia berkendara melewati perempatan besar, menemukan K24, apotek yang dicarinya lalu berhenti di sana. Melepas helmnya, dia kemudian masuk.

“Pak, saya mau beli Imboost, Tremenza dan Parasetamol.” Katanya, merogoh dompetnya di saku belakang jinsnya.

“Baik, itu saja?” Sahut apoteker di belakang etalase, membungkuk untuk meraih satu strip obat. Dia meletakkan obat di atas etalase. “Imboost-nya berapa biji?”

Taehyung mengamati obat di tangannya dan menatap apoteker. Dia butuh vitamin jika dia harus tidur di luar ruangan terus seperti itu. “Empat saja.” Katanya, meletakkan kembali obat di atas etalase dan membayar totalnya.

Dia menaiki kembali motornya, mengenakan helm lalu memutar ke arah kedatangannya tadi. Berhenti di mini market, membeli susu dan juga vitamin C langsung minum untuk Jeongguk. Dia menjejalkan semua belanjaannya di waist bag yang digunakannya sebelum berhenti di penjual bakso di sebelah mini market—membeli tujuh porsi bakso dan tiga porsi mie ayam.

Saat dia kembali ke pondokan, semua orang menunggunya untuk makan bersama. Jeongguk duduk bersandar di dinding terbalut kantung tidur dan sweter Taehyung, nampak sedikit lebih sehat saat Taehyung menyerahkan makanan pada Momo yang langsung menyiapkannya untuk dimakan bersama.

“Kau enakan?” Tanyanya pada Jeongguk, melepas helm dan jaketnya; menyampirkan keduanya di lengan kursi tamu.

Jeongguk mengangguk, “Lapar.” Katanya dan Taehyung terkekeh, ingin memeluknya begitu erat dan meremukkan tulang Jeongguk dalam pelukannya sekarang.

“Siap, Jagoan. Kita makan.” Katanya lalu meluncur ke dapur, membantu Momo dan Tzuyu yang menyiapkan makanan mereka lalu dibantu Yoongi, Dahyun dan Yugyeom membawanya ke ruang tengah untuk dinikmati bersama.

Jeongguk makan dengan lahap, Taehyung senang saat melihatnya menghabiskan isi mangkuk mie ayamnya dan masih lanjut menghabiskan baksonya. Syukurlah jika dia makan banyak, maka dia akan lebih cepat sembuh. Taehyung lalu memberikannya sebutir Tremenza untuk diminum.

Jeongguk menurut, meminumnya lalu mendesah. Dia kembali ke kamar untuk berbaring karena kepalanya terasa berdentam-dentam. Taehyung menemaninya hingga terlelap sebelum bergabung dengan teman-temannya merencanakan prokernya dan Jeongguk, vaksin ternak.

“Aku sudah menghubungi temanku, Namjoon namanya. Dia berjanji akan membawa dua temannya untuk membantu kita,” Taehyung mengangguk—Namjoon salah satu teman SMA-nya yang sekarang sedang semester akhir di Faktultas Kedokteran Hewan UGM, dia dengan senang hati membantu program kerja Taehyung dan mengatakan padanya bahwa biaya bukan masalah.

“Dia juga punya teman yang sudah lulus dan punya izin praktik. Dia yang akan mengatur dosis vaksin ternaknya berhubung mereka yang lain belum memiliki izin untuk melakukannya,” Taehyung menambahkan dan teman-temannya mengangguk.

“Jadi kita akan eksekusi dua hari lagi sesuai kalender, ya?” Yugyeom berdiri di sisi kalender KKN mereka, menunjuk tanggal yang Taehyung tulisi dengan proker Taehyung.

Taehyung mengangguk, “Besok mereka akan datang menginap di sini sekalian melihat medannya dan mempersiapkan alat-alat. Aku akan menghubungi Namjoon lagi tentang pengaturannya.

“Aku juga akan pinjam bantal pada Ibu untuk mereka tidur di depan sini nanti. Katanya tidak masalah, KKN mereka dulu lebih mengerikan dari kita di sini.” Taehyung meringis dan teman-temannya mengangguk—mengiyakan.

“Berarti kita harus masak lebih banyak, ya?” Momo menambahkan, mulai memikirkan tentang pasar karena jika mereka akan menanggung tiga lelaki lagi maka mereka sebaiknya menambah bahan baku makanan. “Kita akan kedatangan tiga orang lagi, 'kan?”

Taehyung mengangguk, “Betul.” Katanya. “Tolong, ya, Teman-teman.” Katanya lalu melirik pintu kamar lelaki. “Tapi aku juga cemas Jeongguk belum cukup sehat untuk mengerjakan program kerja kita.”

Yugyeom menggeleng, “Dia sudah minum Tremenza, 'kan? Besok pasti sudah lebih baik kok.”

Dan Yugyeom salah total.

Karena Jeongguk kemudian resmi invalid seharian penuh. Dia tidur dan terus tidur seharian. Sejak setelah makan bahkan hingga mereka semua berangkat ke Masjid untuk les dengan anak-anak, Taehyung mendapatinya masih terlelap begitu nyenyaknya hingga dia tidak tega membangunkannya.

Dia baru bangun pukul sembilan malam hanya untuk muntah-muntah.

Semuanya kacau balau. Dia bangun, terseok-seok ke pintu dan hanya sempat mengatakan, “Tae?” dengan suara seraknya sebelum berdeguk keras.

Taehyung langsung berdiri, melenting ke arahnya dan menyambar tubuh Jeongguk persis sebelum dia menghantam tanah. Muntahan pertama lolos dari mulutnya dan dia gemetar, Taehyung ingin menangis bersamanya saat merasakan betapa lemahnya Jeongguk.

Semuanya langsung membantu Taehyung menyeret Jeongguk ke kamar mandi, mengkondisikan muntahannya namun mereka baru saja keluar dari pintu samping saat Jeongguk mengerang keras.

“Tidak, tidak.” Katanya lalu berdeguk keras dan muntah ke kaki Taehyung yang sama sekali tidak berjengit karenanya. Dia memijat tengkuk Jeongguk, membisikkan kata-kata menenangkan agar dia memuntahkan saja semuanya.

Dari sela-sela muntahannya yang dibantu Taehyung, dia mengatakan sesuatu tentang jantung berdebar dan vertigo mengerikan. Mimpi buruk yang tidak berhenti dan kelelahan, ototnya nyeri semua. Dan dia menangis saat berdeguk-deguk memuntahkan semua makanannya dalam pelukan Taehyung yang berusaha menahan bobot tubuhnya yang nyaris dua kali tubuh Taehyung dalam pelukannya. Dia menyandarkan Jeongguk ke bahunya, merangkulnya dan meletakkan satu tangannya di dada Jeongguk.

Yoongi ada di sisi satunya, paham Taehyung tidak akan bisa menahan bobot Jeongguk sendirian sementara Momo bergegas membuatkannya teh panas yang hambar untuk membuat perutnya lebih enak.

Kesimpulannya, Tremenza tidak bekerja dengan ampuh pada semua orang. Khususnya Jeongguk yang sepertinya tidak bisa menerima obat dengan dosis tinggi. Taehyung membantu mengganti bajunya saat Jeongguk teler, mengelap bekas muntahan yang mengotori tubuhnya lalu mencuci pakaiannya agar tidak berbau.

“Maaf, Tae.” Yugyeom berdiri di sisinya, nampak sangat bersalah saat mengamatinya membilas pakaian Jeongguk dan membereskan sisa muntahan yang berceceran di depan kamar mandi dan di depan kamar lelaki dibantu oleh Tzuyu.

“Tidak apa-apa.” Taehyung tersenyum, mengibaskan baju yang sudah diperasnya. “Kau juga tidak tahu, 'kan?” Katanya lalu membawa ember ke teras samping rumah untuk menjemurnya dengan Yugyeom mengekornya seperti anak anjing menggemaskan.

Dia meras bersalah, seolah baru saja meracuni Jeongguk dengan obat yang ternyata tidak cocok dengan sistem tubuh Jeongguk.

“Dia vertigo,” Taehyung menggantung baju Jeongguk di gantungan baju dan menyelipkannya di salah satu rangka atap pondokan. “Muntah akan membuatnya lebih baik. Tenanglah, tidak ada yang meninggal.”

Malam itu Taehyung berbaring di ruang tengah sendirian, membiarkan Jeongguk tidur di kamar bersama Yoongi karena takut membuat sakitnya semakin parah jika dia tidur di luar lagi, terpapar dingin. Dia merasa sangat kesepian tanpa suara dengkur Jeongguk yang biasanya menemani tidurnya, suara napas beratnya yang terasa seperti nina-bobo yang menyenangkan.

Dia mendesah, memijat pangkal hidungnya lalu meletakkan kacamatanya di sisi kepalanya. Lalu mengenakan tudung kepala kantung tidurnya, menarik resletingnya naik hingga membungkusnya dengan nyaman; berharap besok Jeongguk sudah lebih baik.

Karena dia merindukan Jeongguk yang ceria dan berisik. Hatinya tidak bisa lagi menangguhkan nyeri aneh saat dia melihat Jeongguk mengerang kesakitan, memuntahkan makanannya dan menangis karena sakit kepalanya yang mengerikan. Dia terus mengeluh, terus merengek pada Taehyung untuk mengenyahkan sakitnya—dan Taehyung tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.

Taehyung menghela napas, menyingkirkan suara erangan Jeongguk ke sudut kepalanya dan mulai lelap di tengah suara rintik hujan yang mulai turun; seperti biasa.

Dia terbangun beberapa jam kemudian, menyadari seseorang menggenggam tangannya dan tersenyum. Jeongguk memutuskan untuk tidur di sisinya, entah sejak kapan dan dia mendesah, memang tidak bisa mencegah Jeongguk melakukan hal-hal yang diinginkannya. Maka dia akan membiarkannya saja. Jeongguk bergelung di kantung tidurnya yang berada persis di sisinya, tidak ada jarak sama sekali.

Clingy baby, pikir Taehyung geli, namun hatinya berdesir—hangat oleh kasih dan sayang.

Dia berguling, menatap Jeongguk yang lelap dengan senyuman kecil di wajahnya. Siapa sangka, Elang yang mampir ke dahannya hari itu ternyata betah dan tinggal bersamanya—sehari, tiga hari, dan mungkin juga, selamanya.

“Cepat sembuh, ya,” bisiknya pada wajah lelap Jeongguk di hadapannya, walaupun dia tahu Jeongguk tidak akan mendengarnya karena dengkurannya menandakan betapa lelapnya dia tidur. “Aku rindu sekali padamu, padahal baru satu hari.”

Lalu dia mengaitkan kelingking mereka sebelum tersenyum dan kembali memejamkan matanya, terlelap.