C'est un Secret 353

cw // hurt and comfort.


Bian gugup.

Dan ini pertama kalinya semenjak dia terjun menjadi seorang mahasiswa Kedokteran, dia merasa begitu. Tidak ada satu pun hal yang bisa membuatnya gugup selama ini—bahkan tidak ujian OSCE. Dia selalu tahu dia bisa menyelesaikannya karena dia mampu.

Namun menghadapi hal yang diluar kekuasaannya—reaksi Antonio terhadap bantuannya hari ini, jelas adalah sesuatu yang sama sekali baru baginya. Dan dia tidak suka saat dia tidak bisa mengendalikan keadaan, dia ingin selalu memegang kontrol atas sesuatu.

Dia duduk dengan gelisah di jok penumpang mobilnya sementara Antonio mengemudi dengan cekatan di sisinya dalam balutan sweter tipis hijau gelap dan celana pendek. Dia hanya mengenakan sandal jepit hari ini, gayanya santai dan menyenangkan.

Bian suka ketika Antonio mengenakan pakaian kasual yang rapi saat menjemputnya, namun melihat Antonio mengenakan pakaian yang nyaman dan cenderung cuek membuatnya nampak jauh lebih memesona.

Bian suka.

Rambutnya disisir naik dan dia mengenakan kacamata hitam, mendesah saat terjebak macet di pintu masuk tol. Bian bisa saja menikmati perjalanan mereka kali ini karena dia akhirnya pulang setelah beberapa bulan ini disibukkan dengan kegiatan kuliah dan skripsinya, namun jika dia teringat pesan dengan Romo Herry di ponselnya, perutnya seketika melilit.

Apakah cara ini akan berhasil?

Bian tidak pernah terlalu memikirkan dunia gelap Indonesia. Dia hanya paham dunia itu ada dan bergerak, berdenyut seperti seekor binatang liar yang siap dilepaskan kapan pun seseorang membenci orang lain hingga tidak lagi senang melihatnya senang.

Dan sebagai calon dokter, dia terbiasa dengan hal-hal yang bisa dijelaskan; ilmu pengetahuan yang mempermudah pemahaman manusia.

Namun dia tidak pernah mengesampingkan sisi-sisi gelap itu. Paham bahwa sehebat apa pun manusia mencoba memahami Semesta, akan selalu ada sisi-sisi yang tidak mereka bisa jelaskan. Sisi-sisi yang lebih kuat dari manusia. Maka Bian merasa tidak ada salahnya untuk percaya, toh tidak akan menyakiti siapa pun.

”... Kau ingin berhenti di pom bensin?”

Bian mengerjap, menatap Antonio yang sekarang meliriknya seraya mengemudi di jalan bebas hambatan yang lancar. “Apa?” Tanyanya, bingung pada arah pembicaraan Antonio—sial, apakah dia tadi bertanya pada Bian? Dia tidak mendengarnya.

“Kau kelihatan seperti sedang menahan buang air besar.” Katanya kalem lalu mengaduh keras saat tangan Bian yang beracun dan cepat seperti ular menyambar perutnya, mencubitnya pedas. “What was the reason?!” Keluhnya, menyambar tangan Bian dan menjauhkannya dari perutnya.

“Kau menyebalkan.” Gerutu Bian, menyadari sepenuhnya betapa tegangnya dia dan itu tidak baik karena Antonio jelas akan curiga jika dia menyembunyikan sesuatu—haruskah dia mengatakannya saja pada Antonio?

Dia teringat kembali pesan Romo dalam obrolan mereka, Jangan membuatnya marah, ya.

Bian menelan ludahnya sulit, bagaimana jika dia malah marah karena Bian melakukan hal ini tanpa sepengetahuannya? Dia menatap jalanan, mengabaikan Antonio yang sedang meliriknya menunggu jawaban dan berharap dia bisa melakukan yang terbaik.

“Tidak,” katanya kemudian, membalik tangannya sehingga telapak tangan Antonio berada dalam genggamannya. “Aku hanya gugup akan mengenalkanmu pada Yeontan.”

Antonio mengerjap, kebingungan. “Yeontan.” Ulang Antonio kalem, lalu berdeham. “Bukan orang tuamu?”

Bian nyengir, senang karena Antonio memecahkan ketegangan dirinya dengan begitu mudah—bagaimana hidupnya setelah ini tanpa badut pesta Antonio Abhirama ini? Dia yang selalu bisa membuat Bian tenang begitu saja tanpa dia benar-benar berusaha.

“Mereka akan menyukaimu, tentu saja. Tapi Yeontan ini agak... pemilih. Jika dia menyukaimu, maka aku akan menjadikanmu suamiku. Jika dia tidak menyukaimu maka kita tidak bisa lagi bersama.”

Antonio menaikkan kacamatanya, menatap Bian dengan raut wajah jenaka yang membuat Bian tertawa. “Jodohmu ditentukan oleh anjing pomeranian berusia dua tahun.” Ulangnya perlahan, mencerna ucapan Bian barusan. “Baiklah. Yeontan akan menyukaiku, kita akan mampir memberikannya Royal Canin.”

Bian mendesah panjang, tersenyum lebar hingga pipinya nyeri. Merasa hatinya begitu penuh cinta saat dia menyelipkan jemarinya ke jemari Antonio dan membiarkan pemuda itu membawa tangannya ke bibirnya, mengecup bagian dalam pergelangan tangannya dengan intim—membuat tubuhnya berdenyar seperti ledakan kembang api.

“Aku cinta sekali padamu.” Katanya saat Antonio menempelkan punggung tangannya di pipinya yang lembut dan sedikit kasar karena janggut tipis yang mulai tumbuh. Dia menciumi punggung tangan Bian seraya mengemudi, di bawah batas kecepatan di pinggir sehingga mereka bisa menikmati perjalanan.

“Tidak sebesar cintaku padamu.” Balas Antonio lugas, tersenyum separo dan Bian membalas senyumannya dengan ceria. Merasakan jantungnya berdebar antara dia tegang karena akan mempertemukan Antonio dengan Romo Herry atau karena dia sangat mencintai Antonio hingga dia merasa sesak.

“Jika aku boleh... tahu?” Bian menatap Antonio yang mengemudi dengan rileks, masih menempelkan tangan Bian ke pipinya. “Apa saja yang mereka lakukan padamu, kau tahu, di Singapura? Dan bagaimana bisa kau akhirnya di bawa ke sana?”

Antonio sejenak tegang, raut wajahnya berubah dan Bian sejenak merasa takut dia sudah melemparkan pertanyaan yang sensitif pada Antonio. Namun kemudian, pemuda itu mendesah lalu meliriknya—senyuman yang terulas di wajahnya kemudian, sarat oleh rasa lelah yang menggelayut begitu berat.

Bian nyaris bisa merasakan lelah dan frustasinya Antonio dengan keadaannya sekarang. Dia mulai merasakan suntikan rasa optimis hal yang dilakukannya ini benar—dia sedang berusaha menyelamatkan Antonio, dia melakukan hal yang benar. Dan merahasiakannya, entah mengapa terasa benar.

Reaksi Antonio terhadap pertolongan terlalu negatif hingga Bian takut. Dia juga telah meminta Romo Herry untuk bersikap tidak mencurigakan karena Antonio agak terlalu tempramental jika dihadapkan dengan 'kondisi'-nya.

Dan Romo Herry nampaknya sudah mulai menemukan satu-dua hal titik terang mengenai Antonio hingga beliau tidak sabar untuk segera bertemu dengan Antonio.

“Mereka hanya...,” Antonio berhenti sejenak, ragu-ragu sebelum mendesah. Nampak berusaha keras saat melakukannya, dia bicara seolah ada segenggam pasir di dalam mulutnya.

“Memintaku mandi air dingin lalu membiarkanku di sana, berubah menjadi perempuan di bawah tatapan mereka. Tanpa pakaian.” Dia berhenti dan Bian merasakan tangannya mulai dingin dan berkeritngat. “Mereka... Mengobservasi perubahan fisikku, begitu katanya.”

Bian terkesirap, keras dan tajam. Bagaimana mungkin mereka tega melakukan itu pada manusia? Dia menatap Antonio, rahang pemuda itu mengencang dan genggamannya pada tangan Bian semakin erat—nampak melawan trauma dan rasa takutnya dengan begitu hebat.

Mereka praktisi kesehatan, tidakkah mereka setidaknya memahami apa yang dirasakan pasien mereka terhadap tindakan itu? Tidakkah mereka mempertimbangkan efeknya secara psikologis?

Jika Antonio mengalami hal itu selama dua tahun secara terus-menerus, nyaris secara berkala, maka tidak heran jika dia menjadi begitu takut pada tubuh perempuannya, membenci sisi perempuannya yang seolah menjadi pemicu untuk segala trauma dan ketakutannya selama ini.

Dia di sana, telanjang dan ditatap oleh mata-mata penasaran yang menganggapnya tidak lebih dari sekadar tikus percobaan untuk disuntikkan bermacam-macam obat baru dan menunggu reaksinya.

“Bagaimana...” Bian menelan ludah, tidak yakin bagaimana harus membahasakan pertanyaannya. “Bagaimana Kak Jin... membiarkan itu terjadi?”

Antonio nampak tersiksa, seolah seseorang baru saja menyurukkan besi panas ke tenggorokannya dan Bian langsung menggenggam tangannya erat-erat, menenangkannya. “Kami... tidak punya pilihan lagi.” Dia mengedikkan bahu.

“Kak Hosein berusaha semampunya. Kak Jin juga berusaha. Untuk saat ini, itulah yang terasa sangat benar. Kak Hosein sendiri yang pertama kali menyambar kerah dokter itu lalu menonjok rahangnya saat dia tahu apa yang mereka lakukan padaku, tapi...” Antonio menghela napas dalam-dalam, nampak berusaha kuat untuk tidak berteriak atau berguling ketakutan.

“Akhirnya, kami kembali ke sana. Berharap sesuatu akan muncul dan terus berharap.” Antonio menatap jalanan, kosong dan bibir bawahnya gemetar. “Akhirnya aku berhenti berharap.”

Bian meremas tangannya, “Sayang.” Bisiknya lirih, tidak bisa mengatakannya dengan benar tapi dia merasakan sakit yang dirasakan Antonio, seolah dia berdiri di sana, di sisi Antonio menatap mata-mata dibalik masker dan penutup kepala hijau, mengamatinya seperti mengamati preparat bawang di bawah mikroskop.

“Aku tidak terlalu antusias tentang berangkat ke Singapura,” kata Antonio saat mobil mereka meluncur keluar dari jalan bebas hambatan, menuju rumah Bian sekarang. “Tapi, entahlah. Kak Jin masih berusaha, aku tidak ingin mengecewakannya.”

“Kak Hosein saat pertama kali mengetahui bahwa aku bisa berubah wujud, langsung datang dengan ide itu. Membawaku ke pusat kesehatan terbaik, mengusahakan segalanya yang dia bisa.” Antonio mengenggam roda kemudi dengan lebih erat hingga buku-buku jemarinya memutih.

“Orang baik, Kak Hosein itu.” Dia tersenyum sayang. “Dia langsung menggelontorkan uangnya demi menolongku, melakukan apa saja demi kami sejak dulu. Sejak dia pertama kenal dengan Kak Jin. Dia sayang padaku seperti adiknya sendiri, menyayangi sosok lelaki dan perempuanku sama rata.

“Hal yang bahkan aku dan Kak Jin tidak bisa lakukan,” Antonio melirik Bian yang terpana di sisinya, mendengarkan cerita itu. “Tidak, kami tidak bisa mencintai sisi perempuanku. Kami menganggapnya kutukan, tamu tidak diundang. Tapi Kak Hosein memelukku, menyayangiku dalam wujud perempuanku—membuatku merasa aman dan nyaman.”

Dia berhenti sejenak, menatap jalanan dan Bian ikut terdiam. Tidak yakin pada apa yang harus dikatakannya untuk menghibur Antonio selain mengenggam tangannya lebih erat lagi; membantunya saat memasukkan persneling.

Kau akan sembuh, Nio. Tenanglah, kau pasti sembuh,” Antonio tersenyum sendu, matanya menerawang. “Begitu katanya tiap aku dan Kak Jin mulai putus asa dengan semua hal yang kami usahakan. Aku iri pada optimismenya, tidak pernah menyerah selelah apa pun, segagal apa pun kami. Memberikanku dokter terbaik, psikiater terbaik, tidak memedulikan berapa banyak biayanya...”

Antonio berhenti lagi, mendesah. “Aku ingin membahagiakan mereka, Kak Jin dan Kak Hosein.” Dia tersenyum lemah, “Makanya, aku tetap berangkat ke Singapura walaupun aku tidak yakin pada hasilnya sama sekali. Aku tidak tega merusak optimisme Kak Hosein.”

Bian menatapnya lalu berdeham, haruskah? “Nio?”

“Ya?”

Bian menelan ludah, menelan gumpalan berduri yang menyangkut di tenggorokannya. “Pernahkah kau...” Dia memulai perlahan, Antonio di sisinya menunggu dengan sabar. “Berpikir sekali saja, bahwa... Kau sedang 'dikerjai' seseorang?”

Antonio menoleh sejenak sebelum kembali menatap jalanan, tertawa kering; suaranya begitu menyayat hati hingga Bian menyesal dia telah menanyakannya. “Pernah, tentu saja!” Katanya nyaris terlalu histeris dan gemetar. “Aku sudah memberi tahu itu pada Kak Jin tapi Kak Hosein tidak terlalu memercayainya.”

Antonio mengedikkan bahu, “Yah, kau berhadapan dengan warga non-Indonesia, tentu saja dia tidak percaya. Kau harus lihat wajahnya saat aku membahas potensi itu.” Dia terkekeh serak.

”'Kita coba segalanya,' kata Kak Hosein saat itu, 'segala yang kita bisa sebelum kita melihat opsi itu, oke?'” Antonio memasang sein, menyalip salah satu mobil di depannya. “Dia masih ingin berjuang di ranah medis, aku tidak bisa menyalahkannya. Dan aku sudah lelah sekali mendebat siapa pun.”

Bian menatapnya, semakin yakin tentang apa yang sedang dilakukannya sekarang. Dia meremas tangan Antonio, ingin menimangnya dan ingin memeluknya. Jika bisa, dia ingin sekali menggantikan Antonio; ingin menangguhkan beban langit di bahunya, mengambil alih ketakutan dan trauma itu dari Antonio hingga dia bisa sejenak bernapas lega.

“Aku,” Antonio kemudian menambahkan, “Sudah pasrah jika memang aku harus hidup selamanya dengan sisi perempuanku.” Dia mengulaskan senyuman tipis yang sama sekali tidak menyentuh matanya.

“Dan kuharap,” dia menoleh ke Bian sejenak sebelum kembali menatap jalanan dan mengecup tangannya sekali lagi—bibir Antonio terasa kering. “Kau juga siap menoleransi kehadirannya tiap kali muncul, jika pada akhirnya aku terjebak dalam kondisi ini selamanya. Karena optimisme Kak Hosein pun suatu hari nanti akan habis, 'kan?”

Bian menatapnya, jutaan emosi meledak di dalam tubuhnya. Dia takut untuk Antonio, dia sedih untuk Antonio, dia tegang untuk Antonio—seolah ada benang tebal yang menjalin hatinya dan Antonio, membuatnya merasakan segala yang dirasakan Antonio begitu saja.

“Aku akan selalu menoleransinya.” Katanya tersenyum, menatap Antonio lembut. “Sama seperti aku menoleransi tingkah tengilmu.” Dia mengulurkan tangan, mengusap bagian belakang kepala Antonio dengan sayang. “Tenang saja.”

Antonio tersenyum lebar, menggemaskan seperti anak kecil hingga hati Bian terasa diremas-remas. “Trims, Sayang?”

My pleasure, Sayang.” Balasnya.

Dia yakin dia sedang melakukan hal yang benar. Dia sedang menyelamatkan Antonio.


“Astaga! Halo, Romo! Tumben?”

Romo Herry sudah tiba.

Bian menghela napas dan menahannya, menggertakkan rahangnya saat mendengar suara ceria ibunya menyambut tamu yang memasuki rumah mereka seraya melirik Antonio yang sedang duduk di sofa ruang tengah, menggasak macaroni schotel buatan ibu Bian.

Seperti dugaannya, kedua orang tuanya langsung menyukai Antonio begitu saja. Pembawaannya yang ceria, sopan dan menarik jelas akan memikat orang tua mana pun dengan mudah. Dia juga melemparkan guyonan-guyonan yang membuat ayah Bian, manusia tanpa sel humor, tertawa serak. Dia langsung memamerkan koleksi bonsainya pada Antonio, tanda bahwa dia menyukai orang itu karena ayahnya jarang memamerkan apa pun.

Menghabiskan sesiangan di kebun, membantu ayah Bian berkebun, Antonio nampak rileks dan senang. Dia tidak terlihat seperti sedang terpaksa mengakrabkan diri dengan orang tua Bian, dia terlihat seperti dia memang menyukai kedua orang tua Bian. Dia membantu ayah Bian memotong kawat-kawat tanaman yang digunakan untuk membentuk batang bonsai, menyiangi daun-daun muda bonsainya agar tidak tumbuh besar.

Ayah Bian mendengus, bangga atas pilihan anaknya.

Dan Bian mendesah lega.

Lalu setelah membantu di kebun, Antonio mendapatkan camilan beraneka rupa dari ibunya yang sibuk berkelotakan di dapur. Membuat makanan dan camilan, seperti yang bisa dilakukannya tiap kali Bian pulang hanya saja kali ini melipatgandakannya.

Dan itulah yang sedang dimakan Antonio sekarang saat ibunya membuka pintu, menemukan Romo Herry yang tersenyum lebar di pintu—nampak menenangkan, menyenangkan dan hangat seperti yang diingat Bian di masa kecilnya saat pelayanan.

“Halo, Eliza. Maaf menganggu sore-sore,” sapanya ramah dengan suara beratnya yang empuk. “Saya kebetulan lewat dan mampir.” Dia mengerling Bian yang mengangguk sekilas, melirik Antonio yang menatap Romo itu tertarik.

“Kemarin saya bicara dengan Dito, mengingat anak-anak pelayanan dan teringat Bian dan Bobby.” Tambahnya saat kemudian duduk di sofa, ditemani ibu Bian yang masih kebingungan kenapa Romo mereka memutuskan mampir tanpa informasi apa pun.

“Lama tidak bertemu anak-anak. Lalu saya memutuskan untuk mampir saja. Kebetulan Bian di rumah ternyata.”

Ibu Bian masih belum menerima alasan Romo, nampak dari wajahnya namun setidaknya dia tidak menyuarakannya. Dia tersenyum lebar, tapi toh, senang Romo mereka memutuskan untuk mampir. “Ya, kebetulan Bian di rumah, Romo. Sebentar saya panggilkan Bian dan suami saya.”

Romo Herry mengangguk, bersandar nyaman di sofa. “Terima kasih, Eliza.” Dia tersenyum ramah lalu mendongak saat Bian bergegas muncul dari ruang tengah begitu ibunya beranjak ke belakang, menjemput ayahnya.

“Romo, apa kabar?” Sapanya ceria lalu menyalami Romo di hadapannya dengan penuh kasih sebelum duduk, melirik Antonio lagi sebelum merendahkan suaranya. “Romo ingin bicara dengan Nio?” Tanyanya.

Romo Herry melirik Antonio yang sedang menonton televisi, masih sibuk makan dan sudah merasa seperti rumahnya sendiri. Yeontan bahkan langsung melompat ke pangkuannya kapan pun Antonio duduk dan bergelung nyaman di sana, mengklaim Antonio sebagai miliknya.

“Jika dia berkenan?” Balas Romo tenang, senyuman ramah dan hangatnya tidak pernah luntur dari bibirnya; Bian selalu suka dan ingat senyuman ini, menghiasi sepanjang masa kecilnya.

Bian mengangguk sebelum kembali ke ruang tengah. “Ayo,” katanya ceria, walaupun jantungnya terasa menonjok tenggorokannya karena takut. “Romo ingin bertemu denganmu.”

Antonio mendongak, kaget. “Kenapa?” Tanyanya, kebingungan karena tamu keluarga Bian ingin bertemu dengannya dan Bian harus mengerahkan kekuatannya berbohong demi meyakinkan Antonio.

“Karena menurut Romo dosamu banyak, jadi harus diajak berdiskusi.” Sahut Bian dan yakin dari ekspresi yang terbit di wajah Antonio, jika saja mereka tidak di rumah orang tuanya, pemuda itu akan menggendongnya lalu membantingnya di ranjang karena berani menggunakan nada itu padanya.

Namun dia mengencangkan rahangnya, tersenyum terhibur. “Baiklah.” Dia kemudian berdiri, merapikan pakaiannya dan meletakkan mangkuk makanannya di meja. “Walau sebenarnya semua dosaku dimulai saat aku jatuh cinta padamu, tapi tidak apa-apa.” Dia nyengir dan Bian merona, tersenyum lebar.

Mereka kemudian beranjak ke ruang tamu. Romo Herry langsung tersenyum hangat dan ramah, berdiri untuk menerima salam dari Antonio yang bisa sangat memesona jika dia mau. Dia duduk di kursi terdekat dengan Romo, tersenyum hangat.

Bian berdebar, takut pada apa yang akan dilakukan Romo pada Antonio. Apakah dia akan menyemburkan air suci? Mengayunkan rosario padanya? Atau mengacungkan salib pada Antonio seperti apa yang mereka lakukan di film-film horor?

Namun ternyata, mereka hanya mengobrol biasa. Romo menanyakan studi mereka, mendengarkan cerita Bian tentang skripsinya seraya menikmati secangkir teh yang dibuatkan ibunya. Dia juga menanyakan kesehatan Antonio dengan mulus, bertanya tentang studinya dan sudah berapa lama dia mengenal Bian.

Apakah dia suka di Bandung? Punya berapa saudara? Orang tuanya sehat? Makanan apa yang Antonio sukai? Kakak Antonio sehat?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mencairkan ketegangan di tulang punggung Bian, membuatnya berakhir rileks di sofanya, memeluk bantal dan tertawa bersama Romo, ibunya, dan Antonio yang langsung nyaman pada Romo mereka yang memang sangat meneduhkan.

Ternyata kunjungan itu hanya seperti kunjungan hangat seorang pemuka agama ke rumah jemaatnya, bertanya kabar dan menolak makan malam bersama saat akhirnya dia berdiri dan pamit pulang.

Dia melirik Bian, mengerlingnya dan Bian mengangguk. Dia paham akan ada sesuatu yang didiskusikan Romo dengannya, maka dia menemani ibunya mengantar Romo ke gerbang. Mendirikan sepedanya yang terparkir di sisi mobil Bian. Serangan nostalgia membuat Bian tersenyum, dia selalu ingat dibonceng sepeda ini setiap pulang ibadah atau sekolah Minggu; bernyanyi lagu gereja dengan Romo Herry sepanjang perjalanan.

Kadang, dia duduk di depan dan Bobby di belakang. Berteriak nyaring menyanyikan lagu bersama Romo yang tertawa serak. Bian merindukan masa kecil itu, saat segalanya sesederhana tidur siang dan makan malam. Sesederhana proyek prakarya yang dikumpul besok dan baru diingat Bian pukul delapan malam.

“Mari, Eliza. Bian. Nio. Saya pamit dulu.” Dia tersenyum. “Sampai ketemu di ibadah besok.” Dia menuntun sepedanya keluar dari gerbang dan Bian bergegas menyusulnya, menemaninya.

“Nanti saya akan obrolkan di Whatsapp saja, ya, Bian? Takut dia dengar.” Katanya dengan suara rendah.

Bian mengangguk, lalu melambai ceria pada Romo yang mengayuh sepedanya dengan penuh semangat walaupun sudah mulai menua. Setelah Romo dan sepedanya lenyap di ujung jalan, Bian bergegas masuk ke rumah menemukan Antonio sedang membantu ibunya menyiapkan makan malam—memotong bawang dan cabai.

Bian tertawa. “Apa yang kaulakukan?” Tanyanya, membungkuk dan menerima Yeontan yang melompat ke gendongannya lalu menimangnya ceria.

“Memasak, tentu saja.” Antonio memutar bola matanya. “Begini, begini, Kak Jin mengajariku memasak.” Dia mendengus bangga, memotong sayuran dengan lincah sementara ibunya mulai memasak. “Kau harus mencicipi masakanku.”

Bian bersandar di konter, “Baiklah, Chef.” Dia nyengir, mendudukkan Yeontan di konter. “Impress me.”

“Bian,” tegur ibunya. “Apa yang Mami katakan kemarin tentang binatang di konter?” Dia mengayunkan sendok sopnya dan Bian bergegas menurunkan Yeontan yang menyalak ceria.

Dengan aroma lada yang hangat di udara, obrolan akrab Antonio dengan ibunya, suara televisi dan ayahnya, Bian merasa senang. Dia senang melihat Antonio nampak rileks berada di sekitar keluarganya, memikat dengan sangat natural seperti binatang jinak yang mengundang.

Dia sesekali melemparkan senyuman pada Bian yang menunggu di meja makan, menyadari dapur terlalu penuh jika dia bergabung dan mengedipkan matanya. Hati Bian bergetar, dia tidak sabar ingin menghubungi Romo tapi dia tahu jika dia sibuk dengan ponselnya sekarang, Antonio pasti akan curiga karena mereka terbiasa saling terbuka tentang siapa yang mereka kirimi pesan.

Bukan sebuah paksaan, lebih kepada Antonio yang memulainya. Dia membiarkan Bian menatap layar ponsel saat dia mengirim pesan sehingga hal itu menjadi kebiasaan. Antonio tidak pernah memaksa untuk melihat ponsel Bian saat dia mengirim pesan, namun Bian tidak menemukan hal yang harus dirahasiakannya dari Antonio sehingga dia secara naluriah membiarkan Antonio menatap layarnya.

Biasanya hanya satu-dua detik sebelum dia mengalihkan pandangan, memberi privasi. Mungkin karena Bian sedang melakukan hal di luar keinginan Antonio, memunculkan reaksi tegang dan takut di tubuhnya. Dia akan mengirim pesan ke Romo nanti, setelah Antonio terlelap saja.

Sekarang, dia akan menikmati waktu berkualitasnya dengan kedua orang tuanya yang terpesona pada keramahan dan keceriaan Antonio.

“Kau suka padanya, ya?” Bian berbisik, menggaruk bagian belakang telinga Yeontan yang mendengking ceria, menyalak sekali dan mengibaskan ekornya semangat—ingin melompat untuk mencari Antonio dan membelit kakinya.

Bian terkekeh, menyusupkan wajahnya ke bulu panjang tebal Yeontan dan tersenyum, menghirup aroma akrab samponya. “Aku juga.” Bisiknya, takjub pada betapa benarnya kata-kata itu terasa di bibirnya.

“Aku juga suka sekali pada Antonio.”

*