C'est un Secret 370
tw // horror , appearance of 'Nia' , sexual tension , sex attempt .
enjoy your polling's result.
Ada masa ketika Antonio memimpikan perempuan ini.
Tidak banyak yang tersisa di pagi ketika dia terbangun kecuali perasaan teror dan takut yang membuat tulang punggungnya gemetar. Dia akan terduduk diam di ranjangnya, peluh membasahi kausnya dan merasa disorientasi. Masa-masa saat dia memimpikan perempuan ini terjadi jauh sebelum dia terkena kutukan menjadi perempuan.
Pertama kali bertemu perempuan ini, dia terbangun di sebuah padang rumput luas dengan bebungaan cantik berwarna kuning telor menyala yang mengedip ramah padanya, dengan rerumputan kering yang tinggi gemeresak serta jalan setapak kecil. Ada pohon-pohon meranggas di sekitarnya, membentuk jemari-jemari panjang di langit biru permen dengan awan merah jambu.
Itulah pertama kalinya dia menyadari bahwa dia sedang bermimpi.
Dia melangkah di jalan setapak itu, setiap bunga merunduk padanya; berayun seolah menyapanya dan Antonio tidak bisa tidak takut pada luasnya padang rumput itu. Dia bertelanjang kaki, mengenakan celana longgar kanvas putih yang menyapu tanah saat dia berjalan.
Lalu dia berhenti, di ujung jalan ada sebuah pohon mungil dengan dua kakak tua jambul kuning di atasnya. Berdekut-dekut, mata hitam cerdas mereka menatap Antonio seolah bertanya apa yang dibutuhkannya di sini. Dia melangkah mendekat, menjulurkan tangan hendak menyentuh kakak tua yang nampak jinak itu.
Kakak tua itu mendongak, menatap matanya dengan bola matanya yang gelap dan ujung jemari Antonio menyentuh kepalanya yang lembut. Bulunya begitu halus dan licin, kepala burung itu menyundul tangannya—berdekut meminta Antonio membelainya.
Tepat saat telapak tangannya terkembang dan menyentuh kepalanya, tiba-tiba saja burung itu terlepas dari pohonnya—seperti sekuntum bunga yang tersenggol, putus dari tangkainya. Dia kemudian jatuh begitu saja, terguling ke tanah—mati.
Antonio terkesirap, dia mundur selangkah—jantungnya berdebar saat menatap burung yang mati di tanah. Berubah menjadi boneka burung yang mati, matanya terpejam. Dia menoleh ke saudara si Burung yang menatapnya—tenang, dingin dan membuatnya merasa terancam.
“Wah, wah.”
Antonio menoleh saat suara itu datang dari balik tubuhnya. Dia menoleh ke ujung jalan setapak tempatnya muncul tadi. Sekarang di jalanan itu sudah tumbuh semak hydrangea yang begitu rimbun—ungu, biru pucat, hijau dan putih. Bunga-bungannya gendut dan semarak, nyaris sebesar kepala Antonio. Semuanya gemeresak, tertiup angin tak kasat mata.
Di sana berdiri seorang perempuan, dalam balutan gaun berbahan tile yang jatuh di tubuhnya seperti air terjun.
Ada sulur tanaman yang membelit tubuhnya, membentuk pinggangnya, membentuk payudaranya—menjadi seperti aksen gaun yang indah. Bunga-bunga mungil berwarna merah muda menyolok merekah di beberapa tempat. Seolah perempuan itu adalah Bumi dengan pepohonan di tubuhnya.
Rambutnya gelap, lurus panjang hingga nyaris menyapu tanah di kakinya. Dijalin dengan rapi, diselipkan bebungaan yang indah membentuk mahkota. Ada seekor burung pipit di kepalanya, nampak tenang dan damai berkicau ceria.
“Kau membunuh peliharaanku, ya?” Tanya perempuan itu, kali ini mengangkat wajahnya hingga mata mereka bertemu.
Bola matanya tidak seperti mata mana pun yang pernah ditatap Antonio. Warnanya lembut, seperti kelopak mawar. Berkilau seperti embun pagi. Begitu besar dan menggemaskan. Dagunya runcing dengan bibir mungil sewarna koral. Dia indah sekali, Antonio tidak pernah bertemu perempuan seindah ini dalam hidupnya.
“Aku tidak sengaja.” Sahutnya, merasakan kekuatan yang begitu besar untuk berlutut di tanah, menundukkan kepalanya dan menyenangkan perempuan ini. Memujinya, membuatnya tersenyum.... Memastikan dia bahagia dan senang.
Selalu senang.
Memuji Antonio karena dia bersikap baik. Menepuk kepalanya seperti seekor anjing dan melemparkannya cemilan—imbalan karena telah berbuat baik. Antonio nyaris ingin mengibaskan ekornya, terengah di kakinya.
Mata itu menatapnya, bibirnya terkembang. “Karena kau indah sekali,” katanya seperti sedang menyanyi. “Maka aku akan memaafkanmu.” Tambahnya, membenahi selendang sutera tembus pandang di bahunya yang terbuka—pucat seperti porselen.
Dia melangkah, nyaris meluncur ke arah Antonio. Kakinya yang mungil, bergerak serupa dia sedang menari. Menandak ke arahnya seperti seekor rusa betina dan Antonio menyadari dirinya tidak bisa bergerak—dia menatap wajah itu, merasakan kekuatan besar menekan perutnya, memaksanya tunduk.
Memaksanya patuh.
Tangannya terjulur, menyentuh wajahnya dengan lembut. Telunjuknya membelai garis rahang Antonio dengan lembut dan dia mendengkur—senang. Dan menyadari itu, Antonio merasa senang karena telah menyenangkan perempuan itu.
“Oh, kau tampan sekali.” Bisiknya, mencondongkan wajahnya ke Antonio dan menghirup aromanya dengan mata terpejam.
Antonio memejamkan matanya, membiarkan semerbak harum bebungaan tidak nyata itu memenuhi cuping hidungnya. Membuat otaknya macet dan dia gemetar seperti mesin cuci rusak. Tangan berjari kurus itu membelai wajahnya, matanya menatap wajah Antonio dengan kagum—puas pada dirinya sendiri.
“Kau milikku.” Dengkurnya, seperti seekor kucing yang kenyang.
“Milikku.”
Dan ada masa ketika Antonio terbangun dengan kelopak bunga di dadanya.
Setiap dia mendapati kelopak mawar itu di dadanya, malam itu dia pasti akan bermimpi dia berada di sebuah kamar pengantin. Setelah sekali mengalami mimpi itu, setiap kali dia menemukan kelopak bunga—dia tidak akan tidur.
Dia takut. Takut pada harum bunga sedap malam yang memenuhi kamar itu. Takut pada lilin-lilin yang apinya bergoyang karena angin, takut menghadapi siapa yang mungkin menginginkannya di ranjang.
Dia seorang homoseksual dan hubungan apa pun yang diinginkan perempuan di kepalanya ini tidak akan pernah terjadi. Setiap kali menyadari dia sedang bermimpi, Antonio akan menampar pipinya sendiri—berteriak sekencang-kencangnya hingga Yoga akhirnya membangunkannya.
Menyelamatkannya.
Dia takut, sangat takut. Namun dia tidak pernah menceritakan ini pada Jin. Dia takut pada apa yang perempuan itu mungkin bisa lakukan ke kakaknya.
“Antonio,” bisik perempuan itu di mimpi berikutnya, menjulurkan kakinya yang telanjang ke bagian paha dalam Antonio yang nyaris menangis karena ketakutan. Jemarinya yang mungil membelai bagian tubuhnya dengan lembut.
“Ini rahasia, ya?” Katanya lembut, seperti madu yang menetes. “Aku dan kau adalah rahasia. Aku tidak suka berbagi.” Dia menggerakkan kakinya memutar di selangkangan Antonio dan pemuda itu nyaris tersedak tangisnya sendiri.
“Kau paham..., 'kan?” Dia berdekut, seperti merpati sebelum kemudian tiba-tiba tersenyum lebar—menyerigai memamerkan giginya yang rapi mungil seperti biji mentimun dan menginjak selangkangannya.
Antonio meraung.
Kemudian, Yoga menemukannya menangis, memohon ampun dengan pakaian basah kuyup dan wajah pucat pasi. Terpaksa harus menamparnya agar terbangun. Antonio bilang, dia hanya terkena sleep paralysis, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Maka Yoga pergi, meninggalkan Antonio yang gemetar ketakutan.
Selangkangannya berdenyut, seperti seseorang baru saja menginjaknya.
Maka Antonio menenggak kopi, mengerjakan tugasnya dan menolak tidur. Selalu berusaha terjaga sekuat tenaga tiap kali kelopak mawar itu muncul; lama kelamaan, kelopak mawar itu berhenti. Mimpi-mimpi tentang perempuan itu berhenti, Antonio mulai melanjutkan hidupnya dengan tenang kembali.
Lalu dua minggu kemudian, dia kehujanan dan secara ajaib berubah menjadi perempuan.
Ada pula masa ketika perempuan itu berbicara di benaknya.
Ada masanya juga ketika dia muncul, mengambil alih benak Antonio begitu saja. Tidak lama, karena Antonio yang terbelenggu akan terus berteriak di kepalanya—memaksa perempuan itu mengembalikan kepalanya.
Tiap kali dia berubah menjadi perempuan, dia selalu berhasil merebut kuasa atas benaknya pada dua detik berharga hidupnya. Saat jantungnya melompat dan mendadak berhenti. Dia akan mendorong perempuan itu menjauh darinya, ke rantai yang otomatis mengikat salah seorang yang kalah dalam perebutan benak itu.
Dia terus berusaha mengabaikannya, berharap suatu hari nanti perempuan itu akan bosan padanya dan pergi. Namun, tidak. Dia mendekam di sana, semakin hari semakin menakutkan. Semakin kuat dan semakin mustahil diabaikan. Dia akan terus berkomentar tentang segala macam hal di kehidupan Antonio.
Sekali, dia berhasil membuat Antonio bermimpi basah—membuatnya orgasme di ranjangnya namun terbangun dengan perasaan lelah dan sangat ketakutan. Perempuan di kepalanya tertawa, senang pada apa yang dilakukannya. Suara tawanya mengirimkan teror ke kepala Antonio—membuatnya gemetaran.
“Aku suka namanya. Nia.” Dengkur perempuan itu hari pertama mereka bertemu Hosein yang bersikeras memanggilnya Nia.
“Jangan beri aku nama.” Katanya tegas pada semua orang, mengabaikan cemooh perempuan itu di kepalanya. “Aku tidak suka tubuh ini. Aku benci tubuh ini.”
Antonio menangis saat pertama kali dia harus menyentuh tubuh itu saat mandi. Menangis saat dia pertama kali harus menggunakan mens cup. Dia membenci tubuh itu dan sangat takut tiap kali perempuan itu mendesah senang saat Antonio menyentuh tubuhnya.
Dia ketakutan, dan lebih banyak lagi; dia jijik. Dia jijik pada perempuan ini karena begitu menginginkannya sedangkan Antonio tidak menginginkan apa pun yang diinginkannya.
Akhirnya, dia selalu menggunakan sikat mandi tiap kali dia harus mandi dalam tubuh perempuannya. Memejamkan mata, mempercepat mandinya agar perempuan itu tidak mendesah, tidak bicara dan tidak melakukan apa pun.
Hingga dia bertemu Arfabian.
“Aku suka kau.” Kata perempuan itu, mendengkur senang.
Antonio bergegas menyambar kakinya, membuatnya terjatuh tersungkur di tanah. Berteriak gusar, membuat seluruh dunia Antonio bergemuruh karena kemurkaannya dan melemparnya ke rantai yang langsung membelitnya—mengabaikan raungannya sebelum bergegas menambahkan.
“Jangan Arfabian!” Ludahnya pada perempuan itu. “Cukup aku, jangan ambil kekasihku.” Geramnya.
“Yah,” kata perempuan itu kemudian, terengah setelah melampiaskan rasa frustasinya. “Aku selalu bisa mengambil alih kepalamu setiap kalian bercinta.”
Dia menyerigai pongah, tahu bahwa dia berkuasa dan Antonio benci itu.
Antonio ingin menendang wajahnya, ingin merusak wajah itu. Namun tiap kali menatapnya, dia hanya merasakan kekuatan inferor. Kekuatan yang memaksanya untuk berlutut di kakinya, menyenangkan perempuan itu.
Dia tahu ada sesuatu yang salah dengan perempuan ini. Namun dia terlalu takut untuk melawan.
“Tentu saja aku menyukaimu,” katanya dengan jantung berdebar. “Kau, 'kan, kekasihku.”
Lalu saat Arfabian mengatakan ada “sesuatu” yang tinggal di sana, di dalam kepalanya bersamanya—membuatnya berubah menjadi perempuan saat terkena air. Bukan, bukan berubah.
Perempuan itu mewujud.
Dan setiap kali melakukannya, Antonio merasakan dirinya melemah. Sudah nyaris tiga tahun lamanya dia berusaha melawan perempuan ini memperebutkan benak dan kepalanya. Sudah terlalu lama, Antonio sudah tiba di titik di mana seluruh tubuhnya begitu ngilu. Dia selalu lelah, selalu lemah. Sementara perempuan itu semakin kuat dan semakin berkuasa.
Satu hal yang bisa dilakukannya, hanyalah dengan menghindari air dingin. Dia tidak mau perempuan itu merebut benaknya kembali. Dia tidak mau kembali ke Singapura, menyaksikan semua orang mengamatinya berubah menjadi perempuan. Dia tidak mau berubah menjadi perempuan.
Sama sekali.
Karena dia selalu takut, suatu hari nanti, ketika jantungnya berhenti berdetak selama dua detik di bawah tekanan suhu dingin yang teramat sangat, Antonio gagal merebut benaknya.
“Mungkin aku sudah meminta sesuatu yang tidak seharusnya.”
Bobby menatap Arfabian yang sekarang meringkuk di sudut sofanya, dengan ponco membalut tubuhnya—gemetar sejak dia tiba di apartemennya. Bobby merebuskannya chocolat chaud dengan banyak rempah dan marshmallow berbentuk unicorn kesukaan Arfabian.
Unicorn mungil itu bergoyang di atas gelas saat Arfabian menggoyangkannya, mengaduknya agar bubuk kokoa yang mengendap di dasar gelas naik ke atas. Televisi menayangkan acara National Geographic Wild—ada jerapah yang sedang makan dengan khidmat.
Arfabian yang memilihnya, dia terlalu mual menonton manusia lain berinteraksi. Dia hanya ingin melihat binatang yang menggemaskan.
“Beri dia waktu,” Bobby meraih gelasnya sendiri, menyesap minumanya yang kental dan hangat—membentuk jalur panas di lehernya sebelum mendarat di dasar perutnya dengan lembut, bergolak. “Dia pasti syok karena kau menanyakan hal yang..., dia benci, jika mengutip ceritamu.”
Arfabian menelan ludahnya, nampak linglung—menatap kosong ke layar televisi. “Ya. Aku meminta sesuatu yang sangat dibencinya. Tapi hanya karena aku ingin menyelamatkannya.”
Bobby menaikkan kakinya ke sofa, melipatnya ke dada. “Bian,” katanya lembut. “Tidak semua orang yang terjebak di dalam sumur bergegas menyambar tambang yang dilempar ke arahnya. Tidak peduli seberapa kuatnya kau berteriak bahwa kau hanya berusaha menyelamatkannya, banyak orang yang tidak sadar mereka sedang terjebak.
“Mereka tidak sadar mereka sedang butuh dibantu; kadang berpikir jika mereka layak di sana, karena sesuatu jahat yang mereka lakukan—memilih tidak melakukan apa-apa.
“Atau mereka sadar mereka butuh dibantu, namun ada hal lain yang menahan mereka dari meraih tali tambang itu dan membiarkanmu menarik mereka. Selalu ada alasan kenapa manusia melakukan sesuatu—suka atau tidak, menyenangkan atau tidak.”
Arfabian menunduk ke gelasnya, menatap unicorn-nya yang sekarang mulai meleleh, wajah kuda mungil itu peyot saat suhu panas membuatnya larut.
“Beri kekasihmu waktu, beri dia ruang untuk menyadari dia butuh dibantu. Biar dia mempertimbangkan apakah dia cukup percaya padamu untuk menariknya naik dari sumur itu.” Bobby mengulurkan tangan, meremas bahunya sayang.
“Kalian akan baik-baik saja.” Dia tersenyum, menepuk bahu Arfabian, meremasnya hangat.
Arfabian tidak bisa mengatakan padanya bahwa waktu mereka sangat sedikit, 'kan?
“Saya tidak yakin sekuat apa,” kata Romo Herry hari itu melalui telepon dengan Arfabian duduk di teras belakang yang hening ditemani gemerisik dedaunan bonsai ayahnya. “Tapi saya yakin dia semakin menguat. Saat saya menjabat tangan Antonio, ada dua denyut kehidupan; yang satu berdebar begitu kuat. Segar dan bersih, sangat hidup. Sementara satunya lemah, mengepak seperti sayap burung yang terluka; terengah-engah berusaha bertahan.
“Saya takut, yang lemah itu adalah hidup Antonio.”
Arfabian menelan ludah, tubuhnya bergidik kedinginan hingga Bobby bergegas meraih pengatur pendingin ruangan dan menaikkan suhunya untuk Arfabian.
“Lebih baik?” Tanyanya, bergegas bangkit dan memberikannya selimut lain yang langsung disampirkannya di tubuh Arfabian tanpa paham bahwa getaran yang dirasakan Arfabian bukan karena suhu.
“Tidak sulit menebak apa yang diinginkannya dari Antonio,” tambah Romo Herry dengan kekhawatiran nyata di nada bicaranya. “Dan sepertinya Antonio cukup berkemauan keras dengan terus-menerus menolaknya. Namun saya juga yakin, sepandai-pandainya tupai melompat dia pasti akan jatuh.”
“Kita sepertinya tidak punya banyak waktu, Arfabian. Sebelum Antonio kalah dalam pertarungan itu dan menjadi miliknya, sepenuhnya.”
Arfabian meledak dalam tangis, begitu saja. Hingga Bobby terkesirap dan bergegas meletakkan gelasnya, meraih gelas Arfabian dan memeluknya. Menyandarkan Arfabian di dadanya, menenangkannya dengan kata-kata yang sama sekali tidak bisa didengarnya.
Arfabian tidak bisa kehilangan Antonio—sama sekali tidak.
*