C'est un Secret 328

cw // pertama kali Nio berubah—trauma, fear, terror.


Ada masanya ketika Jin pikir adiknya hanya demam karena pulang ke Tangerang dalam guyuran hujan dari Jakarta Timur.

Masa ketika dia jengkel karena adiknya bersikap sok jagoan dengan tidak mengenakan jas hujan selama perjalanan sehingga dia tiba dalam keadaan basah kuyup.

“Sudah kubilang, selalu simpan jas hujan di tasmu.” Gerutunya saat Nio memarkir motornya di garasi, langsung melepaskan tasnya yang diselamatkan Jin dan membuka pakaiannya di garasi karena kakaknya tidak sudi mengepel tetesan airnya.

“Hujannya setelah aku masuk kompleks BSD, oke?” Balas Nio tidak terima. Dia melepaskan jaket berkendaranya, lalu kausnya. Jin mengambilkannya ember sementara di luar sana, hujan terus mengamuk semakin deras.

“Aku tidak tahu hujan akan turun, jadi aku meninggalkan jas hujan di kontrakan tadi. Di Cawang cerah.” Dia membersit, air menetes dari ujung pakaiannya dan Jin melarangnya masuk ke rumah sebelum melepas pakaiannya.

King menyalak ke arah Nio, meminta perhatiannya namun Nio mengabaikannya. Anjing itu meletakkan kakinya di jeruji kandangnya, menggaruk-garuknya berisik. Dia melemparkan pakaiannya yang sudah diperas dari air hujan ke ember yang diserahkan Jin, dia membersitkan air dari hidungnya, menyeka rambut yang menempel di keningnya karena basah.

“Kurasa aku harus segera mandi,” katanya menggigil, “Aku merasa tidak enak badan.” Nio berdeham, nampak sama sekali tidak nyaman dengan tubuhnya dan Jin mengangguk, dia langsung membiarkan adiknya dalam balutan bokser serta kaus dalam untuk bergegas ke kamar mandi ruang tamu.

“Air hangatnya mati di sana,” seru Jin saat mengurus pakaian basah adiknya. “Kau sebaiknya mandi di kamar mandiku atau kamar mandi di kamarmu.” Katanya memasukkan pakaian ke mesin cuci.

“Oke!” Seru Nio dari kamar mandi, terdengar kedinginan. “Tidak masalah. Air hangat hanya akan membuatku merasa semakin kedinginan.” Tukasnya dan Jin memutar bola matanya.

“Terserah.” Balasnya pada adiknya yang membanting pintu kamar mandi lalu menyusulnya, terdengar suara kucuran rain shower kamar mandi. “Itu, 'kan, badanmu.”

Jin menyalakan mesin cuci, mengaturnya agar mencuci lalu mengeringkan pakaian Nio sebelum meraih tasnya yang teronggok di lantai. Dompet dan uang Nio basah semua, maka Jin menjejerkan semua isinya di atas meja agar cepat kering. Ponselnya yang terbungkus Ziploc selamat dengan banyak sekali notifikasi di layarnya, yang teratas grup adiknya dengan teman-teman kuliahnya, Yoga dan Danny.

Jin membawa ponselnya masuk setelah menjemur tas Nio yang basah di ruang cuci. Meletakkan benda itu di kasur adiknya sementara Nio mandi di kamar mandi. Jin beranjak ke dapur, hendak membuatkan adiknya secangkir cokelat panas berempah yang akan membuatnya lebih baik.

Jin meraih kabinet teratas dapurnya, mengeluarkan bubuk kakao harum yang dibawakan Hosein pada kunjungan terakhirnya sebelum mencampurnya di dalam mug porselen putih yang tebal. Dia akan membubuhkan marshmallow juga di atasnya karena adiknya menyukainya.

Dia sedang menunggu air mendidih dengan terkantuk-kantuk, bersandar di jendela di sisi kompor yang menyala menatap air hujan yang tercurah ke tanah dengan derasnya. Memikirkan dia harus tidur siang setelah ini karena cuaca yang dingin dan menyenangkan saat adiknya berseru dari kamar mandi.

“Kak!”

“Ya?” Sahut Jin malas, menatap gelembung-gelembung yang mulai terbit di permukaan air panasnya. “Kenapa lagi? Mandi saja jangan lama-lama nanti kau demam.”

Alih-alih menjawab, Nio berteriak.

Suaranya begitu keras dan penuh kesakitan, nyaris seperti binatang liar yang terluka. Jin terkesirap, langsung mematikan kompor sebelum berlari ke kamar mandi tamu. Dia nyaris terpeleset di depan pintu kamar mandi namun berhasil menyambar kusen pintu untuk menyeimbangkan tubuhnya. Teriakan Nio terdengar semakin nyaring dan panjang, napasnya tercekat dan dia terdengar sangat kesakitan.

“Panas, Kak!” Raung Nio, nyaris tidak bisa didengar Jin karena giginya gemeletuk berusaha menahan sakit. Dia terengah, kembali meraung sebelum terdengar suara gedebuk daging menghantam lantai yang membuat jantung Jin mencelos, jatuh ke tanah.

“Nio!” Dia menghantamkan kepalan tangannya ke pintu, adiknya mengerang keras—erangannya tidak terdengar seperti manusia sama sekali di telinganya. Bulu kuduknya meremang mendengarnya, yakin suara teriakan itu akan terus menghantuinya hingga kapan pun.

Akhirnya dia mengerahkan seluruh keberaniannya untuk menyentakkan pintu kamar mandi terbuka.

Melihat adiknya sudah terbaring di lantai, terengah-engah. Wajahnya merah padam, mulutnya terbuka dengan liur menetes dari sudutnya. Tidak nampak seperti manusia sama sekali dengan keadaan sekacau itu. Jin takut, namun juga cemas. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada adiknya sama sekali.

“NIO!” Dia langsung meraih adiknya, yang terbaring terengah-engah di lantai kamar mandi, telanjang dan air dingin masih menyala menyirami tubuhnya. Jin menyambar kran dan mematikan air itu sebelum berjongkok di sisi adiknya, terkesirap keras saat panas tubuh Nio membakar telapak tangannya.

“Apa yang—!” Dia menatap tubuh adiknya kaget, Nio menggigil di lantai—tidak bisa berteriak karena sesak napas dengan tubuh panas nyaris melebihi demam tertinggi yang pernah Jin rasakan.

“Panas, Kak, panas....” Adiknya menggigil dan mulai menangis, tersedak liur dan isakannya sendiri. Tubuhnya berguncang semakin hebat hingga Jin akhirnya membuang sisa logikanya yang kebingungan karena kondisi adiknya lalu menyambar tubuhnya, mengabaikan air yang menyiramnya dan panas tubuh adiknya.

Tidak mungkin seseorang yang kehujanan akan langsung demam setinggi ini.

Jin bukan dokter tapi dia tahu tubuh manusia tidak akan pernah bisa menerima perubahan suhu ekstrim baik dingin atau panas. Tubuh Nio di pelukannya terasa begitu panas hingga dia heran bagaimana adiknya tidak kejang-kejang karena suhu tubuhnya, dia memapah Nio keluar dari kamar mandi.

Dia membaringkan adiknya di sofa lalu mengeringkan tubuh Nio, mengabaikan air yang terserap bantalan sofa. Jin akan mengurus sofa basah itu nanti, sekarang adiknya yang gemetaran seperti binatang yang terkena tembakan tepat ke perutnya lebih membutuhkannya. Dia menggunakan handuk untuk mengeringkan tubuh adiknya yang gemetar.

Dia meraih pakaian adiknya, memakaikannya dengan ala kadarnya. Piyama longgar yang akan membuat adiknya lebih nyaman daripada telanjang sebelum menyampirkan selimut ke atas tubuh adiknya yang menggigil; menggumamkan 'panas' dan 'sakit' nyaris seperti orang kesurupan.

Hujan masih mengamuk dengan ganasnya di luar sana sementara adik Jin sedang berusaha mempertahankan kehidupannya dengan panas yang membakarnya, membuat organ-organnya terasa meleleh karena direbus hawa panas tubuhnya sendiri.

“Nio?” Tanyanya perlahan, “Nio, kau dengar aku?” Tanyanya lagi menyentuh kening adiknya dan mengumpat pelan saat suhu tubuh adiknya menyengat telapak tangannya.

“Aku akan teleponkan ambulans...” Jin berhenti bicara, suaranya perlahan menghilang saat dia menyadari rambut adiknya tumbuh memanjang begitu saja...

Apa yang terjadi...

“N-Nio...” Dia mundur dari adiknya, kebingungan dan kaget saat perlahan tubuh adiknya mulai menggeliat, membentuk diri menjadi hal lain yang membuat perut Jin mengejang mual.

Rambutnya memanjang, kakinya semakin langsing dan tubuhnya mulai perlahan mengubah proporsinya menjadi tubuh lain yang berlekuk. Garis wajah Nio berubah, memanjang dan tulang pipinya meninggi—semakin tegas dan tajam. Jin mundur semakin jauh dari adiknya yang menggigil karena panas tubuhnya, mengerang keras dan mengeluarkan suara-suara yang tidak dipahami Jin.

Dia menyaksikan sendiri adiknya berubah menjadi perempuan di hadapannya, di bawah selimut yang digunakannya untuk menutupi tubuh adiknya yang panas membara. Dia menelan ludah, otaknya nyeri saat berusaha mengejar apa yang terjadi di hadapannya; berusaha menemukan penjelasan yang masuk ke akal sehatnya namun gagal.

Nio kemudian terkesirap keras dan melonjak, punggungnya terangkat saat dia berteriak keras. Meraung seperti seekor binatang yang terkena tembakan peluru panas sebelum dia mendarat lagi di sofa, tubuhnya berasap tipis.

Dan sekarang, Nio bukan lagi Nio.

Karena di sofa sekarang, terbaring sesosok perempuan dengan rambut panjang kepirangan yang berantakan di bantalan sofa. Tulang selangkanya tinggi, tubuhnya langsing dan nampak sintal bahkan di bawah selimut yang digunakannya.

Dia masih berdiri beberapa meter dari adiknya, mata nyalang karena kaget dan jantung berdebar begitu kuatnya. Semuanya hening selain suara hujan deras dan King yang menyalak, mendengar teriakan Nio sehingga dia memohon untuk diizinkan melihat majikannya.

Otak Jin terasa ngilu oleh rasa sakit. Adiknya berubah menjadi perempuan, pikir kepalanya panik dan kebingungan. Adiknya berubah menjadi perempuan!

Jin ingin muntah, tidak memahami apa yang sedang terjadi. Dia sedang berusaha memahami kejadian barusan; bagaimana tubuh adiknya menyusut dari tubuh lelaki yang bidang dan berisi menjadi tubuh perempuan yang lembut dan langsing saat adiknya mendesah panjang—menghembuskan napas panjang.

Jin seharusnya memperingatkan Nio tentang teror dan kengerian yang akan dihadapinya beberapa detik lagi namun dia masih belum sembuh dari teror dan kengeriannya sendiri menyaksikan adiknya berubah menjadi perempuan dengan mata kepalanya sendiri.

Mata Nio bergerak sebelum dia mengerang dan menyeka kepalanya, “Bangsat.” Erang adiknya, serak dan parau. “Apa yang—”

Nio berhenti bicara. Tangannya menyentuh rambutnya, menyadari betapa panjang rambutnya. Dia juga pasti menyadari suaranya sendiri yang sekarang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Napas Nio memburu, sosok di sofa yang Jin tidak yakini sebagai adiknya sekarang meliriknya.

Bibirnya membuka namun dia tidak mau bicara, dia menatap kakaknya yang membisu dengan nyalang. Jemarinya masih di kepalanya, merasakan rambutnya yang panjang dengan perlahan. Napas Nio memburu, begitu pula jantung Jin yang sekarang menonjok rusuknya hingga membuatnya nyeri.

“Kak...” Bisik Nio dengan suara barunya yang pecah. Dia gemetar, mulutnya terbuka dan bagian bawahnya gemetar saat dia menyadari apa yang terjadi. Tangannya langsung menyentuh dadanya sendiri, menemukan payudaranya.

“Oh.” Katanya, air mata mulai luruh dari matanya dan Jin merasakan tikaman belati tidak kasat mata ke hatinya; merasakan pinggiran tajamnya menggerus hatinya dan membuatnya berdenyut oleh rasa perih.

Namun dia tidak bisa bergerak, dia menatap adiknya yang sekarang menyadari tubuhnya sendiri adalah tubuh perempuan. Otaknya macet; bagaimana tubuh adiknya mengerut lalu mengembang kembali menjadi tubuh yang jauh lebih lembut dan feminim masih terbayang jelas di kepalanya, menancap menjadi trauma kengeriannya sendiri.

APA YANG TERJADI PADA NIO?!

“KAK!” Seru Nio dengan suara pecah, lalu berteriak panjang dan mengerikan.


”... Sayang? Sayang!”

Jin mengerjap, tersentak terbangun dan menemukan Hosein menatapnya dengan raut wajah kebingungan. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya, memeluknya dengan lembut dan membelai bahunya.

Jin mendesah panjang, mengusap wajahnya—menyadari dia baru saja bermimpi tentang kengerian hari pertama dia menyadari Nio bisa berubah menjadi perempuan. Bayangan bagaimana tubuh Nio berubah menjadi perempuan hingga detik ini masih selalu menghantui tidur-tidur lelah Jin, merayap di kepalanya dan mencengkeramnya.

“Kau oke?” Tanyanya lembut, kamar mereka masih gelap namun di luar sana, King mulai berisik terbangun oleh suara-suara motor yang lewat. Mungkin ini sekitar dini hari.

“Ini pukul berapa?” Tanya Jin parau, merasa seperti baru saja dihajar seseorang setelah terbangun dari mimpi buruknya sendiri. Dia merasakan punggungnya yang gemetar oleh trauma, seperti disiram oleh air dingin dan membuatnya menggigil—dia harus mengenyahkan teriakan Nio dari kepalanya sebelum suara itu membuatnya benar-benar sinting.

Hosein berbalik, melirik jam meja di nakas dengan desahan mengantuk dan menatapnya kembali. “Baru pukul 3 pagi, kau mau tidur kembali?” Tanyanya membelai rambut Jin hangat dengan jemarinya.

“Mimpi buruk.” Keluh Jin memejamkan mata, kembali berbaring dan membenamkan kepalanya di bantal yang lembut dan harum—berusaha mengenyahkan suara teriakan penuh teror Nio yang menggema di rongga kepalanya. Memantul di tiap sudut kepalanya, menusuk otaknya kembali.

Dia mengernyit, tidak menyukai cara kenangan itu menikam otaknya dan membuatnya ngilu. Hosein memijat pelipisnya, aroma tubuh kekasihnya membuat Jin rileks dan tenang. Dia menggenggam pergelangan tangan Hosein di kepalanya dan mendesah panjang.

“Kau kelelahan.” Bisik Hosein lembut, “Kau terlalu banyak bekerja hari ini dan juga masalah Nio. Kau harus memikirkannya satu per satu.” Dia mengecup kening Jin, kemudian menyandarkan keningnya sendiri di sana.

“Kau benar.” Kata Jin parau, seluruh tubuhnya terasa sakit sekali dan lelah. Dia bahkan tidak ingin berpikir sama sekali. Dia ingin memejamkan mata dan terlelap dan tidak bangun-bangun, dia ingin beristirahat sebentar dari segala hal yang merongrongnya belakangan ini.

Pekerjaannya, masalah Nio, hidupnya sendiri, kedua orang tuanya....

Jin lelah dan penat, dia butuh kabur dari keadaan ini. Ingin membebaskan diri dari kepalanya sendiri. Ingin sejenak mematikan otaknya sehingga dia tidak harus berpikir.

“Kembalilah tidur, ya?” Hosein memeluknya, merengkuhnya ke dalam pelukannya yang hangat dan membuainya dengan lembut.

Jin meleleh dalam pelukan kekasihnya, meringkuk dan menyusupkan kepalanya ke leher Hosein yang membisikkan lagu lembut ke telinganya. Membelai punggungnya dengan lembut, membentuk pola menenangkan yang akhirnya membuat seluruh saraf Jin melemas dan rileks.

Hingga dia tertidur.


”... Yo?! NIO!”

Nio langsung melompat, terduduk dari posisi tidurnya dengan begitu tiba-tiba hingga sejenak segalanya gelap karena otaknya tidak sempat mengejar refleks sarafnya. Dia mengerjap, terengah-engah terduduk di ranjangnya. Dia langsung menyentuh tubuhnya dengan panik, mencari payudaranya dan tersedak ludahnya sendiri saat menyadari dia masih dalam tubuh lelakinya.

Dia gemetar oleh rasa lega karena dia hanya bermimpi.

Mimpi itu nyata sekali, mimpi saat pertama kali dia menjadi perempuan. Wajah Jin yang menatapnya seolah Nio adalah makhluk dari dunia lain dengan enam tangan dan lima mata di wajahnya; wajah Jin yang pias dan nyaris ketakutan. Lalu teriakannya sendiri saat menyadari bahwa dirinya berubah menjadi perempuan.

“Hei, hei, hei!” Arfabian yang berbaring di sisinya langsung memeluknya saat Nio runtuh dalam ketakutan dan teror yang mencengkeram kepalanya; meremasnya, menancapkan kuku-kukuknya ke otak Nio yang ngilu.

Pintu menjeblak terbuka, “Apa? Ada apa?!” Yoga menghampiri kamarnya, terdengar panik pasti terbangun karena teriakan Nio dan kehebohan di kamarnya.

“Nio mimpi buruk,” kata Arfabian padanya, membelai rambut Nio dalam pelukannya.

Aroma Arfabian membuat Nio tenang—aroma keringatnya, suaranya yang setengah mengantuk, pembawaannya yang menenangkan... Nio melumer dalam pelukannya, menggenggam tangan Arfabian di bahunya dan memejamkan mata, bernapas dari mulutnya.

Dalkyum mendengking di pangkuannya, menyundulkan kepalanya yang mungil ke perut Nio, mencoba menghiburnya dengan menggemaskan. Arfabian melingkarkan kedua lengannya di bahu Nio, meraihnya ke pelukannya.

“Sayang, sayang.” Bisik Arfabian di telinganya. “Kau hanya mimpi buruk, ya? Tenang. Apa pun yang kaumimpikan, itu tidak nyata. Itu hanya mimpi.”

Ironis sekali.

Kenyataan bahwa apa yang baru saja dimimpikan Nio adalah awal mula dari semua kegilaan yang dialaminya selama bertahun-tahun. Dia tidak pernah memimpikan ingatan itu lagi selama ini, kenapa sekarang dia mendadak mengingatnya? Warna-warna dalam mimpinya terasa begitu tajam dan nyata, sakit dan panasnya bahkan jauh lebih mengerikan dari apa yang dirasakan Nio biasanya.

Dia menggigil, tulang ekornya nyeri saat merespons getaran tubuhnya. Dia nyaris yakin dia sedang kembali ke masa itu alih-alih bermimpi karena semua rasa sakit dan panasnya begitu nyata, membuat saraf dan otaknya kebingungan karena betapa intens semuanya terasa.

Dia memeluk Arfabian semakin erat, berusaha mencari perlindungan. Membenamkan wajahnya di rambutnya dan menghirup aromanya dalam-dalam, berusaha mengenyahkan wajah Jin yang takut dari kepalanya.

“Ssshh...” Bisik Arfabian menenangkan, “Tidak apa-apa, kau baik-baik saja.” Katanya lembut lalu Nio merasakan dia menoleh dan mengatakan ke Yoga yang berdiri di pintu kamarnya. “Tidak apa-apa, tidur saja kembali.” Sebelum kembali ke Nio yang gemetaran.

Nio mendengar langkah kaki Yoga, suara gelas yang diambil dan kucuran air dari dispenser mereka sebelum Yoga kembali melangkah ke arah kamar mereka. “Aku membawakannya air.” Kata Yoga kemudian setelah hening beberapa saat, memasuki kamarnya dan denting gelas yang diletakkan di meja belajarnya. “Dan obat pusing.”

Nio merasakan senyuman Arfabian. “Trims, Yoga.” Katanya lalu Yoga memanggil anjingnya yang mendengking ke arah Nio, ingin menghiburnya. Tidak mau meninggalkan pangkuannya, menatap Nio dengan mata bulatnya yang cemas.

“Ayo, Boy, tidak ada yang bisa kaulakukan untuk Nio sekarang.” Yoga membujuknya dan Nio merasakan Dalkyum bergerak dari pangkuannya, perlahan dengan suara dengkingan menggemaskan ke arah Yoga yang langsung menggendongnya.

Nio mendengar pintu kamarnya ditutup, Arfabian perlahan dan dengan sangat lembut membimbingnya kembali berbaring. Meletakkan bantal di punggungnya lalu memeluknya, membelai punggungnya sayang dan menggumamkan lagu menenangkan yang membuat Nio rileks.

“Tidurlah,” bisik Arfabian di pelipisnya, mendayu-dayu dan menghipnotis otak Nio yang terasa kram. “Jangan diingat lagi. Kita pikirkan hal-hal menyenangkan, ya?”

Nio gemetar, dia memeluk Arfabian semakin erat dan berusaha melawan pikirannya sendiri yang mulai membuat otaknya ngilu. Berusaha menyingkirkan semua bayangan tentang hari itu dari kepalanya.

“Besok, semuanya akan baik-baik saja.” Bisik Arfabian lagi, “Aku berjanji.”

Dan Nio percaya.

*