C'est un Secret 381

cw // Indonesian dark arts practice , fear , trauma .


Bian menatap Antonio yang sekarang duduk di kursi penumpang, dia tidak mengizinkan Antonio mengemudi hari ini dalam perjalanan mereka pulang ke BSD. Antonio nampak lelah, pucat dan kisut karena tidak tidur semalaman; dia mengeluh lambungnya nyeri maka Bian menghentikannya minum kopi.

Antonio sejak tadi makan roti secuil-secuil seperti seekor burung dan minum air putih, berusaha keras mempertahankan matanya tetap terbuka. Dia bersandar di kursi mobil yang diturunkan, menutupi matanya yang terasa pedas sementara musik mengalun dari audio mobil Bian yang lembut.

“Kau ingin makan?” Tanya Bian saat melihat logo McDonals di kejauhan. “Es krim atau apa? Kita bisa mampir ke McD.” Dia melirik Antonio yang mengerang.

“Tidak, tidak.” Keluhnya, “Lambungku terasa mengerikan.” Dia berdeguk dan Bian meringis, sejak tadi Antonio muntah asam lambung; terlalu tegang dan takut karena Bian menunjukkan padanya tentang pesan Jin yang menemukan “rumah” asli perempuan itu.

Bian tidak ingin membayangkan bagaimana sekarang rasanya di dalam kepala Antonio.

Dari penjelasan via telepon buru-buru Jin, ternyata pemilik aslinya hanya empat rumah dari rumah Jin. Tetangga mereka yang sering menyapa King tiap kali Antonio membawa King lari pagi bersamanya. Mereka ramah, selalu ramah pada keluarga mereka. Jin tidak pernah curiga walaupun tiap pulang dia selalu mencium aroma menyan, tapi dia mengedikkan bahu; paham tidak semua orang punya kepercayaan yang sama dengannya.

Lagi pula kepala lingkungan mereka orang Hindu Bali, mereka sering menyalakan berpuluh-puluh dupa tiap hari raya dan Jin sudah terbiasa dengan aroma itu.

King tidak berpikiran sama. Anjing itu suka menyalak di depan rumah itu, menggeram tiap kali pemiliknya menyapa Antonio yang sedang lari pagi. King membenci mereka dan sejak saat itulah Jin akhirnya mendapat teguran tentang anjingnya lalu berhenti mengajaknya jalan-jalan.

Sejak Antonio berubah menjadi perempuan, King lebih sering menyalak padanya. Gusar jika Antonio mendekat, Jin pikir itu karena Antonio sudah tidak pernah mengajaknya jalan-jalan lagi dan King sentimen karenanya.

Seharusnya aku tahu,” kata Jin di seberang sana dan Bian bisa mendengar rasa frustasinya karena selama nyaris tiga tahun berjuang, jawabannya ternyata ada di bawah hidung mereka.

“Sekarang pertanyaannya hanyalah apakah mereka sengaja mengirim perempuan ini kepada Nio, atau...?” Tanya Bian, mendongak dan menemukan Antonio melangkah ke arahnya dengan tampang seperti zombi.

Romo Herry merasakan kekuatan yang sama berdenyut di rumah itu, kekuatan yang sama dengan yang berdenyut di tubuh Antonio—namun lebih lemah, nyaris pudar. Namun tetap berdenyut di sana. Dugaan mereka, mungkin mereka sengaja mengirimnya karena King yang menyebalkan. Namun konsep ini membuat Jin begitu murka.

Mereka membuat adikku menderita selama ini hanya karena anjing bodoh?! Aku akan merontokkan gigi mereka dengan kepalan tanganku!”

Konsep yang lainnyalah konsep yang sekarang mereka terima.

Bian mengemudi dengan tenang, berusaha menjaga kepalanya tetap tenang sementara Antonio di sisinya mengerang terus-menerus karena ketakutan. Bian tidak yakin apakah dia mengerang karena kurang tidur, takut atau karena sedang disiksa di kepalanya sendiri.

“Dia membencimu.” Antonio tercekat setelah memuntahkan asam lambung pertamanya di hall hingga semua mahasiswa kaget. “Dia sangat membencimu. Dia marah, dia marah.” Katanya pada Bian yang merinding—teringat bagaimana 'Nia' mengatakan padanya beberapa bulan lalu.

Aku suka kau.

Teringat kilatan superior di matanya; mengancam dan membuat perut Bian melilit.

Dia tiba-tiba saja terhuyung, nyaris terjerembab di lantai jika Bian tidak meluncur ke arahnya untuk menangkapnya. Dia berdeguk lalu muntah di kaki Bian, gemetar dan kebingungan. Antonio tidak tidur semalaman, ketakutan dan sekarang sedang dicekam teror perempuan sinting di kepalanya.

Bian merasakan tikaman rasa nyeri di dadanya karena tahu bahwa dia yang menyebabkan kemurkaan perempuan itu kali ini. Dia sudah berusaha melakukannya diam-diam, tapi cara itu tidak berakhir baik. Antonio salah paham dan dia akhirnya terpaksa memberi tahu Antonio, terpaksa membuatnya menjalani siksaan batin ini.

“Antonio? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?” Tanya salah satu dosen mereka yang kebetulan lewat. “Bawa dia ke UGD, Arfabian. Apakah dia punya tukak lambung?” Tanyanya dengan lembut menekan ulu hati Antonio dengan tangannya dan Antonio merespons sentuhannya dengan erangan keras.

Bian pening. Dia ingin muntah juga, seperti Antonio. “Tidak, Dok. Dia akan saya bawa ke rumahnya, dia butuh dirawat di rumah.”

Dosen mereka menatapnya seolah Bian sudah sinting tapi akhirnya Bian berhasil meloloskan diri. Dibantu Yoga dan Danny, mereka membawa Antonio ke mobil dan mendudukkannya di kursi penumpang sebelum Bian menginjak gas bergegas berangkat ke BSD.

Bian meraih tangan Antonio, meremasnya. “Kami akan menyelamatkanmu hari ini.”

Antonio mengerang sebagai jawabannya, berdeguk dan bersendawa. Kelihatan begitu mengerikan hingga Bian yakin dia tidak akan bisa melupakan hari ini selamanya. Dia juga ketakutan. Jika konsep pertama yang benar, maka mudah bagi mereka untuk melepaskan perempuan ini. Mereka hanya perlu minta maaf, menyelesaikannya secara baik-baik dan meminta perempuan ini diambil.

Namun masalahnya, jika ternyata perempuan ini ada di tubuh Antonio karena konsep kedua; maka sepertinya akan sulit sekali.

Bian mencengkeram roda kemudi dengan lebih kuat, hingga buku-buku jemarinya memutih dan menginjak gas lebih dalam lagi—mobilnya menggeram merespons injakannya dan melesat di jalanan menuju rumah.


Wait, what?”

Saat Bian tiba, Jin sedang menerima telepon Hosein yang panik. Mencoba mencari tiket penerbangan dadakan ke Indonesia namun tidak berhasil. Bian bisa mendengar dengung suaranya yang panik dari ponsel Jin, terenyuh pada bagaimana Hosein sangat peduli pada Nio nyaris seperti adiknya sendiri. Jin memintanya menunggu sementara Bian bergegas membantu Antonio menuruni mobil.

Jin menjauh, mengatakan sesuatu dengan nada tegang pada Hosein di seberang sana; terlalu pelan untuk didengar Bian.

Romo Herry bangkit dari teras, membantu Bian memapah Antonio dan mendudukannya di teras. Antonio bernapas dari mulutnya, nampak sama sekali tidak sehat. Romo Herry mengusap keningnya, menatap Bian dengan tatapan yang sama sekali tidak diapresiasi Bian.

“Dia terus melemah.” Katanya, menyentuh denyut nadi Antonio. “Sepertinya dia sedang tersiksa di dalam sana, terombang-ambing antara sadar dan tidak sadar. Bisakah kau bicara dengannya?”

Bian menggeleng, menggenggam tangan Antonio erat-erat dan meremasnya. “Sejak tadi jawabannya hanya erangan dan igauan.” Bian merasa takut—bagaimana jika larangannya agar Antonio tidak minum kopi malah membuat semuanya semakin runyam?

“Tangannya dingin sekali.” Romo meremas tangannya lalu menoleh ke Jin yang mematikan sambungan, menghampiri mereka dengan rahang kencang dan wajah pucat pasi. “Kita ke sana sekarang?” Tanyanya.

Jin mengangguk, menatap adiknya dengan tatapan yang begitu mengerikan oleh luka. Dia berdiri di sana, tidak berani mendekat dengan tatapan yang koyak oleh rasa sakit. Bahunya turun, rikuh dan rapuh. Bibir bawahnya gemetar saat dia bertanya.

“Haruskah saya menghubungi kepala lingkungan, Romo?” Tanyanya.

Romo Herry mengangguk, “Menurut saya memang sebaiknya begitu.” Dia kemudian berdiri dan Jin langsung membantu Bian memapah adiknya.

“Seharusnya aku mengajak Yoga atau Danny,” kata Bian saat mereka menyeret Antonio ke rumah yang dimaksud.

Bian tidak pernah mengamati rumah itu tiap berkunjung ke rumah Antonio. Rumah sederhana dengan tembok putih, gerbang tinggi dan tanaman hias di halamannya. Nampak seperti rumah normal di lingkungan Jin; tidak ada yang sangat menyolok dari rumah itu. Ada sebuah mobil terparkir di garasinya dan saat mereka tiba, pemilik rumah baru saja membuka pintu. Anak pertama mereka, lelaki sehat yang nampak benar-benar kaget.

“Oh, astaga!” Serunya langsung berlari ke gerbang dan membukanya dengan panik. “Ada apa dengan Nio, Kak?” Tanyanya.

Bian melirik Jin yang balas meliriknya; sepertinya konsep kedua semakin terasa benar saat ini. Karena dia nampak benar-benar kaget dan kebingungan saat membantu Bian membawa Antonio ke teras, mendudukannya di salah satu kursi rotan. Antonio mengerang di setiap sentuhan atau setiap benda padat yang mengenai tubuhnya; Bian tidak ingin membayangkan apa yang mungkin terjadi di dalam kepala Antonio sekarang.

“Ayah!” Serunya, “Ada Kak Jin di sini!”

Ayahnya bergegas keluar dengan wajah kebingungan, dia tersenyum canggung. “Oh, halo, Kak Jin. Ada apa, ya?” Sapanya lalu menunduk, menyadari Antonio yang mengerang seperti seekor binatang di terasnya. “Astaga! Kau butuh bantuan membawa Nio ke rumah sakit?? Dia kenapa??”

Romo Herry lalu melambaikan tangan, tersenyum sangat menyejukkan hingga Bian ingin menangis. “Tidak, Bapak. Kami tidak perlu ke rumah sakit,” katanya tenang lalu melirik Jin yang mengangguk—dia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan adiknya.

“Kami ke sini karena ingin,” dia kemudian berhenti dan menyadari banyak tetangga mulai mengintip mereka dengan penasaran karena Antonio terlalu banyak mengerang.

Romo Herry berdeham, “Bagaimana jika kita bicarakan di dalam saja?” Tawarnya dan sang ayah mengerjap, sejenak kebingungan sebelum menyadari tetangga yang berdatangan.

“Oh, mari, Romo. Silakan, silakan.” Dia bergegas mempersilakan semuanya masuk ke dalam dan menutup pintu—menghalangi semua orang untuk melihat dan mencari tahu.

Jin bergegas pergi memanggi kepala lingkungan mereka sementara Antonio gemetar di sofa, berdeguk-deguk dan di mata Bian dia nampak seperti seekor binatang yang sudah terkena racun, siap mati kapan saja. Saat mereka duduk, sisa keluarga bergabung; istri dan putra bungsunya yang pendiam, meringkuk di sisi ibunya seperti janin yang kedinginan. Matanya menatap Antonio, menatap Bian lalu menatap Romo Herry.

Kilat di bola matanya menyadarkan Bian, jika mereka memang di sini karena konsep kedua maka anak inilah yang seharusnya menjadi inangnya.

Sang ayah nampak rikuh sekarang, mulai menyadari apa yang mungkin Romo Herry ingin katakan. Dia duduk di ujung sofa, nampak ketakutan melirik Antonio yang kesakitan.

“Jadi,” katanya parau. “Apa yang bisa saya bantu, Romo?”

Romo Herry tersenyum, “Kami datang ingin meminta Anda untuk mengambil perempuan ini dari tubuh Antonio.”

“Perempuan...?” Ulang sang ayah, mengerjap kebingungan saat dia berusaha memproses informasi itu lalu terkesirap keras; menoleh panik ke anak bungsunya yang menyerigai. “Bagaimana...?!”

“Jika menurut kata-kata Antonio,” Bian angkat suara dan sang ayah menoleh ke arahnya, nampak benar-benar panik dan ketakutan sekarang. “Dia bermimpi didatangi perempuan ini sekali lalu kemudian serangkaian mimpi aneh yang sama sebelum dia berubah menjadi perempuan.”

Keluarga itu terkesirap dan Bian positif.

Perempuan itu seharusnya tinggal di tubuh anak bungsunya, seperti sebuah ilmu hitam yang diwariskan turun-temurun namun entah bagaimana dia kabur dan memilih untuk tinggal di tubuh Antonio. Romo Herry juga menjelaskan, biasanya jika tubuh manusia akan digunakan sebagai 'media' untuk tinggalnya makhluk asing, mereka akan dilatih—diberikan semacam 'ajian' agar kuat menampung kekuatan itu.

Dan Antonio yang sama sekali tidak dipersiapkan untuk itu, kewalahan.

Ayah itu menatap anak bungsunya, nampak ketakutan dan Bian tidak menyalahkannya. Dia pasti kaget karena ternyata junjungannya yang terhormat selama ini tidak tinggal di tubuh yang semestinya.

“Bisakah Anda membantu anak ini?” Tanya Romo Herry kemudian, lembut sekali hingga Bian terenyuh mendengarnya. “Dia sudah begitu tersiksa selama dua tahun berusaha melaksanakan tanggung jawab yang bukan kapasistasnya.”

Sang ayah terkesirap lagi, “Dua tahun?” Ulangnya, kebingungan. “Tapi dia di sini, dia di rumah....” Dia terdengar linglung lalu menatap Antonio yang gemetaran. “Apakah dia berubah menjadi perempuan saat terkena air dingin?”

Bian mengerjap, “Ya.” Katanya.

“Panas ketika menjadi perempuan dan dingin saat kembali menjadi lelaki?”

”... Ya.”

“Astaga!”


Saat Jin kembali dengan kepala lingkungan, adiknya sedang dipapah menuju ruangan lain di belakang rumah.

Kepala lingkungan mereka memilih menjauh dari masalah dan duduk di sofa, menanti dengan tenang sementara Jin bergegas berlari mengejar rombongan itu. Mereka memasuki ruangan kecil, sebuah kamar yang membuat Antonio mendadak begitu ketakutan. Dia berhenti, menolak memasuki ruangan itu dengan histeris—tiap erangan, tiap rengekan dan tiap isakan Antonio meremas hati Bian dengan cara yang tidak manusiawi.

Bian menyadari bahwa kamar itulah 'kamar pengantin' yang selalu diceritakan Antonio di dalam mimpinya. Ruangan itu tidak terlalu mengerikan, tidak seperti yang dibayangkan Bian kecuali aroma bunga sedap malam yang begitu pekat dan menyesakkan. Ada ranjang di tengahnya, dengan nampan terisi banyak sesajen yang membuat Bian mual. Ruangan itu ditata dengan apik, rapi dan nyaris megah—berlawanan dengan keseluruhan konsep rumah itu.

Antonio menempel pada Bian, menolak memasuki ruangan itu; menangis liar dan menggeleng histeris.

“Jangan, tidak. Aku tidak mau.” Isaknya, mencengkeram kaus Bian dengan jemarinya dan Bian nyaris menangis bersamanya—dia yakin Antonio tidak mau, tapi tidak ada jalan lain. “Bian, jangan. Tolong. Jangan.” Isaknya, memelas sedemikian rupa hingga Bian akhirnya meledak dalam tangis.

“Nio,” isaknya, “Nio, Nio. Kau harus masuk.” Mohonnya, tercekat oleh nyeri di hatinya sendiri. “Jika kau tidak masuk dia tidak akan keluar.”

Antonio menangis, semakin kuat dan semakin menyayat hati hingga Jin akhirnya mundur dari sana. Tidak sanggup menatap dan mendengar tangisan adiknya. Dia terhuyung, dibantu oleh anak sulung keluarga itu untuk duduk di salah satu kursi meja makan.

Sang ayah meraih tangan Antonio, “Tidak akan ada yang disakiti.” Katanya, namun terdengar tegang. “Saya hanya akan bicara padanya, memohonnya kembali.”

Bian memejamkan mata saat dia melepaskan tangan Antonio dari pakaiannya, melepaskan cengkeraman kekasihnya yang melolong liar—sama sekali tidak terdengar seperti manusia sekarang. Antonio terus mencoba menariknya, tidak mau memasuki ruangan itu bersama sang ayah dan anak bungsunya, berusaha melepaskan perempuan itu dari tubuhnya.

Dia tidak mau bertanya jika sang ayah nantinya gagal “memohonnya” kembali, apa yang akan terjadi?

Bian berusaha keras, menarik tangan Antonio yang dingin lepas darinya. “Maafkan aku, Nio! Maafkan aku!” Isaknya, melepaskan tangan Antonio dari tubuhnya.

“Tidak mau, tidakmautidakmau!” Isak Antonio, menggeleng histeris pada kekasihnya berusaha meminta bantuan yang Bian tahu tidak bisa diberikannya.

Saat dia berhasil melepaskannya, sang ayah langsung menarik Antonio ke dalam kamar dan Bian terjatuh di lantai. Terisak liar saat mendengar teriakan Antonio sebelum pintu dibanting menutup dengan suara debum lembut. Bian menangis, hatinya terasa diremas-remas, dicengkeram tangan tak kasat mata dan diremukkan dengan cara paling tidak manusiawi.

Dia masih bisa mendengar teriakan Antonio yang teredam dari dalam sana, menangis memanggil Bian dan kakaknya, namun mereka tidak bisa melakukan apa pun. Antonio harus di dalam sana agar dia selamat.

“Kami, tidak menyangka beliau di sana selama ini.” Kata sang istri dalam rangkulan anak lelaki sulungnya. “Anak bungsu kami yang seharusnya menampungnya nampak baik-baik saja.”

Romo Herry menatapnya, “Tidak sulit menerka motifnya,” katanya tenang sementara di belakang sana Antonio meraung-raung. “Dia mungkin melihat Antonio dan memutuskan dia menginginkan anak itu.”

Sang istri meremas tangan anaknya, nampak pucat pasi. “Saya...” bisiknya lemah, “Saya tidak pernah menyukai ini.” Gumamnya dan Bian menatapnya dari balik air mata yang memudarkan pandangannya. “Tapi, ini... warisan.” Dia terisak, “Kami mau tidak mau harus menerimanya.”

Selamat datang di Indonesia, pikir Bian getir. Saat warisan tidak hanya uang, namun juga makhluk merepotkan yang harus mereka urus sepanjang hidup mereka.

Jin yang terduduk lemas di meja makan sama sekali tidak berkomentar, wajahnya pucat pasi. Cadaver yang selalu Bian tatap saat praktikum nampak jauh lebih segar daripada Jin sekarang. Dia mengerang, bernapas dari mulutnya sementara teriakan Antonio masih terdengar dari dalam sana.

Kemudian, suasana tenang. Teriakan Antonio dari dalam sana berhenti, tidak ada yang bersuara; semuanya menatap pintu yang tertutup dengan tegang dan Bian nyaris berpikir Antonio sudah selamat saat dia mendengarnya.

Suara itu begitu halus, mendayu-dayu namun di saat yang bersamaan terdengar begitu mengerikan. Dia bicara, dia mengatakan sesuatu dengan cara yang begitu berkuas namun juga terdengar merajuk.

“Dia milikku.” Begitu katanya, berkali-kali dan suaranya berubah-ubah antara perempuan dan lelaki; suaranya dan suara Antonio. “Aku akan membawanya bersamaku.”

Jantung Bian mencelos, jika sang ayah tidak berhasil membujuknya pulang maka selesailah sudah. Antonio akan terjebak selamanya di sana, menjadi inang makhluk yang tidak diinginkannya dan pada akhirnya akan kalah.

“Nio harus memenangkan pertarungan terakhir ini.” Kata Romo Herry, terdengar cemas saat suara teriakan dari dalam sana semakin mengerikan. “Jika dia menang, maka dia selamat.” Dia mengembangkan telapak tangannya di hadapannya, ujung-ujung jemarinya gemetar. “Kekuatan perempuan itu besar sekali.”

Bian menatap pintu, air matanya meleleh kembali. Bisakah? Bisakah Nio mengalahkannya lagi—sekali ini saja seperti yang selalu dilakukannya? Dia meremas tangannya, tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk dari semuanya.

Terisak lagi saat teringat Yoga dan Danny yang menatap sahabat mereka dengan cemas, mengancam Antonio yang kesakitan untuk kembali dengan BigBox atau mereka berhenti berteman. Bian tidak ingin menjadi orang yang mengabari mereka tentang....

Tentang Antonio.

*