Chocolate Rose
Inspired by The Chocolate Rose by Laura Florand and Amaury Guichon's magnificent “Rose” <3
“Dia sudah datang,”
Taehyung mendongak, akhirnya menegakkan tubuhnya setelah seharian menunduk mengerjakan kreasi terbarunya di cold section sekolah pastry-nya yang sekarang sudah memiliki 250 siswa didikan baru yang sedang mengamatinya bekerja dengan desah kagum dan tatapan terpana, mencatat setiap ilmu baru yang diberikan Taehyung pada mereka.
Beberapa anak—khususnya perempuan, nampak tekun memerhatikan tiap gerakan Taehyung dalam balutan seragam mereka yang rapi dan bersih. Kepala mereka terbalut dengan rapi, nampak sangat cerdas dalam seragam sekolah pastry yang dirintis Taehyung sejak dua tahun lalu.
Taehyung sendiri yang mendesain seragamnya dan menyukai bagaimana pakaian itu memeluk tubuh setiap siswanya dengan sangat sempurna—pas dan membuat mereka leluasa bergerak. Bahannya juga lebih ringan, dengan satu kantung pulpen mungil di bagian lengan kiri atas mereka agar mudah diambil kapan saja mereka butuh.
Dia meregangkan tubuhnya, mendesah saat merasakan nyeri di punggungnya lalu mengerjapkan matanya yang lelah karena sejak tadi menatap detail kecil dan bekerja membungkuk demi menyusun kelopak mawar yang dibuatnya dengan cokelat leleh.
Salah satu kreasi terbaiknya: Rose.
Dibentuk dari lelehan cokelat yang dibentuk satu per satu menyerupai lekukan kelopak mawar tropis yang gendut dan merekah indah seperti dewi Aprhodite. Tiap lekukannya berbeda, memiliki guratnya sendiri karena sungguh tidak ada mawar yang sama persis satu sama lainnya. Dan Taehyung berusaha mengadaptasi keindahan itu dengan tangannya sendiri. Dia melelehkan cokelat, mengukir permukaannya, melekukkannya, membiarkannya beku sebelum dengan perlahan—menggunakan pinset; menyusun kelopak demi kelopak hingga menjadi sebuah mawar.
Lalu dia menaburkan bubuk di atasnya, memberi aksen gurat-gurat klorofil di permukaannya yang lembut lalu menyelesaikannya dengan setetes air yang terbuat dari simple syrup yang berkilauan.
Prosesnya panjang dan melelahkan, namun saat mendengar desah terpesona semua muridnya, Kim Taehyung merasa segala kelelahan dan perih di matanya akibat terlalu lama fokus pada benda yang terlalu dekat terbayarkan. Dia menatap mawar yang merekah di meja, kini sepenuhnya kokoh setelah terpapar suhu lemari es.
Di dalamnya ada raspberry compote dengan cacahan buah yang menjadi 'bom' yang melumer saat dipotong, memberikan sensasi meledak saat digigit. Tapi dia tidak pernah tega membelah Rose; benda itu terlalu indah dan lembut, dia ingin selalu memandanginya.
Namun toh akhirnya makanan memiliki masa simpannya sendiri dan Taehyung selalu senang membiarkan salah satu stafnya atau dulu, fotografernya untuk mencicipinya.
Taehyung meraih lap yang tersampir di karet celananya dan mengelap tangannya. “Ya, itu dia. Terima kasih.” Katanya mengakhiri demo masaknya hari itu dan menoleh ke rekan kerjanya, Namjoon yang berdiri di sudut ruangan, mengamatinya memberi demo hari itu.
“Dan siapa dia yang kau maksud?” Tanya Taehyung sementara kelasnya membubarkan diri di sekitarnya dengan dengung rendah serupa lebah mendiskusikan beberapa resep yang Taehyung eksekusi hari itu.
Sejak pagi, dia sudah mengajari mereka membuat classic croissant karena pastry chef mana yang tidak bisa mengerjakan croissant? Lalu mengajari mereka membuat kreasi-kreasi Taehyung lainnya: Lemon taco, Mon-blanc dan Tropical Baba. Hingga akhirnya, pamungkas Taehyung yakni Rose.
Semua merasa puas dengan kelas hari itu karena tidak setiap hari Taehyung bisa memberikan demo di sekolah. Dia punya patiserrie yang harus diurus setiap harinya juga undangan untuk mengisi kelas di sekolah-sekolah pastry lain di luar negeri.
“Ton nouveau photographe.” Your new photographer, Namjoon menjawab dengan nada tentu saja yang seketika membuat Taehyung teringat kepedihannya dua hari lalu saat fotografer favoritnya memutuskan untuk mengundurkan diri karena menerima tawaran dari National Geographic.
Taehyung tidak paham—sungguh tidak akan pernah paham. Apa asyiknya tenggelam dalam lumpur yang becek dan menjijikkan, menunggu hewan eksotis lewat jika kau bisa bekerja di ruangan berpendingin mengabadikan kreasi-kreasi cantik mungil Taehyung?
Jika itu Taehyung, dia akan memilih untuk mengambil gambar kue-kue menggemaskan daripada tenggelam dalam lumpur seharian—atau bahkan berhari-hari demi apa? Demi sebuah gambar humming bird.
Jauh lebih menyenangkan bekerja di tempat yang terang dan bersih, 'kan? Setidaknya kau bisa mandi setiap hari. Tapi tidak ada yang bertanya mengenai pendapat Taehyung, maka dia diam dan melepaskan fotografernya dengan tidak ikhlas—berharap dia terkena kutu air abadi saat bekerja di minggu pertama karena meninggalkannya.
Namun dia beruntung karena kemudian ada penawaran dari fotografer lepas yang mendengar berita kehilangannya. Taehyung sudah membaca curriculum vitae-nya dan meminta pemuda itu datang ke sekolah hari ini untuk dites kemampuannya.
Mengambil gambar makanan tidaklah sulit; butuh lampu terang dan foto yang menunjukkan betapa megahnya makanan itu. Mungkin itulah yang membuat fotografernya lelah karena ketidakbebasannya dalam berekspresi dan menganggap menunggu seminggu demi foto humming bird atau gajah mungkin lebih menantang.
“Ah, ya. Dia.” Katanya, bergerak keluar dari dapur dengan kemeja chef kebanggaannya—diberi bordiran namanya di bagian kanan di bawah bendera Prancis mungil, terkancing rapat dan rapi bergemerisik. “Di mana dia?” Tanyanya.
“Minta dia menunggu sebentar.” Kata Taehyung, berhenti di kamar mandi dan mendorong pintunya terbuka. Dia mencuci tangannya, pergi ke urinal untuk buang air kecil yang ditahannya sejak sesi Rose dimulai.
Dia kemudian merapikan penampilannya, mengecek noda di kemejanya dan mencuci tangannya. Dia memastikan rambutnya yang dicukur rapi masih tetap sesuai dengan apa yang diinginkannya sebelum mendorong pintu keluar. Safety shoes-nya mengetuk lantai lorong sekolah menuju ruangannya.
Pintunya terkuak dan dia mendorongnya, sudut matanya menangkap sepasang kaki yang duduk di sofa di seberang meja kerjanya—yang sejujurnya jarang digunakan tapi mereka bersikeras Taehyung harus memiliki satu ruangan di sana maka Taehyung mengiyakan daripada dia harus menyulut Perang Troya hanya karena ruangan.
“Halo.” Katanya tanpa mendongak, memunggungi tamunya yang bangkit dengan suara berderit per sofa yang merenggang untuk menutup pintunya sebelum menoleh ke sofa.
“Oh.” Katanya sopan saat akhirnya berhadapan dengan fotografernya yang sekarang berdiri di depan sofa.
Dia tidak nampak sedikit pun seperti foto yang dilampirkannya di CV.
Mungkin karena foto itu menggunakan seragam sekolah dan mungkin belum pernah diperbaharui sejak 10 tahun lalu.
Nampak luar biasa menakjubkan dengan kaus lengan panjang yang membalut tubuh bidang yang ketatnya. Di sisi sofa ada sebuah ransel dan satu tas kamera yang nampak berat dan besar, bekerja beberapa tahun dengan fotografernya membuat Taehyung paham pemuda itu datang dengan amunisi lengkap karena Taehyung menyebut tentang “tes kemampuan”.
Dia bahkan membawa tripodnya, walaupun sebenarnya Taehyung punya banyak. Dia juga punya lampu dan mini studio-nya sendiri untuk mengabadikan setiap kreasi barunya yang menakjubkan.
Pemuda itu tampan—sangat tampan dengan wajah tajam dan lancip. Rambutnya disisir rapi, beberapa anak rambut menjuntai di keningnya yang tinggi. Ada bekas luka kecil di pipinya. Alisnya tebal, bibirnya tipis berlekuk dan berwarna merah muda. Taehyung mengapresiasi warna bibirnya karena itu berarti dia bukan perokok. Matanya menatap langsung ke mata Taehyung dengan level kepercayaan diri yang memuaskan—Taehyung sudah sangat menyukainya.
Apalagi saat pemuda itu melangkah lebar ke arahnya dengan tangan terjulur, nampak hangat dan terbuka. “Halo, Chef.” Katanya serak—suaranya mendebarkan.
Taehyung yakin pemuda itu bisa berdiri di sisinya untuk merekam kegiatannya mencampur cokelat dan membuat semua pastry-nya meleleh begitu saja hanya dengan bernapas. Membuat tiap butir jagung meletup menjadi popcorn jika dia mau. Dia melirik tangan kanannya yang dihiasi tato sebelum menjabatnya—hangat dan kuat, sekali.
Dia suka jabatan tangan itu.
“Halo.” Balas Taehyung, berdebar. Seperti saat dia men-temper cokelat di atas mejanya; menuangnya, meratakannya, kembali menuangnya demi mendapatkan temperatur yang diinginkannya sehingga nantinya lemak-lemak kokoa dalam cokelat itu tidak menggumpal membentuk bintik-bintik putih yang membuatnya nampak seperti panu.
Pemuda ini membuatnya meleleh, seperti sepotong cokelat yang dipanaskan di atas air mendidih. Dia tersenyum, senyumannya berkilau seperti matahari terik puncak musim panas. Matanya yang gelap menyapu wajah Taehyung dengan cara yang begitu tak terelakkan, membuat dasar perut Taehyung bergemuruh.
“Vous est... Jeongguk, oui?” You're Jeongguk, right?
Pemuda itu, Jeongguk, mengangguk. “Oui, je suis.” Yes, I am.
Uh-oh.
Bahasa Prancis-nya seperti bisa ular—mematikan dan menyerang langsung ke jantung Taehyung yang berkerut sebelum mendobrak rusuknya dengan kuat hingga dia sejenak terkesirap kecil.
“Ah, ya. Comment allez-vous?.” Katanya kemudian, menurunkan tangannya dan melambaikan tangan mempersilakan Jeongguk duduk kembali di sofa yang berderit sebelum bergabung dengannya di kursi terjauh—takut dia akan meleleh oleh pesona pemuda itu. How do you do?
Jeongguk mengangguk, sopan sekaligus congkak pada saat yang bersamaan. “Comment allez-vouz,” sahutnya ringan dengan suara 'ng' sengau yang mendebarkan.
Taehyung melirik tasnya, “Saya melihat Anda datang dengan amunisi lengkap.” Komentarnya sopan, menyilangkan kakinya di sofa sementara Jeongguk di seberangnya melakukan hal yang sama—nampak nyaman.
“Saya selalu siap sedia.” Sahutnya dengan suaranya yang mendebarkan, melecutkan api menggelisahkan ke dasar perut Taehyung yang malang. Membuatnya berkeringat; seperti lapisan cokelat di atas permukaan eclair yang baru dikeluarkan dari kulkas.
“Great,” Taehyung tersenyum. “Jadi, saya bisa meminta Anda untuk mempersipakan alat-alat di mini studio sementara saya menyiapkan makanan yang akan Anda ambil gambarnya?” Tanyanya.
Jeongguk menatapnya, sejenak takjub. “Oh, à présent?” Now?
“Ouais.” Sahut Taehyung lugas, “Kita tidak boleh membuang-buang waktu, 'kan? Lagi pula itulah alasanmu dipanggil kemari hari ini, Jeongguk.”
“Ya,” sahut Jeongguk menatap langsung ke matanya, membuat kuduk Taehyung meremang dan dia harus mengepalkan kedua tangannya agar tidak beranjak dan menjulurkan tubuh ke arah Jeongguk untuk menghirup aromanya.
Bertaruh, pemuda itu pasti tercium seperti cokelat Tahiti terbaik; kaya, pekat dan pahit namun serupa candu. Dia pasti beraroma seperti rempah-rempah eksotis; kayu manis, cengkeh... Rempah yang selalu Taehyung gerus dan campurkan ke chocolat chaud-nya di hari paling dingin di musim dingin.
Taehyung ingin membenamkan geliginya di lehernya, merasakan teksturnya yang pasti selembut mascarpone vanilla whipped cream yang meleleh di mulut dan meninggalkan jejak berlemak di setiap sudut mulutnya—mustahil dilenyapkan. Rasa manis memabukkan yang akan membuat lidahnya mencari-cari dengan panik dan merindu begitu decap terakhir lenyap.
Atau fresh red berries compote yang asam dan manis, meletup-letup seperti jutaan kembang api mungil di lidah. Meninggalkan kesan yang jauh lebih hebat di permukaan lidahnya karena rasa asam yang mendebarkan. Ada potongan buah di dalamnya, menambahkan tekstur renyah dan ledakan rasa asam-manis baru yang tidak terduga sama sekali.
Dia pasti terasa seperti dessert terlezat di dunia.
Oh, tidak. In fact, he looks like the whole 5 course meal himself.
”... Chef?”
Taehyung mengerjap, merona karena dia pasti sedang melongo karena otaknya tidak berada di tempat yang benar sama sekali. Dia berdeham, menyingkirkan pikiran tentang vanilla whipped cream dan cokelat Tahiti dari kepalanya sebelum menatap Jeongguk.
Fokus pada satu percakapan, Taehyung, rutuknya di kepalanya sendiri.
“Pardon,” katanya, berdeham kikuk. “Sejenak saya memikirkan resep baru tadi. Anda mengatakan apa barusan?” Tanyanya, mengulaskan senyuman terbaik yang dimilikinya pada fotografer di hadapannya.
Matanya berkilat dan Taehyung tidak menyukai kilatan itu—tidak karena kilatan itu membuat dasar perutnya menggeram. Membangunkan sisi binatangnya yang sekarang mengaum, meronta dalam cengkraman rantai yang menahannya. Jeongguk menjilat bibirnya, dengan gerakan yang mungkin biasa saja namun di mata Taehyung nampak sensual.
Sudut bibirnya tertarik perlahan, memamerkan separo giginya seperti seekor macan kumbang yang menemukan mangsanya. “Kataku,” katanya dan Taehyung mengerjap pada fakta dia berhenti menggunakan bahasa formal* pada Taehyung.
“Aku tidak menyangka bahwa Chef Kim Taehyung ternyata sungguh sepanas apa yang mereka katakan.” Bola matanya bergerak, menyapukan tatapan tidak sopan ke seluruh tubuh Taehyung yang berdenyar. “Tapi, sungguh kau nampak... jauh lebih menakjubkan dari semua kreasimu.”
Taehyung tidak akan pernah bisa melenyapnya bagaimana kata “tu—kamu” yang lolos dari bibir Jeongguk hari itu.
Tu katanya, bukan lagi vous.
Dan dia juga tentu tidak akan melupakan bagaimana dia menarik kerah baju Jeongguk dan menciumnya di sana—di ruang kerjanya, untuk mencari tahu apakah pemuda itu terasa seperti mascarpone vanilla whipped cream, cokelat Tahiti atau fresh red berries compote.
Jeongguk tidak terasa seperti apa pun yang berasal dari dunia saat lidahnya menyelip ke dalam mulutnya, membelai geliginya dengan lembut hingga Taehyung gemetar. Tangannya meraih pinggulnya, meluncur turun ke pantatnya dan meremasnya hingga Taehyung melenguh kecil—seperti seekor sapi.
Dia seperti chaud yang kental, berempah dan hangat. Menetes turun melalui tenggorokan Taehyung, melukis jalur tak terlupakan yang pahit, manis dan juga hangat. Mendarat di dasar perutnya dengan gelombang kecil, sebelum memancarkan kehangatan ke seluruh perutnya.
Dia kecanduan.
“Oh.” Desah Jeongguk saat bibir mereka berpisah, suaranya serak dan berat—penuh oleh keinginan yang tidak perlu banyak penjelasan karena Taehyung paham. “Aku bisa saja menghabisimu di sini,” bisiknya membelai lengan Taehyung dengan punggung tangannya, mendengkur senang saat menyaksikan rambut halus Taehyung meremang.
“Membukamu perlahan, seperti bagaimana kau menyusun setiap kelopak Rose yang berkilauan. Satu, per satu.” Bisiknya, napasnya membelai telinga Taehyung dengan cara yang begitu mendebarkan. “Hingga aku menguak intinya, menjulurkan lidahku ke sana dan menyecapmu.”
Dia menjilat cuping telinga Taehyung, “Tapi tidak.” Katanya kemudian, tersenyum di kulit Taehyung, membenamkan wajahnya ke cerukan leher Taehyung yang lembut dan harum.
“Kita harus mengambil gambar makanan.” Dia tersenyum lebar dan Taehyung tidak tahan ingin menonjok wajah congkaknya jika saja dia tidak begitu tampan dan Taehyung takut dia akan melukai tangannya sendiri saat mencoba menyakitinya.
Rahangnya setajam batu karang.
“Baiklah,” bisik Taehyung, menatap bibir Jeongguk sebelum mencondongkan tubuhnya dan mengecup sudutnya dengan lembut—menjilatnya hingga Jeongguk gemetar. “Mungkin aku akan membiarkanmu membukaku perlahan, satu per satu...” Bisiknya dan tersenyum puas saat Jeongguk gemetar seperti sepotong mesin rusak.
“Lalu mungkin juga membiarkanmu menyecapku.” Dia tersenyum, tangannya bergerak turun lalu menyentuh bagian tubuh Jeongguk yang berkedut, terkekeh terhibur. “Karena sepertinya kau punya masalah di bawah sini, petit choux.”
“Tapi, seperti yang kaukatakan barusan,” Taehyung menegakkan tubuhnya, melicinkan seragamnya dan tersenyum cemerlang pada Jeongguk yang pucat pasi. “Kita harus bekerja.”
Alisnya naik sebelah, menggoda dan tersenyum senang melihat betapa frustasinya Jeongguk sekarang berdiri di hadapannya dengan satu bagian tubuhnya merengek.
“Bukankah begitu,” dia berdeham. “Monsieur Jeon?”
Namun nyatanya, fotografer itu tidak menyerah begitu saja pada tekanan yang diberikan Taehyung karena dia tersenyum cerah. “Bien sur, Monsieur Kim.” Of course, Sahutnya.
Mereka bertatapan dan Taehyung yakin mereka akan menghabisi satu sama lain di ranjang nanti, beberapa jam lagi. Karena sekarang mereka punya bisnis yang harus diselesaikan.
“I'd be glad to welcome you in my apartment later,” kata Jeongguk saat dia membuka pintu, mempersilakan Taehyung untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan menuju studio.
“Oh, j'attends pour ça.” I'm waiting for it, Sahutnya ringan, sebelum mengangguk profesional dan tersenyum saat melihat Jeon Jeongguk menyambut permainannya dengan sangat natural.
“Mari ikut saya.”
*Dalam bahasa Prancis ada dua jenis bahasa: formal dan informal.
Dan yang membedakan keduanya hanya terletak pada penggunaan kata 'kamu': formal menggunakan “vous” dan informal menggunakan “tu”.
Jika baru pertama kali bertemu dengan orang lain, mereka akan menggunakan “vous” seperti “Comment allez-vous?” dan “Vous est Jeongguk, oui?” yang bentuk informalnya: “Tu es Jeongguk, oui?”
Namun jika sudah akrab, bisa menggunakan “tu” seperti Namjoon tadi: “ton (possessive form of 'tu') noveau photographe” yang bentuk formalnya adalah “vouz (possessive form of 'vous') noveau photographe”.
Merci beaucoup et bonsoir! lv, ire xx