C'est un Secret 363

cw // broken heart , betrayal .


Nio menatap kekasihnya yang nampak kikuk dan rikuh saat ini. Dia baru saja tiba di kosannya, membawa dua boks martabak telur seperti apa yang kekasihnya minta tadi melalui obrolan. Aroma telur, daun bawang dan minyak sekarang memenuhi kamar Arfabian. Nio juga sudah menuang kuah karinya di atas mangkuk, sudah makan tiga potong karena dia kelaparan.

Dia datang ke sini setelah menyelesaikan kelas praktikum tambahan, dia punya laporan untuk ditulis dan juga jurnal untuk dibaca. Dia harus presentasi besok, tapi kekasihnya bilang dia punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Maka Nio menyisihkan waktu, memberikannya sedikit waktu.

Apa saja agar Arfabian bahagia.

Meletakkan kekasihnya di atas dirinya sendiri, berpikir jika tanpa Arfabian hidup ini mungkin berakhir. Pemuda itu menggenggamnya, menahannya tetap waras. Membuatnya tetap hidup.

Dia bisa meremukkan Nio jika dia mau, menggerus kehidupan keluar dari tubuh Nio kapan saja.

Arfabian mengenakan sweter di atas piyama kremnya yang nampak hangat dan lembut. Di luar gemuruh langit terdengar dan Nio mendesah, syukurlah dia membawa jas hujannya hari ini. Dia mendudukkan diri di sisi ranjang, Arfabian berbaring di sana nampak kikuk.

“Ada apa?” Tanyanya, meraih kaki Arfabian dan meletakkannya di pangkuannya, memijatnya lembut. “Kau sedang takut.” Katanya saat merasakan kaki Arfabian yang dingin. “Takut pada apa?” Tanyanya lembut, membelai tungkai langsing Arfabian dengan tangannya dari balik kain piyamanya yang lembut.

Arfabian menatapnya, dari balik bulu matanya yang panjang dan lurus membuat hati Nio terasa diremas-remas. Apakah dia melakukan hal yang salah? Dia meremas jemari kaki Arfabian lembut.

“Oke.” Katanya, berdeham. “Kau membuatku gugup. Ada apa?” Tanyanya lagi, kali ini mendesak dengan lembut. “Jika ada yang ingin kauminta dariku, katakan saja. Aku akan berusaha melakukan sesuatu untuk memberikanmu itu.”

Arfabian menatapnya, wajahnya berkerut-kerut dan Nio semakin merasa hatinya diremas-remas. Berusaha menerka-nerka apa yang Arfabian sedang berusaha katakan padanya; dia nyaris memohon agar Arfabian mengatakannya saja, seburuk apa pun itu daripada dia harus menderita seperti ini.

Dia membalas tatapan Arfabian, mereka bersidiam. Membiarkan keheningan menyelimuti mereka sementara suara rintik halus hujan mulai terdengar menghajar atap kanopi parkiran kosan Arfabian.

Beberapa anak kos berteriak, saling mengingatkan akan hujan dan mengingatkan yang lain untuk mengangkat cucian mereka. Suara langkah kaki terdengar berisik dari atas dan dari lorong di depan pintu kamar Arfabian yang tertutup—teman-teman kosnya berhamburan mengangkat jemuran.

“Cucianmu?” Tanya Nio lembut dan Arfabian menggeleng. Nio menganggukk, mereka kembali diam sementara di luar sana anak-anak kosan mulai membereskan cucian mereka, mengobrol riuh di lorong depan kamar Arfabian sebelum suasana kembali tenang.

Nio mendesah, “Sayang, jika kau diam, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Dia mengerang frustasi sementara Arfabian di depannya masih nampak rikuh dan kikuk. “Aku tidak akan marah. Apakah kesalahanku? Apakah karena sesuatu yang kukatakan? Kulakukan?” Dia meraih tangan Arfabian, meremasnya hangat—mengecup buku-buku jemarinya.

Arfabian menggeleng, mendesah dia kemudian meraih tangan Nio—menarik kekasihnya agar berbaring di sisinya. Nio merangkak naik, berbaring di sisinya dan memeluknya erat dan hangat. Arfabian mendengkur seperti seekor kucing dalam pelukannya, meringkuk nyaman.

“Aku...” Bisiknya teredam di dada Nio, jantung Nio berdebar—menanti dengan penasaran. Dia membelai punggung kekasihnya dengan lembut, dengan telapak tangannya yang hangat. “Aku ingin minta tolong padamu.”

Napas Nio meringan mendengarnya, bahunya merileks. “Minta tolong apa?” Tanyanya lembut, lega ternyata tidak seburuk apa yang dipikirkannya.

Arfabian menatapnya, matanya nampak terluka dan kini Nio semakin kebingungan. Perutnya melilit dan dia mual, apakah Arfabian akan...

“Kau ingin putus?” Tanyanya kemudian, suaranya seperti sebuah gelas yang retak lalu pecah—dia bahkan tidak mengenali suaranya sendiri saat dia mengatakannya. Sakit yang beracun menyebar di atas permukaan jantung dan hatinya, membuatnya berdenyut dan panas oleh rasa perih.

Seperti saat asam lambungnya naik; membakar jalur napasnya dengan cara yang begitu mengerikan. Membuat ulu hatinya panas dan tidak nyaman.

“Tidak!” Arfabian bergegas menyelamatkannya, mendorong Nio menjauh sehingga dia bisa menatap matanya dan Nio merasa seember air dingin baru saja disiramkan ke tubuhnya, membuatnya tenang dan lega walaupun sudah nyaris tiga tahun dia tidak pernah merasakan air dingin. “Tidak, tidak! Kenapa kau berpikir seperti itu??”

Nio mengerang, “Kau bersikap diam dan aneh seperti ini sejak aku datang. Malah aneh jika aku tidak berpikir seperti itu, kau tahu.” Dia memijat pelipisnya, nampak stres karena baru saja berpikir Arfabian mungkin akan mengakhiri hubungan mereka.

“Tidak, tidak...” Arfabian menelan ludah, nampak kebingungan dan setiap detiknya saat Arfabian kebingungan mengirimkan tikaman rasa nyeri ke hati Nio. “Aku ingin memintamu melakukan hal yang mungkin akan benar-benar menyakitimu.”

“Sayang,” Nio berbisik di rambutnya. “Satu-satunya hal yang mungkin menyakitiku hanya kehilanganmu. Apakah hal yang akan kauminta ini berarti aku akan kehilanganmu?”

“Tidak, tidak! Tentu saja tidak!” Arfabian seketika menjawab dan Nio mendesah, tenang.

“Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Dia tersenyum lembut. “Go on, Darling, ask away.” Dia mengecup puncak kepala Arfabian, membenamkan wajahnya di helaian rambut Arfabian—menghirup aroma samponya yang menakjubkan.

Arfabian meremas pakaiannya, menempelkan telapak tangannya di dada Nio—tepat di atas jantungnya yang selama ini telah melalui banyak penderitaan setiap kali Nio harus berubah menjadi perempuan. Dicekik rasa panas, diremas rasa dingin; Nio benar-benar harus lebih banyak melakukan kardio jika ingin jantungnya tetap sehat setelah segalanya.

“Apakah...” Arfabian memulai, pelan dan gemetar.

Nio mengangguk, “Ya?” Tanyanya lembut, mendesak halus agar Arfabian melanjutkan kalimatnya. “Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Arfabian menghela napas, “Bolehkah kau berubah menjadi perempuan akhir pekan ini?”


Dia melakukannya!

Bian nyaris saja menjatuhkan diri ke lantai dan mengerang keras, betapa hebatnya rasa tegang dan takut yang ditahannya hanya untuk mengucapkan itu dan bagaimana ekspresi Antonio saat Bian berusaha mengumpulkan niat dan keberaniannya sejak tadi.

Kekasihnya tidak sabaran. Antonio bukan lelaki pemarah, dia tenang. Mungkin berisik, tapi amarah bukanlah emosi yang sering disaksikan Bian di wajahnya. Dia lebih banyak tertawa, menggoda, merajuk, dan bersikap menyebalkan.

Jantung Antonio di bawah telapak tangannya berdebar, keras dan menggetarkan permukaan tulang rusuknya. Bian mulai ketakutan, ratusan laba-laba terasa merayap di punggungnya—membuatnya bergidik ngeri. Apakah dia baru saja melewati batas?

Namun menurutnya, cara ini jauh lebih manusiawi daripada menjebak Antonio di air dingin, memaksanya berubah menjadi perempuan di luar keinginannya sendiri. Bian tidak mau melakukannya, dia tidak mau memaksa Antonio—menjebaknya dengan licik sehingga dia menjadi perempuan demi keuntungannya dan Jin.

Dia ingin Antonio menerima permintaannya, berubah menjadi perempuan atas keinginannya sendiri sehingga Bian bisa mengajak “Nia” bicara tanpa mengorbankan Antonio karenanya. Namun, sekarang, setelah dia mengatakannya dengan keras di depan Antonio—dia mulai merasa ini mungkin tidak akan berakhir baik.

Kak Jin benar, dia seharusnya menjebak Antonio saja. Jahat, namun aman dan mungkin juga bisa menghindarkan Bian dari drama-drama yang tidak perlu. Namun dia bukan Jin, dia bukan para dokter yang membuat Antonio ketakutan. Dia tidak mau mennggunakan cara sekotor itu.

Maka dia mungkin harus siap dengan segala risikonya.

Dia tidak mau menatap Antonio, memeluknya erat dan mendengarkan deru napasnya setelah dia bertanya.

Antonio tidak mengatakan apa pun. Setidaknya hingga lima menit kemudian, mereka berbaring di ranjang dengan gemuruh hujan terdengar dari luar sana. Menghajar atap kanopi dengan suara berisik, memekakkan telinga.

Bian menunggu, dan terus menunggu hingga Antonio menjawab. Namun tidak memiliki keberanian untuk bertanya ulang: 'Apakah kau mendengar apa yang kukatakan? Bagaimana menurutmu?'

Bian takut.

Dia baru saja meminta sesuatu yang sangat dibenci Antonio, sesuatu yang Antonio selalu hindari mati-matian; sesuatu yang tumbuh serupa benalu liar di hatinya, membelit hatinya seperti seekor ular, mencekiknya.

Bian baru saja meminta sesuatu yang mustahil. Sesuatu yang menyakiti kekasihnya, mungkin lebih dari sakit yang ditangguhkan Antonio saat dia kehilangan Bian.

“Bian,” kata pemuda itu akhirnya, serak dan pekat oleh kekecewaan.

Saat itulah Bian tahu, dia baru saja melakukan kesalahan.

Antonio melepaskan pelukannya, menarik kedua tangannya dari tubuh Bian yang langsung mengigil saat hangatkan tubuh Antonio tidak lagi memeluknya. Pemuda itu menarik dirinya menjauh dari Bian, yang tak kuasa mendongak—tak kuasa menatap matanya, tak memiliki keberanian untuk melihat emosi apa yang mungkin terpancar di bola mata Antonio saat ini.

“Aku tidak tahu apa alasannya,” kata pemuda itu, menuruni ranjang Bian yang masih berbaring di sana, menyamping—tidak ingin melihat sama sekali saat Antonio memutuskan untuk melangkah keluar, pergi dari sana. “Aku juga sungguh, tidak mau tahu.” Katanya gemetar.

“Tapi,” dia terdengar begitu terluka, kecewa dan terkhianati—Bian merasa seseorang baru saja menyurukkan besi panas ke tenggorokannya, membuatnya kering dan tercekat.

“Apakah kau paham apa yang baru saja kauminta dariku?” Tanyanya, gemetar. Bian mendengar emosinya, mendengar sakit hati yang menetes dari kalimatnya. Dia menyakiti Antonio. “Apa yang membuatmu berbeda dengan semua bajingan di Singapura itu jika begini, Bian? Sungguh?”

Bian bernapas dari mulutnya, hatinya panas. Satu titik di balik jantung dan hatinya, terbakar racun. Rasanya begitu menyesakkan hingga paru-parunya mengerut, berusaha mengirimkan oksigen ke otaknya yang berdenyut.

“Aku punya... rencana.” Kata Bian gemetar, masih tidak berani menatap Antonio. “Aku butuh... bicara,” dia menelan ludah, menelan isak tangisnya. “Dengan sisi perempuanmu.”

Antonio mendengus. Bian mendengarnya bangkit dari ranjang yang berderit, bergerak di kamarnya dan mengenakan jaket berkendaranya dengan suara gemerisik lembut.

“Kau memang tidak ada bedanya dengan semua dokter sialan itu, Arfabian.” Katanya, sekarang dingin—nada yang sama sekali tidak pernah Bian dengar lahir dari bibir Antonio. “Kau membuktikan betapa salahnya aku selama ini menilaimu.”

Bian tidak ingin menoleh, tidak mau menoleh. Tidak ingin menyaksikan saat Antonio melangkah keluar dari kamarya, dan mungkin juga hidupnya.

“Itulah yang mereka katakan padaku, Bian.” Kata Antonio, membuka pintu kamar Bian dan membuat hawa dingin serta suara hujan terdengar semakin deras. “Mereka bilang mereka ingin bicara dengan sisi perempuanku. Mereka memaksaku mandi air dingin, berubah di hadapan mereka telanjang.

“Aku memberi tahumu segalanya, memberi tahumu betapa takutnya aku tentang proses itu bukan untuk mendengarmu meminta hal yang sama, Arfabian.” Kekecewaan terdengar kental di suaranya dan Bian tidak bisa menyalahkannya, dia juga kecewa pada dirinya sendiri.

Dia pikir rencana ini yang teraman, meminta Antonio. Membicarakan apa yang mereka butuhkan, mencari jalan tengahnya—sebagaimana mereka selalu menyelesaikan masalah mereka.

Namun sepertinya masalah ini tidak bisa diperlakukan dengan metode yang sama.

“Apakah kau ingin pertunjukan?” Tanya Antonio, sarkasme terdengar menyakitkan; mengiris jantung Bian dengan cara yang tak terbayangkan. “Kau ingin melihatku berubah menjadi perempuan untuk memuaskan hasrat medismu? Membuatku merasa seperti kelinci percobaan juga?”

Antonio tertawa, kecewa dan sakit hati. Bian mengerutkan keningnya, memejamkan matanya kuat-kuat; berharap suara tawa itu tidak bercokol di belakang kepalanya, menghantuinya setelah ini.

“Aku pikir kau berbeda.” Katanya kemudian. “Aku pikir kau berbeda dari Kak Jin, Kak Hosein dan semua dokter itu.” Dia kemudian melangkah keluar, “Ternyata aku yang terlalu naif.”

Pintu kamar Bian tertutup.

Suara hujan semakin deras, Bian bangkit—panik. Takut Antonio akan terjebak hujan jika dia pulang sekarang. Dia membawa kakinya yang kebas berlari ke pintu, menyentakkannya terbuka dan melihat Antonio mengenakan jas hujan.

“Nio,” katanya gemetar. “Hujan.” Jangan pergi sekarang, biarkan aku bicara dulu. Kumohon. Dia ingin berkata, ingin menahan Antonio—mendesaknya untuk diam dan mendengarkan.

Namun tidak ada yang keluar dari bibirnya. Suara tawa kecewa Antonio menggema di rongga kepalanya; melumpuhkannya. Dia tidak akan bisa mengenyahkan suara tawa itu dari kepalanya, tidak sebelum Antonio memaafkannya.

Antonio menatapnya, dingin—dingin sekali, seperti bilah es menusuk jantung Bian yang sekarang babak belur oleh emosi. “Oh, ya.” Kata Antonio, sudah mengenakan jas hujannya, duduk di atas motornya. “Kupikir kau senang saat aku berubah menjadi perempuan sehingga kau bisa,” dia membuat tanda kutip dengan kedua tangannya, wajahnya penuh cemooh. “'Bicara' dengan sisi perempuanku.”

“Nio,” mohonnya lagi, meletakkan satu tangan di dadanya; menekan rasa sakit yang menyeruak di sana seperti rasa kebas menggeranyam saat sikunya terantuk meja—rasa sakit yang mengganggu. “Aku harus menjelaskan sesuatu.”

Antonio mengenakan helmnya, tidak sudi mendengarkan apa pun. “Simpan penjelasanmu untuk kapan-kapan, Bian.” Katanya, memutar kunci motornya dan mulai memutar benda itu keluar dari tempat parkir.

“Karena sekarang, aku tidak ingin mendengarkan apa pun. Sudah cukup.” Dia kemudian menyalakan mesin motornya, berderum lembut sebelum dia memasukkan gigi dan meluncur keluar—di tengah hujan deras.

Bian terkesirap, seolah jantungnya baru saja direnggut paksa dari dadanya. Dicabut dengan kasar hingga hidup tidak lagi berdenyut di tubuhnya.

Selesai?

Selesai sudah semuanya?

Begitu saja?

*