C'est un Secret 382


“Dia hanya tidur, tenanglah.”

Bian mengusap sisa air mata di sudut matanya, menatap Antonio yang terbaring di ranjangnya dengan napas teratur—tidur damai yang membuat hati Bian terasa kebas. Apakah sekarang dia tidur lelap tanpa mimpi?

Dia menolak melepaskan tangan Antonio sejak dia dibawa kembali pulang. Semuanya kacau balau saat perempuan itu menolak melepaskan Antonio namun ternyata Antonio cukup kuat untuk melepaskan diri. Bian tidak sudi mengingat prosesi itu sama sekali; mendengar raungan Antonio yang kesakitan sudah cukup untuk membuat tidurnya tidak nyenyak selama beberapa bulan.

Namun akhirnya saat pintu itu terbuka, Antonio dipapah sang ayah. Beraroma pekat menyan dan tubuhnya berasap tipis. Dan ayah keluarga itu tidak nampak sehat sama sekali sementara si anak bungsu merajuk. Dia anak yang manis; sehat dengan mata bulat dan rambut yang lembut. Bocah lelaki yang nantinya pasti tumbuh menjadi sosok yang sangat menarik.

Sayang sekali sejak dini dia sudah diklaim menjadi milik makhluk yang tidak diinginkannya. Lalu sang ayah memberikan Jin sebuah jimat, sesuatu yang harus Antonio gunakan sepanjang waktu agar perempuan itu tidak menemukannya lagi.

Jin menerimanya, sebuah mirah yang berkilauan—nyaris mengerikan karena warnanya semerah darah. Dia mengangguk, untuk saat ini mirah itu berada di kantung serut mungil yang dikalungkan di leher Antonio dengan tali kulit; bersemayam tepat di atas jantungnya. Kata sang ayah, mirah itu akan membuat Antonio tidak terlihat bagi si perempuan. Dan dia juga melarang Antonio lewat di depan rumahnya lagi.

“Berusahalah memutar.” Katanya serius, “Saya tidak bisa menjanjikan apa pun. Usahakan mirah itu berada persis di atas jantungnya.” Dia melirik anak bungsunya yang sekarang menatap mereka dengan mata merah dan rahang mengencang—nampak sungguh dendam.

“Dia tidak akan melukai siapa pun lagi kali ini.” Sang ayah menjamin lalu menyalami Jin, memohon maaf sebesar-besarnya atas masalah yang telah dia timpakan pada Jin selama ini. “Saya sudah berusaha kuat mendiskusikan segalanya dan berhasil membuatnya setuju.” Dia mendesah, kelelahan. “Saya mohon maaf kepada Kak Jin dan Nio atas ketidaknyamanan ini. Jika saja kami tahu lebih awal.”

Bian menatap Jin, bertukar senyuman lega karena mereka memutuskan untuk percaya sisi hitam alih-alih terus mencoba mencari jawaban medisnya. Hosein menelepon saat mereka baru tiba, mengatakan dia baru saja mendarat di Soetta dan akan segera datang. Jin membiarkan teleponnya menyala dalam mode hands-free, membiarkan semua orang mendengarkan Hosein yang meminta maaf karena memaksa mereka semua menempuh jalur medis dan menolak mendengarkan Jin sejak awal.

“Tidak apa-apa, aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik yang kau bisa. Tidak ada yang bisa menyalahkanmu karena tidak percaya ilmu hitam.” Jin mendesah untuk kesekian juta kalinya pada Hosein. “Datanglah ke rumah, kita makan untuk merayakan kesembuhan Nio.”

Bian tersenyum simpul; toh ternyata Jin juga memiliki sisi kekanak-kanakan persis Antonio.

“Mimpi padang rumput itu menjadi penanda bahwa beliau tertarik padanya.” Kata sang ayah saat Bian bertanya. “Dan burung kakak tua itu sebuah pilihan, jika dia menyentuhnya maka beliau akan menemukan jalan masuk ke dalam tubuhnya. Setiap calon inang mendapatkan mimpi itu dan mereka harus menyentuhnya, harus menerima jika beliau menggunakan tubuh mereka. Jika saat itu Antonio tidak menyentuhnya dan pergi dari sana, mungkin dia tidak akan mengalami ini.

“Seharusnya begitu dia menyentuh burung kakak tua itu, padang rumput gersang itu akan berubah menjadi subur. Begitu indah hingga dia tidak akan mau pergi dari sana; itu ilusi yang digunakan beliau untuk menahan inangnya.”

Bian bergidik, tidak menyangka hal sesederhana mimpi ternyata dapat menjadi sebuah awal dari huru-hara. Pematik kejadian yang jauh lebih serius lagi. Dia akan mengingatnya; jika dia bermimpi ada dua burung kakak tua, dia akan berbalik lalu kabur dari sana.

Dan semuanya berakhir damai.

Romo Herry memberkati sebuah kalung perak yang nantinya akan digunakan sebagai kalung untuk mirah yang didapatkan Antonio. Dia juga memberikan air yang sudah diberkati untuk diminum Bian serta Jin, memberkati rumah serta kamar Antonio—semuanya demi mencegah perempuan itu kembali. Dia meminta Jin membeli salib untuk diletakkan di kamar Antonio, juga memberikannya sebuah rosario baru.

“Jiwanya sudah berlubang karena sempat dihuni makhluk sekuat itu, jadi dia akan lebih lemah pada roh-roh halus.” Romo Herry memperingatkan dan Jin mengangguk, dia akan menambahkan berkat pada kalung perak yang nantinya akan melindungi Antonio.

Mirah di kantung kulit itu terasa berdenyut hingga Bian begitu ngeri saat menerimanya dari Jin yang memintanya mengalungkan benda itu ke Antonio. Dan kekasihnya mendesah saat benda itu menempel di jantungnya, membuat organ itu berdetak sedikit lebih hangat dari biasanya.

Bian mengamati Antonio beberapa menit setelah mirah itu berdenyut di atas jantungnya dan senang saat menyadari kekasihnya tidur semakin lelap dan tenang.

“Hidupnya berdebar, lebih kuat sekarang.” Romo Herry mengangguk. “Sudah selesai.” Dia mendesah, menepuk bahu Bian hangat dan sayang. Dia tersenyum ramah. “Semuanya sudah selesai.”

Sekarang Antonio hanya tidur, nyenyak sekali—kelelahan sementara Jin mengatakan Hosein akan tiba beberapa jam lagi dan dia akan mengantar Romo Herry kembali ke Bandung.

“Aku akan kembali beberapa jam lagi, Hosein sudah naik taksi. Tidak akan lama lagi.” Jin meremas bahunya, menatap adiknya yang lelap dengan pandangan takzim yang aneh. “Puji Tuhan, semuanya selesai.”

Bian tertawa, serak. “Puji Tuhan.” Balasnya. Senang semuanya sudah berakhir. “Dia bisa mandi air dingin, 'kan, sekarang?” Tanyanya bergurau saat Jin beranjak, kakak Antonio terkekeh.

“Sesering apa pun yang dia inginkan.” Jin meraih kunci mobil. “Aku akan sekalian membeli salib baru untuk kamar Nio, juga memesan liontin untuk mirahnya juga bandul salib yang akan dikenakan bersama mirah itu. Aku tidak mau adikku mondar-mandir dengan kalung tali kulit seperti Tarzan begitu.” Dia menatap Antonio yang terbaring di ranjang.

“Jaga dia sebentar, ya, Bian? Aku melepaskan King, dia akan masuk sebentar lagi. King akan memberi tahumu jika ada yang datang.”

Bian mengangguk, “Hati-hati, Kak!”

Rumah kemudian hening setelah mobil Jin melaju pergi dan Romo Herry melambai hangat padanya. Semuanya selesai, semuanya damai. Keluarga itu dengan tulus meminta maaf atas kejadian yang terjadi dan Bian senang karena mereka tidak memutuskan bahwa mereka akan memenuhi kemauan junjungan mereka seperti apa yang ditakutkannya.

Mungkin fakta bahwa Antonio sama sekali tidak mau dan terus melawan selama dua tahun inimenjadi salah satu faktor kenapa mereka memutuskan untuk melepaskan Antonio dari jeratannya. Mungkin menawarkan penggantinya atau apa karena setahu Bian, makhluk-makhluk seperti perempuan itu tidak akan puas jika tidak mendapatkan gantinya.

Tapi itu bukan lagi urusan Bian apa yang digunakan keluarga itu untuk menukar Antonio dari cengkeraman si perempuan sinting. Itu konsekuensi mereka karena tidak bisa 'mendidik' junjungan mereka bahwa tidak baik mengambil apa yang bukan miliknya.

Bian membelai wajah kekasihnya yang hangat, mendengarkan deru napas lembutnya saat King mendengus memasuki ruangan. Dia mengendus udara sebelum mendengking lirih dan menghampiri Antonio, berbaring di kaki ranjang dengan dagu ditumpukan di lantai—menatap Antonio. Nampaknya sekarang menyadari bahwa Antonio sudah tidak lagi 'ketempelan' hal aneh.

“Kau rindu dia, ya?” Bian terkekeh, membelai King dengan tangannya dan menepuk-nepuk mulutnya dengan sayang. “Dia sekarang sudah sehat.” Dia tersenyum lebar, senang Antonio akhirnya selamat.

“BIAN! NIO?!”

Bian terkekeh, “Here, Kak!” Dia menoleh ke pintu dan menemukan Hosein dengan pakaian rapi menenteng kantung plastik yang beraroma tajam makanan—Bian mendesah, dia nyaris bisa membunuh siapa saja demi sepotong ayam goreng tepung sekarang.

“Hei,” sapa Hosein nampak panik, dia meletakkan kantung plastik di meja makan seraya melepaskan syalnya, beranjak ke kamar Antonio. “Oh, my poor baby,” desahnya menyingkirkan King yang menggonggong marah dari sisi Bian lalu berlutut di sana, menepuk lutut Antonio dan meremasnya.

“Apa yang mereka lakukan?” Tanyanya terengah, matanya tidak lepas dari wajah Antonio yang terlelap—nyenyak sekali hingga Bian takut dia pingsan kelelahan. “Mereka menyakiti bayiku??” Desaknya.

“Tidak juga,” Bian menjawab lalu meringis saat teringat teriakan dan tangisan Antonio selama prosesinya—tapi Hosein tidak perlu tahu, dia pasti akan panik atau menelepon pusat nuklir Rusia untuk mengebom rumah itu. “Dia sudah baik-baik saja sekarang. Dia memberikan Nio jimat untuk menangkalnya, juga meminta Kak Jin menambah salib di kamar Nio,”

Hosein menatap Antonio dengan penuh kasih, nyaris merasakan langsung sakit yang dirasakan Antonio. “Kau sudah makan, Sayang?” Tanyanya pada Bian. “Makanlah sesuatu. Aku membelikanmu Burger King, kuharap kau suka?”

Bian mengangguk, dia nyaris mati karena kelaparan. Maka dia bangkit, menatap Antonio sekali lagi sebelum beranjak ke meja makan. Membongkar kantung plastik dan meraih sebuah Whooper dari dalam sana saat Hosein menggiring King keluar dari kamar Antonio dan menutup pintunya.

“Kita biarkan dia tidur.” Dia mendesah, melepaskan long coat-nya lalu mendudukkan dirinya di sofa. “Syukurlah aku bisa mendapatkan tiket terakhir penerbangan ke Jakarta.”

Bian membenamkan giginya ke roti empuk makanannya dan mengigitnya, nyaris menangis saat rasa makanan meledak di dalam mulutnya. Dia mendesah, menyuap lebih banyak lagi hingga Hosein terkekeh.

“Ada banyak.” Katanya berdiri, mengeluarkan lebih banyak makanan yang membuat Bian mendesah senang. “Makanlah yang banyak, jika kau mau makanan lain pesan saja. Aku yang bayar.” Dia mengusap rambut Bian sayang. “Kau sudah berjuang hari ini.”

Bian nyaris tidak menyadari makanannya saat dia menjejalkan burger kedua ke mulutnya, mengunyah dengan cepat seperti kesetanan sementara Hosein menyeduh teh setelah perjalanan jauh yang terburu-buru. Perutnya berdendang ceria, menyanyikan lagu bahagia saat makanan memenuhi rongga lambungnya. Bian meraih sepotong ayam; masih merasa cukup lapar untuk makan, sudah akan menyuapnya saat suara erangan terdengar.

Dia berhenti makan, Hosein langsung berlari dari dapur ke kamar Antonio. Dia menyentakkan pintunya terbuka. “Hei,” sapanya lembut—nada paling lembut yang pernah Bian dengar. “Kau lapar, Sayang?”

“Kak Hose?”

Bian meletakkan ayamnya, bergegas mengelap tangannya saat mendengar suara Antonio yang lemah dan parau.

“Bian?”

“Hadir, hadir!” Bian menyambar tisu handuk di sisi wastafel dan menghambur ke kamar Antonio sambil mengelap mulutnya. Dia meluncur masuk, melihat kekasihnya sedang menatapnya. “Aku sedang makan, maaf. Kau mau makan?”

Antonio menggeleng, “Tidak lapar.” Katanya lalu bersendawa kecil. “Aku lelah sekali.” Dia mendesah panjang.

Hosein duduk di kaki ranjang, memijat kakinya sayang. “Kau mau kubuatkan teh? Susu?” Tawarnya. “Kakakmu sedang ke Bandung, mengantar Romo Herry lalu membeli beberapa hal untuk kamarmu.”

Antonio mengangguk, “Aku bebas?” Tanyanya pada Bian yang duduk di sisinya. Antonio membawa kepalanya berbaring di pangkuan Bian, menyusupkan kepalanya di sana dengan nyaman. “Aku bebas, 'kan?”

Bian tertawa kecil, “Bagaimana jika kau yang beri tahu aku.” Dia tersenyum saat kekasihnya mendongak, menatapnya penuh kasih hingga jika saja tidak ada Hosein di sana, Bian pasti merunduk dan menciumnya—begitu bahagia.

“Tidurmu nyenyak?”

Antonio tersenyum, meraih tangan Bian dan mengecup denyut nadinya dengan intim hingga Bian merona; tidak berani melirik Hosein. “Tidak pernah senyenyak itu selama dua tahun.”

Cukup.

Itu cukup bagi Bian; semuanya selamat.

*