C'est un Secret 264

ps. unedited. sorry. im tired x


“Halo, Arfabian! Akhirnya aku bertemu denganmu.”

Bian mendongak dan melihat dua orang memasuki rumah. Menyadari salah satunya adalah Hosein, orang yang mereka nantikan mendarat karena penerbangannya ditunda dari Singapura.

Bian melirik Antonio yang berbaring di sofa dengan kaki dinaikkan ke dinding, mengunyah cemilan dan mengabaikan sepenuhnya orang-orang di sekitarnya. Sebelumnya, Bian duduk di lantai, kepala bersandar di dada Antonio dan disuapi cemilan.

Semenit sebelum Jin dan Hosein datang dengan banyak belanjaan yang beraroma seperti daging dalam kantung-kantung belanja yang dijinjing Jin. Hosein nampak seperti terakhir kali Bian melihatnya di IKEA; rapi, menarik dan dandy.

Dia membawa koper kecil dan kantung belanja sebelum menghampiri Bian dengan senyuman lebar berbentuk hati yang menular. Bian membalas senyumannya dengan sama hangatnya, berdiri dari posisinya di dada Antonio lalu menyalami Hosein yang mengubah jabat tangan mereka menjadi pelukan hangat.

Dia beraroma seperti parfum mahal dan pengharum kabin pesawat.

“Penerbangannya menyenangkan?” Tanya Bian sopan setelah Hosein menguraikan pelukan mereka.

“Seperti biasa.” Hosein tersenyum lebar, “Kau sudah makan siang?” Tanyanya dengan logat Singapura kental yang membuat Bian tersenyum.

“Tentu saja belum. Tujuannya, 'kan, itu.” Antonio yang menjawab, mendongak dari posisinya di sofa—yang berpotensi membuat lehernya terkilir.

“Baiklah, Jagoan.” Jin menjawab. “Bantu aku siapkan pemanggang di luar sementara aku membereskan dagingnya dan Hosein membersihkan diri.” Dia berkacak pinggang di sisi meja makan, dengan kantung belanja penuh yang terbuka.

Bian memukul kaki Antonio, “Ayo!” Serunya dan Antonio bersungut-sungut saat akhirnya berdiri lalu menyusul Bian ke halaman belakang rumah mereka.

Di halaman, tadi pagi Antonio sudah mengeluarkan pemanggang mereka dan mencuci debu dari permukaannya sementara Bian menjemur potongan-potongan kayu yang lembab karena terlalu lama disimpan.

Mereka juga punya sekantung arang yang siap digunakan. Antonio dengan celana pendek dan kaus tanpa lengan longgarnya (serta belum mandi sejak baru bangun), beranjak untuk menyusun alat panggang mereka dan Bian di belakangnya membereskan potongan-potongan kayu yang ternyata masih terlalu lembab untuk digunakan.

“Nyoy, kayunya masih basah.” Bian melambaikan sepotong kayu ke arah Antonio yang menguap lebar; rambutnya mencuat-cuat seperti burung kakak tua.

“Ya sudah, kita pakai arang saja.” Antonio mengedikkan dagunya ke kantung arang di dekatnya.

Bian membiarkan kayu-kayu itu tetap di halaman sebelum menghampiri plastik arang dan membuat bulldog Jin menggonggong senang—berpikir Bian akan mengajaknya bermain.

Bian terkekeh, “Setelah ini kita jalan-jalan, oke?” Katanya, mengulurkan tangan ke dalam kandang anjing itu lalu menepuk hidungnya.

Antonio mengamatinya. “Jika bukan kau, tangannya pasti sudah putus dicaplok.” Dia terkekeh saat Bian membiarkan telapak tangannya dijilati dengan penuh semangat.

“Dia bahkan tidak suka padaku.” Gerutu Antonio dan Buan terkekeh.

“Dia baik, kok.” Bian menatap bulldog Jin yang terengah dengan lidah terjulur. “Dia kesepian dan kebosanan di dalam sana.”

Antonio memasang pemanggang dan menuang sebungkus arang ke dalam mangkuknya. “Kami pernah membiarkannya berkeliaran dan berakhir ditegur Pak RT karena dia menggonggongi semua orang. Jadi Kak Jin mengurungnya.”

Seolah paham sedang dibicarakan, bulldog itu mendengking lirih—menatap Bian dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca.

Semenjak Bian tiba semalam, King, bulldog Jin sudah sangat menyukainya. Bian hanya mendapatkan gonggongan sambutan sekitar 2 menit sebelum buntutnya mengibas ceria dan Bian dibebaskan untuk menyentuhnya.

“King suka padamu??” Jin berseru kaget saat tiba membawa mangkuk makanan anjingnya yang terisi nasi dan cincangan kepala dan hati ayam—kesukaan King.

Bian yang berjongkok di depan kandang King tersenyum lebar. “Kurasa begitu. Ya.” Sahutnya, senang.

“Dia bahkan tidak suka Nio.” Kata Jin geli saat tiba di sisinya, meletakkan mangkuk di kaki Bian.

“Sungguh?” Bian mendongak, tertawa lirih karena informasi itu. Dia melirik makanan di kakinya. “Apa yang Kakak berikan?”

Jin berjongkok di sisinya, “Cincangan hati dan kepala ayam dengan sedikit sawi hijau. Juga kaldu rebusannya.” Dia mendorong mangkuk berat itu ke Bian. “Coba beri makan dia.”

Bian menatap King yang duduk dengan ceria di kandangnya, lidahnya terjulur dan mengibaskan ekor buntungnya dengan ceria—menyalak senang.

“Dia tidak akan menggigit siapa pun yang sudah dijilati tangannya; itu tanda dia menerimamu.” Jin menyemangati. “Itu berarti kau teman.”

Akhirnya Bian meraih mangkuk itu, menyelipkannya ke pintu kandang yang dibuka.

King menyalak, berterima kasih sebelum membenamkan wajahnya ke mangkuk—makan dengan rakus.

Bian akhirnya meminta izin pada Jin untuk memberangus King dan mengajaknya jalan-jalan nanti sore. Jin tidak melihat hal yang salah dengan itu sehingga mengizinkannya.

“Nanti kita jalan-jalan, oke?” Bian mengulurkan tangan dan menepuk pipi King yang terengah lalu menjilat tangannya.

Don't forget to wash your hand before touching the food, Arfabian.”

Bian menoleh, menemukan Hosein menghampiri mereka dengan nampan penuh daging yang nampak lezat; ada potongan bawang bombay merah, bawang putih, paprika, wortel dan lain-lain.

Dia tertawa, bangkit dari posisinya dan mencuci tangannya di kran yang ada di sudut kandang—biasa digunakan Jin untuk memasang selang memandikan King di hari liburnya.

“Kau suka daging?” Tanya Hosein dengan bahasa Inggris aneh yang awalnya sulit dipahami Bian namun lama kelamaan dia menyadari pola kalimatnya dan memahaminya.

“Suka.” Bian membantunya menjejerkan makanan di atas meja kecil sementara Antonio meniup bara arang mereka agar menyala.

“Nio suka sekali.” Hosein mengeluarkan tusuk sate dan Bian mulai menusuk potongan daging dengan bawang dan paprika untuk dipanggang.

Jin keluar dengan bumbu bakar mereka. “Apinya sudah siap?” Tanyanya pada Antonio yang menguap lebar, namun bara berkobar di hadapannya.

“Sudah.” Sahutnya lalu membiarkan api meredup sebelum memasang penutup panggangan.

Bian membantu Hosein membawa daging di dalam baskom-baskom besar yang semalam dimarinasi Bian dan Jin mendekat untuk dipanggang bersana. Jin mengeluarkan beberapa botol bir, membuka tutupnya dan menyerahkannya pada masing-masing orang di sekitarnya.

Bian senang dengan aroma daging dipanggang, tawa dan obrolan ramah di sekitarnya, bir dingin dan cuaca cerah; dia merasa bahagia dan hangat.

Antonio menatapnya, meneguk birnya sebelum tersenyum. “Kau senang?”

Bian membalik daging yang mendesis di pemanggang sementara Jin dan Hosein membawa kentang-kentang mini panggang yang dengan bumbu Italia sebagai teman makan mereka.

“Senang sekali.” Bian membalas senyuman lebar Antonio yang menjulurkan tangan lalu menepuk puncak kepalanya sayang.

Antonio meraih setangkai BBQ skewer yang matang dan mulai mengunyahnya, menawarkan sisanya pada Bian yang menerimanya; dia menggigit daging dengan gigi depannya lalu menariknya lepas dari tusuk sate sebelum mengunyahnya.

Membiarkan jus alami daging dan bumbu yang meresap meleleh di lidahnya. Dia mendecap-decap, senang.

“Bumbunya lezat, Kak. Kita berhasil!” Puji Bian tulus, menerima daging lain yang diangsurkan Antonio ke mulutnya.

“Trims kepada Youtube.” Sahut Jin tertawa serak, meneguk birnya dan Bian balas tertawa karena mereka semalaman menonton video bumbu marinasi daging seperti dua penyihir yang akan membuat ramuan cinta.

Antonio membuka mulutnya saat Bian membuka mulutnya, meniru gerakannya dengan menggemaskan dan tersenyum senang hingga pipinya naik saat Bian menerima makanan darinya.

Bian mendapati hal itu membuatnya tersentuh dan senang. Dia mengunyah daging dari Antonio sementara pemuda itu kembali ke pemanggang.

Dia bersiul senang seraya meneguk birnya. Dia nampak rileks dengan satu tangan mengenggam botol bir dan tangan lainnya membolak-balik daging di pemanggang. Aroma daging lezat menempel di tubuh mereka; baju, kulit dan rambut.

Hosein banyak bicara tentang pekerjaannya. Lalu bagaimana dia bertemu dengan Jin saat menggunakan jasa kantor Jin untuk salah satu proyeknya di Indonesia lalu memutuskan untuk berkencan.

Dia juga menceritakan (dengan berbisik) bagaimana dia mengetahui keadaan Antonio dan usaha-usaha apa saja yang sudah mereka lakukan untuk menyembuhkan Antonio.

“Memangnya,” mulai Bian perlahan dan berusaha menahan suaranya rendah saat bertanya. “Apa yang mereka lakukan pada Nio di Singapura?”

Hosein menghela napasnya lalu menatap Bian dengan tatapan sedih yang membuat Bian bergidik. “You have no idea.” Dia melirik Antonio. “I feel bad he has to go through that shits over and over again.”

“Itulah kenapa,” Hosein menepuk bahu Bian akrab dan meremasnya hangat. “Nio membutuhkanmu di sana.”

Bian menatap Hosein lalu melirik Antonio yang sedang menjejalkan dua potong kentang ke mulutnya—mengunyah seperti seekor tupai dengan pipi menggelembung.

“Baiklah.” Katanya, setengah takut pada apa yang menantinya di Singapura.

“Tenang saja,” Hosein tersenyum—menguatkan. “That shall pass. He'll be all fine again.”

Bian mengangguk sebelum bergegas membawa daging ke Antonio yang memanggilnya.

Bian merasa dia sebentar lagi harus mengecek kolesterolnya karena banyak sekali daging yang dimakannya sambil memanggang bersama Antonio yang tidak berhenti menyuapinya makanan.

Akhirnya mereka berempat duduk di teras, kekenyangan dengan sisa daging yang akan dimasak keesokan harinya.

“Kak kau ingin bermain game tidak?” Tanya Antonio, membaringkan kepalanya di pangkuan Bian yang sedang meneguk entah botol birnya yang keberapa.

“Aku tidak suka game,” gerutu Bian mulai sedikit mabuk karena birnya. “Aku tidak suka kalah.”

Hosein tertawa. “Cute,” komentarnya lalu bersendawa kecil dan Bian tertawa.

“Satu game saja.” Desak Antonio, dengan keras kepala dan Bian terkekeh kecil. “Oke? Ya?? Please??”

Bian menandaskan isi botolnya. “Baiklah, Anak Nakal. Satu game.” Dia mendesah kekenyangan. “Sepertinya aku tidak bisa membawa King jalan-jalan—perutku penuh.”

Antonio bangkit dari pangkuannya, mengabaikan keluhan Bian tentang perutnya lalu berlari ke dalam rumah dan kembali dengan beberapa amplop di tangannya.

Hosein mengamati dengan tertarik sementara Jin pergi menerima telepon penting dari kliennya. Hosein duduk beberapa meter dari mereka, masih meneguk birnya dengan tenang—belum nampak mabuk.

Antonio menjejerkan keenam amplop itu di depan Bian dan tersenyum lebar. “Baiklah.” Katanya.

Bian menatap amplop-amplop di hadapannya dengan bingung. “Isinya uang?”

Antonio memutar bola matanya sebal, “Tentu saja bukan, Bodoh.” Katanya dan Bian tertawa serak, dia lalu berdecak. “Ayo, pilih satu amplop.”

Dia membentuk amplop menjadi kipas di tangannya, membiarkan Bian memilih salah satu amplop—yang mana saja.

Bian menatap amplop putih yang sama persis di hadapannya lalu menunjuk asal. “Ini.” Katanya, meneguk birnya.

Antonio meraih amplop itu dan menyingkirkannya. “Baiklah. Aku akan menyimpan amplop ini untukku.” Katanya, sekarang nampak bersemangat.

Is this kind of cheap magic you learn on Youtube, Nio?” Tanya Hosein dari jauh, tertawa terhibur.

Shut up, Kak!” Kata Nio dan Hosein terbahak serak.

“Oke,” Bian tersenyum lebar—seberapa banyak alkohol dan seberapa banyak kebahagiaan murni karena berada di sekitar Antonio berperan pada perasaan penuh adrenalin bodoh ini?

“Lalu apa yang harus kulakukan pada amplop lainnya?” Tanyanya.

Antonio tersenyum lebar—seperti anak kecil yang terlalu bersemangat hingga hati Bian tersengat rasa sayang yang begitu hebat.

Dia mengeluarkan 2 post-it dari amplop lain lalu menempelkannya di lantai di depan Bian dengan jarak satu post-it dari satu sama lain dengan nomor di atasnya:

1. Hey, Gorgeous :)

Dan,

3. But,

Dia kemudian menatap Bian yang mengerahkan sisa kewarasannya karena terlalu banyak minum untuk memprosesnya.

“Di dalamnya ada beberapa post-it.” Dia melambaikan amplop di tangannya pada Bian. “Tugasmu adalah untuk menjejerkan mereka sesuai dengan nomor yang tertera di atasnya untuk melengkapi dua post-it ini.

“Amplop terakhir harusnya menjadi kata terakhir.” Dia meletakkan amplop yang dipegangnya di atas kepalanya.

Bian terlalu mabuk untuk merasa gugup atau apa. Dia meraih amplop pertama, membukanya dan menemukan angka 4.

Jantungnya berdebar; apakah ini seperti yang dipikirkannya?

Dia kemudian membongkar semua amplop dengan penasaran sementara Antonio menatapnya sambil mengigit bibir bawahnya—gugup.

Hosein sekarang mendekat, penasaran sambil meneguk birnya. Berdiri beberapa meter di belakang Bian, mengintip apa yang adik-adiknya kerjakan.

Bian menyadari isi post-it yang ada di dalam amplop itu dan menyadari apa yang sedang dilakukan Antonio.

Begitu pula Hosein.

“Oh.” Katanya serak, geli. “No. Sorry. I'm intruding.” Hosein terkekeh lalu berbalik dan menjauh.

Good luck, Boy!” Dia melambaikan jempolnya.

Get lost, Kak!” Balas Antonio dan Hosein terbahak-bahak.

Bian mengulum senyuman lebarnya dan di hadapannya, Antonio sedang tersenyum lebat penuh semangat. Dia meraih semua post-it di sekitarnya lalu mulai menyusunnya:

1. Hey, Gorgeous :)

Dia menempelkan post-it dengan nomor 2 di sebelahnya:

2. I know this probably not my best try.

3. But,

4. I want you to know that you make me so happy everyday, effortlessly.

Bian mulai tersenyum lebar, hingga pipinya nyeri dan hatinya berdebar begitu kuat.

Seharusnya dia tahu Antonio tidak akan hanya membawanya ke restoran mewah dan mengajaknya pacaran begitu saja.

Seperti orang-orang kebanyakan. Ini Antonio Abhirama, dia tidak akan suka jadi seperti orang kebanyakan.

Dia pasti melakukan sesuatu namun Bian tidak tahu hal itu akan semenggemaskan ini.

5. And you light up my whole life, you cheer me up when I'm down. You pick me up when I'm on my knees.

6. The light of my life, the sun in my sky, the rainbow after the rain, the everything I've ever wished for,

Bian tertawa, mulai gemetar oleh adrenalin dan betapa menggemaskannya cara yang dipilih Antonio untuk meresmikan hubungan mereka.

“Kau siap?” Tanya Antonio, mengulum senyuman superiornya yang begitu mendebarkan.

Bian mulai pening oleh adrenalin dan rasa kebahagiaan sinting yang nyaris membuat kepalanya lepas dari lehernya.

“Ya. Bring it on!” Katanya terlalu bersemangat.

Antonio mengeluarkan amplop yang tadi dipilih Bian asal-asalan dan membuka isinya. Bian tersenyum lebar, sekarang rahang dan geliginya sakit karena digertakkan menahan gemas.

Dia meletakkan post-it terakhir di sisi nomor 6:

7. Would you be my boyfriend?♡

*