C'est un Secret 227
“Trims, Nio.”
Nio tersenyum, menyandarkan lengannya di roda kemudi sementara Arfabian membereskan barang-barangnya di kursi penumpang.
Tadi mereka juga mampir ke apartemen Bobby untuk menitipkan makanan yang dibeli Arfabian untuknya. Nio sebenarnya ingin bertemu muka, ingin berkenalan secara langsung namun saat Arfabian meneleponnya, panggilannya dialihkan dan Bobby mengiriminya pesan bahwa dia sedang ada Zoom meeting sehingga mereka menitipkan makanan di keamanan sebelum pulang.
Mereka tidak terlalu mengeksplor Bandung kemarin, hanya makan dan beristirahat. Berkeliling dengan mobil sementara Afrabian memberi tahu Nio semua tempat kenangan masa kecilnya di sana—sekolahnya, tempat nongkrong-nya dan juga jajanan-jajanan kesukaannya.
Tempat-tempat wisata penuh, Nio yang hanya ingin lewat di Jalan Braga pun harus mengurungkan niatnya. Jadi mereka menjauhi pusat-pusat keramaian, mengemudi perlahan di pinggiran Bandung menikmati suasana.
“Kembali kasih.” Sahut Nio ceria, “Sudah semuanya?”
Arfabian mengangguk, meraih bunga yang tadi dibelikan Nio saat mereka melewati toko bunga di jalan. Dia langsung berhenti dan turun tanpa mengatakan apa pun pada Arfabian kembali dengan dua puluh tangkai mawar dengan wajah merona.
“Aku tadi mencari bunga freesia tapi mereka tidak punya,” katanya dan Arfabian menerima bunganya dengan wajah bingung. “Aku juga tidak tahu apakah kau suka bunga atau tidak, tapi aku ingin membelikan sesuatu yang indah dan harum.”
Arfabian tertawa kecil. “Aku tidak terlalu suka bunga, tapi tidak apa-apa.” Dia memeluk bunganya di dada, nampak begitu indah hingga hati Nio nyeri bagaimana dua puluh mawar itu membuat Arfabian nampak jauh lebih menakjubkan.
Dia seperti peri—tidak nyata. Nio selalu meraih tangannya, meremasnya lembut hanya agar dia yakin Arfabian tidak akan lenyap dari hadapannya.
“Kenapa freesia?” Tanya Arfabian saat Nio menyelipkan dirinya masuk ke kursi pengemudi setelah membeli bunganya. Arfabian memangku buketnya—Nio hanya membungkusnya dengan kertas cokelat dan pita, tidak mengizinkan florist-nya untuk memberikan ornamen-ornamen lain.
Nio menggaruk pelipisnya, menaikkan kacamata hitamnya sebelum berdeham. “Karena freesia adalah bahasa bunga untuk 'percaya'.” Dia menatap Arfabian yang mengerjap, kaget.
“Aku ingin kau 'percaya'. Aku ingin kita saling 'percaya'.” Dia menginjak gas dengan lembut, bergabung kembali dengan lalu lintas sementara aroma semerbak lembut mawar menghambur di udara kabin mobil.
“Walaupun benda itu begitu mahal setelah aku merusaknya, aku ingin kau percaya bahwa aku tidak akan melakukan hal yang sama dua kali.” Nio melirik Arfabian yang sekarang menunduk menatap bunga di pangkuannya.
Bukan hal terbaik yang pernah dilakukan Nio. Dia berdebat dalam hati sepanjang perjalanan tentang haruskah dia membelikan Arfabian bunga? Atau benda itu nampak terlalu feminim untuknya?
Namun dia lega, Arfabian mengapresiasi tindakannya.
“Tidak ada tenggat waktu!” Nio bergegas menambahkan saat suasana di dalam mobil berubah menjadi tidak enak. “Aku akan terus berusaha memperbaikinya, kau boleh berusaha untuk percaya padaku lagi—tidak peduli berapa lama, aku akan menantinya.”
Arfabian menatapnya, mengerjap. “Jika kau akhirnya bosan?”
Nio mengedikkan bahu, “Aku tidak akan berhenti berusaha sampai aku mendapatkan apa yang kuinginkan, Kak.” Dia kemudian berhenti di depan lampu merah yang panas sebelum mengulurkan tangan dan meraih tangan Arfabian yang hangat.
“Jangan berpikir serendah itu tentangku.” Dia tersenyum. “Aku ini blak-blakan, aku akan mengatakan padamu apa yang aku sukai dan tidak kusukai begitu saja. Kau tidak perlu banyak menebakku.”
Arfabian diam dan Nio memutuskan untuk berhenti mendesaknya. Mereka kembali meluncur di jalanan Bandung—bernostalgia tentang masa kecil dan remaja Arfabian.
“Kau mau mampir?” Tanya Arfabian di masa sekarang.
Nio menatapnya, “Kau ingin aku mampir?”
Arfabian membalas tatapannya. “Mungkin.”
“Aku tidak terima mungkin: ya atau tidak, Kak.”
Arfabian tersenyum. “Baiklah. Ya.” Dia menjawab lebih tegas. “Aku ingin kau mampir sebentar.”
Nio terkekeh, “Oke.” Dia kemudian mematikan mesin mobil Danny, menarik rem tangannya dan melepas sabuk pengamannya—mereka tiba di Jakarta kembali sebelum malam terbit.
Arfabian ada bimbingan besok pagi dan Nio tidak ingin membuatnya kelelahan sehingga mereka kembali lebih awal ke Jakarta setelah Nio berhasil membuat Arfabian berjanji akan mengajaknya berjalan-jalan di Bandung suatu hari nanti.
Nio mengunci mobilnya sebelum mengikuti Arfabian ke dalam kosan. Arfabian membawa bunganya di satu tangan dan tangannya yang lain membuka kunci kosannya, dia mempersilakan Nio memasuki kamarnya.
Nio melepas sepatu dan kaus kakinya sebelum memasuki kamar Arfabian yang rapi dan beraroma lembut seperti aroma tubuhnya. Nio mendudukkan diri di lantai yang dilapisi karpet lembut sementara Arfabian meraih gelas tinggi, mengisinya dengan air untuk meletakkan bungannya.
Nio mengamati saat Arfabian meletakkan gelas itu di meja belajarnya, menempel ke dinding agar tidak terguling karena berat bunga yang dibawanya. Kemudian Arfabian pamit ke dalam kamar mandi, keluar dengan mengenakan pakaian rumah dengan wajah basah dan air yang menetes dari ujung-ujung rambutnya.
Dia nampak luar biasa.
Nio menepuk tempat kosong di sisinya saat Arfabian mengeringkan wajah dan tangannya. Arfabian duduk di sisinya, mendesah saat meluruskan kakinya. Ujung jemari kaki mereka bersentuhan.
“Kau lelah?” Tanya Nio lembut.
“Lumayan.” Arfabian terkekeh lirih. “Tapi aku senang karena bisa makan cilok kesukaanku.” Dia menoleh, tersenyum pada Nio yang hatinya terasa diremas-remas melihat senyumannya.
“Jadi, terima kasih.” Tambahnya, tersenyum semakin lebar hingga pipinya nampak begitu menggemaskan dan kerut-kerut serupa kipas terbit di sudut matanya.
Dia nampak sangat menyenangkan; seperti secangkir cokelat pekat di musim hujan, seperti aroma rumput basah yang baru dipotong, seperti sinar matahari setelah hujan, seperti seekor anak anjing yang menyalak ceria, seperti kuncup bunga yang merekah. Arfabian adalah segala hal kenyamanan di dunia ini; segala hal yang Nio sukai. Mendesah berat, dia tidak sudi lagi menahannya. Maka dia mengulurkan tangannya untuk meraih tengkuk Arfabian.
Dia menyentuh Arfabian dengan lembut, seolah sedang menyentuh kelopak lotus yang rapuh di tangannya, takut akan meremukkan Arfabian dalam sentuhannya. Mereka berpandangan dan jantung Nio berdebar—begitu kuat sehingga dia malu Arfabian mungkin mendengarnya.
“Kau indah sekali,” bisik Nio lembut. “Aku boleh menciummu?”
Arfabian bisa saja menonjok Nio sekarang, dia sudah siap. Namun alih-alih, pemuda itu mengangguk, perlahan dan kikuk dengan rona merah muda di wajahnya lalu memejamkan matanya.
Maka Nio merunduk, melabuhkan bibirnya di bibir Arfabian yang terkuak.
Bian tidak pernah dicium.
Dan jelas belum pernah dicium seperti bagaimana Antonio menciumnya—bibirnya terasa lembut dan basah di bibirnya, menempel sempurna seolah diciptakan untuk satu sama lain.
Aroma Antonio begitu melekat di tubuhnya setelah seharian bersama—menempel di setiap serat pakaiannya dan di telapak tangannya. Sekarang dengan wajahnya menempel di wajah Bian, aromanya jauh lebih menakjubkan. Mengisi otak dan paru-parunya penuh-penuh hingga dia sejenak pusing.
Lidah Antonio membelai bibir bawahnya, Bian meresponsnya dengan membuka mulutnya sehingga lidahnya menyelip masuk. Lembut dan begitu penuh perhatian; jemari Antonio di tengkuknya terasa hangat dan memanas. Dia menyentuh Bian dengan begitu lembut—selalu penuh kehati-hatian seolah Bian adalah benda pecah-belah yang harus diperlakukan dengan perhatian ekstra.
Diistimewakan secara emosi terasa asing bagi Bian. Dia belum pernah diperlakuan secara halus dan lembut, dikasihi dan disayangi seolah dia adalah benda paling berharga selain dari keluarganya. Antonio adalah segala hal asing yang menakjubkan bagi Bian.
Hal-hal eksotis yang Bian ingin terjuni. Dia nampak lembut, nyaman sekaligus mendebarkan. Sikapnya di sekitar Bian, caranya bicara, bagaimana dia selalu membuat Bian tertawa begitu saja tanpa benar-benar berusaha, bagaimana dia dengan keras kepalanya tetap berada di sisi Bian tidak peduli apa pun yang Bian lakukan untuk mengusirnya.
“Kau segala hal yang kusukai di dunia ini.” Bisik Antonio parau saat bibir mereka berpisah, menempelkan keningnya di kening Bian dan napasnya menderu, membelai wajah Bian dengan lembut.
Dia ingin mengatakan hal yang sama, namun terlalu takut untuk melakukannya. Takut jika dia membuka dirinya, dia akan terjebak dan tenggelam terus. Dia memilih diam, membiarkan Antonio mengecup setiap inci wajahnya dengan pemujaan yang membuat hatinya berdesir.
Antonio mencium pipinya, pelipisnya, keningnya, kelopak matanya, ujung hidungnya, puncak kepalanya—dia mendaratkan ciuman di semua tempat. Menyentuh Bian dengan jemarinya yang hangat.
“Aku sayang sekali padamu,” bisiknya, berbaring di sisi Bian dengan satu tangannya menjadi bantalan kepala Bian dan tangan lainnya memeluk pinggangnya hangat.
Bian tersenyum. “Aku juga.” Bisiknya.
“Aku boleh pulang sekarang?” Tanya Antonio dan tertawa saat Bian mengeratkan pelukannya, melarangnya pergi.
Mereka berbaring di ranjang, bersisian menonton televisi sejak tadi setelah menyelesaikan ciuman mereka. Antonio duduk bersandar di kepala ranjang dengan Bian bersandar di bahunya sebelum mereka akhirnya berbaring berdampingan—aroma tubuh Antonio memenuhi paru-paru Bian, membuatnya mabuk.
Bian ingin di posisi ini lebih lama lagi, merasakan kedua lengan Antonio di tubuhnya dan napasnya di rambutnya. Dia ingin memiliki Antonio untuk dirinya sendiri tanpa rasa takut yang mencengkeram bagian belakang kepalanya tiap kali dia memikirkannya.
Tiap kali dia memikirkan betapa dia sangat menyukai Antonio. Takut yang membuatnya terserang vertigo ringan. Takut jika suatu hari dia membuka dirinya dan membiarkan Antonio masuk, pemuda itu akan meninggalkannya, begitu saja.
Tangan Antonio membelai bagian lengan atasnya dengan lembut—naik turun dan membentuk pola-pola melingkar yang menenangkan seraya berdendang lembut di bawah napasnya, membuat Bian mengantuk.
“Kau mengantuk,” Antonio terkekeh serak. “Istirahatlah, aku tidak akan ke mana-mana besok pagi. Aku akan datang lagi.”
Tadi Danny menelepon Antonio, mengatakan bahwa mobilnya ditinggal saja di Bian karena dia akan kembali bersama Will dan membawanya sendiri. Jadi Antonio akan pulang dengan motornya. Bian sudah meletakkan helm Antonio di sisi pintu, kapan pun dia siap pulang.
Bian yang tidak ingin melepaskannya.
Bian ingin hari ini tidak berakhir, dia ingin Antonio tetap bersamanya dan bahkan mengulang hari ini lagi dari awal. Dia takut besok jika dia terbangun, Antonio sudah berubah menjadi dingin dan berjarak lagi.
“Bagaimana jika besok aku menjemputmu ke kampus?” Tanyanya di rambut Bian, menghirup aromanya dengan intim hingga seluruh tubuh Bian berdenyar nikmat.
“Boleh.” Sahutnya, merasa bersalah karena telah mengambil begitu banyak hari ini dari Antonio—memonopolinya untuk keegoisan Bian sendiri.
“Baiklah. Jam berapa?”
“Delapan.”
“Aku akan di sini pukul tujuh jadi kita bisa sarapan dulu.”
Bian tersenyum di dada Antonio. “'Ke.” Katanya.
Antonio mendesah, mengecup puncak kepalanya lagi. “Apa yang harus kulakukan padamu.” Gumamnya dengan nada lemah yang menggemaskan hingga hati Bian menghangat.
“Kak,”
“Hmm?”
“Jadilah pacarku.”
Jantung Bian mencelos sebelum berdebar dengan suara keras, mendobrak rusuknya hingga dia terkesirap menahan sakit tidak nyata yang diciptakan jantungnya.
“Tidak,” katanya kering—tangannya dingin oleh rasa takut dan insecure yang nyata; merambat seperti seekor laba-laba berbulu di punggungnya, meninggalkan jejak-jejak sedingin es yang mengigit. “Belum.”
Antonio mendesah, mengeratkan pelukannya. “Apa yang membuatnya berat, Kak?” Tanyanya.
Bian tidak mau menjelaskan. Dia tidak ingin membiarkan Antonio mengupasnya seperti sepotong pisang ranum—menelanjangi emosinya hanya untuk mendapati lelaki itu pergi darinya.
“Nanti aku ceritakan, suatu hari.” Bisik Bian, “Sekarang, belum.”
Antonio mengangguk, “Baiklah.” Gumamnya, memeluk Bian lebih dekat ke hatinya sehingga Bian bisa mendengar detak jantungnya yang kacau, kaget karena Antonio sama gugupnya dengannya.
“Maaf, aku gugup.” Bisik pemuda itu dan Bian memejamkan mata—mendengarkan detak kacau itu dan meresapinya. “Kau membuatku gugup.”
“Maaf.” Bisik Bian dan Antonio tertawa.
“Tidak, tidak. Kau membuatku gugup di bagian yang terasa menyenangkan.” Dia membelai rambut Bian lembut.
“Tidak,” sela Bian; sedikit gemetar karena rasa takut yang menjalar di punggungnya; membuat jalur-jalur dingin mungil seperti sungai. Membuatnya gemetar hingga Antonio sontak memeluknya lebih erat, berpikir dia kedinginan. “Maaf karena membuatmu membuang-buang waktu.”
Antonio mengerutkan alisnya, dia mendorong Bian di pelukannya dengan lembut berusaha menatap wajahnya namun Bian menghindarinya maka Antonio kembali memeluknya, kali ini jauh lebih hangat dan mendebarkan.
“Jangan.” Katanya, sedikit tegas. “Jangan pernah sekali pun berpikir aku sedang membuang-buang waktuku bersamamu. Aku sedang memberikanmu hadiah—sesuatu yang tidak mungkin kuminta kembali. Aku memberikanmu waktuku, kau tidak pernah membuatku merasa aku sedang membuang-buang waktu.
“Aku sedang berusaha membuatmu percaya padaku, tolong izinkan aku.”
*