C'est un Secret 182
tw // insecurity , woman's hatred towards her own body , gender-switch JK , crisis identity .
unedited sorry im tired x
Bian meletakkan hoodie-nya yang baru saja diambil dari binatu di gagang pintu, menggantungnya di sana dan menatap pintu yang tertutup—kebingungan.
Setengah hatinya cemas karena Antonio mengurung diri di kamar mandi hanya dengan kaus tipis yang diberikan Bian tadi dan karena dia tidak punya pakaian dalam perempuan, dia tidak bisa memberikan apa yang mungkin sangat dibutuhkan Antonio sekarang.
Namun setengah hatinya yang lain merasa takut. Bingung, penasaran dan takut, sangat takut entah mengapa. Dia menatap pintu yang tertutup, berusaha mencerna segalanya yang terjadi.
Antonio tersiram air dingin dan sekarang dia (sepertinya) berubah menjadi perempuan serta mengurung dirinya di dalam kamar mandi; Bian tidak yakin pada situasi apa dia sesungguhnya sedang terjebak.
Antonio benar-benar berubah menjadi perempuan... begitu saja? Hanya karena tersiram air dingin?
Bian mengerjap, jawaban salah satu dosennya tadi membuatnya mengernyit. Secara medis hal itu sangat tidak mungkin terjadi kecuali kecenderungan bayi lahir dengan kelamin yang belum terbentuk sempurna sehingga pada pertumbuhannya baik vagina maupun penisnya berubah—lebih sering klitoris vagina yang tumbuh menjadi penis.
Itu butuh bertahun-tahun selama masa tumbuh kembang anak—menciptakan banyak sekali emosi-emosi kompleks tentang krisis identitas dan penyesuaian diri pada jenis kelamin barunya, kehidupan baru dan segalanya.
Namun berubah menjadi perempuan utuh yang sempurna dalam hitungan jam?
Bian bahkan tidak meninggalkan Antonio lebih dari satu jam—empat puluh menit maksimal. Secara medis, hal itu sangat tidak mungkin terjadi. Bian sebagai seorang yang sangat penuh logika dan tidak percaya sedikit pun pada hal-hal mistis, tidak bisa menerima ini.
Akal sehatnya menolak.
Dia bergidik, membayangkan kebingungan dan rasa frustasi Antonio. Mentalnya yang koyak karena perubahan yang begitu hebat dalam waktu yang sangat cepat—berubah-ubah, setiap dia terkena air dingin. Belum lagi lelah fisiknya karena menerima perubahan hormon.
Dia mengerutkan alisnya; bagaimana mungkin...?
Kau sedang membicarakan film, ya, Arfabian?
Seandainya saja ini memang film atau cerita fiksi, Bian akan tertawa terbahak-bahak. Berhenti membaca karena tidak masuk akal; dia bukan penggemar fantasi tanpa landasan teori yang kuat. Lelaki yang berubah menjadi perempuan karena air dingin jelas bukan seleranya.
Namun sekarang hal ini terjadi begitu saja di dunianya dan kepada lelaki yang baru saja mungkin akan diciumnya di ranjang.
“Aku menggantung hoodie di pintu.” Katanya lirih ke pintu yang tertutup lalu mundur, berbalik ke ranjang dan menyusup ke dalam selimutnya karena hujan deras tidak juga berhenti dan dia kedinginan.
Dalam hati dia merasa sedih karena dia berpikir dia bisa pergi ke suatu tempat dengan Antonio besok Sabtu pagi, jalan-jalan menikmati waktu berdua karena Bian yakin mereka sudah memasuki tahap pendekatan sekarang.
Tapi mungkin rencana itu harus ditunda.
Bian menunduk, menatap jemarinya dan mulai merobek-robek kulit arinya yang mengelupas tanpa benar-benar menyadari kegiatannya dengan isi kepala melanglang buana; kosong.
Di luar hujan semakin deras dan Bian sejenak cemas dengan keadaan kakak Antonio yang mengemudi dari Tangerang ke Jakarta Timur demi adiknya di tengah hujan. Bian menatap pintu lagi, merasa terbelah oleh emosinya sendiri.
Dia ingin menolong walaupun akal sehatnya sedang meneriakinya bahwa ini tidak wajar. Ini tidak seharusnya terjadi dan ini sinting. Namun hati nuraninya, bagian terbesar dari tubuhnya yang membuatnya mendedikasikan diri menjadi seorang dokter, bergetar.
Dia ingin membantu Antonio.
Antonio butuh dukungan emosional, dia harus bertemu profesional. Bian mengernyit—Antonio seorang homoseksual, bagaimana perasaannya setiap kali terjebak dalam tubuh perempuan? Bian sungguh tidak bisa membayangkannya.
Dia butuh seseorang untuk menenangkannya, mengembalikan rasa percaya dirinya pada identitasnya, pada gender yang dipilihnya tanpa terpengaruh perubahan fatal setiap kali dia terkena air dingin.
Ponselnya berbunyi dan Bian terlompat kaget, dia bergegas menyambar ponselnya dan melihat nama Jin berkedip di layarnya. Dia mengangkat telepon itu.
“Halo, Kak?”
“Saya di depan, apakah ini tempat yang benar?”
Bian bergegas bangkit, meraih sweternya dan mengenakannya sebelum menyentakkan pintu terbuka. Dia menatap melewati garasi, berusaha menembus derasnya hujan yang membuat semuanya nampak putih. Mata Bian melihat bagian atap mobil berwarna gelap.
“Mobil saya Honda Civic.” Kata Jin dari seberang sana dan Bian mengeluarkan kunci gerbangnya, berlari di bawah kanopi garasi kosan menghampiri gerbang.
Dia menyelipkan kunci ke dalam gembok dan memutarnya terbuka sebelum menarik pintu, dia melongok dan menemukan Honda Civic yang dimaksud terparkir beberapa meter dari gerbang, nyaris memblokade jalan masuk.
“Kak, maaf. Nio tidak mau keluar jadi Kakak harus menjemputnya ke dalam.” Kata Bian mengalahkan deru hujan ke ponselnya.
“Ya, saya turun menjemputnya.” Balas Jin dari seberang dan mematikan ponselnya.
Bian menunggu di bawah kanopi sementara Jin bersiap turun. Dia melihat sosok gelap di dalam mobil melompati bagian pembatas kursi menuju pintu penumpang, meraih payung dan membuka pintunya. Lampu menyala, Bian bisa melihat bagian sisi kakak Antonio sebelum payung dibuka dan dia bergegas keluar.
Dia lelaki indah—bersaing ketat dengan Antonio. Tubuhnya langsing dan liat, tinggi, kurus. Rambutnya acak-acakan dan dia hanya mengenakan kaus tipis dengan celana training kumal—nampak benar-benar terburu-buru untuk menjemput adiknya.
“Maaf, ya, Arfabian.” Dia tiba di sisi Bian, menguarkan aroma lembut sisa parfum maskulin yang menyengat. “Saya merepotkan malam-malam.”
Dia menutup payungnya lalu menepis tetes-tetes air dari pakaiannya sebelum tersenyum pada Bian dan mengulurkan tangan.
“Tidak masalah, Kak.” Bian menjawab dengan hangat.
“Saya Jin.” Katanya, dengan level percaya diri yang nyari secemerlang Antonio.
Mereka mirip sekali dan sekilas nampak seperti sepasang anak kembar, hanya saja Jin punya gurat wajah dewasa di kening dan pipinya.
“Halo, Kak. Saya Bian.” Bian menyalami tangannya yang lembab dan dingin sebelum kemudian mengajaknya masuk.
“Saya akan tunggu di ruang tamu sampai Kak Jin pulang.” Kata Bian sopan, mempersilakan Jin memasuki kamarnya.
Jin menatapnya, terenyuh. “Terima kasih karena sudah menghormati ruang personal Antonio walaupun saya yakin kau pasti sangat penasaran dan kebingungan sekarang.”
Bian bisa saja berbohong dia sudah sering melihat hal-hal aneh hingga lelaki sehat yang berubah jadi perempuan karena air dingin adalah hal sepele tapi tidak.
Dia memang penasaran dan kebingungan.
Namun dia yakin kondisi psikologi Antonio pasti sangat rapuh sekarang. Maka sebagai orang asing, Bian memilih mundur.
“Tidak apa-apa, Kak. Saya paham.” Dia tersenyum tenang, menganggap hal ini adalah salah satu kasus yang mungkin akan dihadapinya nanti setelah menjadi dokter—mengabdikan diri pada orang banyak.
Bian selalu mengandalkan ketenangannya yang luar biasa dalam menghadapi kasus.
Jin menatapnya, “Saya masuk, ya?” Izinnya dan Bian mengangguk.
“Silakan, Kak.”
Jin bergegas memasuki kamar Bian dan menutup pintunya hingga tersisa satu celah kecil sementara Bian beranjak ke ruang tamu, duduk di kursi yang tadi diduduki Antonio—menunggu.
“Nio? Ini aku.”
Nio mendongak, wajahnya lembab dan terasa bengkak—kelelahan menangis karena takut dan frustasi.
Dia duduk di atas kloset sejak tadi dengan pakaian lelaki yang menempel kasar di tubuh perempuannya yang terlalu halus—berdenyut perih. Menangis tiap kali Arfabian mengajaknya bicara atau mengirimkannya pesan.
Sekarang Arfabian sudah tahu rahasia terbesar dalam hidupnya dan Nio tahu, mereka berakhir bahkan sebelum semuanya dimulai.
Dia aneh. Dia tidak normal.
Arfabian pasti akan menjauhinya, menjauh dari masalah seperti seorang pemuda pintar.
Dan Antonio adalah masalahnya dan Arfabian akan menghindarinya—menghindari Nio.
Pikiran itu menikam otak dan hatinya sedemikian rupa hingga dia mencengkeram dadanya sendiri—berusaha menjinakkan sakit yang meraung ke arahnya seperti binatang liar.
“Kak?” Bisiknya pecah, merasa begitu lemah hingga sisi lelakinya marah atas kelemahan itu—membelah tubuhnya dan membuatnya pusing karena terlalu banyak emosi yang berkecamuk di dalam sana.
“Ya, ini aku.” Ketukan terdengar di pintunya, lembut. “Maaf, lama. Aku terjebak macet.”
Terdengar suara keresak dan Nio bangkit, terhuyung berdiri lemah di atas kakinya yang gemetar dalam balutan kaus Bian yang menggantung di tubuhnya—terlalu tipis untuk suhu kamar mandi yang dingin dan dadanya terasa geli karena menggantung bebas.
“Aku membawakamu pakaian dalam.” Kata Jin lembut dan Nio meraih kenop pintu, membuka kuncinya.
Wajah Jin muncul di celah pintu, tersenyum. Mengulurkan kantung kertas terisi pakaian dalam perempuannya.
Dia tidak pernah merasa sebahagia ini saat menatap wajah kakaknya—saat sekali lagi, diselamatkan kakaknya dari kondisi tidak terduga.
“Berganti pakaianlah.” Bujuknya lembut hingga air mata Nio kembali terbit—emosi perempuan yang terlalu sensitif ini membuatnya jengah.
“Lalu, ayo kita pulang.” Tambah Jin, mengulurkan tangan dan menepuk rambut adiknya yang kusut masai dengan lembut.
“Kau aman, ada aku.”
Air mata yang luruh kemudian di wajah Nio tidak lagi dipahaminya berasal dari mana—tubuh perempuannya?
Atau tubuh lelakinya?
Karena Jin tiba menyelamatkannya?
Atau duka karena hubungannya dengan Arfabian yang layu sebelum mekar?
Bian membuka matanya kaget saat pintu kamar terbuka. Dia sedang berbaring di kursi, menyandarkan punggungnya dalam-dalam, mencoba menenangkan otaknya yang riuh.
Dia menoleh dan menemukan Jin berdiri melindungi sosok di belakang tubuhnya yang meringkuk seperti janin yang kedinginan; bersembunyi sepenuhnya dari tatapan Bian, menghindar.
Bian menyadari tubuh langsing di belakang Jin mengenakan hoodie-nya dan senang karena dia bisa melakukan sesuatu untuk membuat Antonio nyaman.
“Bian, terima kasih, ya? Saya pulang dulu.”
Bian bergegas berdiri, menghampiri mereka dan mengangguk. “Baik, Kak. Terima kasih kembali.” Sahutnya sopan.
Dia menahan dirinya sendiri agar tidak melongok ke balik bahu bidang Jin, mengintip wajah yang tersembunyi di balik hoodie-nya.
Dia berusaha membuat Antonio nyaman.
“Saya tidak perlu diantar. Kau istirahatlah.” Tambah Jin,menatap Bian penuh makna dan dia menangkap maksudnya.
Antonio jelas tidak ingin ada orang yang menatapnya seperti seekor binatang di dalam kandang kebun binatang—dipelototi sebagai hiburan yang menarik.
“Hati-hati di jalan, Kak Jin.” Katanya kering; sedih, tersentuh dan bingung.
Jin mengangguk dan tersenyum ramah lalu menggunakan tubuhnya sendiri untuk menutupi seluruh bagian atas tubuh Antonio, membimbingnya ke mobil.
Dia membuka payungnya, membiarkan tubuh mungil langsing di sisinya untuk berlari kecil terlebih dulu ke mobil dan Bian memalingkan wajah.
Satu kilasan betis jenjang yang langsing dan putih serta rambut panjang yang kusut lolos dari sela-sela tudung hoodie sudah cukup bagi Bian untuk tahu bahwa Antonio benar-benar berubah menjadi perempuan.
Bian berbaring di ranjangnya malam itu, menatap nyalang langit-langit kamarnya ditemani suara badai yang bergemuruh.
Mencoba mencerna kejadian hari ini....
*