C'est un Secret 289
“Baby?”
“Hm?”
“I love you.”
Nio merasakan senyuman Arfabian di lekukan lengannya sebelum pemuda itu mengecupnya dan mendongak, tersenyum.
“I love you too.” Balasnya dengan suara lembut, serak dan dalam hingga Nio mengecup keningnya sayang.
Mereka berbaring di ranjang Nio, dengan Dalkyum bergelung di ujung kasur karena Yoga baru saja keluar dengan kekasihnya, Bram, memberikan waktu untuk Nio dan Arfabian sendirian di rumah.
Pukul tujuh nanti, Nio harus mengantar Arfabian kembali ke kampus karena mereka akan berangkat dengan bus ke Stasiun Pasar Senen untuk perjalanan ke Yogyakarta sebagai bagian dari blok Disaster Management.
Sementara menunggu waktu, Arfabian sudah membawa barang-barangnya ke kontrakan dan memutuskan dia akan menghabiskan sisa waktunya untuk dimanjakan sebelum berpisah.
“Clingy,” Nio menjentikkan jarinya di dagu Arfabian yang langsung meraih wajahnya dan menciumnya.
Sekarang kekasihnya berbaring di dadanya, nampak senang dan nyaman dalam pelukannya. Senyuman bodoh tidak pernah meninggalkan wajahnya dan Nio senang karena dialah alasan Arfabian tersenyum.
Kakinya membelit kaki Nio dan digerakkan lembut sesuai dengan napasnya yang selembut napas kucing.
“Sayang Nio,” Arfabian mengerang lalu memeluknya semakin erat hingga Nio terkekeh.
“Apa yang tadi kau makan, Sayang? Mungkin ada sesuatu di dalamnya yang meracunimu.” Nio membelai rambutnya, setengah geli
“Ini bukan karena makanan,” Arfabian menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Nio, mendesah senang. “Ini karena aku mencintaimu.”
“Kau benar-benar,” Nio memeluknya, mengecup puncak kepalanya sayang. “What did I do to deserve you?”
Arfabian mendongak, “Cium aku.”
Nio tidak membuang-buang waktu, dia menangkup pipi Arfabian dengan satu tangan sebelum mencium bibirnya—hangat dan dalam hingga Arfabian lumer dalam genggamannya, melenguh kecil.
Tangannya bergerak di lehernya, merasakan denyut nadinya yang membuat Nio merasa kuat dan begitu hidup. Merasakan hidup Arfabian di telapak tangannya membuatnya merasa hidup.
Tidak akan ada yang tidak bisa dihadapinya selama hidup Arfabian berdenyut di bawah telapak tangannya.
Arfabian akan menjaganya tetap waras.
Nio sejenak memikirkan perjalanan ke Singapura akhir tahun ini dan sama sekali tidak menyukai prospek itu. Dia selalu benci tiap kali dia harus berangkat ke sana, bertemu dokter-dokter yang menatapnya seolah dia binatang di kebun binatang; terkurung dan dijadikan bahan tontonan.
Dia akan diminta untuk mandi air dingin dan ditelanjangi. Ditonton saat tubuhnya berubah sementara Nio berjuang bertahan hidup dalam himpitan rasa panas dan dingin tiap dia berubah.
Dia sudah melakukan itu selama dua tahun, yang didapatkannya hanyalah trauma dan ketakutan pada tubuh perempuannya sendiri.
Bukan kesembuhan seperti apa yang semuanya harapkan.
Efeknya, selama dua puluh empat jam penuh bahkan terkadang lebih, Nio tidak mau bertemu siapa pun bahkan kakaknya sendiri. Dia akan mengunci diri di kamar tamu apartemen Hosein, berteriak tiap kali seseorang mengetuk kamarnya untuk membawakan makanan.
Maka biasanya, Jin akan memastikan Nio terlelap sebelum membuka pintu dengan kunci cadangan dan menyelipkan nampan makanan ke dalam kamarnya.
Nio memeluk Arfabian, bergidik saat bayangan wajah-wajah dokter di balik masker hijau dan penutup kepala dan merunduk ke arahnya berkelebat di kepalanya.
Napas dan aroma tubuh Arfabian membuatnya tenang, menjaganya tetap di permukaan bumi—maka dia menyusupkan wajahnya di rambut kekasihnya, menghirup aromanya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan aroma Arfabian.
“Kau sudah siap berangkat?” Tanyanya saat alarm ponsel Arfabian menjerit memisahkan mereka dan kekasihnya nampak sangat jengkel karenanya.
“Tidak, sama sekali.” Arfabian bersungut-sungut saat dia mengenakan hoodie Nio di atas kausnya sementara Nio membantunya menyiapkan tasnya.
“Sepertinya kemarin aku yang merajuk karena akan ditinggal, kenapa sekarang kau yang merajuk?” Nio meraih Arfabian ke dalam dekapannya dan mengecup pelipisnya sayang.
Arfabian membalas pelukannya, menyandarkan kepalanya di bahu Nio. “Aku tidak ingin berjauhan. Aku ingin selalu ada di sekitarmu.” Gumamnya teredam.
“Kau hanya akan pergi sebentar lalu kembali padaku.” Nio mengecup puncak kepalanya sayang lalu mengusapnya lembut dan hangat.
“Kau akan meneleponku tiap malam?”
“Janji.”
Arfabian tersenyum lebar. “Aku sudah merindukanmu.” Keluhnya.
Nio menguraikan pelukan mereka, meraih ransel kekasihnya dan menyampirkan talinya di bahunya. “Ayo, Sayang. Nanti terlambat.”
Arfabian menghampirinya, mengecup bibirnya. Nio meraih tengkuknya, memperdalam ciuman mereka. Arfabian mengalungkan kedua lengannya di leher Nio.
“Sayang,” bisik Nio mengecup sudut bibir Arfabian dengan geli. “Ayo.”
Arfabian mendesah, sebal namun toh akhirnya menurut. Nio mengunci kontrakan lalu mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir motor Nio.
Arfabian membuka pagar parkiran sementara Nio menghampiri motornya dan mengeluarkannya dari sana. Nio mendorong motornya mundur, membiarkannya meluncur menuruni jalan landai ke aspal lalu menyalakan mesinnya sebelum Arfabian naik ke jok belakang.
“Kau siap?” Tanyanya, melirik Arfabian dari spion kanannya.
Arfabian mendesah, “Tidak perlu bertanya.” Sahutnya setengah mengeluh dan Nio tertawa.
Motornya menderum lembut saat dia memasukkan persneling lalu menjalankan motornya melewati jalanan kampung yang padat menuju kampus mereka.
Saat mereka tiba di lapangan parkir, sudah ada satu bus ukuran besar yang menunggu dengan mesin menyala sementara teman-teman Arfabian berkumpul di dekat sana bersama dua orang dosen pendamping.
Nio berhenti beberapa meter dan membiarkan Arfabian turun dari jok belakang, nampak malas.
Nio tertawa terhibur oleh ekspresi kekasihnya, menjentikkan jarinya di dagu kekasihnya. “Hanya sebentar, kok.” Hiburnya dan Arfabian mendesah.
“Kau akan kembali sebelum kau sempat merindukanku.” Tambahnya.
Dia berdiri di motornya, kedua kakinya menjejak tanah dengan kuat sementara kekasihnya berdiri beberapa meter darinya dengan ransel di bahu kanannya. Mengenakan hoodie Nio yang belum dicuci karena Arfabian mengklaim dia butuh aroma tubuh Nio menempel padanya selama perjalanan kereta dari Jakarta ke Yogyakarta.
“Sana,” Nio melambai ke teman-teman Arfabian yang menunggu dan dosen pendamping mereka mulai mengabsen kehadiran mereka. “Mereka sudah menunggumu.”
Arfabian mendesah, “Sampai ketemu Minggu sore?” Tanyanya akhirnya karena menyadari dia tidak bisa lagi menunda-nunda.
“Sampai ketemu Minggu sore, Sayang.” Balas Nio, meraih tangannya dan meremasnya hangat.
“Hati-hati di jalan dan jaga dirimu, ya?” Tambahnya, mengecup buku jemari Arfabian.
“Kau juga.” Balas Arfabian tersenyum kecil karena perlakuan Nio. “Jangan sampai kehujanan.”
Nio tetawa, “Baik, Yang Mulia.” Dan Arfabian tersenyum lebar.
Dia kemudian menyaksikan kekasihnya berlari ke arah rombongan yang menyambutnya. Beberapa anak menyadari kehadirannya dan melambai, Nio membalas lambaiannya dengan ramah. Merapatkan leather jacket-nya karena cuaca yang agak dingin.
Arfabian mengusirnya, memberi tanda pada langit yang mendung dan Nio mengangguk, memberi gestur dengan tangannya dia akan pergi sebentar lagi.
Namun dia tetap di sana hingga dia melihat kekasihnya bergabung dengan Jimmy, diabsensi dan menaiki bus yang menyala. Menyaksikan kekasihnya di dalam bus, tertawa dengan teman-temannya dan duduk di sisi jendela dengan Jimmy.
Terus di sana hingga bus bergerak meninggalkan UKI menuju Stasiun Pasar Senen.
Dia baru mengenakan kembali helmnya setelah halaman UKI kosong, menyalakan kembali motornya dan pulang.
Dia harus mengemas barang-barangnya untuk perjalanannya sendiri ke Yogyakarta besok malam.
*