C'est un Secret 241
cw// mild anxiety and self-blaming.
“Yan, pacarmu sudah datang.”
Bian mendongak dari ponselnya dan melihat Antonio melangkah dari ujung lorong sedang menyapa beberapa teman kuliahnya dengan senyuman ramah di bibirnya—nampak rapi dan hangat dalam balutan kemeja gelap dan rambut yang disisir naik, memamerkan keningnya yang tinggi.
Dia sedang menoleh ke temannya, memperlihatkan garis rahangnya yang tajam dan figur wajahnya yang mendebarkan.
Bian tersenyum kecil, membereskan buku dan MacBook Air-nya. Di sisi tasnya ada kontainer makanan, terisi dua lunch box yang dikirimkan Bobby untuknya tadi, menjaga makanannya tetap hangat.
Antonio akhirnya menyudahi obrolannya dengan teman kuliahnya lalu menoleh ke Bian; detik mata mereka bertemu, senyuman Antonio merekah seperti kuncup mawar yang gendut dan indah.
Dia berlari kecil di lorong ke arah Bian, nyaris seperti anak kecil yang terlalu bersemangat bertemu teman mainnya.
Antonio langsung mengambil kontainer makanan dari tangan Bian. “Hai!” Sapanya ceria, aroma parfum maskulinnya lembut—seperti cokelat pahit yang memabukkan.
“Hai.” Balas Bian, masih merasa asing dengan fakta bahwa Antonio benar-benar menghampirinya untuk menjemputnya pulang.
Dia nampak santai, seperti Antonio biasanya. Tersenyum pada teman-teman Bian dan bertukar tos akrab pada beberapa teman Bian yang dikenalnya di kepanitiaan—dia nampak akrab, social butterfly.
“Bagaimana jika hari ini kita main di kontrakan? Dengam Dalkyum?” Tanyanya saat mereka berada di dalam lift, turun untuk pulang.
Langit Jakarta mendung; gelap dan kelabu sementara suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Bian sejenak ngeri, apakah Antonio membawa jas hujan atau payung?
Namun lelaki di sisinya sedang membawa kontainer makan mereka seraya bersiul santai. Rileks dan tenang walaupun langit bergemuruh.
“Sebentar lagi hujan.” Kata Bian, mencoba mengingatkan Antonio jika ternyata pemuda itu belum menyadari ancaman yang sedang mengintainya.
Antonio mendongak ke langit, mengangguk. “Makanya kita akan pergi ke kontrakan saja. Tidak masalah, 'kan?” Antonio menoleh, “Jika kau tetap ingin ke GI kita bisa ambil mobilmu dulu.”
Bian lekas menggeleng; dia ingin istirahat sebelum bertemu dokter dan membahas penelitian. Malam nanti dia harus begadang mengerjakan revisiannya. Jadi bersantai di kontrakan dan bermain dengan anjing peliharaan Yoga terdengar jauh lebih menyenangkan.
“Kita ke kontrakan saja. Makan siang dan bersantai.” Sahut Bian saat mereka menuruni tangga gedung kuliah menuju parkiran motor.
“Setuju.” Antonio menghampiri motornya, menyerahkan kontainer makan siang mereka ke Bian sebelum menaiki motornya dan memakai helmnya. “Yoga pergi dengan Bram jadi akan kembali nanti malam setelah aku menurunkanmu di kosan.”
“Baiklah.” Sahut Bian, mengatur posisi tas dan bawaannya sebelum naik ke motor Antonio.
“Ayo, sebelum hujan.” Katanya ceria lalu memutar kunci dan menyalakan mesinnya yang menderum lembut.
Bian menaiki jok belakang, tidak memakai helm karena Antonio tidak punya helm lain dan mereka tadi berangkat melewati jalan tikus yang dimaksud Antonio.
Jalannya tidak terlalu mengesankan kecuali karena jalan yang terlalu sempit, kaki Bian tersangkut pada ember yang diletakkan di depan rumah warga entah untuk apa dengan suara berisik. Antonio tidak menyadarinya karena itu terjadi tidak lebih dari 1 menit—terlalu cepat untuk disadari sensoris manusia.
Dia berusaha melepaskan ember dari kakinya,hingga motor bergoyang dan barulah Antonio menyadarinya nyaris frustasi namun benda itu tidak mau lepas dan terseret beberapa meter dari lokasi awal dengan pemiliknya yang berlari mengejar mereka.
“Embernya nyangkut!” Seru Bian nyaris merengek lalu akhirnya berhasil melepaskannya yang langsung diraih oleh pemiliknya yang nampak setengah marah dan setengah geli.
“Maaf, Pak!” Seru Bian, meringis sementara Antonio tertawa terbahak-bahak.
Antonio memacu motornya ke jalan sisi kampusnya yang rusak dan berkerikil, perlahan menghindari genangan air yang ada di jalan-jalan yang berlubang sementara dia bernyanyi ceria.
Bian di belakang, melindungi MacBook dan makan siang mereka dengan angin yang meniup rambutnya hingga berhamburan—udara terasa lembab dan tidak nyaman sebelum hujan.
“Kau tahu apa menu makan siang kita hari ini?” Tanya Antonio, mengendarai motornya dengan terampil menghindari jalan-jalan berlubang.
“Kurasa chicken katsu dengan saus teriyaki. Kau suka?” Balas Bian, mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya melewati bahu Antonio agar pemuda itu bisa mendengarnya lebih baik.
“Aku suka apa saja yang gratis.” Antonio tertawa, mereka membelok ke jalan belakang Universitas Kristen Indonesia.
Melewati makam besar di sisi jalan dan rumah-rumah warga yang menempel dekat. Bian mengamati jalannya—menemukan bahwa tempat ini lengkap juga. Ada toko kelontong, ada warteg kecil yang ramai, ada warung dan ada tenda Chinese food.
Mereka membelok di depan SD dan Antonio berhenti, motornya tidak bisa diparkir di depan rumah kontrakan karena jalannya sempit maka warga memutuskan untuk memanfaatkan lahan kosong jadi tempat parkir sewaan.
Motor Antonio meluncur masuk, suara mesinnya menggema di bawah atap besi dan ruangan yang memantulkan suara. Antonio berhenti, Bian turun dari jok motornya dan menyingkir untuk memberikan ruang Antonio memarkir motornya.
Mesin dimatikan dan Antonio mengunci motornya sebelum melepas helmnya; mengibaskan rambutnya yang menempel di kepalanya karena helm dan menyugarnya. Dia turun dari motornya, mencabut kuncinya dan kemudian memasukkan lengannya ke helm full face itu hingga benda itu beristirahat di lekukan lengannya.
Dia mengulurkan tangannya yang kosong ke Bian. “Mana kubawa sisanya.” Katanya.
Bian menggeleng. “Aku bisa.” Katanya tersenyum. “Mulai gerimis, apakah tidak apa-apa?”
“Baiklah.” Antonio membalas senyumannya. “Ayo. Tidak apa-apa, jika kita bisa tiba dengan cepat lalu aku mandi semuanya aman. Tapi, kita tetap gunakan payung.”
Bian mengangguk, merogoh tasnya dan mengeluarkan payung sementara Antonio di depannya melangkah mendahuluinya.
Antonio baru menjejakkan kakinya di luar atap parkiran saat tiba-tiba saja hujan deras turun—begitu saja tanpa aba-aba. Semua orang yang tadi bersantai di jalanan berseru kaget dan bergegas membereskan diri lalu masuk ke dalam rumah.
Antonio berdiri di bawah hujan, kaget dan bingung. Tidak sempat menyelamatkan dirinya sama sekali. “Berengsek.” Seru Antonio marah, sedetik dia sudah basah kuyup oleh hujan deras dan Bian merinding.
“Kau bawa payung?” Tanyanya, sekarang terdengar getir dan penuh amarah hingga Bian bergidik takut oleh nada asing itu. “Cepat gunakan aku harus berlari sekarang.”
Bian mengangguk, bergegas mengeluarkan payungnya dan mengembangkannya. Antonio langsung berlari, nyaris meninggalkan Bian yang tergopoh-gopoh mengejarnya di bawah hujan deras. Dia mendengar Antonio terserang serentetan batuk keras yang terdengar menyiksa; kakinya goyah saat dia berusaha lari dan napasnya tersengal.
Bian merasakan tusukan rasa bersalah di hatinya. Jika saja dia tidak merepotkan Antonio hari ini dia mungkin tidak akan kehujanan. Baru minggu lalu dia berubah, sekarang dia menjadi perempuan lagi.
Musim hujan jelas adalah musuh abadi Antonio.
Bian berusaha mengejarnya hingga mereka tiba di depan pintu kontrakan Antonio. Pemuda itu menyelipkan kunci, terbatuk-batuk keras dan sesak napas sementara Bian berusaha memayunginya dan memayungi dirinya sendiri di bawah hujan yang begitu deras. Antonio mendorong pintu terbuka.
Tidak memedulikan Bian sama sekali atau bahkan anjing mungil hitam yang menyalak ceria saat dia pulang lalu mundur dan mendengking takut saat melihat ekspresinya, Antonio langsung melepaskan pakaiannya.
Di hadapan Bian yang berdiri kikuk di depan pintu sementara di luar sana, hujan badai mengamuk. Bian menahan napas, tidak berani mengeluarkan suara apa pun menyaksikan Antonio melepas semua pakaiannya dan membiarkannya teronggok di lantai—menciptakan genangan air.
“Buat dirimu nyaman.” Kata Antonio dengan suata serak yang tercekik, “Aku—” Dia kehabisan napas, “Aku harus mandi.”
Dia kemudian terhuyung ke kamar mandi dengan celana basah dan membuat seluruh ruangan becek. Dia terbatuk-batuk, menyandarkan tubuh di kusen pintu kamar mandi, Bian melangkah mencoba membantunya namun Antonio mendorong tubuhnya sendiri berdiri dengan goyah sebelum membawa dirinya masuk dan membanting pintunya menutup dan menyalakan air.
Bian berdiri kikuk. Anjing kecil yang diduga Bian adalah Dalkyum, mendengking lirih. Dia bersyukur Yoga tidak ada di kontrakan saat kesialan ini terjadi.
Bian meletakkan bawaannya di lantai, meraih lap kaki yang diletakkan di depan pintu dan mengelap tetesan air. Dia meraih kaus Antonio yang basah dan meletakkannya di ember cucian sementara suara kucuran air terdengar dari kamar mandi.
Apakah dia terlambat? Apakah Antonio akan berubah menjadi perempuan lagi?
Bian menghampiri jemuran kecil mereka, melihat handuk biru dengan tulisan Nio di bagian tagnya.
Dia meraih handuk itu dan menggantungnya di pintu, mengangkat tangannya untuk mengetuknya dan memberitahu Antonio saat suara raungan terdengar: keras dan penuh kesakitan.
Bian terlonjak kaget, langsung menggedor pintu dan berusaha menyentakkannya terbuka namun benda itu terkunci. Bian mengumpat keras sementara dari dalam terdengar suara Antonio yang berdeguk-deguk, menahan sakit dan menahan jeritannya.
“Nio!” Serunya, menghantamkan kepalan tangannya dengan keras mengalahkan deru hujan yang menghajar atap kontrakan Antonio. “Buka pintunya, tolong!”
Hati Bian terasa nyeri, dia bersandar di pintu tidak bisa melakukan apa pun sementara suara Antonio terdengar dari dalam sana. Dia merasa bersalah, dia merasa segalanya terjadi karena dirinya. Jika saja mereka lebih cepat pulang, seandainya saja Bian menahan Antonio untuk tidak keluar dari ruangan parkir dengan alasan apa pun sehingga dia tidak kehujanan.
Semua ini tidak akan terjadi.
Rasa benci aneh mulai terbit di hatinya namun dia berusaha menepisnya, dia yakin Antonio sedang membutuhkan bantuannya. Dia menghambur ke kamar Antonio—atau dia pikir begitu karena aromanya persis seperti aroma tubuh Antonio dan membuka lemarinya.
Dia menarik laci dalam terbuka dan menemukan pakaian dalam perempuan yang sejenak membuatnya risih dan kikuk. Haruskah dia melakukannya? Atau membiarkan Antonio sendiri saja? Dia belum pernah melihat pakaian dalam perempuan lain selain milik ibunya seumur hidupnya, dan dia anak satu-satunya.
Dia mengulurkan tangan, meraih bra dan celana dalam katun yang lembut. Sangat berbeda dengan pakaian dalamnya sendiri dan merasa sangat berdosa karena melakukannya. Dia meraih kaus pertama Antonio yang ditemukannya dan membungkus pakaian dalam itu di sana agar dia tidak perlu melihatnya.
Di kamar mandi, Antonio hening.
Bian menghampiri kamar mandi, mengetuknya. “Nio? Kau oke?”
“Ya.” Sahut suara Antonio dan Bian menahan napas—jantungnya melonjak hingga membuatnya mual. “Aku tidak apa-apa. Air panasnya tepat waktu,” dia terdengar parau.
Pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba dan handuk yang diletakkan Bian di gagang pintu terjatuh. Bian refleks menunduk, meraih handuk itu sebelum mendongak dan berpandangan langsung pada Antonio dengan tubuh atas yang basah hanya dalam balutan celana dalamnya.
Rambutnya menempel ke keningnya, wajahnya merah padam karena suhu dan uap panas menguar dari kamar mandi mereka yang nampak aneh karena begitu sederhana namun dengan pemanas air dipasang di bagian jendela atasnya—benda itu nampak terlalu mewah dengan keseluruhan konsep kamar mandinya.
Dan dia masih lelaki.
“Oh.” Bian langsung mundur selangkah dari tubuh Antonio yang memancarkan kehangatan yang membuatnya bergidik karena perbedaan suhu antara Antonio dan keseluruhan ruangan. “Kau tidak jadi perempuan?” Tanyanya, gugup karena berhadapan dengan tubuh setengah telanjang (atau nyaris telanjang?) Antonio.
“Ya.” Antonio menerima handuk dari Bian dan mengenakannya di kepala, nampak lega namun juga siaga. “Tapi dadaku agak lembek,” dia menyentuh dadanya sendiri—merasakan massanya dengan telapak tangan dan gerakan itu membuat Bian kikuk.
“Aku takut malam ini aku mendadak berubah atau apa, jadi kurasa aku akan pulang ke Tangerang saja.” Dia membersit, “Aku akan menelepon Kak Jin.”
”... Kosku.” Bisik Bian mencicit tanpa bisa menahan diri.
Antonio mendongak, menatap Bian yang mengerjap—kaget sendiri pada kata-katanya barusan. “Maaf, Kak, apa?” Tanyanya parau, dengan setengah bagian handuk menutupi wajahnya.
“Kosanku... bebas.” Katanya lagi, mengedikkan bahu berusaha nampak tidak peduli walaupun jantungnya berdebar kacau balau. “Daripada kau berkendara jauh ke Tangerang dalam kondisi seperti ini, kau bisa... menginap di kosanku saja.”
Mereka berpandangan, Antonio nampak kaget dan kebingungan sementara Bian ingin mendadak ada sebuah lubang besar di hadapannya lalu melompat ke sana sehingga dia tidak akan bertemu Antonio lagi selamanya.
“Memangnya.... kau tidak risih? Jika terbangun tengah malam menemukan gadis tidur di kamarmu?”
Bian menatapnya, menggeleng. “Akan terasa seperti sleep over yang biasa dilakukan kakak sepupu perempuanku yang sangat dekat denganku. Aku terbiasa tidur dengannya dan menemaninya belanja serta segala macam.” Dia menggaruk tengkuknya.
“Tapi tetap saja pakaian dalam perempuan bukan sesuatu yang pernah kusentuh sama sekali, maaf.” Dia mengulurkan gumpalan pakaian Antonio yang digunakannya untuk membungkus pakaian dalamnya.
Antonio menerimanya, membukanya dan menemukan pakaian dalam perempuannya di sana sebelum mendongak ke Bian. “Aku juga punya kisah lucu tentang mens cup jika kau ingin membuat sleep over party denganku.” Dia tersenyum separo namun di matanya ada kilau luka—Bian tahu krisis identitasnya pasti sangat menganggu sekarang.
“Dan aku jelas tidak bisa di rumah,” dia mendesah. “Yoga belum tahu. Faktanya, tidak ada yang tahu selain kau, Kak Jin dan Kak Hosein.” Dia menatap Bian, matanya berkilau oleh permohonan yang membuat hati Bian terasa diremas-remas.
“Aku bodoh sekali dan sial, sangat sial.” Keluhnya, menatap jendela—ke arah hujan yang mengamuk. “Bagaimana bisa kita tidak menyadari hujannya?” Dia mengelap tubuhnya dengan handuk di hadapan Bian yang merona hingga ke batas rambutnya.
Lalu Antonio melangkah keluar dari kamar mandi, Bian menelan ludah dan berdiri di sana sementara Antonio masuk ke kamarnya dan menutup pintunya. “Aku akan berganti baju sebentar, kau duduklah atau makan sesuatu kau kelihatan seperti akan pingsan.” kata Antonio dari dalam.
Apakah dia benar-benar sebodoh itu hingga tidak menyadari apa yang baru saja dilakukannya pada Bian?
Tidakkah dia menyadari bahwa “nampak seperti akan pingsan” Bian itu karena dia terlalu kaget melihat betapa santainya Antonio menelanjangi diri di hadapannya?
Bian menatap Dalkyum yang berbaring di atas perutnya di ambang pintu kamar Yoga, dagunya diletakkan di lantai dan dia nampak seperti sepotong ayam bakar; matanya berkilau dan dia mendengking lirih.
“Majikanmu aneh.” Bisik Bian pada anjing itu dan Dalkyum mendengking keras sekali seolah setuju dengannya. “Paling aneh, ya.” Tambah Bian, menyentuh dadanya sendiri yang berdebar keras.
Sekarang dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan ingatan tubuh nyaris telanjang Antonio yang basah oleh air hangat di kepalanya—mendengung seperti sekumpulan lebah dan menyengat otaknya berkali-kali hingga dia pening.
“Berengsek.” Bisiknya di bawah napasnya, memijat pelipisnya.
*