eclairedelange

i write.

SOUP – Second Appetizer 1/?

tw // existential anxiety , toxic parenting , mention of domestic abuse . ps. tolong dibaca pelan-pelan, alur maju-mundur. there's a lot going on this narration. trims, xo


“Kau juga bertemu Wisnu hari ini?”

Jimin menoleh kaget saat Jeongguk memberi tahunya perubahan rencana mereka hari itu. Taehyung tidak menjawab, dia nampak tidak dalam suasana hati yang baik sehingga Jimin menutup mulutnya dan menoleh ke Jeongguk yang menggeleng lembut.

Semalam, Taehyung menangis. Jeongguk sudah pernah melihatnya menangis, mereka sudah pernah berbagi duka dalam hubungan ini: menghadapi cobaan dan ujian yang tidak juga berbaik hati pada mereka.

Namun tangisan Taehyung semalam meremas hati Jeongguk seperti perasan jeruk nipis di atas lukanya. Dia menemukan Taehyung di sudut resor, tanah landai yang menghadap ke lautan yang remang-remang dalam keadaan setengah menangis—kelelahan dan emosional karena kehidupannya. Jeongguk berlutut di sisinya dan memeluknya, mengubur wajah Taehyung ke dadanya dan merasakan air matanya merebes ke dalam pakaian Jeongguk. Mereka diam sejenak di sana, dalam keremangan dan desir angin lautan yang lembab dan asin dalam balutan pakaian yang minim—meresapi segala kelelahan, kesedihan, dan amarah mereka yang tidak bisa tersampaikan kepada siapa pun.

Karena mereka tidak yakin pada siapa atau apa kemarahan ini harus ditujukan.

Ke keluarga mereka karena menghadirkan mereka? Karena menjadikan mereka seperti sekarang ini? Kehidupan karena membuat mereka hidup di tempat yang mereka tidak inginkan? Atau bahkan diri mereka sendiri karena tidak mampu menyelamatkan diri ketika sangat membutuhkannya?

Jimin menghampiri sahabatnya, memeluknya erat. Bernapas di bahunya dan Taehyung berdiri di sana, kedua lengannya menempel di tubuhnya, tidak bereaksi pada pelukan Jimin sama sekali. Jeongguk berdiri di dekat mereka—berduka entah karena kematian siapa.

“Bagaimana jika Wisnu menolak ide kita?” Tanya Taehyung malam itu, gemetar di tengah keremangan semalam dan sejujurnya, Jeongguk sama sekali tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Kalimat “kita korbankan Lakshmi” sudah berada di ujung lidahnya, Jeongguk nyaris bisa merasakan getir kalimat itu di permukaan lidahnya namun dia menelannya kembali. Membenamkan wajahnya di rambut Taehyung, bernapas keras di sana sementara kekasihnya gemetar oleh isak tangis dan ketakutan. Bahagia yang bagi orang lain bukanlah hal sulit, bagi mereka adalah sesuatu yang sangat mahal. Harga yang mereka harus bayarkan untuk rasa bahagia itu nyaris mustahil diuangkan: keluarga, garis darah, leluhur, adat, agama....

Jeongguk belum siap melemparkan bomnya pada Taehyung, memaksanya untuk bersikap sangat egois untuk pertama kalinya. Meninggalkan satu-satunya orang yang tidak ingin ditinggalkannya dan mengingat bagaimana Lakshmi sangat mengharapkan Taehyung untuk menyelamatkannya, mau tidak mau Jeongguk juga merasa mual. Lakshmi berada dalam kondisi tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri: dia seorang Astra, calon suaminya seorang Brahmana, mereka adalah kombinasi pasangan yang akan membuat seluruh keluarga besar Brahmana suaminya mencibir. Mengundang banyak decak bingung masyarakat: kombinasi yang sangat mustahil.

Bahkan Taehyung sendiri meragukan hubungan mereka, tidak yakin bahwa Wisnu mampu melindungi kakaknya dari keluarganya sendiri nantinya. Itulah mengapa dia mau mewarisi Purinya, demi memberikan tempat untuk kakaknya pulang suatu hari nanti.

“Jika kita di Kepulauan Riau,” katanya gemetar dan Jeongguk memejamkan mata—tidak tega sama sekali memikirkannya. “Ke mana kakakku akan pulang ketika keluarga Wisnu mencampakkannya?”

“Maka kita akan mengirimkannya tiket untuk pergi ke Kepri dan tinggal bersama kita.” Sahut Jeongguk dengan mulut sepat oleh asam lambung. “Kita akan menyembunyikan kasta kita, hidup sebagai manusia biasa tanpa ikatan pada keluarga mana pun. Kakakmu akan selalu diterima di mana pun kau berada bersamaku.”

Taehyung belum menerima konsep itu sepenuhnya namun, cukup untuk membuatnya tenang dan berkenan dibawa kembali. Mereka kemudian tidur berpelukan di atas ranjang, Jeongguk membelai rambutnya hingga terlelap dan tidak melepaskannya hingga dia bangun keesokan harinya.

“Ayo,” bisik Jimin setelah melepaskan pelukan mereka—menyadari betapa tegang aura di sekitar mereka. Dia meremas tangan Taehyung yang dingin, merasa berduka dan bersimpati untuk mereka berdua karena harus menghadapi hal semacam ini. “Level tiga puluh tujuh.” Bisik Jimin lembut ke Taehyung yang menatap lurus dengan mata setengah menutup, nampak kelelahan. “Kau pasti bisa melewatinya.”

Taehyung membalas remasan tangannya lemah, nampak sama sekali tidak optimis. Jimin melirik Jeongguk di belakang mereka, terlihat sama tidak nyamannya. Mereka akan menghadapi masalah mereka masing-masing hari ini. Mereka sudah memesan dua ruang privat di salah satu restoran Jepang di wilayah Petitenget, Kerobokan: satu akan digunakan Jeongguk dan satu akan digunakan Taehyung sementara Jimin menunggu di luar. Siapa saja yang keluar duluan akan disambut Jimin, ditenangkan atau diberikan apa saja yang akan membuat mereka lebih baik.

Mirah sudah menelepon Jeongguk tadi, memastikan mereka akan bertemu di jam makan siang karena Jeongguk ingin menghabiskan sisa hari memeluk Taehyung jika pembicaraan mereka tidak berakhir baik. Jimin sudah memesankan mereka berdua makan malam yang akan diantar ke kamar, untuk menghibur mereka diam-diam tadi sebelum mandi. Meminta kamar mereka dibereskan dan diberi bunga segar, disiapkan air mandi dengan bunga yang akan membuat Taehyung rileks sebelum menghadapi dunia lagi hari Senin.

Wisnu juga mengatakan pada Taehyung dia sudah menuju lokasi dan mereka akan berangkat sekarang. Jimin yang mengemudi, syukurlah mereka membawa Yaris Jeongguk karena jika mereka menggunakan Hard Top Taehyung, Jimin mungkin tidak akan bisa mengemudi. Taehyung duduk di sisinya, nampak tegang dan kencang sementara Jeongguk di belakang.

Jimin melirik mereka melalui spion tengah, keduanya diam dan menatap jalanan. Dia menghela napas, ingin mengorbankan atau membayar berapa saja agar keduanya bisa bahagia tanpa perlu melakukan ini. Dia mengemudi dengan tenang, menjaga kecepatannya agar tidak mengganggu keduanya, berusaha mengulur waktu dan memberikan mereka kesempatan untuk menenangkan diri.

Namun seberapa pelan pun Jimin berkendara, mereka tetap tiba di lokasi tujuan mereka. Restoran itu lumayan ramai, ada beberapa mobil diparkir di halaman parkirnya yang tidak terlalu luas dan Jimin mengenali mobil Wisnu yang terparkir di sudut—setengah badannya berada di jalan raya karena kekurangan lahan parkir mobil.

Dia memakir mobilnya, menoleh ke kedua temannya. “Kalian siap?” Tanyanya, berisik—entah kenapa takut mengeraskan suaranya dalam keadaan seperti ini, dengan kedua temannya bersikap sangat diam.

Jeongguk menghela napas, “Tidak bisa dihindari.” Gumamnya lalu membuka pintu di sisinya, menarik dirinya keluar dari sana dan Taehyung memijat pangkal hidungnya sebelum menyusul kekasihnya.

Jimin bergegas menyusul keduanya, mengunci mobil Jeongguk dan bergegas berlari ke sisi mobil di mana kedua temannya berdiri mengecek ponselnya. Wajah mereka pucat dan Jimin merasa hatinya diremas-remas; dia tidak tega keduanya menghadapi ini namun mereka sungguh tidak memiliki pilihan lain saat ini.

“Wisnu sudah di dalam.” Kata Taehyung kering dan Jeongguk mengangguk, “Mirah juga sudah.”

Keduanya menatap dan menyunggingkan senyuman tipis yang memilukan. “Good luck.” Mereka bersalaman, Jeongguk meremas tangan Taehyung dan menyunggingkan senyuman menenangkan.

“Kita bertemu lagi setelah ini.” Kata Jeongguk lembut, nyaris seperti bersumpah dengan suara bergetar oleh tekad dan Taehyung mengencangkan rahangnya, mengangguk kaku.

“Kita bertemu setelah ini.” Sahutnya setuju.


“Tjok.”

Taehyung menghela napas dan tersenyum saat memasuki ruangan, menemukan Wisnu duduk di salah satu kursi dengan ponsel di tangannya. Dia pria di akhir tiga puluhan yang nampak menarik—tubuhnya tidak kurus dan tidak juga terlalu berisi, terbalut kaus polo sederhana dan celana jins panjang. Rambutnya dicukur rapi, berwajah manis khas Bali dengan beberapa bekas jerawat di wajahnya. Ada jenggot tipis di dagunya, belum sempat dicukur. Dia berdiri ketika Taehyung memasuki ruangan dan mereka bertukar salaman hangat sebelum pelukan singkat.

“Bli Gus,” sapa Taehyung duduk di hadapannya. “Maaf menunggu.” Katanya lalu meraih buku menu yang berada di depannya. “Sudah memesan? Kita pesan dulu saja belum bicara.” Dia tersenyum, sejenak memikirkan apa yang dilakukan Jeongguk di ruang sebelah dengan Mirah—penasaran apa yang ingin Mirah katakan.

Mereka memesan makanan, Taehyung tidak memesan makanan berat karena merasa terlalu mual dengan pembicaraan mereka. Dia hanya memesan makanan ringan dengan bir sementara Wisnu memesan makanan berat—memberi tahu Taehyung bahwa dia akan pergi ke proyek setelah ini.

“Pekerjaan aman, ya?” Tanya Taehyung, berbasa-basi setelah pelayan menyingkir membawa pesanan mereka. “Banyak proyek?”

Wisnu seorang kontraktor, dia memiliki banyak kontak dengan orang pemerintahan langsung dan memegang kota Denpasar. Tidak ada proyek pembangunan mana pun di Denpasar yang tidak dipegangnya—menjadikannya berpengaruh di bidang yang sangat berbeda dengan kakeknya. Dia tersohor, tampan dan mapan. Itulah mengapa Taehyung selalu tidak memercayainya ketika pertama kali Lakshmi memperkenalkan mereka.

Apa yang diinginkan seorang Brahmana mapan dengan kakaknya?

“Kakakmu cantik,” kata Wisnu ketika Taehyung secara blak-blakan menanyakan alasannya mengencani kakaknya. “Kepribadiannya baik dan menyenangkan. Dia memiliki wajah khas Bali yang membuatku terpesona.”

Taehyung mengerutkan keningnya. “Jadi kau mencintai kakakku karena dia... cantik?” Ulangnya, sama sekali tidak menyukai jawabannya. “Bagaimana jika nanti kakakku tua dan keriput? Kau akan membuangnya begitu saja?”

Wisnu tertawa mendengarnya. “Denganmu, Tjok, semuanya harus sangat harfiah.” Katanya santai. “Ada banyak sekali hal yang menarik dari diri kakakmu dan jika aku memang tidak mencintainya dengan serius,” dia menatap Taehyung—menantangnya. “Mengapa menurutmu aku menunggu selama ini untuk menikahinya? Aku bisa saja bersikap bajingan dengan menghamilinya lalu menolak bertanggung jawab, tidak akan ada yang perduli karena dia Astra.”

Taehyung menghela napas tajam, membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu yang sangat jahat sebagai respons kata-kata bajingan Wisnu namun lelaki itu bergegas menambahkan, “Tapi aku tidak melakukannya.” Katanya dan Taehyung diam.

“Aku memilih menunggu, menikahi dia secara benar dan terhormat karena aku tahu posisinya sebagai Astra tidak memberikan siapa pun keuntungan, Tjok.” Dia menatap Taehyung lalu menghela napas. “Jika itu kurang menunjukkan betapa seriusnya aku dan betapa aku menghormati kakakmu sebagai perempuan, maka aku tidak tahu lagi apa yang bisa membuatmu berubah pikiran.”

“Aku sudah melawan keluargaku sendiri dengan meminang seorang Astra, lupakan nenekku yang menyebalkan,” dia terkekeh parau dan Taehyung mengerjap—masih belum nyaman dengan pembicaraan itu. “Aku serius dengannya dan aku tidak akan membiarkan keluargaku menyakitinya.”

Dan Taehyung sekarang menatap Wisnu di hadapannya, beberapa tahun kemudian, berpikir apakah dia bisa memercayai pemuda itu? Benar-benar memercayainya?

“Jadi,” dia tersenyum hangat. “Apa yang akan kaubicarakan denganku?” Tanyanya ringan—mungkin berpikir apa yang akan dibicarakan Taehyung hanyalah hal sesederhana cuaca.

Taehyung menghela napas, tidak yakin bagaimana mengatakannya. Namun dia merasa dialah yang lebih layak membicarakan ini dengan Wisnu dibanding Jeongguk yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka berdua. Dan Taehyung juga tidak yakin bagaimana mengatakan permintaannya ini tanpa menyinggung orientasi seksualnya—kenapa Taehyung kabur? Kenapa dia tidak menikahi Devy saja jika dia memang tidak memiliki kekasih?

Tangannya dingin. “Kau benar,” kata Taehyung kemudian perlahan. “Aku tidak ingin menikahi Devy.”

Dia diam, membiarkan kalimat itu menggantung di udara di antara mereka berdua. Menunggu reaksi Wisnu atas kalimatnya itu, menunggu Wisnu menyadari bahwa jika Taehyung tidak menikah maka dia juga tidak akan menikah. Taehyung menahan napasnya, tidak menatap Wisnu karena tidak ingin melihat ekspresinya. Namun kemudian, pemuda itu terkekeh parau.

“Sudah kuduga,” katanya dengan nada pasrah yang memilukan. Taehyung menoleh, mendapati pemuda itu sedang memijat pelipisnya. “Aku memang sejak awal tidak yakin kau akan menerima perjodohan itu begitu saja. Sangat tidak sesuai dengan karaktermu.”

Dia menatap Taehyung, sejenak nampak kecewa berat namun bergegas mengendalikan ekspresinya dengan baik dan menatap Taehyung tenang. “Dan kenapa, jika kau tidak keberatan?”

Taehyung mengencangkan rahangnya—alasan apa yang harus diberikannya agar tidak membongkar rahasianya dengan Jeongguk? “Aku tidak...,” dia berdeham. “Aku tidak tertarik menikah sama sekali.” Katanya kering: tidak sepenuhnya salah karena bakat ayahnya membina keluarga telah menginspirasinya untuk tidak melakukannya.

Alis Wisnu naik mendengarnya. “Sama sekali?” Tanyanya ragu dan Taehyung mengangguk. “Kau akan menjadi pewaris tanpa menikah? Lalu siapa yang akan mewarisi Puri setelahmu?”

Taehyung sungguh tidak peduli pada Puri sialan itu, tapi dia mendesah. “Kuserahkan pada adik ayahku atau anak pertama adik ayahku. Tidak masalah.” Katanya mengedikkan bahu.

Wisnu mengerjap. “Kau tahu, 'kan, ibumu...?”

Dia menghela napas, ya, ibunya. Siapa yang tidak tahu ibunya? Sudah banyak sekali berita tentangnya sejak dia muda: bagaimana dia sangat terobsesi menjadi seorang Jero, terobsesi dengan keluarga berkasta dan mendapatkan ayah Taehyung yang adalah pewaris Puri yang lumayan tersohor di Klungkung jelas adalah sebuah berkah dari langit. Itulah alasan utama mengapa ibunya bertahan bersama monster sialan itu dan menutup mata atas nasib anak-anaknya. Dia terobsesi memiliki anak yang akan mewarisi Puri itu, berstatus lebih tinggi dari keluarganya sendiri.

“Kupastikan ibuku sudah meninggal saat itu terjadi.” Katanya dingin dan Wisnu berjengit mendengar kalimatnya: Taehyung membicarakan kematian dengan sangat mudah, tidak pernah merasa terganggu sama sekali karena menurutnya apa yang harus ditakuti dari kematian yang akan membebaskannya dari segala sakit dan stres di dunia?

Hiduplah yang melelahkan dan harus ditakuti. Taehyung tidak bisa membayangkan kematian tanpa kedamaian, namun tidak menemukan masalah memikirkan kehidupan yang sama sekali tidak damai.

Wisnu kemudian menghela napas, sebelum dia sempat bicara makanan mereka datang. Keduanya bersidiam saat pelayan menyajikan makanan mereka. Taehyung hanya memesan nori taco sementara Wisnu memesan truffle mushroom pork chop yang beraroma lezat, lengkap dengan makanan penutup. Mereka menunggu hingga pelayan menutup kembali pintu mereka sebelum Wisnu menatap Taehyung.

“Lalu apa yang akan kautawarkan padaku karena kita berdua tahu,” dia meraih sumpitnya dan mengaduk mayonais yang berada di pinggir piringnya. “Aku tidak akan bisa menikahi kakakmu jika kau tidak menikah. Ayahmu cukup jelas tentang itu.”

Taehyung menatap makanannya, mendadak terlalu mual mencium aroma saus mentai dan rumput laut yang digunakan sebagai cangkang taco makanannya. Dia mendorongnya menjauh, meraih birnya dan meneguknya—dia sudah sempat makan croissant sebelum berangkat sebagai sarapan tadi.

Dia menghela napas, “Kawin larilah dengan kakakku.” Katanya, menjatuhkan bomnya pada Wisnu yang baru saja hendak menyuap potongan daging babinya yang terlihat berminyak dan memualkan.

Wisnu berhenti, dia menurunkan kembali sumpitnya dan menatap Taehyung dengan mata terbelalak. “Tjok,” katanya kaget. “Kau tahu kakakmu tidak mau melakukannya. Kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada anak kami nantinya jika kami kabur seperti itu. Kau sungguh—!” Dia membuang napas keras lalu meletakkan sumpitnya di meja—nampak stres dan kaget.

“Kau sungguh akan membiarkan keponakanmu bernasib sama seperti kakakmu?” Tanyanya lagi, pada titik ini marah pada Taehyung karena menyarankan sesuatu yang salah dan sama sekali tidak mereka inginkan. “Berada di kasta 'buangan'? Karena kau tahu, walaupun aku dan kakakmu tidur di kamar terpisah selama kami kabur, tidak akan ada yang percaya aku belum menyentuhnya.”

Taehyung menghela napas berat, stres menggelegak di dasar perutnya. Dia tahu itu semua, sangat tahu. Maka dari itulah dia benar-benar tidak mau melemparkan ide ini pada Wisnu, dia juga tahu kakaknya tidak mau melakukan ini. Menciptakan konflik antara dua keluarga besar dengan memilih kawin lari, memicu amarah ayahnya.

“Aku akan kabur dari Puri.” Bisik Taehyung saat Wisnu membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu lagi—mungkin melampiaskan kekesalannya karena Taehyung meminta sesuatu yang mustahil darinya atau mungkin kesal karena tidak juga bisa menikahi kakaknya setelah sekian lama bersabar, Taehyung tidak lagi tahu.

Wisnu diam, mulutnya terbuka. Sejenak keduanya tenggelam dalam keheningan sebelum Wisnu berbisik, “Kau... akan kabur?” Tanyanya lirih. “Dan... kenapa?”

Taehyung memijat kepalanya. “Aku muak di sana.” Katanya parau, merasakan nyeri di seluruh tubuhnya dan mual karena membicarakan ini. “Aku muak pada semuanya, hidup ini murni bukan milikku dan aku ingin memiliki hidup di mana aku bisa memutuskan sesuai dengan yang aku inginkan.”

Dia kemudian mendongak menatap Wisnu, “Jika kau kabur dengan kakakku,” katanya—kali ini terdengar lebih tegas dari sebelumnya. “Aku akan kabur bersama kalian. Kita kabur bersama.”

“Hanya bedanya,” dia masih menatap Wisnu yang terpana mendengarkan ide radikalnya yang akan menciptakan tsunami konflik antara keluarga mereka: Taehyung sejujurnya tidak yakin sebesar apa kerusakan yang akan terjadi atau apakah Wisnu akan merahasiakan ini dari kakaknya, tapi Taehyung putus asa.

Dia begitu menginginkan kebebasan, menginginkan kehidupan damai dengan Jeongguk, kehidupan di mana dia bisa memilih dan cukup egois untuk menyingkirkan siapa saja dari jalannya—siapa saja, kecuali kakaknya. Dia sudah berjanji padanya, dan Taehyung tidak sudi menjadi lelaki bajingan seperti ayahnya dengan mengingkarinya. Maka dia menempuh satu-satunya jalan yang tersisa....

“Kau akan kembali ke rumah bersama Lakshmi, entahlah beri saja jarak satu tahun setelah menikah hingga kalian memiliki anak—agar mereka yakin bahwa anak itu bukan Astra.” Taehyung menatap Wisnu yang masih diam, nampak memikirkan ide Taehyung yang kemungkinan bisa berhasil. Kecuali mungkin akan muncul gujingan tentang Lakshmi yang mandul karena setelah setahun menikah belum juga memiliki anak.

Peduli setan, jika mereka terus memikirkan keinginan lingkungan mereka maka Taehyung akan tergerus hingga menjadi bubuk saat berusaha. Dia tidak sudi lagi melakukannya.

“Dan aku,” dia menggertakkan rahangnya. “Aku tidak akan pernah kembali ke Bali.”

“Tjok,” hanya itulah yang dikatakan Wisnu setelahnya sebelum mereka tenggelam ke dalam keheningan panjang.

Makanan di meja tidak tersentuh, minuman mereka mulai berkondensasi—butir-butir air terbit dari permukaannya, meleleh ke meja dan membentuk kulacino. Dengung pendingin ruangan dan suara obrolan sayup-sayup dari ruangan di luar mereka menjadi satu-satunya suara saat keduanya memikirkan kalimat Taehyung barusan. Wisnu bernapas perlahan, matanya tidak fokus—menandakan betapa dia tenggelam dalam pikirannya sendiri sementara Taehyung memejamkan matanya, merasakan perih di hatinya karena pembicaraan ini.

Dia akan meninggalkan Bali sebentar lagi. Melepaskan kastanya, adatnya, agamanya, keluarganya, dan leluhurnya. Dia akan menjadi manusia lepas yang berbeda, tidak lagi bertanggung jawab atas hal yang sama sekali tidak dikehendakinya dan tidak harus hidup dalam bayang-bayang harapan orang lain. Dia dan Jeongguk akan memulai hidup baru sebagai manusia mandiri—membayangkan rumah kecil mereka dan Jeongguk sebagai pemandangan pertama dan terakhirnya setiap pagi, membuatnya tenang.

Dia memiliki Jeongguk.

Tidak peduli sesinting apa pun kehidupan mereka kedepannya, dia memiliki Jeongguk.

“Tjok,” kata Wisnu sekali lagi, membuang napas dengan keras. “Aku tidak yakin. Tapi izinkan aku membicarakan ini dengan kakakmu. Lalu kami akan memberi tahumu apa keputusan kami. Sudahkah kau memberi tahu kakakmu?”

Taehyung membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu namun ponselnya berdering. Dia menggumamkan maaf lalu bergegas merogoh sakunya, berpikir itu mungkin Jimin atau Jeongguk yang sudah selesai bicara dengan Mirah. Dia berkutat berusaha mengeluarkan ponsel dari kantung celananya lalu membaliknya, hingga menatap layarnya yang berkedip.

Jantungnya mencelos saat melihat nama siapa yang menelepon.

Tubuhnya seketika mendingin dengan cara yang mengerikan: seolah seember air dingin disiramkan ke punggungnya, ketakutan itu membentuk jalur dingin yang melumpuhkan di sepanjang tulang belakangnya. Taehyung gemetar meresponsnya. Tidak peduli berapa pun umurnya dan betapa dia sangat membencinya, dia tetap ketakutan.

Ayahnya meneleponnya, untuk pertama kalinya dalam hidup Taehyung.

“Tjok? Kau oke?” Tanya Wisnu cemas, wajah Taehyung pastilah pucat dan sangat pias sekarang karena tidak menyangka ayahnya akan meneleponnya—dia bahkan tidak yakin ayahnya memiliki nomor ponselnya karena dia selalu meminta ibu Taehyung melakukan tugas kotornya.

“Sebentar.” Kata Taehyung, tidak mengenali suaranya sendiri saat menggeser tombol hijau di layar dan menghela napas, menahannya saat mengatakan, “Swastyastu, Ajung?” Nyaris berbisik.

Suara ayahnya dingin, seperti sepotong bilah es tajam yang menusuk Taehyung bahkan melalui penerima telepon yang berkeresak, “Pulang,” katanya, tidak terbantahkan.

Malam ini kita nyedek ke Griya Dayu. Ajung terlalu lama membiarkanmu bermain-main.”

*

Glosarium:

  • Nyedek: prosesi paling awal dalam pernikahan Hindu, yakni di mana keluarga lelaki bertandang ke rumah orang tua perempuan untuk mengabarkan tentang keinginan mereka melamar anak perempuannya. Biasanya juga mengonfirmasi kepada anak perempuan apakah benar dia bersedia dilamar oleh pihak lelaki.

*

Sampai bertemu di part 2 lusa! luv, ire xo

cw // drinking scene . ps. aku SUKA BGT karakter jimin <3


“Ayo sarapan,”

Jeongguk berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian santai menunggu Taehyung yang sedang mengunci kamar sementara Jimin berdiri di jalan setapak, menunggu mereka dengan dompet panjangnya yang diselipkan di ketiaknya. Dia mengenakan kaus oblong polos bermerek dengan celana khaki pendek, sandal jepit dan kacamata hitam lain di hidungnya—sedang mengetik sesuatu di ponselnya, alisnya berkerut. Katanya dia sedang mengecek jadwal terbangnya bulan depan.

Taehyung bergabung dengan mereka, dia juga mengenakan celana pendek dan kemeja longgar sementara Jeongguk mengenakan celana panjang katun dengan kaus tanpa lengan dan kemeja luaran. Jimin masih berdiri di jalan setapak, mengerutkan alis pada ponselnya saat mereka bergabung ke sisinya. Jeongguk menarik napas, tersenyum saat mencium aroma parfum Jimin yang menenangkan—feminim dan memabukkan.

“Kita akan sarapan di hotel atau keluar?” Tanya Jimin, masih menunduk di ponselnya dan Taehyung secara insting berdiri di sisinya, menghalangi sinar matahari dari tubuh sahabatnya. “Aku ingin makan nasi babi.” Desahnya.

Jeongguk terkekeh, “Ini pukul sebelas pagi dan kau ingin nasi babi?”

Jimin menghela napas, menoleh jengkel ke Jeongguk seolah pemuda itu baru saja membunuh kucingnya atau apa. “Aku hidup tanpa nasi babi seenak ini di luar sana, Jeongguk. Jadi sebaiknya berikan saja apa yang kuinginkan.” Dia lalu menoleh ke Taehyung, berubah merajuk. “Kita makan nasi babi, ya, Om?”

Taehyung mengusap kepalanya; Jeongguk suka bagaimana dia nampak lebih lembut ketika berada di sekitar Jimin. Baik untuk saraf-sarafnya yang malang. “Baiklah, kita ke Selingsing.” Katanya setuju. “Aku saja yang mengemudi.”

Jeongguk mendesah, tersenyum kecil. “Haruskah aku mulai cemas pada kecenderunganmu menggoda dan merajuk pada kekasihku?” Tanyanya saat Jimin menyelipkan tangannya ke lengan Taehyung—mengayunkannya ceria seperti anak Taman Kanak-Kanak dengan guru favoritnya.

“Sudah kubilang,” Jimin melambaikan tangan pada Jeongguk yang menyusul mereka. “Aku sudah mencoba menggodanya sejak tamat kuliah, tapi dia tidak juga tergoda padaku. Jadi posisimu aman.” Dia memberikan jempol pada Jeongguk yang tertawa—rileks.

Mereka mengemudi ke Kediri, Badung ke tempat nasi babi kesukaan Jimin. Taehyung mengemudi dengan Jeongguk di sisinya sementara Jimin berbaring di kursi belakang—menelepon seseorang dan membicarakan sesuatu yang tidak dipahami Jeongguk. Taehyung melirik spion tengah saat mobil melambat di lampu APILL yang menyala kuning.

“Dia memang begitu,” katanya meremas tangan Jeongguk setelah memindahkan persneling ke Netral untuk berhenti. “Sibuk menelepon dan mengurus anak buahnya ketika libur, tapi tidak lama kok.” Dia melemparkan senyuman ke Jeongguk yang balas tersenyum.

“Aku tidak masalah kok.” Katanya kalem karena faktanya, saat mereka menunggu makanan kemudian di warung babi guling yang ramai dengan pelanggan dan ojek daring, ketiganya menunduk ke ponsel.

Mereka mengecek grup koordinasi masing-masing, mengoreksi jadwal dan menerima laporan terakhir dari anak buah masing-masing. Di sekitar mereka, orang-orang bergerak untuk makan dengan aroma masakan Bali yang tajam dan kaya oleh rempah. Aroma babi guling yang berlemak dan harum, obrolan orang-orang di sekitar, dan denting alat makan. Jeongguk mengerutkan alisnya: mereka memiliki VIP Arrival besok minggu dan mereka belum menerima form request dari Front Office tentang VIP Class Treatment yang harus diberikan Kitchen.

Jeongguk mendongak, menemukan kedua teman makannya juga mengerutkan alis ke ponselnya dan terkekeh. “Aku permisi sebentar.” Katanya dan keduanya menggumamkan jawaban tidak jelas yang mengundang senyuman di bibir Jeongguk.

Dia bangkit, keluar dari hiruk-pikuk warung makan dan menekan nomor FO Manager untuk mengonfirmasi kedatangan VIP. Saat Jeongguk kembali ke dalam, makanan mereka sudah terhidang dengan tiga gelas es jeruk yang mereka pesan. Dia mendesah, senang menemukan makanan lezat. Taehyung dan Jimin juga sudah menyingkirkan ponsel mereka: ini berarti liburan mereka resmi dimulai.

Mereka makan sambil mengobrol, banyak hal ringan mengenai pekerjaan dan keseharian Jimin. Teman-teman kerja, kejadian-kejadian lucu: semua hal yang Jimin belum ketahui. Termasuk perseteruan panas antara Taehyung dan keluarga Devy di antara piring-piring kosong mereka sementara Jimin menambah ekstra sate babi untuk cemilan mendengarkan Taehyung.

“Memang sejak awal,” dia mendelik pada Taehyung dengan kacamata dinaikkan ke atas kepalanya, menggunakan tusuk satenya untuk menunjuk Taehyung. “Aku sudah bilang padamu, jangan memercayainya. Dia terlalu palsu, entah kenapa aku benci sekali padanya.”

Taehyung mendesah, “Kupikir hanya karena dia akan jadi calon istriku suatu hari nanti dan kau benci fakta itu.”

Jimin menarik sepotong daging lepas dari tusuk satenya dulu sebelum mengangguk, “Itu juga!” Dia meletakkan tusuk sate yang kosong lalu mengambil sate lainnya. “Aku juga yakin sekali dialah yang menyebabkan hidupmu dan Mbok Gek menderita, aku bertaruh!”

“Dan masalah dia tidak tahu menahu tentang pernikahan kalian yang dipercepat,” Jimin menurunkan kacamatanya lagi saat mereka melangkah menuju mobil setelah dia membawa makan siang mereka bertiga. “Aku yakin dia tahu sesuatu. Omong kosong dia tidak terlibat dengan segala tingkah menyebalkannya saat berusaha menarik perhatianmu.”

Taehyung dan Jeongguk bertukar pandangan: apakah mereka memang terlalu memercayai kedua perempuan yang berada di kehidupan mereka hanya karena mereka baik? Ataukah mereka sebenarnya hanya baik karena mereka membutuhkan sesuatu dari Jeongguk dan Taehyung?

Jeongguk tidak bisa mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya saat mereka berkendara berkeliling Denpasar. Mampir ke Starbucks Reserve Dewata untuk membeli kopi dan duduk mengobrol dengan lebih nyaman. Jimin memesan minuman untuk mereka bertiga—kali ini Taehyung berhasil memenangkan pertarungan sehingga Jimin membawa dompetnya ke kasir. Dia tidak mau salah satu dari Taehyung dan Jeongguk yang bangkit.

“Kalian tidak punya banyak waktu berduaan, 'kan? Maka manfaatkanlah waktu ini.” Katanya, mendelik saat Jeongguk hendak bangkit untuk memesan minum mereka.

Jimin memesan Caramel Macchiato untuk dirinya sendiri, Hot Asian Dolce Latte untuk Jeongguk serta Cold Brew untuk Taehyung. Mereka duduk di meja bertiga di dekat jendela, menghadap jalanan Sunset Road yang ramai dengan wisatawan dengan limpahan cahaya matahari. Jimin duduk di seberang mereka, seperti pewawancara dengan kaki disilangkan dan bersandar dalam ke sofanya yang empuk.

Jeongguk melirik Jimin sesekali, teringat pembicaraan mereka tentang mengorbankan Lakshmi agar mereka berdua bisa kabur. Karena jika menunggu ayah Taehyung melepaskan Lakshmi, mereka hanya akan berakhir dengan Taehyung menjadi suami Devy dan pewaris Puri. Semakin sulit untuk Taehyung bernapas dan melarikan diri setelah terjerat dalam Puri.

“Kalian sebaiknya kabur sebelum dia menjadi pewaris.” Jimin mengangguk serius dari balik tepian gelas anggurnya malam itu. “Selama ayahnya masih hidup dan memegang kendali: hanya dengan itulah semuanya bisa aman. Mungkin akan terjadi gejolak besar, tapi semua akan reda sendiri. Biarkan ayah Taehyung menghadapi kekacauannya sendiri. Pastikan kalian pergi sangat jauh dari Bali karena ayah Taehyung pasti akan menemukan kalian jika kalian masih berada di Bali.”

“Semua kendaraan Taehyung atas namanya sendiri, maka akan semakin sulit melacak keberadaannya. Pastikan kalian membawa semuanya. Atau jual salah satu punya Taehyung.” Kata Jimin, terdengar praktis dan ringkas. Sudah berpengalaman melarikan diri dari keluarganya dan terbukti tidak ditemukan hingga saat ini kecuali dia sendiri yang pulang.

Jeongguk memijat pelipisnya, memikirkan rencana kabur membuatnya merasa pusing. Saat dia dan Taehyung setuju untuk kabur, Jeongguk merasa sangat percaya diri. Yakin dia akan menemukan jalan keluar secepatnya setelah mereka menyatukan suara. Namun sekarang, dia bisa merasakan kepercayaan dirinya mulai meluntur kembali karena tidak ada jalan keluar.

Dia melirik Taehyung yang tersenyum karena guyonan Jimin dan hatinya menghangat: dia berjuang untuk mereka berdua. Dia berjuang untuk kebahagiaan mereka. Mereka berdua sekarang, bukan lagi Jeongguk sendirian maka mereka akan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Mereka menghabiskan seharian untuk bertukar cerita, mendengarkan Jimin sebagian besar tentang pekerjaannya dan karena ini kali pertama Jeongguk duduk bersama Jimin, dia juga memamerkan negara-negara yang sudah pernah diinjaknya. Memamerkan foto-foto yang diambilnya di setiap landmark negara itu dengan bangga.

“Aku sengaja memilih penerbangan internasional dan berencana melamar pekerjaan di maskapai luar negeri,” dia menyugar rambut gelapnya dan menyilangkan kakinya. “Aku tidak mau dekat-dekat Indonesia, tidak ingin jika suatu hari nanti mendadak aku menjadi attendant di penerbangan yang dinaiki keluargaku. Aku menghindari peluang-peluang itu.”

“Dan jika nanti kalian sudah kabur jauh dari Bali, maka semakin baik.” Jimin menatap Taehyung sayang. “Karena itu berarti aku tidak harus kembali ke pulau ini lagi. Aku kembali hanya untuk Taehyung.” Dia mengulurkan tangan, menepuk telapak tangan Taehyung hangat. “Aku senang jika tidak harus kembali ke sini.”

Jeongguk mengencangkan otot perutnya saat Jimin melemparkan kata kabur itu dan melirik Taehyung yang dengan kalem menyesap minumannya—tidak terganggu oleh kalimat itu. Dia nampak positif dan optimis hingga Jeongguk menggertakkan rahangnya, tidak yakin harus melakukan apa sejak Jimin melemparkan opsi mengorbankan kakak perempuan Taehyung. Mungkinkah jika dia bisa mengajak Wisnu bekerja sama dengan mengajak Lakshmi kawin lari?

Namun jika Lakshmi kemudian hamil, Jeongguk tidak ingin membayangkan nasib anaknya yang menjadi Astra. Mengulang garis darah Lakshmi.

Sepanjang sisa hari, Jimin tidak lagi melemparkan kata-kata kabur dan mereka menikmati hari itu dengan ceria. Berjalan-jalan di Kuta, mampir ke pantai untuk membeli lumpia karena Jimin ingin mengenang masa mudanya, membeli donat dan banyak sekali makanan yang Jeongguk tidak yakin akan mereka habiskan, sebelum kembali ke hotel.

“Sampai ketemu di bar!” Seru Jimin melambai bersemangat dan berlari kecil ke kamarnya dengan selusin donat di genggamannya, berencana memakannya sambil berendam sebelum bertemu di bar pukul sembilan malam.

“Kau senang?” Tanya Jeongguk saat mereka memasuki kamar.

Taehyung mengangguk, tersenyum. “Sudah lama sejak aku ingin keluar bersamamu seperti itu: berjalan-jalan, duduk santai, menikmati hari tanpa dikejar-kejar. Rasanya luar biasa.” Dia mengulurkan tangan, meraih Jeongguk ke dalam pelukannya.

Jeongguk terkekeh, mengecup sisi wajahnya dan memeluk pinggangnya. “Maaf aku tidak sering membawamu berkencan.” Dia mengecupi wajah Taehyung sayang hingga pemuda itu terkekeh parau—beraroma kopi dan sirup karamel. “Mau pergi ke Bali Safari kapan-kapan?”

Taehyung mendongak, tersenyum lebar. “Memangnya aku anak SD??”

“Tapi kau mau, 'kan?”

“Tentu saja!”

Jeongguk tertawa serak, mengeratkan pelukannya ke Taehyung—mendekapnya dan mengecup puncak kepalanya. Dia melirik jam tangannya, mereka punya setidaknya empat jam sebelum bertemu Jimin. “Mau bercinta?” Tanyanya, mengecupi telinga Taehyung.

“Aku baru saja akan mengatakan itu,” Taehyung mengusap pantat Jeongguk dari balik celananya. “Ayo, bercinta sebelum bertemu Jimin lagi.” Dia menarik wajahnya dan Jeongguk menciumnya—mengusap bibir Taehyung lembut dengan bibirnya.

“Jangan sedih,” kata Taehyung kemudian di tengah ciuman mereka dan Jeongguk berhenti di leher Taehyung, sedang menciumi denyut nadi di balik telinganya.

Jeongguk menegakkan tubuhnya untuk menatap Taehyung, “Maksudmu?” Tanyanya.

Taehyung menangkup wajah Jeongguk lalu menumpukan keningnya di kening Jeongguk, matanya terpejam dan Jeongguk ikut memejamkan mata sebagai responsnya. “Jangan sedih dan merasa bersalah karena kau belum menemukan jalan keluar untuk masalah kita,” bisiknya dan jantung Jeongguk mencelos.

Dia terkejut karena Taehyung yang selama ini dikenalnya tidak akan pernah mengatakan itu, dia tidak peduli pada perasaan orang lain selama perasaannya sendiri terpenuhi. Dia manipulatif dan egois, perubahan sedrastis ini mengejutkan Jeongguk hingga dia menarik napas tajam—apa yang terjadi pada Taehyung?

“Itu bukan tanggung jawabmu sendirian sejak awal.” Taehyung menatapnya, rahangnya kencang. “Itu tanggung jawab kita berdua, karena ini hubungan kita.”

Jeongguk terpana, menatapnya dengan mata berkilauan oleh rasa kaget—tangannya meremas pinggang Taehyung. Dia tidak menyangka kekasihnya akan mengatakan sesuatu seperti itu, meringankan beban tak kasat mata di bahu Jeongguk. Membuatnya merasa... lebih baik.

Dia menelan ludah, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Tidak terbiasa menerima pujian, maka yang lolos dari bibirnya adalah: “Apakah nasi babi tadi beracun?”

Taehyung tergelak, memukul kepala Jeongguk main-main. “Jimin yang memberiku pandangan baru. Memberi tahuku bahwa hubungan ini bukan tanggung jawabmu sendirian dan aku harus berkontribusi juga di dalamnya.” Dia menatap Jeongguk yang terpana—kaget pada perubahan kekasihnya.

“Maka, mari bekerja sama.”

Jeongguk mengerjap, sejenak diam mencoba memproses kata-kata Taehyung sebelm merengkuhnya dengan kedua lengannya dan memangut bibirnya keras hingga Taehyung mengerang. Dia mengangkat Taehyung, mengalungkan kedua tungkai Taehyung ke pinggangnya seraya menciumnya—hatinya berdebar, merasa luar biasa oleh cinta yang dirasakannya untuk Taehyung.

Dia mencintai Taehyung seperti orang gila ketika dia bersikap agresif, manipulatif, dan penuh curiga. Dan sekarang, ketika dia hangat dan penuh dukungan, hati Jeongguk terasa sesak—membengkak oleh rasa cinta yang tumpah ruah untuknya. Jeongguk menghela napas keras di sela ciuman mereka, tidak ingin melepaskannya sama sekali walaupun Taehyung tersengal dan tertawa dari dalam tenggorokkannya.

“Aku sangat mencintaimu, kau boleh menggerusku di tanganmu. Hancurkan dan remukkan aku.” Geramnya di kulit Taehyung yang merangkul lehernya, tersenyum senang—mereka berdua mabuk oleh kehadiran masing-masing. “Terima kasih banyak, Sayang. Terima kasih.”

Taehyung menggeleng, “Tidak.” Dia mengusap wajah Jeongguk. “Terima kasih, karena telah meyakinkanku. Bersabar denganku. Dan tidak pernah menyerah tentangku.” Dia mengecup kedua kelopak mata Jeongguk lalu tersenyum.

“Ke ranjang?” Tanyanya.

Jeongguk terkekeh parau lalu mengecupnya sekali lagi, mengerang dalam ciumannya. “Ke ranjang.” Sahutnya setuju.


“Kalian habis bercinta, ya?”

Jimin memicingkan mata, menatap kedua temannya yang berwajah cerah ceria di hadapannya. “Oh, jangan repot-repot menjelaskan.” Gerutunya sebelum salah satu dari temannya sempat membuka mulut. “Aku tahu kapan seseorang baru saja mendapatkan,” dia bersiul panjang. “A good dicking.”

“Yah,” sahut Taehyung kalem dengan wajah datar. “Apa lagi yang kaulakukan untuk membunuh waktu?”

Jimin menatapnya dengan wajah mengerut jijik yang dibuat-buat sebelum mereka bertiga melangkah ke bar resor yang mereka inapi. Bar malam itu tidak terlalu ramai, namun juga tidak lenggang. Beberapa tamu menikmati minuman dan finger food di beberapa kursi dan Jimin langsung menghampiri bar untuk memesan cocktail.

“Hai!” Sapanya ceria pada bartender ramah di balik meja bar. “Tolong yang klasik saja. Cosmopolitan untukku.” Dia tersenyum dan bartender itu mengangguk, meraih alat-alatnya dan mulai mengerjakan pesanan Jimin.

“Vodka double dengan irisan jeruk untukku,” kata Taehyung duduk di sisi Jimin lalu menoleh ke Jeongguk. “Kau ingin sesuatu?” Tanyanya pada Jeongguk yang sejenak berpikir karena dia tidak terlalu suka alkohol luar.

“Bisakah kalian memberiku mojito tapi ganti rum-nya dengan vodka atau arak Bali?” Tanyanya kemudian, berdiri di sisi Taehyung dengan siku bersandar di bar.

Taehyung terkekeh, “Dasar orang Karangasem,” dia menepuk paha Jeongguk sementara bartender terkekeh bersamanya. “Kau harus selalu minum hasil bumi kabupatenmu, ya?”

Jimin tertawa ceria, selalu begitu kapan saja alkohol mulai bergabung dalam obrolan mereka. “Tidak ada yang lupa, kok, Karangasem punya arak terbaik se-Bali.” Dia menepuk bahu Jeongguk yang tersenyum.

“Aku sungguh lebih suka arak daripada vodka,” sahut Jeongguk dan menatap bartender-nya. “Kalian punya arak?”

“Kami punya arak Bali, Pak. Tentu saja.” Katanya ramah mengerjakan pesanan Jimin. “Bisa saya siapkan.”

Mereka duduk di bar, setelah menerima minuman mereka bartender menjauh mengurus pesanan lain di ujung meja memberikan mereka privasi untuk bicara. Jimin melirik Jeongguk sebelum membuka mulutnya, “Masalah kabur,” katanya perlahan—mengecek ekspresi keduanya sebelum melanjutkan. “Kalian sudah tahu akan ke mana?”

Jeongguk mengangguk, “Aku sudah bertanya ke HRD mengenai transfer ke Amandjiwo. Posisi yang kosong executive sous chef, tapi aku tidak masalah turun level.” Dia mengangkat gelasnya, menggoyangkannya sejenak sebelum menyesapnya perlahan—membiarkan panasnya arak membakar tenggorokkannya dengan lambat.

Taehyung menatapnya sejenak sebelum menoleh ke Jimin, “Aku akan berhenti sebentar karena Alila tidak punya properti yang memadai di Jawa Tengah. Lagi pula, sebaiknya aku melepaskan kontakku dengan Alila jika ingin memulai kehidupan baru.” Dia menatap potongan jeruk di dalam gelasnya. “Kami akan bergantung pada tabungan dan pekerjaan Jeongguk sementara sebelum kami memutuskan lagi.”

Jimin menatap mereka, “Kenapa kalian tidak pergi ke tempat yang lebih jauh? Sumatra? Kepulauan Riau?” Dia meraih gelasnya dan menyesap minumannya perlahan. “Jual saja motor atau mobilmu, yang mana saja yang lebih mudah.” Dia mengerling Jeongguk, yakin pemuda itu belum mengatakannya.

“Mobilku saja,” kata Jeongguk, menoleh ke Taehyung yang balas menatapnya. “Malah aku akan memberikannya ke Yugyeom. Kita bisa gunakan mobilmu dan jual motormu. Mempermudah kita berpindah. Jalur darat memang lebih menyiksa tapi lebih sulit dilacak.”

“Setuju.” Jimin mengangguk, mengedikkan gelasnya ke arah Taehyung. “Mobilmu juga lebih mahal dan aku tau kau menabung banyak untuk mobil itu. Jika kau mau, aku punya mantan kapten yang sekarang tinggal di Kepulauan Riau. Dia bisa membantumu.”

“Kalian mungkin bisa mencari identitas palsu juga,” Jimin menambahkan. “Coba kutanyakan temanku. Kalian harus menyembunyikan kasta kalian setidaknya hingga tiba di Jawa. Maaf saja, nama belakang kalian mengumumkan segalanya.” Dia menyugar rambutnya. “Orang Bali mana pun pasti tahu asal kalian hanya dengan membaca nama belakang kalian.”

“Kepulauan Riau,” ulang Jimin kemudian. “Kalian bisa memiliki rumah di tepi pantai, jika cukup kaya. Mereka punya pantai berbatu yang cantik dan banyak resor-resor besar yang bisa kalian sasar. Dengan jabatan Jeongguk, aku yakin tidak akan lama hingga dia mendapatkan posisi.”

Taehyung menghela napas, “Aku tidak ingin merampas posisi Jeongguk di Aman.” Dia tidak mendongak saat mengatakannya. “Dia mungkin bekerja keras untuk bisa masuk Aman Group dan sekarang aku memintanya untuk—”

“Aku memintamu membuang keluargamu.” Sela Jeongguk, alisnya berkerut. “Kita akan membuang keluarga kita, agama, adat, dan segalanya untuk memulai hidup baru yang damai tanpa cekikan tanggung jawab. Dan kau masih memikirkan pekerjaanku?”

Jimin mengedikkan gelasnya. “I didn't say a thing.” Dia menyesap Cosmopolitan-nya perlahan dengan ekor mata mengamati Taehyung dan Jeongguk.

Syukurlah musik bar terdengar terlalu berisik hingga tidak banyak tamu yang memerhatikan mereka membicarakan hal sekompleks ini di bar. Bartender mereka juga sepertinya menyadari bahasa tubuh mereka dan memilih menjauh dari mereka—Jimin menghargainya.

“Jika kita akan kabur sekarang, Wigung,” Jeongguk merendahkan suaranya—menatap Taehyung lekat. “Tidak ada jalan kembali sama sekali dan tidak boleh ada ruang untuk keraguan atau rasa bersalah. Lakukan atau tidak sama sekali.”

Taehyung mengencangkan rahangnya. “Tapi kita punya masalah lain,” katanya menatap vodka-nya seolah benda itu sudah melakukan dosa besar padanya. “Kakakku.”

Jimin menahan diri agar tidak mengerang dan melirik Jeongguk yang menegang di sisi Taehyung. Mereka bertukar pandangan—tidak yakin apa yang harus mereka katakan pada Taehyung. Haruskah dia memberi tahu Taehyung? Atau Jeongguk harus menunggu hingga dia bicara dengan Wisnu masalah kawin lari? Dia menggeleng pada Jimin yang mengangguk, menangkap pesannya.

Jeongguk harus mencoba cara lain, sebelum mengeksekusi cara yang akan menyakiti kekasihnya. “Kita akan memikirkan itu,” dia menyentuh bahu Taehyung—ingin memeluknya namun mereka di ruang terbuka dan dia tidak nyaman sekali. Juga tidak ingin Taehyung mendengar debaran jantungnya. “Aku akan membicarakan sesuatu dengan Wisnu dulu sebelum memberi tahumu.”

Alis Taehyung berkerut, “Apa yang akan kaukatakan pada Wisnu?”

Jeongguk melirik Jimin yang mengedikkan bahunya. “Aku ingin, entahlah, mencoba mengajaknya bicara mengenai potensi kawin lari dengan kakakmu.” Katanya perlahan, menatap Taehyung dan menilai ekspresinya.

Taehyung mengangkat gelasnya, menghabiskan vodka-nya dalam satu tegukan lalu meringis kecil sebelum meletakkanya di meja. Dia menatap gelas kosong itu dengan alis berkerut. “Aku tidak yakin....”

“Atau,” Jeongguk menghela napas. “Kau menikahi Devy demi membebaskan kakakmu lalu kabur.” Dia menatap Taehyung, merana dan Jimin mengalihkan pandangannya; tidak tega melihat ekspresi putus asa, frustrasi, dan terluka Jeongguk. “Jika begitu, kau terikat sepenuhnya dengan Puri dan entah rencana busuk apa yang dimiliki keluarga Devy.”

Taehyung memejamkan matanya, rahangnya kencang dan tangannya yang menggenggam gelas bekas minumnya mengencang—buku-buku jemarinya memutih. Mereka bertiga diam, menunggu Taehyung memproses informasi yang didapatkannya. Waktu bergerak lambat sekali hingga Taehyung akhirnya membuka matanya.

“Tolong vodka double.” Katanya parau pada bartender yang bergegas menghampirinya dan menuang vodka untuknya ke gelas baru, menyingkirkan gelas bekas Taehyung.

Dia meneguk minumannya sekaligus sebelum menghembuskan napas dengan keras dan memijat pelipisnya. Nampak sangat membenci ide itu, namun juga menyadari bahwa mereka benar-benar tidak memiliki banyak pilihan sekarang. Dia mendongak, menatap kekasih dan sahabatnya dengan resah.

Tugung minta maaf, Mbok Gek. “Baiklah.” Katanya parau, sesuatu yang pahit menyumbat tenggorokannya. “Aku akan coba bicara dengan Tugus Wisnu.”

*

tw // mention of abusive parents , domestic abuse . cw // drinking scene .


Jimin sedang menyesap anggurnya, menonton Netflix dari tablet-nya yang disandarkan ke meja—pintu terasnya terbuka lebar, membiarkan angin laut yang dingin menggigit memasuki kamarnya dan mengecup kulitnya yang terbuka. Dia hanya mengenakan jubah mandinya di atas pakaian dalamnya dengan rambut setengah basah yang siap diberi produk perawatan rambut.

Cairan ungu gelap di gelasnya bergolak saat dia menggoyangkan gelasnya, matanya menyaksikan gelombang anggur yang mengikuti bentuk cekung gelas dan gerakan tangannya. Dia melirik pintu kamar, menunggu Jeongguk—apakah Taehyung memang belum terlelap atau Jeongguk juga tidak sengaja terlelap?

Jimin meraih potongan almond dalam mangkuk kecil yang dibawakan layanan kamar tadi, mengunyahnya untuk menemani rasa anggur dalam mulutnya. Sayangnya mereka tidak memiliki Malbec atau Pinot noir di sini sehingga Jimin harus puas dengan Chateauneuf-du-pape, jauh lebih baik daripada Merlot. Dia menyesap anggurnya lagi, mendecap merasakan anggur larut di mulutnya bersama sisa rasa almond.

Biasanya dia minum bersama Taehyung yang memesan vodka untuk dirinya sendiri, tapi Jimin memutuskan untuk memberi waktu untuk mereka berdua. Dia menyadari sekali perubahan ekspresi Taehyung saat berada di sekitar Jeongguk—dia nampak lebih rileks dan nyaman, bahunya melemas dan dia kehilangan kerutan di keningnya yang Jimin takut akan jadi permanen jika dia terus-terusan mengerutkan keningnya.

Dia pertama kali bertemu Jeongguk di kamar Taehyung beberapa juta tahun lalu, tidak terlalu mengamati bagaimana Taehyung berada di sekitarnya. Bahkan tidak terlalu mengingat wajah Jeongguk selain rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang jangkung. Sekarang ketika dia akhirnya bisa mengamati lebih baik: dia menyadari hal-hal lain. Bagaimana tatapan Jeongguk berubah lembut ketika menatap Taehyung, pandangannya yang tidak pernah benar-benar lepas dari wajah Taehyung, dan cara berdirinya yang condong ke Taehyung—siap melindunginya jika ada peluru yang diarahkan ke Taehyung.

Jimin tidak bercanda ketika dia mengatakan Jeongguk siap mati demi Taehyung.

Dia mendesah, menyugar rambutnya ke belakang. Teringat kengerian ketika kali pertama Taehyung berusaha kabur dari Puri dan mengapa hal itu sangat tidak disarankan. Dia bergidik saat teringat wajah babak belur Taehyung hari itu dan betapa beracun mulutnya ketika mendoakan kematian ayahnya.

Namun Jimin juga tahu bahwa tanpa ayahnya, Taehyung mungkin tidak akan bisa di posisi ini.

Puri membenci Taehyung. Puri mereka membenci pewarisnya: ayah Taehyung dan Taehyung sendiri. Kekeraskepalaan ayahnya-lah yang membuat mereka bertahan di sana, membuat semua orang menutup mata atas ketidaksesuaian Taehyung menjadi pewaris. Jimin mendengar banyak dari neneknya yang mengomel ke ayah Jimin. Taehyung bukan keturunan “murni”, begitu kata mereka. Ibunya seorang Sudra, kakaknya Astra dan ayah Taehyung adalah begundal di keluarga mereka—sama sekali bukan pewaris yang mereka inginkan untuk mewakili keluarga.

Jimin tidak pernah memberi tahu ini pada Taehyung. Dia menyimpan rahasia betapa seluruh Puri siap menggulingkan mereka detik ayah Taehyung meninggal: entah apa yang mereka akan lakukan pada Taehyung dan ibu serta kakaknya yang sama sekali bukan bagian mereka. Nenek Taehyunglah yang paling vokal mengenai itu, dia membenci ayah Taehyung. Cucu gagalnya yang membawa aib ke keluarga mereka, mencoreng nama keluarga dengan istri Sudra dan anak Astra. Dan mereka sama sekali tidak puas dengan bagaimana Taehyung “mirip” dengan ayahnya: begundal yang tidak bisa diberi tahu, membawa masalah ke dalam Puri.

Dia ngeri membayangkan jika Puri mengetahui bahwa Taehyung tidak membawa masalah istri Sudra ke Puri, namun orientasi seksual dan kekasihnya yang adalah pewaris Puri kabupaten tetangga.

Jimin menggeleng, meraih botol anggurnya dan menuangnya ke dalam gelas. Haruskah dia membicarakan ini ada Jeongguk? Dia butuh membagikan rahasia ini kepada seseorang, melepaskan isi kepalanya sendiri. Mungkin Jeongguk bisa membantunya dengan rahasia ini. Jimin mengangkat gelasnya, menatap cairan gelap di dalamnya—menghirup aromanya dan membawanya ke bibirnya, tepat sebelum cairan menyentuh permukaan bibirnya, pintu kamarnya diketuk.

Dia menoleh, “Jeongguk?”

“Ya, ini aku.”

Dia berdiri, mengibaskan jubah mandinya, merapikan lipatannya lalu mengencangkan ikatannya—dia menghormati Jeongguk. Melangkah ke pintu, dia melirik pakaiannya, cukup sopan. Tangannya terulur ke pintu dan membuka kunci, dia menyentakkan daun pintu terbuka. Menemukan Jeongguk berdiri di hadapannya dengan celana training hangat dan kaus hitam tipis. Rambutnya diikat rendah di tengkuknya, berantakan.

“Taehyung sudah tidur?” Tanyanya, mundur dari pintu dan mempersilakan Jeongguk memasuki kamarnya yang tidak berbeda dengan kamar Jeongguk dan Taehyung.

“Sudah, baru saja.” Jeongguk mengangguk dan tertawa tanpa suara. “Kau selalu minum sendiri atau khusus hari ini?” Dia menoleh ke Jimin yang mengedikkan bahunya, meringis.

“Biasanya aku minum dengan Taehyung, tapi karena kalian bercinta jadi aku mengalah.” Dia mengedip genit lalu meluncur ke kursinya dan meraih gelas kedua yang dipesannya. “Kau minum?”

“Tidak pernah yang semewah anggur,” Jeongguk duduk di hadapannya, kursi mereka berada di tepi teras—menghadap langsung ke kolam renang dan lautan serta teras kamar Jimin. “Aku lebih suka cocktail arak Bali.”

Jimin mengerutkan kening, memicingkan mata dengan botol anggur di tangannya. “Kau tidak minum anggur yang kadar alkoholnya 8-15% tapi minum arak dengan kadar alkohol 15-40%?” Dia menuang anggur ke gelas Jeongguk yang tertawa serak. “Sinting,” gerutunya lalu mendorong gelas itu ke arah Jeongguk.

“Aku besar di lingkungan di mana minum adalah salah satu kegiatan untuk mengakrabkan diri selain merokok. Dan aku tidak merokok, maka minumlah satu-satunya caraku untuk bersosialisasi. Kau harus mengalaminya sendiri bagaimana semua bapak-bapak itu menatapmu aneh karena menolak minum arak,” dia meraih gelasnya dan menyesapnya, mendecap. “Lumayan.” Katanya.

Dia kemudian menatap Jimin dan Jimin menyadari benar kenapa Taehyung jatuh hati padanya. Taehyung menghabiskan waktunya dalam keluarga yang berantakan: ayah yang tidak tahu diri, ibu yang sedikit narsis dan kakak yang dikucilkan. Dia tidak punya figur ayah yang bisa dicontohnya, dewasa jauh sebelum waktunya karena harus melindungi kakak dan ibunya. Maka mungkin bertemu Jeongguk yang cerah, tenang, dan menghanyutkan membuatnya terkejut: sepanjang hidupnya, tidak pernah ada ketenangan dan keteraturan kecuali Jeongguk.

Bahkan jika Jeongguk bukanlah tipe lelaki berkeluarga, Jimin mungkin sudah menggodanya saat Taehyung tidak menerimanya. Dia nampak seperti suaka yang menenangkan, memasukinya akan membuat siapa saja mabuk oleh kedamaian. Dia melindungi, mengayomi, dan lembut. Tapi Jimin tidak suka komitmen, dia benci komitmen maka tipe lelaki seperti Jeongguk harus dihindarinya.

“Lalu apa yang ingin kaukatakan padaku?” Tanyanya, menyilangkan kakinya dan menyandarkan tubuhnya di kursi, melirik jam di ponselnya dengan sedikit gelisah. “Taehyung lumayan sering terbangun tengah malam, jadi sebaiknya aku tidak berlama-lama jika kita tidak mau dia tahu.”

Jimin menghela napas lalu menatapnya, “Lakshmi tadi memberi tahuku kondisi Puri,” katanya meraih gelas anggurnya dan menyesapnya—menenangkan kepanikan yang mulai terbit di dasar perutnya. “Dia memberi tahuku bahwa ayah Devy sudah datang ke rumah mengenai prosesi pernikahan mereka. Tidak akan lama lagi sebelum Taehyung dipaksa ikut untuk nyedek.”

Jeongguk, di luar dugaan Jimin, menggeram dan suaranya begitu eksotis hingga Jimin mendongak. Ekspresi di wajahnya membuat Jimin sejenak mundur: dia mengerutkan alis, menyerigai marah dengan kerut-kerut terganggu di wajahnya dan suara geraman lembut meloloskan diri dari kerongkongannya. Dia nampak seperti seekor singa yang kawanannya diganggu.

Jimin menenangkan dirinya yang kaget sebelum melanjutkan dengan lebih perlahan. “Aku hanya ingin tahu seberapa jauh usaha kalian dalam memperjuangkan hubungan ini? Rencana untuk kabur?” Tanyanya, mengulurkan tangan untuk meraih kacang di atas nampan dan mendongak ketika Jeongguk tidak kunjung menjawab.

“Oh, fuck.” Katanya ketika melihat ekspresi Jeongguk—dia tahu mereka berdua terjebak, tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Jimin menurunkan tangannya, batal mengunyah kacangnya. “Sama sekali?” Bisiknya, nyaris dikalahkan deru angin malam dan ombak di kejauhan.

Jeongguk mengusap wajahnya, memijat pelipisnya hingga Jimin merasakan tikaman rasa sakit di adanya—mereka sama sekali belum menemukan jalan keluar. “Aku berusaha membuat Taehyung tetap optimis walaupun aku sendiri tidak optimis sama sekali.” Dia mengatakannya dengan nada seolah sedang berkumur. “Aku tahu aku salah karena membohonginya, tapi sungguh. Aku tidak tahu lagi....”

“Segala jalan keluar yang kupikirkan selalu terbentur: entah Lakshmi, entah Wisnu, entah Taehyung.” Jeongguk menghembuskan napasnya keras. “Adikku juga masih terlalu muda untuk mengemban tanggung jawab adat Puri: dia bahkan belum pernah datang ke banjar. Aku benar-benar bingung, dengan pernikahannya yang semakin dekat.”

Jimin menghela napas, merasakan kepanikan dan rasa frustrasi mereka. Dia menatap lautan, apa saja selain Jeongguk yang frustrasi di hadapannya. Syukurlah dia tidak membawa Taehyung sekarang—dengan kondisi mentalnya yang tidak baik, dia sebaiknya diberi tahu berita buruk dengan perlahan.

“Hingga terkadang aku berpikir untuk melepaskan saja hubungan kami karena bagaimana pun caranya, tidak ada jalan keluar.” Bisik Jeongguk dan Jimin terdiam: memang itu cara yang terdengar paling masuk akal saat ini dengan kondisi mereka terjebak di dalam labirin tanpa ujung.

Jimin menandaskan isi gelasnya sebelum menuang segelas lagi—meredam sakit kepalanya. “Aku ingin memberi tahumu sesuatu,” katanya kemudian dengan perlahan. Jeongguk mendongak dari telapak tangannya. “Sesuatu tentang keluarga Taehyung yang mungkin kau belum ketahui. Tentang bagaimana...,”

Jimin menghela napas, dia memberi tahu Jeongguk bagaimana posisi Taehyung di Puri itu tidak lebih seperti telur di ujung tanduk. Jika ayahnya meninggal, maka dia akan tamat. Keberadaan bajingan itu sudah sejak lama terasa seperti duri dalam daging bagi Jimin: dia berharap ayah Taehyung cepat meninggal namun di sisi lainnya dia tahu bagaimana nasib Taehyung jika itu terjadi.

Detik ayahnya meninggal.

“Aku merahasiakan ini dari Taehyung.” Kata Jimin di akhir cerita sementara Jeongguk terenyak di hadapannya—wajahnya pucat. “Jadi, aku sungguh... Sungguh sama frustrasinya dengan kalian tentang masalah ini. Karena jika kalian bertanya pendapatku, kalian harus mengorbankan salah satu, kalian tidak bisa menyelamatkan semuanya.”

Dia menatap Jeongguk, di tengah heningnya malam dan deburan ombak pasang di kejauhan. Mereka bertatapan dan Jimin tahu mereka berdua memikirkan jalan keluar yang sama—hanya saja Jeongguk tidak mengatakannya karena tahu jalan itu tidak akan Taehyung tempuh.

Jimin yakin mereka akan berakhir bertengkar hebat jika Jeongguk mengatakan ini.

“Kalian harus mengorbankan Lakshmi.”


”... Kau dari mana?”

Taehyung mengerjapkan matanya yang pedas saat melihat Jeongguk berdiri di tengah ruangan yang remang-remang—siluet tubuhnya akan selalu dikenali Taehyung. Dia sedang melepaskan kaus dari kepalanya saat Taehyung terbangun, mendorong tubuhnya duduk di atas ranjang yang kusut setelah mereka bercinta dan tidur di atasnya. Jeongguk melempar kausnya ke lantai sebelum melepaskan celana trainingnya, dia melangkah ke ranjang dalam balutan celana dalamnya dan langsung menyusup ke balik selimut.

Tubuh Jeongguk beraroma pekat lautan dan terasa dingin ketika bersentuhan dengan kulit Taehyung. Jantung Taehyung berdebar, apakah Jeongguk keluar? Kenapa dia keluar? Dia menoleh ke Jeongguk yang memeluk pinggangnya, membenamkan wajahnya ke perut Taehyung—bernapas di sana. Taehyung membelai kepalanya, menyisir rambutnya yang kusut dengan jemarinya.

“Wiktu?” Bisiknya setelah sekian lama Jeongguk tidak bersuara. “Kau dari mana?” Tanyanya lagi, kali ini lebih mendesak.

“Aku minum bersama Jimin,” sahut Jeongguk teredam di perutnya. “Tidak bisa tidur, jadi aku memutuskan menemaninya minum sebentar sekalian membicarakan aibmu semasa SMA.”

Taehyung mengerutkan alisnya—merasakan sepercik rasa cemburu di hatinya karena ketika dia terlelap, kekasihnya minum bersama sahabatnya. Dia menyayangi Jimin seperti saudaranya sendiri, namun dia tetap merasa tidak nyaman dengan fakta itu.

“Dan kenapa kau tidak membangunkanku?” Tanya Taehyung, merasakan kejengkelan mulai merebak di hatinya namun berusaha keras menahannya dengan berhitung: 1... 2... 4....

“Kau tidur lelap sekali, aku tidak tega membangunkanmu.” Sahut Jeongguk masih di dalam perutnya. “Aku sungguh tidak melakukan apa pun, kami hanya minum dan bercerita.”

Taehyung membuka mulutnya, hendak menginterogasi kekasihnya lebih lanjut sebelum memutuskan menutup mulutnya kembali. Dia harus belajar memercayai Jeongguk—setelah ini, mungkin Jeongguk dan Jiminlah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Maka sebaiknya, dia mulai belajar memercayai mereka berdua. Jika Jeongguk memang menginginkan Jimin, dia akan memilihnya namun dia tetap memilih Taehyung.

Taehyung memejamkan matanya, menenangkan emosinya sendiri seraya menyisir rambut Jeongguk perlahan.

20... 25.... 29....

“Baiklah,” bisik Taehyung kemudian sebelum kembali memasuki selimut, memeluk Jeongguk yang menyusupkan diri ke pelukannya—menggigil. Mungkin karena udara dingin. “Ayo kembali tidur,” dia mengecup kening Jeongguk dan mengusap tubuhnya yang mulai hangat.

“Kau kenapa?” Tanyanya lembut, “Apakah ada sesuatu yang buruk?”

Jeongguk menggeleng dalam dekapannya. “Hanya kedinginan dan sedikit mabuk.” Katanya parau dan Taehyung mencium aroma anggur merah dan almond tipis dari napasnya.

32... 35... 40...

Taehyung menghela napas, berusaha menelannya dan tidak mendesak Jeongguk. Dia akan bertanya besok ketika suasana sudah lebih tenang; bertengkar di tengah malam dengan keadaan mengantuk dan sedikit mabuk tidak terdengar masuk akal. Maka dia mengeratkan pelukannya ke tubuh Jeongguk dan menyandarkan kepalanya di kepala Jeongguk.

“Wigung?”

“Ya?”

“Peluk aku hingga tidur?”

Taehyung terkekeh tanpa suara, tubuhnya terguncang lembut. “Kenapa?” Tanyanya sayang dan gemas, memeluk kekasihnya lebih erat lagi. “Gung Wah takut tidur sendiri, nggih?”

Jeongguk mengaitkan jemarinya di punggung Taehyung, mengeratkan pelukannya hingga Taehyung tersenyum—ini pertama kalinya Jeongguk bersikap manja padanya dan Taehyung menyukainya. Dia memimpikan saudara lelaki sepanjang hidupnya dan sekarang memiliki Jeongguk memuaskan keinginannya. Maka dia mendekap Jeongguk dekat ke dadanya, membelai punggungnya dan berharap apa pun itu yang mengganggu Jeongguk reda keesokan harinya.

Dan semoga dia membagikannya ke Taehyung—sehingga mereka bisa membicarakan jalan keluarnya bersama.

“Aku hanya...,” bisik Jeongguk di pelukannya. “Sangat mencintaimu, aku takut—selalu takut kau lenyap ketika aku membuka mata.”

Taehyung menghela napas—menyadari betapa itulah yang selalu dilakukannya pada Jeongguk selama ini. Jeongguk menjelaskan segalanya padanya, menceritakan segala hal yang menganggunya, termasuk kebiasaan Taehyung yang meninggalkannya tanpa penjelasan ketika dia merasa tidak nyaman atau ketakutan.

“Aku tidak akan pergi lagi,” bisik Taehyung mendekap Jeongguk dalam pelukannya. “Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu. Apa pun alasannya.”

*

tw // mention of bullying and homophobia , toxic masculinity .

ps. i enjoy creating jiji's chara! imma sucker of feminine man! <3 pss. why am i so exhausted????? semoga gak busux :(


Jeongguk mungkin harus mulai membiasakan diri tentang ini.

Mereka berdiri di balik pembatas penjemput kedatangan domestik bandara Ngurah Rai, menunggu Jimin yang sedang menarik kopernya dari ban berjalan. Taehyung melangkah ke dekat pagar, nampak bersemangat menyambut sahabatnya yang langsung melambai ceria dengan senyuman lebar di bibirnya ketika menangkap wajah Taehyung dari seberang ruangan.

Jimin bergegas menyeret kopernya dari ruang baggage claim, mengenakan kacamata hitam yang membuatnya nampak sangat menarik dengan rambut gelap yang berkibar di kepalanya saat dia berjalan cepat melewati proses pemeriksaan bagasi dan nomor bagasi di boarding pass-nya. Dia tersenyum semakin lebar saat melihat Taehyung yang berdiri di balik pagar pembatas penjemput, bergegas berlari ke arahnya dan melemparkan diri secara dramatis ke dalam kedua lengan Taehyung yang siap menangkapnya. Jeongguk mengejang, siap menangkap Taehyung jika dia terpeleset namun kedua kaki Taehyung menjejak dengan kuat.

Dia tidak peduli apakah mereka berada di ruang terbuka yang ramai saat mengecup kedua pipi Taehyung yang mengernyit, meletakkan tangannya di kepala Jimin lalu mendorongnya. “Sudah kubilang kurangi bersikap dramatis,” gerutu Taehyung namun tak ayal, tersenyum tipis.

Jimin juga memberikan satu ciuman di pipi Jeongguk walaupun Jeongguk bersikeras menolak ciumannya. Jimin bersikeras, mengecupnya ceria lalu tersenyum—dia beraroma lembut vanila dan wewangian lembut lainnya. Feminim dan menyenangkan; Jeongguk baru menyadarinya. Rambutnya beraroma seperti beri liar, mint, dan citrus. Bertemu Jimin, bahkan ketika Jeongguk sudah mandi di hotel sebelum menjemput Taehyung di Alila membuatnya berkecil hati, merasa kotor dan bau.

Dia adalah lelaki yang menarik, tubuhnya langsing dengan kesan mungil walaupun tingginya dan Taehyung nyaris sama, dan nampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Beraroma lembut parfum feminim yang memabukkan, pakaiannya licin dan rapi. Terawat. Jenis lelaki yang tidak dibayangkan Jeongguk akan berdiri di sisi Taehyung yang tinggi, berisi, cuek, dan berambut gondrong. Mereka sangat berlawanan dan Jimin juga manja—dia suka bergelayut di lengan Taehyung saat berjalan.

“Hai, Ganteng!” Sapanya ceria pada Jeongguk, tersenyum lebar seraya menaikkan kacamatanya, menjadikannya bandeau di kepalanya—mendorong anak rambut dari keningnya. Matanya berkilau ceria dengan wajah merah padam oleh adrenalin. “Minumanku?” Tanyanya dengan suara empuknya, mendelik pada Jeongguk yang terkekeh.

“Silakan, Yang Mulia. Green tea latte dengan liquid brown sugar.” Jeongguk menyerahkan gelas minuman Jimin yang berwarna hijau kecokelatan, di tangannya yang lain dia menggenggam kantung kertas terisi minumannya dan Taehyung.

Jimin menerimanya dengan senang, langsung menyesapnya bahagia. “Ah, terima kasih, Sayang.” Dia tersenyum setelah meneguk minumannya lalu menatap Taehyung. “Kita ke hotel sekarang?” Tanyanya mengulurkan tangan dan menepuk pipi Taehyung sayang. “Aku kangen.”

“Yoongi?” Tanya Taehyung saat mereka beriringan melangkah ke parkiran, menuju mobil Jeongguk melewati lorong panjang yang ramai oleh para penumpang pesawat yang juga baru mendarat di Ngurah Rai. “Kau tidak mengajaknya sekalian?”

Jimin menyesap minumannya, melangkah di sisi Taehyung dengan lengan terjalin dengan Taehyung—nampak sangat menggemaskan. Jeongguk mengamati bagaimana mereka berdua adalah representasi dua sahabat: satu nampak seperti ayah satu anak dengan kehidupan stabil sementara yang lain nampak seperti anak SMA pemberontak yang mencintai kebebasan. Mereka nampak seperti kombinasi aneh dua anjing: mungkin seperti German Great Danes dan Pomeranian.

Jimin memiliki pembawaan yang indah dan misterius, pembawaan itulah yang membuat orang-orang penasaran padanya. Dia nampak menarik, seperti keturunan Aphrodite yang akan membuat siapa saja bertekuk lutut di kakinya. Bersih, rapi, harum, dan sangat high maintenance. Tidak ada sedikit pun rambut di wajahnya yang keluar dari garisnya: tidak ada kumis, tidak ada jenggot, alisnya rapi, dan rambutnya dicukur presisi. Dia mengenakan make up tipis, pelembab bibir (atau mungkin bibirnya memang plumped alami), dan mengenakan hand-cream kapan saja dia sempat.

“Aku selalu tidak paham bagaimana kau bisa bersahabat dengan Jimin,” begitu komentar Jeongguk dengan gemas karena kedua sahabat itu benar-benar berlawanan: Taehyung sering lupa bercukur dan tidak pernah terganggu dengan rambut di wajahnya, gondrong, berkulit sewarna zaitun dan beraroma keringat khasnya yang membuat Jeongguk nyaman.

“Dia memang begitu sejak SMA, jika itu maksudmu.” Taehyung tersenyum dalam pelukan Jeongguk sebelum menerawang, nampak jengkel dan sedih. “Anak-anak sering membulinya karena menggunakan produk perawatan perempuan. Mereka mengatainya dengan begitu banyak nama dan sempat menyerangku juga. Tidak ada yang mau berteman dengan kami: mereka bilang kami homo dan harus dijauhi. Aku mendampinginya, melindunginya karena Jiji selalu melindungiku: kabur dari Puri ketika ayahku menyebalkan dan dia mengizinkanku tidur di kamarnya. Berdesakan seperti ikan.” Taehyung menerawang mengingat masa SMA mereka.

“Sekarang, dia sudah berdiri sendiri. Mandiri dan kuat, tapi kurasa, dia masih membutuhkan his scary dog untuk mendampinginya.” Taehyung mendongak dan tersenyum, Jeongguk mengecup puncak kepalanya—terkekeh. “Scary dog,” sahutnya setuju, membayangkan Taehyung yang masam berdiri di sisi Jimin yang ceria yang berkilauan.

Great Danes hitam masam dengan telinga runcing dan Pomeranian menggemaskan yang menyalak ceria.

“Mungkin memang sebenarnya aku adalah homoseksual sejak awal karena,” Taehyung memainkan jemari Jeongguk yang menggenggam tangannya—mensejajarkan jemari mereka dan memainkan kuku-kuku pendek Jeongguk yang bulat. “Aku tidak pernah terganggu dengan label homoseksual itu. Aku tidak pernah terganggu pada orientasi seksual Jiji, tidak juga terganggu ketika dia menggodaiku. Atau menciumku, atau memelukku. Aku hanya...,”

Taehyung menatap Jeongguk yang balas menatapnya. Tangannya terangkat dan mengusap wajah Jeongguk sayang. “Aku hanya sayang dan sangat overprotektif pada Jiji.” Bisiknya rendah. “Bagaimana dia harus menghadapi semua kebencian hanya karena memiliki selera yang berbeda: hanya karena dia merawat dirinya, hanya karena dia lebih menyukai aroma yang lembut dan feminim.”

“Aku paham,” sahut Jeongguk lembut lalu mengecup kening Taehyung sayang. “Aku paham. Dan tidak masalah bagiku bagaimana hubunganmu dengan Jiji, sungguh. Jika itu adalah masalah untukku, aku pasti akan memberi tahumu.”

Taehyung menatapnya dan menempelkan kening mereka berdua, mendesah panjang. “Aku sungguh jatuh cinta padamu, semakin dan semakin dalam setiap hari hingga aku takut aku akan mati karena cinta yang berdenyut di hatiku untukmu.”

“Jangan mati,” Jeongguk tersenyum. “Jangan mati untukku.” Dia mengusap wajah Taehyung sayang dan mengecup hidungnya. “Aku juga mencintaimu, lebih dari apa yang kata 'cinta' itu sendiri bisa jelaskan.”

“Dia ada penerbangan,” Jimin di sisi Taehyung melirik Rolex di tangannya lalu mendesah dramatis sambil menyesap minumannya. Jeongguk mengerjap, kembali ke masa sekarang—dia menoleh ke dua sahabat di sisinya dan tersenyum melihat ekspresi Jimin.

“Itulah mengapa aku berangkat ke Bali, aku tidak mau kesepian di vila sendiri.” Dia memutar bola matanya, menyesap minumannya.

Mereka menyeberangi lorong panjang yang berakhir di jalan kecil yang harus mereka seberangi. Jeongguk merogoh sakunya, mengeluarkan kunci mobil. Semua barang di mobilnya dia keluarkan pagi tadi sebelum berangkat bekerja: syukurlah ayahnya pergi ke Jembrana hari ini sehingga dia memiliki waktu bersiap-siap yang tenang. Dia memberi cukup ruang untuk Jimin dan barangnya di mobilnya.

“Jadi kau sudah pacaran dengannya?” Tanya Taehyung yang duduk di sisi Jeongguk, di kursi penumpang sementara Jimin duduk berselojor di kursi belakang dengan minumannya.

Jeongguk melirik spion tengah seraya memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin, mengulum senyuman saat Jimin melemparkan tatapan jengkel ke sahabatnya yang tidak bereaksi sama sekali—wajah Taehyung tenang dan steril. Dia memasukkan persneling, merogoh kompartemen di sisi pintu dan meraih uang receh serta karcis parkir mereka.

“Apa, sih, masalahmu?” Tanya Jimin gusar, menyesap minumannya dengan kaki disilangkan. “Kenapa kau berisik sekali bertanya tentang pacaran, pacaran.” Dia mendelik pada Taehyung yang bersandar kalem di kursinya. “Karena kau sudah punya pacar, jadi semua orang juga harus punya pacar?”

“Kau sudah bersamanya lebih dari delapan bulan,” Taehyung menambahkan, nampak tenang seolah sedang memarahi anaknya yang pulang dengan rapor merah dan Jimin memang nampak seperti anak SMA begundal.

Mereka memperdebatkan Yoongi, tentang bagaimana Jimin mungkin siap dengan hubungan dan Jimin secara konstan meneriaki Taehyung 'fuck you!' dan 'i love you, fuck!' seraya Jeongguk berkendara ke hotel yang dipesan Jimin. Sedikit terlalu mewah, resor di kawaran Jimbaran dengan pemandangan lautan yang menakjubkan. Tapi Jeongguk tidak keberatan karena yang membayar Jimin sendiri, menyalak galak saat Jeongguk menawarkan diri membayar kamarnya dan Taehyung. Maka dia memutuskan untuk diam dan menerimanya saja.

Mereka berhenti di lobi, membiarkan Bell Boy membantu mereka menurunkan isi bagasi yang tidak terlalu banyak kecuali Jimin yang membawa koper raksasa yang membuat Taehyung menggeleng dan Valet membantu Jeongguk memarkirkan mobilnya. Mereka memasuki hotel yang lapang dan harum dengan Jimin di depan setelah memaksa mereka menyerahkan KTP untuk keperluan check in.

Jimin meluncur di lobi, menghampiri Resepsionis yang menyapanya ramah. “Hai,” sapanya tersenyum ceria lalu menunjukkan ponselnya. “Dua vila atas nama Jimin?” Tambahnya sementara Front Office di hadapannya mengecek sistem. “Saya menelepon kemarin, meminta agar vila diletakkan berdekatan. Duty Manager kalian bilang saya mendapat kamar bersebelahan.”

“Baik, Bapak, saya cek sebentar.” Sahut gadis di balik konter dengan senyuman ramah di bibirnya.

Mungkin panggilan otomatis saja, karena Jimin adalah lelaki. Namun Jimin benci panggilan itu, sangat benci. Taehyung langsung meringis mendengar sebutan itu lalu bergegas menghampiri konter—berdiri di sisinya seperti anjing penjaga dengan tangan menyentuh bahunya lembut. Gestur protektif yang mengundang senyuman di bibir Jeongguk: mengingat apa yang mereka lalui bersama di saat remaja mereka, mungkin itulah hal yang Taehyung lakukan setiap saat. Berdiri di sisi Jimin kapan pun dia merasa Jimin 'terancam'.

“Tolong Jimin saja,” koreksi Jimin dengan wajah berkerut tidak suka dan gadis itu mengerjap, kaget bukan kepalang karena nada suara Jimin. “Saya benci dipanggi Bapak. Leave alone my sex.” Dia mendelik dan gadis itu bergegas meminta maaf, berkali-kali.

“Sudah, tidak apa-apa.” Kata Taehyung parau dan gadis itu malah semakin takut pada pembawaan masam Taehyung yang mengatakan itu tanpa sedikit pun nada ramah. “Lain kali, perhatikan kebutuhan tamu dengan lebih baik, ya.”

Gadis itu pucat di bawah lapisan hiasan wajahnya dan Jeongguk bergegas melerai mereka. Dia menghampiri konter dan menyentuh Taehyung yang setegang kawat. “Bagaimana jika kalian duduk di longue saja? Biar aku yang selesaikan.” Dia tersenyum ramah pada gadis di balik konter dan menoleh pada dua sahabat di sisinya.

Jeongguk tidak memiliki isu sensitif dengan gender dan dia punya pembawaan yang hangat: jadi sepertinya ini adalah bagiannya, mempermudah gadis malang itu.

“Pergilah ke sana, tenangkan Jimin.” Bisik Jeongguk pada Taehyung yang mengangguk.

Taehyung menatap Jeongguk yang mengangguk sebelum membimbing Jimin menjauh dari sana—menyesap sisa minumannya dengan tampang tidak suka hingga gadis di balik konter bergerak gelisah. Jimin menyerahkan ketiga KTP mereka ke Jeongguk, serta ponselnya di mana detail pemesanan kamarnya terpampang.

“Saya akan mengirimkan permintaan maaf setelah ini,” kata gadis itu dan Jeongguk tersenyum, meletakkan KTP mereka di meja dengan tenang untuk di proses.

“Tidak apa-apa,” kata Jeongguk hangat dan gadis itu mengangguk—masih nampak tegang lalu berterima kasih. Nada Jeongguk jauh lebih menenangkan daripada Taehyung. “Saya paham kau tidak tahu.” Tambahnya sementara gadis itu memproses pesanan Jimin di sistem lalu memberikan kunci kamar setelah mengecek KTP mereka.

“Berikut kunci kamar...,” dia berhenti sejenak dan Jeongguk tersenyum, mengulurkan tangan menerima kuncinya. “Bapak tidak apa-apa,” sahutnya dan gadis itu nampak lega.

“Berikut kunci kamar, Bapak.” Ulangnya kemudian kembali ke nada profesionalnya, tersenyum ramah sementara seorang Bell Boy menghampiri Jeongguk untuk membantunya. “Kamar Bapak terletak bersebelahan, namun tetap memiliki jarak yang lumayan antara satu sama lain. Bell Boy kami akan mengantar Bapak ke kamar.” Dia tersenyum pada Jeongguk lalu menakupkan kedua telapak tangannya di dada saat Jeongguk mengangguk, berterima kasih.

Jeongguk menghampiri keduanya, Taehyung mendongak dari Jimin yang menggerutu dan mereka kemudian beranjak ke kamar. Vila yang dipesan Jimin sedikit terlalu mewah dari apa yang dipikirkan Jeongguk—kamar mereka berjarak sekitar 20 meter dihalangi pepohonan rimbun yang menyejukkan. Lampu-lampu kuning membentuk jalur manis di jalan setapak mereka, menjadi bingkai penanda jalan dari pualam putih. Teras kamar mereka menghadap ke pantai lepas dengan kolam renang di masing-masing kamar.

Jeongguk berhenti sejenak di jalan setapak, menatap lautan lepas di hadapannya dan menghela napas dalam-dalam. Kapan terakhir kalinya dia berlibur santai seperti ini?

Dia mengamati sinar bulan purnama yang berkilau di atas permukaan air yang beriak, menghela napas dan Taehyung berhenti di sisinya—tangan mereka bersentuhan dan Jeongguk menoleh, menemukan Taehyung balas menatapnya dan tersenyum. Dia ingin meraih tangan Taehyung, meremasnya dan mengecupnya sayang—perasaan nyaman dan aman ini membuatnya mabuk namun dia menyadari sepenuhnya di mana mereka berada dan mengepalkan tangannya. Menahan diri setidaknya hingga Bell Boy berlalu dari hadapan mereka setelah menunjukkan kamar.

Jimin melambai, menyeret kopernya ke kamarnya sendiri. “Sampai ketemu besok! Kita ke bar!” Dia tersenyum lebar, memasang kembali kacamatanya saat menyusuri jalan setapak ke kamarnya dengan kunci di tangannya. “Pergunakan waktu kalian dengan baik.” Dia melemparkan air kiss pada keduanya sebelum tertawa ceria seolah baru saja melemparkan gurauan paling lucu dan lenyap di balik rimbun tanaman ke arah jalan masuk kamarnya.

Dia memang tidak peduli apa kata orang tentang orientasi seksualnya, namun Jeongguk dan Taehyung peduli. Mereka berpandangan, merona tipis sebelum akhirnya Jeongguk berdeham. Keduanya berdiri di jalan setapak remang-remang yang sepi namun tetap saja merasa rikuh. Dia mengangkat kuncinya, melambaikannya pada Taehyung lalu melangkah ke pintu kamar mereka. Menyelipkannya, dia memutar anak kunci di sana hingga terdengar suara klik ganda dan pintu terbuka. Kamar mereka luas dan lapang, dengan ruang terbuka ke teras belakang yang walaupun terbuka, dilengkapi dengan barisan pepohonan rapat yang melindungi privasi mereka. Semua lampu sontak menyala saat Jeongguk menyelipkan kartu listrik ke dalam soketnya. Menyinari vila yang nampak mewah.

Taehyung memasuki kamar itu dan menghela napas, “Jiji selalu begini, membuang-buang uangnya.” Katanya saat mengamati kamar yang luas, terang dan harum. Ranjang mereka rapi, menghadap teras dan lautan luas, runner dipasang kencang dan linen nampak licin dengan kartu ucapan selamat datang.

Jeongguk menghampiri Taehyung, memeluk pinggangnya dari belakang lalu mengecup lehernya lembut. Seluruh tubuhnya mendesah lega saat Taehyung berada dalam genggamannya—terasa seperti mengisi dayanya. Rasa sayang berdenyar di atas permukaan kulitnya; membuatnya bergidik. “Bukan berarti kau keberatan, 'kan?” Bisiknya parau dan Taehyung terkekeh.

“Kamarnya terlalu besar,” keluhnya sementara Jeongguk menggelayut di tubuhnya—dia mengusap tangan Jeongguk di atas perutnya. “Membuatku merasa terekspos.” Dia mengedikkan bahu, melirik Jeongguk yang menciumi bahunya dari balik kemejanya. “Kita terbiasa di kamar medium yang tertutup, tempat ini membuatku merasakan... Entahlah, kebalikan dari klaustrofobia?”

“Kau ingin ke kamar Jiji setelah berberes? Atau kau bisa ke sana, aku yang membereskan barang bawaanmu.” Jeongguk mengaitkan jemarinya di atas perut Taehyung, menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung—memejamkan matanya. Menikmati waktu yang diberikan ruang berdinding dan kesendirian untuk mereka berdua.

Taehyung menunduk menatapnya. “Tidak apa-apa?” Tanyanya. “Aku ingin menanyakan hal-hal teknis semacam... Mengurus kehidupan setelah kabur? Aku menghabiskan hidupku 37 tahun sebagai peliharaan orang tuaku, aku tidak memiliki gambaran apa pun tentang hidup sendirian.”

Jeongguk menegakan tubuhnya lalu berdiri di hadapan Taehyung, membelakangi lautan dan kolam renang mereka. Dia meraih tangan Taehyung lalu meremasnya sebelum mengecup buku jemarinya dengan lembut. “Kau bersamaku.” Bisiknya lembut di kulit Taehyung. “Kita akan menemukan caranya.” Dia kemudian menatap Taehyung yang perlahan tersenyum.

“Kau selalu membuatku merasa nyaman dan aman,” sahut Taehyung kemudian perlahan. “Kau memberiku tenang dan damai, kau selalu nampak... Kau memahami segalanya. Terstruktur dan rapi. Aku mungkin sangat mengandalkanmu.”

Jeongguk menghela napas, dia memang nampak seperti itu. Namun, hatinya juga ketakutan dan kebingungan. Dia sering berpikir, jalan keluar apa yang bisa mereka lakukan demi kebahagiaan mereka semua. Dia hanya terpikir untuk meminta Taehyung menikahi Devy hanya agar Lakshmi terbebas dari Puri sebelum mereka kabur dari sana. Menyelamatkan Lakshmi sebelum membuang semuanya: bahkan pernikahannya dengan Devy.

Jeongguk tidak pernah berani membawa topik itu lagi semenjak pernikahan mereka mulai mendekat: terlalu berisiko. Dan dia tidak mau melemparkan Taehyung seperti umpan ke dalam arena pertarungan.

Dia sudah bicara dengan ayahnya mengenai Taehyung, ayahnya setuju untuk membiarkan Taehyung menginap di Puri ketika dia tidak ingin di rumah atau ketika sedang bersitegang dengan ayahnya. Namun tidak mau ikut campur dengan permasalahan Taehyung.

“Jika ayahnya memukul Taehyung, maka mungkin dia memang layak mendapatkannya.” Begitu kata ayahnya dari balik cangkir kopinya dan Jeongguk menahan diri untuk tidak melayangkan tinju pada ayahnya karena bersikap sangat... abai tentang kekerasan dalam rumah tangga. “Lagi pula, Taehyung sudah tiga puluh tujuh tahun. Dia bukan lagi anak di bawah umur.”

Jawaban itu membuat mereka berdua semakin frustrasi, tidak lagi paham apakah memang ada jalan keluar untuk mereka dari masalah ini? Haruskah mereka.... Mengikhlaskan saja hubungan mereka ini? Melepaskannya saja? Sementara pernikahan Taehyung berada di depan mata mereka dan pertunangan Jeongguk yang mengikat. Mereka terjebak, dalam kardus raksasa yang terisolasi—tidak ada celah bahkan untuk bernapas.

Mereka mendengar kabar tentang seorang tamu lodge mereka yang adalah seorang homoseksual. Namun dia memutuskan untuk menikahi perempuan untuk identitas. Hanya agar masyarakat berhenti merongrongnya lalu menghabiskan sebagian besar waktunya bertemu kekasihnya di lodge. Jeongguk tidak ingin melakukan pilihan itu walaupun untuk saat ini, pilihan itulah satu-satunya penerangan di kardus mereka. Jeongguk tidak cukup berani untuk melakukannya: mengorbankan Mirah di dalamnya, membohongi semua orang.

Tidak. Moral Jeongguk masih cukup besar untuk tidak melakukannya.

“Aku juga kebingungan dengan kondisi kita sekarang,” akunya dan Taehyung menatapnya—mengerjap. “Sungguh.” Tambah Jeongguk, ibu jarinya mengusap punggung tangan Taehyung dengan lembut. “Tapi aku sudah memperjuangkanmu, memperjuangkan kita hingga sejauh ini.” Dia menatap mata Taehyung yang gelap dan berkilauan—ada sedikit takut, tegang, dan lelah di binarnya. “Aku tidak ingin berhenti. Kita masih bisa berusaha.”

Walaupun sekarang kita terjebak, adalah kalimat yang tidak disuarakan Jeongguk namun keduanya memahami kalimat itu. Saat Taehyung mengulurkan lengan dan memeluk Jeongguk yang seketika membungkusnya erat dalam kedua lengannya—mengecup puncak kepalanya dan memejamkan mata.

“Mari tidak memikirkannya sekarang,” bisik Jeongguk lembut. “Kita bersenang-senang hingga Minggu, oke? Setelahnya kita berjuang lagi.” Dia mengeratkan pelukannya pada Taehyung—merasakan desir darahnya, denyut nadi dan jantungnya, helaan napasnya dan kehidupan yang berdetak di dalam tubuhnya. Merasakan Taehyung, yang sehat dan hidup dalam pelukannya.

Dua bulan lagi, Taehyung akan memulai rangkaian upacara pernikahannya. Dan Jeongguk selalu mulas memikirkannya, mereka belum juga menemukan cara untuk kabur dari Puri tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. Khususnya Lakshmi. Jeongguk tidak tahu apa yang harus dilakukannya, bagaimana cara mereka kabur dari takdir yang terus mendesak mereka.

Lautan berdebur lembut di kejauhan, airnya beriak lembut oleh ombak dan air pasang. Bulan semakin pudar saat malam semakin larut dan Jeongguk bersandar di ranjang, bertelanjang dada menunggu Taehyung mandi. Matanya menatap titik di kejauhan, sementara kepalanya berputar—memikirkan mereka berdua. Hubungan mereka. Jalan keluar untuk mereka.

“Wiktu?”

Jeongguk mengerjap, mendongak dari lamunannya menatap lautan yang mulai gelap dan menemukan Taehyung baru saja keluar dari kamar mandi dalam balutan jubah mandi putih yang lembut. “Hai,” sahutnya—entah mengapa berbisik, padahal suasana kamar mereka begitu hening kecuali deburan ombak di kejauhan. “Kemarilah.” Dia menepuk kasur di sisinya.

Taehyung merangkak naik, mereka sengaja membuka pintu balkon mereka. Masih enggan menutup pintu dan tirai mereka, Jimin tidak mengganggu malam mereka dan mengirim pesan agar mereka menjemputnya sarapan besok karena dia kelelahan. Dia ingin tidur dan Taehyung tidak perlu menemaninya malam ini.

“Wiktu?”

“Hm?”

Taehyung menyusup ke dalam pelukan Jeongguk, memejamkan matanya dengan telapak tangan menempel di dada Jeongguk yang telanjang—tangannya terasa hangat dan lembab. “Aku pusing sekali,” bisiknya dan Jeongguk mengeratkan pelukannya. “Ayo bercinta.”

Jeongguk tersenyum: bercinta mulai terasa seperti candu bagi mereka. Membuat mereka terlalu lelah setelahnya hingga terlelap tanpa mimpi, tanpa berpikir. Kapan pun mereka merasa muak dan kelelahan, mereka akan lari ke bercinta. Kegiatan yang membuat otak mereka sejenak mati karena gairah mengambil alih seluruh kontrol tubuh mereka, melepaskan hormon yang membuat mereka nyaman, dan menghabiskan energi mereka.

Dan Jeongguk juga membutuhkan itu sekarang.

“Ayo,” bisik Jeongguk dan menyelipkan tangannya ke jubah mandi Taehyung dan membelai dadanya—memilinnya lembut sementara Taehyung mendesah lalu mendongak, menjambak rambut Jeongguk yang mendaratkan ciuman ke lehernya.

Setidaknya 10 jam ke depan, otak mereka tidak akan berpikir.

*

tw // mention of bullying and homophobia , toxic masculinity , toxic parenting .

ps. i enjoy creating jiji's chara! imma sucker of feminine man! <3 pss. why am i so exhausted????? semoga gak busux :(


Jeongguk mungkin harus mulai membiasakan diri tentang ini.

Mereka berdiri di balik pembatas penjemput kedatangan domestik bandara Ngurah Rai, menunggu Jimin yang sedang menarik kopernya dari ban berjalan. Taehyung melangkah ke dekat pagar, nampak bersemangat menyambut sahabatnya yang langsung melambai ceria dengan senyuman lebar di bibirnya ketika menangkap wajah Taehyung dari seberang ruangan.

Jimin bergegas menyeret kopernya dari ruang baggage claim, mengenakan kacamata hitam yang membuatnya nampak sangat menarik dengan rambut gelap yang berkibar di kepalanya saat dia berjalan cepat melewati proses pemeriksaan bagasi dan nomor bagasi di boarding pass-nya. Dia tersenyum semakin lebar saat melihat Taehyung yang berdiri di balik pagar pembatas penjemput, bergegas berlari ke arahnya dan melemparkan diri secara dramatis ke dalam kedua lengan Taehyung yang siap menangkapnya. Jeongguk mengejang, siap menangkap Taehyung jika dia terpeleset namun kedua kaki Taehyung menjejak dengan kuat.

Dia tidak peduli apakah mereka berada di ruang terbuka yang ramai saat mengecup kedua pipi Taehyung yang mengernyit, meletakkan tangannya di kepala Jimin lalu mendorongnya. “Sudah kubilang kurangi bersikap dramatis,” gerutu Taehyung namun tak ayal, tersenyum tipis.

Jimin juga memberikan satu ciuman di pipi Jeongguk walaupun Jeongguk bersikeras menolak ciumannya. Jimin bersikeras, mengecupnya ceria lalu tersenyum—dia beraroma lembut vanila dan wewangian lembut lainnya. Feminim dan menyenangkan; Jeongguk baru menyadarinya. Rambutnya beraroma seperti beri liar, mint, dan citrus. Bertemu Jimin, bahkan ketika Jeongguk sudah mandi di hotel sebelum menjemput Taehyung di Alila membuatnya berkecil hati, merasa kotor dan bau.

Dia adalah lelaki yang menarik, tubuhnya langsing dengan kesan mungil walaupun tingginya dan Taehyung nyaris sama, dan nampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Beraroma lembut parfum feminim yang memabukkan, pakaiannya licin dan rapi. Terawat. Jenis lelaki yang tidak dibayangkan Jeongguk akan berdiri di sisi Taehyung yang tinggi, berisi, cuek, dan berambut gondrong. Mereka sangat berlawanan dan Jimin juga manja—dia suka bergelayut di lengan Taehyung saat berjalan.

“Hai, Ganteng!” Sapanya ceria pada Jeongguk, tersenyum lebar seraya menaikkan kacamatanya, menjadikannya bandeau di kepalanya—mendorong anak rambut dari keningnya. Matanya berkilau ceria dengan wajah merah padam oleh adrenalin. “Minumanku?” Tanyanya dengan suara empuknya, mendelik pada Jeongguk yang terkekeh.

“Silakan, Yang Mulia. Green tea latte dengan liquid brown sugar.” Jeongguk menyerahkan gelas minuman Jimin yang berwarna hijau kecokelatan, di tangannya yang lain dia menggenggam kantung kertas terisi minumannya dan Taehyung.

Jimin menerimanya dengan senang, langsung menyesapnya bahagia. “Ah, terima kasih, Sayang.” Dia tersenyum setelah meneguk minumannya lalu menatap Taehyung. “Kita ke hotel sekarang?” Tanyanya mengulurkan tangan dan menepuk pipi Taehyung sayang. “Aku kangen.”

“Yoongi?” Tanya Taehyung saat mereka beriringan melangkah ke parkiran, menuju mobil Jeongguk melewati lorong panjang yang ramai oleh para penumpang pesawat yang juga baru mendarat di Ngurah Rai. “Kau tidak mengajaknya sekalian?”

Jimin menyesap minumannya, melangkah di sisi Taehyung dengan lengan terjalin dengan Taehyung—nampak sangat menggemaskan. Jeongguk mengamati bagaimana mereka berdua adalah representasi dua sahabat: satu nampak seperti ayah satu anak dengan kehidupan stabil sementara yang lain nampak seperti anak SMA pemberontak yang mencintai kebebasan. Mereka nampak seperti kombinasi aneh dua anjing: mungkin seperti German Great Danes dan Pomeranian.

Jimin memiliki pembawaan yang indah dan misterius, pembawaan itulah yang membuat orang-orang penasaran padanya. Dia nampak menarik, seperti keturunan Aphrodite yang akan membuat siapa saja bertekuk lutut di kakinya. Bersih, rapi, harum, dan sangat high maintenance. Tidak ada sedikit pun rambut di wajahnya yang keluar dari garisnya: tidak ada kumis, tidak ada jenggot, alisnya rapi, dan rambutnya dicukur presisi. Dia mengenakan make up tipis, pelembab bibir (atau mungkin bibirnya memang plumped alami), dan mengenakan hand-cream kapan saja dia sempat.

“Aku selalu tidak paham bagaimana kau bisa bersahabat dengan Jimin,” begitu komentar Jeongguk dengan gemas karena kedua sahabat itu benar-benar berlawanan: Taehyung sering lupa bercukur dan tidak pernah terganggu dengan rambut di wajahnya, gondrong, berkulit sewarna zaitun dan beraroma keringat khasnya yang membuat Jeongguk nyaman.

“Dia memang begitu sejak SMA, jika itu maksudmu.” Taehyung tersenyum dalam pelukan Jeongguk sebelum menerawang, nampak jengkel dan sedih. “Anak-anak sering membulinya karena menggunakan produk perawatan perempuan. Mereka mengatainya dengan begitu banyak nama dan sempat menyerangku juga. Tidak ada yang mau berteman dengan kami: mereka bilang kami homo dan harus dijauhi. Aku mendampinginya, melindunginya karena Jiji selalu melindungiku: kabur dari Puri ketika ayahku menyebalkan dan dia mengizinkanku tidur di kamarnya. Berdesakan seperti ikan.” Taehyung menerawang mengingat masa SMA mereka.

“Sekarang, dia sudah berdiri sendiri. Mandiri dan kuat, tapi kurasa, dia masih membutuhkan his scary dog untuk mendampinginya.” Taehyung mendongak dan tersenyum, Jeongguk mengecup puncak kepalanya—terkekeh. “Scary dog,” sahutnya setuju, membayangkan Taehyung yang masam berdiri di sisi Jimin yang ceria yang berkilauan.

Great Danes hitam masam dengan telinga runcing dan Pomeranian menggemaskan yang menyalak ceria.

“Mungkin memang sebenarnya aku adalah homoseksual sejak awal karena,” Taehyung memainkan jemari Jeongguk yang menggenggam tangannya—mensejajarkan jemari mereka dan memainkan kuku-kuku pendek Jeongguk yang bulat. “Aku tidak pernah terganggu dengan label homoseksual itu. Aku tidak pernah terganggu pada orientasi seksual Jiji, tidak juga terganggu ketika dia menggodaiku. Atau menciumku, atau memelukku. Aku hanya...,”

Taehyung menatap Jeongguk yang balas menatapnya. Tangannya terangkat dan mengusap wajah Jeongguk sayang. “Aku hanya sayang dan sangat overprotektif pada Jiji.” Bisiknya rendah. “Bagaimana dia harus menghadapi semua kebencian hanya karena memiliki selera yang berbeda: hanya karena dia merawat dirinya, hanya karena dia lebih menyukai aroma yang lembut dan feminim.”

“Aku paham,” sahut Jeongguk lembut lalu mengecup kening Taehyung sayang. “Aku paham. Dan tidak masalah bagiku bagaimana hubunganmu dengan Jiji, sungguh. Jika itu adalah masalah untukku, aku pasti akan memberi tahumu.”

Taehyung menatapnya dan menempelkan kening mereka berdua, mendesah panjang. “Aku sungguh jatuh cinta padamu, semakin dan semakin dalam setiap hari hingga aku takut aku akan mati karena cinta yang berdenyut di hatiku untukmu.”

“Jangan mati,” Jeongguk tersenyum. “Jangan mati untukku.” Dia mengusap wajah Taehyung sayang dan mengecup hidungnya. “Aku juga mencintaimu, lebih dari apa yang kata 'cinta' itu sendiri bisa jelaskan.”

“Dia ada penerbangan,” Jimin di sisi Taehyung melirik Rolex di tangannya lalu mendesah dramatis sambil menyesap minumannya. Jeongguk mengerjap, kembali ke masa sekarang—dia menoleh ke dua sahabat di sisinya dan tersenyum melihat ekspresi Jimin.

“Itulah mengapa aku berangkat ke Bali, aku tidak mau kesepian di vila sendiri.” Dia memutar bola matanya, menyesap minumannya.

Mereka menyeberangi lorong panjang yang berakhir di jalan kecil yang harus mereka seberangi. Jeongguk merogoh sakunya, mengeluarkan kunci mobil. Semua barang di mobilnya dia keluarkan pagi tadi sebelum berangkat bekerja: syukurlah ayahnya pergi ke Jembrana hari ini sehingga dia memiliki waktu bersiap-siap yang tenang. Dia memberi cukup ruang untuk Jimin dan barangnya di mobilnya.

“Jadi kau sudah pacaran dengannya?” Tanya Taehyung yang duduk di sisi Jeongguk, di kursi penumpang sementara Jimin duduk berselojor di kursi belakang dengan minumannya.

Jeongguk melirik spion tengah seraya memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin, mengulum senyuman saat Jimin melemparkan tatapan jengkel ke sahabatnya yang tidak bereaksi sama sekali—wajah Taehyung tenang dan steril. Dia memasukkan persneling, merogoh kompartemen di sisi pintu dan meraih uang receh serta karcis parkir mereka.

“Apa, sih, masalahmu?” Tanya Jimin gusar, menyesap minumannya dengan kaki disilangkan. “Kenapa kau berisik sekali bertanya tentang pacaran, pacaran.” Dia mendelik pada Taehyung yang bersandar kalem di kursinya. “Karena kau sudah punya pacar, jadi semua orang juga harus punya pacar?”

“Kau sudah bersamanya lebih dari delapan bulan,” Taehyung menambahkan, nampak tenang seolah sedang memarahi anaknya yang pulang dengan rapor merah dan Jimin memang nampak seperti anak SMA begundal.

Mereka memperdebatkan Yoongi, tentang bagaimana Jimin mungkin siap dengan hubungan dan Jimin secara konstan meneriaki Taehyung 'fuck you!' dan 'i love you, fuck!' seraya Jeongguk berkendara ke hotel yang dipesan Jimin. Sedikit terlalu mewah, resor di kawaran Jimbaran dengan pemandangan lautan yang menakjubkan. Tapi Jeongguk tidak keberatan karena yang membayar Jimin sendiri, menyalak galak saat Jeongguk menawarkan diri membayar kamarnya dan Taehyung. Maka dia memutuskan untuk diam dan menerimanya saja.

Mereka berhenti di lobi, membiarkan Bell Boy membantu mereka menurunkan isi bagasi yang tidak terlalu banyak kecuali Jimin yang membawa koper raksasa yang membuat Taehyung menggeleng dan Valet membantu Jeongguk memarkirkan mobilnya. Mereka memasuki hotel yang lapang dan harum dengan Jimin di depan setelah memaksa mereka menyerahkan KTP untuk keperluan check in.

Jimin meluncur di lobi, menghampiri Resepsionis yang menyapanya ramah. “Hai,” sapanya tersenyum ceria lalu menunjukkan ponselnya. “Dua vila atas nama Jimin?” Tambahnya sementara Front Office di hadapannya mengecek sistem. “Saya menelepon kemarin, meminta agar vila diletakkan berdekatan. Duty Manager kalian bilang saya mendapat kamar bersebelahan.”

“Baik, Bapak, saya cek sebentar.” Sahut gadis di balik konter dengan senyuman ramah di bibirnya.

Mungkin panggilan otomatis saja, karena Jimin adalah lelaki. Namun Jimin benci panggilan itu, sangat benci. Taehyung langsung meringis mendengar sebutan itu lalu bergegas menghampiri konter—berdiri di sisinya seperti anjing penjaga dengan tangan menyentuh bahunya lembut. Gestur protektif yang mengundang senyuman di bibir Jeongguk: mengingat apa yang mereka lalui bersama di saat remaja mereka, mungkin itulah hal yang Taehyung lakukan setiap saat. Berdiri di sisi Jimin kapan pun dia merasa Jimin 'terancam'.

“Tolong Jimin saja,” koreksi Jimin dengan wajah berkerut tidak suka dan gadis itu mengerjap, kaget bukan kepalang karena nada suara Jimin. “Saya benci dipanggi Bapak. Leave alone my sex.” Dia mendelik dan gadis itu bergegas meminta maaf, berkali-kali.

“Sudah, tidak apa-apa.” Kata Taehyung parau dan gadis itu malah semakin takut pada pembawaan masam Taehyung yang mengatakan itu tanpa sedikit pun nada ramah. “Lain kali, perhatikan kebutuhan tamu dengan lebih baik, ya.”

Gadis itu pucat di bawah lapisan hiasan wajahnya dan Jeongguk bergegas melerai mereka. Dia menghampiri konter dan menyentuh Taehyung yang setegang kawat. “Bagaimana jika kalian duduk di longue saja? Biar aku yang selesaikan.” Dia tersenyum ramah pada gadis di balik konter dan menoleh pada dua sahabat di sisinya.

Jeongguk tidak memiliki isu sensitif dengan gender dan dia punya pembawaan yang hangat: jadi sepertinya ini adalah bagiannya, mempermudah gadis malang itu.

“Pergilah ke sana, tenangkan Jimin.” Bisik Jeongguk pada Taehyung yang mengangguk.

Taehyung menatap Jeongguk yang mengangguk sebelum membimbing Jimin menjauh dari sana—menyesap sisa minumannya dengan tampang tidak suka hingga gadis di balik konter bergerak gelisah. Jimin menyerahkan ketiga KTP mereka ke Jeongguk, serta ponselnya di mana detail pemesanan kamarnya terpampang.

“Saya akan mengirimkan permintaan maaf setelah ini,” kata gadis itu dan Jeongguk tersenyum, meletakkan KTP mereka di meja dengan tenang untuk di proses.

“Tidak apa-apa,” kata Jeongguk hangat dan gadis itu mengangguk—masih nampak tegang lalu berterima kasih. Nada Jeongguk jauh lebih menenangkan daripada Taehyung. “Saya paham kau tidak tahu.” Tambahnya sementara gadis itu memproses pesanan Jimin di sistem lalu memberikan kunci kamar setelah mengecek KTP mereka.

“Berikut kunci kamar...,” dia berhenti sejenak dan Jeongguk tersenyum, mengulurkan tangan menerima kuncinya. “Bapak tidak apa-apa,” sahutnya dan gadis itu nampak lega.

“Berikut kunci kamar, Bapak.” Ulangnya kemudian kembali ke nada profesionalnya, tersenyum ramah sementara seorang Bell Boy menghampiri Jeongguk untuk membantunya. “Kamar Bapak terletak bersebelahan, namun tetap memiliki jarak yang lumayan antara satu sama lain. Bell Boy kami akan mengantar Bapak ke kamar.” Dia tersenyum pada Jeongguk lalu menakupkan kedua telapak tangannya di dada saat Jeongguk mengangguk, berterima kasih.

Jeongguk menghampiri keduanya, Taehyung mendongak dari Jimin yang menggerutu dan mereka kemudian beranjak ke kamar. Vila yang dipesan Jimin sedikit terlalu mewah dari apa yang dipikirkan Jeongguk—kamar mereka berjarak sekitar 20 meter dihalangi pepohonan rimbun yang menyejukkan. Lampu-lampu kuning membentuk jalur manis di jalan setapak mereka, menjadi bingkai penanda jalan dari pualam putih. Teras kamar mereka menghadap ke pantai lepas dengan kolam renang di masing-masing kamar.

Jeongguk berhenti sejenak di jalan setapak, menatap lautan lepas di hadapannya dan menghela napas dalam-dalam. Kapan terakhir kalinya dia berlibur santai seperti ini?

Dia mengamati sinar bulan purnama yang berkilau di atas permukaan air yang beriak, menghela napas dan Taehyung berhenti di sisinya—tangan mereka bersentuhan dan Jeongguk menoleh, menemukan Taehyung balas menatapnya dan tersenyum. Dia ingin meraih tangan Taehyung, meremasnya dan mengecupnya sayang—perasaan nyaman dan aman ini membuatnya mabuk namun dia menyadari sepenuhnya di mana mereka berada dan mengepalkan tangannya. Menahan diri setidaknya hingga Bell Boy berlalu dari hadapan mereka setelah menunjukkan kamar.

Jimin melambai, menyeret kopernya ke kamarnya sendiri. “Sampai ketemu besok! Kita ke bar!” Dia tersenyum lebar, memasang kembali kacamatanya saat menyusuri jalan setapak ke kamarnya dengan kunci di tangannya. “Pergunakan waktu kalian dengan baik.” Dia melemparkan air kiss pada keduanya sebelum tertawa ceria seolah baru saja melemparkan gurauan paling lucu dan lenyap di balik rimbun tanaman ke arah jalan masuk kamarnya.

Dia memang tidak peduli apa kata orang tentang orientasi seksualnya, namun Jeongguk dan Taehyung peduli. Mereka berpandangan, merona tipis sebelum akhirnya Jeongguk berdeham. Keduanya berdiri di jalan setapak remang-remang yang sepi namun tetap saja merasa rikuh. Dia mengangkat kuncinya, melambaikannya pada Taehyung lalu melangkah ke pintu kamar mereka. Menyelipkannya, dia memutar anak kunci di sana hingga terdengar suara klik ganda dan pintu terbuka. Kamar mereka luas dan lapang, dengan ruang terbuka ke teras belakang yang walaupun terbuka, dilengkapi dengan barisan pepohonan rapat yang melindungi privasi mereka. Semua lampu sontak menyala saat Jeongguk menyelipkan kartu listrik ke dalam soketnya. Menyinari vila yang nampak mewah.

Taehyung memasuki kamar itu dan menghela napas, “Jiji selalu begini, membuang-buang uangnya.” Katanya saat mengamati kamar yang luas, terang dan harum. Ranjang mereka rapi, menghadap teras dan lautan luas, runner dipasang kencang dan linen nampak licin dengan kartu ucapan selamat datang.

Jeongguk menghampiri Taehyung, memeluk pinggangnya dari belakang lalu mengecup lehernya lembut. Seluruh tubuhnya mendesah lega saat Taehyung berada dalam genggamannya—terasa seperti mengisi dayanya. Rasa sayang berdenyar di atas permukaan kulitnya; membuatnya bergidik. “Bukan berarti kau keberatan, 'kan?” Bisiknya parau dan Taehyung terkekeh.

“Kamarnya terlalu besar,” keluhnya sementara Jeongguk menggelayut di tubuhnya—dia mengusap tangan Jeongguk di atas perutnya. “Membuatku merasa terekspos.” Dia mengedikkan bahu, melirik Jeongguk yang menciumi bahunya dari balik kemejanya. “Kita terbiasa di kamar medium yang tertutup, tempat ini membuatku merasakan... Entahlah, kebalikan dari klaustrofobia?”

“Kau ingin ke kamar Jiji setelah berberes? Atau kau bisa ke sana, aku yang membereskan barang bawaanmu.” Jeongguk mengaitkan jemarinya di atas perut Taehyung, menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung—memejamkan matanya. Menikmati waktu yang diberikan ruang berdinding dan kesendirian untuk mereka berdua.

Taehyung menunduk menatapnya. “Tidak apa-apa?” Tanyanya. “Aku ingin menanyakan hal-hal teknis semacam... Mengurus kehidupan setelah kabur? Aku menghabiskan hidupku 37 tahun sebagai peliharaan orang tuaku, aku tidak memiliki gambaran apa pun tentang hidup sendirian.”

Jeongguk menegakan tubuhnya lalu berdiri di hadapan Taehyung, membelakangi lautan dan kolam renang mereka. Dia meraih tangan Taehyung lalu meremasnya sebelum mengecup buku jemarinya dengan lembut. “Kau bersamaku.” Bisiknya lembut di kulit Taehyung. “Kita akan menemukan caranya.” Dia kemudian menatap Taehyung yang perlahan tersenyum.

“Kau selalu membuatku merasa nyaman dan aman,” sahut Taehyung kemudian perlahan. “Kau memberiku tenang dan damai, kau selalu nampak... Kau memahami segalanya. Terstruktur dan rapi. Aku mungkin sangat mengandalkanmu.”

Jeongguk menghela napas, dia memang nampak seperti itu. Namun, hatinya juga ketakutan dan kebingungan. Dia sering berpikir, jalan keluar apa yang bisa mereka lakukan demi kebahagiaan mereka semua. Dia hanya terpikir untuk meminta Taehyung menikahi Devy hanya agar Lakshmi terbebas dari Puri sebelum mereka kabur dari sana. Menyelamatkan Lakshmi sebelum membuang semuanya: bahkan pernikahannya dengan Devy.

Jeongguk tidak pernah berani membawa topik itu lagi semenjak pernikahan mereka mulai mendekat: terlalu berisiko. Dan dia tidak mau melemparkan Taehyung seperti umpan ke dalam arena pertarungan.

Dia sudah bicara dengan ayahnya mengenai Taehyung, ayahnya setuju untuk membiarkan Taehyung menginap di Puri ketika dia tidak ingin di rumah atau ketika sedang bersitegang dengan ayahnya. Namun tidak mau ikut campur dengan permasalahan Taehyung.

“Jika ayahnya memukul Taehyung, maka mungkin dia memang layak mendapatkannya.” Begitu kata ayahnya dari balik cangkir kopinya dan Jeongguk menahan diri untuk tidak melayangkan tinju pada ayahnya karena bersikap sangat... abai tentang kekerasan dalam rumah tangga. “Lagi pula, Taehyung sudah tiga puluh tujuh tahun. Dia bukan lagi anak di bawah umur.”

Jawaban itu membuat mereka berdua semakin frustrasi, tidak lagi paham apakah memang ada jalan keluar untuk mereka dari masalah ini? Haruskah mereka.... Mengikhlaskan saja hubungan mereka ini? Melepaskannya saja? Sementara pernikahan Taehyung berada di depan mata mereka dan pertunangan Jeongguk yang mengikat. Mereka terjebak, dalam kardus raksasa yang terisolasi—tidak ada celah bahkan untuk bernapas.

Mereka mendengar kabar tentang seorang tamu lodge mereka yang adalah seorang homoseksual. Namun dia memutuskan untuk menikahi perempuan untuk identitas. Hanya agar masyarakat berhenti merongrongnya lalu menghabiskan sebagian besar waktunya bertemu kekasihnya di lodge. Jeongguk tidak ingin melakukan pilihan itu walaupun untuk saat ini, pilihan itulah satu-satunya penerangan di kardus mereka. Jeongguk tidak cukup berani untuk melakukannya: mengorbankan Mirah di dalamnya, membohongi semua orang.

Tidak. Moral Jeongguk masih cukup besar untuk tidak melakukannya.

“Aku juga kebingungan dengan kondisi kita sekarang,” akunya dan Taehyung menatapnya—mengerjap. “Sungguh.” Tambah Jeongguk, ibu jarinya mengusap punggung tangan Taehyung dengan lembut. “Tapi aku sudah memperjuangkanmu, memperjuangkan kita hingga sejauh ini.” Dia menatap mata Taehyung yang gelap dan berkilauan—ada sedikit takut, tegang, dan lelah di binarnya. “Aku tidak ingin berhenti. Kita masih bisa berusaha.”

Walaupun sekarang kita terjebak, adalah kalimat yang tidak disuarakan Jeongguk namun keduanya memahami kalimat itu. Saat Taehyung mengulurkan lengan dan memeluk Jeongguk yang seketika membungkusnya erat dalam kedua lengannya—mengecup puncak kepalanya dan memejamkan mata.

“Mari tidak memikirkannya sekarang,” bisik Jeongguk lembut. “Kita bersenang-senang hingga Minggu, oke? Setelahnya kita berjuang lagi.” Dia mengeratkan pelukannya pada Taehyung—merasakan desir darahnya, denyut nadi dan jantungnya, helaan napasnya dan kehidupan yang berdetak di dalam tubuhnya. Merasakan Taehyung, yang sehat dan hidup dalam pelukannya.

Dua bulan lagi, Taehyung akan memulai rangkaian upacara pernikahannya. Dan Jeongguk selalu mulas memikirkannya, mereka belum juga menemukan cara untuk kabur dari Puri tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. Khususnya Lakshmi. Jeongguk tidak tahu apa yang harus dilakukannya, bagaimana cara mereka kabur dari takdir yang terus mendesak mereka.

Lautan berdebur lembut di kejauhan, airnya beriak lembut oleh ombak dan air pasang. Bulan semakin pudar saat malam semakin larut dan Jeongguk bersandar di ranjang, bertelanjang dada menunggu Taehyung mandi. Matanya menatap titik di kejauhan, sementara kepalanya berputar—memikirkan mereka berdua. Hubungan mereka. Jalan keluar untuk mereka.

“Wiktu?”

Jeongguk mengerjap, mendongak dari lamunannya menatap lautan yang mulai gelap dan menemukan Taehyung baru saja keluar dari kamar mandi dalam balutan jubah mandi putih yang lembut. “Hai,” sahutnya—entah mengapa berbisik, padahal suasana kamar mereka begitu hening kecuali deburan ombak di kejauhan. “Kemarilah.” Dia menepuk kasur di sisinya.

Taehyung merangkak naik, mereka sengaja membuka pintu balkon mereka. Masih enggan menutup pintu dan tirai mereka, Jimin tidak mengganggu malam mereka dan mengirim pesan agar mereka menjemputnya sarapan besok karena dia kelelahan. Dia ingin tidur dan Taehyung tidak perlu menemaninya malam ini.

“Wiktu?”

“Hm?”

Taehyung menyusup ke dalam pelukan Jeongguk, memejamkan matanya dengan telapak tangan menempel di dada Jeongguk yang telanjang—tangannya terasa hangat dan lembab. “Aku pusing sekali,” bisiknya dan Jeongguk mengeratkan pelukannya. “Ayo bercinta.”

Jeongguk tersenyum: bercinta mulai terasa seperti candu bagi mereka. Membuat mereka terlalu lelah setelahnya hingga terlelap tanpa mimpi, tanpa berpikir. Kapan pun mereka merasa muak dan kelelahan, mereka akan lari ke bercinta. Kegiatan yang membuat otak mereka sejenak mati karena gairah mengambil alih seluruh kontrol tubuh mereka, melepaskan hormon yang membuat mereka nyaman, dan menghabiskan energi mereka.

Dan Jeongguk juga membutuhkan itu sekarang.

“Ayo,” bisik Jeongguk dan menyelipkan tangannya ke jubah mandi Taehyung dan membelai dadanya—memilinnya lembut sementara Taehyung mendesah lalu mendongak, menjambak rambut Jeongguk yang mendaratkan ciuman ke lehernya.

Setidaknya 10 jam ke depan, otak mereka tidak akan berpikir.

*

ps. unedited, sorry about the typo, xo pss. semoga tidak busuk :(((


Taehyung menatap ruang terbuka di dekat restoran Alila, Sea Salt yang sekarang sedang digunakan untuk resepsi pernikahan.

Beberapa tiang didirikan di sana—dibentuk semirip mungkin dengan kayu alami namun menancap sangat kuat di tanah, diberikan hiasan kain satin putih kemerahan yang melambai mengikuti arah angin pantai yang asin dan lembab. Ada hiasan bebungaan segar di beberapa titik: mawar-mawar gendut dirangkai dengan apik, mengisi sudut-sudut kayu untuk menyembunyikan sambungannya. Standing bouquet raksasa diletakkan sisi kedua altar dengan komposisi bunga yang megah dan tinggi. Dedaunan kelapa yang ditanam berjajar di sekitar tepi pantai bergemeresak karena angin yang sama, meja-meja makanan ditata di sekitar altar dengan anak-anak magang mengenakan seragam rapi berjaga di dekat sana untuk membantu tamu dengan makannnya.

Musik akustik dimainkan oleh band yang berdiri beberapa meter dari area tamu, musiknya lembut menenangkan namun dikalahkan oleh gemuruh air laut yang menghantam pantai. Taehyung berdiri di sudut, mengamati jalannya resepsi seraya mengawasi makanan yang keluar-masuk dapur. Hoseok berjaga di dapur, mengatur flow memasak semua anak buah Taehyung.

Resepsi hari itu pernikahan privat, hanya dihadiri setidaknya kurang dari dua ratus orang yang mengenakan setelan resmi sesuai dengan dress code yang diberikan. Taehyung menatap tamu-tamu yang mengobrol dengan perasaan aneh: pernikahan. Dia tidak pernah tertarik pada konsep pernikahan, tidak pernah menginginkan keluarganya sendiri karena kegagalan dalam keluarga yang dibangun ayahnya.

Lalu dia membayangkan Jeongguk di dalamnya: tersenyum padanya ketika dia membuka dan menutup matanya. Wajah mengantuk dengan bekas bantal tercetak di pipinya seperti pagi mereka tiap menginap bersama—aroma tubuhnya yang khas, napasnya yang menyengat dan kebiasannya mengerang panjang sambil meregangkan tubuh. Dia tersenyum kecil, mereka sudah membicarakan 'pernikahan' secara adat dan Taehyung akan mencari griya yang mau menikahkan mereka.

Jika tidak ada, maka dia akan memesan sesaji yang dibutuhkan dan menikahkan diri mereka sendiri. Taehyung tidak sudi dihentikan apa pun.

Jeongguk belum terlalu menerima konsep itu namun tidak keberatan untuk melakukannya bersama Taehyung. Sekali mereka membuka sumbat komunikasi mereka, ada begitu banyak hal yang ingin mereka diskusikan. Taehyung senang memiliki persepsi baru dalam pengambilan keputusan, dia suka mendapatkan kesempatan untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari ayahnya.

Maka dia berusaha, sangat berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dia tidak ingin menyaksikan Jeongguk menggelegak dalam kemarahan lagi. Dia tidak ingin menjadi antagonis di kehidupan orang yang disayanginya lagi.

Mereka menginap di lodge langganan mereka hingga Selasa besok murni karena Taehyung sedang muak bersama keluarganya. Dia juga sudah memberi tahu Mingyu agar memberi info ke keluarganya tentang bekerja di hotel jika seseorang menelepon. Front Office Manager itu sudah mengiyakan dan memberi tahu para stafnya jika ada telepon yang menanyakan Chef Taehyung agar segera dilemparkan padanya.

Taehyung melirik jam dinding di Sea Salt, tiga puluh menit lagi Jeongguk akan menjemputnya dan dia merasakan semangat berdenyar di dasar perutnya. Menyukai fakta bahwa dia akan dijemput pulang, bertemu dengan Jeongguk ketika kelelahan dan tidur di pelukannya malam ini. Dia mendesah, dia akan melakukan apa saja demi mendapatkan kehidupan itu selamanya.

Dia kemudian menuruni teras Sea Salt dan menghampiri lokasi resepsi, mengangguk pada beberapa tamu yang bertemu mata dengannya—tertarik oleh toque yang digunakannya. Taehyung melangkah ke meja makan, mengecek makanan yang tertutup di dalam chafing dish dan ditunggui oleh salah satu commis-nya.

“Aman semua?” Tanyanya dengan suara paraunya.

Pagi tadi dia sudah mengamuk dan dia sungguh tidak ingin mengamuk dua kali sehari. Dia baru saja tiba di dapur, merasa senang dan utuh ketika DCDP-nya memberi info tentang kesalahan pembelian protein untuk menu buffet lunch hari itu sehingga dia harus memberi menu baru, mengubah semuanya setelah mendatangi Akunting dan meludahi mereka dengan amarah karena tidak membaca Purchase Order dengan benar.

“Aman, Chef. Mungkin harus mengisi ulang dagingnya.” Commis itu membuka tutup chafing dish dan memperlihatkan menu daging yang mulai menipis.

“Habiskan saja yang di dapur, mereka akan membagikan sisanya pada kerabat mereka.” Taehyung setuju sebelum meluncur ke arah meja yang terisi cemilan manis penutup. Puding-puding, kue-kue, dan pastry mungil diletakkan di atas nampan display menggemaskan yang menonjolkan bentuknya.

Taehyung mengecek semuanya, memastikan mereka semua dalam kondisi baik karena terpapar udara terbuka. Taehyung menunduk, mengecek tidak ada debu yang menempel di atas makanannya sebelum menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada seorang tamu yang mendekat untuk mengambil dessert di meja. Sisa kue pengantin disajikan di ujung meja dengan pisau, mempersilakan tamu mengambil kuenya sendiri sesuai dengan keinginan mereka.

“Halo. Anda head chef-nya?”

Taehyung mengerjap, menoleh ke tamu yang sedang mengambil makanan di meja. Perempuan, tidak mungkin berusia kurang dari dua puluh lima tahun, mengenakan dress lilit yang memamerkan bahunya yang mulus dan langsing. Dia menyanggul rambutnya longgar di atas tengkuk, membiarkan beberapa anak rambut mengikal membingkai wajahnya yang bulat.

Sejak kapan dia berdiri di sana dan kenapa Taehyung tidak menyadarinya? Kenapa dia mengajak Taehyung bicara?

“Ya,” dia tersenyum—tidak terlalu menyukai interaksi dengan tamu. “Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya berusaha terdengar ramah, menyesal karena tidak mengirim Hoseok saja ke atas. Namun dia butuh menyegarkan isi kepalanya yang terasa berasap karena terus di dapur.

Perempuan itu menatapnya sejenak dan Taehyung dalam hati mengerutkan alisnya, apa yang diinginkannya dari Taehyung? namun tetap berusaha mempertahankan senyumannya karena dia sekarang tengah membawa nama Alila, bukan dirinya sendiri.

Dia membuka mulut, hendak berpamitan jika tidak ada yang bisa dibantu untuk tamu itu saat perempuan itu mengerjap dan meraih tasnya. Taehyung mengamati dengan alis berkerut dan menyadari apa yang diinginkannya ketika dia mengeluarkan ponselnya.

Sungguh?

“Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?”

Taehyung menatapnya, terpana karena selama tiga puluh tujuh tahun dia hidup dia belum pernah mendapatkan hal semacam ini. Dan mengapa tiba-tiba perempuan ini meminta nomornya? Taehyung yang terbiasa dijauhi orang, dihindari karena nampak seperti sebuah 'masalah': dingin, misterius, tegas, dan tidak tersentuh. Hanya Jeongguk yang pernah berusaha memasuki kehidupannya dan berhasil. Dan sekarang...

Dia bahkan tidak menyukai perempuan.

Namun Taehyung bergegas tersenyum memohon maaf. Bagaimana pun dia seorang tamu dan Taehyun staf di Alila. “Maaf,” katanya. “Tapi saya sudah menikah.” Katanya lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin Tiffany-nya dengan Jeongguk. Bersyukur mengenakannya.

Perempuan itu merona hingga ke batas rambutnya dan bergegas menyingkirkan ponselnya. “Maafkan saya!” Katanya lalu bergegas kabur dari sana, nyaris terantuk kakinya sendiri yang terbalut heels.

Taehyung berdiri di sana kemudian, menatap gadis itu berlari ke temannya yang langsung tertawa mendengar ceritanya. Mereka menoleh ke Taehyung, mengecek pria mana yang telah temannya godai dengan salah sebelum kembali tertawa-tawa. Taehyung tersenyum—kali ini bukan karena sopan santun, tapi karena terhibur. Tidak sabar memberi tahu Jeongguk tentang ini. Dia bergegas berlalu dari sana, tidak ingin mendapatkan pertanyaan yang sama atau membuat gadis itu semakin malu. Dia melewati beberapa anak magang yang membawa isi ulang makanan dan meluncur ke dapur yang sekarang sudah mulai tenang.

“Hoseok,” katanya pada sous chef-nya yang sedang mengecek prep untuk malam. “Semuanya sudah selesai?” Tanyanya, membuka kancing teratas seragamnya yang terasa mencekik seraya melirik jam dinding: 10 menit lagi, Jeongguk akan menjemputnya.

“Untuk wedding sudah, Chef. Semua sudah selesai. Kami mempersiapkan untuk makan malam.” Hoseok mengangguk.

Taehyung menatap ke seluruh penjuru dapur, ke para commis dan helper yang sedang mengerjakan tugas-tugas mereka. Di belakang sana, Steward sedang bekerja menurunkan alat-alat makan kosong dari resepsi dan dibereskan dengan suara dentang-dentang alat makan. Tapi kompor-kompor sudah mulai dimatikan, Butcher juga sudah mulai dibereskan, Pastry mulai mencuci loyang-loyang raksasa mereka; dapur membereskan diri karena shift malam tidak terlalu membutuhkan makanan rumit.

“Baiklah, ayo evaluasi.” Katanya melangkah ke ruangannya untuk mengecek ponselnya, menemukan pesan dari Jeongguk.

Haruskah aku mandi di hotel atau mandi denganmu?

Taehyung tersenyum ke ponselnya, “Pertanyaan bodoh.” Gumamnya lalu mengetik balasan: Tentu saja denganku. Memangnya kau tidak ingin menggosok punggungku?

Balasannya datang seketika itu juga: Menarik. Bagian mana lagi yang boleh kugosok?

“Bedebah sialan,” Taehyung tersenyum lalu mengetik: Di mana saja yang kauinginkan. Aku evaluasi dulu. Dia lalu menyimpan ponselnya ke saku celananya karena jika dia menanggapi Jeongguk maka dia akan berakhir bergairah di sana sebelum evaluasi.

Dia mendorong pintu kantornya dan menemukan semua orang sudah berdiri menghadapnya—mereka yang in charge hari itu sementara sisanya tetap bekerja mempersiapkan menu EDR malam. Taehyung berdiri di ujung lingkaran, mengangguk pada semua timnya.

“Terima kasih atas bantuan kalian hari ini,” katanya dengan suara yang cukup untuk menjangkau ke seluruh ruangan—khususnya Steward yang masih bekerja. “Maaf kami memulai tanpa Steward.”

“Tidak apa-apa, Chef!” Seru seseorang dari balik dishwasher yang menderu keras ditingkahi dentang piring yang tidak sengaja berbenturan.

Taehyung mengangguk lalu kembali menatap timnya. “Saya mengecek makanannya dan semuanya baik, refil tidak terlambat dan tidak ada keluhan dari para tamu. Semuanya berjalan mulus walaupun tadi pagi ada kejadian dengan Butcher tapi terselesaikan. Kita tunggu GCC dari pengantinnya besok, pastikan dengan Front Office masalah benefit honeymoon mereka apakah ada yang akan diambilkan dari Kitchen.” Dia kemudian menoleh ke Hoseok. “Ada yang ingin ditambahkan?”

Hoseok mengangguk, “Untuk benefit, mereka mendapatkan complimentary sliced cake untuk besok pagi saat sarapan. Sudah disiapkan oleh Pastry dan FB akan menghubungi jika mereka sudah siap sarapan. Mereka memesan floating breakfast.”

“Baiklah, terima kasih, Hoseok. Tolong pastikan tidak ada makanan yang cacat untuk sarapan besok. Jika mereka sarapan di atas pukul tujuh, maka saya yang mengeceknya sendiri. Jika tidak, maka tolong, Dwipa.” Dia menatap CDP-nya yang bertanggung jawab untuk shift malam hingga pagi besok.

“Siap. Copy, Chef.” Sahut CDP-nya, mengangguk.

Taehyung kemudian membubarkan mereka, menoleh ke jam dinding dan menyadari Jeongguk pasti sudah menunggunya. Dia merogoh sakunya seraya berjalan cepat ke ruang ganti menemukan pesan Jeongguk bahwa dia sudah menunggu di parkiran karyawan tempat mereka biasa bertemu.

Maka dia tidak membuang waktunya sama sekali. Dia pergi ke tempat presensi, memindai jarinya sebagai absen pulang dan kembali masuk ke loker karyawan untuk mengganti baju. Taehyung bergegas mengganti seragamnya, mengenakan pakaian yang digunakannya tadi sebelum mengembalikan seragam ke Laundry. Dia berlari kecil ke arah tempat parkir, menemukan Yaris Jeongguk terparkir di sudut; Jeongguk berdiri di luar mobil, menatap resepsi yang dibereskan staf.

“Hei,” sapa Taehyung mengikat rambutnya yang mulai memanjang—dia tidak memotongnya lagi karena Jeongguk selalu memuji rambutnya. Maka dia mempertahankannya kembali panjang, peduli setan bagaimana pendapat Tuniang tentang itu. “Maaf aku terlambat.”

Jeongguk menoleh, terlihat hangat dan menyenangkan dalam balutan kaus polos hitam dan rambutnya digelung berantakan. Dia nampak lelah, namun ketika bertemu pandangan dengan Taehyung, senyumannya terkembang. Wajahnya yang semula kelelahan, kemudian bersinar detik matanya bertemu dengan Taehyung dan Taehyung menahan napasnya karena melihat sendiri perubahan ekspresi Jeongguk setelah melihatnya. Menyadari bahwa dia memiliki peran sebesar itu dalam hidup Jeongguk.

Padahal dia hanya... dia. Sama sekali tidak istimewa. Jeongguk memiliki bakat itu, membuat siapa saja merasa berharga dan dicintai sepenuh hati. Bakat yang tidak dimiliki Taehyung. Namun dia berharap, dia bisa membuat Jeongguk paham betapa besar arti keberadaannya di hidup Taehyung.

“Tidak apa-apa,” Jeongguk kemudian bergegas ke mobilnya, membuka pintu penumpang untuknya. “Masuklah. Kita kembali dan pesan makanan, kau pasti lelah sekali.”

Taehyung tersenyum, menyelipkan dirinya masuk dan memasang sabuk pengaman saat Jeongguk menutup pintunya. Dia bergegas berlari mengintari bagian belakang mobil dan membuka pintu pengemudi. Dia memasuki mobil lalu mencondongkan tubuhnya pada Taehyung yang terkesiap karena gerakan mendadak itu. Jeongguk menatapnya, dengan mata gelapnya yang indah dan menghanyutkan.

“Beri aku satu ciuman,” katanya dengan wajah berada dekat dengan wajah Taehyung.

Taehyung terkekeh, melepas sabuk pengamannya lalu membalik tubuhnya. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh tengkuk Jeongguk sebelum pemuda itu perlahan menutup jarak antara mereka—mencium bibirnya dengan lembut. Perlahan seolah sedang menyecap Taehyung di lidahnya. Taehyung mencondongkan tubuhnya, mendekatkan diri pada Jeongguk yang merangkul lehernya—memperdalam ciuman mereka.

Sesuatu meledak di hati Taehyung: perasaan hangat yang membuatnya bergidik saat menyelipkan jemarinya ke rambut Jeongguk lalu meremasnya. Dia sangat mencintai Jeongguk, amat teramat mencintainya hingga dia merasa dia bisa gila karenanya.

“Kau tahu,” katanya kemudian iseng saat Jeongguk menempelkan kening mereka—terengah karena ciuman panjang mereka sementara di luar sana, pantai bergemuruh dan sisa pesta sudah dibereskan.

“Hm?” Tanya Jeongguk dengan mata terpejam.

“Tadi ada gadis yang menanyakan nomor ponselku.”

Mata Jeongguk langsung terbuka, wajahnya berkerut karena jengkel. Dia menarik wajahnya dari Taehyung, menatapnya tidak suka dan Taehyung tertawa tanpa suara. “Dan??? Apa yang kaukatakan padanya??”

Taehyung menepuk wajahnya lembut, senyuman geli bermain di bibirnya—ini kali pertama dia benar-benar melihat Jeongguk cemburu setelah biasanya hanya bersikap tenang menerima segalanya. Menyenangkan juga ternyata, menghibur.

“Dan kukatakan padanya aku sudah menikah.” Dia menunjukkan cincinnya dan Jeongguk menghembuskan napas, meraih tangan Taehyung untuk mengecup cincin itu di tangannya.

Namun itu tidak cukup untuk menghentikan omelannya. “Kenapa kau tidak memasang wajah head chef galakmu, sih?” Gerutu Jeongguk saat mereka mengemudi ke lodge tempat mereka menginap, menekan klakson lebih keras dari seharusnya untuk melampiaskan kejengkelannya. “Agar tidak ada yang mengajakmu bicara. Kau selalu menggunakan ekspresi itu, kenapa sekarang tidak? Kau sengaja mengundang mereka?”

Taehyung tersenyum lebar, mendengarkan Jeongguk mengomel karena cemburu lalu menggenggam tangannya yang berada di atas persneling. “Karena aku bahagia sekarang,” katanya perlahan. “Aku bahagia bersamaku dan kurasa efeknya terpancar hingga ke luar. Haruskah aku meminta maaf karena bahagia?”

Jeongguk memicingkan matanya, menatap jalanan dengan jengkel. “Jadi, aku, ya, masalahnya.” Gerutunya dan Taehyung tertawa. Jeongguk meliriknya, tersenyum kecil: berhasil menghibur Taehyung.

Dia membawa tangan Jeongguk ke bibirnya, mengecupnya sayang. “Aku cinta sekali padamu.”

Jeongguk menoleh sejenak sebelum kembali menatap jalanan. Senyuman bermain di bibirnya dan Taehyung ingin sekali menciumnya. “Aku juga mencintaimu.” Dia melepas tangannya dari genggaman Taehyung lalu mengusap kepalanya sayang. “Ayo kita mandi bersama.”

Taehyung menghela napas, berapa lama lagi mereka harus berjuang hingga bisa memiliki kehidupan setenang dan sedamai ini tanpa dibayang-bayangi ketakutan?

Taehyung sungguh tidak sabar lagi.

*


tags. foreigner jungkook, Parisian taehyung. Taehyung as Pierre. setting in Paris, French. stranger to love, kinda enemy to love(?). fluffy fluff. oneshot. french trans in english, italic berarti mereka bicara dlm bahasa prancis.

ps. aku masih sedih gegara Takuto, jadi biarkan aku menulis parisian taehyung pake rambut kriwil kriwil :(


1

“Kenapa saya hanya mendapatkan segelas susu hangat?! Saya memesan latte!”

Ruangan karyawan Starbucks yang berada beberapa kilometer dari Menara Eifel, di 66 Avenue de la Motte-Picquet, Paris sedang terisi tiga barista yang mendapatkan jatah istirahat makan siang setelah sejak pagi berjaga dan menyiapkan store untuk menyambut tamu. Membereskan cafe area, membuat biang cokelat untuk Signature Chocolate, membuat saus Dolce, mengecek ketersediaan saus-saus yang lainnya serta whip cream, mengecek bubuk matcha, mengisi mesin kopi dengan biji-biji baru, membersihkannya dan membuka pintu store. Mereka sekarang digantikan oleh teman-teman mereka yang bekerja middle shift pukul sebelas siang.

Kelebihan dan kekurangan bekerja di Starbucks yang berada dekat dengan pusat keramaian wisatawan adalah store mereka ramai. Selalu ramai karena paling dekat dengan ikon Paris yang berdiri megah di kejauhan, ujungnya yang runcing nampak dari jendela-jendela mereka. Namun itu juga berarti akan ada banyak turis-turis aneh yang gemar mengomel.

“Karen” begitu mereka melabeli para turis mancanegara, khususnya perempuan paruh baya asal Amerika yang selalu menyamakan standar di seluruh dunia seolah negara mereka adalah kiblat kehidupan seluruh makhluk. Seperti apa yang teman barista mereka harus hadapi hari ini di balik mesin kasir.

Ketiga barista di dalam mendesah keras mendengar suara meninggi itu. Paham apa yang akan terjadi selanjutnya: skenario standar yang sudah mereka lalui berkali-kali sejak Starbucks ini berdiri.

“Pierre, bersiaplah,” kata seorang barista yang sedang bersandar di dekat rak terisi cup-cup kertas, sedotan dan bahan-bahan isi store lain dengan ponsel di tangannya. Dia mengenakan kemeja hitam berlengan panjang dan celana hitam, apron hijaunya dibuka dan dikaitkan di kapstok yang dipasang di balik pintu. Dia menatap temannya yang duduk di seberangnya, berwajah sepat seperti penderita wasir.

Sebentar lagi mereka akan meminta store manager.”

Pierre, store manager mereka yang baru saja mendudukkan pantatnya di kursi dengan kantung terisi roti isi bekal makan siangnya, menghela napas. Dia menyugar rambut ikal sewarna jahenya dengan jemari. “Sungguh,” gerutunya. “Kenapa aku tidak bisa menikmati makan siangku?”

Mereka yang bodoh dan kita yang harus menghadapinya,” kekeh barista lainnya yang berbaring di kursi panjang mereka dengan satu earbuds menyumpal telinganya—dia menguap lebar, menoleh ke Pierre yang menggerutu. “Sebentar lagi kau bisa pulang, Pierre, bersemangatlah sedikit.”

Pierre memutar bola matanya, meraih makanannya. Dia lapar sekali karena saat berangkat tadi, boulangerie langganannya yang berada di dekat apartemennya belum menyelesaikan croissant mereka sehingga Pierre harus berangkat tanpa sarapan. Dan sekarang dia sangat kelaparan, makan siangnya ada dalam genggamannya dan Karen memutuskan untuk bertingkah.

Jika aku adalah dirimu, aku tidak akan makan.” Teman baristanya yang duduk di seberang Pierre, Cedric terkekeh sementara di luar sana suara riuh terdengar kembali. “Celui-là semble sérieux,” That one sounds serious. Dia mengedikkan dagunya ke pintu pembatas antara ruang istirahat karyawan dan store.

Bertaruh, Kévin akan memanggil Pierre sebentar lagi.” Kata Andrién, barista yang berbaring di kursi panjang dengan mata terpejam. “I'd like to speak to the manager.” Dia mencibir, meniru logat Amerika yang biasa digunakan turis pada mereka dan Cedric terkekeh.

Seolah mendengar kata Andrién, di luar sana terdengar suara keras bernoda aksen keras Asia yang mereka tidak kenali mengatakan persis apa yang dikatakan Andrién:

I'd like to talk to your manager!”

Kedua barista itu seketika meledak dalam tawa terhibur, menatap Pierre yang menghela napas panjang dengan pembuluh darah di keningnya berdenyut berusaha menahan amarahnya. Dia memesan latte, demi Tuhan! Tentu saja dia mendapat susu!

Merde!” Ludah Pierre dan melempar roti isinya kembali ke kantung kertasnya dan berdiri. Dia menyambar apron hitamnya di kapstok, mengalungkannya ke lehernya persis saat pintu ruang karyawan terkuak dan Kévin menatapnya dengan wajah pasrah.

Voilà, Pierre, c'est ton déjeuner.” Cedric melemparkan senyuman lebar yang membuat Pierre nyaris menyambarnya dengan lengannya lalu mencekiknya hingga mati. There you go, Pierre, your lunch.Bon appetite!”

“Pierre,” panggil Kévin lemah, menyadari ekspresi keras Pierre dan makanan di atas mejanya. “Nous en avons un autre.” We have another one. Dia menghela napas panjang. “Maaf karena mengganggu makan siangmu.”

Pierre menghela napas, “Memangnya siapa yang butuh makan siang?” Gerutunya hingga Cedric terbahak lalu mengikat apron di pinggangnya yang langsing. “Kenapa dia?” Tanyanya saat menghampiri pintu, dia berhenti mendadak lalu menoleh ke kedua rekan kerjanya.

Et, toi,” matanya memicing pada Cedric dan Andrién. “Ne touche pas à mon déjeuner. D'accord?” And you, don't touch my lunch. Alright?

“He-eh,” sahut Cedric memutar bola matanya. Melambaikan tangannya untuk mengusir Pierre yang mendelik. “Très bien, très bien! Sana urus Karen untuk kami, Sob.” Alright, alright!

Pierre mendorong pintu terbuka, langsung disambut aroma pekat kopi dan pengharum ruangan yang mereka gunakan. Matanya menyapukan pandangan ke seluruh penjuru store memastikan semua orang nyaman; beberapa orang duduk di kursi, menatap tablet atau ponsel mereka menikmati segelas kopi dengan cemilan di hadapan mereka. Beberapa lainnya merokok di area luar, menikmati langit Paris yang cerah dan panas mengobrol bersama teman-teman mereka. Ada wisatawan yang membentangkan peta Paris di meja, membaca buku panduan ke mana sebaiknya mereka melangkah setelah ini.

Di bar, timnya sedang mengerjakan minuman. Blender bergemuruh menghancurkan es batu untuk menghasilkan frappuccino dan seorang sedang menyendok es baru dari penyimpanan aluminium di bawah yang menjaga es mereka tetap dingin. Suara yang akrab sekali dengan telinga Pierre, dia menghabiskan waktunya di Starbucks sejak menamatkan kuliahnya: meniti karir hingga menjadi store manager yang ternyata tidak sekeren apa yang dipikirkannya.

Dia memesan latte dan protes, seperti biasa.” Kévin berbisik ke telinga Pierre yang menemukan tamu mereka.

Pemuda yang tidak mungkin berusia lebih dari dua puluh delapan tahun. Dia mengenakan pakaian yang menarik dan santai. Rambutnya diikat menjadi ekor kuda mungil berantakan di atas tengkuknya, beberapa anak rambut meluruh di keningnya. Ada tindik yang berkilau di alis kanannya dan juga sleeve tattoo yang menutupi lengan kanannya. Wajahnya nampak keras—kombinasi aneh antara wajah sensual dan ekspresi polos anak-anak yang menggemaskan. Di atas meja bar ada gelas kertas Starbucks ukuran venti yang diletakkan seperti barang bukti sementara mata pemuda itu menatap Pierre dengan jengkel.

Dia terlihat seperti pemuda cerdas yang memiliki akal sehat, Pierre tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi bentuk wajahnya yang kencang dan tajam. Garis rahangnya yang sekarang kencang menahan amarah nampak bisa memotong sayuran atau bahkan daging. Dia menarik, mungkin lelaki pertama setelah sekian tahun yang membuat Pierre benar-benar memerhatikan.

Melihatnya membuat Pierre nyaris mendesah. Nampak keren bukanlah jaminan kau adalah orang cerdas, pikirnya getir saat bergegas menghampirinya. Namun tidak peduli seberapa jengkelnya Pierre, dia harus menghadapi tamu ini jika tidak mau atasannya mengetahuinya.

Pierre langsung memasang senyuman terbaiknya saat menghampiri tamu itu. “Bonjour, Monsieur. Je m'appelle Pierre.” Dia berdiri di hadapan tamu itu, menyugar rambut ikalnya yang terasa mencuat-cuat. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya dalam bahasa Inggris yang bernoda aksen Prancis, khususnya di huruf R-nya.

“Kau Store Manager-nya?” Tanya turis itu dengan mata memicing tidak suka—matanya gelap, khas Asia dan bulat berkilauan. Jika saja dia tidak bodoh karena tidak bisa membedakan latte dan café latte, Pierre mungkin akan mengajaknya kencan setelah ini.

“Ya, saya sendiri.” Dia mengulaskan senyuman terbaiknya. “Apakah ada yang bisa saya bantu mengenai minuman Anda, Monsieur...,” dia menunggu, gestur yang memberi kesempatan untuk tamu mereka memperkenalkan diri.

“Jeongguk.” Kata tamu itu dan saat mengatakannya, aksen Korea-nya terdengar begitu kental hingga Pierre sejenak ragu bagaimana cara menyebutkan nama itu dengan lidah Prancis-nya yang kaku.

“Jeonhuk,” ulangnya lalu meringis, dia sudah berusaha. Bukan salahnya jika dalam bahasa Prancis tidak ada kombinasi huruf seperti nama tamu mereka itu sehingga Pierre tidak bisa menyebutkannya.

“Jeongguk.”

Pierre menghela napas, serius, nih? “Jeonhuk.” Dia tersenyum, pembuluh darah di keningnya berdenyut menahan amarah.

Alis Jeongguk, tamu mereka mengerut semakin dalam. “Jeong-GUK.” Ulangnya lagi, sekarang terdengar tiga kali lipat lebih jengkel.

“Monsieur,” Pierre bergegas menyelanya. “Tanpa mengurangi rasa hormat, saya memohon maaf jika lidah Prancis saya tidak bisa menyebutkan nama Anda dengan sempurna.” Dia memasang senyuman terbaiknya. “Jadi, bisakah saya melakukan sesuatu untuk membuat minuman Anda lebih baik?”

Jeongguk memicingkan matanya, “Ya,” katanya, akhirnya menyerah pada usahanya membuat Pierre mengucapkan namanya dengan benar. “Saya memesan latte, Pierre.”

Pierre menghela napas. Pyèr. namanya dibaca pyèr dengan R berkumur yang indah, bukan pie-re. Dia ingin mengoreksinya, namun dia juga tidak ingin terlibat baku hantam dengan turis di tempat kerjanya dengan CCTV diarahkan kepadanya. Maka dia menelannya bulat-bulat.

“Dan saya mendapatkan susu hangat di gelas saya!” Dia mendorong gelas itu ke arah Pierre dengan jengkel—melemparkan tatapan menusuk ke Kévin yang berjengit. “Memangnya kalian tidak pernah diberikan training cara membuat minuman?!”

Pierre meraih gelas itu, merasa suhunya yang hangat lalu membuka tutupnya. Mendapati susu putih hangat mengisinya hingga penuh. Bagaimana caranya menjelaskan kepada turis ini sekarang bahwa dia sedang di Eropa? Jika dia ingin latte seperti apa yang diminumnya di Korea sana atau di Amerika, dia harus menyebutkan café latte.

“Monsieur, pardon.” Pierre tersenyum, berusaha menahan suaranya tetap halus dan profesional. “Jika Anda ingin memesan kopi dengan susu, Anda bisa memesan cappuccino atau café latte karena jika Anda menyebutkan latte, barista kami akan memberikan sesuai pesanan Anda. Latte, susu.”

Alis Jeongguk berkerut dan dia nampak tidak terima, Pierre mempersiapkan dirinya karena sebentar lagi dia pasti akan meneriaki Pierre. Tidak mau terlihat bodoh sendirian. Pierre mempertahankan senyumannya, berusaha keras agar tidak berekspresi di luar ekspresi steril profesionalnya. Dia sudah biasa mendapatkan Karen model ini: memesan latte dan berharap mendapatkan café latte.

Padahal apa sulitnya bertanya? Mengizinkan barista mencarikan minuman yang diinginkannya. Pasti gengsinya sebagai pendatang, merasa akan memberikan uang kepada penduduk lokal yang membuat mereka tidak ingin merendah untuk bertanya. Pierre menunggu, menatap Jeongguk yang sedang menyusun amarah di kepalanya.

“Ya, kalian seharusnya memberi tahuku!”

Tuh, 'kan.

Pierre menghela napas, mempertahankan ekspresinya. “Monsieur,” dia menatap Jeongguk langsung ke matanya dengan ramah. “Kami memohon maaf atas ketidak nyamanan Anda di store kami. Minuman Anda akan kami ganti, free of charge.” Dia kemudian menoleh ke Kévin yang mengangguk.

“Silakan menunggu sebentar.” Tandasnya, mengangguk pada Jeongguk lalu meraih gelasnya tadi membawanya ke balik bar. “Dia sudah meminumnya?” Tayanya pada Kévin yang menggeleng, di balik mesin kopi membuat espresso.

Belum,” katanya. “Dia menerimanya lalu membuka tutupnya lalu protes. Sama sekali belum disentuh. Kau akan meminumnya?”

Pierre mengangguk, “Jika memang belum disentuh akan kumasukkan ke jatah free beverage-ku hari ini.” Dia menyisihkan gelas itu lalu meraih gelas baru dan Sharpie lalu bergegas menghampiri Jeongguk yang menunggu di bar dengan wajah jengkel.

Kenapa Pierre bekerja sebagai barista sehingga dia harus bertemu manusia-manusia ajaib begini setidaknya satu kali dalam sehari? Entahlah. Apakah dia harus mencari pekerjaan baru karena sungguh jika dia harus menghadapi Karen lagi, dia akan benar-benar kehabisan kesabaran. Dia lapar, dia jengkel, dan dia lelah.

“Anda memesan café latte,” katanya ramah lalu menuliskan di gelas kertas di tangannya. “Ada tambahan khusus?” Dia menatap Jeongguk ramah. “Ekstra shot? Decaf?”

Jeongguk menggeleng, “Café latte dengan sirup raspberry 2 pump.”

Alis Pierre mengerut sedetik sebelum dia bergegas mengubah ekspresinya. Turis dan selera minuman aneh merek benar-benar membuatnya bingung. Pierre mengangguk ramah, menuliskan: Jeonghuk lalu menambahkan di boks kecil di bawah tulisan 'Drink/Boire' kode CL untuk café latte dan huruf R, 2 pump untuk raspberry di boks 'Syrup/Sirop'.

Dia meletakkan gelas itu di sisi Julie yang hari itu bertugas di bar. “Dahulukan ini,” katanya pada gadis itu dan dia meraih gelasnya.

Julie membaca pesanan yang tertulis di gelas itu lalu berhenti, mendongak menatap Pierre. “Pierre, ils boivent vraiment ça?” Tanyanya dengan wajah berkerut tidak paham. They really drink this?

Pierre mengedikkan bahunya. “Vous dites.” You tell.

Julie menghela napas lalu mengisi gelas itu dengan dua pump sirup raspberry sebelum membungkuk membuka kabinet di bawah meja bar, mengeluarkan karton susu dan mengisi gelas venti yang diberikan Pierre dengan susu. Dia kemudian beranjak ke mesin kopi untuk men-steam susunya, dia menatap Pierre dengan wajah berkerut karena tidak menyukai apa yang dikerjakannya sementara mesin mendesis menghangatkan susu di gelasnya. Pierre mengedikkan bahunya dan Julie menghela napas.

Setelahnya dia menuang dua shot espresso yang baru saja jadi ke dalam gelas itu dan menutupnya. Julie menyerahkannya gelas itu pada Pierre yang menunggu. “Minuman anehnya sudah jadi.” Katanya.

Pierre merasakan suhunya dengan telapak tangannya lalu menghampiri Jeongguk yang duduk di sudut ruangan. Jika diam, dia nampak normal. Dia duduk dengan kaki tersilang di salah satu kursi store mereka, menunduk ke buku yang terbuka di tangannya. Pierre tidak menyangka dia memiliki hobi membaca dari sikap menyebalkannya. Dia menghampirinya lalu meletakkan minuman itu di meja Jeongguk.

“Monsieur, ini minumannya.” Dia tersenyum saat Jeongguk mendongak, menyeka anak rambut yang meluruh di depan wajahnya. “Ada yang bisa saya bantu lagi?”

Jeongguk meraih gelas minumannya. “Sebentar.” Katanya, lalu membuka tutup gelasnya untuk mengeceknya—dia menyesapnya sedikit dan menghela napas. Lega. “Benar.” Dia mengangguk lalu mengedikkan gelas itu pada Pierre yang tersenyum.

“Beginilah seharusnya kalian memberikan pelayanan.” Dia memicingkan matanya dan Pierre menghela napas, menahan amarahnya dengan sangat sempurna dengan senyuman lebar di bibirnya.

“Baiklah, Monsieur. Jika tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya pamit undur diri.” Dia mengangguk. “Jangan segan untuk menghubungi saya lagi jika ada yang tidak berkenan dengan pelayanan kami. Semoga hari Anda menyenangkan.”

Dan sebelum Jeongguk sempat menjawab, Pierre bergegas kembali ke ruang karyawan karena dia lapar. Dia mampir ke bar, meraih gelas susu yang tadi hendak dibuangnya dan mengerang—dia harus minum susu hangat dengan makan siangnya.

Merci beaucoup, Pierre.” Bisik Kévin saat Pierre melewatinya di balik mesin kasir dan Pierre mengedikkan gelasnya.

C'est ne pas problema.” No problem. Sahutnya kalem sebelum meluncur kembali ke ruang karyawan, ke roti isinya yang menunggu—melirik Jeongguk yang sekarang menyesap minumannya dengan buku di tangannya.

Siapa sangka Karen-nya hari ini nampak normal dan cerdas. Pierre bergidik, berharap dia tidak akan bertemu Jeongguk mana pun lagi hari ini saat mendorong pintu karyawan seraya menyesap minumannya.

Blergh,” gerutunya menatap gelasnya dengan jengkel. Susu tanpa rasa apa pun membuatnya mual tapi lebih baik daripada membuangnya.


2

I want two kroisang.”

Oh, merde.

Pierre berhenti di depan jejeran pastry yang baru matang di boulangerie kesukaannya, hanya beberapa blok dari apartemennya untuk membalaskan dendam karena dia tidak mendapatkan sarapannya. Alisnya berkerut, mencoba mengingat apakah dia memasuki boulangerie membawa kesialannya tadi di tempat kerja karena dia sepertinya mengenali aksen itu. Mungkin dia harus mencoba kepercayaan Asia itu? Melangkah dengan kaki apa terlebih dahulu untuk menghindari kesialan?

Dia melirik ke balik bahunya, namun posisinya tidak memberikan matanya akses ke kasir. Namun dari nada itu dan dari reaksi tubuhnya yang bergidik saat mendengarkan suaranya, juga aksennya, sepertinya Pierre tahu siapa yang bicara.

“Ah, bien sûr, Monsieur. Dua krwa-son.” Sahut Sylvie ramah dan sabar, gadis di balik kasir yang menerima pesanannya.

Yes,” sahut suara itu lagi dengan nada ngotot menyebalkan yang sama dengan yang digunakannya ke Pierre pagi tadi. “That's what I was saying.”

Tidak bisa menahan dirinya, Pierre mendengus. Dia memang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri, 'kan? Bersikap menyebalkan ketika salah alih-alih mengucapkan maaf karena salah mengucapkan. Dasar turis, pikirnya jengkel.

Pierre bergegas meraih beberapa roti yang diinginkannya lalu menyingkir, tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Tangannya berhenti saat meraih pain au chocolat. Atau haruskah dia pergi saja menunda keinginannya makan pastry malam ini? Dia bisa memasak makanan instan di apartemennya. Pierre tidak berani menoleh, namun dia yakin sekali itu pasti Jeongguk yang sama dengan yang ditemuinya di Starbucks tadi.

Bisakah dia keluar dari sana tanpa ketahuan?

Pierre akhirnya meletakkan kembali roti-rotinya di rak, dia akan kembali malam nanti setelah mandi saja daripada harus berpapasan dengan Jeongguk. Dia berdeham, berusaha membuat dirinya begitu kecil (yang sulit dilakukan karena dia tinggi kurus, berambut ikal dan berkulit sewarna zaitun yang berarti dia selalu menarik perhatian) saat berusaha menyelipkan diri keluar dari boulangerie. Dia bergegas ke pintu, mengulurkan tangan hendak membuka pintunya.

Dia begitu dekat dengan kebebasan, bergabung ke trotoar yang ramai untuk pulang ke apartemennya—menjauh dari masalah bernama Jeongguk dengan aksen Korea-nya yang membuat Pierre ngeri. Belum lagi caranya mengucapkan nama 'Pierre'.

Namun sialnya, dia begitu sering pergi ke toko roti ini sehingga semua orang mengenalnya.

“Oh, c'est toi! Pierre, ça va bien?!” Oh, it's you! Pierre, everything's alright?!

Pierre membeku dengan tangan terjulur ke pintu, sedikit lagi dari kesempatannya kabur menjauh dari turis sinting itu. Dia mengumpat sebelum memasang wajah ceria dan menoleh, menemukan chef mereka menatapnya dengan senyuman lebar di bibirnya, melambaikan tangan. Dan hanya untuk menambah kengeriannya, dia melirik ke kasir dan menemukan Jeongguk sedang menatapnya.

Dia mengenakan pakaian yang berbeda, sekarang nampak lebih santai. Celana jins pudar dan kaus, benar-benar nampak seperti turis. Tato di lengannya ternyata menjalar hingga ke pangkal lengannya dengan pola rumit yang tidak bisa diuraikan Pierre dengan tatapannya—ada tato kerbau di lengan atasnya namun selebihnya Pierre tidak yakin. Apakah itu... bunga? Mata?

Masalah sebenarnya adalah apakah dia ingat Pierre adalah... Pierre?

“Ah, Dominique.” Katanya ramah, melirik Jeongguk yang meraih dompetnya—menghitung uang Euro-nya dengan hati-hati. “Je vais bien, merci.” Dia tersenyum.

Tidak membeli apa pun?” Tanya Dominique, mengerutkan keningnya melihat tangan Pierre yang kosong karena biasanya dia membawa nampan penuh roti setiap mampir. “Tadi pagi kau juga tidak membeli apa pun. Kau tidak makan?”

Pierre meringis, bagaimana caranya memberi tahu Dominique tentang ini? Dia melirik Jeongguk yang masih nampak kesulitan dengan mata uang barunya dibantu Sylvie yang memiliki kesabaran sekelas biksu. Pierre membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu saat seseorang menyelanya.

Get some, it's on me.”

Pierre menoleh, menemukan Jeongguk berdiri di kasir dengan dompet di tangannya balas menatapnya. Sekarang matanya berkilau dengan warna kecokelatan gelap, nampak lebih rileks daripada tadi ketika bertemu dengannya di Starbucks. Pierre mengerutkan alisnya, dia ingat siapa Pierre?

No,” katanya dengan aksen Prancis-nya yang kental, membuatnya terdengar seolah sedang terkena demam tinggi dan pilek parah. “I'm fine, I cannot accept anything from stranger.” Dia menambahkan senyuman-ringisan favoritnya ketika menolak sesuatu agar tidak menyinggung perasaan orang.

Jeongguk mengedikkan bahunya, “Aku bukan orang asing, kau bertemu denganku tadi di Starbucks, ingat? Raspberry café latte?” Sahutnya dan perut Pierre mencelos—dia ingat. Sialan. “Tidak apa-apa, ambillah. Anggap saja permohonan maaf karena aku tidak sopan padamu tadi.”

Pierre berhenti. “Excusez-moi?”

Jeongguk menggaruk pelipisnya, ada banyak noda cat di tangannya—mata Pierre menangkapnya. “Yah,” dia masih cukup beradab untuk nampak malu sekarang. “Suasana hatiku buruk sekali tadi dan kurasa aku tidak sengaja melampiaskannya padamu dan teman-teman kerjamu.”

“Ah,” katanya kikuk. Aneh ketika Karen kemudian meminta maaf tentang sikapnya pada Pierre tadi karena dia terbiasa tidak mendapatkan pernyataan maaf dari tamu-tamu yang tidak sopan—mereka melangkah pergi begitu saja seolah Pierre atau teman-temannya layak mendapatkan itu hanya karena mereka 'pelayan'.

“Tidak masalah,” dia berdeham. “Aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan itu jadi sungguh,” dia tersenyum menenangkan pada Jeongguk. “Kau tidak perlu membelikanku apa-apa.”

Dominique terkekeh, “Allez, Pierre! Biarkan dia mencoba!” Dia menumpukan lengannya di atas etalase roti, mendapatkan tontonan menarik dengan senyuman lebar di bibirnya. “Itulah mengapa kau tidak punya pacar, mon garçon, kau selalu menolak mereka. Pria-pria malang itu.”

Pierre mendelik padanya. “Ce n'est pas ce que tu penses que c'est, Dom.” This is not what you think it is. Dan lelaki paruh baya itu tertawa—tawanya berat dan mengguncangkan seisi boulangerie-nya.

Jika memang tidak seperti yang kupikirkan, kenapa tidak kau terima saja?” Sahut Dom, menggerakkan alisnya naik-turun untuk menggoda Pierre yang menghela napas panjang seraya menyisir rambut ikalnya dengan jemari.

Jeongguk menatapnya. “Jadi?” Tanyanya.

Pierre mendesah, “Baiklah.” Dia kembali ke dalam toko, setengah dirinya tidak merasa keberatan dengan makanan gratis. Apakah dia boleh membeli banyak-banyak untuk cadangan? “Hanya kali ini saja, oke?”

Jeongguk nampak senang. “Tentu, tentu.”

Pierre meraih beberapa roti kesukaannya dan menambahkan sebatang baguette ke dalam nampannya—dia selalu membeli roti keras itu. Dia akan memasaknya, mengolahnya menjadi makanan baru atau memakannya dengan mentega dan rosemary segar. Jeongguk sungguh membayar makanannya dan saat Pierre melirik dompetnya, dia nampak memiliki uang yang cukup untuk membiayai hidup Pierre selama tiga bulan.

Dia meringis. Haruskah dia memberi tahu lelaki itu bahwa dia sebaiknya tidak membawa uang tunai sebanyak itu? Karena apa pun kata mereka tentang Paris yang romantis dan mendayu-dayu, mereka punya pencopet profesional kelas dunia di sini. Mereka tidak segan menyakiti turis demi uang mereka.

Namun Pierre menghentikan dirinya—jika dia bersikap baik pada Jeongguk, mereka mungkin akan bertemu lagi setelah ini dan dia tidak ingin itu terjadi. Maka dia memalingkan wajah, mencoba mengabaikan tumpukan uang itu dan berhenti memikirkan bagaimana jika Jeongguk disudutkan di kegelapan dan dirampok.

Menilai kaki dan lengannya yang keras, Jeongguk pasti bisa meremukkan tengkorak mereka seperti memecahkan telur. Jadi, dia pasti aman.

... 'Kan?


3.

“Oh, Piere! Bonjour!”

Pierre mengerang keras. Mengenali suara itu dengan ngeri. Dia baru saja bangun beberapa menit lalu dan teringat dia belum menurunkan sampahnya ke bawah untuk dijemput petugas hari ini. Sehingga dengan panik dia bergegas menyambar kantung sampahnya yang penuh lalu menyeretnya turun. Dia masih mengenakan jubah piyamanya, rambutnya mencuat-cuat seperti sarang burung dengan wajah mengantuk yang lengket oleh keringat karena penyejuk ruangannya belum diperbaiki saat hidup memutuskan untuk melemparkan pie ke wajahnya.

Dia menoleh, menemukan Jeongguk tersenyum lebar padanya dari ujung lorong apartemennya. Alisnya berkerut—dia tinggal di sini??

Jeongguk nampak segar, mengenakan pakaian semi-formal yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Dia nampak berisi, bahunya bidang dan pahanya berotot namun dengan pinggang mungil yang akan membuat gadis Paris mana pun nampak menyedihkan. Rambutnya disisir rapi, diikat dengan kencang di atas tengkuknya dan dia melepas tindikannya.

“Ah, bonjour, Jeonhuk.” Sapanya mengangguk sopan. “Comment ça va?” How are you?

“Jeong-Guk.” Koreksinya keras kepala.

Mereka berdiri di lorong apartemen, terpisahkan jarak yang tidak terlalu nyaman untuk memulai obrolan namun toh Pierre melakukannya.

Hari Senin yang cerah dan Pierre akhirnya mendapatkan liburnya: tidak memiliki kegiatan khusus hari itu. Mungkin hanya akan berjalan-jalan meregangkan kakinya lalu membeli makan di bistro kesukaannya di ujung jalan. Makan sambil menonton serial Netflix kesukaannya dan tidur sebelum kembali bekerja besok. Dia harus menguji dua barista untuk mendapatkan apron Coffee Master besok, jadi dia harus fokus.

Kemudian dia malah bertemu turis berisik itu sekali lagi dengan sialnya.

Pierre menghela napas. Itu lagi?? “And it's pyèr, not pie-re.” Sahutnya dengan nada sama jengkelnya—peduli setan, dia tidak sedang bekerja dan Jeongguk bukan pelanggannya di Starbucks jadi dia bisa bersikap menyebalkan.

Jeongguk mengerjap. Alisnya naik sebelah dengan kebingungan. “Piyer?” Ulangnya ragu, lidah Asia-nya menyebut nama itu dengan R yang terdengar seperti L sehingga nama Pierre menjadi: “piyel”.

Pierre memicingkan matanya, “Pyèr.” Koreksinya, dalam hati geli karena berhasil membalaskan dendamnya.

“Pier.” Ulang Jeongguk, menurut hingga Pierre terpaksa harus mencubit pahanya sendiri agar tidak tertawa.

“Ck. Pyèr.”

“Kau mengerjaiku, ya?!”

Dan tawa meloloskan diri dari bibir Pierre. Menggema ke sepanjang lorong apartemennya yang sepi karena semua orang bekerja. Itu tawa pertama yang dirasakan Pierre setelah minggu yang panjang di tempat bekerja yang ramai karena musim liburan. Tawa yang singkat namun berhasil membuat perasaannya lebih baik.

“Jeong-GUK.” Balas pemuda itu dan Pierre kembali terkekeh.

“Baiklah, baiklah. Kita seimbang.” Dia tersenyum, merasa hatinya hangat karena memulai harinya dengan tawa dan gurauan dengan tetangga barunya—atau setidaknya begitu yang dipikirkannya. “Kau tinggal di sini?”

Tawanya tadi membuat Pierre rileks, sepertinya Jeongguk bukanlah pemuda yang buruk. Mungkin dia memang hanya sedang menyebalkan kemarin dan tidak sengaja melampiaskannya kepada Kévin. Sekarang ketika ada cahaya dan suasana hati Pierre bagus, dia nampak jauh lebih menarik dari apa yang dipikirkannya. Apalagi dengan pakaian semi-formal yang membuatnya terlihat rapi dan mengundag.

Pierre suka lelaki bersih dan rapi.

Jeongguk menoleh ke belakang lalu mengangguk. “Ya, begitulah.” Dia menatap pakaian Pierre. “Dan kau?”

Pierre menunjuk pintu kamarnya yang terkuak di sisi Jeongguk lalu menyentuh pakaiannya yang jelas memberi tahu Jeongguk bahwa dia tidak tinggal jauh dari sini kecuali dia sungguh depresi untuk berkeliaran dengan pakaian tidur. “Yep.” Dia tersenyum. “Kau nampak rapi, akan pergi ke acara penting?”

Jeongguk membuka mulutnya, lalu menutupnya perlahan—memikirkan sesuatu sementara Pierre berdiri di sana bersidekap dengan jubah tidurnya, menunggu. Dia mendongak, menatap Pierre lalu menggaruk pelipisnya. Gestur yang dilakukannya ketika gugup, Pierre menyadarinya. Maka dia menunggu apa yang kiranya Jeongguk akan katakan padanya.

Dia bergerak-gerak di tempatnya, nampak tidak nyaman dalam balutan pakaian semi-formalnya. Dia membuka kancing teratas kemejanya, berdeham gugup dan Pierre berdiri di sana—semakin bingung.

Jeongguk kemudian merogoh saku dalam jasnya dan menarik sebuah kartu. “Kau...,” dia mengulurkan benda itu ke Pierre yang berjarak sekitar lima meter darinya, tidak terlalu dekat untuk membaca isinya.

Alis Pierre berkerut, kartu itu berwarna perak kelabu. Sinar matahari memantul di atasnya, mengaburkan kata-kata di atasnya. “Et, qu'est-ce que c'est...?”

Jeongguk mengerjap, tidak memahami bahasa Prancis sama sekali namun Pierre yakin dari nada suaranya, Jeongguk tahu apa yang dibicarakannya. “Kau tertarik datang ke pameran seni?”


4

Pierre di sini.

Di pameran lukisan turis asing yang dikenalnya kurang dari 2x24 jam yang ternyata diselenggarakan di Galerie Thaddaeus Ropac yang terletak di pusat Le Marais.

Pierre menelan ludahnya, tidak menduga sama sekali bahwa hari liburnya yang semula akan dihabiskannya dengan menonton serial Netflix sambil mengunyah cemilan kemudian berubah menjadi acara semi-formal di salah satu galeri independen yang terkenal di Paris. Dia berdiri di sudut, berusaha membuat dirinya tidak nampak di antara jejeran orang-orang penikmat seni yang berlalu-lalang di sekitarnya.

Jeongguk berdiri di tengah ruangan tinggi putih, berlangit-langit kaca galeri itu dengan seorang penerjemah di sisinya—sedang bicara dengan kurator galeri di depan karyanya. Pierre tidak terlalu memahami lukisan, namun dia suka berkunjung ke Louvre jika dia memiliki waktu luang.

Aliran Jeongguk bukan aliran yang digemarinya: abstrak. Lukisannya berupa lukisan-lukisan raksasa berukuran 2x1,75 meter yang digantung di dinding-dindng polos Thaddaeus Ropac dengan lampu sorot diarahkan ke permukaan kanvasnya. Ledakan warna di mana-mana, didominasi oleh warna merah dan oranye. Membuatnya nampak sangat mencolok dan menyala di atas warna putih.

Lebih banyak warna semakin Pierre melangkah ke dalam galeri, dia membaca booklet di tangannya yang ditulis dalam tiga bahasa: Inggris, Korea, dan Prancis. Pierre menemukan banyak hal tentang si Turis di sana: namanya Jeon Jeongguk (dan tidak, dia tidak berani menyebutkannya keras-keras), dia asli Korea dan perjalanan seninya membawanya ke Paris untuk pameran.

Ini bukan pameran pertamanya di luar Korea, namun pameran pertamanya di Paris. Ini menjelaskan jumlah uang tunai di dompet Jeongguk dan membuat Pierre sejenak malu karena telah berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Pierre berhenti di sebuah lukisan dengan liuk warna merah tajam di atas warna kelabu; dipenuhi cipratan dan dia sama sekali tidak paham itu apa.

“Piyel.”

Pierre menahan senyumannya, lucu bagaimana panggilan itu mendadak terasa sangat akrab untuknya—entah sejak kapan. Dia menoleh, menemukan Jeongguk melangkah ke arahnya dengan dua kancing kemejanya terbuka—dia tersenyum pada Pierre. “Halo,” balasnya mengangguk.

“Kau menikmati acaranya? Tidak mengambil sampanye?” Jeongguk mengerling meja di sudut yang terisi cemilan serta gelas-gelas sampanye untuk para tamu undangan.

“Aku sedang berkeliling, melihat-lihat.” Katanya melambaikan booklet di tangannya. “Aku benar-benar kaget mengetahui fakta bahwa kau seorang seniman terkenal.”

Jeongguk meringis. “Tidak seterkenal itu,” dia mengedikkan bahunya, merendah. Dia menatap Pierre yang menaikkan sebelah alisnya untuk bertanya seraya menyelipkan tangannya ke saku. “Kau tidak tahu aku siapa.”

Pierre terkekeh. “Tentu saja tidak. Aku tidak...,” dia melambaikan tangan ke karya-karya raksasa Jeongguk. “Aku tidak menaruh perhatianku di hal-hal ini. Tentu saja aku tidak tahu.” Dia kemudian mengerling orang-orang di hall utama. “Tapi mereka tahu.”

Dia kemudian menatap Jeongguk, tersenyum lebar. “Maka sungguh, Jeonhuk, pendapatku sama sekali tidak valid.”

“Jeong-GUK.”

Ouais, et c'est 'pyèr'.” Yes, and it's pyèr.

Mereka berdua bertukar senyuman lebar jenaka lalu kembali diam. Pierre menatap lukisan di hadapannya, melirik judulnya yang berarti 'gelombang' dan dengan alis berkerut berusaha menemukan gelombang yang dimaksud Jeongguk dalam karyanya hanya agar dia tidak dianggap tidak sopan. Mungkin garis merah itu? Pierre memiringkan kepalanya, gelombang lautan? Gelombang suara? Gelombang apa?

“Piyel?”

Pierre mengerjap lalu menoleh, menemukan Jeongguk menatapnya. Panggilan itu, aksen Korea Jeongguk tidak pernah gagal membuatnya tersenyum. “Oui?” Tanyanya, alisnya terangkat.

Jeongguk membalas tatapannya dengan diam, nampak kikuk dan malu. Lalu mengangkat tangannya—hendak menyentuh rambut Pierre yang seketika berjengit menajuhi sentuhannya. Lebih karena kaget dibanding tidak menyukainya. Jantungnya berdebar; aroma parfum Jeongguk tercium keras dari pergelangan tangannya.

Dia menelan ludah, kaget atas respons tubuhnya sendiri pada sentuhan Jeongguk, takut pemuda itu menganggapnya tidak sopan. “Pardon,” dia meringis. “Aku tidak terbiasa disentuh.”

Jeongguk membuka mulutnya, merona. “Oh, maaf.” Katanya kikuk, menarik tangannya dan menggaruk pelipisnya. “Aku ingin menyentuh rambutmu, kelihatan... lembut.” Dia berdeham. “Itu asli?”

Pierre menyentuh rambut ikalnya, merasakan teksturnya di tangannya—sejak dulu tidak terlalu menyukainya. Dia mendapatkan rambut ini dari ayahnya, dia pernah berusaha meluruskannya dan merapikannya. Membuatnya nampak seperti kucing basah kuyup, Cedric menghabiskan paginya untuk menertawai Pierre sehingga dia akhirnya membiarkannya begitu saja. Alami.

“Alami, genetik dari ayahku.” Katanya dan kemudian mendadak merasa berdebar. “Kau... ingin menyentuhnya?” Tanyanya ke Jeongguk yang mengerjap—seperti seekor golden retriever yang penasaran.

Pierre bukan lelaki melakolis, tidak pernah percaya pada jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia bahkan tidak terlalu memikirkan dengan siapa dia berkencan dan turis jelas bukan pilihannya: perbedaan budaya, hubungan jarak jauh, kendala bahasa. Pierre tidak ingin melakukannya, malas. Namun menatap Jeongguk yang berdiri di hadapannya dengan kemeja yang berusaha keras menutupi tubuhnya yang bidang dengan ekspresi penasaran menggemaskan membuat hatinya berdesir dengan cara yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Bisakah mereka...?

Tangan Jeongguk terangkat, dia menatap rambut Pierre. Semuanya bergerak lambat, Pierre mengamati tangan Jeongguk yang bergerak perlahan di udara lalu menyelipkan jemarinya ke rambut Pierre dan mengirimkan sentakan di jantungnya—dia menghela napas tajam dan memejamkan matanya saat jemari Jeongguk menyisir rambutnya.

“Oh,” katanya, terdengar geli. “Empuk dan lembut sekali.” Gumamnya, menyisiri rambut Pierre—memainkan per-per mungilnya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Senyuman geli bermain di bibirnya, memamerkan geliginya dan menerbitkan kerutan menggemaskan di pangkal hidungnya.

Pierre menahan napasnya, aroma parfum Jeongguk menguasai udara di sekitar hidungnya sementara tangannya menyisiri rambut ikal Pierre dengan lembut—memijat kulit kepalanya hingga leher Pierre terasa geli oleh sentuhannya.

Jeongguk menatapnya, senyumannya meleleh dan Pierre menahan napasnya—rahang Jeongguk begitu tajam, matanya gelap dan menarik. Rona samar di tulang pipinya karena dia tertawa dan minum sampanye; dia nampak... begitu tampan. Pierre sudah menyadarinya sejak pertama kali bertemu dengannya di tempatnya bekerja namun tidak sungguh-sungguh berhenti untuk mengamatinya.

Rahang Jeongguk bergerak lalu dia menjilat bibirnya.

Oh, merde.... pikir Pierre seketika saat melihat gerakan menjilat gugupnya yang perlahan, memikirkan bagaimana jika lidah itu bergerak di tubuhnya. Dia menelan ludah, menggeleng lembut untuk mengenyahkan pikiran itu.

“Piyel.” Bisik Jeongguk dan Pierre mendenguskan tawa lirih. Jeongguk mengerjap. “Apa yang lucu??” Protesnya tidak terima, mengerutkan alisnya sebal dan Pierre mendadak ingin mengusap kepalanya—menepuk-nepuknya sayang sementara Jeongguk berbaring di pangkuannya.

“Pyèr.”

Jeongguk mengerutkan alisnya jengkel. “Kupikir kita sudah melewati pertengkaran tentang penyebutan nama itu tadi!”

Pierre terkekeh, “Kau merusak namaku.” Keluhnya dan Jeongguk mendelik jengkel.

“Oh, ya?” Balasnya dan Pierre tertawa, suaranya menggema di ruangan galeri yang terbuka. “Kau sudah dengar bagaimana kau menyebut namaku? Jeonhuk??”


5

“Oh, merde!”

Pierre tersengal, sementara ciuman Jeongguk bergerak turun dari lehernya ke tubuhnya. Punggungnya melengkung merespons ciuman itu, tangannya menyelip ke rambut Jeongguk yang teurai dan menjambaknya saat ciuman yang menjalar di tubuhnya membuatnya gelisah oleh gairah.

Pierre tidak benar-benar menyadari namun ketika mereka keluar dari mobil yang mengantar mereka kembali dari Thaddaeus Ropac, dia menyentakkan Jeongguk ke dalam pelukannya lalu memangut bibirnya di depan lift apartemen. Jeongguk mengerang, berdeguk dan seketika membalasnya. Mereka memasuki lift yang kosong, berusaha untuk saling menelanjangi sementara tangan Jeongguk menyelip masuk ke pakaian Pierre, menyentuh sebanyak mungkin kulit zaitunnya.

Mereka ke kamar Pierre, yang terdekat. Jeongguk menggeram di kulitnya saat Pierre berusaha memasukkan kode masuk pintunya—tidak sabaran. Dan ketika pintu terbuka, dia menendangnya tertutup dan mengangkat Pierre, pemuda itu mereponsnya dengan mengalungkan kedua betisnya ke pinggang mungil Jeongguk yang kembali menciumnya.

Sekarang Pierre tergencet di kasurnya sendiri, lutut Jeongguk menekuk dan digesekkan ke selangkangannya. Dia mendesah panjang—kepalanya pening. Tidak ingat kapan terakhir kalinya dia benar-benar bercinta dan bukan hanya make out. Jeongguk membuat seluruh tubuhnya terasa terbakar. Dia membenamkan wajahnya di rambut Pierre, menghirup aromanya dan mendesah panjang.

“Aku membayangkan ini sepanjang hari,” gumam Jeongguk di kulitnya, menarik ciuman di sepanjang garis bahu Pierre saat pemuda itu membungkuk di hadapannya. “Membayangkan betapa lembut kulit dan rambutmu.” Dia mengecup tengkuk Pierre yang mengerang karena jemari Jeongguk memijat tubuhnya yang menebal dengan lembut

“Kau membayangkan bercinta denganku sepanjang hari?” Gumam Pierre tersengal saat Jeongguk bergerak di atasnya. “Tidak senonoh sekali!” Gerutunya dan bergidik.

Jeongguk mengerang ketika Pierre mengetatkan tubuhnya untuk menghukumnya. “Maafkan aku,” dia tersengal. “Aku sungguh tidak menyangka bahwa,” dia mengerang dan mendesah panjang. “Bahwa,” dia berusaha membuat dirinya sendiri bicara saat Pierre menggerakkan pinggulnya, menguasai permainan mereka.

Fuck,” geramnya, kepalanya terlempar ke belakang—rambutnya membentuk air terjun saat Pierre menggoyangkan pinggulnya. “Manajer Starbucks yang kudatangi ternyata seindah dirimu.”

Pierre terkekeh, menarik dirinya sebelum berbalik ke Jeongguk yang mengerutkan wajahnya—memprotes permainan yang diberhentikan. Pierre mendorongnya berbaring ke kasurnya yang berderit menerima beban tubuh Jeongguk, dia meraih kondom baru dan menjepitnya dengan giginya. Tangannya menemukan lubrikan di atas ranjang, memijit botolnya hingga cairan bening membasahi tangannya lalu mengusapkan tujung telunjuknya di tubuh Jeongguk yang mengerut.

“Oh,” desahnya panjang, matanya terpejam. Dia meremas bahu Pierre, menancapkan kuku-kuku tumpulnya ke sana. “Pierre.” Pyèr.

Pierre berhenti, dengan jari berada di dalam tubuh Jeongguk yang hangat. “Oh?” Bisiknya takjub, kondom jatuh dari giginya. “Kau mengatakan namaku dengan benar?”

Jeongguk membuka matanya, menatap Pierre yang balas menatapnya lalu terkekeh geli. Dia mengedikkan bahunya, “Je parle français, tu vais.” I'm speaking French, you know.

Pierre berhenti, mulutnya terbuka. Dia bicara bahasa Prancis lalu kenapa dia.... Lalu dia mendengarkan kata-kata Dominique.... Dia... Kenapa? “Oh, putain!” Raungnya dan Jeongguk terbahak-bahak.

Tu agis stupidement tout le temps, merde! Que crois tu faire?! Tu me rends fou! Putain!”

Jeongguk terbahak-bahak di ranjang, berguling menjauhi Pierre yang nyaris mencekiknya karena amarah. “Pierre, je suis désolé! It was fun tho!” I'm sorry!

Va te faire foutre!” Pierre mendelik dan Jeongguk kembali tertawa, benar-benar terhibur karena telah mengerjai Pierre dengan logat Asia-nya yang tebal. “Tu m'as trompé!” You have me fooled!

Sayang, ayo lanjutkan.” Dia menopang tubuh atasnya, bangkit setengah duduk untuk mengulurkan tangan ke tubuh Pierre yang menegang lalu memijatnya dan perhatian Pierre seketika teralihkan. “Kita punya pekerjaan serius di sini, kita urus yang ini nanti.”

Ya, benar.” Geramnya penuh dendam lalu menyambar kembali kondomnya. Dia menegakkan tubuhnya, merobek bungkus kondom dengan giginya. Tatapannya tidak melepaskan diri dari Jeongguk yang tertawa. Dia memasang kondom di tubuhnya, menuang lubrikan dan mengolesnya sebelum menunduk—menaungi Jeongguk yang wajahnya merona karena tawa.

I will fuck you with no mercy.” Dia menjulurkan lidah dan menjilat wajah Jeongguk yang gemetar, merengek di bawahnya seperti bayi—kehilangan kecongkakannya tadi.

You'd better be ready.”


Fin.

Thankyou hahahaha sudah membaca oneshot tidak jelas ini hanya karena aku gamon dari Takuto lalu memutuskan french taehyung layak mendapatkan cerita hehehe Hope u like it! See you in gourmet!

ire, xo

tw // mention of domestic abuse , emotional manipulation , emotional and physical abuse , toxic parenting , self-labeling .


author's warning: chapter ini lumayan heavy karena kalian bakal nyelam ke pola pikir tae tentang dirinya sendiri, jadi kalo kalian punya sejarah child abuse selama kecil dan itu affecting lumayan besar ke adulthood, diskip aja yaa

tae's way seeing himself is kinda disrespectful. take care of yourself. ire, xo


Jeongguk menatap kekasihnya dengan perasaan tidak karuan. Apakah dia mendengarnya dengan benar? Taehyung mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal untuknya.

Taehyung menyulitkan, benar. Taehyung terkadang membuatnya sangat kewalahan dan kelelahan beradaptasi dengan cuaca di hutannya yang begitu ekstrim, benar. Taehyung membuatnya mempertanyakan tentang emosinya sendiri, benar. Taehyung mendominasinya dan dia tidak nyaman tentang itu, benar.

Namun Taehyung seorang... monster?

“Tidak.” Katanya, tidak mengenali suaranya sendiri saat mengulurkan tangan ke arah Taehyung yang menggigil di ranjang mereka—wajahnya merah padam mulai menangis, menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. “Tidak, tidak.” Bisik Jeongguk pecah saat dia merangkak ke sisi Taehyung dan memeluknya. “Kau bukan monster, Sayang.”

Taehyung seketika meresponsnya dengan menggeleng panik, nyaris kasar hingga Jeongguk harus menggenggamnya agar tidak menyakiti dirinya sendiri. “Aku membuatmu menderita,” isak Taehyung, nyaris tidak bisa dipahami jika Jeongguk tidak begitu lama bersamanya. “Maaf, maaf.” Isaknya tersedu-sedu hingga napasnya tercekat. “Kau selalu membuatku bahagia, tapi aku...” Dia tersengal, asmanya beriak ke permukaan dan Jeongguk terserang kepanikan.

Dia bergegas melepaskan Taehyung, meluncur ke tas selempang kecil Taehyung dan merogohnya—dia tahu kekasihnya selalu menyimpan obatnya di sana. Dia menemukan botol reliever inhaler biru Taehyung dan melompat kembali ke ranjang. Jeongguk membuka tutupnya sementara Taehyung tercekat-cekat di ranjangnya—seperti seekor ikan yang dibawa ke permukaan dengan napas yang berdenging nyaring, menusuk telinga Jeongguk dengan kepedihan. Dia mengocok tabung mungil itu lalu merengkuh Taehyung—menyelipkan lengannya ke bawah lengan Taehyung dan menariknya duduk tegak.

“Sayang, Sayang tegakkan dudukmu.” Gumamnya dengan jantung bertalu-talu di telinganya sendiri—dia merasa pening. “Sayang.” Bisiknya lagi mendesak, berusaha menahan kepala Taehyung tegak. “Sayang tolong,” mohonnya, jantungnya dingin oleh rasa panik.

Pemuda itu meresponsnya, dia meraih tangan Jeongguk dan jemarinya berusaha menekan inhaler yang dimasukkan Jeongguk ke mulutnya sambil menyandarkan tubuh Taehyung ke dadanya agar lehernya tegak. Jeongguk membantunya.

“Gigit dan tutup mulutmu.” Bisiknya dan Taehyung melakukannya, tersengal-sengal dengan menyedihkan. Jemarinya yang gemetar bergerak di atas jemari Jeongguk, berusaha menekan inhaler. Jeongguk menekannya, terdengar suara mendesis keras ketika obat dilepaskan inhaler ke mulut Taehyung yang seketika secara naluriah menarik napas dalam-dalam.

Dia terkulai ke ranjang, nampak seperti sayuran layu sementara Jeongguk menutup kembali obatnya dan meletakkannya dalam jangkauan sehingga dia bisa langsung menyambarnya jika butuh. Dia kemudian merangkak ke sisi Taehyung dan membelainya—menunggu obat bereaksi sekitar 5-10 menit. Jeongguk membelai rambutnya, mendengarkan desing napas Taehyung yang perlahan mereda dan rileks.

“Kau oke?” Bisiknya lembut ketika napas Taehyung kembali normal—tidak senormal manusia biasa karena suaranya terdengar tersengal-sengal seperti seekor kuda yang kelelahan, namun itulah napas normal Taehyung sebagai penderita asma. Suara denging itu.

Taehyung mengangguk, “Maaf.” Bisiknya lirih dan Jeongguk mengecup pelipisnya. “Dimaafkan.” Sahutnya lembut.

“Kau bukan monster,” bisiknya lagi dan Taehyung berjengit—Jeongguk mengeratkan pelukannya, menjaganya tetap utuh. “Kau sama sekali bukan apa pun yang kaupikirkan adalah dirimu. Kau Taehyung, kau kekasihku, dan aku mencintaimu.”

Taehyung mengerjap, lalu mendongak menatap Jeongguk yang berbaring di sisinya—rambutnya tergerai di sisi wajahnya seperti tirai lengket yang lembab. Dia berbalik, mendekatkan dirinya ke Jeongguk yang merengkuhnya hangat dan sayang—mendekapnya erat ke dadanya, bernapas di rambutnya yang lembab.

“Ada masa di mana aku merasa lelah sekali menghadapimu,” bisik Jeongguk lembut—perlahan memilih kata-katanya agar tidak menyakiti perasaan Taehyung yang rapuh. “Namun aku bertahan. Kupikir jika aku mengabaikannya, semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata, semakin aku mengabaikannya semakin aku merasa kelelahan. Seperti... tenagaku dihisap habis.”

Tubuh Taehyung menegang dalam pelukannya dan Jeongguk bergegas membelainya, mendekapnya hangat—menenangkannya. “Aku hanya sedang membicarakan perasaanku, aku tidak...” Jeongguk menelan dengan sulit.

“Hal yang menyulitkan tentang pribadi yang agresif adalah mereka jarang mau mendengarkan. Mereka memilih untuk mengabaikan perasaan lawan bicara karena mereka merasa pendapat merekalah yang benar.” Kata-kata Thia kembali terngiang di telinganya, mendengung seperti lebah. “Mereka tidak terbiasa dengan mendegarkan. Jadi kau harus memilih kata-katamu dengan baik jika tidak ingin menimbulkan gesekan dengan mereka. Mereka bisa saja berbalik menyerangmu untuk membenarkan argumentasi mereka, tidak peduli bagaimana pun kau berusaha menjelaskan posisimu.”

“Berusahalah agar kau tidak terdengar seolah sedang menyerangnya.”

“Aku tidak berusaha menyerangmu.” Bisik Jeongguk di rambutnya. “Aku sedang mengevaluasi servis kita: menjelaskan padamu di bagian mana kau salah memasak makanan kita sehingga hasilnya tidak sesuai seperti apa yang kita harapkan.”

Terdengar lebih teknis, jauh dari pembicaraan hati ke hati yang dibayangkan Jeongguk namun setidaknya dengan begini mereka memiliki gambaran apa yang akan mereka bicarakan. Bagaimana sebaiknya Taehyung menyikapi pembicaraan ini.

“Lalu,” dia menjalin rambut Taehyung di jemarinya lalu menciumnya. “Kita akan mencari cara untuk membenahi cara kerja kita agar hasil servis menjadi memuaskan. Bagaimana?” Dia menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung, menggenggamnya erat.

“Beri tahu aku cara untuk mencintaimu, cara yang membuatmu nyaman dan dibutuhkan. Beri tahu aku cara mencintaimu dengan benar, Wigung.” Dia mengecup telapak tangan Taehyung, memejamkan matanya sementara bibirnya bergerak—mengusap kulit Taehyung yang lembab dan lembut setelah mandi.

“Beri tahu aku cara mencintaimu dengan benar.”


Taehyung tidak paham.

Bagaimana cara mencintainya dengan benar? Bagaimana cara mencintai Jeongguk dengan benar?

Dia mendapat pukulan pertamanya ketika dia berusia lima tahun. Ayahnya melayangkan tamparan ke wajahnya karena dia tidak sengaja menjawab saat dimarahi ayahnya. Dia hanya berusaha menjelaskan duduk perkaranya, dia berusaha menjelaskan bahwa dia tidak 100% bersalah; dia memiliki alasan. Namun setelah pukulan pertama itu, dia belajar bahwa tidak baik menyela ketika ayahnya bicara.

Setelah pukulan ketiga di usianya yang ke-15 tahun, Taehyung paham bahwa dia tidak boleh menjawab dan tidak ada ruang untuknya menjelaskan. Dia hanya harus diam, menerimanya. Jauh lebih cepat dan mudah begitu. Ayahnya akan cepat bosan ketika dia diam, mendengarkannya mengomel dan menerima saja pukulan itu. Dia bisa segera pergi dari sana, tidak menatap wajah ayahnya yang membuatnya mual. Dia akan mencari Lakshmi, menerima permen karena telah bersikap ‘baik’ ketika ayah mereka ‘menasihatinya’.

“Aku memberikanmu rumah untuk bernaung, aku membesarkanmu. Aku menyekolahkanmu. Jika kau sayang orang tuamu, maka kau harus mendengarkanku!” Begitu kata ayahnya, berkali-kali hingga Taehyung akhirnya mati rasa.

Memangnya Taehyung memilih untuk dilahirkan? Memangnya Taehyung memohon pada ayahnya untuk dilahirkan di keluarga itu? Menjadi Taehyung? Menjadi anaknya? Jika dia bisa memilih, maka Taehyung yakin dia lebih suka berada di Surga dengan semua leluhurnya dan tidak memilih untuk dilahirkan kembali*. Menjadi manusia sangat melelahkan.

“Cara Ajung mencintai, berbeda dengan cara Ibu mencintai Atu.” Begitu kata ibunya saat dia mengobati luka Taehyung yang hatinya tidak lagi berdenyut oleh sakit; dia berhenti merasakan, dia berhenti berharap pada manusia.

“Cara Tuniang mencintai Atu juga berbeda.” Tambah ibunya ketika Taehyung meneriaki neneknya yang membuatnya tersinggung, lalu mendapatkan pukulan dari ayahnya karena “melawan orang tua”.

“Beri tahu aku cara mencintaimu dengan benar.”

Taehyung tidak paham bahwa ada cara mencintai yang benar: setahunya, orang-orang melakukan apa saja yang mereka inginkan lalu membenarkan diri dengan mengatakan mereka melakukannya karena mereka mencintainya, karena mereka menyayanginya. Mereka memukul Taehyung, lalu berlindung di balik kata mencintai. Mereka mengasingkan Taehyung, mematikan emosinya, mengabaikan kebutuhannya lalu melabelinya dengan cinta.

Dia tumbuh besar berpikir bahwa itulah satu-satunya cara untuk dicintai dan mencintai.

Memaksa dirinya menelan fakta pahit bahwa cara mencintai setiap orang berbeda dan bahkan jika itu tidak cocok dengannya, dia harus menerimanya karena itulah cara mereka mengekspresikannya.

Dia tidak tahu bahwa dia bisa meminta seseorang mencintainya dengan cara yang akan membuatnya nyaman, utuh, dan damai. Mencintainya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Mencintai Taehyung sesuai kebutuhan Taehyung alih-alih memanipulasi cinta untuk mengambil keuntungan mereka sendiri.

Hingga akhirnya dia bertemu Jeongguk. Berkenalan dengan chef muda berbakat yang tenang, seperti permukaan air danau yang jernih memantulkan langit di atasnya dan memamerkan betapa indah bagian dasar danau itu; bebatuan bersih, pasir, ikan-ikan yang menari, tumbuhan air yang beriak oleh ombak kecilnya. Nampak dangkal, namun ketika dia tersandung, jatuh ke dalamnya; Taehyung tenggelam.

Lelaki itu mencintainya dengan cara yang sangat berbeda dari apa yang selalu diterimanya selama ini. Dia mendengarkan Taehyung, dia menanyakan pendapat Taehyung, dia menghormati Taehyung, dia mengapresiasi keberadaan Taehyung: dia membuat Taehyung merasa untuk pertama kalinya, keberadaannya dibutuhkan.

Apakah Taehyung telah mengambil terlalu banyak dari apa yang dibutuhkannya? Bersikap rakus atas cinta yang diberikan Jeongguk padanya? Bagaimana cara mengembalikan semua yang diambilnya? Bagaimana cara Taehyung memberikan kembali apa yang telah....

Bagaimana caranya berhenti menjadi seorang monster?

“Cara mencintai?” Bisik Taehyung, menatap Jeongguk yang balas menatapnya—tatapannya teduh, dalam, dan menyejukkan. Dia mengangkat tangannya, menyentuh wajah Jeongguk yang memejamkan mata di bawah sentuhannya: Jeongguk selalu begitu indah.

Jeongguk begitu menenangkan, secara naluriah. Dia seperti hembusan angin sejuk di musim panas, seperti sinar matahari di tengah musim dingin. Menggigit dengan cara yang menyenangkan hingga siapa saja secara naluriah datang untuk mengambil lagi dan lagi. Seperti morfim, dia menghapus sakit dan nyeri Taehyung hanya dengan kehadirannya. Jemari Taehyung menyentuh wajah Jeongguk, menarik garis lembut ke sepanjang garis rahangnya yang tajam dan tegas.

“Ya.” Kata Jeongguk, bibirnya bergerak di bawah jemari Taehyung. Napasnya yang hangat menggelitik kulit Taehyung. “Beri tahu aku cara mencintaimu, apa yang membuatmu nyaman dan tidak nyaman.”

Taehyung mengerjap, menatap Jeongguk yang memejamkan mata di bawah sentuhannya—kulitnya lembut, lembab, beraroma lembut keringatnya yang akrab dengan paru-paru Taehyung. Aroma yang oleh otaknya disandingkan dengan 'rumah', 'kenyamanan', dan 'aman'.

“Lalu, aku akan memberi tahumu cara mencintaiku dengan benar.” Tambah Jeongguk, mengecup ibu jari Taehyung yang beristirahat di atas bibirnya dengan lembut dan hangat; geli, tetapi Taehyung menyukainya.

“Kau sudah memberikanku cara mencintai yang asing dan baru,” sahut Taehyung perlahan; memikirkan semua kata orang di sekitarnya tentang cara mencintai yang selalu melibatkan teriakan, pukulan dan manipulasi emosi.

Namun Jeongguk.

Jeongguk berbeda. Dia seperti permen kapas yang meleleh, larut bersama liur Taehyung. Meledak di rongga mulutnya dengan rasa manis artifisial yang palsu, terlalu kuat. Namun cukup untuk membuat lidahnya mencari-cari di sela geliginya, mencari sisa ledakan rasa itu. Jeongguk membuatnya aman; untuk pertama kali dalam hidupnya.

Mungkin itulah mengapa Taehyung selalu berlari darinya: perasaan nyaman yang asing dengan keseluruhan hidupnya. “Aku ini binatang.” Katanya kering, merasakan gumpalan pahit di pangkal tenggorokannya dan merasakan Jeongguk mengejang saat mendengar pemilihan kata yang digunakannya. “Aku terbiasa dipukuli, dihukum untuk melakukan apa yang manusia ingin kulakukan. Mereka memukulku ketika aku salah, tidak memberiku makan untuk mengajariku sopan santun. Mengabaikanku, mengurungku: mengikatku dengan tali dan brangus agar aku diam. Aku terbiasa dengan cara itu.”

Mata Jeongguk terbuka, nampak kaget pada perbandingan yang digunakan Taehyung untuk dirinya sendiri. Namun Taehyung tidak berhenti. Dia menatap wajah Jeongguk—mengamati bekas luka di pipinya, tahi lalat di bawah bibirnya, bentuk bibirnya yang lembut. Jeongguk sangat berbeda dari segala hal yang dimilikinya di dunianya: berbeda dari semua duri, sudut tajam, dan benda keras yang mengelilinginya. Dia begitu lembut, mendayu-dayu, memabukkan.

“Dicintai olehmu,” bisik Taehyung merasakan hatinya berdenyut nyeri oleh rasa sakit—menyadari betapa mengungkapkan ini membuatnya takut, namun juga lega di saat yang bersamaan. “Begitu berbeda.”

Dia menatap Jeongguk yang menunggunya bicara. “Kau memperlakukanku seperti manusia.” Dia tersenyum tipis, mengabaikan tikaman rasa sakit di dadanya: terkejut karena ternyata hatinya masih bisa merasakan sakit. “Kau menghargaiku, kau selalu bicara padaku dengan sopan dan tenang.”

“Kau tidak memukulku, kau tidak mengikatku. Tidak mengurungku.” Taehyung menatap jemarinya di wajah Jeongguk. “Mungkin itulah yang membuatku... rakus. Kehilangan kendali dan mengambil terlalu banyak darimu.”

Dia menatap mata Jeongguk, tersenyum dengan cara yang meremas hati Jeongguk karena dia nampak begitu sendu dan sedih.

“Aku tidak menghormatimu dan cintamu untukku.”


“Aku ini binatang.”

Jeongguk menunduk, menatap Taehyung yang terlelap dalam pelukannya. Mereka akhirnya bicara, untuk pertama kalinya setelah sekian lama menjadi kekasih. Taehyung secara ajaib mendengarkan apa yang Jeongguk inginkan: dia mengangguk, menyatakan diri akan mencoba menahan dirinya.

Jeongguk memberi tahunya tentang melibatkan Jeongguk dalam memutuskan untuk hubungan mereka, mendengarkan ketika Jeongguk memiliki sesuatu untuk diungkapkan, mendiskusikan ketika ada hal yang tidak sesuai dalam hubungan mereka alih-alih melarikan diri. Jeongguk meminta Taehyung untuk bersabar dengannya: mendengarkannya, berjalan berdampingan dengannya dan tidak menyeret Jeongguk bersamanya.

Taehyung setuju, meminta Jeongguk untuk membantunya dan mengingatkannya ketika dia keliru. Dia akan berusaha mengendalikan dirinya ketika Jeongguk berpendapat, berusaha tidak bereaksi keliru dan defensif sebelum mendengarkan. Tekad Taehyung ini cukup untuk Jeongguk, bekal untuk mereka berdinamika bersama sebagai tim.

“Aku terbiasa dipukuli, dihukum untuk melakukan apa yang manusia ingin kulakukan.”

Dia memejamkan mata, menempelkan keningnya ke kening Taehyung yang lelap; menangguhkan perih yang menyeruak di dadanya mendengarkan bagaimana pandangan Taehyung terhadap dirinya sendiri selama ini. Dia tidak pernah merasa dia adalah manusia yang layak diperlakukan dengan hormat. Memikirkan bagaimana keluarganyalah yang membentuk Taehyung hingga menjadi dirinya yang sekarang membuat Jeongguk mual. Keluarga mereka sama payahnya, itulah ujian terberat hidup mereka berdua.

“Aku bukan santa,” sahut Jeongguk setelah Taehyung selesai bicara tadi. Dia menggenggam tangan Taehyung erat dan menciumi ujung-ujung jemarinya dengan lembut. “Aku juga punya masalah serius dengan emosiku: ayahku yang menjejaliku dengan toxic masculinity, bagaimana dia bersikap pilih kasih secara terang-terangan.

“Kau adalah satu-satunya hal selain karirku menjadi chef, yang kuperjuangkan dalam hidup ini.” Dia menatap Taehyung yang mentapnya, rona merah jambu menyebar di wajahnya—indah sekali hingga reaksi pertama Jeongguk adalah mengulurkan tangan, berusaha menangkap warna indah itu, menggenggamnya. “Jadi aku berharap, kita benar-benar bisa bekerja sama untuk hubungan ini.” Jeongguk menatap Taehyung yang menelengkan wajahnya, menyandarkan diri di telapak tangan Jeongguk seperti seekor anak anjing menggemaskan.

“Mirah.” Kata Taehyung kemudian dan Jeongguk menghela napas—sudah tahu inilah yang akan dibicarakan Taehyung pertama. “Dia nampak begitu natural di sekitarmu, seolah dia... entahlah, dipesan khusus oleh orang tuamu untuk mendampingimu. Aku selalu menolak melihatnya, menolak percaya bahwa kau mungkin bisa jatuh cinta padanya.

“Namun hari itu, saat di Tirta Gangga....” Suara Taehyung memelan lalu lenyap dan Jeongguk menyadarinya: hari ketika segalanya berubah. Hari ketika hubungannya dengan Taehyung mendadak serupa telur di ujung tanduk nyaris setiap hari.

“Kau layak berbahagia.” Dia mengaitkan rambut Mirah di balik telinganya dan mengusap sisi kepalanya dengan lembut. “Kau layak dicintai dan layak dibahagiakan.”

Jeongguk memejamkan matanya: kini menyadari kesalahan fatalnya. Bahwa ketika dia bersikap baik pada seseorang, tidak semua orang memahami itu. Tidak semua orang berpikir dengan pola pikir yang sama dengan Jeongguk: sama sekali tidak. Jika saja dia melakukan ini sejak awal, sebelum mereka rusak lebih parah lagi—akankah hubungan mereka menguat?

Sesuatu tentang Taehyung selalu membuat Jeongguk penasaran. Dia seperti samudra, dalam dan gelap. Mengundang siapa saja untuk menaklukkan kedalamannya, mencari tahu apa yang berada di balik kegelapan itu. Dia begitu misterius, tidak tersentuh, dan menjaga jarak dari semua orang. Jeongguk mungkin bersikap nekat dengan menerjunkan diri ke dalamnya tanpa persiapan sehingga arus air kedalaman menyeretnya, menghantamkannya ke karang dan nyaris membunuh Jeongguk.

Namun lautan yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang berbakat. Maka Jeongguk bertahan, berusaha menaklukkannya hingga akhirnya dia berhasil menemukan gua yang menyembunyikan Taehyung kecil. Dia menggigil di sudut, ketakutan dengan begitu banyak luka yang carut marut di tubuhnya. Jeongguk mungkin bukan lelaki paling layak untuk mengobati luka Taehyung karena dia sendiri memiliki lukanya yang berdarah.

Setidaknya, Jeongguk bisa berusaha. Dia percaya, hanya mereka yang terluka paham bagaimana caranya menghadapi luka yang sama. Dia menemukan Taehyung, mereka menemukan satu sama lain: sekarang, mereka akan berusaha saling mengobati.

“Aku sudah berkali-kali memintamu untuk berhenti bersikap terlalu baik padanya,” bisik Taehyung pecah dan gemetar. “Kau tidak pernah mendengarkanku.”

Jeongguk menatapnya, menatap Taehyung yang mengalihkan pandangan darinya. “Aku hanya berpikir bahwa aku harus bersikap baik padanya karena aku sudah menyakitinya—bahkan sebelum dia menyadarinya.” Dia mengernyit, menekan rasa bersalah besar yang menghantam dadanya seketika itu juga disertai kilas balik semua hal keliru yang dilakukannya pada Mirah di hadapan Taehyung.

Mirah melanjutkan seraya menyentuh tangan kiri Jeongguk di meja makan. Dia memainkan cincin tunangan mereka. “Aku malah kembali ke Indonesia karena Bli Gung.” Dia tersenyum. “Ajik menawariku perjodohan lalu memberikanku foto Bli Gung. Aku memutuskan pulang karena aku tertarik pada Bli Gung pada pandangan pertama di fotonya.”

Tanpa memikirkan bagaimana Taehyung, makhluk antisosial yang tidak pernah dicintai, bereaksi terhadap sikap yang untuk Jeongguk sama sekali tidak berarti apa pun. Kemarahan Taehyung, sikap dinginnya dan semua caranya untuk mengenyahkan kesempatan Jeongguk untuk bicara, kini terasa masuk akal. Jeongguk memproses emosi Taehyung. Dia memejamkan mata, bersidiam dengan Taehyung yang duduk di hadapnnya.

“Maaf.” Bisik Jeongguk, kali ini dia meminta maaf bukan untuk menghindari konflik. Dia meminta maaf karena dia menyadari kesalahannya, menyadari luka yang diguratkannya di hati Taehyung karena ketidak pahamannya sendiri. Dan dia memohon pengampunan dengan tulus.

Taehyung menggeleng, menatapnya. “Maaf.” Balasnya. “Maaf karena tidak membicarakannya padamu, maaf karena bersikap kekanakan padamu. Aku,” dia menyentuh kepalanya. “Aku minta maaf atas segala sikap tidak sopanku padamu yang membuatku....”

Dia berhenti, tidak bisa menyebutkan kata 'monster' itu dan Jeongguk merengkuhnya. “Kau bukan monster.” Bisiknya di telinga Taehyung lembut. “Kau keliru dan itu tidak menjadikanmu cacat atau rusak. Kau sempurna, kau hanya perlu sedikit membantu dirimu sendiri.”

Jeongguk berhenti persis sebelum dia menawarkan sesi terapis kepada Taehyung karena disosiasinya yang sudah parah. Thia menyarankan sesi untuk mengecek seberapa jauh trauma telah melukai Taehyung dan potensi dia memiliki penyakit klinis yang harus ditangani dengan serius. Jeongguk takut dia menyinggung Taehyung; mungkin dia akan mengatakannya kapan-kapan ketika Taehyung sudah lebih tenang.

Tidak, tidak sekarang.

Jeongguk tersenyum lalu memeluknya. “Sayang,” bisiknya di rambut Taehyung. “Mari mencintai dengan benar sekarang.”

Taehyung terkekeh di pelukannya, mengeratkan pelukannya pada tubuh Jeongguk. Tubuhnya hangat sekarang, mereka merasa ringan setelah menjabarkan isi hati masing-masing, membongkar hubungan mereka seperti mengevaluasi tim mereka yang cacat. Apakah mereka seketika mengganti commis mereka ketika satu servis tidak berjalan baik? Tidak. Mereka mengganti cara mereka untuk mengatur anak buah mereka. Maka itulah yang akan mereka lakukan sekarang.

“Mari mencintai dengan benar.” Bisik Taehyung setuju sebelum Jeongguk meraih wajahnya dengan lembut dan mencium bibirnya.

Sekarang, dia terlelap—nampak rileks dan lelap. Jeongguk mendesah. Taehyung melewati begitu banyak fase merusak dalam hidupnya, bagaimana cara Jeongguk memberikannya ide tentang bertemu terapis? Mengendalikan emosinya yang kacau balau? Dia ingin Taehyung sehat dan menikmati hidupnya dengan bahagia: tanpa bayang-bayang trauma yang menghantuinya seperti sosok raksasa gelap tinggi yang siap mencekiknya kapan pun dia lengah.

Jeongguk ingin kekasihnya hidup damai, sama seperti hidup yang sekarang dijalaninya setelah beberapa kali sesi dengan Thia.

“Berbahagialah dengan diri kalian masing-masing, lalu bertemulah untuk berbagi kebahagiaan itu bersama. Tidak ada yang bertanggung jawab untuk kebahagiaanmu kecuali dirimu sendiri: kau bahagia, pasanganmu bahagia. Kalian berbahagia bersama. Bukan saling membahagiakan. Bahagiamu bukan tanggung jawab kekasihmu.”

Jeongguk akan berterima kasih pada Mirah nanti sekaligus memberi tahunya tentang perjodohan mereka. Jimin benar, dia seharusnya melepaskan gadis itu karena dia paham sejak awal tidak ada tempat untuk hubungan itu dalam hidupnya.

Dia menghela napas, dia akan menghadapi ayahnya—sekali lagi, demi memperjuangkan keinginannya seperti ketika dia meminta izin ayahnya mendaftar ke sekolah kulinari.

Jeongguk meremas jemari Taehyung. Dia akan memperjuangkan hubungannya dengan Taehyung, tidak akan ada yang bisa menghentikan mereka.

Bahkan tidak Kehidupan itu sendiri.

“Wiktu?”

Jeongguk mengerjap, menunduk menemukan Taehyung menatapnya dengan wajah mengantuknya. “Hei,” dia merunduk—mengecup ujung hidung Taehyung yang tersenyum senang. “Maaf membangunkanmu.”

Taehyung menggeleng. “Ayo tidur.” Katanya, meraih Jeongguk yang seketika terkekeh lalu membaringkan dirinya di sisi Taehyung. “Atau kau mau bercinta?” Dia mengerling tubuh Jeongguk yang telanjang dengan nakal.

Jeongguk terkekeh lalu mendesis saat Taehyung menekuk lututnya, menggesekkannya ke selangkangan Jeongguk. “Kau anak nakal.” Gumamnya lalu mendesah saat Taehyung mengulum telinganya.

Sekarang ketika mereka sudah bicara, seks terasa jauh lebih mendebarkan. Hubungan mereka terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan: Jeongguk tidak lagi terjebak dalam ketakutan yang menghantuinya jika dia tidak sengaja membuat Taehyung marah karena mereka sudah berjanji akan memberi tahu kapan pun mereka membuat satu sama lain tersinggung.

“Komunikasi dua arah.” Begitu kata Jeongguk dan Taehyung setuju.

Jeongguk menyelipkan jemarinya ke pantat Taehyung, membelainya dan Taehyung merengek. Mendongakkan kepalanya hingga Jeongguk menjulurkan lidah, menjilat lehernya. “Kau menggodaku?” Gumamnya di kulit Taehyung. “Maka persiapkan dirimu untukku.”

Mereka bahagia.

Jeongguk menyadarinya saat dia menaungi Taehyung yang merona—selalu nampak seindah mimpi. Dia selalu membuat Jeongguk merasa aman dan nyaman, bahkan ketika dia bersikap tidak sopan pada emosi Jeongguk. Dia sosok kakak yang diinginkan Jeongguk, senior yang membimbingnya selama ini dan sekarang adalah pasangannya.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya, mendesah menempelkan kening mereka dan merasakan napas Taehyung di wajahnya. “Sangat mencintaimu.”

Taehyung tersenyum lebar dengan mata terpejam. “Aku juga mencintaimu.” Dia mengalungkan lengannya di leher Jeongguk. “Pastikan kau melakukannya dengan panas dan kasar.” Dia mengangguk serius dan Jeongguk terkekeh.

“Kasar yang bagaimana?” Sahut Jeongguk, menahan senyumannya lalu menyelipkan ujung jemarinya ke tubuh Taehyung—mendapatkan respons desahan kaget karena dia sama sekali belum siap. “Begitu?”

Taehyung mengerang, tersengal lalu terkesiap keras saat Jeongguk menyelipkan jemarinya lebih dalam. “Atau begitu?”

“Sakit!” Gerutu Taehyung menjambak rambut Jeongguk dan dia tertawa.

“Bagaimana jika kita bercinta perlahan...,” bisiknya kemudian, membelai tubuh Taehyung yang menegang dengan jemarinya. “Begitu perlahan hingga ketika kau orgasme, kau merasa meledak menjadi jutaan keping?”

Sounds better.” Taehyung tersengal. “Please do, Chef.”

Jeongguk tersenyum. Dia jatuh cinta pada Taehyung, lebih dalam dari yang direncanakannya. Tetapi siapa peduli? Jeongguk akan mencintai Taehyung dengan caranya sendiri dan tidak ada yang boleh mengoreksinya.

Alright, Chef. Here I come.”


  • Dalam Hindu, seseorang yang meninggal akan diupacarai. Pertama, mayatnya akan dibakar atau Ngaben. Lalu setelahnya, atma/jiwanya akan disucikan dalam upacara Ngeroras ke gunung dan laut. Setelahnya, atma akan dikembalikan ke keluarga untuk ‘Melinggihang’ atau dilekakkan bersama para leluhur di pura rumah. Penyucian ini harus dilakukan untuk ‘memulangkan’ atma ke surga, bergabung bersama semua leluhur dan nanti akan kembali dilahirkan hingga reinkarnasi ke-7 dan mencapai Moksa—kematian terakhir.

tw // anxiety , father issue , mention of domestic abuse , excessive thoughts , self-blaming , self-labelling , dissociation . cw // dub-con , humping , bathroom implicit sex .

note.

Dissociation is a disconnection between a person's sensory experience, thoughts, sense of self, or personal history. People may feel a sense of unreality and lose their connection to time, place, and identity.

Depersonalization and derealization are often responses to overwhelming traumatic events that cannot be escaped, such as child abuse and war trauma. They arise in order for the person to keep on functioning at the moment of being severely traumatized.


Taehyung tegang.

Dia merasa gelisah saat menunggu Jeongguk menjemputnya di balai rumahnya yang terdekat dengan pintu keluar. Ayah dan ibunya hari ini pergi ke rumah keluarga mereka di Denpasar, hanya ada dia dan Lakshmi di rumah. Tuniang juga di rumah, selalu di rumah namun Taehyung selalu menganggapnya tidak pernah ada. Jauh lebih mudah untuk mereka berdua karena mereka selalu berakhir bertengkar tiap kali bertemu—Tuniang yang tidak pernah paham bahwa cucunya sudah dewasa dan tidak perlu dicekoki nasihat serta Taehyung yang tidak mau mendengarkan.

Taehyung melirik jam tangannya, memikirkan apakah lalu lintas ke Klungkung ramai karena Jeongguk tiba lebih lama dari biasanya. Dia tadi sudah menghubungi rekan mereka di lodge langganan mereka—memesan satu kamar untuk hari ini, early check in. Taehyung ingin tempat yang lebih personal sehingga mereka bisa bicara dengan lebih leluasa.

Kemarin saat meneleponnya, Jimin menjelaskan pada Taehyung apa yang bisa dilakukannya jika mereka bicara sebagai sepasang kekasih. Jimin memintanya menjelaskan ketakutannya, jelaskan pada Jeongguk apa yang dirasakannya tentang Mirah dan bagaimana sebaiknya Jeongguk menghormati perasaan itu.

“Aku dulu setuju tentang pertunangan itu,” gumam Taehyung mentap cincin Tiffany mereka yang melingkar di jari manisnya; teringat hari pertunangan Jeongguk dua bulan lalu, betapa surealnya hari itu karena dia bahagia.

Dia memiliki Jeongguk, Mirah bisa berusaha namun hati Jeongguk miliknya. Teringat obrolan kecil mereka di meja makan, bagaimana Taehyung bisa bersikap begitu berbesar hati tentang acara itu. Dia tertawa, percaya diri, dan tenang; tidak sedikit pun merasa terancam oleh keberadaan Mirah.

Sejak kapan percaya dirinya terjun bebas ke lantai? Oh. Sejak mereka melakukan kencan ganda, sejak Taehyung menyaksikan sendiri betapa serasinya interaksi mereka berdua. Interaksi kecil mereka yang mengganggunya, sentuhan-sentuhan sopan Jeongguk pada Mirah dan bagaimana dia mengusap rambut Mirah hari itu di Tirta Gangga.

Taehyung menghela napas.

Dan kau berubah pikiran tentang pertunangan itu,” sahut Jimin dari seberang sana dengan tenang—Taehyung mendengar suara dengung obrolan lain di kejauhan serta debur air pantai, menyadari sahabatnya sedang menikmati waktunya dengan Yoongi di vila berlibur Yoongi yang berada di tepi pantai.

Taehyung tersengat rasa iri: ingin memiliki hidup sesederhana Jimin. Tidak memiliki keluarga dan nama yang mengikatnya, mencekiknya berusaha membunuhnya hidup-hidup. Dia pergi ke mana saja dia ingin, bercinta dengan siapa saja yang dia mau, menikmati hidupnya.

Itu normal. Manusia berubah, pendapat dan cara pandangmu berubah setelah mendapatkan lebih banyak bahan pertimbangan.”

Itulah mengapa kau harus membicarakannya pada Jeongguk, bahwa kau tidak menyukai interaksinya dengan Mirah. Lalu kalian bisa mendiskusikan apa yang sebaiknya dilakukan sehingga kedua belah pihak nyaman tentang—,” Jimin sejenak berhenti lalu mengerang dan mengatakan ke seseorang di sisinya dengan nada rendah, 'Yooms, tolong aku sedang menelepon. Nanti aku kembali.' sebelum kembali ke Taehyung.

Maaf,” gumamnya lalu melanjutkan sementara Taehyung menggeleng, tidak masalah. Dia yang meminta maaf karena mengganggu liburan Jimin. “Kedua belah pihak nyaman tentang hubungan. Kau berada dalam hubungan itu berdua, menyatukan dua kepala. Kalian harus berkomunikasi secara reguler.”

Manfaatkan kesempatan ini, oke?” Kata Jimin sebelum mengakhiri telepon mereka. “Kau layak bahagia dan mendapatkan apa yang kauinginkan dalam hidup, berhenti memikirkan orang lain; sekali saja. Pikirkan bahagiamu dan Jeongguk.”

Taehyung memainkan cincin Tiffany-nya dengan jemari, gelisah menatap ke kejauhan menunggu Jeongguk tiba di Puri-nya. Apa dan bagaimana caranya memulai pembicaraan? Apakah Jeongguk akan marah lagi jika dia membicarakan Mirah? Wajah Jeongguk yang merah padam, tatapannya yang menusuk, serta nada suaranya yang tinggi masih membayangi Taehyung—membuatnya gelisah semalaman, berbaring menatap langit-langit kamarnya nyalang.

Dia tidak nafsu makan, Lakshmi mengamankan nasi goreng dari Jeongguk dan menghangatkannya tadi pagi namun makanan itu terlanjur basi sehingga Lakshmi membuangnya. Sayang sekali padahal Taehyung suka makanan itu. Teringat amarah Jeongguk semalam, teringat semua kata-kata yang diteriakkannya pada Taehyung. Taehyung menunduk, apakah dia selama ini bersikap keras kepada Jeongguk?

Apakah dia selama ini bersikap... seperti ayahnya?

Dingin menjalar dari kakinya, naik ke jantungnya—meremasnya seperti tikaman belati es yang membuatnya sesak. Dia menatap tangannya yang terserang tremor kecil dan napasnya yang memberat; dia bersikap seperti ayahnya? Dia merusak Jeongguk? Sebagaimana ayahnya merusak Taehyung?

Dia ketakutan. Rasa dingin meleleh di sepanjang tulang punggungnya, membuatnya bergidik oleh rasa ngeri yang mencekam. Sepanjang hidupnya, dia membenci ayahnya—mengutuknya karena menghadirkan Taehyung ke dunia ini, mengutuknya karena melimpahkan hukuman atas sikap tidak bertanggung jawabnya pada posisi sosial Lakshmi sebagai seorang Astra, karena menjadikan Taehyung manusia rusak, mendominasi hidupnya, dan tidak pernah memberikan figur ayah yang dibutuhkannya hingga Taehyung terpaksa dewasa sebelum waktunya demi memberikan figur kepala keluarga demi kakak dan ibunya.

Dan sekarang, dia berubah menjadi monster seperti ayahnya. Sejak kapan?

Kakinya dingin sekali hingga dia menggigil karena ketakutan yang bergumul di dasar perutnya, seperti sedang berendam di dalam ember raksasa terisi air dingin dan es batu. Napas Taehyung memburu; berdesing dari hidungnya yang pedih, mendenging di telinganya.

Dia adalah monster seperti ayahnya.

Taehyung membuka mulutnya, bernapas dari sana karena hidungnya tidak mampu lagi menghirup napas. Otot diafragmanya bekerja menggantikan fungsi paru-parunya yang mengerut seperti cabai kering—tidak mampu mengembang untuk menjalankan fungsinya. Dia menyentuh dadanya, mulai merasa sesak. Dia merogoh tasnya, menemukan cadangan inhaler yang selalu ditaruhnya di sana untuk keadaan genting dan menghirupnya—berusaha mempertahankan kepalanya tetap waras.

Dan dalam keadaan seperti itulah Jeongguk kemudian menemukannya. Dia bergegas menuruni Yaris-nya yang bahkan belum berhenti sempurna, berlari dengan kaki panjangnya ke arah Taehyung yang bersandar di saka balai rumahnya dan meraihnya—menahan diri agar tidak memeluknya.

“Wigung?” Tanyanya, mengguncang tubuh kekasihnya lembut sementara kepala Taehyung berdenging oleh peringatan: seberapa besar kerusakan yang sudah dilakukannya pada Jeongguk? Akankah Jeongguk memaafkannya?

“Wiktu?” Balas Taehyung pelan—dia udah kembali menjadi 'Wigung' sekarang? Bukan lagi 'Taehyung' dengan nada tajam seperti semalam? Dia mencengkeram bagian depan kerah kemeja Jeongguk hingga buku jemarinya memutih. “Aku memesan kamar,” katanya kering. “Agar leluasa.”

Kepalanya terasa melayang, dia seperti melepaskan diri dari tubuhnya dan menyaksikan dari luar tubuhnya ketika Jeongguk membantunya naik ke Yaris-nya yang masih menderum dan beraroma pekat seperti parfumnya. Melihat Jeongguk memasangkan sabuk pengaman untuknya sebelum berlari mengitari bagian depan mobilnya untuk memasuki sisi penumpang.

“Pejamkan saja matamu,” kata Jeongguk meremas tangannya—menyadari betapa dinginnya telapak tangan Taehyung. Taehyung mengerjap, berusaha melawan selaput jeli yang melingkupinya—suara Jeongguk terdengar mendengung dan pandangannya mengabur. Dia pusing sekali, lelah dan bingung. “Nanti akan kubangunkan jika kita tiba.”

Maka Taehyung memejamkan matanya, mendapatkan kenyamanan dalam kegelapan bagian dalam kelopak matanyanya sendiri sementara di kepalanya; ketakutannya diteriakkan keras-keras tentang bagaimana dia berubah menjadi monster. Dia monster—persis ayahnya. Dia gagal, beban orang lain.

Dia monster.

Taehyung bergidik, dia seorang monster.


Jeongguk duduk di hadapan Taehyung yang menatap kosong ke kejauhan, matanya tidak fokus ke titik mana pun.

Mereka tiba di lodge langganan mereka beberapa menit lalu, pemilik yang adalah teman mereka—dia seorang ally, langsung bergegas membantu Jeongguk memapah Taehyung ke dalam kamarnya dan mengambil kunci kamar mereka. Selama perjalanan, Taehyung diam dan tidak bicara. Matanya kosong. Karena itu, mereka terpaksa menuju ke kamar melewati lorong khusus karyawan dan pemilik berjanji akan membantu mereka check in nanti setelah Taehyung cukup baik untuk ditinggal.

“Sayang?” Bisik Jeongguk lembut, meraih tangannya dan meremasnya—merasakan betapa dinginnya tangan Taehyung lalu membawanya ke mulutnya, meniupkan kehangatan ke sana.

Dia sudah menanyakan ini ke Thia tadi dan beliau menjelaskan kondisi itu mungkin adalah disosiasi. Tidak terlalu yakin karena dia tidak menangani kasus Taehyung dan tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang latar belakang yang mungkin menyebabkan itu. Disosiasi adalah kondisi di mana penderita merasa 'lepas' dari tubuhnya sendiri, kehilangan kontrol atas indra-indranya. Biasanya karena kegagalan penderita untuk bangkit dari kondisi trauma hebat dan gejala awal munculnya gangguan penyakit klinis lainnya seperti BPD, OCD, dan PTSD*.

Ajak bicara perlahan, temani hingga dia kembali,” kata Thia dan Jeongguk menahan napas; apa yang dipikirkan Taehyung sebelum dia tiba? Karena dia nampak sepucat seprai saat Jeongguk menemukannya. “Dia pasti kembali.”

Jeongguk melirik jam dinding, sudah dua puluh menit dan dia mulai terserang kecemasan. Di sudut kamar, tas mereka diletakkan oleh Bell Boy setelah Valet membantu mereka memarkirkan mobil Jeongguk. Mereka akan berangkat bekerja dari hotel. Haruskah dia melakukan sesuatu sekarang? Dia harus memanggil dokter? Membawa Taehyung ke rumah sakit? Apakah dia akan baik-baik saja jika Jeongguk membawanya pergi? Berapa lama biasanya orang terdisosiasi?

Jeongguk tidak tahu. Dia ingin menjerit frustrasi, dia ingin mengguncangkan Taehyung dengn keras—bahkan menamparnya. Apa saja agar dia kembali. Tepat ketika dia berdiri, hendak memanggil seseorang untuk membantu Jeongguk membawa Taehyung ke rumah sakit, Taehyung mengerjap dan menatapnya—dia kembali. Nampak linglung dan kebingungan.

Jantung Jeongguk mencelos.

“Hei?” Sapanya ke Jeongguk yang setengah berdiri di hadapannya. “Hei?” Ulangnya dan kemudian terkesiap saat Jeongguk merengkuhnya ke dalam pelukannya—membelitnya dengan kedua lengannya yang kuat hingga dia mengeluarkan suara seperti seekor binatang yang tercekik.

“Kau tidak akan memahami,” geram Jeongguk merasa lega luar biasa ketika kekasihnya akhirnya kembali menatapnya—matanya kembali fokus dan ada warna yang terbit di wajahnya. “Betapa leganya aku.” Dia membenamkan wajahnya di rambut Taehyung yang beraroma pekat bantal tidurnya—aroma keringat Taehyung.

“Aku melamun,” gumam Taehyung dalam pelukan Jeongguk. “Maaf.”

Alis Jeongguk mengerut, “Melamun?” Tanyanya, mendorong lembut tubuh Taehyung menjauhinya untuk menatap wajahnya. “Sayang, kau melakukannya lebih dari dua puluh menit. Apa yang kaupikirkan?” Bisiknya, kental oleh rasa cemas sebelum kembali memeluknya. “Jangan pergi dariku lagi.” Tambahnya, merasakan ketakutannya sendiri merayap—bagaimana jika Taehyung tidak kembali padanya tadi?

“Aku...,” bisik Taehyung, terdengar gelisah dan tidak nyaman. Dia meremas pakaian Jeongguk, mengeratkan pelukannya dan gemetar dalam pelukan Jeongguk. “Aku memikirkan...” Dia berhenti lagi, berusaha keras membuat dirinya bicara.

Jeongguk mengusap tubuhnya, membelainya dengan telapak tangannya yang hangat—membuat Taehyung nyaman. “Ya?” Bisiknya lalu memutuskan untuk sejenak mengalihkan isi kepala Taehyung, takut dia kembali tenggelam dalam traumanya. “Apakah kau mau makan dulu sebelum kita bicara? Akan kupesankan makanan dan bir.”

Taehyung menghela napas, nampak senang mendengarnya. “Ya,” bisiknya lega. “Ya, boleh kita makan dulu?”

Jeongguk mengangguk, mengecup puncak kepalanya dalam—menghirup aroma Taehyung sebelum menghubungi restoran untuk memesan in room dining. Seraya menunggunya, dia membantu Taehyung mengganti bajunya—Jeongguk tidak tahan untuk tidak menyentuhnya, memastikan Taehyung tidak tenggelam lagi dalam keadaan disosiasinya tadi. Dia terus mengajaknya bicara, menanyakan hal-hal remeh dan mendesak Taehyung bicara. Jeongguk sungguh tidak sudi berada dalam ketakutan itu lagi.

Makanan mereka tiba, Jeongguk mengajak Taehyung makan di ruang tamu—mengajaknya mengobrol selama makan, tidak mengizinkannya diam sedikit pun. Mereka lalu berendam bersama, Taehyung duduk di pangkuannya di dalam bathtub, Jeongguk mendengarkannya bercerita sambil memeluk pinggangnya dan menciumi bahunya yang telanjang. Mereka berciuman, saling mengecup satu sama lain dan memeluk dengan hangat dalam air berbusa lembut yang membelai kulit mereka.

“Dengar,” bisik Jeongguk lembut pada Taehyung yang duduk di atas pangkuannya, menatapnya dengan rambut basah yang mengikal. Kedua tangannya berada di kanan kiri Jeongguk sebagai tumpuan, tubuh mereka bertemu di bawah air. Jeongguk menyekanya dengan jemarinya yang basah. “Kita tidak akan putus, kau dengar aku?” Bisiknya parau, menangkup wajah Taehyung dengan kedua telapak tangannya.

“Kita akan bekerja sama untuk memperkuat hubungan ini,” Jeongguk mengusap bibir bawah Taehyung dengan ibu jarinya—merasakan deru napas Taehyung di kulitnya dan merasa bergairah. Namun dia harus menyelesaikan ini sebelum bercinta. Cukup sudah kebiasaan mereka yang selalu mengalihkan perhatian dengan bercinta.

“Maka aku butuh bantuanmu,” tambahnya lalu mendesah saat Taehyung menjulurkan lidah dan menjilat ibu jarinya. “Dengarkan aku dulu, Anak Nakal.” Gumamnya sayang dan Taehyung meringis, maka Jeongguk menghadiahinya kecupan di sudut bibirnya.

“Aku butuh bantuanmu untuk mendengarkanku dan memberi tahuku segala perasaanmu selama bersamaku, oke? Kita akan melakukan evaluasi seperti bagaimana kita melakukannya dengan tim kita setelah servis panjang.” Jeongguk menyisir rambut basah Taehyung dengan jemarinya—berdebar karena inilah pertama kalinya dia menyetir sebuah pembicaraan dengan Taehyung. Mengambil alih kendali hubungan dari Taehyung.

“Berkomunikasilah,” begitu kata Thia kemarin. “Anggap saja kalian sedang mengevaluasi hasil kerja kalian. Seperti di dapur; apa masalah yang dihadapi rekan kerja kalian sehingga pekerjaannya menurun? Apa yang bisa kalian lakukan untuk menaggulanginya? Hubungan sama halnya seperti kerja tim: kalian harus saling memberikan umpan balik tentang satu sama lain. Beri tahu dia bagaimana perasaanmu selama bersamanya, lalu cari tahu apa yang kalian bisa lakukan untuk memperbaikinya.”

Maka itulah yang coba dilakukan Jeongguk, menggunakan kepemimpinannya dalam dapur untuk menanggulangi hubungannya yang retak dalam genggamannya. Dia memikirkan kasus tersulit dalam karirnya: mencoba memposisikan Taehyung sebagai sous chef-nya untuk mendiskusikan langkah pemulihan apa yang bisa mereka lakukan demi tamu yang puas.

Ini pertama kalinya Jeongguk mengambil alih pembicaraan selain di dapur dan ketika di banjar sebagai wakil kelian adat. Khususnya di depan orang yang dicintainya. Dia takut Taehyung akan marah padanya, namun kata-kata Thia tentang melepaskan hubungan membuatnya berani: dia harus mencoba menyelesaikan masalah internal hubungan mereka. Mencoba membantu Taehyung, berharap mungkin kekasihnya juga akan berubah pikiran tentang menghubungi psikolog.

“Bisakah kau membantuku?” Tanyanya pada Taehyung.

Taehyung menatapnya, mengerjap. Membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu dengan alis berkerut, nampak akan memprotes kata-kata Jeongguk namun sesuatu menghentikannya. Darah surut dari wajahnya saat dia mengangguk, sedikit panik. Jeongguk secara naluriah menggenggamnya semakin erat saat menyadari perubahan drastis itu; apa yang dipikirkan kekasihnya?

“Ya, oke.” Katanya kemudian dan tubuhnya gemetar dalam pelukan Jeongguk.

Maka dia memeluknya, membaringkan Taehyung di dadanya sementara air bathtub bergolak saat Taehyung membaringkan tubuhnya di atas Jeongguk, bibirnya tenggelam di air namun dia tidak masalah. Kaki mereka saling membelit di dalam air, Jeongguk merasakan telapak kaki Taehyung yang dingin. Dia ketakutan, entah karena apa. Jeongguk teringat perubahan ekspresinya tadi dan takut dia akan kembali disosisasi.

“Kau ingin bercinta?” Bisiknya, mereka punya sedikit waktu untuk kemewahan sebelum membongkar hubungan mereka. Taehyung sudah setuju untuk bicara. Dan dia tidak ingin Taehyung memikirkan apa pun itu yang membuatnya pucat dan terdisosiasi.

Bercinta mungkin akan membuat mereka lebih rileks sebelum bicara dari hati ke hati. Dan kali ini, Jeongguk tidak akan membiarkan Taehyung meloloskan diri dari pembicaraan mereka. Pilihan putus tidak akan pernah masuk ke dalam kepala Jeongguk; mereka bisa memperbaiki ini.

Taehyung mengangkat wajahnya sedikit, “Bolehkah?” Tanyanya dan Jeongguk berdebar.

Taehyung selalu mengambil apa saja yang diinginkannya, mendominasi hubungan mereka selama ini. Jika dia ingin bercinta, maka dia akan bercinta. Memanipulasi Jeongguk hingga setuju dan bercinta. Sehingga ketika Taehyung menatapnya dengan tatapan ragu dan bertanya, 'boleh?' seperti anak kecil yang meminta izin untuk makan permen, Jeongguk merasakan ledakan rasa sayang yang membuatnya sesak.

Dia memeluk Taehyung, perubahan signifikan yang membuatnya kaget dan bingung. Apa yang terjadi pada Taehyung? Apakah amarahnya semalam memberikan efek yang diinginkannya? Tetapi seberapa parah efek itu menguasai Taehyung? Akankah itu merusaknya?

“Tentu saja.” Bisik Jeongguk, “Tentu saja boleh. Selalu boleh.” Dia mengusap rambut basah Taehyung lalu menyentuh dagunya—memintanya mendongak lalu menciumnya. “Oh, Sayang.”

Jeongguk mendesah panjang, menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Taehyung yang melenguh kecil—gemetar dalam sentuhannya. Tangan licin Taehyung meluncur ke tubuhnya, membelainya hingga Jeongguk menggeram. Pinggulnya bergerak di atas tubuh Jeongguk ditemani suara riak air yang bergolak merespons gerakan itu.

Dia terpaksa meninggalkan Taehyung menggigil di dalam bathtub untuk berlari ke tasnya mengambil lubrikan dan kondom. Air menetes dari tubuhnya ke lantai namun Jeongguk tidak terlalu memerhatikannya. Dia kembali ke Taehyung, hendak membiarkannya naik kembali ke atas tubuhnya—posisi yang selalu disukainya saat pemuda itu menggeleng.

“Aku...,” dia menatap Jeongguk dari balik bulu matanya yang basah dan Jeongguk bersumpah jantungnya berhenti karena Taehyung tidak berhenti bersikap manis dan menggemaskan hari ini; membuatnya senang namun juga waspada, dia harus tetap memerhatikan Taehyung agar tidak tenggelam dalam pikirannya sendiri lagi.

“Aku di bawah.” Bisiknya dan Jeongguk membeku, dengan satu kaki di dalam bathtub dan kaki lainnya di luar, menatap kekasihnya yang bersila di dalam air—busa sudah mulai menyusut lenyap, nyaris tidak bisa lagi menutupi tubuh Taehyung. “Aku ingin di bawah.”

Jeongguk menatapnya, mengerjap bingung. Ke mana semua sikap mendominasi Taehyung? “Maaf, Sayang,” katanya. “Apa?”

Taehyung mendongak lalu membaringkan dirinya di bathtub, mengusap semua busa dari permukaan air di atasnya hingga Jeongguk menatap tubuhnya dari balik permukaan air yang sedikit keruh. “Aku di bawah hari ini,” katanya lalu mengulurkan tangan dan menekuk lututnya, membuka kakinya hingga Jeongguk menarik napas tajam.

Karena Jeongguk masih berdiri di sana, dengan satu kaki di luar bathtub, Taehyung merona—warna merah cantik yang menyebar di atas pipinya yang membuat hati Jeongguk terasa di remas-remas. Apa yang terjadi pada kekasihnya? Apakah Jeongguk baru saja mengoreksinya dengan memarahinya atau malah semakin merusaknya?

“Kau... keberatan?” Tanya Taehyung, terdengar bingung dan malu—Jeongguk bergidik. Taehyung nampak seperti kali pertama mereka bercinta; malu-malu, tidak tahu apa yang diinginkannya sehingga Jeongguk harus membimbingnya perlahan dan hati-hati, memberi tahunya segala hal tentang tubuhnya sendiri.

Itu kali pertama dan terakhir mereka bercinta dengan gaya misionaris.

“Sayang,” katanya parau lalu bergegas merunduk ke dalam tubuh Taehyung—menempelkan tubuhnya yang menegang pada Taehyung yang seketika mendesah panjang bersama air yang beriak keras menerima Jeongguk. “Sayang, demi Tuhan,” dia mengecupi wajah Taehyung dan lehernya. “Kau membuatku dua kali lipat lebih bergairah.”

“Hmm?” Sahut Taehyung, menelan dengan sulit saat ciuman basah hangat Jeongguk meluncur di lehernya—dia tersengal dan merengek saat Jeongguk menggesekkan tubuh mereka, menempelkan tubuhnya dan tubuh Taehyung lalu memijatnya bersamaan. “Wiktu,” desahnya dengan kepala terdongak saat Jeongguk memanjakannya dengan tangannya.

Jeongguk tidak merekomendasikan bercinta di dalam air karena air menyulitkan lubrikan untuk bekerja. Maka dia meminta Taehyung menempelkan tangannya di dinding kamar mandi dan menungging saat mempersiapkannya. Jeongguk mengecupi punggungnya saat menyelipkan jemarinya ke tubuh Taehyung yang merengek di bawah sentuhannya. Jeongguk mengulum telinganya, menggerakkan jemarinya hingga Taehyung terengah.

Dia memastikan seks mereka lambat dan malas, membelai Taehyung semaksimal mungkin hingga dia orgasme dalam kemewahan. Jeongguk menyentuh semua tubuhnya, memastikan diri meninggalkan jejak sebanyak mungkin. Dia menyelipkan dua jemarinya dengan lembut, memastikan tubuh Taehyung cukup lentur untuknya.

Taehyung yang merona dengan rambut gondrong mengikal basah menempel di kening dan lehernya adalah pemandangan paling magis yang pernah dilihat Jeongguk—dia menyadarinya ketika dia menyelipkan diri masuk ke tubuh Taehyung dan mendengarnya mendesahkan nama Jeongguk penuh kenikmatan. Jeongguk mengecupi tengkuknya, satu tangannya memijat tubuh Taehyung yang menegang sementara dia menggerakkan pinggulnya lembut.

Kaki Taehyung gemetar dan melemah karena sensasinya sehingga Jeongguk membimbingnya ke kamar—air menetes karena mereka tidak repot mengeringkan diri. Dia akan membereskannya nanti. Taehyung berbaring di ranjang, menatapnya dengan tatapan malu-malu itu lagi hingga perut Jeongguk terasa ditonjok sebelum memangut bibirnya.

Kekasihnya mengeluarkan suara tangisan nikmat panjang yang membuat kuduknya meremang oleh rasa nikmat. Tidak peduli seberapa banyak gaya yang mereka pernah coba, misionaris tidak pernah gagal membuat Jeongguk pening oleh gairah. Kaki Taehyung dibelitkan ke lehernya saat Jeongguk bergerak seraya mendesahkan namanya berulang-ulang.

Dan untuk pertama kalinya, mereka orgasme bersama dan terasa begitu luar biasa. Kepuasan karena berhasil mengimbangi satu sama lain dalam seks, saling memberi dan menerima. Jeongguk mengecup kekasihnya yang merona di atas bantal dan tersenyum penuh kasih sayang.

“Terima kasih, Wigung.” Bisiknya, menumpukan keningnya di kening Taehyung yang memeluknya erat—jantung mereka berdebar dalam ritme yang sama. “Terima kasih banyak. Mari bekerja sama, tolong.”

Taehyung mengeratkan pelukannya, isakan meloloskan diri dari bibirnya hingga Jeongguk tersenyum kecil. Seks yang lambat, orgasme bersamaan, semuanya mungkin membuat Taehyung tersentuh hingga menangis. Dia mengusap rambut kekasihnya, menenangkannya.

Namun, Jeongguk sama sekali tidak menyangka kalimat yang diucapkan Taehyung kemudian:

“Maaf karena menjadi seorang monster.”


Glossarium:

  • Kelian adat: ketua RT adat Hindu, sama seperti dukuh di Jawa.

  • BPD : Borderline Personality Disorder, OCD : Obsessive, Compulsive Disorder, PTSD: Post-Traumatic Stress Disorder.


    Jangan melakukan self-diagnose, teman-teman! Stay safe x

tw // manipulation , trauma , passive behavior , session , insecurity , fear , anger , guilt-tripping , dissociation .


“Bagaimana jika... tidak bisa?”

Thia menatap Jeongguk, “Tidak bisa...?” Tanyanya lembut, nyaris terdengar seperti mempertanyakan kewarasan Jeongguk. “Gung, dia memanipulasimu, mengontrol emosimu, secara konstan membuatmu merasa bersalah atas dirimu sendiri, membuatmu mempertanyakan harga dirimu—”

“Dia satu-satunya orang yang saya butuhkan di dunia ini. Tidak,” Jeongguk menggeleng, gemetar. “Tidak ada yang lain lagi.” Dia lalu menmbahkan dengan sedikit panik. “Ada waktu ketika dia benar-benar baik dan manis, dewasa dan menenangkan. Dia tidak bersikap...” Jeongguk menelan ludah, melirik ke sekitar lagi sebelum menambahkan. “Begitu sepanjang waktu, hanya ketika dia marah.”

“Jeongguk,” tegur Thia lembut. “Berhenti memberikan dia alasan, berhenti membenarkan sikapnya yang salah. Jangan memanipulasi dirimu sendiri.” Dia menatap Jeongguk yang tidak membalas tatapannya, menunduk menatap lantai setelah tadi bicara sebentar pada Jimin mengenai Taehyung yang sudah tahu kebohongannya.

Dia kembali merasa terjebak, kembali merasa kecil seolah seseorang sedang menjejalkan Jeongguk ke dalam kardus yang jauh lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Dipaksa dengan cara yang tidak manusiawi hingga Jeongguk tersengal—terserang rasa takut dan gelisah yang tidak disukainya. Bagaimana jika Taehyung marah?

“Jeongguk, tarik napas. Tenang, dia tidak ada di sini. Dia tidak bisa mendengarmu.” Bisik Thia lembut, mencondongkan tubuhnya seolah ikut merasakan ketakutan Jeongguk namun tetap menjaga batasnya sebagai konselor. Jeongguk menghargai itu karena dia tidak suka disentuh.

Jeongguk memejamkan matanya, menghela napas dalam-dalam—mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kacau balau. Dia menyentuh dadanya, merasakan debarannya yang kuat dengan gelisah. Sejak kapan dia sangat ketakutan pada Taehyung? Bukankah dia mencintai Taehyung? Taehyung juga mencintainya, kenapa mereka bisa saling menyakiti?

“Kau memberi terlalu banyak, dia menerima terlalu banyak.” Kata Thia lembut. “Hubungan apa pun itu—entah keluarga, pertemanan, percintaan itu sebaiknya saling. Seimbang. Saling memberi, saling menerima. Sebaiknya tidak ada yang lebih: lebih mencintai, lebih dicintai.

“Dari kasusmu ini, dan bagaimana sikapmu tentang itu,” Thia menghela napas dan menatap Jeongguk. “Kau lebih baik meninggalkannya saja, melangkah pergi dari hubungan itu. Hormati dirimu sendiri, Jeongguk. Jangan terus berada di dalam hubungan yang mencekikmu.”

“Bagaimana...” Bisik Jeongguk, menggenggam tangannya dengan gelisah. “Bagaimana jika aku.... Berusaha membicarakan ini dengannya? Manusia bisa berubah, 'kan? Bagaimana jika aku... menolongnya berubah?”

Thia menatapnya, sejenak kaget namun bergegas mengendalikan ekspresinya. Dia menatap Jeongguk lekat-lekat, nampak cemas. “Gung,” panggilnya lembut. “Bahkan profesional seperti saya, tidak berani menolong siapa pun berubah jika memang dia tidak ingin berubah.”

“Mbak,” sahut Jeongguk. Untuk yang kali ini, dia keras kepala. Bagaimana bisa dia meminta Jeongguk meninggalkan Taehyung begitu saja ketika Jeongguk satu-satunya pelampung penyelamat Taehyung di tengah lautan dingin yang hendak melahap mereka hidup-hidup?

Tidak, Jeongguk tidak sudi. “Tidak.” Katanya, tegas.

Thia menatapnya, sejenak diam—memikirkan solusi apa yang sebaiknya diberikannya pada Jeongguk yang tidak mau melangkah pergi dari hubungan yang selama ini merusaknya. Hubungan yang membuatnya pasif dan tidak berdaya, melepaskan diri dari lelaki yang memanipulasi emosinya dan menyakitinya secara konstan. Lelaki yang ditoleransinya, diterima sikapnya, dibenarkan.

“Baiklah,” bisik Thia kemudian—tidak yakin bagaimana, namun dia bisa mencoba sesuatu. Walaupun ini berarti dia mengambil risiko membiarkan kliennya terpapar kepada seuatu yang merusaknya terus.

Dia menatap Jeongguk, untuk pertama kali nampak tegas dan serius tentang pilihannya. Sayangnya, dia yakin dan tegas pada pilihan yang keliru. Apakah dia yakin dia bisa melakukan itu? Namun dari sorot matanya, nampaknya Thia tidak bisa mengatakan atau melakukan apa pun untuk mengubah pendapatnya.

“Jika begitu, kau bisa mencoba...”


“Tugung, ada Turah.”

Taehyung menoleh, dia berdiri di depan pintu kamar mandi sedang mengeringkan rambutnya dengan celana pendek menggantung rendah di pinggulnya, bertelanjang dada saat Lakshmi mengetuk pintunya, berbisik dengan terburu-buru. Jika Jeongguk datang, mereka harus bergegas menyelundupkannya ke kamar Taehyung sebelum orang Puri melihatnya. Sebenarnya jika dia melangkah biasa saja pun tidak akan ada yang peduli, namun Taehyung sedang tidak ingin meladeni ayahnya.

Sudah beberapa hari ini mereka berhasil tidak bersinggungan, hanya sekadar bertemu mata. Taehyung mengangguk kemudian pergi dari hadapan ayahnya. Dia tidak pernah bertemu dengan Devy setelah kejadian pemukulan kemarin, bahkan tidak saling mengirim pesan karena pesan terakhir yang dia kirimkan ke Devy diketik oleh Jeongguk yang tidak terima. Setelahnya, mereka tidak saling kontak sama sekali.

Taehyung sudah berjanji pada Jeongguk, dia tahu. Namun dia benar-benar belum bisa membawa dirinya sendiri bersikap biasa saja pada Devy setelah kejadian fatal kemarin. Dia bukan Jeongguk yang bisa menelan begitu saja sakit hatinya dan bersikap biasa saja pada semua orang. Taehyung merasa jika dia melihat Devy di hadapannya sekarang, dia bisa melakukan apa saja yang mungkin akan disesalinya. Bohong jika dia bilang dia tidak merindukan hubungan mereka yang baik-baik saja dulu—dia berisik, tapi setidaknya lumayan menghibur.

Dia terluka karena Devy ternyata tidak sebaik apa yang dipikirkannya, menyesal karena telah percaya padanya. Taehyung menghela napas, menyimpan masalah itu untuk dikhawatirkan nanti.

Taehyung bergegas menghampiri pintu, membuka selotnya dan menarik daun pintunya membuka. Melihat Jeongguk berdiri di depan pintu, tersenyum lembut dan hangat dengan Lakshmi yang sudah siap kabur. Maka dia bergegas menyingkir dari pintu, membiarkan Jeongguk memasuki ruangan sebelum Lakshmi bergegas pergi dengan nampan setelah berdoa; memberi tanda untuk memberi tahunya jika Jeongguk akan pulang. Taehyung mengunci pintunya kembali setelah mengangguk, berbalik melihat Jeongguk berdiri di tengah kamarnya.

Dia mengenakan kemeja biru muda dengan garis-garis putih berlengan pendek, dua kancing teratasnya terbuka dan dia membawa kantung plastik beraroma tajam bumbu. Taehyung mendesah, menyadari Jeongguk membelikannya nasi goreng kesukaannya. Dia melirik jendela yang tertutup karena dia mandi sebelum melangkah ke Jeongguk.

“Hai,” sapa pemuda itu lembut sebelum meletakkan kantung plastik di kasur dan membuka kedua lengannya. “Kemarilah.”

Taehyung membenamkan dirinya ke pelukan Jeongguk, menghirup aroma pengharum mobilnya yang sudah sangat dikenalnya. Dia mengaitkan jemarinya ke balik punggung Jeongguk yang menciumi lehernya. Dia marah dan terluka, yakin Jeongguk sedang membohonginya namun tidak tahu apa motif lelaki itu membohonginya. Namun dia juga merindukannya, membutuhkannya agar napasnya lega dan jantungnya berdebar dengan damai.

“Kau marah?” Tanya Jeongguk lembut. “Karena aku terlambat?”

Taehyung menghela napas, terganggu. “Apa yang dilakukan Yugyeom sekarang hingga kau terlambat?” Tanyanya, menggertakkan rahangnya—dia tahu Jeongguk akan berbohong, namun dia tetap memancing kebohongan itu.

Jeongguk diam sejenak, tubuhnya menegang. Itulah taktik yang selalu digunakan Taehyung tiap kali menentukan apakah Jeongguk berbohong atau tidak. Menyentuhnya saat bertanya, merasakan perubahan fisik dan organnya saat dia berbohong karena pemuda itu benar-benar pembohong yang payah. Taehyung merasakan debaran jantungnya yang mulai naik dan menghela napas, menyadari Jeongguk akan berbohong.

“Aku hari ini tidak pergi dengan Yugyeom.”

Taehyung membeku di pelukannya—tubuhnya mendadak dingin. Rasa itu menjalar dari kakinya, perlahan naik meringkus tubuhnya dengan perasaan takut yang melumpuhkan. Dia menahan napasnya, dia tidak pergi dengan Yugyeom? Jantungnya melonjak, menonjok rusuknya dengan begitu kuat hingga terasa nyeri. Asam lambung bergolak di dasar perutnya, merespons stres yang dirasakan otaknya ketika memikirkan dengan siapa Jeongguk mungkin menghabiskan hari itu.

Dia hendak mendorong Jeongguk, hendak menatapnya untuk memastikan siapa yang diajak Jeongguk saat pemuda itu meresponsnya dengan memeluknya semakin erat.

“Kau harus berjanji tidak akan marah padaku sebelum aku menjelaskan.” Bisik Jeongguk, mendekapnya begitu erat hingga tulang Taehyung nyeri—dia terjebak dalam pelukan Jeongguk.

Tubuhnya dingin sekali sekarang, rasa mual mulai bergulung naik. Tiap tarikan napasnya menyengat pangkal hidungnya dan paru-parunya mengerut berusaha bernapas. Tubuhnya bereaksi terhadap stres dengan cara yang sangat menggelisahkan.

“Mirah.” Bisik Taehyung, melepaskan satu-satunya sumber segala ketakutan dan kecemasannya. “Kau dengan Mirah.” Dia takut Jeongguk berubah pikiran tentang perjodohannya, takut Jeongguk ternyata merasa hubungannya dengan Taehyung adalah kesalahan, takut Jeongguk meninggalkannya.

Takut, takut. Takut.

Jeongguk terkesiap, dia mendorong Taehyung untuk menatap wajahnya dan gurat kaget di wajah Jeongguk membuat perasaan Taehyung sejenak lebih baik. Ekspresi Jeongguk mengatakan dengan jelas bahwa dugaan Taehyung salah. Paru-parunya kembali mengembang dengan perlahan.

“Tidak.” Katanya, nyaris marah dan Taehyung berjengit oleh nada itu. Kali pertama Jeongguk meninggikan nadanya pada Taehyung—dia terdengar frustrasi dan kecewa sekarang. “Kau memikirkan itu?” Tanyanya dengan suara pecah. “Kau berpikir selama ini aku pergi dengan Mirah? Padahal aku sudah memberi tahumu, bahkan meneleponmu menunjukkan padamu orang-orang yang kuajak keluar—kau tetap tidak memercayaiku?”

Jeongguk terdengar... marah.

Dan Taehyung terdiam. Jeongguk tidak pernah marah padanya, dia tidak pernah marah bahkan kepada siapa pun di hidupnya. Dan dia sekarang marah pada Taehyung; emosi itu nampak aneh di wajahnya, membuatnya terlihat seperti orang asing. Wajahnya memerah dengan cara yang Taehyung tidak sukai. Dia membuka mulutnya, hendak membela diri.

Bagaimana caranya dia percaya jika Jeongguk terus berbohong padanya? Menutupi kebohongan itu dengan kebohongan-kebohongan kecil yang terus menerus dicekokannya ke mulut Taehyung? Apakah dia berharap Taehyung akan menelannya begitu saja tanpa kecurigaan sama sekali? Memangnya Taehyung bayi?

Namun Jeongguk menyelanya, kali ini meledak.

“Kau selalu begitu.” Jeongguk menggeram dan Taehyung seketika bergidik kaget. “Kau selalu begitu padaku, tidak pernah memercayai apa pun yang kukatakan padamu. Tidak pernah menghargai emosiku, segala hal hanya tentangmu!” Dia mencengkeram pergelangan tangan Taehyung, menatapnya begitu tajam dan dipenuhi rasa amarah yang membuat Taehyung gelisah.

“Kau selalu ingin dipahami, diistimewakan, tapi apakah kau pernah berhenti untuk menanyakan perasaanku? Pernahkah kau menanyakan apa yang aku rasakan?? Memahamiku?? Tidak, kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri; penderitaanmu sendiri hingga kau tidak menyadari sekitarmu!

“Kau selalu memberikanku silent treatment, tidak menjelaskan apa pun tidak menerima penjelasan apa pun. Kau langsung memotongku, meninggalkanku. Kau selalu begitu, Taehyung. Kau selalu meninggalkanku, kapan saja kau ingin. Kapan saja aku membuatmu tersinggung sedikit saja. Egomu. Egomu selalu lebih besar dari akal sehatmu.

“Aku berusaha membuatmu bahagia!” Jeongguk gemetar semakin kuat sekarang, berusaha keras membuka mulutnya untuk bicara sementara cengkeramannya di pergelangan tangan Taehyung menguat—namun Taehyung terlalu terpana untuk merasakan sakit itu.

“Aku selalu berusaha membuatmu bahagia, Taehyung.” Dia menggeram rendah, geraman itu menjalar di kulit Taehyung—menyengatnya dengan perasaan tidak nyaman. Wajah Jeongguk ketika marah terlihat begitu asing dan aneh, Taehyung nyaris tidak mengenali siapa lelaki di hadapannya.

“Tapi kau tidak,” dia menggertakkan rahangnya, memejamkan matanya berusaha mengendalikan dirinya sendiri. “Kau tidak pernah,” dia gemetar seperti mesin rusak yang akan meledak—dia memejamkan matanya, menghela napas dengan suara berdenging keras.

“Kau tidak pernah menghargaiku.”

Taehyung menatapnya, kaget. Ini pertama kalinya Jeongguk marah dan padanya. Dia bahkan berhenti memanggil Taehyung 'Wigung'. Dia menyebutkan nama Taehyung dengan begitu banyak racun di dalamnya hingga kulit Taehyung mendesis meresponsnya—seperti asam yang dituang ke atas sana, membakarnya hingga ke belulangnya. Ngilu.

“Ketika aku melakukan segalanya untuk membahagiakanmu, memperjuangkan hubungan kita, mencoba semua cara demi membuat hubungan ini berhasil dan kau hanya memikirkan apakah aku berselingkuh darimu?” Tanyanya, terdengar begitu kecewa hingga kesedihan menikam jantung Taehyung.

Dia tidak mau mengecewakan Jeongguk, dia tidak akan bisa menangguhkannya jika dia melihat tatapan kecewa yang sama seperti yang ada di mata ayahnya, kini berada di mata Jeongguk. Dia tidak akan bisa menanggungnya, dia tidak akan pernah....

“Serendah itukah cintaku di matamu?” Bisik Jeongguk sekarang—luka, kecewa, amarah dan semua emosinya larut di dalam suaranya. Terasa pahit dan menyengat seperti vodka. Seperti perasan lemon di atas luka yang basah, berdenyut mengerikan. “Serendah itukah aku di hadapanmu hingga kau selalu berpikir aku akan berselingkuh dan kabur begitu saja ketika hubungan kita terasa sulit? Ketika kau terasa sulit?”

“Apakah kau takut aku melakukannya?” Jeongguk menatapnya—langsung ke matanya. Dan ini kali pertama Taehyung menatap mata itu, tidak menemukan keteduhan serta kedamaian yang selalu dirasakannya.

Jeongguk murka.

Taehyung tidak menyukainya. Dia terbiasa pada amarah; ayahnya sudah mengajarinya banyak tentang emosi itu. Bahkan dengan banyak sekali pertunjukkan bagaimana amarah bisa membuat tangan dan kakinya begitu ringan. Namun amarah di wajah Jeongguk adalah hal baru yang belum pernah dilihat Taehyung. Wajahnya merah padam, menjalar hingga lehernya dengan tatapan menusuk yang membuat Taehyung merasa kecil. Tidak ada manusia di dunia ini yang pernah melihat Jeongguk marah.

Dia bahkan tidak pernah marah di dapur, menegur keras pasti. Tapi marah-marah, membanting barang-barang adalah tugas Taehyung. Jeongguk selalu dikenal sebagai chef bertangan dan kepala dingin; dia tenang, teratur, dan segala yang disentuhnya berbuah. Sangat berlawanan karakternya dengan Taehyung yang selalu mengandalkan amarahnya di atas logikanya. Maka ketika Jeongguk kemudian marah, Taehyung takut.

Dan dia belum pernah setakut ini sejak dia kecil, dimarahi ayahnya untuk pertama kalinya. Belum pernah setakut ini sejak dia memikirkan potensi Jeongguk mungkin meninggalkannya. Sekarang, dengan amarah mentah Jeongguk melingkupi oksigennya dan membuat paru-parunya mengerut oleh udara yang beracun, Taehyung yakin 'meninggalkannya' bukan lagi ketakutan.

Jeongguk akan meninggalkannya sekarang.

“Karena itulah yang selama ini kaulakukan padaku? Kau selalu kabur, memilih melepaskanku ketika hubungan kita menjadi sulit. Kau selalu pergi dariku, melepaskanku begitu saja detik kau memiliki kesempatan. Itukah kenapa kau takut aku melakukan hal yang sama?”

Pergelangan tangannya berdenyut dalam cengkeraman Jeongguk, mulai kesemutan karena aliran darahnya tertahan namun Taehyung nyaris tidak menyadarinya karena ketakutan di kepalanya. Ini pertama kalinya seseorang selain ayahnya menaikkan suaranya pada Taehyung—memarahinya, menegurnya dengan begitu keras.

Mereka sejenak terdiam dan Taehyung menyesal; dia seharusnya menelan begitu saja kebohongan Jeongguk tadi. Mereka pasti sedang makan bersama di ranjang sekarang, Taehyung dimanjakan dan dipeluk hingga lelap. Bukan ditegur dan dimarahi. Kepalanya sakit oleh penyesalan, dia salah langkah—dia seharusnya tidak menyebut nama Mirah tadi.

Bodoh, pikirnya pilu.

“Lucu,” dia mendenguskan tawa yang membuat Taehyung bergidik—perutnya mengejang, menahan rasa takut yang menjalari tubuhnya. “Lucu bagaimana kau takut disakiti dengan cara yang sama sebagaimana kau menyakitiku—bahkan berkali-kali. Pernahkah kau memikirkan itu, Taehyung? Pernahkah kau memikirkan posisiku? Karena sungguh, dalam hubungan ini tidak hanya kau yang menderita.”

Taehyung menahan napasnya, mengalihkan pandangannya dari tatapan Jeongguk yang menusuk. Dia membuka mulutnya, “Lalu,” katanya pelan dan Jeongguk diam, menunggu. “Jika kau merasa sangat suci dalam hubungan ini, pihak yang selalu tersakiti dan menderita,”

Tutup mulutmu! Seru Taehyung pada dirinya sendiri, namun mulutnya tidak berhenti. “Apakah kau kemudian tidak pernah melakukan sesuatu yang salah? Seperti berbohong padaku selama tiga minggu ini tentang di mana kau menghabiskan Sabtu-mu seharian?”

“Sungguh, Jeongguk,” balasnya, merasa sakit hati karena diteriaki seolah Jeongguk tidak pernah melakukan apa pun yang menyakitinya, seolah Jeongguk seorang... “Kau sendiri bukan seorang santa.”

“Kenapa kau selalu memberi tahuku kau sedang bersama Yugyeom padahal kau tidak sedang bersamanya?” Tanyanya lagi, tidak mengenali suaranya sendiri—seolah tubuhnya bergerak begitu saja diluar kehendaknya. Mulutnya bicara begitu saja di luar kendalinya. “Kenapa kau membohongiku? Dan sekarang datang padaku, meneriakiku tentang rasa percaya?”

Jeongguk menghela napas, memejamkan matanya dengan erat hingga keningnya berkerut. “Kau akan selalu membuat segalanya tentang dirimu, 'kan, Taehyung? Aku baru saja memberi tahumu perasaanku, memberi tahumu semua keluhanku dalam hubungan kita dan hal pertama yang kaukatakan adalah tentang dirimu.”

“Kau memang berbohong padaku,” sahut Taehyung pelan, tidak lagi paham dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Dia hanya kebingungan, merasa seolah dia menonton dirinya sendiri meneriaki Jeongguk sekarang; tidak merasakan dirinya, tidak mendengar suaranya sendiri.

Jeongguk melakukan sesuatu yang membuat Taehyung terkesiap kaget dan berjengit. Dia melepaskan tangan Taehyung, mengibaskannya dengan keras hingga Taehyung mengernyit dan melemparkan kepalannya ke udara kosong di hadapannya kuat-kuat, menekuk sikunya agar pukulannya tidak mengenai Taehyung seraya meneriakkan sesuatu tanpa suara—pembuluh darah di pelipisnya berdenyut.

“Ya Tuhan, Taehyung.” Jeongguk menghela napas tajam dan mengusap wajahnya. Dia melangkah menjauhi Taehyung, menenangkan dirinya sendiri yang tersengat perasaan frustrasi. “Ya Tuhan.” Keluhnya penuh amarah yang tidak bisa dilampiaskannya.

Tangan Taehyung jatuh ke sisi tubuhnya, berdenyut lega karena aliran darah kembali berjalan normal namun dia tidak merasakannya. Dia menatap Jeongguk yang bergerak-gerak di hadapannya, nampak berusaha keras mengontrol emosinya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya keras. Mereka bersidiam, tidak ada yang bersuara sama sekali kecuali suara binatang dan malam di luar sana. Taehyung mendengar suara napasnya sendiri yang berdenging di telinganya—membuatnya sedikit pusing.

“Aku konseling.” Kata Jeongguk kemudian tanpa menoleh, meletakkan satu tangannya di pinggang sementara tangan lainnya di rambutnya. Taehyung mengerjap, menatap punggungnya. “Aku bertemu psikolog secara reguler sudah selama tiga minggu karena aku membutuhkan bantuan dengan emosiku dan kelelahanku.”

Taehyung mengerjap, masih merasa seolah melayang dari tubuhnya dan tidak menjejak tanah. Suara Jeongguk terdengar jauh sekali darinya—seolah dia berada di dalam air. Pandangan matanya buram dan dia kebingungan karena tidak merasakan tubuhnya sendiri. Kepalanya berdenging, menyala dengan ketakutan bahwa Jeongguk akan meninggalkannya.

Dia mengerjap, “Dan kenapa...?” Kepalanya terasa ringan sekali sekarang, dia seperti balon yang melayang naik ke atas dan dia menyaksikan tubuhnya sendiri melayang—dia merasa mengulurkan tangan namun tangannya diam.

Jeongguk menoleh, menatapnya dan menghela napas. Dia nampak kecewa, marah, bingung, dan sedih. Taehyung tersengat rasa bersalah dan takut: dia yang membuat Jeongguk marah. “Aku butuh bantuan.”

Taehyung merasa mabuk dan kebingungan. Dia membuat Jeongguk marah. “Tidak bisakah 'ku membantumu?” Dia menatap Jeongguk, tubuhnya terasa seperti jeli. “Kau akan meninggalkanku?”

Jeongguk menghela napas, “Taehyung,” keluhnya. “Tidakkah kau mendengar semua kata-kataku tadi? Tidakkah kau mendengarkannya? Mengapa segalanya harus tentangmu?” Dia memijat pelipisnya, sebelum menghela napas keras.

“Kau tahu,” katanya kemudian dengan nada final yang membuat Taehyung bergidik ngeri. “Kau pikirkan apa yang kukatakan, tidak ada gunanya bicara sekarang. Kita bicara lagi besok. Aku tidak bisa berada di sekitarmu sekarang, aku sangat marah. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan menyakitimu dan akan kusesali nanti.”

Sesuatu jatuh di dalam diri Taehyung, pecah berhamburan seperti sebuah vas yang dibanting. Jantungnya sejenak berhenti berdetak, napasnya tercekat dan darah surut dari wajahnya. Jeongguk... pergi? Sekarang? Dia berusaha mengatakan sesuatu, namun tubuhnya tidak meresponsnya sama sekali. Dia melihat Jeongguk dari kejauhan, pandangannya kabur—apakah dia menangis?

Jeongguk mendekat ke arahnya, mengulurkan lengan kanannya dan merengkuhnya dengan separuh badannya. Dia mengecup kening Taehyung dan menghela napas berat sekali lagi. “Istirahatlah,” katanya dengan suara mendengung, rasanya seperti Taehyung sedang tenggelam di dalam air.

Jeongguk... pergi? Pergi darinya?

“Besok aku akan menjemputmu.” Dia mengusap punggung Taehyung lalu melepaskan pelukannya dan melangkah keluar dari kamar Taehyung.

Mereka... putus?

Dan semoga tidak dari hidup Taehyung juga.


ASTAFIRULO CAPE YA NGETIK SCENE MARAH HDEEH enjoy ehe x