Un café latte.
tags. foreigner jungkook, Parisian taehyung. Taehyung as Pierre. setting in Paris, French. stranger to love, kinda enemy to love(?). fluffy fluff. oneshot. french trans in english, italic berarti mereka bicara dlm bahasa prancis.
ps. aku masih sedih gegara Takuto, jadi biarkan aku menulis parisian taehyung pake rambut kriwil kriwil :(
1
“Kenapa saya hanya mendapatkan segelas susu hangat?! Saya memesan latte!”
Ruangan karyawan Starbucks yang berada beberapa kilometer dari Menara Eifel, di 66 Avenue de la Motte-Picquet, Paris sedang terisi tiga barista yang mendapatkan jatah istirahat makan siang setelah sejak pagi berjaga dan menyiapkan store untuk menyambut tamu. Membereskan cafe area, membuat biang cokelat untuk Signature Chocolate, membuat saus Dolce, mengecek ketersediaan saus-saus yang lainnya serta whip cream, mengecek bubuk matcha, mengisi mesin kopi dengan biji-biji baru, membersihkannya dan membuka pintu store. Mereka sekarang digantikan oleh teman-teman mereka yang bekerja middle shift pukul sebelas siang.
Kelebihan dan kekurangan bekerja di Starbucks yang berada dekat dengan pusat keramaian wisatawan adalah store mereka ramai. Selalu ramai karena paling dekat dengan ikon Paris yang berdiri megah di kejauhan, ujungnya yang runcing nampak dari jendela-jendela mereka. Namun itu juga berarti akan ada banyak turis-turis aneh yang gemar mengomel.
“Karen” begitu mereka melabeli para turis mancanegara, khususnya perempuan paruh baya asal Amerika yang selalu menyamakan standar di seluruh dunia seolah negara mereka adalah kiblat kehidupan seluruh makhluk. Seperti apa yang teman barista mereka harus hadapi hari ini di balik mesin kasir.
Ketiga barista di dalam mendesah keras mendengar suara meninggi itu. Paham apa yang akan terjadi selanjutnya: skenario standar yang sudah mereka lalui berkali-kali sejak Starbucks ini berdiri.
“Pierre, bersiaplah,” kata seorang barista yang sedang bersandar di dekat rak terisi cup-cup kertas, sedotan dan bahan-bahan isi store lain dengan ponsel di tangannya. Dia mengenakan kemeja hitam berlengan panjang dan celana hitam, apron hijaunya dibuka dan dikaitkan di kapstok yang dipasang di balik pintu. Dia menatap temannya yang duduk di seberangnya, berwajah sepat seperti penderita wasir.
“Sebentar lagi mereka akan meminta store manager.”
Pierre, store manager mereka yang baru saja mendudukkan pantatnya di kursi dengan kantung terisi roti isi bekal makan siangnya, menghela napas. Dia menyugar rambut ikal sewarna jahenya dengan jemari. “Sungguh,” gerutunya. “Kenapa aku tidak bisa menikmati makan siangku?”
“Mereka yang bodoh dan kita yang harus menghadapinya,” kekeh barista lainnya yang berbaring di kursi panjang mereka dengan satu earbuds menyumpal telinganya—dia menguap lebar, menoleh ke Pierre yang menggerutu. “Sebentar lagi kau bisa pulang, Pierre, bersemangatlah sedikit.”
Pierre memutar bola matanya, meraih makanannya. Dia lapar sekali karena saat berangkat tadi, boulangerie langganannya yang berada di dekat apartemennya belum menyelesaikan croissant mereka sehingga Pierre harus berangkat tanpa sarapan. Dan sekarang dia sangat kelaparan, makan siangnya ada dalam genggamannya dan Karen memutuskan untuk bertingkah.
“Jika aku adalah dirimu, aku tidak akan makan.” Teman baristanya yang duduk di seberang Pierre, Cedric terkekeh sementara di luar sana suara riuh terdengar kembali. “Celui-là semble sérieux,” That one sounds serious. Dia mengedikkan dagunya ke pintu pembatas antara ruang istirahat karyawan dan store.
“Bertaruh, Kévin akan memanggil Pierre sebentar lagi.” Kata Andrién, barista yang berbaring di kursi panjang dengan mata terpejam. “I'd like to speak to the manager.” Dia mencibir, meniru logat Amerika yang biasa digunakan turis pada mereka dan Cedric terkekeh.
Seolah mendengar kata Andrién, di luar sana terdengar suara keras bernoda aksen keras Asia yang mereka tidak kenali mengatakan persis apa yang dikatakan Andrién:
“I'd like to talk to your manager!”
Kedua barista itu seketika meledak dalam tawa terhibur, menatap Pierre yang menghela napas panjang dengan pembuluh darah di keningnya berdenyut berusaha menahan amarahnya. Dia memesan latte, demi Tuhan! Tentu saja dia mendapat susu!
“Merde!” Ludah Pierre dan melempar roti isinya kembali ke kantung kertasnya dan berdiri. Dia menyambar apron hitamnya di kapstok, mengalungkannya ke lehernya persis saat pintu ruang karyawan terkuak dan Kévin menatapnya dengan wajah pasrah.
“Voilà, Pierre, c'est ton déjeuner.” Cedric melemparkan senyuman lebar yang membuat Pierre nyaris menyambarnya dengan lengannya lalu mencekiknya hingga mati. There you go, Pierre, your lunch. “Bon appetite!”
“Pierre,” panggil Kévin lemah, menyadari ekspresi keras Pierre dan makanan di atas mejanya. “Nous en avons un autre.” We have another one. Dia menghela napas panjang. “Maaf karena mengganggu makan siangmu.”
Pierre menghela napas, “Memangnya siapa yang butuh makan siang?” Gerutunya hingga Cedric terbahak lalu mengikat apron di pinggangnya yang langsing. “Kenapa dia?” Tanyanya saat menghampiri pintu, dia berhenti mendadak lalu menoleh ke kedua rekan kerjanya.
“Et, toi,” matanya memicing pada Cedric dan Andrién. “Ne touche pas à mon déjeuner. D'accord?” And you, don't touch my lunch. Alright?
“He-eh,” sahut Cedric memutar bola matanya. Melambaikan tangannya untuk mengusir Pierre yang mendelik. “Très bien, très bien! Sana urus Karen untuk kami, Sob.” Alright, alright!
Pierre mendorong pintu terbuka, langsung disambut aroma pekat kopi dan pengharum ruangan yang mereka gunakan. Matanya menyapukan pandangan ke seluruh penjuru store memastikan semua orang nyaman; beberapa orang duduk di kursi, menatap tablet atau ponsel mereka menikmati segelas kopi dengan cemilan di hadapan mereka. Beberapa lainnya merokok di area luar, menikmati langit Paris yang cerah dan panas mengobrol bersama teman-teman mereka. Ada wisatawan yang membentangkan peta Paris di meja, membaca buku panduan ke mana sebaiknya mereka melangkah setelah ini.
Di bar, timnya sedang mengerjakan minuman. Blender bergemuruh menghancurkan es batu untuk menghasilkan frappuccino dan seorang sedang menyendok es baru dari penyimpanan aluminium di bawah yang menjaga es mereka tetap dingin. Suara yang akrab sekali dengan telinga Pierre, dia menghabiskan waktunya di Starbucks sejak menamatkan kuliahnya: meniti karir hingga menjadi store manager yang ternyata tidak sekeren apa yang dipikirkannya.
“Dia memesan latte dan protes, seperti biasa.” Kévin berbisik ke telinga Pierre yang menemukan tamu mereka.
Pemuda yang tidak mungkin berusia lebih dari dua puluh delapan tahun. Dia mengenakan pakaian yang menarik dan santai. Rambutnya diikat menjadi ekor kuda mungil berantakan di atas tengkuknya, beberapa anak rambut meluruh di keningnya. Ada tindik yang berkilau di alis kanannya dan juga sleeve tattoo yang menutupi lengan kanannya. Wajahnya nampak keras—kombinasi aneh antara wajah sensual dan ekspresi polos anak-anak yang menggemaskan. Di atas meja bar ada gelas kertas Starbucks ukuran venti yang diletakkan seperti barang bukti sementara mata pemuda itu menatap Pierre dengan jengkel.
Dia terlihat seperti pemuda cerdas yang memiliki akal sehat, Pierre tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi bentuk wajahnya yang kencang dan tajam. Garis rahangnya yang sekarang kencang menahan amarah nampak bisa memotong sayuran atau bahkan daging. Dia menarik, mungkin lelaki pertama setelah sekian tahun yang membuat Pierre benar-benar memerhatikan.
Melihatnya membuat Pierre nyaris mendesah. Nampak keren bukanlah jaminan kau adalah orang cerdas, pikirnya getir saat bergegas menghampirinya. Namun tidak peduli seberapa jengkelnya Pierre, dia harus menghadapi tamu ini jika tidak mau atasannya mengetahuinya.
Pierre langsung memasang senyuman terbaiknya saat menghampiri tamu itu. “Bonjour, Monsieur. Je m'appelle Pierre.” Dia berdiri di hadapan tamu itu, menyugar rambut ikalnya yang terasa mencuat-cuat. “Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya dalam bahasa Inggris yang bernoda aksen Prancis, khususnya di huruf R-nya.
“Kau Store Manager-nya?” Tanya turis itu dengan mata memicing tidak suka—matanya gelap, khas Asia dan bulat berkilauan. Jika saja dia tidak bodoh karena tidak bisa membedakan latte dan café latte, Pierre mungkin akan mengajaknya kencan setelah ini.
“Ya, saya sendiri.” Dia mengulaskan senyuman terbaiknya. “Apakah ada yang bisa saya bantu mengenai minuman Anda, Monsieur...,” dia menunggu, gestur yang memberi kesempatan untuk tamu mereka memperkenalkan diri.
“Jeongguk.” Kata tamu itu dan saat mengatakannya, aksen Korea-nya terdengar begitu kental hingga Pierre sejenak ragu bagaimana cara menyebutkan nama itu dengan lidah Prancis-nya yang kaku.
“Jeonhuk,” ulangnya lalu meringis, dia sudah berusaha. Bukan salahnya jika dalam bahasa Prancis tidak ada kombinasi huruf seperti nama tamu mereka itu sehingga Pierre tidak bisa menyebutkannya.
“Jeongguk.”
Pierre menghela napas, serius, nih? “Jeonhuk.” Dia tersenyum, pembuluh darah di keningnya berdenyut menahan amarah.
Alis Jeongguk, tamu mereka mengerut semakin dalam. “Jeong-GUK.” Ulangnya lagi, sekarang terdengar tiga kali lipat lebih jengkel.
“Monsieur,” Pierre bergegas menyelanya. “Tanpa mengurangi rasa hormat, saya memohon maaf jika lidah Prancis saya tidak bisa menyebutkan nama Anda dengan sempurna.” Dia memasang senyuman terbaiknya. “Jadi, bisakah saya melakukan sesuatu untuk membuat minuman Anda lebih baik?”
Jeongguk memicingkan matanya, “Ya,” katanya, akhirnya menyerah pada usahanya membuat Pierre mengucapkan namanya dengan benar. “Saya memesan latte, Pierre.”
Pierre menghela napas. Pyèr. namanya dibaca pyèr dengan R berkumur yang indah, bukan pie-re. Dia ingin mengoreksinya, namun dia juga tidak ingin terlibat baku hantam dengan turis di tempat kerjanya dengan CCTV diarahkan kepadanya. Maka dia menelannya bulat-bulat.
“Dan saya mendapatkan susu hangat di gelas saya!” Dia mendorong gelas itu ke arah Pierre dengan jengkel—melemparkan tatapan menusuk ke Kévin yang berjengit. “Memangnya kalian tidak pernah diberikan training cara membuat minuman?!”
Pierre meraih gelas itu, merasa suhunya yang hangat lalu membuka tutupnya. Mendapati susu putih hangat mengisinya hingga penuh. Bagaimana caranya menjelaskan kepada turis ini sekarang bahwa dia sedang di Eropa? Jika dia ingin latte seperti apa yang diminumnya di Korea sana atau di Amerika, dia harus menyebutkan café latte.
“Monsieur, pardon.” Pierre tersenyum, berusaha menahan suaranya tetap halus dan profesional. “Jika Anda ingin memesan kopi dengan susu, Anda bisa memesan cappuccino atau café latte karena jika Anda menyebutkan latte, barista kami akan memberikan sesuai pesanan Anda. Latte, susu.”
Alis Jeongguk berkerut dan dia nampak tidak terima, Pierre mempersiapkan dirinya karena sebentar lagi dia pasti akan meneriaki Pierre. Tidak mau terlihat bodoh sendirian. Pierre mempertahankan senyumannya, berusaha keras agar tidak berekspresi di luar ekspresi steril profesionalnya. Dia sudah biasa mendapatkan Karen model ini: memesan latte dan berharap mendapatkan café latte.
Padahal apa sulitnya bertanya? Mengizinkan barista mencarikan minuman yang diinginkannya. Pasti gengsinya sebagai pendatang, merasa akan memberikan uang kepada penduduk lokal yang membuat mereka tidak ingin merendah untuk bertanya. Pierre menunggu, menatap Jeongguk yang sedang menyusun amarah di kepalanya.
“Ya, kalian seharusnya memberi tahuku!”
Tuh, 'kan.
Pierre menghela napas, mempertahankan ekspresinya. “Monsieur,” dia menatap Jeongguk langsung ke matanya dengan ramah. “Kami memohon maaf atas ketidak nyamanan Anda di store kami. Minuman Anda akan kami ganti, free of charge.” Dia kemudian menoleh ke Kévin yang mengangguk.
“Silakan menunggu sebentar.” Tandasnya, mengangguk pada Jeongguk lalu meraih gelasnya tadi membawanya ke balik bar. “Dia sudah meminumnya?” Tayanya pada Kévin yang menggeleng, di balik mesin kopi membuat espresso.
“Belum,” katanya. “Dia menerimanya lalu membuka tutupnya lalu protes. Sama sekali belum disentuh. Kau akan meminumnya?”
Pierre mengangguk, “Jika memang belum disentuh akan kumasukkan ke jatah free beverage-ku hari ini.” Dia menyisihkan gelas itu lalu meraih gelas baru dan Sharpie lalu bergegas menghampiri Jeongguk yang menunggu di bar dengan wajah jengkel.
Kenapa Pierre bekerja sebagai barista sehingga dia harus bertemu manusia-manusia ajaib begini setidaknya satu kali dalam sehari? Entahlah. Apakah dia harus mencari pekerjaan baru karena sungguh jika dia harus menghadapi Karen lagi, dia akan benar-benar kehabisan kesabaran. Dia lapar, dia jengkel, dan dia lelah.
“Anda memesan café latte,” katanya ramah lalu menuliskan di gelas kertas di tangannya. “Ada tambahan khusus?” Dia menatap Jeongguk ramah. “Ekstra shot? Decaf?”
Jeongguk menggeleng, “Café latte dengan sirup raspberry 2 pump.”
Alis Pierre mengerut sedetik sebelum dia bergegas mengubah ekspresinya. Turis dan selera minuman aneh merek benar-benar membuatnya bingung. Pierre mengangguk ramah, menuliskan: Jeonghuk lalu menambahkan di boks kecil di bawah tulisan 'Drink/Boire' kode CL untuk café latte dan huruf R, 2 pump untuk raspberry di boks 'Syrup/Sirop'.
Dia meletakkan gelas itu di sisi Julie yang hari itu bertugas di bar. “Dahulukan ini,” katanya pada gadis itu dan dia meraih gelasnya.
Julie membaca pesanan yang tertulis di gelas itu lalu berhenti, mendongak menatap Pierre. “Pierre, ils boivent vraiment ça?” Tanyanya dengan wajah berkerut tidak paham. They really drink this?
Pierre mengedikkan bahunya. “Vous dites.” You tell.
Julie menghela napas lalu mengisi gelas itu dengan dua pump sirup raspberry sebelum membungkuk membuka kabinet di bawah meja bar, mengeluarkan karton susu dan mengisi gelas venti yang diberikan Pierre dengan susu. Dia kemudian beranjak ke mesin kopi untuk men-steam susunya, dia menatap Pierre dengan wajah berkerut karena tidak menyukai apa yang dikerjakannya sementara mesin mendesis menghangatkan susu di gelasnya. Pierre mengedikkan bahunya dan Julie menghela napas.
Setelahnya dia menuang dua shot espresso yang baru saja jadi ke dalam gelas itu dan menutupnya. Julie menyerahkannya gelas itu pada Pierre yang menunggu. “Minuman anehnya sudah jadi.” Katanya.
Pierre merasakan suhunya dengan telapak tangannya lalu menghampiri Jeongguk yang duduk di sudut ruangan. Jika diam, dia nampak normal. Dia duduk dengan kaki tersilang di salah satu kursi store mereka, menunduk ke buku yang terbuka di tangannya. Pierre tidak menyangka dia memiliki hobi membaca dari sikap menyebalkannya. Dia menghampirinya lalu meletakkan minuman itu di meja Jeongguk.
“Monsieur, ini minumannya.” Dia tersenyum saat Jeongguk mendongak, menyeka anak rambut yang meluruh di depan wajahnya. “Ada yang bisa saya bantu lagi?”
Jeongguk meraih gelas minumannya. “Sebentar.” Katanya, lalu membuka tutup gelasnya untuk mengeceknya—dia menyesapnya sedikit dan menghela napas. Lega. “Benar.” Dia mengangguk lalu mengedikkan gelas itu pada Pierre yang tersenyum.
“Beginilah seharusnya kalian memberikan pelayanan.” Dia memicingkan matanya dan Pierre menghela napas, menahan amarahnya dengan sangat sempurna dengan senyuman lebar di bibirnya.
“Baiklah, Monsieur. Jika tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya pamit undur diri.” Dia mengangguk. “Jangan segan untuk menghubungi saya lagi jika ada yang tidak berkenan dengan pelayanan kami. Semoga hari Anda menyenangkan.”
Dan sebelum Jeongguk sempat menjawab, Pierre bergegas kembali ke ruang karyawan karena dia lapar. Dia mampir ke bar, meraih gelas susu yang tadi hendak dibuangnya dan mengerang—dia harus minum susu hangat dengan makan siangnya.
“Merci beaucoup, Pierre.” Bisik Kévin saat Pierre melewatinya di balik mesin kasir dan Pierre mengedikkan gelasnya.
“C'est ne pas problema.” No problem. Sahutnya kalem sebelum meluncur kembali ke ruang karyawan, ke roti isinya yang menunggu—melirik Jeongguk yang sekarang menyesap minumannya dengan buku di tangannya.
Siapa sangka Karen-nya hari ini nampak normal dan cerdas. Pierre bergidik, berharap dia tidak akan bertemu Jeongguk mana pun lagi hari ini saat mendorong pintu karyawan seraya menyesap minumannya.
“Blergh,” gerutunya menatap gelasnya dengan jengkel. Susu tanpa rasa apa pun membuatnya mual tapi lebih baik daripada membuangnya.
2
“I want two kroisang.”
Oh, merde.
Pierre berhenti di depan jejeran pastry yang baru matang di boulangerie kesukaannya, hanya beberapa blok dari apartemennya untuk membalaskan dendam karena dia tidak mendapatkan sarapannya. Alisnya berkerut, mencoba mengingat apakah dia memasuki boulangerie membawa kesialannya tadi di tempat kerja karena dia sepertinya mengenali aksen itu. Mungkin dia harus mencoba kepercayaan Asia itu? Melangkah dengan kaki apa terlebih dahulu untuk menghindari kesialan?
Dia melirik ke balik bahunya, namun posisinya tidak memberikan matanya akses ke kasir. Namun dari nada itu dan dari reaksi tubuhnya yang bergidik saat mendengarkan suaranya, juga aksennya, sepertinya Pierre tahu siapa yang bicara.
“Ah, bien sûr, Monsieur. Dua krwa-son.” Sahut Sylvie ramah dan sabar, gadis di balik kasir yang menerima pesanannya.
“Yes,” sahut suara itu lagi dengan nada ngotot menyebalkan yang sama dengan yang digunakannya ke Pierre pagi tadi. “That's what I was saying.”
Tidak bisa menahan dirinya, Pierre mendengus. Dia memang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri, 'kan? Bersikap menyebalkan ketika salah alih-alih mengucapkan maaf karena salah mengucapkan. Dasar turis, pikirnya jengkel.
Pierre bergegas meraih beberapa roti yang diinginkannya lalu menyingkir, tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Tangannya berhenti saat meraih pain au chocolat. Atau haruskah dia pergi saja menunda keinginannya makan pastry malam ini? Dia bisa memasak makanan instan di apartemennya. Pierre tidak berani menoleh, namun dia yakin sekali itu pasti Jeongguk yang sama dengan yang ditemuinya di Starbucks tadi.
Bisakah dia keluar dari sana tanpa ketahuan?
Pierre akhirnya meletakkan kembali roti-rotinya di rak, dia akan kembali malam nanti setelah mandi saja daripada harus berpapasan dengan Jeongguk. Dia berdeham, berusaha membuat dirinya begitu kecil (yang sulit dilakukan karena dia tinggi kurus, berambut ikal dan berkulit sewarna zaitun yang berarti dia selalu menarik perhatian) saat berusaha menyelipkan diri keluar dari boulangerie. Dia bergegas ke pintu, mengulurkan tangan hendak membuka pintunya.
Dia begitu dekat dengan kebebasan, bergabung ke trotoar yang ramai untuk pulang ke apartemennya—menjauh dari masalah bernama Jeongguk dengan aksen Korea-nya yang membuat Pierre ngeri. Belum lagi caranya mengucapkan nama 'Pierre'.
Namun sialnya, dia begitu sering pergi ke toko roti ini sehingga semua orang mengenalnya.
“Oh, c'est toi! Pierre, ça va bien?!” Oh, it's you! Pierre, everything's alright?!
Pierre membeku dengan tangan terjulur ke pintu, sedikit lagi dari kesempatannya kabur menjauh dari turis sinting itu. Dia mengumpat sebelum memasang wajah ceria dan menoleh, menemukan chef mereka menatapnya dengan senyuman lebar di bibirnya, melambaikan tangan. Dan hanya untuk menambah kengeriannya, dia melirik ke kasir dan menemukan Jeongguk sedang menatapnya.
Dia mengenakan pakaian yang berbeda, sekarang nampak lebih santai. Celana jins pudar dan kaus, benar-benar nampak seperti turis. Tato di lengannya ternyata menjalar hingga ke pangkal lengannya dengan pola rumit yang tidak bisa diuraikan Pierre dengan tatapannya—ada tato kerbau di lengan atasnya namun selebihnya Pierre tidak yakin. Apakah itu... bunga? Mata?
Masalah sebenarnya adalah apakah dia ingat Pierre adalah... Pierre?
“Ah, Dominique.” Katanya ramah, melirik Jeongguk yang meraih dompetnya—menghitung uang Euro-nya dengan hati-hati. “Je vais bien, merci.” Dia tersenyum.
“Tidak membeli apa pun?” Tanya Dominique, mengerutkan keningnya melihat tangan Pierre yang kosong karena biasanya dia membawa nampan penuh roti setiap mampir. “Tadi pagi kau juga tidak membeli apa pun. Kau tidak makan?”
Pierre meringis, bagaimana caranya memberi tahu Dominique tentang ini? Dia melirik Jeongguk yang masih nampak kesulitan dengan mata uang barunya dibantu Sylvie yang memiliki kesabaran sekelas biksu. Pierre membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu saat seseorang menyelanya.
“Get some, it's on me.”
Pierre menoleh, menemukan Jeongguk berdiri di kasir dengan dompet di tangannya balas menatapnya. Sekarang matanya berkilau dengan warna kecokelatan gelap, nampak lebih rileks daripada tadi ketika bertemu dengannya di Starbucks. Pierre mengerutkan alisnya, dia ingat siapa Pierre?
“No,” katanya dengan aksen Prancis-nya yang kental, membuatnya terdengar seolah sedang terkena demam tinggi dan pilek parah. “I'm fine, I cannot accept anything from stranger.” Dia menambahkan senyuman-ringisan favoritnya ketika menolak sesuatu agar tidak menyinggung perasaan orang.
Jeongguk mengedikkan bahunya, “Aku bukan orang asing, kau bertemu denganku tadi di Starbucks, ingat? Raspberry café latte?” Sahutnya dan perut Pierre mencelos—dia ingat. Sialan. “Tidak apa-apa, ambillah. Anggap saja permohonan maaf karena aku tidak sopan padamu tadi.”
Pierre berhenti. “Excusez-moi?”
Jeongguk menggaruk pelipisnya, ada banyak noda cat di tangannya—mata Pierre menangkapnya. “Yah,” dia masih cukup beradab untuk nampak malu sekarang. “Suasana hatiku buruk sekali tadi dan kurasa aku tidak sengaja melampiaskannya padamu dan teman-teman kerjamu.”
“Ah,” katanya kikuk. Aneh ketika Karen kemudian meminta maaf tentang sikapnya pada Pierre tadi karena dia terbiasa tidak mendapatkan pernyataan maaf dari tamu-tamu yang tidak sopan—mereka melangkah pergi begitu saja seolah Pierre atau teman-temannya layak mendapatkan itu hanya karena mereka 'pelayan'.
“Tidak masalah,” dia berdeham. “Aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan itu jadi sungguh,” dia tersenyum menenangkan pada Jeongguk. “Kau tidak perlu membelikanku apa-apa.”
Dominique terkekeh, “Allez, Pierre! Biarkan dia mencoba!” Dia menumpukan lengannya di atas etalase roti, mendapatkan tontonan menarik dengan senyuman lebar di bibirnya. “Itulah mengapa kau tidak punya pacar, mon garçon, kau selalu menolak mereka. Pria-pria malang itu.”
Pierre mendelik padanya. “Ce n'est pas ce que tu penses que c'est, Dom.” This is not what you think it is. Dan lelaki paruh baya itu tertawa—tawanya berat dan mengguncangkan seisi boulangerie-nya.
“Jika memang tidak seperti yang kupikirkan, kenapa tidak kau terima saja?” Sahut Dom, menggerakkan alisnya naik-turun untuk menggoda Pierre yang menghela napas panjang seraya menyisir rambut ikalnya dengan jemari.
Jeongguk menatapnya. “Jadi?” Tanyanya.
Pierre mendesah, “Baiklah.” Dia kembali ke dalam toko, setengah dirinya tidak merasa keberatan dengan makanan gratis. Apakah dia boleh membeli banyak-banyak untuk cadangan? “Hanya kali ini saja, oke?”
Jeongguk nampak senang. “Tentu, tentu.”
Pierre meraih beberapa roti kesukaannya dan menambahkan sebatang baguette ke dalam nampannya—dia selalu membeli roti keras itu. Dia akan memasaknya, mengolahnya menjadi makanan baru atau memakannya dengan mentega dan rosemary segar. Jeongguk sungguh membayar makanannya dan saat Pierre melirik dompetnya, dia nampak memiliki uang yang cukup untuk membiayai hidup Pierre selama tiga bulan.
Dia meringis. Haruskah dia memberi tahu lelaki itu bahwa dia sebaiknya tidak membawa uang tunai sebanyak itu? Karena apa pun kata mereka tentang Paris yang romantis dan mendayu-dayu, mereka punya pencopet profesional kelas dunia di sini. Mereka tidak segan menyakiti turis demi uang mereka.
Namun Pierre menghentikan dirinya—jika dia bersikap baik pada Jeongguk, mereka mungkin akan bertemu lagi setelah ini dan dia tidak ingin itu terjadi. Maka dia memalingkan wajah, mencoba mengabaikan tumpukan uang itu dan berhenti memikirkan bagaimana jika Jeongguk disudutkan di kegelapan dan dirampok.
Menilai kaki dan lengannya yang keras, Jeongguk pasti bisa meremukkan tengkorak mereka seperti memecahkan telur. Jadi, dia pasti aman.
... 'Kan?
3.
“Oh, Piere! Bonjour!”
Pierre mengerang keras. Mengenali suara itu dengan ngeri. Dia baru saja bangun beberapa menit lalu dan teringat dia belum menurunkan sampahnya ke bawah untuk dijemput petugas hari ini. Sehingga dengan panik dia bergegas menyambar kantung sampahnya yang penuh lalu menyeretnya turun. Dia masih mengenakan jubah piyamanya, rambutnya mencuat-cuat seperti sarang burung dengan wajah mengantuk yang lengket oleh keringat karena penyejuk ruangannya belum diperbaiki saat hidup memutuskan untuk melemparkan pie ke wajahnya.
Dia menoleh, menemukan Jeongguk tersenyum lebar padanya dari ujung lorong apartemennya. Alisnya berkerut—dia tinggal di sini??
Jeongguk nampak segar, mengenakan pakaian semi-formal yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Dia nampak berisi, bahunya bidang dan pahanya berotot namun dengan pinggang mungil yang akan membuat gadis Paris mana pun nampak menyedihkan. Rambutnya disisir rapi, diikat dengan kencang di atas tengkuknya dan dia melepas tindikannya.
“Ah, bonjour, Jeonhuk.” Sapanya mengangguk sopan. “Comment ça va?” How are you?
“Jeong-Guk.” Koreksinya keras kepala.
Mereka berdiri di lorong apartemen, terpisahkan jarak yang tidak terlalu nyaman untuk memulai obrolan namun toh Pierre melakukannya.
Hari Senin yang cerah dan Pierre akhirnya mendapatkan liburnya: tidak memiliki kegiatan khusus hari itu. Mungkin hanya akan berjalan-jalan meregangkan kakinya lalu membeli makan di bistro kesukaannya di ujung jalan. Makan sambil menonton serial Netflix kesukaannya dan tidur sebelum kembali bekerja besok. Dia harus menguji dua barista untuk mendapatkan apron Coffee Master besok, jadi dia harus fokus.
Kemudian dia malah bertemu turis berisik itu sekali lagi dengan sialnya.
Pierre menghela napas. Itu lagi?? “And it's pyèr, not pie-re.” Sahutnya dengan nada sama jengkelnya—peduli setan, dia tidak sedang bekerja dan Jeongguk bukan pelanggannya di Starbucks jadi dia bisa bersikap menyebalkan.
Jeongguk mengerjap. Alisnya naik sebelah dengan kebingungan. “Piyer?” Ulangnya ragu, lidah Asia-nya menyebut nama itu dengan R yang terdengar seperti L sehingga nama Pierre menjadi: “piyel”.
Pierre memicingkan matanya, “Pyèr.” Koreksinya, dalam hati geli karena berhasil membalaskan dendamnya.
“Pier.” Ulang Jeongguk, menurut hingga Pierre terpaksa harus mencubit pahanya sendiri agar tidak tertawa.
“Ck. Pyèr.”
“Kau mengerjaiku, ya?!”
Dan tawa meloloskan diri dari bibir Pierre. Menggema ke sepanjang lorong apartemennya yang sepi karena semua orang bekerja. Itu tawa pertama yang dirasakan Pierre setelah minggu yang panjang di tempat bekerja yang ramai karena musim liburan. Tawa yang singkat namun berhasil membuat perasaannya lebih baik.
“Jeong-GUK.” Balas pemuda itu dan Pierre kembali terkekeh.
“Baiklah, baiklah. Kita seimbang.” Dia tersenyum, merasa hatinya hangat karena memulai harinya dengan tawa dan gurauan dengan tetangga barunya—atau setidaknya begitu yang dipikirkannya. “Kau tinggal di sini?”
Tawanya tadi membuat Pierre rileks, sepertinya Jeongguk bukanlah pemuda yang buruk. Mungkin dia memang hanya sedang menyebalkan kemarin dan tidak sengaja melampiaskannya kepada Kévin. Sekarang ketika ada cahaya dan suasana hati Pierre bagus, dia nampak jauh lebih menarik dari apa yang dipikirkannya. Apalagi dengan pakaian semi-formal yang membuatnya terlihat rapi dan mengundag.
Pierre suka lelaki bersih dan rapi.
Jeongguk menoleh ke belakang lalu mengangguk. “Ya, begitulah.” Dia menatap pakaian Pierre. “Dan kau?”
Pierre menunjuk pintu kamarnya yang terkuak di sisi Jeongguk lalu menyentuh pakaiannya yang jelas memberi tahu Jeongguk bahwa dia tidak tinggal jauh dari sini kecuali dia sungguh depresi untuk berkeliaran dengan pakaian tidur. “Yep.” Dia tersenyum. “Kau nampak rapi, akan pergi ke acara penting?”
Jeongguk membuka mulutnya, lalu menutupnya perlahan—memikirkan sesuatu sementara Pierre berdiri di sana bersidekap dengan jubah tidurnya, menunggu. Dia mendongak, menatap Pierre lalu menggaruk pelipisnya. Gestur yang dilakukannya ketika gugup, Pierre menyadarinya. Maka dia menunggu apa yang kiranya Jeongguk akan katakan padanya.
Dia bergerak-gerak di tempatnya, nampak tidak nyaman dalam balutan pakaian semi-formalnya. Dia membuka kancing teratas kemejanya, berdeham gugup dan Pierre berdiri di sana—semakin bingung.
Jeongguk kemudian merogoh saku dalam jasnya dan menarik sebuah kartu. “Kau...,” dia mengulurkan benda itu ke Pierre yang berjarak sekitar lima meter darinya, tidak terlalu dekat untuk membaca isinya.
Alis Pierre berkerut, kartu itu berwarna perak kelabu. Sinar matahari memantul di atasnya, mengaburkan kata-kata di atasnya. “Et, qu'est-ce que c'est...?”
Jeongguk mengerjap, tidak memahami bahasa Prancis sama sekali namun Pierre yakin dari nada suaranya, Jeongguk tahu apa yang dibicarakannya. “Kau tertarik datang ke pameran seni?”
4
Pierre di sini.
Di pameran lukisan turis asing yang dikenalnya kurang dari 2x24 jam yang ternyata diselenggarakan di Galerie Thaddaeus Ropac yang terletak di pusat Le Marais.
Pierre menelan ludahnya, tidak menduga sama sekali bahwa hari liburnya yang semula akan dihabiskannya dengan menonton serial Netflix sambil mengunyah cemilan kemudian berubah menjadi acara semi-formal di salah satu galeri independen yang terkenal di Paris. Dia berdiri di sudut, berusaha membuat dirinya tidak nampak di antara jejeran orang-orang penikmat seni yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Jeongguk berdiri di tengah ruangan tinggi putih, berlangit-langit kaca galeri itu dengan seorang penerjemah di sisinya—sedang bicara dengan kurator galeri di depan karyanya. Pierre tidak terlalu memahami lukisan, namun dia suka berkunjung ke Louvre jika dia memiliki waktu luang.
Aliran Jeongguk bukan aliran yang digemarinya: abstrak. Lukisannya berupa lukisan-lukisan raksasa berukuran 2x1,75 meter yang digantung di dinding-dindng polos Thaddaeus Ropac dengan lampu sorot diarahkan ke permukaan kanvasnya. Ledakan warna di mana-mana, didominasi oleh warna merah dan oranye. Membuatnya nampak sangat mencolok dan menyala di atas warna putih.
Lebih banyak warna semakin Pierre melangkah ke dalam galeri, dia membaca booklet di tangannya yang ditulis dalam tiga bahasa: Inggris, Korea, dan Prancis. Pierre menemukan banyak hal tentang si Turis di sana: namanya Jeon Jeongguk (dan tidak, dia tidak berani menyebutkannya keras-keras), dia asli Korea dan perjalanan seninya membawanya ke Paris untuk pameran.
Ini bukan pameran pertamanya di luar Korea, namun pameran pertamanya di Paris. Ini menjelaskan jumlah uang tunai di dompet Jeongguk dan membuat Pierre sejenak malu karena telah berpikir yang tidak-tidak tentangnya. Pierre berhenti di sebuah lukisan dengan liuk warna merah tajam di atas warna kelabu; dipenuhi cipratan dan dia sama sekali tidak paham itu apa.
“Piyel.”
Pierre menahan senyumannya, lucu bagaimana panggilan itu mendadak terasa sangat akrab untuknya—entah sejak kapan. Dia menoleh, menemukan Jeongguk melangkah ke arahnya dengan dua kancing kemejanya terbuka—dia tersenyum pada Pierre. “Halo,” balasnya mengangguk.
“Kau menikmati acaranya? Tidak mengambil sampanye?” Jeongguk mengerling meja di sudut yang terisi cemilan serta gelas-gelas sampanye untuk para tamu undangan.
“Aku sedang berkeliling, melihat-lihat.” Katanya melambaikan booklet di tangannya. “Aku benar-benar kaget mengetahui fakta bahwa kau seorang seniman terkenal.”
Jeongguk meringis. “Tidak seterkenal itu,” dia mengedikkan bahunya, merendah. Dia menatap Pierre yang menaikkan sebelah alisnya untuk bertanya seraya menyelipkan tangannya ke saku. “Kau tidak tahu aku siapa.”
Pierre terkekeh. “Tentu saja tidak. Aku tidak...,” dia melambaikan tangan ke karya-karya raksasa Jeongguk. “Aku tidak menaruh perhatianku di hal-hal ini. Tentu saja aku tidak tahu.” Dia kemudian mengerling orang-orang di hall utama. “Tapi mereka tahu.”
Dia kemudian menatap Jeongguk, tersenyum lebar. “Maka sungguh, Jeonhuk, pendapatku sama sekali tidak valid.”
“Jeong-GUK.”
“Ouais, et c'est 'pyèr'.” Yes, and it's pyèr.
Mereka berdua bertukar senyuman lebar jenaka lalu kembali diam. Pierre menatap lukisan di hadapannya, melirik judulnya yang berarti 'gelombang' dan dengan alis berkerut berusaha menemukan gelombang yang dimaksud Jeongguk dalam karyanya hanya agar dia tidak dianggap tidak sopan. Mungkin garis merah itu? Pierre memiringkan kepalanya, gelombang lautan? Gelombang suara? Gelombang apa?
“Piyel?”
Pierre mengerjap lalu menoleh, menemukan Jeongguk menatapnya. Panggilan itu, aksen Korea Jeongguk tidak pernah gagal membuatnya tersenyum. “Oui?” Tanyanya, alisnya terangkat.
Jeongguk membalas tatapannya dengan diam, nampak kikuk dan malu. Lalu mengangkat tangannya—hendak menyentuh rambut Pierre yang seketika berjengit menajuhi sentuhannya. Lebih karena kaget dibanding tidak menyukainya. Jantungnya berdebar; aroma parfum Jeongguk tercium keras dari pergelangan tangannya.
Dia menelan ludah, kaget atas respons tubuhnya sendiri pada sentuhan Jeongguk, takut pemuda itu menganggapnya tidak sopan. “Pardon,” dia meringis. “Aku tidak terbiasa disentuh.”
Jeongguk membuka mulutnya, merona. “Oh, maaf.” Katanya kikuk, menarik tangannya dan menggaruk pelipisnya. “Aku ingin menyentuh rambutmu, kelihatan... lembut.” Dia berdeham. “Itu asli?”
Pierre menyentuh rambut ikalnya, merasakan teksturnya di tangannya—sejak dulu tidak terlalu menyukainya. Dia mendapatkan rambut ini dari ayahnya, dia pernah berusaha meluruskannya dan merapikannya. Membuatnya nampak seperti kucing basah kuyup, Cedric menghabiskan paginya untuk menertawai Pierre sehingga dia akhirnya membiarkannya begitu saja. Alami.
“Alami, genetik dari ayahku.” Katanya dan kemudian mendadak merasa berdebar. “Kau... ingin menyentuhnya?” Tanyanya ke Jeongguk yang mengerjap—seperti seekor golden retriever yang penasaran.
Pierre bukan lelaki melakolis, tidak pernah percaya pada jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia bahkan tidak terlalu memikirkan dengan siapa dia berkencan dan turis jelas bukan pilihannya: perbedaan budaya, hubungan jarak jauh, kendala bahasa. Pierre tidak ingin melakukannya, malas. Namun menatap Jeongguk yang berdiri di hadapannya dengan kemeja yang berusaha keras menutupi tubuhnya yang bidang dengan ekspresi penasaran menggemaskan membuat hatinya berdesir dengan cara yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.
Bisakah mereka...?
Tangan Jeongguk terangkat, dia menatap rambut Pierre. Semuanya bergerak lambat, Pierre mengamati tangan Jeongguk yang bergerak perlahan di udara lalu menyelipkan jemarinya ke rambut Pierre dan mengirimkan sentakan di jantungnya—dia menghela napas tajam dan memejamkan matanya saat jemari Jeongguk menyisir rambutnya.
“Oh,” katanya, terdengar geli. “Empuk dan lembut sekali.” Gumamnya, menyisiri rambut Pierre—memainkan per-per mungilnya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Senyuman geli bermain di bibirnya, memamerkan geliginya dan menerbitkan kerutan menggemaskan di pangkal hidungnya.
Pierre menahan napasnya, aroma parfum Jeongguk menguasai udara di sekitar hidungnya sementara tangannya menyisiri rambut ikal Pierre dengan lembut—memijat kulit kepalanya hingga leher Pierre terasa geli oleh sentuhannya.
Jeongguk menatapnya, senyumannya meleleh dan Pierre menahan napasnya—rahang Jeongguk begitu tajam, matanya gelap dan menarik. Rona samar di tulang pipinya karena dia tertawa dan minum sampanye; dia nampak... begitu tampan. Pierre sudah menyadarinya sejak pertama kali bertemu dengannya di tempatnya bekerja namun tidak sungguh-sungguh berhenti untuk mengamatinya.
Rahang Jeongguk bergerak lalu dia menjilat bibirnya.
Oh, merde.... pikir Pierre seketika saat melihat gerakan menjilat gugupnya yang perlahan, memikirkan bagaimana jika lidah itu bergerak di tubuhnya. Dia menelan ludah, menggeleng lembut untuk mengenyahkan pikiran itu.
“Piyel.” Bisik Jeongguk dan Pierre mendenguskan tawa lirih. Jeongguk mengerjap. “Apa yang lucu??” Protesnya tidak terima, mengerutkan alisnya sebal dan Pierre mendadak ingin mengusap kepalanya—menepuk-nepuknya sayang sementara Jeongguk berbaring di pangkuannya.
“Pyèr.”
Jeongguk mengerutkan alisnya jengkel. “Kupikir kita sudah melewati pertengkaran tentang penyebutan nama itu tadi!”
Pierre terkekeh, “Kau merusak namaku.” Keluhnya dan Jeongguk mendelik jengkel.
“Oh, ya?” Balasnya dan Pierre tertawa, suaranya menggema di ruangan galeri yang terbuka. “Kau sudah dengar bagaimana kau menyebut namaku? Jeonhuk??”
5
“Oh, merde!”
Pierre tersengal, sementara ciuman Jeongguk bergerak turun dari lehernya ke tubuhnya. Punggungnya melengkung merespons ciuman itu, tangannya menyelip ke rambut Jeongguk yang teurai dan menjambaknya saat ciuman yang menjalar di tubuhnya membuatnya gelisah oleh gairah.
Pierre tidak benar-benar menyadari namun ketika mereka keluar dari mobil yang mengantar mereka kembali dari Thaddaeus Ropac, dia menyentakkan Jeongguk ke dalam pelukannya lalu memangut bibirnya di depan lift apartemen. Jeongguk mengerang, berdeguk dan seketika membalasnya. Mereka memasuki lift yang kosong, berusaha untuk saling menelanjangi sementara tangan Jeongguk menyelip masuk ke pakaian Pierre, menyentuh sebanyak mungkin kulit zaitunnya.
Mereka ke kamar Pierre, yang terdekat. Jeongguk menggeram di kulitnya saat Pierre berusaha memasukkan kode masuk pintunya—tidak sabaran. Dan ketika pintu terbuka, dia menendangnya tertutup dan mengangkat Pierre, pemuda itu mereponsnya dengan mengalungkan kedua betisnya ke pinggang mungil Jeongguk yang kembali menciumnya.
Sekarang Pierre tergencet di kasurnya sendiri, lutut Jeongguk menekuk dan digesekkan ke selangkangannya. Dia mendesah panjang—kepalanya pening. Tidak ingat kapan terakhir kalinya dia benar-benar bercinta dan bukan hanya make out. Jeongguk membuat seluruh tubuhnya terasa terbakar. Dia membenamkan wajahnya di rambut Pierre, menghirup aromanya dan mendesah panjang.
“Aku membayangkan ini sepanjang hari,” gumam Jeongguk di kulitnya, menarik ciuman di sepanjang garis bahu Pierre saat pemuda itu membungkuk di hadapannya. “Membayangkan betapa lembut kulit dan rambutmu.” Dia mengecup tengkuk Pierre yang mengerang karena jemari Jeongguk memijat tubuhnya yang menebal dengan lembut
“Kau membayangkan bercinta denganku sepanjang hari?” Gumam Pierre tersengal saat Jeongguk bergerak di atasnya. “Tidak senonoh sekali!” Gerutunya dan bergidik.
Jeongguk mengerang ketika Pierre mengetatkan tubuhnya untuk menghukumnya. “Maafkan aku,” dia tersengal. “Aku sungguh tidak menyangka bahwa,” dia mengerang dan mendesah panjang. “Bahwa,” dia berusaha membuat dirinya sendiri bicara saat Pierre menggerakkan pinggulnya, menguasai permainan mereka.
“Fuck,” geramnya, kepalanya terlempar ke belakang—rambutnya membentuk air terjun saat Pierre menggoyangkan pinggulnya. “Manajer Starbucks yang kudatangi ternyata seindah dirimu.”
Pierre terkekeh, menarik dirinya sebelum berbalik ke Jeongguk yang mengerutkan wajahnya—memprotes permainan yang diberhentikan. Pierre mendorongnya berbaring ke kasurnya yang berderit menerima beban tubuh Jeongguk, dia meraih kondom baru dan menjepitnya dengan giginya. Tangannya menemukan lubrikan di atas ranjang, memijit botolnya hingga cairan bening membasahi tangannya lalu mengusapkan tujung telunjuknya di tubuh Jeongguk yang mengerut.
“Oh,” desahnya panjang, matanya terpejam. Dia meremas bahu Pierre, menancapkan kuku-kuku tumpulnya ke sana. “Pierre.” Pyèr.
Pierre berhenti, dengan jari berada di dalam tubuh Jeongguk yang hangat. “Oh?” Bisiknya takjub, kondom jatuh dari giginya. “Kau mengatakan namaku dengan benar?”
Jeongguk membuka matanya, menatap Pierre yang balas menatapnya lalu terkekeh geli. Dia mengedikkan bahunya, “Je parle français, tu vais.” I'm speaking French, you know.
Pierre berhenti, mulutnya terbuka. Dia bicara bahasa Prancis lalu kenapa dia.... Lalu dia mendengarkan kata-kata Dominique.... Dia... Kenapa? “Oh, putain!” Raungnya dan Jeongguk terbahak-bahak.
“Tu agis stupidement tout le temps, merde! Que crois tu faire?! Tu me rends fou! Putain!”
Jeongguk terbahak-bahak di ranjang, berguling menjauhi Pierre yang nyaris mencekiknya karena amarah. “Pierre, je suis désolé! It was fun tho!” I'm sorry!
“Va te faire foutre!” Pierre mendelik dan Jeongguk kembali tertawa, benar-benar terhibur karena telah mengerjai Pierre dengan logat Asia-nya yang tebal. “Tu m'as trompé!” You have me fooled!
“Sayang, ayo lanjutkan.” Dia menopang tubuh atasnya, bangkit setengah duduk untuk mengulurkan tangan ke tubuh Pierre yang menegang lalu memijatnya dan perhatian Pierre seketika teralihkan. “Kita punya pekerjaan serius di sini, kita urus yang ini nanti.”
“Ya, benar.” Geramnya penuh dendam lalu menyambar kembali kondomnya. Dia menegakkan tubuhnya, merobek bungkus kondom dengan giginya. Tatapannya tidak melepaskan diri dari Jeongguk yang tertawa. Dia memasang kondom di tubuhnya, menuang lubrikan dan mengolesnya sebelum menunduk—menaungi Jeongguk yang wajahnya merona karena tawa.
“I will fuck you with no mercy.” Dia menjulurkan lidah dan menjilat wajah Jeongguk yang gemetar, merengek di bawahnya seperti bayi—kehilangan kecongkakannya tadi.
“You'd better be ready.”
Fin.
Thankyou hahahaha sudah membaca oneshot tidak jelas ini hanya karena aku gamon dari Takuto lalu memutuskan french taehyung layak mendapatkan cerita hehehe Hope u like it! See you in gourmet!
ire, xo