Gourmet Meal 500
tw // mention of abusive parents , domestic abuse . cw // drinking scene .
Jimin sedang menyesap anggurnya, menonton Netflix dari tablet-nya yang disandarkan ke meja—pintu terasnya terbuka lebar, membiarkan angin laut yang dingin menggigit memasuki kamarnya dan mengecup kulitnya yang terbuka. Dia hanya mengenakan jubah mandinya di atas pakaian dalamnya dengan rambut setengah basah yang siap diberi produk perawatan rambut.
Cairan ungu gelap di gelasnya bergolak saat dia menggoyangkan gelasnya, matanya menyaksikan gelombang anggur yang mengikuti bentuk cekung gelas dan gerakan tangannya. Dia melirik pintu kamar, menunggu Jeongguk—apakah Taehyung memang belum terlelap atau Jeongguk juga tidak sengaja terlelap?
Jimin meraih potongan almond dalam mangkuk kecil yang dibawakan layanan kamar tadi, mengunyahnya untuk menemani rasa anggur dalam mulutnya. Sayangnya mereka tidak memiliki Malbec atau Pinot noir di sini sehingga Jimin harus puas dengan Chateauneuf-du-pape, jauh lebih baik daripada Merlot. Dia menyesap anggurnya lagi, mendecap merasakan anggur larut di mulutnya bersama sisa rasa almond.
Biasanya dia minum bersama Taehyung yang memesan vodka untuk dirinya sendiri, tapi Jimin memutuskan untuk memberi waktu untuk mereka berdua. Dia menyadari sekali perubahan ekspresi Taehyung saat berada di sekitar Jeongguk—dia nampak lebih rileks dan nyaman, bahunya melemas dan dia kehilangan kerutan di keningnya yang Jimin takut akan jadi permanen jika dia terus-terusan mengerutkan keningnya.
Dia pertama kali bertemu Jeongguk di kamar Taehyung beberapa juta tahun lalu, tidak terlalu mengamati bagaimana Taehyung berada di sekitarnya. Bahkan tidak terlalu mengingat wajah Jeongguk selain rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang jangkung. Sekarang ketika dia akhirnya bisa mengamati lebih baik: dia menyadari hal-hal lain. Bagaimana tatapan Jeongguk berubah lembut ketika menatap Taehyung, pandangannya yang tidak pernah benar-benar lepas dari wajah Taehyung, dan cara berdirinya yang condong ke Taehyung—siap melindunginya jika ada peluru yang diarahkan ke Taehyung.
Jimin tidak bercanda ketika dia mengatakan Jeongguk siap mati demi Taehyung.
Dia mendesah, menyugar rambutnya ke belakang. Teringat kengerian ketika kali pertama Taehyung berusaha kabur dari Puri dan mengapa hal itu sangat tidak disarankan. Dia bergidik saat teringat wajah babak belur Taehyung hari itu dan betapa beracun mulutnya ketika mendoakan kematian ayahnya.
Namun Jimin juga tahu bahwa tanpa ayahnya, Taehyung mungkin tidak akan bisa di posisi ini.
Puri membenci Taehyung. Puri mereka membenci pewarisnya: ayah Taehyung dan Taehyung sendiri. Kekeraskepalaan ayahnya-lah yang membuat mereka bertahan di sana, membuat semua orang menutup mata atas ketidaksesuaian Taehyung menjadi pewaris. Jimin mendengar banyak dari neneknya yang mengomel ke ayah Jimin. Taehyung bukan keturunan “murni”, begitu kata mereka. Ibunya seorang Sudra, kakaknya Astra dan ayah Taehyung adalah begundal di keluarga mereka—sama sekali bukan pewaris yang mereka inginkan untuk mewakili keluarga.
Jimin tidak pernah memberi tahu ini pada Taehyung. Dia menyimpan rahasia betapa seluruh Puri siap menggulingkan mereka detik ayah Taehyung meninggal: entah apa yang mereka akan lakukan pada Taehyung dan ibu serta kakaknya yang sama sekali bukan bagian mereka. Nenek Taehyunglah yang paling vokal mengenai itu, dia membenci ayah Taehyung. Cucu gagalnya yang membawa aib ke keluarga mereka, mencoreng nama keluarga dengan istri Sudra dan anak Astra. Dan mereka sama sekali tidak puas dengan bagaimana Taehyung “mirip” dengan ayahnya: begundal yang tidak bisa diberi tahu, membawa masalah ke dalam Puri.
Dia ngeri membayangkan jika Puri mengetahui bahwa Taehyung tidak membawa masalah istri Sudra ke Puri, namun orientasi seksual dan kekasihnya yang adalah pewaris Puri kabupaten tetangga.
Jimin menggeleng, meraih botol anggurnya dan menuangnya ke dalam gelas. Haruskah dia membicarakan ini ada Jeongguk? Dia butuh membagikan rahasia ini kepada seseorang, melepaskan isi kepalanya sendiri. Mungkin Jeongguk bisa membantunya dengan rahasia ini. Jimin mengangkat gelasnya, menatap cairan gelap di dalamnya—menghirup aromanya dan membawanya ke bibirnya, tepat sebelum cairan menyentuh permukaan bibirnya, pintu kamarnya diketuk.
Dia menoleh, “Jeongguk?”
“Ya, ini aku.”
Dia berdiri, mengibaskan jubah mandinya, merapikan lipatannya lalu mengencangkan ikatannya—dia menghormati Jeongguk. Melangkah ke pintu, dia melirik pakaiannya, cukup sopan. Tangannya terulur ke pintu dan membuka kunci, dia menyentakkan daun pintu terbuka. Menemukan Jeongguk berdiri di hadapannya dengan celana training hangat dan kaus hitam tipis. Rambutnya diikat rendah di tengkuknya, berantakan.
“Taehyung sudah tidur?” Tanyanya, mundur dari pintu dan mempersilakan Jeongguk memasuki kamarnya yang tidak berbeda dengan kamar Jeongguk dan Taehyung.
“Sudah, baru saja.” Jeongguk mengangguk dan tertawa tanpa suara. “Kau selalu minum sendiri atau khusus hari ini?” Dia menoleh ke Jimin yang mengedikkan bahunya, meringis.
“Biasanya aku minum dengan Taehyung, tapi karena kalian bercinta jadi aku mengalah.” Dia mengedip genit lalu meluncur ke kursinya dan meraih gelas kedua yang dipesannya. “Kau minum?”
“Tidak pernah yang semewah anggur,” Jeongguk duduk di hadapannya, kursi mereka berada di tepi teras—menghadap langsung ke kolam renang dan lautan serta teras kamar Jimin. “Aku lebih suka cocktail arak Bali.”
Jimin mengerutkan kening, memicingkan mata dengan botol anggur di tangannya. “Kau tidak minum anggur yang kadar alkoholnya 8-15% tapi minum arak dengan kadar alkohol 15-40%?” Dia menuang anggur ke gelas Jeongguk yang tertawa serak. “Sinting,” gerutunya lalu mendorong gelas itu ke arah Jeongguk.
“Aku besar di lingkungan di mana minum adalah salah satu kegiatan untuk mengakrabkan diri selain merokok. Dan aku tidak merokok, maka minumlah satu-satunya caraku untuk bersosialisasi. Kau harus mengalaminya sendiri bagaimana semua bapak-bapak itu menatapmu aneh karena menolak minum arak,” dia meraih gelasnya dan menyesapnya, mendecap. “Lumayan.” Katanya.
Dia kemudian menatap Jimin dan Jimin menyadari benar kenapa Taehyung jatuh hati padanya. Taehyung menghabiskan waktunya dalam keluarga yang berantakan: ayah yang tidak tahu diri, ibu yang sedikit narsis dan kakak yang dikucilkan. Dia tidak punya figur ayah yang bisa dicontohnya, dewasa jauh sebelum waktunya karena harus melindungi kakak dan ibunya. Maka mungkin bertemu Jeongguk yang cerah, tenang, dan menghanyutkan membuatnya terkejut: sepanjang hidupnya, tidak pernah ada ketenangan dan keteraturan kecuali Jeongguk.
Bahkan jika Jeongguk bukanlah tipe lelaki berkeluarga, Jimin mungkin sudah menggodanya saat Taehyung tidak menerimanya. Dia nampak seperti suaka yang menenangkan, memasukinya akan membuat siapa saja mabuk oleh kedamaian. Dia melindungi, mengayomi, dan lembut. Tapi Jimin tidak suka komitmen, dia benci komitmen maka tipe lelaki seperti Jeongguk harus dihindarinya.
“Lalu apa yang ingin kaukatakan padaku?” Tanyanya, menyilangkan kakinya dan menyandarkan tubuhnya di kursi, melirik jam di ponselnya dengan sedikit gelisah. “Taehyung lumayan sering terbangun tengah malam, jadi sebaiknya aku tidak berlama-lama jika kita tidak mau dia tahu.”
Jimin menghela napas lalu menatapnya, “Lakshmi tadi memberi tahuku kondisi Puri,” katanya meraih gelas anggurnya dan menyesapnya—menenangkan kepanikan yang mulai terbit di dasar perutnya. “Dia memberi tahuku bahwa ayah Devy sudah datang ke rumah mengenai prosesi pernikahan mereka. Tidak akan lama lagi sebelum Taehyung dipaksa ikut untuk nyedek.”
Jeongguk, di luar dugaan Jimin, menggeram dan suaranya begitu eksotis hingga Jimin mendongak. Ekspresi di wajahnya membuat Jimin sejenak mundur: dia mengerutkan alis, menyerigai marah dengan kerut-kerut terganggu di wajahnya dan suara geraman lembut meloloskan diri dari kerongkongannya. Dia nampak seperti seekor singa yang kawanannya diganggu.
Jimin menenangkan dirinya yang kaget sebelum melanjutkan dengan lebih perlahan. “Aku hanya ingin tahu seberapa jauh usaha kalian dalam memperjuangkan hubungan ini? Rencana untuk kabur?” Tanyanya, mengulurkan tangan untuk meraih kacang di atas nampan dan mendongak ketika Jeongguk tidak kunjung menjawab.
“Oh, fuck.” Katanya ketika melihat ekspresi Jeongguk—dia tahu mereka berdua terjebak, tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Jimin menurunkan tangannya, batal mengunyah kacangnya. “Sama sekali?” Bisiknya, nyaris dikalahkan deru angin malam dan ombak di kejauhan.
Jeongguk mengusap wajahnya, memijat pelipisnya hingga Jimin merasakan tikaman rasa sakit di adanya—mereka sama sekali belum menemukan jalan keluar. “Aku berusaha membuat Taehyung tetap optimis walaupun aku sendiri tidak optimis sama sekali.” Dia mengatakannya dengan nada seolah sedang berkumur. “Aku tahu aku salah karena membohonginya, tapi sungguh. Aku tidak tahu lagi....”
“Segala jalan keluar yang kupikirkan selalu terbentur: entah Lakshmi, entah Wisnu, entah Taehyung.” Jeongguk menghembuskan napasnya keras. “Adikku juga masih terlalu muda untuk mengemban tanggung jawab adat Puri: dia bahkan belum pernah datang ke banjar. Aku benar-benar bingung, dengan pernikahannya yang semakin dekat.”
Jimin menghela napas, merasakan kepanikan dan rasa frustrasi mereka. Dia menatap lautan, apa saja selain Jeongguk yang frustrasi di hadapannya. Syukurlah dia tidak membawa Taehyung sekarang—dengan kondisi mentalnya yang tidak baik, dia sebaiknya diberi tahu berita buruk dengan perlahan.
“Hingga terkadang aku berpikir untuk melepaskan saja hubungan kami karena bagaimana pun caranya, tidak ada jalan keluar.” Bisik Jeongguk dan Jimin terdiam: memang itu cara yang terdengar paling masuk akal saat ini dengan kondisi mereka terjebak di dalam labirin tanpa ujung.
Jimin menandaskan isi gelasnya sebelum menuang segelas lagi—meredam sakit kepalanya. “Aku ingin memberi tahumu sesuatu,” katanya kemudian dengan perlahan. Jeongguk mendongak dari telapak tangannya. “Sesuatu tentang keluarga Taehyung yang mungkin kau belum ketahui. Tentang bagaimana...,”
Jimin menghela napas, dia memberi tahu Jeongguk bagaimana posisi Taehyung di Puri itu tidak lebih seperti telur di ujung tanduk. Jika ayahnya meninggal, maka dia akan tamat. Keberadaan bajingan itu sudah sejak lama terasa seperti duri dalam daging bagi Jimin: dia berharap ayah Taehyung cepat meninggal namun di sisi lainnya dia tahu bagaimana nasib Taehyung jika itu terjadi.
Detik ayahnya meninggal.
“Aku merahasiakan ini dari Taehyung.” Kata Jimin di akhir cerita sementara Jeongguk terenyak di hadapannya—wajahnya pucat. “Jadi, aku sungguh... Sungguh sama frustrasinya dengan kalian tentang masalah ini. Karena jika kalian bertanya pendapatku, kalian harus mengorbankan salah satu, kalian tidak bisa menyelamatkan semuanya.”
Dia menatap Jeongguk, di tengah heningnya malam dan deburan ombak pasang di kejauhan. Mereka bertatapan dan Jimin tahu mereka berdua memikirkan jalan keluar yang sama—hanya saja Jeongguk tidak mengatakannya karena tahu jalan itu tidak akan Taehyung tempuh.
Jimin yakin mereka akan berakhir bertengkar hebat jika Jeongguk mengatakan ini.
“Kalian harus mengorbankan Lakshmi.”
”... Kau dari mana?”
Taehyung mengerjapkan matanya yang pedas saat melihat Jeongguk berdiri di tengah ruangan yang remang-remang—siluet tubuhnya akan selalu dikenali Taehyung. Dia sedang melepaskan kaus dari kepalanya saat Taehyung terbangun, mendorong tubuhnya duduk di atas ranjang yang kusut setelah mereka bercinta dan tidur di atasnya. Jeongguk melempar kausnya ke lantai sebelum melepaskan celana trainingnya, dia melangkah ke ranjang dalam balutan celana dalamnya dan langsung menyusup ke balik selimut.
Tubuh Jeongguk beraroma pekat lautan dan terasa dingin ketika bersentuhan dengan kulit Taehyung. Jantung Taehyung berdebar, apakah Jeongguk keluar? Kenapa dia keluar? Dia menoleh ke Jeongguk yang memeluk pinggangnya, membenamkan wajahnya ke perut Taehyung—bernapas di sana. Taehyung membelai kepalanya, menyisir rambutnya yang kusut dengan jemarinya.
“Wiktu?” Bisiknya setelah sekian lama Jeongguk tidak bersuara. “Kau dari mana?” Tanyanya lagi, kali ini lebih mendesak.
“Aku minum bersama Jimin,” sahut Jeongguk teredam di perutnya. “Tidak bisa tidur, jadi aku memutuskan menemaninya minum sebentar sekalian membicarakan aibmu semasa SMA.”
Taehyung mengerutkan alisnya—merasakan sepercik rasa cemburu di hatinya karena ketika dia terlelap, kekasihnya minum bersama sahabatnya. Dia menyayangi Jimin seperti saudaranya sendiri, namun dia tetap merasa tidak nyaman dengan fakta itu.
“Dan kenapa kau tidak membangunkanku?” Tanya Taehyung, merasakan kejengkelan mulai merebak di hatinya namun berusaha keras menahannya dengan berhitung: 1... 2... 4....
“Kau tidur lelap sekali, aku tidak tega membangunkanmu.” Sahut Jeongguk masih di dalam perutnya. “Aku sungguh tidak melakukan apa pun, kami hanya minum dan bercerita.”
Taehyung membuka mulutnya, hendak menginterogasi kekasihnya lebih lanjut sebelum memutuskan menutup mulutnya kembali. Dia harus belajar memercayai Jeongguk—setelah ini, mungkin Jeongguk dan Jiminlah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Maka sebaiknya, dia mulai belajar memercayai mereka berdua. Jika Jeongguk memang menginginkan Jimin, dia akan memilihnya namun dia tetap memilih Taehyung.
Taehyung memejamkan matanya, menenangkan emosinya sendiri seraya menyisir rambut Jeongguk perlahan.
20... 25.... 29....
“Baiklah,” bisik Taehyung kemudian sebelum kembali memasuki selimut, memeluk Jeongguk yang menyusupkan diri ke pelukannya—menggigil. Mungkin karena udara dingin. “Ayo kembali tidur,” dia mengecup kening Jeongguk dan mengusap tubuhnya yang mulai hangat.
“Kau kenapa?” Tanyanya lembut, “Apakah ada sesuatu yang buruk?”
Jeongguk menggeleng dalam dekapannya. “Hanya kedinginan dan sedikit mabuk.” Katanya parau dan Taehyung mencium aroma anggur merah dan almond tipis dari napasnya.
32... 35... 40...
Taehyung menghela napas, berusaha menelannya dan tidak mendesak Jeongguk. Dia akan bertanya besok ketika suasana sudah lebih tenang; bertengkar di tengah malam dengan keadaan mengantuk dan sedikit mabuk tidak terdengar masuk akal. Maka dia mengeratkan pelukannya ke tubuh Jeongguk dan menyandarkan kepalanya di kepala Jeongguk.
“Wigung?”
“Ya?”
“Peluk aku hingga tidur?”
Taehyung terkekeh tanpa suara, tubuhnya terguncang lembut. “Kenapa?” Tanyanya sayang dan gemas, memeluk kekasihnya lebih erat lagi. “Gung Wah takut tidur sendiri, nggih?”
Jeongguk mengaitkan jemarinya di punggung Taehyung, mengeratkan pelukannya hingga Taehyung tersenyum—ini pertama kalinya Jeongguk bersikap manja padanya dan Taehyung menyukainya. Dia memimpikan saudara lelaki sepanjang hidupnya dan sekarang memiliki Jeongguk memuaskan keinginannya. Maka dia mendekap Jeongguk dekat ke dadanya, membelai punggungnya dan berharap apa pun itu yang mengganggu Jeongguk reda keesokan harinya.
Dan semoga dia membagikannya ke Taehyung—sehingga mereka bisa membicarakan jalan keluarnya bersama.
“Aku hanya...,” bisik Jeongguk di pelukannya. “Sangat mencintaimu, aku takut—selalu takut kau lenyap ketika aku membuka mata.”
Taehyung menghela napas—menyadari betapa itulah yang selalu dilakukannya pada Jeongguk selama ini. Jeongguk menjelaskan segalanya padanya, menceritakan segala hal yang menganggunya, termasuk kebiasaan Taehyung yang meninggalkannya tanpa penjelasan ketika dia merasa tidak nyaman atau ketakutan.
“Aku tidak akan pergi lagi,” bisik Taehyung mendekap Jeongguk dalam pelukannya. “Aku tidak akan pernah pergi lagi darimu. Apa pun alasannya.”
*