Gourmet Meal 490

ps. unedited, sorry about the typo, xo pss. semoga tidak busuk :(((


Taehyung menatap ruang terbuka di dekat restoran Alila, Sea Salt yang sekarang sedang digunakan untuk resepsi pernikahan.

Beberapa tiang didirikan di sana—dibentuk semirip mungkin dengan kayu alami namun menancap sangat kuat di tanah, diberikan hiasan kain satin putih kemerahan yang melambai mengikuti arah angin pantai yang asin dan lembab. Ada hiasan bebungaan segar di beberapa titik: mawar-mawar gendut dirangkai dengan apik, mengisi sudut-sudut kayu untuk menyembunyikan sambungannya. Standing bouquet raksasa diletakkan sisi kedua altar dengan komposisi bunga yang megah dan tinggi. Dedaunan kelapa yang ditanam berjajar di sekitar tepi pantai bergemeresak karena angin yang sama, meja-meja makanan ditata di sekitar altar dengan anak-anak magang mengenakan seragam rapi berjaga di dekat sana untuk membantu tamu dengan makannnya.

Musik akustik dimainkan oleh band yang berdiri beberapa meter dari area tamu, musiknya lembut menenangkan namun dikalahkan oleh gemuruh air laut yang menghantam pantai. Taehyung berdiri di sudut, mengamati jalannya resepsi seraya mengawasi makanan yang keluar-masuk dapur. Hoseok berjaga di dapur, mengatur flow memasak semua anak buah Taehyung.

Resepsi hari itu pernikahan privat, hanya dihadiri setidaknya kurang dari dua ratus orang yang mengenakan setelan resmi sesuai dengan dress code yang diberikan. Taehyung menatap tamu-tamu yang mengobrol dengan perasaan aneh: pernikahan. Dia tidak pernah tertarik pada konsep pernikahan, tidak pernah menginginkan keluarganya sendiri karena kegagalan dalam keluarga yang dibangun ayahnya.

Lalu dia membayangkan Jeongguk di dalamnya: tersenyum padanya ketika dia membuka dan menutup matanya. Wajah mengantuk dengan bekas bantal tercetak di pipinya seperti pagi mereka tiap menginap bersama—aroma tubuhnya yang khas, napasnya yang menyengat dan kebiasannya mengerang panjang sambil meregangkan tubuh. Dia tersenyum kecil, mereka sudah membicarakan 'pernikahan' secara adat dan Taehyung akan mencari griya yang mau menikahkan mereka.

Jika tidak ada, maka dia akan memesan sesaji yang dibutuhkan dan menikahkan diri mereka sendiri. Taehyung tidak sudi dihentikan apa pun.

Jeongguk belum terlalu menerima konsep itu namun tidak keberatan untuk melakukannya bersama Taehyung. Sekali mereka membuka sumbat komunikasi mereka, ada begitu banyak hal yang ingin mereka diskusikan. Taehyung senang memiliki persepsi baru dalam pengambilan keputusan, dia suka mendapatkan kesempatan untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari ayahnya.

Maka dia berusaha, sangat berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dia tidak ingin menyaksikan Jeongguk menggelegak dalam kemarahan lagi. Dia tidak ingin menjadi antagonis di kehidupan orang yang disayanginya lagi.

Mereka menginap di lodge langganan mereka hingga Selasa besok murni karena Taehyung sedang muak bersama keluarganya. Dia juga sudah memberi tahu Mingyu agar memberi info ke keluarganya tentang bekerja di hotel jika seseorang menelepon. Front Office Manager itu sudah mengiyakan dan memberi tahu para stafnya jika ada telepon yang menanyakan Chef Taehyung agar segera dilemparkan padanya.

Taehyung melirik jam dinding di Sea Salt, tiga puluh menit lagi Jeongguk akan menjemputnya dan dia merasakan semangat berdenyar di dasar perutnya. Menyukai fakta bahwa dia akan dijemput pulang, bertemu dengan Jeongguk ketika kelelahan dan tidur di pelukannya malam ini. Dia mendesah, dia akan melakukan apa saja demi mendapatkan kehidupan itu selamanya.

Dia kemudian menuruni teras Sea Salt dan menghampiri lokasi resepsi, mengangguk pada beberapa tamu yang bertemu mata dengannya—tertarik oleh toque yang digunakannya. Taehyung melangkah ke meja makan, mengecek makanan yang tertutup di dalam chafing dish dan ditunggui oleh salah satu commis-nya.

“Aman semua?” Tanyanya dengan suara paraunya.

Pagi tadi dia sudah mengamuk dan dia sungguh tidak ingin mengamuk dua kali sehari. Dia baru saja tiba di dapur, merasa senang dan utuh ketika DCDP-nya memberi info tentang kesalahan pembelian protein untuk menu buffet lunch hari itu sehingga dia harus memberi menu baru, mengubah semuanya setelah mendatangi Akunting dan meludahi mereka dengan amarah karena tidak membaca Purchase Order dengan benar.

“Aman, Chef. Mungkin harus mengisi ulang dagingnya.” Commis itu membuka tutup chafing dish dan memperlihatkan menu daging yang mulai menipis.

“Habiskan saja yang di dapur, mereka akan membagikan sisanya pada kerabat mereka.” Taehyung setuju sebelum meluncur ke arah meja yang terisi cemilan manis penutup. Puding-puding, kue-kue, dan pastry mungil diletakkan di atas nampan display menggemaskan yang menonjolkan bentuknya.

Taehyung mengecek semuanya, memastikan mereka semua dalam kondisi baik karena terpapar udara terbuka. Taehyung menunduk, mengecek tidak ada debu yang menempel di atas makanannya sebelum menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada seorang tamu yang mendekat untuk mengambil dessert di meja. Sisa kue pengantin disajikan di ujung meja dengan pisau, mempersilakan tamu mengambil kuenya sendiri sesuai dengan keinginan mereka.

“Halo. Anda head chef-nya?”

Taehyung mengerjap, menoleh ke tamu yang sedang mengambil makanan di meja. Perempuan, tidak mungkin berusia kurang dari dua puluh lima tahun, mengenakan dress lilit yang memamerkan bahunya yang mulus dan langsing. Dia menyanggul rambutnya longgar di atas tengkuk, membiarkan beberapa anak rambut mengikal membingkai wajahnya yang bulat.

Sejak kapan dia berdiri di sana dan kenapa Taehyung tidak menyadarinya? Kenapa dia mengajak Taehyung bicara?

“Ya,” dia tersenyum—tidak terlalu menyukai interaksi dengan tamu. “Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya berusaha terdengar ramah, menyesal karena tidak mengirim Hoseok saja ke atas. Namun dia butuh menyegarkan isi kepalanya yang terasa berasap karena terus di dapur.

Perempuan itu menatapnya sejenak dan Taehyung dalam hati mengerutkan alisnya, apa yang diinginkannya dari Taehyung? namun tetap berusaha mempertahankan senyumannya karena dia sekarang tengah membawa nama Alila, bukan dirinya sendiri.

Dia membuka mulut, hendak berpamitan jika tidak ada yang bisa dibantu untuk tamu itu saat perempuan itu mengerjap dan meraih tasnya. Taehyung mengamati dengan alis berkerut dan menyadari apa yang diinginkannya ketika dia mengeluarkan ponselnya.

Sungguh?

“Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?”

Taehyung menatapnya, terpana karena selama tiga puluh tujuh tahun dia hidup dia belum pernah mendapatkan hal semacam ini. Dan mengapa tiba-tiba perempuan ini meminta nomornya? Taehyung yang terbiasa dijauhi orang, dihindari karena nampak seperti sebuah 'masalah': dingin, misterius, tegas, dan tidak tersentuh. Hanya Jeongguk yang pernah berusaha memasuki kehidupannya dan berhasil. Dan sekarang...

Dia bahkan tidak menyukai perempuan.

Namun Taehyung bergegas tersenyum memohon maaf. Bagaimana pun dia seorang tamu dan Taehyun staf di Alila. “Maaf,” katanya. “Tapi saya sudah menikah.” Katanya lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin Tiffany-nya dengan Jeongguk. Bersyukur mengenakannya.

Perempuan itu merona hingga ke batas rambutnya dan bergegas menyingkirkan ponselnya. “Maafkan saya!” Katanya lalu bergegas kabur dari sana, nyaris terantuk kakinya sendiri yang terbalut heels.

Taehyung berdiri di sana kemudian, menatap gadis itu berlari ke temannya yang langsung tertawa mendengar ceritanya. Mereka menoleh ke Taehyung, mengecek pria mana yang telah temannya godai dengan salah sebelum kembali tertawa-tawa. Taehyung tersenyum—kali ini bukan karena sopan santun, tapi karena terhibur. Tidak sabar memberi tahu Jeongguk tentang ini. Dia bergegas berlalu dari sana, tidak ingin mendapatkan pertanyaan yang sama atau membuat gadis itu semakin malu. Dia melewati beberapa anak magang yang membawa isi ulang makanan dan meluncur ke dapur yang sekarang sudah mulai tenang.

“Hoseok,” katanya pada sous chef-nya yang sedang mengecek prep untuk malam. “Semuanya sudah selesai?” Tanyanya, membuka kancing teratas seragamnya yang terasa mencekik seraya melirik jam dinding: 10 menit lagi, Jeongguk akan menjemputnya.

“Untuk wedding sudah, Chef. Semua sudah selesai. Kami mempersiapkan untuk makan malam.” Hoseok mengangguk.

Taehyung menatap ke seluruh penjuru dapur, ke para commis dan helper yang sedang mengerjakan tugas-tugas mereka. Di belakang sana, Steward sedang bekerja menurunkan alat-alat makan kosong dari resepsi dan dibereskan dengan suara dentang-dentang alat makan. Tapi kompor-kompor sudah mulai dimatikan, Butcher juga sudah mulai dibereskan, Pastry mulai mencuci loyang-loyang raksasa mereka; dapur membereskan diri karena shift malam tidak terlalu membutuhkan makanan rumit.

“Baiklah, ayo evaluasi.” Katanya melangkah ke ruangannya untuk mengecek ponselnya, menemukan pesan dari Jeongguk.

Haruskah aku mandi di hotel atau mandi denganmu?

Taehyung tersenyum ke ponselnya, “Pertanyaan bodoh.” Gumamnya lalu mengetik balasan: Tentu saja denganku. Memangnya kau tidak ingin menggosok punggungku?

Balasannya datang seketika itu juga: Menarik. Bagian mana lagi yang boleh kugosok?

“Bedebah sialan,” Taehyung tersenyum lalu mengetik: Di mana saja yang kauinginkan. Aku evaluasi dulu. Dia lalu menyimpan ponselnya ke saku celananya karena jika dia menanggapi Jeongguk maka dia akan berakhir bergairah di sana sebelum evaluasi.

Dia mendorong pintu kantornya dan menemukan semua orang sudah berdiri menghadapnya—mereka yang in charge hari itu sementara sisanya tetap bekerja mempersiapkan menu EDR malam. Taehyung berdiri di ujung lingkaran, mengangguk pada semua timnya.

“Terima kasih atas bantuan kalian hari ini,” katanya dengan suara yang cukup untuk menjangkau ke seluruh ruangan—khususnya Steward yang masih bekerja. “Maaf kami memulai tanpa Steward.”

“Tidak apa-apa, Chef!” Seru seseorang dari balik dishwasher yang menderu keras ditingkahi dentang piring yang tidak sengaja berbenturan.

Taehyung mengangguk lalu kembali menatap timnya. “Saya mengecek makanannya dan semuanya baik, refil tidak terlambat dan tidak ada keluhan dari para tamu. Semuanya berjalan mulus walaupun tadi pagi ada kejadian dengan Butcher tapi terselesaikan. Kita tunggu GCC dari pengantinnya besok, pastikan dengan Front Office masalah benefit honeymoon mereka apakah ada yang akan diambilkan dari Kitchen.” Dia kemudian menoleh ke Hoseok. “Ada yang ingin ditambahkan?”

Hoseok mengangguk, “Untuk benefit, mereka mendapatkan complimentary sliced cake untuk besok pagi saat sarapan. Sudah disiapkan oleh Pastry dan FB akan menghubungi jika mereka sudah siap sarapan. Mereka memesan floating breakfast.”

“Baiklah, terima kasih, Hoseok. Tolong pastikan tidak ada makanan yang cacat untuk sarapan besok. Jika mereka sarapan di atas pukul tujuh, maka saya yang mengeceknya sendiri. Jika tidak, maka tolong, Dwipa.” Dia menatap CDP-nya yang bertanggung jawab untuk shift malam hingga pagi besok.

“Siap. Copy, Chef.” Sahut CDP-nya, mengangguk.

Taehyung kemudian membubarkan mereka, menoleh ke jam dinding dan menyadari Jeongguk pasti sudah menunggunya. Dia merogoh sakunya seraya berjalan cepat ke ruang ganti menemukan pesan Jeongguk bahwa dia sudah menunggu di parkiran karyawan tempat mereka biasa bertemu.

Maka dia tidak membuang waktunya sama sekali. Dia pergi ke tempat presensi, memindai jarinya sebagai absen pulang dan kembali masuk ke loker karyawan untuk mengganti baju. Taehyung bergegas mengganti seragamnya, mengenakan pakaian yang digunakannya tadi sebelum mengembalikan seragam ke Laundry. Dia berlari kecil ke arah tempat parkir, menemukan Yaris Jeongguk terparkir di sudut; Jeongguk berdiri di luar mobil, menatap resepsi yang dibereskan staf.

“Hei,” sapa Taehyung mengikat rambutnya yang mulai memanjang—dia tidak memotongnya lagi karena Jeongguk selalu memuji rambutnya. Maka dia mempertahankannya kembali panjang, peduli setan bagaimana pendapat Tuniang tentang itu. “Maaf aku terlambat.”

Jeongguk menoleh, terlihat hangat dan menyenangkan dalam balutan kaus polos hitam dan rambutnya digelung berantakan. Dia nampak lelah, namun ketika bertemu pandangan dengan Taehyung, senyumannya terkembang. Wajahnya yang semula kelelahan, kemudian bersinar detik matanya bertemu dengan Taehyung dan Taehyung menahan napasnya karena melihat sendiri perubahan ekspresi Jeongguk setelah melihatnya. Menyadari bahwa dia memiliki peran sebesar itu dalam hidup Jeongguk.

Padahal dia hanya... dia. Sama sekali tidak istimewa. Jeongguk memiliki bakat itu, membuat siapa saja merasa berharga dan dicintai sepenuh hati. Bakat yang tidak dimiliki Taehyung. Namun dia berharap, dia bisa membuat Jeongguk paham betapa besar arti keberadaannya di hidup Taehyung.

“Tidak apa-apa,” Jeongguk kemudian bergegas ke mobilnya, membuka pintu penumpang untuknya. “Masuklah. Kita kembali dan pesan makanan, kau pasti lelah sekali.”

Taehyung tersenyum, menyelipkan dirinya masuk dan memasang sabuk pengaman saat Jeongguk menutup pintunya. Dia bergegas berlari mengintari bagian belakang mobil dan membuka pintu pengemudi. Dia memasuki mobil lalu mencondongkan tubuhnya pada Taehyung yang terkesiap karena gerakan mendadak itu. Jeongguk menatapnya, dengan mata gelapnya yang indah dan menghanyutkan.

“Beri aku satu ciuman,” katanya dengan wajah berada dekat dengan wajah Taehyung.

Taehyung terkekeh, melepas sabuk pengamannya lalu membalik tubuhnya. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh tengkuk Jeongguk sebelum pemuda itu perlahan menutup jarak antara mereka—mencium bibirnya dengan lembut. Perlahan seolah sedang menyecap Taehyung di lidahnya. Taehyung mencondongkan tubuhnya, mendekatkan diri pada Jeongguk yang merangkul lehernya—memperdalam ciuman mereka.

Sesuatu meledak di hati Taehyung: perasaan hangat yang membuatnya bergidik saat menyelipkan jemarinya ke rambut Jeongguk lalu meremasnya. Dia sangat mencintai Jeongguk, amat teramat mencintainya hingga dia merasa dia bisa gila karenanya.

“Kau tahu,” katanya kemudian iseng saat Jeongguk menempelkan kening mereka—terengah karena ciuman panjang mereka sementara di luar sana, pantai bergemuruh dan sisa pesta sudah dibereskan.

“Hm?” Tanya Jeongguk dengan mata terpejam.

“Tadi ada gadis yang menanyakan nomor ponselku.”

Mata Jeongguk langsung terbuka, wajahnya berkerut karena jengkel. Dia menarik wajahnya dari Taehyung, menatapnya tidak suka dan Taehyung tertawa tanpa suara. “Dan??? Apa yang kaukatakan padanya??”

Taehyung menepuk wajahnya lembut, senyuman geli bermain di bibirnya—ini kali pertama dia benar-benar melihat Jeongguk cemburu setelah biasanya hanya bersikap tenang menerima segalanya. Menyenangkan juga ternyata, menghibur.

“Dan kukatakan padanya aku sudah menikah.” Dia menunjukkan cincinnya dan Jeongguk menghembuskan napas, meraih tangan Taehyung untuk mengecup cincin itu di tangannya.

Namun itu tidak cukup untuk menghentikan omelannya. “Kenapa kau tidak memasang wajah head chef galakmu, sih?” Gerutu Jeongguk saat mereka mengemudi ke lodge tempat mereka menginap, menekan klakson lebih keras dari seharusnya untuk melampiaskan kejengkelannya. “Agar tidak ada yang mengajakmu bicara. Kau selalu menggunakan ekspresi itu, kenapa sekarang tidak? Kau sengaja mengundang mereka?”

Taehyung tersenyum lebar, mendengarkan Jeongguk mengomel karena cemburu lalu menggenggam tangannya yang berada di atas persneling. “Karena aku bahagia sekarang,” katanya perlahan. “Aku bahagia bersamaku dan kurasa efeknya terpancar hingga ke luar. Haruskah aku meminta maaf karena bahagia?”

Jeongguk memicingkan matanya, menatap jalanan dengan jengkel. “Jadi, aku, ya, masalahnya.” Gerutunya dan Taehyung tertawa. Jeongguk meliriknya, tersenyum kecil: berhasil menghibur Taehyung.

Dia membawa tangan Jeongguk ke bibirnya, mengecupnya sayang. “Aku cinta sekali padamu.”

Jeongguk menoleh sejenak sebelum kembali menatap jalanan. Senyuman bermain di bibirnya dan Taehyung ingin sekali menciumnya. “Aku juga mencintaimu.” Dia melepas tangannya dari genggaman Taehyung lalu mengusap kepalanya sayang. “Ayo kita mandi bersama.”

Taehyung menghela napas, berapa lama lagi mereka harus berjuang hingga bisa memiliki kehidupan setenang dan sedamai ini tanpa dibayang-bayangi ketakutan?

Taehyung sungguh tidak sabar lagi.

*