eclairedelange

i write.

tw // manipulation , trauma , passive behavior , session , insecurity , fear , anger , guilt-tripping , dissociation .


“Bagaimana jika... tidak bisa?”

Thia menatap Jeongguk, “Tidak bisa...?” Tanyanya lembut, nyaris terdengar seperti mempertanyakan kewarasan Jeongguk. “Gung, dia memanipulasimu, mengontrol emosimu, secara konstan membuatmu merasa bersalah atas dirimu sendiri, membuatmu mempertanyakan harga dirimu—”

“Dia satu-satunya orang yang saya butuhkan di dunia ini. Tidak,” Jeongguk menggeleng, gemetar. “Tidak ada yang lain lagi.” Dia lalu menmbahkan dengan sedikit panik. “Ada waktu ketika dia benar-benar baik dan manis, dewasa dan menenangkan. Dia tidak bersikap...” Jeongguk menelan ludah, melirik ke sekitar lagi sebelum menambahkan. “Begitu sepanjang waktu, hanya ketika dia marah.”

“Jeongguk,” tegur Thia lembut. “Berhenti memberikan dia alasan, berhenti membenarkan sikapnya yang salah. Jangan memanipulasi dirimu sendiri.” Dia menatap Jeongguk yang tidak membalas tatapannya, menunduk menatap lantai setelah tadi bicara sebentar pada Jimin mengenai Taehyung yang sudah tahu kebohongannya.

Dia kembali merasa terjebak, kembali merasa kecil seolah seseorang sedang menjejalkan Jeongguk ke dalam kardus yang jauh lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Dipaksa dengan cara yang tidak manusiawi hingga Jeongguk tersengal—terserang rasa takut dan gelisah yang tidak disukainya. Bagaimana jika Taehyung marah?

“Jeongguk, tarik napas. Tenang, dia tidak ada di sini. Dia tidak bisa mendengarmu.” Bisik Thia lembut, mencondongkan tubuhnya seolah ikut merasakan ketakutan Jeongguk namun tetap menjaga batasnya sebagai konselor. Jeongguk menghargai itu karena dia tidak suka disentuh.

Jeongguk memejamkan matanya, menghela napas dalam-dalam—mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kacau balau. Dia menyentuh dadanya, merasakan debarannya yang kuat dengan gelisah. Sejak kapan dia sangat ketakutan pada Taehyung? Bukankah dia mencintai Taehyung? Taehyung juga mencintainya, kenapa mereka bisa saling menyakiti?

“Kau memberi terlalu banyak, dia menerima terlalu banyak.” Kata Thia lembut. “Hubungan apa pun itu—entah keluarga, pertemanan, percintaan itu sebaiknya saling. Seimbang. Saling memberi, saling menerima. Sebaiknya tidak ada yang lebih: lebih mencintai, lebih dicintai.

“Dari kasusmu ini, dan bagaimana sikapmu tentang itu,” Thia menghela napas dan menatap Jeongguk. “Kau lebih baik meninggalkannya saja, melangkah pergi dari hubungan itu. Hormati dirimu sendiri, Jeongguk. Jangan terus berada di dalam hubungan yang mencekikmu.”

“Bagaimana...” Bisik Jeongguk, menggenggam tangannya dengan gelisah. “Bagaimana jika aku.... Berusaha membicarakan ini dengannya? Manusia bisa berubah, 'kan? Bagaimana jika aku... menolongnya berubah?”

Thia menatapnya, sejenak kaget namun bergegas mengendalikan ekspresinya. Dia menatap Jeongguk lekat-lekat, nampak cemas. “Gung,” panggilnya lembut. “Bahkan profesional seperti saya, tidak berani menolong siapa pun berubah jika memang dia tidak ingin berubah.”

“Mbak,” sahut Jeongguk. Untuk yang kali ini, dia keras kepala. Bagaimana bisa dia meminta Jeongguk meninggalkan Taehyung begitu saja ketika Jeongguk satu-satunya pelampung penyelamat Taehyung di tengah lautan dingin yang hendak melahap mereka hidup-hidup?

Tidak, Jeongguk tidak sudi. “Tidak.” Katanya, tegas.

Thia menatapnya, sejenak diam—memikirkan solusi apa yang sebaiknya diberikannya pada Jeongguk yang tidak mau melangkah pergi dari hubungan yang selama ini merusaknya. Hubungan yang membuatnya pasif dan tidak berdaya, melepaskan diri dari lelaki yang memanipulasi emosinya dan menyakitinya secara konstan. Lelaki yang ditoleransinya, diterima sikapnya, dibenarkan.

“Baiklah,” bisik Thia kemudian—tidak yakin bagaimana, namun dia bisa mencoba sesuatu. Walaupun ini berarti dia mengambil risiko membiarkan kliennya terpapar kepada seuatu yang merusaknya terus.

Dia menatap Jeongguk, untuk pertama kali nampak tegas dan serius tentang pilihannya. Sayangnya, dia yakin dan tegas pada pilihan yang keliru. Apakah dia yakin dia bisa melakukan itu? Namun dari sorot matanya, nampaknya Thia tidak bisa mengatakan atau melakukan apa pun untuk mengubah pendapatnya.

“Jika begitu, kau bisa mencoba...”


“Tugung, ada Turah.”

Taehyung menoleh, dia berdiri di depan pintu kamar mandi sedang mengeringkan rambutnya dengan celana pendek menggantung rendah di pinggulnya, bertelanjang dada saat Lakshmi mengetuk pintunya, berbisik dengan terburu-buru. Jika Jeongguk datang, mereka harus bergegas menyelundupkannya ke kamar Taehyung sebelum orang Puri melihatnya. Sebenarnya jika dia melangkah biasa saja pun tidak akan ada yang peduli, namun Taehyung sedang tidak ingin meladeni ayahnya.

Sudah beberapa hari ini mereka berhasil tidak bersinggungan, hanya sekadar bertemu mata. Taehyung mengangguk kemudian pergi dari hadapan ayahnya. Dia tidak pernah bertemu dengan Devy setelah kejadian pemukulan kemarin, bahkan tidak saling mengirim pesan karena pesan terakhir yang dia kirimkan ke Devy diketik oleh Jeongguk yang tidak terima. Setelahnya, mereka tidak saling kontak sama sekali.

Taehyung sudah berjanji pada Jeongguk, dia tahu. Namun dia benar-benar belum bisa membawa dirinya sendiri bersikap biasa saja pada Devy setelah kejadian fatal kemarin. Dia bukan Jeongguk yang bisa menelan begitu saja sakit hatinya dan bersikap biasa saja pada semua orang. Taehyung merasa jika dia melihat Devy di hadapannya sekarang, dia bisa melakukan apa saja yang mungkin akan disesalinya. Bohong jika dia bilang dia tidak merindukan hubungan mereka yang baik-baik saja dulu—dia berisik, tapi setidaknya lumayan menghibur.

Dia terluka karena Devy ternyata tidak sebaik apa yang dipikirkannya, menyesal karena telah percaya padanya. Taehyung menghela napas, menyimpan masalah itu untuk dikhawatirkan nanti.

Taehyung bergegas menghampiri pintu, membuka selotnya dan menarik daun pintunya membuka. Melihat Jeongguk berdiri di depan pintu, tersenyum lembut dan hangat dengan Lakshmi yang sudah siap kabur. Maka dia bergegas menyingkir dari pintu, membiarkan Jeongguk memasuki ruangan sebelum Lakshmi bergegas pergi dengan nampan setelah berdoa; memberi tanda untuk memberi tahunya jika Jeongguk akan pulang. Taehyung mengunci pintunya kembali setelah mengangguk, berbalik melihat Jeongguk berdiri di tengah kamarnya.

Dia mengenakan kemeja biru muda dengan garis-garis putih berlengan pendek, dua kancing teratasnya terbuka dan dia membawa kantung plastik beraroma tajam bumbu. Taehyung mendesah, menyadari Jeongguk membelikannya nasi goreng kesukaannya. Dia melirik jendela yang tertutup karena dia mandi sebelum melangkah ke Jeongguk.

“Hai,” sapa pemuda itu lembut sebelum meletakkan kantung plastik di kasur dan membuka kedua lengannya. “Kemarilah.”

Taehyung membenamkan dirinya ke pelukan Jeongguk, menghirup aroma pengharum mobilnya yang sudah sangat dikenalnya. Dia mengaitkan jemarinya ke balik punggung Jeongguk yang menciumi lehernya. Dia marah dan terluka, yakin Jeongguk sedang membohonginya namun tidak tahu apa motif lelaki itu membohonginya. Namun dia juga merindukannya, membutuhkannya agar napasnya lega dan jantungnya berdebar dengan damai.

“Kau marah?” Tanya Jeongguk lembut. “Karena aku terlambat?”

Taehyung menghela napas, terganggu. “Apa yang dilakukan Yugyeom sekarang hingga kau terlambat?” Tanyanya, menggertakkan rahangnya—dia tahu Jeongguk akan berbohong, namun dia tetap memancing kebohongan itu.

Jeongguk diam sejenak, tubuhnya menegang. Itulah taktik yang selalu digunakan Taehyung tiap kali menentukan apakah Jeongguk berbohong atau tidak. Menyentuhnya saat bertanya, merasakan perubahan fisik dan organnya saat dia berbohong karena pemuda itu benar-benar pembohong yang payah. Taehyung merasakan debaran jantungnya yang mulai naik dan menghela napas, menyadari Jeongguk akan berbohong.

“Aku hari ini tidak pergi dengan Yugyeom.”

Taehyung membeku di pelukannya—tubuhnya mendadak dingin. Rasa itu menjalar dari kakinya, perlahan naik meringkus tubuhnya dengan perasaan takut yang melumpuhkan. Dia menahan napasnya, dia tidak pergi dengan Yugyeom? Jantungnya melonjak, menonjok rusuknya dengan begitu kuat hingga terasa nyeri. Asam lambung bergolak di dasar perutnya, merespons stres yang dirasakan otaknya ketika memikirkan dengan siapa Jeongguk mungkin menghabiskan hari itu.

Dia hendak mendorong Jeongguk, hendak menatapnya untuk memastikan siapa yang diajak Jeongguk saat pemuda itu meresponsnya dengan memeluknya semakin erat.

“Kau harus berjanji tidak akan marah padaku sebelum aku menjelaskan.” Bisik Jeongguk, mendekapnya begitu erat hingga tulang Taehyung nyeri—dia terjebak dalam pelukan Jeongguk.

Tubuhnya dingin sekali sekarang, rasa mual mulai bergulung naik. Tiap tarikan napasnya menyengat pangkal hidungnya dan paru-parunya mengerut berusaha bernapas. Tubuhnya bereaksi terhadap stres dengan cara yang sangat menggelisahkan.

“Mirah.” Bisik Taehyung, melepaskan satu-satunya sumber segala ketakutan dan kecemasannya. “Kau dengan Mirah.” Dia takut Jeongguk berubah pikiran tentang perjodohannya, takut Jeongguk ternyata merasa hubungannya dengan Taehyung adalah kesalahan, takut Jeongguk meninggalkannya.

Takut, takut. Takut.

Jeongguk terkesiap, dia mendorong Taehyung untuk menatap wajahnya dan gurat kaget di wajah Jeongguk membuat perasaan Taehyung sejenak lebih baik. Ekspresi Jeongguk mengatakan dengan jelas bahwa dugaan Taehyung salah. Paru-parunya kembali mengembang dengan perlahan.

“Tidak.” Katanya, nyaris marah dan Taehyung berjengit oleh nada itu. Kali pertama Jeongguk meninggikan nadanya pada Taehyung—dia terdengar frustrasi dan kecewa sekarang. “Kau memikirkan itu?” Tanyanya dengan suara pecah. “Kau berpikir selama ini aku pergi dengan Mirah? Padahal aku sudah memberi tahumu, bahkan meneleponmu menunjukkan padamu orang-orang yang kuajak keluar—kau tetap tidak memercayaiku?”

Jeongguk terdengar... marah.

Dan Taehyung terdiam. Jeongguk tidak pernah marah padanya, dia tidak pernah marah bahkan kepada siapa pun di hidupnya. Dan dia sekarang marah pada Taehyung; emosi itu nampak aneh di wajahnya, membuatnya terlihat seperti orang asing. Wajahnya memerah dengan cara yang Taehyung tidak sukai. Dia membuka mulutnya, hendak membela diri.

Bagaimana caranya dia percaya jika Jeongguk terus berbohong padanya? Menutupi kebohongan itu dengan kebohongan-kebohongan kecil yang terus menerus dicekokannya ke mulut Taehyung? Apakah dia berharap Taehyung akan menelannya begitu saja tanpa kecurigaan sama sekali? Memangnya Taehyung bayi?

Namun Jeongguk menyelanya, kali ini meledak.

“Kau selalu begitu.” Jeongguk menggeram dan Taehyung seketika bergidik kaget. “Kau selalu begitu padaku, tidak pernah memercayai apa pun yang kukatakan padamu. Tidak pernah menghargai emosiku, segala hal hanya tentangmu!” Dia mencengkeram pergelangan tangan Taehyung, menatapnya begitu tajam dan dipenuhi rasa amarah yang membuat Taehyung gelisah.

“Kau selalu ingin dipahami, diistimewakan, tapi apakah kau pernah berhenti untuk menanyakan perasaanku? Pernahkah kau menanyakan apa yang aku rasakan?? Memahamiku?? Tidak, kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri; penderitaanmu sendiri hingga kau tidak menyadari sekitarmu!

“Kau selalu memberikanku silent treatment, tidak menjelaskan apa pun tidak menerima penjelasan apa pun. Kau langsung memotongku, meninggalkanku. Kau selalu begitu, Taehyung. Kau selalu meninggalkanku, kapan saja kau ingin. Kapan saja aku membuatmu tersinggung sedikit saja. Egomu. Egomu selalu lebih besar dari akal sehatmu.

“Aku berusaha membuatmu bahagia!” Jeongguk gemetar semakin kuat sekarang, berusaha keras membuka mulutnya untuk bicara sementara cengkeramannya di pergelangan tangan Taehyung menguat—namun Taehyung terlalu terpana untuk merasakan sakit itu.

“Aku selalu berusaha membuatmu bahagia, Taehyung.” Dia menggeram rendah, geraman itu menjalar di kulit Taehyung—menyengatnya dengan perasaan tidak nyaman. Wajah Jeongguk ketika marah terlihat begitu asing dan aneh, Taehyung nyaris tidak mengenali siapa lelaki di hadapannya.

“Tapi kau tidak,” dia menggertakkan rahangnya, memejamkan matanya berusaha mengendalikan dirinya sendiri. “Kau tidak pernah,” dia gemetar seperti mesin rusak yang akan meledak—dia memejamkan matanya, menghela napas dengan suara berdenging keras.

“Kau tidak pernah menghargaiku.”

Taehyung menatapnya, kaget. Ini pertama kalinya Jeongguk marah dan padanya. Dia bahkan berhenti memanggil Taehyung 'Wigung'. Dia menyebutkan nama Taehyung dengan begitu banyak racun di dalamnya hingga kulit Taehyung mendesis meresponsnya—seperti asam yang dituang ke atas sana, membakarnya hingga ke belulangnya. Ngilu.

“Ketika aku melakukan segalanya untuk membahagiakanmu, memperjuangkan hubungan kita, mencoba semua cara demi membuat hubungan ini berhasil dan kau hanya memikirkan apakah aku berselingkuh darimu?” Tanyanya, terdengar begitu kecewa hingga kesedihan menikam jantung Taehyung.

Dia tidak mau mengecewakan Jeongguk, dia tidak akan bisa menangguhkannya jika dia melihat tatapan kecewa yang sama seperti yang ada di mata ayahnya, kini berada di mata Jeongguk. Dia tidak akan bisa menanggungnya, dia tidak akan pernah....

“Serendah itukah cintaku di matamu?” Bisik Jeongguk sekarang—luka, kecewa, amarah dan semua emosinya larut di dalam suaranya. Terasa pahit dan menyengat seperti vodka. Seperti perasan lemon di atas luka yang basah, berdenyut mengerikan. “Serendah itukah aku di hadapanmu hingga kau selalu berpikir aku akan berselingkuh dan kabur begitu saja ketika hubungan kita terasa sulit? Ketika kau terasa sulit?”

“Apakah kau takut aku melakukannya?” Jeongguk menatapnya—langsung ke matanya. Dan ini kali pertama Taehyung menatap mata itu, tidak menemukan keteduhan serta kedamaian yang selalu dirasakannya.

Jeongguk murka.

Taehyung tidak menyukainya. Dia terbiasa pada amarah; ayahnya sudah mengajarinya banyak tentang emosi itu. Bahkan dengan banyak sekali pertunjukkan bagaimana amarah bisa membuat tangan dan kakinya begitu ringan. Namun amarah di wajah Jeongguk adalah hal baru yang belum pernah dilihat Taehyung. Wajahnya merah padam, menjalar hingga lehernya dengan tatapan menusuk yang membuat Taehyung merasa kecil. Tidak ada manusia di dunia ini yang pernah melihat Jeongguk marah.

Dia bahkan tidak pernah marah di dapur, menegur keras pasti. Tapi marah-marah, membanting barang-barang adalah tugas Taehyung. Jeongguk selalu dikenal sebagai chef bertangan dan kepala dingin; dia tenang, teratur, dan segala yang disentuhnya berbuah. Sangat berlawanan karakternya dengan Taehyung yang selalu mengandalkan amarahnya di atas logikanya. Maka ketika Jeongguk kemudian marah, Taehyung takut.

Dan dia belum pernah setakut ini sejak dia kecil, dimarahi ayahnya untuk pertama kalinya. Belum pernah setakut ini sejak dia memikirkan potensi Jeongguk mungkin meninggalkannya. Sekarang, dengan amarah mentah Jeongguk melingkupi oksigennya dan membuat paru-parunya mengerut oleh udara yang beracun, Taehyung yakin 'meninggalkannya' bukan lagi ketakutan.

Jeongguk akan meninggalkannya sekarang.

“Karena itulah yang selama ini kaulakukan padaku? Kau selalu kabur, memilih melepaskanku ketika hubungan kita menjadi sulit. Kau selalu pergi dariku, melepaskanku begitu saja detik kau memiliki kesempatan. Itukah kenapa kau takut aku melakukan hal yang sama?”

Pergelangan tangannya berdenyut dalam cengkeraman Jeongguk, mulai kesemutan karena aliran darahnya tertahan namun Taehyung nyaris tidak menyadarinya karena ketakutan di kepalanya. Ini pertama kalinya seseorang selain ayahnya menaikkan suaranya pada Taehyung—memarahinya, menegurnya dengan begitu keras.

Mereka sejenak terdiam dan Taehyung menyesal; dia seharusnya menelan begitu saja kebohongan Jeongguk tadi. Mereka pasti sedang makan bersama di ranjang sekarang, Taehyung dimanjakan dan dipeluk hingga lelap. Bukan ditegur dan dimarahi. Kepalanya sakit oleh penyesalan, dia salah langkah—dia seharusnya tidak menyebut nama Mirah tadi.

Bodoh, pikirnya pilu.

“Lucu,” dia mendenguskan tawa yang membuat Taehyung bergidik—perutnya mengejang, menahan rasa takut yang menjalari tubuhnya. “Lucu bagaimana kau takut disakiti dengan cara yang sama sebagaimana kau menyakitiku—bahkan berkali-kali. Pernahkah kau memikirkan itu, Taehyung? Pernahkah kau memikirkan posisiku? Karena sungguh, dalam hubungan ini tidak hanya kau yang menderita.”

Taehyung menahan napasnya, mengalihkan pandangannya dari tatapan Jeongguk yang menusuk. Dia membuka mulutnya, “Lalu,” katanya pelan dan Jeongguk diam, menunggu. “Jika kau merasa sangat suci dalam hubungan ini, pihak yang selalu tersakiti dan menderita,”

Tutup mulutmu! Seru Taehyung pada dirinya sendiri, namun mulutnya tidak berhenti. “Apakah kau kemudian tidak pernah melakukan sesuatu yang salah? Seperti berbohong padaku selama tiga minggu ini tentang di mana kau menghabiskan Sabtu-mu seharian?”

“Sungguh, Jeongguk,” balasnya, merasa sakit hati karena diteriaki seolah Jeongguk tidak pernah melakukan apa pun yang menyakitinya, seolah Jeongguk seorang... “Kau sendiri bukan seorang santa.”

“Kenapa kau selalu memberi tahuku kau sedang bersama Yugyeom padahal kau tidak sedang bersamanya?” Tanyanya lagi, tidak mengenali suaranya sendiri—seolah tubuhnya bergerak begitu saja diluar kehendaknya. Mulutnya bicara begitu saja di luar kendalinya. “Kenapa kau membohongiku? Dan sekarang datang padaku, meneriakiku tentang rasa percaya?”

Jeongguk menghela napas, memejamkan matanya dengan erat hingga keningnya berkerut. “Kau akan selalu membuat segalanya tentang dirimu, 'kan, Taehyung? Aku baru saja memberi tahumu perasaanku, memberi tahumu semua keluhanku dalam hubungan kita dan hal pertama yang kaukatakan adalah tentang dirimu.”

“Kau memang berbohong padaku,” sahut Taehyung pelan, tidak lagi paham dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Dia hanya kebingungan, merasa seolah dia menonton dirinya sendiri meneriaki Jeongguk sekarang; tidak merasakan dirinya, tidak mendengar suaranya sendiri.

Jeongguk melakukan sesuatu yang membuat Taehyung terkesiap kaget dan berjengit. Dia melepaskan tangan Taehyung, mengibaskannya dengan keras hingga Taehyung mengernyit dan melemparkan kepalannya ke udara kosong di hadapannya kuat-kuat, menekuk sikunya agar pukulannya tidak mengenai Taehyung seraya meneriakkan sesuatu tanpa suara—pembuluh darah di pelipisnya berdenyut.

“Ya Tuhan, Taehyung.” Jeongguk menghela napas tajam dan mengusap wajahnya. Dia melangkah menjauhi Taehyung, menenangkan dirinya sendiri yang tersengat perasaan frustrasi. “Ya Tuhan.” Keluhnya penuh amarah yang tidak bisa dilampiaskannya.

Tangan Taehyung jatuh ke sisi tubuhnya, berdenyut lega karena aliran darah kembali berjalan normal namun dia tidak merasakannya. Dia menatap Jeongguk yang bergerak-gerak di hadapannya, nampak berusaha keras mengontrol emosinya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya keras. Mereka bersidiam, tidak ada yang bersuara sama sekali kecuali suara binatang dan malam di luar sana. Taehyung mendengar suara napasnya sendiri yang berdenging di telinganya—membuatnya sedikit pusing.

“Aku konseling.” Kata Jeongguk kemudian tanpa menoleh, meletakkan satu tangannya di pinggang sementara tangan lainnya di rambutnya. Taehyung mengerjap, menatap punggungnya. “Aku bertemu psikolog secara reguler sudah selama tiga minggu karena aku membutuhkan bantuan dengan emosiku dan kelelahanku.”

Taehyung mengerjap, masih merasa seolah melayang dari tubuhnya dan tidak menjejak tanah. Suara Jeongguk terdengar jauh sekali darinya—seolah dia berada di dalam air. Pandangan matanya buram dan dia kebingungan karena tidak merasakan tubuhnya sendiri. Kepalanya berdenging, menyala dengan ketakutan bahwa Jeongguk akan meninggalkannya.

Dia mengerjap, “Dan kenapa...?” Kepalanya terasa ringan sekali sekarang, dia seperti balon yang melayang naik ke atas dan dia menyaksikan tubuhnya sendiri melayang—dia merasa mengulurkan tangan namun tangannya diam.

Jeongguk menoleh, menatapnya dan menghela napas. Dia nampak kecewa, marah, bingung, dan sedih. Taehyung tersengat rasa bersalah dan takut: dia yang membuat Jeongguk marah. “Aku butuh bantuan.”

Taehyung merasa mabuk dan kebingungan. Dia membuat Jeongguk marah. “Tidak bisakah 'ku membantumu?” Dia menatap Jeongguk, tubuhnya terasa seperti jeli. “Kau akan meninggalkanku?”

Jeongguk menghela napas, “Taehyung,” keluhnya. “Tidakkah kau mendengar semua kata-kataku tadi? Tidakkah kau mendengarkannya? Mengapa segalanya harus tentangmu?” Dia memijat pelipisnya, sebelum menghela napas keras.

“Kau tahu,” katanya kemudian dengan nada final yang membuat Taehyung bergidik ngeri. “Kau pikirkan apa yang kukatakan, tidak ada gunanya bicara sekarang. Kita bicara lagi besok. Aku tidak bisa berada di sekitarmu sekarang, aku sangat marah. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan menyakitimu dan akan kusesali nanti.”

Sesuatu jatuh di dalam diri Taehyung, pecah berhamburan seperti sebuah vas yang dibanting. Jantungnya sejenak berhenti berdetak, napasnya tercekat dan darah surut dari wajahnya. Jeongguk... pergi? Sekarang? Dia berusaha mengatakan sesuatu, namun tubuhnya tidak meresponsnya sama sekali. Dia melihat Jeongguk dari kejauhan, pandangannya kabur—apakah dia menangis?

Jeongguk mendekat ke arahnya, mengulurkan lengan kanannya dan merengkuhnya dengan separuh badannya. Dia mengecup kening Taehyung dan menghela napas berat sekali lagi. “Istirahatlah,” katanya dengan suara mendengung, rasanya seperti Taehyung sedang tenggelam di dalam air.

Jeongguk... pergi? Pergi darinya?

“Besok aku akan menjemputmu.” Dia mengusap punggung Taehyung lalu melepaskan pelukannya dan melangkah keluar dari kamar Taehyung.

Mereka... putus?

Dan semoga tidak dari hidup Taehyung juga.


ASTAFIRULO CAPE YA NGETIK SCENE MARAH HDEEH enjoy ehe x

cw // session scene .


ps. MOHON UNTUK TIDAK MELAKUKAN DIAGNOSIS SENDIRI. jika kalian membutuhkan bantuan, silakan menghubungi profesional berlisensi. trims x


People pleaser,”

Jeongguk mengerjap, menatap Thia yang duduk dengan tenang di hadapannya. Tersenyum lembut seperti biasa dengan aroma lembut bunga dan parfum binatu dari sweter yang digunakannya. Rambutnya yang keperakan diikat kuda longgar, di hanya mengenakan lipstik tipis dan selapis bedak tabur yang beraroma manis. Jeongguk mengaitkan jemarinya di atas pangkuannya, menatap kuku-kukuknya yang rusak karena bekerja dengan makanan dan pisau—dia harus memotongnya nanti sebelum bekerja.

“Energimu habis terkuras karena kau sibuk memikirkan emosi orang lain, mengambil tanggung jawab yang bukan porsimu.” Thia melanjutkan dengan lembut. “Apakah rasanya ketika hari berakhir, badanmu begitu letih seolah energimu terkuras habis dan kau hanya ingin berbaring lalu menangis?”

Jeongguk mengangguk, tidak pernah menyadarinya hingga beberapa waktu belakangan ini. Dengan Taehyung bersikap sedikit tidak masuk akal sebagai pelampiasan amarahnya untuk ayahnya, dia menyala dengan emosi negatif yang membuat Jeongguk kelelahan. “Begitu, ya.” Katanya, tubuhnya gemetar karena dia mendapatkan jawabannya.

Jawaban dari semua kelelahan tanpa ujungnya, perasaan kosong aneh setiap kali hari berakhir, semua emosi-emosi yang tidak dipahaminya sama sekali. Semua karena dia berusaha menjadi people pleaser. Sejak kapan dia berubah menjadi begitu? Apakah dia memang sejak awal bersikap begitu? Jeongguk pikir sudah sewajarnya dia bersikap begitu kepada semua orang; dia bersikap baik, 'kan? Apakah sekarang bersikap baik juga termasuk dosa?

“Gung,” Thia memulai dengan lembut. “Perasaan orang lain, termasuk bahagia atau amarah mereka, bukan tanggung jawabmu. Itu urusan mereka. Berhenti berusaha membahagiakan mereka karena kau tidak akan bisa.” Thia menatapnya dan Jeongguk berusaha mendengarkan, berusaha tidak mendebatnya.

Lalu siapa lagi yang bertugas membahagiakan orang tuanya? Taehyung?

“Bahagia individu adalah urusan mereka sendiri. Manusia itu memilih, Gung.” Jelasnya, menyilangkan kakinya di kursinya—menyandarkan tubuhnya, gestur yang membuat Jeongguk mendadak rileks. “Jika mereka tidak memilih untuk bahagia, untuk memaafkan, maka mereka tidak akan bahagia dan memaafkan. Kau bisa berusaha, selama ini kau sudah berusaha membahagiakan mereka dan melupakan hal terpenting dari semuanya.”

Jeongguk mengerjap, menatapnya.

“Kau melupakan dirimu sendiri.” Thia tersenyum, sendu dan menghibur—simpati erat yang membuat Jeongguk tersengat rasa sedih aneh. Seperti seseorang yang sangat dicintainya baru saja dimakamkan, perasaan kosong dan terasing. Perasaan bingung tidak berkesudahan itu. “Lalu dengan berusaha selama ini, apakah itu membuatmu bahagia? Memastikan semua orang bahagia dengan membiarkan dirimu sendiri terinjak-injak membuat dirimu atau mereka sungguh-sungguh bahagia?”

Jeongguk diam, memikirkan pertanyaan itu baik-baik. Apakah dia bahagia? Dia bahagia, setidaknya setiap kali melihat Taehyung bahagia dalam pelukannya. Jeongguk berhenti, mengolah kembali ingatannya dengan perlahan—mengais emosi-emosi yang dibotolkannya, disegelnya di sudut kepalanya, untuk dilupakan karena dia merasa tidak layak merasakan emosi itu. Menyadari ada beberapa waktu ketika dia kelelahan bahkan setelah melihat Taehyung bahagia, perasaan kosong bahkan saat melihat Taehyung bahagia.

Ada sesuatu yang kurang, hilang, kosong dan belum terisi di hatinya.

Apakah Taehyung bahagia? Di beberapa kesempatan, ya. Dia nampak bahagia, namun ada beberapa kali di mana Jeongguk sudah berusaha sekuat tenaga—mengerahkan segala yang dimilikinya untuk membuat Taehyung bahagia, namun dia tetap jengkel dan marah. Tetap pahit dan getir, malah berbalik menyerangnya seolah Jeongguk tidak melakukan apa pun. Itu membuatnya sangat frustrasi, menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu membahagiakan Taehyung.

“Kadang,” katanya pelan—memikirkan betapa menakjubkannya pekerjaan Thia yang membantu orang-orang menguraikan isi kepala yang mereka sendiri tidak pahami. Membantu orang-orang menemukan jawaban dari apa yang bahkan tidak mereka pikirkan.

“Dalam kesempatan-kesempatan di mana kau merasa bahagia setelah membuat mereka bahagia, apakah kau tidak merasa kelelahan?”

Jeongguk mendesah, menyadari Thia sudah tahu jawabannya. Dia membongkar botol-botol emosinya, mencoba mengingatnya dan merengkuh emosi-emosi itu sekarang. “Selalu kelelahan.” Bisiknya, menatap jemarinya sekali lagi—mulai merindukan Taehyung.

Ini sudah sesi ketiganya dengan Thia, setiap sesi setidaknya berjalan tiga hingga lima jam karena Jeongguk tidak punya banyak waktu kosong. Dia juga harus mengarang alasan untuk Taehyung yang semakin hari nampak semakin curiga dan tidak lagi menerima alasan boys time bersama Yugyeom di mana dia dilarang ikut. Mereka juga beberapa kali melakukan konseling via telepon ketika Jeongguk membutuhkan bantuan dan tidak dalam keadaan bisa bertatap muka. Jeongguk juga menyadari dia sekarang mulai mencari Thia untuk bantuan, mulai memasrahkan diri untuk dibantu dan tidak lagi melawan. Merasakan bahwa bantuan Thia membuatnya merasa lebih baik.

Biasanya, sesudah sesi dia akan membelikan Taehyung makanan sebelum mampir ke Puri, mengendap ke kamar Taehyung tentu saja karena tidak ingin bertemu ayahnya dan memeluknya hingga lelap. Jeongguk selalu berhasil lolos dengan alasan 'Yugyeom pulang dengan pacarnya' setiap kali mampir ke Puri Taehyung entah menjemputnya untuk menginap di Puri Jeongguk atau menemaninya hingga tidur padahal dia memang selalu ke Denpasar sendirian.

Setiap sesi juga menguras tenaganya. Thia membimbingnya melalui emosi-emosinya sendiri, semua kenangan yang tidak disadari Jeongguk, semua sikap tidak sopan dari orang-orang yang diterima Jeongguk begitu saja. Menyadari betapa dia sangat babak belur karena sikap terlalu baiknya. Membuka botol-botol emosi itu dan meminumnya, membuat Jeongguk kadang sedikit pusing hingga mereka harus menghentikan sesi sejenak dan makan cokelat untuk membuat Jeongguk lebih baik.

Jeongguk tahu waktunya menipis, Taehyung mulai curiga. Dia harus membuat alasan yang lebih kuat atau jujur. Namun mengingat pendapat Taehyung tentang psikolog, berbohong terdengar lebih baik untuk saat ini. Dia akan memberikan Taehyung beberapa soft baked cookies nanti, ayah Jeongguk ingin dia datang malam ini dan menginap. Mereka akan membicarakan masalah intervensi masalah Taehyung dan ayahnya.

“Maka,” suara Thia mengembalikan Jeongguk ke masa sekarang—dia mendesah, memaksa kepalanya fokus pada satu pembicaraan. “Sebaiknya kau mulai belajar menghargai dirimu sendiri. Percayalah, manusia memilih untuk menjadi bahagia. Jika mereka tidak memilih, maka mereka tidak akan bahagia. Tidak peduli apa pun yang kaulakukan. Mari, keluarkan beban itu dari dirimu sendiri—terlalu berat jika kau harus bertanggung jawab atas bahagia semua orang kecuali dirimu sendiri.”

Thia mengajari Jeongguk caranya bicara positif kepada dirinya sendiri: dimulai dengan berhenti mengatakan hal negatif ketika keliru dan menggantinya dengan kata-kata semangat semacam, 'baiklah kita gagal hari ini, mari coba lagi besok'. Thia juga meminta Jeongguk bicara dengan dirinya sendiri, maka Jeongguk mencobanya dengan membayangkan ada orang lain di kepalanya bersama—mengobrol dengannya ketika lelah, memeluknya ketika dia kedinginan. Jeongguk seringkali mandi dan menyabuni tubuhnya, mengatakan terima kasih pada tubuhnya karena sudah berusaha.

“Terima emosimu,” kata Thia pada sesi mereka kemarin. “Jika kau merasa marah, terimalah marah itu. Jangan dilawan, jangan diabaikan, jangan disingkirkan. Silakan memberikan ruang pada dirimu untuk merasakan amarah, untuk marah. Terimalah semua emosimu, biarkan dirimu merasakannya—mengenal tubuhmu sendiri, mengenal dirimu sendiri. Ketika kau sudah mengenalinya, semakin mudah untuk mengontrol emosimu sendiri.”

Jeongguk juga mulai menulis jurnal, berkeluh kesah dengan menuliskannya. Kadang kala dia hanya mencoret-coret halamannya karena otaknya benar-benar lelah, atau merobeknya. Tidak selalu tulisan, tapi ternyata hal sesederhana itu benar-benar membantunya. Dia selalu menyegel halaman yang sudah ditulisnya dengan lem kertas, agar dia tidak membacanya ulang karena Thia memintanya untuk: “buang emosi itu, jangan diambil kembali.”

Juga melakukan hal sesederhana: 'tidak ingkar janji pada dirimu sendiri'. Jeongguk baru tahu konsep ini bahwa ketika pagi dirinya berpikir, “malam ini aku akan tidur awal,” lalu ternyata mengingkarinya dia ternyata sedang merusak kepercayaan dirinya sendiri padanya. Hal sesederhana, “siang ini aku akan makan piza” dan tidak membelinya karena malas, dia juga sedang merusak kepercayaan dirinya sendiri padanya.

“Jika dirimu sendiri tidak bisa mempercayaimu, bagaimana kau bisa mempercayai orang lain?” Begitu Thia mengatakannya. “Mari mulai menepati janji-janji kecilmu pada diri sendiri sebelum melakukannya ke orang lain. Buat dirimu sendiri percaya padamu agar kau bisa mengendalikan hidupmu.”

Konsep yang asing, Jeongguk pikir itu hal remeh namun ternyata ketika dia berusaha menepati janji-janji kecil itu, dia merasa jauh lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Merasakan kebahagiaan kecil yang meledak di dasar perutnya ketika dia melakukannya. Bahkan hal sekecil, “olahraga lebih lama” dan tidak menundanya lagi. Tubuhnya senang dan Jeongguk kaget menerima respons itu. Nyaris seolah ada dua orang berbeda di dalam tubuhnya dan Jeongguk sedang berkenalan dengannya, berusaha menjalin pertemanan untuk mengalahkan kehidupan.

Pengalaman magis yang anyar, namun Jeongguk mengapresiasinya.

“Tidakkah,” Jeongguk di masa sekarang diam sejenak, kebingungan. “Tidakkah itu berarti aku durhaka?”

Thia tersenyum lembut, “Tentu saja tidak. Kau tidak berhutang apa-apa kepada siapa pun kecuali dirimu sendiri, bahkan tidak kepada orang tua.” Katanya dan Jeongguk sejenak terenyak—kaget pada konsep itu. “Kau tidak minta dilahirkan, orang tua yang menghadirkanmu. Kewajiban mereka membesarkanmu, memberikan fasilitas yang kaubutuhkan dan kau tidak harus membalasnya. Sudah sewajarnya, orang tua memperlakukanmu dengan rasa hormat sama seperti yang mereka inginkan. Mutual respect.”

Jeongguk mengerjap, Thia tidak mengenal ayahnya. Mana mungkin lelaki tua itu paham apa yang namanya menghormati anaknya, mendengarkan opini dan keinginan anaknya. Menurutnya, anak adalah aset. Alat untuk memberikannya kehidupan yang lebih layak, melanjutkan keturunan dan mimpinya yang tertunda. Tidak ada ruang untuk hal remeh semacam 'keinginan Jeongguk'.

“Mungkin bukanlah konsep yang sering kau dengar, tapi itulah kebenarannya.” Thia menatapnya, menunggu reaksi Jeongguk menyeruak di wajahnya. “Kau bisa mengkomunikasikan emosimu pada orang tua; beri tahu mereka bagaimana kau ingin diperlakukan, apa yang kauinginkan. Mulailah berusaha melepaskan balon-balon yang bukan milikmu, Gung. Lepaskan tanggung jawab yang bukan porsimu: membahagiakan orang lain, emosi-emosi orang lain.”

Jeongguk bersandar di kursinya, menatap ke luar jendela berusaha memproses kata-kata Thia tadi. Bersikap tidak peduli mungkin di beberapa kesempatan adalah sebuah anugerah. “Bagaimana jika itu salahku?” Tanya Jeongguk kemudian. “Tidakkah itu menjadi tanggung jawabku?”

“Benar.” Thia mengangguk. “Porsimu hanya hingga meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya. Masalah mereka memaafkan atau tidak, itu sudah bukan lagi kapasitasmu. Karena jika mereka membenci, maka mereka akan membenci. Ingat tentang 'manusia itu memilih'?”

“Jika dia memilih untuk tidak memaafkanku?” Tanya Jeongguk perlahan.

“Maka tidak apa-apa. Setidaknya, kau sudah melakukan kapasitasmu untuk meminta maaf.”

Jeongguk membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu namun ragu. Bagaimana jika dia benar-benar membutuhkan maaf dari orang ini? Mungkinkah dia hanya meminta maaf sekali tanpa melakukan apa pun untuk membuatnya nampak 'berniat' meminta maaf? Dia membuka mulutnya lagi, “Bagaimana jika kesalahanku fatal dan aku benar-benar membutuhkan maafnya?”

“Kita beri mereka ruang,” kata Thia lembut. “Kita beri ruang untuk memproses amarah mereka, memproses emosi-emosi mereka sebelum kemudian entah memaafkan atau tidak. Tetapi, jangan memohon pada siapa pun. Tolong hormati dirimu sendiri. Jika mereka memutuskan untuk tidak memaafkanmu, maka berhentilah. Hormati dirimu sendiri untuk berhenti karena jika mereka pendendam, maka mereka tidak akan pernah memaafkanmu.”

“Lalu masalah sahabatmu,” kata Thia kemudian setelah mereka beristirahat sejenak dengan minum air, makan cokelat, dan meregangkan tubuh sebelum kembali melanjutkan obrolan. “Saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat dalam hubungan kalian.” Dia nampak cemas dan Jeongguk gelisah; Thia tidak pernah nampak cemas.

“Apakah ketika dia menaikkan suaranya kau merasa takut? Ketakutan tiba-tiba yang membuatmu terkesiap? Ketakutan yang membuatmu secara fisik berjengit? Merasa kecil?”

Jeongguk menatap Thia, bagaimana dia... tahu?

Ekspresi Jeongguk nampak cukup untuk Thia mengetahui jawabannya karena dia melanjutkan dengan nada yang jauh lebih lembut lagi, “Apakah kemudian kau merasa benar-benar tidak berdaya? Dingin karena ketakutan? Otomatis ingin meminta maaf pada entah apakah itu benar-benar kesalahanmu atau bukan?”

Jeongguk mengerjap, merasa mulas karena betapa benarnya Thia menjelaskan perasaan itu. Dan ekspresi ibu paruh baya itu membuat Jeongguk gelisah, dia nampak cemas dan benar-benar perhatian pada Jeongguk—lebih dari apa yang ibu kandung Jeongguk pernah lakukan untuknya.

“Gung,” bisik Thia lembut. “Benarkah begitu? Tolong tanyakan pada dirimu sendiri.”

Jeongguk membuka mulutnya, melirik ke sekitar ruangan merasa entah bagaimana Taehyung akan mendengarnya mengatakan ini kepada Thia dan marah padanya. Dia tidak mau Taehyung marah. Dia... takut pada kemarahan Taehyung. Napas Jeongguk putus sejenak saat dia menyadari ini; dia takut pada kemarahan Taehyung, dia takut pada Taehyung. Dulu dia berpikir perasaan ini karena dia sangat mencintai Taehyung, maka wajar dia takut kekasihnya tidak bahagia atau jengkel karenanya. Apakah itu tidak benar?

Tubuhnya, secara aneh, bereaksi pada perasaan itu. Versi dirinya yang selama ini berusaha diajaknya berteman tidak menyukai perasaan itu. Ada sesuatu yang berdesir di dalam sana saat Jeongguk memikirkan betapa dia takut pada Taehyung—perasaan dingin yang membuat dasar perutnya terasa kaku. Tidak nyaman sekali dan setelah beberapa hari ini belajar mengenal dirinya, bicara lembut pada tubuhnya sendiri, memperlakukan tubuhnya dengan bertanggung jawab: tidur cukup, makan tepat waktu, minum cukup air, perasaan ini membuatnya tidak nyaman.

“Kau melirik ke sekitar ruangan,” tegur Thia lembut, ikut mengedarkan pandangan ke ruangan mereka. “Kau takut dia mendengar ini?”

Jeongguk memejamkan matanya, meremas kedua tangannya. Dia takut pada Taehyung. Perasaan itu muncul lagi, lecutan emosi aneh yang membuatnya tidak nyaman. Sesuatu di ulu hatinya terasa berdenyut sakit kapan pun dia melakukan hal tidak sopan pada dirinya sendiri.

Dia membuka mulutnya, mencoba menemukan suaranya sendiri saat berusaha melepaskan ketakutan itu dari kepalanya. Tidak yakin apakah takut pada kekasihnya sendiri adalah hal yang wajar? Dan kenapa dia harus takut pada Taehyung? Tidak ada yang salah dengan Taehyung, 'kan? Dia hanya kesulitan mengatur emosinya; banyak orang yang kesulitan melakukannya, bahkan Jeongguk.

Lalu kenapa dia harus.... “Aku takut padanya.” Jeongguk gemetar, tangan kanannya bergerak ke siku lengan kirinya—meremasnya kuat, ingin memeluk dirinya sendiri karena rasa dingin aneh yang menjalar di tubuhnya.

Dia sangat... “Aku sangat takut padanya.” Bisiknya sekali lagi, merasakan kalimat itu di lidahnya—membiarkan segala emosi yang selama ini ditahannya meleleh seperti menyesap sebutir permen tamarin yang manis, asam, mengejutkan semua taste buds-nya.

“Aku takut pada Taehyung, sangat takut.”

*

tw // mention of physical abuse , favoritism .


Taehyung berbaring di ranjangnya, menghela napas panjang ketika rasa kosong tidak nyaman itu mulai merambat di hatinya.

Dia menatap langit-langit kamarnya, setelah Jeongguk menurunkannya di halaman dia mulai merasa kelelahan dan tidak ingin kembali ke rumahnya. Dia ingin tetap di sana, di atas ranjang Jeongguk dan dalam pelukannya—tidak ingin menghadapi dunia nyata. Ingin menghindari semua orang, tidur dalam pelukan Jeongguk selamanya. Selalu ingin Jeongguk berada di sisinya, menenangkannya dan memeluknya. Membisikinya bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Namun toh dia tetap harus kembali. Dia menyugar rambutnya, menyentuh memar di wajahnya yang akan menjadi pertanyaan besok saat bekerja. Taehyung bercermin tadi, begitu memasuki kamarnya dan menghela napas melihat warna ungu kebiruan yang menyebar di atas tulang pipinya. Dia akan menutupinya dengan masker besok daripada harus menjawab pertanyaan. Luka di bibirnya membuat Taehyung sedikit kesulitan membuka mulutnya karena sudah mulai mengering, tetapi tidak masalah.

Semoga besok tidak ada manusia menyebalkan yang memaksanya berteriak.

Jeongguk memanjakannya sejak membuka mata tadi pagi; menyuapinya makanan dengan sayang, memeluknya hingga lelap, dan membantunya mandi. Dia duduk di sisi Taehyung yang bersandar di kepala ranjang, memangku sepiring makanan yang ditiupinya dengan telaten sebelum dengan lembut menyuapi Taehyung. Tidak mengeluh, tidak memasang wajah terganggu sama sekali. Dia melakukannya dengan begitu tulus hingga Taehyung merasa hatinya menghangat. Jeongguk juga mengobati lukanya sekali lagi, membalutnya sebelum menyelundupkannya ke garasi dan mengantarnya pulang.

“Aku akan membicarakan pada Ajung masalah membantumu nanti saat makan malam.” Katanya ketika mengemudi ke arah Klungkung, ke Puri Taehyung yang bersandar di tempat duduk penumpang dengan sekarton susu cokelat kesukaannya yang dibelikan Jeongguk.

“Aku juga akan bicara dengan Jikgung setelah kau bicara.” Sahut Taehyung saat mobil melambat karena lampu lalu lintas menyala kuning—dia suka kebiasaan Jeongguk yang ini, selalu melambat ketika lampu lalu lintas menyala kuning alih-alih menambah kecepatan. Dia berkendara dengan aman dan Taehyung sangat mengapresiasinya.

“Yep. Boleh.” Jeongguk menatapnya sayang dan Taehyung menggenggam tangannya yang berada di atas persneling, mengusapnya sayang. “Bolehkah aku meminta tolong untuk jangan melakukan apa pun yang mungkin membuat ayahmu marah sementara? Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Wigung.”

Taehyung membuka mulut, hendak membantah karena dia benar-benar benci menuruti ayahnya. Dia ingin kabur dari rumah itu, begitu kuatnya hingga dia ingin menangis. Taehyung jarang menangis, dia tidak terbiasa menangis sejak menginjak kanak-kanak karena jika dia menangis ayahnya akan memukulnya semakin keras. Maka dia kemudian belajar untuk berhenti menangis tidak peduli seberapa sakit dirinya. Namun Jeongguk.

Jeongguk melelehkannya seperti lilin, mengikisnya seperti ombak. Sikap lembutnya membuat Taehyung terbuai dan dia belum pernah merasa ingin kabur dari Puri, meninggalkan ibu dan kakaknya sekuat ini. Dia tidak pernah egois, tidak ada ruang untuk egoisme di hidupnya ini namun untuk Jeongguk, dia rela bersikap egois. Dia ingin bersikap egois. Tapi dia juga tahu dia tidak bisa.

“Ya, baiklah.” Katanya akhirnya, nyaris dengan nada menyerah yang memilukan hingga Jeongguk meremas jemarinya—mengangkatnya lalu mengecupnya lembut, memejamkan matanya seolah mencium tangan Taehyung adalah hal paling menakjubkan dalam hidupnya.

“Terima kasih, Sayang.” Bisik Jeongguk parau, terdengar begitu penuh syukur hingga Taehyung merasa lebih baik karena mengiyakannya.

“Aku tidak mau pulang,” keluhnya kemudian saat mobil Jeongguk berhenti di depan halamannya dan Jeongguk melepas sabuk pengamannya, menggeser duduknya hingga menatap Taehyung sebelum meraih kantung spundbound di kursi belakang.

Dia memasakkan makan malam untuk Taehyung; sederhana sekali, hanya tumis baby buncis dengan sosis dan telur juga ayam pedas manis. Dikemas Jeongguk dengan rapi di dalam kotak makan lengkap dengan nasi karena dia tahu betapa Taehyung tidak ingin bertemu siapa pun.

“Kita bertemu besok, oke?” Bisiknya membujuk seraya meletakkan makanan di pangkuan Taehyung. “Aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin lalu ke Alila. Kita bisa makan bersama sebelum pulang, bagaimana?”

Taehyung menatapnya—asing sekali dengan bujukan, asing sekali dengan permintaan. Dia hanya pernah memproses perintah dan pernyataan, tidak pernah ada yang bertanya padanya dan mengizinkan Taehyung memikirkan apakah dia menyukai itu atau tidak, mengizinkan Taehyung untuk memikirkan keinginannya sendiri.

“Ya,” katanya, senang. “Boleh. Aku akan memesankan meja di Seasalt.”

Jeongguk tersenyum, “Jangan terlalu romantis, nanti aku mati.” Dia kemudian menempelkan jemarinya di bibirnya sebelum menyentuh kening Taehyung. “Masuklah, akan kutelepon begitu tiba di rumah.”

Dan di sinilah Taehyung sekarang—lima menit setelah menatap Yaris Jeongguk menjauh, sudah sangat merindukannya. Taehyung menutup matanya dengan lengan, bernapas melalui mulutnya yang sedikit kaku. Syukurlah saat dia memasuki rumah tadi, dia tidak bertemu siapa pun—bahkan tidak Lakshmi, mungkin kakaknya sedang keluar dengan Wisnu. Dia sengaja memilih jalan yang terjauh dari kamar ayahnya, tidak yakin bisa menahan dirinya sendiri agar tidak menjawab jika dia sekarang ditegur.

Dia ingin menyenangkan Jeongguk, ingin membuatnya menatap Taehyung bangga karena berhasil menghindari masalah. Dia ingin Jeongguk memujinya karena bersikap tenang, menghindari masalah sesuai permintaan Jeongguk. Maka dia akan mencoba. Dia meraih kotak makanan Jeongguk, duduk di atas kasur masih dengan pakaian yang digunakannya dari Puri Jeongguk tadi dan membongkarnya.

Dia meletakkan tiap bagian kotak makan di dekatnya dan meraih sendok yang juga dibekali Jeongguk untuknya. Dia baru saja menyendok buncisnya, menyuapnya dan meringis karena rasanya yang asin saat ponselnya berdering. Taehyung bergegas meraihnya, menemukan nama Jeongguk berkedip di layarnya dan dia bergegas mengangkatnya.

“Hai,” sapanya, sedikit terlalu bersemangat. “Sudah di rumah?”

Terdengar senyuman Jeongguk dari seberang sana, “Belum, aku masih di bypass tapi aku sudah merindukanmu. Wigung sedang apa?” Tanyanya dan sejenak, terdengar suara gemeresak Jeongguk menyetel ponselnya ke mode handsfree dan meletakkannya di pangkuannya.

“Aku baru saja makan masakanmu,” Taehyung menunduk, menatap makanannya di kasur—Lakshmi tidak akan mengapresiasi ini tapi Taehyung tidak peduli. “Agak terlalu asin.”

Jeongguk terkekeh, “Itu karena kau seharusnya memakannya dengan nasi, Sayang.”

Taehyung tersenyum, menuang sayurannya ke atas nasi lalu mulai memakannya—ledakan rasa terbit di lidahnya dan dia mendesah. Mungkin bukan makanan paling mewah yang pernah dimakannya, dia bisa memasak sesuatu yang lebih rumit dan megah dari ini, namun fakta bahwa Jeongguk menggunakan waktunya yang berharga untuk memikirkan Taehyung lalu memasakkan sesuatu untuknya, membuat makanan itu terasa lebih lezat.

Aku bisa memasak sesuatu yang lebih rumit, tapi maaf, Biang hanya punya itu di kulkas.” Kata Jeongguk lagi dari seberang seolah mendengar isi kepala Taehyung.

“Tidak apa-apa,” Taehyung menyendok potongan ayam fillet buatan Jeongguk dan menyuapnya—ayamnya empuk dan dibumbui sempurna, nafsu makannya melonjak naik maka dia meraih nasinya lalu mulai makan dengan lahap. “Ini enak, kok.”

Syukurlah Wigung menyukainya,” Jeongguk menghela napas lega dari seberang sana sementara Taehyung menggasak isi kotak bekalnya, menjejalkan makanan ke mulutnya. “Oh, ya,”

Taehyung berhenti makan, mendengarkan. “Kenapa?” Tanyanya, berhenti mengunyah potongan ayam dengan nasinya yang ternoda kaldu sayuran.

Jeongguk ragu sejenak sebelum mengatakan, “Aku akan memperingati Mirah tentang Devy. Maksudku, mereka dekat. Aku tidak mau melibatkan dia pada urusan kita dan Devy. Dan agar dia menjaga diri juga dari sifat Devy itu. Bagaimana menurut Wigung?”

Taehyung meletakkan sendoknya, memikirkan Mirah membuat nafsu makannya sedikit surut. Belum lagi fakta bahwa Sabtu kemarin, Jeongguk berbohong padanya dan belum mengatakan yang sebenarnya. Mereka malah teralihkan karena ayah Taehyung. Haruskah Taehyung bertanya? Atau haruskah dia membiarkan Jeongguk begitu saja hingga dia mengatakannya?

... Wigung?”

Taehyung mengerjap, menatap makanannya lalu mendesah. Jeongguk mencintaimu, sangat mencintaimu. Berhenti begitu. Pikirnya jengkel lalu mengatakan, “Baiklah, tidak apa-apa. Kau boleh memberi tahunya, tapi tidak perlu mengatakan terlalu banyak.”

Jeongguk diam lalu mengangguk, “Baiklah, trims, Wigung?”

“Kembali,” sahutnya dan Taehyung kembali meraih sendoknya, sayang sekali makanan yang dibuatkan kekasihnya dengan penuh cinta harus dibuang karena dia jengkel. Maka dia kembali menjejalkan makanan sementara Jeongguk mengemudi.

Jeongguk tiba di Puri kemudian, mereka tetap tersambung hingga Jeongguk tiba di kamarnya—sempat berhenti untuk menyapa ayahnya dan mengatakan dia akan membicarakan sesuatu sehabis makan malam nanti. Jawaban ayahnya yang lolos melalui receiver telepon Jeongguk membuat Taehyung mulas.

Jika ini bukan tentang pernikahan, maka Ajung tidak punya waktu.”

Jeongguk diam sejenak sebelum mengatakan, “Bli Tjok ingin meminta bantuan Ajung, tapi meminta aku untuk mengatakannya duluan.”

Dan ayahnya setuju. Taehyung menghela napas, mengusap lukanya tanpa sadar sementara memikirkan bagaimana ayah Jeongguk memiliki titik lemah untuk Taehyung begitu saja namun tidak untuk anaknya. Dia teringat betapa hangatnya lelaki paruh baya itu menyambutnya dan menanyakan kabarnya, merangkulnya dan meremas bahunya—menatapnya bangga seolah Taehyung baru saja menemukan obat penyembuh kanker.

Taehyung memiliki perasaan campur aduk mengenai ini: setengah senang karena dia tidak mendapatkan itu dari ayahnya namun juga sedih karena teringat Jeongguk juga tidak mendapatkan itu dari ayahnya. Maka ketika dia bertemu ayah Jeongguk, dia berusaha menekan perasaan damai dan nyaman aneh yang diberikan perhatian ayah Jeongguk karena tahu Jeongguk juga tidak pernah mendapatkan perasaan aman dan nyaman ini dari ayahnya.

Nyaris terasa seperti berdosa, seperti merebut ayah Jeongguk.

Dia sedang melamun, menunggu Jeongguk kembali meraih ponselnya setelah mengganti baju saat pintu kamarnya diketuk. Dia mendesah, hanya ada dua orang yang mungkin menghormati privasinya di rumah ini: ibunya dan Lakshmi. Ayahnya pasti akan langsung membuka pintunya dan marah jika Taehyung mengunci pintunya.

Dan Taehyung tidak ingin bertemu siapa pun. Maka dia diam, berpura-pura tidak mendengarnya. Dia menyumpal telinganya dengan earphone dan berbaring, membelakangi pintu kamarnya. Karena sungguh: semakin hari, semakin dia membenci rumah ini. Semakin menggoda pilihan untuk kabur jika saja hidup ibu dan kakaknya tidak bergantung padanya. Tuhan tahu apa yang bisa dilakukan ayahnya pada ibunya jika Taehyung mengecewakan.

Ketukan terdengar lagi sebelum suara, “Tugung?”

Taehyung mendesah, Lakshmi. Dia tidak ingin bertemu siapa pun, bahkan kakaknya. Maka dia tetap menunggu Jeongguk, mengabaikan panggilan itu. Dia sudah mengunci ganda pintunya tadi, peduli setan jika ayahnya mengamuk.

“Tugung sudah di rumah? Sudah makan? Mbok Gek belikan makanan tadi, Mbok Gek gantung di depan pintu, ya? Diambil nanti.” Kata Lakshmi lembut sebelum diam, menungguk adiknya menjawab.

Taehyung tidak menjawab. Dari seberang sana, dia mendengar suara air mengucur berhenti dan Jeongguk bernyanyi lembut mengeringkan badannya. Dia sebentar lagi akan kembali ke telepon mereka.

Lakshmi akhirnya menyerah, “Dimakan, nggih? Mbok Gek tinggal tidur.” Katanya, namun masih tetap diam di depan pintu sebelum menyerah dan menuruni undakan kamar adiknya—pergi.

Taehyung menunggu, setidaknya 15 menit sebelum dia menghampiri pintu. Membuka selot dan kuncinya, membuka sedikit sekali daun pintu untuk meraih kantung plastik yang digantungkan Lakshmi di gagang pintunya. Taehyung bergegas menutup kembali pintunya, menguncinya sebelum membawa makanan itu ke kasurnya.

Dia membuka makanan itu di kasur, mendapati nasi goreng kesukaannya yang dibeli di langganan mereka dengan banyak potongan jeroan babi dan sayuran di dalamnya. Taehyung meraih sendoknya, mulai makan saat Jeongguk kembali ke ponselnya.

Oh? Wigung masih makan?” Tanyanya, Taehyung mendengar derit kasur saat dia berbaring dan merindukan aroma kasur Jeongguk. Gatal ingin mengendap kabur dari rumah ke Puri Jeongguk lagi.

Apakah ayah Jeongguk akan mengizinkannya tinggal di sana?

Mbok Gek membelikanku makanan, jadi kumakan saja.” Kata Taehyung, mendesah saat merasakan ledakan rasa familiar itu di mulutnya. Mereka selalu makan di sana kapan pun Taehyung ingin sedikit kemewahan.

Makanlah yang banyak,” kata Jeongguk lembut sebelum mengganti sambungan mereka menjadi video. Dia tersenyum, berbaring di ranjangnya menatap Taehyung yang menjejalkan makanan ke mulutnya. “Aku mencintaimu.”

Taehyung menelan makanannya dan tersenyum, merasakan tarikan kecil di lukanya. “Aku juga mencintaimu.”

Dan malam itu, sebelum tidur, dia menerima pesan dari Lakshmi: Selamat makan, Tugung. Selamat istirahat. Maaf, Mbok Gek belum bisa melakukan apa-apa untuk Tugung. Mbok Gek sayang Tugung.

Taehyung mendesah, menatap langit-langit kamarnya yang temaram sebelum mengerang. Apa yang sebenarnya harus dilakukannya dalam hidup untuk bahagia? Karena apa pun yang dicobanya, selalu memberikan efek samping mengerikan.

Taehyung tidak paham lagi, sama sekali tidak.

*

tw // mention of physical and verbal abuse , toxic parenting , father issue , suicidal thoughts .


Jeongguk menarik rem tangan mobilnya yang berhenti di depan gerbang Puri Taehyung, merogoh sakunya hendak menghubungi kekasihnya bahwa dia sudah menunggu di sana. Yugyeom di belakang, berbaring dengan kepala di atas tumpukan pakaian Jeongguk bermain game di ponselnya. Dia mengeluarkan ponselnya, menunduk menatap layarnya dan bergegas menyentuh 'Telepon' dan menekan angka 2, speed dial Taehyung di ponselnya persis saat Yugyeom tiba-tiba berseru dari belakang.

“Oh.” Kata Yugyeom, menempelkan wajahnya ke jendela mencoba melihat siapa yang mendekat ke mobil mereka. “Wiktu, ada yang datang!”

Jeongguk melirik adiknya dari spion tengah sebelum menoleh ke Puri Taehyung, menemukan figur langsing Lakshmi bergegas menghampiri mobil Jeongguk, nampak gelisah dan perut Jeongguk langsung mulas. Dia melempar ponselnya ke kursi penumpang sebelum bergegas melepas sabuk pengamannya dan keluar dari kursi pengemudi. Dia berlari mengitari kepala mobil untuk menghampiri Lakshmi.

“Turah,” sapa perempuan itu, matanya sedikit liar dan Jeongguk cemas setengah mati.

Mbok Gek,” sahut Jeongguk tegang—mulai mencemaskan Taehyung. Tadi selepas berjanji akan menjemputnya, Jeongguk mentraktir Yugyeom dan kekasihnya makan sebelum melepas gadis itu pulang. Jeongguk tidak mendengar dari Taehyung lagi. “Wigung kenapa?” Tanyanya.

Lakshmi melirik ke Puri gelisah. “Turah, tolong.” Bisiknya rendah. “Jika Tugung keluar, tolong jangan bereaksi pada wajahnya. Tolong.”

Hati Jeongguk mencelos, apa yang terjadi pada wajah Taehyung? “Apakah dia....?”

Lakshmi mendongak, menatap Jeongguk tepat di matanya dengan wajah berkerut yang membuat Jeongguk seketika paham apa yang terjadi. Dia menggertakkan rahangnya—bersumpah akan memperlakukan Taehyung selembut mungkin malam ini. Lakshmi membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu namun sudut mata Jeongguk menangkap Taehyung yang menuruni undakan ke arah mereka dengan tas tersampir di bahunya. Dia memberi tanda Lakshmi untuk berhenti dan perempuan itu menoleh, menemukan adiknya. Apa pun yang hendak dikatakannya tadi, dia urung.

Terlalu remang dan jauh untuk melihat wajahnya namun Jeongguk menunggunya, melangkah ke sisi Lakshmi untuk menyambut kekasihnya yang melangkah ke arahnya dengan langkahnya yang selalu diingat Jeongguk; panjang, tegas, dan keras. Jeongguk menahan napas, berusaha agar tidak kelepasan memasang ekspresi apa pun yang membuat Taehyung tidak nyaman namun toh ketika pemuda itu berhenti di depannya Jeongguk menghela napas berat.

Ada memar besar di wajahnya, ada jejak darah kering di bibirnya yang bengkak dan Jeongguk merasa hatinya diremas—diperas hingga dia kehabisan napas. Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh wajah Taehyung namun tangan pemuda itu lebih cepat. Dia refleks menepis tangan Jeongguk dengan suara plak! keras yang memukul Jeongguk mundur. Hatinya terluka; namun persentasenya lebih besar karena dia melihat memar di wajah Taehyung daripada telapak tangannya yang berdenyut oleh pukulan Taehyung.

Mereka bertatapan dalam diam dan Jeongguk menghela napas—hatinya berdenyut nyeri, terus menerus hingga dia pusing.

“Maaf,” bisiknya lembut, menenangkan dirinya yang terkejut karena reaksi Taehyung yang agresif padanya. “Kau sudah siap? Ayo,” dia menatap Taehyung yang berwajah keras di hadapannya—matanya berkilat penuh amarah yang tidak bisa disalurkan.

“Ayo pulang.” Bisiknya mengulurkan tangan, meraih tali tas Taehyung dengan lembut sebelum menyentuh bahunya. Sejenak berhati-hati agar Taehyung tidak merasa terancam oleh sentuhannya sebelum membimbingnya ke kursi penumpang.

Jeongguk melemparkan tatapan frustrasi pada Lakshmi yang menggeleng lembut sebelum mengangguk dan bergegas menghampiri kursi pengemudi. Dia memasuki kursi pengemudi, memasang sabuk pengamannya dan melirik Yugyeom yang mengerjap—kebingungan dengan atmosfer mencekam Taehyung. Jeongguk mendesah, ini pertama kali Yugyeom bertemu sisi Taehyung yang ini. Dia biasanya bersikap sangat manis di sekitar Yugyeom, kali ini dia benar-benar mengeluarkan sisinya yang pahit dan getir. Taehyung duduk di kursi penumpang, bertopang dagu dan menatap ke luar jendela—mengabaikan semua orang di dalam mobil.

Jeongguk menyalakan mobil, mengklakson Lakshmi yang melambai sekali sebelum menginjak gas. Perjalanan menuju Karangasem diisi keheningan yang menyiksa, Jeongguk beberapa kali melirik kekasihnya yang masih diam. Ketika melewati lampu jalanan, Jeongguk harus menahan napasnya agar tidak terkesiap karena memar di wajahnya begitu menyiksa. Di Candidasa, dia menepi di sebuah mini market.

“Kau mau sesuatu, Ogik?” Tanyanya pada adiknya menatapnya, nampak rikuh menyuarakan keinginannya maka Jeongguk tersenyum. “Wiktu belikan yang biasa, oke?”

Yugyeom bergegas mengangguk, tidak berani bahkan bernapas dengan keras di sekitar Taehyung. Jeongguk secara pribadi memahami ketakutan Yugyeom karena dia sendiri pun butuh waktu yang lama hingga terbiasa dengan sisi Taehyung yang ini. Dia begitu diam, misterius, dan tidak segan memukul siapa saja—melampiaskan amarahnya pada ayahnya ke siapa saja yang cukup sial berpapasan dengannya. Mungkin bukan sifat terbaik yang dimiliki Taehyung, namun Jeongguk tidak menemukan cara untuk membicarakan ini dengannya.

Jeongguk memasuki mini market, mengambil selusin susu cokelat kesukaan Taehyung dan snack kesukaan Yugyeom sebelum membayarnya di kasir. Menoleh cemas ke mobilnya, sejenak takut meninggalkan adiknya sendirian di sana bersama Taehyung yang sedang tidak baik namun dia yakin Taehyung tidak akan melampiaskannya pada Yugyeom. Taehyung menyayangi Yugyeom, dia takkan melakukannya.

Matanya menatap jendela gelap mobilnya, mendadak cemas. Memikirkan memar besar yang menyebar dari tulang pipi hingga sudut bibir Taehyung. Dia pasti meludahkan darah setelah pukulan itu, Jeongguk akan mengecek gusi dan giginya nanti jika Taehyung sudah tenang. Apa yang terjadi? Kenapa ayahnya mendadak mengamuk lagi?

Jeongguk menghela napas dengan tangan penuh belanjaan, tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana pada keluarga Taehyung. Dan sayangnya pemuda itu harus terjebak dalam lingkaran setan itu selamanya; tidak memiliki jalan keluar, setidaknya belum. Dia meletakkan semua di meja kasir, menambahkan kondom ke dalamnya karena miliknya habis. Taehyung mungkin sedang jengkel, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga. Pemuda itu membutuhkan seks untuk mengalihkan pikirannya.

Dia membawa tas belanjaannya bergegas kembali ke mobil, mendapati keduanya duduk manis persis seperti saat Jeongguk meninggalkannya. Dia menunggu sejenak hingga lalu lintas sepi sebelum bergegas membuka pintu, menyelipkan dirinya masuk, dan menutup pintunya. Saat lampu kabin menyala, dia menahan dirinya agar tidak menatap Taehyung. Dia menyibukkan dirinya dengan kantung belanjanya, memberikan Taehyung sekotak susu.

“Minumlah.” Bisiknya lembut dan Taehyung menerimanya—menatapnya dan Jeongguk tersenyum. “Kau bisa cerita nanti jika kau mau, jika tidak kita akan melupakannya. Tapi, aku harus mengobatimu, oke? Suka atau tidak.”

Taehyung menatap minuman di tangannya, seperti seekor macan kumbang yang terluka—eksotis, mendebarkan, mengancam namun juga lemah dan butuh dilindungi. Dia menyerigai, menggeram terancam karena tidak bisa melindungi dirinya sendiri sekarang maka Jeongguk harus benar-benar mempertimbangkan langkahnya jika tidak mau macan itu menyerangnya.

Jeongguk menahan napas saat akhirnya Taehyung melepaskan sedotan plastiknya dan menusuk karton susu itu, menyesapnya perlahan dan mengabaikan Jeongguk. Dia menghembuskan napas, menyerahkan belanjaan pada Yugyeom yang bergegas membongkar makanannya sebelum kembali berkendara. Syukurlah mereka tiba lumayan malam sehingga Taehyung tidak perlu bertemu ayah Jeongguk sekarang.

Setelah menyelundupkan kotak P3K dari rumah utama, Yugyeom bergegas kabur ke kamarnya, meninggalkan Jeongguk bersama Taehyung di kamarnya. Jeongguk mengunci pintu sebelum menghela napas dengan kotak P3K di tangannya, dia berbalik menemukan Taehyung bergelung di atas kasurnya—melipat lutut ke dadanya, menyeimbangkan sekotak susu di atas lututnya dan menatap lurus ke televisi yang menayangkan film tengah malam.

Jeongguk mendekat dan duduk di tepi ranjang di sisinya, “Wigung,” bisiknya lembut. “Boleh kuobati?”

Taehyung sejenak diam, menggigiti bibir bawahnya yang sehat dengan cemas sebelum mengangguk. Jeongguk merangkak naik ke kasur dan bersila di hadapan Taehyung sebelum mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Taehyung dengan lembut—mengarahkannya dengan lembut hingga menatap Jeongguk dan hatinya sekali lagi tersengat rasa pedih menatap memar di wajah Taehyung.

“Kenapa lagi kali ini?” Bisiknya, meraih kotak P3K dan mencari botol pembersih luka dan kapas. Dia membuka botol kecil kuning itu lalu menutup permukaannya dengan kapas, memiringkannya sehingga cairan kuning beraroma tajam obat membasahi kapas.

Taehyung tidak menjawab, dia meminum susunya dengan mata menerawang sementara Jeongguk dengan lembut menyentuh dagunya—menaikkan wajahnya sedikit lalu menekan-nekan kapas basah ke lukanya. Taehyung meringis, namun diam di bawah telapak tangan Jeongguk yang lembut dan cekatan—telaten dan hangat. Jeongguk menunggu pemuda itu bicara, mengobati sudut bibirnya yang sedikit sobek lalu menutupnya dengan kain kasa terisi obat merah. Dia menempelkannya dengan band-aid.

Jeongguk mengecek gusi dan geligi Taehyung, menemukan luka di gusi atasnya namun giginya aman. Luka itu pasti akan menjadi sariawan besok, Jeongguk akan membawanya ke dokter gigi untuk pengecekan menyeluruh.

Sekarang Taehyung nampak lebih manusiawi. Jeongguk menatapnya sebelum mencondongkan tubuh dan mengecup sudut matanya hingga Taehyung berjengit. Jeongguk menarik wajahnya, menempelkan kening mereka—merasakan deru napas Taehyung di wajahnya. Dia membuka mulutnya, hendak mengatakan betapa dia sangat mencintai Taehyung saat pemuda itu juga membuka mulutnya.

“Devy.” Bisiknya parau dan Jeongguk berhenti.

“Ada apa dengannya?” Tanya Jeongguk, menyelipkan jemarinya ke rambut Taehyung dan menyisirnya lembut—sejenak, Taehyung meleleh dalam sentuhannya, rileks seperti sepotong keju yang dipanaskan.

Taehyung mendesah, terdengar sangat kelelahan. “Dia mengadu pada Ajung tentang sikapku selama ini padanya. Semuanya bahkan kebohongan-kebohongan yang dibuatnya untukku.” Taehyung memijat pelipisnya, meringis saat gerakan itu menyakiti luka di sudut bibirnya.

Jeongguk menghela napas, sudah tidak lagi memiliki energi untuk beraksi pada gadis itu. Sejak awal merek berkenalan dan mengetahui kebiasaannya mengadu, Jeongguk merasa perubahan sikapnya yang menjadi baik pada Taehyung sangat mencurigakan. Namun kekasihnya memutuskan untuk menurunkan pertahanan dirinya dan terjebak. Dan Jeongguk tidak berani menyuarakan kecemasannya pada Taehyung.

“Dan Ajung,” Taehyung menghela napas berat dan mengedikkan bahu, seolah itu bukanlah hal yang luar biasa. “Yah. Ajung melampiaskan amarahnya. Seperti biasa.” Dia menyentuh lukanya dan memejamkan mata. “Lalu Setan Cilik itu mengirimku pesan.” Dia merogoh saku celananya, menyerahkan ponselnya pada Jeongguk.

Ponsel mereka bisa dibuka dengan sidik jari satu sama lain, maka Jeongguk menempelkan ibu jarinya ke bagian finger print ponsel Taehyung dan layarnya terbuka. Dia menyentuh aplikasi pesan dan menemukan ruang obrolan Devy persis di bawah ruang obrolannya yang disematkan di paling atas. Jeongguk menggertakkan rahangnya, bergidik saat membaca pesan Devy.

Kau harus merasakan sakit yang kurasakan. Kita akan menikah, suka atau tidak suka.

“Sakit jiwa.” Gumam Jeongguk sebelum meletakkan ponsel Taehyung dan menatap kekasihnya yang mendenguskan tawa lemah.

Jeongguk bisa merasakan mereka berdua amat letih dengan semua ini. Sudah nyaris kehabisan energi untuk menjalani setiap masalah yang menimpa mereka; semua masalah yang nampaknya ingin mereka berpisah. Ingin mencacah mereka jadi ratusan keping. Membakar mereka menjadi abu namun toh, mereka tetap membuktikan pada kehidupan bahwa mereka jauh lebih kuat dari itu.

Dan alih-alih diperingan, kehidupan menaikkan level cobaan mereka.

“Memang.” Sahutnya setuju, menurunkan kotak susu keduanya dan meraih yang ketiga di kantung belanja di lantai. Jeongguk membantunya menyelipkan sedotan sebelum memberikan Taehyung. “Banyak sekali hal yang dikatakan Ajung saat memukuliku,” dia bergidik dan Jeongguk secara refleks meraihnya ke dalam pelukannya—menjaga Taehyung tetap utuh.

“Jeongguk.” Katanya kemudian, menatap Jeongguk yang sejenak meremang—mendapat firasat buruk tentang apa yang akan dikatakan Taehyung setelah ini. “Kedepannya, pertemuan kita mungkin tidak akan semudah ini karena aku tidak bisa memanfaatkan bantuan Devy untuk berbohong lagi. Gadis itu juga pasti akan bersikap sangat menyebalkan jadi, kurasa sebaiknya kau memperingati Mirah karena setahuku mereka dekat.”

Taehyung memijat kepalanya dengan resah. “Kenapa aku harus terjebak dengan manusia sialan ini? Kenapa dia sangat terobsesi padaku? Kenapa dia tidak bisa melepaskanku saja padahal sejak awal aku sudah tidak tertarik sama sekali padanya?” Dia menggumam pada dirinya sendiri seraya memijat kepalanya.

Jeongguk menghela napas, tidak yakin dengan apa yang harus dikatakannya. Di titik ini, dia nyaris tidak lagi terkejut pada kesialan apa yang dilemparkan kehidupan pada mereka. Semua datang bertubi-tubi seolah mereka sedang digebuki seligiun tentara tanpa mendapatkan jeda untuk sekadar bernapas. Cobaan mereka tidak datang silih berganti, cobaan mereka datang sekaligus dengan masing-masing tongkat pemukul mereka mencoba memecahkan kepala Jeongguk dan Taehyung.

“Yah, aku tidak peduli.” Tambah kekasihnya kemudian, nampak bertekad. “Aku akan tetap melakukan apa pun yang kuinginkan. Dan dia bisa memukuliku hingga mati. Karena nampaknya, dia sangat mengharapkan kematianku.”

Jeongguk membuka mulut, ingin menukas kata-kata Taehyung karena dia benci betapa mudahnya kata 'kematian' meloloskan diri dari mulut Taehyung. Nyaris seolah dia sudah benar-benar menantikannya. Kemudian dia mengerutkan alis, mengerjap saat dia menyadari sesuatu.

“Kau tahu,” katanya kemudian dengan napas memburu—menyadari satu jalan keluar (akhirnya) yang akan membuat pertemuan mereka aman. Berisiko, namun lebih baik daripada tidak sama sekali.

“Ayahku,” dia menatap Taehyung yang mengerutkan alis, sejenak tidak memahami apa yang dikatakannya. Mereka saling menatap, selama sepuluh detik penuh hingga pemahaman akhirnya melintasi mata Taehyung seperti bintang jatuh.

Senyuman tipis terbit di bibir mereka berdua.

“Ayahku sangat menyayangimu.” Bisik Jeongguk lagi, kali ini bersemangat. “Ingat kata-katanya tentang menginaplah lebih sering, ajari aku menjadi lelaki yang lebih jantan?”

Senyuman tipis terbit di bibir Taehyung sebelum dia memejamkan matanya, meraih Jeongguk ke dalam pelukannya—mengeratkannya hingga sejenak Jeongguk tercekik sebelum terkekeh serak dan mengusap rambutnya. Tidak masalah jika Jeongguk harus menangguhkan kata-kata ayahnya, selama itu berarti dia bisa bertemu Taehyung maka tidak apa-apa.

Lebih baik daripada dia harus melihat memar di wajah Taehyung. Membayangkan apa yang dilakukan ayah Taehyung pada anaknya ketika murka. Mereka mungkin bisa membujuk ayah Jeongguk untuk mengintervensi hubungan Taehyung dengan ayahnya demi menguntungkan hubungan mereka. Jeongguk berpikir jika Taehyung pergi ke Puri Jeongguk berada karena ayah Jeongguk yang memintanya, ayah Taehyung tidak akan mengatakan tidak, 'kan?

“Akan kucoba.” Kata Taehyung kemudian, “Sarapan besok, aku akan meminta tolong ayahmu.”

Jeongguk menatap kekasihnya, tersenyum kecil lalu mengecup keningnya. “Maaf karena bersamaku, semuanya begitu menyulitkan dan mencekikmu. Aku berjanji, di masa depan semuanya akan lebih baik.”

Taehyung mengalungkan kedua tangannya di leher Jeongguk, menariknya lebih dekat. “Kau tidak akan tahu betapa aku menunggu masa depan itu,” katanya dan keduanya sangat menyadari kalimat yang tidak dikatakan Taehyung.

Walaupun saat ini, masa depan itu seolah tidak pernah ada.

“Mau bercinta?” Bisik Jeongguk kemudian, mengusap punggung Taehyung lembut. Butuh mengalihkan pikirannya dari masa depan yang nampak gelap, mengalihkan perhatiannya dari labirin raksasa yang menjebak mereka. “Aku butuh merilekskan sarafku yang malang setelah melihat kekasihku babak belur oleh ayahnya sendiri.”

Taehyung terkekeh. “Aku juga perlu menenangkan sarafku setelah kekasihku hilang tanpa kabar seharian.” Dia kemudian bangkit, duduk di atas pangkuan Jeongguk dan membelitkan kakinya ke pinggang Jeongguk—menggesekkan dirinya pada Jeongguk.

“Maaf, Atu Ngurah,” bisiknya parau saat menjambak rambut Jeongguk yang mendesah—sensitif pada sentuhannya setelah satu minggu tidak bertemu. Taehyung menempelkan kening mereka, bernapas keras di wajah Jeongguk. “Kita tidak bisa berciuman sementara.”

Jeongguk mengecup sudut bibirnya, menggeram karena tidak bisa mencium bibirnya. “Panggil aku begitu sekali lagi,” bisiknya tersengal dengan Taehyung duduk di atasnya, rambutnya meluruh ke satu sisi wajahnya serupa tirai lembut yang mengikal.

“Atu Ngurah?” Bisik Taehyung parau sekali lagi sebelum menarik ciuman malas dari sudut alis Jeongguk turun ke garis wajahnya dan dagunya. “Ingin bercinta dengan saya?”

Perut Jeongguk mengejang. Dia tidak pernah berpikir bahasa Bali halus bisa terdengar sangat kotor di bibir Taehyung. Dia mengerang, menyelipkan tangannya ke dalam pakaian Taehyung dan memilin dadanya hingga Taehyung terkesiap kecil. Dia mengecup bahu Taehyung dari balik kausnya, mabuk oleh aroma tubuh dan kehadiran Taehyung di kamarnya—di hidupnya.

Apa yang Atu Ngurah ingin saya lakukan?” Bisik Taehyung lagi dan Jeongguk menggertakkan giginya saat jemari Taehyung menyelip ke dalam celananya—mengusap tubuh Jeongguk yang menegang.

Jeongguk menggeleng, tersengal saat Taehyung merunduk ke dadanya—mengusapkan bibirnya lembut ke dadanya yang tegang, sedikit kesulitan dengan perban di sudut bibirnya. “Kau akan membunuhku jika terus menggunakan bahasa itu padaku saat bercinta.”

“Yah,” Taehyung menggerakkan pinggulnya di atas selangkangan Jeongguk dan membuat Jeongguk terkesiap keras—menjejalkan kepalan tangan ke mulutnya agar tidak berteriak keras. “Mari kita mati bersama dan reinkarnasi bersama lagi.”

“Aku sungguh mencintaimu.” Jeongguk mengusap sisi wajah Taehyung yang menunduk di atasnya—menyukai bagaimana dia berdebar menatap Taehyung dari bawah. “Sungguh sangat mencintaimu.”

Taehyung tersenyum, seindah mimpi. “Aku juga sangat mencintaimu.” Bisiknya.


ps. tidak mungkin doooonggg yakaaaannn saya nanya ke bapak saya bahasa bali halusnya 'ingin bercinta dengan saya?' soooo THERE WE GO HAHAHAHA :((

cw // psychology counseling .

tw // anxiety , passive behavior , toxic relationship , internalized homophobia , suicidal thoughts .

ps. based on my personal experience. kalian mungkin bisa beda karena 'seni' seorang konselor menghadapi klien tentu beda-beda <3 jangan takut konseling! it helps A LOT! <3 pss. please refer to 'Guidance' for better explanation <3


“Jadi, Jeongguk,”

Jeongguk mengerjap, duduk dengan gelisah di atas sofa yang berhadapan secara simetris dengan tempat duduk Thia. Konselornya nampak nyaman dengan rambut panjang beruban yang diikat rendah di atas tengkuknya, kemeja sederhana dan celana jins nyaman—duduk bersandar dengan tenang di sofanya, menatap Jeongguk menunggunya bercerita.

Sementara kliennya di sisi lain, duduk di ujung kursinya—seperti seekor binatang yang siap kabur dari sana kapan saja dia merasa terancam. Dia menautkan kedua tangannya dengan cemas di atas pangkuannya, tidak yakin bagaimana harus bersikap berada di ruangan ini. Di hadapannya ada sebotol mini air mineral yang diberikan Thia untuknya serta sekotak tisu.

Ruangannya nyaman, dengan jendela tinggi yang menghadap ke halaman belakang yang penuh tanaman. Dedaunannya bergoyang karena semilir angin dan sejenak membuat saraf Jeongguk rileks; bagimana caranya memulai semua ini ketika Jeongguk bahkan tidak tahu sama sekali apa yang mengganggunya?

“Sebelum saya bertanya,” katanya kemudian, masih tersenyum pada Jeongguk yang mengerjap—kebingungan. “Saya di sini untuk membantumu, saya akan mendengarkan ceritamu dan tidak akan menilai tindakanmu. Tidak akan mendiktemu tentang apa yang benar dan salah. Saya akan menjadi teman diskusimu.

“Tetapi,” Thia tersenyum lembut. “Saya hanya akan bisa membantumu, jika kau mengizinkan dirimu sendiri untuk dibantu. Akankah kau mengizinkan dirimu untuk dibantu?”

Jeongguk diam. Sejenak memikirkan kalimat itu; dia mengizinkan dirinya sendiri? Mengapa Thia melakukannya seolah ada dua orang di tubuh Jeongguk saat ini dan bukan satu orang? Siapa yang harus diizinkan Jeongguk? Namun karena dia di sini demi Taehyung dan demi mereka yang cukup perhatian padanya hingga memberikannya seorang konselor, maka Jeongguk mengangguk.

Thia tersenyum, menyadari keraguan Jeongguk. “Mari kita membuat kesepakatan. Mudah.” Dia meletakkan catatannya di atas pangkuannya. “Setiap sesi, dengan anggapan kau akan mengambil sesi berkelanjutan hingga merasa lebih baik, saya akan menanyakan kabarmu. Dan kau dilarang menjawab 'saya baik-baik saja'.”

Jeongguk mengerjap. “Lalu bagaimana jika saya memang baik-baik saja?”

Thia tersenyum. “Kau dipersilakan menjawab dengan: 'saya senang', 'saya tenang', 'saya lelah', 'saya bingung', dan sebagainya. Mari kita mulai dengan mendefinisikan emosimu, ya? Mengenali emosi-emosimu alih-alih menimbunnya dengan 'saya baik-baik saja'.”

Jeongguk menatapnya, tidak yakin bagaimana melakukannya. Apa yang dirasakannya sekarang? Dia sama sekali tidak tahu. Jauh lebih mudah untuk mengatakan 'baik-baik saja' daripada mencoba menjelaskan isi kepalanya. “Bagaimana jika...” Dia menelan ludah. “Kompleks?”

“Maka kita akan mencoba untuk menjelaskannya.” Thia menatapnya, terdengar sangat hangat dan optimis hingga Jeongguk merasa tertular emosi positifnya yang menyenangkan. “Sekompleks apa pun itu, tidak masalah. Kita punya sepanjang hari.”

Dia berdeham, tidak yakin bagaimana melakukannya. Dia takut, bingung, dan gelisah. Merasa mungkin dia salah dengan datang ke tempat ini, mungkin dia sebenarnya baik-baik saja dan dia sedang menciptakan masalahnya sendiri. Atau sedang mencari perhatian dari orang-orang? Apakah Jeongguk benar-benar membutuhkan pertolongan ini atau tidak?

“Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?” Thia membawa catatan di tangannya namun meminta Jeongguk untuk mengabaikannya saja—itu sesuatu yang digunakannya untuk kepentingannya sendiri. Mencatat progres Jeongguk.

Jeongguk diam sejenak: apa yang dirasakannya? Takut? Gelisah? Tegang? Cemas? Dia membuka mulutnya, mengabaikan segala emosi yang berkecamuk di kepalanya dan merasa dia baik-baik saja. Tidak ada yang salah, dia hanya sedang terjebak dalam pola pikirnya sendiri; seperti kata Taehyung.

“Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apa yang kaurasakan hari ini?” Tanya Thia lagi dengan lembut, sabar, dan tenang. “Dipikirkan dengan perlahan sebelum kau memutuskan apa yang kaurasakan.”

Jeongguk menahan napasnya, tidak terlalu suka diminta memutuskan sesuatu kecuali hal-hal diluar dirinya sendiri; aliran tamu masuk meningkat, makanan menipis, apa yang harus dilakukan? Hari H dan satu protein lupa dipesan Akunting, bagaimana mengatasinya? Hal-hal semacam itu, hal-hal yang sudah jelas sebab dan akibatnya. Sama sekali bukan emosinya.

Selebihnya, Jeongguk merasa kosong. Kelelahan. Secara harfiah merasa seolah kehidupan dihisap habis darinya entah oleh siapa. Melakukan hal-hal sederhana terasa sangat kompleks dan menyiksa, menghabiskan seluruh cadangan tenaganya hingga dia tidak memiliki tenaga lain untuk dirinya sendiri.

“Kosong?” Cobanya, berdebar karena ini pertama kalinya dia benar-benar membicarakan perasaannya kepada seseorang yang mendengarkan.

Jika jawaban Jeongguk salah, Thia sama sekali tidak menunjukkannya. Dia mempertahankan ekspresinya yang hangat saat menjawab. “Dan sudah berapa lama kau merasa kosong? Menurutmu, kira-kira mengapa kau merasa kosong?”

Jeongguk bernapas dengan cepat, menarik tubuhnya semakin ke ujung sofa karena dia benar-benar cemas dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Kenapa masih ada pertanyaan setelah jawabannya tadi?

“Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa kosong? Entah sesuatu atau seseorang? Kejadian yang membuatmu sangat berat?” Tanya Thia lagi saat Jeongguk tidak juga menjawab.

Secara tidak sadar, nama Taehyung menyala di kepala Jeongguk. Begitu saja seolah memperingatinya. Jeongguk menahan napas, kenapa Taehyung? Haruskah dia menceritakannya? Dia membuka mulutnya, hendak menceritakan hubungannya dengan Taehyung sebelum dia berhenti: memberi tahu orang lain tentang orientasi seksualnya terasa tidak nyaman. Namun dia ingin melepaskan emosi ini.

“Teman saya,” katanya kering kemudian dengan jantung berdebar keras. “Kami bersahabat dekat.” Dia memainkan jemarinya, mengusapkan jemarinya ke tangan satunya dan Thia melirik gerakan itu. “Nyaris seperti saudara.” Suaranya memelan, seolah takut Taehyung akan mendengarnya sekarang.

“Saya sayang sekali padanya,” bisiknya dan merasakan ledakan rasa hangat di hatinya karena betapa benarnya itu terasa di hatinya. “Seperti saudara.” Tambahnya kemudian, terbata. “Namun beberapa kali, dia terasa....” Jeongguk melirik sekitarnya, seolah takut entah bagaimana caranya—Taehyung mendengarnya dan terluka karena itu.

Jeongguk benci menyakiti Taehyung, dia sudah terlalu banyak disakiti dan Jeongguk tidak ingin menambahkan sakit padanya. Tidak mau membuatnya semakin menderita, Jeongguk akan membenci dirinya sendiri jika dia menyebabkan Taehyung menangis.

“Melelahkan.” Bisik Jeongguk, melepaskan kata itu dengan suara keras setelah selama ini hanya selalu memikirkannya dan mengetiknya tanpa benar-benar berani mengirimkannya ke Taehyung.

Perasaan lega membanjirinya ditemani perasaan cemas baru, takut Taehyung mendengarnya dan merasa ada yang kurang dari dirinya sendiri karena Jeongguk ternyata lelah dengannya.

“Dia melelahkan sekali,” bisiknya lagi—mengetes kata itu di lidahnya. Tidak menyukai kombinasi perasaan aneh yang dirasakannya. “Dia membuat saya sering kali ingin menghindarinya. Berhenti dan menjauh namun dia sahabat saya. Tidak mungkin saya menjauhinya, saya sayang padanya namun juga lelah sekali dengannya.” Jeongguk menatap Thia, untuk pertama kalinya—memohon pertolongan.

“Apakah itu normal?”

Thia menatapnya, meletakkan tangannya di atas pangkuannya. “Jangan melupakan fakta bahwa kau adalah manusia, merasa kontradiktif itu sangat normal. Dalam hubungan, apa pun bentuknya—wajar ketika manusia merasa lelah. Tidak harus selalu pelangi dan langit cerah. Sekarang hanya bagaimana kalian mengomunikasikan perasaan itu dan bekerja sama untuk menanggulanginya.”

“Maaf, ini remeh sekali.” Gumam Jeongguk, masih belum bisa duduk dengan nyaman di atas sofa yang sekarang terasa panas dan keras. Dia ingin kabur—merasa ini sia-sia dan tidak berguna, seperti kata Taehyung.

“Tidak ada yang remeh.” Thia menggeleng, nadanya tegas dan lembut. “Jika itu mengganggumu, maka itu sesuatu yang serius. Mari kita bicarakan dengan perlahan perasaan itu, saya akan membantumu. Saya tidak akan mendiktemu salah dan benar.”

Jeongguk menatapnya—merasa malu karena orang-orang mungkin datang ke konselor membawa permasalahan kompleks tentang keluarga dan depresi atau tentang dirinya sendiri namun Jeongguk malah datang membawa masalah percintaan yang sama sekali tidak penting.

“Ada saat ketika...” Jeongguk menghela napas. “Ketika saya membicarakan perasaan saya tentang ucapannya, maksud saya bagaimana dia membuat saya merasa dengan tindakannya, dia malah balik marah pada saya. Hal-hal semacam itu hingga akhirnya saya merasa sebaiknya saya diam tentang perasaan saya daripada kami bertengkar.

Terlalu banyak, Jeongguk langsung menutup mulutnya—takut Thia mengambil kesimpulan dari ceritanya barusan. Membuat identitasnya ketahuan. Namun Thia tetap tenang, mencatat sesuatu dan itu membuat Jeongguk gelisah; apa yang dicatatnya di sana? Apakah ada sesuatu yang Jeongguk salah sebutkan?

“Dan menurutmu,” tanya Thia lagi dengan tenang. “Apakah ada seseorang lain yang membuatmu merasa begitu? Seperti tidak berdaya, kosong, lelah, dan kebingungan?”

Jeongguk diam. Orang tuanya, khususnya ayahnya. Sejak Jeongguk bisa mengingat, ayahnya sudah bersikap begitu sepanjang waktu. Membuatnya merasa bersalah karena dia menangis, karena dia sakit, karena dia belum menikah. Bagaimana ayahnya nampak puas dan sangat bangga saat melihat Taehyung untuk pertama kalinya: Taehyung yang tinggi, kulit sewarna zaitun yang menarik, ekspresi keras dan tegas yang sama sekali tidak dimiliki Jeongguk.

“Ayah saya.” Bisik Jeongguk, mulai merasa lebih rileks mengatakan semuanya.

Thia menatapnya sejenak lalu mencatat sesuatu sebelum kembali menatapnya. “Jika tidak keberatan,” desaknya lembut. “Maukah kau menceritakan bagaimana ayahmu membuatmu merasa begitu?”

Jeongguk membuka mulutnya, merasakan amarahnya yang selama bertahun-tahun ini terpendam untuk ayahnya menggelegak naik—seperti buih yang mulai naik dan terus naik hingga menyentuh pangkal tenggorokannya. Menggenang di mulutnya seperti asam lambung yang menyengat lidahnya sebelum dia akhirnya tidak tahan lagi dan meludahkannya.

Dia menceritakan semuanya: atau setidaknya begitulah yang dirasakannya. Bagaimana ayahnya secara terang-terangan bersikap pilih kasih dengan adiknya. Koreksi atas setiap sikapnya karena kurang 'lelaki'. Kesukaan instan ayahnya pada Taehyung yang nampak jauh lebih jantan dari Jeongguk. Sikap dinginnya pada Jeongguk seolah dia hanya ada demi melanjutkan warisan dan sama sekali bukan sebagai manusia.

Kemarahan yang sudah ditahan Jeongguk selama tiga puluh lima tahun sekarang meledak di dalam dirinya, muncrat ke seluruh ruangan. Jeongguk tidak berhenti bicara setidaknya selama satu jam menjelaskan secara detail betapa dia membenci ayahnya namun juga menyayanginya. Betapa dia kadang ingin sekali memukul ayahnya, kabur dari rumah, atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri.

“Saya paham kau marah sekali pada orang tuamu, tetapi mari saling berkompromi.” Thia tersenyum. “Mulai dengan komunikasikan kebutuhanmu pada mereka, bagaimana kau ingin dihormati. Bagaimana sebaiknya mereka bicara padamu, kau layak merasa sakit hati ketika ucapan mereka menyinggungmu dan layak mendapatkan permintaan maaf. Namun, sering kali mereka tidak menyadarinya.

“Maka mari kita belajar memaafkan mereka.” Thia kembali menambahkan dan Jeongguk mengerutkan alisnya—dia baru saja menjelaskan betapa bencinya dia pada orang tuanya dan sekarang dia harus memaafkan mereka? Begitu saja??

“Saya paham itu berat dan aneh,” Thia menenangkan saat melihat ekspresi Jeongguk. “Namun, tidak ada sekolah menjadi orang tua. Kita semua belajar menjalani posisi kita, benar? Kau belajar menjadi seorang anak dan suami nantinya, juga orang tua jika kau memutuskan untuk memiliki anak. Dan orang tuamu juga sedang belajar.

“Memaafkan bukan karena apa-apa, tetapi karena hatimu,” Thia menyentuh dadanya sendiri—mengusapnya lembut hingga Jeongguk tanpa sadar menirunya, merasakan debar jantungnya sendiri. “Hatimu layak mendapatkan kedamaian. Memaafkan mereka bukan berarti membenarkan perlakuan mereka, malah menyadari bahwa mereka salah lalu memutuskan untuk menutupnya karena kau layak mendapatkan kehidupan yang damai.

“Memelihara amarah, memelihara dendam akan membuatmu lelah sekali, Jeongguk. Hatimu akan terasa berat sepanjang waktu, busuk dimakan dendammu sendiri. Energimu terkuras untuk memikirkan betapa marahnya kau, menyimpan dendam yang seharusnya dibuang. Mari kita belajar mengolah emosi negatif itu, membuang sampah-sampah itu dengan benar.

“Karena mereka tidak akan meminta maaf.” Thia menatap Jeongguk lembut. “Mereka tidak akan menyadari mereka salah dan meminta maaf. Maka mari maafkan mereka yang tidak meminta maaf padamu. Bukan untuk mereka, namun untuk dirimu sendiri. Kedamaian hidupmu.

“Dendammu nanti, karena tidak bisa disalurkan ke ayahmu akan membuatmu merasa kau memiliki hak untuk melakukan hal yang sama pada anakmu. Lingkaran itu tidak akan putus, pola yang sama diwariskan terus menerus. Dengan kau menyadari bahwa itu salah,” Thia menatapnya dan Jeongguk menahan napasnya.

“Kau bisa memutus pola asuh itu, memberikan masa depan yang jauh lebih baik kepada anakmu kelak. Menghindarkannya dari keadaan psikis yang sama seperti yang kaurasakan sekarang.”

Jeongguk diam. Dia tidak ingin memiliki anak, karena dia tidak mau meletakkan siapa pun di posisi yang sama dengannya. Dunia ini terlalu kejam untuk makhluk hidup mana pun dan mereka mahal sekali. Jeongguk takut dia tidak bisa menjadi orang tua yang baik dan hanya akan meletakkan anaknya sama seperti yang dilakukan ayahnya padanya. Membuat anaknya tidak nyaman dengan dirinya sendiri, tumbuh dewasa membencinya.

Jeongguk tidak menyukai bayangan itu. Namun memikirkan peluang bahwa dia mungkin bisa mendidik anaknya dengan cara berbeda, membuatnya sedikit rileks. Dia bisa menjadi lebih baik dari ayahnya—jauh lebih baik dari ayahnya.

“Tidak harus sekarang, konsep ini pasti mengejutkan sekali untukmu.” Thia tersenyum lagi memahami. “Kita akan banyak belajar kedepannya tentang ini. Jika kau tertarik untuk melanjutkan sesi karena dari ceritamu tadi, saya tidak bisa membantumu hanya dalam satu kali konseling.”

“Satu lagi, Mbak.” Katanya setelah jeda—kini rileks, bersandar di sofanya kelelahan setelah meluapkan segala emosinya yang selama ini dibotolkan. “Saya selalu merasa pusing, kelelahan, dan kebingungan. Setiap kali saya pergi ke dokter, mereka bilang saya baik-baik saja.”

Thia menatapnya, tertarik sebelum mencatat sesuatu. “Bagaimana rasa sakitnya? Apakah munculnya ketika kau merasa cemas dan takut? Marah?”

Jeongguk berpikir sejenak, dia selalu pusing. Nyaris terasa seperti sepanjang waktu namun dia merasakan cengkeraman yang lebih kuat di kepalanya ketika Taehyung di sekitarnya belakangan ini. Ketika dia merasa salah bicara, ketika dia berpikir secara berlebihan—ketika dia cemas.

Dia mengangguk. “Apakah itu reaksi badan saya? Normal?”

“Tergantung,” katanya lembut dan menenangkan. “Jika sudah sangat mengganggu, maka itu tidak normal. Apakah selama ini pusing yang kaurasakan menghalangimu beraktivitas?”

“Beberapa hari ini,” Jeongguk mengangguk—berdebar ingin mengetahui cara melenyapkan pusing itu sehingga dia bisa kembali hidup normal. “Saya sering tidur dalam waktu yang tidak wajar bagi diri saya sendiri. Dan selama apa pun itu, tidak memperingan rasa sakit saya. Malah semakin memperparah.”

“Saya belum bisa memutuskan hanya dari satu kali konseling tentang ini,” kata Thia lembut. “Jika kau mau, kita bisa melanjutkan sesinya sekaligus saya mengawasi perkembangan pusingmu ini. Saya harus mendengarkan progresmu perlahan sekali untuk memutuskan bantuan yang tepat untukmu.”

“Untuk sekarang,” kata Thia saat Jeongguk bangkit setelah mengakhiri sesi mereka hari itu—Thia lebih banyak mendengarkan curahan hati Jeongguk, tidak banyak menanggapi. Ingin membuat Jeongguk nyaman. “Kita akan berlatih mengenali emosi-emosimu, ya? Dimulai dengan 'bagaimana kabarmu hari ini'. Sepakat?”

Jeongguk menghela napas, merasakan efek dari melepaskan dendam ke ayahnya membuat hatinya sedikit lebih ringan walaupun dia masih tidak paham konsep memaafkan ayahnya yang selama bertahun-tahun merusaknya. Dia tidak akan pernah memahami itu. Namun dia tidak bisa berbohong bahwa menceritakan isi hatinya membuatnya merasa lebih baik. Jauh lebih baik.

“Sepakat.” Katanya tersenyum lalu memesan sesi selanjutnya.

Dia keluar dari rumah Thia, merasa sedikit lebih rileks dari sebelumnya dan meraih ponselnya. Tubuhnya seperti melayang; ringan dan lembek seperti jeli setelah memeras semua emosinya di ruangan Thia. Dia menyalakan layarnya, hendak menghubungi Yugyeom bahwa dia akan menjemputnya saat menemukan notifikasi pesan dari Taehyung.

Dia menyadari Yugyeom mengiriminya banyak pesan, meneleponnya berkali-kali namun Jeongguk menonaktifkan dering ponselnya—terlena merasa alasan keluar dengan Yugyeom akan membuat Taehyung diam setidaknya selama dua jam. Namun sesi tadi berjalan lebih dari tiga jam dan Jeongguk sama sekali tidak menyadarinya. Tangannya gemetar dan jantungnya berdebar keras saat dia menyentuh pemberitahuan Taehyung.

Apa yang kaulakukan di toilet selama ini? Kau sedang berbohong padaku?

Dan kedamaian yang dirasakan Jeongguk tadi kemudian pecah berantakan. Jantungnya mencelos hingga dia terkesiap keras oleh rasa kebasnya, terjun bebas ke lantai dan pecah berantakan.

Dia... ketahuan?

*

cw // psychology counseling .

tw // anxiety , passive behavior , toxic relationship , internalized homophobia , suicidal thoughts .

ps. based on my personal experience. kalian mungkin bisa beda karena 'seni' seorang konselor menghadapi klien tentu beda-beda <3 jangan takut konseling! it helps A LOT! <3 pss. please refer to 'Guidance' for better explanation <3


“Jadi, Jeongguk,”

Jeongguk mengerjap, duduk dengan gelisah di atas sofa yang berhadapan secara simetris dengan tempat duduk Thia. Konselornya nampak nyaman dengan rambut panjang beruban yang diikat rendah di atas tengkuknya, kemeja sederhana dan celana jins nyaman—duduk bersandar dengan tenang di sofanya, menatap Jeongguk menunggunya bercerita.

Sementara kliennya di sisi lain, duduk di ujung kursinya—seperti seekor binatang yang siap kabur dari sana kapan saja dia merasa terancam. Dia menautkan kedua tangannya dengan cemas di atas pangkuannya, tidak yakin bagaimana harus bersikap berada di ruangan ini. Di hadapannya ada sebotol mini air mineral yang diberikan Thia untuknya serta sekotak tisu.

Ruangannya nyaman, dengan jendela tinggi yang menghadap ke halaman belakang yang penuh tanaman. Dedaunannya bergoyang karena semilir angin dan sejenak membuat saraf Jeongguk rileks; bagimana caranya memulai semua ini ketika Jeongguk bahkan tidak tahu sama sekali apa yang mengganggunya?

“Sebelum saya bertanya,” katanya kemudian, masih tersenyum pada Jeongguk yang mengerjap—kebingungan. “Saya di sini untuk membantumu, saya akan mendengarkan ceritamu dan tidak akan menilai tindakanmu. Tidak akan mendiktemu tentang apa yang benar dan salah. Saya akan menjadi teman diskusimu.

“Tetapi,” Thia tersenyum lembut. “Saya hanya akan bisa membantumu, jika kau mengizinkan dirimu sendiri untuk dibantu. Akankah kau mengizinkan dirimu untuk dibantu?”

Jeongguk diam. Sejenak memikirkan kalimat itu; dia mengizinkan dirinya sendiri? Mengapa Thia melakukannya seolah ada dua orang di tubuh Jeongguk saat ini dan bukan satu orang? Siapa yang harus diizinkan Jeongguk? Namun karena dia di sini demi Taehyung dan demi mereka yang cukup perhatian padanya hingga memberikannya seorang konselor, maka Jeongguk mengangguk.

Thia tersenyum, menyadari keraguan Jeongguk. “Mari kita membuat kesepakatan. Mudah.” Dia meletakkan catatannya di atas pangkuannya. “Setiap sesi, dengan anggapan kau akan mengambil sesi berkelanjutan hingga merasa lebih baik, saya akan menanyakan kabarmu. Dan kau dilarang menjawab 'saya baik-baik saja'.”

Jeongguk mengerjap. “Lalu bagaimana jika saya memang baik-baik saja?”

Thia tersenyum. “Kau dipersilakan menjawab dengan: 'saya senang', 'saya tenang', 'saya lelah', 'saya bingung', dan sebagainya. Mari kita mulai dengan mendefinisikan emosimu, ya? Mengenali emosi-emosimu alih-alih menimbunnya dengan 'saya baik-baik saja'.”

Jeongguk menatapnya, tidak yakin bagaimana melakukannya. Apa yang dirasakannya sekarang? Dia sama sekali tidak tahu. Jauh lebih mudah untuk mengatakan 'baik-baik saja' daripada mencoba menjelaskan isi kepalanya. “Bagaimana jika...” Dia menelan ludah. “Kompleks?”

“Maka kita akan mencoba untuk menjelaskannya.” Thia menatapnya, terdengar sangat hangat dan optimis hingga Jeongguk merasa tertular emosi positifnya yang menyenangkan. “Sekompleks apa pun itu, tidak masalah. Kita punya sepanjang hari.”

Dia berdeham, tidak yakin bagaimana melakukannya. Dia takut, bingung, dan gelisah. Merasa mungkin dia salah dengan datang ke tempat ini, mungkin dia sebenarnya baik-baik saja dan dia sedang menciptakan masalahnya sendiri. Atau sedang mencari perhatian dari orang-orang? Apakah Jeongguk benar-benar membutuhkan pertolongan ini atau tidak?

“Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?” Thia membawa catatan di tangannya namun meminta Jeongguk untuk mengabaikannya saja—itu sesuatu yang digunakannya untuk kepentingannya sendiri. Mencatat progres Jeongguk.

Jeongguk diam sejenak: apa yang dirasakannya? Takut? Gelisah? Tegang? Cemas? Dia membuka mulutnya, mengabaikan segala emosi yang berkecamuk di kepalanya dan merasa dia baik-baik saja. Tidak ada yang salah, dia hanya sedang terjebak dalam pola pikirnya sendiri; seperti kata Taehyung.

“Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apa yang kaurasakan hari ini?” Tanya Thia lagi dengan lembut, sabar, dan tenang. “Dipikirkan dengan perlahan sebelum kau memutuskan apa yang kaurasakan.”

Jeongguk menahan napasnya, tidak terlalu suka diminta memutuskan sesuatu kecuali hal-hal diluar dirinya sendiri; aliran tamu masuk meningkat, makanan menipis, apa yang harus dilakukan? Hari H dan satu protein lupa dipesan Akunting, bagaimana mengatasinya? Hal-hal semacam itu, hal-hal yang sudah jelas sebab dan akibatnya. Sama sekali bukan emosinya.

Selebihnya, Jeongguk merasa kosong. Kelelahan. Secara harfiah merasa seolah kehidupan dihisap habis darinya entah oleh siapa. Melakukan hal-hal sederhana terasa sangat kompleks dan menyiksa, menghabiskan seluruh cadangan tenaganya hingga dia tidak memiliki tenaga lain untuk dirinya sendiri.

“Kosong?” Cobanya, berdebar karena ini pertama kalinya dia benar-benar membicarakan perasaannya kepada seseorang yang mendengarkan.

Jika jawaban Jeongguk salah, Thia sama sekali tidak menunjukkannya. Dia mempertahankan ekspresinya yang hangat saat menjawab. “Dan sudah berapa lama kau merasa kosong? Menurutmu, kira-kira mengapa kau merasa kosong?”

Jeongguk bernapas dengan cepat, menarik tubuhnya semakin ke ujung sofa karena dia benar-benar cemas dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Kenapa masih ada pertanyaan setelah jawabannya tadi?

“Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa kosong? Entah sesuatu atau seseorang? Kejadian yang membuatmu sangat berat?” Tanya Thia lagi saat Jeongguk tidak juga menjawab.

Secara tidak sadar, nama Taehyung menyala di kepala Jeongguk. Begitu saja seolah memperingatinya. Jeongguk menahan napas, kenapa Taehyung? Haruskah dia menceritakannya? Dia membuka mulutnya, hendak menceritakan hubungannya dengan Taehyung sebelum dia berhenti: memberi tahu orang lain tentang orientasi seksualnya terasa tidak nyaman. Namun dia ingin melepaskan emosi ini.

“Teman saya,” katanya kering kemudian dengan jantung berdebar keras. “Kami bersahabat dekat.” Dia memainkan jemarinya, mengusapkan jemarinya ke tangan satunya dan Thia melirik gerakan itu. “Nyaris seperti saudara.” Suaranya memelan, seolah takut Taehyung akan mendengarnya sekarang.

“Saya sayang sekali padanya,” bisiknya dan merasakan ledakan rasa hangat di hatinya karena betapa benarnya itu terasa di hatinya. “Seperti saudara.” Tambahnya kemudian, terbata. “Namun beberapa kali, dia terasa....” Jeongguk melirik sekitarnya, seolah takut entah bagaimana caranya—Taehyung mendengarnya dan terluka karena itu.

Jeongguk benci menyakiti Taehyung, dia sudah terlalu banyak disakiti dan Jeongguk tidak ingin menambahkan sakit padanya. Tidak mau membuatnya semakin menderita, Jeongguk akan membenci dirinya sendiri jika dia menyebabkan Taehyung menangis.

“Melelahkan.” Bisik Jeongguk, melepaskan kata itu dengan suara keras setelah selama ini hanya selalu memikirkannya dan mengetiknya tanpa benar-benar berani mengirimkannya ke Taehyung.

Perasaan lega membanjirinya ditemani perasaan cemas baru, takut Taehyung mendengarnya dan merasa ada yang kurang dari dirinya sendiri karena Jeongguk ternyata lelah dengannya.

“Dia melelahkan sekali,” bisiknya lagi—mengetes kata itu di lidahnya. Tidak menyukai kombinasi perasaan aneh yang dirasakannya. “Dia membuat saya sering kali ingin menghindarinya. Berhenti dan menjauh namun dia sahabat saya. Tidak mungkin saya menjauhinya, saya sayang padanya namun juga lelah sekali dengannya.” Jeongguk menatap Thia, untuk pertama kalinya—memohon pertolongan.

“Apakah itu normal?”

Thia menatapnya, meletakkan tangannya di atas pangkuannya. “Jangan melupakan fakta bahwa kau adalah manusia, merasa kontradiktif itu sangat normal. Dalam hubungan, apa pun bentuknya—wajar ketika manusia merasa lelah. Tidak harus selalu pelangi dan langit cerah. Sekarang hanya bagaimana kalian mengomunikasikan perasaan itu dan bekerja sama untuk menanggulanginya.”

“Maaf, ini remeh sekali.” Gumam Jeongguk, masih belum bisa duduk dengan nyaman di atas sofa yang sekarang terasa panas dan keras. Dia ingin kabur—merasa ini sia-sia dan tidak berguna, seperti kata Taehyung.

“Tidak ada yang remeh.” Thia menggeleng, nadanya tegas dan lembut. “Jika itu mengganggumu, maka itu sesuatu yang serius. Mari kita bicarakan dengan perlahan perasaan itu, saya akan membantumu. Saya tidak akan mendiktemu salah dan benar.”

Jeongguk menatapnya—merasa malu karena orang-orang mungkin datang ke konselor membawa permasalahan kompleks tentang keluarga dan depresi atau tentang dirinya sendiri namun Jeongguk malah datang membawa masalah percintaan yang sama sekali tidak penting.

“Ada saat ketika...” Jeongguk menghela napas. “Ketika saya membicarakan perasaan saya tentang ucapannya, maksud saya bagaimana dia membuat saya merasa dengan tindakannya, dia malah balik marah pada saya. Hal-hal semacam itu hingga akhirnya saya merasa sebaiknya saya diam tentang perasaan saya daripada kami bertengkar.

Terlalu banyak, Jeongguk langsung menutup mulutnya—takut Thia mengambil kesimpulan dari ceritanya barusan. Membuat identitasnya ketahuan. Namun Thia tetap tenang, mencatat sesuatu dan itu membuat Jeongguk gelisah; apa yang dicatatnya di sana? Apakah ada sesuatu yang Jeongguk salah sebutkan?

“Dan menurutmu,” tanya Thia lagi dengan tenang. “Apakah ada seseorang lain yang membuatmu merasa begitu? Seperti tidak berdaya, kosong, lelah, dan kebingungan?”

Jeongguk diam. Orang tuanya, khususnya ayahnya. Sejak Jeongguk bisa mengingat, ayahnya sudah bersikap begitu sepanjang waktu. Membuatnya merasa bersalah karena dia menangis, karena dia sakit, karena dia belum menikah. Bagaimana ayahnya nampak puas dan sangat bangga saat melihat Taehyung untuk pertama kalinya: Taehyung yang tinggi, kulit sewarna zaitun yang menarik, ekspresi keras dan tegas yang sama sekali tidak dimiliki Jeongguk.

“Ayah saya.” Bisik Jeongguk, mulai merasa lebih rileks mengatakan semuanya.

Thia menatapnya sejenak lalu mencatat sesuatu sebelum kembali menatapnya. “Jika tidak keberatan,” desaknya lembut. “Maukah kau menceritakan bagaimana ayahmu membuatmu merasa begitu?”

Jeongguk membuka mulutnya, merasakan amarahnya yang selama bertahun-tahun ini terpendam untuk ayahnya menggelegak naik—seperti buih yang mulai naik dan terus naik hingga menyentuh pangkal tenggorokannya. Menggenang di mulutnya seperti asam lambung yang menyengat lidahnya sebelum dia akhirnya tidak tahan lagi dan meludahkannya.

Dia menceritakan semuanya: atau setidaknya begitulah yang dirasakannya. Bagaimana ayahnya secara terang-terangan bersikap pilih kasih dengan adiknya. Koreksi atas setiap sikapnya karena kurang 'lelaki'. Kesukaan instan ayahnya pada Taehyung yang nampak jauh lebih jantan dari Jeongguk. Sikap dinginnya pada Jeongguk seolah dia hanya ada demi melanjutkan warisan dan sama sekali bukan sebagai manusia.

Kemarahan yang sudah ditahan Jeongguk selama tiga puluh lima tahun sekarang meledak di dalam dirinya, muncrat ke seluruh ruangan. Jeongguk tidak berhenti bicara setidaknya selama satu jam menjelaskan secara detail betapa dia membenci ayahnya namun juga menyayanginya. Betapa dia kadang ingin sekali memukul ayahnya, kabur dari rumah, atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri.

“Saya paham kau marah sekali pada orang tuamu, tetapi mari saling berkompromi.” Thia tersenyum. “Mulai dengan komunikasikan kebutuhanmu pada mereka, bagaimana kau ingin dihormati. Bagaimana sebaiknya mereka bicara padamu, kau layak merasa sakit hati ketika ucapan mereka menyinggungmu dan layak mendapatkan permintaan maaf. Namun, sering kali mereka tidak menyadarinya.

“Maka mari kita belajar memaafkan mereka.” Thia kembali menambahkan dan Jeongguk mengerutkan alisnya—dia baru saja menjelaskan betapa bencinya dia pada orang tuanya dan sekarang dia harus memaafkan mereka? Begitu saja??

“Saya paham itu berat dan aneh,” Thia menenangkan saat melihat ekspresi Jeongguk. “Namun, tidak ada sekolah menjadi orang tua. Kita semua belajar menjalani posisi kita, benar? Kau belajar menjadi seorang anak dan suami nantinya, juga orang tua jika kau memutuskan untuk memiliki anak. Dan orang tuamu juga sedang belajar.

“Memaafkan bukan karena apa-apa, tetapi karena hatimu,” Thia menyentuh dadanya sendiri—mengusapnya lembut hingga Jeongguk tanpa sadar menirunya, merasakan debar jantungnya sendiri. “Hatimu layak mendapatkan kedamaian. Memaafkan mereka bukan berarti membenarkan perlakuan mereka, malah menyadari bahwa mereka salah lalu memutuskan untuk menutupnya karena kau layak mendapatkan kehidupan yang damai.

“Memelihara amarah, memelihara dendam akan membuatmu lelah sekali, Jeongguk. Hatimu akan terasa berat sepanjang waktu, busuk dimakan dendammu sendiri. Energimu terkuras untuk memikirkan betapa marahnya kau, menyimpan dendam yang seharusnya dibuang. Mari kita belajar mengolah emosi negatif itu, membuang sampah-sampah itu dengan benar.

“Karena mereka tidak akan meminta maaf.” Thia menatap Jeongguk lembut. “Mereka tidak akan menyadari mereka salah dan meminta maaf. Maka mari maafkan mereka yang tidak meminta maaf padamu. Bukan untuk mereka, namun untuk dirimu sendiri. Kedamaian hidupmu.

“Dendammu nanti, karena tidak bisa disalurkan ke ayahmu akan membuatmu merasa kau memiliki hak untuk melakukan hal yang sama pada anakmu. Lingkaran itu tidak akan putus, pola yang sama diwariskan terus menerus. Dengan kau menyadari bahwa itu salah,” Thia menatapnya dan Jeongguk menahan napasnya.

“Kau bisa memutus pola asuh itu, memberikan masa depan yang jauh lebih baik kepada anakmu kelak. Menghindarkannya dari keadaan psikis yang sama seperti yang kaurasakan sekarang.”

Jeongguk diam. Dia tidak ingin memiliki anak, karena dia tidak mau meletakkan siapa pun di posisi yang sama dengannya. Dunia ini terlalu kejam untuk makhluk hidup mana pun dan mereka mahal sekali. Jeongguk takut dia tidak bisa menjadi orang tua yang baik dan hanya akan meletakkan anaknya sama seperti yang dilakukan ayahnya padanya. Membuat anaknya tidak nyaman dengan dirinya sendiri, tumbuh dewasa membencinya.

Jeongguk tidak menyukai bayangan itu. Namun memikirkan peluang bahwa dia mungkin bisa mendidik anaknya dengan cara berbeda, membuatnya sedikit rileks. Dia bisa menjadi lebih baik dari ayahnya—jauh lebih baik dari ayahnya.

“Tidak harus sekarang, konsep ini pasti mengejutkan sekali untukmu.” Thia tersenyum lagi memahami. “Kita akan banyak belajar kedepannya tentang ini. Jika kau tertarik untuk melanjutkan sesi karena dari ceritamu tadi, saya tidak bisa membantumu hanya dalam satu kali konseling.”

“Satu lagi, Mbak.” Katanya setelah jeda—kini rileks, bersandar di sofanya kelelahan setelah meluapkan segala emosinya yang selama ini dibotolkan. “Saya selalu merasa pusing, kelelahan, dan kebingungan. Setiap kali saya pergi ke dokter, mereka bilang saya baik-baik saja.”

Thia menatapnya, tertarik sebelum mencatat sesuatu. “Bagaimana rasa sakitnya? Apakah munculnya ketika kau merasa cemas dan takut? Marah?”

Jeongguk berpikir sejenak, dia selalu pusing. Nyaris terasa seperti sepanjang waktu namun dia merasakan cengkeraman yang lebih kuat di kepalanya ketika Taehyung di sekitarnya belakangan ini. Ketika dia merasa salah bicara, ketika dia berpikir secara berlebihan—ketika dia cemas.

Dia mengangguk. “Apakah itu reaksi badan saya? Normal?”

“Tergantung,” katanya lembut dan menenangkan. “Jika sudah sangat mengganggu, maka itu tidak normal. Apakah selama ini pusing yang kaurasakan menghalangimu beraktivitas?”

“Beberapa hari ini,” Jeongguk mengangguk—berdebar ingin mengetahui cara melenyapkan pusing itu sehingga dia bisa kembali hidup normal. “Saya sering tidur dalam waktu yang tidak wajar bagi diri saya sendiri. Dan selama apa pun itu, tidak memperingan rasa sakit saya. Malah semakin memperparah.”

“Saya belum bisa memutuskan hanya dari satu kali konseling tentang ini,” kata Thia lembut. “Jika kau mau, kita bisa melanjutkan sesinya sekaligus saya mengawasi perkembangan pusingmu ini. Saya harus mendengarkan progresmu perlahan sekali untuk memutuskan bantuan yang tepat untukmu.”

“Untuk sekarang,” kata Thia saat Jeongguk bangkit setelah mengakhiri sesi mereka hari itu—Thia lebih banyak mendengarkan curahan hati Jeongguk, tidak banyak menanggapi. Ingin membuat Jeongguk nyaman. “Kita akan berlatih mengenali emosi-emosimu, ya? Dimulai dengan 'bagaimana kabarmu hari ini'. Sepakat?”

Jeongguk menghela napas, merasakan efek dari melepaskan dendam ke ayahnya membuat hatinya sedikit lebih ringan walaupun dia masih tidak paham konsep memaafkan ayahnya yang selama bertahun-tahun merusaknya. Dia tidak akan pernah memahami itu. Namun dia tidak bisa berbohong bahwa menceritakan isi hatinya membuatnya merasa lebih baik. Jauh lebih baik.

“Sepakat.” Katanya tersenyum lalu memesan sesi selanjutnya.

Dia keluar dari rumah Thia, merasa sedikit lebih rileks dari sebelumnya dan meraih ponselnya. Tubuhnya seperti melayang; ringan dan lembek seperti jeli setelah memeras semua emosinya di ruangan Thia. Dia menyalakan layarnya, hendak menghubungi Yugyeom bahwa dia akan menjemputnya saat menemukan notifikasi pesan dari Taehyung.

Dia menyadari Yugyeom mengiriminya banyak pesan, meneleponnya berkali-kali namun Jeongguk menonaktifkan dering ponselnya—terlena merasa alasan keluar dengan Yugyeom akan membuat Taehyung diam setidaknya selama dua jam. Namun sesi tadi berjalan lebih dari tiga jam dan Jeongguk sama sekali tidak menyadarinya. Tangannya gemetar dan jantungnya berdebar keras saat dia menyentuh pemberitahuan Taehyung.

Apa yang kaulakukan di toilet selama ini? Kau sedang berbohong padaku?

Dan kedamaian yang dirasakan Jeongguk tadi kemudian pecah berantakan. Jantungnya mencelos hingga dia terkesiap keras oleh rasa kebasnya, terjun bebas ke lantai dan pecah berantakan.

Dia... ketahuan?

*


Jeongguk menghela napas dalam-dalam saat adiknya menyelip masuk ke kursi penumpang dengan ponsel di tangannya—sudah diatur dengan peta digital ke rumah Thia. Dia mengenakan kaus pendek dua kali ukuran tubuhnya dan celana jins skinny yang menegaskan tubuh langsingnya.

Jeongguk merasa tegang, tidak hanya karena dia sedang berbohong pada Taehyung dan sangat takut pada konsekuensinya. Juga karena dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Thia. Apa yang harus diceritakannya? Bagaimana caranya memulai? Apakah dia sungguh bisa membantu Jeongguk? Bagaimana dia membantu Jeongguk? Apakah ada yang salah padanya?

“Tidak apa-apa,” Yugyeom menepuk lengan atasnya lalu meremasnya hangat. “Wiktu akan baik-baik saja. Tidak seburuk pergi ke dokter gigi kok.” Dia nyengir dan Jeongguk mau tidak mau balas tersenyum—dia beruntung setidaknya adiknya mendukung keputusannya ini.

“Wigung tidak akan tahu.” Tambahnya saat Jeongguk mengemudi dengan mulus keluar dari wilayah Puri-nya, menuju jalan bypass Denpasar. “Kita hanya jalan-jalan berdua tanpa Migek.”

Jeongguk menghela napas, menoleh ke adiknya sejenak saat mengganti persneling dan menatap jalanan lagi. Dia mengenakan turtleneck abu-abu nyaman dan celana jins, pakaian yang membuatnya merasa percaya diri. Turtleneck-nya memeluk tubuh Jeongguk, melindunginya seperti lapisan rahim. Dia merasa seperti janin yang meringkuk di perut ibunya, tidak siap dilahirkan. Ingin tetap bersembunyi di sana dan membiarkan orang lain menyelamatkan dunia; atau menyelamatkannya.

Dia ingin merangkak ke sisi Taehyung, ingin berbaring di sisinya—mencari perlindungan dari aura hangat Taehyung yang keras dan tegas. Membutuhkan Taehyung nyaris seperti kompas, membantunya menemukan arah. Jeongguk selama ini mungkin telah menggantungkan bahagianya pada Taehyung; menggantungkan hidupnya di sana. Tahu Taehyung tidak akan membuat mereka berdua tersesat.

Dan berbohong pada Taehyung membuatnya sama sekali tidak nyaman.

Hati-hati di jalan dan selamat bersenang-senang. Aku mencintaimu. Begitu kata Taehyung tadi, disertai gambar blakas yang akan digunakannya untuk ngayah di Banjar hari ini.

Jeongguk berpikir membelikannya sesuatu, mampir ke Puri sebelum pulang nanti—hanya agar hatinya merasa lebih baik setelah berbohong pada Taehyung. Dia menginjak gas sedikit lebih dalam, menambah kecepatan sementara di sisinya Yugyeom memutar musik di audio mobilnya. Sudah lama sejak terakhir kali dia menikmati waktu bersama Yugyeom, mereka biasanya melakukannya secara rutin namun sejak bersama Taehyung; mereka lebih suka bersama di Puri saja.

Dia mencatat di kepalanya akan mengajak keduanya pergi ke tempat rekreasi suatu hari nanti. Menyadari sepenuhnya betapa Taehyung mengapresiasi waktunya bersama Yugyeom selama ini. Jeongguk selalu menyadari betapa rileks dan lepas tawa Taehyung, bagaimana bahunya turun dan kerutan di keningnya mengendur saat dia berada di sekitar Yugyeom. Dan Jeongguk sangat menyukainya; bagaimana bahagia nampak sangat indah di wajah Taehyung.

Dia menggenggam roda kemudi lebih kuat sekarang, menghela napas. Jika dengan bertemu konselor dia bisa membahagiakan Taehyung lebih lagi, melenyapkan rasa takut tidak beralasan yang menghantuinya belakangan ini tentang betapa takutnya dia menjadi tidak layak untuk Taehyung; maka Jeongguk siap melakukan ini.

Apa saja—apa saja demi Taehyung.

Mungkin suatu hari nanti, setelah mereka berdua bahagia jauh dari semua orang yang memandang mereka sebelah mata, dia akan menceritakan ini pada Taehyung. Karena dia sungguh tidak ingin hidup dalam kebohongan dengan Taehyung. Dia ingin pemuda itu mengetahui segalanya dan Jeongguk takut menghadapi kemarahannya—takut dia akan menggunakan kartu AS pergi dari kehidupan Jeongguk sebagai hukumannya.

“Wiktu, boleh mampir ke McDonald's?” Tanya Yugyeom yang menurunkan sandaran kursinya, menikmati perjalanan.

Jeongguk mengangguk. “Kau tidak mau menggunakan mobil Wiktu untuk jalan dengan Gung Ami?” Tanyanya, menghindari lalu lintas bypass yang padat lancar ke arah Denpasar.

Yugyeom menggeleng. “Dia yang nanti menjemputku di rumah Mbak Thia. Agar Wiktu tidak menunggu lama, jika sesi Wiktu sudah selesai hubungi saja.” Dia menoleh, melemparkan senyuman menyemangati pada Jeongguk.

Dalam hati, dia mendesah. Teringat kekasih adiknya yang samar-samar diingatnya; mereka teman SMA di Karangasem sebelum Ayumi atau Ami sekeluarga pindah ke Denpasar karena ayahnya dipindah tugaskan. Anak baik dan manis, Jeongguk jarang berinteraksi karena saat adiknya SMA Jeongguk sudah sibuk mengejar obsesinya menjadi executive head chef.

Adiknya heteroseksual dan kekasihnya berasal dari kasta yang sama dengan mereka; tidaklah berlebihan saat Jeongguk mengatakan bahwa karpet merah digelar di kaki Yugyeom. Dia mendapatkan segalanya dengan mudah; semua pintu terbuka untuknya. Hanya masalah waktu hingga orang tua mereka mendesak Yugyeom untuk menikah dan itu tidak akan lama lagi.

“Baiklah.” Jeongguk mengulurkan tangan, mengusap kepala adiknya sayang dan tersenyum. Yugyeom anak manis, dia berhak mendapatkan kehidupan yang bahagia.

Menepati janjinya, Jeongguk membelok ke drive thru McDonald's untuk adiknya. Mereka membeli dua kentang ukuran besar, dua chocolate pie dan dua vanila McFlurry—makanan kesukaan mereka. Jeongguk tidak terlalu sering makan fast food, tapi dari McDonald's dia hanya menoleransi dessert dan es krim mereka. Setelah menerima makanan mereka, Jeongguk kembali mengemudi.

“Ke mana arahnya?” Tanya Jeongguk sementara Yugyeom mulai menjejalkan potongan kentang goreng ke mulutnya seraya kemudian menyebutkan arah yang mereka ambil menuju rumah Thia.

Jeongguk kembali tegang.

Belum pernah setegang ini selama hidupnya—mungkin sekali ketika dia menghadapi ayahnya untuk memperjuangkan keinginannya masuk sekolah kulinari dan menjadi chef. Namun yang kali ini, dia takut karena hal yang benar-benar berbeda. Jeongguk mengikuti petunjuk Yugyeom dengan seksama, berdebar karena tegang dan saat mereka akhirnya berhenti di rumah sederhana yang mereka duga adalah rumah Thia—jantung Jeongguk menonjok tenggorokannya hingga dia nyaris muntah.

“Tidak apa-apa, Wiktu bisa melakukannya.” Yugyeom menepuk tangannya dengan lembut dan Jeongguk meraih ponselnya, menghapus pemberitahuan dari Taehyung yang akan dibalasnya nanti.

Dia menekan tombol panggil di nomor Thia dan menunggu nada sambung. Teleponnya diangkat pada dering keempat dan Jeongguk menahan napasnya.

Halo, Gung?”

Jeongguk menghela napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Dia sudah di sini, sudah terlambat untuk mundur. “Mbak Thia, saya di depan.”


Tak!

“Aduh, becikang, Atu, becikang!” Aduh, hati-hati, Atu.

Taehyung berhenti menggerakkan blakas-nya—pisau berbilah besar sejenis golok di atas bambu yang sedang dibelahnya untuk membuat sanggah caru. Dia menatap tangannya sendiri yang hampir putus karena terkena bilah pisaunya sendiri—perasaannya tidak enak. Sejak beberapa hari lalu. Dia merasa Jeongguk sedang berbohong padanya.

Dia sedang berada di banjar, membantu masyarakat mempersiapkan hari raya dengan memasak makanan serta membangun sarana persembahyangan. Memasang pakaian baru untuk setiap pura dan memasang panji-panji. Dia sudah bekerja setidaknya sepanjang pagi sementara tim lain mengerjakan lawar untuk makan siang mereka nanti.

Banjar sangat riuh hari itu. Beberapa orang mulai berdatangan membawa banten-banten mereka, meletakkannya di meja tinggi baru yang mereka buat dari bambu-bambu. Gamelan Bali diputar di pengeras suara, menemani mereka bekerja dan aroma dupa pekat serta kopi yang diseduh tanpa henti selama mereka bekerja. Riuh-rendah obrolan para anggota yang bekerja membuat Taehyung fokus pada pekerjaannya. Dia sudah merasa lusuh, dengan kemeja denim dan kain yang mulai tidak karuan bentuknya karena sejak pagi digunakan untuk naik turun bekerja serta kepalanya yang lengket karena udeng.

Taehyung menatap bilah-bilah bambu yang dibelahnya tadi, sebentar lagi akan dianyam untuk membentuk sanggah kecil sekali pakai. Alisnya berkerut, dia meletakkan blakas-nya di tanah di sisi kakinya yang bersila dengan tidak nyaman. Sesuatu bergerak di dasar perutnya, seperti seekor binatang yang terganggu—menggeliat dan menggeram, menyadari ada sesuatu yang salah.

Jeongguk tidak pernah berbohong padanya, itulah mengapa ketika dia berbohong Taehyung seketika menyadarinya. Namun dia memilih mengabaikannya, firasat yang menganggunya karena dia tidak ingin memperkeruh suasana dengan Jeongguk. Pemuda itu kelelahan sekali belakangan ini, Taehyung tidak tega menambahkan masalah untuknya.

“Atu?” Tanya seorang anggota banjar, mendekat ke arahnya. “Atu nenten kenapi?” Tidak apa-apa?

Taehyung mendongak, mengerjap—sejenak merasa diorientasi sebelum mengangguk, tersenyum terlambat. “Baik, saya baik. Tidak apa-apa.” Katanya dengan bahasa halus, menghibur pria paruh baya itu. “Dilanjutkan saja, Pak, silakan.”

Dia tersenyum pada para bapak-bapak yang membantunya bekerja lalu membenahi kainnya sebelum meraih kembali batang bambu yang dijatuhkannya tadi. Dia menatap benda itu, meraih blakas kembali dan berpikir—menatapnya seolah benda itu baru saja melakukan hal yang sangat jahat padanya. Haruskah dia bertanya pada Jeongguk?

Atau dia berpura-pura tidak tahu? Menunggu Jeongguk akhirnya jujur padanya?

Taehyung menyelipkan bilah blakas-nya di bambu lalu mulai membelahnya dengan isi kepala berada di tempat lain. Bambu terbelah dengan suara nyaring namun Taehyung sama sekali tidak menyadarinya. Bagaimana jika ternyata Jeongguk keluar bersama Mirah? Dan Yugyeom bekerja sama dengan kakaknya agar tidak mengatakannya pada Taehyung?

Napas Taehyung mulai memburu dan paru-parunya yang malang kepayahan karena perasaan amarah itu. Napasnya memberat, terdengar berdenging dan tersengal-sengal. Bagaimana jika Jeongguk memang pergi bersama Mirah? Sekarang sedang berjalan-jalan menikmati waktu mereka berdua tanpa sepengetahuan Taehyung?

Bagaimana jika—

Ponselnya berdenting dan dia bergegas meletakkan blakas di tangannya sebelum meraihnya dari saku kemejanya. Yugyeom. Alisnya berkerut tidak suka saat dia membuka pesan itu terburu-buru dan mendapati Yugyeom mengirimkannya swafoto di dalam Yaris Jeongguk. Anak itu memegang es krim dengan kentang goreng di mulutnya dengan sudut foto yang menampilkan Jeongguk di kursi kemudi—tersenyum dengan kentang di salah satu tangannya yang mengemudi. Foto itu menunjukkan sudut kursi penumpang di belakang Jeongguk—satu-satunya tempat kosong lain di mobil itu, dan tidak ada siapa pun di sana.

Napas Taehyung merileks walaupun dia masih tidak yakin; mereka bisa saja menjemput Mirah atau bertemu dengan gadis itu di tempat tujuan mereka.

Kami berkencan dulu, ya, Wigung!!!!!! Begitu pesan yang menyertai foto itu dan mau tidak mau, Taehyung tersenyum kecil. Dia akan membawa keduanya pergi ke tempat rekreasi suatu hari nanti, pasti menggemaskan.

Dia baru saja akan menyimpan ponselnya kembali, merasa sedikit lebih rileks saat Yugyeom mengirimkan foto kedua. Ada Jeongguk dan seorang gadis yang jauh lebih pendek darinya—rambutnya panjang hitam, tergerai lembut di atas bahunya. Kurus sekali dan Yugyeom mengetik: Pacarku ikut hari ini!

Taehyung kembali tersenyum. Mulai merasa hatinya ringan; mereka memang menghabiskan waktu bersama dan menyesal tidak bisa ikut. Dia seharusnya bisa berkenalan dengan kekasih Yugyeom, melakukan kencan ganda yang untuk pertama kalinya tidak akan membuatnya jengkel.

Dia mengetik balasan: Kapan-kapan Wigung dikenalkan, ya?

Jawabannya datang seketika: Jelas! Ayo kencan ganda!

Taehyung tersenyum—Yugyeom anak baik dan favorit Taehyung. Memiliki adik lelaki adalah harapan terpendamnya selama ini. Pastilah menyenangkan memiliki adik dengan jenis kelamin sama dan tekanan patriarki yang bisa dibagi. Dia bersyukur Jeongguk memiliki adik, setidaknya dia memiliki jalan keluar untuk mereka. Bayangkan jika mereka berdua merupakan anak lelaki satu-satunya dan pewaris Puri?

Tidak ada Mirah? Tanyanya sekali lagi, mengerutkan alis menatap layar ponselnya—menunggu hingga penanda pesan terkirim menyala biru dan Yugyeom mengetik balasan.

Sama sekali tidak! Hanya kami bertiga <3

Dia menghela napas dan menyimpan kembali ponselnya; masih terasa ada yang mengganjal di hatinya. Yugyeom tidak akan berbohong padanya, 'kan? Dia sayang Taehyung, sama seperti dia menyayangi kakaknya. Dia mungkin hanya bersikap terlalu awas tentang Jeongguk, dia meraih blakas-nya dan kembali bekerja.

Dia akan menunggu Jeongguk jujur padanya tentang hari ini. Berharap lelaki itu sungguh akan jujur padanya.

*

Gourmet Meal 426b tw // abusive partner , mention of physical abuse .

ps. sorry the vaccine's effect kicks in in the middle so excuse the typo please it feels like i'm made with jelly sksksks


Taehyung melirik Jeongguk dan Mirah yang berjalan beberapa meter jauhnya dari mereka, melihat-lihat etalase yang terisi pakaian formal yang ingin dibeli Mirah untuk bekerja.

Mereka memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, berjalan-jalan tanpa tujuan sebelum bertemu penjahit kebaya yang mereka inginkan. Devy duduk di hadapannya, menggenggam gelas plastik terisi Starbucks kesukaannya dan nampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Taehyung menyadari bahwa itu salah satu efek dari diam dan amarah yang dilampiaskannya ke Devy mengenai dipercepatnya pernikahan mereka. Taehyung menghela napas, dia tidak bisa menolongnya. Dia benar-benar kaget dan marah karena keputusan itu, belum lagi memar di wajahnya karena ayahnya.

Namun dia juga tidak bisa mengabaikan diam Devy. Dia biasanya gadis yang sangat ceria, cerewet dalam cara yang membuat Taehyung terhibur. Dia kadang menjadi salah satu distraksi yang disukai Taehyung—sempat mencoba bersikap sopan padanya karena dia membantu Taehyung namun sekarang tiap kali dia melihat Devy dia hanya merasakan amarah.

Dia sungguh tidak bisa mencintai gadis itu, benar. Dia benci perasaan tidak berdaya yang mengungkungnya selama ini karena 'terjebak' bersama Devy. Dia menyugar rambutnya, dia membelikan Devy minumannya tadi—berharap gadis itu sedikit lebih ceria namun dia duduk di sana, di hadapan Taehyung seperti patung. Mereka sudah duduk di Starbucks setidaknya dua puluh menit sementara Jeongguk meregangkan kakinya bersama Mirah yang ingin membeli produk perawatan dan pakaian baru. Devy menolak beranjak karena Taehyung tidak mau pergi.

“Devy,” panggilnya dengan nada biasa saja namun gadis itu berjengit kaget seolah Taehyung menusuknya dengan sesuatu—wajahnya panik saat mendongak. Mata Taehyung memicing karena sikap itu. “Kenapa kau tidak pergi dengan Mirah saja? Aku dan Jeongguk menunggu di sini.”

Devy menyeka rambutnya, nampak sedikit gelisah dan Taehyung entah mengapa tidak menyukainya. Kenapa dia harus bersikap seperti itu? Dia membuat Taehyung merasa tidak nyaman.

“Tidak apa-apa, Wigung. Aku menemani Wigung saja.” Katanya, mengangguk lalu menyesap minumannya.

Taehyung menggertakkan rahangnya. Jika dia pergi dengan Mirah, Taehyung bisa memiliki waktu bersama Jeongguk mengobrol dan memastikan pemuda itu sudah baik-baik saja. Dia melirik pasangan itu sekali lagi; Jeongguk nampak baik-baik saja, dia mengenakan celana jins longgar pudar dengan sweatshirt berwarna tanah yang membuatnya nampak hangat dan menggemaskan. Taehyung ingin memeluknya, namun dia terjebak di sini—duduk di Starbucks yang ramai dengan 'kencannya' yang membosankan.

“Kita pindah saja bertemu penjahit?” Tanyanya kemudian pada Devy yang meliriknya. “Aku tidak mau menahanmu dalam kencan yang tidak kausukai.” Taehyung bersandar dalam di kursinya, menyilangkan kaki panjangnya yang terbalut celana jins skinny dan menumpukan kedua lengannya di sandaran tangan kursinya.

Di sini lumayan dingin namun Taehyung menggulung lengan kemejanya dan membuka dua kancing teratasnya—tidak pernah menyukai kunkungan pakaian di tubuhnya. Dia bahkan melepas kancing teratas kemeja chef-nya karena kerah sialan itu mencekiknya.

Devy belum sempat menjawab saat Taehyung mencium aroma parfum Jeongguk. Dia menoleh, menemukan Jeongguk sedang tertawa tanpa suara dengan Mirah bergelayutan di lengannya. Taehyung menghela napas, menahan emosinya karena dia tahu Jeongguk hanya menjalankan perannya sebagai calon suami yang baik. Namun tetap saja saat melihat rona merah sehat di wajah Jeongguk saat dia tertawa dan itu bukan karena Taehyung, hatinya meradang.

Kenapa dia tidak bisa membuat Jeongguk bahagia? Dan kenapa Mirah melakukannya dengan sangat mudah?

Taehyung meraih minumannya, menyesap cappuccino panasnya dari gelas kertas dengan perasaan tidak karuan. Perasaan iri, tidak nyaman dan amarah yang menggelegak di dasar perutnya namun dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia memejamkan matanya, mendengar suara Jeongguk yang lembut saat mendekat; apakah Jeongguk memang selalu bicara dengan nada selembut itu pada semua orang?

Kenapa, pikir Taehyung getir saat dia menggenggam gelasnya—merasakan hangat minumannya menyebar di ujung jemarinya. Kenapa Jeongguk harus menjadi lelaki yang baik pada semua orang? Kenapa dia tidak bisa jadi lelaki dingin yang acuh?

Mereka tiba di meja, Mirah tidak membawa apa pun karena semua paperbag belanjaannya dibawa oleh Jeongguk dengan sangat ksatria. Mirah mendudukkan dirinya di kursi, masih terkekeh geli sementara Jeongguk meletakkan belanjaannya di dekat kaki Mirah sebelum berdiri dan menoleh ke Taehyung yang terkesiap karena tatapannya.

“Kau mau sesuatu lagi dengan minumanmu?” Tanyanya, dengan nada yang jauh lebih lembut dari yang digunakannya pada Mirah hingga Taehyung yakin suaranya baru saja membelai kulitnya seperti sutra.

Dan fakta bahwa dia bertanya pada Taehyung sebelum Mirah membuatnya tersentuh. Menghapus segala keraguannya tentang perasaan Jeongguk.

Taehyung sejenak menatapnya, terpesona sebelum mengerjap dan menggeleng. Dia mengedikkan gelasnya pada Jeongguk sebelum menyesapnya, memberi tahunya bahwa dia baik-baik saja.

“Cukup.” Katanya kalem, namun jantungnya berdebar kuat di balik tulang rusuknya.

Sweatshirt sialan itu membuat Jeongguk nampak sangat... hangat. Dia mengenakan warna sejuk yang menyejukkan, membalut tubuhnya yang penuh dan bidang. Taehyung ingin memeluknya, berbaring di atas dadanya dan melupakan dunia; mengunci pintunya dari semua kenyataan. Mendengarkan nada lembut Jeongguk sepanjang waktu.

Taehyung akan membelikan Jeongguk lebih banyak sweatshirt sewarna tanah nanti. Untuk kepentingan pribadinya.

“Green tea latte lagi?” Kini Jeongguk beralih ke Mirah yang meregangkan kakinya yang terbalut heels lima senti. Gadis itu mengangguk, tersenyum ceria seraya menggumamkan terima kasih dan Taehyung menahan napasnya.

Mereka nampak sangat natural, begitu indah dan mengisi satu sama lain dengan sempurna. Pembawaan mereka sama-sama tenang dan ningrat, mereka akan menjadi orang tua yang luar biasa. Mirah nampak bisa mengendalikan dirinya dengan baik, tenang dan berpendidikan. Sama seperti Jeongguk. Jika saja Jeongguk tidak mengenakan cincin Tiffany mereka, Taehyung pasti sudah merasa dialah pengganggunya di antara hubungan mereka.

Taehyung memejamkan matanya, menenangkan diri seraya menyesap minumannya dengan perlahan sementara Mirah mulai mengajak Devy mengobrol—syukurlah anak itu kemudian jadi terdengar lebih ceria, Taehyung benci menatap wajahnya yang nampak seperti kucing ketakutan. Dia membuat Taehyung merasa tidak nyaman dan bersalah; dia tidak menyukai itu.

Jeongguk kembali, menyelipkan dompet ke saku belakang celananya dan duduk di sisi Taehyung yang berseberangan dengan Mirah dan Devy yang sedang membicarakan blush on baru yang dibeli Mirah—mereka mencobanya, mengusapnya dengan jemari untuk mengetes apakah shade-nya cocok dengan kulit Mirah.

“Kau lapar?” Jeongguk menatapnya, tersenyum lembut dan Taehyung menghela napas—bagaimana mungkin lelaki selembut dan setenang Jeongguk jatuh cinta pada lautan berbadai dan manusia cacat seperti Taehyung?

Sudah bertahun-tahun sejak kali pertama Taehyung membaca pesan Jeongguk: I love you dan mendengar pemuda itu mengatakannya berkali-kali selama mereka bercinta. Namun Taehyung masih sulit mempercayai bagaimana dia mengulurkan tangan pada Taehyung dan membalut lukanya dengan begitu sabar, meladeni semua kesintingan dalam hidup Taehyung dengan tulus. Layakkah Taehyung mendapatkan lelaki ini?

“Tidak. Aku baik.” Sahut Taehyung, tersenyum padanya—tidak bisa menahan diri karena Jeongguk nampak bersinar karena senang. Dia melirik Mirah yang sedang tertawa, sibuk bersama Devy.

Dia tidak menyukai Mirah, itu benar. Tapi dia mengapresiasi bagaimana gadis itu membuat Jeongguk rileks dan tertawa, hal yang belum bisa dilakukan Taehyung sekarang. Mungkin dia bisa berusaha sedikit, memahami Jeongguk sebagaimana Jeongguk selalu memahaminya. Melihat Jeongguk menangis di hadapannya telah membuka mata Taehyung; membuatnya menyadari mungkin selama ini ada begitu banyak hal yang disembunyikan Jeongguk darinya. Takut diungkapkannya.

Taehyung tidak keberatan dengan kecenderungan Jeongguk bercerita pada Mirah—sedikit. Dia tidak bisa memaksakan rasa percaya sama sekali, dia hanya berharap dia bisa membuat Jeongguk nyaman di kemudian hari karena Taehyung kekasihnya, 'kan? Jeongguk sudah berusaha begitu banyak dalam hubungan mereka selama ini dan Taehyung mendadak ingin berkontribusi dalam hubungan mereka.

Semua karena dia melihat lelaki itu menangis di hadapannya.

Jeongguk pasti kelelahan dan tidak mau membicarakan apa pun pada Taehyung. Dia bisa saja memaksa Jeongguk bicara namun dia tidak mau. Dia ingin Jeongguk sendiri yang membicarakannya, mempercayai Taehyung—yang belum dilakukannya. Taehyung menghela napas, dia akan berusaha lagi. Berusaha menggeser Mirah dari hatinya. Dia bisa memainkan permainan ini dengan baik, dia bisa menjadi lebih baik dari Mirah.

Taehyung tidak bisa lagi membayangkan Jeongguk yang menangis di hadapannya, tersedu-sedu memeluknya dengan tubuh gemetar karena mimpi buruk. Rasa sakit yang mencabik hatinya nyaris terasa melumpuhkan, membuat tulang punggungnya terasa lunak—tidak sanggup menopang tubuhnya. Dia memutuskan dia tidak sudi lagi melihat Jeongguk menangis di hadapannya.

“Aku membelikanmu sesuatu,” kata Jeongguk kemudian, tersenyum tipis. “Akan kuberikan nanti.”

Alis Taehyung naik sebelah. “Kau membelikanku apa?” Tanyanya.

Jeongguk mengedikkan bahunya, bersandar di kursinya dan tersenyum—nampak begitu hangat dan nyaman hingga Taehyung merasa mengantuk. Dia seperti pagi berkabut setelah hujan yang membuat siapa saja akan menarik kembali selimut mereka dan memejamkan mata—menikmati pagi yang malas. Jeongguk seperti pagi sehabis badai, tenang dan menghanyutkan. Siapa pun akan tenggelam dalam sepasang matanya yang teduh, dalam, dan hangat. Penasaran pada kehangatannya, seperti laron yang mendekati cahaya.

Jeongguk adalah matahari, memancarkan cahaya dan kehangatan. Mengundang siapa saja untuk mendekatinya, terperosok pada pesonannya yang meneduhkan. Sangat bertolak belakang dengan Taehyung yang dingin, misterius, dan mudah marah. Orang waras akan cenderung menghindari Taehyung dan mendekat pada Jeongguk. Maka saat matahari itu merendahkan dirinya dari langit untuk meminang Taehyung, dia tidak yakin pada pendengarannya sendiri hingga dia menggenggamnya di tangannya.

Dia menggenggam Jeongguk, begitu erat ke hatinya. Mirah sama sekali tidak punya kesempatan.

“Hanya sesuatu yang kecil dan tidak penting,” Jeongguk sekarang nampak merona sedikit dan Taehyung menggertakkan giginya menahan senyuman lebar bodoh saat Jeongguk merogoh sakunya dan mengulurkan tangannya di bawah meja, tersembunyi dari kedua perempuan di hadapan mereka.

Taehyung menunduk, menemukan sepasang gelang buatan tangan konyol di atas telapak tangannya. Dibuat dari benang berwarna hitam polos dengan satu manik di tengahnya, bisa disesuaikan dengan simpul. Hati Taehyung seketika menghangat. Benda itu mungkin benda paling tidak signifikan yang pernah Taehyung terima, benda konyol. Memangnya mereka anak SD yang membeli gelang untuk digunakan berpasangan saat mereka sudah memiliki cincin Tiffany mahal di jemari mereka?

Namun Taehyung meraihnya, merasakan tekstur gelang itu di telapak tangannya. Membayangkan dengan hangat bagaimana Jeongguk mungkin berhenti di toko kecil yang tidak mencolok, mengulurkan tangan dan dengan antusias memilih gelang yang diinginkannya—memikirkan Taehyung.

“Benda bodoh,” kata Taehyung menatap gelang itu dengan senyuman di bibirnya. Dia mendongak, menatap Jeongguk yang tersenyum. “Benda konyol.” Ulangnya namun dia melonggarkan simpulnya dan mengenakannya di tangan kanannya.

Chef tidak boleh mengenakan aksesoris apa pun di tangan mereka karena harus menjaga self-hygiene tapi Taehyung tidak keberatan. Dia akan menyimpan benda itu di sakunya saat bekerja. Dia mengencangkannya lalu menunjukkannya pada Jeongguk.

“Tidak penting,” katanya dengan senyuman kecil di bibirnya. “Seperti anak kecil.” Gumamnya, hatinya hangat sekali—mengembang seperti sebuah roti yang dipanggang. “Memangnya kita berapa? 12 tahun?”

“Tapi kau menyukainya?” Tanya Jeongguk lembut.

Taehyung menatapnya. “Kau bercanda?” Dia balas bertanya, berusaha terdengar jengkel saat menyugar rambutnya. “Tentu saja aku tidak menyukainya. Benda bodoh murahan.” Taehyung menggenggam pergelangan tangannya, merasakan denyutan nadinya yang memburu.

Dia bahagia, sangat bahagia hanya karena gelang kecil yang tidak mungkin berharga lebih dari lima puluh ribu rupiah. Tapi dia senang, senang sekali.

Jeongguk menumpukan dagunya, menatapnya sejenak sebelum barista menyebutkan namanya untuk mengambil minuman. Jeongguk berdiri, melewatinya dan berbisik—cukup keras untuk didengar Taehyung sendiri yang menunduk menatap gelang barunya.

“Syukurlah jika kau tidak menyukainya.”

Taehyung mengulum senyumannya—merasa amat bahagia. Jeongguk pasti sudah gila karena dia bisa bersikap sangat menggemaskan hari ini hingga dia ingin sekali memeluknya, menciumi wajahnya dan membuatnya mendesah senang.

Namun mereka masih punya sepanjang hari, Taehyung harus bersabar.

“Hah?”

Jeongguk meringis, “Aku harus menemani Mirah ke suatu tempat setelah ini.” Bisiknya saat mereka berempat ada di tukang jahit memilih satu dari ratusan sampel kain yang digelar di meja raksasa di hadapan mereka.

Ruangan itu besar dan didominasi jendela yang membuatnya terang benderang, mempermudah para penjahit untuk bekerja dan melihat warna kain dengan lebih baik. Para perempuan tenggelam dalam ratusan kain kebaya yang mereka sukai sementara Jeongguk dan Taehyung berdiri di kejauhan—mengamati.

Taehyung membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu dengan wajah terganggu dan Jeongguk sudah menahan napasnya, siap menerima ketidak sukaannya pada fakta itu sebelum pemuda itu menghela napas. Dia memijat pelipisnya dan mendesah keras.

“Wigung?” Bisik Jeongguk lembut, tangannya bergerak—hendak menyentuhnya namun dia menahan diri karena mereka ada di ruang publik. Maka dia menjatuhkan kembali tangannya. “Kau oke?”

Taehyung mengangguk, nampak berusaha keras mengendalikan dirinya sebelum mengatakan, “Baiklah.” Katanya kemudian, menggertakkan gigi dengan mata terpejam erat. “Jam berapa kau pulang?”

Jeongguk berpikir sejenak, “Entahlah. Aku tidak yakin seberapa lama Mirah akan bertemu temannya.” Lalu dia mengerjap dan menyunggingkan senyuman separuhnya, menyadari apa yang diinginkan Taehyung. “Kau ingin check in?”

Taehyung merona sejenak sebelum berdeham keras hingga beberapa penjahit menoleh kaget karena suaranya yang berat. Dia nampak terganggu namun Jeongguk sangat menghargai bagaimana dia berusaha mengendalikan dirinya; Jeongguk senang. Kekasihnya berusaha untuk Jeongguk. Dia ingin menyentuh Taehyung, ingin mengusap warna merah tipis di kulitnya yang sewarna zaitun—karena semburat itu cantik sekali hingga hati Jeongguk berdesir.

Dia begitu mencintai Taehyung, teramat mencintainya hingga dia ketakutan pada cintanya sendiri. Takut tubuhnya yang lemah tidak bisa menangguhkan perasaan itu, meledak karena betapa tak tertahankannya perasaan itu. Jeongguk melirik Mirah yang tertawa, menyadari dia mungkin hanya memandang gadis itu sebagai teman karena dia selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat Jeongguk merasa lebih baik.

Namun jika bicara tentang cinta,

Dia menatap Taehyung yang berdecak tentang Jeongguk yang selalu tahu isi kepalanya dan dia sudah memesan kamar di lodge langganan mereka di Candidasa.

Dia jatuh cinta pada Taehyung, begitu dalam tenggelam dalam pelukannya hingga Jeongguk tidak ingin diselamatkan. Dia nyaman di sana, terseret arus ganas samudera itu—menyadari bahwa inilah seni mencintai Taehyung. Jeongguk tersenyum.

“Baiklah,” katanya melirik jam tangannya. “Aku akan mengantar Mirah pulang lalu menemuimu di sana, bagaimana?”

Taehyung tersenyum. “Sepakat.” Sahutnya. “Jangan mengganti bajumu, oke?”

Alis Jeongguk naik sebelah, “Dan kenapa?”

Taehyung menatapnya, sejenak nampak rikuh sebelum berdeham kecil. “Kau kelihatan luar biasa dengan pakaian itu.”

Senyuman Jeongguk kemudian terbit, merekah seperti sekuntum bunga dan hatinya melompat seperti seekor anak kelinci karena pujian sesederhana itu. Taehyung benar-benar tidak terduga—dia bisa jadi sangat menggemaskan dan sangat melelahkan, tidak pernah memiliki suasana hati yang normal. Jeongguk mungkin sudah mulai terbiasa dengan perubahan itu.

Dia lelah sekali belakangan ini, sulit tidur dan memiliki pusing yang sulit sekali hilang bahkan setelah meminum obat. Namun melihat Taehyung tersenyum, nampak rileks dan bahagia menyembuhkan penyakitnya seketika itu juga.

“Aku akan memastikan Mirah pulang sebelum terlalu larut, oke?” Katanya saat mereka berpisah setelah Devy memilih kain kebaya yang disukainya berserta kain mereka—dia membawa pulang sampel kain itu untuk ditunjukkan pada kedua orang tua mereka sebagai 'bukti' bahwa Taehyung serius mengurusnya.

Walaupun sama sekali tidak menyukainya.

“Aku tidak ingin dia memukulmu lagi, oke?” Kata Jeongguk saat Taehyung menolak melakukannya, mengusap pipinya sayang. Membujuknya. “Lakukan saja apa yang dia inginkan.”

“Sampai kapan?” Tanya Taehyung dan hati Jeongguk terasa ditembus sebilah belati—menembus rusuknya hingga dia sejenak harus membungkuk karena rasa sakit itu terasa begitu nyata.

Sampai kapan?

Pertanyaan yang sama, Jeongguk juga penasaran sampai kapan mereka harus melakukan ini hingga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri? Hingga semua orang akhirnya meninggalkan mereka sendirian? Jeongguk berusaha, dia sangat berusaha mencari jalan keluar namun posisi Taehyung yang sulit membuatnya semakin dan semakin kebingungan.

Maka dia memeluk pemuda itu, menghirup aroma rambutnya dan mengusap dadanya—meminta maaf dengan gesturnya. “Maafkan aku,” bisiknya lirih, merasaa nyeri karena rasa bersalah—tidak juga bisa melepaskan mereka dari jerat masalah. Mulai merasa seharusnya Jeongguk tidak mengejar Taehyung sama sekali karena percaya dirinya yang lalu mulai rapuh dan retak.

Dia takut sekali; kehilangan Taehyung dan tidak bisa memperjuangkannya. Jeongguk takut Taehyung menyesal—dia ingin sekali membahagiakan Taehyung. Kegagalan selalu membuat Jeongguk resah; maka jika dia gagal membahagiakan Taehyung, Jeongguk tidak yakin dia masih bisa tetap hidup. Kegagalan yang terlalu besar untuk diingat sepanjang sisa hidupnya.

“Maaf.” Bisiknya, berulang-ulang dengan Taehyung yang meringkuk dalam pelukannya seperti bola. Mencoba menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Jeongguk. “Kita akan menemukan cara,” bisiknya—mencoba meyakinkan Taehyung.

Dan dirinya sendiri.

“Aku akan menemukan cara.” Dia mengecup kening Taehyung dan kembali memeluknya dengan mata terpejam; bergidik karena betapa benarnya kalimat itu terasa dan betapa takutnya dia.

Jeongguk di masa sekarang mendesah, dia berkendara menembus lalu lintas kembali ke pusat perbelanjaan yang tadi mereka datangi sebelum pergi ke tempat kebaya. Jeongguk sudah bertanya kenapa teman Mirah tidak bergabung saja saat mereka di sana namun menurut Mirah, temannya sedang memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

“Hari Sabtu?” Tanyanya dengan alis berkerut—berpikir mungkin teman Mirah seorang hotelier dengan sistem kerja shifting.

Mirah mengangguk, mengoles lipstik cair ke tangannya—mengecek warnanya. “Dia tepat waktu, kok. Selalu.” Dia mendongak dan tersenyum, sesuatu berkilat di matanya. Jeongguk tidak terlalu menyukainya—kilatan itu. Karena dia tidak tahu apa makna dibaliknya.

Mereka melangkah ke arah Starbucks yang mereka datangi tadi dan Mirah menempelkan ponsel di telinganya. “Sudah di dalam?” Tanyanya ceria. “Aku sudah dekat. Tunggulah. Pesan sesuatu, aku traktir.”

Jeongguk menyentuh bahunya, menggeleng. “Aku saja yang bayar.” Katanya dan Mirah balas menggeleng dengan tegas. “Aku bisa membayar belanjaanku sendiri.” Dia tersenyum dan Jeongguk mendesah.

Mereka memasuki gerai kopi itu, aroma biji kopi yang diolah dan pengharum ruangan membuat Jeongguk sejenak rileks. Mirah menoleh ke sana kemari lalu menemukannya—seorang perempuan paruh baya yang duduk di sudut ruangan, nampak sangat ramah dan tenang, melambai ceria padanya.

“Ayo, Bli Gung.” Katanya bersemangat, meraih tangan Jeongguk dan menariknya mendekat—nyaris menyeretnya.

Jeongguk bergegas mengikuti kaki Mirah yang kecil ke arah perempuan yang sekarang berdiri. Dia mengenakan celana jins nyaman, kemeja longgar dan kacamata—wajahnya memiliki kesan lembut yang menenangkan. Ekspresi yang membuat Jeongguk seketika merasa nyaman dan tenang di sekitarnya, memercayainya. Pembawaannya begitu anggun, seperti rusa betina dan Jeongguk membalas senyumannya—nyaris detik itu juga karena senyumannya seperti virus, menular.

“Halo, Gung.” Sapa perempuan itu, mengulurkan tangan dan Jeongguk menjabatnya—menyukai jabatannya yang ternyata kuat dan tegas. “Senang sekali bertemu denganmu. Saya Thia.”

Jeongguk mengangguk, mengerjap. “Halo, Mbak Thia.” Sahutnya setelah jabatan tangan mereka terpisah—aura positif perempuan ini, Thia, membuat Jeongguk nyaman. Dia duduk di kursi, di sebelah Mirah yang nampak bersemangat entah karena apa.

Dia kemudian menoleh, tersenyum pada Jeongguk sambil menghela napas. “Bli Gung,” katanya kemudian dan Jeongguk menatapnya, penasaran. “Karena aku rasa Bli Gung tidak terlalu nyaman dengan lelaki paruh baya, jadi aku mencarikan seorang perempuan.”

Jeongguk mengerutkan alisnya, namun tersenyum—tidak mau nampak tidak sopan di depan Thia yang duduk di hadapannya dengan senyuman yang terlihat sangat lembut dan penuh pemahaman hingga Jeongguk merasa lemah, ingin menyerah.

Mirah menggaruk pelipisnya, nampak malu dan sedikit takut. “Maaf juga karena aku melangkahi Bli Gung dan tidak mengatakan apa pun,” dia meringis dan Jeongguk membuka mulut—hendak bertanya apa yang sebenarnya perempuan itu ingin katakan saat dia menambahkan.

“Dia seorang psikolog.” Mirah menatapnya, lurus dan tegas. “Bli Gung butuh bantuan.”


sorry. im so tired omg this vaccine sigh gnite! x

tw // abusive partner , mention of physical abuse .

ps. sorry the vaccine's effect kicks in in the middle so excuse the typo please it feels like i'm made with jelly sksksks


Taehyung melirik Jeongguk dan Mirah yang berjalan beberapa meter jauhnya dari mereka, melihat-lihat etalase yang terisi pakaian formal yang ingin dibeli Mirah untuk bekerja.

Mereka memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, berjalan-jalan tanpa tujuan sebelum bertemu penjahit kebaya yang mereka inginkan. Devy duduk di hadapannya, menggenggam gelas plastik terisi Starbucks kesukaannya dan nampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Taehyung menyadari bahwa itu salah satu efek dari diam dan amarah yang dilampiaskannya ke Devy mengenai dipercepatnya pernikahan mereka. Taehyung menghela napas, dia tidak bisa menolongnya. Dia benar-benar kaget dan marah karena keputusan itu, belum lagi memar di wajahnya karena ayahnya.

Namun dia juga tidak bisa mengabaikan diam Devy. Dia biasanya gadis yang sangat ceria, cerewet dalam cara yang membuat Taehyung terhibur. Dia kadang menjadi salah satu distraksi yang disukai Taehyung—sempat mencoba bersikap sopan padanya karena dia membantu Taehyung namun sekarang tiap kali dia melihat Devy dia hanya merasakan amarah.

Dia sungguh tidak bisa mencintai gadis itu, benar. Dia benci perasaan tidak berdaya yang mengungkungnya selama ini karena 'terjebak' bersama Devy. Dia menyugar rambutnya, dia membelikan Devy minumannya tadi—berharap gadis itu sedikit lebih ceria namun dia duduk di sana, di hadapan Taehyung seperti patung. Mereka sudah duduk di Starbucks setidaknya dua puluh menit sementara Jeongguk meregangkan kakinya bersama Mirah yang ingin membeli produk perawatan dan pakaian baru. Devy menolak beranjak karena Taehyung tidak mau pergi.

“Devy,” panggilnya dengan nada biasa saja namun gadis itu berjengit kaget seolah Taehyung menusuknya dengan sesuatu—wajahnya panik saat mendongak. Mata Taehyung memicing karena sikap itu. “Kenapa kau tidak pergi dengan Mirah saja? Aku dan Jeongguk menunggu di sini.”

Devy menyeka rambutnya, nampak sedikit gelisah dan Taehyung entah mengapa tidak menyukainya. Kenapa dia harus bersikap seperti itu? Dia membuat Taehyung merasa tidak nyaman.

“Tidak apa-apa, Wigung. Aku menemani Wigung saja.” Katanya, mengangguk lalu menyesap minumannya.

Taehyung menggertakkan rahangnya. Jika dia pergi dengan Mirah, Taehyung bisa memiliki waktu bersama Jeongguk mengobrol dan memastikan pemuda itu sudah baik-baik saja. Dia melirik pasangan itu sekali lagi; Jeongguk nampak baik-baik saja, dia mengenakan celana jins longgar pudar dengan sweatshirt berwarna tanah yang membuatnya nampak hangat dan menggemaskan. Taehyung ingin memeluknya, namun dia terjebak di sini—duduk di Starbucks yang ramai dengan 'kencannya' yang membosankan.

“Kita pindah saja bertemu penjahit?” Tanyanya kemudian pada Devy yang meliriknya. “Aku tidak mau menahanmu dalam kencan yang tidak kausukai.” Taehyung bersandar dalam di kursinya, menyilangkan kaki panjangnya yang terbalut celana jins skinny dan menumpukan kedua lengannya di sandaran tangan kursinya.

Di sini lumayan dingin namun Taehyung menggulung lengan kemejanya dan membuka dua kancing teratasnya—tidak pernah menyukai kunkungan pakaian di tubuhnya. Dia bahkan melepas kancing teratas kemeja chef-nya karena kerah sialan itu mencekiknya.

Devy belum sempat menjawab saat Taehyung mencium aroma parfum Jeongguk. Dia menoleh, menemukan Jeongguk sedang tertawa tanpa suara dengan Mirah bergelayutan di lengannya. Taehyung menghela napas, menahan emosinya karena dia tahu Jeongguk hanya menjalankan perannya sebagai calon suami yang baik. Namun tetap saja saat melihat rona merah sehat di wajah Jeongguk saat dia tertawa dan itu bukan karena Taehyung, hatinya meradang.

Kenapa dia tidak bisa membuat Jeongguk bahagia? Dan kenapa Mirah melakukannya dengan sangat mudah?

Taehyung meraih minumannya, menyesap cappuccino panasnya dari gelas kertas dengan perasaan tidak karuan. Perasaan iri, tidak nyaman dan amarah yang menggelegak di dasar perutnya namun dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia memejamkan matanya, mendengar suara Jeongguk yang lembut saat mendekat; apakah Jeongguk memang selalu bicara dengan nada selembut itu pada semua orang?

Kenapa, pikir Taehyung getir saat dia menggenggam gelasnya—merasakan hangat minumannya menyebar di ujung jemarinya. Kenapa Jeongguk harus menjadi lelaki yang baik pada semua orang? Kenapa dia tidak bisa jadi lelaki dingin yang acuh?

Mereka tiba di meja, Mirah tidak membawa apa pun karena semua paperbag belanjaannya dibawa oleh Jeongguk dengan sangat ksatria. Mirah mendudukkan dirinya di kursi, masih terkekeh geli sementara Jeongguk meletakkan belanjaannya di dekat kaki Mirah sebelum berdiri dan menoleh ke Taehyung yang terkesiap karena tatapannya.

“Kau mau sesuatu lagi dengan minumanmu?” Tanyanya, dengan nada yang jauh lebih lembut dari yang digunakannya pada Mirah hingga Taehyung yakin suaranya baru saja membelai kulitnya seperti sutra.

Dan fakta bahwa dia bertanya pada Taehyung sebelum Mirah membuatnya tersentuh. Menghapus segala keraguannya tentang perasaan Jeongguk.

Taehyung sejenak menatapnya, terpesona sebelum mengerjap dan menggeleng. Dia mengedikkan gelasnya pada Jeongguk sebelum menyesapnya, memberi tahunya bahwa dia baik-baik saja.

“Cukup.” Katanya kalem, namun jantungnya berdebar kuat di balik tulang rusuknya.

Sweatshirt sialan itu membuat Jeongguk nampak sangat... hangat. Dia mengenakan warna sejuk yang menyejukkan, membalut tubuhnya yang penuh dan bidang. Taehyung ingin memeluknya, berbaring di atas dadanya dan melupakan dunia; mengunci pintunya dari semua kenyataan. Mendengarkan nada lembut Jeongguk sepanjang waktu.

Taehyung akan membelikan Jeongguk lebih banyak sweatshirt sewarna tanah nanti. Untuk kepentingan pribadinya.

Green tea latte lagi?” Kini Jeongguk beralih ke Mirah yang meregangkan kakinya yang terbalut heels lima senti. Gadis itu mengangguk, tersenyum ceria seraya menggumamkan terima kasih dan Taehyung menahan napasnya.

Mereka nampak sangat natural, begitu indah dan mengisi satu sama lain dengan sempurna. Pembawaan mereka sama-sama tenang dan ningrat, mereka akan menjadi orang tua yang luar biasa. Mirah nampak bisa mengendalikan dirinya dengan baik, tenang dan berpendidikan. Sama seperti Jeongguk. Jika saja Jeongguk tidak mengenakan cincin Tiffany mereka, Taehyung pasti sudah merasa dialah pengganggunya di antara hubungan mereka.

Taehyung memejamkan matanya, menenangkan diri seraya menyesap minumannya dengan perlahan sementara Mirah mulai mengajak Devy mengobrol—syukurlah anak itu kemudian jadi terdengar lebih ceria, Taehyung benci menatap wajahnya yang nampak seperti kucing ketakutan. Dia membuat Taehyung merasa tidak nyaman dan bersalah; dia tidak menyukai itu.

Jeongguk kembali, menyelipkan dompet ke saku belakang celananya dan duduk di sisi Taehyung yang berseberangan dengan Mirah dan Devy yang sedang membicarakan blush on baru yang dibeli Mirah—mereka mencobanya, mengusapnya dengan jemari untuk mengetes apakah shade-nya cocok dengan kulit Mirah.

“Kau lapar?” Jeongguk menatapnya, tersenyum lembut dan Taehyung menghela napas—bagaimana mungkin lelaki selembut dan setenang Jeongguk jatuh cinta pada lautan berbadai dan manusia cacat seperti Taehyung?

Sudah bertahun-tahun sejak kali pertama Taehyung membaca pesan Jeongguk: I love you dan mendengar pemuda itu mengatakannya berkali-kali selama mereka bercinta. Namun Taehyung masih sulit mempercayai bagaimana dia mengulurkan tangan pada Taehyung dan membalut lukanya dengan begitu sabar, meladeni semua kesintingan dalam hidup Taehyung dengan tulus. Layakkah Taehyung mendapatkan lelaki ini?

“Tidak. Aku baik.” Sahut Taehyung, tersenyum padanya—tidak bisa menahan diri karena Jeongguk nampak bersinar karena senang. Dia melirik Mirah yang sedang tertawa, sibuk bersama Devy.

Dia tidak menyukai Mirah, itu benar. Tapi dia mengapresiasi bagaimana gadis itu membuat Jeongguk rileks dan tertawa, hal yang belum bisa dilakukan Taehyung sekarang. Mungkin dia bisa berusaha sedikit, memahami Jeongguk sebagaimana Jeongguk selalu memahaminya. Melihat Jeongguk menangis di hadapannya telah membuka mata Taehyung; membuatnya menyadari mungkin selama ini ada begitu banyak hal yang disembunyikan Jeongguk darinya. Takut diungkapkannya.

Taehyung tidak keberatan dengan kecenderungan Jeongguk bercerita pada Mirah—sedikit. Dia tidak bisa memaksakan rasa percaya sama sekali, dia hanya berharap dia bisa membuat Jeongguk nyaman di kemudian hari karena Taehyung kekasihnya, 'kan? Jeongguk sudah berusaha begitu banyak dalam hubungan mereka selama ini dan Taehyung mendadak ingin berkontribusi dalam hubungan mereka.

Semua karena dia melihat lelaki itu menangis di hadapannya.

Jeongguk pasti kelelahan dan tidak mau membicarakan apa pun pada Taehyung. Dia bisa saja memaksa Jeongguk bicara namun dia tidak mau. Dia ingin Jeongguk sendiri yang membicarakannya, mempercayai Taehyung—yang belum dilakukannya. Taehyung menghela napas, dia akan berusaha lagi. Berusaha menggeser Mirah dari hatinya. Dia bisa memainkan permainan ini dengan baik, dia bisa menjadi lebih baik dari Mirah.

Taehyung tidak bisa lagi membayangkan Jeongguk yang menangis di hadapannya, tersedu-sedu memeluknya dengan tubuh gemetar karena mimpi buruk. Rasa sakit yang mencabik hatinya nyaris terasa melumpuhkan, membuat tulang punggungnya terasa lunak—tidak sanggup menopang tubuhnya. Dia memutuskan dia tidak sudi lagi melihat Jeongguk menangis di hadapannya.

“Aku membelikanmu sesuatu,” kata Jeongguk kemudian, tersenyum tipis. “Akan kuberikan nanti.”

Alis Taehyung naik sebelah. “Kau membelikanku apa?” Tanyanya.

Jeongguk mengedikkan bahunya, bersandar di kursinya dan tersenyum—nampak begitu hangat dan nyaman hingga Taehyung merasa mengantuk. Dia seperti pagi berkabut setelah hujan yang membuat siapa saja akan menarik kembali selimut mereka dan memejamkan mata—menikmati pagi yang malas. Jeongguk seperti pagi sehabis badai, tenang dan menghanyutkan. Siapa pun akan tenggelam dalam sepasang matanya yang teduh, dalam, dan hangat. Penasaran pada kehangatannya, seperti laron yang mendekati cahaya.

Jeongguk adalah matahari, memancarkan cahaya dan kehangatan. Mengundang siapa saja untuk mendekatinya, terperosok pada pesonannya yang meneduhkan. Sangat bertolak belakang dengan Taehyung yang dingin, misterius, dan mudah marah. Orang waras akan cenderung menghindari Taehyung dan mendekat pada Jeongguk. Maka saat matahari itu merendahkan dirinya dari langit untuk meminang Taehyung, dia tidak yakin pada pendengarannya sendiri hingga dia menggenggamnya di tangannya.

Dia menggenggam Jeongguk, begitu erat ke hatinya. Mirah sama sekali tidak punya kesempatan.

“Hanya sesuatu yang kecil dan tidak penting,” Jeongguk sekarang nampak merona sedikit dan Taehyung menggertakkan giginya menahan senyuman lebar bodoh saat Jeongguk merogoh sakunya dan mengulurkan tangannya di bawah meja, tersembunyi dari kedua perempuan di hadapan mereka.

Taehyung menunduk, menemukan sepasang gelang buatan tangan konyol di atas telapak tangannya. Dibuat dari benang berwarna hitam polos dengan satu manik di tengahnya, bisa disesuaikan dengan simpul. Hati Taehyung seketika menghangat. Benda itu mungkin benda paling tidak signifikan yang pernah Taehyung terima, benda konyol. Memangnya mereka anak SD yang membeli gelang untuk digunakan berpasangan saat mereka sudah memiliki cincin Tiffany mahal di jemari mereka?

Namun Taehyung meraihnya, merasakan tekstur gelang itu di telapak tangannya. Membayangkan dengan hangat bagaimana Jeongguk mungkin berhenti di toko kecil yang tidak mencolok, mengulurkan tangan dan dengan antusias memilih gelang yang diinginkannya—memikirkan Taehyung.

“Benda bodoh,” kata Taehyung menatap gelang itu dengan senyuman di bibirnya. Dia mendongak, menatap Jeongguk yang tersenyum. “Benda konyol.” Ulangnya namun dia melonggarkan simpulnya dan mengenakannya di tangan kanannya.

Chef tidak boleh mengenakan aksesoris apa pun di tangan mereka karena harus menjaga self-hygiene tapi Taehyung tidak keberatan. Dia akan menyimpan benda itu di sakunya saat bekerja. Dia mengencangkannya lalu menunjukkannya pada Jeongguk.

“Tidak penting,” katanya dengan senyuman kecil di bibirnya. “Seperti anak kecil.” Gumamnya, hatinya hangat sekali—mengembang seperti sebuah roti yang dipanggang. “Memangnya kita berapa? 12 tahun?”

“Tapi kau menyukainya?” Tanya Jeongguk lembut.

Taehyung menatapnya. “Kau bercanda?” Dia balas bertanya, berusaha terdengar jengkel saat menyugar rambutnya. “Tentu saja aku tidak menyukainya. Benda bodoh murahan.” Taehyung menggenggam pergelangan tangannya, merasakan denyutan nadinya yang memburu.

Dia bahagia, sangat bahagia hanya karena gelang kecil yang tidak mungkin berharga lebih dari lima puluh ribu rupiah. Tapi dia senang, senang sekali.

Jeongguk menumpukan dagunya, menatapnya sejenak sebelum barista menyebutkan namanya untuk mengambil minuman. Jeongguk berdiri, melewatinya dan berbisik—cukup keras untuk didengar Taehyung sendiri yang menunduk menatap gelang barunya.

“Syukurlah jika kau tidak menyukainya.”

Taehyung mengulum senyumannya—merasa amat bahagia. Jeongguk pasti sudah gila karena dia bisa bersikap sangat menggemaskan hari ini hingga dia ingin sekali memeluknya, menciumi wajahnya dan membuatnya mendesah senang.

Namun mereka masih punya sepanjang hari, Taehyung harus bersabar.


“Hah?”

Jeongguk meringis, “Aku harus menemani Mirah ke suatu tempat setelah ini.” Bisiknya saat mereka berempat ada di tukang jahit memilih satu dari ratusan sampel kain yang digelar di meja raksasa di hadapan mereka.

Ruangan itu besar dan didominasi jendela yang membuatnya terang benderang, mempermudah para penjahit untuk bekerja dan melihat warna kain dengan lebih baik. Para perempuan tenggelam dalam ratusan kain kebaya yang mereka sukai sementara Jeongguk dan Taehyung berdiri di kejauhan—mengamati.

Taehyung membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu dengan wajah terganggu dan Jeongguk sudah menahan napasnya, siap menerima ketidak sukaannya pada fakta itu sebelum pemuda itu menghela napas. Dia memijat pelipisnya dan mendesah keras.

“Wigung?” Bisik Jeongguk lembut, tangannya bergerak—hendak menyentuhnya namun dia menahan diri karena mereka ada di ruang publik. Maka dia menjatuhkan kembali tangannya. “Kau oke?”

Taehyung mengangguk, nampak berusaha keras mengendalikan dirinya sebelum mengatakan, “Baiklah.” Katanya kemudian, menggertakkan gigi dengan mata terpejam erat. “Jam berapa kau pulang?”

Jeongguk berpikir sejenak, “Entahlah. Aku tidak yakin seberapa lama Mirah akan bertemu temannya.” Lalu dia mengerjap dan menyunggingkan senyuman separuhnya, menyadari apa yang diinginkan Taehyung. “Kau ingin check in?”

Taehyung merona sejenak sebelum berdeham keras hingga beberapa penjahit menoleh kaget karena suaranya yang berat. Dia nampak terganggu namun Jeongguk sangat menghargai bagaimana dia berusaha mengendalikan dirinya; Jeongguk senang. Kekasihnya berusaha untuk Jeongguk. Dia ingin menyentuh Taehyung, ingin mengusap warna merah tipis di kulitnya yang sewarna zaitun—karena semburat itu cantik sekali hingga hati Jeongguk berdesir.

Dia begitu mencintai Taehyung, teramat mencintainya hingga dia ketakutan pada cintanya sendiri. Takut tubuhnya yang lemah tidak bisa menangguhkan perasaan itu, meledak karena betapa tak tertahankannya perasaan itu. Jeongguk melirik Mirah yang tertawa, menyadari dia mungkin hanya memandang gadis itu sebagai teman karena dia selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat Jeongguk merasa lebih baik.

Namun jika bicara tentang cinta,

Dia menatap Taehyung yang berdecak tentang Jeongguk yang selalu tahu isi kepalanya dan dia sudah memesan kamar di lodge langganan mereka di Candidasa.

Dia jatuh cinta pada Taehyung, begitu dalam tenggelam dalam pelukannya hingga Jeongguk tidak ingin diselamatkan. Dia nyaman di sana, terseret arus ganas samudera itu—menyadari bahwa inilah seni mencintai Taehyung. Jeongguk tersenyum.

“Baiklah,” katanya melirik jam tangannya. “Aku akan mengantar Mirah pulang lalu menemuimu di sana, bagaimana?”

Taehyung tersenyum. “Sepakat.” Sahutnya. “Jangan mengganti bajumu, oke?”

Alis Jeongguk naik sebelah, “Dan kenapa?”

Taehyung menatapnya, sejenak nampak rikuh sebelum berdeham kecil. “Kau kelihatan luar biasa dengan pakaian itu.”

Senyuman Jeongguk kemudian terbit, merekah seperti sekuntum bunga dan hatinya melompat seperti seekor anak kelinci karena pujian sesederhana itu. Taehyung benar-benar tidak terduga—dia bisa jadi sangat menggemaskan dan sangat melelahkan, tidak pernah memiliki suasana hati yang normal. Jeongguk mungkin sudah mulai terbiasa dengan perubahan itu.

Dia lelah sekali belakangan ini, sulit tidur dan memiliki pusing yang sulit sekali hilang bahkan setelah meminum obat. Namun melihat Taehyung tersenyum, nampak rileks dan bahagia menyembuhkan penyakitnya seketika itu juga.

“Aku akan memastikan Mirah pulang sebelum terlalu larut, oke?” Katanya saat mereka berpisah setelah Devy memilih kain kebaya yang disukainya berserta kain mereka—dia membawa pulang sampel kain itu untuk ditunjukkan pada kedua orang tua mereka sebagai 'bukti' bahwa Taehyung serius mengurusnya.

Walaupun sama sekali tidak menyukainya.

“Aku tidak ingin dia memukulmu lagi, oke?” Kata Jeongguk saat Taehyung menolak melakukannya, mengusap pipinya sayang. Membujuknya. “Lakukan saja apa yang dia inginkan.”

“Sampai kapan?” Tanya Taehyung dan hati Jeongguk terasa ditembus sebilah belati—menembus rusuknya hingga dia sejenak harus membungkuk karena rasa sakit itu terasa begitu nyata.

Sampai kapan?

Pertanyaan yang sama, Jeongguk juga penasaran sampai kapan mereka harus melakukan ini hingga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri? Hingga semua orang akhirnya meninggalkan mereka sendirian? Jeongguk berusaha, dia sangat berusaha mencari jalan keluar namun posisi Taehyung yang sulit membuatnya semakin dan semakin kebingungan.

Maka dia memeluk pemuda itu, menghirup aroma rambutnya dan mengusap dadanya—meminta maaf dengan gesturnya. “Maafkan aku,” bisiknya lirih, merasaa nyeri karena rasa bersalah—tidak juga bisa melepaskan mereka dari jerat masalah. Mulai merasa seharusnya Jeongguk tidak mengejar Taehyung sama sekali karena percaya dirinya yang lalu mulai rapuh dan retak.

Dia takut sekali; kehilangan Taehyung dan tidak bisa memperjuangkannya. Jeongguk takut Taehyung menyesal—dia ingin sekali membahagiakan Taehyung. Kegagalan selalu membuat Jeongguk resah; maka jika dia gagal membahagiakan Taehyung, Jeongguk tidak yakin dia masih bisa tetap hidup. Kegagalan yang terlalu besar untuk diingat sepanjang sisa hidupnya.

“Maaf.” Bisiknya, berulang-ulang dengan Taehyung yang meringkuk dalam pelukannya seperti bola. Mencoba menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Jeongguk. “Kita akan menemukan cara,” bisiknya—mencoba meyakinkan Taehyung.

Dan dirinya sendiri.

Aku akan menemukan cara.” Dia mengecup kening Taehyung dan kembali memeluknya dengan mata terpejam; bergidik karena betapa benarnya kalimat itu terasa dan betapa takutnya dia.

Jeongguk di masa sekarang mendesah, dia berkendara menembus lalu lintas kembali ke pusat perbelanjaan yang tadi mereka datangi sebelum pergi ke tempat kebaya. Jeongguk sudah bertanya kenapa teman Mirah tidak bergabung saja saat mereka di sana namun menurut Mirah, temannya sedang memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

“Hari Sabtu?” Tanyanya dengan alis berkerut—berpikir mungkin teman Mirah seorang hotelier dengan sistem kerja shifting.

Mirah mengangguk, mengoles lipstik cair ke tangannya—mengecek warnanya. “Dia tepat waktu, kok. Selalu.” Dia mendongak dan tersenyum, sesuatu berkilat di matanya. Jeongguk tidak terlalu menyukainya—kilatan itu. Karena dia tidak tahu apa makna dibaliknya.

Mereka melangkah ke arah Starbucks yang mereka datangi tadi dan Mirah menempelkan ponsel di telinganya. “Sudah di dalam?” Tanyanya ceria. “Aku sudah dekat. Tunggulah. Pesan sesuatu, aku traktir.”

Jeongguk menyentuh bahunya, menggeleng. “Aku saja yang bayar.” Katanya dan Mirah balas menggeleng dengan tegas. “Aku bisa membayar belanjaanku sendiri.” Dia tersenyum dan Jeongguk mendesah.

Mereka memasuki gerai kopi itu, aroma biji kopi yang diolah dan pengharum ruangan membuat Jeongguk sejenak rileks. Mirah menoleh ke sana kemari lalu menemukannya—seorang perempuan paruh baya yang duduk di sudut ruangan, nampak sangat ramah dan tenang, melambai ceria padanya.

“Ayo, Bli Gung.” Katanya bersemangat, meraih tangan Jeongguk dan menariknya mendekat—nyaris menyeretnya.

Jeongguk bergegas mengikuti kaki Mirah yang kecil ke arah perempuan yang sekarang berdiri. Dia mengenakan celana jins nyaman, kemeja longgar dan kacamata—wajahnya memiliki kesan lembut yang menenangkan. Ekspresi yang membuat Jeongguk seketika merasa nyaman dan tenang di sekitarnya, memercayainya. Pembawaannya begitu anggun, seperti rusa betina dan Jeongguk membalas senyumannya—nyaris detik itu juga karena senyumannya seperti virus, menular.

“Halo, Gung.” Sapa perempuan itu, mengulurkan tangan dan Jeongguk menjabatnya—menyukai jabatannya yang ternyata kuat dan tegas. “Senang sekali bertemu denganmu. Saya Thia.”

Jeongguk mengangguk, mengerjap. “Halo, Mbak Thia.” Sahutnya setelah jabatan tangan mereka terpisah—aura positif perempuan ini, Thia, membuat Jeongguk nyaman. Dia duduk di kursi, di sebelah Mirah yang nampak bersemangat entah karena apa.

Dia kemudian menoleh, tersenyum pada Jeongguk sambil menghela napas. “Bli Gung,” katanya kemudian dan Jeongguk menatapnya, penasaran. “Karena aku rasa Bli Gung tidak terlalu nyaman dengan lelaki paruh baya, jadi aku mencarikan seorang perempuan.”

Jeongguk mengerutkan alisnya, namun tersenyum—tidak mau nampak tidak sopan di depan Thia yang duduk di hadapannya dengan senyuman yang terlihat sangat lembut dan penuh pemahaman hingga Jeongguk merasa lemah, ingin menyerah.

Mirah menggaruk pelipisnya, nampak malu dan sedikit takut. “Maaf juga karena aku melangkahi Bli Gung dan tidak mengatakan apa pun,” dia meringis dan Jeongguk membuka mulut—hendak bertanya apa yang sebenarnya perempuan itu ingin katakan saat dia menambahkan.

“Dia seorang psikolog.” Mirah menatapnya, lurus dan tegas. “Bli Gung butuh bantuan.”


sorry. im so tired omg this vaccine sigh gnite! x


Jeongguk merasa dia sudah tidur setidaknya selamanya saat dia membuka mata, menatap langsung ke gipsum langit-langit kamarnya yang bernoda karena bocor beberapa tahun lalu.

Dia mengerang saat otaknya nyeri sebelum menghela napas panjang dan menutup matanya dengan lengannya karena irisnya yang malang terasa teriris cahaya yang masuk dari jendela kamarnya. Otaknya yang berdenyut berputar, jam berapa ini? Sudah berapa lama dia terbangun dari tidur yang panjang merasa jauh lebih letih dari sebelum berbaring? Jeongguk sudah tidak lagi merasa nyaman dalam tidurnya, tidak lagi menemukan rasa nyaman dari ketidaksadaran kecuali bahwa otaknya berhenti berlarian ke sana kemari.

Dia menyadari pintu kamarnya terkuak kecil dengan sedikit jengkel—kenapa Yugyeom tidak menutupnya dengan rapat? Karena jika ada tamu yang datang mereka otomatis akan melewati kamar Jeongguk menuju rumah utama di mana ruang tamu berada dan Jeongguk benci jika mereka mengintip ke kamarnya. Apalagi dalam keadaan dia terlelap.

Jeongguk mendesah, ke mana Taehyung?

Dia kemudian memijat kepalanya, teringat bagaimana sikapnya seharian ini kepada Taehyung dan berpikir wajar jika lelaki itu meninggalkannya sendiri. Bukankah Jeongguk sendiri yang mendorongnya pergi dengan bersikap tidak sopan sepanjang hari padanya? Taehyung lelaki dengan ego dan harga diri yang mahal, setetes sikap tidak sopan cukup untuk membuatnya pergi. Malah aneh jika dia tidak pergi sama sekali, itu bukan Taehyung.

Otaknya kembali berdenyut sekarang. Bagaimana caranya menjelaskan pada Taehyung bahwa dia sama sekali tidak bermaksud mengusirnya? Jeongguk hanya takut dia mungkin mengatakan hal yang akan menyakiti Taehyung dengan keadaan emosinya yang tidak stabil. Dan dia begitu kelelahan dia tidak lagi memiliki energi untuk sekadar bersikap sopan dan baik pada Taehyung, dia bahkan tidak memiliki cukup energi untuk 'memahami' Taehyung. Dia ingin berbaring, berhenti berpikir atau lenyap saja.

Tangannya bergerak buta di ranjang, mencari ponselnya—ingin menghubungi Taehyung dan meminta maaf atas sikapnya hari ini. Dia berharap lelaki itu cukup... tenang untuk mendengarkan karena Jeongguk sungguh tidak memiliki energi untuk menghadapi amarahnya sekarang. Tangannya berhenti saat menemukan ponselnya—mendadak ketakutan. Takut Taehyung akan mengatakan sesuatu tentang meninggalkannya, melangkah pergi karena dia tidak suka sikap Jeongguk seharian ini.

Matanya terbuka, otaknya berdenyut mengerikan. Bukankah itu akan sangat praktis jika dia akhirnya memutuskan untuk pergi? Mengangkat satu beban dari bahu Jeongguk? Itu, 'kan, yang Jeongguk inginkan selama ini? Pertimbangkan? Lalu mengapa dia ketakutan dan tersengat rasa sedih?

Jeongguk mendudukkan dirinya di ranjang, mengusap wajahnya dan menakupkan kedua telapak tangannya di sana—bernapas dari mulutnya. Hatinya berdenyut, rasa sakit yang tidak tertahankan dan begitu tiba-tiba. Rasa sakitnya menyebar hingga ke balik paru-parunya, rasa panas tidak nyaman yang membuatnya sesak. Jeongguk ingin menangis—bagaimana jika Taehyung benar-benar meninggalkannya?

Dia tidak lagi paham dengan dirinya sendiri; apa yang sebenarnya diinginkan Jeongguk? Dia ingin melepaskan Taehyung, namun juga ketakutan jika dia pergi.

Sebelum dia meninggalkanmu, lebih baik kau yang terlebih dahulu meninggalkannya.

Jeongguk berhenti, menyadari kalimat Jimin yang menamparnya telak. Benarkah dia merasa seperti itu? Ketakutan jika ditinggalkan dan memilih untuk meninggalkan karena dia tidak akan bisa melihat Taehyung melangkah meninggalkannya lagi?

Dia menurunkan telapak tangannya, menatap ponselnya di ranjang dan meraihnya. Dia harus menghubungi Taehyung—menjelaskan dan meminta maaf atas sikapnya seharian ini. Mungkin melakukan sesuatu untuk membuat pemuda itu lebih baik besok. Dia bisa memesan makanan atau apa. Taehyung akan memaafkannya, 'kan?

Tangannya gemetar saat dia membuka kunci layarnya, menyadari dia tertidur selama empat jam lebih. Layarnya menampilkan jam digital di angka empat tiga puluh. Dan tidak ada notifikasi dari Taehyung sama sekali. Hati Jeongguk mencelos, dia benar-benar marah hingga tidak repot-repot berpamitan pada Jeongguk sebelum pulang?

Jeongguk mendesah, menggaruk kepalanya. Siapkah dia menghadapi kemarahan Taehyung sekarang? Merasa amat letih karena isi kepalanya, dia kemudian membaca pemberitahuan dari Mirah yang mengatakan dia baru saja tiba di kosnya di Denpasar. Jeongguk menghela napas, merasa sedikit lebih rileks membalas pesan gadis itu karena dia tidak pernah membuat Mirah marah atau kecewa. Jauh lebih mudah berinteraksi dengannya.

Dan... kenapa?

Jeongguk menatap ponselnya. Mengapa jauh lebih mudah berinteraksi dengan Mirah dibanding Taehyung? Lelaki yang sangat dicintainya? Jeongguk tidak memiliki perasaan apa pun untuk Mirah selain rasa kagum karena kemandiriannya sebagai seorang perempuan. Namun mengapa.... Mengapa Jeongguk merasa jauh lebih nyaman membalas pesannya? Menjawab 'apakah kau baik-baik saja?' darinya dengan jawaban sebenarnya? Tidak merasa ingin memalsukan apa pun? Tidak merasa butuh bersikap selalu tenang dan terkenali atau juga bersikap superior.

Apakah dia... jatuh cinta pada Mirah?

Jeongguk bergidik. Tidak, dia tidak jatuh cinta pada perempuan itu. Tiap dia melihat Taehyung, dia menginginkan pemuda itu—sangat menginginkannya hingga Jeongguk merasa dia begitu dekat dengan kegilaan. Tidak ada ruang di hatinya untuk orang lain karena hatinya penuh oleh Taehyung. Dia mungkin hanya... nyaman dengan Mirah. Sebagai teman.

Jeongguk mendesah setelah membalas pesannya lalu menatap ruang obrolan Taehyung yang disematkan paling atas di halaman Whatsapp-nya. Pesan terakhir mereka dua hari lalu saat dia mengirim pesan bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang dan meminta Taehyung menunggunya bersama Yugyeom. Dia gemetaran saat menyentuh nama itu, menunggu hingga layarnya terbuka sebelum menatap foto profil Taehyung.

Apakah dia marah? Sangat marah pada Jeongguk? Apa yang harus Jeongguk lakukan agar dia memaafkan Jeongguk?

Dia menyentuh kolom untuk mengetik pesan, menunggu papan ketik virtualnya muncul sebelum menghela napas. Dia mengetik perlahan: Wigung? lalu menekan kirim dengan perasaan tidak karuan. Menyiapkan diri untuk menghadapi kemarahan Taehyung. Status pesan berkedip dari 'Terkirim' menjadi 'Diterima' dalam beberapa nanosekon.

Ting!

Jeongguk mengerjap, mendongak kaget dari ponselnya saat mendengar nada notifikasi itu dan menoleh panik. Menemukan ponsel Taehyung tergeletak di nakas di sisi ranjangnya—layarnya menyala dengan notifikasi Jeongguk di layarnya. Jantungnya berdebar. Taehyung belum pergi? Lalu ke mana—

”... Enak!”

Jeongguk menoleh ke pintu kamarnya yang terkuak sedikit, menyadari suara Yugyeom yang tinggi—kapan saja dia merasa senang. Alisnya berkerut, apakah Taehyung sedang bersama adiknya? Dia hendak bangkit, merangkak menuruni ranjang dan bertanya pada adiknya ke mana Taehyung saat pintu terbuka.

Dan Taehyung berdiri di sana—tersenyum lebar dengan piring di tangannya. Sejenak sinar matahari membutakan Jeongguk, membuat Taehyung hanya nampak seperti siluet kehitaman hingga dia beranjak menghindari cahaya dan sinar menyiram wajahnya yang kemerahan karena senang.

Mereka memasuki ruangan, Taehyung dan Yugyeom nampak ceria lalu keduanya menyadari Jeongguk yang sudah bangun—termangu di kasurnya, berusaha memproses keadaan sekitarnya.

“Wiktu!” Seru Yugyeom ceria, bergegas menghampirinya. “Sudah enakan??”

Namun suara dan wajah Yugyeom memudar di latar belakang karena pandangan Jeongguk dipenuhi dengan ekspresi tenang Taehyung. Sudah berapa lama sejak terakhir kali dia melihat Taehyung serileks itu? Rasanya seperti bertahun-tahun lalu. Taehyung yang selalu kelelahan dan marah karena tidak menerima perjodohannya, sisa memar pudar di wajahnya karena pukulan ayahnya sekarang nampak segar dan rileks.

Semua karena menghabiskan waktu dengan Yugyeom. Jeongguk senang—senang sekali.

“Oh, hai.” Katanya lembut, tersenyum pada Jeongguk yang terpana. “Kau sudah bangun? Kebetulan sekali, aku baru saja menyelesaikan marble brownies untukmu. Siapa tahu suasana hatimu membaik setelah makan cokelat.”

Jeongguk duduk di sana, menatap Taehyung seperti kali pertama dia bertemu Taehyung beberapa tahun lalu saat mereka kebetulan dipertemukan di acara ICA (Indonesia Chef Association) di Bali Beach Hotel.

Dia tidak menyapa Taehyung yang berdiri di seberang ruangan, Jeongguk hanya mendengar orang memanggilnya dan lalu menyadari itulah Taehyung. Tidak memiliki keberanian untuk menyapanya karena teringat beberapa bulan lalu saat dia menemukan mobilnya kosong dan Taehyung berhenti menghubunginya. Dia tidak mau Taehyung tidak nyaman maka dia berusaha berotasi menjauhinya.

Dia ingat bagaimana dia terpesona pada pembawaan chef senior itu—rambutnya yang panjang, aura ningratnya yang menetes dari kulitnya, tulang pipinya dan keningnya yang tinggi. Dia berdiri di sana, di seberang ruangan dengan kedua lengan terlipat di hadapannya, ekspresinya keras dan serius, nyaris misterius dan berbahaya.

Dan Jeongguk menyadari bahwa dia sangat mencintai Taehyung. Bukan perasaan kagum seorang senior, bukan juga rasa sayang platonik adik kepada kakaknya namun perasaan cinta meletup-letup yang membuatnya kesulitan.

Sekarang, dia merasa kembali ke hari itu—terpesona sepenuhnya pada bagaimana Taehyung hanya bernapas dan dia membuat Jeongguk jatuh berlutut di kakinya, memohonnya tinggal.

Pemuda itu menutup pintu kamarnya, membawa aroma bronis panggang yang manis dan menggugah sementara Yugyeom menandak di sisinya dengan sepotong bronis di tangannya, setengah termakan. Taehyung meletakkan piringnya di meja dan menoleh untuk menawarkan makanan pada Jeongguk saat pemuda itu melenting dari ranjangnya lalu merengkuh Taehyung dengan kedua lengannya hingga Taehyung mengeluarkan suara tercekik kaget.

Lega.

Perasaan itu mekar di hatinya, menyebar seperti tanaman melata di otot dan tulangnya membuat Jeongguk lemah. Dia menghirup aroma Taehyung dalam-dalam, tidak lagi ingin hidup dalam kegelapan karena ditinggalkan Taehyung. Dia tidak mau kehilangan Taehyung, tidak sudi kehilangan Taehyung.

Dia mendengar tawa parau Taehyung yang memeluknya. “Tidak apa-apa. Mimpi buruk lagi, ya?” Bisiknya lembut, mengeratkan pelukannya pada Jeongguk. “Apa pun yang aku lakukan di mimpimu, tidak akan kulakukan di kenyataan.”

“Aku pikir kau pulang dan tidak menghubungiku....” Jeongguk gemetar, tidak sanggup membayangkan jika Taehyung sekali lagi memintanya pergi dan melangkah menjauhinya—memunggunginya.

Cukup sudah dua kali. Jeongguk tidak akan bisa menangguhkan yang ketiga dalam kehidupan yang sama. Dia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Taehyung, terus berada di sisinya—berbaring nyaman dan menolak melepas Taehyung sepanjang sisa hari. Yugyeom berpamitan setelah pukul sembilan malam, memberi waktu personal untuk kakaknya bersama kekasihnya. Taehyung bangkit untuk mengunci pintu sebelum kembali ke sisi Jeongguk dan memeluknya.

“Jangan pulang.” Bisik Jeongguk dengan Taehyung dalam pelukannya, merasa lebih nyaman setelah Yugyeom meninggalkan mereka berdua.

“Tentu saja tidak.” Balas Taehyung mengecup hidungnya sayang. “Aku sudah memberikan seloyang bronis untuk ibumu dan mendapatkan izin menginap semalam lagi.”

Jeongguk mendenguskan tawa kecil. “Aku mencintaimu.” Bisiknya, merasakan sengatan di hatinya karena betapa benarnya kalimat itu terasa. Dia tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya ini pada siapa pun selain Yugyeom.

Dia senang, Taehyung menerima sisinya ini, sisi lemahnya yang dibenci ayahnya karena dia lelaki dan dia harus bersikap tegar serta kuat sepanjang waktu. Jeongguk menautkan jemarinya dengan Taehyung—merasakan betapa dia membutuhkan figur Taehyung dalam hidupnya tidak hanya sebagai kekasih namun juga sebagai seorang kakak. Taehyung mengisi ruang-ruang kosong di dalam hidupnya yang membutuhkan figur seorang lelaki—figur yang gagal diberikan ayahnya untuk Jeongguk. Taehyung memenuhinya, seperti segelas air yang membuatnya lega dan ketagihan.

“Aku juga mencintaimu.” Bisik Taehyung lalu mendesah kecil saat Jeongguk mengecup bibirnya sayang.

Jeongguk mengerutkan wajahnya saat Taehyung menumpukan kepalanya di kepala Jeongguk, mereka berbaring di atas bantal Jeongguk dengan kaki saling membelit di bawah selimut. Hangat dan nyaman sekali, namun hati dan otak Jeongguk tidak juga berhenti berlarian.

Jika Jeongguk memang tidak ingin Taehyung meninggalkannya... Lalu mengapa perasaan ingin meninggalkan ini masih terus bercokol di hatinya? Terus mengganggunya? Dia menatap Taehyung yang berbaring di sisinya, menonton televisi yang sayup-sayup; menatap garis hidungnya yang bangir, bulu matanya yang panjang dan lentik, mengagumi wajahnya yang indah. Membenci dirinya sendiri karena ingin melepaskan Taehyung, ingin melangkah pergi darinya karena dia tidak yakin dia bisa membahagiakan Taehyung seperti apa yang dilakukan Taehyung untuknya.

Jeongguk menggertakkan rahangnya sebelum menghela napas, dia butuh mengalihkan pikirannya. “Hei,” bisiknya parau dengan jantung berdebar, dia takut.

Takut tidak bisa membahagiakan Taehyung. Takut bahwa harga yang dibayarkan Taehyung untuk bersamanya begitu mahal. Takut jika suatu hari nanti Taehyung berubah pikiran tentangnya. Takut....

Takut.

Takut.

“Hm?” Tanya Taehyung, melilitkan jemarinya ke rambut Jeongguk.

Jeongguk menatapnya, mendekatkan wajahnya ke Taehyung yang seketika bereaksi dengan mengalungkan kedua lengannya di leher Jeongguk, membalik tubuhnya menghadap kekasihnya—mudah sekali mengalihkan perhatian Taehyung yang bergantung pada hormonnya saat berada di sekitar Jeongguk. Dan entah sejak kapan, Jeongguk memanfaatkan itu. Untuk mengalihkan pikirannya dan menyadari betapa nyenyak tidurnya setelah orgasme.

Maka dia berguling, mengurung Taehyung di antara kedua lengannya lalu menciumnya. Menggeram kecil saat mendengar desahan Taehyung di telinganya. Tangannya bergerak turun ke selangkangan Taehyung, meremasnya lembut—merasakan tubuh Taehyung yang perlahan menebal dan berdenyut. Kaki Taehyung menutup, memenjarakan tangannya di sana dan dia mendesah tercekat saat Jeongguk menggigit lembut lehernya—menjilatnya malas.

“Ayo bercinta.” Bisiknya di bibir Taehyung yang terkuak, disela deru napas Taehyung yang liar sebelum dia kembali mencium bibirnya dan menyelipkan tangannya ke balik karet celana Taehyung.

Dia takut sekali...

*