Gourmet Meal 426b tw // abusive partner , mention of physical abuse .

ps. sorry the vaccine's effect kicks in in the middle so excuse the typo please it feels like i'm made with jelly sksksks


Taehyung melirik Jeongguk dan Mirah yang berjalan beberapa meter jauhnya dari mereka, melihat-lihat etalase yang terisi pakaian formal yang ingin dibeli Mirah untuk bekerja.

Mereka memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, berjalan-jalan tanpa tujuan sebelum bertemu penjahit kebaya yang mereka inginkan. Devy duduk di hadapannya, menggenggam gelas plastik terisi Starbucks kesukaannya dan nampak jauh lebih pendiam dari biasanya. Taehyung menyadari bahwa itu salah satu efek dari diam dan amarah yang dilampiaskannya ke Devy mengenai dipercepatnya pernikahan mereka. Taehyung menghela napas, dia tidak bisa menolongnya. Dia benar-benar kaget dan marah karena keputusan itu, belum lagi memar di wajahnya karena ayahnya.

Namun dia juga tidak bisa mengabaikan diam Devy. Dia biasanya gadis yang sangat ceria, cerewet dalam cara yang membuat Taehyung terhibur. Dia kadang menjadi salah satu distraksi yang disukai Taehyung—sempat mencoba bersikap sopan padanya karena dia membantu Taehyung namun sekarang tiap kali dia melihat Devy dia hanya merasakan amarah.

Dia sungguh tidak bisa mencintai gadis itu, benar. Dia benci perasaan tidak berdaya yang mengungkungnya selama ini karena 'terjebak' bersama Devy. Dia menyugar rambutnya, dia membelikan Devy minumannya tadi—berharap gadis itu sedikit lebih ceria namun dia duduk di sana, di hadapan Taehyung seperti patung. Mereka sudah duduk di Starbucks setidaknya dua puluh menit sementara Jeongguk meregangkan kakinya bersama Mirah yang ingin membeli produk perawatan dan pakaian baru. Devy menolak beranjak karena Taehyung tidak mau pergi.

“Devy,” panggilnya dengan nada biasa saja namun gadis itu berjengit kaget seolah Taehyung menusuknya dengan sesuatu—wajahnya panik saat mendongak. Mata Taehyung memicing karena sikap itu. “Kenapa kau tidak pergi dengan Mirah saja? Aku dan Jeongguk menunggu di sini.”

Devy menyeka rambutnya, nampak sedikit gelisah dan Taehyung entah mengapa tidak menyukainya. Kenapa dia harus bersikap seperti itu? Dia membuat Taehyung merasa tidak nyaman.

“Tidak apa-apa, Wigung. Aku menemani Wigung saja.” Katanya, mengangguk lalu menyesap minumannya.

Taehyung menggertakkan rahangnya. Jika dia pergi dengan Mirah, Taehyung bisa memiliki waktu bersama Jeongguk mengobrol dan memastikan pemuda itu sudah baik-baik saja. Dia melirik pasangan itu sekali lagi; Jeongguk nampak baik-baik saja, dia mengenakan celana jins longgar pudar dengan sweatshirt berwarna tanah yang membuatnya nampak hangat dan menggemaskan. Taehyung ingin memeluknya, namun dia terjebak di sini—duduk di Starbucks yang ramai dengan 'kencannya' yang membosankan.

“Kita pindah saja bertemu penjahit?” Tanyanya kemudian pada Devy yang meliriknya. “Aku tidak mau menahanmu dalam kencan yang tidak kausukai.” Taehyung bersandar dalam di kursinya, menyilangkan kaki panjangnya yang terbalut celana jins skinny dan menumpukan kedua lengannya di sandaran tangan kursinya.

Di sini lumayan dingin namun Taehyung menggulung lengan kemejanya dan membuka dua kancing teratasnya—tidak pernah menyukai kunkungan pakaian di tubuhnya. Dia bahkan melepas kancing teratas kemeja chef-nya karena kerah sialan itu mencekiknya.

Devy belum sempat menjawab saat Taehyung mencium aroma parfum Jeongguk. Dia menoleh, menemukan Jeongguk sedang tertawa tanpa suara dengan Mirah bergelayutan di lengannya. Taehyung menghela napas, menahan emosinya karena dia tahu Jeongguk hanya menjalankan perannya sebagai calon suami yang baik. Namun tetap saja saat melihat rona merah sehat di wajah Jeongguk saat dia tertawa dan itu bukan karena Taehyung, hatinya meradang.

Kenapa dia tidak bisa membuat Jeongguk bahagia? Dan kenapa Mirah melakukannya dengan sangat mudah?

Taehyung meraih minumannya, menyesap cappuccino panasnya dari gelas kertas dengan perasaan tidak karuan. Perasaan iri, tidak nyaman dan amarah yang menggelegak di dasar perutnya namun dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia memejamkan matanya, mendengar suara Jeongguk yang lembut saat mendekat; apakah Jeongguk memang selalu bicara dengan nada selembut itu pada semua orang?

Kenapa, pikir Taehyung getir saat dia menggenggam gelasnya—merasakan hangat minumannya menyebar di ujung jemarinya. Kenapa Jeongguk harus menjadi lelaki yang baik pada semua orang? Kenapa dia tidak bisa jadi lelaki dingin yang acuh?

Mereka tiba di meja, Mirah tidak membawa apa pun karena semua paperbag belanjaannya dibawa oleh Jeongguk dengan sangat ksatria. Mirah mendudukkan dirinya di kursi, masih terkekeh geli sementara Jeongguk meletakkan belanjaannya di dekat kaki Mirah sebelum berdiri dan menoleh ke Taehyung yang terkesiap karena tatapannya.

“Kau mau sesuatu lagi dengan minumanmu?” Tanyanya, dengan nada yang jauh lebih lembut dari yang digunakannya pada Mirah hingga Taehyung yakin suaranya baru saja membelai kulitnya seperti sutra.

Dan fakta bahwa dia bertanya pada Taehyung sebelum Mirah membuatnya tersentuh. Menghapus segala keraguannya tentang perasaan Jeongguk.

Taehyung sejenak menatapnya, terpesona sebelum mengerjap dan menggeleng. Dia mengedikkan gelasnya pada Jeongguk sebelum menyesapnya, memberi tahunya bahwa dia baik-baik saja.

“Cukup.” Katanya kalem, namun jantungnya berdebar kuat di balik tulang rusuknya.

Sweatshirt sialan itu membuat Jeongguk nampak sangat... hangat. Dia mengenakan warna sejuk yang menyejukkan, membalut tubuhnya yang penuh dan bidang. Taehyung ingin memeluknya, berbaring di atas dadanya dan melupakan dunia; mengunci pintunya dari semua kenyataan. Mendengarkan nada lembut Jeongguk sepanjang waktu.

Taehyung akan membelikan Jeongguk lebih banyak sweatshirt sewarna tanah nanti. Untuk kepentingan pribadinya.

“Green tea latte lagi?” Kini Jeongguk beralih ke Mirah yang meregangkan kakinya yang terbalut heels lima senti. Gadis itu mengangguk, tersenyum ceria seraya menggumamkan terima kasih dan Taehyung menahan napasnya.

Mereka nampak sangat natural, begitu indah dan mengisi satu sama lain dengan sempurna. Pembawaan mereka sama-sama tenang dan ningrat, mereka akan menjadi orang tua yang luar biasa. Mirah nampak bisa mengendalikan dirinya dengan baik, tenang dan berpendidikan. Sama seperti Jeongguk. Jika saja Jeongguk tidak mengenakan cincin Tiffany mereka, Taehyung pasti sudah merasa dialah pengganggunya di antara hubungan mereka.

Taehyung memejamkan matanya, menenangkan diri seraya menyesap minumannya dengan perlahan sementara Mirah mulai mengajak Devy mengobrol—syukurlah anak itu kemudian jadi terdengar lebih ceria, Taehyung benci menatap wajahnya yang nampak seperti kucing ketakutan. Dia membuat Taehyung merasa tidak nyaman dan bersalah; dia tidak menyukai itu.

Jeongguk kembali, menyelipkan dompet ke saku belakang celananya dan duduk di sisi Taehyung yang berseberangan dengan Mirah dan Devy yang sedang membicarakan blush on baru yang dibeli Mirah—mereka mencobanya, mengusapnya dengan jemari untuk mengetes apakah shade-nya cocok dengan kulit Mirah.

“Kau lapar?” Jeongguk menatapnya, tersenyum lembut dan Taehyung menghela napas—bagaimana mungkin lelaki selembut dan setenang Jeongguk jatuh cinta pada lautan berbadai dan manusia cacat seperti Taehyung?

Sudah bertahun-tahun sejak kali pertama Taehyung membaca pesan Jeongguk: I love you dan mendengar pemuda itu mengatakannya berkali-kali selama mereka bercinta. Namun Taehyung masih sulit mempercayai bagaimana dia mengulurkan tangan pada Taehyung dan membalut lukanya dengan begitu sabar, meladeni semua kesintingan dalam hidup Taehyung dengan tulus. Layakkah Taehyung mendapatkan lelaki ini?

“Tidak. Aku baik.” Sahut Taehyung, tersenyum padanya—tidak bisa menahan diri karena Jeongguk nampak bersinar karena senang. Dia melirik Mirah yang sedang tertawa, sibuk bersama Devy.

Dia tidak menyukai Mirah, itu benar. Tapi dia mengapresiasi bagaimana gadis itu membuat Jeongguk rileks dan tertawa, hal yang belum bisa dilakukan Taehyung sekarang. Mungkin dia bisa berusaha sedikit, memahami Jeongguk sebagaimana Jeongguk selalu memahaminya. Melihat Jeongguk menangis di hadapannya telah membuka mata Taehyung; membuatnya menyadari mungkin selama ini ada begitu banyak hal yang disembunyikan Jeongguk darinya. Takut diungkapkannya.

Taehyung tidak keberatan dengan kecenderungan Jeongguk bercerita pada Mirah—sedikit. Dia tidak bisa memaksakan rasa percaya sama sekali, dia hanya berharap dia bisa membuat Jeongguk nyaman di kemudian hari karena Taehyung kekasihnya, 'kan? Jeongguk sudah berusaha begitu banyak dalam hubungan mereka selama ini dan Taehyung mendadak ingin berkontribusi dalam hubungan mereka.

Semua karena dia melihat lelaki itu menangis di hadapannya.

Jeongguk pasti kelelahan dan tidak mau membicarakan apa pun pada Taehyung. Dia bisa saja memaksa Jeongguk bicara namun dia tidak mau. Dia ingin Jeongguk sendiri yang membicarakannya, mempercayai Taehyung—yang belum dilakukannya. Taehyung menghela napas, dia akan berusaha lagi. Berusaha menggeser Mirah dari hatinya. Dia bisa memainkan permainan ini dengan baik, dia bisa menjadi lebih baik dari Mirah.

Taehyung tidak bisa lagi membayangkan Jeongguk yang menangis di hadapannya, tersedu-sedu memeluknya dengan tubuh gemetar karena mimpi buruk. Rasa sakit yang mencabik hatinya nyaris terasa melumpuhkan, membuat tulang punggungnya terasa lunak—tidak sanggup menopang tubuhnya. Dia memutuskan dia tidak sudi lagi melihat Jeongguk menangis di hadapannya.

“Aku membelikanmu sesuatu,” kata Jeongguk kemudian, tersenyum tipis. “Akan kuberikan nanti.”

Alis Taehyung naik sebelah. “Kau membelikanku apa?” Tanyanya.

Jeongguk mengedikkan bahunya, bersandar di kursinya dan tersenyum—nampak begitu hangat dan nyaman hingga Taehyung merasa mengantuk. Dia seperti pagi berkabut setelah hujan yang membuat siapa saja akan menarik kembali selimut mereka dan memejamkan mata—menikmati pagi yang malas. Jeongguk seperti pagi sehabis badai, tenang dan menghanyutkan. Siapa pun akan tenggelam dalam sepasang matanya yang teduh, dalam, dan hangat. Penasaran pada kehangatannya, seperti laron yang mendekati cahaya.

Jeongguk adalah matahari, memancarkan cahaya dan kehangatan. Mengundang siapa saja untuk mendekatinya, terperosok pada pesonannya yang meneduhkan. Sangat bertolak belakang dengan Taehyung yang dingin, misterius, dan mudah marah. Orang waras akan cenderung menghindari Taehyung dan mendekat pada Jeongguk. Maka saat matahari itu merendahkan dirinya dari langit untuk meminang Taehyung, dia tidak yakin pada pendengarannya sendiri hingga dia menggenggamnya di tangannya.

Dia menggenggam Jeongguk, begitu erat ke hatinya. Mirah sama sekali tidak punya kesempatan.

“Hanya sesuatu yang kecil dan tidak penting,” Jeongguk sekarang nampak merona sedikit dan Taehyung menggertakkan giginya menahan senyuman lebar bodoh saat Jeongguk merogoh sakunya dan mengulurkan tangannya di bawah meja, tersembunyi dari kedua perempuan di hadapan mereka.

Taehyung menunduk, menemukan sepasang gelang buatan tangan konyol di atas telapak tangannya. Dibuat dari benang berwarna hitam polos dengan satu manik di tengahnya, bisa disesuaikan dengan simpul. Hati Taehyung seketika menghangat. Benda itu mungkin benda paling tidak signifikan yang pernah Taehyung terima, benda konyol. Memangnya mereka anak SD yang membeli gelang untuk digunakan berpasangan saat mereka sudah memiliki cincin Tiffany mahal di jemari mereka?

Namun Taehyung meraihnya, merasakan tekstur gelang itu di telapak tangannya. Membayangkan dengan hangat bagaimana Jeongguk mungkin berhenti di toko kecil yang tidak mencolok, mengulurkan tangan dan dengan antusias memilih gelang yang diinginkannya—memikirkan Taehyung.

“Benda bodoh,” kata Taehyung menatap gelang itu dengan senyuman di bibirnya. Dia mendongak, menatap Jeongguk yang tersenyum. “Benda konyol.” Ulangnya namun dia melonggarkan simpulnya dan mengenakannya di tangan kanannya.

Chef tidak boleh mengenakan aksesoris apa pun di tangan mereka karena harus menjaga self-hygiene tapi Taehyung tidak keberatan. Dia akan menyimpan benda itu di sakunya saat bekerja. Dia mengencangkannya lalu menunjukkannya pada Jeongguk.

“Tidak penting,” katanya dengan senyuman kecil di bibirnya. “Seperti anak kecil.” Gumamnya, hatinya hangat sekali—mengembang seperti sebuah roti yang dipanggang. “Memangnya kita berapa? 12 tahun?”

“Tapi kau menyukainya?” Tanya Jeongguk lembut.

Taehyung menatapnya. “Kau bercanda?” Dia balas bertanya, berusaha terdengar jengkel saat menyugar rambutnya. “Tentu saja aku tidak menyukainya. Benda bodoh murahan.” Taehyung menggenggam pergelangan tangannya, merasakan denyutan nadinya yang memburu.

Dia bahagia, sangat bahagia hanya karena gelang kecil yang tidak mungkin berharga lebih dari lima puluh ribu rupiah. Tapi dia senang, senang sekali.

Jeongguk menumpukan dagunya, menatapnya sejenak sebelum barista menyebutkan namanya untuk mengambil minuman. Jeongguk berdiri, melewatinya dan berbisik—cukup keras untuk didengar Taehyung sendiri yang menunduk menatap gelang barunya.

“Syukurlah jika kau tidak menyukainya.”

Taehyung mengulum senyumannya—merasa amat bahagia. Jeongguk pasti sudah gila karena dia bisa bersikap sangat menggemaskan hari ini hingga dia ingin sekali memeluknya, menciumi wajahnya dan membuatnya mendesah senang.

Namun mereka masih punya sepanjang hari, Taehyung harus bersabar.

“Hah?”

Jeongguk meringis, “Aku harus menemani Mirah ke suatu tempat setelah ini.” Bisiknya saat mereka berempat ada di tukang jahit memilih satu dari ratusan sampel kain yang digelar di meja raksasa di hadapan mereka.

Ruangan itu besar dan didominasi jendela yang membuatnya terang benderang, mempermudah para penjahit untuk bekerja dan melihat warna kain dengan lebih baik. Para perempuan tenggelam dalam ratusan kain kebaya yang mereka sukai sementara Jeongguk dan Taehyung berdiri di kejauhan—mengamati.

Taehyung membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu dengan wajah terganggu dan Jeongguk sudah menahan napasnya, siap menerima ketidak sukaannya pada fakta itu sebelum pemuda itu menghela napas. Dia memijat pelipisnya dan mendesah keras.

“Wigung?” Bisik Jeongguk lembut, tangannya bergerak—hendak menyentuhnya namun dia menahan diri karena mereka ada di ruang publik. Maka dia menjatuhkan kembali tangannya. “Kau oke?”

Taehyung mengangguk, nampak berusaha keras mengendalikan dirinya sebelum mengatakan, “Baiklah.” Katanya kemudian, menggertakkan gigi dengan mata terpejam erat. “Jam berapa kau pulang?”

Jeongguk berpikir sejenak, “Entahlah. Aku tidak yakin seberapa lama Mirah akan bertemu temannya.” Lalu dia mengerjap dan menyunggingkan senyuman separuhnya, menyadari apa yang diinginkan Taehyung. “Kau ingin check in?”

Taehyung merona sejenak sebelum berdeham keras hingga beberapa penjahit menoleh kaget karena suaranya yang berat. Dia nampak terganggu namun Jeongguk sangat menghargai bagaimana dia berusaha mengendalikan dirinya; Jeongguk senang. Kekasihnya berusaha untuk Jeongguk. Dia ingin menyentuh Taehyung, ingin mengusap warna merah tipis di kulitnya yang sewarna zaitun—karena semburat itu cantik sekali hingga hati Jeongguk berdesir.

Dia begitu mencintai Taehyung, teramat mencintainya hingga dia ketakutan pada cintanya sendiri. Takut tubuhnya yang lemah tidak bisa menangguhkan perasaan itu, meledak karena betapa tak tertahankannya perasaan itu. Jeongguk melirik Mirah yang tertawa, menyadari dia mungkin hanya memandang gadis itu sebagai teman karena dia selalu tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat Jeongguk merasa lebih baik.

Namun jika bicara tentang cinta,

Dia menatap Taehyung yang berdecak tentang Jeongguk yang selalu tahu isi kepalanya dan dia sudah memesan kamar di lodge langganan mereka di Candidasa.

Dia jatuh cinta pada Taehyung, begitu dalam tenggelam dalam pelukannya hingga Jeongguk tidak ingin diselamatkan. Dia nyaman di sana, terseret arus ganas samudera itu—menyadari bahwa inilah seni mencintai Taehyung. Jeongguk tersenyum.

“Baiklah,” katanya melirik jam tangannya. “Aku akan mengantar Mirah pulang lalu menemuimu di sana, bagaimana?”

Taehyung tersenyum. “Sepakat.” Sahutnya. “Jangan mengganti bajumu, oke?”

Alis Jeongguk naik sebelah, “Dan kenapa?”

Taehyung menatapnya, sejenak nampak rikuh sebelum berdeham kecil. “Kau kelihatan luar biasa dengan pakaian itu.”

Senyuman Jeongguk kemudian terbit, merekah seperti sekuntum bunga dan hatinya melompat seperti seekor anak kelinci karena pujian sesederhana itu. Taehyung benar-benar tidak terduga—dia bisa jadi sangat menggemaskan dan sangat melelahkan, tidak pernah memiliki suasana hati yang normal. Jeongguk mungkin sudah mulai terbiasa dengan perubahan itu.

Dia lelah sekali belakangan ini, sulit tidur dan memiliki pusing yang sulit sekali hilang bahkan setelah meminum obat. Namun melihat Taehyung tersenyum, nampak rileks dan bahagia menyembuhkan penyakitnya seketika itu juga.

“Aku akan memastikan Mirah pulang sebelum terlalu larut, oke?” Katanya saat mereka berpisah setelah Devy memilih kain kebaya yang disukainya berserta kain mereka—dia membawa pulang sampel kain itu untuk ditunjukkan pada kedua orang tua mereka sebagai 'bukti' bahwa Taehyung serius mengurusnya.

Walaupun sama sekali tidak menyukainya.

“Aku tidak ingin dia memukulmu lagi, oke?” Kata Jeongguk saat Taehyung menolak melakukannya, mengusap pipinya sayang. Membujuknya. “Lakukan saja apa yang dia inginkan.”

“Sampai kapan?” Tanya Taehyung dan hati Jeongguk terasa ditembus sebilah belati—menembus rusuknya hingga dia sejenak harus membungkuk karena rasa sakit itu terasa begitu nyata.

Sampai kapan?

Pertanyaan yang sama, Jeongguk juga penasaran sampai kapan mereka harus melakukan ini hingga mereka bisa mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri? Hingga semua orang akhirnya meninggalkan mereka sendirian? Jeongguk berusaha, dia sangat berusaha mencari jalan keluar namun posisi Taehyung yang sulit membuatnya semakin dan semakin kebingungan.

Maka dia memeluk pemuda itu, menghirup aroma rambutnya dan mengusap dadanya—meminta maaf dengan gesturnya. “Maafkan aku,” bisiknya lirih, merasaa nyeri karena rasa bersalah—tidak juga bisa melepaskan mereka dari jerat masalah. Mulai merasa seharusnya Jeongguk tidak mengejar Taehyung sama sekali karena percaya dirinya yang lalu mulai rapuh dan retak.

Dia takut sekali; kehilangan Taehyung dan tidak bisa memperjuangkannya. Jeongguk takut Taehyung menyesal—dia ingin sekali membahagiakan Taehyung. Kegagalan selalu membuat Jeongguk resah; maka jika dia gagal membahagiakan Taehyung, Jeongguk tidak yakin dia masih bisa tetap hidup. Kegagalan yang terlalu besar untuk diingat sepanjang sisa hidupnya.

“Maaf.” Bisiknya, berulang-ulang dengan Taehyung yang meringkuk dalam pelukannya seperti bola. Mencoba menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Jeongguk. “Kita akan menemukan cara,” bisiknya—mencoba meyakinkan Taehyung.

Dan dirinya sendiri.

“Aku akan menemukan cara.” Dia mengecup kening Taehyung dan kembali memeluknya dengan mata terpejam; bergidik karena betapa benarnya kalimat itu terasa dan betapa takutnya dia.

Jeongguk di masa sekarang mendesah, dia berkendara menembus lalu lintas kembali ke pusat perbelanjaan yang tadi mereka datangi sebelum pergi ke tempat kebaya. Jeongguk sudah bertanya kenapa teman Mirah tidak bergabung saja saat mereka di sana namun menurut Mirah, temannya sedang memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

“Hari Sabtu?” Tanyanya dengan alis berkerut—berpikir mungkin teman Mirah seorang hotelier dengan sistem kerja shifting.

Mirah mengangguk, mengoles lipstik cair ke tangannya—mengecek warnanya. “Dia tepat waktu, kok. Selalu.” Dia mendongak dan tersenyum, sesuatu berkilat di matanya. Jeongguk tidak terlalu menyukainya—kilatan itu. Karena dia tidak tahu apa makna dibaliknya.

Mereka melangkah ke arah Starbucks yang mereka datangi tadi dan Mirah menempelkan ponsel di telinganya. “Sudah di dalam?” Tanyanya ceria. “Aku sudah dekat. Tunggulah. Pesan sesuatu, aku traktir.”

Jeongguk menyentuh bahunya, menggeleng. “Aku saja yang bayar.” Katanya dan Mirah balas menggeleng dengan tegas. “Aku bisa membayar belanjaanku sendiri.” Dia tersenyum dan Jeongguk mendesah.

Mereka memasuki gerai kopi itu, aroma biji kopi yang diolah dan pengharum ruangan membuat Jeongguk sejenak rileks. Mirah menoleh ke sana kemari lalu menemukannya—seorang perempuan paruh baya yang duduk di sudut ruangan, nampak sangat ramah dan tenang, melambai ceria padanya.

“Ayo, Bli Gung.” Katanya bersemangat, meraih tangan Jeongguk dan menariknya mendekat—nyaris menyeretnya.

Jeongguk bergegas mengikuti kaki Mirah yang kecil ke arah perempuan yang sekarang berdiri. Dia mengenakan celana jins nyaman, kemeja longgar dan kacamata—wajahnya memiliki kesan lembut yang menenangkan. Ekspresi yang membuat Jeongguk seketika merasa nyaman dan tenang di sekitarnya, memercayainya. Pembawaannya begitu anggun, seperti rusa betina dan Jeongguk membalas senyumannya—nyaris detik itu juga karena senyumannya seperti virus, menular.

“Halo, Gung.” Sapa perempuan itu, mengulurkan tangan dan Jeongguk menjabatnya—menyukai jabatannya yang ternyata kuat dan tegas. “Senang sekali bertemu denganmu. Saya Thia.”

Jeongguk mengangguk, mengerjap. “Halo, Mbak Thia.” Sahutnya setelah jabatan tangan mereka terpisah—aura positif perempuan ini, Thia, membuat Jeongguk nyaman. Dia duduk di kursi, di sebelah Mirah yang nampak bersemangat entah karena apa.

Dia kemudian menoleh, tersenyum pada Jeongguk sambil menghela napas. “Bli Gung,” katanya kemudian dan Jeongguk menatapnya, penasaran. “Karena aku rasa Bli Gung tidak terlalu nyaman dengan lelaki paruh baya, jadi aku mencarikan seorang perempuan.”

Jeongguk mengerutkan alisnya, namun tersenyum—tidak mau nampak tidak sopan di depan Thia yang duduk di hadapannya dengan senyuman yang terlihat sangat lembut dan penuh pemahaman hingga Jeongguk merasa lemah, ingin menyerah.

Mirah menggaruk pelipisnya, nampak malu dan sedikit takut. “Maaf juga karena aku melangkahi Bli Gung dan tidak mengatakan apa pun,” dia meringis dan Jeongguk membuka mulut—hendak bertanya apa yang sebenarnya perempuan itu ingin katakan saat dia menambahkan.

“Dia seorang psikolog.” Mirah menatapnya, lurus dan tegas. “Bli Gung butuh bantuan.”


sorry. im so tired omg this vaccine sigh gnite! x