Gourmet Meal 470
cw // session scene .
ps. MOHON UNTUK TIDAK MELAKUKAN DIAGNOSIS SENDIRI. jika kalian membutuhkan bantuan, silakan menghubungi profesional berlisensi. trims x
“People pleaser,”
Jeongguk mengerjap, menatap Thia yang duduk dengan tenang di hadapannya. Tersenyum lembut seperti biasa dengan aroma lembut bunga dan parfum binatu dari sweter yang digunakannya. Rambutnya yang keperakan diikat kuda longgar, di hanya mengenakan lipstik tipis dan selapis bedak tabur yang beraroma manis. Jeongguk mengaitkan jemarinya di atas pangkuannya, menatap kuku-kukuknya yang rusak karena bekerja dengan makanan dan pisau—dia harus memotongnya nanti sebelum bekerja.
“Energimu habis terkuras karena kau sibuk memikirkan emosi orang lain, mengambil tanggung jawab yang bukan porsimu.” Thia melanjutkan dengan lembut. “Apakah rasanya ketika hari berakhir, badanmu begitu letih seolah energimu terkuras habis dan kau hanya ingin berbaring lalu menangis?”
Jeongguk mengangguk, tidak pernah menyadarinya hingga beberapa waktu belakangan ini. Dengan Taehyung bersikap sedikit tidak masuk akal sebagai pelampiasan amarahnya untuk ayahnya, dia menyala dengan emosi negatif yang membuat Jeongguk kelelahan. “Begitu, ya.” Katanya, tubuhnya gemetar karena dia mendapatkan jawabannya.
Jawaban dari semua kelelahan tanpa ujungnya, perasaan kosong aneh setiap kali hari berakhir, semua emosi-emosi yang tidak dipahaminya sama sekali. Semua karena dia berusaha menjadi people pleaser. Sejak kapan dia berubah menjadi begitu? Apakah dia memang sejak awal bersikap begitu? Jeongguk pikir sudah sewajarnya dia bersikap begitu kepada semua orang; dia bersikap baik, 'kan? Apakah sekarang bersikap baik juga termasuk dosa?
“Gung,” Thia memulai dengan lembut. “Perasaan orang lain, termasuk bahagia atau amarah mereka, bukan tanggung jawabmu. Itu urusan mereka. Berhenti berusaha membahagiakan mereka karena kau tidak akan bisa.” Thia menatapnya dan Jeongguk berusaha mendengarkan, berusaha tidak mendebatnya.
Lalu siapa lagi yang bertugas membahagiakan orang tuanya? Taehyung?
“Bahagia individu adalah urusan mereka sendiri. Manusia itu memilih, Gung.” Jelasnya, menyilangkan kakinya di kursinya—menyandarkan tubuhnya, gestur yang membuat Jeongguk mendadak rileks. “Jika mereka tidak memilih untuk bahagia, untuk memaafkan, maka mereka tidak akan bahagia dan memaafkan. Kau bisa berusaha, selama ini kau sudah berusaha membahagiakan mereka dan melupakan hal terpenting dari semuanya.”
Jeongguk mengerjap, menatapnya.
“Kau melupakan dirimu sendiri.” Thia tersenyum, sendu dan menghibur—simpati erat yang membuat Jeongguk tersengat rasa sedih aneh. Seperti seseorang yang sangat dicintainya baru saja dimakamkan, perasaan kosong dan terasing. Perasaan bingung tidak berkesudahan itu. “Lalu dengan berusaha selama ini, apakah itu membuatmu bahagia? Memastikan semua orang bahagia dengan membiarkan dirimu sendiri terinjak-injak membuat dirimu atau mereka sungguh-sungguh bahagia?”
Jeongguk diam, memikirkan pertanyaan itu baik-baik. Apakah dia bahagia? Dia bahagia, setidaknya setiap kali melihat Taehyung bahagia dalam pelukannya. Jeongguk berhenti, mengolah kembali ingatannya dengan perlahan—mengais emosi-emosi yang dibotolkannya, disegelnya di sudut kepalanya, untuk dilupakan karena dia merasa tidak layak merasakan emosi itu. Menyadari ada beberapa waktu ketika dia kelelahan bahkan setelah melihat Taehyung bahagia, perasaan kosong bahkan saat melihat Taehyung bahagia.
Ada sesuatu yang kurang, hilang, kosong dan belum terisi di hatinya.
Apakah Taehyung bahagia? Di beberapa kesempatan, ya. Dia nampak bahagia, namun ada beberapa kali di mana Jeongguk sudah berusaha sekuat tenaga—mengerahkan segala yang dimilikinya untuk membuat Taehyung bahagia, namun dia tetap jengkel dan marah. Tetap pahit dan getir, malah berbalik menyerangnya seolah Jeongguk tidak melakukan apa pun. Itu membuatnya sangat frustrasi, menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu membahagiakan Taehyung.
“Kadang,” katanya pelan—memikirkan betapa menakjubkannya pekerjaan Thia yang membantu orang-orang menguraikan isi kepala yang mereka sendiri tidak pahami. Membantu orang-orang menemukan jawaban dari apa yang bahkan tidak mereka pikirkan.
“Dalam kesempatan-kesempatan di mana kau merasa bahagia setelah membuat mereka bahagia, apakah kau tidak merasa kelelahan?”
Jeongguk mendesah, menyadari Thia sudah tahu jawabannya. Dia membongkar botol-botol emosinya, mencoba mengingatnya dan merengkuh emosi-emosi itu sekarang. “Selalu kelelahan.” Bisiknya, menatap jemarinya sekali lagi—mulai merindukan Taehyung.
Ini sudah sesi ketiganya dengan Thia, setiap sesi setidaknya berjalan tiga hingga lima jam karena Jeongguk tidak punya banyak waktu kosong. Dia juga harus mengarang alasan untuk Taehyung yang semakin hari nampak semakin curiga dan tidak lagi menerima alasan boys time bersama Yugyeom di mana dia dilarang ikut. Mereka juga beberapa kali melakukan konseling via telepon ketika Jeongguk membutuhkan bantuan dan tidak dalam keadaan bisa bertatap muka. Jeongguk juga menyadari dia sekarang mulai mencari Thia untuk bantuan, mulai memasrahkan diri untuk dibantu dan tidak lagi melawan. Merasakan bahwa bantuan Thia membuatnya merasa lebih baik.
Biasanya, sesudah sesi dia akan membelikan Taehyung makanan sebelum mampir ke Puri, mengendap ke kamar Taehyung tentu saja karena tidak ingin bertemu ayahnya dan memeluknya hingga lelap. Jeongguk selalu berhasil lolos dengan alasan 'Yugyeom pulang dengan pacarnya' setiap kali mampir ke Puri Taehyung entah menjemputnya untuk menginap di Puri Jeongguk atau menemaninya hingga tidur padahal dia memang selalu ke Denpasar sendirian.
Setiap sesi juga menguras tenaganya. Thia membimbingnya melalui emosi-emosinya sendiri, semua kenangan yang tidak disadari Jeongguk, semua sikap tidak sopan dari orang-orang yang diterima Jeongguk begitu saja. Menyadari betapa dia sangat babak belur karena sikap terlalu baiknya. Membuka botol-botol emosi itu dan meminumnya, membuat Jeongguk kadang sedikit pusing hingga mereka harus menghentikan sesi sejenak dan makan cokelat untuk membuat Jeongguk lebih baik.
Jeongguk tahu waktunya menipis, Taehyung mulai curiga. Dia harus membuat alasan yang lebih kuat atau jujur. Namun mengingat pendapat Taehyung tentang psikolog, berbohong terdengar lebih baik untuk saat ini. Dia akan memberikan Taehyung beberapa soft baked cookies nanti, ayah Jeongguk ingin dia datang malam ini dan menginap. Mereka akan membicarakan masalah intervensi masalah Taehyung dan ayahnya.
“Maka,” suara Thia mengembalikan Jeongguk ke masa sekarang—dia mendesah, memaksa kepalanya fokus pada satu pembicaraan. “Sebaiknya kau mulai belajar menghargai dirimu sendiri. Percayalah, manusia memilih untuk menjadi bahagia. Jika mereka tidak memilih, maka mereka tidak akan bahagia. Tidak peduli apa pun yang kaulakukan. Mari, keluarkan beban itu dari dirimu sendiri—terlalu berat jika kau harus bertanggung jawab atas bahagia semua orang kecuali dirimu sendiri.”
Thia mengajari Jeongguk caranya bicara positif kepada dirinya sendiri: dimulai dengan berhenti mengatakan hal negatif ketika keliru dan menggantinya dengan kata-kata semangat semacam, 'baiklah kita gagal hari ini, mari coba lagi besok'. Thia juga meminta Jeongguk bicara dengan dirinya sendiri, maka Jeongguk mencobanya dengan membayangkan ada orang lain di kepalanya bersama—mengobrol dengannya ketika lelah, memeluknya ketika dia kedinginan. Jeongguk seringkali mandi dan menyabuni tubuhnya, mengatakan terima kasih pada tubuhnya karena sudah berusaha.
“Terima emosimu,” kata Thia pada sesi mereka kemarin. “Jika kau merasa marah, terimalah marah itu. Jangan dilawan, jangan diabaikan, jangan disingkirkan. Silakan memberikan ruang pada dirimu untuk merasakan amarah, untuk marah. Terimalah semua emosimu, biarkan dirimu merasakannya—mengenal tubuhmu sendiri, mengenal dirimu sendiri. Ketika kau sudah mengenalinya, semakin mudah untuk mengontrol emosimu sendiri.”
Jeongguk juga mulai menulis jurnal, berkeluh kesah dengan menuliskannya. Kadang kala dia hanya mencoret-coret halamannya karena otaknya benar-benar lelah, atau merobeknya. Tidak selalu tulisan, tapi ternyata hal sesederhana itu benar-benar membantunya. Dia selalu menyegel halaman yang sudah ditulisnya dengan lem kertas, agar dia tidak membacanya ulang karena Thia memintanya untuk: “buang emosi itu, jangan diambil kembali.”
Juga melakukan hal sesederhana: 'tidak ingkar janji pada dirimu sendiri'. Jeongguk baru tahu konsep ini bahwa ketika pagi dirinya berpikir, “malam ini aku akan tidur awal,” lalu ternyata mengingkarinya dia ternyata sedang merusak kepercayaan dirinya sendiri padanya. Hal sesederhana, “siang ini aku akan makan piza” dan tidak membelinya karena malas, dia juga sedang merusak kepercayaan dirinya sendiri padanya.
“Jika dirimu sendiri tidak bisa mempercayaimu, bagaimana kau bisa mempercayai orang lain?” Begitu Thia mengatakannya. “Mari mulai menepati janji-janji kecilmu pada diri sendiri sebelum melakukannya ke orang lain. Buat dirimu sendiri percaya padamu agar kau bisa mengendalikan hidupmu.”
Konsep yang asing, Jeongguk pikir itu hal remeh namun ternyata ketika dia berusaha menepati janji-janji kecil itu, dia merasa jauh lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Merasakan kebahagiaan kecil yang meledak di dasar perutnya ketika dia melakukannya. Bahkan hal sekecil, “olahraga lebih lama” dan tidak menundanya lagi. Tubuhnya senang dan Jeongguk kaget menerima respons itu. Nyaris seolah ada dua orang berbeda di dalam tubuhnya dan Jeongguk sedang berkenalan dengannya, berusaha menjalin pertemanan untuk mengalahkan kehidupan.
Pengalaman magis yang anyar, namun Jeongguk mengapresiasinya.
“Tidakkah,” Jeongguk di masa sekarang diam sejenak, kebingungan. “Tidakkah itu berarti aku durhaka?”
Thia tersenyum lembut, “Tentu saja tidak. Kau tidak berhutang apa-apa kepada siapa pun kecuali dirimu sendiri, bahkan tidak kepada orang tua.” Katanya dan Jeongguk sejenak terenyak—kaget pada konsep itu. “Kau tidak minta dilahirkan, orang tua yang menghadirkanmu. Kewajiban mereka membesarkanmu, memberikan fasilitas yang kaubutuhkan dan kau tidak harus membalasnya. Sudah sewajarnya, orang tua memperlakukanmu dengan rasa hormat sama seperti yang mereka inginkan. Mutual respect.”
Jeongguk mengerjap, Thia tidak mengenal ayahnya. Mana mungkin lelaki tua itu paham apa yang namanya menghormati anaknya, mendengarkan opini dan keinginan anaknya. Menurutnya, anak adalah aset. Alat untuk memberikannya kehidupan yang lebih layak, melanjutkan keturunan dan mimpinya yang tertunda. Tidak ada ruang untuk hal remeh semacam 'keinginan Jeongguk'.
“Mungkin bukanlah konsep yang sering kau dengar, tapi itulah kebenarannya.” Thia menatapnya, menunggu reaksi Jeongguk menyeruak di wajahnya. “Kau bisa mengkomunikasikan emosimu pada orang tua; beri tahu mereka bagaimana kau ingin diperlakukan, apa yang kauinginkan. Mulailah berusaha melepaskan balon-balon yang bukan milikmu, Gung. Lepaskan tanggung jawab yang bukan porsimu: membahagiakan orang lain, emosi-emosi orang lain.”
Jeongguk bersandar di kursinya, menatap ke luar jendela berusaha memproses kata-kata Thia tadi. Bersikap tidak peduli mungkin di beberapa kesempatan adalah sebuah anugerah. “Bagaimana jika itu salahku?” Tanya Jeongguk kemudian. “Tidakkah itu menjadi tanggung jawabku?”
“Benar.” Thia mengangguk. “Porsimu hanya hingga meminta maaf dan menjelaskan duduk perkaranya. Masalah mereka memaafkan atau tidak, itu sudah bukan lagi kapasitasmu. Karena jika mereka membenci, maka mereka akan membenci. Ingat tentang 'manusia itu memilih'?”
“Jika dia memilih untuk tidak memaafkanku?” Tanya Jeongguk perlahan.
“Maka tidak apa-apa. Setidaknya, kau sudah melakukan kapasitasmu untuk meminta maaf.”
Jeongguk membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu namun ragu. Bagaimana jika dia benar-benar membutuhkan maaf dari orang ini? Mungkinkah dia hanya meminta maaf sekali tanpa melakukan apa pun untuk membuatnya nampak 'berniat' meminta maaf? Dia membuka mulutnya lagi, “Bagaimana jika kesalahanku fatal dan aku benar-benar membutuhkan maafnya?”
“Kita beri mereka ruang,” kata Thia lembut. “Kita beri ruang untuk memproses amarah mereka, memproses emosi-emosi mereka sebelum kemudian entah memaafkan atau tidak. Tetapi, jangan memohon pada siapa pun. Tolong hormati dirimu sendiri. Jika mereka memutuskan untuk tidak memaafkanmu, maka berhentilah. Hormati dirimu sendiri untuk berhenti karena jika mereka pendendam, maka mereka tidak akan pernah memaafkanmu.”
“Lalu masalah sahabatmu,” kata Thia kemudian setelah mereka beristirahat sejenak dengan minum air, makan cokelat, dan meregangkan tubuh sebelum kembali melanjutkan obrolan. “Saya merasa ada sesuatu yang tidak tepat dalam hubungan kalian.” Dia nampak cemas dan Jeongguk gelisah; Thia tidak pernah nampak cemas.
“Apakah ketika dia menaikkan suaranya kau merasa takut? Ketakutan tiba-tiba yang membuatmu terkesiap? Ketakutan yang membuatmu secara fisik berjengit? Merasa kecil?”
Jeongguk menatap Thia, bagaimana dia... tahu?
Ekspresi Jeongguk nampak cukup untuk Thia mengetahui jawabannya karena dia melanjutkan dengan nada yang jauh lebih lembut lagi, “Apakah kemudian kau merasa benar-benar tidak berdaya? Dingin karena ketakutan? Otomatis ingin meminta maaf pada entah apakah itu benar-benar kesalahanmu atau bukan?”
Jeongguk mengerjap, merasa mulas karena betapa benarnya Thia menjelaskan perasaan itu. Dan ekspresi ibu paruh baya itu membuat Jeongguk gelisah, dia nampak cemas dan benar-benar perhatian pada Jeongguk—lebih dari apa yang ibu kandung Jeongguk pernah lakukan untuknya.
“Gung,” bisik Thia lembut. “Benarkah begitu? Tolong tanyakan pada dirimu sendiri.”
Jeongguk membuka mulutnya, melirik ke sekitar ruangan merasa entah bagaimana Taehyung akan mendengarnya mengatakan ini kepada Thia dan marah padanya. Dia tidak mau Taehyung marah. Dia... takut pada kemarahan Taehyung. Napas Jeongguk putus sejenak saat dia menyadari ini; dia takut pada kemarahan Taehyung, dia takut pada Taehyung. Dulu dia berpikir perasaan ini karena dia sangat mencintai Taehyung, maka wajar dia takut kekasihnya tidak bahagia atau jengkel karenanya. Apakah itu tidak benar?
Tubuhnya, secara aneh, bereaksi pada perasaan itu. Versi dirinya yang selama ini berusaha diajaknya berteman tidak menyukai perasaan itu. Ada sesuatu yang berdesir di dalam sana saat Jeongguk memikirkan betapa dia takut pada Taehyung—perasaan dingin yang membuat dasar perutnya terasa kaku. Tidak nyaman sekali dan setelah beberapa hari ini belajar mengenal dirinya, bicara lembut pada tubuhnya sendiri, memperlakukan tubuhnya dengan bertanggung jawab: tidur cukup, makan tepat waktu, minum cukup air, perasaan ini membuatnya tidak nyaman.
“Kau melirik ke sekitar ruangan,” tegur Thia lembut, ikut mengedarkan pandangan ke ruangan mereka. “Kau takut dia mendengar ini?”
Jeongguk memejamkan matanya, meremas kedua tangannya. Dia takut pada Taehyung. Perasaan itu muncul lagi, lecutan emosi aneh yang membuatnya tidak nyaman. Sesuatu di ulu hatinya terasa berdenyut sakit kapan pun dia melakukan hal tidak sopan pada dirinya sendiri.
Dia membuka mulutnya, mencoba menemukan suaranya sendiri saat berusaha melepaskan ketakutan itu dari kepalanya. Tidak yakin apakah takut pada kekasihnya sendiri adalah hal yang wajar? Dan kenapa dia harus takut pada Taehyung? Tidak ada yang salah dengan Taehyung, 'kan? Dia hanya kesulitan mengatur emosinya; banyak orang yang kesulitan melakukannya, bahkan Jeongguk.
Lalu kenapa dia harus.... “Aku takut padanya.” Jeongguk gemetar, tangan kanannya bergerak ke siku lengan kirinya—meremasnya kuat, ingin memeluk dirinya sendiri karena rasa dingin aneh yang menjalar di tubuhnya.
Dia sangat... “Aku sangat takut padanya.” Bisiknya sekali lagi, merasakan kalimat itu di lidahnya—membiarkan segala emosi yang selama ini ditahannya meleleh seperti menyesap sebutir permen tamarin yang manis, asam, mengejutkan semua taste buds-nya.
“Aku takut pada Taehyung, sangat takut.”
*