Gourmet Meal 419


Jeongguk merasa dia sudah tidur setidaknya selamanya saat dia membuka mata, menatap langsung ke gipsum langit-langit kamarnya yang bernoda karena bocor beberapa tahun lalu.

Dia mengerang saat otaknya nyeri sebelum menghela napas panjang dan menutup matanya dengan lengannya karena irisnya yang malang terasa teriris cahaya yang masuk dari jendela kamarnya. Otaknya yang berdenyut berputar, jam berapa ini? Sudah berapa lama dia terbangun dari tidur yang panjang merasa jauh lebih letih dari sebelum berbaring? Jeongguk sudah tidak lagi merasa nyaman dalam tidurnya, tidak lagi menemukan rasa nyaman dari ketidaksadaran kecuali bahwa otaknya berhenti berlarian ke sana kemari.

Dia menyadari pintu kamarnya terkuak kecil dengan sedikit jengkel—kenapa Yugyeom tidak menutupnya dengan rapat? Karena jika ada tamu yang datang mereka otomatis akan melewati kamar Jeongguk menuju rumah utama di mana ruang tamu berada dan Jeongguk benci jika mereka mengintip ke kamarnya. Apalagi dalam keadaan dia terlelap.

Jeongguk mendesah, ke mana Taehyung?

Dia kemudian memijat kepalanya, teringat bagaimana sikapnya seharian ini kepada Taehyung dan berpikir wajar jika lelaki itu meninggalkannya sendiri. Bukankah Jeongguk sendiri yang mendorongnya pergi dengan bersikap tidak sopan sepanjang hari padanya? Taehyung lelaki dengan ego dan harga diri yang mahal, setetes sikap tidak sopan cukup untuk membuatnya pergi. Malah aneh jika dia tidak pergi sama sekali, itu bukan Taehyung.

Otaknya kembali berdenyut sekarang. Bagaimana caranya menjelaskan pada Taehyung bahwa dia sama sekali tidak bermaksud mengusirnya? Jeongguk hanya takut dia mungkin mengatakan hal yang akan menyakiti Taehyung dengan keadaan emosinya yang tidak stabil. Dan dia begitu kelelahan dia tidak lagi memiliki energi untuk sekadar bersikap sopan dan baik pada Taehyung, dia bahkan tidak memiliki cukup energi untuk 'memahami' Taehyung. Dia ingin berbaring, berhenti berpikir atau lenyap saja.

Tangannya bergerak buta di ranjang, mencari ponselnya—ingin menghubungi Taehyung dan meminta maaf atas sikapnya hari ini. Dia berharap lelaki itu cukup... tenang untuk mendengarkan karena Jeongguk sungguh tidak memiliki energi untuk menghadapi amarahnya sekarang. Tangannya berhenti saat menemukan ponselnya—mendadak ketakutan. Takut Taehyung akan mengatakan sesuatu tentang meninggalkannya, melangkah pergi karena dia tidak suka sikap Jeongguk seharian ini.

Matanya terbuka, otaknya berdenyut mengerikan. Bukankah itu akan sangat praktis jika dia akhirnya memutuskan untuk pergi? Mengangkat satu beban dari bahu Jeongguk? Itu, 'kan, yang Jeongguk inginkan selama ini? Pertimbangkan? Lalu mengapa dia ketakutan dan tersengat rasa sedih?

Jeongguk mendudukkan dirinya di ranjang, mengusap wajahnya dan menakupkan kedua telapak tangannya di sana—bernapas dari mulutnya. Hatinya berdenyut, rasa sakit yang tidak tertahankan dan begitu tiba-tiba. Rasa sakitnya menyebar hingga ke balik paru-parunya, rasa panas tidak nyaman yang membuatnya sesak. Jeongguk ingin menangis—bagaimana jika Taehyung benar-benar meninggalkannya?

Dia tidak lagi paham dengan dirinya sendiri; apa yang sebenarnya diinginkan Jeongguk? Dia ingin melepaskan Taehyung, namun juga ketakutan jika dia pergi.

Sebelum dia meninggalkanmu, lebih baik kau yang terlebih dahulu meninggalkannya.

Jeongguk berhenti, menyadari kalimat Jimin yang menamparnya telak. Benarkah dia merasa seperti itu? Ketakutan jika ditinggalkan dan memilih untuk meninggalkan karena dia tidak akan bisa melihat Taehyung melangkah meninggalkannya lagi?

Dia menurunkan telapak tangannya, menatap ponselnya di ranjang dan meraihnya. Dia harus menghubungi Taehyung—menjelaskan dan meminta maaf atas sikapnya seharian ini. Mungkin melakukan sesuatu untuk membuat pemuda itu lebih baik besok. Dia bisa memesan makanan atau apa. Taehyung akan memaafkannya, 'kan?

Tangannya gemetar saat dia membuka kunci layarnya, menyadari dia tertidur selama empat jam lebih. Layarnya menampilkan jam digital di angka empat tiga puluh. Dan tidak ada notifikasi dari Taehyung sama sekali. Hati Jeongguk mencelos, dia benar-benar marah hingga tidak repot-repot berpamitan pada Jeongguk sebelum pulang?

Jeongguk mendesah, menggaruk kepalanya. Siapkah dia menghadapi kemarahan Taehyung sekarang? Merasa amat letih karena isi kepalanya, dia kemudian membaca pemberitahuan dari Mirah yang mengatakan dia baru saja tiba di kosnya di Denpasar. Jeongguk menghela napas, merasa sedikit lebih rileks membalas pesan gadis itu karena dia tidak pernah membuat Mirah marah atau kecewa. Jauh lebih mudah berinteraksi dengannya.

Dan... kenapa?

Jeongguk menatap ponselnya. Mengapa jauh lebih mudah berinteraksi dengan Mirah dibanding Taehyung? Lelaki yang sangat dicintainya? Jeongguk tidak memiliki perasaan apa pun untuk Mirah selain rasa kagum karena kemandiriannya sebagai seorang perempuan. Namun mengapa.... Mengapa Jeongguk merasa jauh lebih nyaman membalas pesannya? Menjawab 'apakah kau baik-baik saja?' darinya dengan jawaban sebenarnya? Tidak merasa ingin memalsukan apa pun? Tidak merasa butuh bersikap selalu tenang dan terkenali atau juga bersikap superior.

Apakah dia... jatuh cinta pada Mirah?

Jeongguk bergidik. Tidak, dia tidak jatuh cinta pada perempuan itu. Tiap dia melihat Taehyung, dia menginginkan pemuda itu—sangat menginginkannya hingga Jeongguk merasa dia begitu dekat dengan kegilaan. Tidak ada ruang di hatinya untuk orang lain karena hatinya penuh oleh Taehyung. Dia mungkin hanya... nyaman dengan Mirah. Sebagai teman.

Jeongguk mendesah setelah membalas pesannya lalu menatap ruang obrolan Taehyung yang disematkan paling atas di halaman Whatsapp-nya. Pesan terakhir mereka dua hari lalu saat dia mengirim pesan bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang dan meminta Taehyung menunggunya bersama Yugyeom. Dia gemetaran saat menyentuh nama itu, menunggu hingga layarnya terbuka sebelum menatap foto profil Taehyung.

Apakah dia marah? Sangat marah pada Jeongguk? Apa yang harus Jeongguk lakukan agar dia memaafkan Jeongguk?

Dia menyentuh kolom untuk mengetik pesan, menunggu papan ketik virtualnya muncul sebelum menghela napas. Dia mengetik perlahan: Wigung? lalu menekan kirim dengan perasaan tidak karuan. Menyiapkan diri untuk menghadapi kemarahan Taehyung. Status pesan berkedip dari 'Terkirim' menjadi 'Diterima' dalam beberapa nanosekon.

Ting!

Jeongguk mengerjap, mendongak kaget dari ponselnya saat mendengar nada notifikasi itu dan menoleh panik. Menemukan ponsel Taehyung tergeletak di nakas di sisi ranjangnya—layarnya menyala dengan notifikasi Jeongguk di layarnya. Jantungnya berdebar. Taehyung belum pergi? Lalu ke mana—

”... Enak!”

Jeongguk menoleh ke pintu kamarnya yang terkuak sedikit, menyadari suara Yugyeom yang tinggi—kapan saja dia merasa senang. Alisnya berkerut, apakah Taehyung sedang bersama adiknya? Dia hendak bangkit, merangkak menuruni ranjang dan bertanya pada adiknya ke mana Taehyung saat pintu terbuka.

Dan Taehyung berdiri di sana—tersenyum lebar dengan piring di tangannya. Sejenak sinar matahari membutakan Jeongguk, membuat Taehyung hanya nampak seperti siluet kehitaman hingga dia beranjak menghindari cahaya dan sinar menyiram wajahnya yang kemerahan karena senang.

Mereka memasuki ruangan, Taehyung dan Yugyeom nampak ceria lalu keduanya menyadari Jeongguk yang sudah bangun—termangu di kasurnya, berusaha memproses keadaan sekitarnya.

“Wiktu!” Seru Yugyeom ceria, bergegas menghampirinya. “Sudah enakan??”

Namun suara dan wajah Yugyeom memudar di latar belakang karena pandangan Jeongguk dipenuhi dengan ekspresi tenang Taehyung. Sudah berapa lama sejak terakhir kali dia melihat Taehyung serileks itu? Rasanya seperti bertahun-tahun lalu. Taehyung yang selalu kelelahan dan marah karena tidak menerima perjodohannya, sisa memar pudar di wajahnya karena pukulan ayahnya sekarang nampak segar dan rileks.

Semua karena menghabiskan waktu dengan Yugyeom. Jeongguk senang—senang sekali.

“Oh, hai.” Katanya lembut, tersenyum pada Jeongguk yang terpana. “Kau sudah bangun? Kebetulan sekali, aku baru saja menyelesaikan marble brownies untukmu. Siapa tahu suasana hatimu membaik setelah makan cokelat.”

Jeongguk duduk di sana, menatap Taehyung seperti kali pertama dia bertemu Taehyung beberapa tahun lalu saat mereka kebetulan dipertemukan di acara ICA (Indonesia Chef Association) di Bali Beach Hotel.

Dia tidak menyapa Taehyung yang berdiri di seberang ruangan, Jeongguk hanya mendengar orang memanggilnya dan lalu menyadari itulah Taehyung. Tidak memiliki keberanian untuk menyapanya karena teringat beberapa bulan lalu saat dia menemukan mobilnya kosong dan Taehyung berhenti menghubunginya. Dia tidak mau Taehyung tidak nyaman maka dia berusaha berotasi menjauhinya.

Dia ingat bagaimana dia terpesona pada pembawaan chef senior itu—rambutnya yang panjang, aura ningratnya yang menetes dari kulitnya, tulang pipinya dan keningnya yang tinggi. Dia berdiri di sana, di seberang ruangan dengan kedua lengan terlipat di hadapannya, ekspresinya keras dan serius, nyaris misterius dan berbahaya.

Dan Jeongguk menyadari bahwa dia sangat mencintai Taehyung. Bukan perasaan kagum seorang senior, bukan juga rasa sayang platonik adik kepada kakaknya namun perasaan cinta meletup-letup yang membuatnya kesulitan.

Sekarang, dia merasa kembali ke hari itu—terpesona sepenuhnya pada bagaimana Taehyung hanya bernapas dan dia membuat Jeongguk jatuh berlutut di kakinya, memohonnya tinggal.

Pemuda itu menutup pintu kamarnya, membawa aroma bronis panggang yang manis dan menggugah sementara Yugyeom menandak di sisinya dengan sepotong bronis di tangannya, setengah termakan. Taehyung meletakkan piringnya di meja dan menoleh untuk menawarkan makanan pada Jeongguk saat pemuda itu melenting dari ranjangnya lalu merengkuh Taehyung dengan kedua lengannya hingga Taehyung mengeluarkan suara tercekik kaget.

Lega.

Perasaan itu mekar di hatinya, menyebar seperti tanaman melata di otot dan tulangnya membuat Jeongguk lemah. Dia menghirup aroma Taehyung dalam-dalam, tidak lagi ingin hidup dalam kegelapan karena ditinggalkan Taehyung. Dia tidak mau kehilangan Taehyung, tidak sudi kehilangan Taehyung.

Dia mendengar tawa parau Taehyung yang memeluknya. “Tidak apa-apa. Mimpi buruk lagi, ya?” Bisiknya lembut, mengeratkan pelukannya pada Jeongguk. “Apa pun yang aku lakukan di mimpimu, tidak akan kulakukan di kenyataan.”

“Aku pikir kau pulang dan tidak menghubungiku....” Jeongguk gemetar, tidak sanggup membayangkan jika Taehyung sekali lagi memintanya pergi dan melangkah menjauhinya—memunggunginya.

Cukup sudah dua kali. Jeongguk tidak akan bisa menangguhkan yang ketiga dalam kehidupan yang sama. Dia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Taehyung, terus berada di sisinya—berbaring nyaman dan menolak melepas Taehyung sepanjang sisa hari. Yugyeom berpamitan setelah pukul sembilan malam, memberi waktu personal untuk kakaknya bersama kekasihnya. Taehyung bangkit untuk mengunci pintu sebelum kembali ke sisi Jeongguk dan memeluknya.

“Jangan pulang.” Bisik Jeongguk dengan Taehyung dalam pelukannya, merasa lebih nyaman setelah Yugyeom meninggalkan mereka berdua.

“Tentu saja tidak.” Balas Taehyung mengecup hidungnya sayang. “Aku sudah memberikan seloyang bronis untuk ibumu dan mendapatkan izin menginap semalam lagi.”

Jeongguk mendenguskan tawa kecil. “Aku mencintaimu.” Bisiknya, merasakan sengatan di hatinya karena betapa benarnya kalimat itu terasa. Dia tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya ini pada siapa pun selain Yugyeom.

Dia senang, Taehyung menerima sisinya ini, sisi lemahnya yang dibenci ayahnya karena dia lelaki dan dia harus bersikap tegar serta kuat sepanjang waktu. Jeongguk menautkan jemarinya dengan Taehyung—merasakan betapa dia membutuhkan figur Taehyung dalam hidupnya tidak hanya sebagai kekasih namun juga sebagai seorang kakak. Taehyung mengisi ruang-ruang kosong di dalam hidupnya yang membutuhkan figur seorang lelaki—figur yang gagal diberikan ayahnya untuk Jeongguk. Taehyung memenuhinya, seperti segelas air yang membuatnya lega dan ketagihan.

“Aku juga mencintaimu.” Bisik Taehyung lalu mendesah kecil saat Jeongguk mengecup bibirnya sayang.

Jeongguk mengerutkan wajahnya saat Taehyung menumpukan kepalanya di kepala Jeongguk, mereka berbaring di atas bantal Jeongguk dengan kaki saling membelit di bawah selimut. Hangat dan nyaman sekali, namun hati dan otak Jeongguk tidak juga berhenti berlarian.

Jika Jeongguk memang tidak ingin Taehyung meninggalkannya... Lalu mengapa perasaan ingin meninggalkan ini masih terus bercokol di hatinya? Terus mengganggunya? Dia menatap Taehyung yang berbaring di sisinya, menonton televisi yang sayup-sayup; menatap garis hidungnya yang bangir, bulu matanya yang panjang dan lentik, mengagumi wajahnya yang indah. Membenci dirinya sendiri karena ingin melepaskan Taehyung, ingin melangkah pergi darinya karena dia tidak yakin dia bisa membahagiakan Taehyung seperti apa yang dilakukan Taehyung untuknya.

Jeongguk menggertakkan rahangnya sebelum menghela napas, dia butuh mengalihkan pikirannya. “Hei,” bisiknya parau dengan jantung berdebar, dia takut.

Takut tidak bisa membahagiakan Taehyung. Takut bahwa harga yang dibayarkan Taehyung untuk bersamanya begitu mahal. Takut jika suatu hari nanti Taehyung berubah pikiran tentangnya. Takut....

Takut.

Takut.

“Hm?” Tanya Taehyung, melilitkan jemarinya ke rambut Jeongguk.

Jeongguk menatapnya, mendekatkan wajahnya ke Taehyung yang seketika bereaksi dengan mengalungkan kedua lengannya di leher Jeongguk, membalik tubuhnya menghadap kekasihnya—mudah sekali mengalihkan perhatian Taehyung yang bergantung pada hormonnya saat berada di sekitar Jeongguk. Dan entah sejak kapan, Jeongguk memanfaatkan itu. Untuk mengalihkan pikirannya dan menyadari betapa nyenyak tidurnya setelah orgasme.

Maka dia berguling, mengurung Taehyung di antara kedua lengannya lalu menciumnya. Menggeram kecil saat mendengar desahan Taehyung di telinganya. Tangannya bergerak turun ke selangkangan Taehyung, meremasnya lembut—merasakan tubuh Taehyung yang perlahan menebal dan berdenyut. Kaki Taehyung menutup, memenjarakan tangannya di sana dan dia mendesah tercekat saat Jeongguk menggigit lembut lehernya—menjilatnya malas.

“Ayo bercinta.” Bisiknya di bibir Taehyung yang terkuak, disela deru napas Taehyung yang liar sebelum dia kembali mencium bibirnya dan menyelipkan tangannya ke balik karet celana Taehyung.

Dia takut sekali...

*