eclairedelange

i write.

tw // excess thought , self-esteem issue , insecurity , doubt , passive behavior , implied homophobia .

cw // bottom on top .

ps. this is not the sex scene you want <3 pss. please excuse the typo im tired huhu x


“Wigung.”

Nada memperingatkan lembut, itu baru.

Taehyung menoleh, menggenggam ponsel Jeongguk di tangannya sementara kekasihnya terjepit di bawah tubuhnya lalu mengulaskan senyuman lebar. Taehyung berbaring di atas tubuh Jeongguk dengan punggungnya, menikmati pelukan Jeongguk dan kecupan lembut di bahunya yang telanjang—menikmati hidup saat ponsel Jeongguk yang berada di dalam kantung celana jinsnya yang ada di lantai berbunyi. Mereka kemudian menghabiskan beberapa menit saling berebut ponsel untuk bergantian membalas pesan Mirah dan Taehyung nyatanya menikmati waktunya membuat Jeongguk jengkel karena pemuda itu nyaris mustahil dibuat jengkel.

Sekarang dia duduk di atas perut Jeongguk yang mendesah, setengah jengkel dan selebihnya geli sementara Taehyung mengetik balasan untuk Mirah. Dia berdecak, mencibir ke layar ponsel Jeongguk.

“Dia selalu mengucapkan 'I love you' seagresif ini padamu, ya?” Katanya mengerutkan alis dan Jeongguk mengusap tubuhnya lembut, mengecupi telapak tangannya dengan bibirnya yang empuk dan lembab.

Mereka berhasil bicara, membuat kesepakatan bahwa jika mereka memutuskan sesuatu yang akan menyakiti satu sama lain, mereka harus menjelaskan. Tidak boleh didahului dengan maaf atau ngambek, seperti yang digunakan Taehyung tadi. Harus mengirimkan penjelasan selengkap-lengkapnya sebagai dasar kompromi. Setelah setuju, Taehyung langsung berguling menindih Jeongguk dan mengajaknya bercinta.

“Aku sudah jadi anak baik dengan menurut, mendengarkanmu. Maka aku layak dapat hadiah.” Gerutunya pada Jeongguk yang terkekeh di bawahnya lalu meraih tengkuknya—memaksanya merunduk dan menciumnya.

“Baiklah,” katanya dalam dan parau hingga seluruh tubuh Taehyung meremang oleh suaranya yang merayap di atas kulitnya seperti seekor laba-laba. “Aku akan memberimu hadiah.” Dan sungguh memberikan seks luar biasa pada Taehyung hingga dia sungguh mendengkur keras saat orgasme.

Tadi sembari menunggunya pulang, Taehyung menghabiskan waktu bersama ayah Jeongguk dan Jeongguk menemukannya sedang mendengarkan ayahnya menceritakan sejarah dua burung kakak tua yang mereka pelihara lalu menyelamatkan Taehyung dari kebosanan. Setelah mengalahkan Yugyeom dalam tiga permainan di Playstation, mereka akhirnya mendapatkan waktu pribadi berdua dengan pintu terkunci.

“Begitulah.” Sahut Jeongguk, melipat satu lengannya di bawah kepalanya dan mengamati Taehyung yang memicingkan mata membaca riwayat obrolannya dengan Mirah. “Aku biasanya mengabaikannya saja atau membalasnya dengan emoji.”

Taehyung mengangguk, matanya terpancang ke layar. “Ya, aku bisa lihat itu.” Gumamnya lalu kemudian mengedikkan bahu dan melempar ponselnya ke ranjang sebelum merunduk—menumpukan kedua lengannya di sisi kepala Jeongguk yang tersenyum, setengah mengantuk.

“Tapi aku tidak peduli,” Taehyung mengecup ujung hidung Jeongguk. “Dia bisa melemparkan semua kata cinta padamu, tapi tidak bisa menikmati seks luar biasa ini.”

Jeongguk terkekeh parau, membelai rambut Taehyung sayang. “Kau tahu tidak,” gumamnya lalu mendesah panjang saat Taehyung mengecup titik di balik cuping telingannya. “Perubahan suasana hatimu membuatku ngeri.”

“Sungguh?” Tanya Taehyung di atas kulitnya dan tersenyum puas saat Jeongguk mendesah. “Kupikir mudah sekali kok, menebaknya. Beri saja aku seks, maka aku akan jadi semanis anak anjing. Aku ini 90% hormon untukmu.”

Jeongguk menatap Taehyung setengah geli dan menghela napas—di saat seperti ini, ketika dia bersikap sangat manis mudah sekali bagi Jeongguk untuk mencintainya. Merasa seperti ada beban berat yang terangkat dari bahunya, membuat sakit yang mencengkeram kepala belakangnya melonggar dan lenyap. Namun berharap Taehyung bisa menjadi manis setiap hari mungkin mustahil. Dia mengulurkan tangan, menyisir rambut Taehyung dengan jemarinya.

Dia begitu mencintai Taehyung hingga dia sendiri takut pada kekuatan perasaan itu. Namun dia juga begitu lelah—terhimpit oleh begitu banyak ekspektasi yang diberikan orang padanya. Semua tanggung jawab yang dibebankan keluarganya untuknya; nama, Puri, martabat keluarga. Penikahan dengan Mirah. Pekerjaannya yang semakin memusingkan. Lalu sekarang Taehyung.

Jeongguk yang memilih Taehyung, dia sangat menyadari ini. Dialah yang mencintai Taehyung dan memperjuangkan kepercayaan Taehyung untuknya—menjadikan Taehyung miliknya. Mungkin terdengar sangat kurang ajar jika kemudian dia yang lelah dan ingin menyerah. Namun semakin dia berusaha memikirkan hubungan mereka, semakin buntu semuanya terasa.

Hal-hal yang membuat Jeongguk berpikir—apakah ini memang layak diperjuangkan?

Dia memejamkan mata, mendesah kecil saat Taehyung menggigit lehernya lembut dengan kepala berputar dengan begitu banyak pikiran lain. Termasuk kedua desakan pernikahan yang mereka terima; dengan desakan itu, lingkungan mereka sedang menekankan betapa tidak ada ruang untuk orientasi seksual baru mereka. Jeongguk mendesis lembut saat Taehyung menjilat turun.

Tidak dapat dipungkiri bahwa bom pertamanya adalah desakan kedua orang tua Devy atas pernikahan mereka. Keraguan merangkak masuk ke dalam tubuh Jeongguk dengan perlahan, menjerat semua organnya lalu menguasai otaknya. Dia sangat ketakutan. Layakkah dia mendapatkan pengorbanan Taehyung? Lelaki itu siap melepaskan kastanya, melepaskan Puri-nya, melepaskan segalanya demi Jeongguk dan apakah dia layak mendapatkan ini?

Bisakah Jeongguk membahagiakan Taehyung nantinya? Membuat segala pengorbanannya layak dengan bahagia yang berkelimpahan? Jeongguk mendadak tidak percaya diri sama sekali; besarnya harga yang dibayar Taehyung demi mereka membuatnya gelisah dan takut. Bisakah dia sungguh membahagiakan Taehyung? Membeli rumah tepi pantai dan mengadopsi lima ekor anjing ras mungkin bukan masalah sama sekali—Jeongguk yakin secara materi, mereka lebih dari mampu.

Emosilah yang dikhawatirkan Jeongguk. Selama ini dia selalu membuat Taehyung jengkel, membuatnya lelah, membuatnya marah; apakah dia bisa berhenti membuat Taehyung jengkel, lelah, dan marah jika akhirnya mereka bersama? Bagaimana jika nantinya, setelah mereka menjalani waktu bersama Taehyung tiba di titik di mana dia mengatakan:

“Aku menyesal membuang semuanya demi kau, demi hubungan sampah ini.”

Jeongguk bergidik dan sama sekali bukan karena kepala Taehyung yang berada di antara kedua kakinya. Dia ketakutan, sungguh ketakutan. Dia mendesah tertahan, tubuhnya yang malang kebingungan merespons begitu banyak rangsangan dengan kepala yang penuh. Lelaki yang memiliki grafik libido yang melonjak tinggi dengan cepat tidak akan mudah dialihkan isi kepalanya jika sudah menyangkut seks; Taehyung contohnya. Dia mudah sekali dialihkan dengan seks atau hormon.

Namun belakangan ini isi kepala Jeongguk mulai melahapnya hingga dia tidak lagi menikmati kesehariannya, seks dengan Taehyung terasa membingungkan sekarang—bahkan tidak waktunya di dapur.

Dia sering menderita pusing yang menyiksa namun saat pergi ke klinik sepulang kerja, dokter selalu meyakinkannya bahwa fisiknya sehat. Dan Jeongguk selalu pulang dalam keadaan sangat kelelahan hingga beberapa hari ini dia tidak lagi menyempatkan waktu untuk menemani Yugyeom membuat mie instan malam-malam karena dia selalu ketiduran di ranjangnya detik kepalanya menyentuh bantal.

Jeongguk menggeram saat orgasme mendadak membuncah di perutnya. Kepalanya melesak ke bantal, dia meremas rambut Taehyung dan menggeram saat tubuhnya berdenyut—sedikit lagi menuju orgasme. Setelah Taehyung melepas kondomnya yang penuh lalu mengikat dan membuangnya.

“Berhenti menyerangku,” katanya parau saat Taehyung merangkak ceria ke atasnya dan dia membelai wajah Taehyung—rambutnya kusut, menjuntai membentuk tirai di sisi wajahnya yang sewarna zaitun berkilau oleh keringat dalam keremangan lampu tidur Jeongguk.

Dia begitu mencintai Taehyung hingga hatinya nyeri. Dia menangkup wajah Taehyung lalu menciumnya—mengerutkan wajahnya dalam ciumannya saat rasa cinta dan takut kehilangan menyeruak seperti racun yang menyebar di sistem tubuhnya. Langsung melumpuhkan seluruh organ vitalnya. Jantungnya berdebar kuat dan lambat, seolah dia sedang bekerja dalam jeli yang mengurungnya.

Pekerjaannya sedikit kacau, dia berusaha keras mempertahankan ritme bekerjanya. Namun selalu gagal entah karena sengatan rasa sakit mendadak di kepalanya yang membuat dia terkesiap keras lalu membungkuk, ambruk ke lantai dapur dan tersengal atau karena kelelahan ekstrim yang membuat tubuhnya seperti jeli. Namjoon bersikap sangat membantu dengan selalu mengatur jadwal hingga mereka berdua stand by tidak lagi pagi Jeongguk, sore Namjoon karena seringnya Jeongguk harus duduk beristirahat.

Jeongguk mendesah keras, sejenak teralihkan oleh gerakan pinggul Taehyung di tubuhnya. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Taehyung, instingnya mendadak mengambil alih pemikiran kacaunya dan menggerakkan Taehyung sesuai apa yang diinginkannya. Dia sama sekali tidak menyadari saat Taehyung memakaikannya kondom dan membalurinya dengan lubrikan; dia bahkan tidak menyadari saat dia mempersiapkan Taehyung.

Sejenak dia tersentak, otaknya kosong. Atau dia melakukannya sendiri? Oh, sialan. Apa yang dilakukannya saat Taehyung mempersiapkan seks mereka? Jeongguk berharap dia tidak termangu-mangu kosong. Namun dari desahan Taehyung, sepertinya Jeongguk tidak nampak menyedihkan.

Maka dia menggerakkan pinggul Taehyung, mempercepatnya hingga Taehyung nyaris melolong karenanya. Jeongguk begitu mencintai Taehyung hingga air mata menyengat matanya.

“Oh.” Bisik Taehyung kemudian dan seketika menghentikan gerakannya. Jeongguk terlambat menyembunyikan air matanya; dia merasakan jejak hangat dan asin air mata di pipinya.

Taehyung menyentuh sudut mata Jeongguk. “Kenapa kau menangis?” Tanyanya lembut, meletakkan kepalanya di atas kepala Jeongguk yang seketika memeluknya erat—menciumi puncak kepalanya, merasakan air mata kembali memeleh dari sudut matanya.

Bodoh, rutuknya pada dirinya sendiri saat air mata meluruh semakin deras. Dia malah merusak seks mereka, merusak malam mereka yang mahal dan langka. Dia berharap Taehyung tidak marah karena dia menangis dan merusak suasana yang menyenangkan.

“Maaf,” katanya parau, berulang-ulang—merasakan sengatan lain di dadanya saat mengatakan maaf. Mulai takut orang-orang tidak lagi menganggap kata maafnya sebagai perkataan yang tulus karena betapa sering dia mengatakannya. Dia takut orang-orang tidak lagi menganggapnya serius meminta maaf padahal dia benar-benar serius.

Begitu banyak ketakutan dan keresahan yang sekarang menyengat kepala Jeongguk, membuatnya pusing. Dia ingin sekali melepas kepalanya, meletakkannya sejenak agar dia tidak berpikir sama sekali. Mematikan fungsi berpikir di otaknya agar dia bisa tidur nyenyak tanpa dibayangi mimpi buruk.

Taehyung menghela napas lembut, mengusap air matanya lalu perlahan turun dari atas tubuhnya dan duduk di sisi kepalanya. Dengan lembut, memindahkan kepala Jeongguk ke pangkuannya. Sikap lembutnya membuat Jeongguk semakin ketakutan; dihantui rasa insecure bahwa dia mungkin tidak akan pernah bisa membahagiakan Taehyung dan dia akan menyesali pengorbanannya.

“Hei, hei,” bisik Taehyung lembut saat tangisan Jeongguk semakin keras. “Apakah aku membuatmu sedih?”

Kebalikannya, Jeongguk ingin mengerang namun malah isakan kecil yang terbit dari bibirnya. Taehyung membuatnya sangat bahagia hingga titik dia ketakutan pada perasaan itu.

“Maaf,” katanya tersendat dan Taehyung terkekeh lembut, mengecup keningnya sayang dan memeluknya semakin erat di pangkuannya.

“Berhenti meminta maaf,” bisiknya di kulit Jeongguk. “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun.” Dia mengecup Jeongguk yang memejamkan mata perih—tidak setuju.

Dia punya banyak sekali kesalahan, banyak sekali kekeliruan yang dimaafkan Taehyung dengan sangat murah hati. Banyak sekali saat di mana Jeongguk membuatnya marah dan tersinggung yang dimaafkan. Jeongguk tidak layak mendapatkan Taehyung.

Taehyung benar, dia tidak seharusnya memperjuangkan mereka. Tidak. Jeongguk ketakutan sekali.

Dia kemudian terlelap, dengan jejak air mata dan mata yang panas kelelahan menangis dalam pelukan Taehyung yang mengusap tubuhnya lembut hingga tidur, membisikkan kata-kata menenangkan yang membuat Jeongguk merasa lebih baik. Dia terlelap kelelahan oleh segala emosi dan pikirannya sendiri dalam pelukan satu-satunya manusia yang dicintainya di dunia ini.


Taehyung mendesah, menatap Jeongguk yang lelap di lengannya dengan lega.

Dia tidak tahu apa yang terjadi, mereka sedang melakukan seks hingga tiba-tiba kekasihnya menangis begitu saja. Taehyung nyaris terkena serangan jantung karena kaget—Jeongguk memang sering emosional, namun menangis tersedu-sedu adalah hal baru. Saat wajahnya merah padam dan dia nampak serapuh kelopak lily, barulah Taehyung menyadari betapa kisutnya Jeongguk.

Dia nampak seperti bunga yang melayu dimakan sinar matahari. Kantung matanya begitu gelap, kontras dengan kulit pucatnya. Dia nampak kelelahan, sering kali mendadak termangu-mangu dan kehilangan fokus. Taehyung cemas ada yang salah dengan kekasihnya. Dia kehilangan sinarnya yang biasa selalu membuat Taehyung merasa aman dan nyaman. Jeongguk kehilangan ketenangannya, dia sekarang hanya nampak seperti pekerja kelelahan yang hanya butuh tidur.

Taehyung melirik meja di sisi ranjang yang terisi piring setengah kosong. Jeongguk menolak makan, menurut Yugyeom sudah seminggu sekarang dan tadi Taehyung mencekokinya dengan makanan—memaksanya makan hingga Jeongguk berhasil memasukkan setidaknya setengah isi piring ke perutnya. Dia berpikir jika dia memberikan Jeongguk seks, dia akan merasa lebih baik—karena cara itu selalu berhasil untuk Taehyung. Kekuatan endorfim.

Dia berusaha mengajak Jeongguk bercanda, membuatnya jengkel main-main dengan menggod Mirah namun dia tetap nampak kelelahan. Taehyung mengikat rambutnya, menatap kekasihnya yang lelap di ranjang dengan resah. Apa yang harus dilakukannya? Ini pertama kalinya Jeongguk melonggarkan pertahanan dirinya di depan Taehyung; berhenti bersikap hebat dan superior melindunginya dan sungguh menunjukkan betapa dia hanyalah manusia biasa dengan segala emosinya dan kelemahannya.

“Dia tidur,” kata Yugyeom setelah mereka menyelesaikan permainan Playstation pertama mereka. “Wiktu tidur sepanjang waktu jika tidak bekerja. Mengurung dirinya di kamar dalam keadaan gelap dan kelelahan—selalu kelelahan tidak peduli seberapa lama tidur yang didapatkannya.”

Taehyung membungkuk ke wajah Jeongguk yang damai dan mengusap kulitnya yang lembab dan kenyal setelah menangis dengan jemarinya. Dia mencintai Jeongguk—sangat mencintainya hingga dia siap membuang segalanya detik mereka menemukan celah untuk kabur. Membayangkan bangun dan lelap di sisi Jeongguk selamanya membuatnya mendesah penuh damba—dia menginginkan Jeongguk.

“Wigung,” kata Yugyeom sebelum dia meninggalkan kamar saat Jeongguk mandi. Dia menatap Taehyung cemas, melirik pintu kamar mandi lalu kembali menatap Taehyung. “Tolong Wiktu.” Bisiknya, gemetar. “Selamatkan Wiktu. Buat dia bicara, buat dia... Mengatakan apa pun itu yang ada di kepalanya. Menyiksa sekali melihatnya begini.”

Taehyung menatap Yugyeom, skeptis. Namun menghela napas dan mengangguk. “Akan kucoba.” Katanya, tidak berani menjanjikan apa pun.

Taehyung menyentuh kening Jeongguk—hangat, namun dalam batas normal. Dia kemudian mendesah. Apa yang salah dengan Jeongguk? Dia mengusap rambutnya sayang, menyentuh keningnya dan menempelkan kening mereka—memejamkan mata. Dia kemudian beranjak ke sisinya, memeluk Jeongguk—tidak repot mengenakan pakaiannya karena mereka selalu mengunci pintu dan memeluk Jeongguk di bawah selimut.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya lembut, mengecup leher Jeongguk sebelum lelap dalam kungkungan aroma tubuh Jeongguk yang luar biasa.

Dia baru saja terlelap, atau mungkin begitulah otaknya yang linglung memberi tahunya saat suara terkesiap keras disertai seruan namanya dengan lantang membuatnya mendadak terbangun. Dia langsung bertemu mata dengan Jeongguk. Air mata berderai di wajahnya dan dia terguncang—wajahnya sepucat seprai dan matanya bergerak liar saat dia tersedu-sedu. Jantung Taehyung mencelos dan napas seolah disedot habis dari paru-parunya saat melihat ekspresi Jeongguk yang seolah baru saja melihat setan.

“Wigung, Wigung?” Gumamnya berulang-ulang, gemetar dan panik—tubuhnya gemetar hebat, menggigil oleh ketakutan.

“Hei,” Taehyung seketika terjaga, cemas dan panik saat dia meraih Jeongguk ke dalam pelukannya. Merasakan gemetarnya yang hebat dalam kedua lengannya hingga hatinya perih. “Kau mimpi buruk?” Tanyanya lembut.

Napas Jeongguk terdengar memburu. Dia memeluk Taehyung erat hingga sejenak Taehyung tercekik sebelum menciumi wajahnya dengan rakus. Bibirnya kering dan dingin, tubuh Jeongguk dingin. Tangannya menyentuh tubuh Taehyung, membelainya di semua tempat dengan telapak tangannya yang kasar dan dingin—menyengat Taehyung yang kebingungan.

“Ini nyata?” Tanya Jeongguk panik, nyaris seperti baru saja kehilangan kewarasannya hingga Taehyung menahan napas. “Kau nyata? Kita tidak putus, 'kan??”

Hati Taehyung tersengat rasa sakit mendengar kata itu, merasa bersalah karena sempat melemparkan kata itu pada Jeongguk dan dia memeluk Jeongguk yang panik dengan erat di atas kasurnya yang hangat. “Tidak, tidak. Kita baik-baik saja. Sangat baik-baik saja.” Bisiknya lembut, menenangkan Jeongguk yang gemetaran dalam pelukannya. “Selalu baik.”

Inikah yang dirasakan Jeongguk tiap kali menenangkan Taehyung? Perasaan hati yang tercabik luar biasa kuatnya, seperti ada belati panas yang dihujamkan langsung ke jantungnya—perih yang sulit sekali diabaikan. Taehyung mengatur napasnya, jika dia tetap membiarkan sakit itu merebak asmanya bisa kumat. Dia memeluk Jeongguk seperti memeluk kewarasannya sendiri—bernapas di rambut Jeongguk yang kusut dan basah oleh keringat.

“Kau hanya bermimpi. Tenanglah.” Bisik Taehyung lembut, sejenak bayangan kehilangan Jeongguk karena dia mati membuatnya ketakutan. Bagaimana jika dia terbangun suatu hari nanti dan menyadari bahwa Jeongguk tidak lagi bernapas di bumi yang sama dengannya?

“Aku bermimpi,” bisik Jeongguk gemetar—nyaris seperti pertanyaan. “Aku bermimpi aku terbangun dan kau...” Dia bergidik, memeluk Taehyung semakin erat. Napasnya memburu dan dia terengah-engah hingga Taehyung mengernyit karena ketakutan kental yang menetes dari kulit Jeongguk. “Aku menghubungimu. Seperti biasa pagi hari dan kau membalasnya dengan...,” dia tercekat dan gemetar.

“Jangan diingat, jangan.” Gumam Taehyung lembut di rambutnya. “Jangan menyakiti dirimu sendiri.”

“Katamu, 'kau homoseksual? Menjijikkan!'” Jeongguk gemetar hebat, seperti sepotong mesin rusak yang akan meledak dan Taehyung semakin dicengkeram rasa takut. “Lalu aku melihatmu memberikan tatapan... Tatapan itu.”

Taehyung memejamkan mata dan menggertakkan rahangnya. Tahu tatapan apa yang dimaksud Jeongguk dan tidak menyukainya sama sekali. Dia mengusap punggungnya sayang. “Tidak apa-apa, itu hanya mimpi.” Bisiknya lembut. “Aku di dunia nyata sama gay-nya denganmu.” Dia melemparkan guyonan lemah yang payah, tersenyum lemah menghibur Jeongguk.

Setelah guncangan di punggung Jeongguk mereda, Taehyung membaringkannya dengan lembut lalu memeluknya. Menyusupkan kepala Jeongguk ke ceruk lehernya dan mengusap lengan atasnya sayang—membentuk pola-pola yang selalu dilakukan Jeongguk saat menenangkannya. Merasakan betapa menenangkan seseorang merupakan pekerjaan berat yang melelahkan. Dia kagum bagaimana Jeongguk bertahan dengannya, menemaninya dalam setiap tantrum yang dilemparkannya ke Jeongguk—dalam setiap kegilaan suasana hatinya, dalam setiap kebingungan dan tangisnya.

Taehyung memeluknya, menenangkannya dengan lembut mendendangkan nada random yang digunakan Lakshmi saat menenangkannya ketika kecil. Dia memeluk Jeongguk dekat ke tubuhnya, meletakkan tangannya di atas dada Jeongguk—merasakan debar jantungnya dan merasa tenang. Karena selama jantung itu berdebar, Taehyung akan tetap hidup.

Dia memejamkan mata di rambut Jeongguk, menghirup aromanya dalam-dalam dengan hati pedih. Jeongguk lelaki luar biasa, kemampuannya untuk selalu bersikap tenang dan ramah selalu membuat Taehyung kagum. Hingga dia lupa bahwa Jeongguk tetaplah manusia. Dia memiliki ketakutannya sendiri, memiliki kekurangan-kekurangan yang membuatnya manusia—membuatnya hidup.

Jeongguk pemuda berhati besar yang kelelahan karena ukuran hatinya sendiri. Terlalu lapang, terlalu besar hingga semua orang merasa berhak memasuki hatinya dan menggunakannya sebagai keset atau tempat sampah, menginjak-injak emosinya hanya karena dia selalu menunduk dan mengalah lalu pergi seolah Jeongguk layak mendapatkan itu semua.

Jeongguk pemuda berhati besar yang sekarang sedang meruntuh dan butuh diselamatkan.

*


Dia sudah merindukan Taehyung.

Jeongguk mendesah, menarik rem tangan di halaman rumah Mirah yang sudah semarak oleh hiasan dari janur untuk persiapan hari raya besok. Panji-panji dan payung pelinggih sudah dipasang, lengkap dengan aroma dupa pekat yang sudah menggantung rendah di udara—aroma kenanga, melati, dan cempaka. Cendana yang dibakar, bebungaan segar. Jeongguk selalu menyukai aroma itu; dia suka ketika pulang berdoa dari pura yang ramai dengan aroma dupa menempel di helaian pakaiannya. Membuat tidurnya nyenyak dan perasaannya tenang.

Malam ini akan jadi malam yang panjang; Jeongguk pasti harus menemani ayah Mirah mengobrol malam sebelum bisa beranjak tidur karena tidak pantas tamu tidur mendahului tuan rumah. Belum lagi kesibukan para perempuan mempersiapkan sesaji untuk besok yang biasanya sangat memakan waktu. Jeongguk berharap mereka sudah selesai sekarang sehingga waktu istirahat Jeongguk tidak terpotong banyak.

“Ayo, Bli Gung. Makan lalu istirahat.” Mirah di sisinya bergegas bangkit dan membuka pintu mobil, aroma dupa semakin kuat tercium dan dia menghela napas dalam-dalam.

Jeongguk bergegas menyusulnya, membantu gadis itu mengeluarkan kantung belanja mereka yang besar dan penuh dari bagasi mobilnya. Jeongguk lelah sekali, seharian dia tidak sempat beristirahat karena bekerja dan besok pagi dia harus langsung membantu orang tua Mirah pagi-pagi sekali. Tidak yakin apakah dia menyukai keputusannya untuk membantu Mirah atau tidak.

Jeongguk membawa belanjaan mereka, menyeret kakinya ke arah rumah utama yang terbuka dengan suara obrolan dari dalam. Dia menghela napas, mendorong semua kelelahannya menjauh sebelum memasang senyuman di wajahnya. Di dalam rumah, orang tua Mirah sedang menerima tamu dan Jeongguk langsung tersenyum ramah dengan dua tas belanja besar di tangannya.

Swastyastu, Ajik, Biang.” Sapanya ramah, membungkuk sopan kepada orang-orang di dalam ruang tamu.

“Oh, ini dia ini.” Kata ayah Mirah dalam bahasa Bali halus lalu berdiri dan membantu Jeongguk sebelum menepuk bahunya sayang serta bangga—dia tidak punya anak lelaki dan selama ini selalu memperlakukan Jeongguk jauh lebih hangat dari yang ayah kandungnya bisa berikan.

Jeongguk nyaris merasa bersalah karena dia tidak seperti apa yang diharapkan ayah Mirah untuk anaknya sama sekali. Dia diperkenalkan kepada semua orang yang membantu persiapan hari esok sebagai 'calon suami Mirah' dan disombongkan dengan cara yang membuat Jeongguk terenyuh.

Beginikah perasaan Taehyung tiap kali dia menerima pujian dari ayah Jeongguk? Perasaan senang, puas namun juga ketakutan dan gelisah. Bahagia, penuh dan utuh namun juga bersalah karena merasa tidak layak menerimanya. Kompleks sekali hingga Jeongguk kebingungan.

“Oh, puri Karangasem.” Kata seseorang, tersenyum lebar dan ramah. Jeongguk berusaha keras membalas senyumannya dengan sama bersemangatnya. “Cocok dengan Mirah, ya? Anaknya tampan, sopan dan baik. Memang jodoh itu adalah cerminan diri, ya?”

Jeongguk membalas jabatan tangan hangat teman-teman ayah Mirah, tersenyum palsu hingga hatinya lelah sebelum kemudian diajak makan malam sebelum mempersiapkan bahan-bahan untuk mereka membuat lawar besok. Jeongguk diberi ruang di kamar tamu, dia meletakkan tasnya di lantai dan mendesah—aroma parfum binatu tercium lembut dan nyaman hingga dia mengantuk. Sejenak dia merasa ingin pulang dan tidur di kamarnya sendiri karena kelelahan.

Dia meraih ponselnya, mengetik pesan untuk Taehyung: Wigung, Wiktu sudah di rumah Mirah, ya lalu menekan kirim.

Jeongguk kemudian mendudukkan diri di kasurnya, menghela napas berat dan berbaring sejenak. Dia sudah mandi tadi di loker karyawan, sudah mengganti bajunya sebelum berkendara ke Denpasar menjemput Mirah yang ternyata sudah menunggunya dengan banyak belanjaan. Jeongguk mengantuk sekali namun berusaha keras mempertahankan kesadarannya saat berkendara ke Gianyar. Sekarang, kelelahan meleleh di belulangnya membuat sendi-sendinya ngilu dan dia ingin sekali tidur.

Dalam keadaan setengah sadar dan tidak, dia mendengar pintu kamar terbuka dan Jeongguk merasa dirinya membuka mata—melihat Mirah di depan pintu dengan piyama dan rambut diikat naik. Gadis itu tersenyum dan Jeongguk bergegas mendorong rasa kantuknya menjauh lalu duduk di kasur yang berderit—sejenak limbung oleh serangan pusing.

“Maaf, aku ketiduran.” Gumamnya, mengerjapkan matanya kuat-kuat beberapa kali agar kantuknya lenyap.

“Mandi dulu, Bli Gung. Setelahnya tidur saja tidak apa-apa kok. Besok saja membantunya.” Mirah berdiri di ambang pintu nampak sangat lembut dan pengertian hingga hati Jeongguk nyeri mengingatnya. “Ajik sibuk sendiri, biarkan saja. Bli Gung lelah seharian bekerja.”

“Tidak, tidak.” Jeongguk secara refleks meraih ponselnya, mengecek balasan dari Taehyung dan tersenyum kecil membacanya: Selamat menjalankan tugas negara. Aku merindukanmu.

Dia merasakan semangat baru disuntikkan ke pembuluh darahnya saat dia bangkit dan mendongak menatap Mirah yang tersenyum. “Aku belum mengantuk,” katanya tegas lalu bergegas mengetikan jawaban untuk Taehyung dan melempar ponselnya ke ranjang lalu berdiri, siap membantu keluarga Mirah—melaksanakan tugas negaranya.

Aku jauh lebih merindukanmu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Selamat istirahat, aku mencintaimu.

“Aku akan membantu Ajik sekarang.” Dia tersenyum pada Mirah sebelum beranjak keluar dari kamar, melewati Mirah menuju teras belakang di mana ayah Mirah sedang memilah rempah-rempah untuk pekerjaan mereka besok.

Mirah berdiri di sana, di depan pintu kamar menatap ponsel Jeongguk yang masih menyala sebelum layarnya mati dan menghela napas. Dia beranjak dari sana, menutup pintunya dan menyusul Jeongguk yang sudah berjongkok di hadapan ayahnya—siap memilah rempah untuk dikerjakan keesokan harinya.


Jeongguk sudah membungkuk ke atas potongan bulat kayu besar tebal yang digunakan sebagai talenan setidaknya seharian dengan blakas mencincang dan merajang bumbu yang tidak habis-habis.

Halaman belakang rumah Mirah sekarang penuh dengan wadah-wadah terisi bahan-bahan membuat lawar dan pelengkapnya, ayah Mirah ingin membuat lawar putih, lawar nangka dan lawar merah. Jeongguk sudah mengaduk daging ayam dan babi untuk tum sejak pagi bersama ibu Mirah. Mencincang bumbu Bali dan daging tanpa henti di atas balai tempat mereka bekerja dalam balutan kain longgar serta kaus; aroma tubuhnya sekarang campuran antara serai, bawang putih, bawang merah, jahe, dan lengkuas. Dia beraroma tajam rempah dan keringat, seluruh tubuhnya lengket dan tulang punggungnya lelah.

Namun dia menyukai kegiatan itu. Dia selalu bersemangat datang ke banjar untuk ngebat karena dia suka memasak. Jeongguk menikmati waktunya bersila di depan talenan dan merajang bumbu seharian—mendengarkan suara stabil dan cepat tak-tak-tak! pisau daging yang digunakannya bersama ayah Mirah. Sesekali mengobrol tentang politik dan ekonomi, Jeongguk yang sama sekali tidak pernah punya waktu untuk menonton televisi hanya menanggapi dengan sopan—berharap tidak menyinggung perasaan ayah Mirah karena minimnya pengetahuan Jeongguk di bidang itu.

Para perempuan bergerak di sekitar mereka, mempersiapkan sesaji untuk sore nanti karena pedanda yang mereka undang baru bisa datang pukul tiga sore. Banten-banten diangkut dari kamar suci ke Merajan mereka—aroma bunga-bunga segar, janur yang mulai mengering serta dupa mulai perlahan menguar sementara Jeongguk membantu ayah Mirah mengaduk lawar mereka.

Jeongguk baru saja selesai mandi, membilas semua aroma rempah dari tubuhnya saat keluarga Mirah mengajaknya makan siang. Dengan rambut basah, Jeongguk bergabung ke meja makan dengan dua orang perempuan yang membantu mempersiapkan banten. Mirah duduk di sisinya, beraroma pekat bunga dan dupa, membantunya untuk makan dengan lembut serta telaten.

Dia belum sempat mengecek ponselnya sama sekali sejak bangun subuh tadi dan mulai memikirkan Taehyung—apakah semalam dia baik-baik saja? Jeongguk langsung tertidur lelap karena kelelahan detik kepalanya menyentuh bantal semalam. Dia akan melakukannya setelah makan ini, Jeongguk mencuci tangannya lalu duduk di belakang piringnya—mulai menyuap makanan dengan tangannya. Mendesah saat merasakan makanannya sendiri, melirik semua orang untuk memastikan reaksi mereka terhadap makanan buatan Jeongguk.

Dia senang melihat semuanya nampak senang. Maka dia kembali fokus ke piringnya sendiri di sisi Mirah.

“Kamis lalu Bli Gung ke restoran bersama Bli Tjok, 'kan, ya?”

Jeongguk nyaris menyemburkan lawar nangka yang sedang dikunyahnya dengan potongan ayam sambal matah—dia menambahkan seruas jahe di sambal matah-nya untuk menambah aromanya dan mendapat apresiasi positif dari orang tua Mirah yang mencicipinya. Dia bergegas mengendalikan dirinya sebelum menjawab.

“Ya,” katanya perlahan; menata kalimat dan ekspresinya dengan baik. “Kemarin Bli Gung sudah cerita, 'kan? Kami membicarakan pekerjaan dengan Chef Arsa, pemilik Le Gourmet. Semacam kegiatan tahunan, kami biasa melakukannya. Tahun ini Ubud Food Festival.”

Dia melirik Mirah yang makan dengan khidmat, ekspresinya steril dan tidak terbaca selain nampak cantik serta tenang. Tubuhnya yang mungil secara mengejutkan sangat gesit bergerak saat membantu ibunya mempersiapkan sesaji di Merajan. Dia mengenakan kaus dan kain yang membalut kakinya dengan rapi, ibu Jeongguk akan menyukai gadis seperti Mirah. Dia bisa bekerja dengan sigap dan cepat, perempuan yang handal—seperti Lakshmi.

Perempuan yang dibesarkan dalam keluarga patriarki, diharapkan bisa menjadi perempuan Bali yang sempurna—bisa mejejaitan, halus, penurut, dan lembut. Jeongguk tidak akan kaget lagi jika Mirah ternyata pintar menari, maka dia akan menyempurnakan standar perempuan Bali-nya. Dia juga selalu sopan, hormat pada Jeongguk dan tidak pernah membantah dengan cara yang menyebalkan. Dia logis, tenang dan teratur.

Mirah menatapnya—menyapukan tatapan ke wajah Jeongguk lalu menatap lurus ke matanya. Jeongguk sejenak panik, menahan napasnya agar tidak ada binar apa pun di matanya yang mungkin membocorkan rahasianya dan Taehyung. Merasa kecil dan tegang di bawah tatapan Mirah yang sama sekali tidak mengintimidasi—lebih ke tatapan teduh penuh kasih yang meremas-remas hati Jeongguk karena dia tahu dia tidak layak mendapatkan perhatian ini.

“Devy kemarin memberi tahuku bahwa dia akan mengecek kain kebaya untuk pernikahannya.” Kata Mirah kemudian dan Jeongguk sejenak kebingungan dengan perubahan topik pembicaraan mereka yang tiba-tiba.

“Dia ditemani Bli Tjok dan mengajak kita sekalian—siapa tahu butuh refrensi untuk kebaya pernikahan kita nanti juga. Kataku, aku akan bertanya pada Bli Gung dulu.”

Jeongguk mengerjap, jantungnya mencelos dan mendadak mual—dia belum mengecek ponselnya sama sekali dan benda sialan itu di kamarnya karena celana dalamannya tidak memiliki kantung. Apakah Taehyung sudah mengiriminya pesan tentang ini? Apa yang harus dijawabnya ke Mirah sekarang?

“Oh, kebetulan, dong?”

Keduanya mendongak, kaget dan menemukan ibu Mirah yang membuka tum untuk makanannya tersenyum lebar serta ramah. Detik itulah Jeongguk tahu dia akan benar-benar terjebak—dia tidak tahu bagaimana sikap Taehyung mengenai hal ini dan kali terakhir mereka melakukan kencan ganda, mereka berakhir dengan keributan.

Jeongguk yakin jawaban Taehyung adalah tidak, final. Namun jika ibu Mirah memintanya untuk ikut maka Jeongguk sungguh tidak memiliki pilihan lain sama sekali—hatinya mendadak membengkak, terluka oleh rasa tidak enak yang merasuk ke dalam hatinya, membuatnya tidak nyaman. Dia harus menjaga perasaan Taehyung dan keluarga Mirah.

“Sekalian saja kalian pergi bersama mereka, siapa tahu tertular cepat menikah.” Ibu Mirah berdiri di sana, tersenyum lebar dengan piring di tangannya yang isinya baru separuh termakan. “Lihat-lihat kain kebaya, setelan yang bagus—siapa tahu dapat inspirasi, 'kan?”

Jeongguk membuka mulut dan dari sudut matanya, dia juga melihat Mirah membuka mulut namun sebelum keduanya sempat bicara, ayah Mirah memutuskan untuk bergabung sambil menambah lauk ke piringnya.

“Betul itu.” Katanya, menyendok lawar di dekat Jeongguk ke piringnya. “Lagi pula untuk apa menunda-nunda pernikahan? Kalian berdua sudah cukup umur, sudah sama-sama bekerja. Menurut Ajik malah secepatnya saja. Tunggu apa lagi?”

Jeongguk kehilangan nafsu makannya, dia memaksakan tawa kering yang sama sekali tidak natural saat mendorong piring makannya menjauh. Ada gumpalan pahit berduri di tenggorokannya sekarang, tersangkut dan sulit ditelan. Dia meraih gelas minumnya dan meneguk isinya—mengapa semua orang mendadak sangat terobsesi pada pernikahan? Mendesak anak-anak mereka untuk menikah seolah pernikahan sama sekali tidak perlu dilandasi rasa percaya dan cinta yang jelas tidak akan anak mereka dapatkan dari dua bulan perkenalan.

Mereka sungguh ingin anak mereka melompat ke pernikahan begitu saja dengan calon yang sama sekali tidak mereka kenal? Hidup bersamanya seumur hidup ketika mereka yang berpacaran bertahun-tahun saja masih mendapatkan kegagalan?

Ada apa antara generasi orang tua mereka dan pernikahan? Mengapa pernikahan seolah dijadikan standar penilaian betapa bahagia, sempurna, dan bahagianya kehidupan seseorang? Standar keberhasilan mereka sebagai orang tua juga nampaknya.

Maka dia sama sekali tidak menyangka saat Mirah yang menjawab.

“Kami ingin saling mengenal dulu Ajik,” katanya lembut dan menenangkan—nyaris persuasif saat meraih tangan Jeongguk lalu meremasnya. Cincin berlian pertunangan mereka menekan tangan Jeongguk, menyadarkannya atas status yang tidak dikehendakinya ini.

Jeongguk nyaris menyentakkan tangannya dari sentuhan Mirah, syukurlah dia mengendalikan dirinya tepat waktu. Dia menggertakkan rahangnya, menahan diri agar tidak menarik tangannya dari genggaman Mirah. Dia harus berakting dengan maksimal, memainkan perannya sebagai Gung Jeongguk dengan baik hingga hidup takkan pernah berani menantangnya lagi.

“Masih banyak sekali waktu ke depannya, tidak perlu terburu-buru.” Mirah kemudian menatapnya, tatapan itu lagi. Jeongguk bergidik, mendadak gelisah dan takut pada tatapan Mirah.

“Ogek ingin Bli Gung yakin pada segalanya sebelum melangkah.” Katanya dengan tatapan terkunci ke mata Jeongguk yang membalasnya dengan perasaan sedikit gelisah. Lalu dia mendadak mengerjap, seolah baru saja ditampar dan menambahkan.

“Ogek ingin kami berdua yakin sebelum melangkah bersama. Ogek baru mengenal Bli Gung beberapa bulan, tidak perlu terburu-buru.”

Orang tua Mirah berpandangan sebelum menghela napas dan ayahnya nampak sudah menduga jawaban itu dari anaknya. “Kau selalu begitu,” komentarnya tegas namun lembut. “Menunda segalanya demi apa? Ajik tidak tahu.”

“Tapi pergi ke toko kain kebaya tidak terdengar berbahaya sama sekali, 'kan.” Ibu Mirah bergegas menambahkan, mencairkan suasana yang hampir menegang. Nampak bertekad membuat anaknya pergi ke toko itu dan Jeongguk merasa terjebak—sekali lagi merasa tercekik ekspektasi orang-orang padanya.

Maka dia menghela napas, sudahlah. “Ya, Biang.” Katanya kemudian, nyaris dengan nada menyerah karena dia sudah benar-benar kelelahan sekarang—energinya habis, perasaan nyaman dan damai yang didapatkannya tadi karena bekerja sekarang sudah habis tak bersisa.

Dia tidak sanggup menghadapi kekecewaan siapa pun, namun menyadari dia tidak bisa membahagiakan kedua belah pihak sekarang kecuali dia membelah dirinya menjadi dua. Mungkin dia bisa bicara dengan Taehyung? Menjelaskan posisinya dan bagaimana orang tua Mirah tidak mungkin ditolak karena.... mereka orang tua? Jeongguk menghela napas dalam-dalam, merasa pening dan mual. Dia lelah, sungguh sangat lelah hingga dia yakin butuh tidur panjang selama satu tahun untuk membuatnya merasa lebih baik.

“Kami akan pergi ke sana,” dia menatap Mirah yang kedua alisnya terangkat, nampak kaget—tangan mereka masih bertautan di meja dan Jeongguk membenci sensasinya. “Tidak akan ada yang terluka.”

Tidak ada, memang. Setidaknya tidak secara fisik, pikir Jeongguk getir, mempersiapkan dirinya menghadapi amukan Taehyung sekali lagi karena sungguh dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

Jika dia tidak lebur akhir pekan ini, Jeongguk akan sangat bersyukur.


Glosarium

  • Pelinggih: bangunan pura

  • Lawar: you know what HEHEHE (lawar nangka, putih, merah itu jenis-jenisnya silakan di google <3)

  • Tum: campuran daging ayam atau babi cincang dengan bumbu dan parutan kelapa. Dibungkus dalam daun pisang berbentuk segitiga lalu dikukus. Mirip garang asem hanya saja tidak berkuah (silakan google <3)

  • Blakas: pisau mirip pisau daging atau golok yang biasanya dipakai lelaki kalo masak (ngebat)

  • Ngebat: meracik bumbu dan juga lawarnya, lebih didominasi lelaki. Biasanya dilakukan jika akan memberi makan banyak orang atau di hari-hari raya seperti Galungan sebagai bagian dari hari raya. Makanan yang dimasak sejenis lawar dan olahan babi lainnya.

  • Banjar: sistem RT di Bali

  • Banten: sesaji Hindu untuk hari raya

  • Pedanda: pemimpin upacara adat tertinggi, pada umumnya datang dari kasta Brahmana

  • Merajan: pura kecil di rumah

  • Mejejaitan: membuat sarana sembahyang dengan janur (keterampilan perempuan Hindu Bali)


Dia sudah merindukan Taehyung.

Jeongguk mendesah, menarik rem tangan di halaman rumah Mirah yang sudah semarak oleh hiasan dari janur untuk persiapan hari raya besok. Panji-panji dan payung pelinggih sudah dipasang, lengkap dengan aroma dupa pekat yang sudah menggantung rendah di udara—aroma kenanga, melati, dan cempaka. Cendana yang dibakar, bebungaan segar. Jeongguk selalu menyukai aroma itu; dia suka ketika pulang berdoa dari pura yang ramai dengan aroma dupa menempel di helaian pakaiannya. Membuat tidurnya nyenyak dan perasaannya tenang.

Malam ini akan jadi malam yang panjang; Jeongguk pasti harus menemani ayah Mirah mengobrol malam sebelum bisa beranjak tidur karena tidak pantas tamu tidur mendahului tuan rumah. Belum lagi kesibukan para perempuan mempersiapkan sesaji untuk besok yang biasanya sangat memakan waktu. Jeongguk berharap mereka sudah selesai sekarang sehingga waktu istirahat Jeongguk tidak terpotong banyak.

“Ayo, Bli Gung. Makan lalu istirahat.” Mirah di sisinya bergegas bangkit dan membuka pintu mobil, aroma dupa semakin kuat tercium dan dia menghela napas dalam-dalam.

Jeongguk bergegas menyusulnya, membantu gadis itu mengeluarkan kantung belanja mereka yang besar dan penuh dari bagasi mobilnya. Jeongguk lelah sekali, seharian dia tidak sempat beristirahat karena bekerja dan besok pagi dia harus langsung membantu orang tua Mirah pagi-pagi sekali. Tidak yakin apakah dia menyukai keputusannya untuk membantu Mirah atau tidak.

Jeongguk membawa belanjaan mereka, menyeret kakinya ke arah rumah utama yang terbuka dengan suara obrolan dari dalam. Dia menghela napas, mendorong semua kelelahannya menjauh sebelum memasang senyuman di wajahnya. Di dalam rumah, orang tua Mirah sedang menerima tamu dan Jeongguk langsung tersenyum ramah dengan dua tas belanja besar di tangannya.

Swastyastu, Ajik, Biang.” Sapanya ramah, membungkuk sopan kepada orang-orang di dalam ruang tamu.

“Oh, ini dia ini.” Kata ayah Mirah dalam bahasa Bali halus lalu berdiri dan membantu Jeongguk sebelum menepuk bahunya sayang serta bangga—dia tidak punya anak lelaki dan selama ini selalu memperlakukan Jeongguk jauh lebih hangat dari yang ayah kandungnya bisa berikan.

Jeongguk nyaris merasa bersalah karena dia tidak seperti apa yang diharapkan ayah Mirah untuk anaknya sama sekali. Dia diperkenalkan kepada semua orang yang membantu persiapan hari esok sebagai 'calon suami Mirah' dan disombongkan dengan cara yang membuat Jeongguk terenyuh.

Beginikah perasaan Taehyung tiap kali dia menerima pujian dari ayah Jeongguk? Perasaan senang, puas namun juga ketakutan dan gelisah. Bahagia, penuh dan utuh namun juga bersalah karena merasa tidak layak menerimanya. Kompleks sekali hingga Jeongguk kebingungan.

“Oh, puri Karangasem.” Kata seseorang, tersenyum lebar dan ramah. Jeongguk berusaha keras membalas senyumannya dengan sama bersemangatnya. “Cocok dengan Mirah, ya? Anaknya tampan, sopan dan baik. Memang jodoh itu adalah cerminan diri, ya?”

Jeongguk membalas jabatan tangan hangat teman-teman ayah Mirah, tersenyum palsu hingga hatinya lelah sebelum kemudian diajak makan malam sebelum mempersiapkan bahan-bahan untuk mereka membuat lawar besok. Jeongguk diberi ruang di kamar tamu, dia meletakkan tasnya di lantai dan mendesah—aroma parfum binatu tercium lembut dan nyaman hingga dia mengantuk. Sejenak dia merasa ingin pulang dan tidur di kamarnya sendiri karena kelelahan.

Dia meraih ponselnya, mengetik pesan untuk Taehyung: Wigung, Wiktu sudah di rumah Mirah, ya lalu menekan kirim.

Jeongguk kemudian mendudukkan diri di kasurnya, menghela napas berat dan berbaring sejenak. Dia sudah mandi tadi di loker karyawan, sudah mengganti bajunya sebelum berkendara ke Denpasar menjemput Mirah yang ternyata sudah menunggunya dengan banyak belanjaan. Jeongguk mengantuk sekali namun berusaha keras mempertahankan kesadarannya saat berkendara ke Gianyar. Sekarang, kelelahan meleleh di belulangnya membuat sendi-sendinya ngilu dan dia ingin sekali tidur.

Dalam keadaan setengah sadar dan tidak, dia mendengar pintu kamar terbuka dan Jeongguk merasa dirinya membuka mata—melihat Mirah di depan pintu dengan piyama dan rambut diikat naik. Gadis itu tersenyum dan Jeongguk bergegas mendorong rasa kantuknya menjauh lalu duduk di kasur yang berderit—sejenak limbung oleh serangan pusing.

“Maaf, aku ketiduran.” Gumamnya, mengerjapkan matanya kuat-kuat beberapa kali agar kantuknya lenyap.

“Mandi dulu, Bli Gung. Setelahnya tidur saja tidak apa-apa kok. Besok saja membantunya.” Mirah berdiri di ambang pintu nampak sangat lembut dan pengertian hingga hati Jeongguk nyeri mengingatnya. “Ajik sibuk sendiri, biarkan saja. Bli Gung lelah seharian bekerja.”

“Tidak, tidak.” Jeongguk secara refleks meraih ponselnya, mengecek balasan dari Taehyung dan tersenyum kecil membacanya: Selamat menjalankan tugas negara. Aku merindukanmu.

Dia merasakan semangat baru disuntikkan ke pembuluh darahnya saat dia bangkit dan mendongak menatap Mirah yang tersenyum. “Aku belum mengantuk,” katanya tegas lalu bergegas mengetikan jawaban untuk Taehyung dan melempar ponselnya ke ranjang lalu berdiri, siap membantu keluarga Mirah—melaksanakan tugas negaranya.

Aku jauh lebih merindukanmu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Selamat istirahat, aku mencintaimu.

“Aku akan membantu Ajik sekarang.” Dia tersenyum pada Mirah sebelum beranjak keluar dari kamar, melewati Mirah menuju teras belakang di mana ayah Mirah sedang memilah rempah-rempah untuk pekerjaan mereka besok.

Mirah berdiri di sana, di depan pintu kamar menatap ponsel Jeongguk yang masih menyala sebelum layarnya mati dan menghela napas. Dia beranjak dari sana, menutup pintunya dan menyusul Jeongguk yang sudah berjongkok di hadapan ayahnya—siap memilah rempah untuk dikerjakan keesokan harinya.


Jeongguk sudah membungkuk ke atas potongan bulat kayu besar tebal yang digunakan sebagai talenan setidaknya seharian dengan blakas mencincang dan merajang bumbu yang tidak habis-habis.

Halaman belakang rumah Mirah sekarang penuh dengan wadah-wadah terisi bahan-bahan membuat lawar dan pelengkapnya, ayah Mirah ingin membuat lawar putih, lawar nangka dan lawar merah. Jeongguk sudah mengaduk daging ayam dan babi untuk tum sejak pagi bersama ibu Mirah. Mencincang bumbu Bali dan daging tanpa henti di atas balai tempat mereka bekerja dalam balutan kain longgar serta kaus; aroma tubuhnya sekarang campuran antara serai, bawang putih, bawang merah, jahe, dan lengkuas. Dia beraroma tajam rempah dan keringat, seluruh tubuhnya lengket dan tulang punggungnya lelah.

Namun dia menyukai kegiatan itu. Dia selalu bersemangat datang ke banjar untuk ngebat karena dia suka memasak. Jeongguk menikmati waktunya bersila di depan talenan dan merajang bumbu seharian—mendengarkan suara stabil dan cepat tak-tak-tak! pisau daging yang digunakannya bersama ayah Mirah. Sesekali mengobrol tentang politik dan ekonomi, Jeongguk yang sama sekali tidak pernah punya waktu untuk menonton televisi hanya menanggapi dengan sopan—berharap tidak menyinggung perasaan ayah Mirah karena minimnya pengetahuan Jeongguk di bidang itu.

Para perempuan bergerak di sekitar mereka, mempersiapkan sesaji untuk sore nanti karena pedanda yang mereka undang baru bisa datang pukul tiga sore. Banten-banten diangkut dari kamar suci ke Merajan mereka—aroma bunga-bunga segar, janur yang mulai mengering serta dupa mulai perlahan menguar sementara Jeongguk membantu ayah Mirah mengaduk lawar mereka.

Jeongguk baru saja selesai mandi, membilas semua aroma rempah dari tubuhnya saat keluarga Mirah mengajaknya makan siang. Dengan rambut basah, Jeongguk bergabung ke meja makan dengan dua orang perempuan yang membantu mempersiapkan banten. Mirah duduk di sisinya, beraroma pekat bunga dan dupa, membantunya untuk makan dengan lembut serta telaten.

Dia belum sempat mengecek ponselnya sama sekali sejak bangun subuh tadi dan mulai memikirkan Taehyung—apakah semalam dia baik-baik saja? Jeongguk langsung tertidur lelap karena kelelahan detik kepalanya menyentuh bantal semalam. Dia akan melakukannya setelah makan ini, Jeongguk mencuci tangannya lalu duduk di belakang piringnya—mulai menyuap makanan dengan tangannya. Mendesah saat merasakan makanannya sendiri, melirik semua orang untuk memastikan reaksi mereka terhadap makanan buatan Jeongguk.

Dia senang melihat semuanya nampak senang. Maka dia kembali fokus ke piringnya sendiri di sisi Mirah.

“Kamis lalu Bli Gung ke restoran bersama Bli Tjok, 'kan, ya?”

Jeongguk nyaris menyemburkan lawar nangka yang sedang dikunyahnya dengan potongan ayam sambal matah—dia menambahkan seruas jahe di sambal matah-nya untuk menambah aromanya dan mendapat apresiasi positif dari orang tua Mirah yang mencicipinya. Dia bergegas mengendalikan dirinya sebelum menjawab.

“Ya,” katanya perlahan; menata kalimat dan ekspresinya dengan baik. “Kemarin Bli Gung sudah cerita, 'kan? Kami membicarakan pekerjaan dengan Chef Arsa, pemilik Le Gourmet. Semacam kegiatan tahunan, kami biasa melakukannya. Tahun ini Ubud Food Festival.”

Dia melirik Mirah yang makan dengan khidmat, ekspresinya steril dan tidak terbaca selain nampak cantik serta tenang. Tubuhnya yang mungil secara mengejutkan sangat gesit bergerak saat membantu ibunya mempersiapkan sesaji di Merajan. Dia mengenakan kaus dan kain yang membalut kakinya dengan rapi, ibu Jeongguk akan menyukai gadis seperti Mirah. Dia bisa bekerja dengan sigap dan cepat, perempuan yang handal—seperti Lakshmi.

Perempuan yang dibesarkan dalam keluarga patriarki, diharapkan bisa menjadi perempuan Bali yang sempurna—bisa mejejaitan, halus, penurut, dan lembut. Jeongguk tidak akan kaget lagi jika Mirah ternyata pintar menari, maka dia akan menyempurnakan standar perempuan Bali-nya. Dia juga selalu sopan, hormat pada Jeongguk dan tidak pernah membantah dengan cara yang menyebalkan. Dia logis, tenang dan teratur.

Mirah menatapnya—menyapukan tatapan ke wajah Jeongguk lalu menatap lurus ke matanya. Jeongguk sejenak panik, menahan napasnya agar tidak ada binar apa pun di matanya yang mungkin membocorkan rahasianya dan Taehyung. Merasa kecil dan tegang di bawah tatapan Mirah yang sama sekali tidak mengintimidasi—lebih ke tatapan teduh penuh kasih yang meremas-remas hati Jeongguk karena dia tahu dia tidak layak mendapatkan perhatian ini.

“Devy kemarin memberi tahuku bahwa dia akan mengecek kain kebaya untuk pernikahannya.” Kata Mirah kemudian dan Jeongguk sejenak kebingungan dengan perubahan topik pembicaraan mereka yang tiba-tiba.

“Dia ditemani Bli Tjok dan mengajak kita sekalian—siapa tahu butuh refrensi untuk kebaya pernikahan kita nanti juga. Kataku, aku akan bertanya pada Bli Gung dulu.”

Jeongguk mengerjap, jantungnya mencelos dan mendadak mual—dia belum mengecek ponselnya sama sekali dan benda sialan itu di kamarnya karena celana dalamannya tidak memiliki kantung. Apakah Taehyung sudah mengiriminya pesan tentang ini? Apa yang harus dijawabnya ke Mirah sekarang?

“Oh, kebetulan, dong?”

Keduanya mendongak, kaget dan menemukan ibu Mirah yang membuka tum untuk makanannya tersenyum lebar serta ramah. Detik itulah Jeongguk tahu dia akan benar-benar terjebak—dia tidak tahu bagaimana sikap Taehyung mengenai hal ini dan kali terakhir mereka melakukan kencan ganda, mereka berakhir dengan keributan.

Jeongguk yakin jawaban Taehyung adalah tidak, final. Namun jika ibu Mirah memintanya untuk ikut maka Jeongguk sungguh tidak memiliki pilihan lain sama sekali—hatinya mendadak membengkak, terluka oleh rasa tidak enak yang merasuk ke dalam hatinya, membuatnya tidak nyaman. Dia harus menjaga perasaan Taehyung dan keluarga Mirah.

“Sekalian saja kalian pergi bersama mereka, siapa tahu tertular cepat menikah.” Ibu Mirah berdiri di sana, tersenyum lebar dengan piring di tangannya yang isinya baru separuh termakan. “Lihat-lihat kain kebaya, setelan yang bagus—siapa tahu dapat inspirasi, 'kan?”

Jeongguk membuka mulut dan dari sudut matanya, dia juga melihat Mirah membuka mulut namun sebelum keduanya sempat bicara, ayah Mirah memutuskan untuk bergabung sambil menambah lauk ke piringnya.

“Betul itu.” Katanya, menyendok lawar di dekat Jeongguk ke piringnya. “Lagi pula untuk apa menunda-nunda pernikahan? Kalian berdua sudah cukup umur, sudah sama-sama bekerja. Menurut Ajik malah secepatnya saja. Tunggu apa lagi?”

Jeongguk kehilangan nafsu makannya, dia memaksakan tawa kering yang sama sekali tidak natural saat mendorong piring makannya menjauh. Ada gumpalan pahit berduri di tenggorokannya sekarang, tersangkut dan sulit ditelan. Dia meraih gelas minumnya dan meneguk isinya—mengapa semua orang mendadak sangat terobsesi pada pernikahan? Mendesak anak-anak mereka untuk menikah seolah pernikahan sama sekali tidak perlu dilandasi rasa percaya dan cinta yang jelas tidak akan anak mereka dapatkan dari dua bulan perkenalan.

Mereka sungguh ingin anak mereka melompat ke pernikahan begitu saja dengan calon yang sama sekali tidak mereka kenal? Hidup bersamanya seumur hidup ketika mereka yang berpacaran bertahun-tahun saja masih mendapatkan kegagalan?

Ada apa antara generasi orang tua mereka dan pernikahan? Mengapa pernikahan seolah dijadikan standar penilaian betapa bahagia, sempurna, dan bahagianya kehidupan seseorang? Standar keberhasilan mereka sebagai orang tua juga nampaknya.

Maka dia sama sekali tidak menyangka saat Mirah yang menjawab.

“Kami ingin saling mengenal dulu Ajik,” katanya lembut dan menenangkan—nyaris persuasif saat meraih tangan Jeongguk lalu meremasnya. Cincin berlian pertunangan mereka menekan tangan Jeongguk, menyadarkannya atas status yang tidak dikehendakinya ini.

Jeongguk nyaris menyentakkan tangannya dari sentuhan Mirah, syukurlah dia mengendalikan dirinya tepat waktu. Dia menggertakkan rahangnya, menahan diri agar tidak menarik tangannya dari genggaman Mirah. Dia harus berakting dengan maksimal, memainkan perannya sebagai Gung Jeongguk dengan baik hingga hidup takkan pernah berani menantangnya lagi.

“Masih banyak sekali waktu ke depannya, tidak perlu terburu-buru.” Mirah kemudian menatapnya, tatapan itu lagi. Jeongguk bergidik, mendadak gelisah dan takut pada tatapan Mirah.

“Ogek ingin Bli Gung yakin pada segalanya sebelum melangkah.” Katanya dengan tatapan terkunci ke mata Jeongguk yang membalasnya dengan perasaan sedikit gelisah. Lalu dia mendadak mengerjap, seolah baru saja ditampar dan menambahkan.

“Ogek ingin kami berdua yakin sebelum melangkah bersama. Ogek baru mengenal Bli Gung beberapa bulan, tidak perlu terburu-buru.”

Orang tua Mirah berpandangan sebelum menghela napas dan ayahnya nampak sudah menduga jawaban itu dari anaknya. “Kau selalu begitu,” komentarnya tegas namun lembut. “Menunda segalanya demi apa? Ajik tidak tahu.”

“Tapi pergi ke toko kain kebaya tidak terdengar berbahaya sama sekali, 'kan.” Ibu Mirah bergegas menambahkan, mencairkan suasana yang hampir menegang. Nampak bertekad membuat anaknya pergi ke toko itu dan Jeongguk merasa terjebak—sekali lagi merasa tercekik ekspektasi orang-orang padanya.

Maka dia menghela napas, sudahlah. “Ya, Biang.” Katanya kemudian, nyaris dengan nada menyerah karena dia sudah benar-benar kelelahan sekarang—energinya habis, perasaan nyaman dan damai yang didapatkannya tadi karena bekerja sekarang sudah habis tak bersisa.

Dia tidak sanggup menghadapi kekecewaan siapa pun, namun menyadari dia tidak bisa membahagiakan kedua belah pihak sekarang kecuali dia membelah dirinya menjadi dua. Mungkin dia bisa bicara dengan Taehyung? Menjelaskan posisinya dan bagaimana orang tua Mirah tidak mungkin ditolak karena.... mereka orang tua? Jeongguk menghela napas dalam-dalam, merasa pening dan mual. Dia lelah, sungguh sangat lelah hingga dia yakin butuh tidur panjang selama satu tahun untuk membuatnya merasa lebih baik.

“Kami akan pergi ke sana,” dia menatap Mirah yang kedua alisnya terangkat, nampak kaget—tangan mereka masih bertautan di meja dan Jeongguk membenci sensasinya. “Tidak akan ada yang terluka.”

Tidak ada, memang. Setidaknya tidak secara fisik, pikir Jeongguk getir, mempersiapkan dirinya menghadapi amukan Taehyung sekali lagi karena sungguh dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

Jika dia tidak lebur akhir pekan ini, Jeongguk akan sangat bersyukur.


Glosarium

  • Pelinggih: bangunan pura

  • Lawar: you know what HEHEHE (lawar nangka, putih, merah itu jenis-jenisnya silakan di google <3)

  • Tum: campuran daging ayam atau babi cincang dengan bumbu dan parutan kelapa. Dibungkus dalam daun pisang berbentuk segitiga lalu dikukus. Mirip garang asem hanya saja tidak berkuah (silakan google <3)

  • Blakas: pisau mirip pisau daging atau golok yang biasanya dipakai lelaki kalo masak (ngebat)

  • Ngebat: meracik bumbu dan juga lawarnya, lebih didominasi lelaki. Biasanya dilakukan jika akan memberi makan banyak orang atau di hari-hari raya seperti Galungan sebagai bagian dari hari raya. Makanan yang dimasak sejenis lawar dan olahan babi lainnya.

  • Banjar: sistem RT di Bali

  • Banten: sesaji Hindu untuk hari raya

  • Pedanda: pemimpin upacara adat tertinggi, pada umumnya datang dari kasta Brahmana

  • Merajan: pura kecil di rumah

  • Mejejaitan: membuat sarana sembahyang dengan janur (keterampilan perempuan Hindu Bali)

tw // physical abuse , toxic parent , toxic relationship , passive behavior .


Jeongguk sangat berharap makan malam mereka hari ini bisa membuat perasaan Taehyung sedikit lebih baik.

Dia berkendara ke arah Alila, menunggu di depan gerbang masuknya untuk Taehyung yang melangkah ke arahnya dengan wajah keras dan kencang karena emosi. Jeongguk menghela napas dalam-dalam di balik roda kemudi, sudah mengganti pakaiannya dengan turtleneck gelap dan celana jins berpipa longgar yang membalut tubuhnya yang lebar dengan nyaman. Taehyung mengenakan kemeja denim kesukaannya yang tiga kancing teratasnya terbuka—menunjukkan sedikit terlalu banyak kulitnya yang sewarna zaitun.

Teringat telepon kacau mereka beberapa hari lalu saat Taehyung melemparkan bom tentang bagaimana keluarga Devy mendesakkan pernikahan mereka dan Taehyung tidak bisa berkelit. Pulang ke Puri, dia kemudian langsung bertemu dengan ayahnya—meminta janji ayahnya yang meyakinkannya bahwa dia punya dua tahun untuk menunda pernikahannya dengan Devy. Alasannya, Taehyung harus mengerjakan menu baru Alila regionalnya.

Namun yang didapatkannya malah tamparan keras dan telak ke wajahnya karena melawan. Bibirnya bengkak dan berdarah saat Jeongguk mengganti telepon mereka ke video—Lakshmi sedang membantunya mengobati luka itu bersamanya.

“Tiang takut, Turah.” Bisik Lakshmi hari itu, setelah Taehyung terlelap dan Jeongguk meneleponnya. Ingin mencari tahu apa yang terjadi karena cerita dari Taehyung yang marah sama sekali tidak membantu. “Ajung memang sering marah, tapi belakangan ini jarang.” Lakshmi berbisik dan Jeongguk menahan napasnya—dia langsung meninggalkan makan malamnya dengan Yugyeom saat menerima pesan Taehyung, menghambur ke kamarnya untuk meneleponnya karena cemas.

Itu tadi pertama kalinya Ajung marah lagi dan memukul Tugung.” Suara Lakshmi gemetar dan Jeongguk memijat pelipisnya, membayangkan teror dan ketakutan di Puri mereka karena amarah yang pertama kali kembali meledak setelah beberapa lama hening.

Tugung hanya datang bertemu Ajung lalu bertanya kenapa Ajung memutuskan tanggal pernikahan tanpa sama sekali memberi tahu Tugung dan mengingatkan Ajung dengan janjinya menunda pernikahan hingga Devy selesai koas. Dan Ajung meledak begitu saja—bangkit dan melayangkan pukulan ke wajah Tugung.

Tidak mengatakan apa-apa sama sekali, Ibu berteriak mencoba melerai dan tiang baru selesai berdoa di Merajan, langsung berlari ke kamar. Jika Ibu tidak menahan Ajung mungkin Ajung akan terus memukuli Tugung. Semuanya kacau balau sekali, Turah. Ini pertama kalinya Ajung dan Tugung bertengkar sehebat itu lagi.”

Jeongguk duduk di ranjangnya setelah memutuskan sambungan dengan Lakshmi, menatap bayangannya sendiri di cermin kamarnya dan menyugar rambutnya. Merasakan perih dan kehampaan yang menyengat hatinya—dia merasa pusing. Mereka sedang berusaha mencari jalan keluar, sudah tahu bahwa waktu mereka benar-benar menipis namun siapa sangka jika ayah Taehyung memutuskan untuk semakin mencekik mereka dengan tenggat waktu.

Haruskah Taehyung melakukan pernikahan itu hanya demi menyelamatkan Lakshmi?

Wisnu jelas terdengar senang dengan kabar pernikahan Taehyung walaupun dia berusaha menyembunyikannya. Siapa yang tidak? Wisnu sudah menjadi kekasih Lakshmi dan menunggunya diizinkan menikah sejak pertama kali Jeongguk berkenalan dengan Taehyung—itu entahlah, 3-4 tahun lalu. Dia benar-benar menunggu selama itu padahal dia anak sulung di keluarganya dan cucu lelaki pertama. Tidak mudah untuk melakukan itu.

Lakshmi tidak bisa sama bahagianya dengan calon suaminya saat melihat adiknya sendiri tersungkur ke lantai karena pukulan ayahnya. Melihat darah terbit dari bibirnya dan wajahnya yang lebam—bagaimana ayahnya sudah hendak menendang Taehyung jika saja ibunya tidak bergegas menahannya dan Lakshmi berteriak keras, mengundang perhatian semua orang dan adik ayahnya datang untuk melerai. Lakshmi tidak tahu kenapa ayahnya sangat marah hanya karena Taehyung bertanya dan menurut ibu mereka, Taehyung bertanya dengan sangat sopan—sama sekali tidak menaikkan suaranya.

Hidup mereka sekarang saling membelit seperti benang yang mustahil diuraikan—Jeongguk bahkan tidak yakin dari mana memulai untuk mengurainya.

Setelahnya, Taehyung benar-benar berubah. Dia kembali menjadi kepala juru masak paling tidak menyenangkan di sana—dia mudah sekali marah, ekspresinya selalu sepat dan beberapa kali membentak Jeongguk karenanya. Luka di bibirnya serta memar di tulang pipinya sudah menguning sekarang, sebentar lagi sembuh namun luka mentalnya terlalu dalam untuk disembuhkan obat merah. Jeongguk menatap kekasihnya yang melangkah kaku ke arahnya—rambutnya berkibar di tengkuknya.

Jeongguk harus benar-benar menjaga nada bicaranya, menjaga kata-katanya dan juga sikapnya tiap kali berada di sekitar Taehyung karena dia mudah sekali meledak belakangan ini. Stres sedang melahapnya hidup-hidup sekarang, menggerogotinya perlahan seperti sekerumunan belatung. Dia menghubungi Arsa tadi, meminta mereka untuk menyajikan makanan penutup yang istimewa—berharap itu bisa sedikit menghibur Taehyung.

“Hai, Sayang,” sapanya lembut saat Taehyung membuka pintu mobilnya, lampu kabin menyala saat Jeongguk memutar tubuhnya untuk melihat kekasihnya yang berwajah kencang.

Taehyung menutup pintunya, menghela napas berat. Nampak lelah dan kurang tidur belakangan ini—Jeongguk harus tetap tersambung di telepon saat malam sebelum tidur. Membujuknya untuk tidur sebelum dia benar-benar lelap namun terbangun beberapa jam kemudian dan tidak lagi bisa tidur. Suasana Puri menegangkan, menurut Lakshmi. Tidak ada yang berani bicara keras-keras dan Tuniang sering sekali mengomel—Lakshmi takut Taehyung melampiaskan amarahnya pada Tuniang sekarang.

Jeongguk mengulurkan tangan, menggaruk rambut di atas tengkuk Taehyung lembut setelah lampu kabin mati. “Kau lapar?” Tanyanya dengan nada paling halus yang dimilikinya.

Taehyung sejenak melumer di bawah telapak tangan Jeongguk sebelum menghela napas panjang lagi. “Yah, iya.” Katanya parau dan Jeongguk tersenyum—dia mengusap rambut Taehyung lembut sebelum melepaskannya.

“Ayo kita berangkat.” Dia tersenyum, menurunkan rem tangannya dan mengganti persneling sebelum menginjak gas—dia memutar di jalan kosong, membentuk U sebelum meluncur ke Barat, ke arah Denpasar membelah jalan bypass akses Karangasem-Denpasar.

Berangkat ke Seminyak di jam-jam seperti ini tentu saja menyiksa mental pengemudi sehingga Jeongguk akhirnya memutuskan untuk memarkir mobilnya dan berjalan kaki ke restoran Arsa yang terletak sedikit terlalu dekat di jantung Seminyak—sekalian menenangkan kepala mereka. Taehyung melangkah di sisinya, hening dan tenang walaupun wajahnya nampak muram dan masam. Jeongguk ingin sekali meraih tangannya, meremasnya dan mengusapnya agar dia merasa lebih baik namun mereka berada di ruang terbuka.

“Kau oke?” Tanya Jeongguk saat mereka melangkah bersama di tengah Seminyak yang ramai oleh wisatawan dan riuh oleh percakapan, tawa, serta aroma makanan dari bistro-bistro yang terbuka. “Kita bisa pulang jika kau mau.”

Taehyung menggeleng. “Aku sudah berjanji mentraktirmu makan malam.” Dia menoleh, memaksakan seulas senyuman yang sama sekali tidak menyentuh matanya dan hati Jeongguk terasa diremas-remas.

Jika saja bisa, dia akan memindahkan beban Taehyung semuanya ke bahunya. Sudah terlalu lama Taehyung terpenjara di sana, dia butuh bernapas—meregangkan paru-parunya, mengistirahatkan otaknya yang tegang, saraf-sarafnya yang malang. Taehyung butuh berlibur dari kehidupannya sendiri. Maka Jeongguk membalas senyumannya, menahan dirinya agar tidak memeluk seniornya erat-erat—meyakinkannya bahwa hidup suatu hari nanti akan membaik.

Walaupun Jeongguk sendiri tidak yakin hidup mereka akan membaik. Mereka sedang terjebak dalam labirin tanpa ujung, Jeongguk bahkan tidak bisa mendongak menatap langit. Semuanya gelap, ke mana pun mereka berusaha melangkah mereka menabrak dinding tanaman yang tajam; menyangkut di pakaian mereka dan menggores kulit mereka. Tidak ada cara untuk meloloskan diri, mereka terjebak.

Setidaknya sekarang—begitulah Jeongguk berusaha menghibur dirinya.

Mereka tiba di Le Gourmet yang ramai, suara musik klasik diputar sayup-sayup membuat suasana terasa magis dan intim. Lampu mereka didominasi warna keemasan yang hangat, penyejuk ruangan beraroma lembut parfum desainer yang menyenangkan. Mereka disambut Kinan yang nampak cerdas dan serius dalam balutan pakaiannya yang licin—dia tersenyum ramah.

“Gung. Tjok.” Sapanya ramah sebelum menoleh ke salah seorang stafnya. “Tolong diantar ke ruangan personal di sudut.” Katanya ke staf mereka yang mengangguk, berdiri di dekat mereka siap untuk mengantar ke ruangan.

Kinan menoleh kembali ke mereka, mengecek sistem—layarnya memantul di kacamatanya. Dia membaca detail pesanan mereka lalu menyentuh layarnya beberapa kali, menyampaikan ke dapur bahwa mereka sudah tiba untuk memproses makanannya. Dia kemudian mencetak detail pesanan mereka dan menempelkannya di meja reservasi dengan pin bermagnet.

Dia mendongak ke Jeongguk dan Taehyung, “Aku sudah menerima pesanmu tentang menu dan Arsa akan sangat senang memberikan kejutan untuk makan malam kalian kali ini.” Kinan menambahkan, sebelum menoleh ke Jeongguk, mengedip sekilas hingga Jeongguk tertawa kecil.

“Trims, Kinan. Aku mengapresiasi bantuan kalian.” Kata Taehyung parau—Jeongguk sejenak menatap kekasihnya di bawah cahaya, mengamati wajahnya baru menyadari seberapa paraunya dia terdengar dan Kinan mengangguk ramah—menikmati posisinya sebagai manajer restoran.

Dia melirik staf mereka lalu merendahkan suaranya, “Mereka tidak akan mengomentari LGBTQ, itu salah satu syarat kami menerima staf di sini. Jika mereka memberi gestur, mengatakan sesuatu secara tersirat atau apa pun yang membuat kalian berdua tidak nyaman, silakan langsung memberi tahuku. Kami akan langsung menindaknya.” Kinan tersenyum menenangkan dan tidak bisa dipungkiri, Jeongguk seketika merasa nyaman karena sikap ini.

“Nikmati malam kalian.”

Jeongguk tertawa kecil. “Trims, Kinan.” Katanya mengangguk bersama Taehyung. “Sampaikan salamku untuk Chef Arsa.”

Kinan tersenyum, melambai kecil. “Sedang mengamuk di dapur, tapi nanti kusampaikan.” Dia lalu melambai ceria saat Jeongguk dan Taehyung melangkah mengikuti staf mereka ke arah ruangan yang dimaksud.

Mereka mendapatkan ruang pribadi yang nyaris terlalu besar untuk dua orang. Ruangan privat itu beraroma lembut, ditata dengan rapi dan staf yang membantu mereka sangat ramah sekali—tidak memberikan gestur atau tatapan menilai yang membuat Jeongguk tidak nyaman. Namun tetap saja, dia memberi tahu gadis itu mereka akan baik-baik saja berdua di dalam dan dia sebaiknya menunggu di luar pintu.

“Anda ingin saya panggilkan sommelier?” Tanya gadis itu sopan dan Jeongguk menoleh ke Taehyung yang menggeleng.

“Nanti akan saya infokan jika kami membutuhkan bantuan.” Jeongguk tersenyum. “Tolong ketuk pintunya sebelum memasuki ruangan, ya?” Tambahnya dan gadis itu balas tersenyum, mengangguk paham sebelum mengangguk lalu keluar dari ruangan.

Sebaik apa pun dia, Jeongguk tidak ingin mengambil risiko apalagi dengan kondisi mental Taehyung yang sedang remuk dan koyak sekarang. Jeongguk menarik kursi untuk Taehyung, mempersilakannya duduk sebelum membantunya memasang serbet Le Gourmet yang berwarna burgundi cantik di pangkuannya.

Taehyung tersenyum kecil. “Kau pernah melakukan ini?”

Jeongguk nyengir. “Aku pernah menjadi FB Service selama enam bulan, berjuta tahun yang lalu dan aku jelas masih ingat caranya melayani tamu.” Dia meraih teko air dan mengisi gelas Taehyung dari sisi kanan—melakukannya dengan sangat terlatih hingga Taehyung tersenyum terhibur.

Di meja mereka sudah tersaji poppy seed bread bulat menggemaskan dengan mentega untuk dimakan seraya menunggu starter mereka diantarkan. Jeongguk duduk di kursinya sendiri, menyampirkan serbetnya di pangkuan sebelum meraih mentega dan membukanya—dia kelaparan sekali. Dia meraih rotinya, merobeknya sedikit sebelum menggunakan pisau mentega mengoles permukaannya dan menyuapnya.

“Kau kelaparan.” Komentar Taehyung mengamatinya menghabiskan roti dalam dua suapan raksasa.

Jeongguk mengedikkan bahu, “Sangat.” Ringisnya. “Jadi kuharap makanannya lezat.”

Dia kemudian mengelap tangannya, merasakan roti mengisi lambungnya sejenak sebelum meraih tangan Taehyung di atas meja dan meremasnya lembut. Ibu jarinya mengusap punggung tangannya dengan hangat—menghibur Taehyung yang menatap tangan mereka sendu.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya serak—merendahkan suaranya agar tidak ada yang mendengarnya walaupun suara riuhnya restoran sudah cukup untuk itu. “Ada yang ingin kau bagi denganku?”

Taehyung menatapnya, matanya berkilat di bawah lampu restoran sebelum dia mendesah keras. “Aku takut.” Katanya gemetar dan Jeongguk otomatis mengeratkan genggaman tangannya—menjaga Taehyung agar tidak remuk lalu melebur.

Dia senang Taehyung yang keras, berkenan membuka dirinya di hadapan Jeongguk. Menjadi dirinya yang lemah dan rapuh, mengungkapkan segala ketakutan dan kekurangannya pada Jeongguk alih-alih bersikap sok kuat dan menyembunyikan segalanya.

“Aku bingung.” Tambah Taehyung lirih, nyaris dikalahkan suara dengung penyejuk ruangan dan gumam obrolan di luar sana—disertai denting alat makan dan tawa. “Apa yang harus kulakukan? Desember tiga bulan lagi, Gung. Itu sebentar.”

Jeongguk memejamkan matanya, menunduk menatap tangan mereka di atas meja—jemarinya menyelip di antara jemari Taehyung, menggenggamnya erat sekali. Menjaganya tetap hangat. “Aku tahu.” Katanya lembut lalu mendongak menatap Taehyung.

“Kita tidak punya pilihan lain, ya?” Tanya Taehyung kemudian, terdengar getir dan penuh kesakitan sementara Jeongguk mengencangkan otot perutnya—menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya. “Sama sekali tidak ada?”

Jeongguk menghela napas. “Tidak.” Katanya, tidak mengenali suaranya sendiri yang dibalut perasaan putus asa. “Tidak ada untuk saat ini. Kau....,” dia menggertakkan giginya. “Kau harus menikahi dia.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti sebuah gelas yang dijatuhkan. Menghantam lantai dengan suara derak nyaring sebelum berhamburan menjadi bubuk berkilauan. Suaranya memekakkan telinga, memantul di semua sudut ruangan dan membuat keduanya seketika mengernyit karena tidak menyukai bagaimana kenyataan terasa untuk mereka saat ini.

Taehyung melemah di kursinya, bersandar dalam di sana dan memejamkan matanya—nampak sangat lelah dan tertekan. Jeongguk menggigit bibir bawahnya, tidak yakin apa yang harus dilakukannya karena mereka benar-benar terjebak di tengah labirin tanpa akhir. Jeongguk yakin jika Taehyung berusaha menolaknya, dia akan berakhir dihajar ayahnya hingga masuk rumah sakit. Menuruti ayahnya terasa jauh lebih benar karena pilihan lainnya adalah kematian.

“Kau tahu,” bisik Taehyung kemudian dan Jeongguk mendongak. “Kemarin Jimin mengatakan sesuatu tentang...” Dia sejenak berhenti, nampak gelisah dan tidak nyaman—sudah melakukan itu selama beberapa hari, seperti seekor bayi binatang yang ketakutan.

Jeongguk benci sekali melihatnya.

“Tentang bagaimana tiba-tiba hidupku di Puri menjadi jauh lebih baik setelah aku menerima Devy. Ibuku diterima, gunjingan tentang kakakku lenyap, ayahku jadi lebih menyayangiku—lebih dari apa yang pernah dilakukannya selama hidupku.” Taehyung menatapnya. “Kau... paham maksudku, 'kan?”

Alis Jeongguk berkerut. “Maksudmu... Keluarganya menolong keluarga kalian?” Tanyanya lirih.

Taehyung mengangguk. “Itu,” katanya dan bernapas dari mulutnya—seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan. “Atau merekalah dalang dari semuanya.”

Jeongguk belum sempat memproses informasi itu ketika pintu ruangan mereka diketuk dan sous chef Arsa memasuki ruangan ditemani seorang staf yang mendorong troli terisi makanan mereka dengan pemandangan Jeongguk yang pucat pasi karena terkejut. Namun dia mengendalikan dirinya dengan baik, tersenyum ramah pada keduanya seraya menyajikan makanan pembuka mereka di hadapan Jeongguk dan Taehyung.

“Chef Arsa menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa menyajikannya sendiri. Saya menggantikan beliau malam ini untuk membantu Anda dengan makan malam Anda.” Katanya sebelum mengangguk lalu menjelaskan makanan yang disajikan di hadapan mereka.

Jeongguk sama sekali tidak mendengarkan, dia menatap Taehyung dengan penuh horor. Jika memang keluarga Devy yang menyudutkan keluarga Taehyung, maka semuanya masuk akal—bagaimana hidup mendadak berubah menjadi sangat mulus untuk Taehyung. Dan Taehyung semacam tumbal yang diserahkan demi meredam 'kejahatan' mereka. Tapi, kenapa sekarang? Tidak sejak dahulu?

Sous chef Arsa akhirnya pamit undur diri setelah Jeongguk meyakinkannya bahwa dia mengapresiasi sekal perhatian Arsa pada mereka namun sungguh tidak perlu repot-repot sama sekali, mereka baik-baik saja atau yang jika diterjemahkan adalah 'tolong tinggalkan kami sendirian'. Dan chef muda itu nampak memahami pesan tersirat Jeongguk dan mengangguk sebelum mundur dan menutup pintunya.

“Dari mana kau mendapatkan pemikiran itu?” Tanya Jeongguk kemudian, mengabaikan makanannya—mendadak merasa sangat kenyang karena informasi dari Taehyung.

Taehyung menggeleng. “Aku hanya, entahlah. Memikirkan banyak sekali hal-hal negatif belakangan ini.” Dia meraih sendok appetizer-nya dan menyendok makanannya, membawanya ke mulut dan mendadak terkesiap kecil. “Oh, wow.” Katanya tulus, nampak terkejut oleh makanan itu. “Ini lezat.”

Jeongguk mengerjap, menunduk menatap makanannya dan meraih sendoknya. Taehyung sudah menghabiskan uangnya untuk ini jadi sebaiknya dia menikmatinya. Dia menyuap makanannya dan terkejut oleh ledakan rasa di dalam sendokannya—lidahnya mendecap-decap saat makanan larut bersama lidahnya dan mendarat cantik di lambungnya yang bernyanyi bahagia mendapatkan makanan seenak itu.

Sejenak aura muram mereka terhibur oleh makanan lezat Arsa yang mereka habiskan dalam waktu sepuluh menit. Untuk ukuran restoran berbintang, porsi makanan mereka lumayan cukup untuk 5 course meal karena mereka masih memiliki empat piring lagi untuk dimakan. Jeongguk meletakkan sendoknya horizontal di atas piringnya sebagai sinyal betapa dia menyukai makanannya, dia melirik Taehyung yang juga melakukan hal yang sama.

“Bagaimana Devy menyikapi perencanaan mendadak itu?” Tanya Jeongguk kemudian, perlahan setelah piring makanan pembuka mereka dibereskan.

Taehyung meneguk airnya sebelum meraih gelas anggurnya. Dia menggoyangkannya, membiarkan anggur berwarna gelap di dalamnya berpusar mengikuti arah putarannya membentuk lingkaran cantik di dalam gelasnya sebelum menyesapnya.

“Dia nampak sama kagetnya denganku.” Kata Taehyung setelah meletakkan gelasnya dan Jeongguk meraih botol anggur mereka, menambah isinya untuk Taehyung dan dirinya sendiri. Le Gourmet punya anggur-anggur lezat yang diapresiasi Jeongguk—dia mendengar sendiri dari Arsa tentang obsesi pasangannya dengan minuman keras.

“Jadi menurutku Devy tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Dia bisa dipercaya.” Taehyung menatap Jeongguk—meminta persetujuan namun Jeongguk tidak menjawab, dia masih tidak yakin haruskah mereka mempercayai kedua gadis itu?

“Kurasa sebaiknya kita tetap bersikap waspada di sekitar mereka?” Tanyanya lembut, meraih tangan Taehyung lalu memainkan cincin Tiffany mereka dengan jemarinya—berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Kita tidak tahu apakah mereka ally atau bukan.”

Taehyung menghela napas, nampak tertekan maka Jeongguk tersenyum—berusaha mengalihkan pembicaraan mereka sebelum Taehyung semakin stres. “Ayo membicarakan hal yang menyenangkan, oke? Kita pikirkan ini nanti. Kita punya waktu tiga bulan, mari cari jalan keluarnya.”

Taehyung menggertakkan giginya lalu menatap Jeongguk, sejenak nampak keras seolah akan mendebatnya dan Jeongguk berjengit selama beberapa detik karena ekspresi itu, menyiapkan diri menerima bentakannya. Hal yang sudah sering terjadi sejak dia mendengar info tentang menikah. Jeongguk entah berapa kali menjadi sasaran emosinya—menjadi bantalan amukannya tiap kali emosinya terluka, tiap kali dia merasa tertekan dan stres. Meledak seperti balon ke wajah Jeongguk dan tidak bisa dipungkiri, terkadang membuatnya teluka.

Jeongguk menelannya, menghibur dirinya bahwa Taehyung sedang mengalami hari yang buruk maka dia sebaiknya bersikap seperti kekasih yang baik dengan mendengarkannya. Nanti Taehyung pasti akan kembali normal dan baik-baik saja, Jeongguk hanya perlu bersabar—dia akan berubah sebentar lagi setelah semua stres ini berlalu.

Namun Taehyung tidak membentaknya, dia menghela napas dan memijat pelipisnya—nampak benar-benar tertekan hingga Jeongguk merasa bersalah seolah dirinya sendiri yang mengantar Taehyung ke tiang pancung dan menghukumnya mati. Jeongguk juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang—sama sekali tidak. Dia juga sama frustrasinya dengan Taehyung sekarang.

“Kita akan menemukan jalan keluarnya, percayalah. Pasti.” Jeongguk menggenggam tangan Taehyung erat—berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa mereka akan keluar dari labirin ini sementara di dalam sana, di hatinya sendiri...

Jeongguk tidak yakin, tidak sedikit pun.

Dia juga ketakutan, kebingungan, furstrasi, dan tertekan namun dia tidak bisa menunjukkannya pada Taehyung sekarang karena dia harus menjaga hubungan mereka—jika dia stres ketika Taehyung juga stres, maka mereka tidak akan bisa menyelamatkan diri.

Taehyung sedang terjebak di dalam sumur yang dalam, Jeongguk tidak akan bisa menyelamatkannya jika dia ikut melompat ke dalam sumur. Dia harus tetap bertahan di atas sana, menjaga kewarasannya sendiri seraya melemparkan tali ke dalam—menarik Taehyung ke permukaan.

Perahu mereka sedang terombang-ambing dalam badai raksasa, jika Jeongguk ikut panik bersama Taehyung maka siapa yang akan menjaga kendali perahu? Menjaga benda itu tetap di permukaan? Satu orang harus tetap waras dan itu Jeongguk.

Taehyung sudah sama sekali tidak bisa memertahankan emosinya tetap stabil—dia tegang, tertekan, dan stres. Sedikit sentilan sudah cukup untuk membuatnya mengamuk habis-habisan hingga menurut Mingyu, sudah ada tiga anak magang dalam tiga hari ini yang mengundurkan diri dari dapur Alila karena kepala juru masak mereka bersikap seperti macan sakit gigi.

Mereka diselamatkan oleh menu selanjutnya dalam makan malam mereka. Aroma seafood memenuhi ruangan saat makanan dihantarkan masuk dan staf menyempatkan diri untuk mengisi ulang gelas mereka serta gelas anggur Jeongguk sebelum undur diri. Di mangkuk mereka sekarang terisi sup seafood dengan buih tipis hasil kreasi molekular gastronomi Arsa dengan sepotong garlic bread di sisinya sebagai teman makan.

Jeongguk meraih sendok supnya yang bulat lalu menyendok makanannya dari pinggir menuju ke tengah mangkuk sebelum menyesapnya—mendesah oleh rasa kaldunya yang kaya dan melimpah. Sedikit terlalu berempah untuk makanan Prancis, namun Jeongguk paham jika sasarannya adalah kaum ekspatriat Bali maka mereka benar dengan mengutak-atik rasanya sedikit.

“Kita akan memiliki rumah di tepi pantai dan anjing yang kauinginkan.” Bisik Jeongguk menatap kekasihnya yang menyesap makanannya, tangan mereka tidak pernah melepaskan tautannya—erat dan hangat.

“Aku bersumpah.” Katanya, kali ini dengan tekad kuat yang sejenak membuatnya merinding. “Aku akan memberikan bahagia untukmu.”

Dia menatap lurus ke mata Taehyung yang balas menatapnya, merasakan cinta yang teramat dalam dan hebat di dadanya berdetak untuk Taehyung. Dia mengangkat tangan Taehyung dari meja lalu mengecupnya lembut sebelum mengusapnya sayang.

“Aku akan memberikan bahagia untukmu, berapa pun harganya.”

*

ps. excuse my typo, im kinda tired x


Taehyung merengek kecil saat Jeongguk menarik wajahnya, memisahkan ciuman mereka yang lama dan dalam—lembut dan memabukkan. Jeongguk terkekeh parau seraya mengusap wajahnya sayang di dalam keremangan Yaris-nya yang terparkir di sudut Alila petang itu.

Suara ombak lembut terdengar dari kejauhan, berdebur keras tanda air mulai pasang. Angin menderu keras, menggoyangkan pepohonan tropis yang ditanam Alila di sekitar pembatas wilayah hotel dan pantai hotel. Jeongguk berkendara masuk tadi, menyapa Security sebelum meluncur ke tempat parkir mereka—di sudut parkiran karyawan Alila, tersembunyi dan jarang didatangi Security di bawah pukul delapan malam. Mereka di kursi belakang, tergencet kotak sialan Jeongguk yang terisi pakaian adat. Taehyung duduk di atas pangkuan Jeongguk—tidak berhenti merengek sejak memasuki mobil.

Perasaannya tidak enak sejak mereka meninggalkan hotel dan Taehyung tidak menyukainya—perasaan seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mustahil dihilangkan. Dia beberapa kali berhenti bekerja untuk minum, menenangkan perasaan tidak nyaman itu hanya untuk mendapatinya datang kembali.

Berpikir apakah sebaiknya dia membatalkan kunjungannya ke griya nanti, tapi merasa bersalah karena sepertinya keluarga Devy sudah sangat menantikan kunjungannya. Mereka orang baik, maka dia memutuskan akan sedikit memaksakan dirinya beramah-tamah beberapa saat.

Jeongguk nampak tidak paham apa yang membuat Taehyung jadi sangat manja tapi dia tidak bisa tidak mengapresiasi betapa menggemaskannya dia saat merengek di dalam pelukan Jeongguk. Dia menunduk, menatap Jeongguk dalam keremangan dan terus menciumi wajah Jeongguk. Juniornya terkekeh, mengusap rambutnya sayang sementara Taehyung menumpukan pipinya di kepala Jeongguk.

“Kau sangat merindukanku, ya?” Bisiknya, membelai punggung Taehyung lembut—membelainya melingkar dan menenangkan.

Taehyung mengangguk, tidak bersuara—sedih karena sadar dia harus bergegas ke griya karena 'calon ayah mertuanya' menunggunya datang. Dia tidak menceritakan perasaan aneh yang mengganggunya sejak tadi, entah mengapa tidak juga berhasil membuat mulutnya mengatakannya. Ada sesuatu yang menahannya dan dia berusah mengabaikannya. Mungkin nanti akan lenyap setelah dia tidur. Dia harus bertamu sekarang, lebih baik tidak merusak perasaan bahagia sesaat ini.

Dan dia benci sekali fakta itu. Dia ingin di sini saja, memeluk Jeongguk terus hingga pagi—tidak sudi berpisah karena setiap pertemuan membuat perpisahaan mereka terasa lebih menyakitkan. Namun dia sungguh harus beranjak lima menit lagi atau dia akan tiba terlalu malam untuk bertamu.

Dia menarik dirinya, menatap Jeongguk yang balas menatapnya sayang. Lelaki itu mengulurkan tangannya, mengusap sisi wajahnya dan Taehyung menyandarkan diri dalam genggamannya—mendesah dalam keremangan. Aroma tubuh Jeongguk sangat menakjubkan. Aroma yang belakangan ini membuatnya sangat aman dan nyaman, aroma yang akrab dengan dirinya sendiri nyaris seperti rumah. Taehyung tidak pernah merasa Puri adalah rumahnya, itu praktis merupakan penjara dengan sipirnya yang tegas.

Namun perasaan aman dan damai yang selalu didapatkannya dari Jeongguk membuatnya merasa bahwa dia bisa mendapatkan rumah—walaupun bentuknya bukan sebuah bangunan. Hanya seseorang dan perasaan diterima yang luar biasa, membuat dasar perutnya hangat oleh cinta yang meleleh seperti sekuali cokelat panas. Taehyung tidak pernah menginginkan keluarga: konsep yang selama ini sangat menakutkan untuknya.

Ketika Jeongguk datang, menyayanginya, meyakinkannya bahwa dia berharga dan layak. Memberikan cinta yang tidak pernah didapatkannya dari orang tuanya, menjadi sosok yang lembut—membalut semua lukanya dengan perlahan, mengobatinya, membantu Taehyung bangkit dan kembali melangkah tertatih-tatih melanjutkan kehidupan setelah dia benar-benar tidak menemukan hal menarik dalam hidup.

Taehyung kembali percaya bahwa keluarga ada. Rasa hangat yang akrab ini nyata. Bangun dan tidur dengan orang yang sama, nyaris setiap hari seumur hidupnya tidak pernah terasa semenyenangkan ini sebelumnya. Dia nyaris menangis karena menginginkan kehidupan stabil itu; aman dan damai, bersama Jeongguk yang akan mencintainya selamanya. Jauh dari jangkauan keluarganya, melakukan apa saja yang diinginkannya terlepas dari kastanya.

Jeongguk mengubah hidupnya yang dingin dan kelabu menjadi hangat dan ceria.

“Aku mencintaimu.” Bisiknya, mengecup bibir Jeongguk yang tertawa tanpa suara—matanya yang dalam berkilau dalam keremangan. Taehyung tenggelam dalam tatapannya tiap kali dia menatapnya; begitu dalam hingga dia tidak ingin diselamatkan.

“Aku juga mencintaimu.” Bisik Jeongguk, meraih tangannya dan mengecup pergelangan tangannya—lama dan dalam, merasakan denyutan nadi Taehyung di bibirnya.

Sejenak hanya deru napas mereka yang terdengar dari sekitar selain deburan ombak di kejauhan. Taehyung ingin memejamkan mata, memeluk Jeongguk dan lelap dalam dekapannya—tidak ingin bangkit menjalani kehidupannya yang membosankan. Kehidupan yang jadi sangat melelahkan setelah dia mendapatkan kemewahan dalam dekapan Jeongguk.

Namun toh hidup harus tetap berlanjut. Dia mengklakson Jeongguk sebelum berbelok ke arah Barat—ke Klungkung. Dia harus mampir ke rumah Devy dan memasang wajah ceria yang melelahkan. Taehyung berkendara dengan musik sayup-sayup di mobilnya, terlalu lelah untuk mengendarai motornya hari ini. Dia menatap jalanan yang panjang dan ramai, membelok di sengol tempatnya berhenti sejenk membelikan Devy makanan yang diinginkannya.

Dia duduk di sana, menunggu martabak manisnya dikerjakan seraya mengecek ponselnya—menyadari Jeongguk belum tiba di rumah karena belum membalas pesannya dengan sedih. Taehyung mendongak, menatap langit malam yang cerah dengan resah. Dia merindukan Jeongguk, tiap perpisahan terasa semakin berat dan dia nyaris tidak sanggup menanggungnya.

Hatinya langsung terasa kosong, seperti sesuatu baru dicabut dari sana. Seperti kehidupan dan bahagianya baru saja dihisap habis saat dia harus meninggalkan Jeongguk—meninggalkan sarangnya yang hangat. Bayi burung malang yang dipaksa terbang menjauh dari rumahnya sebelum siap.

Pesanannya jadi saat Jeongguk mengiriminya pesan bahwa dia sudah tiba di rumah, baru saja berhenti akan memasukkan mobilnya. Hati Taehyung berdesir—senang karena tidak peduli sesibuk apa pun Jeongguk, dia selalu memastikan Taehyung mendapat kabarnya sebelum orang lain. Dan tidak peduli seberapa inginnya Taehyung untuk berkendara pulang, berbaring dan menelepon Jeongguk—melepaskan penatnya, dia harus berkendara ke rumah Devy.

Gadis itu menyambutnya dengan ceria, rambutnya diikat kuda tinggi di atas kepalanya saat dia berlari membuka pintu untuk menyambut Taehyung yang menyerahkan kantung plastik terisi makanan yang diinginkannya. Tidak bisa menahan diri, Taehyung menepuk kepalanya—selalu merasa sedikit lebih baik tiap kali merasakan aura positif menyenangkan Devy di sekitarnya.

Jeongguk terkadang mengingatkannya pada hidup yang sangat diinginkannya namun sulit diraih—setidaknya sekarang. Namun terkadang saat duduk di sisi Devy, mendengarkannya berbicara, Taehyung berpikir hidup pastilah sangat mudah jika dia jatuh cinta pada Devy. Memilih meikahinya dan membangun keluarga yang diinginkannya.

Hidup yang terbentang di hadapannya jika dia memilih Devy akan sangat menenangkan—semuanya lancar, seperti jalan bebas hambatan tanpa gejolak luar biasa.

Devy membuka bungkusan di tangannya, mengintip isinya lalu mendongak ke Taehyung dengan senyuman lebarnya. “Wigung ingin makan dulu atau bertemu Ajik dulu?”

Taehyung menatap anak itu, mendesah panjang dan menghentikan kepalanya yang mulai bergerak liar. Dia benci membayangkan kehidupan mana pun yang tidak memiliki Jeongguk di dalamnya. Tidak menginginkan kehidupan mana pun yang tidak memiliki Jeongguk di dalamnya.

“Ajik sudah menunggu lama, ya?” Tanyanya saat Devy mengajaknya masuk ke dalam griya-nya yang asri dan damai—suara anjing peliharaan mereka terdengar dari kandang di belakang rumah.

Sejak Taehyung bersikap tegas padanya, menunjukkan betapa dia adalah calon kepala keluarga dan Devy harus mendengarkannya, gadis itu bersikap jauh lebih sopan dan tenang sekarang. Tidak pernah menyentuh Taehyung seperti kali pertama dia mampir ke griya Devy. Menghormati ruang pribadi Taehyung, menghormati ibu dan kakaknya walaupun mereka jelas berasal dari kasta yang jauh lebih 'rendah' dari Devy. Khususnya kakak Taehyung.

“Tidak, kok.” Devy menggeleng hingga rambutnya bergoyang di punggungnya. Nampak senang hanya karena Taehyung datang dan membawa martabak manis yang diinginkannya. “Tadi Ayu bilang Wigung sedang mengurus reservasi jadi agak terlambat.”

Taehyung menahan napasnya—belakangan ini dia sangat bertoleransi pada Taehyung. Jarang merengek dan benar-benar dewasa, Taehyung penasaran apakah dia memang sedewasa ini dan menunjukkan sikap kekanakan untuk mengganggu Taehyung atau dia begini karena Taehyung?

“Terima kasih.” Katanya, melepas sepatunya di teras sebelum beranjak masuk dan Devy tersenyum lebar. “Kembali kasih, Wigung!” Sahutnya.

Taehyung kemudian duduk di ruang tamu, dengan secangkir teh dan martabak manis yang dihidangkan Devy bersama ayahnya. Mengobrol banyak hal yang absurd sebelum kemudian obrolan bergulir ke masalah pernikahan—satu-satunya topik yang tidak ingin dibahas Taehyung sekarang.

“Saya pikir jika menunggu Devy selesai koas terlalu lama,” kata ayah Devy menyesap kopinya dan menatap Taehyung dengan tatapan yang selalu digunakan ayahnya tiap kali Taehyung melakukan hal yang tidak disukainya.

Devy melirik Taehyung, nampak meringis dan Taehyung tahu anak itu tidak ada urusan dengan pembicaraan ini. Taehyung menghela napas—kata siapa menjadi lelaki enak? Banyak lelaki yang menikmati gender superiority mereka dalam lingkungan patriarki Bali namun Taehyung sama sekali tidak—jika itu berarti semua orang merongrongnya dengan pernikahan detik dia menginjak usia dua puluh tiga tahun.

Dan dia sekarang tiga puluh tujuh tahun.

“Menikah tidak butuh waktu lama, Devy bisa izin beberapa hari dari koasnya untuk rangkaian pernikahan sebelum kembali.” Ayah Devy meletakkan cangkirnya di meja. “Kau juga bisa cuti sebentar dari pekerjaanmu, 'kan?”

Taehyung menggertakkan giginya sejenak sebelum menghela napas dan mengangguk—lebih karena dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. “Bisa, Ajik.” Katanya, separuh berbisik.

“Lalu apa masalahnya hingga kalian memutuskan menunda dua tahun untuk menikah?” Ayah Devy menatapnya, matanya membuat Taehyung merasa kecil dan lemah—ketakutan karena dia tidak mau melakukan ini. “Bulan Desember nanti ada dewasa ayu, bagaimana jika kalian menikah saja?”

Langit runtuh ke atas Taehyung, menyiramnya dengan rasa berat dan beban yang sejenak membuatnya limbung dan terserang vertigo ringan. Matanya gelap selama beberapa detik mendengar kalimat sederhana yang dilemparkan ayah Devy padanya. Di sisinya, Devy terkesiap kecil—jelas juga tidak menyangka bahwa ayahnya meminta Taehyung datang hanya untuk mendesakkan pernikahan mereka.

Seharusnya tadi Taehyung membatalkan saja kunjungannya hari ini lalu memesan kamar di Candidasa atau bahkan di Alila. Memaksa Jeongguk untuk tinggal dan menemaninya tidur hingga pagi—menghindari kenyataan, menghindari hidup yang semakin hari tidak pernah semakin mudah untuknya. Seharusnya Taehyung tidak mengiyakan ajakn Devy untuk datang ke rumahnya.

Dia seharusnya kabur dari Puri bertahun-tahun lalu. Taehyung seharusnya tidak pernah mengenal Jeongguk dan jatuh cinta padanya. Dia seharusnya tidak pernah lahir.

Hidup ini terlalu berat untuknya—Taehyung tidak lagi yakin dia bisa menghadapi hari-hari kedepannya. Lelah pada semua tuntutan yang disurukkan ke bawah hidungnya, dicekokan padanya seperti pil pahit yang tidak juga tertelan—melarut dengan liur dalam rongga mulutnya, menyengat lidahnya.

“Saya tidak melihat keuntungan apa pun dari menunda pernikahan kalian ini.” Tambah ayah Devy, suaranya terdengar dingin—sangat berbeda dari kesan ramah dan hangat yang ditunjukkannya pada kali pertama Taehyung berkunjung.

Seharusnya Taehyung tahu; manusia adalah makhluk paling kompleks. Kemampuan berpikir mereka hanya membuat mereka semakin licik dan mengerikan. Kemampuan manipulasi mereka, berakting demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Begitu akrabnya manusia pada kejahatan hingga mereka tidak lagi bisa membedakan ketulusan—asing pada sikap baik dan tulus, mulai melabeli mereka yang baik dengan 'manipulatif' dan 'palsu'. Karena mereka terbiasa mendapati manusia lain bersikap baik hanya untuk mendapatkan keuntungan.

Seharusnya dia tahu, dia tidak bisa mempercayai kesan pertama keluarga Devy.

Kalimat Jimin tadi melintas di kepalanya—kecurigaannya pada Devy, pada semua omongan miring tentang Lakshmi yang mendadak redup dan lenyap, hidup ibunya yang sekarang berangsur membaik setelah selama bertahun-tahun seperti hidup di dalam neraka di rumahnya sendiri. Segala aspek dalam hidup Taehyung yang mendadak 'membaik' setelah dia menerima perjodohan ini.

Taehyung masih diam—otaknya menolak bekerja sama. Dia seperti berada di dalam bola jeli raksasa yang mengurungnya, membatasi geraknya dan membuatnya sulit bernapas. Dia berusaha bergerak namun jeli itu menaha gerakannya, membuatnya kelelahan karena mencoba. Maka Taehyung menyerah, diam dalam cekikan itu.

Devy membuka mulutnya, terdengar sedikit takut. “Bagaimana jika bertunangan dulu saja, Ajik?” Dia melirik Taehyung yang masih membeku di kursinya—terkejut oleh bom yang dilemparkan ayahnya. “Mungkin masih ada yang Wigung ingin kerjakan sebelum menikah?”

“Omong kosong,” ayah Devy mendengus dan menambahkan tawa dingin di ujung kalimatnya—tawa yang mengiris pendengaran Taehyung. “Dia seharusnya mencemaskanmu.” Dia menatap anaknya yang meringis—melirik Taehyung cemas. “Kau perempuan, kau tidak baik melajang lama-lama. Usiamu sudah akan dua puluh tiga tahun, sudah siap menikah.”

Apa yang harus dilakukan Taehyung sekarang...?

“Tadi saya sudah bertemu ayahmu,” tambah ayah Devy dengan nada final yang membuat rahang Taehyung mengeras.

Jika ayahnya sudah ikut campur maka Taehyung jelas tidak memiliki pilihan lain selain mendengarkan dan mengikutinya karena hidup ibu dan kakaknya bergantung pada pilihan Taehyung. Tidak peduli seberapa inginnya dia untuk bangkit dan pulang dari sana, kabur dari kenyataan pahit yang harus dihadapinya; Taehyung tetap duduk di sana. Nampak setenang samudera walaupun di dalam hatinya, badai bergolak luar biasa hebatnya.

Dia ingin menghubungi Jeongguk sesegera mungkin. Butuh pemuda itu menjaganya tetap waras. Karena dia tidak akan bisa menghadapi ini sendirian. Dia butuh seseorang untuk diajaknya bicara—seseorang yang akan memeluknya tetap utuh sementara dirinya remuk rendam diremas kehidupan.

“Katanya tidak masalah jika kalian menikah bulan Desember. Ibumu malah sangat bersemangat dan tidak paham mengapa kau menunda-nunda pernikahan.” Ayah Devy kembali bicara dan Taehyung bergeming—matanya menerawang, mencoba dengan keras memproses informasi di sekitarnya.

Apa yang harus dilakukannya....?

“Jadi kami putuskan saja, kalian akan menikah bulan Desember nanti.”

*

tw // internalized homophobia . cw // bottom on top .


Taehyung gugup.

Dan ini pertama kali untuknya merasa gugup sepanjang hidupnya. Mereka tadi memasuki lodge bersamaan karena Jeongguk meyakinkannya bahwa mereka akan baik-baik saja. Jeongguk membuat alibi dengan memesan dua kamar dan hanya menggunakan satu kamar untuk mereka berdua. Berakting dengan mulus saat mereka berpisah di depan pintu kamar sebelum dia mengetuk connecting door kamar mereka dan mempersilakan dirinya sendiri memasuki ruangan dalam balutan bathrobe putih pudar yang menggantung longgar di bahunya.

Taehyung bersandar di pintu kamar mandi—merasakan jantungnya melonjak dengan cara tidak masuk akal. Dia pernah jatuh cinta, sebelum jatuh cinta pada Jeongguk—sekali. Namun perasaan yang dimilikinya sekarang untuk Jeongguk begitu meledak-ledak dan tidak masuk di akal, sangat asing dengan seluruh dirinya dan tubuhnya. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin sementara Jeongguk menunggunya selesai mandi di ranjang—Taehyung bisa mendengar suara tawanya saat menonton acara sitkom di televisi. Dia membawa dua kotak piza yang dipesannya di Alila tadi untuk mereka berdua, menyempatkan diri mampir di mini market juga untuk membeli beberapa botol soda.

Mereka malam ini hanya akan tidur bersama secara harfiah namun Taehyung tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kerah V bathrobe Jeongguk yang menukik rendah ke garis pinggangnya yang mungil, terikat kencang oleh tali jubah mandinya. Dia benar-benar tidak bisa menghentikan hormonnya sendiri tiap kali berada di sekitar Jeongguk—pemuda itu membuatnya mabuk, meledak-ledak oleh emosi asing tiap harinya.

Taehyung melangkah ke kotak shower, melepas jubah mandinya dan menyalakan rain shower sebelum melangkah ke bawah curahan air yang seketika membasuh tubuhnya. Dia memejamkan mata, membiarkan air hangat mengalir turun di wajahnya. Taehyung tadi bergegas menghampiri mobil Jeongguk tadi setelah bekerja dan tidak repot-repot mandi—dia memasuki Yaris Jeongguk yang beraroma pekat keringat Jeongguk dengan aroma sambal kecombrang buatannya yang hari ini dieksekusi untuk menu lunch.

Air mengalir di tubuhnya, membentuk jalur serupa sungai yang menetes ke lantai. Membawa segala lelah dan tegangnya melarut seperti gumpalan garam yang melarut. Taehyung menunduk saat menyabuni tubuhnya, menggosok permukaan kulitnya agar seluruh kelelahannya hari itu serta aroma manis memabukkan kecombrang lenyap dari pori-porinya. Dia mendesah saat sabun melarut bersama air, meleleh ke lubang pembuangan bersama sisa lelahnya hari itu. Dia menggosok shampo di kepalanya, menggaruk kulit kepalanya dan membasuhnya sebelum berdiam diri di bawah air beberapa saat.

Dengan telapak tangannya yang kapalan, Taehyung menggosok tubuhnya dengan penuh perhatian—berusaha mengalihkan isi kepalanya dari Jeongguk yang menunggu di ranjang. Seksi seperti dewa seks namun menolak seks. Taehyung menggeleng, mengusap sisa air dan sabun meluruh dari permukaan kulitnya. Dia memanfaatkan waktu mandinya semaksimal mungkin karena tegang akan bertemu Jeongguk setelah sekian lama mereka bertengkar secara konstan lewat pesan. Taehyung mematikan shower-nya lalu meraih handuk—mengeringkan tubuhnya, menjangkau tiap lekukan tubuhnya sebelum mengenakan jubah mandinya dan mengeringkan rambutnya.

Jemarinya menyentuh rambutnya, menyadari dia harus memotongnya sebentar lagi jika tidak ingin bertengkar dengan ayahnya sebelum dia menyalakan pengering rambut yang mendengung keras. Dengan bantuan jemarinya, dia menyisir helaian basah rambutnya agar terjangkau oleh angin hangat pengering rambut. Saat pengering mati, telinganya berdenging sejenak beradaptasi dengan keheningan dan dia mendengar Jeongguk terkekeh di ranjang.

Taehyung gugup.

Dia menatap dirinya di cermin, menyentuh kerah jubah mandinya lalu dengan sengaja memisahkannya agar memamerkan dadanya lalu melonggarkan ikatan di pinggangnya. Wajahnya merona dan dia tidak yakin apakah itu karena air yang digunakannya mandi terlalu panas atau karena dia menyadari Jeongguk di luar sana menantinya.

Taehyung menghela napas lalu membuka pintu kamar mandi, menoleh ke ranjang dan menemukan Jeongguk sedang tertawa tanpa suara—wajahnya merona oleh bahagia, matanya berkilau oleh tawa yang lahir di bibirnya dan dia menoleh. Dia berbaring di ranjang, terlihat sangat lezat dan menakjubkan dengan rambut menjuntai-juntai dan tepian jubah mandi yang meleleh di tubuhnya, hanya butuh sedikit saja sentuhan untuk membukanya....

Taehyung menggertakkan gigi saat mata mereka bertemu. Tawa Jeongguk surut, berubah menjadi senyuman lebar yang menembus jantung Taehyung. Dia sangat indah, menakjubkan, mendebarkan.... Seluruh hal yang diinginkan Taehyung dalam hidupnya.

“Hei,” sapanya tersenyum, rambutnya diikat longgar di atas tengkuknya dan beberapa anak rambut luruh di keningnya yang tinggi—membentuk tirai tipis yang longgar. “Kemari.” Dia menepuk ruang kosong di sisi kasurnya sementara dia berbaring miring, sangat menggoda seperti Eros.

Salahkah Taehyung jika sekarang dia seketika bergairah karena menatap Jeongguk?

Taehyung melangkah ke sana, merangkak di atas ranjang ke sisi Jeongguk yang langsung merengkuhnya. Taehyung tenggelam dalam aroma tubuhnya yang luar biasa—memeluk pinggangnya yang ramping dan mengeratkannya—tidak sudi Jeongguk melonggarkannya sedikit pun. Dia menumpukan dagunya di bahu Jeongguk yang mengecupi pelipisnya sayang. Telapak tangannya menempel di punggung Taehyung, hangat merebes dari lapisan kainnya dan mendarat di kulitnya.

“Aku mencintaimu.” Bisik Jeongguk lirih di telinganya, mengecupnya lembut dan Taehyung bergidik oleh sentuhan itu.

“Aku juga mencintaimu.” Balasnya setengah menggumam, memejamkan matanya dalam pelukan Jeongguk—mendengarkan deru napas dan debaran jantungnya, mendadak terserang ketakutan jika suatu hari nanti Jeongguk meninggalkannya.

Jika itu sampai terjadi maka Taehyung mungkin tidak akan pernah bisa menjalani kehidupannya dengan normal lagi. Tidak akan pernah bisa.

“Aku sangat mencintaimu.” Tambah Jeongguk lagi, mendesah keras. Taehyung mengaitkan jemarinya di punggung Jeongguk, mengeratkan pelukannya sebagai jawaban.

Jeongguk mungkin sudah menyusup begitu dalam ke hidupnya, melarut ke darahnya, menyublim ke tiap tarikan napasnya dan menyatu dalam debaran jantungnya. Jeongguk adalah nadi yang melangkah di sisinya—dia menjaga Taehyung tetap hidup dan bernapas. Mereka berbaring bersisian, kepala Taehyung di atas lengan Jeongguk, telinganya menempel ke dada Jeongguk yang berdesir lembut oleh debaran jantungnya. Mereka menonton acara aneh televisi, membiarkannya menyala hanya agar tidak terlalu sunyi saat piza dihangatkan dengan microwave yang tersedia di kamar mereka.

Keju yang meleleh, saus margarita yang lezat, dough yang lembut serta Jeongguk yang memeluknya—Taehyung merasa puas dan senang. Dia meringkuk semakin dalam ke pelukan Jeongguk yang terkekeh serak lalu mengecup puncak kepalanya dan bernapas di sana selama beberapa menit hingga Taehyung tenang.

“Kau ingat tidak,” gumam Taehyung teredam di dada Jeongguk.

“Hm?” Sahut Jeongguk yang bernapas di rambutnya. “Ingat apa?”

“Hari saat sup yang seharusnya dihidangkan untuk lunch tumpah di lantai dapur dan butuh satu jam untuk Steward membereskan semuanya serta bagaimana kalian harus memasak sup baru dari nol sementara semua tamu menunggu? Kekacauan itu?”

Jeongguk sejenak diam mendengar kalimat Taehyung dan berdeham; terdengar gugup dan Taehyung tersenyum simpul. “Ingat. Kenapa?” Tanyanya, membelai lengan atas Taehyung dengan lembut—membentuk pola-pola menenangkan dengan ujung jemarinya yang sedikit kapalan.

Taehyung mengulum senyuman karena dia akan mempermalukan Jeongguk. Dia meletakkan tangannya di dada Jeongguk—merasakan suhu tubuhnya yang hangat dan debaran jantungnya di atas telapak tangannya sebelum melanjutkan.

“Kau ingat pesan Whatsapp yang kautarik malam itu? Salah tekan?”

Tubuh Jeongguk menegang dan Taehyung tertawa tanpa suara—tentu saja dia ingat. Sangat ingat. Siapa yang tidak ingat hari itu? Jeongguk yang jengkel mengomel sepanjang malam tentang kekacauan sup yang ditumpahkan commis baru mereka di lantai dapur. Tentang bagaimana mereka harus mencari cara demi mengakali makanan itu agar tamu tidak menunggu lama.

Dan pesan yang ditarik.

I love you.

“Aku sudah membacanya sebelum kau menariknya. Melalui notifikasi.” Taehyung mendongak ceria, menatap Jeongguk yang sekarang merona. Dia tersenyum kecil, mengulurkan tangan dan menyentuh rona merah di atas permukaan wajah Jeongguk.

Jeongguk menatapnya. “Itukah mengapa...?” Tanyanya perlahan dan Taehyung merasakan debaran jantungnya menguat di bawah telapak tangannya—dia takut? Bersemangat? Gugup?

Taehyung menatapnya. “Mengapa aku mendadak mengajakmu minum bersama lalu kabur seperti pengecut?” Dia tersenyum, merasa malu atas dirinya sendiri karena kabur dari mobil Jeongguk karena takut pada perasaannya sendiri.

Dia takut karena jatuh cinta pada Jeongguk, takut karena merasa dirinya tidak normal. Kaget dan kebingungan pada perasaannya sendiri karena dia begitu mencintai Jeongguk—yang jika merujuk pada kuliah dari ayahnya, berarti sama sekali tidak benar. Maka dia memilih cara paling pengecut dengan kabur dari Jeongguk dan bersikap kasar padanya—berharap pemuda itu akan berhenti menghubunginya dan dia bisa melanjutkan kehidupannya dengan tenang.

Namun di sinilah dia kemudian, dalam pelukan Jeongguk—aman, damai, dan luar biasa utuh. Bahagianya berada dalam pelukan Jeongguk, hal yang selama ini berusaha dihindarinya seperti orang bodoh.

Jeongguk adalah bahagianya.

“Ya.” Taehyung tersenyum; sekarang setelah dia menerima bahwa Jeongguk adalah bahagianya, dia merasa sangat ringan dan lega. “Aku merasa... Perasaanku terbalas dan aku memutuskan aku ingin menemuimu walaupun sekali.” Dia menyentuh dada Jeongguk yang berdebar. “Aku membaca kata cintamu dan memutuskan untuk memainkan peran dengan berpura-pura tidak membacanya.”

Jeongguk mengerang panjang dan saat Taehyung mendongak, Jeongguk sedang menutupi wajahnya dengan lengannya—merona hingga ke lehernya. Taehyung terkekeh, membalik tubuhnya hingga menelungkup di sisi Jeongguk lalu mengecup dagunya. Taehyung tertawa, berusaha menarik lengannya dari atas wajahnya namun Jeongguk dengan sengaja mengunci lengannya yang sebesar paha agar Taehyung tidak bisa melepaskannya.

“Kenapa, sih!?” Kekehnya saat jemarinya terpeleset dari lengan Jeongguk dan dia tertawa—sudah lama sekali sejak kali terakhir dia tertawa hingga tersengal, tertawa karena dia benar-benar bahagia alih-alih memalsukan emosinya agar orang lain puas. “Kau malu??” Godanya.

“Diam, Wigung.” Erang Jeongguk dan Taehyung terkekeh.

“Itu berapa?” Tanyanya, mencoba melepaskan lengan Jeongguk dari wajahnya. “Dua-tiga tahun yang lalu! Kau tidak perlu malu lagi!”

Jeongguk mendadak menurunkan tangannya sehingga Taehyung yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik lengannya mendadak terpeleset dan menghantam dadanya. Dia memanfaatkan momentum itu untuk memeluk Taehyung, memenjarakannya di dadanya tidak peduli sekuat apa pun Taehyung menggeliat berusah melepaskan diri.

“Aku tidak berpikir.” Keluh Jeongguk kemudian setelah Taehyung kelelahan dan menyerah dalam pelukanya—setengah tubuhnya berbarng di atas tubuh Jeongguk. “Aku sama sekali tidak berpikir saat menekan kirim, aku hanya berpikir aku sungguh menyukaimu. Rasa suka yang melebihi rasa kagum junior atau rasa sayang seorang adik—aku tertarik secara seksual padamu.”

Taehyung mendadak merona—dia sudah berusaha sekuat tenaga agar tidak memikirkan kata seksual malam itu, mengabaikan bagaimana jubah mandi Jeongguk melorot di tubuhnya dan dia nyaris sinting berusaha menahan diri agar tidak menyingkapnya lalu mencium Jeongguk. Namun saat Jeongguk melemparkan kata itu padanya secara kasual, dia merasa seperti seorang gadis di abad pertengahan yang pertama kali mendengar kata setabu seks dari mulut seorang lelaki terhormat dan siap mengadu kepada ibu atau pengasuhnya tentang itu.

Seluruh tubuhnya bergidik sekarang namun dia berusaha tetap fokus pada apa yang dikatakan Jeongguk kemudian—dia sangat berusaha.

“Ketertarikan asing yang nyata.” Kata Jeongguk, menembus selubung gairah Taehyung yang terasa seperti jeli. “Aku berusaha mengabaikannya. Maksudku....” Jeongguk menghela napas. “Kau selurus penggaris dan pewaris Puri dan kau seorang Tjokorda.” Dia mengerang keras dan Taehyung bergidik—jika terus begini dia benar-benar akan gila.

“Aku tidak punya kesempatan. Terlalu mahal jika kau harus membuang semuanya demi kita.” Dia diam sejenak lalu menambahkan seraya memeluk Taehyung semakin erat ke tubuhnya. “'Kita' pada waktu itu terdengar begitu absurd dan abstrak.”

“Dan sekarang,” dia mendesah berat—penuh rasa syukur yang membuat Taehyung bergidik, namun sekarang bukan karena gairah. “Aku milikmu.”

“Seperti mimpi yang menjadi nyata, kau tahu.” Tambahnya dengan nada menerawang seolah Taehyung tidak ada di hadapannya sekarang.

Taehyung tersenyum lalu menggeliat, mendongak menatap Jeongguk yang menunduk menatapnya—tatapan matanya lembut dan dalam, seperti permukaan danau yang tenang. Mengundang siapa saja untuk terjun ke dalamnya dan berenang, menyelami seberapa dalam tatapan itu. Maka Taehyung merangkak ke atasnya, menjulurkan lehernya lalu menciumnya.

Detik bibir mereka bertemu, sesuatu meledak di dasar perut Taehyung. Lembut namun juga kuat, membuatnya merasa tidak nyaman namun juga nyaman. Seperti ratusan burung mengepakkan sayap mereka di sana, membanjiri perutnya dengan sensasi menggelitik yang nyatanya terasa seperti candu.

Dia mencintai Jeongguk.

Kalimat itu menyala di kepalanya, berdenyar seperti lampu neon dan Taehyung bergidik oleh betapa benarnya kalimat itu terasa sekarang—membanjiri aliran darahnya dengan perasaan cinta yang meletup-letup.

Jeongguk mendesah saat meraih tengkuknya, memperdalam ciuman mereka dengan suara dengkur lembut di tenggorokannya saat Taehyung menyelipkan lidahnya masuk—membelai geliginya dengan lembut sebelum menyentuh lidahnya lalu membelitnya. Taehyung menarik wajahnya, terengah dan Jeongguk tersenyum lembut dengan bibir bawah bengkak setelah Taehyung menyerangnya.

“Maaf karena aku bersikap menyebalkan belakangan ini.” Gumam Taehyung, merasakan keinginan untuk menjelaskan segalanya pada Jeongguk; ketakutannya, kebingungannya, segala rasa tidak percaya dirinya seraya berharap Jeongguk akan memberikannya jalan keluar.

Namun dia takut. Takut pada jawaban Jeongguk, takut menghadapi ketakutannya sendiri. Taehyung menatap Jeongguk yang tersenyum meneduhkan di bawahnya—memberikannya tatapan menyemangati yang membuatnya merasa istimewa dan berharga. Membuatnya bahagia nyaris tanpa berusaha.

Apakah dia membuat Jeongguk bahagia?

“Dimaafkan.” Sahut Jeongguk seketika itu juga, nyaris tanpa berpikir saat mengangkat tangannya dan membelai sisi wajah Taehyung dengan buku jemarinya—lembut sekali. Hangat.

Taehyung menatapnya, terjebak perdebatan sengit antara dirinya dan akal sehatnya tentang komunikasi dengan Jeongguk—tentang masalah emosinya sendiri. Namun dia menghela napas, memutuskan dia akan 'menunjukkan' saja betapa menyesalnya dia alih-alih mengucapkannya karena dia sungguh tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Aku sudah memesan meja untuk kita di Le Gourmet,” bisiknya kemudian dan alis Jeongguk terangkat—kaget dan tertarik. “Tanggalnya belum ada, Arsa sedang mencarikannya tapi kurasa dalam minggu ini.”

Jeongguk menatapnya, geli namun juga senang—dia bersinar oleh emosi itu hingga Taehyung menahan napas. Dia sungguh membuat Jeongguk bahagia? Jeongguk yang seumur hidupnya membahagiakan Taehyung?

“Dalam rangka apa?” Tanyanya, menangkup wajah Taehyung lembut—mencubit pipinya lembut.

Meminta maaf, “Kencan.” Taehyung menatapnya, hatinya berdebar—dia membuat Jeongguk bahagia, sangat bahagia hingga matanya berbinar seperti sinar matahari yang beriak, membias di atas permukaan air. Memantulkan warna pelangi ke seluruh penjuru.

“Kau suka?” Bisiknya, merunduk dan mengecup bibir Jeongguk yang terbuka.

Kekasihnya terkekeh. “Sayang,” gumamnya lembut—parau dan dalam. “Tentu saja aku suka.” Dia menatap Taehyung sayang. “Aku suka sekali. Sangat suka. Terima kasih, Wigung.”

Taehyung meledak oleh rasa bahagia karena berhasil membahagiakan Jeongguk, berhasil membuatnya bahagia. Mendengar dengan telinganya sendiri betapa kekasihnya menyukai pilihan dan rencananya hingga dia menangkup kedua pipi Jeongguk lalu mendaratkan satu ciuman panjang yang keras ke bibirnya hingga Jeongguk terkekeh teredam. Membelai tubuhnya dengan cara yang membuat Taehyung panas dan mendesah kecil saat lidah Jeongguk membelit lidahnya—mengajaknya menari.

No sex today, okay?” Bisiknya lembut, membelai wajah Taehyung yang merona saat dia menarik lepas ciuman mereka. “Kau indah sekali.” Dia mengecup bibir Taehyung yang langsung mendengkur karena sentuhannya—tangan Jeongguk membelai tubuhnya dari luar jubah mandi, mengikuti bentuk lekuknya dengan perlahan.

“Kenapa?” Tanya Taehyung, setengah merengek dan Jeongguk terkekeh—mendesah panjang saat Taehyung menempelkan tubuhnya pada Jeongguk, merasakan Jeongguk yang menegang. “Kau juga ingin,'kan.” Dia tersengal, mengecup dagu dan leher Jeongguk—berusaha menggodanya.

“Sayang,” sengal Jeongguk, menggertakkan giginya. “Sayang, jangan.” Dia mendesah, terdengar sangat kesakitan saat Taehyung menggerakkan pinggulnya perlahan—memastikan tiap gerakannya menyentakkan gairah ke kepala Jeongguk.

“Kenapa?” Tanya Taehyung, kembali merengek. Dia selalu menemukan ini, sisi dirinya yang tidak sabaran dan menjengkelkan tiap kali berada di sekitar Jeongguk—bersikap manja dan menuntut, tidak seperti dirinya yang biasa.

Jeongguk dan sikap tenangnya, sikapnya yang lembut mengayomi membuat Taehyung sangat nyaman. Membutuhkan sikap lembutnya di antara semua sikap keras dan tegas yang sejak dulu mengeroyok Taehyung sepanjang hidupnya. Sikap itulah yang membuatnya kemudian tumbuh merasa yakin Jeongguk akan memberikannya apa saja—dan pada beberapa praktik, dia memang melakukannya untuk Taehyung.

“Oh.” Taehyung mengerjap. “Kau lelah sekali, ya?” Tanya Taehyung kemudian, menyadari Jeongguk mungkin memang sangat lelah hingga menolak seks untuk pertama kalinya seraya berhenti mendadak dan mendapatkan desis penuh kesakitan mirip ular dari Jeongguk.

“Sayang,” erangnya panjang dan parau hingga Taehyung bergidik—memejamkan matanya, membiarkan suara itu meresap ke kulitnya. Dia mendesah tertahan, yakin akan orgasme hanya dengan mendengarkan Jeongguk membisikkan namanya dengan nada itu di telinganya sepanjang malam.

“Jangan berhenti tiba-tiba begitu.” Dia terengah dan Taehyung merasakan tubuh Jeongguk mengeras di bawahnya. “Kau...” Dia tercekat, tersengal berusaha membuat dirinya sendiri bicara—Taehyung menyukai ini. “Menyiksaku.”

Taehyung menunduk, menatap Jeongguk yang berbaring di bawahnya—jantungnya bertalu-talu, memukul rusuknya yang malang dengan kuat hingga nyeri. “Kau lelah, 'kan?” Bisiknya lembut, berusaha mengabaikan tubuh Jeongguk yang berdenyutdan tubuhnya sendiri yang juga berdenyut merindukan Jeongguk.

Jeongguk menggertakkan giginya. “Kurasa,” katanya—nyaris seperti orang linglung karena gairah yang membuat matanya menggelap dengan cara yang amat menakjubkan.

“Kurasa jika kau yang bergerak,” dia menelan ludah dengan sulit. “Kita bisa melakukannya.”

Taehyung menyerigai seketika senang, menyingkap jubah mandinya hingga Jeongguk mengehela napas tajam saat kain itu meluruh dari bahunya dan teronggok di lekukan sikunya. Tubuh Taehyung yang telanjang langsung nampak di hadapannya dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menempelkan telapak tangannya di atas kulit Taehyung yang mendesis oleh sentuhannya.

“Kau indah,” bisik Jeongguk terpesona, nyaris seperti manusia di bawah kendali guna-guna yang kuat. “Kau indah sekali.”

Taehyung merunduk, mengusap jubah mandi Jeongguk turun sebelum menjulurkan lidah dan menghisap dadanya yang mengeras hingga Jeongguk mengelurkan suara tercekik penuh kenikmatan, menjambak rambutnya—tersengal. Kepalanya melesak ke bantal, jelas menikmati manuver yang diberikan Taehyun—mengapresiasinya tidak peduli seberapa lelahnya pun dia.

“Dengan senang hati.” Gumam Taehyung di kulitnya, bibirnya yang lembut dan lembab menggesek kulit Jeongguk. “Dengan senang hati, Sayang.”

Taehyung bisa bicara dengan Jeongguk lain kali.

'Kan?

*

Part 2


tw // obsessive and abusive behavior , overprotective .

cw // toxic self-love , dom Taehyung , Taekook interaction with women , skin-ship .

ps. toxic self-love adalah keadaan di mana kamu menyangkal suatu keadaan yg dapat merugikanmu karena sudah terlalu nyaman dengan kondisi yg sekarang. pss. nulis part ini agak melelahkan karena emosi Taehyung bikin gak nyaman banget jadi pelan2 ya bacanya, take care of yourself <3


Taehyung mengerutkan alisnya saat mengamati bagaimana Mirah membantu Jeongguk mengambil makanannya persis sebagaimana Taehyung ingin diperlakukan; dia hanya mendekatkan makanan ke arah Jeongguk dan mengizinkannya mengambil sendiri alih-alih mengambilkannya seperti yang dilakukan Devy pada Taehyung.

Dia ingin diperlakukan seperti itu, bukan bayi yang harus dilayani dan tidak bisa mengambil makanannya sendiri. Mirah memberikan ruang yang cukup untuk Jeongguk mengurus dirinya sendiri tanpa kehilangan kesan hormat pada Jeongguk. Kenapa dia harus sangat sempurna?

Setelah bermain, mereka memutuskan untuk menggelar tikar di tempat landai di ujung taman, di bawah pohon bunga Desember yang belum berbunga dan mulai membuka makanan yang mereka bawa. Semuanya nampak lezat walaupun sudah agak dingin; Mirah memasak makanan cukup untuk mereka berempat dan Taehyung sendiri mengakui bahwa masakannya lezat. Jeongguk duduk di seberangnya, sedang makan dengan Mirah di sisinya yang mengobrol dengan Devy.

Taehyung tadi menyadari bagaimana mereka duduk berdua di dekat restoran dan mengobrol. Juga melihat saat Jeongguk menepuk kepalanya lembut dan mengusap sisi wajahnya dengan gestur yang sangat menyejukkan—mustahil untuk tidak jatuh cinta pada perlakuan lembutnya, pada matanya yang dalam dan teduh, pada tutur kata Jeongguk yang sopan dan hangat.

Itulah yang membuat Taehyung sendiri jatuh cinta. Jeongguk selalu bersikap lembut, penyabar, dan mengalah; sosok yang tidak pernah ada di hidupnya.

Ketika semua orang di sekitarnya memaksa Taehyung menjadi apa yang mereka inginkan, Jeongguk menerimanya. Ketika semua orang menegurnya saat bersikap tidak sesuai dengan kemauan mereka, Jeongguk mengalah. Dia bahkan tidak pernah menaikkan suaranya saat bersama Taehyung. Sesuatu yang sangat asing dan anyar di kehidupan Taehyung. Kelembutan yang baru pernah Taehyung rasakan selama dia hidup.

Maka tidak salah, 'kan, jika dia bersikap sangat overprotektif pada Jeongguk?

“Masakanmu lezat.” Puji Jeongguk tulus, tersenyum pada Mirah saat mereka membereskan tempat-tempat kosong makanan mereka dan membuka plastik. Dia membantu tunangannya membereskan tikar mereka.

Taehyung menatapnya, melirik kedua tangannya yang bekerja—kedua cincinnya terpasang erat di jemarinya. Satu cincin emas pertunangannya dan satu cincin Tiffany mereka. Teringat pertanyaan Mirah tentang kedekatannya dengan Jeongguk tempo waktu dan sejenak berpikir bahwa gadis ini terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi Jeongguk.

Memang apa urusannya dengan Mirah jika mereka dekat? Taehyung mungkin sedang merajuk, tapi memangnya kenapa? Dia berhak merajuk karena Jeongguk miliknya. Dan Mirah sedang bersikap tidak sopan pada miliknya, mendesakkan dirinya seolah dia memiliki Jeongguk.

“Terima kasih, Bli Gung.” Sahut gadis itu, tersenyum lebar—nampak dua kali lebih bahagia daripada pagi tadi dan Taehyung menggertakkan gigi. Pasti karena Jeongguk bersikap baik padanya tadi. Kenapa Jeongguk tidak bisa bersikap biasa saja padanya?

Dia jelas-jelas jatuh cinta pada Jeongguk, kenapa dia tidak memberikan batas pada Mirah sekarang? Kenapa membiarkannya berharap? Matanya melirik cincin emas mereka dengan resah; apakah karena mereka sudah bertunangan sekarang maka Jeongguk berpikir dia akan membuka hatinya untuk Mirah? Lalu melupakan Taehyung?

Dia menggeleng, tidak, tidak. Jeongguk sangat mencintainya, dia tidak bisa hidup tanpa Taehyung. Taehyung sudah melihatnya sendiri dengan mata kepalanya betapa hancurnya Jeongguk saat Taehyung meninggalkannya, dia tidak mungkin melepaskan Taehyung. Dia tidak akan pernah meninggalkan Taehyung—tidak akan pernah.

“Setelah ini kita berangkat ke Amed?” Tanyanya sedikit terlalu ketus, tapi peduli setan. Dia menyela obrolan Jeongguk dengan Mirah dan tatapan sayang Mirah pada Jeongguk—tidak bisakah gadis itu sedikit menyembunyikan perasaannya? Kenapa dia merasa seluruh dunia harus tahu?

Jeongguk menatapnya, kaget dan bingung berkilat di matanya yang teduh saat menyadari nada ketus Taehyung. “Ya,” dia mengangguk, memperhalus suaranya. “Kau sudah ingin ke sana sekarang?” Mendengar permintaan maaf tersirat kental Jeongguk di suaranya yang lembut.

Taehyung diam-diam mendengus senang dan puas saat Jeongguk menaruh perhatian sepenuhnya padanya dan melirik Mirah yang membereskan tempat makan mereka. Berharap gadis itu menyadari posisinya dan jangan main-main pada milik Taehyung.

“Ini baru pukul dua siang,” sahut Devy yang masih mengunyah potongan melon manis sambil membantu Mirah mengunci rantang makanan mereka. “Kita bisa menyelam sebentar lalu menunggu sunset sambil minum bir, benar?”

Alis Taehyung mengerut. “Kau minum bir?” Tanyanya pada Devy, melemparkan tatapan tidak setuju yang membuat gadis itu mengedikkan sebelah bahunya ringan lalu meringis.

“Jika Wigung tidak mengizinkan,” katanya kemudian, melemparkan senyuman simpul pada Taehyung yang memicingkan mata, tidak suka. “Maka aku tidak minum.”

Taehyung mengangguk. “Memang tidak.” Katanya tegas lalu meraih botol minumnya dan meneguk isinya setengah. “Demi kebaikanmu sendiri, kau besok harus dinas pagi, 'kan? Bagaimana jika kau mabuk lalu terlambat bangun?”

Devy berpikir sejenak lalu mengangguk. “Baiklah.” Katanya kemudian, kalem. “Aku ikut kata Wigung saja.”

“Pintar.” Sahut Taehyung seketika, puas saat Devy menuruti keinginannya—puas dengan perasaan dihargai saat seseorang mendengarkan kata-katanya karena Taehyung tidak ingin mendengar gadis itu merajuk besok jika dia terlambat koas.

Mirah mendadak berhenti lalu menatapnya sejenak, mengerutkan alis sebelum bergegas tersenyum dan kembali membereskan tempat makanan mereka sementara Taehyung mengerutkan alis padanya—apa masalah gadis itu padanya sekarang?

Salahkan Taehyung karena selalu bersikap getir pada Mirah. Dia benar-benar membuat Taehyung gelisah kadang kala, belum lagi bayangan bagaimana Jeongguk menggenggam tangannya tadi dan mengusap kepalanya—menatapnya sendu dan dalam.

Tidak ada seorang pun, Taehyung bersumpah, tidak ada seorang pun yang tidak akan jatuh cinta pada tatapan itu. Dan Mirah bukan pengecualian sama sekali apalagi dengan cincin emas melingkar di jemari tangan kiri mereka—mengumumkan komitmen mereka yang walaupun adalah kepura-puraan bagi Jeongguk, namun untuk Mirah dan kedua keluarga besar mereka itu adalah kenyataan.

Taehyung merasa gelisah terbit di dasar perutnya, mendorong perasaan untuk meraih Jeongguk dan meremas tangannya—memastikan lelaki itu masih miliknya, masih mencintainya, masih rela mati untuknya dan belum berpaling ke komitmen baru. Jalan lurus tanpa hambatan ke kehidupan yang lebih mudah dengan menikahi Mirah.

Mereka kemudian bersiap ke Amed yang berjarak sekitar empat puluh menit dari Tirta Gangga setelah Jeongguk menelepon temannya dan memastikan peralatan menyelam mereka sudah disiapkan. Dia berjalan di sisi Taehyung, membiarkan Mirah dan Devy melangkah di depan—nampak sedikit bersalah dan Taehyung puas dengan itu. Sudah seharusnya dia merasa bersalah.

“Kau marah?” Bisiknya saat mereka melangkahi jalan setapak menuju pintu keluar dan Taehyung mendengus di bawah napasnya. “Karena apa?”

Taehyung meliriknya, merasa semakin jengkel. Bagaimana bisa dia bertanya karena apa? “Memangnya kau tidak bisa sedikit lebih biasa saja pada Mirah?” Desisnya dan Jeongguk mengerjap, melirik Mirah di depan mereka—bagian bawah dress-nya berdesir oleh angin.

“Gadis itu jatuh cinta padamu, jika kau terlalu buta untuk melihatnya.” Gerutu Taehyung, menggertakkan giginya berusaha agar tidak membentak karena mereka sedang di tempat umum. “Dan kau malah memberikannya perhatian dan harapan bahwa kalian....” Dia berhenti bicara, menghela napas dalam-dalam. Menenangkan dirinya.

“Punya kesempatan.” Katanya akhirnya setelah menghitung hingga sepuluh lalu menatap Jeongguk, memicingkan matanya dengan jantung berdebar begitu kuat—penuh oleh rasa anxious yang beracun. “Atau... kau memang sengaja melakukannya karena dia punya kesempatan denganmu?”

Jeongguk berhenti melangkah, nampak seperti baru saja ditonjok tepat di ulu hati. Wajahnya pias saat menatap Taehyung yang berhenti beberapa meter di depannya, menatapnya jengkel namun puas karena Jeongguk menyadari apa yang coba dikatakannya.

“Taehyung,” bisiknya lembut—nyaris dikalahkan suara angin dan teriakan anak-anak yang berenang di kolam renang. “Wigung.” Ulangnya, lembut nyaris memohon.

Taehyung mengangkat tangannya, memberi tanda pada Jeongguk untuk berhenti bicara. “Aku tidak mau membicarakannya sekarang. Kita di tempat umum.” Katanya dengan nada tegas lalu melangkah meninggalkan Jeongguk, perasaan puas dan berkuasa mekar di dadanya—membuat adrenalinnya membuncah dan perasaan bahagia aneh mengalir di pembuluh darahnya.

Dia tidak menoleh untuk menyadari Jeongguk menyusulnya beberapa detik kemudian dan rahangnya kencang. Mereka bersidiam selama melangkah ke tempat parkir dan Taehyung mengemudi. Dia masuk ke kursi pengemudi, mengatur kursinya agar sesuai dengan postur tubuhnya saat Jeongguk membuka pintu penumpang di sebelahnya.

“Dayu,” katanya tanpa menoleh, memasang sabuk pengamannya. “Duduk di depan.” Tambahnya lalu memundurkan sedikit kursi pengemudi, tanpa sedikit pun melirik Jeongguk yang membeku di posisinya sebelum dia mengayunkan pintu terbuka, membantu Devy memasuki kursi penumpang.

“Terima kasih, Bli Gung!” Katanya ceria saat menyelipkan dirinya masuk, ekor kuda lembabnya bergoyang saat dia menutup pintunya.

Jeongguk harus tahu Taehyung sedang merajuk. Melihatnya merasa bersalah membuat Taehyung merasa jauh lebih baik.

Maka Jeongguk mundur ke belakang, membuka pintu untuk Mirah sebelum berlari kecil melewati bagian belakang mobil dan duduk di sisi Mirah yang menoleh padanya; Taehyung melirik dari spion tengah, menyadari gadis itu membantu Jeongguk melicinkan sabuk pengaman sebelum memasukkannya ke metal pengaman. Memicingkan mata dengan jengkel, dia baru saja memberi tahu Jeongguk agar tidak bersikap baik pada Mirah.

Dan sekarang dia berterima kasih pada Mirah dengan suara lembut dan tatapan meneduhkan yang bisa menenggelamkan siapa saja di matanya yang gelap itu. Taehyung menggertakkan giginya saat menyalakan mesin mobil dan meluncur melewati jalan teduh Abang ke arah Amed yang diapit persawahan serta udara pedesaan yang segar. Mulai menyesal karena meminta Devy duduk di sebelahnya karena berarti Mirah dan Jeongguk mengobrol di belakang dan mereka sengaja merendahkan suara mereka sehingga Taehyung tidak bisa mendengarnya sama sekali.

Jeongguk mengatakan sesuatu dan Mirah tertawa, suara tawanya lembut sekali—berdenting seperti genta angin. Wajahnya merona dengan kebahagiaan murni berkilau di matanya. Dia menatap Jeongguk yang tidak menatapnya dengan pupil mata membesar oleh rasa bahagia, mendengarkan kalimatnya dengan penuh perhatian dan ketertarikan. Taehyung menghela napas dalam-dalam beberapa kali, menginjak gas lebih dalam dari yang seharusnya dilakukannya. Kenapa dia setuju pada ide bodoh kencan ganda ini hanya untuk melihat Jeongguk bermesraan dengan Mirah?

Dia menggenggam kemudinya lebih kencang lagi.

“Wigung,” kata Devy, menyandarkan diri di kursi penumpang. Angin menerbangkan anak rambut di wajahnya, memberikan aroma persawahan segar ke dalam mobil. “Nanti saat menyelam, pegangi Ayu, ya?” Dia menoleh, tersenyum lebar pada Taehyung dan pemuda itu, terlepas dari rasa jengkel yang bercokol di jantungnya, membalas senyumannya.

“Tentu, tentu.” Sahutnya, mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya lalu mengusapnya turun—meraih ekor kudanya dan menariknya lembut. Memangnya hanya Jeongguk yang bisa begitu? “Kau sama sekali tidak bisa berenang?”

Devy meringis, mengedikkan bahunya—anak baik Devy itu, Taehyung akan sangat mengapresiasinya jika bisa menjadi adik kandungnya. “Bisa, tapi tidak terlalu lancar. Jadi mungkin harus dibimbing.” Dia menelengkan wajahnya, nyengir dan Taehyung mendenguskan senyuman kecil.

“Baiklah. Tidak masalah sama sekali. Aku akan menjagamu aman.” Katanya, melirik Jeongguk yang menatapnya lewat bayangan di spion tengah mobil.

“Terima kasih, Wigung!”

Dia membalas tatapan Jeongguk sejenak sebelum kembali menatap jalanan di depannya. “Kembali kasih, Ayu.”

Mereka tiba di Amed yang lumayan ramai oleh wisatawan yang juga akan menyelam untuk melihat terumbu karang Amed yang sudah terkenal ke mancanegara. Taehyung memarkir mobilnya, menarik rem tangan sebelum para gadis bergegas keluar dan Jeongguk diam di kursinya, menunggu Taehyung.

“Maafkan aku.” Kata pemuda itu saat Taehyung membuka sabuk pengamannya dan menarik kunci mobil. “Aku tidak tahu apa salahku, tapi maafkan aku. Atas apa pun itu. Tolong, jangan seperti ini.”

Taehyung menghela napas, menolehkan tubuhnya dan menumpukan sikunya di atas sandaran kursi pengemudi. “Aku sudah bilang,” katanya dingin. “Aku tidak mau membicarakan ini di sini sekarang.”

“Wigung sayang,” Jeongguk menghela napas, dia membuka mulutnya dan Taehyung menatapnya—menantang Jeongguk untuk mengatakan apa pun yang ada di kepalanya. Pemuda itu menangkap tatapannya dan menghela napas dalam sekali lagi.

Dan menutup mulutnya, mengalah seketika itu juga.

Dia keluar dari mobil dalam diam dan Taehyung menyusulnya. Mereka melangkah ke arah teman Jeongguk yang sudah menunggu dengan sekeranjang peralatan menyelam serta empat tabung oksigen. Sejenak tidak yakin melepaskan Devy untuk menyelam dan akhirnya setuju saat dia ikut untuk mendampingi jika terjadi sesuatu dengan Devy. Mereka bergegas, menyiapkan diri mengenakan perlengkapan menyelam yang ketat dan membuat risih. Mirah menyelipkan rambutnya ke dalam pakaian menyelamnya, memastikan semua helainya sudah terikat kencang di dalam. Mereka kemudian diberikan arahan, diajari cara untuk menggunakan oksigen mereka agar tidak tersedak dan segala keamanan selama menyelam.

Kemudian, mereka menaiki perahu hingga ke titik menyelam, dibantu untuk mengenakan semua peralatan mereka. Mengecek apakah tabung oksigen mereka bekerja sebelum pemandu mereka terjun dan membantu mereka menceburkan diri. Taehyung menceburkan diri, dengan tabung oksigen menghantam air terlebih dahulu agar cepat tenggelam. Dia menghembuskan sisa napasnya dari hidung agar tubuhnya secara otomatis memberat turun.

Devy sejenak kesulitan menyelam sebelum dia menemukan caranya dan mereka berenang ke dalam air dengan Devy didampingi dua pemandu—Taehyung di sisi kanan dan pemandu di sisi lainnya. Sementara Mirah dan Jeongguk merenang tangkas seperti sepasang duyung—Mirah nampak tangguh berenang mengikuti arus. Taehyung sungguh bertanya-tanya apa yang gadis itu tidak bisa lakukan karena semakin mengenalnya, dia semakin nampak sempurna. Nyaris tidak memiliki kecacatan sedikit saja agar Taehyung bisa membencinya.

Mereka berenang, meluncur ke lingkaran patung penuh terumbu karang karya seniman lokal Karangasem yang dibuat untuk melestarikan terumbu karang. Menikmati pemandangan di dalam sana, berenang bersama ikan-ikan hias yang berhamburan saat mereka mendekat. Anemon-anemon laut bergerak-gerak mengikuti arus air kedalaman. Devy nampak senang dan bersemangat walaupun harus dijaga ketat dengan pemandunya agar tidak naik ke permukaan atau tenggelam. Syukurnya dia bisa sedikit berenang.

Mereka berputar beberapa kali, mengamati terumbu karang dari dekat sebelum berenang kembali ke permukaan. Sudah lumayan sore saat Taehyung selesai membasuh air asin dari tubuhnya, keluar dari kamar mandi umum dengan rambut basah menetes di punggungnya. Jeongguk sedang membantu Mirah memisahkan rambutnya yang kusut sementara Devy di sisinya merekam keadaan sekitar dengan ponselnya. Rasa iri mencengkeram dadanya; teringat bagaimana Jeongguk selalu membantunya memisahkan rambut yang kusut saat rambutnya panjang.

Dan sekarang rambutnya tidak lagi sepanjang itu. Puri terlanjur menginjaknya, selalu memaksanya memotong rambut tiap kali dirasa terlalu panjang. Dia menyentuh rambutnya sendiri, meraih sejumput rambut dan menyadari rambutnya terlalu pendek untuk bisa kusut dengan jengkel. Dia tidak akan mau menerima ajakan kencan ganda mana pun lagi kedepannya.

“Kita makan?” Tanyanya, menyela adegan romantis Jeongguk dan Mirah di depannya dan puas saat Jeongguk bergegas melepaskan rambut Mirah ketika dia mendekat, menjejalkan handuk basah ke tasnya.

“Nanti bau,” keluh Devy pelan lalu bergegas meraihnya, memisahkan handuk basah itu ke kantung plastik terisi pakaian mereka yang basah. “Makan apa kita hari ini?” Tanyanya ceria, mengikat plastik itu.

Jeongguk menatap Taehyung, nampak terluka. “Kita pergi ke restoran Italia di dekat sini?” Tawarnya, menatap kedua perempuan yang mengangguk.

Restoran Italia yang ditawarkan Jeongguk berada di atas bukit yang memiliki pemandangan lepas ke lautan—menyajikan pemandangan matahari terbenam terbaik di sana. Mereka memesan makanan dan juga wine; Jeongguk dan Taehyung masing-masing memesan piza ukuran besar sementara para perempuan memesan pasta. Aroma makanannya lezat saat tiba, hangat dan tajam oleh oregano. Taehyung bisa melihat pastanya merupakan buatan rumah dari teksturnya saat mereka makan.

Mirah mencondongkan tubuhnya sedikit ke Jeongguk, makan dengan sangat rapi dan tenang. Kecantikannya berkilau oleh sinar matahari tenggelam, dia benar-benar seperti peri yang berdenyar oleh serbuknya. Taehyung tidak bisa membencinya, itulah kenapa dia sangat membencinya. Syukurlah Devy di sisinya mengajaknya mengobrol tentang hal-hal remeh yang mengalihkan isi kepalanya dari Jeongguk yang tertawa parau oleh gurauan Mirah.

Kapan terakhir kali Jeongguk tertawa karena Taehyung? Mereka menghabiskan seminggu ini dengan terlalu banyak bertengkar dan Taehyung lelah sekali.

“Oh, ya.” Kata Taehyung kemudian saat meja mereka hening sesaat. “Kau bekerja di mana, Mirah?”

Mirah mendongak dari pastanya, kaget karena diajak bicara sementara Jeongguk di sisinya menatap Taehyung—sedikit takut. Dia seperti seekor anak anjing yang tertekan, berjengit kaget tiap kali Taehyung bersuara.

“Di sekitar Renon, Bli Tjok.” Sahutnya tersenyum ramah, matanya berkilau. “Di bagian Marketing Communication, fokus di branding.”

Taehyung mengangguk-angguk paham seraya meraih sepotong piza, mengizinkan Devy meraih sepotong juga untuk dirinya sendiri setelah menghabiskan fettuccine-nya. “Kenapa tidak memilih bekerja di Australia?” Tanyanya kemudian saat menyingkirkan pinggiran pizanya.

Jika dia dan Jeongguk makan bersama, pemuda itu yang menghabiskan pinggiran pizanya untuk Taehyung karena tidak seperti kebanyakan orang dia sangat menyukai pinggiran piza dan pinggiran roti, sama seperti dia menerima potongan kulit ayam yang Taehyung tidak makan saat tidak bisa mendapatkan dada lembut tanpa tulang dan kulit.

“Sebenarnya,” Mirah tersenyum dan melirik Jeongguk.

Taehyung menangkap ekspresi horor Jeongguk dan menyadari dengan sangat terlambat dia menanyakan hal yang salah.

Dia membuka mulut hendak mengalihkan pembicaraan, namun terlambat karena Mirah melanjutkan seraya menyentuh tangan kiri Jeongguk di meja makan. Dia memainkan cincin tunangan mereka—sejak kapan dia menjadi sangat berani? Taehyung menatapnya, seperti seseorang baru saja menyurukkan selang ke hidungnya dan mengalirkan air ke sana. Jeongguk di sisi Mirah menegang, kaget dengan sentuhan mendadak itu dan nyaris tidak berhasil menahan dirinya agar tidak bangkit karena kaget.

“Aku malah kembali ke Indonesia karena Bli Gung.” Dia tersenyum, membuat wajahnya yang sebulat bulan purnama berkilauan oleh rasa bahagia dan rona merah menyebar di atasnya. “Ajik menawariku perjodohan lalu memberikanku foto Bli Gung. Aku memutuskan pulang karena aku tertarik pada Bli Gung pada pandangan pertama di fotonya.”

Taehyung duduk di sana, terenyak di kursinya merasakan darah surut dari wajahnya. Mirah terdengar sangat ringan dan penuh percaya diri saat mengatakannya, menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk memutar cincin di jemari Jeongguk—nyaris memamerkan Jeongguk sebagai miliknya.

Di hadapan Taehyung.

Devy tertawa di sisinya, “Menggemaskan sekali!” Dia tersenyum lebar. “Aku juga sebenarnya tidak setuju dengan perjodohannya. Tapi saat bertemu Wigung,” dia menoleh ke Taehyung—tersenyum lebar, menggemaskan seperti seekor anak kucing. “Boom!” Katanya mengusap tangan Taehyung yang masih membeku di meja.

“Dia luar biasa.” Katanya dan Mirah tertawa tanpa suara, menutup bibirnya dengan telapak tangan. “Sayang sekali dia memotong rambutnya, padahal itulah yang membuatnya sangat seksi.”

“Benar.” Sahut Jeongguk seketika, jelas tidak berpikir hingga Mirah menoleh menatapnya dengan raut campuran antara senyuman dan ekspresi yang tidak bisa ditebak—kaget? Bingung?

Devy menatap Jeongguk, mengerjap. “Benar apa, Bli?” Tanyanya kikuk, tersenyum canggung karena dia baru saja memuji Taehyung seksi dan Jeongguk membenarkannya.

Dan di belahan dunia heternormatif dan patriarki tempat mereka hidup ini, tidak ada satu pun lelaki yang memuji lelaki lain dengan kata 'seksi'. Jantung Taehyung mencelos dan Jeongguk mengerjap, menyadari kesalahannya dan langsung tertawa.

Taehyung tersanjung karena Jeongguk berpikir dia seksi—oh sangat tersanjung dan akan meminta pemuda itu memujinya begitu saat dia bergerak di atas selangkangan Jeongguk, namun tidak sekarang ketika kedua perempuan yang dijodohkan dengan mereka bisa mendengarnya.

“Dia luar biasa.” Kata Jeongguk, merevisi. “Dia sangat berbakat.” Dia menambahkan tawa canggung di kalimatnya—nampak panik dan Taehyung menggertakkan rahangnya. “Kau tahu tidak, dia punya tiga resep yang dimasak di semua Alila di seluruh Indonesia dengan namanya berada di plakat?” Dia mengalihkan pembicaraan dengan mulus.

“Itulah kenapa aku belajar sangat banyak dari Wigung. Dia senior dan sangat berbakat, mendidikku banyak hal tentang memimpin dapur dan menjadi kepalanya. Dia luar biasa, ya. Aku setuju.”

Jeongguk mulai meracau panik sekarang dan Taehyung menendang tulang keringnya di bawah meja hingga Jeongguk meringis kaget namun berhasil membuatnya tutup mulut. Namun dia berhasil mengalihkan pandangan kedua perempuan itu ke topik baru.

Devy terkesiap dan menoleh ke Taehyung. “Kenapa Wigung tidak cerita?” Tanyanya.

Taehyug melirik Jeongguk, tegang sebelum tersenyum kaku. “Tidak penting.” Sahutnya dan Devy mengerang.

“Lihat!” Katanya pada Mirah yang menatap keduanya bergantian hingga perut Taehyung terasa mulas—Jeongguk keceplosan dan dia benar-benar meletakkan mereka berdua dalam masalah.

“Semakin hari, dia semakin membuatku jatuh cinta.”

Taehyung seketika menahan napasnya, seolah seseorang baru saja menendang perutnya karena bagaimana ringannya Devy melemparkan kata cinta di meja makan. Taehyung dan Jeongguk bertukar pandangan sementara kedua perempuan mereka tertawa, menceritakan bagaimana pendapat mereka tentang kedua pasangan mereka—memuji pekerjaan mereka dan bagaimana keduanya merasa chef bukan berarti harus selalu memasak.

Jika kedua chef itu heteroseksual, mungkin kedua perempuan itu adalah pasangan paling sempurna. Namun karena mereka adalah seorang homoseksual, pengertian itu sama sekali tidak dibutuhkan.

Taehyung menyadari bahwa mereka mungkin terjebak dalam masalah yang jauh lebih rumit dari apa yang dipikirkannya.

*

Part 1


tw // inferiority , passive personality , self-doubt , toxic relationship .

cw // taekook interaction with woman , skin-ships .

ps. tolong. jaga. komentar. kalian.


Jeongguk berpikir suasana di dalam mobil akan sangat kikuk karena inilah pertama kalinya dia dan Taehyung membawa kedua perempuan itu ke dalam perjalanan mereka. Bukan ide yang disukai Jeongguk sama sekali, sungguh. Namun Taehyung nampak sama sekali tidak keberatan dengan itu sama sekali dan Devy sangat bisa diandalkan untuk membangun suasana ceria dan positif.

Mereka semua berada di Yaris Jeongguk, Taehyung di sisinya sementara para perempuan di belakang tertawa ceria sambil menunduk ke layar ponsel mereka membicarakan akun gosip yang membuat kepala Jeongguk agak pening karena dia sungguh tidak tertarik membicarakan kehidupan orang lain. Namun keduanya nampak sangat bahagia maka dia mengabaikannya.

Hari Sabtu yang cerah dengan langit sebiru permen dan awan tipis menggantung rendah di beberapa tempat. Taehyung tiba di Puri pukul sembilan pagi bersamaan dengan Mirah yang dijemputnya dari Griya neneknya membawa keranjang terisi makanan yang beraroma lezat bumbu. Mereka langsung berangkat setelah Taehyung menerima pujian dan tepukan hangat penuh rindu dari ayahnya—meminta pemuda itu datang menginap lagi dan walaupun hatinya nyeri karena ayahnya sangat menyukai Taehyung dengan cara yang seharusnya dilakukannya pada anak kandungnya, Jeongguk senang.

Mereka memiliki 'izin' ayahnya untuk menginap di Puri dan akses masuk tak terbatas untuk Taehyung yang membuat keduanya bertukar pandang diam-diam. Yugyeom melirik keduanya seraya menyeruput cokelat yang dibuatnya sendiri dari kamarnya; tahu apa yang akan dilakukan kakaknya jika 'kekasih'nya datang ke Puri dan memilih diam. Jeongguk suka adiknya, sangat menyukainya. Dia memang menyukai adiknya namun setelah penerimaannya yang luar biasa pada orientasi seksualnya, dia merasakan ledakan rasa sayang lain yang lebih hebat.

Melihatnya berinteraksi dengan Taehyung membuat hati Jeongguk hangat.

Makanan di bagasi belakang tercium lezat sekali; Mirah memasak ayam dan ikan dari aromanya, dengan sambal kecombrang yang harum menggugah selera. Dia juga sepertinya memasak serombotan untuk Taehyung karena Jeongguk mendengar keduanya mendiskusikan itu. Dia tersentuh pada bagaimana keduanya sangat memerhatikan hal-hal kecil tentangnya dan Taehyung hingga titik dia merasa tidak enak hati karena tidak bisa membalas perasaan tulus itu.

Kedua tangannya berada di roda kemudi, mengenakan kedua cincinnya agar tidak ada yang marah padanya.

Namun entah bagaimana cincin di tangan kirinya terasa sangat berat dan janggal sementara kekasihnya duduk di kursi penumpang, menumpukan sikunya di jendela yang terbuka—rambutnya terbang meriap di atas tengkuknya oleh angin. Nampak berada di suasana hati yang baik setelah bertukar high five dengan Yugyeom—dia suka melihat interaksi Taehyung dengan adiknya, tidak keberatan sama sekali berbagi saudara dengan Taehyung.

“Aku sudah menghubungi temanku di Amed,” kata Jeongguk saat mereka meluncur ke arah Abang, ke Tirta Gangga—lokasi pertama mereka hari itu. “Mereka sudah menyiapkan segalanya untuk kita lalu aku juga sudah memesan meja di restoran di dekat sana, tempat terbaik untuk sunset.” Tambahnya saat memasang sein dan membelok.

“Maaf, Bli Gung,” Devy menjawab dari belakang dan Jeongguk melirik spion tengah mobilnya untuk melihat ekspresinya. “Tapi saya tidak bisa berenang?”

Jeongguk tersenyum, memfokuskan pandangannya ke jalanan yang berkelok ke arah Abang. “Tenang saja, ada diver pendamping yang akan menemanimu.” Tambahnya sebelum melirik Taehyung, berpikir apakah lelaki itu akan menawarkan diri untuk menemani Devy berenang atau tidak.

“Aku yang menemanimu.” Katanya persis setelah Jeongguk berhenti berpikir dan dia menghela napas—mereka memang harus melakukan peran mereka sendiri-sendiri sebagai 'calon suami' yang baik bagi keduanya. Memastikan para perempuan cukup bahagia dan merasa dicintai sehingga tidak menambah masalah di Puri.

Pertanyaannya hanyalah, sampai kapan mereka harus terus begini?

Jeongguk menatap jalanan di depannya, mendengarkan Taehyung menghibur Devy tentang berenang menyelam tanpa tabung oksigen dan bagaimana itu semua aman tergantung bagaimana dia menahan napasnya. Mendengarkan bagaimana dia akan 'menjaga Devy aman' dan merasakan denyutan aneh di dadanya—apakah seharian ini dia akan menyaksikan Taehyung menyentuh Devy?

Dia tidak pernah memikirkannya, selama ini konsep tentang Devy selalu samar dan abstrak di kepalanya. Nyaris seolah gadis itu hanyalah karakter fiksi yang diciptakan Taehyung, tidak nyata sama sekali. Namun saat akhirnya melihatnya, dan menyadari betapa dia nampak sangat ceria dan penuh percaya diri membuat Jeongguk sejenak merenung. Dan sekarang dia mungkin akan menyaksikan Taehyung menjaga dan mengurus anak itu—seperti seorang calon suami yang baik.

Dia mulai menyesali keputusannya menyetujui kencan ganda ini.

Genggaman Jeongguk di roda kemudi sedikit mengencang, merasa tidak nyaman. Apalagi setelah pertengkaran mereka beberapa hari lalu mengenai cincin—Jeongguk terbelah antara ingin membahagiakan Taehyung, menuruti apa yang diinginkannya, apa saja agar dia tidak marah dan mulai meracau tentang pergi dari hidupnya serta kenyataan bahwa Mirah mulai menyadari satu-dua hal.

Dia gadis cerdas, menghabiskan beberapa tahun di Australia. Jeongguk yakin dia familier dengan LGBTQ di sana, komunitas yang mulai membesar dan berjuang untuk hak mereka. Pertanyaannya tentang seberapa dekatnya Jeongguk dengan Taehyung membuatnya sedikit ketakutan; tidak berani membayangkan jika gadis itu menyadarinya dan membawa masalah itu langsung ke ayah Jeongguk alih-alih ke Jeongguk sendiri.

Dia benar-benar berharap—sungguh berharap Taehyung bisa sejenak berhenti dan mendengarkannya. Tidakkah dia menyadari bahaya apa yang mengintai mereka berdua sekarang dengan kecurigaan Mirah padanya? Pertanyaan menjurus yang membuat Jeongguk mulas dan ketakutan. Atau Taehyung hanya fokus pada keegoisannya sendiri tentang memiliki Jeongguk?

Jeongguk melirik cincin Tiffany mereka yang berkilauan di jari kanannya. Dia tidak pernah mengenakan aksesoris selama ini—mengganggunya saat bekerja dan kedua orang tuanya tahu itu. Maka diam-diam, setiap bertemu keluarganya di meja makan Jeongguk melepas cincin itu. Berharap Taehyung tidak akan pernah tahu karena secinta apa pun dia pada Taehyung, dia belum siap menghadapi keluarganya demi memperjuangkan orientasi seksualnya.

Secara konstan dia merasa dirinya terbelah, menjadi Jeongguk yang diinginkan Purinya; heteroseksual dan penurut. Jeongguk yang diinginkan Taehyung; homoseksual dan penurut, menyayanginya dan memastikan Taehyung mendapat segala hal yang terbaik di dunia ini. Jeongguk yang dibutuhkan adiknya; figur kakak yang baik, mencontohkan pada Yugyeom bagaimana menghadapi kehidupan.

Jeongguk yang diinginkan Mirah; calon suami yang akan membahagiakannya, peran terberat dalam hidupnya sejauh ini karena dia harus memaksakan ketertarikan dan sentuhan fisik saat dia sama sekali tidak nyaman dengan itu.

Nyaris tidak ada ruang untuk dirinya sendiri, Jeongguk yang dirinya sendiri inginkan. Dia bahkan tidak yakin apa yang dirinya sendiri inginkan pada titik ini, dia terbiasa menerima ekspektasi dari orang-orang di sekitarnya. Terbiasa belajar mengikuti permintaan orang tentang bagaimana dia seharusnya bersikap dan nyaman dengan itu. Terbiasa dengan bagaimana orang-orang yang tidak menanyakan apa yang diinginkan Jeongguk, namun memberi tahu Jeongguk apa yang mereka inginkan dari Jeongguk.

Melelahkan, namun dia lebih memilih mengikutinya daripada harus memikirkan apa yang harus dilakukannya sendirian. Setidaknya, dia tidak akan tersesat jika menuruti apa yang orang katakan untuknya, 'kan? Mereka akan selalu memberikan jalan keluar untuk Jeongguk jika segalanya tidak berjalan baik. Jeongguk aman, tidak akan ada satu hal buruk pun yang terjadi jika dia menurut pada keinginan semua orang.

Taman Air Tirta Gangga cukup ramai hari itu, hari Sabtu yang cerah. Mereka turun, beriringan menuju pintu masuk dengan keranjang makanan di tangan Jeongguk dan Mirah di sisinya—nampak cantik dengan vintage flower dress bertali spageti yang memamerkan bahu porselennya yang mungil, menonjolkan bentuk tubuhnya yang menggemaskan dengan rambut diikat tinggi di atas kepalanya. Dia banyak tersenyum hari ini, wajahnya merona di bawah perona pipinya dengan Devy yang tertawa di depan—menyetir keadaan dengan pembawaannya yang riuh.

Devy seperti keceriaan yang hidup dan berjalan, mengenakan setelan katun yang nyaman, memeluk pingang tingginya dengan sempurna. Taehyung di sisinya, tersenyum pada setiap guyonan yang dilemparkan Devy—nyaris tidak berjengit saat gadis itu menyentuh lengannya atau menggenggam tangannya. Nampak sangat natural dalam melakukannya.

Nyaris seperti dia... benar-benar merasakan ketertarikan pada Devy.

Lebih mudah untuknya, 'kan? Karena dia seorang heteroseksual hingga setidaknya tiga-empat bulan lalu?

Jeongguk yang sama sekali tidak nyaman bahkan saat jemarinya dan Mirah bergesekan lembut merasa beban tak kasat mata menghimpit dadanya, merasakan tikaman mengerikan saat Devy menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung, menggenggamnya erat dan mengayunkannya ceria. Persis pasangan bahagia yang normal.

Jeongguk melirik tangan Mirah di sisinya saat Taehyung berhenti di depan loket karcis, hendak membeli tiket. Haruskah dia menggenggamnya? Seperti Taehyung melakukannya ke Devy? Akankah Taehyung marah padanya karena berusaha memainkan perannya sebaik Taehyung melakukannya?

Dia terjebak di kepalanya sendiri, menerawang ke paving block rapi di bawah kaki mereka saat Taehyung menyerukan namanya. Jeongguk tidak mendengarnya, sama sekali hingga akhirnya Mirah menyentuh lengannya dan menunduk—memenuhi pandangannya dengan wajah bulatnya yang kental oleh rasa cemas.

“Bli Gung?” Tanyanya lembut. “Bli Tjok memanggilmu.”

Jeongguk sejenak tertegun oleh wajah itu sebelum mengerjap dan mendongak, menemukan Taehyung menatapnya dengan alis berkerut—tatapan yang seketika mematik rasa ngeri ke dasar perutnya. Apakah Taehyung marah?

“Ya?” Tanyanya.

Taehyung menatapnya sejenak sebelum melanjutkan, “Kata mereka kita tidak perlu membayar tiket masuk karenamu.”

Jeongguk mengerjap, sejenak kebingungan memproses kalimat Taehyung sebelum menghela napas. Tentu saja tidak perlu membayar, tempat ini secara tidak langsung adalah 'milik Puri-nya' sebagai salah satu peninggalan Raja Karangasem. Sebenarnya yang berhak mewarisi tempat ini adalah salah satu sepupunya, namun kadang kala dia mendapat keistimewaan untuk masuk tanpa membayar juga.

“Oh, ya.” Dia bergegas menghampiri loket dan menunduk agar bisa menatap Pecalang Desa Adat yang berjaga di dalam loket. “Terima kasih, Bapak.” Katanya tersenyum ramah. “Tapi saya bayar saja hari ini.” Dia memindahkan keranjang di tangannya lalu merogoh dompetnya di saku belakang celananya.

“Tidak, tidak, Atu Ngurah.” Kata Pecalang itu, bergegas menggeleng dan menggerakkan tangannya—menolak. “Masuk saja, rarisang.” Silakan. Mereka menggangguk-angguk hormat, tersenyum pada Jeongguk dengan dompet terbuka di tangannya. “Nanti malah kami yang dimarah.”

Jeongguk melirik Taehyung yang mengedikkan bahunya. Dia akhirnya menyimpan dompetnya kembali dan tersenyum. “Suksma jika begitu.” Katanya sebelum memimpi teman-temannya memasuki wilayah Tirta Gangga yang ramai.

Tempat itu megah dan luas dengan kolam-kolam raksasa di sekitarnya, ada pancuran di tengah taman serta satu kolam berenang dengan kedalaman lima meter yang sekarang ramai. Di bagian Utara taman, ada sumber mata air yang disucikan dan tidak pernah surut—sumber air mereka. Mereka melangkah beriringan, melewati jalan utama yang hiruk-pikuk oleh pengunjung. Di ujung jalan, ada tanah lapang luas yang terisi banyak orang yang bersantai menikmati angin semilir dan cuaca cerah.

“Makan dulu atau berenang dulu?” Tanya Taehyung saat mereka berhenti di persimpangan—lurus ke tempat piknik atau berbelok ke kanan ke pintu masuk kolam renang yang diberi pagar tinggi.

“Berenang!” Devy menyuarakan pikirannya. “Setelah bermain air pasti lapar, 'kan?” Dia kemudian meraih tangan Taehyung—rileks dan natural sekali. Taehyung sama sekali tidak berjengit oleh sentuhan itu dan hati Jeongguk yang harus menangguhkan sakitnya.

Dia melirik Mirah, tersenyum pada semangat Devy yang sekarang menyeret Taehyung ke arah pintu masuk kolam renang dan pemuda itu mendenguskan senyuman karena tingkah anak itu. Jeongguk menghela napas, merasakan himpitan di dadanya menguat—terbelah antara takut membuat Taehyung marah dan ingin membahagiakan Mirah.

Maka dia mengulurkan tangan, berharap Taehyung tidak akan marah atas ini karena dia hanya melakukan seperti apa yang dilakukan Taehyung. Dia meraih jemari Mirah yang jauh lebih mungil dari yang diingatnya dan menggenggamnya—merasakan gadis itu tersentak kecil oleh sentuhannya serta tatapan kagetnya di sisi wajah Jeongguk.

“Kau mengenakan pakaian berenangmu?” Tanyanya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar—lecutan rasa takut dan bersalah pada Taehyung yang mencengkeram sisi belakang kepalanya, sejenak membuatnya pusing.

Mirah mengangguk, tersenyum lebih ceria sekarang. “Yap.” Katanya dengan suara sedikit kering karena gugup—Jeongguk bisa merasakan denyut nadinya yang kencang di bawah kulitnya. “Tapi aku tidak ingin terlalu banyak berenang, aku hanya akan duduk di pinggir.”

Jeongguk menatapnya, tersenyum. “Baiklah.” Katanya lalu membimbing gadis itu menaiki undakan dan menyusuri jalan setapak yang rindang ke arah pintu masuk kolam renang.

Dia sedang membiarkan Mirah memasuki gerbang yang hanya muat untuk dilewati satu orang terlebih dahulu, tangannya di atas kepala Mirah—menggenggam erat jemarinya saat Mirah menuruni undakan tinggi ke arah kolam renang, bagian lantainya sedikit licin karena lumut. Dia menunduk, menggumamkan 'hati-hati dengan langkahmu' kepada Mirah, sama sekali tidak menyadari Taehyung yang menatap mereka hingga gadis itu mendarat di lantai dengan aman.

Mata mereka bertemu dan jantung Jeongguk mencelos, nyaris panik saat berusaha melepaskan genggaman tangannya pada Mirah namun tidak yakin karena sekarang mereka melangkah di lantai yang lumayan licin dan Mirah benar-benar menumpukan beban tubuhnya ke Jeongguk, jika dia melepaskannya maka Mirah akan terpeleset.

Dia mengumpat dalam hati—yakin melihat kemarahan berkilat di mata Taehyung.

“Jangan marah,” bisiknya saat dia berenang ke ujung kolam, ke arah Taehyung yang sedang menyeka rambut basahnya naik bersandar di dinding kolam yang berlumut sementara kedua perempuan duduk di pinggir kolam, mengobrol dalam balutan kaus dan celana pendek. “Aku hanya membantunya menuruni tangga, tidak ada apa pun.”

Taehyung sama sekali tidak menatapnya, membersit air dari telinganya dengan menutup hidungnya lalu menghembuskan napas. “Tidak masalah.” Katanya kalem dan entah bagaimana, nada tenangnya membuat Jeongguk semakin takut.

Air berubah dingin di sekitarnya saat kengerian merambat di tulang punggungnya, dia merasa kecil dan benar-benar sendirian. Takut pada amarah Taehyung, takut dia akan melemparkan kata-kata 'pergi' lagi padanya—Jeongguk tidak mau menderita lagi, tidak mau kehilangan Taehyung. Tidak mau.

Taehyung kemudian menatapnya, “Kita memerankan calon suami yang baik, 'kan?” Katanya kemudian. “Aku hanya perlu... membiasakan diri dengan itu.”

Jeongguk membuka mulut, hendak mengatakan bahwa dia hanya mencontoh apa yang dilakukan Taehyung pada Devy namun urung karena dia tidak memiliki energi untuk berdebat sekarang—tidak saat kedua tangan dan kakinya terasa dingin oleh ketakutan. Maka dia menelan argumennya dan mengangguk. Merasa kelelahan, amat lelah.

“Maaf.” Bisiknya, selalu merasa lebih mudah mengalah dan meminta maaf daripada mengatakan apa pun isi hatinya karena dia yakin tidak akan ada yang bisa memahaminya sama sekali. Jauh lebih mudah untuk mengakui saja itu kesalahannya.

Taehyung menghela napas, siap kembali berenang. “Dimaafkan.” Katanya lalu menceburkan diri ke air dan Jeongguk berdiri di sana, di sudut kolam terjauh dari kedua perempuan itu—menatap langit dengan perasaan kosong aneh di hatinya.

Perasaan yang menggerogoti hatinya—beban berat yang menggelayut di dadanya, disertai rasa lelah yang tak kunjung hilang tidak peduli seberapa lamanya dia tidur atau beristirahat. Dia memijat kepalanya—dia kelelahan sekali, entah karena apa. Nyaris seolah kehidupan dihisap dari tubuhnya, padahal bahagianya di sini—berdenyut dan sehat. Taehyung.

“Bli Gung?”

Jeongguk menoleh, menatap Mirah yang duduk di sebelahnya—mereka berpisah sejenak setelah menitipkan makanan mereka di salah satu Pecalang yang berjaga, satu lagi hak istimewa Jeongguk sebagai keluarga Puri. Devy yang meminta waktu berpisah, menikmati waktu pribadi mereka. Keduanya sedang menikmati batu lompat di kolam di bawah mereka sementara Jeongguk duduk di salah satu bangku beton di bawah pohon rindang.

Mirah menjulurkan kakinya yang terbalut sendal bertali rumit hingga ke betisnya. “Aku boleh mengatakan sesuatu?” Tanyanya kemudian setelah sejenak ragu.

Jeongguk mengangguk. “Tentu.” Katanya kalem. “Apa itu?”

Mirah menatap kakinya saat melanjutkan. “Aku menyukai Bli Gung.” Ujarnya tegas dan jelas hingga Jeongguk sejenak tertegun pada betapa percaya dirinya dia saat mengatakannya; jernih dan lantang. “Aku menyetujui perjodohan ini karena aku tertarik pada Bli Gung. Aku setuju pulang ke Bali karena perjodohan ini.”

Jeongguk menoleh, menatap Mirah dengan rambut setengah basah yang meriap di punggungnya—menatap lurus ke depannya saat mengutarakan isi hatinya. Gadis itu mengayunkan kakinya, nampak rileks dan nyaman dengan suasana di sekitarnya. Tidak yakin bagaimana dia harus menjawabnya karena dia sama sekali tidak menyetujui perjodohan itu dan hanya.... mengikuti apa saja yang diputuskan orang untuk kehidupannya. Agar mereka semua berhenti merongrong Jeongguk.

Namun dia tidak perlu berusaha karena Mirah melanjutkan, “Mungkin Bli Gung belum tertarik padaku,” dia menatap jemari kakinya sendiri—menggerakkannya. “Tidak apa-apa.” Tambahnya lalu menatap Jeongguk yang terkesiap kecil saat mata bulatnya bersirobok dengan tatapan Jeongguk.

Dia tersenyum, wajahnya yang sebulat bulan purnama bersinar oleh rasa bahagia tulus yang menikamkan rasa sakit baru ke dada Jeongguk. Apa yang harus dilakukannya pada gadis ini?

“Aku akan berjuang, menjadi apa yang mungkin Bli Gung butuhkan dari seorang pendamping.” Tambahnya, tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari Jeongguk saat mengutarakannya. “Aku hanya ingin Bli Gung memberikanku kesempatan untuk berdinamika bersama, untuk bertumbuh bersama—mencoba menjadi pasangan yang mungkin tidak sempurna, tapi aku berkenan berusaha.”

Dia membuka mulut lagi, sekarang sedikit merona. “Maaf karena kemarin,” dia mengaitkan rambutnya ke balik telinganya yang dihiasi anting permata yang berkilauan oleh sinar matahari. “Melemparkan kata cinta begitu saja tanpa aba-aba karena aku merasa,” dia menyentuh dadanya sendiri.

“Perasaan yang kumiliki untuk Bli Gung saat ini membuatku sesak sekali.” Dia mengusap dadanya, berusaha meredakan apa pun itu yang bergolak di sana sementara di sisinya Jeongguk membeku—takut dan panik merambat di kakinya, seperti ratusan laba-laba yang merangkak di kulitnya dengan kaki-kaki mungil berbulu mereka.

“Terlalu sesak hingga aku takut dadaku meledak karena menahannya. Aku tidak pernah berekspektasi apa pun tentang lelaki pilihan Ajik karena aku tahu biasanya beliau akan memilih lelaki yang dia sukai alih-alih yang kusukai.” Mirah menyeka rambutnya kembali ke balik bahunya.

“Namun saat bertemu Bli Gung secara langsung dan menyadari bahwa sikap Bli Gung sangat... lembut, aku merasa.... Perjodohan ini mungkin sama sekali tidak buruk.” Dia mendongak, tersenyum pada Jeongguk yang yakin jantungnya berhenti berdetak sama sekali.

“Apa yang ingin kukatakan sekarang adalah tidak masalah jika Bli Gung belum mencintaiku sebesar aku mencintai Bli Gung, selama ada ruang untukku mencoba maka akan kucoba.”

Senyuman Mirah selanjutnya mengirimkan tikaman rasa takut yang luar biasa ke kepala Jeongguk. Dia nampak sangat tulus, sangat berbahagia dan sangat percaya diri dengan perasaannya—nampak sangat cantik dengan wajah yang dilapisi riasan tipis natural. Bahagia memberikan kecantikan anyar yang magis di wajahnya. Dia menatap Jeongguk, tersenyum lebar walaupun pipinya merona karena malu dan Jeongguk menghela napas.

Menyadari, dengan teramat pedih, bahwa sekuat apa pun Mirah berusaha dia tidak akan mendapatkan hal yang dibutuhkannya—tidak dari Jeongguk. Namun dia mengangkat tangannya, menepuk kepala Mirah dengan hati berdenyut pedih dan memaksakan senyuman palsu yang sudah dikuasainya dengan baik. Dia tersenyum, berduka atas cinta yang dia tahu tidak bisa dibalasnya sama sekali.

“Kau gadis yang luar biasa.” Bisiknya, nyaris tidak mengenali suaranya sendiri saat menatap Mirah yang tersenyum. “Kau baik, sopan, pintar, dan mandiri.” Dia merasakan betapa benarnya pujian itu di lidahnya—Mirah memang baik, sopan, pintar dan mandiri.

“Kau layak berbahagia.” Dia mengaitkan rambut Mirah di balik telinganya dan mengusap sisi kepalanya dengan lembut. “Kau layak dicintai dan layak dibahagiakan.” Oleh pemuda yang mencintaimu dan itu bukan aku, sama sekali bukan.

Namun Jeongguk menelan sisa kalimatnya, membiarkan kata-kata itu melayang di antara mereka saat dia menarik tangannya turun dari wajah Mirah dan menghela napas, menahan rasa bersalah getir yang menyeruak di dadanya. Dia kebingungan sekarang—tidak yakin apa yang harus dilakukannya dengan perasaan tercabik yang melelahkan.

Dia menatap Taehyung yang berdiri di tengah kolam, tersenyum lebar pada tingkah konyol Devy di hadapannya.

Di sisinya, ada seorang gadis yang menawarkan hatinya sepenuhnya untuk Jeongguk—siap mencintainya sepenuh hati, mengabdikan diri untuk Jeongguk dan keluarga mereka nanti, jalan pintas yang akan membuat seluruh hidup Jeongguk lancar dan baik-baik saja.

Tetapi hatinya berdenyut oleh cinta lain, yang jauh lebih kuat dan magis. Untuk lelaki yang berdiri beberapa meter di bawahnya, tertawa ceria. Jeongguk hidup untuk tawa itu, untuk senyuman itu, untuk bahagia pemuda itu.

Dia hidup untuk bahagia Taehyung.

“Kau akan bahagia, Mirah.” Katanya lagi, matanya tidak melepaskan diri dari Taehyung yang mengulurkan tangan—menggerutu saat Devy menolak melakukan apa yang diinginkannya.

Dan membiarkan sisa kalimat, “tidak bersamaku.” tetap tak terkatakan karena dia belum siap menyakiti Mirah.

Mungkin tidak akan pernah siap.

*


Jeongguk merasa sedikit pening dalam pakaiannya sekarang.

Udeng di kepalanya diikat terlalu kencang dan selendang yang diikatkan di pinggangnya untuk menahan kainnya juga terasa terlalu kencang. Dia menghela napas, merasa sudah berada di sana nyaris selamanya namun tamu-tamu tidak juga berhenti datang. Suara alunan musik lembut mengalun dari pengeras suara di empat penjuru tenda raksasa yang mereka gunakan, suara obrolan tamu mengiasi suara-suara rekaman itu. Denting alat makan yang disiapkan katering dan juga dengung kipas angin raksasa yang meniupkan secercah angin sejuk ke ketandusan Taman Soekasada.

Dia dan Mirah sudah berkeliling nyaris lima kali dalam tiga jam—menyeimbangkan dirinya di atas heels 7 senti yang membuat Jeongguk mendesah keras, menyapa tamu-tamu istimewa ayah-ayah mereka dalam balutan pakaian tidak nyaman di bawah udara panas dan kering pesisir pantai Taman Soekasada, Ujung. Jeongguk tidak habis pikir bagaimana dia bisa setuju dengan pemilihan tempat ini dan setuju pada pertunangan melelahkan yang mengalahkan acara pernikahan ini.

Tenda-tenda raksasa didirikan di halaman taman istana itu, alih-alih mengurangi panas, atapnya malah membiaskan cahaya matahari dengan cara yang membuat Jeongguk pening. Dia duduk di sisi Mirah yang nampak kelelahan dengan bunga emas berat di atas kepalanya. Acara tukar cincin mereka sudah berlangsung pukul sepuluh tadi, hanya memakan waktu tidak sampai lima menit namun mereka masih harus duduk tersenyum di sana pada semua orang yang tidak mereka kenal sama sekali. Sementara beberapa wartawan datang meliput dan masyarakat yang penasaran mengintip dari jalan yang lebih tinggi dari Taman Soekasada, nampak berbahagia bersama mereka walaupun tidak diundang secara langsung.

Jeongguk memandang para tamu, mencari Taehyung secara naluriah. Dia datang cukup pagi tadi—mengambil cuti dari pekerjaannya mewakili ayahnya, sekitar pukul sembilan bersama Devy serta Lakshmi dan kekasihnya, Wisnu. Langsung menyalami Jeongguk dengan sangat hangat dan tersenyum ramah—senyuman terbaik yang pernah dilihatnya. Membawa aroma keringatnya yang khas hingga sejenak pusing yang mendera Jeongguk karena ikat kepalanya, membaik. Dia mengenakan kain yang sama persis dengan milik Devy serta warna pakaian yang senada.

Aroma parfumnya membuat Jeongguk mendadak merindukannya, ingin memeluknya. Namun dia hanya puas dengan mengusap punggung tangan Taehyung dengan ibu jarinya saat mereka bersalaman. Bertukar pandangan sejenak—berusaha mengungkapkan betapa Jeongguk merindukannya tidak peduli selama apa mereka saling menelepon atau mengirim pesan setiap hari. Rindu yang hanya akan lenyap saat mereka bertatapan dan bersentuhan.

Taehyung nampak sangat rapi, licin dan menarik. Aura bangsawannya yang sejak awal membuat Jeongguk kagum nampak menetes. Dia nampak seperti pejabat dengan pakaian rapi dan udeng yang diikat rapi di kepalanya. Beberapa orang menyapanya karena mengenal dia dan ayahnya, Taehyung tersenyum ramah—menakupkan kedua tangannya di depan dada sebagai gestur menyapa yang sopan. Dia melangkah ke panggung, bersinar seperti bintang utama acara hari itu. Rambutnya disisir naik dengan rapi, diikat oleh udeng-nya.

“Dia,” kata Taehyung kemudian, tersenyum pada Mirah di sisinya—nampak jauh lebih pendek dari Taehyung seraya melirik Jeongguk yang tersenyum. “Akan menjagamu baik-baik. Dan membahagiakanmu.” Dia menjabat tangan Mirah, melemparkan tatapan penuh arti pada Jeongguk yang membalas senyumannya.

Mirah mengangguk, merona di bawah riasan wajahnya—dia nampak sangat bahagia hari itu. Banyak tersenyum dan tertawa, dia menjabat semua tamu keluarga mereka, meladeni tiap obrolan remeh mereka tanpa lelah sambil mengipasi dirinya dengan kipas properti yang dipinjamkan make up artist mereka.

“Terima kasih, Bli Tjok.” Sahutnya dengan nada terengah karena adrenalin yang membuncah. “Pasti, pasti membahagiakan.”

Jeongguk menghela napas, apa yang harus dilakukannya pada gadis ini?

Taehyung melirik Jeongguk, sudut bibirnya terangkat dan Jeongguk tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak membalas senyumannya. Dia bersumpah Taehyung benar-benar membuatnya sangat menderita dengan cara yang disukainya. Dia kemudian melepaskan tangan Mirah, mata Jeongguk melirik tangannya sebelum dia beranjak menuruni panggung bergabung dengan para tamu yang nampak sudah tidak sabar mengobrol dengannya.

Cincin Tiffany mereka berkilauan di jari manis tangan kanan mereka.

Obsesi Taehyung-lah yang kemudian memaksa Jimin mengirimkan perhiasan itu ke Bali persis setelah dia mendarat di Indonesia selepas penerbangan terakhirnya minggu itu ke London. Cincinnya tiba persis sehari sebelum acara pertunangan Jeongguk dan Taehyung seketika memaksanya mengenakannya—menerornya agar Jeongguk mengambil cincin itu ke Alila setelah dia pulang bekerja. Jeongguk tidak keberatan karena malamnya, dia mendapat phone call sex paling luar biasa sebagai imbalannya.

Ibunya tadi mendesak Jeongguk melepas cincin itu namun Jeongguk menolaknya.

“Tidak akan mengganggu apa pun, Biang.” Katanya, memastikan ayahnya tidak mendengar perdebatan kecil di kamar berhiasnya dengan Mirah itu. Calon tunangannya duduk di depan meja hias yang diberi lampu, bibirnya pucat belum dibubuhi pewarna—menyaksikan dengan penasaran. “Cincin tunangan, 'kan, dikenakan di kiri.”

Singkat kata, dia memenangkan pertengkaran itu. Lakshmi yang menyalaminya tidak lagi nampak bingung seperti pertama kali mendapat undangannya—memainkan perannya dengan sempurna dan Jeongguk mengapresiasi itu. Teringat bagaimana dia kemarin datang ke Puri hanya untuk menjelaskan kepada Lakshmi segala hal yang terjadi di antara mereka semalaman—termasuk acara pertunangan mereka. Lakshmi tidak mengapresiasi tindakan mereka sama sekali—memperlama keberadaan Mirah di hidup Jeongguk ketika mereka tahu Jeongguk akan mencampakkannya detik Jeongguk bisa, namun terpaksa setuju bahwa itulah satu-satunya cara yang nampak 'benar' saat ini.

Dia nampak luar biasa dengan kebaya brokat berwarna merah yang memamerkan bahu langsingnya, memeluk pinggang tingginya yang indah. Rambutnya digelung, disisipi setangkai anggrek bulan raksasa yang mengedip ceria pada Jeongguk sementara di sisinya Wisnu nampak gagah dan tinggi mengenakan bros keluarganya yang berkilauan.

“Saya tunggu menyusulnya, Bli Gus.” Gurau Jeongguk saat menyalami calon kakak ipar Taehyung yang tertawa serak.

“Santai saja.” Katanya geli menepuk bahu Jeongguk hangat, keduanya paham bahwa hari Wisnu menikah ditentukan oleh pernikahan Taehyung. Dan jika memikirkannya lagi sekarang, mungkin tidak akan datang dalam waktu dekat. “Tidak ada tenggat waktunya, kita semua menemukan bahagia di waktu masing-masing, benar?” Dia kemudian menyalami Mirah dan meletakkan tangannya di pinggang Lakshmi saat menuruni undakan, menyusul Taehyung.

Jeongguk masih tidak paham bagaimana Brahmana sekelas Wisnu memilih Lakshmi sebagai kekasihnya—caranya memandang gadis itu benar-benar membuatnya malu seolah melihat adegan yang sangat intim. Dia benar-benar menyayangi Lakshmi dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain di hidup Lakshmi; sikapnya yang lembut dan ksatria, senyumannya yang tulus, pandangannya yang hangat. Jika Jeongguk adalah adik kandung Lakshmi, dia tentu akan melepaskan Lakshmi untuk lelaki itu.

Namun masalahnya, bukan Wisnu yang tidak mereka percayai. Melainkan keluarga besarnya. Taehyung masih sering memikirkan ini, sering gelisah melepaskan kakaknya menikah menjadi Jro di griya berpengaruh di Bali dengan kondisi kastanya yang tidak baik.

Mata Jeongguk menemukan kekasihnya, duduk di sudut tenda dengan Devy di sisinya—sedang mengunyah makanan bersama Lakshmi sementara Taehyung membicarakan sesuatu dengan Wisnu yang nampak menggebu-gebu. Taehyung tertawa dan walaupun mereka terpisahkan jarak lebih dari dua ratus meter, Jeongguk nyaris bisa mendengar suara tawa itu seolah Taehyung berada di sisinya. Kancing teratas pakaiannya sudah berpisah, dia memang tidak pernah betah mengenakan pakaian rapi dan lengan bajunya digulung hingga ke sikunya.

Merasakan tatapannya, Taehyung mendongak dari makanan di pangkuannya dan mata mereka bertemu. Taehyung membalas tatapannya, lama sekali hingga hati Jeongguk berdesir karenanya—tidak sabar untuk segera pulang sehingga dia bisa bergegas menelepon Taehyung. Memuji betapa dia nampak luar biasa hari itu. Tatapan Taehyung cukup untuk membuat Jeongguk merasa panas di bawah lapisan pakaiannya dan itu sama sekali bukan karena cuaca. Taehyung mengangkat sebelah alisnya lalu dengan sengaja menyodokkan lidahnya ke pipinya dan membuat Jeongguk seketika bergidik karenanya—membayangkan yang tidak-tidak.

Dia menggeram kecil, akan melakukan sesuatu pada pemuda itu nanti.

”... Makan?”

Jeongguk mengerjap, pandangannya dengan Taehyung terpisahkan karena Taehyung bergegas mengalihkan pandangan saat menyadari Mirah menatap Jeongguk. Dia menoleh ke Mirah yang menatapnya seraya menepuk-nepuk wajahnya dengan sehelai tisu, menyerap keringat yang meleleh di atas hiasan wajahnya.

“Kau mau makan?” Tanyanya lalu berdiri, mengaitkan ujung kainnya ke lekukan lengannya sebelum mengulurkan tangan membantu Mirah berdiri dari tempat duduknya. “Ayo, makan.” Tambahnya saat membimbing gadis itu ke meja prasmanan.

“Lho? Lho? Kenapa?” Ibu Jeongguk bergegas menghampiri mereka, nampak cemas dan meraih Mirah. “Pusing? Berat, ya, bunganya?” Dia langsung merangkul Mirah dengan lembut.

“Hanya kelaparan.” Sahut Jeongguk menenangkan ibunya dan dia sendiri merasa bisa mengunyah tenda sewaan itu saking laparnya; nampaknya dia harus menahan diri sedikit lagi. “Sebentar, Gung Wah ambilkan minum.” Katanya melepaskan Mirah ke dalam genggaman ibunya sebelum menghampiri meja prasmana dan mengambil air mineral kemasan.

Dia sejenak berhenti, mengamati menu makanan yang nampak lezat. Ada ayam, mie, sayuran, dan kesukaannya—daging dan brokoli. Aromanya hangat dan begitu menggugah selera hingga dia merasa perutnya mengeluh di bawah semua pakaiannya. Dia mendesah, merasa sangat lapar. Sarapan paginya tadi sudah menguap semua bersama panas dan tawa palsu yang dipaksakannya nyaris seharian. Maka dia bergegas membawakan air itu ke Mirah, menusukkan sedotannya sebelum menyerahkannya ke gadis yang duduk di sisi ibunya. Sudah akan kabur kembali ke meja prasmanan untuk makan saat ibunya menyela.

“Gung, ambilkan makanan.” Kata ibunya, menatap Jeongguk yang menahan dirinya sendiri agar tidak mendesah kesal karena dia juga lapar dengan tatapan sedikit menegur.

“Ya, Biang.” Sahutnya akhirnya, tidak memiliki pilihan lain. Beranjak kembali ke meja prasmanan dengan sendal selopnya yang mulai licin karena telapak kakinya berkeringat. Dia meraih piring, mengisinya dengan makanan—menatap makanan itu dengan mendamba karena dia harus menahan laparnya sedikit lagi.

“Makanmu seperti burung.” Komentar sebuah suara yang pasti akan dikenali Jeongguk di mana pun dia berada. “Sedikit sekali.”

Taehyung memutuskan menghampirinya ke meja prasmanan dengan dalih meletakkan piring kotor dan meraih potongan buah yang tersedia di sisi air mineral demi berada cukup dekat dengan Jeongguk untuk mengobrol. Dia membawa selapis aroma parfum maskulin lembut, sinar matahari, rumput, dan parfum baju. Jeongguk menoleh, tersenyum pada kekasihnya yang nampak ceria hari ini—pipinya merona dan senyuman tidak meninggalkan bibirnya sama sekali sejak tadi.

“Kau senang hari ini?” Tanya Jeongguk, meraih sendok dan memilihkan lauk untuk Mirah. “Kau nampak senang.”

Taehyung mengedikkan bahunya kalem, menyuap sepotong semangka kuning langsung dari nampan saji. “Tidak ada alasan untuk tidak senang di sebuah pesta, 'kan?” Dia meraih piring baru, mulai mengisinya dengan potongan semangka dan melon ke atasnya. “Kau tidak senang?”

Jeongguk memutar bola matanya. “Jika saja benda keparat ini,” dia melirik udeng-nya. “Tidak mengikat kepalaku terlalu kencang aku mungkin bisa sedikit berbahagia.” Dia menambahkan sayuran ke piring Mirah sementara Taehyung mengekornya sambil menyuap buah dengan tusuk gigi.

“Jangan merengek.” Taehyung terkekeh, menatap kekasihnya geli lalu sedikit merendahkan suaranya—nyaris dikalahkan suara musik gamelan di sekitar mereka. “Kau hanya boleh merengek saat aku memberimu blowjob.”

Jeongguk menoleh, mulutnya terbuka—jantungnya mencelos kaget, namun juga terhibur karena guyonan kotor itu. “Kau benar-benar...” Dia berhenti dan akhirnya tertawa parau. “Sinting! Kau sadar tidak kita berada di ruang terbuka?”

Taehyung nyengir. “Ups.” Gumamnya dan Jeongguk menggeleng tidak habis pikir saat lelaki itu menambahkan, “Itu makanan untukmu?” Tanyanya, mengunyah melon dengan suara renyah basah saat giginya menghancurkan potongan buah segar itu.

Jeongguk menoleh hanya untuk menyesalinya karena Taehyung nampak sangat menggemaskan menatap Jeongguk penasaran dengan kedua bola mata yang berkilauan, pipinya penuh terisi buah dan selapis air berkilauan di bibirnya. Tuhan tahu seberapa kuat Jeongguk berusaha menahan dirinya agar tidak mengecup air itu dari bibir Taehyung. Dia berhenti bergerak, menatap kekasihnya yang balas menatapnya dengan mulut terbuka. Taehyung mengerjap.

“Apa?” Tanyanya, matanya berkilauan—bingung. Tangannya membawa sepotong buah lagi ke mulutnya, mengunyahnya dengan kalem. Tidak menyadari apa yang baru saja dilakukannya kepada Jeongguk—hanya dengan bernapas.

Dia menelan ludah dengan sulit, menggertakkan giginya. “Untuk Mirah.” Dia berhasil mengatakannya tanpa menggeram saat menambahkan sebutir jeruk ke sisi piring dan juga kerupuk.

“Oh.” Kata Taehyung sopan, melongok ke balik punggung Jeongguk dan mengangguk kalem saat melihat Mirah yang duduk sambil memegangi kepalanya dan wajahnya berkerut—berusaha tetap waras. “Ya, pasanganmu nampak seperti akan pingsan sebentar lagi.”

“Bunga emas asli milik Tuniang.” Sahut Jeongguk seolah itu menjelaskan semuanya dan Taehyung meringis, seketika memahami perhiasan nenek mereka jelas akan menyiksa gadis moderen paling tangguh sekali pun.

Dalam tradisi Hindu, hiasan kepala perempuan sudah dimodifikasi dengan bunga emas yang terbuat dari lempengan besi tipis yang jauh lebih ringan. Dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak berpotensi mematahkan leher pengantin perempuan apalagi saat menggunakan hiasan kepala payas agung yang tingginya nyaris setengah meter. Namun mereka bersikeras memakaikan bunga emas model lama yang terbuat dari tembaga asli yang beratnya bukan main warisan dari Tuniang sehingga sejak tadi Mirah harus beberapa kali berhenti dan duduk karena pusing oleh hiasan kepalanya.

“Kembalilah ke sana. Aku akan pamit pulang karena Devy akan dinas malam hari ini.” Kata Taehyung kemudian, meletakkan piringnya yang kosong sebelum tersenyum. “Telepon aku setelah selesai semuanya, oke?”

Jeongguk menatapnya, tersenyum. “Tentu. Aku akan langsung meneleponmu begitu aku memiliki kesempatan.” Dia mengulurkan tangan dan Taehyung menjabatnya—merasakan cincin mereka bergesekan. “Hati-hati di jalan dan terima kasih sudah datang.”

Taehyung menyerigai. “Tentu saja aku datang.” Katanya. “Aku harus menyaksikanmu 'bahagia', 'kan?”

Jeongguk mendenguskan tawa singkat. “Kau memang begundal.” Balasnya dan Taehyung terkekeh.

I keep you entertained that way, aren't I?” Balasnya dan Jeongguk tersenyum sayang padanya.

Always.” Gumamnya dan Taehyung tersenyum lebar.

Dia berpamitan pada semua orang setelahnya, menyalami Mirah persis saat Jeongguk sedang sibuk memindahkan isi piring ke mulutnya—kelaparan seperti sudah berminggu-minggu tidak makan dan kelelahan. Kemudian dia berlalu dengan Devy dalam lengannya, melangkah ke tempat parkir mengeluarkan kunci mobil. Membantu Devy menaiki undakan jembatan menuju tempat parkir sebelum benar-benar lenyap.

Jeongguk akhirnya kembali ke makanannya, menyelesaikan makanannya dan kemudian bergegas berdiri bersama Mirah karena para tamu hendak pamit. Dia berdiri di dekat pintu keluar, menyalami semuanya dan tersenyum ramah sementara Mirah ternyata tidak sanggup lagi berdiri dan duduk dengan kursi di sisinya. Setelahnya, mereka meninggalkan lokasi—membiarkan pihak dekorasi membereskan acaranya karena sungguh, lima menit lagi dengan udeng terkutuk itu maka Jeongguk akan pingsan.

Dia langsung melepasnya sebelum menaiki mobil dan membantu Mirah memanjat naik. Memijat pelipisnya sementara di sisinya, Mirah berusaha melepaskan bunga emasnya. Jeongguk terkekeh melihatnya sementara mobil meluncur dikemudikan salah satu sepupu Jeongguk, beriringan dengan semua keluarga kembali ke Puri mereka.

“Sini,” kata Jeongguk, menggeser duduknya menghadap Mirah lalu membantunya memisahkan satu demi satu bunga emas dari sanggulan rambutnya yang kaku oleh hair spray.

“Kalian sudah berfoto tadi pagi, 'kan?” Tanya sepupunya dari depan, melirik dari spion tengah. “Kenapa riasannya dibongkar?”

Jeongguk mendesah, “Jika tidak dibongkar dia akan pingsan sebentar lagi.” Balas Jeongguk dengan nada tegas—dia jarang menggunakan nada itu untuk keluarganya namun karena Mirah sudah sangat pucat bahkan di bawah lapisan warna merah perona pipi, dia harus menggunakannya. “Kami sudah berfoto tadi sebelum kemari.” Tambahnya, menarik satu bunga emas lagi dari kepala Mirah yang meringis.

Syukurlah karena semua orang lelah, Jeongguk diizinkan memasuki kamarnya setelah melepaskan semua pakaian sewaannya. Dia melipatnya sementara Mirah masih dibantu untuk menyisir rambutnya sebelum bergegas hanya dengan kaus dalam dan celana pendek berpamitan, berlari ke kamarnya sendiri dengan segenggam kapas yang dibasahi dengan baby oil untuk menghapus riasan wajahnya—dia ingin mandi.

Sudah hampir pukul tujuh saat akhirnya Jeongguk memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Setelah mengantar Mirah dan keluarganya pulang ke Puri-nya dan terpaksa harus mengecup kening Mirah sebelum dia pulang hanya untuk memuaskan semua orang hingga Mirah merona hingga ke leher dan batas rambutnya. Menahan diri agar tidak mengusap bibirnya eketika itu juga, dia melambai pada mobil yang melaju pergi dan bergegas kembali ke kamarnya—menggunakan leher bajunya, mengelap rasa aneh tidak nyaman di bibirnya lalu mulai merasakan kecemasan bergolak di dasar perutnya.

Bagaimana caranya nanti 'menyentuh' Mirah jika mereka tidak juga menemukan jalan keluar tentang hubungan mereka dan Jeongguk terpaksa harus menikahi Mirah? Mencium keningnya saja cukup membuatnya gelisah dan mual, apalagi jika dia harus....

Dia meringis dan bergidik, melepaskan cincin pertunangannya lalu meletakkannya di nakas kamarnya sebelum meraih ponselnya. Memainkan cincin Tiffany-nya dengan ibu jari tangan kanan, dia menyentuh ruang obrolan Taehyung. Dia menekan panggil dan menunggu seraya membaringkan dirinya di ranjang—mendesah keras kelelahan setelah seharian bersikap ramah dan tersenyum pada orang-orang yang tidak dikenalnya.

Dia menepuk perutnya, merasa lapar saat panggilannya ke Taehyung tidak dijawab. Jeongguk memilih 'pesan' dan mengetik di sana: Aku makan dulu jika begitu. Kirimi aku pesan jika sudah senggang. lalu mengirim pesan sebelum menyentuh ruang obrolan dengan adiknya.

“Ayo buat mie instan.” Katanya begitu adiknya mengangkat teleponnya.

Ada sisa lauk katering tadi!” Balas adiknya dari seberang, gemerisik saat bangkit dari kasurnya. “Buat sesuatu yang enak, Wiktu.”

Jeongguk mengerang. “Wiktu lelah, kita makan itu saja.” Tukasnya, tidak terlalu menyukai prospek memakan makanan yang sama dalam satu hari namun dia cukup lapar untuk mengabaikannya—dia akan membuat mie instan sebagai teman makannya.

Dia bangkit saat ponselnya berbunyi, pesan dari Taehyung.

Aku sedang di griya. Sebentar, oke? I love you.

Jeongguk tersenyum, hatinya menghangat. Dia akan melakukan apa pun demi Taehyung—apa pun, surga atau neraka tidak akan bisa menghentikannya. Dia menatap layar ponselnya lalu mendesah—baiklah, dia punya waktu untuk makan sebelum menelepon kekasihnya dan mengeluh tentang betapa melelahkannya hari ini.

*

tw // toxic masculinity , favoritism , insulting .

cw // humping , bottom on top , hand-job .


Taehyung melepas helmnya setelah memarkir motornya di garasi rumah Jeongguk dan menoleh ke pintu garasi yang mengarah ke halaman Puri Jeongguk, menemukan kekasihnya berdiri di sana dalam balutan kaus longgar dan celana pendek yang menarik. Dia tersenyum, menurunkan buff yang digunakannya berkendara lalu meletakkan helmnya di atas tangki motornya.

“Hai.” Sapanya pelan dan Jeongguk tersenyum, nampak senang melihatnya akhirnya tiba.

Taehyung berhasil kabur dari Devy yang mendadak harus ke Sanglah mengurus berkas koasnya sehingga dia akhirnya meminta gadis itu untuk bohong ke ayahnya bahwa mereka keluar dan Devy setuju. Maka Taehyung langsung menyambar ponselnya, memberi tahu Jeongguk dia akan berangkat ke Karangasem, bertemu dengannya dan adiknya. Taehyung turun dari motornya, melepaskan jaketnya sebelum melangkah ke arah Jeongguk setelah mencabut kunci motornya. Dia ingin sekali memeluknya, namun mereka berada di ruang terbuka maka dia terpaksa mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya—menahan dirinya.

Ajaib bagaimana berbaikan dengan Jeongguk serta menerima perasaan yang mati-matian coba Taehyung tolak belakangan ini membuatnya merasa jauh lebih bugar dan segar belakangan ini. Seolah dia bisa memindahkan gunung dengan tenaga yang membuncah di pembuluh darahnya sekarang—dia benar-benar senang dan dia belum pernah merasakan bahagia ini. Dia bisa menyelesaikan fine dining 150 pax sendirian sekarang—dia yakin dengan adrenalin dan tenaga sebanyak ini, dia mampu.

Hatinya penuh, merekah indah seperti sekuntum mawar gendut yang cantik. Tiap kelopaknya basah oleh keceriaan, kebahagiaan murni berdenyut di putiknya. Dia merasa utuh, penuh, dan sempurna—walaupun setitik bagian di belakang kepalanya dicengkeram rasa takut secara konstan, Taehyung memutuskan untuk menikmati saja saat ini dan memikirkan semuanya nanti.

Sebagai bonus dari hubungannya dengan Jeongguk, dia juga mendapatkan adik lelaki yang selama ini diinginkannya. Yugyeom anak yang manis, dia mirip sekali dengan Jeongguk di beberapa bagian termasuk suara tawa dan senyuman lebarnya. Taehyung yang selama ini menjadi lelaki sendirian, menerima semua gemblengan tidak sehat itu merasa sangat beruntung bisa menganggap Yugyeom sebagai adiknya—tidak bosan menghujaninya dengan kasih sayang hingga Jeongguk seringkali memutar bola matanya geli tiap Taehyung menitipkan makanan di Security Amankila untuk Yugyeom.

“Macet?” Tanya Jeongguk, berdiri di pintu dengan tubuhnya yang tinggi menutupi nyaris seluruh pintu dan tangannya menyentuh jemari Taehyung—dia nyaris tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium Jeongguk sekarang.

Aroma keringat Jeongguk begitu khas dan pekat hingga Taehyung nyaris mabuk—dia merindukan lelaki ini bahkan ketika dia berada di hadapan Taehyung. Dia baru pertama kali merasakan perasaan ini, perasaan membutuhkan yang sangat kuat hingga dia kewalahan. Jeongguk-nya yang lembut, pengertian, penyayang, sabar, dan sangat baik—nyaris terlalu sempurna untuk Taehyung.

“Tidak.” Sahutnya, tersenyum. “Dan kau luar biasa.”

Jeongguk tersenyum. “Kau ingin kucium, ya?” Balasnya berbisik dan suaranya nyaris membuat akal sehat Taehyung terjungkal. Bisakah mereka langsung ke kamar sehingga Taehyung bisa mengangkangi perutnya dan menciumnya rakus? Sudah seminggu mereka tidak saling menyentuh, satu hari lagi dan Taehyung bisa gila karenanya.

“Tolong.” Balas Taehyung, menantang dan Jeongguk tersenyum lebar—menggertakkan giginya gemas.

“Ayo masuk, sudah ditunggu Ajung.” Katanya, sejenak mengulurkan tangan dan menyusupkan jemarinya ke rambut di tengkuk Taehyung—menggaruknya sayang sekali sebelum menurunkan tangan dan menyelipkannya ke saku celana, agar tidak meraih Taehyung.

“Bagaimana makan malam kemarin dengan keluarga Mirah?” Tanya Taehyung saat Jeongguk menutup pintu ke arah garasi.

“Biasa.” Jeongguk mengedikkan bahu seolah hal itu sama sekali tidak penting. “Hanya obrolan tentang acara perjodohan, seragam, cincin dan segala tetek-bengeknya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk sepanjang acara—bosan setengah mati.”

Taehyung terkekeh. “Setidaknya bersikaplah yang sopan pada calon mertuamu.”

Jeongguk melemparkan tatapan jengkel pada Taehyung yang tersenyum lebar—menggoda kekasihnya yang dia tahu tidak akan pernah marah pada Taehyung, tidak peduli apa pun yang dilakukannya. Dia beruntung memiliki Jeongguk yang begitu sabar menghadapi tingkah dan emosinya yang tidak karuan.

Mereka melangkah memasuki Puri yang asri beraroma kamboja yang sedang mekar dengan cantik. Burung-burung peliharaan almarhum kakek Jeongguk bernyanyi dari kandang-kandang mereka yang sedang dijemur, berisik sekali namun suaranya menenangkan. Puri Jeongguk lebih luas dari Puri-nya sendiri; ada banyak sekali pohon-pohon kamboja tua raksasa di halamannya yang rapi. Mereka punya pagar dari palem-palem raksasa yang tinggi menjulang, berdesir saat tertiup angin.

Tempat itu terasa sejuk, ramah, dan menyenangkan. Pintu menuju gerbang depan terkunci—jarang digunakan karena mereka memiliki pintu samping yang jauh lebih dekat ke rumah utama di sebelah garasi. Kamar Jeongguk berada di sisi Barat, terdekat dengan pintu samping karena dia sering pulang malam dan mempermudah Taehyung menyelundupkan diri ke kamarnya. Terbesar juga karena dibanding kamar Yugyeom, kamar Jeongguk terasa lebih lapang.

Mereka memasuki halaman utama Puri, melewati sebatang kamboja putih yang berbunga lebat. Beberapa kuntum bunganya yang rontok berserakan di bawah batangnya, Taehyung sengaja menendang beberapa dan Jeongguk mengerutkan alis geli padanya. Taehyung tersenyum—merasa amat bahagia hingga dia kebingungan. Emosi positif yang membuncah tiap kali melihat Jeongguk, merasakan dan mencium aromanya di sekitarnya.

Dia lalu melihat Yugyeom di seberang halaman, menjemur handuk di depan kamarnya. Anak itu mendongak, rambutnya basah setelah mandi dan langsung berseri-seri saat Taehyung melambai padanya.

“Wigung!” Serunya ceria, seperti anjing kecil yang menyalak ceria. Dia menggemaskan sekali, persis kakaknya ketika merajuk menginginkan sesuatu dari Taehyung.

Taehyung tertawa, “Hai.” Sapanya tersenyum lalu mengangkat kantung plastik di tangannya, yang langsung membuat Yugyeom tersenyum semakin lebar. Lakshmi membungkuskan makanan dan berlari mengejar Taehyung persis sebelum dia berangkat ke Karangasem tadi.

“Untuk Turah,” katanya terengah, menjejalkan bungkusan itu ke tangan Taehyung—nampak sangat senang karena adiknya berbahagia. Maka Taehyung membawanya untuk Jeongguk dan Yugyeom.

“Sebentar!” Seru Yugyeom kemudian, melompat dan bergegas memasuki kamarnya untuk berganti baju.

Jeongguk mengamati plastik itu lalu mendesah, meraihnya dari tangan Taehyung; merasakan bobotnya yang lumayan berat dan aroma legit yang menguar dari celahnya. “Kau memanjakannya.” Bisiknya dan Taehyung tertawa kecil.

“Tidak apa-apa. Aku suka memanjakan kalian berdua.” Dia mengedikkan bahu lalu membuka mulut hendak bicara saat seseorang menyela mereka dari rumah pertama.

“Oh, Tjok. Swastyastu.”

Keduanya menoleh, menemukan ayah Jeongguk bergegas menuruni tangga dengan senyuman cerah di bibirnya. Dia menghampiri Taehyung yang seketika membungkuk ramah, tersenyum mengulurkan tangan untuk menyalami ayah Jeongguk yang menepuk bahunya hangat. Dia menatap Taehyung yang lebih tinggi darinya, nampak sangat bangga—pandangan yang seharusnya diberikan ayah Taehyung untuknya, bukan ayah Jeongguk.

Swastyastu, Jikgung.” Sahut Taehyung ramah, mengangguk sopan dan tersenyum.

Dia menahan diri agar tidak melirik kekasihnya saat ayah Jeongguk meremas bahunya setelah mengguncang tangannya. “Sudah makan?” Tanyanya senang. “Ayo, makan dulu. Sudah ditunggu Ogik dari tadi, katanya akan datang jadi Ajung minta Biang memasakkan sesuatu untuk makan siang.”

Taehyung tersenyum sopan, terbiasa menghadapi basa-basi semacam ini. Sebagian hatinya berharap, jika saja ayahnya bisa bersikap sehangat ini padanya; apakah dia akan tumbuh menjadi lelaki yang sedikit lebih hangat seperti Jeongguk? Bagaimana rasanya jika ayahnya menatapnya bangga hanya karena Taehyung bernapas? Melakukan hal yang sama sekali sederhana seperti yang dilakukan ayah Jeongguk?

Jika dia mau egois, dia bisa saja memonopoli perasaan dari ayah Jeongguk—menyembuhkan lukanya sendiri yang dipahat oleh ayah kandungnya. Namun dia tidak bisa melakukannya, tidak saat dia melihat sakit yang berkilau di mata Jeongguk—sekilas sebelum dia bergegas menyembunyikannya. Tidak peduli apa pun yang dikatakan Jeongguk tentang 'tidak masalah' pada sikap ayahnya, Taehyung yakin di dalam sana dia pasti tersinggung walau berusaha keras bersikap biasa saja.

Nggih, Jikgung. Nanti saya makan, sekarang belum dulu. Sudah sarapan tadi.” Dia mengangguk dan ayah Jeongguk nampak sangat puas seolah Taehyung baru saja menemukan cara untuk menyembuhkan kanker. Atau mendamaikan Korea Selatan dan Korea Utara.

Dia nampak sangat bangga pada Taehyung hingga batas yang tidak wajar. Taehyung suka—dia sangat menyukai pandangan hangat dan pujian-pujian itu, nyaris menikmatinya karena dia tidak pernah mendapatkan hal yang sama dari ayahnya—sama sekali. Namun jika teringat bahwa Jeongguk tidak mendapatkan itu dari ayahnya, hatinya merasa diremas-remas.

“Ditulari, ya, Gung Wah-nya.” Kata ayahnya, tersenyum lebar pada Taehyung—menepuk bahunya beberapa kali. “Dia itu cengeng sekali, sakit-sakitan. Susah.” Dia melirik anak sulungnya di belakang Taehyung dengan pandangan mencela yang membuat Taehyung menahan napas. Tidak berani melirik kekasihnya yang menegang di sisinya.

Ayah Jeongguk kembali menatapnya dan ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat—dia tersenyum ramah, kebapakan. Hangat sekali. “Semoga berteman dengan Tjok dia bisa jadi lebih jantan.”

Taehyung tersenyum pedih, menggertakkan giginya—berusaha menahan sakit hati di hatinya mendengarkan ini. Sejahat apa pun ayahnya, dia jarang melakukan ini di depan seseorang—dia biasanya memanggil Taehyung ke kamarnya lalu mengata-ngatainya sebebas maunya. Taehyung tidak masalah, dia sudah biasa. Namun mendengar Jeongguk disindir di depan orang yang bisa dibilang sangat asing di rumahnya—Taehyung baru bertemu ayahnya dua kali, adalah hal yang luar biasa meresahkan.

Belum lagi fakta bahwa Jeongguk sering diperlakukan begitu. Taehyung tidak ingin membayangkan berapa kali dia dibandingkan dengan lelaki lain hanya karena dia memiliki hati yang lebih besar dari sebagian besar orang untuk bersimpati dan bersikap lembut. Karena dia memiliki emosi yang lebih kuat dari orang lain, empati yang hebat.

Jeongguk-lah yang mengajari Taehyung caranya menjadi 'manusia' belakangan ini. Mengajari Taehyung tentang hati dan emosinya sendiri, membimbing Taehyung mengenali tiap naik-turun emosinya karena dia sangat peka dengan itu. Menurut Taehyung, itu bukanlah kekurangan—itu malah kelebihan Jeongguk, kelebihan yang tidak semua orang miliki. Hati Jeongguk begitu lembut dan kuat, dia hebat dengan kelebihan ini—mencintai dengan sangat luar biasa.

“Jika kau marah, hitung hingga sepuluh. Jika kau sangat marah, hitung hingga seratus.”

Jika saja dia tumbuh di lingkungan yang tidak menjunjung tinggi toxic masculinity di atas identitas patriarkinya.

“Ya, siap, Jikgung.” Sahut Taehyung, apa saja agar dia segera pergi dari sana dan tidak mengganggu Jeongguk lagi.

Syukurlah kemudian Yugyeom datang.

Dia berlari keluar dari kamarnya, nampak bersemangat dan ayah Jeongguk melihatnya. Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala Yugyeom—gestur yang sama sekali tidak pernah dilakukannya pada Jeongguk. Dan Taehyung yakin itu bukan karena Jeongguk jauh lebih tinggi darinya. Taehyung ingin meraih Jeongguk, memeluk dan menenangkannya sekarang karena menyaksikan ini. Hal yang membuat hatinya sendiri pedih, apalagi Jeongguk yang jelas merupakan kakak kandung Yugyeom.

Ayah Jeongguk bersikap pilih kasih dan dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.

“Ya, sudah.” Katanya tersenyum pada Taehyung dan Yugyeom. “Selamat bermain, jangan lupa makan siang.” Dia menurunkan tangannya dari bahu Yugyeom—Taehyung berani bertaruh dia berharap Taehyung-lah anak sulungnya alih-alih Jeongguk.

Sebelum dia mengatakan apa pun lagi, Taehyung bergegas menggiring kedua saudara itu menjauh dari sana. Jika dia mendengar ayah Jeongguk mengatakan hal kurang ajar pada anaknya sekali lagi, maka dia mungkin akan benar-benar menonjoknya tidak peduli seberapa senangnya dia pada perlakuan hangat yang tidak diterimanya dari ayah kandungnya sendiri.

Begitu pintu kamar ditutup sedikit, Taehyung langsung menatap Jeongguk yang balas menatapnya, menggigiti bibir bawahnya kalem—alisnya naik sebelah. “Apa?” Tanyanya pada Taehyung, tersenyum lembut.

Taehyung menatapnya, mendesah sebelum meraihnya ke dalam pelukannya, menghirup aroma tubuh Jeongguk dalam-dalam. “Aku benci sekali mendengar ayahmu melakukan itu.” Gumamnya menumpukan dagunya di bahu Jeongguk sementara Yugyeom berdiri di dekat mereka.

Jeongguk terkekeh parau, memeluk Taehyung lalu mengusap punggungnya sayang. “Sudah biasa.” Sahutnya getir dan hati Taehyung terasa diremas-remas mendengarnya. “Tenang saja, aku sudah kebal.” Dia menepuk Taehyung hangat lalu mengecup pelipisnya.

Yugyeom mengerang sebelum bergabung dengan pelukan mereka—memeluk kakaknya yang terkekeh kaget. “Kenapa, sih, kalian ini?” Tanyanya menepuk keduanya sayang. “Cupcup,” kekehnya memeluk adik dan kekasihnya yang melingkarkan kedua lengannya di tubuh Jeongguk.

“Tidak apa-apa,” Jeongguk menumpukan kepalanya di kepala Taehyung. “Ajung, 'kan, memang begitu. Diiyakan saja.” Dia tersenyum saat keduanya mendongak menatap Jeongguk yang geli.

“Sudah, sudah pelukan Teletubbies-nya. Sana temani Ogik bermain game, dia sudah merengek sejak pagi.” Dia kemudian melepaskan Taehyung dan Yugyeom yang nampak cemas, memasang senyuman lebar terbaiknya.

“Itu biasa kok.” Dia mengusap rambut Taehyung sayang. “Tidak masalah.”

Taehyung menatap Jeongguk, mencoba mencari tahu apa yang dirasakan Jeongguk di bawah senyuman itu namun gagal. Dia menghela napas, “Baiklah.” Katanya sebelum menoleh ke Yugyeom. “Ayo, Boy, kita mainkan.”

“Wiktu pernah dikatai lebih kasar dari itu,” gumam Yugyeom beberapa saat kemudian saat Jeongguk keluar untuk membuatkan dia minum dan mengambilkan piring untuk makanan yang dibawa Taehyung—nangka goreng buatan Lakshmi yang beraroma legit dan menggugah.

Taehyung memalingkan wajah sejenak dari layar televisi yang disambungkan ke PlayStation milik keduanya ke Yugyeom yang wajahnya seperti dipilin karena sakit hati. Mungkin karena resah pada perlakukan tidak adil ayahnya yang tanpa tedeng aling-aling sama sekali dan dia menjadi saksinya nyaris setiap hari. Taehyung tidak akan pernah terbiasa dengan sikap itu. Dia mengedikkan bahunya sebelum balas menatap Taehyung.

“Sering sekali bahkan.” Dia menyugar rambutnya. “Biasanya di depan keluarga besar tentang Wiktu yang mudah sakit, mudah kelelahan, atau apa. Semuanya selalu dilabeli 'seperti perempuan', 'cengeng', atau 'tidak jantan'. Aku jengkel mendengarnya, tapi mau bagaimana lagi. Melawan pun tidak ada gunanya.

“Kadang Wiktu menjawabnya, kok.” Yugyeom kemudian memilih menu—mengulang permainan mereka setelah kalah untuk kesekian kalinya dari Taehyung. “Tapi selebihnya dia hanya diam karena lelah. Menjawab hanya membuat kata-kata Ajung semakin pedas. Sering dibanding-bandingkan dengan para sepupu kami yang sudah menikah padahal umurnya jauh lebih muda dari Wiktu, sudah punya anak.”

“Kutebak dia sudah tidak sabar untuk mengusir mereka semua dari Puri setelah dia mewarisi tanah Puri dan berkuasa.” Gerutu Taehyung dan Yugyeom terkekeh serak.

“Tidak juga,” dia mengedikkan bahunya kalem dan meringis. “Wiktu bukan pendendam, dia hanya akan diam. Menghindari konflik, apalagi dengan keluarga Puri. Terlalu riskan, dia hanya menelan semua cacian mereka dan tersenyum. Syukurlah kami tinggal di Puri yang berbeda—konflik-konflik harian lebih mudah dihindari.”

“Kadang,” Yugyeom mendesah lalu menatap Taehyung—pandangannya sarat permintaan tolong yang dilandasi rasa sayang dan kasihan yang hebat untuk kakaknya. Rasa yang sejujurnya, amat dipahami Taehyung.

“Aku sungguh penasaran seberapa compang-camping hati Wiktu berusaha menelan semuanya dan tidak nampak sedikit pun tersinggung saat mendengarkan kata-kata itu.”

Taehyung terenyak. Dia reaktif, dia nyaris selalu menjawab semua cacian yang diarahkan padanya apalagi dari Tuniang. Dia selalu membalas semua emosi yang dilemparkan orang padanya tanpa lelah, terkadang malah melampiaskannya pada orang lain—khususnya semua anak buahnya di dapur jika dia merasa jengkel pada keluarganya.

Namun memikirkan bagaimana Jeongguk selalu membotolkan perasaannya—menyimpannya sendiri dan terkadang mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah dia layak merasakan itu? Itu membuatnya sedih. Jeongguk bahkan jarang sekali melampiaskan emosinya pada orang lain, dia benar-benar menelannya utuh.

Jeongguk lelaki hebat dan dia layak mendapatkan kasih sayang.

“Aku sayang sekali padamu,” katanya kemudian saat berbaring di atas dada Jeongguk. Yugyeom memberi mereka waktu berdua—mengendap kembali ke kamarnya tanpa sepengetahuan ayah mereka sehingga keduanya memiliki waktu berdua di kamar dengan pintu tertutup tanpa ketahuan ayahnya.

“Aku juga.” Balas Jeongguk, tersenyum dengan mata terpejam—memeluk Taehyung erat di sisinya. Dia menghela napas berat, terdengar nyaman berbaring dengan Taehyung dipelukannya. “Aku juga sayang sekali padamu.” Dia membuka sebelah matanya dan tersenyum saat melihat Taehyung mendongak menatapnya.

“Kenapa?” Tanyanya, mengusap rambut Taehyung lembut.

“Aku benci ayahmu.” Taehyung mendesah keras. “Tidak bisakah dia, entahlah, tidak terlalu menunjukan betapa dia membencimu? Kau tahu dia tidak menyukaimu, tidak perlu berusaha sekeras itu.”

Jeongguk mengedikkan bahu dan Taehyung bisa mendengar senyuman dalam kalimatnya, “Manusia sering kali memang berusaha membuat orang yang dibencinya tahu bahwa mereka membenci. Ingin emosi negatif itu divalidasi dengan melihat objek kebenciannya menderita dan saat objek mereka tidak menderita, mereka semakin marah. Semakin berusaha untuk menginjak-injak—aku sudah terbiasa. Apalagi tentang Ajung.”

Taehyung mendengus, bangkit dari posisinya—menggeliat dari bawah lengan Jeongguk, dia bangkit di ranjang yang berderit lalu mengangkangi perutnya. Mendudukkan dirinya di perut Jeongguk, dia menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Jeongguk dan menciumnya hingga Jeongguk terkekeh. Lelaki itu mengulurkan tangan, membelai wajah Taehyung saat dia menarik wajahnya.

“Kenapa kau marah-marah, sih?” Bisiknya geli dan Taehyung menggertakkan giginya.

“Dia membencimu hanya karena kau memiliki hati yang begitu besar dan hebat untuk mencintai.” Taehyung menunduk, menatap Jeongguk yang tersenyum di bawahnya.

“Yah,” Jeongguk terkekeh kalem dan Taehyung sungguh benci ketenangan itu sekarang. “Begitulah hidup. Banyak sekali hard-to-swallow pills yang harus ditelan.” Dia mengulurkan tangannya, menangkup wajah Taehyung sebelum menariknya lembut—mencium bibirnya dan mendesah.

“Tidak masalah,” gumamnya kemudian dengan mata terpejam dengan bibir bersentuhan dengan bibir Taehyung. “Selama kau mencintaiku, aku bisa menghadapi apa pun.”

Taehyung tersenyum simpul, mengecup bibir Jeongguk sekilas sebelum mendorong pinggulnya hingga menyentuh selangkangan Jeongguk—menggesekkannya lembut dan perlahan hingga kekasihnya mendesah tertahan. Taehyung senang melihat Jeongguk senang karena dirinya—menghibur sakit yang ditahannya karena perlakuan tidak adil keluarganya pada Jeongguk. Setidaknya dia bisa membuat pemuda itu sedikit bahagia.

“Aku baru diajari tentang gaya bercinta baru, tertarik mencobanya malam ini, tidak?” Desahnya, sengaja membuat suaranya berat dan parau untuk menggoda Jeongguk.

Mata Jeongguk seketika terbuka; teror berkilau di matanya membuat Taehyung geli. “Apa??” Tanyanya kaget dan Taehyung tergelak karena ekspresinya.

Lakshmi, Devy dan Jimin benar—dia sekarang lebih bahagia. Lebih ceria dan jauh lebih ekspresif. Taehyung menyadari hangat yang berdenyut di dadanya—lubang raksasa dingin yang selama ini membuatnya merasa hampa dan kosong, sekarang perlahan menyembuhkan diri saat Jeongguk mengisinya dengan cinta dan kasih sayang. Mengisinya hingga Taehyung mabuk oleh rasa hangat dan bahagia. Sekarang dia merasa bahagia, hangat dan utuh. Dia mudah tersenyum, mudah tertawa sekarang. Tidak lagi pahit dan getir pada hidupnya sendiri; dia merasa nyaris... penuh semangat saat bangun dari tidurnya, mendapati pesan Jeongguk di ponselnya.

Selamat pagi, Sayangnya Wiktu? Sudah bangun belum?

Dan dia yakin bisa menguras lautan sendirian setelah menerima pesan itu.

Tidak ada yang bisa menyakiti hatinya sekarang, tidak seperti apa yang dilakukan Jeongguk. Mungkin sebenarnya Taehyung sudah begitu mencintai lelaki ini sejak pertama kali mereka berkenalan, semakin dan semakin akrab—hingga akhirnya dia memiliki cukup keberanian untuk meraih bahagia yang berada di depan matanya.

Taehyung tersenyum lebar, bersemangat saat Jeongguk mendesah di bawahnya—wajahnya merah padam saat Taehyung menggesekkan dirinya pada Jeongguk, menggerakkan pinggulnya perlahan. Memastikan tiap gerakan menyiksa Jeongguk dengan kenikmatan. Gesekkan kain celana mereka yang tipis membuat Taehyung begitu bergairah—ada sesuatu dari penghalang tipis yang membuatnya semakin panas.

Tangan Jeongguk menyelip ke kausnya, memilin dadanya hingga Taehyung menggeram nikmat. Dia ingin bercinta sekarang namun ayah Jeongguk belum tidur, mereka belum makan malam bersama dan sesungguhnya dia tidak butuh makan. Dia hanya butuh Jeongguk bercinta dengannya. Mereka selalu melakukan video call sex nyaris setiap hari jika tidak kelelahan setelah bekerja dan Taehyung tidak pernah puas.

Dia ingin disentuh, ingin tangan Jeongguk di tubuhnya karena sekarang tangannya sendiri tidak lagi terasa mendebarkan.

“Aku mencintaimu.” Bisik Taehyung, terengah dengan kening menempel di kening Jeongguk. “Sangat mencintaimu.”

Jeongguk tersenyum. “Kau tidak akan pernah memahami betapa hebatnya apa yang kata-kata cinta darimu lakukan padaku dan keseluruhan hidupku, Wigung.” Dia mengecup bibir Taehyung—kecil dan berkali-kali hingga Taehyung mengerang.

“Kau tidak akan pernah bisa paham.” Bisiknya, menyelipkan jemari ke rambutnya lalu meremasnya sebelum memangut bibir Taehyung—menyelipkan lidah ke dalam mulutnya.

Taehyung berdeguk—sangat merindukan sentuhan Jeongguk hingga tubuhnya nyeri. Dia mungkin beruntung karena ayah Jeongguk menyukainya, membuka lebar pintu rumah mereka untuk Taehyung—tidak pernah bertanya jika Taehyung tidur bersama Jeongguk di kamarnya dengan pintu terkunci. Menganggap itu hal biasa bagi sesama lelaki tidur di dalam satu kamar.

Tidak tahu bahwa di balik pintu dengan lampu keemasan temaram, Taehyung sedang mendesah tertahan—menjambak rambut Jeongguk yang bergerak di atasnya. Taehyung bisa memanfaatkan sifat pilih kasih ayah Jeongguk itu untuk keuntungan mereka.

“Kita tidur di kamar lamaku malam ini,” kata Jeongguk parau sementara Taehyung di atasnya mabuk oleh gairah setelah menggesekkan dirinya pada Jeongguk sejak tadi—sekarang dia butuh bercinta, namun Yugyeom sudah menelepon mereka. “Kau bisa bebas mendesah karena jauh sekali dari semua rumah.”

Mengingatkan bahwa sebentar lagi pukul tujuh malam dan mereka harus makan malam dengan semua orang sebelum Taehyung bisa ditelanjangi dan bercinta dengan Jeongguk.

“Kita tidak perlu makan.” Keluh Taehyung, merengek saat Jeongguk menjulurkan lehernya dan menjulurkan lidah—menjilat dadanya dan menggigitinya, menariknya lembut hingga Taehyung gemetar.

“Percayalah, Sayangku,” bisik Jeongguk di kulitnya—mengecupnya lembut dan basah, menjilatnya erotis. “Satu-satunya hal yang ingin kumakan saat ini hanya tubuhmu. Kupikir kita berdua tahu itu?”

Jeongguk menyerigai di bawahnya dan Taehyung yakin dia bisa mati sebentar lagi karena gairah yang tidak tersalurkan ini. Karena mereka harus makan malam. Taehyung menatap selangkangannya dengan sedih saat Jeongguk berdiri di hadapannya. Terkekeh, kekasihnya kemudian berlutut di antara selangkangannya dan mengecupnya hingga Taehyung mendesah tertahan—otomatis melingkarkan kedua kakinya di kepala Jeongguk yang mengusap tubuhnya dari luar celananya.

“Tahan, ya?” Gumamnya lembut di atas tubuhnya yang menebal menggelisahkan. “Dua jam lagi.” Dia mengecupnya—berkali-kali dari balik kain celana Taehyung yang tipis hingga kepala Taehyung terasa ingin lepas. “Dua jam lagi.”

Taehyung ingin berteriak frustrasi. Dia tidak mau menunggu. Namun dia akhirnya menyerah dan pergi ke rumah utama untuk makan malam bersama Jeongguk dan Yugyeom. Persis setelah Jeongguk memberikannya hand-job di kamar mandi. Taehyung menumpukan kedua tangannya di dinding karena lututnya terasa lemas, celananya diturunkan hingga lutut sementara Jeongguk menempel di belakang tubuhnya—mengecupi tengkuknya dengan tubuhnya yang menembal menggesek pantatnya seraya memijat selangkangannya.

“Kau indah sekali, kau membuatku sinting.” Bisiknya di telinga Taehyung sepanjang waktu—membuat hati Taehyung berdesir senang.

Tapi, tidak perlu ada yang tahu apa yang terjadi di balik pintu yang terkunci itu, 'kan?

*