Gourmet Meal 361

tw // internalized homophobia . cw // bottom on top .


Taehyung gugup.

Dan ini pertama kali untuknya merasa gugup sepanjang hidupnya. Mereka tadi memasuki lodge bersamaan karena Jeongguk meyakinkannya bahwa mereka akan baik-baik saja. Jeongguk membuat alibi dengan memesan dua kamar dan hanya menggunakan satu kamar untuk mereka berdua. Berakting dengan mulus saat mereka berpisah di depan pintu kamar sebelum dia mengetuk connecting door kamar mereka dan mempersilakan dirinya sendiri memasuki ruangan dalam balutan bathrobe putih pudar yang menggantung longgar di bahunya.

Taehyung bersandar di pintu kamar mandi—merasakan jantungnya melonjak dengan cara tidak masuk akal. Dia pernah jatuh cinta, sebelum jatuh cinta pada Jeongguk—sekali. Namun perasaan yang dimilikinya sekarang untuk Jeongguk begitu meledak-ledak dan tidak masuk di akal, sangat asing dengan seluruh dirinya dan tubuhnya. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin sementara Jeongguk menunggunya selesai mandi di ranjang—Taehyung bisa mendengar suara tawanya saat menonton acara sitkom di televisi. Dia membawa dua kotak piza yang dipesannya di Alila tadi untuk mereka berdua, menyempatkan diri mampir di mini market juga untuk membeli beberapa botol soda.

Mereka malam ini hanya akan tidur bersama secara harfiah namun Taehyung tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kerah V bathrobe Jeongguk yang menukik rendah ke garis pinggangnya yang mungil, terikat kencang oleh tali jubah mandinya. Dia benar-benar tidak bisa menghentikan hormonnya sendiri tiap kali berada di sekitar Jeongguk—pemuda itu membuatnya mabuk, meledak-ledak oleh emosi asing tiap harinya.

Taehyung melangkah ke kotak shower, melepas jubah mandinya dan menyalakan rain shower sebelum melangkah ke bawah curahan air yang seketika membasuh tubuhnya. Dia memejamkan mata, membiarkan air hangat mengalir turun di wajahnya. Taehyung tadi bergegas menghampiri mobil Jeongguk tadi setelah bekerja dan tidak repot-repot mandi—dia memasuki Yaris Jeongguk yang beraroma pekat keringat Jeongguk dengan aroma sambal kecombrang buatannya yang hari ini dieksekusi untuk menu lunch.

Air mengalir di tubuhnya, membentuk jalur serupa sungai yang menetes ke lantai. Membawa segala lelah dan tegangnya melarut seperti gumpalan garam yang melarut. Taehyung menunduk saat menyabuni tubuhnya, menggosok permukaan kulitnya agar seluruh kelelahannya hari itu serta aroma manis memabukkan kecombrang lenyap dari pori-porinya. Dia mendesah saat sabun melarut bersama air, meleleh ke lubang pembuangan bersama sisa lelahnya hari itu. Dia menggosok shampo di kepalanya, menggaruk kulit kepalanya dan membasuhnya sebelum berdiam diri di bawah air beberapa saat.

Dengan telapak tangannya yang kapalan, Taehyung menggosok tubuhnya dengan penuh perhatian—berusaha mengalihkan isi kepalanya dari Jeongguk yang menunggu di ranjang. Seksi seperti dewa seks namun menolak seks. Taehyung menggeleng, mengusap sisa air dan sabun meluruh dari permukaan kulitnya. Dia memanfaatkan waktu mandinya semaksimal mungkin karena tegang akan bertemu Jeongguk setelah sekian lama mereka bertengkar secara konstan lewat pesan. Taehyung mematikan shower-nya lalu meraih handuk—mengeringkan tubuhnya, menjangkau tiap lekukan tubuhnya sebelum mengenakan jubah mandinya dan mengeringkan rambutnya.

Jemarinya menyentuh rambutnya, menyadari dia harus memotongnya sebentar lagi jika tidak ingin bertengkar dengan ayahnya sebelum dia menyalakan pengering rambut yang mendengung keras. Dengan bantuan jemarinya, dia menyisir helaian basah rambutnya agar terjangkau oleh angin hangat pengering rambut. Saat pengering mati, telinganya berdenging sejenak beradaptasi dengan keheningan dan dia mendengar Jeongguk terkekeh di ranjang.

Taehyung gugup.

Dia menatap dirinya di cermin, menyentuh kerah jubah mandinya lalu dengan sengaja memisahkannya agar memamerkan dadanya lalu melonggarkan ikatan di pinggangnya. Wajahnya merona dan dia tidak yakin apakah itu karena air yang digunakannya mandi terlalu panas atau karena dia menyadari Jeongguk di luar sana menantinya.

Taehyung menghela napas lalu membuka pintu kamar mandi, menoleh ke ranjang dan menemukan Jeongguk sedang tertawa tanpa suara—wajahnya merona oleh bahagia, matanya berkilau oleh tawa yang lahir di bibirnya dan dia menoleh. Dia berbaring di ranjang, terlihat sangat lezat dan menakjubkan dengan rambut menjuntai-juntai dan tepian jubah mandi yang meleleh di tubuhnya, hanya butuh sedikit saja sentuhan untuk membukanya....

Taehyung menggertakkan gigi saat mata mereka bertemu. Tawa Jeongguk surut, berubah menjadi senyuman lebar yang menembus jantung Taehyung. Dia sangat indah, menakjubkan, mendebarkan.... Seluruh hal yang diinginkan Taehyung dalam hidupnya.

“Hei,” sapanya tersenyum, rambutnya diikat longgar di atas tengkuknya dan beberapa anak rambut luruh di keningnya yang tinggi—membentuk tirai tipis yang longgar. “Kemari.” Dia menepuk ruang kosong di sisi kasurnya sementara dia berbaring miring, sangat menggoda seperti Eros.

Salahkah Taehyung jika sekarang dia seketika bergairah karena menatap Jeongguk?

Taehyung melangkah ke sana, merangkak di atas ranjang ke sisi Jeongguk yang langsung merengkuhnya. Taehyung tenggelam dalam aroma tubuhnya yang luar biasa—memeluk pinggangnya yang ramping dan mengeratkannya—tidak sudi Jeongguk melonggarkannya sedikit pun. Dia menumpukan dagunya di bahu Jeongguk yang mengecupi pelipisnya sayang. Telapak tangannya menempel di punggung Taehyung, hangat merebes dari lapisan kainnya dan mendarat di kulitnya.

“Aku mencintaimu.” Bisik Jeongguk lirih di telinganya, mengecupnya lembut dan Taehyung bergidik oleh sentuhan itu.

“Aku juga mencintaimu.” Balasnya setengah menggumam, memejamkan matanya dalam pelukan Jeongguk—mendengarkan deru napas dan debaran jantungnya, mendadak terserang ketakutan jika suatu hari nanti Jeongguk meninggalkannya.

Jika itu sampai terjadi maka Taehyung mungkin tidak akan pernah bisa menjalani kehidupannya dengan normal lagi. Tidak akan pernah bisa.

“Aku sangat mencintaimu.” Tambah Jeongguk lagi, mendesah keras. Taehyung mengaitkan jemarinya di punggung Jeongguk, mengeratkan pelukannya sebagai jawaban.

Jeongguk mungkin sudah menyusup begitu dalam ke hidupnya, melarut ke darahnya, menyublim ke tiap tarikan napasnya dan menyatu dalam debaran jantungnya. Jeongguk adalah nadi yang melangkah di sisinya—dia menjaga Taehyung tetap hidup dan bernapas. Mereka berbaring bersisian, kepala Taehyung di atas lengan Jeongguk, telinganya menempel ke dada Jeongguk yang berdesir lembut oleh debaran jantungnya. Mereka menonton acara aneh televisi, membiarkannya menyala hanya agar tidak terlalu sunyi saat piza dihangatkan dengan microwave yang tersedia di kamar mereka.

Keju yang meleleh, saus margarita yang lezat, dough yang lembut serta Jeongguk yang memeluknya—Taehyung merasa puas dan senang. Dia meringkuk semakin dalam ke pelukan Jeongguk yang terkekeh serak lalu mengecup puncak kepalanya dan bernapas di sana selama beberapa menit hingga Taehyung tenang.

“Kau ingat tidak,” gumam Taehyung teredam di dada Jeongguk.

“Hm?” Sahut Jeongguk yang bernapas di rambutnya. “Ingat apa?”

“Hari saat sup yang seharusnya dihidangkan untuk lunch tumpah di lantai dapur dan butuh satu jam untuk Steward membereskan semuanya serta bagaimana kalian harus memasak sup baru dari nol sementara semua tamu menunggu? Kekacauan itu?”

Jeongguk sejenak diam mendengar kalimat Taehyung dan berdeham; terdengar gugup dan Taehyung tersenyum simpul. “Ingat. Kenapa?” Tanyanya, membelai lengan atas Taehyung dengan lembut—membentuk pola-pola menenangkan dengan ujung jemarinya yang sedikit kapalan.

Taehyung mengulum senyuman karena dia akan mempermalukan Jeongguk. Dia meletakkan tangannya di dada Jeongguk—merasakan suhu tubuhnya yang hangat dan debaran jantungnya di atas telapak tangannya sebelum melanjutkan.

“Kau ingat pesan Whatsapp yang kautarik malam itu? Salah tekan?”

Tubuh Jeongguk menegang dan Taehyung tertawa tanpa suara—tentu saja dia ingat. Sangat ingat. Siapa yang tidak ingat hari itu? Jeongguk yang jengkel mengomel sepanjang malam tentang kekacauan sup yang ditumpahkan commis baru mereka di lantai dapur. Tentang bagaimana mereka harus mencari cara demi mengakali makanan itu agar tamu tidak menunggu lama.

Dan pesan yang ditarik.

I love you.

“Aku sudah membacanya sebelum kau menariknya. Melalui notifikasi.” Taehyung mendongak ceria, menatap Jeongguk yang sekarang merona. Dia tersenyum kecil, mengulurkan tangan dan menyentuh rona merah di atas permukaan wajah Jeongguk.

Jeongguk menatapnya. “Itukah mengapa...?” Tanyanya perlahan dan Taehyung merasakan debaran jantungnya menguat di bawah telapak tangannya—dia takut? Bersemangat? Gugup?

Taehyung menatapnya. “Mengapa aku mendadak mengajakmu minum bersama lalu kabur seperti pengecut?” Dia tersenyum, merasa malu atas dirinya sendiri karena kabur dari mobil Jeongguk karena takut pada perasaannya sendiri.

Dia takut karena jatuh cinta pada Jeongguk, takut karena merasa dirinya tidak normal. Kaget dan kebingungan pada perasaannya sendiri karena dia begitu mencintai Jeongguk—yang jika merujuk pada kuliah dari ayahnya, berarti sama sekali tidak benar. Maka dia memilih cara paling pengecut dengan kabur dari Jeongguk dan bersikap kasar padanya—berharap pemuda itu akan berhenti menghubunginya dan dia bisa melanjutkan kehidupannya dengan tenang.

Namun di sinilah dia kemudian, dalam pelukan Jeongguk—aman, damai, dan luar biasa utuh. Bahagianya berada dalam pelukan Jeongguk, hal yang selama ini berusaha dihindarinya seperti orang bodoh.

Jeongguk adalah bahagianya.

“Ya.” Taehyung tersenyum; sekarang setelah dia menerima bahwa Jeongguk adalah bahagianya, dia merasa sangat ringan dan lega. “Aku merasa... Perasaanku terbalas dan aku memutuskan aku ingin menemuimu walaupun sekali.” Dia menyentuh dada Jeongguk yang berdebar. “Aku membaca kata cintamu dan memutuskan untuk memainkan peran dengan berpura-pura tidak membacanya.”

Jeongguk mengerang panjang dan saat Taehyung mendongak, Jeongguk sedang menutupi wajahnya dengan lengannya—merona hingga ke lehernya. Taehyung terkekeh, membalik tubuhnya hingga menelungkup di sisi Jeongguk lalu mengecup dagunya. Taehyung tertawa, berusaha menarik lengannya dari atas wajahnya namun Jeongguk dengan sengaja mengunci lengannya yang sebesar paha agar Taehyung tidak bisa melepaskannya.

“Kenapa, sih!?” Kekehnya saat jemarinya terpeleset dari lengan Jeongguk dan dia tertawa—sudah lama sekali sejak kali terakhir dia tertawa hingga tersengal, tertawa karena dia benar-benar bahagia alih-alih memalsukan emosinya agar orang lain puas. “Kau malu??” Godanya.

“Diam, Wigung.” Erang Jeongguk dan Taehyung terkekeh.

“Itu berapa?” Tanyanya, mencoba melepaskan lengan Jeongguk dari wajahnya. “Dua-tiga tahun yang lalu! Kau tidak perlu malu lagi!”

Jeongguk mendadak menurunkan tangannya sehingga Taehyung yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik lengannya mendadak terpeleset dan menghantam dadanya. Dia memanfaatkan momentum itu untuk memeluk Taehyung, memenjarakannya di dadanya tidak peduli sekuat apa pun Taehyung menggeliat berusah melepaskan diri.

“Aku tidak berpikir.” Keluh Jeongguk kemudian setelah Taehyung kelelahan dan menyerah dalam pelukanya—setengah tubuhnya berbarng di atas tubuh Jeongguk. “Aku sama sekali tidak berpikir saat menekan kirim, aku hanya berpikir aku sungguh menyukaimu. Rasa suka yang melebihi rasa kagum junior atau rasa sayang seorang adik—aku tertarik secara seksual padamu.”

Taehyung mendadak merona—dia sudah berusaha sekuat tenaga agar tidak memikirkan kata seksual malam itu, mengabaikan bagaimana jubah mandi Jeongguk melorot di tubuhnya dan dia nyaris sinting berusaha menahan diri agar tidak menyingkapnya lalu mencium Jeongguk. Namun saat Jeongguk melemparkan kata itu padanya secara kasual, dia merasa seperti seorang gadis di abad pertengahan yang pertama kali mendengar kata setabu seks dari mulut seorang lelaki terhormat dan siap mengadu kepada ibu atau pengasuhnya tentang itu.

Seluruh tubuhnya bergidik sekarang namun dia berusaha tetap fokus pada apa yang dikatakan Jeongguk kemudian—dia sangat berusaha.

“Ketertarikan asing yang nyata.” Kata Jeongguk, menembus selubung gairah Taehyung yang terasa seperti jeli. “Aku berusaha mengabaikannya. Maksudku....” Jeongguk menghela napas. “Kau selurus penggaris dan pewaris Puri dan kau seorang Tjokorda.” Dia mengerang keras dan Taehyung bergidik—jika terus begini dia benar-benar akan gila.

“Aku tidak punya kesempatan. Terlalu mahal jika kau harus membuang semuanya demi kita.” Dia diam sejenak lalu menambahkan seraya memeluk Taehyung semakin erat ke tubuhnya. “'Kita' pada waktu itu terdengar begitu absurd dan abstrak.”

“Dan sekarang,” dia mendesah berat—penuh rasa syukur yang membuat Taehyung bergidik, namun sekarang bukan karena gairah. “Aku milikmu.”

“Seperti mimpi yang menjadi nyata, kau tahu.” Tambahnya dengan nada menerawang seolah Taehyung tidak ada di hadapannya sekarang.

Taehyung tersenyum lalu menggeliat, mendongak menatap Jeongguk yang menunduk menatapnya—tatapan matanya lembut dan dalam, seperti permukaan danau yang tenang. Mengundang siapa saja untuk terjun ke dalamnya dan berenang, menyelami seberapa dalam tatapan itu. Maka Taehyung merangkak ke atasnya, menjulurkan lehernya lalu menciumnya.

Detik bibir mereka bertemu, sesuatu meledak di dasar perut Taehyung. Lembut namun juga kuat, membuatnya merasa tidak nyaman namun juga nyaman. Seperti ratusan burung mengepakkan sayap mereka di sana, membanjiri perutnya dengan sensasi menggelitik yang nyatanya terasa seperti candu.

Dia mencintai Jeongguk.

Kalimat itu menyala di kepalanya, berdenyar seperti lampu neon dan Taehyung bergidik oleh betapa benarnya kalimat itu terasa sekarang—membanjiri aliran darahnya dengan perasaan cinta yang meletup-letup.

Jeongguk mendesah saat meraih tengkuknya, memperdalam ciuman mereka dengan suara dengkur lembut di tenggorokannya saat Taehyung menyelipkan lidahnya masuk—membelai geliginya dengan lembut sebelum menyentuh lidahnya lalu membelitnya. Taehyung menarik wajahnya, terengah dan Jeongguk tersenyum lembut dengan bibir bawah bengkak setelah Taehyung menyerangnya.

“Maaf karena aku bersikap menyebalkan belakangan ini.” Gumam Taehyung, merasakan keinginan untuk menjelaskan segalanya pada Jeongguk; ketakutannya, kebingungannya, segala rasa tidak percaya dirinya seraya berharap Jeongguk akan memberikannya jalan keluar.

Namun dia takut. Takut pada jawaban Jeongguk, takut menghadapi ketakutannya sendiri. Taehyung menatap Jeongguk yang tersenyum meneduhkan di bawahnya—memberikannya tatapan menyemangati yang membuatnya merasa istimewa dan berharga. Membuatnya bahagia nyaris tanpa berusaha.

Apakah dia membuat Jeongguk bahagia?

“Dimaafkan.” Sahut Jeongguk seketika itu juga, nyaris tanpa berpikir saat mengangkat tangannya dan membelai sisi wajah Taehyung dengan buku jemarinya—lembut sekali. Hangat.

Taehyung menatapnya, terjebak perdebatan sengit antara dirinya dan akal sehatnya tentang komunikasi dengan Jeongguk—tentang masalah emosinya sendiri. Namun dia menghela napas, memutuskan dia akan 'menunjukkan' saja betapa menyesalnya dia alih-alih mengucapkannya karena dia sungguh tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Aku sudah memesan meja untuk kita di Le Gourmet,” bisiknya kemudian dan alis Jeongguk terangkat—kaget dan tertarik. “Tanggalnya belum ada, Arsa sedang mencarikannya tapi kurasa dalam minggu ini.”

Jeongguk menatapnya, geli namun juga senang—dia bersinar oleh emosi itu hingga Taehyung menahan napas. Dia sungguh membuat Jeongguk bahagia? Jeongguk yang seumur hidupnya membahagiakan Taehyung?

“Dalam rangka apa?” Tanyanya, menangkup wajah Taehyung lembut—mencubit pipinya lembut.

Meminta maaf, “Kencan.” Taehyung menatapnya, hatinya berdebar—dia membuat Jeongguk bahagia, sangat bahagia hingga matanya berbinar seperti sinar matahari yang beriak, membias di atas permukaan air. Memantulkan warna pelangi ke seluruh penjuru.

“Kau suka?” Bisiknya, merunduk dan mengecup bibir Jeongguk yang terbuka.

Kekasihnya terkekeh. “Sayang,” gumamnya lembut—parau dan dalam. “Tentu saja aku suka.” Dia menatap Taehyung sayang. “Aku suka sekali. Sangat suka. Terima kasih, Wigung.”

Taehyung meledak oleh rasa bahagia karena berhasil membahagiakan Jeongguk, berhasil membuatnya bahagia. Mendengar dengan telinganya sendiri betapa kekasihnya menyukai pilihan dan rencananya hingga dia menangkup kedua pipi Jeongguk lalu mendaratkan satu ciuman panjang yang keras ke bibirnya hingga Jeongguk terkekeh teredam. Membelai tubuhnya dengan cara yang membuat Taehyung panas dan mendesah kecil saat lidah Jeongguk membelit lidahnya—mengajaknya menari.

No sex today, okay?” Bisiknya lembut, membelai wajah Taehyung yang merona saat dia menarik lepas ciuman mereka. “Kau indah sekali.” Dia mengecup bibir Taehyung yang langsung mendengkur karena sentuhannya—tangan Jeongguk membelai tubuhnya dari luar jubah mandi, mengikuti bentuk lekuknya dengan perlahan.

“Kenapa?” Tanya Taehyung, setengah merengek dan Jeongguk terkekeh—mendesah panjang saat Taehyung menempelkan tubuhnya pada Jeongguk, merasakan Jeongguk yang menegang. “Kau juga ingin,'kan.” Dia tersengal, mengecup dagu dan leher Jeongguk—berusaha menggodanya.

“Sayang,” sengal Jeongguk, menggertakkan giginya. “Sayang, jangan.” Dia mendesah, terdengar sangat kesakitan saat Taehyung menggerakkan pinggulnya perlahan—memastikan tiap gerakannya menyentakkan gairah ke kepala Jeongguk.

“Kenapa?” Tanya Taehyung, kembali merengek. Dia selalu menemukan ini, sisi dirinya yang tidak sabaran dan menjengkelkan tiap kali berada di sekitar Jeongguk—bersikap manja dan menuntut, tidak seperti dirinya yang biasa.

Jeongguk dan sikap tenangnya, sikapnya yang lembut mengayomi membuat Taehyung sangat nyaman. Membutuhkan sikap lembutnya di antara semua sikap keras dan tegas yang sejak dulu mengeroyok Taehyung sepanjang hidupnya. Sikap itulah yang membuatnya kemudian tumbuh merasa yakin Jeongguk akan memberikannya apa saja—dan pada beberapa praktik, dia memang melakukannya untuk Taehyung.

“Oh.” Taehyung mengerjap. “Kau lelah sekali, ya?” Tanya Taehyung kemudian, menyadari Jeongguk mungkin memang sangat lelah hingga menolak seks untuk pertama kalinya seraya berhenti mendadak dan mendapatkan desis penuh kesakitan mirip ular dari Jeongguk.

“Sayang,” erangnya panjang dan parau hingga Taehyung bergidik—memejamkan matanya, membiarkan suara itu meresap ke kulitnya. Dia mendesah tertahan, yakin akan orgasme hanya dengan mendengarkan Jeongguk membisikkan namanya dengan nada itu di telinganya sepanjang malam.

“Jangan berhenti tiba-tiba begitu.” Dia terengah dan Taehyung merasakan tubuh Jeongguk mengeras di bawahnya. “Kau...” Dia tercekat, tersengal berusaha membuat dirinya sendiri bicara—Taehyung menyukai ini. “Menyiksaku.”

Taehyung menunduk, menatap Jeongguk yang berbaring di bawahnya—jantungnya bertalu-talu, memukul rusuknya yang malang dengan kuat hingga nyeri. “Kau lelah, 'kan?” Bisiknya lembut, berusaha mengabaikan tubuh Jeongguk yang berdenyutdan tubuhnya sendiri yang juga berdenyut merindukan Jeongguk.

Jeongguk menggertakkan giginya. “Kurasa,” katanya—nyaris seperti orang linglung karena gairah yang membuat matanya menggelap dengan cara yang amat menakjubkan.

“Kurasa jika kau yang bergerak,” dia menelan ludah dengan sulit. “Kita bisa melakukannya.”

Taehyung menyerigai seketika senang, menyingkap jubah mandinya hingga Jeongguk mengehela napas tajam saat kain itu meluruh dari bahunya dan teronggok di lekukan sikunya. Tubuh Taehyung yang telanjang langsung nampak di hadapannya dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menempelkan telapak tangannya di atas kulit Taehyung yang mendesis oleh sentuhannya.

“Kau indah,” bisik Jeongguk terpesona, nyaris seperti manusia di bawah kendali guna-guna yang kuat. “Kau indah sekali.”

Taehyung merunduk, mengusap jubah mandi Jeongguk turun sebelum menjulurkan lidah dan menghisap dadanya yang mengeras hingga Jeongguk mengelurkan suara tercekik penuh kenikmatan, menjambak rambutnya—tersengal. Kepalanya melesak ke bantal, jelas menikmati manuver yang diberikan Taehyun—mengapresiasinya tidak peduli seberapa lelahnya pun dia.

“Dengan senang hati.” Gumam Taehyung di kulitnya, bibirnya yang lembut dan lembab menggesek kulit Jeongguk. “Dengan senang hati, Sayang.”

Taehyung bisa bicara dengan Jeongguk lain kali.

'Kan?

*