Gourmet Meal 382
tw // physical abuse , toxic parent , toxic relationship , passive behavior .
Jeongguk sangat berharap makan malam mereka hari ini bisa membuat perasaan Taehyung sedikit lebih baik.
Dia berkendara ke arah Alila, menunggu di depan gerbang masuknya untuk Taehyung yang melangkah ke arahnya dengan wajah keras dan kencang karena emosi. Jeongguk menghela napas dalam-dalam di balik roda kemudi, sudah mengganti pakaiannya dengan turtleneck gelap dan celana jins berpipa longgar yang membalut tubuhnya yang lebar dengan nyaman. Taehyung mengenakan kemeja denim kesukaannya yang tiga kancing teratasnya terbuka—menunjukkan sedikit terlalu banyak kulitnya yang sewarna zaitun.
Teringat telepon kacau mereka beberapa hari lalu saat Taehyung melemparkan bom tentang bagaimana keluarga Devy mendesakkan pernikahan mereka dan Taehyung tidak bisa berkelit. Pulang ke Puri, dia kemudian langsung bertemu dengan ayahnya—meminta janji ayahnya yang meyakinkannya bahwa dia punya dua tahun untuk menunda pernikahannya dengan Devy. Alasannya, Taehyung harus mengerjakan menu baru Alila regionalnya.
Namun yang didapatkannya malah tamparan keras dan telak ke wajahnya karena melawan. Bibirnya bengkak dan berdarah saat Jeongguk mengganti telepon mereka ke video—Lakshmi sedang membantunya mengobati luka itu bersamanya.
“Tiang takut, Turah.” Bisik Lakshmi hari itu, setelah Taehyung terlelap dan Jeongguk meneleponnya. Ingin mencari tahu apa yang terjadi karena cerita dari Taehyung yang marah sama sekali tidak membantu. “Ajung memang sering marah, tapi belakangan ini jarang.” Lakshmi berbisik dan Jeongguk menahan napasnya—dia langsung meninggalkan makan malamnya dengan Yugyeom saat menerima pesan Taehyung, menghambur ke kamarnya untuk meneleponnya karena cemas.
“Itu tadi pertama kalinya Ajung marah lagi dan memukul Tugung.” Suara Lakshmi gemetar dan Jeongguk memijat pelipisnya, membayangkan teror dan ketakutan di Puri mereka karena amarah yang pertama kali kembali meledak setelah beberapa lama hening.
“Tugung hanya datang bertemu Ajung lalu bertanya kenapa Ajung memutuskan tanggal pernikahan tanpa sama sekali memberi tahu Tugung dan mengingatkan Ajung dengan janjinya menunda pernikahan hingga Devy selesai koas. Dan Ajung meledak begitu saja—bangkit dan melayangkan pukulan ke wajah Tugung.
“Tidak mengatakan apa-apa sama sekali, Ibu berteriak mencoba melerai dan tiang baru selesai berdoa di Merajan, langsung berlari ke kamar. Jika Ibu tidak menahan Ajung mungkin Ajung akan terus memukuli Tugung. Semuanya kacau balau sekali, Turah. Ini pertama kalinya Ajung dan Tugung bertengkar sehebat itu lagi.”
Jeongguk duduk di ranjangnya setelah memutuskan sambungan dengan Lakshmi, menatap bayangannya sendiri di cermin kamarnya dan menyugar rambutnya. Merasakan perih dan kehampaan yang menyengat hatinya—dia merasa pusing. Mereka sedang berusaha mencari jalan keluar, sudah tahu bahwa waktu mereka benar-benar menipis namun siapa sangka jika ayah Taehyung memutuskan untuk semakin mencekik mereka dengan tenggat waktu.
Haruskah Taehyung melakukan pernikahan itu hanya demi menyelamatkan Lakshmi?
Wisnu jelas terdengar senang dengan kabar pernikahan Taehyung walaupun dia berusaha menyembunyikannya. Siapa yang tidak? Wisnu sudah menjadi kekasih Lakshmi dan menunggunya diizinkan menikah sejak pertama kali Jeongguk berkenalan dengan Taehyung—itu entahlah, 3-4 tahun lalu. Dia benar-benar menunggu selama itu padahal dia anak sulung di keluarganya dan cucu lelaki pertama. Tidak mudah untuk melakukan itu.
Lakshmi tidak bisa sama bahagianya dengan calon suaminya saat melihat adiknya sendiri tersungkur ke lantai karena pukulan ayahnya. Melihat darah terbit dari bibirnya dan wajahnya yang lebam—bagaimana ayahnya sudah hendak menendang Taehyung jika saja ibunya tidak bergegas menahannya dan Lakshmi berteriak keras, mengundang perhatian semua orang dan adik ayahnya datang untuk melerai. Lakshmi tidak tahu kenapa ayahnya sangat marah hanya karena Taehyung bertanya dan menurut ibu mereka, Taehyung bertanya dengan sangat sopan—sama sekali tidak menaikkan suaranya.
Hidup mereka sekarang saling membelit seperti benang yang mustahil diuraikan—Jeongguk bahkan tidak yakin dari mana memulai untuk mengurainya.
Setelahnya, Taehyung benar-benar berubah. Dia kembali menjadi kepala juru masak paling tidak menyenangkan di sana—dia mudah sekali marah, ekspresinya selalu sepat dan beberapa kali membentak Jeongguk karenanya. Luka di bibirnya serta memar di tulang pipinya sudah menguning sekarang, sebentar lagi sembuh namun luka mentalnya terlalu dalam untuk disembuhkan obat merah. Jeongguk menatap kekasihnya yang melangkah kaku ke arahnya—rambutnya berkibar di tengkuknya.
Jeongguk harus benar-benar menjaga nada bicaranya, menjaga kata-katanya dan juga sikapnya tiap kali berada di sekitar Taehyung karena dia mudah sekali meledak belakangan ini. Stres sedang melahapnya hidup-hidup sekarang, menggerogotinya perlahan seperti sekerumunan belatung. Dia menghubungi Arsa tadi, meminta mereka untuk menyajikan makanan penutup yang istimewa—berharap itu bisa sedikit menghibur Taehyung.
“Hai, Sayang,” sapanya lembut saat Taehyung membuka pintu mobilnya, lampu kabin menyala saat Jeongguk memutar tubuhnya untuk melihat kekasihnya yang berwajah kencang.
Taehyung menutup pintunya, menghela napas berat. Nampak lelah dan kurang tidur belakangan ini—Jeongguk harus tetap tersambung di telepon saat malam sebelum tidur. Membujuknya untuk tidur sebelum dia benar-benar lelap namun terbangun beberapa jam kemudian dan tidak lagi bisa tidur. Suasana Puri menegangkan, menurut Lakshmi. Tidak ada yang berani bicara keras-keras dan Tuniang sering sekali mengomel—Lakshmi takut Taehyung melampiaskan amarahnya pada Tuniang sekarang.
Jeongguk mengulurkan tangan, menggaruk rambut di atas tengkuk Taehyung lembut setelah lampu kabin mati. “Kau lapar?” Tanyanya dengan nada paling halus yang dimilikinya.
Taehyung sejenak melumer di bawah telapak tangan Jeongguk sebelum menghela napas panjang lagi. “Yah, iya.” Katanya parau dan Jeongguk tersenyum—dia mengusap rambut Taehyung lembut sebelum melepaskannya.
“Ayo kita berangkat.” Dia tersenyum, menurunkan rem tangannya dan mengganti persneling sebelum menginjak gas—dia memutar di jalan kosong, membentuk U sebelum meluncur ke Barat, ke arah Denpasar membelah jalan bypass akses Karangasem-Denpasar.
Berangkat ke Seminyak di jam-jam seperti ini tentu saja menyiksa mental pengemudi sehingga Jeongguk akhirnya memutuskan untuk memarkir mobilnya dan berjalan kaki ke restoran Arsa yang terletak sedikit terlalu dekat di jantung Seminyak—sekalian menenangkan kepala mereka. Taehyung melangkah di sisinya, hening dan tenang walaupun wajahnya nampak muram dan masam. Jeongguk ingin sekali meraih tangannya, meremasnya dan mengusapnya agar dia merasa lebih baik namun mereka berada di ruang terbuka.
“Kau oke?” Tanya Jeongguk saat mereka melangkah bersama di tengah Seminyak yang ramai oleh wisatawan dan riuh oleh percakapan, tawa, serta aroma makanan dari bistro-bistro yang terbuka. “Kita bisa pulang jika kau mau.”
Taehyung menggeleng. “Aku sudah berjanji mentraktirmu makan malam.” Dia menoleh, memaksakan seulas senyuman yang sama sekali tidak menyentuh matanya dan hati Jeongguk terasa diremas-remas.
Jika saja bisa, dia akan memindahkan beban Taehyung semuanya ke bahunya. Sudah terlalu lama Taehyung terpenjara di sana, dia butuh bernapas—meregangkan paru-parunya, mengistirahatkan otaknya yang tegang, saraf-sarafnya yang malang. Taehyung butuh berlibur dari kehidupannya sendiri. Maka Jeongguk membalas senyumannya, menahan dirinya agar tidak memeluk seniornya erat-erat—meyakinkannya bahwa hidup suatu hari nanti akan membaik.
Walaupun Jeongguk sendiri tidak yakin hidup mereka akan membaik. Mereka sedang terjebak dalam labirin tanpa ujung, Jeongguk bahkan tidak bisa mendongak menatap langit. Semuanya gelap, ke mana pun mereka berusaha melangkah mereka menabrak dinding tanaman yang tajam; menyangkut di pakaian mereka dan menggores kulit mereka. Tidak ada cara untuk meloloskan diri, mereka terjebak.
Setidaknya sekarang—begitulah Jeongguk berusaha menghibur dirinya.
Mereka tiba di Le Gourmet yang ramai, suara musik klasik diputar sayup-sayup membuat suasana terasa magis dan intim. Lampu mereka didominasi warna keemasan yang hangat, penyejuk ruangan beraroma lembut parfum desainer yang menyenangkan. Mereka disambut Kinan yang nampak cerdas dan serius dalam balutan pakaiannya yang licin—dia tersenyum ramah.
“Gung. Tjok.” Sapanya ramah sebelum menoleh ke salah seorang stafnya. “Tolong diantar ke ruangan personal di sudut.” Katanya ke staf mereka yang mengangguk, berdiri di dekat mereka siap untuk mengantar ke ruangan.
Kinan menoleh kembali ke mereka, mengecek sistem—layarnya memantul di kacamatanya. Dia membaca detail pesanan mereka lalu menyentuh layarnya beberapa kali, menyampaikan ke dapur bahwa mereka sudah tiba untuk memproses makanannya. Dia kemudian mencetak detail pesanan mereka dan menempelkannya di meja reservasi dengan pin bermagnet.
Dia mendongak ke Jeongguk dan Taehyung, “Aku sudah menerima pesanmu tentang menu dan Arsa akan sangat senang memberikan kejutan untuk makan malam kalian kali ini.” Kinan menambahkan, sebelum menoleh ke Jeongguk, mengedip sekilas hingga Jeongguk tertawa kecil.
“Trims, Kinan. Aku mengapresiasi bantuan kalian.” Kata Taehyung parau—Jeongguk sejenak menatap kekasihnya di bawah cahaya, mengamati wajahnya baru menyadari seberapa paraunya dia terdengar dan Kinan mengangguk ramah—menikmati posisinya sebagai manajer restoran.
Dia melirik staf mereka lalu merendahkan suaranya, “Mereka tidak akan mengomentari LGBTQ, itu salah satu syarat kami menerima staf di sini. Jika mereka memberi gestur, mengatakan sesuatu secara tersirat atau apa pun yang membuat kalian berdua tidak nyaman, silakan langsung memberi tahuku. Kami akan langsung menindaknya.” Kinan tersenyum menenangkan dan tidak bisa dipungkiri, Jeongguk seketika merasa nyaman karena sikap ini.
“Nikmati malam kalian.”
Jeongguk tertawa kecil. “Trims, Kinan.” Katanya mengangguk bersama Taehyung. “Sampaikan salamku untuk Chef Arsa.”
Kinan tersenyum, melambai kecil. “Sedang mengamuk di dapur, tapi nanti kusampaikan.” Dia lalu melambai ceria saat Jeongguk dan Taehyung melangkah mengikuti staf mereka ke arah ruangan yang dimaksud.
Mereka mendapatkan ruang pribadi yang nyaris terlalu besar untuk dua orang. Ruangan privat itu beraroma lembut, ditata dengan rapi dan staf yang membantu mereka sangat ramah sekali—tidak memberikan gestur atau tatapan menilai yang membuat Jeongguk tidak nyaman. Namun tetap saja, dia memberi tahu gadis itu mereka akan baik-baik saja berdua di dalam dan dia sebaiknya menunggu di luar pintu.
“Anda ingin saya panggilkan sommelier?” Tanya gadis itu sopan dan Jeongguk menoleh ke Taehyung yang menggeleng.
“Nanti akan saya infokan jika kami membutuhkan bantuan.” Jeongguk tersenyum. “Tolong ketuk pintunya sebelum memasuki ruangan, ya?” Tambahnya dan gadis itu balas tersenyum, mengangguk paham sebelum mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Sebaik apa pun dia, Jeongguk tidak ingin mengambil risiko apalagi dengan kondisi mental Taehyung yang sedang remuk dan koyak sekarang. Jeongguk menarik kursi untuk Taehyung, mempersilakannya duduk sebelum membantunya memasang serbet Le Gourmet yang berwarna burgundi cantik di pangkuannya.
Taehyung tersenyum kecil. “Kau pernah melakukan ini?”
Jeongguk nyengir. “Aku pernah menjadi FB Service selama enam bulan, berjuta tahun yang lalu dan aku jelas masih ingat caranya melayani tamu.” Dia meraih teko air dan mengisi gelas Taehyung dari sisi kanan—melakukannya dengan sangat terlatih hingga Taehyung tersenyum terhibur.
Di meja mereka sudah tersaji poppy seed bread bulat menggemaskan dengan mentega untuk dimakan seraya menunggu starter mereka diantarkan. Jeongguk duduk di kursinya sendiri, menyampirkan serbetnya di pangkuan sebelum meraih mentega dan membukanya—dia kelaparan sekali. Dia meraih rotinya, merobeknya sedikit sebelum menggunakan pisau mentega mengoles permukaannya dan menyuapnya.
“Kau kelaparan.” Komentar Taehyung mengamatinya menghabiskan roti dalam dua suapan raksasa.
Jeongguk mengedikkan bahu, “Sangat.” Ringisnya. “Jadi kuharap makanannya lezat.”
Dia kemudian mengelap tangannya, merasakan roti mengisi lambungnya sejenak sebelum meraih tangan Taehyung di atas meja dan meremasnya lembut. Ibu jarinya mengusap punggung tangannya dengan hangat—menghibur Taehyung yang menatap tangan mereka sendu.
“Kau baik-baik saja?” Tanyanya serak—merendahkan suaranya agar tidak ada yang mendengarnya walaupun suara riuhnya restoran sudah cukup untuk itu. “Ada yang ingin kau bagi denganku?”
Taehyung menatapnya, matanya berkilat di bawah lampu restoran sebelum dia mendesah keras. “Aku takut.” Katanya gemetar dan Jeongguk otomatis mengeratkan genggaman tangannya—menjaga Taehyung agar tidak remuk lalu melebur.
Dia senang Taehyung yang keras, berkenan membuka dirinya di hadapan Jeongguk. Menjadi dirinya yang lemah dan rapuh, mengungkapkan segala ketakutan dan kekurangannya pada Jeongguk alih-alih bersikap sok kuat dan menyembunyikan segalanya.
“Aku bingung.” Tambah Taehyung lirih, nyaris dikalahkan suara dengung penyejuk ruangan dan gumam obrolan di luar sana—disertai denting alat makan dan tawa. “Apa yang harus kulakukan? Desember tiga bulan lagi, Gung. Itu sebentar.”
Jeongguk memejamkan matanya, menunduk menatap tangan mereka di atas meja—jemarinya menyelip di antara jemari Taehyung, menggenggamnya erat sekali. Menjaganya tetap hangat. “Aku tahu.” Katanya lembut lalu mendongak menatap Taehyung.
“Kita tidak punya pilihan lain, ya?” Tanya Taehyung kemudian, terdengar getir dan penuh kesakitan sementara Jeongguk mengencangkan otot perutnya—menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya. “Sama sekali tidak ada?”
Jeongguk menghela napas. “Tidak.” Katanya, tidak mengenali suaranya sendiri yang dibalut perasaan putus asa. “Tidak ada untuk saat ini. Kau....,” dia menggertakkan giginya. “Kau harus menikahi dia.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti sebuah gelas yang dijatuhkan. Menghantam lantai dengan suara derak nyaring sebelum berhamburan menjadi bubuk berkilauan. Suaranya memekakkan telinga, memantul di semua sudut ruangan dan membuat keduanya seketika mengernyit karena tidak menyukai bagaimana kenyataan terasa untuk mereka saat ini.
Taehyung melemah di kursinya, bersandar dalam di sana dan memejamkan matanya—nampak sangat lelah dan tertekan. Jeongguk menggigit bibir bawahnya, tidak yakin apa yang harus dilakukannya karena mereka benar-benar terjebak di tengah labirin tanpa akhir. Jeongguk yakin jika Taehyung berusaha menolaknya, dia akan berakhir dihajar ayahnya hingga masuk rumah sakit. Menuruti ayahnya terasa jauh lebih benar karena pilihan lainnya adalah kematian.
“Kau tahu,” bisik Taehyung kemudian dan Jeongguk mendongak. “Kemarin Jimin mengatakan sesuatu tentang...” Dia sejenak berhenti, nampak gelisah dan tidak nyaman—sudah melakukan itu selama beberapa hari, seperti seekor bayi binatang yang ketakutan.
Jeongguk benci sekali melihatnya.
“Tentang bagaimana tiba-tiba hidupku di Puri menjadi jauh lebih baik setelah aku menerima Devy. Ibuku diterima, gunjingan tentang kakakku lenyap, ayahku jadi lebih menyayangiku—lebih dari apa yang pernah dilakukannya selama hidupku.” Taehyung menatapnya. “Kau... paham maksudku, 'kan?”
Alis Jeongguk berkerut. “Maksudmu... Keluarganya menolong keluarga kalian?” Tanyanya lirih.
Taehyung mengangguk. “Itu,” katanya dan bernapas dari mulutnya—seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan. “Atau merekalah dalang dari semuanya.”
Jeongguk belum sempat memproses informasi itu ketika pintu ruangan mereka diketuk dan sous chef Arsa memasuki ruangan ditemani seorang staf yang mendorong troli terisi makanan mereka dengan pemandangan Jeongguk yang pucat pasi karena terkejut. Namun dia mengendalikan dirinya dengan baik, tersenyum ramah pada keduanya seraya menyajikan makanan pembuka mereka di hadapan Jeongguk dan Taehyung.
“Chef Arsa menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa menyajikannya sendiri. Saya menggantikan beliau malam ini untuk membantu Anda dengan makan malam Anda.” Katanya sebelum mengangguk lalu menjelaskan makanan yang disajikan di hadapan mereka.
Jeongguk sama sekali tidak mendengarkan, dia menatap Taehyung dengan penuh horor. Jika memang keluarga Devy yang menyudutkan keluarga Taehyung, maka semuanya masuk akal—bagaimana hidup mendadak berubah menjadi sangat mulus untuk Taehyung. Dan Taehyung semacam tumbal yang diserahkan demi meredam 'kejahatan' mereka. Tapi, kenapa sekarang? Tidak sejak dahulu?
Sous chef Arsa akhirnya pamit undur diri setelah Jeongguk meyakinkannya bahwa dia mengapresiasi sekal perhatian Arsa pada mereka namun sungguh tidak perlu repot-repot sama sekali, mereka baik-baik saja atau yang jika diterjemahkan adalah 'tolong tinggalkan kami sendirian'. Dan chef muda itu nampak memahami pesan tersirat Jeongguk dan mengangguk sebelum mundur dan menutup pintunya.
“Dari mana kau mendapatkan pemikiran itu?” Tanya Jeongguk kemudian, mengabaikan makanannya—mendadak merasa sangat kenyang karena informasi dari Taehyung.
Taehyung menggeleng. “Aku hanya, entahlah. Memikirkan banyak sekali hal-hal negatif belakangan ini.” Dia meraih sendok appetizer-nya dan menyendok makanannya, membawanya ke mulut dan mendadak terkesiap kecil. “Oh, wow.” Katanya tulus, nampak terkejut oleh makanan itu. “Ini lezat.”
Jeongguk mengerjap, menunduk menatap makanannya dan meraih sendoknya. Taehyung sudah menghabiskan uangnya untuk ini jadi sebaiknya dia menikmatinya. Dia menyuap makanannya dan terkejut oleh ledakan rasa di dalam sendokannya—lidahnya mendecap-decap saat makanan larut bersama lidahnya dan mendarat cantik di lambungnya yang bernyanyi bahagia mendapatkan makanan seenak itu.
Sejenak aura muram mereka terhibur oleh makanan lezat Arsa yang mereka habiskan dalam waktu sepuluh menit. Untuk ukuran restoran berbintang, porsi makanan mereka lumayan cukup untuk 5 course meal karena mereka masih memiliki empat piring lagi untuk dimakan. Jeongguk meletakkan sendoknya horizontal di atas piringnya sebagai sinyal betapa dia menyukai makanannya, dia melirik Taehyung yang juga melakukan hal yang sama.
“Bagaimana Devy menyikapi perencanaan mendadak itu?” Tanya Jeongguk kemudian, perlahan setelah piring makanan pembuka mereka dibereskan.
Taehyung meneguk airnya sebelum meraih gelas anggurnya. Dia menggoyangkannya, membiarkan anggur berwarna gelap di dalamnya berpusar mengikuti arah putarannya membentuk lingkaran cantik di dalam gelasnya sebelum menyesapnya.
“Dia nampak sama kagetnya denganku.” Kata Taehyung setelah meletakkan gelasnya dan Jeongguk meraih botol anggur mereka, menambah isinya untuk Taehyung dan dirinya sendiri. Le Gourmet punya anggur-anggur lezat yang diapresiasi Jeongguk—dia mendengar sendiri dari Arsa tentang obsesi pasangannya dengan minuman keras.
“Jadi menurutku Devy tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Dia bisa dipercaya.” Taehyung menatap Jeongguk—meminta persetujuan namun Jeongguk tidak menjawab, dia masih tidak yakin haruskah mereka mempercayai kedua gadis itu?
“Kurasa sebaiknya kita tetap bersikap waspada di sekitar mereka?” Tanyanya lembut, meraih tangan Taehyung lalu memainkan cincin Tiffany mereka dengan jemarinya—berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Kita tidak tahu apakah mereka ally atau bukan.”
Taehyung menghela napas, nampak tertekan maka Jeongguk tersenyum—berusaha mengalihkan pembicaraan mereka sebelum Taehyung semakin stres. “Ayo membicarakan hal yang menyenangkan, oke? Kita pikirkan ini nanti. Kita punya waktu tiga bulan, mari cari jalan keluarnya.”
Taehyung menggertakkan giginya lalu menatap Jeongguk, sejenak nampak keras seolah akan mendebatnya dan Jeongguk berjengit selama beberapa detik karena ekspresi itu, menyiapkan diri menerima bentakannya. Hal yang sudah sering terjadi sejak dia mendengar info tentang menikah. Jeongguk entah berapa kali menjadi sasaran emosinya—menjadi bantalan amukannya tiap kali emosinya terluka, tiap kali dia merasa tertekan dan stres. Meledak seperti balon ke wajah Jeongguk dan tidak bisa dipungkiri, terkadang membuatnya teluka.
Jeongguk menelannya, menghibur dirinya bahwa Taehyung sedang mengalami hari yang buruk maka dia sebaiknya bersikap seperti kekasih yang baik dengan mendengarkannya. Nanti Taehyung pasti akan kembali normal dan baik-baik saja, Jeongguk hanya perlu bersabar—dia akan berubah sebentar lagi setelah semua stres ini berlalu.
Namun Taehyung tidak membentaknya, dia menghela napas dan memijat pelipisnya—nampak benar-benar tertekan hingga Jeongguk merasa bersalah seolah dirinya sendiri yang mengantar Taehyung ke tiang pancung dan menghukumnya mati. Jeongguk juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan sekarang—sama sekali tidak. Dia juga sama frustrasinya dengan Taehyung sekarang.
“Kita akan menemukan jalan keluarnya, percayalah. Pasti.” Jeongguk menggenggam tangan Taehyung erat—berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa mereka akan keluar dari labirin ini sementara di dalam sana, di hatinya sendiri...
Jeongguk tidak yakin, tidak sedikit pun.
Dia juga ketakutan, kebingungan, furstrasi, dan tertekan namun dia tidak bisa menunjukkannya pada Taehyung sekarang karena dia harus menjaga hubungan mereka—jika dia stres ketika Taehyung juga stres, maka mereka tidak akan bisa menyelamatkan diri.
Taehyung sedang terjebak di dalam sumur yang dalam, Jeongguk tidak akan bisa menyelamatkannya jika dia ikut melompat ke dalam sumur. Dia harus tetap bertahan di atas sana, menjaga kewarasannya sendiri seraya melemparkan tali ke dalam—menarik Taehyung ke permukaan.
Perahu mereka sedang terombang-ambing dalam badai raksasa, jika Jeongguk ikut panik bersama Taehyung maka siapa yang akan menjaga kendali perahu? Menjaga benda itu tetap di permukaan? Satu orang harus tetap waras dan itu Jeongguk.
Taehyung sudah sama sekali tidak bisa memertahankan emosinya tetap stabil—dia tegang, tertekan, dan stres. Sedikit sentilan sudah cukup untuk membuatnya mengamuk habis-habisan hingga menurut Mingyu, sudah ada tiga anak magang dalam tiga hari ini yang mengundurkan diri dari dapur Alila karena kepala juru masak mereka bersikap seperti macan sakit gigi.
Mereka diselamatkan oleh menu selanjutnya dalam makan malam mereka. Aroma seafood memenuhi ruangan saat makanan dihantarkan masuk dan staf menyempatkan diri untuk mengisi ulang gelas mereka serta gelas anggur Jeongguk sebelum undur diri. Di mangkuk mereka sekarang terisi sup seafood dengan buih tipis hasil kreasi molekular gastronomi Arsa dengan sepotong garlic bread di sisinya sebagai teman makan.
Jeongguk meraih sendok supnya yang bulat lalu menyendok makanannya dari pinggir menuju ke tengah mangkuk sebelum menyesapnya—mendesah oleh rasa kaldunya yang kaya dan melimpah. Sedikit terlalu berempah untuk makanan Prancis, namun Jeongguk paham jika sasarannya adalah kaum ekspatriat Bali maka mereka benar dengan mengutak-atik rasanya sedikit.
“Kita akan memiliki rumah di tepi pantai dan anjing yang kauinginkan.” Bisik Jeongguk menatap kekasihnya yang menyesap makanannya, tangan mereka tidak pernah melepaskan tautannya—erat dan hangat.
“Aku bersumpah.” Katanya, kali ini dengan tekad kuat yang sejenak membuatnya merinding. “Aku akan memberikan bahagia untukmu.”
Dia menatap lurus ke mata Taehyung yang balas menatapnya, merasakan cinta yang teramat dalam dan hebat di dadanya berdetak untuk Taehyung. Dia mengangkat tangan Taehyung dari meja lalu mengecupnya lembut sebelum mengusapnya sayang.
“Aku akan memberikan bahagia untukmu, berapa pun harganya.”
*