Gourmet Meal 378
ps. excuse my typo, im kinda tired x
Taehyung merengek kecil saat Jeongguk menarik wajahnya, memisahkan ciuman mereka yang lama dan dalam—lembut dan memabukkan. Jeongguk terkekeh parau seraya mengusap wajahnya sayang di dalam keremangan Yaris-nya yang terparkir di sudut Alila petang itu.
Suara ombak lembut terdengar dari kejauhan, berdebur keras tanda air mulai pasang. Angin menderu keras, menggoyangkan pepohonan tropis yang ditanam Alila di sekitar pembatas wilayah hotel dan pantai hotel. Jeongguk berkendara masuk tadi, menyapa Security sebelum meluncur ke tempat parkir mereka—di sudut parkiran karyawan Alila, tersembunyi dan jarang didatangi Security di bawah pukul delapan malam. Mereka di kursi belakang, tergencet kotak sialan Jeongguk yang terisi pakaian adat. Taehyung duduk di atas pangkuan Jeongguk—tidak berhenti merengek sejak memasuki mobil.
Perasaannya tidak enak sejak mereka meninggalkan hotel dan Taehyung tidak menyukainya—perasaan seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Mustahil dihilangkan. Dia beberapa kali berhenti bekerja untuk minum, menenangkan perasaan tidak nyaman itu hanya untuk mendapatinya datang kembali.
Berpikir apakah sebaiknya dia membatalkan kunjungannya ke griya nanti, tapi merasa bersalah karena sepertinya keluarga Devy sudah sangat menantikan kunjungannya. Mereka orang baik, maka dia memutuskan akan sedikit memaksakan dirinya beramah-tamah beberapa saat.
Jeongguk nampak tidak paham apa yang membuat Taehyung jadi sangat manja tapi dia tidak bisa tidak mengapresiasi betapa menggemaskannya dia saat merengek di dalam pelukan Jeongguk. Dia menunduk, menatap Jeongguk dalam keremangan dan terus menciumi wajah Jeongguk. Juniornya terkekeh, mengusap rambutnya sayang sementara Taehyung menumpukan pipinya di kepala Jeongguk.
“Kau sangat merindukanku, ya?” Bisiknya, membelai punggung Taehyung lembut—membelainya melingkar dan menenangkan.
Taehyung mengangguk, tidak bersuara—sedih karena sadar dia harus bergegas ke griya karena 'calon ayah mertuanya' menunggunya datang. Dia tidak menceritakan perasaan aneh yang mengganggunya sejak tadi, entah mengapa tidak juga berhasil membuat mulutnya mengatakannya. Ada sesuatu yang menahannya dan dia berusah mengabaikannya. Mungkin nanti akan lenyap setelah dia tidur. Dia harus bertamu sekarang, lebih baik tidak merusak perasaan bahagia sesaat ini.
Dan dia benci sekali fakta itu. Dia ingin di sini saja, memeluk Jeongguk terus hingga pagi—tidak sudi berpisah karena setiap pertemuan membuat perpisahaan mereka terasa lebih menyakitkan. Namun dia sungguh harus beranjak lima menit lagi atau dia akan tiba terlalu malam untuk bertamu.
Dia menarik dirinya, menatap Jeongguk yang balas menatapnya sayang. Lelaki itu mengulurkan tangannya, mengusap sisi wajahnya dan Taehyung menyandarkan diri dalam genggamannya—mendesah dalam keremangan. Aroma tubuh Jeongguk sangat menakjubkan. Aroma yang belakangan ini membuatnya sangat aman dan nyaman, aroma yang akrab dengan dirinya sendiri nyaris seperti rumah. Taehyung tidak pernah merasa Puri adalah rumahnya, itu praktis merupakan penjara dengan sipirnya yang tegas.
Namun perasaan aman dan damai yang selalu didapatkannya dari Jeongguk membuatnya merasa bahwa dia bisa mendapatkan rumah—walaupun bentuknya bukan sebuah bangunan. Hanya seseorang dan perasaan diterima yang luar biasa, membuat dasar perutnya hangat oleh cinta yang meleleh seperti sekuali cokelat panas. Taehyung tidak pernah menginginkan keluarga: konsep yang selama ini sangat menakutkan untuknya.
Ketika Jeongguk datang, menyayanginya, meyakinkannya bahwa dia berharga dan layak. Memberikan cinta yang tidak pernah didapatkannya dari orang tuanya, menjadi sosok yang lembut—membalut semua lukanya dengan perlahan, mengobatinya, membantu Taehyung bangkit dan kembali melangkah tertatih-tatih melanjutkan kehidupan setelah dia benar-benar tidak menemukan hal menarik dalam hidup.
Taehyung kembali percaya bahwa keluarga ada. Rasa hangat yang akrab ini nyata. Bangun dan tidur dengan orang yang sama, nyaris setiap hari seumur hidupnya tidak pernah terasa semenyenangkan ini sebelumnya. Dia nyaris menangis karena menginginkan kehidupan stabil itu; aman dan damai, bersama Jeongguk yang akan mencintainya selamanya. Jauh dari jangkauan keluarganya, melakukan apa saja yang diinginkannya terlepas dari kastanya.
Jeongguk mengubah hidupnya yang dingin dan kelabu menjadi hangat dan ceria.
“Aku mencintaimu.” Bisiknya, mengecup bibir Jeongguk yang tertawa tanpa suara—matanya yang dalam berkilau dalam keremangan. Taehyung tenggelam dalam tatapannya tiap kali dia menatapnya; begitu dalam hingga dia tidak ingin diselamatkan.
“Aku juga mencintaimu.” Bisik Jeongguk, meraih tangannya dan mengecup pergelangan tangannya—lama dan dalam, merasakan denyutan nadi Taehyung di bibirnya.
Sejenak hanya deru napas mereka yang terdengar dari sekitar selain deburan ombak di kejauhan. Taehyung ingin memejamkan mata, memeluk Jeongguk dan lelap dalam dekapannya—tidak ingin bangkit menjalani kehidupannya yang membosankan. Kehidupan yang jadi sangat melelahkan setelah dia mendapatkan kemewahan dalam dekapan Jeongguk.
Namun toh hidup harus tetap berlanjut. Dia mengklakson Jeongguk sebelum berbelok ke arah Barat—ke Klungkung. Dia harus mampir ke rumah Devy dan memasang wajah ceria yang melelahkan. Taehyung berkendara dengan musik sayup-sayup di mobilnya, terlalu lelah untuk mengendarai motornya hari ini. Dia menatap jalanan yang panjang dan ramai, membelok di sengol tempatnya berhenti sejenk membelikan Devy makanan yang diinginkannya.
Dia duduk di sana, menunggu martabak manisnya dikerjakan seraya mengecek ponselnya—menyadari Jeongguk belum tiba di rumah karena belum membalas pesannya dengan sedih. Taehyung mendongak, menatap langit malam yang cerah dengan resah. Dia merindukan Jeongguk, tiap perpisahan terasa semakin berat dan dia nyaris tidak sanggup menanggungnya.
Hatinya langsung terasa kosong, seperti sesuatu baru dicabut dari sana. Seperti kehidupan dan bahagianya baru saja dihisap habis saat dia harus meninggalkan Jeongguk—meninggalkan sarangnya yang hangat. Bayi burung malang yang dipaksa terbang menjauh dari rumahnya sebelum siap.
Pesanannya jadi saat Jeongguk mengiriminya pesan bahwa dia sudah tiba di rumah, baru saja berhenti akan memasukkan mobilnya. Hati Taehyung berdesir—senang karena tidak peduli sesibuk apa pun Jeongguk, dia selalu memastikan Taehyung mendapat kabarnya sebelum orang lain. Dan tidak peduli seberapa inginnya Taehyung untuk berkendara pulang, berbaring dan menelepon Jeongguk—melepaskan penatnya, dia harus berkendara ke rumah Devy.
Gadis itu menyambutnya dengan ceria, rambutnya diikat kuda tinggi di atas kepalanya saat dia berlari membuka pintu untuk menyambut Taehyung yang menyerahkan kantung plastik terisi makanan yang diinginkannya. Tidak bisa menahan diri, Taehyung menepuk kepalanya—selalu merasa sedikit lebih baik tiap kali merasakan aura positif menyenangkan Devy di sekitarnya.
Jeongguk terkadang mengingatkannya pada hidup yang sangat diinginkannya namun sulit diraih—setidaknya sekarang. Namun terkadang saat duduk di sisi Devy, mendengarkannya berbicara, Taehyung berpikir hidup pastilah sangat mudah jika dia jatuh cinta pada Devy. Memilih meikahinya dan membangun keluarga yang diinginkannya.
Hidup yang terbentang di hadapannya jika dia memilih Devy akan sangat menenangkan—semuanya lancar, seperti jalan bebas hambatan tanpa gejolak luar biasa.
Devy membuka bungkusan di tangannya, mengintip isinya lalu mendongak ke Taehyung dengan senyuman lebarnya. “Wigung ingin makan dulu atau bertemu Ajik dulu?”
Taehyung menatap anak itu, mendesah panjang dan menghentikan kepalanya yang mulai bergerak liar. Dia benci membayangkan kehidupan mana pun yang tidak memiliki Jeongguk di dalamnya. Tidak menginginkan kehidupan mana pun yang tidak memiliki Jeongguk di dalamnya.
“Ajik sudah menunggu lama, ya?” Tanyanya saat Devy mengajaknya masuk ke dalam griya-nya yang asri dan damai—suara anjing peliharaan mereka terdengar dari kandang di belakang rumah.
Sejak Taehyung bersikap tegas padanya, menunjukkan betapa dia adalah calon kepala keluarga dan Devy harus mendengarkannya, gadis itu bersikap jauh lebih sopan dan tenang sekarang. Tidak pernah menyentuh Taehyung seperti kali pertama dia mampir ke griya Devy. Menghormati ruang pribadi Taehyung, menghormati ibu dan kakaknya walaupun mereka jelas berasal dari kasta yang jauh lebih 'rendah' dari Devy. Khususnya kakak Taehyung.
“Tidak, kok.” Devy menggeleng hingga rambutnya bergoyang di punggungnya. Nampak senang hanya karena Taehyung datang dan membawa martabak manis yang diinginkannya. “Tadi Ayu bilang Wigung sedang mengurus reservasi jadi agak terlambat.”
Taehyung menahan napasnya—belakangan ini dia sangat bertoleransi pada Taehyung. Jarang merengek dan benar-benar dewasa, Taehyung penasaran apakah dia memang sedewasa ini dan menunjukkan sikap kekanakan untuk mengganggu Taehyung atau dia begini karena Taehyung?
“Terima kasih.” Katanya, melepas sepatunya di teras sebelum beranjak masuk dan Devy tersenyum lebar. “Kembali kasih, Wigung!” Sahutnya.
Taehyung kemudian duduk di ruang tamu, dengan secangkir teh dan martabak manis yang dihidangkan Devy bersama ayahnya. Mengobrol banyak hal yang absurd sebelum kemudian obrolan bergulir ke masalah pernikahan—satu-satunya topik yang tidak ingin dibahas Taehyung sekarang.
“Saya pikir jika menunggu Devy selesai koas terlalu lama,” kata ayah Devy menyesap kopinya dan menatap Taehyung dengan tatapan yang selalu digunakan ayahnya tiap kali Taehyung melakukan hal yang tidak disukainya.
Devy melirik Taehyung, nampak meringis dan Taehyung tahu anak itu tidak ada urusan dengan pembicaraan ini. Taehyung menghela napas—kata siapa menjadi lelaki enak? Banyak lelaki yang menikmati gender superiority mereka dalam lingkungan patriarki Bali namun Taehyung sama sekali tidak—jika itu berarti semua orang merongrongnya dengan pernikahan detik dia menginjak usia dua puluh tiga tahun.
Dan dia sekarang tiga puluh tujuh tahun.
“Menikah tidak butuh waktu lama, Devy bisa izin beberapa hari dari koasnya untuk rangkaian pernikahan sebelum kembali.” Ayah Devy meletakkan cangkirnya di meja. “Kau juga bisa cuti sebentar dari pekerjaanmu, 'kan?”
Taehyung menggertakkan giginya sejenak sebelum menghela napas dan mengangguk—lebih karena dia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. “Bisa, Ajik.” Katanya, separuh berbisik.
“Lalu apa masalahnya hingga kalian memutuskan menunda dua tahun untuk menikah?” Ayah Devy menatapnya, matanya membuat Taehyung merasa kecil dan lemah—ketakutan karena dia tidak mau melakukan ini. “Bulan Desember nanti ada dewasa ayu, bagaimana jika kalian menikah saja?”
Langit runtuh ke atas Taehyung, menyiramnya dengan rasa berat dan beban yang sejenak membuatnya limbung dan terserang vertigo ringan. Matanya gelap selama beberapa detik mendengar kalimat sederhana yang dilemparkan ayah Devy padanya. Di sisinya, Devy terkesiap kecil—jelas juga tidak menyangka bahwa ayahnya meminta Taehyung datang hanya untuk mendesakkan pernikahan mereka.
Seharusnya tadi Taehyung membatalkan saja kunjungannya hari ini lalu memesan kamar di Candidasa atau bahkan di Alila. Memaksa Jeongguk untuk tinggal dan menemaninya tidur hingga pagi—menghindari kenyataan, menghindari hidup yang semakin hari tidak pernah semakin mudah untuknya. Seharusnya Taehyung tidak mengiyakan ajakn Devy untuk datang ke rumahnya.
Dia seharusnya kabur dari Puri bertahun-tahun lalu. Taehyung seharusnya tidak pernah mengenal Jeongguk dan jatuh cinta padanya. Dia seharusnya tidak pernah lahir.
Hidup ini terlalu berat untuknya—Taehyung tidak lagi yakin dia bisa menghadapi hari-hari kedepannya. Lelah pada semua tuntutan yang disurukkan ke bawah hidungnya, dicekokan padanya seperti pil pahit yang tidak juga tertelan—melarut dengan liur dalam rongga mulutnya, menyengat lidahnya.
“Saya tidak melihat keuntungan apa pun dari menunda pernikahan kalian ini.” Tambah ayah Devy, suaranya terdengar dingin—sangat berbeda dari kesan ramah dan hangat yang ditunjukkannya pada kali pertama Taehyung berkunjung.
Seharusnya Taehyung tahu; manusia adalah makhluk paling kompleks. Kemampuan berpikir mereka hanya membuat mereka semakin licik dan mengerikan. Kemampuan manipulasi mereka, berakting demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Begitu akrabnya manusia pada kejahatan hingga mereka tidak lagi bisa membedakan ketulusan—asing pada sikap baik dan tulus, mulai melabeli mereka yang baik dengan 'manipulatif' dan 'palsu'. Karena mereka terbiasa mendapati manusia lain bersikap baik hanya untuk mendapatkan keuntungan.
Seharusnya dia tahu, dia tidak bisa mempercayai kesan pertama keluarga Devy.
Kalimat Jimin tadi melintas di kepalanya—kecurigaannya pada Devy, pada semua omongan miring tentang Lakshmi yang mendadak redup dan lenyap, hidup ibunya yang sekarang berangsur membaik setelah selama bertahun-tahun seperti hidup di dalam neraka di rumahnya sendiri. Segala aspek dalam hidup Taehyung yang mendadak 'membaik' setelah dia menerima perjodohan ini.
Taehyung masih diam—otaknya menolak bekerja sama. Dia seperti berada di dalam bola jeli raksasa yang mengurungnya, membatasi geraknya dan membuatnya sulit bernapas. Dia berusaha bergerak namun jeli itu menaha gerakannya, membuatnya kelelahan karena mencoba. Maka Taehyung menyerah, diam dalam cekikan itu.
Devy membuka mulutnya, terdengar sedikit takut. “Bagaimana jika bertunangan dulu saja, Ajik?” Dia melirik Taehyung yang masih membeku di kursinya—terkejut oleh bom yang dilemparkan ayahnya. “Mungkin masih ada yang Wigung ingin kerjakan sebelum menikah?”
“Omong kosong,” ayah Devy mendengus dan menambahkan tawa dingin di ujung kalimatnya—tawa yang mengiris pendengaran Taehyung. “Dia seharusnya mencemaskanmu.” Dia menatap anaknya yang meringis—melirik Taehyung cemas. “Kau perempuan, kau tidak baik melajang lama-lama. Usiamu sudah akan dua puluh tiga tahun, sudah siap menikah.”
Apa yang harus dilakukan Taehyung sekarang...?
“Tadi saya sudah bertemu ayahmu,” tambah ayah Devy dengan nada final yang membuat rahang Taehyung mengeras.
Jika ayahnya sudah ikut campur maka Taehyung jelas tidak memiliki pilihan lain selain mendengarkan dan mengikutinya karena hidup ibu dan kakaknya bergantung pada pilihan Taehyung. Tidak peduli seberapa inginnya dia untuk bangkit dan pulang dari sana, kabur dari kenyataan pahit yang harus dihadapinya; Taehyung tetap duduk di sana. Nampak setenang samudera walaupun di dalam hatinya, badai bergolak luar biasa hebatnya.
Dia ingin menghubungi Jeongguk sesegera mungkin. Butuh pemuda itu menjaganya tetap waras. Karena dia tidak akan bisa menghadapi ini sendirian. Dia butuh seseorang untuk diajaknya bicara—seseorang yang akan memeluknya tetap utuh sementara dirinya remuk rendam diremas kehidupan.
“Katanya tidak masalah jika kalian menikah bulan Desember. Ibumu malah sangat bersemangat dan tidak paham mengapa kau menunda-nunda pernikahan.” Ayah Devy kembali bicara dan Taehyung bergeming—matanya menerawang, mencoba dengan keras memproses informasi di sekitarnya.
Apa yang harus dilakukannya....?
“Jadi kami putuskan saja, kalian akan menikah bulan Desember nanti.”
*