eclairedelange

i write.

Part 1 tw // suicidal thoughts .

cw // dom Taehyung & keluarga pinus as cameo


ps. dom =/= top. oke, anak-anak? :“) dom itu sifat, mendominasi. top itu posisi seks. jadi dominant bottom berarti dalam hubungan seks dia di bawah, tapi dalam dinamis emosi dia mendominasi hubungan. begitu pula sebaliknya pada submissive-top, atau dominant top dan submissive bottom. *top dan bottom tidak menentukan sifat seseorang.* pss. aku warn krna di sini sifat dingin taehyung bisa jadi buat beberapa orang sangat dominan jadi yawda mending warning daripada daripada.


Jeongguk tegang.

Dia kesulitan berkonsentrasi sepanjang hari Senin yang lumayan sibuk karena mereka kedatangan 5 honeymoon couple jadi dia harus menyiapkan welcome cake dan private dinner di lima titik berbeda. Syukurlah Namjoon berhasil menyamai kecepatannya dan tidak membuat mereka terlalu keteteran. Berkali-kali otaknya terpeleset, memikirkan apa yang harus dibicarakannya dengan Taehyung setelah selama beberapa waktu tidak saling kontak sama sekali.

Terakhir kali dia melihat Taehyung, pemuda itu kusut masai karena demam dan kelelahan serta kurang tidur. Bukan kondisi terbaiknya tapi Jeongguk tidak masalah. Teringat wajahnya yang merah padam serta jejak air mata di pipinya saat Jeongguk bangkit—tidak lagi bisa melakukan apa pun demi mengubah keputusannya dan beranjak pulang.

Siapa sangka hidup kemudian terjungkal begitu ekstrim menuruni lembah yang berbatu setelahnya hingga mereka berakhir seperti ini.

Jeongguk dengan pertunangan di depan mata dan Taehyung yang nampaknya sudah sangat menerima perjodohannya. Dia tidak bisa mengenyahkan bayangan foto yang dikirim Taehyung ke grup hari itu. Jantungnya seketika mencelos dan menarik napas tajam di tengah makan siangnya dengan Mirah dan Yugyeom; mengundang pertanyaan yang berhasil dihindarinya.

Serta bagaimana Jeongguk dengan kekanakan kemudian mengambil foto Mirah dan balas mengirimkannya seolah berkata, 'Kau bahagia? Keren. Lihat, aku juga.'

Bukan taktik yang bagus, tapi tidak masalah. Egoisme Jeongguk dipuaskan dengan tingkah itu. Dia mendorong piring ke anak servis yang menerimanya—itu piring terakhir sebelum Pastry mengambil alih mempersiapkan makanan penutup. Jeongguk mengelap tangannya, meraih pensil yang diselipkan di telinga kanannya dan mencoret nota terakhir sebelum menyerahkannya kepada FB Captain untuk dicocokkan dengan sistem.

Jeongguk melirik jam, sudah pukul enam sore. Tidak yakin apakah Taehyung sudah menunggunya saat dia membubarkan anak-anak dan beranjak ke loker untuk membersihkan dirinya. Terlepas dari ketegangan karena akan bersama Taehyung dalam satu mobil untuk pertama kalinya, dia juga ingin menanyakan restoran baru Arsa. Berpikir pasti menyenangkan jika memiliki restoran; mengepalai dapur sendiri dan tidak terikat atau tunduk pada siapa pun. Cukupkah pengalaman dan kemampuan Jeongguk untuk melakukan itu?

Dia menarik lepas kaus dalamnya di dalam bilik mandi, menyalakan shower dan mengatur air panasnya. Karena Taehyung memblokir nomornya, Jeongguk tidak merasa bersalah jika dia membuat Taehyung menunggu. Salah siapa? Dia melangkah ke bawah kucuran air dan membiarkan air hangat membasuh dirinya; air meleleh di tubuhnya, meluncur di atas otot-ototnya yang agak kencang karena ketegangan servis.

Dia mengusap sabun ke atas tubuhnya, berusaha memijat ototnya agar rileks. Jeongguk mengusap wajahnya yang dipenuhi lelehan air, menatap pantulan samar wajahnya di dinding kamar mandi yang dilapisi keramik putih. Dia tegang sekali; tidak yakin pada mengendalian dirinya sendiri jika Taehyung ada di sekitarnya. Tidak yakin apa yang harus dikatakannya pada Taehyung sekarang; apakah dia bahagia? Sungguh-sungguh bahagia dengan kehidupannya sekarang?

Karena jika dia bahagia....

Jeongguk mengenakan pakaiannya, mengeringkan rambutnya dengan hair-dryer karyawan sebelum mengenakan kemeja denimnya. Mengancingkannya sebelum menyelipkan kedua kakinya ke dalam pipa celana jinsnya dan menarik ritsletingnya. Dia menyugar rambutnya, membiarkannya tergerai hingga punggungnya kemudian meraih tasnya yang terisi pakaian kotor dan melangkah keluar.

Dia berpamitan pada Security yang berjaga di pos karyawan lalu memanjat keluar ke tempat parkir. Matanya memicing, mencoba mencari mobil Taehyung namun tidak sanggup mencapai pos Security pintu masuk. Maka dia bergegas melangkah ke sana, sedikit berlari karena tersengat rasa bersalah karena terlambat. Semakin mendekat, dia melihat Jeep Hard Top terparkir di dekat sana—jelas tidak diperkenankan masuk karena dia bukan tamu hotel dan juga bukan karyawan.

Jeongguk menghela napas. Ini dia.

Karena jika Taehyung bahagia, maka dia siap melepaskan lelaki itu. Melepaskannya bahagia dengan siapa pun pilihannya sementara Jeongguk melanjutkan kehidupannya sendiri—menyimpan semua kenangan mereka sebagai permata dalam hidupnya, ingatan yang akan selalu dikunjunginya tiap kali dia merindukan Taehyung.

Dalam hidup, tidak semua hal berjalan seperti rencana. Jeongguk paham itu.

Dia berlari kecil ke mobil Taehyung, menyapa Security yang melambai ramah sebelum dia tiba di sisi penumpang. Dia berusaha menatap ke dalam, melewati kaca gelap namun tidak berhasil melakukannya. Jeongguk meraih gagang pintu dan menariknya terbuka. Menjejak di pedal bantuan, Jeongguk mendorong dirinya ke atas.

Memanjat naik persis saat lampu kabin menyala dan dia langsung berhadapan dengan mimpi indahnya; Taehyung.

Pemuda itu duduk di balik kemudi, nampak jauh lebih dingin dan misterius daripada terakhir kali Jeongguk bertemu dengannya. Wajahnya keras, kedua tangannya berada di roda kemudi—buku jemarinya memutih karena mencengkeram terlalu kuat. Hati Jeongguk sedikit lega, jantungnya berdetak lebih lembut; setidaknya dia tidak sedirian merasakan ketegangan aneh ini. Selebihnya dia nampak sehat dan segar.

Lalu dia menyadari hal lain.

“Oh,” katanya persis sebelum duduk di kursinya—matanya terpaku pada rambut Taehyung yang mengencangkan rahangnya. “Rambutmu....?” Bisiknya lirih, tangannya terulur sedikit hendak menyentuhnya namun Taehyung merespons gerakan itu dengan berjengit menjauh sehingga Jeongguk menarik tangannya kembali.

“Maaf.” Gumamnya, mengerjap—kebingungan berusaha memproses segalanya.

Mobil itu tetap beraroma pekat seperti Taehyung—parfumnya yang beraroma lembut dan juga selapis keringatnya yang khas. Jeongguk pernah terbangun dalam kungkungan aroma itu selama dua hari magis mereka. Dia tidak yakin pusing di kepalanya disebabkan kurang karbohidrat, kurang tidur, aroma tubuh Taehyung yang sangat dirindukannya atau fakta bahwa pemuda itu mengubah drastis penampilannya.

Mungkin kombinasi mematikan dari semuanya, Jeongguk tidak lagi paham.

“Tolong tutup pintunya dan kenakan sabuk pengaman.” Kata Taehyung dingin kemudian, tidak menoleh sama sekali dengan rahang kencang.

Jeongguk bergegas melakukannya, dia mengaitkan sabuk pengamannya sebelum Taehyung menyalakan mesin mobilnya. Dia membanting pintu tertutup dan lampu kabin otomatis mati. Sekarang dia hanya bisa melihat siluet Taehyung di balik kemudi. Matanya tidak bisa berhenti mengamati rambut Taehyung yang sekarang dicukur rapi—bagian bawahnya dipangkas tipis, dia nyaris nampak seperti manusia baru.

“Apakah...,” Jeongguk bicara dalam keheningan saat mobil meluncur menuruni jalan masuk Amankila untuk bergabung ke dalam lalu lintas menuju Ubud. Dia menghela napas, sejenak tidak yakin untuk menanyakan ini namun dia tidak bisa menahan diri.

“Apakah dia memintamu memotong rambut?”

Jeongguk tidak bisa bohong dia sangat menyukai rambut Taehyung—lembut dan harum, pemuda itu mengurusnya dengan baik. Dia suka menyelipkan jemarinya ke sana, menyisirnya lembut dan menjalinnya. Jeongguk suka membantunya menyisir rambut Taehyung yang kusut sehabis keramas, suka melihat bagaimana Taehyung menggelung rambutnya, nampak sangat eksotis dan mendebarkan—dia mencintai rambut Taehyung. Terasa seperti jati diri Taehyung dihapuskan saat dia memotongnya—membuatnya nampak jauh lebih berjarak, jauh lebih angkuh dan dingin sekarang.

Nyaris tidak.... manusiawi.

Dan mereka berdua tahu jelas siapa dia yang Jeongguk maksud.

“Tidak ada yang memaksaku memotong rambut.” Sahut Taehyung, setengah membentak dari sela geliginya yang terkatup. Wajahnya terganggu, bahkan dalam keremangan mobil sekalipun Jeongguk bisa melihatnya.

Jeongguk mundur seketika, menyadari perubahan emosi ekstrim Taehyung yang anehnya, dirindukannya. “Baiklah.” Katanya kemudian menyandarkan dirinya ke kursi, menatap ke luar jendela—berusaha untuk tidak melirik ke profil Taehyung di sisinya yang mengemudi dengan sedikit terlalu cepat dari biasanya.

Dia bisa merasakan kemarahan Taehyung dari caranya memutar roda kemudi, ajaib bagaimana dia masih bisa memahami hal-hal kecil semacam ini setelah sekian lama. Namun Jeongguk tidak berkometar, rambut Taehyung yang dipangkas rapi sudah cukup membuatnya syok sekarang.

Berada di dalam mobil bersama Taehyung ternyata tidak semenegangkan apa yang dibayangkan Jeongguk sejak tadi karena setelah lima menit, dia mulai rileks dengan keheningan mereka. Taehyung fokus mengemudi dan Jeongguk berusaha mengamati jalanan yang mulai gelap—mencari hal menarik untuk dipandangi selain Taehyung dan rambut barunya di balik kemudi.

Perjalanan menuju Ubud terasa seperti berabad-abad. Saat mereka meluncur ke arah Campuhan, Jeongguk tidak bisa tidak teringat perjalanan terakhir mereka ke sana sebagai teman. Sebelum segalanya berubah drastis, bagaimana Taehyung nampak jengkel sebelum kemudian berbinar seperti anak kecil saat memasuki dapur Le Paradis.

Jeongguk akan memberikan apa saja demi melihat ekspresi itu lagi.

Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan Jeongguk sekarang, termasuk apakah dia bahagia—benar-benar bahagia karena itu sangat penting bagi Jeongguk. Namun lidahnya kelu, bibirnya tidak sanggup membuka karena dia sungguh tidak ingin merusaka keheningan nyaman di antara mereka. Taehyung sama sekali tidak berusaha mencairkan suasana, nyaris seperti pengemudi taksi yang mengantar pelanggan.

Jeongguk pernah menaiki taksi dengan supir yang jauh lebih ramah dari ini.

Dia ingin menanyakan kabar Lakshmi, ingin menanyakan pekerjaannya, ingin menanyakan kenapa dia memotong rambutnya jika memang Devy tidak memaksanya melakukannya. Banyak sekali hal yang ingin ditanyakannya namun dia sungguh tidak berani—apalagi setelah Taehyung menyalak padanya karena pertanyaan rambut tadi.

Dia sungguh tidak ingin merusak malam ini.

“Maaf merepotkanmu.” Katanya akhirnya saat mereka mendekat ke jalan masuk Le Paradis yang menyala dengan lampu-lampu mungil keemasan, berpendar seperti bintang-bintang mungil.

“Tidak masalah.” Sahut Taehyung seketika, memasang sein dan memutar kemudi hingga mobil bergerak membelok ke jalan masuk Le Paradis yang terang—lembah Campuhan di kejauhan nampak gelap dan berdesir oleh angin malam udara Ubud yang agak dingin.

Jeongguk menunggu, berharap Taehyung bertanya tentang kondisinya namun chef senior itu tetap mengemudi menyusuri jalan setapak Le Paradis hingga pintu depannya yang terbuka nampak. Ada banyak motor di tempat parkirnya dan beberapa mobil. Di dalam nampak ada pesta yang lumayan ramai dengan anak-anak muda yang mengenakan kaus seragam UFF 2021, salah satu pintu gandanya terbuka—Raditya berdiri di sisi pintu dengan senyuman ramah di bibirnya bersama Kinan yang menunduk ke komputer restoran, layar memantul di lensa kacamatanya.

Mereka bersidiam saat Taehyung memarkir mobilnya. Dia menarik rem tangannya lalu melepas sabuk pengamannya—mencabut kunci dan bergegas turun. Tanpa mengatakan apa pun, melompat ke tanah sehingga Jeongguk menghela napas dan bergegas menyusulnya. Taehyung bisa merajuk seperti anak kecil tulen jika dia mau dan dia akan sangat diam.

Jeongguk merindukan roller-coaster emosi ini, sungguh sangat merindukannya.

Dia mendarat di tanah saat Taehyung mengunci mobilnya persis setelah Jeongguk membanting pintu menutup. Mereka melangkah ke cahaya dan Raditya langsung menyadari kehadiran mereka.

“Oh, halo, Chef!” Sapanya ramah, senyumannya merebak dan langsung menular. “Silakan, sudah ditunggu.” Dia mempersilakan keduanya masuk ke dalam restoran yang ramai.

Musik mendayu-dayu diputar dalam volume yang nyaman sementara di show kitchen ada Arsa dan Felix dalam balutan seragam dan apron, ditemani dua sous chef Le Paradis sedang memasak sesuatu yang berasap serta beraroma pekat saus teriyaki. Beberapa anak-anak panitia sedang berkerumun di sekitar mereka, menyaksikan antraksi itu sambil mengabadikannya dengan kamera—beberapa kali mendesah kagum pada kecepatan dan ketepatan duet Arsa-Felix dibantu dua sous chef berpengalaman.

Jeongguk menerima minuman yang disodorkan oleh Raditya dan Taehyung menerima gelasnya sendiri. Jeongguk mengangguk dan mengedikkan gelasnya pada Kinan yang balas mengangguk ramah—nampak licin dan rapi seperti biasa dalam balutan turtleneck yang mencetak tubuhnya.

Jeongguk langsung kehilangan Taehyung yang meluncur ke show kitchen tanpa berpamitan, mendekat ke Arsa yang sedang menyelipkan pensil ke telinga kanannya. Rambutnya diikat tinggi, membentuk bun rapi yang nampak menyakiti kulit kepalanya sementara di sisinya Felix bekerja dengan jauh lebih tenang dengan penutup kepala dengan sous chef senior Le Paradis. Arsa mendongak dari pekerjaannya yang langsung didorongnya ke sous chef junior mudanya yang menerima sauce pan itu dengan cekatan, nyaris tanpa menyia-nyiakan satu detik pun.

Dia dan Taehyung bicara sebentar sebelum Arsa tertawa parau dan keluar dari dapurnya. Taehyung mengeluarkan buku kecil dari saku celananya dan mulai membukanya sehingga Jeongguk teringat resep yang hendak dibicarakan Taehyung dengan Arsa. Jeongguk mengalihkan pandangan, menatap ruangan Le Paradis yang didominasi warna perak, hitam, dan biru gelap yang megah. Jendela-jendelanya berkilauan, lampu kristal di langit-langit membiaskan pelangi ke seluruh ruangan.

Buffet makanan dibuka, tersaji di meja panjang bersama cemilan-cemilan, fruit punch, canape serta cake-cake mungil yang disusun membentuk menara di sisi menara tinggi vanilla profiteroles. Jamuan makan malam yang sangat mewah, jika Jeongguk boleh berkomentar. Lengkap dengan dekorasi minimalis, lilin-lilin aromaterapi dan standing bouquet cala lily yang beraroma lembut.

Jeongguk melangkah ke sana dan meraih sepotong kue, menjejalkan ke mulutnya dan mendesah saat kuenya yang lembut melumer ke mulutnya.

Inilah mengapa dia tadi ingin mengajak Mirah. Setidaknya dia memiliki seseorang untuk diajak mengobrol dan membiarkan gadis itu mencicipi makanan restoran bintang Michelin untuk pertama kalinya. Namun menilai dari sikap Taehyung, sepertinya dia benar dengan tidak membawa gadis itu. Dia nyaris kasar selama perjalanan tadi dan orang yang tidak mengenal Taehyung dengan baik pasti akan langsung tersinggung.

Mirah terlalu lembut untuk menghadapi emosi Taehyung yang setajam pedang bermata dua. Dia mengamati Taehyung berdiskusi dengan Arsa yang mendengarkan dengan serius dalam balutan seragam Le Paradis-nya yang bernoda. Semua orang menikmati pesta itu—tertawa, mengobrol, makan. Berbahagia.

Sementara Jeongguk berdiri di sana, merasa sepenuhnya kosong. Dia menatap sampanye di tangannya, mengamati gelembungnya yang meletup-letup sebelum membawanya ke mulutnya dan menyesapnya perlahan. Sejak kapan dia tidak memiliki teman? Apakah dia memang semenyedihkan ini? Dia menyadari tanpa Felix, Arsa atau Taehyung, dia merasa sendirian.

Dia meraih sepotong kue lagi dan menyuapnya, mengunyahnya hanya agar memiliki kegiatan selain nampak menyedihkan di sudut ruangan saat Kinan menghampirinya. Dia beraroma semerbak—campuran antara mawar, bakung hutan, sedikit melati dan eukaliptus: nyaris membuat kepala Jeongguk pening. Bagaimana dia selalu nampak rapi, harum, dan necis selalu membuatnya geli karena pasangannya praktis adalah manusia paling urakan yang pernah Jeongguk temui.

“Tidak begitu caranya menikmati pesta, Gung.” Komentar Kinan, tiba di sisinya dan meraih piring untuk makan, sedikit geli. “Makanlah sesuatu, pergi mengobrol. Ganggu Felix bekerja, mudah kok.” Dia menyendok daging dan sayuran dari chafing dish di atas meja.

Jeongguk tertawa kecil, “Tidak sedang terlalu ingin mengobrol dengan orang-orang.” Katanya kemudian, menyadari bahwa itu benar. Selama ini, sejak mengakhiri hubungannya dengan Taehyung, dia nyaris tidak pernah bicara dengan siapa pun selain Yugyeom dan Mirah.

Bahkan saat bertemu keluarga pun, Jeongguk lebih banyak diam, mendengarkan dan tersenyum. Membiarkan Mirah atau Yugyeom berbicara untuknya karena dia sungguh tidak memiliki energi untuk bicara. Percakapan personal dan basa-basi membuatnya lelah dengan cepat, menghisap habis energinya. Sejenak dia bersyukur Mirah tidak seperti gadis-gadis yang dahulu dikencaninya, tidak rewel tentang pasangan mereka atau merengek diantar ke sana ke mari. Dia bahkan memasakkan makanan untuk Jeongguk alih-alih memintanya memasak.

Benar kata Taehyung, mudah mencintai Mirah. Sangat mudah karena dia secara harfiah segala hal yang diinginkan lelaki dalam diri perempuan; mandiri, kuat, cantik, sopan, dan sangat menghormati pasangannya. Dia juga pintar menempatkan diri, pembawaannya sangat ningrat dan berpendidikan.

Lalu kenapa hatinya tidak bisa mencintai Mirah?

“Duh.” Suara Kinan menyadarkannya dan dia bergegas menyesap minumannya agar tidak tertangkap basah sedang melamun, tapi terlambat—Kinan menangkap segalanya. “Jangan menerawang begitu. Kau membuatku takut.” Kinan menambahkan tawa lirih sebelum menyuap makanannya, berdiri di sisinya—aroma parfumnya lama-kelamaan membuat Jeongguk rileks.

Dia kemudian diam sebelum menghela napas, “You seem... troubled.” Katanya dan Jeongguk menatap gelasnya, apakah dia memang nampak sangat menyedihkan?

“Ya?” Tanyanya, tersenyum lemah. Sejenak berpikir bagaimana rasanya bisa merengkuh seseorang yang dicintainya dengan sebebas apa yang dilakukan Kinan dan Arsa? Mereka bahkan tidak segan untuk berciuman di hadapan semua orang—sama sekali tidak peduli pendapat orang-orang.

Rasa iri benar-benar mencekiknya sekarang dan jutaan 'bagaimana jika' yang akan selamanya tetap menjadi bagaimana jika.

Kinan mengedikkan bahunya, tersenyum ramah. “Aku tidak terlalu kenal dengan teman-teman pasanganku.” Dia menyendok makanannya, sendok berdenting dengan piringnya sebelum dia menyuapnya dan mengunyah perlahan. Kemudian melanjutkan, “Tapi aku tahu beberapa orang. Kau nampak berbeda dari kali terakhir aku bertemu denganmu di UFF.”

Jeongguk tersenyum separo, mengangkat wajahnya dari gelasnya dan menatap Felix yang baru saja menyelesaikan sesinya. Dia menepuk bahu sous chef muda Le Paradis yang nampak bersinar sebelum mereka bertiga mundur dari show kitchen dan bergabung dengan pesta.

“Kau nampak sakit dan kelelahan.” Kinan melanjutkan. Tidak terlalu sopan, Jeongguk menyadari namun dia tidak masalah. Dia lebih suka pembicaraan blakblakan daripada nada manis palsu menanyakan kabarnya. “Makanlah sesuatu. Ayo.”

“Gung.” Sapa suara berat dan dia menoleh, menemukan Felix melepas penutup kepalanya dan membiarkan rambutnya meluruh. Wajah Felix berubah saat menatap ekspresinya. “Man, apa yang terjadi padamu?”

Kinan mengedikkan sendok makannya pada Felix yang masih menunduk menatap Jeongguk, “Kubilang juga apa.” Katanya sebelum kembali makan. “Dia nampak mengerikan. Setidaknya kehilangan 5 kilogram.” Kinan melirik tubuhnya sekilas. “Dan berjam-jam tidur nyenyak.”

Dia lalu tersenyum lebar saat Jeongguk menoleh padanya—hendak bertanya bagaimana bisa dia menyadarinya hanya dengan sekali lihat ketika Kinan menambahkan, “Aku pernah melihat yang jauh lebih mengerikan. Tenang saja.” Dia menyuap makanannya kembali.

Felix mengerutkan alisnya, menunduk menatap Jeongguk yang mendesah—merasa seolah keduanya baru saja bersikap seperti kedua orang tuanya. Selapis keringat berkilauan di kening Felix, wajahnya merah padam oleh adrenalin setelah servis. Wajahnya nampak cemas dan Jeongguk merasa bersalah karena membuat seniornya khawatir dengan keadaan dirinya—tidak ada yang tahu riwayat UGD-nya selain keluarganya dan Mirah. Maka semua orang, termasuk orang-orang Amankila menganggapnya sehat.

“Kau punya masalah dengan Taehyung.” Katanya kemudian, tepat sasaran hingga Jeongguk menghela napas. Kinan mendongak dari kesibukannya memisahkan wortel dari makanannya, menatap Felix dan Jeongguk bergantian.

“Sungguh,” katanya kemudian—merasa lidahnya kelu dan tidak mengenali suaranya sendiri. “Tolong berhenti melakukannya. Aku tidak nyaman.” Dia tersenyum, merasakan senyuman itu tidak menyentuh bagian mana pun dari tubuhnya—tidak matanya, tidak hatinya.

Kinan melirik Felix sebelum berdeham kikuk, menyadari pembicaraan mereka mulai personal dan pamit dari sana untuk menghampiri pasangannya yang sedang berdiskusi dengan Taehyung—nampak serius mencoret-coret sesuatu di buku Taehyung. Felix bertahan di sisinya, gestur tubuhnya masih cemas dan Jeongguk nyaris tidak nyaman dengan emosi itu sekarang. Dia mengulurkan tangan melewati Jeongguk, meraih segelas fruit punch dan meneguknya, menandaskan isinya dalam satu tegukan karena kelelahan.

“Makanlah sesuatu.” Katanya kemudian, jauh lebih lembut dan Jeongguk berdeham—sejenak teringat hari saat dia masih menjadi bawahan Felix, selalu menganggap pemuda itu adalah kakaknya karena dia sangat perhatian dan mendidik Jeongguk dengan sangat baik.

Teringat hari-hari mereka berdiskusi tentang resep, saat mereka berhasil menyelesaikan servis paling mengerikan dalam sejarah karir Jeongguk di Amankila dan Felix mentraktirnya makan malam—memuji kinerjanya hingga Jeongguk sangat bangga karenanya.

Serta hari Felix mengenalkannya pada Taehyung. Hari yang menandai segala kehancuran dan hidupnya yang jungkir balik.

Maka Jeongguk meraih piring dan mulai menjejali mulutnya dengan makanan, merasa sedikit hangat dan nyaman dengan Felix di sisinya—mengajaknya mengobrol apa saja selain Taehyung, mengalihkan kepalanya yang lelah. Felix tidak terlalu banyak bicara, namun saat dia mau—dia bisa jadi sangat menenangkan. Jeongguk tahu Felix menyayanginya, dia selalu membanggakan Jeongguk karena berhasil mengisi posisi kepala di dapur setelah dia meninggalkan tempat itu.

Perasaannya jauh lebih baik beberapa saat kemudian, makan masakan Le Paradis yang terasa surgawi seperti namanya—bumbunya sempurna, teksturnya luar biasa, dan dibumbui dengan eksotis serta mengobrol dengan Felix tentang hal-hal remeh yang tidak membuatnya berpikir. Jeongguk merasa sangat jauh lebih baik lagi saat Felix menepuk bahunya hangat, memintanya menghubunginya kapan saja dia membutuhkan bantuan.

Namun ekspresinya saat menerima undangan pertunangan Jeongguk membuat perutnya melilit—Felix tahu sesuatu, dia yakin. Namun dia menjejalkan undangan itu ke tangannya, berusaha mengulaskan senyuman terbaiknya—berusaha meyakinkan salah satu dari dua senior yang dianggapnya kakak bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia menginginkan ini.

“Dia gadis manis,” katanya kering, tersenyum lebar. Berusaha membuat dirinya terdengar bersemangat tentang pertunangannya sendiri; the engagement of the year. “Jika saja dia tidak sibuk, aku hendak memperkenalkannya padamu hari ini.”

Felix menatap undangannya, mengerjap—kebingungan nampak jelas di wajahnya sebelum dia mengangguk. Dia menatap Jeongguk, persis ke matanya. “Hanya jika kau yakin.” Katanya, menyelipkan undangan itu ke saku belakang celana seragamnya.

Jeongguk menelan ludah dengan sulit. “Aku yakin.” Katanya walaupun hatinya sama sekali tidak yakin—mau bagaimana lagi? Dia melakukan ini karena dia harus melakukannya. Dia tidak punya pilihan lagi jika Taehyung sudah tidak mau menerimanya—dia hanya menginginkan Taehyung, tidak ada orang lain lagi.

Jika Taehyung tidak menginginkannya maka keluarganya bebas melakukan apa saja pada tubuh Jeongguk karena dia tidak membutuhkannya tanpa Taehyung.

Felix kembali menatapnya, hening sejenak sebelum mendesah. “Baiklah.” Katanya dan Jeongguk bersyukur dia tidak mengatakan apa pun lagi setelahnya karena jika dia melakukannya, Jeongguk akan remuk sekali lagi.

Dia sungguh tidak ingin menghabiskan waktu di UGD, apalagi Yugyeom sedang di Nusa Dua.

Arsa mengakhiri acara malam itu dengan membagikan sebotol wine ke semua orang, mengangkat gelas ke udara dan melakukan toast ke udara sebelum menyesapnya. Semua orang bersorak, bergembira menikmati pesta mereka—makanan, cemilan, minuman. Segala hal yang berputar di sekitar Jeongguk begitu mendebarkan, semangat dan adrenalin. Namun dia kosong, lelah, dan hanya ingin meringkuk di ranjangnya.

Dia memijat pelipisnya, mendudukkan diri di salah satu kursi yang dipinggirkan demi memberi ruang standing party mereka. Jeongguk duduk di sana, sudut matanya menangkap Taehyung yang sedang bicara dengan Arsa—keduanya menempel sejak awal acara. Arsa sedang mendengarkannya bicara dengan alis berkerut serius. Jeongguk mengedikkan bahu, mereka pasti membicarakan resep.

Dia meraih ponselnya, merasa ingin pulang dan mengecek apakah Mirah bisa menjemputnya ke Ubud sekarang dan meminjam mobil gadis itu untuk pulang ke Karangasem karena dia tidak ingin mengganggu waktu Taehyung menikmati pestanya. Jeongguk baru mengetik pesan dengan status obrolan Mirah 'daring' saat aroma parfum Taehyung menghambur ke indra penciumannya.

Jeongguk mendongak dan bertemu pandang dengan Taehyung.

Hal ini tidak sehat, sama sekali tidak. Bagaimana tatapan itu selalu melemahkan Jeongguk, dia ingin memeluk Taehyung—demi Tuhan dia sangat merindukannya. Dia ingin kembali ke masa-masa di mana mereka tersambung dalam telepon malam, tertawa bersama—berbisik-bisik karena tidak ingin membangunkan siapa pun. Pesan-pesan nakal, senyuman-senyuman rahasia, aroma tubuh Taehyung dalam pelukannya.

Dia sangat merindukan Taehyung hingga hatinya nyeri. Bahkan 'rindu' sekali pun terdengar begitu remeh untuk menjelaskan perasaan membutuhkan yang dirasakan Jeongguk sekarang—perasaan yang menggila karena segala hal yang diinginkannya di dunia ini berada dalam jangkauannya, namun tidak boleh diraihnya.

“Ayo pulang.” Katanya, melepas kancing teratas kemejanya dan menggulung lengan panjangnya. Rambut pendek membuat Taehyung sangat berbeda—Jeongguk tidak bisa memutuskan apakah dia menyukai rambut itu atau tidak.

“Aku bisa menghubungi Mirah untuk menjemputku, tidak masalah.” Sahut Jeongguk lalu mengatupkan mulutnya dengan keras—menyadari betapa salah kalimatnya saat wajah Taehyung berubah di hadapannya.

Rambut pendek itu juga yang membuat perubahan emosi di wajahnya nampak dua kali lebih jelas. Matanya berkilat dengan rasa tidak suka yang menikam jantung Jeongguk dan membuatnya menahan napas. Dia seharusnya tutup mulut saja alih-alih merusak pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.

“Bagaimana mungkin,” katanya dengan nada lebih dingin yang membuat Jeongguk bergidik. “Kau meminta,” dia diam sejenak—menggertakkan giginya dan Jeongguk melihat betapa keras usahanya dalam mengucapkan kata selanjutnya. “Tunanganmu,” dia menggertakkan rahangnya. “Untuk berkendara dari Denpasar sendirian untuk menjemputmu semalam ini?”

Jeongguk mengerjap, seolah baru saja ditampar. Dia sungguh tidak memikirkan itu sama sekali. Syukurlah dia belum mengetikkan apa pun pada Mirah dan mendesah panjang saat mengetik: Tidak apa-apa, maaf. Kembalilah tidur. lalu menyimpan ponselnya. Tidak ingin membaca balasannya sekarang.

“Yah, kau benar.” Katanya berdiri, melicinkan pakaiannya—merasa kelelahan, dia butuh berbaring sekarang. “Jika kau sudah selesai dengan Arsa, mari kita pulang. Aku...,” dia menggeleng kecil, mulai sedikit pusing. “Aku butuh berbaring.”

Taehyung menatapnya sejenak—ekspresinya tidak terbaca sebelum mengangguk. “Duduklah.” Katanya dengan nada yang sedikit lebih lunak. “Aku akan berpamitan pada semua orang.” Tambahnya, sejenak diam menunggu hingga Jeongguk kembali duduk dengan penuh syukur sebelum bergegas menyeberangi ruangan menghampiri Arsa.

Felix sudah pamit terlebih dulu, menawari Jeongguk untuk pulang bersamanya—menawarinya menggunakan mobil pasangannya, Christian untuk digunakan pulang. Jeongguk menolaknya, sedikit bersyukur karena dia ternyata tidak sanggup mengemudi sekarang. Dia terus dan terus melemah, dia tidak paham apa yang terjadi pada dirinya—seolah kehidupan dihisap habis dari dirinya tiap kali dia harus bertemu orang-orang selain keluarganya.

Servis selama delapan jam nyaris selalu membunuhnya hingga dia beberapa kali melemparkan pekerjaan ke Namjoon karena dia harus mendudukkan diri sebelum ambruk atau bahkan Namjoon sendiri yang memaksanya duduk karena wajahnya seputih kertas. Dia berusaha mengembalikan kekuatannya yang dulu, stamina dan daya tahannya namun olahraga membuatnya pusing dan nyaris ambruk dari treadmill beberapa waktu lalu. Nafsu makannya turun, organ-organ di dalam tubuhnya entah bagaimana selalu nyeri secara berkala dan dia selalu terserang pusing yang mencengkeram tengkoraknya.

Pada titik ini, jika dia mati, Jeongguk sudah tidak lagi terkejut.

Betapa hebatnya patah hati berhasil merusaknya hanya karena dia membiarkan sakit itu menyebar di tubuhnya—menyuntikkan racun ke semua sistem tubuhnya, melemahkan semua organnya dan membuat otaknya macet. Jeongguk menyandarkan dirinya ke kursi, sepenuhnya—berharap dia bisa tiba di rumah saat itu juga untuk merangkak ke atas kasur lalu mengasihani dirinya sendiri karena begitu mencintai dan merindukan Taehyung.

Taehyung yang sudah tidak membutuhkan apa pun darinya.

“Kau bisa berdiri?”

Dia mengerjap, menatap Taehyung yang balas menatapnya dengan alis berkerut—setitik rasa khawatir berkelip di matanya, seperti Venus yang terbit terlalu awal dan dia tersenyum di dalam hatinya. Setidaknya Taehyung masih peduli padanya. Apakah jika dia terus sakit Taehyung akan terus peduli padanya? Bisakah dia melakukan itu demi mendapatkan perhatian Taehyung?

“Bisa.” Katanya, berdeham parau lalu berdiri. Sejenak diam, menyeimbangkan dirinya sebelum mengangguk.

“Aku sudah pamit pada semuanya.” Gumam Taehyung dan Jeongguk mengangguk, dia melambai pada Arsa yang membuka botol wine kedua dengan kedua sous chef-nya dan Raditya, sementara Kinan memasang wajah jengkel di sisinya dengan segelas jus di tangannya.

“Hati-hati di jalan!” Seru Arsa melambai saat keduanya menuruni undakan.

Jeongguk mengangguk, melambai lalu menuruni undakan sambil menggenggam pembatas di sisinya, berusaha agar tidak oleng karena dia sangat kelelahan. Bagaimana bisa dia jadi sangat lemah begini? Apa yang salah dengan tubuhnya?

“Kehilangan setidaknya 5 kilogram dan berjam-jam tidur nyenyak.” Kata-kata Kinan terngiang di kepalanya dan dia menyentuh tubuhnya sendiri—dia memang merasa lebih ringan belakangan ini, celananya melonggar. Tapi dia tidak menimbang badannya. “Aku pernah melihat yang lebih mengerikan.”

Jika Jeongguk tidak segera menyelamatkan dirinya sendiri, dia mungkin akan menjadi 'semengerikan' apa yang dihadapi Kinan. Dia mendesah, dia harus mulai kembali ke jalurnya—dia harus melakukan sesuatu karena Taehyung nampak sangat sehat dan sangat normal. Tidak seperti Jeongguk yang mungkin menghabiskan waktunya menangisi orang yang tidak memikirkannya.

Taehyung menunggunya naik ke kursi penumpang sebelum bergegas naik ke kursi pengemudi. Dia menyalakan mesinnya, memutar di halaman parkir yang sepi lalu meluncur pulang.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Katanya tegas, menyugar rambut pendeknya—nampak sedikit belum terbiasa dengan panjangnya sekarang. “Kau kelihatan siap tumbang kapan saja. Tidak masalah memutar, aku sudah bilang pada Mbok Gek aku pulang terlambat.” Taehyung memasang sein, menyalip motor di depannya—mengemudi dengan cepat membelah jalanan yang mulai lenggang.

“Trims.” Sahut Jeongguk, sudah tidak ingin lagi mendebat siapa pun. “Aku akan tidur sebentar.” Tambahnya sebelum menumpukan lengannya di atas matanya agar cahaya lampu jalanan tidak menyakiti kelopak matanya. “Bangunkan saja jika tiba.”

Taehyung mengangguk. “Tidurlah.” Ujarnya setuju. “Kau sudah makan? Ingin kubelikan sesuatu?”

Jeongguk menghela napas; Taehyung harus berhenti melakukannya. Dia harus berhenti bersikap perhatian pada Jeongguk karena hatinya tidak kuat lagi menahannya; bagaimana dia nampak utuh, sempurna dan sehat sementara Jeongguk merana—kehidupan dihisap habis oleh kesedihannya. Jeongguk merasa begitu menyedihkan, merasa tidak berguna.

Malu.

Karena begitu mencintai orang yang sama sekali tidak memikirkannya.

“Sudah.” Katanya parau, bibir bawahnya gemetar saat sakit menyeruak di dadanya—perih sekali. Seperti alkohol yang dituang ke atas luka yang segar, menyengat dengan cara yang membuat tulangnya ngilu. “Fokuslah mengemudi.” Tambahnya, berharap Taehyung menangkap pesan tak terutarakannya, 'diam'.

Dan dia melakukannya, diam sepanjang perjalanan yang sunyi tanpa lantunan lagu atau apa pun kecuali suara derum mobil dan klakson dari kejauhan. Jeongguk terombang-ambing, dalam keadaan sadar dan tidak sadar—ingin segera menangisi dirinya sendiri di kamarnya, ingin menyerah pada rasa sakit ini, ingin semuanya berhenti.

Ingin keluar dari kepalanya sendiri.

Dia sedang mengapung di atas air yang tenang, bergolak antara kesadaran dan ketidak sadaran saat mobil berhenti dan tangan menyentuh bahunya. Jeongguk berusaha melawan selaput kantuk yang menyelubunginya namun dia lemah sekali, dia lelah sekali—sakit hati melumpuhkannya. Sesuatu dicabut dari dirinya, diremukkan hingga menjadi bubuk. Jeongguk tidak lagi ingin melawannya atau bersikap seolah dia baik-baik saja.

Dia seharusnya tidak datang ke acara ini sama sekali; tidak mendekat ke Taehyung karena dia selalu tahu dia hanya akan jadi seperti ngengat yang terbang ke arah cahaya. Membutuhkan cahaya itu.

Taehyung adalah mataharinya, pusat semestanya—padanyalah Jeongguk berotasi, mengelilinginya. Dia menjaga Jeongguk tetap waras, menjaga Jeongguk tetap bersemangat melewati harinya, membuatnya tetap bahagia. Jeongguk bahkan tidak tahu dia bisa mencintai seseorang sehebat ini sebelumnya hingga Taehyung memasuki hidupnya—cinta sinting yang tidak manusiawi.

“Gung?” Suara Taehyung terdengar dari luar kabut rasa kantuk dan lemah Jeongguk. “Gung?” Ulangnya. “Kita.... sampai.... turun? Bisa... kuantar?”

Jeongguk memaksa dirinya bangun, tersengat vertigo ringan saat dia akhirnya membuka matanya. Mereka berada di dekat Puri Jeongguk, di seberang lapangan kota yang sepi. Tidak heran karena Karangasem sudah tidur pukul sembilan malam dan ini sudah lewat tengah malam. Dia mengerang, memijat kepalanya sebelum berdeham—sejenak diam, mengumpulkan nyawanya.

“Sebentar.” Gumamnya parau, memejamkan matanya. Lalu dia membuka mulut, hendak mengatakan terima kasih dan maaf merepotkan Taehyung namun kalimat yang terlontar malah, “Apakah kau bahagia?”

Dia merasakan Taehyung menegang di sisinya, atmsofer mobil langsung turun drastis. Jeongguk tetap memejamkan matanya, karena tahu jika dia membukanya dia akan meledak dalam tangisan memalukan. Dia tidak akan menangis di hadapan lelaki yang mencampakkannya; Taehyung tidak perlu tahu betapa menderitanya Jeongguk dan betapa menyedihkannya dia dengan terus menerus mengirimkan pesan ke ponselnya walaupun tahu pesannya tidak akan terkirim.

Jeongguk sangat menyedihkan dan hatinya remuk karena menyadari itu, seperti cangkang telur yang ditumbuk hingga menjadi bubuk.

“Jeongguk.” Bisik Taehyung, suaranya gemetar. “Kuantar masuk.”

“Kau bahagia?” Ulang Jeongguk, paru-parunya mulai terbakar tangisan—dia tersengal, berusaha keras menahan tangisannya sekarang.

“Jeongguk.” Bisik Taehyung lagi, suaranya melemah. Mereka duduk bersisian di mobil yang mati di jalanan yang kosong, diterangi lampu jalanan yang temaram dan suara gemerisik daun pohon sisi jalan yang diterpa angin.

Dan Jeongguk tidak ingin hari ini berakhir; dia masih merindukan Taehyung, dia ingin terus berada di sisinya, menghirup aroma parfumnya. Ingin memeluknya, ingin menciumnya—ingin bersama Taehyung, terus selamanya. Ingin membuang segalanya demi mencintai Taehyung secara sederhana.

“Kau bahagia.” Bisiknya, kali ini tidak lagi bertanya—mulutnya terbuka dan dia tersengal, isak tanpa tangis mulai terbit dari bibirnya disertai amarah yang bergulung-gulung naik. Taehyung bahagia.

“Kau bahagia.” Ulangnya, berkali-kali seperti mantra—semakin dan semakin lirih saat kenyataan itu menghantamnya dengan hebat seperti ditonjok di ulu hatinya.

“Jeongguk.”

Jeongguk mengabaikannya, “Kau bahagia.”

“Bisakah kau diam?!”

Jeongguk terkesiap mendengar bentakan Taehyung, dia menurunkan lengan dari wajahnya dan membuka matanya, merasakan air mata hangat dan asin meleleh ke pipinya. Dia menoleh dan menyadari wajah Taehyung yang merah padam hingga ke garis batas rambutnya dan air mata yang meleleh di sudut matanya.

“Bisakah kau diam?” Ulangnya, sekarang gemetar berbisik parau. Dia menyentuh dadanya sendiri, meringkuk seperti seekor kucing yang kedinginan—mulutnya terbuka saat dia berusaha bernapas. “Diam. Diam.” Bisiknya. “Diam.”

Jeongguk mengulurkan tangannya, hendak meraih Taehyung namun sejenak ragu. “Maaf,” dia bergumam parau. “Maafkan aku, maaf.” Dia mengulurkan tangan ke tubuh Taehyung yang berguncang lembut di balik kemudi.

Dia mengulurkan jemarinya, menyentuh bahu Taehyung yang tidak bergeming oleh sentuhannya. “Wigung?” Panggilnya lirih, suaranya pecah—rindu yang menyeruak di dadanya memusingkan. Dia ingin meremukkan Taehyung dalam pelukannya, dia ingin membuat Taehyung mendesah—membuatnya senag. Dia benci melihatnya menangis.

“Wigung?” Ulangnya.

Taehyung mendongak mendadak, menatapnya dengan mata merah padam dan jejak air mata di wajahnya. “Gung,” katanya parau, suaranya terdengar seperti berkumur-kumur karena tangis yang ditahannya.

Jeongguk mengulurkan jemarinya, menyentuh wajah Taehyung dan pemuda itu langsung meleleh dalam sentuhannya. Menyandarkan wajahnya di telapak tangan Jeongguk—memejamkan matanya dengan kening berkerut seolah menahan sakit yang teramat sangat. Jeongguk menjulurkan tubuhnya mendekat secara naluriah ke Taehyung, mengulurkan tangannya yang lain dan menangkup wajah di sisi satunya.

Betapa benarnya Taehyung terasa dalam genggamannya akan selalu menjadi hal paling magis dan menakjubkan bagi Jeongguk. Dia seperti kepingan mozaik yang cocok dengan setiap lekuk tubuh Jeongguk.

“Wigung?” Bisiknya lagi, menatap bibir Taehyung yang gemetar—jika esok dia harus mati, maka dia tidak keberatan mendapatkan cinderamata dari Taehyung.

Sedikit saja, dia tidak akan rakus.

“Bolehkah aku...,” dia menatap wajah Taehyung yang indah—berkilau seperti bulan purnama. Air matanya berdenyar oleh cahaya lampu murahan jalan raya, disepuh warna oranye tajam.

“Bolehkah aku menciummu?” Bisiknya gemetar, jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya nyeri. “Sekali saja, kumohon. Lalu kita anggap tidak ada yang terjadi.”

Taehyung mengulurkan tangannya, mengalungkannya di leher Jeongguk yang langsung bereaksi dengan merundukkan wajahnya—mendaratkan bibirnya di bibir Taehyung yang terkuak. Keduanya mendesah keras saat bibir mereka bertemu dan Jeongguk seketika meraih Taehyung mendekat ke arahnya—seketika mabuk oleh rasa Taehyung yang meledak di rongga mulutnya. Melupakan sepenuhnya janji untuk tidak rakus.

Ini Taehyung, Jeongguk akan mereguknya hingga habis seperti pecandu. Tidak bisa berhenti sebelum Taehyung habis.

Jeongguk mengerang, tubuhnya menjerit karena perasaan lega yang teramat sangat hingga dia pening. Mereka menarik wajah mereka, terengah kehabisan napas. Taehyung bergegas memanjat kursinya, merangkak ke arah Jeongguk, melompati persneling hingga kepalanya terbentur kap dan mendarat di pangkuannya.

“Oof!” Gumam Jeongguk saat menerima beban Taehyung di pangkuannya dan keduanya kemudian mendesah keras saat Taehyung dengan sengaja menggesekkan selangkangannya pada Jeongguk. “Wigung,” desahnya panjang—terengah.

Sejenak mereka berpandangan dalam kegelapan. Dia menyadari kepala Taehyung menempel di kap hingga lehernya tertekuk ke arah yang tidak nyaman. Maka Jeongguk menurunkan kursinya sehingga kepala Taehyung tidak terbentur kap mobil. Kursi diturunkan nyaris lurus di bawah Jeongguk dan dia melirik ke jalanan—yakin tidak akan ada siapa pun yang lewat hingga setidaknya jam tiga pagi.

Atau menyelundupkan Taehyung ke kamarnya.

Jeongguk menelan ludahnya menatap Taehyung yang menunduk di atasnya sebelum Taehyung menunduk, tidak sabaran saat memangut bibir Jeongguk yang mengerang keras sekali lagi disertai bisikan pecah oleh isak tangis:

“Aku sangat merindukanmu.”


Author's Note.

WOOOOOO 5,3K EVERYONE! HAHAHAHA have a feast! see you tomorrow on privatter wink-wonk!

ire, x

tw // anxiety , suicidal thoughts , insecurity , self-doubt .


Bukan pilihan terbaik dengan pergi ke Bukit Asah sepulang bekerja karena sudah mulai malam. Tapi setidaknya Taehyung bisa duduk beralaskan rumput empuk yang rapi menatap lepas matahari tenggelam yang beranjak malas dan perlahan, meninggalkan jejak jingga pekat di belakangnya.

Dan dia menyukainya—mengapresiasi waktu yang bergerak lambat saat dia diam, menyaksikan samudra yang nampak tak bergerak di kejauhan.

Tempat itu hanya berjarak beberapa menit dari tempatnya bekerja. Melewati medan yang lumayan dengan tanjakan ekstrim namun bukan masalah untuk motornya. Dia tiba di sana sesaat sebelum matahari tenggelam dimulai, cahaya jingga membanjiri semua tempat membuatnya sejenak pusing karena warnanya yang tajam. Taehyung melangkah ke sudut, mencari posisi untuk dirinya sendiri duduk merenungi hidup, merenungi hatinya yang remuk oleh ulahnya sendiri.

Di kejauhan, beberapa anak sedang menyalakan api unggun di sekitar kemah-kemah mereka. Taehyung yang duduk sendirian berpikir mungkin menyenangkan jika berkemah sesekali—menikmati hidup, rileks. Terbangun tanpa beban, menyaksikan matahari terbit dari garis cakrawala.

Namun menyadari bahwa “terbangun tanpa beban” adalah sebuah kemewahan untuknya—kemewahan yang mustahil dibelinya dengan uang. Taehyung memalingkan wajahnya dari anak-anak yang berteriak-teriak, terbahak-bahak menikmati masa muda mereka yang belum dipenuhi ekspektasi-ekspektasi sinting tentang menjadi orang dewasa.

Dia dan Jimin selalu mengatakan, “Kita naik level, bukan menua!” tiap kali salah satu dari mereka berulang tahun. Melakukannya sejak SMA, bersiap bahwa semakin tinggi level mereka, semakin mendebarkan lawan mereka.

Taehyung yakin lawannya di level 36 adalah yang terkuat sejauh ini. Apakah ini level finalnya? Haruskah Taehyung menyerah dan keluar dari permainan karena tidak yakin apakah dia bisa melalui level 37 setelah ini? Taehyung mendesah, menatap langit yang bersemburat keunguan.

Cahaya remang-remang datang dari warung kecil di belakangnya—menyediakan MCK dan kebutuhan mendesak bagi para pekemah di bukit perkemahan itu. Dia tidak keberatan dilingkupi kegelapan sekarang karena dalam limpahan cahaya matahari pun dia merasa tersesat dan kebingungan. Kegelapan, di sisi lain, membuatnya merasa nyaman—dia tidak bisa melihat sekitarnya. Perasaan nyaman aneh yang nyatanya membuat Taehyung betah.

Sisa remah cahaya matahari berkilauan di lepas lautan di hadapan Taehyung. Dia duduk di tanah yang agak landai, turun ke bawah dilapisi rerumputan subur dan bebatuan kecil. Ada pepohonan, rimbun pandan berduri serta kaktus tajam yang berkerumun di bawah sana sebelum tepian tebing, dibentuk menjadi pagar pembatas alami oleh pengelola bukit. Beberapa kaktus sedang berbunga, berayun oleh angin laut yang berat.

Taehyung harus pulang sebelum ayahnya bingung, namun dia tidak memiliki energi untuk bangkit dan beranjak. Menyesal kenapa dia memutuskan membawa motornya pagi tadi. Dia menumpukan keningnya di lututnya yang dilipat, pesan Devy menari di kepalanya.

Wedding of the Year Karangasem.

Dia menghela napas tajam, menatap rumput di bawahnya.

Selama ini dia selalu memberi tahu dirinya sendiri bahwa inilah yang terbaik, hal paling benar yang dilakukannya. Dia menghindari Jeongguk seolah dia penderita lepra—dia memblokir nomor Jeongguk karena dia tahu, jika tidak dia akan langsung melenting kembali ke arahnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya.

Dia menahan dirinya, selalu menahan dirinya agar tidak mencari tahu tentang Jeongguk karena dia tahu dia akan kembali pada Jeongguk seketika itu juga. Dia harus bertahan, dia harus menjaga jarak karena dia tidak bisa kehilangan segala kenyamanan ini; tidak untuk ibunya, tidak untuk kakaknya. Mereka berdua sudah cukup tersiksa selama ini karena tingkah kekanakannya saat remaja, sekarang mereka merasa seperti di rumah.

Untuk pertama kali sejak berpuluh-puluh tahun, mereka diperlakukan selayaknya manusia oleh seluruh penghuni Puri—oleh semua saudara ayahnya. Tentu saja Taehyung tidak mau kemewahan ini lenyap. Tidak mau ibunya kembali diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Melihat bagaimana ibunya sekarang nampak lebih rileks dan bahagia, tertawa dan tersenyum bersama Devy yang memperlakukannya dengan sangat hormat. Ibunya untuk pertama kali diperlakukan manusiawi oleh keluarganya sendiri.

Taehyung sungguh tidak bisa menggunakan ini untuk membayar keegoisannya demi mencintai Jeongguk.

Gus, sudah malam, lho? Gelap di sana.”

Taehyung mengerjap, menoleh ke warung dan menemukan ibu penjaga menatapnya cemas dari bawah lampu kuning temaram warungnya. Anak-anak pekemah sedang menyanyi di bawah gelapnya langit diterangi api unggun yang berkeretak. Sementara Taehyung meringkuk sendiri di sudut, mengasihani dirinya sendiri.

“Duduk di sini saja, mengobrol dengan Ibu.” Tawar ibu itu lagi, ramah dan tersenyum.

Terkadang, Taehyung benci sekali sikap ramah karena dia tidak ingin meladeni siapa pun, tidak memiliki energi untuk bersikap palsu dengan berbasa-basi. Dia hanya ingin duduk sendiri, mengasihani dirinya. Namun dia juga tidak bisa menyalahkan orang lain karena bersikap ramah padanya. Ibu itu mungkin khawatir karena Taehyung duduk di sana seperti orang putus asa, takut dia akan berlari menembus rimbun pandan berduri dan melompat ke laut. Maka dia mengajak Taehyung bicara.

Masih syukur dia tidak menelepon Basarnas.

Mungkin Taehyung sempat memikirkannya, melompat ke bawah sana dan melupakan segalanya. Tenggelam dalam amukan gelombang laut karena sungguh isi kepalanya riuh sekali hingga dia sendiri tidak bisa mengejar ketertinggalan dari otaknya yang melesat jauh—mengkhawatirkan masa depan, menyesali masa lalu.

Mungkin.... Dia berharap dia cukup berani untuk mengakhiri penderitaannya sendiri. Cukup berani untuk memutuskan dia tidak sanggup lagi, berani untuk menyerah. Namun nyatanya, dia tetap takut. Memikirkan ibunya, memikirkan kakaknya, memikirkan apa yang Puri mungkin lakukan pada mereka jika Taehyung tidak ada.

Maka dia urung. Bertahan hidup tanpa kehidupan demi ibu dan kakaknya. Mereka layak mendapatkan rasa hormat dan kebahagiaan setelah tahun-tahun muram yang mereka lalui membesarkan Taehyung. Ini saatnya Taehyung membalas kebaikan mereka.

“Oh, iya, Bu.” Katanya, tersenyum sebelum bangkit, meregangkan tubuhnya—membersihkan rerumputan dari pakaiannya. “Saya pulang saja.” Karena dia sudah menarik perhatian, berarti waktunya sendirian sudah habis.

Dia berdiri di sana, menatap lepas pantai sekali lagi. Menghirup udara lembab lautan yang asin, menatap sisa warna ungu yang menghampar di langit sebelum berbalik. Berpamitan pada ibu penjual setelah membeli sebotol air hanya karena dia tidak enak hati sebab beliau sudah perhatian padanya lalu melangkah ke tempat parkir melewati jalan setapak kecil berbatu yang diapit pepohonan.

Taehyung tidak terlalu menyadari perjalanan pulang setelahnya, dia mengemudi nyaris melamun. Berusaha keras mengendalikan otaknya agar tidak tergelincir dan kosong karena dia harus mengemudi melewati truk-truk pengangkut pasir yang berangkat ke Denpasar dari Karangasem.

Dia berhasil tiba di Puri dengan selamat walaupun nyaris tergelincir beberapa kali di jalanan yang licin karena pasir yang tumpah dari muatan truk. Beberapa kali harus berhenti di mini market karena kelelahan saat memfokuskan seluruh energinya untuk fokus berkendara—dia tidak pernah selelah itu saat mengendarai motor. Dia membeli susu cokelat kemasan kesukaannya dan berhenti di depan pendingin, menatap kemasan itu dengan sedih teringat hari di mana Jeongguk muncul dengan dua kotak susu untuk menghiburnya.

Taehyung menggertakkan giginya, menggenggam kotak susu itu dan berusaha melupakannya saat dia melangkah ke kasir untuk membayarnya. Dia menandaskan isinya dalam satu tegukan, tidak ingin membiarkan kenangan sialan mengambil alih isi kepalanya sebelum meremukkan kotaknya, melemparnya ke tong sampah lalu melanjutkan perjalanan.

Syukurlah dia tiba dengan selamat walaupun setitik hatinya berharap dia tiba-tiba menghilang begitu saja, namun jika teringat ibu dan kakaknya hanya memiliki dia untuk melindungi diri; Taehyung menghela napas, dia harus bertahan demi ibu dan kakaknya.

Posisinya memang berat, namun sejak dia jatuh cinta pada Jeongguk, terasa semakin dan semakin berat. Dia berpikir mungkin sebaiknya dia memang melepaskan pemuda itu, melepaskan satu beban dari bahunya sehingga dia bisa fokus pada hal-hal lain yang lebih penting dari keegoisannya sendiri. Dan setelah dia melepaskan Jeongguk, dia merasa lega—patah hati, tentu namun dia juga lega karena telah melepaskan satu tanggung jawab. Melepaskan satu beban pikiran dari kepalanya.

Dia berharap Jeongguk suatu hari nanti paham dengan keputusan ini.

“Oh, Dewa Betara! Tugung!”

Taehyung menoleh mendengar seruan kaget itu, dengan helm di tangannya menatap kakaknya yang nampak cemas dengan nampan terisi canang dan dupa yang beraroma harum.

“Oh, Mbok Gek.” Sapanya lesu, kelelahan karena berusaha fokus dengan begitu kuat hingga dia berkeringat dingin. “Maaf terlambat, tadi ada reservasi mendadak.” Dia turun dari motornya, mengunci stangnya lalu melepas sarung tangan dan masker yang menutup wajahnya.

Bahu Lakshmi merileks saat Taehyung menaiki undakan ke arahnya, mengulurkan lengannya untuk memeluk setengah tubuhnya lalu mencium keningnya—menghirup aroma lembut bebungaan dan air yang segar dari rambut Lakshmi. Aroma kakaknya selalu menenangkan Taehyung, membuatnya merasa kembali kuat—mengingatkan Taehyung untuk siapa dia bertahan hingga sejauh ini.

Mbok Gek kira ada apa karena Tugung tidak menjawab pesan,” desah kakaknya, sekarang nampak lega. “Dan kata Dayu, Tugung tidak ke Griya.”

Taehyung mengulaskan senyuman kecil, terlepas dari betapa remuk dan hancur dirinya saat ini. “Tidak apa-apa, kok.” Dia menyelipkan sarung tangan berkendaranya ke saku celananya. “Ajung menunggu?” Tanyanya.

Lakshmi menggeleng. “Mbok Gek bilang Tugung di Griya, jadi Ajung tidak bertanya-tanya lagi. Tidur lebih awal, agak pusing katanya.” Tambah Lakshmi membenahi dupa di nampannya agar asapnya tidak membuat matanya perih.

Hati Taehyung mencelos, “Ajung sakit?” Tanyanya.

Lakshmi menggeleng lagi, meletakkan satu canang di tengah halaman, menyelipkan setangkai dupa di sana sebelum memercikinya dengan air. Dia kemudian berdiri dan menjawab, “Tadi sudah makan dan minum obat. Seharusnya aman. Besok Mbok Gek panggilkan perawat Ajung untuk mengecek tensinya. Tadi tidur siang terlalu lama.”

Taehyung menghembuskan napas, sebenci apa pun dia pada ayahnya jika dia meninggal Taehyung tidak siap sama sekali. Dia tidak siap tidak memiliki benteng pelindung dari keluarga Puri. Selama ini, tidak ada yang berani mencercanya dengan kasar karena ayahnya—anak sulung Puri yang tegas dan berhati dingin. Auranya melindungi Taehyung, membuatnya aman. Tiap kali mendengar kondisi kesehatan ayahnya menurun, Taehyung merasa jiwanya dicabik—kehidupan dihisap sedikit dari tubuhnya.

Dia belum siap berdiri sendiri sebagai pewaris Puri, dia masih membutuhkan perlindungan ayahnya. Masih sangat membutuhkannya hingga dia kadang ketakutan jika harus menghadapi saudara-saudara ayahnya yang selalu mencemooh ibu dan kakaknya, selalu mencibir padanya karena dia tidak layak.

“Besok Tugung belikan vitamin.” Katanya sebelum menyugar rambutnya dan hendak beranjak, ingin mandi lalu berbaring karena tubuhnya nyeri sekali—otaknya lelah, terasa seperti bubur.

Namun Lakshmi menyentuh lengan atasnya, menatapnya dengan mata bulatnya yang indah dan besar—mata seorang penari yang lentik. “Tugung,” katanya dan Taehyung menyadari nada itu dengan pedih.

Ternyata dia memang harus menghadapi pembicaraan ini, tidak bisa berkelit sama sekali.

Maka dia merogoh ke dalam jaket berkendaranya, menarik ritsletingnya turun dan mengeluarkan undangan yang remuk karena digenggamnya terlalu kuat. Dia tidak berusaha melicinkannya sama sekali saat menyerahkannya ke Lakshmi yang menerimanya dengan kaget lalu beranjak, tidak menoleh lagi.

“Tanggal 12 bulan depan. Tugung ke sana bersama Dayu.” Tambahnya, memejamkan mata seraya melangkah—berusaha menekan sakit yang merebak di dadanya saat menangkap sekilas nama Jeongguk di undangan itu.

Pertunangan.

Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.

Taehyung menghela napas dalam-dalam.

“Iya,” bisik Lakshmi pecah, beberapa meter di belakangnya—nyaris tidak terdengar. “Mbok Gek dan Tugus juga diundang oleh Ajung Turah.”

Taehyung berhenti di tengah perjalanan menuju kamarnya dan menelan dengan sulit. Tentu saja kekasih kakaknya di undang, dia berasal dari griya yang cukup terpandang di Bali—semua orang mengenal kakeknya yang adalah Pedanda paling terkenal di Bali, paling sepuh dan paling senior. Taehyung tidak lagi terkejut kakaknya tahu lebih dulu darinya.

Dia membuka mulutnya, “Inikah undangan yang Mbok Gek maksud tadi pagi?” Tanyanya.

Lakshmi diam dan itu cukup untuk Taehyung.

Dia kembali beranjak, tidak menoleh sama sekali karena takut Lakshmi melihat air mata yang menyengat kedua matanya—dia bergegas menunduk, menyelip melompati tanaman ibunya untuk mencapai kamarnya dengan lebih cepat. Dia melepas sepatunya, bergegas masuk dan membanting pintu kamarnya.

Menguncinya karena dia sungguh tidak ingin siapa pun mengganggunya saat dia menangis mengasihani dirinya sendiri. Taehyung berdiri di sana, di kamarnya yang agak apak karena sejak pagi tertutup lalu menjatuhkan kunci motornya ke lantai. Dia menghela napas melalui mulutnya, dia memukul dadanya—kuat, berusaha mengenyahkan sakit yang bercokol di sana sebelum tersedak dan merosot ke lantai.

Pertunangan.

Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.

Ini pilihan Taehyung, dia yang memutuskan melepaskan Jeongguk dari hidupnya—melepaskan salah satu beban dari bahunya antara keluarganya, Puri, atau Jeongguk. Dia tidak bisa melepaskan dua pertama, maka dia terpaksa mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi semua orang.

Jimin benar, dia melangkah ke tiang pancungnya sendiri—siap digantung demi kebahagiaan semua orang. Dia siap mati demi semua orang. Mau bagaimana lagi? Jika Bali masih menganut sistem monarki, dia jelas akan naik tahta sebentar lagi—menjadi seorang raja dan harus mengorbankan segalanya demi rakyatnya. Termasuk menikahi gadis sesuai dengan apa yang orang-orang inginkan untuk menjadi ratunya.

Tidak ada ruang untuk dirinya sendiri, dia harus mengedepankan kebutuhkan publik. Kepentingan orang banyak yang secara adat bergantung padanya. Taehyung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menelan isakannya karena tidak ingin ada yang mendengarnya menangis—mendengar betapa lemahnya dia, betapa calon pewaris Puri begitu lemah menangisi cintanya yang karam.

Serta pemilik hatinya yang sebentar lagi melabuhkan diri pada seseorang yang layak untuknya—fakta yang memeraskan jeruk nipis ke atas luka Taehyung yang menganga.

Jeongguk layak bahagia, layak mendapatkan banyak sekali hal yang Taehyung tidak bisa berikan. Dia harus ikhlas, dia harus bebesar hati karena ini keputusan Taehyung—tidak ada yang memaksanya untuk melepaskan Jeongguk, dia sendiri yang ingin. Maka tidak ada yang bisa disalahkan saat ini selain dirinya sendiri karena bersikap pengecut dengan melepaskan Jeongguk.

Mengusir pemuda itu dari hidupnya saat dialah satu-satunya alasan Taehyung bahagia dan 'hidup' belakangan ini.

Namun dia harus tetap hidup, dia harus memikirkan orang lain. Tidak bisa terus mengasihani dirinya sendiri. Dia akan bersikap lapang dada, berbesar hati untuk menghadiri acara itu dan menyalami Jeongguk—secara tulus mendoakan yang terbaik untuk masa depan Jeongguk. Mendoakan kebahagiaan tidak berujung karena Jeongguk layak mendapatkannya setelah semua luka dan penderitaan yang Taehyung berikan padanya.

Dia gemetar saat menatap tangannya sendiri sementara air mata meleleh di pipinya—berharap melihat hati yang Jeongguk titipkan padanya jutaan tahun lalu, berharap dia bisa percaya hati itu belum diambil kembali oleh Jeongguk untuk diberikan kepada orang lain.

Kepada... Mirah.

Dia terbatuk oleh nyeri yang menikam dadanya saat teringat gadis itu. Dia begitu mungil, menggemaskan dengan wajah cantik khas Bali. Giginya yang sedikit gingsul dan pembawaannya yang secerah matahari—dia nampak seperti istri yang baik karena dia selalu menatap Jeongguk dengan sopan, bicara padanya dengan sopan, tenang dan kalem. Tidak seperti Taehyung yang meledak-ledak dan begitu menjengkelkan.

Mirah tidak akan menyulitkan Jeongguk dengan sikap kekanakannya, dia akan mengimbangi Jeongguk yang tenang dengan baik. Mereka pasangan yang sangat serasi, Taehyung benci mengakuinya namun benar. Mereka serasi, baik fisik dan sifat. Mirah yang mungil seperti boneka porselen nampak sempurna bersanding dengan Jeongguk yang memancarkan kharisma seorang pemimpin yang tenang dan terstruktur.

Taehyung menghela napas, berusaha mengisi paru-parunya yang mengerut dengan udara. Dia berusaha berhenti memikirkan Mirah karena gadis itu menikam jantungnya dengan cara tidak manusiawi namun dia juga harus berusaha membiasakan dirinya agar tidak sakit nantinya—saat dia menghadiri pertunangan mereka.

Dia harus membiasakan diri pada sesuatu yang menyakitinya agar dia tidak lemah menghadapinya. Taehyung harus melakukannya, dia tidak bisa terus-terusan menangis mengasihani dirinya sendiri. Dia harus bangkit, harus berdiri lagi. Ini keputusannya maka Taehyung harus menerima semua risikonya.

Dia berdiri—sekarang dipenuhi amarah pada dirinya sendiri, beranjak ke arah cerminnya dan menatap dirinya sendiri. Dia nampak lelah, rambutnya kusut masai dan wajahnya merah padam dengan jejak sisa tangisan di wajahnya. Dia menyentuh rambutnya, melirik gunting di gelas yang digunakannya untuk menyimpan pulpen dan pensil.

Matanya terpaku ke wajahnya sendiri saat dia meraih gunting itu, membukanya dan menatap bilahnya yang berkilauan oleh cahaya lampu kamar. Dia menghela napas sebelum memejamkan mata dan mengangkat rambutnya. Menjulurkannya ke atas, dia kemudian membawa guntingnya ke sana.

Taehyung membuka matanya, menyelipkan rambut ke antara dua bilah guntingnya lalu menghela napas dalam-dalam.

Ayahnya membenci rambut ini, sudah berulang kali memaksanya memotong rambut itu. Maka mungkin inilah saatnya dia melakukannya. Tangannya gemetar saat menggenggam gunting itu.

Rambutnya adalah salah satu penanda pemberontakannya pada Puri. Semua anggota Puri—khususnya Tuniang membenci rambut panjangnya, Taehyung tidak tahu apa yang tidak dibenci Tuniang. Seperti perempuan katanya, memaksa Taehyung untuk memotongnya—menyindirnya bahkan mencelanya terang-terangan. Namun Taehyung bertahan, memberontak pada mereka semua. Melakukan segala hal yang diinginkannya dan mempertahankan rambut itu hanya untuk membuat semua orang jengkel padanya.

Memotongnya berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Puri. Menyerah kalah pada keinginan mereka dan tunduk semakin rendah di bawah kaki Tuniang yang menginjak ibunya, Lakshmi dan Taehyung.

Dia menatap matanya sendiri di cermin, meyakinkan dirinya sebelum perlahan menggerakkan jemarinya—memotong rambutnya. Terdengar suara kres keras dalam keheningan kamarnya saat rambutnya yang tebal perlahan terputus oleh mata pisau guntingnya—Taehyung membuka mulutnya, bernapas dari mulutnya saat tangannya kemudian bergerak di luar kekuasaannya sendiri.

Memotong habis rambut panjangnya.

Rambut yang selalu digenggam Jeongguk, diselipkan ke jemarinya untuk diciumi, membenamkan wajahnya di sana setelah orgasme, rambut yang dengan lembut dijalin Jeongguk agar tidak mengganggu Taehyung. Jeongguk selalu menyisir rambut Taehyung dengan jemarinya, mengaguminya dan mendesah seolah Taehyung adalah manusia terindah yang pernah ditemuinya.

Taehyung menghela napas tajam, melepaskan genggamannya pada rambut di tangannya dan membiarkan helaian rambutnya meluruh dari jemarinya.

Potongan rambut berjatuhan di lantai, di kakinya, menodai bahu dan pakaiannya. Dia terus memotongnya seperti orang sinting, tidak peduli lagi pada bentuk potongan rambutnya. Dia menyerahkan kebebasannya, menyerahkan segalanya pada Puri—Jeongguk sudah memutuskan bahagia, maka Taehyung juga harus bahagia. Dia mencengkeram rambutnya, memotongnya asal dan mengarahkan mata guntingnya ke mana saja selama ada rambut yang cukup untuk di potong di kepalanya.

Taehyung menghabisinya, hingga menyisakan rambut-rambut pendek kacau yang harus dirapikan oleh kapster berpengalaman jika tidak mau kepalanya pitak atau terluka karena guntingnya. Dia terengah, menurunkan tangannya yang memegang sisa rambutnya dan gunting yang kotor oleh potongan rambut. Dia nampak terekspos, gemetar oleh wajahnya sendiri yang sekarang nampak tegas dan... terang.

Membuatnya nyaris terserang perasaan yang berlawanan dengan klaustrofobia; takut pada perasaan terekspos itu. Kepalanya terasa ringan dan sejuk, wajahnya nampak dua kali lebih lelah dan mengerikan tanpa rambut untuk menyembunyikannya.

Taehyung baru saja mencukur habis tempat persembunyiannya.

Dia menunduk, menatap rambut yang berhamburan di kakinya saat matanya kembali kabur oleh air mata dan dia kembali menangis—kali ini, entah karena apa. Dia menjatuhkan gunting yang menghantam lantai dengan suara dentang keras, bergabung dengan rambutnya yang dipotong habis. Menandai penyerahan diri seutuhnya pada Puri, melepaskan Jeongguk dan keegoisannya sendiri demi kepentingan orang banyak.

Setengah hatinya menangis, menjerit menginginkan Jeongguk—begitu merindukannya hingga dia yakin jika dia tidak memblokir nomornya dan Jeongguk mengiriminya pesan, Taehyung akan seketika kembali padanya. Memeluknya dan melupakan segalanya, melupakan ibu dan kakaknya. Melupakan dirinya sendiri yang hidup sebagai pewaris Puri dan hidup sebagai Taehyung yang baru; yang jauh lebih sederhana dan jatuh cinta setengah mati pada Jeongguk.

Dia takut pada apa yang dirinya sendiri mampu lakukan jika dia tidak mengontrol dirinya. Taehyung takut dia akan melepaskan segalanya lalu kabur dari sini sementara dia punya tanggung jawab besar menantinya. Dia mengepalkan tangannya, dia harus bertahan.

Dia harus bertahan.

Taehyung harus bertahan.

Dia melakukan ini untuk mereka berdua, yakin Jeongguk suatu hari nanti akan berterima kasih padanya karena menyerah pada hubungan ini. Mereka akan baik-baik saja setelah sakit ini sembuh.

Taehyung yakin. Dia akan sembuh, dia akan kembali berbahagia—hidup di jalan yang berbeda dengan Jeongguk. Selama ini mereka melakukannya dengan baik-baik saja, tidak ada alasan mengapa mereka tidak bisa melakukannya lagi.

Taehyung hanya harus menangguhkan sakit ini sekarang, sebentar saja hingga dia sembuh dan lukanya mengering. Dia bisa melakukannya.

Dia bisa.

*

ps. irrelevant but i was listening to We The Kings – Sad Song while writing this one. enjoy! x


Taehyung meluncur memasuki Alila mengendarai motornya, mengangguk pada beberapa orang yang menyapanya di jalan sebelum memarkir motornya di tempat parkir karyawan. Dia melepaskan helm juga jaket berkendaranya sebelum menyugar rambutnya yang terasa kusut karena berhamburan oleh angin, dia lupa mengikatnya dan mencabut kunci motornya.

Taehyung menguap tertahan, beranjak ke pintu masuk khusus karyawan dan langsung mengambil seragamnya. Hari ini jadwalnya lumayan kosong, tidak ada reservasi atau group lunch yang harus diurusnya, serta belakangan ini dia mendapat cukup tidur. Lima jam semalam, jauh lebih baik daripada lima jam dalam dua hari. Dia memijat tengkuknya, merasa sedikit kelelahan karena kurang tidur dengan kantung makanan di tangannya.

Dia masih belum yakin bagaimana menyikapi Devy selama ini; dia berusaha memerankan peran calon suami yang baik sebisanya dan gadis itu nampak bahagia bersamanya. Taehyung hanya perlu menemaninya mondar-mandir, menanggapinya sesekali, membalas pesannya dan mengangkat teleponnya. Tidak terlalu sulit, kecuali di bagian dia melemparkan kata-kata cinta yang membuat Taehyung takut dan risih.

Dia tidak pernah suka pada kata-kata cinta, dia selalu menghindari pertunjukan emosi karena sejak kecil dia tidak pernah ditunjukkan caranya mengapresiasi perasaan. Taehyung tidak fasih berbicara tentang perasaannya sendiri; dia malah berakhir salah menanggapinya dengan mengucapkan terima kasih. Maka setiap kali gadis itu melemparkan kata-kata tentang perasaan, Taehyung hanya akan tersenyum dan merangkulnya—berharap sentuhan fisik mungkin cukup bagi gadis itu untuk menyadari bahwa Taehyung juga merasakan hal yang sama.

Setidaknya berusaha merasakan hal yang sama.

Aroma makanan yang dibawanya lezat sekali; Taehyung memujinya dengan tulus. Gadis itu mengerahkan usahanya dan mengorbankan waktunya yang berharga untuk memasakkan bekal untuk Taehyung; dia mengapresiasi itu. Menu hari ini daging dengan bumbu marinasi; gadis itu memamerkan masakannya dengan bangga. Membekali Taehyung dengan buah, sayuran, dan nasi lebih banyak dari biasanya.

“Agar Wigung tidak kelaparan.” Katanya tersenyum lebar saat Taehyung berdiri di atas motornya yang terparkir di halaman griya gadis itu, menunggu bekalnya dengan helm diletakkan di atas tangki. “Selamat bekerja! Jangan lupa berdoa.”

Anak manis, Devy itu. Selalu ceria, menebarkan aura positif ke orang di sekitarnya. Walaupun terkadang kelewatan, dia tetap anak yang sopan dan tidak rewel jika Taehyung menjelaskan posisinya. Kebiasaannya mengadu pada ayahnya masih berlanjut dan Taehyung memutuskan itu adalah sifat bawaannya. Karena belakangan ini dia bahagia dengan Taehyung, semua laporannya berisi rasa bahagia yang membuat ayah Taehyung semakin senang.

Semua orang Puri, saudara-saudara ayahnya sekarang menyapanya setiap bertemu. Bersikap ramah dan sopan pada kakak dan ibu Taehyung. Acara-acara desa yang dihadirinya sebagai perwakilan Puri juga lebih hangat saat dia menggandeng Devy di lengannya—gadis itu natural dengan orang-orang baru. Mungkin pembawaan itulah yang membuatnya cocok menjadi seorang dokter.

Hidup berjalan baik, persis seperti apa yang mungkin Taehyung harapkan sebelum terperosok ke dalam pesona Jeongguk.

Tiap kali Devy memanggilnya 'Wigung', hatinya tersengat rasa rindu yang luar biasa. Teringat cara Jeongguk menyebutkan nama itu ketika memohon. Terkadang dia butuh satu menit penuh untuk memulihkan diri dari panggilan itu, namun lama-kelamaan dia membiasakan dirinya; dia tidak bisa terus-terusan merasa tersengat oleh nama panggilan sederhana yang bisa digunakan siapa saja.

Belakangan ini, dia memanfaatkan keceriaan dan celotehan Devy untuk mengalihkan pikirannya. Dia akan mendengarkan Devy mengomel, memaksa kepalanya fokus kepada tiap kata yang diucapkannya alih-alih memikirkan hal lain yang membuatnya sedih. Dia mengandalkan Devy, dia bergantung pada gadis itu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya.

Tapi mendengarkannya mengomel tentang pelajarannya, tentang presentasi, tentang catatannya, tentang urusan koas yang menyebalkan berhasil membuat pikiran tentang Jeongguk setidaknya redup di belakang sana.

Redup. Tidak pernah lenyap.

Taehyung membawa seragamnya ke loker, dia meletakkan makanannya di loker sebelum mulai mengganti bajunya. Dia menghadap cermin, mengamati tubuhnya saat melepaskan kaus dari kepalanya. Sejak kapan tubuhnya menjadi lembek begini? Apakah kesedihan sungguh menghisap hidup Taehyung? Dia menyentuh dadanya, merasakan tekstur ototnya yang mulai melentur—tidak lagi kencang. Dia harus mulai berolahraga lagi, dia harus menjaga tubuhnya karena dia tidak lagi muda.

Dia meraih kemeja seragam chef-nya, mulai mengenakannya lalu mengancingkannya perlahan—membiarkan otaknya fokus pada kegiatan itu alih-alih melanglang buana memikirkan hal lain. Dia mengangkat kepalanya, memandang dirinya sendiri yang nampak lelah di cermin saat melicinkan seragamnya sebelum melepas celana jisnya dan menggantinya dengan celana kain hitam panjang seragamnya.

Taehyung meraih apron putihnya dengan bordiran Alila di bagian sudutnya lalu mengikatnya di pinggangnya—sedikit terlalu kencang karena tubuhnya menyusut tanpa disadarinya. Dia menghela napas saat mengangkat tangan dan mulai menggelung rambutnya—dia harus memotong rambutnya, sudah terlalu panjang.

Dia mengenakan harnet untuk menjaga rambutnya tetap di sana sebelum meraih toque-nya dan menyeimbangkannya di kepalanya. Menyematkan name tag-nya di dada kiri, Taehyung kemudian membersihkan seragamnya sebelum meraih kotak makannya dan mengunci lokernya. Dia beranjak ke dapur yang mulai bergerak untuk menyiapkan makan siang.

“Pagi, Chef!” Sapa CDP-nya yang semalam bertugas.

“Pagi.” Sapa Taehyung mendorong pintu ruangannya, dia meletakkan bekal Devy di atas meja untuk dimakan nanti sebelum kembali ke luar. “Hari ini tidak ada reservasi mendadak, ya? Tetap kosong?”

CDP-nya mengangguk, nampak sedikit lega bisa beristirahat dari reservasi. “Kosong, Chef. Kecuali intimate lunch hanya dua pax. Sudah saya siapkan juga.”

Taehyung mengangguk, hanya dua pax tidak akan menambah masalah di dapur. Dia harus bertemu GM hari ini membahas menu baru yang akan mereka luncurkan; Taehyung mengerjakan menu itu di sela-sela kesedihannya, mencoba mengalihkan pikirannya dari pedih tiap kali teringat Jeongguk yang menghantui kamarnya. Dia mencurahkan segala perhatian dan kemampuannya ke menu itu, ditemani Devy yang menontonnya dengan ceria saat Taehyung mengecek rasanya di rumah sebelum membawanya ke dapur hotel.

Jika menu itu terbukti laku di Alila Manggis maka Alila Regional menginginkan menu itu tersedia di semua Alila di Indonesia. Semua head chef Alila akan bertemu di Alila Manggis untuk mendapatkan demo memasak dari Taehyung serta resep mengerjakan menu itu. Namanya akan tercantum sebagai kredit tiap kali menu itu ditampilkan seperti biasa.

Sejauh ini sudah ada tiga menu buatan Taehyung yang tersedia di Alila seluruh Indonesia. Disajikan dengan food tag akrilik “by Chef Taehyung, Alila Manggis – Bali, Indonesia”.

Dan dia belum juga mendapatkan izin untuk transfer kerja ke Alila Uluwatu.

“Saya hari ini akan bertemu Bapak,” katanya pada CDP-nya yang langsung mengangguk. “Mungkin seharian. Jadi jika ada yang penting langsung telepon saja ke Executive Office, ya?” Tambahnya. “Hari ini saya minta DCDP-mu untuk masuk in charge pagi hingga Hoseok masuk.”

“Iya, sudah, Chef.” Sahut CDP-nya, berdiri di dekatnya untuk melaporkan semua yang terjadi tadi malam. “Log book malam sudah saya letakkan di meja Chef untuk dicocokkan dengan Night Report dari Pak Mingyu.”

Taehyung mengangguk, jika Duty Manager yang in charge tadi malam Mingyu maka seharusnya semua aman karena dia punya tingkat ketelitian di atas rata-rata dan juga galak saat patroli malam. Dia pernah melaporkan commis yang ketahuan mengudap makanan diam-diam di chiller langsung pada Taehyung dan setelah mendapatkan surat peringatan, commis itu memutuskan mengundurkan diri.

Mingyu tidak segan melakukan apa pun maka Taehyung memercayakan dapur padanya.

Taehyung mengangguk, “Saya akan naik mengecek breakfast lalu bertemu Bapak, jadi jika ada yang penting hubungi saya.” Katanya melirik jam dinding di dapur sebelum CDP-nya mengangguk dan Taehyung beranjak bersama desir apronnya yang tertiup angin.

Dia melangkah dalam langkah panjangnya menuju restoran Alila, mengecek menu buffet breakfast sebelum tamu berdatangan dan sengaja memilih jalan pintas depan yang terbuka sekalian menenangkan diri. Saat dia tiba, beberapa tamu sudah mulai beranjak untuk menikmati pagi di tepi kolam renang mereka yang menghadap langsung ke lepas lautan yang biru. Langit sedikit mendung, awan kelabu menggantung tipis di garis horizon dan Taehyung sejenak berhenti di sana, menatap lautan luas yang membuatnya merasa kecil.

Menatap semburat cahaya matahari tipis yang mengintip dari celah-celah awan kelabu, membuat suasana pagi menjadi begitu melankolis untuk kembali ke balik selimut meringkuk dengan orang terkasih. Menikmati pagi yang malas, sedikit minuman hangat dan bercinta.

Taehyung menghela napas dalam—teringat pagi malas di sudut Ubud berjuta tahun lalu dengan tubuh hangat Jeongguk dalam pelukannya. Ciuman yang ditempelkan ke wajahnya, ke pelipisnya, ke telapak tangannya. Hangat tubuh Jeongguk, aroma keringat dan parfumnya yang menggantung di kepala Taehyung. Bisikkan parau nakal di telinganya, tangan Jeongguk yang bergerak di tubuhnya—akrab dengan setiap lekuk tubuh Taehyung yang bahkan belum pernah dia sendiri sentuh.

Dia merindukan kehidupan itu, kemewahan rasa bahagia yang sama sekali asing di hidupnya. Taehyung menghela napas, menikmati udara pagi yang bersih dan menggigit sebelum melangkah ke restoran yang sudah mulai ramai dipersiapkan semua anak-anak servis yang menyapanya. Tidak peduli seberapa inginnya dia kembali meringkuk di ranjang, dia harus bekerja.

“Halo, Chef. Pagi.” Sapa FB Captain pagi yang sudah mulai menunduk di komputer sistem, mengecek jumlah tamu hari itu untuk menyesuaikan breakfast.

“Pagi.” Sapa Taehyung mengangguk dan melangkah ke makanan—mengeceknya dengan anak-anak servis bergerak di sekitarnya membawa piring-piring porselen putih yang sudah dipoles dan sendok garpu yang bergemericing.

Menu hari itu sempurna; semuanya baik. Tidak ada masalah yang bisa Taehyung lihat di permukaan. Dia mengambil sendok saji yang diletakkan di sisinya dan menggunakannya untuk sedikit mengaduk makanan tanpa merusak tata letaknya sebelum mengembalikannya. Dia berkeliling dan berhenti di dekat kasir, di mana FB Captain bersiaga persis saat tamu pertama memasuki restoran bersama anak-anak mereka.

“Hari ini kamar bagaimana?” Tanya Taehyung setelah FB Captain memindai kunci kamar tamu itu ke sistem, mengecek breakfast yang sudah termasuk ke dalam harga kamar.

“Penuh, Chef.” Sahut FB Captain mengangguk, nampak senang. Anak-anak servis jauh lebih suka jika mereka lelah karena bekerja back-to-back daripada lelah karena berdiam diri saat hotel sepi.

Taehyung juga merasakan perasaan itu. Lebih suka saat dia berkeringat berjibaku menyiapkan menu daripada harus diam, duduk mendengarkan orang berdiskusi seperti apa yang akan dilakukannya sekarang. Namun dia tidak punya pilihan lain. Dia pamit dari restoran saat menyadari dia tidak punya sesuatu untuk dilakukan lagi dan menuju ruangan GM yang sudah menunggunya.

Menu yang diajukan Taehyung adalah kombinasi yang tidak pernah salah dari ikan dan bunga kecombrang yang harum. Aroma kuat bunga itu akan mengurangi aroma amis ikan yang akan dimasak bersamanya; tidak banyak restoran yang berani menyajikan sambal kecombrang karena tidak semua tamu memiliki nyali untuk mencoba makanan eksotis ini. Aroma bunga yang kuat, manis, dan nyaris memabukkan akan menetralisir bau amis ikan, memberikan sensasi makan baru yang luar biasa.

Taehyung sudah memodifikasi menunya, mencari teknik masak terbaik untuk membuat ikannya selembut mentega. Lakshmi dan Devy secara harfiah berseru senang saat Taehyung menyajikan ikan yang dimasaknya dengan alat terbatas di rumah—membayangkan hasilnya jika dia memiliki semua alat-alat dapur berkelas. Mereka tidak perlu mengunyah ikannya karena dagingnya meleleh di mulut begitu menyentuh lidah mereka. Devy mengambil banyak foto makanan itu dan memamerkannya ke sosial media, memamerkan calon suaminya yang berbakat.

Kecombrang?” Tanya Felix seolah menanyakan akal sehatnya saat Taehyung memberi tahunya lewat telepon ketika dia mengecek kecombrang cantik berwarna merah jambu yang dibelikan Lakshmi untuknya; aromanya menyengat, harum manis yang membuat pangkal hidungnya pedih. “Kau yakin akan menggunakan bahan beraroma sekuat itu?

Taehyung mengedikkan bahu, “Aku tidak keberatan melakukan gambling.” Sahutnya dan berpikir untuk bertanya pada Arsa tentang ini karena dia 'rajanya' Indonesian fusion namun tidak mendapat waktu sama sekali karena dia sibuk mondar-mandir tentang mempersiapkan restoran barunya.

Tapi toh tanpa Arsa pun dia berhasil melakukannya. Mungkin dia akan membawa menu itu ke Le Paradis sebelum membiarkan Alila mengambilnya. Dia tetap butuh pendapat kedua dari ahli. Saat dia memasak kecombrangnya, Devy berdiri di sekitarnya—mengamati dengan tertarik dan Taehyung belum pernah merasakan ketertarikan sebesar itu dari orang lain pada dunia yang dianggapnya biasa saja.

“Tidak biasa,” sahut gadis itu menggeleng tegas saat Taehyung memintanya menjauh. “Ini, 'kan, kesukaan Wigung. Tentu saja Ayu mendukung!”

Alih-alih mendukung, dia sebenarnya hanya mengacau tapi Taehyung mengabaikannya. Dia boleh melakukan apa saja selama menjaga jarak satu meter dari ruang bekerja Taehyung. Untuk pertama kali setelah berbulan-bulan, Taehyung merasa kembali hidup dengan kreasi barunya; mencium aroma kecombrang yang lembut setelah diolah ditemani ikan yang meleleh di mulut serta seru bahagia Lakshmi saat mencicipinya.

Taehyung mendapatkan suntikan rasa percaya diri lagi sekarang saat dia mempresentasikan menunya ke GM yang mendengarkan dengan serius. Taehyung menjelaskan konsepnya, menjelaskan semua aspek menunya dan bagaimana makanan itu akan menjadi sukses seperti semua menunya yang lain. Dia juga memberi tahu GM dia akan meminta pendapat kedua dari seseorang yang lebih ahli demi mendapatkan kesempurnaan.

“Boleh tolong sajikan satu untuk makan siang atau makan malam saya?” Tanya GM kemudian setelah Taehyung selesai menjelaskan dan juru masak kepala itu mengangguk. “Saya ingin mencicipi sebelum dan sesudah pendapat ahli.”

Taehyung menyunggingkan senyuman tipis; mencatat dalam hati untuk menghubungi Arsa sore ini, memaksanya memberikan waktu beberapa jam untuk mendengarkan resepnya. “Baik, Bapak. Saya akan infokan Bapak jika saya sudah mendapatkan kecombrangnya.” Katanya sebelum berpamitan dan kembali ke dapur.

Beberapa jam lagi makan siang, Taehyung harus mencari kecombrang yang sesuai untuk masakannya. Mereka tidak pernah menyetok makanan berbau kuat itu di chiller karena bisa merusak bahan makanan lain dengan aroma manisnya. Taehyung melangkah turun, bergegas kembali ke dapur untuk meminta seseorang menghubungi suplayer mereka demi kecombrang. Dia hanya butuh seikat yang segar.

“Dian.” Katanya begitu mendorong pintu dapur, DCDP-nya mendongak dari kesibukannya mengecek potongan sayur anak magang. Gadis itu bergegas mengelap tangannya dan menghampiri Taehyung yang memasuki ruangannya.

“Apakah kita punya kecombrang?” Tanyanya, menyingkirkan tas makanan Devy dari atas meja dan mulai meraih buku agendanya yang terisi coretan menu-menu yang ditulisnya saat melamun. “Atau bisakah suplayer mendapatkan seikat? Saya harus memasakkan menu baru untuk Bapak hari ini.”

DCDP-nya nampak kaget dengan permintaan di luar kebiasaan mereka itu. “Kecombrang, Chef?” Ulangnya, meragukan pendengarannya sendiri. “Coba saya minta Receiving untuk mengecek ke suplayer. Agak sulit juga, Chef.”

Taehyung mendengus, benar. Lakshmi butuh beberapa hari untuk mendapatkan kecombrang, bagaimana caranya mendapatkan benda itu dalam satu hari? Tapi tidak ada salahnya mencoba. “Dicoba saja.” Katanya lalu DCDP-nya mengangguk sebelum bergegas keluar memenuhi kebutuhan head chef-nya.

Taehyung berdiri, menggulung lengan kemejanya lalu bergegas keluar. Dia harus mengerjakan ikannya jika memang akan memasak menu barunya. Butuh waktu untuk membuat ikannya selembut mentega. Taehyung melangkah ke Butcher, mengecek apakah mereka punya ikan yang dibutuhkannya.

Tempat itu lebih dingin dari Pastry, beraroma tajam daging mentah dan darah binatang. Dia secara personal kagum pada mereka yang bekerja di Butcher karena ruangan itu beraroma seperti rumah jagal. Ada noda-noda darah dan lemak yang sulit hilang di permukaan mejanya, aroma darah yang memualkan, daging-daging mentah; Taehyung sendiri tidak pernah kuat berada di sana.

“Kalian punya ikan?” Tanyanya pada commis Butcher yang bergegas menuju chiller diikuti Taehyung untuk mengecek ketersediaan protein mereka.

Taehyung memilih ikan yang ada, tidak terlalu bagus karena mereka tidak punya banyak menu ikan tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Dia meminta Butcher membersihkannya, memotong sesuai kebutuhannya sebelum membawanya di atas piring aluminium untuk diproses, dimarinasi sebelum siap dimasak. Dia melangkah keluar dari Butcher saat DCDP-nya kembali masuk.

“Chef, kata suplayer mereka punya seikat tapi tidak terlalu bagus. Chef berkenan?” Tanyanya.

“Tidak apa-apa, saya akali.” Taehyung mengangguk. “Tolong diantar ke hotel sekarang juga.”

Dian, DCDP-nya mengangguk. “Siap, Chef.” Lalu dia bergegas berbalik, menjejak safety shoes-nya yang bersol tebal hendak melangkah memberi tahu Receiving tentang permintaan Taehyung saat dia mendadak berhenti.

“Oh, Chef, maaf.” Dia merogoh kantung apronnya dan mengeluarkan sesuatu. Taehyung yang sudah berbalik hendak pergi ke meja prep untuk mengurus ikannya berhenti dan menoleh.

Dia melihat sepucuk surat di tangan DCDP-nya, berwarna putih gading dengan pinggiran merah jambu yang nampak sederhana dan cantik terbalut plastik. DCDP-nya menghampiri Taehyung dan menyerahkannya, dengan kondisi terbalik sehingga Taehyung tidak bisa melihat isinya.

“Ada undangan yang dititipkan ke Security hari ini untuk Chef.” Katanya mengulurkan tangannya dan Taehyung meraihnya.

“Oh, ya.” Katanya, menyatukan potongan informasi hari ini tentang undangan yang dimaksud Lakshmi—mungkin ini undangannya. Dia akan memberi tahu Devy agar bersiap menghadiri upacara adat lain sebagai pasangannya. “Saya sudah menunggu undangannya.”

DCDP-nya menatapnya sejenak. “Saya tidak menyangka,” katanya kemudian, meringis geli seraya mengedikkan bahu. “Akhirnya Head Chef Amankila akan menikah. Sayang sekali saya tidak mendapat kesempatan mendekatinya.”

Jantung Taehyung seketika mencelos, terjun bebas ke dasar perutnya—menghantam permukaan lalu pecah berserakan. Napasnya lenyap, rasa dingin aneh merebak di hatinya, membuat jantungnya sejenak berdetak dengan kepedihan yang mustahil diabaikan. Air es disiramkan ke punggungnya, membuat jemari kaki dan tangannya mendadak dingin serta mati rasa.

Siapa katanya....? “Siapa...?” Bisiknya pecah, genggamannya di undangan di tangannya menguat hingga kertas tebal itu remuk di tangannya. “Siapa katamu?” Ulangnya, napasnya memburu saat paru-parunya diserang rasa kaget dingin itu.

Ujung-ujung jemarinya berubah mati rasa, begitu dingin hingga dia bergidik. Bahkan kata 'terkejut' sekali pun melemahkan ledakan emosi yang sekarang dirasakan Taehyung—seolah langit runtuh di atasnya, menimbunnya dalam emosi yang tidak tergambarkan.

Dia merasa seperti baru saja dihajar, persis di wajahnya dengan wajan.

DCDP-nya mengerjap, menyadari cengkeraman kuat Taehyung di sudut undangan cantik yang diserahkannya. Ragu-ragu, “Chef Jeongguk, Chef.” Katanya, lebih terdengar seperti pertanyaan alih-alih pernyataan. “Tertulis di undangan. Maaf saya mengintip karena tidak diamplop.”

Taehyung menghela napas tajam, suaranya terdengar nyaring di dapur yang mendadak hening merespons ledakan emosinya. Dia berusaha melonggarkan cengkeramannya di undangan itu. Jemarinya terkunci, tidak mau diajak bekerja sama tidak peduli seberapa kuat otaknya memerintahkan jemarinya untuk membuka. Taehyung gemetar, tulang punggungnya bergoyang dengan cara yang membuatnya syok.

Dia mencengkeram ikan di tangannya yang lain, merasakan dinginnya piring aluminium saat dia berusaha membalik undangan yang remuk di tangannya. Matanya berkunang-kunang, dipenuhi kerlip putih aneh membutakan yang merebak. Dia mengerjap, berusaha mengenyahkannya namun malah semakin memperbanyaknya. Dia membuka mulutnya, bernapas dari sana—mendengar napasnya sendiri menderu dan berpusing masuk ke paru-parunya.

Taehyung mengerjap, berusaha membuat matanya fokus saat menatap undangan di tangannya.

Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.

Piring di tangan Taehyung lepas, meluncur jatuh ke lantai dapur. Membenturnya dengan suara denging keras dan ikan di atasnya remuk. Sesuatu dicabut dari diri Taehyung; untuk kedua kalinya. Organ yang tidak dikenalnya, sekarang dicabut paksa lalu dicacah, diremukkan. Meninggalkan lubang menganga yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Separuh diri Taehyung terasa lenyap, meninggalkan lubang kosong menyiksa yang membuatnya lemas. Seluruh dapur hening, menunggu juru masak kepala mereka bereaksi. Taehyung berdiri di sana, di tengah dapur dengan undangan diremas di tangannya dan protein remuk di kakinya.

Pertunangan.

Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.

Kata-kata itu menari di matanya yang berkabut, jutaan kunang-kunang berterbangan di balik kelopak matanya—menyinari irisnya dengan cahaya yang membutakan sementara Taehyung berusaha menjaga dirinya sendiri namun dia oleng. Nyaris ambruk jika seorang commis tidak bergegas meraihnya, langsung menyangganya dengan kedua lengannya yang kokoh saat udara dihisap habis dari paru-parunya.

Pertunangan.

“Chef!” Seru DCDP-nya, namun semua suara itu memudar di kejauhan—menyisakan Taehyung dan undangan berwarna gading di tangannya.

“Kau layak mendapatkan seseorang yang tidak ragu membuang segalanya demi bahagia bersamamu.”

Dia mendengar dirinya sendiri bicara; mendengung di kepalanya yang kosong dan dingin, menatap Jeongguk yang berlinang air mata memohonnya tinggal, memohonnya untuk membalas cinta yang Taehyung tahu tidak bisa dibalasnya.

“Mari... kita akhiri.”

“Berbahagialah, Jeongguk.”

Lalu mengapa.... bahagia ini begitu menyakitkan?

*

ps. irrelevant but i was listening to 5 Seconds of Summer – Amnesia while writing this one, x


Jeongguk menutup pintu mobilnya saat menyadari mobil lain terparkir di garasi, dia mengenali mobil itu. Tetapi bersumpah dia tidak memiliki tenaga untuk meladeni mereka karena hari ini dia digempur reservasi intimate private dinner dengan seven course meals yang tidak baik hati sama sekali.

Hal terakhir yang ingin dilakukannya adalah berakting ramah pada orang lain.

Jeongguk mendesah berat, menoleh ke adiknya di dalam Yaris-nya yang mengedikkan bahu. Dia lupa belakangan ini rumahnya ramai karena keluarga Mirah selalu datang untuk mempersiapkan acara mereka; Jeongguk sudah mencicipi setidaknya ratusan contoh menu katering, mencoba ratusan jenis warna kain, dan mengecek sampel puluhan corak kartu undangan yang sebenarnya sama sekali tidak dipedulikannya.

Dia berhasil menolak mentah-mentah keinginan ibunya untuk melaksanakan pra-wedding karena Jeongguk merasa tidak masuk akal melaksanakan pemotretan hanya untuk acara pertunangan. Walaupun ibunya nampak sangat kecewa, dia menerima argumen Jeongguk dan membatalkan semuanya.

Jeongguk sedikit bersyukur ayahnya setuju dengan ide pertunangan alih-alih langsung menikahkan mereka secepatnya; dia bisa menunda pernikahan karena Mirah nampak sedikit terobsesi pada karir sebelum memulai keluarga. Dia akan mengizinkan Mirah melakukan apa pun dalam hidupnya sebelum membuang kebebasan lajangnya untuk membangun keluarga yang sayangnya tidak akan seperti keluarga yang diharapkannya.

Karena Jeongguk akan melakukannya dengan cara yang sangat tradisional seperti almarhum Tukakiang. Dia hanya akan naik ke ranjang istrinya saat ingin bercinta (Jeongguk tidak akan pernah ingin bercinta) dan selebihnya, mereka akan tidur bahkan tinggal di ranjang yang terpisah. Jelas, bukan jenis keluarga yang diimpikan perempuan moderen mana pun.

Jeongguk hanya akan melakukannya sekali; satu kali bercinta sudah cukup untuk membuatnya ketakutan seumur hidup. Ayahnya tidak sekuno itu, dia tidur dengan istrinya—bahagia dalam pernikahan mereka. Namun Jeongguk tidak harus mencontoh ayahnya, 'kan? Dia akan memaksa dirinya naik ke ranjang bersama Mirah sekali lalu sudah. Dia akan tidur di kamar lajangnya dan Mirah bisa menggunakan kamar utama.

Terdengar seperti ide yang luar biasa, itulah yang akan dilakukan Jeongguk.

“Hari ini mencoba apa lagi?” Tanya Yugyeom seraya membanting pintu lalu bergegas menyusul kakaknya yang beranjak ke dalam terbalut celana jins longgar dan kaus polos setelah bekerja. “Udeng seragam?”

Sejak diantar-jemput Yugyeom, Jeongguk selalu mandi sebelum pulang sehingga dia bisa langsung menjatuhkan diri ke ranjang dan tidur saat tiba di rumah. Dia sungguh harus mulai mengemudi sendiri karena ayahnya sudah terus-menerus menyindirnya tentang ini.

Namun dia juga tidak ingin mengambil risiko kehilangan fokus di jalan apalagi melalui jalanan Sang Hyang Ambu yang mengerikan, berkelok mengikuti bentuk bukit. Dan Yugyeom yang tinggal menunggu yudisium dan wisuda sama sekali tidak keberatan, apalagi jika selalu diberi uang jajan untuk jalan-jalan tiap menunggu kakaknya pulang bekerja.

Jeongguk memasuki halaman Puri yang asri dengan palem-palem raksasa tinggi yang membentuk pagar di sekitar tembok Puri yang pudar, dedaunan melambai oleh angin senjakala yang dingin. Koleksi bonsai ayah dan Tukakiang berjejer di halaman tengah, semuanya terawat dan sehat. Jika ayahnya tidak sedang menyebalkan, dia akan merawat tanaman itu—menggunting dedaunannya dan membentuknya dengan kawat.

Rumput halaman selalu dijaga rapi dan bersih setiap hari oleh satu tukang kebun yang sudah menjadi bagian mereka sejak Jeongguk masih kanak-kanak. Menjaganya tetap seragam dan empuk sehingga terkadang jika anak-anak dari sepupunya datang mereka sering bermain di sana seharian karena bersih dan nyaman.

Sekarang di teras rumah yang mulai redup oleh senja, ada ibu Mirah dan ibunya dengan setumpuk katalog kain. Mereka sedang mengobrol dan tertawa, bertukar senyuman dan membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak dipahami Jeongguk. Mereka akan bertunangan, bukan menikah. Jeongguk ngeri saat membayangkan akan seheboh apa Puri ini jika dia menikah nanti.

Apa lagi ini, pikir Jeongguk nelangsa. Mereka hanya akan bertukar cincin, berpesta sedikit lalu pulang. Namun kedua keluarga mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menggelar pesta megah yang sama sekali tidak perlu.

Tapi melihat betapa semangatnya Mirah mengerjakan semuanya, Jeongguk memilih diam. Setidaknya gadis itu senang dalam proses persiapannya, maka Jeongguk memutuskan untuk tidak merusak hari bahagia gadis itu.

Besok Sabtu mereka akan mengambil cincin pertunangan mereka di Denpasar bersama Yugyeom sebagai supir pribadi. Walaupun Jeongguk sempat menolaknya karena ayah mereka benar-benar jengkel dengan kebiasaan ini sekarang; mengatakan sesuatu tentang Jeongguk bersikap lembek dan manja serta berdaya juang kecil—tidak mau bangkit dari kesedihan.

“Aku akan menemani Wiktu.” Begitu kata adiknya saat mereka duduk di kamar Yugyeom, menikmati semangkuk mie berdua seperti biasa, menggeleng pada Jeongguk yang berpikir dia akan mulai mengemudi sendiri besok. “Ini pilihan bunuh diri Wiktu yang aku tidak paham sama sekali motifnya, maka aku akan menemani Wiktu.”

Jeongguk menghela napas dalam-dalam sebelum melangkah memasuki rumah, ke arah halaman depan. Kamarnya nampak dari rumah utama, tidak ada cara untuk mencapai kamarnya tanpa melewati teras rumah utama. Maka dia tersenyum lebar pada keduanya saat mereka menoleh, menyadari Jeongguk pulang dan adiknya bergegas kabur dari sana.

Seandainya dia juga bisa kabur seperti adiknya.

“Gung,” panggil ibunya, mendongak dari katalog mereka dan tersenyum padanya.

Jeongguk memukul mundur kelelahan dan rasa jengkelnya sebelum memasang wajah ceria, “Biang, Biang Gung.” Dia beranjak ke teras rumah utama lalu menyalami ibu Mirah yang menatapnya sayang—tatapan bangga karena memiliki seorang menantu dari Puri besar Karangasem dan memiliki pekerjaan mapan.

“Sudah lama, ya?” Tanyanya basa-basi ke ibu Mirah.

Anaknya akan aman bersama Jeongguk walaupun dia tidak menyukai perempuan, dia menghormati Mirah sebagai perempuan dan dia tidak akan melakukan apa pun yang akan menyakiti gadis itu. Mereka bisa memiliki pernikahan praktis kuno seperti Tukakiang, Jeongguk yakin. Dia akan melimpahi Mirah dengan uang untuk digunakannya membahagiakan dirinya sendiri; tidak akan ada masalah.

“Baru pulang, ya?” Tanya ibu Mirah, tersenyum senang dan menatapnya kagum. Tidak pernah berhenti memuji betapa tampannya Jeongguk sejak pertama kali bertemu dan betapa beruntungnya mereka mendapatkan menantu seperti Jeongguk. “Besok Sabtu jadi ke Denpasar dengan Ogek?”

Jeongguk mengangguk. “Mengambil cincin. Jadi.” Sahutnya tersenyum—mengulaskan senyuman terbaiknya pada keduanya.

Lalu tetap memasang senyuman itu sementara kedua ibu di hadapannya mendesah, membicarakan betapa mengurus pernikahan sangat melelahkan namun juga menyenangkan. Ibu Mirah merangkul Jeongguk yang duduk di undakan teras—menepuk bahunya hangat dan bangga, mengatakan sesuatu tentang anaknya mendapatkan jodoh yang luar biasa.

Dia tetap tersenyum, sesekali tertawa parau mendengarkan keduanya sementara adiknya yang baru selesai mandi menatapnya dari kamarnya beberapa meter dari rumah utama. Melemparkan tatapan simpati yang membuat Jeongguk menggeleng singkat—dia memilih ini, maka dia akan bertanggung jawab atas pilihan ini.

Setelah dilepaskan untuk beristirahat, Jeongguk melangkah ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya lalu menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup lalu menghembuskan napas perlahan—berusaha melepaskan ketegangan yang mengunci bahu dan tengkuknya. Dia tidak tahu lagi bagaimana perasaannya sekarang dengan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.

Jeongguk tahu dia tidak bisa bersikap begini kepada Mirah, dia menyakiti gadis itu karena menerima semuanya padahal hatinya tidak siap. Namun gadis itu sangat baik, penuh hormat dan sopan padanya. Maka Jeongguk berharap jika dia terus berusaha memalsukan perasaannya, suatu hari nanti dia mungkin akan benar-benar jatuh cinta padanya.

Dia menatap kedua tangannya yang dihiasi luka bakar karena tadi bekerja dan tidak cukup hati-hati saat plating sehingga dia menyentuh wajan panas yang digunakan commis-nya tidak hanya sekali. Luka itu terasa panas dan berdenyut sekarang namun dia mengabaikannya karena sakit di hatinya jauh lebih ganas.

Sekarang, Taehyung sudah tidak terlalu menghantui tidurnya—dia mulai menerima bahwa mereka tidak akan pernah bersama. Jeongguk mulai bisa tidur nyenyak—dibantu dengan obat dan terkadang jamu tidak enak ibunya yang nyatanya bisa membuatnya lelap. Yugyeom membelikannya difuser beberapa hari lalu, membelikannya aroma lavender yang membuatnya rileks sebelum tidur.

Semua orang berusaha menyembuhkannya maka Jeongguk membalas mereka dengan berusaha menyembuhkan diri tidak peduli seberapa mustahilnya itu terasa sekarang.

Mungkin memang sejak awal dia dan Taehyung hanya akan melewati hari-hari penuh kegilaan dengan bercinta seperti orang sinting sebelum benar-benar kembali ke kenyataan bahwa mereka berdua adalah pewaris Puri dan harus melaksanakan kewajiban mereka. Jeongguk akan mengenang hari-hari itu sebagai harta dalam hidupnya; bahwa dia pernah berbahagia dalam hidupnya.

Bagaimana pun kedepannya nanti.

Pertunangan mereka akan dilaksanakan di Taman Soekasada Ujung, salah satu warisan Puri mereka. Seharusnya di Puri Mirah, tetapi karena ayah Mirah memutuskan tinggal mandiri setelah menikah, mereka memindahkan acara ke Puri Jeongguk. Jeongguk tidak terlalu bersemangat tentang ini namun seluruh keluarganya serta masyarakat sekitar menantikan acara itu. Maka sebagai pewaris yang baik, Jeongguk diam dan menerimanya.

Semuanya senang, Jeongguk menyadari. Semua orang di Puri, bahkan lingkungan mereka menyambut hari itu dengan semangat. Semua orang nampak bahagia dan antisipatif tentang acara itu. Dan Jeongguk tetap tidak menemukan setitik pun bahagia di dalam hatinya yang meradang.

Dia menyentuh dadanya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa jantungnya masih berdetak di dalam sana karena dia merasa hampa dan kosong. Seperti jantungnya tidak lagi berada di sana, mati dan berhenti berdetak sejak lama.

Ada lubang raksasa di sana, lubang yang berdenyut oleh rasa sakit dan kehilangan. Dia merindukan Taehyung—seluruh dirinya merindukan Taehyung namun tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang karena Taehyung sudah mengusirnya. Memintanya melanjutkan kehidupannya sebelum Taehyung datang seolah Jeongguk sungguh mengingat bagaimana rasanya hidup sebelum Taehyung.

Dia berharap, Taehyung sekarang berbahagia dengan pilihannya. Berbahagia karena tidak ada lagi Jeongguk yang membebaninya dengan perasaan cinta yang mungkin bagi semua orang dan bagi dirinya sendiri 'tidak normal'.

Jeongguk senang, setidaknya Taehyung sekarang tidak harus memilih antara dirinya atau keluarganya.

Menikahi Devy berarti Taehyung tidak akan membuang siapa pun, tidak memilih siapa dari siapa pun—semua orang senang karena itulah yang harus mereka lakukan. Jeongguk merosot di posisinya, duduk di balik pintu dan membekap wajahnya sendiri saat dia menghela napas dan meledak dalam tangis tanpa suara.

Rasa bersalah yang bercokol di hati tidak lagi dipahaminya; untuk siapa perasaan itu? Taehyung, karena dia memaksa pemuda itu memilih dirinya atau keluarganya saat dia tahu Taehyung jelas akan memilih keluarganya? Keluarganya sendiri, karena memaksa Jeongguk menikahi perempuan terbaik sesuai standar mereka dan Jeongguk tidak bisa melakukannya?

Atau Mirah, karena Jeongguk 'menjebaknya' dalam pernikahan ini—terjun ke dalam pernikahan dengan Mirah yang sangat mencintainya, sangat menghormatinya, sangat sopan padanya, segala hal terbaik yang mungkin dimiliki seorang perempuan?

Atau dirinya sendiri, karena jatuh cinta pada satu-satunya orang yang tidak bisa dimilikinya dan karena melakukan misi bunuh diri dengan menikahi Mirah?

Lantas, untuk siapa rasa bersalah ini? Jeongguk tidak lagi paham.

Dia tidak paham lagi kehidupannya hingga di titik ini karena dia hanya mengikuti alurnya; apa saja yang diinginkan keluarganya, apa saja yang diinginkan keluarga Mirah, apa saja yang diinginkan Mirah sendiri. Jeongguk akan melakukannya karena sungguh, kehilangan Taehyung telah mencabut semua keinginannya dalam hidup.

Dia tidak lagi memiliki hasrat dan bahkan kehidupan.

“Mari kita akhiri.”

Jeongguk menghela napas, tersengal karena berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak terisak. Dia begitu kosong, hampa. Menyakitkan sekali perasaan kosong yang tidak bisa disembuhkan ini. Dia bekerja tanpa hasrat—di dapur yang menjadi satu-satunya tempat untuk melarikan diri dari ayahnya pun sudah tidak lagi terasa semenyenangkan dulu. Dia tidak lagi hidup dalam kehidupannya—dia seperti cangkang kosong yang terombang-ambing ombak lautan tidak yakin ke mana dirinya akan berlabuh.

Dia hanya diam, mengikuti semua orang yang memaksanya bergerak.

Mungkin nanti dia akan menemukan bahagianya sendiri, suatu hari nanti dan bukan tentang Taehyung. Mungkin orang lain, mungkin bukan Taehyung sama sekali.

Jeongguk menghela napas, menelan isakannya dan rasa kosong yang menghantuinya beberapa hari belakangan ini. Memaksa dirinya kembali kuat dan tenang karena dia memiliki hidup yang harus dijalaninya. Dia harus bangkit, mencuci wajahnya dan mungkin mencari sesuatu untuk dimakan; dijejalkan ke tubuhnya agar tidak berisik dan membuatnya kembali masuk UGD.

Dia menarik dirinya bangun, hendak melangkah ke kamar mandi untuk membereskan diri saat pintu di belakangnya diketuk.

“Wiktu?”

Yugyeom.

Dia terkesiap kecil, bergegas mengusap air matanya sebelum membuka pintu, membiarkan Yugyeom memasuki ruangan sementara dia beranjak untuk mengganti bajunya. Dia membelakangi adiknya, tidak ingin Yugyeom menyadari air mata di wajahnya saat dia berdeham—berusaha menormalkan suaranya.

“Kita mau makan apa hari ini?” Tanyanya parau saat menarik sudut pakaiannya, melepaskan kaus dari tas kepalanya hendak menggantinya dengan pakaian rumah yang lebih ringan dan sejuk. “Wiktu lapar dan sepertinya bukan mie instan jika kita tidak mau berakhir di UGD lagi.”

Yugyeom menutup pintu sebelum mendesah, “Wiktu akan mengundang dia?” Tanyanya kemudian, tiba-tiba hingga Jeongguk berhenti—dia berdiri di depan pintu kamar mandi kamarnya, bertelanjang dada dengan celana jins menggantung rendah di pinggulnya.

Punggungnya terasa seperti baru saja disiram dengan air dingin. Sudah berapa lama dia memikirkan Taehyung—faktanya dia selalu memikirkan Taehyung setiap saat kapan saja kepalanya mendadak kosong dan butuh sesuatu untuk dipikirkan. Namun mendengar seseorang mengatakannya dengan suara normal memberikan tikaman baru ke hatinya—menggosokkan garam ke lukanya yang berdarah.

Jeongguk mengencangkan otot perutnya saat luka itu berdenyut. Tidak menyangka hatinya akan bereaksi sehebat ini saat seseorang menyebutkan Taehyung—bahkan tidak menyebutkan namanya. Namun hanya mendengar kata ganti yang mereka gunakan dan konteks yang mengikuti kata itu sudah cukup untuk menonjok Jeongguk.

Keras, tepat di ulu hatinya.

“Tentu.” Katanya kering, berdeham dan meraih kaus tidurnya semalam dan mengenakannya melewati kepalanya. “Dia layak datang, 'kan. Ini yang diinginkannya. Kami bahagia masing-masing,”

“Wiktu.” Desah Yugyeom, duduk di ranjangnya yang berderit. “Kenapa masih melakukan ini ketika Wiktu tidak menginginkannya sama sekali?”

Jeongguk menggertakkan giginya, menatap pakaian bekerjanya yang berada di tangannya. “Siapa yang bilang aku tidak menginginkannya sama sekali?” Sahutnya, tidak mengenali suaranya sendiri saat mengatakannya.

“Wiktu.” Ulang Yugyeom, kali ini dengan nada memperingati yang membuat Jeongguk memejamkan matanya—berusaha menahan nyeri dan pedih yang menyeruak di dadanya.

Seperti air yang merebak di atas kain, menyebar perlahan. Membakar hatinya, lalu jantungnya, lalu paru-parunya—membuat tiap tarikan napasnya terasa perih dan panas. Jeongguk sempat berpikir semakin lama dia merasakan sakit ini, dia pasti semakin fasih mengatasinya; namun tidak ada yang mempersiapkannya untuk rasa sakit ini. Datangnya begitu tiba-tiba, seperti sebuah pukulan yang langsung mengenai ulu hatinya, memutus jalur napas dan detak jantungnya.

Dia merindukan Taehyung, mencintai Taehyung hingga seluruh tubuhnya nyeri.

“Lalu,” katanya sengau, tercekat. “Apa lagi yang bisa kulakukan sekarang? Dia tidak menginginkanku lagi dan hanya dia yang kuinginkan di dunia ini. Dan Ajung memaksa Wiktu menikah. Pilihan apa yang kumiliki?”

Di luar dugaan, Yugyeom bangkit dan merengkuh kakaknya ke dalam pelukannya—di mana Jeongguk meleleh, menangis di bahu adiknya yang mengeratkan pelukannya, berusaha menjaga kakaknya yang rapuh agar tetap utuh. Tidak terhitung malam yang dihabiskan Jeongguk untuk menangis bersama adiknya—tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menyerah pada perasaan sakit yang berkecamuk di hatinya. Merasa bersalah karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk adiknya karena dia remuk hanya karena patah hati.

Yugyeom seharusnya melihat sosok yang lebih kuat, sosok yang bisa menjadi panutannya dalam hidup. Namun Jeongguk sudah kehilangan begitu banyak hal dalam hidup, dan kehilangan Taehyung begitu hebatnya hingga dia tidak lagi memikirkan apa pun saat meradang menangisinya.

“Tidak apa-apa.” Bisik adiknya lembut. Menepuk bahunya hangat dan tertawa lirih sementara Jeongguk berusaha keras menahan emosinya agar tidak meledak dalam tangis kacau yang memalukan.

“Bersama Ogik, silakan menangis. Habiskan saja tidak apa-apa. Wiktu berhak menangis walaupun Wiktu lelaki; emosi bukan hal eksklusif milik perempuan—semua orang yang memiliki emosi berhak merasakannya, terlepas dari jenis kelamin mereka.”

Hidup mungkin tidak pernah sederhana; ada banyak cabang dan pilihan yang harus dilakukan. Pengorbanan. Keikhlasan. Perasaan tertolak. Jeongguk merasakan segalanya; perasaan tertolak, lalu mencoba merelakan Taehyung yang sudah tidak membutuhkannya sebelum melompat ke api demi keluarganya.

Menikahi gadis yang tidak diinginkannya dengan potensi hidup dalam kepalsuan selamanya. Berharap suatu hari nanti, dia terbangun dengan perasaan biasa saja tentang Taehyung.

Atau bahkan melupakannya sama sekali.

*

tw // suicidal thoughts , internalized homophobia , age gap.

cw // Taehyung's interaction with girl.

ps. tolong jaga ketikan. unedited bcs im soooooooooo sleepppyyyyyy


Taehyung duduk di teras rumahnya, menemani Devy yang sibuk membaca jurnal-jurnal untuk persiapan koasnya. Dia akan wisuda minggu depan dan akan terjun untuk koas di rumah sakit setelahnya; Taehyung bersyukur tentang itu, setidaknya itu berarti Devy akan sedikit lebih sibuk dan tidak akan merecokinya terlalu sering.

Gadis itu sedang belajar dengan iPad-nya, duduk bersila di sisi Taehyung dengan seteko teh dan cemilan yang disajikan ibu Taehyung saat dia datang. Mereka menggelar tikar di teras yang terang dan sepoi-sepoi, Taehyung menemaninya belajar sambil mengecek grup koordinasi dapur dan hotel karena hari ini ada even kecil yang tidak membutuhkannya.

Sejak Taehyung 'menerima' Devy, dia jadi lebih sering mampir ke Puri membawa makanan atau hanya sekadar membantu Lakshmi dengan janurnya. Terkadang menunggu Taehyung pulang untuk makan malam bersama sebelum pulang. Seluruh anggota Puri sudah akrab dengannya, bahkan Tuniang secara mengejutkan. Tidak sekali dua kali Taehyung menemukan Devy duduk di kaki Tuniang, mendengarkan perempuan itu bercerita sambil mengemut pinang di mulutnya.

Dan Devy nampak sangat natural dengan semua orang—dia ramah, ceria, meletup-letup seperti kembang api. Taehyung mendesah, sekarang kehidupan Puri sangat damai.

Ayahnya tidak pernah marah lagi sekarang, dia bahkan mulai mengobrol akrab dengan Taehyung saat senggang. Bertanya tentang pekerjaannya, menepuk bahunya hangat, dan memintanya makan. Nampak sangat bangga pada Taehyung. Keramahan yang belum pernah dirasakan Taehyung selama ini. Nyatanya setelah dia menuruti mau Puri, semua orang menerimanya dengan terbuka dan hangat. Kakaknya pun nampak sedikit lebih rileks, bahunya melemas.

Jadi mungkin mengorbankan kebahagiaannya tidak terasa seburuk itu saat semua orang senang.

“Tugek, istirahat dulu. Ayo, makan.”

Taehyung mengerjap, menoleh dari jurnal Devy yang dipandanginya tanpa benar-benar meresapi kata-kata di atasnya karena kepalanya melanglang buana dan menemukan ibunya tersenyum pada mereka—dia nampak lebih muda sekarang, setelah semuanya terasa damai. Rapi, cantik, dan hangat. Tidak lagi nampak lelah dan tertekan.

Taehyung mendesah, ibunya bahagia sekarang. Dia melakukan hal yang benar dengan melepaskan Jeongguk dan merengkuh apa yang Puri ingin dia lakukan sehingga semua orang mendapatkan porsi bahagianya sendiri. Siapa tahu, suatu hari nanti, Taehyung juga akan bahagia—suatu hari nanti, entah dengan cara apa.

Devy menyeka rambutnya, mendongak dari pekerjaannya juga. “Iya, Ibuk. Sebentar, nggih.” Katanya tersenyum lebar sebelum kembali menunduk ke tab-nya yang penuh dengan hitungan dan catatan yang tidak dipahami Taehyung sama sekali.

Satu hal yang sangat dihargai Taehyung dari Devy adalah gadis itu tidak memperlakukan ibunya seperti kebanyakan orang berkasta. Dia tidak memandang ibunya sebelah mata, dia memandang ibunya sama dengan orang lain di sekitarnya. Dia selalu memberi perhatian ibunya lebih banyak daripada orang lain. Dia juga menghargai kakak Taehyung. Padahal dia tahu mereka berasal dari kasta yang berada jauh di bawahnya.

Apa pun motifnya, Taehyung tidak ingin memikirkannya karena dia senang seseorang memperlakukan ibu dan kakaknya seperti manusia. Dia ramah pada semua orang, dia menarik dengan caranya sendiri. Namun bukanlah sesuatu yang menarik hati Taehyung untuk jatuh cinta padanya.

“Makan dulu. Ayo, Wigung lapar.” Kata Taehyung membereskan jurnal di sekitar mereka—merapikannya sebisa mungkin. Biasanya hari libur akan digunakan Taehyung untuk menyuci kendaraannya dan bersantai, tidur seharian setelah lima hari dalam seminggu bekerja seperti orang sinting.

Sekarang dia punya tanggung jawab baru untuk mengasuh Devy.

Syukurlah gadis itu bukanlah bayi dengan liur menetes dari mulutnya dan gemar melemparkan dot bayinya karena jika begitu Taehyung akan menyerah. Dia hanya perlu menemani Devy belajar, mendengarkannya bercerita—sesuatu yang kadang dilakukannya sambil terkantuk-kantuk jika pulang bekerja. Secara tidak langsung mengusir Devy dari rumahnya lebih cepat.

Dia makan bersama Devy dan ibunya kemudian. Mereka tidak pernah makan bersama di rumah karena Taehyung dan Lakshmi selalu pulang malam sehingga makanan biasanya tersaji di dapur dan siapa yang terakhir makan membereskan piring kotornya. Biasanya Lakshmi walaupun Taehyung yang selalu pulang terakhir. Taehyung mendengarkan dengan senyuman palsu yang sudah dipasangnya seharian saat Devy dan ibunya mengobrol akrab—ibunya sangat menyayangi Devy.

Dia menatap Devy dengan rasa sayang dan hormat yang membuat hati Taehyung diremas-remas. Jika suatu hari nanti dia cukup berani untuk memperjuangkan bahagianya bersama Jeongguk, akankah ibunya menerima orientasi seksualnya yang sama sekali tidak seperti apa yang diharapkannya?

Akankah dia menatap Jeongguk sesayang dan sehormat dia memandang Devy? Atau malah jijik dan kecewa karena Taehyung memilih seseorang dengan jenis kelamin yang tidak pernah dibayangkannya?

Taehyung menghela napas, menatap makanannya. Ibunya memasak makanan enak hari ini—membuat tumis pakis dan ayam bumbu kuning yang beraroma harum kunyit. Rasanya enak, biasanya Lakshmi yang akan memasak namun karena Devy jadi sering mampir, ayah mereka meminta ibu Taehyung yang memasak. Taehyung kembali menyuap makanannya sementara Devy berceloteh ceria seperti bayi balita yang gembira dengan ibunya yang mendengarkan dengan senyuman di bibirnya.

Dia memainkan peran sebagai anak sulung di keluarga bahagia dengan baik.

Dia menjadi calon suami yang baik bagi Devy—berusaha keras tidak memikirkan usia Devy sama sekali dan bagaimana semua orang berpikir hal itu normal. Taehyung menjadi anak yang berbakti dengan menuruti mau ayahnya. Dan menjadi pewaris Puri yang taat dengan datang ke setiap acara keagamaan di sekitar Puri bersama Devy yang nyatanya diterima semua orang karena berasal dari salah satu griya terpandang di Klungkung.

Taehyung menjalankan perannya dengan baik, sangat baik. Bersikap tenang, gagah, dan tidak tersentuh namun juga ramah dan pengertian. Dia muncul di depan semua orang sebagai pewaris Puri yang tenang dengan Devy di sisinya, membuat Puri senang dengan sikapnya.

Sangat baik hingga hanya Lakshmi yang menyadari isi hatinya yang sebenarnya.

“Hati-hati di jalan.” Kata Taehyung, berdiri di sisi pintu penumpang Jazz RS Devy yang menderum lembut sementara dia menata tas dan semua jurnalnya sebelum mengemudi.

Dia pulang setelah makan malam, persis sebelum Puja Tri Sandya pukul enam sore berkumandang. Langit bersemburat jingga keunguan menemani saat Taehyung mengantarnya ke mobil yang terparkir di halaman sambil membawakan tasnya yang terisi jurnal dan tab-nya.

Jendela terbuka, menampilkan Devy yang sedang berkutat dengan sabuk pengamannya. Taehyung menunggu dengan sabar, terbalut kaus longgar dan celana rumahan nyaman dan rambut diikat tinggi di kepalanya. Devy menyugar rambutnya, menyeka semuanya ke balik bahunya sebelum bersiap. Menoleh ke Taehyung yang menunduk sehingga bisa memandang wajahnya, mengulaskan senyuman paling tulus yang bisa diusahakannya dalam kepalsuan.

Bagus juga Taehyung sudah melakukan ini sejak kecil, latihan bertahun-tahun membuatnya ahli.

Dadah, Wigung!” Dia tersenyum lebar, melambaikan tangannya sebelum memasukkan persneling. “Swastyastu!”

Taehyung menghela napas, “Swastyastu.” Katanya lalu melambai hingga mobil keluar dari halaman Puri dan lenyap di jalanan sebelum menurunkan tangan.

Senyumnya lenyap. Pipinya yang sejak tadi ditarik untuk tersenyum terasa pegal, hatinya terasa lelah karena seharian bersikap ceria—ternyata berpura-pura senang tidak membuat rasa bahagia itu terasa nyata. Alih-alih semakin membuat tiap menitnya terasa berat. Taehyung menghela napas dalam-dalam sebelum berbalik dan melangkah kembali ke dalam Puri.

Dia bertemu kakaknya yang sedang bersiap untuk berdoa, membawa senampan canang beraroma harum pandan dan pelbagai bebungaan serta dupa yang asapnya terasa begitu akrab dengan Taehyung. Kakaknya berdiri di depan pintu dapur dengan nampan di atas tangannya.

“Kau tidak harus terus melakukannya.” Kata kakaknya, menatapnya serius dan Taehyung menggeleng, melambaikan tangannya. “Tidak untuk siapa pun, Tugung.”

Mbok Gek,” selanya, menggeleng. “Aku tidak mau membicarakannya.” Dia kemudian berlalu dari sana, menolak pembicaraan apa pun tentang perasaannya.

Mudah bagi Lakshmi memintanya egois, memintanya bahagia saat bukan dia yang mendapatkan tekanan ekspektasi yang mencekik. Bukan dia yang lehernya ditekan dengan pedang yang siap memenggalnya jika Taehyung sedikit saja melakukan kesalahan. Taehyung melangkah ke kamarnya, mendadak merasa begitu hampa dan kosong setelah tidak lagi harus berpura-pura bahagia.

Dia mendorong pintu kamarnya, menatap ruangan itu lalu memejamkan mata sambil menutup pintu di belakangnya sebelum melangkah ke ranjang dan membanting tubuhnya ke kasur yang berderit.

Taehyung lelah sekali—dia tidak bisa tidur nyenyak. Selalu terbangun setiap beberapa jam, merasa Jeongguk ada di sekitarnya. Terbayang wajahnya yang merah padam saat berlutut memohonnya untuk tinggal. Terkadang dia bermimpi kali pertama mereka bercinta di Ubud—mendengar suara lembut Jeongguk saat membimbingnya menuju orgasme. Bagaimana Jeongguk terengah di atasnya, kepalanya mendongak dengan mulut terbuka; ekspresi nikmat yang membuat hati Taehyung berdesir senang.

Dia yang amatir dan sama sekali tidak paham seks anal berhasil membuat Jeongguk begitu puas hingga wajahnya merah padam seolah kehidupan meninggalkan raganya karena kenikmatan. Taehyung masih ingat bagaimana dia menggeram saat menyelipkan dirinya masuk setelah memastikan Taehyung cukup liat untuk menerimanya.

Dalam mimpinya, dia kadang bisa merasakan napas hangat Jeongguk di wajahnya—bibirnya yang basah dan lembut di bibirnya. Sentuhannya, ciumannya, desahannya....

Caranya menyebutkan nama Taehyung, merengek saat menggerakkan pinggulnya semakin cepat beberapa menit sebelum orgasme. Taehyung selalu menyukai menit-menit itu saat Jeongguk mengerang, berteriak tertahan dan mengeluarkan suara-suara penuh kenikmatan yang membuatnya merinding, saat dia memanggil Taehyung berulang kali sebelum menggeram panjang saat orgasme menyapu akal sehatnya.

Taehyung bergidik, hatinya koyak karena tahu dia tidak akan bisa mendapatkannya lagi. Sekarang dia harus hidup dengan kenangan itu selamanya, mengingatnya dalam mimpi setiap kali merindukan Jeongguk dan sentuhannya. Taehyung berguling terlentang, menatap langit-langit kamarnya dengan nanar merasakan hatinya yang hampa.

Seperti ada lubang besar yang menganga di sana walaupun saat dia menyentuhnya, dadanya utuh dan padat. Seperti angin mendesir melewati lubang itu, membuat Taehyung tidak nyaman dan gelisah. Satu organ baru dicabut dari sana, direnggut paksa hingga meninggalkan luka besar yang berdenyut dan bernanah karena tidak juga disembuhkan.

Taehyung tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyembuhkan luka ini sekarang. Dia tidak bisa kembali ke Jeongguk, tidak saat kehidupan mulai berjalan sangat baik untuk semua orang di dalam Puri-nya. Dia tidak bisa menyerah sekarang, dia belum setengah jalan. Dia melirik jendela yang menghadap Merajan dan melihat kakaknya sedang berdoa.

Oh, tentu saja. Sudah. Dia sudah berusaha mengisi luka itu dengan doa, berserah diri pada Tuhan dan bersyukur seperti kata semua orang padanya. Dia mensyukuri segala hal dalam hidupnya bahkan terbangun dalam keadaan utuh dan hidup. Dia berusaha menyikapi semua hal dengan positif—ini sulit karena dia 3 kali lebih mudah marah sekarang. Namun tidak ada yang bisa menyembuhkannya.

Persetan dengan bersyukur, sama sekali tidak menyembuhkan Taehyung.

Hal lain yang benar-benar mengganggunya sekarang adalah pemikiran abstrak yang kerap kali muncul secara tiba-tiba. Begitu saja, cepat namun sangat kuat hingga dia selalu nyaris kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dia mengangkat tangannya, menatap jemarinya yang kurus dan kapalan setelah bekerja bertahun-tahun sebagai juru masak. Ada banyak bekas luka dan luka bakar di sana, luka-luka yang sudah tidak lagi disadarinya hingga dia mencuci tangannya sebelum pulang.

Dia sudah sering mempertanyakan alasannya hidup di dunia ini, tujuannya berada di sini dan dihadirkan. Apa yang harus dilakukannya? Tugas apa? Pelajaran apa yang harus didapatkannya dan apa tujuan akhir dari kehidupan ini? Dan tidak pernah mendapatkan jawabannya. Sekarang, entah dari mana datangnya, dia selalu mendapatkan sentakan rasa ingin bunuh diri yang begitu kuat.

Taehyung bahkan sempat nyaris meluncur keluar jalur di atas sepeda motornya hingga membuat kekacauan saat dia menarik rem—menyadari pikiran itu persis sebelum terlambat. Ada saat di mana otaknya tiba-tiba mati dan melakukan insting kuat itu begitu saja. Untung, Taehyung berhasil mengambil alih kontrol kepalanya sebelum terlambat.

Dia takut pada dirinya sendiri—takut pada hal-hal yang mungkin dia bisa lakukan secara tidak sadar.

Semua orang berpikir dia baik-baik saja, tegar dan tenang. Tulang punggung Puri, bahunya semua orang—di mana semua masa depan dan kebahagiaan dijejerkan untuk diurus Taehyung. Semua, kecuali miliknya sendiri karena dia sudah membiarkan Jeongguk membawanya persis saat dia melangkah keluar.

“Pulanglah,” katanya hari itu pada Jeongguk yang menolak melepaskan kakinya. “Sudah malam. Kau masih harus mengemudi hingga Karangasem.”

Saat Lakshmi berhasil memaksnya pulang, Taehyung menatap kepergiannya. Mereka bertatapan, erat dan dalam saat Jeongguk berjalan mundur perlahan ke pintu—menolak pulang namun tidak menemukan alasan lagi untuk berada di sana tanpa ditegur ayah Taehyung.

“Berbahagialah.” Bisiknya pada Jeongguk sebelum dia lenyap dari sana. “Kau layak berbahagia.”

Taehyung menghela napas, mengusap wajahnya saat merasakan sakit menyentakkan dadanya hingga nyeri. Dia menyentuhnya, merasakan debaran jantungnya yang kuat dan berat—berusaha mencari sumber rasa nyeri itu dan membelainya agar tidak terlalu menyakitkan. Berharap di mana pun Jeongguk sekarang, pemuda itu sedang berbahagia tanpanya.

Karena sungguh, Taehyung tidak pernah merasa dia memberikan kebahagiaan pada Jeongguk. Dia hanya bersikap bajingan sepanjang waktu—memanfaatkan ketulusannya demi keegoisannya sendiri yang baru pertama kali mencecap bahagia. Dia terus menggunakan cinta Jeongguk demi dirinya sendiri. Memaksa pemuda itu melakukan apa saja untuknya karena Taehyung tahu dia akan melakukannya untuk Taehyung.

Dia sudah bersikap tidak sopan pada perasaan Jeongguk, tahu dia tidak bisa membalasnya namun tetap hadir di sana menerima begitu banyak dan tidak pernah memberikan apa pun.

Jika saja hidup mereka sedikit lebih tidak mencekik, jika saja mereka berdua tidak berasal dari kasta Ksatria atau Brahmana, Taehyung tidak akan ragu untuk kabur dari rumahnya sendiri dan mengejar kebahagiaan mereka. Dia seorang chef senior dengan pengalaman nyaris bertahun-tahun, mencari pekerjaan baru tidak akan sulit sama sekali.

Namun apa mau dikata, mereka terjebak sebagai seorang pewaris Puri yang sama besarnya.

Tidak ada jalan keluar. Setidaknya sekarang, mungkin sekarang.

Taehyung mendesah saat ponselnya berdering, dia mengulurkan tangan ke saku celananya meraih benda itu dan mengerang tertahan saat melihat nama Devy di layar—dia selalu melakukannya. Tidak peduli seberapa lama mereka menghabiskan waktu, dia akan langsung kembali menelepon Taehyung begitu berpisah.

Kenapa dia tidak bisa membiarkan Taehyung istirahat?

Dia berdeham lalu tersenyum, mencoba membuat dirinya terdengar ramah. “Halo, swastyastu, Ayu?” Sapanya menarik dirinya duduk di ranjang dan melepas karet rambutnya. “Sudah di rumah?”

Wigung, swastyastu!” Balas suara ceria dari seberang disertai suara pintu mobil yang dibanting. “Maaf, aku menelepon. Hanya ingin memberi tahu jika setelan endek untuk wisudaku besok sudah siap di rumah. Kuantarkan ke Puri besok?”

Taehyung nyaris mengerang saat teringat dia harus menghadiri wisuda Devy dengan pakaian seragam yang dijahit bersama orang tuanya. Mereka mengenakan endek, kain tradisional Bali. Taehyung mendapat satu kemeja licin yang warnanya senada dengan kebaya wisuda Devy dan sudah mengurus cuti bekerja karena harus duduk di dalam ruangan sebagai pendamping wisuda.

Prospeknya sangat tidak menarik namun dia harus melakukannya.

“Boleh,” sahutnya dengan suara ceria palsunya yang selama ini berhasil menipu semua orang—hampir semua orang karena kakak tersayangnya selalu melemparkan tatapan tidak setuju dengan nada itu.

Yah, Lakshmi bisa diam karena Taehyung tidak akan berhenti.

“Nanti Wigung ambil sekalian mampir makan malam.” Katanya, memijat kulit kepalanya dan merasakan rambutnya sudah menembal oleh minyak—berpikir dia akan mencucinya malam ini.

Mampir ke rumah atau kita jalan-jalan ke kebun binatang boleh, tidak?” Tanya gadis itu dan Taehyung membuka mulutnya, berteriak tanpa suara seraya melayangkan kepalan tangannya ke udara dengan jengkel. “Ayu muak belajar. Pergi ke Bali Zoo saja!”

Dia berdeham, tidak peduli seberapa besar keinginannya untuk marah dia harus tetap tenang. “Boleh, boleh.” Katanya. “Tapi Minggu pasti ramai sekali, bagaimana jika Sabtu minggu depan?”

Oke!” Sahut Devy, terdengar sangat senang hingga sejenak Taehyung terhibur—setidaknya dia senang walaupun Taehyung harus menderita karena dia sungguh tidak ingin mendatangi kebun binatang mana pun dan melihat semua binatang itu dikurung.

“Oke,” Taehyung menambahkan tawa lembut di akhir katanya sehingga Devy terdengar semakin senang. Dia memerankan diri sebagai calon suami lembut penyabar dengan baik sejauh ini. “Sekarang istirahatlah. Masih ada catatan yang harus dibaca?”

Tidak,” sahut Devy dari seberang disertai suara pintu menutup. “Ayu akan mandi lalu menelepon teman sebentar.”

Taehyung mengangguk, “Kedengaran menyenangkan.” Komentarnya tenang sebelum sambungan dimatikan dan dia seketika kembali merasa kosong.

Setiap kali berhenti memalsukan bahagianya, perasaan kosong itu semakin menjadi-jadi. Terkadang terasa mencekik paru-parunya hingga dia sulit bernapas, terkadang membuatnya gelisah, terkadang membuat asmanya kumat. Luar biasa apa yang emosi bisa lakukan pada fisiknya belakangan ini.

“Tugung?”

Taehyung menoleh dengan tangan di dadanya, mencoba menekan rasa hampa itu menjauh. Menemukan Lakshmi berdiri dengan pakaian sehabis berdoa, ada bija di kening dan titik di antara tulang selangkanya. Berpikir sejenak apakah kakaknya mendengar teleponnya dengan Devy tadi? Lalu memutuskan untuk tidak peduli.

“Sembahyang.” Katanya lembut, menatap adiknya dengan tatapan simpati kental yang membuat Taehyung tidak nyaman.

“Ya.” Dia mengangguk lalu memalingkan wajah, berharap kakaknya akan pergi dan mengabaikannya. Tetapi dia seharusnya tahu kakaknya tidak akan semudah itu menyerah.

Lakshmi mendesah, memasuki ruangan dan menutup pintu kamar Taehyung sebelum duduk di sisinya—membawa aroma pekat bunga dan dupa yang digunakannya berdoa tadi sebelum mengulurkan tangan lalu meraih tangan Taehyung, meremasnya. Tangan Lakshmi terasa dingin setelah berdoa dan kasar karena bekerja dengan pisau serta janur setiap hari.

“Tugung,” bisiknya, menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung lalu menggenggamnya sayang. “Mbok Gek senang sekali jika Tugung melakukan banyak hal untuk Mbok Gek. Sungguh. Senang sekali.” Dia menatap tangan mereka yang bertautan dan hati Taehyung terasa diremas-remas.

Dia tahu apa yang akan kakaknya bicarakan.

“Tapi,” dia menelan ludah, tercekat saat menatap adiknya—wajahnya sendu. Begitu cantik hingga Taehyung mengutuk kehidupan karena memilih Lakshmi sebagai korbannya dengan meletakkannya di kaum 'buangan'.

Tidak ada perempuan berkasta mana pun yang bisa secantik, selembut, dan setenang kakaknya. Tidak ada. Namun dia adalah seorang Astra, maka semua kualitas baiknya diabaikan semua orang.

“Jika itu berarti menyakiti Tugung,” dia menepuk tangan Taehyung dalam genggamannya—mengusapnya lembut. “Maka harganya terlalu mahal.” Dia menatap Taehyung. “Mahal sekali, Tugung. Tidak boleh ada yang menderita demi bahagia orang lain—apalagi Tugung. Kita harus bahagia bersama.”

Taehyung membuka mulut, hendak menjelaskan betapa mustahilnya itu karena jika dia bahagia maka kakaknya harus menerima cercaan semua orang, perilaku kasar orang Puri yang menganggapnya beban dan bayangan. Dia mengorbankan bahagianya demi Lakshmi dan ibu mereka—demi kebahagiaan mereka bersama.

Namun dia menutup mulutnya kembali karena yakin Lakshmi tidak akan memahaminya. Dia menghela napas, memejamkan matanya—dia lelah sekali. Dia ingin tidur panjang, merilekskan kepalanya yang berdenyut sepanjang waktu dan hatinya yang ngilu merindukan Jeongguk. Membayangkan dia yang tengah sakit dan diurus dengan baik oleh Mirah.

Hatinya berdenyut saat mengingat nama itu—koyak dengan cara yang sangat mengerikan karena menyadari dia tidak bisa melakukan banyak hal yang bisa dilakukan Mirah dan dia menghela napas dengan tajam. Lakshmi menyadari napas itu dan menoleh, mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya dan menyisir rambutnya hingga Taehyung mendesah dan memejamkan mata dalam sentuhannya.

“Kau sudah berjuang sangat hebat,” bisik kakaknya sayang saat Taehyung berbaring di pangkuannya—berharap rasa hampa dan sakit yang merobek dirinya bisa membaik dalam pelukan kakaknya. “Kau sudah membuat Mbok Gek dan Ibuk sangat bahagia.”

Taehyung memejamkan matanya, menarik tubuhnya menjadi bola—meringkuk demi melindungi luka di hatinya. Mencoba mengabaikan denyutannya saat jemari lentik Lakshmi menyisir rambutnya.

“Berbahagialah sesekali,” Lakshmi kembali berbisik. “Berhenti berusaha membahagiakan semua orang karena Tugung tidak akan bisa melakukannya.”

Bisa, pikirnya getir. Dia sedang melakukannya sekarang, membahagiakan semua orang kecuali dirinya sendiri. Tapi apalah bahagianya jika dibandingkan kepentingan semua orang, 'kan?

Taehyung diam, mendengarkan Lakshmi karena dia tidak akan berubah pikiran. Dia akan tetap melakukan ini hingga tubuhnya lebur berusaha menanggung sakit demi semua orang—dia melakukan hal yang benar. Dia sudah menjadi Taehyung yang diharapkan semua orang. Beberapa hari gilanya bersama Jeongguk akan menjadi kenangan paling berharga di sisa hidupnya.

Bahwa dia ternyata bisa jatuh cinta.

Bahwa dia ternyata bisa bahagia.

Bahwa Taehyung ternyata, di balik semua topengnya, tetap hanyalah manusia biasa.

Dan Jeongguk-lah satu-satunya manusia di dunia ini yang menyentuh hatinya dengan tepat hingga Taehyung merekah dalam sentuhannya—seperti sekuntum bunga untuk dicumbu dan direngkuh.

Tidak akan ada siapa pun lagi karena Taehyung tidak butuh siapa pun. Jika dia tidak bisa memiliki Jeongguk, maka dia tidak akan memiliki siapa pun.

*

tw // toxic masculinity , gender stereotype , insecurity , anxiety , power dominance , suicidal thoughts .

cw // throwing up scenes .

ps. STREAM 'FILM OUT'!


Jeongguk menghembuskan napas lega saat menghampiri mobilnya yang menanjak naik dari bawah ke gerbang utama Amankila. Security yang sudah mengenal plat nomor mobil Jeongguk melambai ramah pada Yugyeom yang mengklaksonnya sebelum meluncur ke arahnya.

Amankila sangat ketat pada orang-orang yang datang ke wilayah hotel. Semua akan ditanyai kepentingannya karena mereka sangat menjaga privasi tamu-tamu mereka dengan mensterilisasi lingkungan hotel dari tamu luar tanpa kepentingan. Karyawan yang membawa kendaraan dibatasi hanya dari level Department Head dan diwajibkan mendata kendaraan mereka untuk diawasi dan diberikan lahan parkir sendiri. Maka itulah Jeongguk lebih suka memilih Alila untuk bertemu dengan Taehyung, mereka lebih longgar tentang tamu luar hotel.

Jeongguk mengerjap, menggeleng kuat hingga kepalanya pening karena Taehyung terbit di kepalanya tanpa izin. “Sialan,” geramnya di bawah napasnya.

Mengingat Taehyung membuat suasana hatinya kembali buruk. Sudah beberapa hari, namun Jeongguk belum juga terbiasa pada sengatan rasa nyeri yang selalu dirasakannya tiap kali tidak sengaja mengingat Taehyung. Terkadang rasanya begitu mengerikan hingga dia harus menghela napas, menekan dadanya dan terengah—mencoba menenangkan sakit yang merobek dan mencabiknya menjadi serpihan. Di waktu lain, sakit itu membuatnya terserang serangkaian batuk mengerikan yang menggaruk tenggorokkannya.

Dia sering terbangun tengah malam, menangis tanpa sebab dan tersentak oleh sakit yang menusuk jantungnya begitu tiba-tiba. Merindukan Taehyung, merindukan waktu mereka bersama. Kenangan kali pertama mereka bercinta menghantui Jeongguk seperti mimpi buruk sekarang—membuatnya terjaga bermalam-malam dan mengerang frustrasi karena tidak bisa mengenyahkannya dari kepalanya.

Mimpi itu terkadang terasa begitu nyata, hangat tubuh Taehyung di bawah telapak tangannya sungguh terasa. Dia tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan mana mimpi karena saat dia tersentak terbangun dan tidak menemukan Taehyung di sisinya, dia kembali hancur lebur. Digerus kenangan yang tak kunjung bersikap baik hati padanya.

Tubuh Jeongguk kebingungan, menginginkan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi digenggamnya. Sesuatu yang sudah dilepaskan untuk terbang menjauh dan menemukan bahagianya sendiri. Bahkan hingga di detik terakhir, Taehyung sama sekali tidak berani untuk memilih bahagia.

Jeongguk menghela napas tajam, berusaha mengenyahkan Taehyung dari kepalanya saat menghampiri mobil yang berhenti di dekat pintu masuk karyawan. Dia meraih gagang pintu, membukanya dan disambut aroma bawang putih dan ayam yang bergulung-gulung serta membuatnya mual.

“Oh.” Katanya dengan wajah mengerut—sejak adiknya yang mengurus mobilnya, benda itu nampak jadi lebih rapi. Pakaian Jeongguk dikeluarkan, dirapikan Yugyeom dan ibunya saat Jeongguk terserang demam tinggi sehari setelah kepulangannya dari Puri Taehyung.

Sekarang mobilnya sangat rapi, pakaiannya yang digantung dibelakang dikaitkan ke jendela dengan kain, agar tidak bergoyang. Kotaknya yang terisi pakaian adat diletakkan di bawah kursi, memberi cukup ruang untuk orang lain berada di kursi penumpang belakang. Aromanya juga lembut pengharum, Yugyeom benar-benar apik merawat barang-barang. Jeongguk berpikir menghadiahinya mobil setelah dia lulus besok.

“Kau membeli...,” dia mengerutkan wajahnya, tidak suka aroma makanan sama sekali.

Dia belum makan sejak pagi, melewatkan sarapan dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sehingga harus berangkat lebih awal. Yugyeom bersikeras tetap mengantarnya maka Jeongguk mengemudi sementara Yugyeom makan di kursi penumpang sebelum mereka bertukar kursi di perbatasan Amlapura.

Jeongguk juga tidak makan siang karena terlalu mual, dia mengecek makanan di EDR lalu keluar sebelum asam lambungnya mendidih mendengar suara orang mengunyah makanan, mencium aroma makanan—dapur terasa seperti neraka belakangan ini apalagi jika dia harus mengecek protein mentah dan sekarang dia harus mencium aroma ayam dan bawang putih pekat di dalam mobil.

“Oh? Wiktu tidak suka?” Yugyeom bergegas melepaskan sabuk pengamannya dan menjulurkan tubuhnya ke belakang—meraih kantung belanjaan yang beraroma pekat ayam bersalut bumbu. “Aku letakkan di bagasi belakang.” Katanya bergegas turun.

Jeongguk memejamkan mata. “Maaf,” gumamnya parau saat membuka pintu penumpang dan menyelipkan dirinya masuk. Dia menurunkan jendela dan mematikan penyejuk kabin, membiarkan angin laut yang lembab dan berat memasuki mobil.

“Tidak masalah!” Yugyeom berseru dari belakang, membanting bagasi menutup sebelum bergegas kembali ke kursi pengemudi dan memasang sabuk pengamannya. “Ayo, pulang.” Dia tersenyum lebar pada kakaknya yang mendesah berat.

Jeongguk menurunkan kursinya, berbaring di sana sementara angin petang berhembus ke dalam mobil menampar wajahnya. Dia memejamkan mata, menikmati lagu Bali yang diputar di radio dan gumaman rendah Yugyeom mengikuti lagunya. Dia menjulurkan kakinya, sejauh apa yang ruang di bawah mobilnya izinkan dan menghela napas.

“Wiktu mau cerita?” Tanya Yugyeom kemudian, mengecilkan volume radio agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman.

Jeongguk menggeleng, dia lelah. Terlalu lelah bahkan untuk berbicara. “Tidak, aku baik-baik saja.” Katanya, merasakan pahit di lidahnya saat mengatakan itu karena seluruh tubuhnya menjerit kesakitan sekarang—tidak ada yang baik-baik saja.

Bagaimana Taehyung selalu berhasil melakukannya? Seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka berkali-kali selama ini? Bagaimana caranya dia bersikap seolah semuanya biasa saja? Bagaimana bisa dia memasang wajah setenang itu sementara di sini Jeongguk porak-poranda? Bagaimana bisa dia melakukannya....?

Jeongguk butuh diajari karena dia sama sekali tidak bisa melakukannya.

Tiap dia memejamkan mata, wajah Taehyung berada di balik kelopak matanya. Aroma tubuhnya menempel di cuping hidung Jeongguk, menolak lenyap bahkan setelah Jeongguk dengan putus asa mencuci hidungnya seperti orang gila di tengah malam karena dia terbangun merindukan Taehyung.

“Mari kita akhiri ini.”

Suara Taehyung selalu menghantuinya, terulang-ulang di setiap mimpi buruknya yang mencekam. Pada setiap saat dia menutup matanya, pada setiap kali dia membuka matanya. Taehyung ada di mana-mana di seluruh tubuhnya, di kepalanya, di hatinya; mengisi semua ceruk, semua celah yang bisa diisinya. Menekannya, meremukkannya seperti sehelai daun kering hingga menjadi remah-remah kecil tidak penting. Seperti gelas yang pecah berantakan, menyisakan bubuk kemilau di udara.

Jeongguk tidak bisa melewati ini. Hatinya koyak, tercabut paksa dari tempatnya saat Taehyung mengakhiri hubungan mereka. Memintanya pergi, mempersilakannya keluar dari satu-satunya rumah yang dibutuhkan Jeongguk. Taehyung membawa hatinya pergi, meremukkannya sebelum melemparnya. Meninggalkan Jeongguk dengan lubang menganga di dadanya, berdarah dan busuk oleh luka setelah hatinya dicabut.

Tangan Yugyeom mengusap bahunya dan Jeongguk terkesiap, dia membuka matanya—menyadari air mata meleleh di sudut matanya dengan erangan kecil. Yugyeom di sisinya tersenyum sendu, menatap jalanan dengan sesekali melempar lirikan untuk memastikan kakaknya baik-baik saja.

“Tidak apa-apa.” Bisik Yugyeom, menenangkan dan hangat. “Menangis saja. Tidak ada yang melarang Wiktu.”

Hari Jeongguk kembali dari Puri Taehyung, dia praktis seorang zombi. Keajaibanlah yang membuat Jeongguk berhasil berkendara hingga Puri lalu melemah di atas kursi mobilnya sendiri dan menelepon Yugyeom, meminta adiknya memapahnya ke kamar karena sakit di hatinya sungguh tidak bisa ditahankan.

Yugyeom nyaris menyeretnya ke kamar, membantunya berganti baju sementara Jeongguk menatap kosong ke langit-langit kamarnya dengan mata dan wajah pucat pasi, bibirnya kering dan putih. Keesokan harinya dia terbangun dengan wajah bengkak dan demam tinggi karena dehidrasi. Ayahnya mendatangi kamarnya, mengecek tubuhnya sebelum menelepon temannya—direktur operasional rumah sakit umum daerah Karangasem dan memintanya datang ke Puri.

Jeongguk diberi obat, dipaksa minum air lebih banyak dan makan.

“Kelelahan.” Kata dokter setelah mengeceknya, tersenyum pada Jeongguk seolah itu hal yang biasa. “Kegiatannya dikurangi dulu, ya, Gung Wah.” Dia menepuk kepala Jeongguk sayang—dokter itu sudah jadi dokter keluarga mereka sejak Jeongguk kecil, selalu tahu obat apa yang tepat untuk Jeongguk. “Makan dan minumnya diperbanyak.”

Yugyeom di sudut kamarnya saat dokter datang, menatap kakaknya dengan wajah prihatin karena dia tahu. Jeongguk bukan kelelahan. Dia patah hati, remuk redam oleh cinta yang koyak. Baru saja diusir dari satu-satunya rumah yang diinginkannya, merangkak berusaha tetap berdiri dan bertahan. Yugyeom tidur bersama kakaknya malam itu, memeluknya saat Jeongguk menangis terbangun malam-malam.

Berbagi sakit dan air mata, selalu sejak mereka berdua kecil.

Jeongguk akan selalu memeluknya kapan pun Yugyeom terbangun oleh rasa sakit. Memanjat ke ranjang rumah sakitnya yang bergoyang menerima beban tubuh mereka berdua saat Yugyeom operasi usus buntu dan terbangun karena kesakitan untuk memeluknya, meninabobokannya hingga lelap kembali. Maka Yugyeom melakukan hal yang sama walaupun dia tidak bisa mengusap luka Jeongguk untuk meringankan sakitnya.

“Hari ini makan, ya?” Bujuk Yugyeom saat mereka membelok memasuki Sang Hyang Ambu yang berkelok—Yugyeom mengemudi dengan perlahan, menghindari jalanan yang rusak.

Jeongguk menggumam tidak jelas, mengabaikan adiknya karena dia sungguh tidak ingin memasukkan apa pun ke mulutnya. Dia bersidekap, memejamkan matanya kuat-kuat berharap dia tertidur sehingga dia tidak harus mengingat Taehyung sama sekali. Dia ingin menyentop otaknya, membuatnya berhenti mengingat dan berpikir karena Jeongguk sangat butuh istirahat.

Mereka tiba di Puri, Yugyeom turun dari mobil untuk membuka garasi dan melihat ayah mereka sedang membersihkan mobilnya sendiri. Jeongguk mendesah, dia sungguh lelah dan tidak punya tenaga untuk meladeni ayahnya sekarang. Yugyeom berbalik, memandang Jeongguk dari balik kaca depan mobil dengan wajah simpati. Ayah mereka tidak pernah suka pertunjukan emosi negatif apa pun termasuk kesedihan. Menjunjung tinggi toxic masculinity tentang bagaimana lelaki harus tegar dan tidak boleh bersikap lemah.

Itulah yang membentuk ikatan emosi lebih kuat antara Jeongguk dan Yugyeom karena mereka bekerja sama menyembunyikan emosi mereka dari ayah mereka, selihai mereka menyembunyikan mie instan cup yang dibenci ibu mereka. Seperti dua pencuri cilik.

“Ogik yang mengemudi?” Tanya ayahnya, berdiri di sisi Land Cruiser-nya dengan lap di tangannya.

Yugyeom mengangguk, menyandarkan tangannya di pintu mobil. “Tidak apa-apa, kok, Ajung.” Katanya melirik kakaknya yang menghela napas di dalam mobil. “Ogik sedang ingin mengemudi.”

“Kakakmu?” Tanya ayahnya, mengerutkan alis tidak suka. “Kenapa lagi dia tidak bisa mengemudi?”

Jeongguk menggertakkan giginya. Dia memang harus menghadapi ini. Dia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Memasang wajah normal terbaiknya saat menghadapi ayahnya yang memicingkan mata, menilai.

“Sudah enakan?” Tanya ayahnya, menghampirinya dan menyentuh kening Jeongguk yang beberapa senti lebih tinggi darinya. “Panasnya sudah turun.”

Jeongguk mengangguk, berusaha keras mempertahankan wajah tenangnya. “Sudah, Ajung.” Katanya tenang.

“Hari ini makan.” Tukas ayahnya kemudian, berbalik kembali mengerjakan mobilnya. “Kemarin kau sudah tidak makan.” Dia meraih kemoceng dan mulai membersihkan mobilnya. “Apa, sih, yang membuatmu sedih begitu? Tidak berguna menangisi hal semacam itu. Lelaki seharusnya kuat dan tidak lemah begitu. Memangnya kau ini perempuan?”

Yugyeom memasukan mobil Jeongguk ke garasi, membiarkan mesinnya menyala sejenak sebelum mematikannya. Dia keluar, Jeongguk berdiri di sana—memejamkan mata dan menghela napas perlahan, berusaha untuk tidak menjawab dengan cara yang akan membuatnya mendapat masalah.

Nggih, Ajung.” Katanya parau, sesuatu menyumbat tenggorokannya. Kental dan bergerigi, membuatnya terasa nyeri.

“Bagaimana dengan Mirah?” Tanya ayahnya kemudian, membereskan benda yang digunakannya untuk membersihkan mobil. “Kemarin ayahnya menelepon Ajung.”

Perasaan Jeongguk tidak enak. Sesuatu merayap di punggungnya, membuatnya merasa geli. Seperti seember air dingin disiramkan ke punggungnya dan jantungnya mencelos. Yugyeom bergegas menghampirinya, menyentuh bahunya—menjaga Jeongguk jika sewaktu-waktu terhuyung membawa aroma pekat ayam dan bawang putih sialannya.

“Ada dewasa ayu bulan depan,” ayahnya menoleh dan menatap Jeongguk langsung ke matanya—hal yang hanya dilakukannya jika dia ingin memanipulasi emosi Jeongguk. “Bagaimana menurutmu jika kalian menikah saja?”

Yugyeom menghela napas tajam, kaget di sisi Jeongguk yang merasa jantungnya mencelos terjun bebas ke dasar perutnya. Seluruh tubuhnya lemah seperti sesuatu baru saja dicabut dari sana, suhu tubuhnya turun drastis mendengar kata pernikahan sementara dia baru saja bersikap kasar pada Mirah. Dia mungkin harus menelepon gadis itu nanti, meminta maaf dengan benar karena melampiaskan amarahnya pada seseorang yang sama sekali tidak tahu apa pun.

Tidak ada yang bisa disalahkan di sini, Jeongguk paham. Mirah mungkin juga terjebak dalam perjodohan ini, mungkin mendapati jodohnya sesuai dengan apa yang diinginkannya dan tidak tahu bahwa Jeongguk tidak bisa memberikan apa pun yang dibutuhkan Mirah. Dia ingin mengusir gadis itu, memintanya mencari lelaki lain yang akan mencintai dan mengapresiasi kehadirannya secara layak.

Dan lelaki itu bukan Jeongguk.

Namun menatap ayahnya yang berdiri di depannya dengan wajah keras, Jeongguk tahu dia harus menerima ini. Dia harus melakukannya—setidaknya hingga dia menemukan cara untuk melepaskan diri. Atau bekerja sama dengan Mirah. Jika gadis itu tidak jatuh cinta padanya, Jeongguk mungkin bisa mengajaknya bekerja sama.

“Kau sudah mapan. Sudah bekerja. Mirah juga sudah bekerja. Tidak ada gunanya menunda-nunda lagi.” Ayahnya menutup kabinet tempat mereka menyimpan alat cuci mobil sebelum berbalik menatap anak sulungnya sambil mengelap tangannya dengan lap. “Bagaimana?”

Jeongguk menelan ludah, tidak yakin harus menjawab apa. Otaknya berputar dengan cara tidak sehat, menyakiti dirinya sendiri dengan pikiran tajam yang bergerak cepat—menyengatnya seperti kawanan lebah dan membuatnya sejenak lumpuh.

“Bagaimana....,” dia berhasil berkata, berdeham berat. Merasakan laba-laba raksasa bergerak di tubuhnya, menginjak bahunya dan membebaninya hingga tengkuknya nyeri—titik persis di garis rambut di tengkuknya, berdenyut. “Bagaimana jika pertunangan dulu saja, Ajung?”

Ayahnya berdecak semakin jengkel. “Memangnya kau menunggu apa lagi?” Tanyanya tidak puas dan Jeongguk menggertakkan giginya. “Kau memang tidak pernah bisa jadi seperti adikmu. Selalu saja membantah, selalu punya jawaban.”

Seperti adikmu. Jeongguk menghela napas dari mulutnya, berusaha menenangkan diri agar tidak meledak. “Gung dan Mirah baru berkenalan sebentar, mungkin berikan sedikit waktu bagi kami untuk saling berkenalan lebih dalam?”

Ayahnya diam sejenak, memikirkannya lalu mengerutkan kening. “Berkenalan setelah menikah saja. Ajung dan Biang begitu dan kami baik-baik saja.” Katanya dan Jeongguk nyaris berteriak—amarah menggelegak di perutnya yang kosong dan membuatnya tidak nyaman.

Dia membuka mulut hendak memberikan argumentasi baru saat adiknya menjawab dari sisinya, “Mungkin betul, Ajung. Biarkan Wiktu dan Migek berkenalan lebih lama dulu sebelum menikah?”

Jeongguk nyaris mencium adiknya karena ayahnya akan mendengarkan apa saja—apa saja yang dikatakannya. Dan dia menatap ekspresi ayahnya yang berubah menjadi lunak saat Yugyeom bicara sebelum mendesah keras lalu menatap Jeongguk dengan sorot kecewa yang sudah akrab dengan diri Jeongguk.

Dia selalu memberikan Jeongguk tatapan itu, membuat perut Jeongguk terasa dipelintir. Semakin dia dewasa, semakin Jeongguk terbiasa dengan tatapan itu. Ayahnya boleh membencinya sesuka hati, Jeongguk tidak peduli lagi.

“Ya sudah.” Katanya kemudian, “Mandi dan makan.” Tambahnya, menekankan nadanya di kata 'makan' sebelum beranjak ke dalam rumah, meninggalkan Jeongguk dan Yugyeom yang menghembuskan napas lega berbarengan.

“Trims.” Kata Jeongguk kering pada adiknya.

Yugyeom menatapnya, nampak penuh simpati hingga Jeongguk tidak sanggup membalas tatapannya. “Apakah...,” dia menghela napas. “Apakah memang tidak ada yang bisa dilakukan dengan,” dia diam, sejenak ragu sebelum menambahkan. “Dia?”

Jeongguk tahu persis siapa dia yang dimaksud Yugyeom dan sudah meminta adiknya agar tidak menyebut nama Taehyung sama sekali karena dia tidak akan sanggup menangguhkannya. Jeongguk menggeleng, nafsu makannya lenyap sama sekali dia hanya ingin berbaring dan mengasihani dirinya sendiri sekarang. Namun teringat orang tuanya menunggu di meja makan dengan keras kepala, nampaknya Jeongguk harus memaksa makanan masuk ke tubuhnya.

Yugyeom menatap punggungnya saat mereka beranjak ke halaman Puri mereka. Kamar Jeongguk berada paling dekat dengan pintu samping dan garasi maka dia yang pertama berhenti, mengambil kunci kamar dari bawah salah satu pot bunga dan membuka pintunya sementara Yugyeom berdiri di sana, di teras kamarnya menunggu.

Jeongguk menyentakkan pintu terbuka lalu menoleh pada Yugyeom. “Mandilah.” Katanya parau. “Ajung dan Biang menunggu untuk makan.” Tambahnya sebelum memasuki kamarnya, menutup pintu di belakangnya sebelum Yugyeom sempat mengatakan apa pun karena Jeongguk tidak mau mendengarkan simpati apa pun lagi.

Dia berdiri di kamarnya yang temaram, cahaya yang masuk hanya melalui celah tirai jendelanya dari lampu teras kamarnya. Dia menatap keremangan, merasakan dingin memeluknya perlahan—merayap dari ujung kaki dan tangannya, terus ke arah hatinya. Mencengkeramnya dengan suhu dingin menggigit yang membuatnya mengerang dan bersandar di pintunya.

Sudah berhari-hari, Jeongguk tidak juga sanggup membuat dirinya tegar berdiri. Padahal ini bukan kali pertama Taehyung mempermainkan hatinya seperti seekor anjing penurut yang duduk saat diperintahkan. Jeongguk menyentuh jantungnya yang berdebar lebih lambat, menyiksa karena terkunci oleh rasa dingin yang menjalar di atas permukaannya—nyeri sekali.

Bagaimana cara Taehyung melakukannya?

Jeongguk menunduk, membuka mulutnya dan bernapas dari sana—merasakan napas menderu masuk ke tubuhnya. Ujung hidungnya terasa dingin seperti saat dia berenang dan air masuk melalui hidungnya—perih dan pedih. Jeongguk merasa berkunang-kunang, sakit di hatinya tidak lagi terasa normal.

Lelah yang dirasakannya setiap hari karena kesulitan tidur akibat memimpikan Taehyung tiap kali menutup matanya. Terbangun dari mimpi yang sangat nyata—dia bisa merasakan hangat Taehyung, aroma tubuhnya. Namun dia sendirian.

Hidupnya kosong, Jeongguk merasa hampa di dalam hatinya. Tidak lagi memiliki energi untuk bersikap sabar dan toleran pada semua orang. Dia menjadi reaktif, menjengkelkan dan melelahkan. Dia mudah sekali marah hanya karena hal-hal kecil—semua disebabkan jam tidurnya yang tidak sehat sama sekali. Punggungnya nyeri, tengkuknya nyeri, seluruh tubuhnya nyeri.

Dia sudah tidak bisa lagi membedakan sakit fisik dan emosional sekarang.

Jeongguk menyeret dirinya sendiri ke kamar mandi, membasuh tubuhnya tanpa benar-benar memerhatikan apa yang dilakukannya sebelum dengan kepala kosong mengeringkan tubuhnya. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin lemarinya, menyisir rambutnya dan mengikatnya longgar di atas kepalanya karena kulit kepalanya nyeri setelah seharian mengikatnya kencang agar tidak meloloskan diri dari harnet. Lalu dia mengenakan kaus dan celana pendek.

Dia berdiri di sana, menatap tubuhnya yang kisut dan semakin kurus setelah beberapa hari tidak makan dan tidak istirahat. Mungkin inilah yang dirasakan Taehyung setiap hari sehingga suasana hatinya buruk selalu? Kelelahan, kepala yang berasap oleh pemikiran-pemikiran abstrak yang menggangguk, anxiety yang berlarian; Jeongguk bisa meledak kapan saja.

Jeongguk menyeret dirinya ke rumah utama, bergabung dengan keluarganya untuk makan malam. Dia menelan ludahnya, menahan asam lambungnya agar tidak melompat keluar saat melihat makanan masakan ibunya tersaji di meja. Menu kesukaan Jeongguk, ibunya sengaja bertanya apakah Jeongguk mengingikan sesuatu untuk makan malam tadi.

Namun dia tidak bisa menemukan nafsu makan. Dia menahan napasnya saat memasuki ruang makan yang beraroma pekat makanan, bernapas dari mulutnya—terengah seperti seekor anjing agar aroma makanan tidak menodai kepalanya. Pelipisnya berdenyut dan dia ingin sekali berbaring.

Ayam bersalut bumbu Korea yang dibawa Yugyeom tadi dihangatkan, tersaji di sisi gurame asam manis kesukaan Jeongguk dan plecing kangkung. Jeongguk mengencangkan otot perutnya saat ibunya membantunya mengambil makanan.

“Gung Wah tidak apa-apa?” Tanya ibunya, menyentuh bahunya lembut dan Jeongguk menggeleng—merasa semakin mual. “Tidak mau makan lagi? Tidak apa-apa. Mau berbaring saja? Biang buatkan teh?” Tanyanya lembut.

“Ck.” Ayah mereka di kepala meja menyela dengan tajam, mulai makan dengan tenang. “Jangan dimanjakan lagi.” Dia meraih lauk dan mulai makan dengan Yugyeom yang cemas di sisinya, berseberangan dengan Jeongguk. “Dia harus makan. Dipaksa, jangan dimanjakan terus.”

Jeongguk menggertakkan gigi. Dia sudah tiga puluh dua tahun dan ayahnya tetap memperlakukannya seperti seorang anak kecil nakal yang harus selalu dihukum. Dia meraih sendoknya, dia harus melakukan ini agar ayahnya diam karena sungguh dia bisa saja meledak karena mendengarkannya.

“Jangan dipaksa,” bisik ibunya lagi, lebih lirih agar ayah mereka tidak mendengarnya. “Nanti Gung Wah muntah.” Dia meletakkan tangannya di paha Jeongguk, menepuknya sayang dan menatapnya cemas.

“Jangan dimanjakan.” Tegur ayah mereka sekali lagi, lebih keras hingga ibu mereka berjengit kaget—tidak menyangka dia akan mendengar bisikannya. “Biar dia makan. Dia sudah besar, tidak harus dibegitukan terus.”

Jeongguk menghela napas dan menyendok makanannya. “Nggih, Ajung.” Gumamnya.

“Makan.” Kata ayahnya lagi, diam dan menatapnya—menunggu hingga Jeongguk menyuap makanannya dengan alis berkerut penuh amarah.

Kenapa ayahnya tidak bisa memberikan Jeongguk sedikit ruang dan waktu untuk sendiri sebentar? Menata emosi, harga diri, dan hatinya yang porak poranda sebentar? Mengapa dia harus selalu memaksakan kehendaknya? Memaksa Jeongguk jadi apa yang diinginkannya tanpa menanyakan apa yang Jeongguk inginkan seperti apa yang dilakukannya ke Yugyeom?

Tidak bisakah Jeongguk... merasakan sesuatu?

“Karena Gung Wah anak sulung Biang,” begitu biasanya ibunya menjawab saat Jeongguk bertanya. “Anak sulung harus kuat. Harus lebih tenang dan paham prioritas mana yang harus didahulukan. Ogik, 'kan, nanti akan mengikuti Gung Wah. Jadi, Gung Wah-lah nahkoda kapalnya. Nahkoda harus kuat.”

Dan Jeongguk muak—sungguh muak pada toxic masculinity yang dijejalkan ke mulutnya oleh keluarga besar mereka termasuk penghuni Puri Kanginan yang gemar sekalin menyindir usia Jeongguk. Karena semua saudara sepupunya sudah menikah dan bahagia, hanya dia yang tersisa.

Jeongguk juga kebetulan pewaris utama Puri.

Jeongguk membawa makanan itu ke mulutnya, menahan napasnya agar tidak mencium aroma makanannya. Dari sudut matanya, dia menyari tatapan cemas ibu dan Yugyeom. Namun ayahnya memandanginya, jengkel sekarang maka Jeongguk melakukan apa yang dimintanya.

Apa saja agar dia cepat meninggalkan Jeongguk sendirian.

Dia menyuap makannya dan perutnya seketika mengejang. Menolak mentah-mentah makanan itu namun Jeongguk balas menyerangnya—memaksa mereka menelan makanan itu, mengunyahnya terburu-buru sementara mual bergulung-gulung naik, menyiksa perutnya. Jeongguk berdeguk, nyaris memuntahkan makanannya.

“Gung!” Ibunya berbisik, menyentuhnya dan bersiap menahannya jika dia muntah.

Namun ayahnya tidak peduli. “Telan.” Katanya dingin. “Jangan dimanjakan badanmu, dilawan. Kau harus makan. Telan makannya, paksa tubuhmu menelannya. Dituruti terus kemauannya, begitulah kenapa kau terus sakit.”

Jeongguk ingin memukul sesuatu, seseorang atau apa saja. Ingin melampiaskan amarah yang bercokol di belakang kepalanya, membuatnya kesemutan. Dia marah, pada semua orang—pada ayahnya, pada Taehyung. Marah pada kehidupan ini, marah pada identitasnya sebagai Anak Agung.

Dia marah.

Dia menelan makanannya, memaksa benda itu turun ke perutnya namun tidak semudah itu. Asam lambungnya bergolak saat itu juga dan Jeongguk terlambat menahannya.. Dia tersedak, berdeguk keras seperti seekor anjing yang tersedak.

“Gung!” Seru ibunya dan Yugyeom bergegas berdiri, hendak meraih kakaknya jika dia oleng karena ibunya yang mungil tidak akan sanggup menahan tubuh Jeongguk yang dua kali lebih tinggi darinya.

“Dilawan coba.” Gerutu ayahnya, menatap jengkel dari kepala meja. Tidak puas pada cara anak sulungnya menanggulangi dirinya sendiri.

Jeongguk mengabaikannya, dia bergegas menumpukan tangannya di pinggir meja saat makanan didorong naik. Kursinya berderit saat dia dengan panik mendorongnya dengan kaki, terburu-buru hendak pergi ke tempat cuci piring untuk memuntahkan makanannya dengan tangan menutupi mulutnya.

Makanan sudah berada di pangkal tenggorokannya, asam lambung merebak di lidahnya. Dia terlambat menelannya. Jeongguk berdeguk sekali lagi, keras dan nyaring. Ibunya terkesiap keras saat Jeongguk memuntahkan makanannya di sana, di atas lantai. Asam lambung kental berwarna pekat yang beraroma tengik dengan makanan setengah terkunyah yang membuatnya berkunang-kunang.

Taehyung, pikirnya mabuk persis sebelum dia berdeguk keras sekali lagi dan jatuh berlutut di lantai, menyenggol kursinya sendiri hingga jatuh menghantam lantai dengan suara keras.

Dia muntah sekali lagi dengan suara air berderai keras di telinganya, asam lambung menyelip dari hidungnya—menetes dan meninggalkan rasa perih luar biasa di pangkal hidungnya. Jeongguk menunduk, ibunya berlutut di sisinya—menyeka anak rambutnya agar tidak terkena muntah dan memijat tengkuknya.

Jeongguk berdeguk, muntah lagi walaupun perutnya sama sekali tidak terisi apa pun sebelum mengerang keras—kepalanya berdenyut, hatinya berdenyut, seluruh tubuhnya diremas rasa sakit luar biasa yang membingungkan.

Dia begitu kacau balau hingga berpikir kematian akan terasa jauh lebih menyenangkan dari kesakitan ini.

*

tw // implied and internalized homophobia

ps. please listen to Duncan Laurence – Arcade <3 pss. this one gonna break your heart.


“Aku sungguh minta maaf karena aku harus berangkat lebih awal.”

Taehyung mengangguk, menatap Jimin yang sekarang membereskan barang-barangnya setelah dua hari menginap di kamarnya. Dia bisa memilih hotel mana pun yang dia inginkan namun dia memutuskan untuk menoleransi ayah Taehyung dan menemaninya selama sakit. Dia bersikeras menemani Taehyung selama sakit; mengambil peran sebagai perawat super yang selalu siaga tiap Taehyung mengerang.

Mereka sudah pergi ke dokter, namun dokter menyatakan seluruh organ Taehyung dalam keadaan sehat dan memberikan obat demam serta pengurang rasa sakit. Taehyung meminum obatnya dengan tekun, makan dengan baik—setidaknya dia berusaha, namun sakit tidak juga meninggalkan dirinya. Dia sering terserang rasa pusing menyengat di tengkoraknya, terkadang mustahil diabaikan padahal dia tidak memiliki riwayat vertigo sama sekali.

Dia cepat lelah padahal tidak melakukan apa pun. Tengkuknya nyeri dan dia sulit bernapas. Seperti ada sesuatu yang mencekiknya, seolah dia sedang ditenggelamkan ke air dan paru-parunya penuh oleh air.

“Kau stres,” kata Jimin saat berbaring di sisinya malam itu, mengusapnya sayang. Kasur Taehyung cukup luas untuk ditiduri dua orang dengan ruang kosong yang nyaman di antaranya. “Ayo, cobalah merilekskan isi kepalamu sedikit.” Dia menepuk kening Taehyung lembut, bergurau.

Taehyung suka saat Jimin memijat keningnya, membuat sakitnya berkurang sebelum kembali lagi. Dia juga terserang insomnia parah, hanya tidur 3 jam sehari atau bahkan 3 jam dalam dua hari. Taehyung merasa begitu kacau dan kelelahan sehingga sakitnya sulit sembuh. Dia berpikir Jimin benar, mungkin kepalanyalah yang membuatnya sakit.

Keberadaan Jeongguk biasanya mengurangi sakit kepalanya, aroma parfumnya pun cukup untuk membuat Taehyung nyaman dengan dirinya sendiri. Namun kemewahan dengan mengundang Jeongguk ke kamarnya membuatnya takut; dia tidak bisa terus-terusan menerima saat dia tahu dia tidak bisa membalas Jeongguk dengan hal yang pemuda itu paling inginkan. Dia mendesah saat Jimin mengenakan jaketnya, teringat pesan terakhir yang dikirimkan Jeongguk.

“Hei,” katanya parau pada Jimin yang bertarung dengan ritsleting tasnya.

“Apa?” Tanya pemuda itu, menyeka anak rambutnya yang meluruh ke keningnya saat dia membungkuk.

Taehyung menatap tangannya sendiri, mencari hati yang dititipkan Jeongguk ke genggamannya. Berusaha merasakan denyutannya, meyakinkan dirinya sendiri. Sebelum teringat semua beban yang harus ditangguhkannya dan suara bangga ayahnya saat dia mengajak Devy makan malam. Teringat secercah aroma parfum feminim di pakaian Jeongguk hari dia datang setelah mengantar Mirah. Dia juga beraroma keringat serta sinar matahari; menghabiskan seharian menemani Mirah.

Mereka seharusnya melakukan hal yang diinginkan Puri mereka masing-masing.

Kenyataan itu menghantam Taehyung begitu kuatnya hingga dia menghela napas tajam. Sudah lama dia memikirkan ini, tentang dirinya dan Jeongguk, tentang lingkungan yang tidak mendukung mereka. Tentang para jodoh mereka yang berada di sekitar mereka setiap hari, harus diprioritaskan karena mereka membawa nama keluarga di dalamnya. Semakin hari, dia semakin ragu—bukan karena sikap Jeongguk, namun karena semakin banyak hal-hal yang terjadi di sekitar mereka yang seolah menihilkan usaha mereka.

Taehyung mulai lelah, mulai takut. Instingnya memintanya mundur, beralih ke kenyamanan dengan melakukan apa yang ayahnya inginkan. Tidak ada ruang untuk egoisme di hidup Taehyung, tidak ada ruang untuk pilihannya sendiri.

“Kau tidak apa-apa?” Jimin bergegas kembali ke sisinya, duduk di tepi ranjang.

Taehyung mendongak, menatapnya dengan wajah merah dan mata yang tersengat air mata. Hatinya nyeri membayangkan jika dia memang harus menyerah pada hubungannya dengan Jeongguk, menyerah pada cinta pertama yang pernah mekar di hatinya—menyerah karena memang tidak ada tempat untuk cinta itu di sini.

Menyerah....

“Hei, hei!” Jimin menyadari air mata yang terbit di sudut mata Taehyung dan langsung merengkuhnya, memeluknya hangat—pelukan Jimin terasa nyaman, hangat, namun tidak terasa 'benar' seperti pelukan Jeongguk.

“Ada apa? Kenapa?” Bisiknya lembut. “Apa yang kaupikirkan?” Dia membelai punggung Taehyung yang hangat dengan telapak tangannya, mengusapnya dengan lembut—berusaha menenangkan Taehyung.

“Jiji,” bisiknya parau, kaku dalam pelukan Jimin. “Aku menginginkan sesuatu yang tidak bisa kumiliki. Tidak di kehidupan ini.”

Jimin menegang lalu mengurai pelukan mereka hanya untuk menggenggam kedua bahu Taehyung dan menatapnya. “Kau bisa memilikinya.” Katanya berbisik, perih karena menyadari apa yang dibicarakan Taehyung. “Tentu saja bisa. Semua tergantung seberapa besar kau menginginkannya dan mau memperjuangkannya.”

“Haruskah aku memperjuangkan sesuatu yang kutahu tidak akan berhasil sama sekali?” Balas Taehyung menatapnya, rambutnya terasa lengket sekarang. Sudah beberapa hari dia tidak mencucinya, mereka membentuk rambutnya menjadi cepol lepek yang berat dan gatal di kepalanya.

Jimin mengusap rambut di wajahnya, mengaitkan anak rambut di balik telinganya. “Mungkin sekarang belum ada jalan keluarnya, semua terasa membingungkan. Siapa tahu jika kau cukup kuat dan teguh memperjuangkannya, dia bisa jadi kenyataan? Bisa jadi milikmu selamanya?” Sahut Jimin, menatapnya sayang. “Jangan menyerah sebelum mencoba, oke?”

“Sayang,” kata Jimin sekali lagi sebelum dia pergi berangkat ke bandara dengan kopernya, menatap Taehyung dari kacamata hitamnya yang nampak luar biasa di tulang hidungnya. Namun pedih di matanya, menembus kaca itu dan hinggap di mata Taehyung.

“Buatku, homoseksualitas bukan dosa. Itu pilihan personal, masalah selera. Dan tidak ada yang boleh menyalahkanmu atas seleramu.” Dia menghela napas dan mengerutkan keningnya. “Bahkan tidak orang tuamu.”

Taehyung berbaring di ranjang setelahnya, memikirkan kalimat Jimin dengan seksama sementara Lakshmi membawakan makanan dan membantunya mandi dengan Taehyung yang tidak menyadarinya sama sekali. Kakaknya membasuh rambutnya, menggosok kulit kepalanya lembut dan mengeringkannya dengan hair-dryer. Senang akhirnya Taehyung cukup sehat untuk mandi.

Namun Taehyung tidak berhenti berpikir, mencoba mencari isi kepalanya—mencoba mencari jawaban yang tidak juga ditemukannya.

Dia memikirkan banyak sekali hal; kakaknya, ibunya, ayahnya, dan sekarang Devy. Orang-orang Puri yang selalu mencemooh mereka, mengatakan sesuatu tentang terpaksa menerima Taehyung sebagai pewaris walaupun dia bukan keturunan murni karena ibunya seorang Sudra. Lebih baik daripada tidak sama sekali, katanya. Itulah kemudian yang menumbuhkan banyak standar baru yang memusingkan Taehyung; kesalahannya akan dikaitkan dengan kasta ibunya. Kasta kakaknya.

Belum lagi berita-berita miring yang didengarnya tentang kakaknya dan calon suaminya yang merupakan seorang Brahmana dari griya yang cukup besar. Taehyung berusaha menahan berita itu agar tidak hinggap pada kakaknya, memasang tubuhnya sebagai benteng berita itu, namun sepertinya dia gagal karena para manusia yang membenci selalu berusaha memberi tahu orang yang dibencinya tentang betapa mereka membenci. Reaksi orang yang mereka benci atas kebencian merupakan hal yang membuat mereka bahagia, membuat mereka utuh.

Bayangkan betapa getir dan pahit hidupnya karena bernapas dengan kesedihan orang lain. Bayangkan betapa busuk hatinya karena terus menebar kebencian untuk orang yang sama sekali tidak bersalah. Dikuasai iri dengki dan amarah kekanakan yang membuatnya terus berkoar-koar tentang kebenciannya; berharap seluruh dunia akan membela dan memvalidasi emosinya.

Hidup yang sangat menyedihkan.

Taehyung memejamkan matanya; berpikir kenapa dia memiliki begitu banyak tanggung jawab di bahunya. Sejak kapan hidup berubah menjadi begitu berat untuknya? Lalu ketika dia menemukan setitik kebahagiaan, kenyamanan, dan sesuatu yang membuatnya ingin terus bertahan, dia tidak bisa memilikinya.

Dia berharap dengan menjadi friends with benefit, dia tetap merangkul Jeongguk cukup dekat dengan hidupnya namun juga tidak membatasi ruang geraknya tentang kewajiban Puri-nya. Taehyung berharap dia bisa menemukan keberaniannya karena dia tidak sanggup mengusir Jeongguk dari hidupnya. Dia berharap solusi itu yang terbaik....

Berharap dengan mengeluarkan perasaan dari hubungan mereka, dia bisa lebih nyaman untuk sejenak memikirkan perasaannya sendiri—menyusunnya, memastikan dirinya cukup kuat untuk merengkuh segalanya. Mempersiapkan diri pada badai yang akan menghantam mereka di masa depan dengan 'benar' mereka yang tidak sesuai 'benar' lingkungan mereka.

Taehyung berharap.

Kau mencintaiku?

Jika dia punya keberanian dan ruang untuk egois tentang ini, dia akan menjawabnya dengan lantang. Betapa Jeongguk telah menjungkir balikkan dunianya, memberikannya napas kehidupan baru yang lebih mendebarkan, memberi Taehyung begitu banyak kenangan dan hal-hal baru. Dia membimbing Taehyung memahami dirinya sendiri. Dengan usianya yang lebih muda dari Taehyung, dia mengisi ruang-ruang kosong emosional seorang ayah di diri Taehyung dengan sikap lembutnya.

Dia seperti tongkat yang dilemparkan ke arahnya ketika Taehyung buta arah.

Haruskah Taehyung tetap menggenggamnya, dekat dengan hatinya seperti membutuhkan udara untuk bernapas? Atau melepaskannya sehingga mereka bisa berbahagia di jalan mereka masing-masing? Bersikap seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka? Bisakah Taehyung kembali ke kehidupannya yang lama sebelum Jeongguk datang dan mengubahnya?

Atau, bisakah dia.... berusaha?

“Tugung?”

Taehyung tersentak, menoleh ke pintu dan menemukan kakaknya berdiri di sana dengan kain dan kebaya sehabis berdoa, wajahnya cemas dan tegang. Dia menarik dirinya, mendudukkan diri di ranjang dan mendesah—melirik kursi di sisi mejanya dan mendapati makanan terakhir yang diberikan Lakshmi padanya belum tersentuh.

Dia harus makan. Tapi tidak memiliki energi untuk sekadar membawa makanan ke mulutnya dan membayangkan dirinya sendiri mengunyah makanan itu membuatnya mual. Taehyung mendesah, menghela napas. Dia sudah terlalu lama absen, HRD sudah datang menjenguknya kemarin dan dia harus segera kembali. Hoseok memang oke, tapi ada banyak hal yang dia belum paham dari dapur Alila yang dihuninya bertahun-tahun.

Haruskah dia pindah ke Alila Uluwatu? Dia tidak harus bertemu Jeongguk lagi jika begitu. Mungkin kembali bergabung dengan Felix, nongkrong bersamanya seperti dahulu. Namun memikirkan harus berangkat dari Klungkung ke Uluwatu membuatnya menghela napas.

“Ya, Mbok Gek?” Tanyanya setengah mengerang, kepalanya terasa berat entah karena dia sakit atau karena terlalu banyak berbaring. Dia sudah tidak bisa membedakan rasa sakit di tubuhnya; fisik atau emosional. Semua bercampur menjadi satu, memilin tubuhnya dengan cara tidak masuk akal.

Lakshmi diam sejenak sebelum menghela napas, “Ada Turah di depan, Mbok Gek antarkan masuk?”

Jantung Taehyung mencelos, mendadak kakinya terasa sangat dingin karena ketakutan dan kepalanya terserang nyeri yang melumpuhkan. Dia menghela napas, menahan rasa sakit dan menatap kakaknya. Dia harus menghadapinya, 'kan?

“Boleh, Mbok Gek.” Bisiknya parau, merasa tenggorokannya tercekat gumpalan pahit berduri yang menyakitinya.

Dia belum memutuskan apa pun dan Jeongguk sudah datang. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus dikatakannya? Siapkah dia melepaskan Jeongguk sekarang setelah segala kebahagiaan candu yang diberikannya untuk Taehyung? Siapkah dia kembali ke kehidupannya yang getir dan monokromatis yang sekarang tidak lagi menarik?

Saat Jeongguk memasuki ruangan, rasa lega membanjiri tubuhnya. Dia menahan napas saat melihat pemuda itu sedikit menunduk di pintu kamarnya untuk masuk. Jeongguk mengenakan kemeja denim di luar kaus abu-abu sederhana dan celana jins ketat yang membalut kakinya yang luar biasa. Wajahnya nampak keras dan Taehyung tidak bisa tidak merasakan sengatan di hatinya bahwa dialah yang menyebabkan ekspresi itu. Dia jangkung, memesona, mendominasi, dan terganggu.

Mbok Gek,” katanya lembut pada kakaknya yang berkerut cemas. “Boleh tinggalkan kami sebentar?”

Lakshmi mengerjap, menatap adiknya dengan alis sedikit berkerut—nampak tidak yakin meninggalkan mereka berdua di kamar dengan pintu tertutup sementara orang tua mereka masih bangun. Namun dia menyadari atmosfer yang melingkupi keduanya sehingga dia mendesah dan mengangguk.

“Hati-hati, ya?” Bisiknya sebelum menarik pintu menutup.

Meninggalkan keduanya di kamar Taehyung untuk kesekian kalinya dalam keadaan beradab. Kali pertama Jeongguk di sana, dia harus menjejalkan dirinya ke dalam kolong tempat tidur Taehyung. Namun beberapa kali kemudian, dia datang sebagai tamu menemani Jimin. Tidak harus melukai dirinya sendiri melewati pintu rahasia atau membuat tubuhnya kram bersembunyi di bawah ranjang.

Jeongguk membuka mulutnya dan Taehyung bergegas menyelanya. “Peluk aku sebentar, tolong.” Bisiknya nyaris gemetar saat menyadari dia mungkin sudah memutuskan sesuatu untuk hubungan mereka.

Waktu berdetak, terus maju—habis dalam genggamannya. Dia harus melepaskan ini. Dia tidak bisa terus egois mempertahankan Jeongguk sementara dia tidak yakin pada segalanya.

Jeongguk tidak pernah membuang waktunya tiap kali Taehyung meminta sesuatu. Dia langsung memberikannya detik Taehyung menyelesaikan kalimatnya. Maka bukan kejutan lagi saat dia menyeberangi kamar dalam dua langkah panjang dan merengkuh Taehyung dalam pelukannya. Taehyung mendesah, membenamkan wajahnya dalam pakaian Jeongguk dan menghirup aroma tubuhnya yang begitu mendebarkan. Dia membiarkan hidungnya mengembang, meraup sebanyak mungkin aroma keringat Jeongguk—mencoba membuat aroma itu menempel di ceruk kepalanya.

Karena jika nantinya Jeongguk pergi, Taehyung tidak akan bisa mendapatkan ini lagi.

Lengan Jeongguk memeluknya erat, napasnya menderu di telinga Taehyung sementara jantungnya di bawah telapak tangan Taehyung berdebar dengan keras—seperti sayap burung elang yang mengepak. Taehyung menempelkan tangannya, mendengar Jeongguk terkesiap oleh sentuhannya dan merasakan debaran itu di kulitnya. Denyutan jantung Jeongguk yang membuatnya tenang; membuatnya nyaman karena apa pun yang terjadi jantung Jeongguk masih berdetak.

Dia masih bernapas. Hidup dan menjejak tanah yang sama dengan Taehyung. Hal sesederhana itu berhasil membuatnya lega dan rileks. Jeongguk bersamanya—walaupun di kemudian hari dia tidak lagi bisa memeluknya, tidak lagi bisa bercinta dengannya, atau dihadiahi tawanya yang menggemaskan; selama Taehyung teringat debaran jantungnya, dia baik-baik saja.

Jeongguk hidup. Walaupun bukan dalam pelukannya, cukup untuk Taehyung.

Taehyung meraih tepian kemejanya, merasakan tangis mulai merebak di matanya. “Cium aku?” Bisiknya parau.

Napas Jeongguk menderu, seperti seekor binatang eksotis yang terganggu. Namun tangannya begitu lembut saat meraih dagu Taehyung lalu membuatnya mendongak. Taehyung memejamkan matanya, tidak ingin Jeongguk menyadari air mata yang mulai terbit di matanya saat bibir mereka bertemu.

Taehyung mendesah, meleleh dalam rasa Jeongguk yang memenuhi rongga mulutnya. Tangannya meraih sisi leher Jeongguk, menangkupnya lembut saat Jeongguk memperdalam ciuman mereka—meraih lidahnya dengan lembut hingga Taehyung mengerang tertahan. Tangan Jeongguk yang panas menempel di punggungnya, menembus lapisan pakaiannya dan membakar kulitnya seperti cap panas.

Secara insting, dia mendekatkan dirinya pada Jeongguk—mencari perlindungan seperti seekor anak ayam yang baru menetas dari telurnya. Mencari kehangatan Jeongguk. Kehadirannya membuat Taehyung mabuk setiap kalinya. Taehyung menghela napas, tercekat seperti baru saja tenggelam di air yang dalam saat bibir Jeongguk menggelincir ke lehernya dan mengecupnya lembut—berkali-kali hingga Taehyung mengeluarkan suara dekut seperti burung merpati dari tenggorokannya.

Jeongguk mengecup jakunnya, menjilatnya lembut hingga Taehyung gemetar dan berpegangan erat pada tubuhnya berharap akal sehatnya tidak menggelincir jatuh. Jeongguk menggeram di kulitnya, mengirimkan sensasi menggelitik yang membuat tubuh Taehyung panas dan kali ini bukan karena demamnya.

“Ini,” bisiknya tercekat, nyaris menggigit lidahnya sendiri saat meremas lengan Jeongguk yang kencang memeluknya. “Ini di rumahku.” Dia terkesiap saat Jeongguk menjulurkan lidah dan menjilat cuping telinganya. “Ada Ajung.”

Kata 'Ajung' menampar Jeongguk hingga dia langsung menarik dirinya menjauh, begitu tiba-tiba dan meninggalkan Taehyung terengah di tempatnya—mabuk karena demam dan ciuman Jeongguk yang dibumbui kemarahan. Jeongguk nampak kacau, anak rambut meleleh di keningnya yang tinggi dan wajahnya merah padam. Bibirnya menebal dan bengkak kemerahan. Taehyung mengulurkan tangan, menyentuhnya dengan ibu jarinya—lembut seperti menyentuh sayap kupu-kupu.

Jeongguk menyerah dalam sentuhannya, memejamkan mata dan memegang pergelangan tangannya. Napasnya menderu di bawah telapak tangan Taehyung yang basah karena suhu tubuhnya dan Taehyung mendesah. Dia mencondongkan tubuhnya lalu menumpukan keningnya pada Jeongguk.

Napasnya beradu dengan napas Jeongguk, menderu di pendengarannya sendiri seperti air terjun atau hujan deras yang membuat pandangan menjadi putih. Jeongguk masih menggenggam tangannya, tidak mengatakan apa pun sementara Taehyung duduk di sana—mendengarkan napas dan detak jantungnya.

“Aku tahu.” Bisik Jeongguk lirih, napasnya membelai wajah Taehyung yang panas karena demam. Membuat Taehyung bergidik oleh aroma peppermint yang menguar dari napasnya.

Jantungnya mencelos, berdebar dengan cara yang begitu menyakitkan hingga secara reaktif, dia membuka mulutnya dan bernapas dari sana. Berusaha memaksa paru-parunya tetap bekerja agar otaknya tidak mati. Tahu.... apa?

Taehyung membuka mulutnya yang kering, hendak bertanya namun Jeongguk bergegas melanjutkan dengan nada paling nyeri yang pernah didengar Taehyung. Suaranya pecah, berderak seperti sebuah gelas kaca yang dilempar ke lantai. Dia bisa mendengar perih dan betapa banyak luka yang ditangguhkan Jeongguk saat mengatakannya.

“Aku tahu kau akan mengakhiri ini.” Bisik Jeongguk, pecah.

Namun dia tidak bisa membantunya karena dia juga menanggung luka yang sama. Tidak menemukan cara lain selain ini untuk hubungan mereka. Berharap, Jeongguk akan menemukan kebahagiaannya walaupun itu bukan bersamanya. Taehyung memejamkan mata, mengencangkan otot perutnya demi menangguhkan sakit itu.

“Gung,” bisiknya lembut, gemetar dalam sentuhan Jeongguk. “Kita bahkan tidak memulai apa pun.”

Jeongguk menggertakkan giginya, gemetar entah menahan sakit atau amarah namun Taehyung menghela napas. Berusaha menekan sakit yang menyeruak di dadanya, menikamnya seperti belati panas bergerigi yang langsung merusak hatinya—atau organ apa pun itu yang bertanggung jawab atas rasa sakit di balik paru-paru dan jantungnya.

“Wigung,” bisik Jeongguk, gemetar oleh tangis sekarang—Taehyung bisa mendengar isakannya. “Wigung, jangan. Diholas. Kita... bicarakan dulu? Boleh?”

Hati Taehyung berdenyut, nyeri sekali hingga dia sejenak menghela napas tajam karena rasa sakitnya yang luar biasa. Nyaris seperti seseorang baru saja menusuknya dengan pisau, menembus tubuhnya lalu disentakkan hingga keluar. Sakitnya begitu melumpuhkan.

Dia sudah membaca ini berulang kali di ruang obrolan mereka, merasakan pedih yang sama berulang kali. Namun mendengar Jeongguk memohon padanya langsung dengan suara pecah menahan tangis membuat isak Taehyung merebak. Dia meremas tangan Jeongguk yang terengah oleh isaknya sendiri, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara dalam tangisnya.

“Wigung, tolong.” Bisiknya berulang-ulang, gemetar dan ketakutan. “Jangan pergi, jangan. Jangan.” Dia menggeleng, mencondongkan tubuhnya dengan gemetar berusaha meraih Taehyung. “Jangan, jangan.... Jangan.”

“Gung,” balas Taehyung lembut, rapuh menahan lukanya sendiri dan berusaha keras berpikir bahwa inilah yang terbaik untuk mereka berdua—memikirkan ibunya, kakaknya, Puri, dan juga Devy.

Dan Mirah. Gadis manis dan sopan yang akan jadi pendamping sempurna untuk Jeongguk. Taehyung harus berhenti berusaha memisahkan mereka.

“Aku tidak....” Dia menghela napas, tercekat nyaris menggigit lidahnya sendiri. “Aku tidak bisa. Keputusanku sudah bulat. Tidak ada jalan keluar dari sini. Mari selesaikan sebelum semuanya terlambat.”

Jeongguk menggeram, suara geraman itu membelai kulit Taehyung dengan cara yang membuatnya berdebar. “Apa.... yang terlambat?” Tanyanya, praktis menggeram dari sela geliginya yang terkatup rapat.

“Mirah.” Sahut Taehyung, membawa satu-satunya luka di hatinya naik ke permukaan. Menyiramkan asam ke atas luka, menggosokkan garam ke kulitnya yang menganga. “Dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Bukan aku, Gung. Tidak dikehidupan ini.”

“Aku menginginkanmu.” Geram Jeongguk, sekarang gemetar oleh amarah yang membuat Taehyung lemah. “Sesulit itukah memahamiku? Kau. Aku menginginkanmu, tidak ada yang lain di dunia ini.”

“Kau hanya sedang mengalami fase.” Tukas Taehyung dan Jeongguk menyentakkan wajahnya dari Taehyung—menatapnya dengan rasa tersinggung kental yang nyata tergurat di wajahnya. “Itu hanya fase, meledak-ledak sesaat lalu berakhir. Percayalah.”

Don't.” Geramnya seperti seekor binatang buas yang terganggu. “Don't tell me what to feel and what not to.”

“Maaf.” Bisik Taehyung seketika itu juga, tidak berani menatap Jeongguk yang melemah di sisinya—dia menumpukan kepalanya di bahu Taehyung dan Taehyung langsung membelai punggungnya. “Maaf, tapi aku sudah memutuskan.”

“Wigung,” bisiknya rapuh berulang-ulang. Mencium leher Taehyung dengan lembut. “Wigung, tolong. Tolong jangan begini. Kita bicarakan saja. Apa pun yang kauinginkan, akan kulakukan. Tapi jangan.” Dia tercekat, meremas pakaian Taehyung yang menangis. “Jangan meninggalkanku lagi. Jangan. Jangan.”

“Gung.” Taehyung membuka mulutnya, berusaha bernapas seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan. Bibir bawahnya gemetar. “Gung, maaf. Maaf.”

“Wigung.” Jeongguk memohon, dia merosot dari sisi Taehyung dan berlutut di lantai dengan wajah merah padam. Lututnya menghantam lantai dengan suara keras namun dia sama sekali tidak berjengit saat mendongak menatapnya—memohon.

Taehyung akan dihantui mimpi buruk setelah ini karena ekspresi Jeongguk benar-benar terluka hingga Taehyung merasa dia tidak layak mendapatkan luka sedalam ini, cinta sehebat ini dari Jeongguk.

Dia berhak mendapatkan orang lain yang lebih baik.

Walaupun ini melukai Taehyung, dia yakin—amat yakin inilah yang terbaik dan dia akan menghadapi apa pun risikonya nanti. Dia akan mengambil transfer ke Alila Uluwatu, menjauh dari Amankila. Mencari kos di sekitar sana. Dia harus pergi dari sini, dia tidak bisa terus bekerja di tempat yang berdekatan dengan surga pribadinya tanpa ingin terjun ke dalamnya.

“Aku hanya menginginkanmu. Selalu hanya dirimu. Tolong.” Dia mulai menangis, memeluk kaki Taehyung—memohon dengan sangat pilu dan menyedihkan hingga Taehyung meledak dalam tangisannya sendiri. Wajahnya terbenam di pangkuan Taehyung, air mata merebak di pakaian Taehyung.

“Gung, jangan.” Dia berusaha melepaskan tangan Jeongguk dari kakinya namun pemuda itu bersikeras. “Jangan begini. Jangan.” Tangannya gemetar saat meraih tangan Jeongguk yang menempel seperti lintah, terpeleset karena keringat saat berusaha menariknya. “Jangan, aku tidak layak untuk ini.”

“Kau layak untuk segalanya, selalu layak. Bahkan untuk dicintai.” Balas Jeongguk, memeluknya semakin erat hingga Taehyung memejamkan mata, nyeri.

“Aku melakukan ini untuk kita. Untuk kebaikanmu sendiri. Kita tidak bisa begini. Aku tidak bisa.” Dia berhasil melepaskan tangan Jeongguk dan pemuda itu mendongak dengan air mata di pipinya, menetes ke lantai dari dagu dan ujung hidungnya.

“Gung,” bisiknya, menahan tangisnya sendiri walaupun dia bisa merasakan air mata di lidahnya—asin dan hangat. Matanya buram saat berusaha menatap Jeongguk yang berlutut di hadapannya.

Dia harus melakukan ini. Pengorbanan besar harus dilakukan demi menyelamatkan semua orang, demi kepentingan mayoritas. Taehyung menyadari dia tidak bisa menjadi seegois ini dengan mempermainkan perasaan Jeongguk karena perasaannya sendiri yang terombang-ambing. Cukup sudah kerusakan yang dibuatnya pada Jeongguk.

Mereka harus berhenti saling menyakiti.

Taehyung tidak bisa merengkuh bahagia ini, tidak bisa egois demi dirinya sendiri. Maka dia memutuskan melepaskannya—mengikhlaskannya untuk orang lain. Dia akan tetap bahagia—berusaha tetap bahagia walaupun hanya melihat Jeongguk menjejak bumi yang sama dan menjunjung langit yang sama dengannya. Harus cukup, Taehyung tidak bisa mendapat lebih banyak lagi.

Hanya itulah yang bisa dimilikinya di kehidupan ini.

“Mari akhiri ini.”

Semoga Jeongguk bahagia dengan siapa pun pilihannya nanti.

“Kita.... akhiri ini.”

*

note. 4,5k and unedited sorry i kind of lost my grip somewhere in the middle. semoga gak busuk. trims x


Jeongguk duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruang makan griya Mirah yang nyatanya sejuk dengan kebun jeruk Kintamani dan buah naga ungu di dekat Merajan-nya. Bunga kamboja bermekaran beraneka warna; putih, kuning, merah muda dan merah. Aromanya semerbak ditemani aroma bunga kacapiring, kenanga, dan kembang sepatu.

Saat memasuki griya, dia disambut patung 1,5 kali manusia Dewa Siwa Nataraja* serta lingga yoni dan tempat melakukan ritual Agnihorta*. Jeongguk disambut keluarganya yang ramah sekali termasuk Ratu Pedanda sendiri yang menepuk bahunya akrab dan mengomentari rambutnya.

“Sudah cocok, ya, Ekajati*. Rambutnya sudah gondrong.” Beliau terkekeh dengan pakaian putih longgar serta rambut keperakan yang digelung di atas kepalanya dan Jeongguk membalas gurauannya dengan tawa. “Makan dulu makan sebelum mengantar Mirah.”

Maka kemudian Jeongguk duduk di meja makan dengan nenek Mirah yang menyiapkan makanan untuknya bersama Mirah. Dia duduk di sana, menerima perlakuan yang sangat berbeda dari yang biasa didapatkannya. Mirah mengambilkannya makanan dengan cara yang membuatnya rikuh; mereka belum menikah, Jeongguk bahkan belum mengatakan sesuatu tentang setuju pada perjodohan mereka namun gadis itu sudah 'mengabdikan' dirinya dengan cara yang membuatnya tidak nyaman.

“Terlalu baik pada semua orang.”

Jeongguk menghela napas tajam, perutnya mengejang seolah baru saja ditonjok saat Mirah meletakkan piring Jeongguk yang diisinya makanan di hadapannya. Neneknya nampak puas dengan cara Mirah memperlakukan Jeongguk namun lelaki itu sendiri merasa mual.

“Kau tidak perlu melakukannya.” Kata Jeongguk kemudian, berbisik kering namun Mirah yang duduk di sebelahnya mengedikkan bahu, tersenyum.

“Tidak masalah kok, Bli. Tiang selalu melakukannya untuk Ajik.” Sahut gadis itu kalem lalu mengambil makanan untuk neneknya sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.

Nyatanya acara makan itu sama sekali tidak membuat perasaan Jeongguk lebih baik karena terus menerus dirongrong tentang pernikahan. Belum lagi Ratu Pedanda sendiri yang menanyainya tentang wuku kelahirannya lalu menghitung hari baik untuk keduanya menikah. Jeongguk tersenyum, berusaha bersikap sopan walaupun asam lambungnya bergulung-gulung naik karenanya.

“Jangan lama-lama.” Pesan Ratu Pedanda saat Jeongguk berdiri di sisi mobilnya hendak berangkat menemani Mirah seraya tersenyum hangat. “Ada hari baik untuk menikah bulan depan. Dimanfaatkan saja sebelum Galungan.”

Jeongguk sungguh akan muntah jika berada di sana lebih dari lima menit lagi. Maka mereka bergegas berpamitan dan Jeongguk mengemudi menjauh—berdoa dalam hati dia tidak harus ke sana lagi. Mirah nampak menyadari suasana hatinya dan berdeham kikuk.

“Maaf, ya, Bli Gung.” Katanya pelan saat mobil meluncur ke arah Klungkung. “Ratu Pedanda tidak bermaksud apa-apa, kok. Hanya suka bercanda. Kalau Bli Gung belum siap, tidak apa-apa.”

Jeongguk nyaris berteriak. Siap apa?! Namun dia menjawab dengan suara tawa getir, “Tidak apa-apa, saya tahu mereka bercanda.” Dia memindahkan persneling lalu menginjak gas sedikit lebih dalam.

Bohong jika seharian menemani Mirah Jeongguk sama sekali tidak memikirkan pesan Lakshmi yang dikirimkannya pagi tadi. Dia menolak karena dia paham dia tidak bisa membatalkan janji ini sekali lagi dengan keluarga Mirah. Tidak hanya namanya yang menjadi jelek, dia juga membawa nama orang tua dan Puri-nya. Membatalkan janji satu kali mungkin terdengar tidak masalah namun membatalkan janji yang sama dua kali pada orang yang sama akan membuat Jeongguk berada dalam masalah.

Maka dia harus memilih untuk menyelesaikan urusan Puri sebelum meladeni Taehyung; dia mungkin mementingkan Taehyung, namun dia juga punya kehidupan lain di luar hubungannya dengan Taehyung yang harus dilakoninya. Dia berharap, sungguh berharap Taehyung bisa memahami posisinya karena dia tidak lebih baik dari Taehyung. Mereka sama-sama terjebak dalam tanggung jawab keluarga dan perjodohan yang mereka tidak kehendaki.

Lagi pula, dia sehat dan dia sendiri yang memilih untuk mengabaikan Jeongguk sejak hari terakhir mereka bertemu di Alila dan bercinta. Jeongguk mendesah, menyandarkan kepalanya di roda kemudi saat Mirah berlari kecil ke arah mini market hendak membeli minuman dingin untuk mereka berdua. Kalimat Yugyeom tentang dimanfaatkan karena terlalu baik terus berputar di kepalanya sejak hari itu; membuatnya tidak nyaman saat bekerja.

Belum lagi sikap diam Taehyung selama dua hari ini. Apakah sesulit itu membalas pesan Jeongguk atau mengangkat teleponnya? Taehyung bisa sangat egois jika dia mau tentang Jeongguk. Jika mereka benar-benar akan menjadi sepasang kekasih, dia berharap Taehyung bisa setidaknya bekerja sama dengan Jeongguk.

“Mampirlah ke Puri jika senggang, Turah.”

Jeongguk menghela napas, menatap jalan raya di hadapannya yang ramai. Haruskah dia mampir ke Puri Taehyung malam ini setelah menurunkan Mirah di kosannya? Atau dia hanya akan membawa banyak masalah? Dia berpikir tentang datang membawa bingkisan, sebagai rekan sejawat Taehyung. Tentunya ayah Taehyung tidak akan melarang temannya datang ke rumah, 'kan?

“Bli Gung?”

Jeongguk menoleh dengan sedikit kaget dan panik pada Mirah yang terkesiap karena dia tersentak oleh panggilan sehalus itu. “Oh, kau.” Katanya, menghembuskan napas keras—merasakan jantungnya berdebar keras sekali dengan gelisah.

Dia setegang kawat hari ini.

“Bli Gung sakit?” Tanyanya lembut, membanting pintu tertutup dengan wajah cemas yang tulus. “Gek belikan obat?”

Jeongguk menggeleng, “Tidak, tidak.” Dia menegakkan tubuhnya, menghela napas berusaha membuat kepalanya fokus sementara Mirah memasang sabuk pengamannya. “Kita harus berangkat sebelum terlalu siang.” Dia menurunkan rem tangan, memasukkan persneling sebelum kembali bergabung ke jalanan.

“Aku belikan kopi.” Mirah meletakkan gelas kertas terisi kopi hangat di kompartemen kecil di belakang persneling—aroma kopi membuat saraf Jeongguk siaga dan dia senang mendapatkannya.

“Trims, Mirah.” Katanya mengangguk berterima kasih sebelum memasang sein dan menginjak gas menyalip mobil di hadapannya.

Di kursi penumpang, Mirah mengulurkan tangan ke radio, memutar lagu yang disukainya dan Jeongguk membiarkannya. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil Jeongguk, seraya menyesap minumannya dan mengamati jalan raya. Dia nampak rapi dan menarik hari ini, Jeongguk mengapresiasi pilihan berpakaiannya. Dia mengenakan blus berwarna lembut yang membalut tubuhnya dengan indah serta celana jins ketat yang memberikan efek jenang dan tinggi pada kakinya. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi, berayun saat dia bergerak dan keningnya bersih dari anak rambut.

Dia mengenakan riasan tipis yang nampak natural—perona pipi secukupnya dengan eyeliner tipis dan lipstik sewarna bibir. Jeongguk mengapresiasi kemampuannya menyesuaikan suasana kapan harus mengenakan riasan wajah agak berat dan kapan natural ringan. Berpikir saat mobil meluncur memasuki bypass apakah jika dia bertemu Mirah sebelum semua ini, mereka pasti akan berpacaran langgeng?

Mirah sangat sopan, pengertian, dan telaten. Dia tidak pernah merajuk, tidak seperti semua mantan kekasih Jeongguk. Pengendalian dirinya, emosinya; semuanya luar biasa. Jeongguk mengapresiasi pilihan ayahnya. Sayang sekali bahwa Jeongguk menyadari bahwa kegagalannya dalam membina hubungan sejak dahulu sama sekali bukan kesalahan para perempuan itu tapi karena Jeongguk yang tidak tertarik pada mereka.

Dia menyadari ini persis saat dia berkenalan dengan Taehyung melalui Felix Hamilton. Lelaki itu, pada masa mereka dekat dan tentram, bersikap amat lembut dan dewasa padanya. Membantu Jeongguk menaikkan percaya dirinya, mengajari banyak hal tentang memimpin dapur setelah mendengar isu Felix akan mengundurkan diri dari Amankila karena adiknya menikah.

Taehyung mengajarinya banyak hal. Namun entah mengapa, hubungan mereka mendadak terjun bebas ke jurang yang dalam. Semuanya jungkir balik dan begitu melelahkan sekarang. Siapa sangka Taehyung yang saat menjadi teman dan seniornya ternyata begitu berbeda dengan Taehyung saat menjadi kekasihnya, saat naik ke ranjang bersamanya.

“Kita ke mana?” Tanya Jeongguk kemudian saat Yaris-nya meluncur memasuki Denpasar, menyingkirkan Taehyung dari kepalanya yang malang.

Mirah bergegas mengeluarkan ponselnya, “Jalan Tukad Badung, Bli Gung. Ada satu kosan di sana yang aku tertarik.” Katanya dan Jeongguk mengangguk—dia lumayan hafal kawasan Denpasar.

“Kosnya sudah terisi atau kau harus membeli isiannya?” Tanya Jeongguk saat membelok di depan patung Titi Banda ke arah Denpasar Selatan.

“Sudah,” Mirah mengangguk, mencermati ponselnya. “Setidaknya lemari dan kasur sudah terisi. Jadi tinggal membeli benda-benda seperti rak sepatu dan sebagainya.” Dia kemudian diam sejenak. “Jika Bli Gung ada waktu? Jika tidak mungkin aku akan berangkat dengan ojek daring.”

Jeongguk menggeleng, mengoper persneling dan melirik spion sebelum meluncur melewati lampu lalin yang kebetulan menyala hijau. “Tidak, aku antar saja. Membawa barang banyak menyulitkan.” Katanya sementara kepalanya berputar tentang apakah dia harus mampir ke Puri Taehyung atau tidak.

Mirah menatapnya lalu tersenyum kecil, “Baiklah, Bli Gung.” Dia menghela napas, bersandar di kursi dengan senyuman masih bermain di bibirnya. “Terima kasih, sangat membantu.” Katanya.

“Sama-sama, tidak masalah kok.” Balas Jeongguk yang sama sekali tidak memerhatikannya—sibuk mengamati jalanan dan berusaha memutuskan tentang Taehyung, tidak menyadari sama sekali gadis di sisinya yang sekarang merasa senang bukan main.

“Bli Gung pakai parfum apa?” Tanyanya kemudian dan Jeongguk mengerjap, kebingungan sejenak sebelum menoleh sekilas pada Mirah yang menatapnya.

“Bukan sesuatu yang mahal kok,” kata Jeongguk mengedikkan bahunya. “Ada cadangan di dasbor jika kau ingin menggunakannya.” Tambahnya nyaris tanpa berpikir sementara mengemudi, menyelip di sela lalu lintas Denpasar yang semakin lama semakin memusingkan.

Mirah meraih dasbor, membukanya dan menemukan parfum cadangan Jeongguk. “Oh, AXE.” Katanya menatap botol di tangannya dan mendongak pada Jeongguk yang fokus mengemudi. “Boleh kuminta?”

Jeongguk mengangguk, “Pakai saja. Itu hanya parfum.” Katanya mengoper gigi dan menginjak gas, mendesah jengkel karena terjebak kemacetan di depan lampu merah.

Mirah menatap benda di tangannya lalu memutar tutupnya, menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya. Aroma cokelat manis-pahit sejenak menguar di udara kabin mobil sebelum penyejuk udara bergegas mengganti udara di dalam mobil. Jeongguk sama sekali tidak memikirkan apa pun yang dilakukan Mirah selama perjalanan. Jelas juga tidak memikirkan bahwa meminta parfum lelaki adalah sesuatu yang luar biasa.

Mereka tiba di satu kosan yang dipilih Mirah dan Jeongguk merasa tempat itu sesuai. Lingkungannya nyaman, gerbangnya memiliki kunci yang akan diberikan pada semua anak, tempatnya lega dengan kasur rapi. Nyaris seperti hotel dengan harga yang lumayan miring. Pemandangan kamar yang dipilihkan ibu kos untuk Mirah menghadap Utara sehingga dia bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam dengan sempurna dari balkon kamarnya.

“Aku suka yang ini.” Kata Jeongguk saat mereka di dalam kamar untuk mengeceknya. “Tempatnya juga aman.” Dia lalu menoleh ke ibu kos. “Ada CCTV dan penjaga setiap saat, 'kan?”

Ibu kos mengangguk, nampak geli dan tersenyum. “Ada, Pak.” Sahutnya. “Nanti setiap anak kos akan mendapat kunci sendiri tapi setelah jam malam, jam 12 kunci akan diganti jadi jika anak kos akan pulang lewat dari jam tersebut bisa menghubungi penjaga untuk dibukakan pintu.”

Jeongguk mengangguk-angguk, “Di sini saja.” Katanya pada Mirah yang berdiri di sisinya, wajahnya merona hingga Jeongguk berpikir mungkin kamarnya terlalu panas. “Ada AC-nya juga. Harusnya kau tidak akan kepanasan.”

Dia hanya ingin bergegas menyelesaikan hari ini sehingga bisa kembali pulang atau mampir ke Puri Taehyung. Perasaannya tidak enak—sesuatu bergerak di dasar perutnya membuatnya meyakinkan diri sepertinya dia memang harus mampir ke Puri Taehyung. Tidak peduli apa yang lelaki itu lakukan padanya, dia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa dia sehat.

Dia sudah membatalkan kamarnya, tidak mendapatkan refund karena dibatalkan di hari kedatangan. Tidak masalah untuk Jeongguk, dia mempersilakan hotel menyimpan depositnya dan mematikan sambungan sebelum kembali bergabung dengan Mirah yang sedang mengobrol dengan ibu kosnya.

“Kau ingin melihat kosan satunya atau sudah yakin di sini?” Tanya Jeongguk, menyelipkan ponselnya di saku. “Jika yakin, kita beli isinya saja.”

Mirah mengangguk. “Di sini saja, Bli Gung. Kata Ibu, ada jalan pintas menuju kantor di belakang sana. Bisa dilalui motor jadi lebih nyaman di sini.”

Jeongguk mengerjap sebelum menatap ibu kos yang nampak ceria sekali entah karena apa, senyuman tidak meninggalkan bibirnya. Mungkin senang mendapat anak kos baru. “Jalan pintasnya aman, Bu?” Tanyanya sopan. “Jika sepi, mungkin sebaiknya pulang memutar saja demi keamanan.” Tambahnya pada Mirah yang terpana menatapnya.

Mirah mengerjap lalu mengangguk, tersenyum tipis. “Nggih, Bli Gung.” Sahutnya tenang.

Jeongguk mendesah, senang karena berhasil menghemat waktu. “Baiklah, jika begitu ayo kita beli isian kamarmu.” Katanya meraih kunci motornya dari saku celana jinsnya. “Sebelum terlalu siang dan panas di jalan.”

Mereka berpamitan pada ibu kos yang melambai ceria lalu berangkat ke pusat perbelanjaan terdekat untuk mencari alat-alat kosan yang mungkin dibutuhkan Mirah. Jeongguk membantunya memilih, secara sopan mendesaknya agar cepat karena perasaannya semakin tidak enak sekarang sementara jarum jam berdetak di pergelangan tangannya. Dia mulai diserang rasa cemas tentang keadaan Taehyung.

Dia mengirimi pemuda itu pesan, menanyakan keadaannya namun tidak dibalas. Dia meneleponnya hanya untuk mendapati teleponnya tidak dijawab. Jeongguk menghela napas berat saat Mirah meraih tempat sampah plastik kecil di kakinya, dia menatap layar ponselnya. Berpikir jika dia menggenggam Taehyung sekarang, dia akan mematahkan tulang punggungnya karena membuat Jeongguk sangat khawatir.

Atau mungkin itu hanya Jeongguk? Dia bersikap cemas berlebihan padahal Lakshmi sudah dengan jelas memberi tahunya bahwa Taehyung sehat. Mungkin dia sekarang sedang di luar dengan ayahnya, tidak sempat melihat ponselnya dan Jeongguk bersikap berlebihan.

Dia mengecek jam tangannya, sebentar lagi makan siang jika lancar dia seharusnya akan menemani Mirah untuk makan sebentar. Mendesah saat menyadari dia mungkin masih harus menemani gadis itu hingga petang memindahkan barang-barangnya dari Puri-nya di Gianyar.

“Kau akan memindahkan pakaian dan sebagainya juga, 'kan?” Tanya Jeongguk dan Mirah mengangguk, menatapnya sementara mereka mengantri di kasir dengan keranjang belanja di tangannya.

“Bli Gung buru-buru?” Tanyanya kemudian dengan sangat sopan, nampak menyadari gesur tubuh Jeongguk yang tidak sabaran hingga Jeongguk terserang perasaan tidak enak jika harus memotong singkat bantuannya—dia melirik jam tangannya dan menghela napas.

Jika Taehyung sehat, maka tidak apa-apa jika dia menunggu sebentar, 'kan?

“Tidak kok.” Katanya pada Mirah, mengulaskan senyum menenangkan sebelum mendesah. “Kau akan membeli apa lagi?”

Maka kemudian Jeongguk menghabiskan waktunya untuk menemani Mirah berkeliling. Gadis itu bersikeras membelikan Jeongguk minuman manis setelah membawakan belanjaannya. Jeongguk menerima boba dengan tangannya yang bebas sementara kantung belanja menggantung di lengan satunya, tidak yakin karena dia jarang menikmati minuman seperti ini namun toh tetap menerima gelas plastiknya setelah Mirah menancapkan sedotan untuknya sebelum kembali melangkah bersisian dengan Mirah.

Dia menatap minumannya dan merasakan bahwa menikmati hidup seperti ini ternyata terasa menyenangkan. Rileks dan santai, berkeliling melihat-lihat sambil minum sesuatu—berpikir apakah Taehyung mau jika dia mengajaknya melakukan ini ataukah dia tidak nyaman jika berada di keramaian bersama Jeongguk?

Jeongguk memasukkan semua belanjaan Mirah ke bagasi belakang mobilnya sebelum kemudian mereka mengemudi kembali ke kosan Mirah. Dia membawa kunci yang diberikan ibu kos, dibantu Jeongguk menata kamarnya. Jeongguk melepas kemejanya, mengenakan kaus tipis di dalam pakaiannya saat membantu Mirah memasang seprai dan membereskan kamarnya.

Mereka kemudian makan di kamar Mirah, memesan makanan dari ojek daring agar tidak berkeliling.

“Bli Gung makan fast food?” Tanya Mirah terpana saat Jeongguk memilih memesan makanan cepat saji saja agar tidak menunggu lama.

Jeongguk tergelak, dia mendapatkan banyak sekali pertanyaan seperti ini sejak dulu berkencan dengan perempuan. Menganggap pola hidup seorang juru masak pastilah sangat sehat dan menghindari makanan berminyak serta berlemak. Tentu saja dia menikmati sedikit sodium dan lemak, menikmati hidupnya sesekali.

“Tentu saja.” Katanya, “Pesanlah.” Lalu mengeluarkan dompetnya, mempersilakan Mirah menggunakan uangnya untuk membayar makanannya sementara dia mengeringkan keringatnya setelah membantu Mirah membereskan makanan.

Gadis itu menatap dompet yang diserahkan Jeongguk, menatap Jeongguk yang mendesah kepanasan padahal penyejuk sudah dinyalakan di suhu 18 derajat lalu kembali menatap dompet Jeongguk sebelum perlahan meraihnya.

“Aku buka sendiri, ya, Bli Gung?” Tanyanya, sejenak ragu membuka dompet Jeongguk.

“Buka saja, tidak ada apa-apanya kok.” Jeongguk mengedikkan bahu santai, berdiri di bawah penyejuk demi mendapatkan udara paling dingin. Dia selalu melakukannya pada Yugyeom, meminta anak itu mengambil sendiri uang di dompetnya dan tidak merasa hal itu sesuatu yang aneh.

Mirah menatap punggung Jeongguk, membuka dompetnya perlahan sebelum menarik selembar uang seratus ribu dari sana. Berusaha keras untuk tidak mengintip foto SIM A dan KTP Jeongguk yang terselip di tempat kartu paling depan. Jeongguk menyelipkan foto Yugyeom dengan latar belakang biru dan jas almamater STP Nusa Dua di bagian foto dan Mirah tersenyum kecil.

“Bli Gung sayang sekali pada Ogik, ya?” Tanyanya, meletakkan kembali dompet Jeongguk di lantai.

Jeongguk menoleh, teringat foto Yugyeom di dompetnya. “Oh,” dia tertawa. “Ya, begitulah.” Sahutnya, menarik lepas karet rambutnya lalu menggelung ulang rambutnya yang agak lembab oleh keringat.

Mereka kemudian makan sambil mengobrol tentang pekerjaan baru Mirah dan karir Jeongguk. Mirah mendengarkan dengan seksama, menanggapi dengan tulus dan tertawa saat Jeongguk melemparkan gurauan. Dia sangat natural hingga Jeongguk berpikir jika dia seorang heteroseksual, dia pasti akan menyambut perjodohan itu dengan tangan terbuka.

Sayang sekali karena dia sungguh tidak tertarik pada Mirah selain sebagai adik atau sahabat. Dia mungkin harus mengatakan ini pada ayahnya sehingga Mirah tidak harus membuang-buang waktu dengannya. Dia berhak mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Jeongguk.

Setelah makan, mereka memindahkan isi kamar Mirah di Puri ke kosan. Disambut ayah dan ibu Mirah yang nyatanya sangat menyukai Jeongguk. Dia ditawari makan, dibekali banyak cemilan kering buatan ibunya sebelum pulang. Jeongguk membantu Mirah memindahkan barang-barangnya ke bagasi mobilnya—mendorong barang-barangnya sendiri ke sudut untuk memberi ruang untuk barang Mirah. Mereka pamit kembali ke Denpasar setelah Jeongguk berjanji akan datang ke Puri untuk makan malam bersama.

Dia akhirnya lepas dari Mirah pukul tujuh malam sementara langit bersemburat jingga keunguan, dia akan mengemudi cepat ke Klungkung sekarang. Mirah berdiri di depan gerbang, mengenakan pakaian rumahan berbahan katun yang nyaman setelah membereskan kosannya dibantu Jeongguk.

“Semoga betah di pekerjaan barumu.” Jeongguk melambai sebelum bergegas memasuki mobilnya, gelisah karena memikirkan Taehyung. “Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku.”

Mirah mengangguk, tersenyum senang dan Jeongguk menghela napas—setidaknya dia tidak membuat nama Puri jelek karena Mirah nampak senang. “Siap, Bli Gung. Hati-hati di jalan. Terima kasih banyak hari ini.”

Jeongguk mengklakson sekali sebelum melaju pergi, melihat Mirah melambai dari spion tengah sebelum memfokuskan dirinya pada jalanan. Sekarang dia harus membeli sesuatu untuk dibawa ke Puri Taehyung. Dia menghubungi Lakshmi, menekan tombol telepon.

Sejenak panggilannya tidak diangkat, dia sudah akan mematikannya saat Lakshmi menjawabnya. “Halo, Atu Ngurah?” Sapanya membuat Jeongguk terserang perasaan risih karena caranya memanggil Jeongguk.

“Halo, Mbok Gek,” sapanya seraya mengemudi di jalanan Denpasar yang semakin malam semakin ramai. “Saya akan mampir ke Puri sebentar lagi, Wigung sudah di Puri belum, ya?”

Lakshmi sejenak diam lalu terdengar suara gemeresak beberapa menit hingga Jeongguk menoleh sejenak ke ponselnya yang tergeletak di pahanya sebelum kembali ke jalanan. Lakshmi kembali dengan suara lebih pelan, seolah menjauhkan ponsel dari mulutnya saat bicara.

“Ada di Puri kok, Turah. Baru...” Lakshmi sejenak diam sebelum menghela napas dan menambahkan, “Baru saja pulang.”

Alis Jeongguk berkerut, menangkap keraguan di suaranya. “Saya boleh mampir?” Tanyanya, mengoper persneling dan menginjak gas lebih dalam—jantungnya berdebar tidak enak sekarang. Firasatnya mengatakan dia harus bergegas tiba di Puri, sesuatu merayap di punggungnya—membuatnya tidak nyaman.

Di seberang Lakshmi terdengar ragu-ragu sejenak. “Boleh, Turah. Nanti tiang jemput ke depan. Mungkin setelah jam delapan malam jadi Ajung sudah di kamar?”

Jeongguk mengerjap, melaju mulus keluar dari Denpasar bergabung pada lalu lintas kencang di bypass yang luas dan lenggang. Dia harus tiba sesegera mungkin di Puri demi membunuh rasa tidak nyaman di hatinya ini. Dia melirik jam tangannya, ini pukul setengah delapan malam dengan lalu lintas begini, dia mungkin tiba di Puri Taehyung setidaknya pukul setengah sembilan.

“Tidak masalah.” Katanya lalu memasang sein, berhenti di mini market untuk membeli beberapa makanan—dia hanya melakukannya, tidak yakin kenapa namun dia merasa dia butuh membawa sesuatu.

Hatinya semakin tidak nyaman, berat dan berdesir dengan cara yang membuatnya gelisah saat mematikan sambungan pada Lakshmi yang akan menunggunya di depan jika Jeongguk sudah dekat. Jeongguk berlari kecil ke mobilnya, membawa kantung belanja yang terpaksa dibelinya karena dia lupa membawa kantung belanjanya sendiri lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia melempar kantung itu ke kursi penumpang lalu melanju ke Klungkung di atas kecepatannya yang biasa.

Dia membelok ke arah Puri Taehyung, memelankan mobilnya saat melihat Puri dari kejauhan dan menekan telepon ke nomor Lakshmi, memberi tanda bahwa dia sudah dekat. Dia menunggu beberapa meter dari pintu masuk, menunggu hingga Lakshmi muncul di depan gerbang dengan kain yang membalut kakinya setelah bersembahyang. Jeongguk bergegas mematikan mesin mobilnya, menyambar belanjaannya dan keluar dari sana.

Lakshmi yang hendak mengangkat ponselnya untuk menghubungi Jeongguk terkesiap kecil saat pemuda itu tiba di sisinya. “Oh, Turah.” Sapanya sopan, membawa aroma lembut kamboja, tirta harum kenanga, dan dupa. “Silakan masuk.”

Dia kemudian memimpin Jeongguk ke dalam Puri, sedikit memutar agar tidak melewati kamar ayah mereka hingga tiba di kamar Taehyung yang tertutup. Jeongguk berhenti di sana, kebingungan saat Lakshmi menghela napas lalu menoleh ke arahnya.

“Saya minta maaf,” bisiknya kemudian, sekarang nampak gelisah dan juga sedih. “Tugung demam tinggi sudah tiga hari hingga sekarang. Tidak turun dari angka 38-38,5. Kami takut sekali dia mungkin akan kejang-kejang karena panasnya tapi menolak dibawa ke rumah sakit.”

Jeongguk berdiri di sana, seolah sesuatu baru saja dibanting pecah di dalam dirinya—berhamburan dengan suara desir seperti pasir. Jantungnya mencelos, terjun bebas ke dasar hatinya. Seketika menyesali kenapa dia membantu Mirah terlalu lama, jika saja dia memotong waktunya dan bergegas datang.

Namun sebagian hatinya yang lain menolak disalahkan karena dia memang tidak tahu apa pun, maka tentu saja wajar jika dia datang terlambat. Dan untuk pertama kalinya, Jeongguk mendengarkan sisi dirinya yang ini sejenak—menyadari benar dia tidak tahu apa-apa dan menolak menyalahkan diri sendiri.

Dia kemudian menghalau semua pemikiran itu, bergegas melewati Lakshmi membuka sepatunya di depan undakan kamar Taehyung lalu melompati tiga anak tangganya naik ke teras kamarnya. Lakshmi bergegas mengkutinya, sedikit tergopoh-gopoh karena kain yang membalut kakinya dan Jeongguk mengetuk pintu itu dua kali.

Terdengar suara erangan dari dalam, “Ya?” Tanya suara Taehyung yang terdengar sangat mengerikan—parau, dalam, serak, dan penuh kesakitan. “Tugung tidak mau makan, Mbok Gek.”

Jeongguk meraih gagang pintu lalu menyentakkannya terbuka dengan sedikit terlalu dramatis hingga engselnya berderit keras dan daun pintu berderak. Suaranya keras di tengah keheningan kamar Taehyung dan itu membuat Taehyung mengerang keras, terbatuk-batuk dan berbalik.

“Demi Tuhan, jangan berisik,” keluhnya lalu terserang serangkaian batuh berat yang menyakitkan, napasnya mendenging keras.

Dia berada di kamar Taehyung yang sekarang terasa panas dan beraroma pekat minyak kayu putih serta penyakit. Chef senior itu berbaring di ranjang, terbalut selimut dengan kaus lengan panjang dan celana training. Terbatuk-batuk dan menggigil. Di sisi kasurnya ada kursi kayu yang terisi semangkuk bubur yang dari bentuknya nampak seperti sudah berada di sana sejak zaman Majapahit. Ada obat-obatan juga serta sebotol air yang penuh. Segelas teh yang ditutup agar tidak ada serangga yang hinggap.

Taehyung sedang membelakanginya, meringkuk berusaha membentuk dirinya sendiri seperti bola agar hangat tidak melepaskan diri dari tubuhnya. Dia terbatuk lagi, keras dan menghela napas dengan tersiksa. Dia mendesah keras, mengerat giginya saat Jeongguk bergegas masuk, melangkah menyeberangi ruangan lalu duduk di sisi ranjangnya yang berderit. Taehyung sedang memejamkan mata, wajahnya merah padam dengan bibir terbuka menggigil karena panas tubuhnya.

Menyadari aroma parfum Jeongguk, Taehyung sejenak diam sebelum membuka matanya dan menoleh. Dia mengerjap sebelum mengerang panjang, memprotes kehadiran Jeongguk dengan cara yang sangat menggemaskan hingga sejenak Jeongguk melupakan amarahnya.

Lakshmi bergegas menutup pintu kamar adiknya, menyelotnya dan juga menyentakkan tirai jendela Taehyung yang menghadap Merajan dan kamar nenek mereka sebelum berdiri di sudut, memberi ruang sepenuhnya untuk adiknya dan Jeongguk, berusaha mengecilkan diri agar tidak mengganggu. Mudah melakukannya karena dia menghabiskan hidupnya untuk dilupakan di latar belakang.

“Kau ini benar-benar.” Gerutu Jeongguk lalu mengulurkan tangan, menyentil keningnya yang terasa panas membara. “Ayo, kita ke rumah sakit.”

Taehyung menepis lengan Jeongguk yang hendak meraihnya. “Tidak perlu.” Gumamnya parau lalu terbatuk keras sekali lagi dan mendesah karena batuk itu menyakitinya.

“Wigung,” bisik Jeongguk sebelum berlutut di lantai agar bisa lebih dekat dengan Taehyung. “Kemari.” Dia mengulurkan tangan, menyentakkan lembut Taehyung agar menoleh ke arahnya.

Pemuda itu mengerang saat berguling menatapnya, wajahnya merah padam dan sekarang matanya berkilau oleh air mata, mungkin karena rasa sakit dan demamnya. Jeongguk mendesah, merasakan hatinya diremas-remas saat mengulurkan tangan dan menyentuh wajahnya yang membara.

“Bisakah sehari saja kau tidak membuatku khawatir?” Bisiknya lembut, berharap Lakshmi tidak mendengar apa pun. Ibu jarinya mengusap pipi Taehyung lembut, merasakan suhu tubuhnya yang menyengat. “Bagaimana caraku berhenti mencintaimu jika kau terus-terusan menarikku kembali?” Tambahnya di bawah napasnya, tidak yakin Taehyung mendengarnya.

Taehyung menatapnya, menghela napas berat, udara berpusing memasuki paru-parunya dengan suara denging keras sebelum dia berbatuk. “Kau habis kencan dengan Mirah, 'kan?” Tanyanya parau.

Jeongguk memutar bola matanya. “Jangan begitu.” Tegurnya sebelum mengulurkan tangan dan mengangkat tubuhnya, dia memeluk Taehyung yang berbaring di ranjangnya—bergidik saat suhu tubuh Taehyung bertemu dengan suhu tubuhnya sendiri.

Dia panas sekali dan bagaimana dia berhasil menolak untuk dibawa ke rumah sakit setelah tiga hari membuktikan betapa keras kepalanya dia. Jeongguk merengkuhnya, perlahan menariknya hingga duduk di ranjangnya dan pemuda itu terbatuk-batuk. Jeongguk duduk di sisi ranjang, dekat dengannya. Taehyung menatapnya, terbatuk sekali sebelum mengulurkan kedua lengannya dan Jeongguk mendesah—lenyap sudah semua amarah dan rasa jengkelnya sejak dua hari lalu saat dia merengkuh Taehyung dalam pelukannya.

Taehyung mendesah, memejamkan mata saat menumpukan dagunya di bahu Jeongguk. Dia mengeratkan pelukannya di bahu Jeongguk sementara pemuda itu membelai punggungnya—merasakan suhu tubuhnya dari luar pakaiannya. Jeongguk mendesah, mengecup bahu Taehyung dari pakaiannya yang beraroma keringat dan obat.

“Ayo ke rumah sakit,” bisiknya lagi dan Taehyung menggeleng.

“Minum obat saja.” Sahutnya berbisik, terdengar mengantuk dalam pelukan Jeongguk. “Kau sudah datang.” Tambahnya. “Semua akan baik-baik saja.”

Hati Jeongguk terasa diparut sekarang—nyeri dan ngilu. “Lalu kenapa kau tidak memberi tahuku bahwa kau sakit sehingga aku bisa datang lebih awal alih-alih mengabaikan semua pesanku?”

Taehyung mendesah, “Kau ada janji dengan Mirah hari ini. Jika aku memberi tahumu aku sakit, kau terpaksa membatalkan janjimu dengannya. Kau sudah melakukannya sekali kemarin.”

Jeongguk mengerjap. “Wow.” Bisiknya, memeluk tubuh panas Taehyung semakin erat. “Dari mana pengertian itu datang?”

“Aku mabuk karena panas. Diam.” Balas Taehyung, mengaitkan jemarinya di balik punggung Jeongguk yang tersenyum geli lalu mendesah. “Kau nyaman.” Gumamnya senang. “Lembut dan hangat, dan menyenangkan.”

Jeongguk menghela napas, tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak berpikir: jika mereka merupakan friends with benefit, Jeongguk tidak seharusnya merasa jantungnya berdebar lebih kuat karena cinta yang mengalir di pembuluh darahnya untuk Tehyung.

Jika mereka hanya teman seks, dia tidak seharusnya merasa sesenang ini hanya karena Taehyung memeluknya. Itulah yang dibutuhkan Taehyung sekarang—menyentuhnya. Jeongguk tidak seharusnya membiarkan hatinya mengepak bahagia karena Taehyung memeluknya, mendesah dan lumer dalm pelukannya karena itulah yang dibutuhkan Taehyung.

Lelaki itu mungkin sama sekali tidak mencintainya. Dia hanya membutuhkan Jeongguk secara fisik—memeluk dan menciumnya. Bukan secara emosional. Keraguan yang dua hari lalu tumbuh semakin subur karena Taehyung mengabaikan pesannya membuat hati Jeongguk mengerut sekarang. Dia selalu yakin Taehyung sedang kebingungan, sedang berproses mencari jati dirinya sendiri; namun tiap kali mereka bersentuhan secara fisik dan Taehyung sangat menikmatinya, Jeongguk meragu.

Dimanfaatkan karena.... Kau tahu, terlalu baik.”

Taehyung menyukai sentuhan Jeongguk namun tidak pernah membalas kata-kata cintanya. Jeongguk merasa dia terlalu memburu Taehyung, mendesaknya untuk menerima identitas barunya agar Jeongguk bisa mengklaimnya sebagai miliknya. Namun saat mereka saling menyentuh, bercinta dan berciuman; Taehyung nampak sangat luar biasa. Bahkan menangis karena sangat menikmati seks mereka.

Hatinya retak saat dia mulai menerima bahwa Taehyung mungkin saja sedang benar-benar menggunakannya. Hanya datang padanya karena dia membutuhkan seseorang untuk menyentuhnya—menggunakan Jeongguk dengan cara yang membuat Jeongguk mual.

Dia sedang jatuh cinta sendirian.

Jeongguk memejamkan matanya, keraguan yang merambat di seluruh organnya sekarang mencekiknya. Membuatnya sulit bernapas dan pusing—jika Taehyung benar hanya menggunakannya....

“Aku sungguh mencintaimu.” Bisik Jeongguk lembut di telinga Taehyung, memeluknya semakin erat—merasakan waktu yang dimilikinya untuk memeluk Taehyung semakin menipis.

Berharap, walaupun ragu meracuni pernapasannya, sedikit saja. Sedikit saja, Taehyung akan membalasnya.

Pemuda itu bergeming, memeluknya. Napasnya menderu dan tubuhnya hangat namun tidak menjawab. Jeongguk menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri saat nyeri menyeruak di hatinya. Dia mengusap punggung Taehyung, membelainya lembut senada dengan detak jantungnya—mengatur napasnya agar dia tidak jengkel.

Karena Taehyung membutuhkannya.

Jeongguk sedang jatuh cinta sendirian.

Dia menghela napas, mengencangkan otot perutnya agar nyeri tidak membuat napasnya sesak. Jeongguk berpikir terlalu dini untuk memutuskan apakah dia memang jatuh cinta sendirian dan mengizinkan Taehyung memikirkan perasaannya sendiri.

Berharap dia akan segera membalas perasaan Jeongguk.

Segera.


Glosarium: * Siwa Nataraja: Dewa Siwa saat sedang menari. * Agnihotra: upacara membakar sesaji untuk para dewa seperti yang dilakukan umat Hindu India saat pernikahan. * Ekajati dan Dwijati: upacara yang bermakna lahir kembali untuk pertama (eka) dan kedua (dwi) kalinya sebagai seorang sulinggih atau pemimpin upacara agama. Pemuka agama Hindu, Ratu Pedanda (lelaki), memiliki rambut panjang yang dibentuk cepol di atas kepalanya untuk menyematkan mahkota saat memimpin upacara dan biasanya datang dari kalangan Brahmana. * Wuku: weton dalam Hindu.


tw // come out reaction , insecurity .


Author's note. Mohon maaf sebelumnya, karena saya hanya ally bagi teman-teman komunitas, jadi momen come out Jeongguk saya skip karena saya merasa saya tidak cukup pantas untuk menceritakan momen sepenting dan sesensitif itu padahal saya bukan anggota komunitas. Walaupun saya ingin sekali tapi saya tetap merasa tidak nyaman. Setelah berpikir panjang, akhirnya saya memutuskan untuk tidak menceritakannya. Terima kasih banyak. Ire, x


Jeongguk menghela napas, setelah bersitegang dengan dirinya sendiri dia akhirnya berhasil membuat dirinya mengatakannya.

Sudah lima menit, Yugyeom duduk di depannya dengan wajah terpana. Garpu plastik murahan yang digunakannya untuk menyuap mie instan kemasan kesukaannya masih tergenggam di tangannya, ternoda kuah merah berminyak dan sekarang Jeongguk mulai takut telah melakukan kesalahan karena memburu dirinya untuk come out pada adik kandungnya sendiri.

Namun nasi sudah menjadi bubur, Jeongguk harus menerimanya.

Jeongguk sudah siap melihat ekspresi kecewa, kaget, bingung dan bahkan jijik di wajah Yugyeom saat dia menyebutkan orientasi seksualnya namun alih-alih, adiknya menghela napas dalam-dalam, keras sebelum tersenyum lebar hingga Jeongguk merasa baru saja ditampar.

”'Kan.” Katanya sebelum meraih gelas mie instannya, nampak sangat rileks hingga Jeongguk merasa ketakutan, perutnya terasa diaduk-aduk sekarang. “Sudah kuduga.”

Matanya mengerjap, otaknya macet. “Hah?” Hanya itu yang lolos dari mulutnya, kebingungan.

“Sudah lama kok, aku curiga.” Kata adiknya, menatapnya dengan tenang hingga Jeongguk ingin muntah. “Sejak Wiktu bercerita tentang siapa...? Wik Tjok? Bertahun-tahun seperti kekasih yang gagal move on.” Dia meletakkan kemasan mie instan kosong di hadapannya dan menghela napas. “Wiktu... Tidak terdengar seperti seseorang yang kehilangan sahabat, lebih seperti kehilangan kekasih.”

Jeongguk diam, menatap adiknya yang ternyata menyadari banyak hal. Atau apakah Jeongguk memang sangat transparan tentang perasaannya untuk Taehyung?

“Kita sampai memiliki kode sendiri jika Wiktu ingin bercerita tentang orang ini, 'kan?” Tambah adiknya, perlahan dan hati-hati dalam memilih kata-katanya. “Namun, aku bangga sekali Wiktu berani terbuka padaku tentang hal sebesar ini. Pasti berat sekali untuk Wiktu hingga akhirnya tiba pada keputusan memberi tahuku.” Yugyeom menatapnya, tersenyum menyemangati.

“Terima kasih karena Wiktu sudah mau percaya padaku.” Dia mengulurkan tangan, menepuk hangat paha Jeongguk yang duduk bersila di hadapannya di kamar Jeongguk yang apak khas seperti bangunan tua. “Tenang saja, Wiktu tetap kakakku apa pun alasannya.”

“Lagi pula,” dia nyengir. “Banyak temanku yang juga anggota komunitas. Sudah bukan kejutan lagi. Ogik sangat menghormati pilihan mereka dan pilihan-pilihan Wiktu dalam hidup.

“Hanya karena benar mereka tidak sesuai dengan benar yang diajarkan lingkungan padaku atau konsep benarku sendiri, bukan berarti benar mereka adalah salah, 'kan?” Dia menyugar rambutnya dan Jeongguk menyadari, adiknya sudah bukan lagi balita yang berlarian mencoba menirunya—mengganggu Jeongguk, mengejarnya, merengek padanya, menangis saat Jeongguk mengabaikannya.

Dia sudah dewasa, sudah memiliki suara dan pemikirannya sendiri. Tumbuh menjadi remaja tenang, dewasa dan sedikit pendiam pada orang selain kakaknya sendiri. Entah sejak kapan Jeongguk lupa memerhatikan adiknya—lupa menyadari bahwa dia sudah tumbuh dewasa dengan tinggi nyaris menyamai Jeongguk. Mungkin dia harus mengembalikan akhir pekan bersama mereka; pergi berenang ke Tirta Gangga lalu makan hingga kenyang dan bermalas-malasan hanya untuk memastikan adiknya hidup di jalan yang diinginkannya.

“Benar itu, 'kan, konsep yang diciptakan sekelompok orang lalu dipercayai. Subjektif. Dan tentu, maknanya bisa bergeser tergantung kebutuhan saat itu. Dulu mungkin perempuan tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga adalah benar, mutlak untuk saat itu. Dalam relevansi waktu tertentu. Tapi seiring peradaban bergerak, konsepnya berubah. Sekarang perempuan berhak untuk memilih karirnya sendiri.

“Sama seperti lelaki yang diizinkan memiliki emosi—diizinkan menangis, lelah, dan lemah. Tidak harus selalu kuat dan dominan. Lelaki, 'kan, juga manusia. Punya hati, punya perasaan. Jadi ketika orang lain memiliki ketertarikan yang berbeda denganku, itu hak mereka sepenuhnya dan aku tidak punya hak untuk mengoreksinya.”

Hati Jeongguk merekah, terasa ringan dan sangat hangat saat adiknya mengatakan itu. Tidak pernah merasa sesenang ini saat akhirnya satu dari beberapa orang yang dijaganya dekat dengan jantungnya menerimanya apa adanya dan tidak—bahkan tidak mengatakan betapa dia kecewa tentang pilihan Jeongguk.

Adiknya besar di lingkungan yang tepat. Syukurlah.

Jeongguk menghela napas lalu entah dari mana, meledak dalam tangis karena hatinya begitu lega. Dia tertawa sementara Yugyeom balas tergelak dan bergegas menyambar kantung tisu untuknya. Dia melemparkan benda itu ke Jeongguk yang masih menangis sambil tertawa, setengah histeris. Kemasan itu menghantam dada Jeongguk dan dia menangkapnya, menarik beberapa lembar lalu membekap wajahnya di sana.

Bersyukur sepenuh hati.

Yugyeom menerimanya. Yugyeom tidak mengadilinya. Dia tidak memojokkan Jeongguk. Dia menerima kakaknya, bahkan memberi tahunya betapa dia bangga pada Jeongguk karena berani mengakuinya, berani menerimanya. Jeongguk tidak pernah merasa sesenang ini, seringan ini—sepenuh dan semenakjubkan ini. Seolan beban langit baru saja diangkat dari bahunya.

“Terima kasih.” Bisiknya masih tertawa dengan air mata meleleh di wajahnya lalu mengulurkan tangan, merengkuh Yugyeom yang tergelak ke dalam pelukannya. Dia menghirup aroma rambut adiknya—merasakan sayang yang tak terhingga membanjir di hatinya untuk Yugyeom.

Orang lain mungkin memiliki hubungan yang tidak terlalu akrab dengan saudara mereka. Namun perbedaan usianya dengan Yugyeom yang lebih dari sepuluh tahun membuat Yugyeom sangat dekat dengannya alih-alih menjauh. Jeongguk tidak mengizinkan adiknya menjauh; dia terus menemaninya sejak kecil, tidak pernah marah saat Yugyeom mengganggunya, tidak pernah mengusirnya atau mengucilkannya.

Dia selalu ada untuk adiknya, melindunginya, menyayanginya—berharap Yugyeom suatu hari nanti tidak akan memunggunginya sebagaimana saudara pada umumnya karena hanya Yugyeom-lah yang dipercayainya di dunia ini.

Maka saat Yugyeom menerimanya seutuhnya, Jeongguk berterima kasih pada dirinya di masa lalu—dirinya yang berusia 10 tahun karena tidak mengabaikan Yugyeom, tidak mengucilkannya. Berterima kasih karena dirinya yang berusia 10 tahun merengkuh adiknya dan bertumbuh bersamanya sehingga ikatan yang mereka miliki jauh lebih kuat dari apa pun.

“Tidak ada yang perlu diterima kasihi,” Yugyeom tergelak di pelukannya—menepuk bahu kakaknya hangat. “Aku yang berterima kasih karena Wiktu sudah mau membagi ini denganku. Aku bangga sekali padamu.”

Jeongguk mengeratkan pelukannya, jantungnya berdebar begitu kuat sekarang namun karena bahagia yang membuncah di hatinya. Mendengar adiknya menerimanya begitu saja tanpa meragukannya sama sekali—tegas dan lugas, tanpa keraguan sama sekali. Dan itu benar-benar menolong Jeongguk, membuatnya merasa jauh lebih baik.

“Jadi,” kata adiknya kemudian, nyengir. “Hari ini giliranku memilih film!”

Jeongguk tergelak parau, menyeka air matanya dan menenangkan aliran darahnya yang menderu seperti banjir bah di pembuluh darahnya. “Ya, ya. Oke.” Katanya sengau lalu menghela napas dan menatap adiknya yang bergegas menghampiri televisi di kamarnya untuk mencari film di Netflix.

“Oh.” Seru Yugyeom kemudian, mendadak berhenti dari kegiatannya memilih film. “Ada yang Wiktu ingin ceritakan lagi?”

Jeongguk terdiam, menatap adiknya sejenak sebelum menghela napas. “Mungkin... ada?” Katanya kemudian dan Yugyeom langsung meraih pengendali jarak jauh televisi dan mematikannya sebelum bergegas kembali ke sisinya.

“Aku juga baru menyadari,” katanya kemudian meraih bungkus cemilan besar dari kantung plastik mini market yang dibawa Jeongguk tadi. “Bagaimana tentang perjodohan Wiktu?”

Dia menghela napas, menatap adiknya. “Entahlah.” Sahutnya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak yakin bagaimana caranya mengeluarkan diri dari keputusan ayahnya yang itu sementara Mirah adalah perempuan paling sopan dan manis yang pernah dikenalnya.

Setidaknya jauh—jauh lebih baik dari semua mantan kekasih narsisnya yang menyebalkan. Mereka semua sudah menikah omong-omong, sudah memiliki anak. Jeongguk datang ke pernikahan mereka semua hanya untuk dipameri betapa hidup mereka tanpa Jeongguk baik-baik saja. Seolah hidup Jeongguk tidak lebih luar biasa hanya karena dia belum menikah.

“Wiktu punya pacar?” Tanya Yugyeom, nampak sangat rileks tentang orientasi seksual Jeongguk hingga dia sejenak takut. Namun dia menepis keraguannya, mempercayai Yugyeom yang selama ini menemaninya. Adiknya tidak akan mengkhianatinya—dia tidak pernah mengadu tiap Jeongguk menyelundupkan apa pun ke Puri. Mereka rekan bekerja sama.

Jeongguk mengangguk. “Belum pacar, sih. Tapi, kami saling mencintai.” Dia mengerjap lalu menambahkan dengan getir. “Kurasa.”

Yugyeom menjejalkan segenggam keripik kentang ke mulutnya, mengunyah dengan suara berisik namun ekspresinya nampak sangat bersimpati hingga hati Jeongguk tergelitik. “Wik Tjok itu, ya?”

Dia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Yugyeom. “Begitulah.” Akunya perlahan. “Jika aku beruntung mendapatkanmu sebagai saudara, yang menerima begitu saja dengan bangga. Ada beberapa orang yang tidak terlalu beruntung.”

Yugyeom merogoh kemasan cemilannya lagi, membawa naik segenggam keripik kentang bersalut bubuk bumbu tebal. “Yah, jika aku tidak bergaul dengan orang-orang yang keren, aku mungkin tidak akan bersikap setenang ini.” Dia membuka mulutnya, menjejalkan makanan itu lalu menghancurkannya dengan geliginya.

Dia menelan kunyahannya sementara Jeongguk berbaring di karpet tebal kamarnya, menatap langit-langit memikirkan ekspresi Taehyung saat mengajaknya menjadi friends with benefit. Dia seperti baru saja menikam dirinya sendiri dengan belati saat mengatakannya; mengorbankan banyak hal untuk melakukannya.

Jeongguk tahu dia takut, dia bingung. Asing pada keseluruhan emosinya sekarang; tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Maka semua hal yang keluar dari mulutnya terasa begitu defensif dan melukai. Jeongguk paham, dan memutuskan untuk memberikannya waktu untuk mengeksplorasi emosi serta dirinya sendiri. Dia yakin Taehyung akan kembali padanya; selalu kembali seperti boomerang.

“Kalian backstreet?” Tanya Yugyeom, melongok ke dalam kemasan cemilannya untuk meraih remah sisa makanan di dasar kemasan.

Jeongguk menghela napas, “Dia belum menerima bahwa dia jatuh cinta.” Dia menerawang ke lampu di langit-langit kamarnya, membayangkan wajah Taehyung yang keras dan dingin—dia begitu keras pada dirinya sendiri hingga Jeongguk merasa ngilu. “Dia menolak perasaannya dan menjauh, terus berusaha kabur namun selalu kembali.”

Yugyeom berhenti makan, dia menatap kakaknya yang berbaring di lantai. “Lalu Wiktu bertahan dengannya?”

“Bodoh, ya?” Tanya Jeongguk tanpa memalingkan pandangannya dari lampu yang seolah menyihirnya.

“Tidak.” Yugyeom mengedikkan bahunya kalem saat meraih cemilan lain—tidak pernah kenyang dengan nafsu makan serta kebiasaan olahraganya yang sinting. “Itu wajar. Namanya juga jatuh cinta. Tapi Wiktu memang orang paling sabar di seluruh dunia.” Dia menatap kakaknya, tersenyum.

“Tapi,” Jeongguk menghela napas. “Tidak ada jalan keluar sama sekali.” Katanya, untuk pertama kalinya mengeluarkan emosinya pada adiknya yang menyadari nada suaranya dan memutuskan untuk menaruh seluruh perhatiannya pada Jeongguk.

“Dia pewaris utama Puri besar, dia punya tanggung jawab adat yang besar. Dia harus mengurus ibu dan kakaknya, juga ayahnya yang gagal. Dia punya begitu banyak beban dan menjadi seorang homoseksual hanya akan membuatnya semakin menderita!”

Air mata menyengat mata Jeongguk lagi saat mengeluarkan semuanya—menyadari betapa beratnya Taehyung yang berusaha hidup terseok-seok, berusaha tetap waras di tengah segala kegilaan di hidupnya. Dia membersit, menghela napas dan berusaha menelan tangisannya lagi—cukup satu tangisan dalam sehari. Dia tidak sanggup lagi.

“Wiktu menyesal?” Tanya Yugyeom lembut setelah sejenak membiarkan kakaknya menenangkan diri. “Menyesal karena jatuh cinta padanya? Dan mungkin saja membuatnya bahagia? Siapa tahu dia juga sebenarnya sedang mencari jati diri dan Wiktu baru saja menunjukkannya? Membantunya, mungkin?”

Jeongguk diam. Dia tidak pernah menyesal mencintai Taehyung tidak peduli seberapa berengseknya dia pada emosi Jeongguk. Dia hanya selalu berpikir Taehyung memiliki alasannya sendiri—dan mendengar nada suara ayahnya saat terperangkap di bawah ranjangnya kemarin membuktikan pada Jeongguk betapa besar teror yang harus dihadapi Taehyung setiap harinya di rumah itu.

Bagaimana dia dan kakaknya seketika diam dan tunduk secara absolut pada kehadiran ayah mereka membuat Jeongguk rikuh. Ayahnya sendiri memang sangat keras kepala namun dia masih mengizinkan anaknya—setidaknya Yugyeom untuk berbicara. Tidak pernah menghadirkan keheningan menggelisahkan saat dia muncul. Dia bicara dengan anaknya seolah anaknya memang anaknya—bukan semacam proyek untuk memperbaiki masa depannya yang rusak.

Namun ayah Taehyung.

Jeongguk bergidik, teringat nada suaranya dengan emosi yang sangat mendominasi. Seolah Jeongguk membuatnya kecewa hanya dengan bernapas. Keheningan dari kedua saudara itu dan bagaimana mereka nampak secara natural takut pada ayah mereka—refleks, seolah itu hal yang wajar untuk merasa inferior sehebat itu.

“Tidak.” Kata Jeongguk kemudian, menyadari sepenuhnya bahwa dia memang tidak menyesali apa pun dalam hubungannya dengan Taehyung. “Tidak ada.”

Yugyeom menatapnya, “Ya sudah. Berarti baik-baik saja.” Dia membuka kemasan cemilan baru dan aroma penguat rasa serta bubuk rumput laut kering bergulung-gulung memenuhi ruangan. “Lagi pula, dia sendiri yang memilih untuk menyambut Wiktu dalam hidupnya, 'kan? Dia yang memilih. Kenapa Wiktu menyalahkan diri sendiri?”

“Karena Wiktu yang menggiringnya?” Balas Jeongguk sementara adiknya mengunyah cemilan dengan aktif seperti balita yang baru tahu fungsi geliginya dan gatal ingin mengunyah.

“Memengaruhinya begitu?” Tanya Yugyeom, nampak tidak suka pada kata-kata Jeongguk. Dia berdecak keras. “Dia, 'kan, lelaki dewasa yang sudah memiliki pemikiran sendiri. Tentu saja dia tahu mana yang diinginkannya dan mana yang tidak, 'kan?”

Jeongguk menatap adiknya—merasa sedikit sia-sia berusaha menceritakan hal sekompleks hubungannya dengan Taehyung kepada seseorang. Itulah mengapa dia memilih menyimpan semuanya sendiri karena dia tidak bisa menjelaskan perasaannya sendiri, tidak bisa menjelaskan perasaan Taehyung dan tidak bisa menjabarkan hubungan mereka sekarang.

“Aku tidak ingin merepotkanmu dengan perasaan.” Kata Taehyung, dingin dan berjarak. “Kau sendiri yang lelah dengan semua emosiku, 'kan? Maka lebih baik tidak melibatkan emosi sama sekali di dalam hubungan kita kecuali gairah. Praktis.”

Taehyung benar-benar memiliki masalah serius dengan emosinya karena tiap kali dia merasakan sesuatu, dia merasa bersalah atas perasaan itu. Jeongguk memijat kepalanya—merasa pening. Dia bisa saja jatuh cinta pada Mirah, atau berusaha setidaknya. Maka hidupnya pasti akan sangat mudah; mengalir dengan mulus.

Namun tidak. Dia jatuh cinta pada adrenalin dan petualangan bernama Taehyung—lelaki misterius dingin yang selalu membuatnya penasaran. Lelaki yang nyatanya lembut dan hangat di ranjang; memeluknya, tersenyum, tertawa, mendesah bersamanya, merona dalam genggamannya.

Taehyung.

Taehyung-nya.

“Tapi,” suara Yugyeom muncul, memecahkan gelembung di sekitar Jeongguk dan melenyapkan bayangan tentang Taehyung dari kepalanya. Dia mengerjap dan menoleh ke adiknya yang nampak cemas menatapnya.

“Kadang aku takut kesabaranmu akan disalahgunakan oleh orang lain atau malah membuat dirimu sendiri terluka karena....” Yugyeom mengedikkan bahunya, resah. “Kau tahu, terlalu baik.”

Kata-kata itu kemudian membuat Jeongguk terjaga semalaman. Dia terbaring di ranjangnya, nyalang menatap langit-langit kamarnya setelah mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidurnya. Memikirkan kalimat itu dengan seksama—mungkinkah?

Mungkinkah Taehyung sedang memanfaatkannya sekarang? Menggunakannya untuk mengeksplor diri lalu membuangnya setelah dia selesai? Apakah dia memang mencintai Jeongguk atau... Jeongguk yang berkhayal ada cinta di matanya untuk Jeongguk?

Setitik hatinya yang sejak dulu meragu, kini menguat. Menemukan suaranya yang sejak dulu disingkirkan dan dibungkam Jeongguk. Sekarang dia berteriak nyaring di kepala Jeongguk—mendesakkan rasa tidak percaya, takut, dan terekspos yang membuat Jeongguk menggigil, merasa seperti bayi yang baru lahir.

“Jika kita bertemu secara reguler hanya untuk bercinta, tidak akan ada yang disulitkan. Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan dengan Mirah dan aku dengan Devy. Semua senang.”

Jeongguk memejamkan matanya yang panas, hatinya nyeri. Sakit itu merekah di hatinya, menyebar perlahan di atas permukaan organnya yang berdenyut dan memastikan seluruh sarafnya merasakan nyeri itu. Menyengatnya berkali-kali seperti lebah yang marah—membuat hatinya sejenak kebas dan mati rasa. Lalu panas menyeruak, membuat paru-parunya sesak dan mengerut berusaha mengembang menampung oksigen, gagal.

Memanfaatkanmu.... Terlalu baik....

Apakah Jeongguk benar dengan mempersembahkan hatinya pada Taehyung yang sejak awal tidak ingin menerimanya? Apakah Taehyung memang seperti apa yang dipikirkannya karena lelaki itu sungguh tidak pernah mengatakan sesuatu tentang cinta dan sayang padanya.

Alih-alih terus merayunya bercinta lalu pergi saat dia puas.

“Friends with benefit. Praktis.

Jeongguk mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menusuk ke telapak tangannya, menimbulkan bekas ceruk mungil seperti bulan sabit perak di atasnya. Kepalanya perih sekali saat memikirkan ini—memikirkan kemungkinan bahwa Taehyung sedang menggunakannya.

Rasa ragu itu menyebar seperti racun di kepalanya—seperti kabut yang melingkupi otaknya dan membuatnya kebingungan. Seperti tersesat di dalam hutan yang penuh oleh kabut; matanya tidak tahu ke mana harus melangkah. Dia diteriaki, diminta menyerah dan kabur. Menjauh dari Taehyung, menjauh dari predator. Otaknya teracuni dan Jeongguk terkesiap kecil; rasa ragu itu menamparnya, keras sekali di wajahnya.

Apa yang harus dilakukan Jeongguk sekarang?

Dia terjebak.

Atau... benarkah dia terjebak?

*

tw // gas-lighting , trauma , manipulation , insecurity , internalized homophobia , suicidal thoughts .


Taehyung tidak fokus sama sekali sepanjang sisa malam.

Dia bahkan tidak bergeming saat Devy mengajaknya mengobrol sambil makan malam. Dia membiarkan gadis itu memilih restorannya dan dia mengemudi dengan kepala kosong—nyaris tidak benar-benar menyadari ke mana Devy membawanya. Dia membelok saat gadis itu bilang belok, berhenti saat harus berhenti. Mereka pergi ke Warung Legong, Blahbatuh. Taehyung baru menyadarinya saat mereka berhenti dan Devy bergegas turun dengan semangat.

Taehyung tidak tahu apa yang ada di kepala gadis itu, tidak peduli seberapa dinginnya dia meladeninya, Devy tidak pernah menyerah. Dia menunggu hingga Taehyung turun dan mengunci mobilnya sebelum menyamakan langkah mereka memasuki restoran yang ramai. Mereka tiba nyaris terlalu malam karena Taehyung membereskan urusannya dengan Jeongguk sebelum berangkat.

Ayahnya luar biasa senang—dia menelepon Taehyung, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dan memujinya. Memintanya bersikap baik pada Devy. Hatinya teriris saat mendengar suara senang dan bangga ayahnya—mungkin inilah yang seharusnya dilakukannya. Menuruti ayahnya nyatanya selalu membuat hidup Taehyung mudah, membuatnya nyaman. Semua orang mendadak bersikap sangat ramah padanya, sayang padanya, mendengarkannya; dia merasa dihargai, diterima.

Namun ketika dia melakukan sesuatu sedikit saja diluar keinginan ayahnya maka satu Puri sepakat untuk menganggapnya tidak pernah ada. Teringat keributan di Puri saat pertama kali dia mengumumkan keinginannya untuk melepas kastanya dan pergi dari Puri. Teringat ibunya yang menangis, memohonnya tinggal dan bagaimana Lakshmi nampak seperti baru saja ditonjok.

Maka hari itu, Taehyung memutuskan untuk menelan semua keinginannya dan mengedepankan hal yang akan membuat semua orang senang.

Seperti mengajak Devy pergi makan.

Taehyung mendesah saat mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang dipilih Devy—mengapresiasi interior tempat itu serta suasananya yang hangat. Ada beberapa rombongan wisatawan yang makan beberapa kursi dari mereka, tertawa hangat dengan aroma bir di udara.

“Wigung ingin makan apa?” Tanya Devy dan Taehyung menoleh ke arahnya, mencoba mengapresiasi pilihan berpakaiannya, rambutnya yang di-blow-dry, riasan wajahnya yang sempurna.

Gagal.

Dia tidak tertarik sama sekali pada gadis di hadapannya tidak peduli seberapa cantik dan pintarnya dia. Hatinya sama sekali tidak bereaksi pada kecantikannya. Gadis itu memesan makanan, nampak senang saat Taehyung akhirnya menyambutnya dengan beradab. Tidak lagi memperlakukannya dengan dingin dan berjarak.

Semua orang senang, Taehyung menyadari itu saat Devy tersenyum lebar. Teringat telepon dari ayahnya yang untuk pertama kalinya terdengar bangga dan puas padanya. Semua orang senang. Walaupun hatinya sendiri sesak dan diremas perasaan tidak puas, perasaan ingin memberontak dan ingin kabur dari semuanya. Namun semua orang senang.

Semua orang senang.

Semuanya, kecuali Taehyung. Tetapi mungkin, pikirnya saat makanannya dan Devy datang. Anak itu bercerita tentang persiapan koasnya di salah satu rumah sakit di kota dan berpikir apakah dia sebaiknya kos saja. Membicarakan tentang ilmu-ilmu yang tidak sabar dicobanya, perasaan bersemangat untuk segera mengabdikan dirinya. Membuat dirinya berguna.

Mungkin jika Taehyung berpura-pura bahagia, berpura-pura baik-baik saja, terus memalsukan kebahagiaan dan kedamaiannya.... Mungkin perasaan itu akan menjadi nyata. Mungkin suatu hari nanti, kebohongan itu cukup untuk menambal lubang kosong di hatinya yang sekarang menganga dan berdenyut—merintih ingin diisi namun Taehyung tidak tahu cara untuk mengisinya.

Dia sudah mencoba mengisinya dengan karir, uang, hobinya—lubang itu tidak menutup, alih-alih semakin membesar dan membuatnya menderita. Dia merasa kosong, kebingungan berusaha mencari arah yang benar. Tiap kali dia melakukan apa yang diinginkannya, seluruh dunia seolah menyalahkannya. Mengoreksinya, memojokkannya dan menunjukkan padanya dengan keras betapa keinginannya adalah hal yang salah.

Taehyung belajar, melakukan apa yang Puri inginkan selalu membuatnya merasa diterima dan lebih baik. Maka mungkin, inilah yang harus dilakukannya.

Dia menatap Devy yang masih berceloteh, menyingkirkan ekor udang yang sedang dimakannya. Mengatakan sesuatu tentang gigi dan hal-hal yang tidak dipahami Taehyung, namun dia mungkin bisa berusaha.

“Maaf,” katanya pelan dan Devy berhenti bicara, mendongak dari kesibukannya bertarung melawan udang di makanannya. Gadis itu terpana mendengarnya bicara untuk pertama kalinya setelah sejak tadi Taehyung hanya melamun, sama sekali tidak menaruh perhatian pada kalimatnya.

“Tadi kau membicarakan apa? Maaf, Wigung tidak mendengarkan. Gigi...?”

Devy mengerjap. “Wigung mendengarkan?” Tanyanya, sedikit kebingungan dan dia sama sekali tidak menyembunyikannya.

Taehyung tersenyum, mengabaikan denyutan di hatinya yang semakin menggila. Menghela napas dan mengencangkan otot perutnya, berusaha menghalau sakit itu agar tidak mengganggunya—berharap suatu hari nanti luka itu akan sembuh.

“Tadi tidak, maaf. Wigung memikirkan hal lain,” katanya menyeka anak rambutnya. “Sekarang aku akan mendengarkan.”

Devy tersenyum—cerah sekali hingga Taehyung harus menggertakkan giginya, berusaha mengabaikan teriakan di dalam kepalanya tentang betapa tidak melakukan apa yang diinginkannya membuat semua orang bahagia. Taehyung harus mulai berhenti melakukan apa yang diinginkannya dan fokus pada apa yang dibutuhkannya. Apa yang keluarganya butuh dia untuk lakukan.

Sementara Devy bicara, dua kali lebih bersemangat karena Taehyung bertanya padanya, Taehyung berusaha memfokuskan dirinya pada kata-kata gadis itu dan bertanya; sesuatu tentang ondontektomi, jaringan periodontal, hal-hal yang seluruhnya asing dengan kehidupan Taehyung yang lebih banyak berkutat dengan bahasa Prancis.

Taehyung berusaha membuat dirinya nampak tertarik pada dunianya. Karena... gadis ini yang akan diajaknya menghabiskan kehidupannya ini, 'kan? Maka Taehyung akan belajar berpura-pura tertarik, berpura-pura bahagia; berharap suatu hari nanti, bahagia itu menjadi kenyataan dan mengisi lubang besar di hatinya penuh-penuh.

Tiap kali kepalanya berpindah ke kejadian tadi di Alila, dia akan mencubit pahanya sendiri atau bahkan memukulnya—berusaha membawa kembali kepalanya ke masa sekarang, mendengarkan Devy yang menjelaskan cara untuk melakukan perawatan pada gigi berlubang yang sudah menginfeksi akarnya. Taehyung tidak paham apa menariknya membicarakan gigi busuk di depan makanan hangat namun dia tidak keberatan.

Jika itu membuat Devy senang, maka akan dilakukannya. Kesenangan gadis ini membuat ayahnya senang—membuat ibu dan kakaknya aman. Membuatnya tidak lagi transparan di dalam Puri, membuatnya didengar dan diapresiasi; seperti efek domino. Seharusnya pengorbanan ini sama sekali tidak berat, 'kan? Semua orang bahagia. Kebahagiaan Taehyung bisa menyingkir sebentar karena dia punya kepentingan orang lain yang lebih banyak.

”... Lalu setelahnya, jika semua sarafnya sudah mati, barulah gigi ditutup.” Devy menyingkirkan cabai di piringnya, meraih sepotong udang dengan garpunya dan menyuapnya.

“Kau memang ingin jadi dokter, ya?” Tanya Taehyung saat gadis itu bernapas sebelum mulai berceloteh lagi. “Ingin mengambil spesialis?”

Devy mengangguk, semangat—Taehyung menyadari dia baru saja menyentuh bagian yang tepat karena dia nampak bersinar karena senang. “Gigi anak!” Katanya, nampak sangat ceria hingga Taehyung tidak bisa tidak tersenyum bersamanya.

“Kau suka anak-anak?” Tanyanya sopan, menyuap makanannya yang terasa seperti kardus lembek sekarang karena dia sangat mual dan lelah. Namun dia masih harus melakukan ini, teringat betapa puas dan bangga ayahnya saat menghubunginya tadi.

Sedikit lagi, Taehyung, pikirnya memaksa dirinya menelan kardus yang dikunyahnya. Jangan menyerah sekarang.

“Ya.” Devy menjawab dengan nada 'tentu saja' yang membuat Taehyung tersenyum kecil. “Nanti kita akan punya anak berapa?” Tanyanya kemudian dan Taehyung nyaris tersedak. “Tiga boleh?”

Makanan yang baru saja ditelan Taehyung secara paksa bergolak kembali—menyodok tenggorokannya berusaha kembali ke rongga mulutnya bersama asam lambung yang mendidih. Dia berdeham keras, berusaha menelan kembali makanan yang membakar tenggorokannya dan memaksakan seulas senyuman yang terasa kaku dan asing di wajahnya.

“Terlalu dini,” katanya, nyaris menggigit lidahnya sendiri saat berusaha bicara. “Untuk membicarakan anak. Silakan kejar mimpimu, jadilah dokter sebelum kita memkirkan,” dia menggertakkan giginya. “Memikirkan...”

Ayolah, Taehyung! Dia menghela napas, mengabaikan sakit yang berdenyar di hatinya serta rasa muak yang bercokol di ulu hatinya, membakarnya dengan cara tidak masuk akal.

“Anak.” Katanya kemudian, nyaris menyemburkan kata itu karena dia sama sekali tidak tertarik pada konsep itu.

Namun dia harus memiliki anak. Devy menginginkan anak, ayahnya menginginkan anak, Puri membutuhkan penerus; maka Taehyung tidak punya pilihan lain. Dia harus melakukannya tidak peduli seberapa tidak nyamannya dia pada konsep bercinta dengan perempuan. Semua orang kecuali dirinya menginginkan anak itu, maka Taehyung akan melakukan apa yang semua orang inginkan; selalu begitu sejak dia beranjak dewasa.

Seharusnya dia sudah mulai terbiasa. Dia sudah melakukan ini bertahun-tahun, namun entah kenapa semakin hari semakin terasa berat—tidak pernah semakin ringan dan mudah. Taehyung mungkin harus berusaha lebih kuat lagi.

“Tidak apa-apa, kok!” Devy menyeka rambutnya, mulai meraih makanan penutupnya. “Aku ingin segera punya anak setelah menikah sebelum melanjutkan pendidikan. Anak lelaki, 'kan? Semuanya bisa diakali.”

Taehyung berusaha untuk tidak memasang wajah mual—bisakah dia menjadi ayah yang baik bagi mereka? Bisakah dia? Atau dia akan berakhir menjadi bajingan tua bangka yang tidak bisa mengurus anaknya sendiri seperti ayahnya? Mengorbankan anaknya untuk kejahatan yang dilakukannya seperti meletakkan Lakshmi pada kaum 'buangan', menanggung kesalahannya seumur hidup sebagai 'aib' yang berjalan? Memaksa anak lelakinya dewasa sebelum waktunya, memaksa anak itu mengorbankan kebahagiaannya demi kepentingan orang lain? Taehyung mual.

Dia tidak mau meletakkan siapa pun di posisinya sekarang, apalagi anaknya.

“Masih banyak waktu,” tukasnya, berusaha mengalihkan Devy dari pembicaraan tentang anak. “Kita pikirkan nanti.”

Saat dia mengemudi pulang setelah menurunkan Devy di rumah, Taehyung akhirnya tidak bisa menahan dirinya sendiri dan membiarkan kenangan tadi membanjir di kepalanya. Bagaimana Jeongguk nampak seolah sedang dipelintir ke arah yang salah, seolah seluruh tulangnya remuk—wajahnya berkerut dan nampak sangat kesakitan saat dia bertanya:

“Kau mencintaiku?”

Taehyung ingin menyerah pada perasaan itu, ingin merengkuhnya dan berharap perasaan itu bisa mengisi rongga di dadanya penuh-penuh. Berharap Jeongguk-lah sesuatu yang kurang dalam hidupnya, yang akan membuatnya utuh dan bahagia. Sempurna. Namun dibayangi kepentingan Puri, dibayangi ayahnya, dibayangi begitu banyak ketidakbahagiaan orang lain, begitu banyak risiko besar yang harus ditanggungnya sendirian....

Taehyung tidak bisa. Biarlah Jeongguk menganggapnya pengecut, menganggapnya payah karena tidak berani membuang segalanya demi Jeongguk; karena Taehyung memang tidak bisa. Cinta Jeongguk membuatnya takut; betapa hebat dan tulusnya pemuda itu demi dirinya membuatnya gelisah. Dia tidak bisa membalas perasaan itu sama hebatnya, sama tulusnya.

Dia punya begitu banyak kepala untuk dipikirkan, begitu banyak orang yang menunggunya melakukan apa yang mereka inginkan. Menarik temali yang menjeratnya, memaksanya menari sesuai musik yang mereka putar. Tiap Taehyung bergerak berlawanan dengan tali mereka, mereka murka dan menghukumnya dengan mengabaikannya. Memberikannya silent treatment, membuat Taehyung mempertanyakan emosinya sendiri.

Maka saat Taehyung tidak kunjung menjawab, Jeongguk menghela napas. Masih menatapnya dengan kasih dan cinta tulus yang membuat Taehyung merasa seperti baru saja dihajar. Jika saja, jika saja ada sedikit tempat di hidupnya untuk egois—maka dia akan menjejalkan cintanya untuk Jeongguk di sana. Seketika itu juga tanpa perlu berpikir lagi.

“Mari coba lakukan apa yang kauinginkan.” Katanya membuat Taehyung terpana. Dia baru saja menawarkan diri untuk menginjak Jeongguk, meremasnya dan mencekiknya hingga mati dengan kepengecutannya dalam dunia ini. Namun pemuda itu tetap dan selalu tetap mencintainya—selalu begitu sejak dulu.

“Aku tidak akan melakukan apa pun pada Mirah karena aku memang tidak tertarik sama sekali padanya.” Dia meraih tangan Taehyung, meremasnya hangat. “Aku milikmu; hati, tubuh, pikiranku. Semuanya milikmu. Genggam aku dalam tanganmu; remuk atau utuh, semua ada di tanganmu.

“Aku tahu kau sedang takut, aku tahu kau sedang kebingungan. Maka mari berpikir, mari selesaikan bersama. Akan kubantu menguraikan semuanya pelan-pelan; jangan menghukum dirimu sendiri atas ini karena ini pilihanku.

“Aku memilih ini. Memilih bertahan jatuh cinta padamu ketika aku punya pilihan lain yang nampak jauh lebih masuk akal,” dia tersenyum getir, sudut bibirnya gemetar dan Taehyung menyentuhnya lembut.

Jeongguk meraih tangannya, mencium pergelangan tangannya dengan lembut—menghirup aroma Taehyung seperti menghirup inhaler. “Aku memilih gila bersamamu, memilih terjun dalam gilanya perasaanmu; gilanya hidupmu. Aku memilih untuk berada di sini, maka jangan.

“Jangan pernah berpikir ini semua salahmu. Aku bisa pergi dari sini sekarang, meninggalkanmu. Namun aku memilih untuk tinggal bersamamu karena aku tahu, kau membutuhkanku.”

Dia membuka matanya, menatap Taehyung yang hatinya baru saja compang-camping oleh tikaman belati panas bergerigi. Berkali-kali hingga hatinya koyak karena ketulusan Jeongguk.

“Kau harus berani, suatu hari nanti, untuk memilih bahagia, Wigung.”

Lalu menambahkan sebelum mereka pergi dengan wajah terluka yang menyayat hati Taehyung. “Semoga kau menyadari,” katanya dengan tangan Taehyung dalam genggamannya, telapak tangan menghadap ke atas. “Betapa pentingnya benda yang berada dalam genggamanmu.”

Dia kemudian menutup jemari Taehyung, seolah meletakkan sesuatu di sana yang langsung membuat tangan Taehyung terasa berat dan berdenyut. Jeongguk meletakkan hatinya di sana, mengizinkan Taehyung menghancurkannya kapan pun dia mau dan Taehyung tidak juga memiliki keberanian untuk menyerah pada segalanya.

Untuk memilih bahagia.

Ban mobil menggelinding ke pinggir, Taehyung membiarkan mobilnya berhenti di badan jalan yang lumayan sepi dengan penerangan minim dan melepaskan tangannya dari roda kemudi. Hatinya sesak saat dia membiarkan mobil berhenti, dia membuka tangan kanannya—mencoba mengecek apakah hati Jeongguk berdenyut di sana dan apakah dia belum meremukkannya dalam genggamannya.

Dia menyandarkan kepalanya ke roda kemudi, bernapas dengan mulutnya saat tangis mengguncang tubuhnya. Taehyung terisak di dalam mobil yang berheti di pinggir jalan, berusaha mengenyahkan sakit yang berdenyut hebat di dalam hatinya sekarang. Berusaha melawan rasa kosong dan hampa yang menyiksanya; seolah sebuah organ baru saja dicabut dari sana dan tidak ada satu pun organ lain yang bisa menggantikannya.

Organ yang berdenyut atas dan untuk Jeongguk.

Organ yang selama beberapa hari ini melonjak ceria, berdesir tiap kali Jeongguk berada di sekitarnya. Organ yang meniupkan rasa bahagia aneh yang memabukkan—perasaan asing yang membuatnya kecanduan. Mungkin Taehyung sudah memanfaatkan Jeongguk demi dirinya sendiri; meraih pemuda itu ke dalam pelukannya walaupun dia tahu dia tidak bisa memberikan apa pun untuknya.

Dia seharusnya tidak meminum vodkanya hari itu. Dia seharusnya tidak mengizinkan Jeongguk memasuki kehidupannya—mereka seharusnya tetap di jalan mereka masing-masing.

Sekarang benang mereka kusut, saling membelit dan mustahil untuk diuraikan kecuali dengan gunting besar yang memutus semuanya. Taehyung harus mengguntingnya—harus memutuskan hubungannya dengan Jeongguk sebelum semuanya terlambat.

Tapi dia jatuh cinta pada pemuda itu—cinta yang tidak seharusnya bersemi, cinta yang bagi semua orang di hidupnya adalah kesalahan. Dosa. Aib. Kegagalan. Tidak normal.

Adilkah jika cinta yang Tuhan sendiri hadirkan merupakan dosa bagi umatnya?

Taehyung tidak tahu apa pun di dunia ini, menyerah berusaha memahaminya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, peran apa yang harus dilakoninya sebagai Tjokorda Lanang Agung Taehyung Mahatma. Dia tidak tahu naskahnya, dia tidak tahu alur ceritanya; dia dijebloskan ke panggung pertunjukkan tanpa persiapan dan dipaksa untuk melakukan yang terbaik.

“Aku akan tetap di sini,” bisik Jeongguk lagi—mendengung di kepalanya seperti seekor lebah yang marah sementara mulutnya terbuka dengan isakan tanpa suara yang memilukan lolos dari sana.

“Selalu di sini untukmu, kapan pun kau berubah pikiran. Aku akan menyambutmu. Karena aku tidak akan pernah mencintai lagi, tidak sehebat cinta ini untukmu.”

Taehyung meledak dalam tangisan tanpa suara yang semakin memilukan, menghisap semua udara dari paru-parunya dan membuat tubuhnya mengerut oleh rasa ngilu. Dia membenturkan keningnya di roda kemudi; sekali, dua kali.... Berkali-kali hingga keningnya nyeri namun tidak ada yang bisa mengubah rasa sakit yang bercokol di hatinya.

Tidak ada sakit yang bisa mengalihkan sarafnya dari rasa panas terbakar yang membakar titik di belakang jantung dan paru-parunya. Membakar tenggorokkannya. Taehyung mencubit pahanya, sekuat mungkin berusaha mengalahkan rasa sakit itu namun dia mati rasa—seluruh tubuhnya kebas. Sakit itulah satu-satunya rasa yang berdenyut sekarang. Membuatnya sesak, membuatnya sinting.

Taehyung ingin membuang segalanya. Ingin mengulang kehidupannya, ingin terlahir kembali menjadi orang lain. Ingin membebaskan diri dari perasaan terjebak dan tersesat ini; Taehyung ingin bebas. Dia ingin melepaskan diri. Dia ingin lari, menjauh dari semua orang yang terus menerus mendesaknya melakukan apa yang mereka inginkan—memaksa Taehyung bertanggung jawab atas emosi mereka.

Melemparkan kekecewaan mereka pada Taehyung, memaksanya melakukan sesuatu agar mereka tidak lagi kecewa padanya. Menyetirnya, merampas kehidupan yang tidak pernah jadi miliknya. Dia tidak ingin melibatkan Jeongguk, dia ingin pemuda itu pergi darinya—melangkah menjauh dari benda rusak seperti Taehyung.

Namun Jeongguk bertahan. Entah hatinya terbuat dari apa hingga tidak juga lelah meladeni Taehyung yang lelah dengan dirinya sendiri.

Dia memukul dadanya, berkali-kali berusaha mengenyahkan sakit yang berdenyut di sana. Berusaha mengalihkan otaknya dari kesakitan itu, memaksanya untuk melanjutkan hidup. Namun tidak ada yang terjadi.

Lubang besar itu terus menganga, berdarah dan berdenyut nyeri. Tidak peduli sehebat apa Taehyung berusah membebatnya, berusaha menutupnya; darah terus mengalir dari sana—melahapnya hidup-hidup. Membunuh Taehyung perlahan, menghabisi hidupnya.

Jika saja ada satu jalan keluar dari semua ini, satu jalan yang membuat Taehyung melepaskan semua tanggung jawabnya dan menjadi bukan siapa-siapa, dia akan melakukannya.

Dia akan melakukannya.


Author's note.

Tidak peduli seberapa bencinya kalian pada karakter Taehyung, saya senang masih ada orang sehebat Wiktu yang masih mau mencoba memahami seseorang dengan beban mental sehebat Wigung alih-alih mengambil cara mudah dengan meninggalkan. Bertahan itu sulit, maka hanya bisa dilakukan oleh orang-orang hebat.

Tapi karena polling yang menang adalah dia pergi, maka be ready. He won't be around for a long time from now.

ire, x