Gourmet Meal 290
Part 1 tw // suicidal thoughts .
cw // dom Taehyung & keluarga pinus as cameo
ps. dom =/= top. oke, anak-anak? :“) dom itu sifat, mendominasi. top itu posisi seks. jadi dominant bottom berarti dalam hubungan seks dia di bawah, tapi dalam dinamis emosi dia mendominasi hubungan. begitu pula sebaliknya pada submissive-top, atau dominant top dan submissive bottom. *top dan bottom tidak menentukan sifat seseorang.* pss. aku warn krna di sini sifat dingin taehyung bisa jadi buat beberapa orang sangat dominan jadi yawda mending warning daripada daripada.
Jeongguk tegang.
Dia kesulitan berkonsentrasi sepanjang hari Senin yang lumayan sibuk karena mereka kedatangan 5 honeymoon couple jadi dia harus menyiapkan welcome cake dan private dinner di lima titik berbeda. Syukurlah Namjoon berhasil menyamai kecepatannya dan tidak membuat mereka terlalu keteteran. Berkali-kali otaknya terpeleset, memikirkan apa yang harus dibicarakannya dengan Taehyung setelah selama beberapa waktu tidak saling kontak sama sekali.
Terakhir kali dia melihat Taehyung, pemuda itu kusut masai karena demam dan kelelahan serta kurang tidur. Bukan kondisi terbaiknya tapi Jeongguk tidak masalah. Teringat wajahnya yang merah padam serta jejak air mata di pipinya saat Jeongguk bangkit—tidak lagi bisa melakukan apa pun demi mengubah keputusannya dan beranjak pulang.
Siapa sangka hidup kemudian terjungkal begitu ekstrim menuruni lembah yang berbatu setelahnya hingga mereka berakhir seperti ini.
Jeongguk dengan pertunangan di depan mata dan Taehyung yang nampaknya sudah sangat menerima perjodohannya. Dia tidak bisa mengenyahkan bayangan foto yang dikirim Taehyung ke grup hari itu. Jantungnya seketika mencelos dan menarik napas tajam di tengah makan siangnya dengan Mirah dan Yugyeom; mengundang pertanyaan yang berhasil dihindarinya.
Serta bagaimana Jeongguk dengan kekanakan kemudian mengambil foto Mirah dan balas mengirimkannya seolah berkata, 'Kau bahagia? Keren. Lihat, aku juga.'
Bukan taktik yang bagus, tapi tidak masalah. Egoisme Jeongguk dipuaskan dengan tingkah itu. Dia mendorong piring ke anak servis yang menerimanya—itu piring terakhir sebelum Pastry mengambil alih mempersiapkan makanan penutup. Jeongguk mengelap tangannya, meraih pensil yang diselipkan di telinga kanannya dan mencoret nota terakhir sebelum menyerahkannya kepada FB Captain untuk dicocokkan dengan sistem.
Jeongguk melirik jam, sudah pukul enam sore. Tidak yakin apakah Taehyung sudah menunggunya saat dia membubarkan anak-anak dan beranjak ke loker untuk membersihkan dirinya. Terlepas dari ketegangan karena akan bersama Taehyung dalam satu mobil untuk pertama kalinya, dia juga ingin menanyakan restoran baru Arsa. Berpikir pasti menyenangkan jika memiliki restoran; mengepalai dapur sendiri dan tidak terikat atau tunduk pada siapa pun. Cukupkah pengalaman dan kemampuan Jeongguk untuk melakukan itu?
Dia menarik lepas kaus dalamnya di dalam bilik mandi, menyalakan shower dan mengatur air panasnya. Karena Taehyung memblokir nomornya, Jeongguk tidak merasa bersalah jika dia membuat Taehyung menunggu. Salah siapa? Dia melangkah ke bawah kucuran air dan membiarkan air hangat membasuh dirinya; air meleleh di tubuhnya, meluncur di atas otot-ototnya yang agak kencang karena ketegangan servis.
Dia mengusap sabun ke atas tubuhnya, berusaha memijat ototnya agar rileks. Jeongguk mengusap wajahnya yang dipenuhi lelehan air, menatap pantulan samar wajahnya di dinding kamar mandi yang dilapisi keramik putih. Dia tegang sekali; tidak yakin pada mengendalian dirinya sendiri jika Taehyung ada di sekitarnya. Tidak yakin apa yang harus dikatakannya pada Taehyung sekarang; apakah dia bahagia? Sungguh-sungguh bahagia dengan kehidupannya sekarang?
Karena jika dia bahagia....
Jeongguk mengenakan pakaiannya, mengeringkan rambutnya dengan hair-dryer karyawan sebelum mengenakan kemeja denimnya. Mengancingkannya sebelum menyelipkan kedua kakinya ke dalam pipa celana jinsnya dan menarik ritsletingnya. Dia menyugar rambutnya, membiarkannya tergerai hingga punggungnya kemudian meraih tasnya yang terisi pakaian kotor dan melangkah keluar.
Dia berpamitan pada Security yang berjaga di pos karyawan lalu memanjat keluar ke tempat parkir. Matanya memicing, mencoba mencari mobil Taehyung namun tidak sanggup mencapai pos Security pintu masuk. Maka dia bergegas melangkah ke sana, sedikit berlari karena tersengat rasa bersalah karena terlambat. Semakin mendekat, dia melihat Jeep Hard Top terparkir di dekat sana—jelas tidak diperkenankan masuk karena dia bukan tamu hotel dan juga bukan karyawan.
Jeongguk menghela napas. Ini dia.
Karena jika Taehyung bahagia, maka dia siap melepaskan lelaki itu. Melepaskannya bahagia dengan siapa pun pilihannya sementara Jeongguk melanjutkan kehidupannya sendiri—menyimpan semua kenangan mereka sebagai permata dalam hidupnya, ingatan yang akan selalu dikunjunginya tiap kali dia merindukan Taehyung.
Dalam hidup, tidak semua hal berjalan seperti rencana. Jeongguk paham itu.
Dia berlari kecil ke mobil Taehyung, menyapa Security yang melambai ramah sebelum dia tiba di sisi penumpang. Dia berusaha menatap ke dalam, melewati kaca gelap namun tidak berhasil melakukannya. Jeongguk meraih gagang pintu dan menariknya terbuka. Menjejak di pedal bantuan, Jeongguk mendorong dirinya ke atas.
Memanjat naik persis saat lampu kabin menyala dan dia langsung berhadapan dengan mimpi indahnya; Taehyung.
Pemuda itu duduk di balik kemudi, nampak jauh lebih dingin dan misterius daripada terakhir kali Jeongguk bertemu dengannya. Wajahnya keras, kedua tangannya berada di roda kemudi—buku jemarinya memutih karena mencengkeram terlalu kuat. Hati Jeongguk sedikit lega, jantungnya berdetak lebih lembut; setidaknya dia tidak sedirian merasakan ketegangan aneh ini. Selebihnya dia nampak sehat dan segar.
Lalu dia menyadari hal lain.
“Oh,” katanya persis sebelum duduk di kursinya—matanya terpaku pada rambut Taehyung yang mengencangkan rahangnya. “Rambutmu....?” Bisiknya lirih, tangannya terulur sedikit hendak menyentuhnya namun Taehyung merespons gerakan itu dengan berjengit menjauh sehingga Jeongguk menarik tangannya kembali.
“Maaf.” Gumamnya, mengerjap—kebingungan berusaha memproses segalanya.
Mobil itu tetap beraroma pekat seperti Taehyung—parfumnya yang beraroma lembut dan juga selapis keringatnya yang khas. Jeongguk pernah terbangun dalam kungkungan aroma itu selama dua hari magis mereka. Dia tidak yakin pusing di kepalanya disebabkan kurang karbohidrat, kurang tidur, aroma tubuh Taehyung yang sangat dirindukannya atau fakta bahwa pemuda itu mengubah drastis penampilannya.
Mungkin kombinasi mematikan dari semuanya, Jeongguk tidak lagi paham.
“Tolong tutup pintunya dan kenakan sabuk pengaman.” Kata Taehyung dingin kemudian, tidak menoleh sama sekali dengan rahang kencang.
Jeongguk bergegas melakukannya, dia mengaitkan sabuk pengamannya sebelum Taehyung menyalakan mesin mobilnya. Dia membanting pintu tertutup dan lampu kabin otomatis mati. Sekarang dia hanya bisa melihat siluet Taehyung di balik kemudi. Matanya tidak bisa berhenti mengamati rambut Taehyung yang sekarang dicukur rapi—bagian bawahnya dipangkas tipis, dia nyaris nampak seperti manusia baru.
“Apakah...,” Jeongguk bicara dalam keheningan saat mobil meluncur menuruni jalan masuk Amankila untuk bergabung ke dalam lalu lintas menuju Ubud. Dia menghela napas, sejenak tidak yakin untuk menanyakan ini namun dia tidak bisa menahan diri.
“Apakah dia memintamu memotong rambut?”
Jeongguk tidak bisa bohong dia sangat menyukai rambut Taehyung—lembut dan harum, pemuda itu mengurusnya dengan baik. Dia suka menyelipkan jemarinya ke sana, menyisirnya lembut dan menjalinnya. Jeongguk suka membantunya menyisir rambut Taehyung yang kusut sehabis keramas, suka melihat bagaimana Taehyung menggelung rambutnya, nampak sangat eksotis dan mendebarkan—dia mencintai rambut Taehyung. Terasa seperti jati diri Taehyung dihapuskan saat dia memotongnya—membuatnya nampak jauh lebih berjarak, jauh lebih angkuh dan dingin sekarang.
Nyaris tidak.... manusiawi.
Dan mereka berdua tahu jelas siapa dia yang Jeongguk maksud.
“Tidak ada yang memaksaku memotong rambut.” Sahut Taehyung, setengah membentak dari sela geliginya yang terkatup. Wajahnya terganggu, bahkan dalam keremangan mobil sekalipun Jeongguk bisa melihatnya.
Jeongguk mundur seketika, menyadari perubahan emosi ekstrim Taehyung yang anehnya, dirindukannya. “Baiklah.” Katanya kemudian menyandarkan dirinya ke kursi, menatap ke luar jendela—berusaha untuk tidak melirik ke profil Taehyung di sisinya yang mengemudi dengan sedikit terlalu cepat dari biasanya.
Dia bisa merasakan kemarahan Taehyung dari caranya memutar roda kemudi, ajaib bagaimana dia masih bisa memahami hal-hal kecil semacam ini setelah sekian lama. Namun Jeongguk tidak berkometar, rambut Taehyung yang dipangkas rapi sudah cukup membuatnya syok sekarang.
Berada di dalam mobil bersama Taehyung ternyata tidak semenegangkan apa yang dibayangkan Jeongguk sejak tadi karena setelah lima menit, dia mulai rileks dengan keheningan mereka. Taehyung fokus mengemudi dan Jeongguk berusaha mengamati jalanan yang mulai gelap—mencari hal menarik untuk dipandangi selain Taehyung dan rambut barunya di balik kemudi.
Perjalanan menuju Ubud terasa seperti berabad-abad. Saat mereka meluncur ke arah Campuhan, Jeongguk tidak bisa tidak teringat perjalanan terakhir mereka ke sana sebagai teman. Sebelum segalanya berubah drastis, bagaimana Taehyung nampak jengkel sebelum kemudian berbinar seperti anak kecil saat memasuki dapur Le Paradis.
Jeongguk akan memberikan apa saja demi melihat ekspresi itu lagi.
Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakan Jeongguk sekarang, termasuk apakah dia bahagia—benar-benar bahagia karena itu sangat penting bagi Jeongguk. Namun lidahnya kelu, bibirnya tidak sanggup membuka karena dia sungguh tidak ingin merusaka keheningan nyaman di antara mereka. Taehyung sama sekali tidak berusaha mencairkan suasana, nyaris seperti pengemudi taksi yang mengantar pelanggan.
Jeongguk pernah menaiki taksi dengan supir yang jauh lebih ramah dari ini.
Dia ingin menanyakan kabar Lakshmi, ingin menanyakan pekerjaannya, ingin menanyakan kenapa dia memotong rambutnya jika memang Devy tidak memaksanya melakukannya. Banyak sekali hal yang ingin ditanyakannya namun dia sungguh tidak berani—apalagi setelah Taehyung menyalak padanya karena pertanyaan rambut tadi.
Dia sungguh tidak ingin merusak malam ini.
“Maaf merepotkanmu.” Katanya akhirnya saat mereka mendekat ke jalan masuk Le Paradis yang menyala dengan lampu-lampu mungil keemasan, berpendar seperti bintang-bintang mungil.
“Tidak masalah.” Sahut Taehyung seketika, memasang sein dan memutar kemudi hingga mobil bergerak membelok ke jalan masuk Le Paradis yang terang—lembah Campuhan di kejauhan nampak gelap dan berdesir oleh angin malam udara Ubud yang agak dingin.
Jeongguk menunggu, berharap Taehyung bertanya tentang kondisinya namun chef senior itu tetap mengemudi menyusuri jalan setapak Le Paradis hingga pintu depannya yang terbuka nampak. Ada banyak motor di tempat parkirnya dan beberapa mobil. Di dalam nampak ada pesta yang lumayan ramai dengan anak-anak muda yang mengenakan kaus seragam UFF 2021, salah satu pintu gandanya terbuka—Raditya berdiri di sisi pintu dengan senyuman ramah di bibirnya bersama Kinan yang menunduk ke komputer restoran, layar memantul di lensa kacamatanya.
Mereka bersidiam saat Taehyung memarkir mobilnya. Dia menarik rem tangannya lalu melepas sabuk pengamannya—mencabut kunci dan bergegas turun. Tanpa mengatakan apa pun, melompat ke tanah sehingga Jeongguk menghela napas dan bergegas menyusulnya. Taehyung bisa merajuk seperti anak kecil tulen jika dia mau dan dia akan sangat diam.
Jeongguk merindukan roller-coaster emosi ini, sungguh sangat merindukannya.
Dia mendarat di tanah saat Taehyung mengunci mobilnya persis setelah Jeongguk membanting pintu menutup. Mereka melangkah ke cahaya dan Raditya langsung menyadari kehadiran mereka.
“Oh, halo, Chef!” Sapanya ramah, senyumannya merebak dan langsung menular. “Silakan, sudah ditunggu.” Dia mempersilakan keduanya masuk ke dalam restoran yang ramai.
Musik mendayu-dayu diputar dalam volume yang nyaman sementara di show kitchen ada Arsa dan Felix dalam balutan seragam dan apron, ditemani dua sous chef Le Paradis sedang memasak sesuatu yang berasap serta beraroma pekat saus teriyaki. Beberapa anak-anak panitia sedang berkerumun di sekitar mereka, menyaksikan antraksi itu sambil mengabadikannya dengan kamera—beberapa kali mendesah kagum pada kecepatan dan ketepatan duet Arsa-Felix dibantu dua sous chef berpengalaman.
Jeongguk menerima minuman yang disodorkan oleh Raditya dan Taehyung menerima gelasnya sendiri. Jeongguk mengangguk dan mengedikkan gelasnya pada Kinan yang balas mengangguk ramah—nampak licin dan rapi seperti biasa dalam balutan turtleneck yang mencetak tubuhnya.
Jeongguk langsung kehilangan Taehyung yang meluncur ke show kitchen tanpa berpamitan, mendekat ke Arsa yang sedang menyelipkan pensil ke telinga kanannya. Rambutnya diikat tinggi, membentuk bun rapi yang nampak menyakiti kulit kepalanya sementara di sisinya Felix bekerja dengan jauh lebih tenang dengan penutup kepala dengan sous chef senior Le Paradis. Arsa mendongak dari pekerjaannya yang langsung didorongnya ke sous chef junior mudanya yang menerima sauce pan itu dengan cekatan, nyaris tanpa menyia-nyiakan satu detik pun.
Dia dan Taehyung bicara sebentar sebelum Arsa tertawa parau dan keluar dari dapurnya. Taehyung mengeluarkan buku kecil dari saku celananya dan mulai membukanya sehingga Jeongguk teringat resep yang hendak dibicarakan Taehyung dengan Arsa. Jeongguk mengalihkan pandangan, menatap ruangan Le Paradis yang didominasi warna perak, hitam, dan biru gelap yang megah. Jendela-jendelanya berkilauan, lampu kristal di langit-langit membiaskan pelangi ke seluruh ruangan.
Buffet makanan dibuka, tersaji di meja panjang bersama cemilan-cemilan, fruit punch, canape serta cake-cake mungil yang disusun membentuk menara di sisi menara tinggi vanilla profiteroles. Jamuan makan malam yang sangat mewah, jika Jeongguk boleh berkomentar. Lengkap dengan dekorasi minimalis, lilin-lilin aromaterapi dan standing bouquet cala lily yang beraroma lembut.
Jeongguk melangkah ke sana dan meraih sepotong kue, menjejalkan ke mulutnya dan mendesah saat kuenya yang lembut melumer ke mulutnya.
Inilah mengapa dia tadi ingin mengajak Mirah. Setidaknya dia memiliki seseorang untuk diajak mengobrol dan membiarkan gadis itu mencicipi makanan restoran bintang Michelin untuk pertama kalinya. Namun menilai dari sikap Taehyung, sepertinya dia benar dengan tidak membawa gadis itu. Dia nyaris kasar selama perjalanan tadi dan orang yang tidak mengenal Taehyung dengan baik pasti akan langsung tersinggung.
Mirah terlalu lembut untuk menghadapi emosi Taehyung yang setajam pedang bermata dua. Dia mengamati Taehyung berdiskusi dengan Arsa yang mendengarkan dengan serius dalam balutan seragam Le Paradis-nya yang bernoda. Semua orang menikmati pesta itu—tertawa, mengobrol, makan. Berbahagia.
Sementara Jeongguk berdiri di sana, merasa sepenuhnya kosong. Dia menatap sampanye di tangannya, mengamati gelembungnya yang meletup-letup sebelum membawanya ke mulutnya dan menyesapnya perlahan. Sejak kapan dia tidak memiliki teman? Apakah dia memang semenyedihkan ini? Dia menyadari tanpa Felix, Arsa atau Taehyung, dia merasa sendirian.
Dia meraih sepotong kue lagi dan menyuapnya, mengunyahnya hanya agar memiliki kegiatan selain nampak menyedihkan di sudut ruangan saat Kinan menghampirinya. Dia beraroma semerbak—campuran antara mawar, bakung hutan, sedikit melati dan eukaliptus: nyaris membuat kepala Jeongguk pening. Bagaimana dia selalu nampak rapi, harum, dan necis selalu membuatnya geli karena pasangannya praktis adalah manusia paling urakan yang pernah Jeongguk temui.
“Tidak begitu caranya menikmati pesta, Gung.” Komentar Kinan, tiba di sisinya dan meraih piring untuk makan, sedikit geli. “Makanlah sesuatu, pergi mengobrol. Ganggu Felix bekerja, mudah kok.” Dia menyendok daging dan sayuran dari chafing dish di atas meja.
Jeongguk tertawa kecil, “Tidak sedang terlalu ingin mengobrol dengan orang-orang.” Katanya kemudian, menyadari bahwa itu benar. Selama ini, sejak mengakhiri hubungannya dengan Taehyung, dia nyaris tidak pernah bicara dengan siapa pun selain Yugyeom dan Mirah.
Bahkan saat bertemu keluarga pun, Jeongguk lebih banyak diam, mendengarkan dan tersenyum. Membiarkan Mirah atau Yugyeom berbicara untuknya karena dia sungguh tidak memiliki energi untuk bicara. Percakapan personal dan basa-basi membuatnya lelah dengan cepat, menghisap habis energinya. Sejenak dia bersyukur Mirah tidak seperti gadis-gadis yang dahulu dikencaninya, tidak rewel tentang pasangan mereka atau merengek diantar ke sana ke mari. Dia bahkan memasakkan makanan untuk Jeongguk alih-alih memintanya memasak.
Benar kata Taehyung, mudah mencintai Mirah. Sangat mudah karena dia secara harfiah segala hal yang diinginkan lelaki dalam diri perempuan; mandiri, kuat, cantik, sopan, dan sangat menghormati pasangannya. Dia juga pintar menempatkan diri, pembawaannya sangat ningrat dan berpendidikan.
Lalu kenapa hatinya tidak bisa mencintai Mirah?
“Duh.” Suara Kinan menyadarkannya dan dia bergegas menyesap minumannya agar tidak tertangkap basah sedang melamun, tapi terlambat—Kinan menangkap segalanya. “Jangan menerawang begitu. Kau membuatku takut.” Kinan menambahkan tawa lirih sebelum menyuap makanannya, berdiri di sisinya—aroma parfumnya lama-kelamaan membuat Jeongguk rileks.
Dia kemudian diam sebelum menghela napas, “You seem... troubled.” Katanya dan Jeongguk menatap gelasnya, apakah dia memang nampak sangat menyedihkan?
“Ya?” Tanyanya, tersenyum lemah. Sejenak berpikir bagaimana rasanya bisa merengkuh seseorang yang dicintainya dengan sebebas apa yang dilakukan Kinan dan Arsa? Mereka bahkan tidak segan untuk berciuman di hadapan semua orang—sama sekali tidak peduli pendapat orang-orang.
Rasa iri benar-benar mencekiknya sekarang dan jutaan 'bagaimana jika' yang akan selamanya tetap menjadi bagaimana jika.
Kinan mengedikkan bahunya, tersenyum ramah. “Aku tidak terlalu kenal dengan teman-teman pasanganku.” Dia menyendok makanannya, sendok berdenting dengan piringnya sebelum dia menyuapnya dan mengunyah perlahan. Kemudian melanjutkan, “Tapi aku tahu beberapa orang. Kau nampak berbeda dari kali terakhir aku bertemu denganmu di UFF.”
Jeongguk tersenyum separo, mengangkat wajahnya dari gelasnya dan menatap Felix yang baru saja menyelesaikan sesinya. Dia menepuk bahu sous chef muda Le Paradis yang nampak bersinar sebelum mereka bertiga mundur dari show kitchen dan bergabung dengan pesta.
“Kau nampak sakit dan kelelahan.” Kinan melanjutkan. Tidak terlalu sopan, Jeongguk menyadari namun dia tidak masalah. Dia lebih suka pembicaraan blakblakan daripada nada manis palsu menanyakan kabarnya. “Makanlah sesuatu. Ayo.”
“Gung.” Sapa suara berat dan dia menoleh, menemukan Felix melepas penutup kepalanya dan membiarkan rambutnya meluruh. Wajah Felix berubah saat menatap ekspresinya. “Man, apa yang terjadi padamu?”
Kinan mengedikkan sendok makannya pada Felix yang masih menunduk menatap Jeongguk, “Kubilang juga apa.” Katanya sebelum kembali makan. “Dia nampak mengerikan. Setidaknya kehilangan 5 kilogram.” Kinan melirik tubuhnya sekilas. “Dan berjam-jam tidur nyenyak.”
Dia lalu tersenyum lebar saat Jeongguk menoleh padanya—hendak bertanya bagaimana bisa dia menyadarinya hanya dengan sekali lihat ketika Kinan menambahkan, “Aku pernah melihat yang jauh lebih mengerikan. Tenang saja.” Dia menyuap makanannya kembali.
Felix mengerutkan alisnya, menunduk menatap Jeongguk yang mendesah—merasa seolah keduanya baru saja bersikap seperti kedua orang tuanya. Selapis keringat berkilauan di kening Felix, wajahnya merah padam oleh adrenalin setelah servis. Wajahnya nampak cemas dan Jeongguk merasa bersalah karena membuat seniornya khawatir dengan keadaan dirinya—tidak ada yang tahu riwayat UGD-nya selain keluarganya dan Mirah. Maka semua orang, termasuk orang-orang Amankila menganggapnya sehat.
“Kau punya masalah dengan Taehyung.” Katanya kemudian, tepat sasaran hingga Jeongguk menghela napas. Kinan mendongak dari kesibukannya memisahkan wortel dari makanannya, menatap Felix dan Jeongguk bergantian.
“Sungguh,” katanya kemudian—merasa lidahnya kelu dan tidak mengenali suaranya sendiri. “Tolong berhenti melakukannya. Aku tidak nyaman.” Dia tersenyum, merasakan senyuman itu tidak menyentuh bagian mana pun dari tubuhnya—tidak matanya, tidak hatinya.
Kinan melirik Felix sebelum berdeham kikuk, menyadari pembicaraan mereka mulai personal dan pamit dari sana untuk menghampiri pasangannya yang sedang berdiskusi dengan Taehyung—nampak serius mencoret-coret sesuatu di buku Taehyung. Felix bertahan di sisinya, gestur tubuhnya masih cemas dan Jeongguk nyaris tidak nyaman dengan emosi itu sekarang. Dia mengulurkan tangan melewati Jeongguk, meraih segelas fruit punch dan meneguknya, menandaskan isinya dalam satu tegukan karena kelelahan.
“Makanlah sesuatu.” Katanya kemudian, jauh lebih lembut dan Jeongguk berdeham—sejenak teringat hari saat dia masih menjadi bawahan Felix, selalu menganggap pemuda itu adalah kakaknya karena dia sangat perhatian dan mendidik Jeongguk dengan sangat baik.
Teringat hari-hari mereka berdiskusi tentang resep, saat mereka berhasil menyelesaikan servis paling mengerikan dalam sejarah karir Jeongguk di Amankila dan Felix mentraktirnya makan malam—memuji kinerjanya hingga Jeongguk sangat bangga karenanya.
Serta hari Felix mengenalkannya pada Taehyung. Hari yang menandai segala kehancuran dan hidupnya yang jungkir balik.
Maka Jeongguk meraih piring dan mulai menjejali mulutnya dengan makanan, merasa sedikit hangat dan nyaman dengan Felix di sisinya—mengajaknya mengobrol apa saja selain Taehyung, mengalihkan kepalanya yang lelah. Felix tidak terlalu banyak bicara, namun saat dia mau—dia bisa jadi sangat menenangkan. Jeongguk tahu Felix menyayanginya, dia selalu membanggakan Jeongguk karena berhasil mengisi posisi kepala di dapur setelah dia meninggalkan tempat itu.
Perasaannya jauh lebih baik beberapa saat kemudian, makan masakan Le Paradis yang terasa surgawi seperti namanya—bumbunya sempurna, teksturnya luar biasa, dan dibumbui dengan eksotis serta mengobrol dengan Felix tentang hal-hal remeh yang tidak membuatnya berpikir. Jeongguk merasa sangat jauh lebih baik lagi saat Felix menepuk bahunya hangat, memintanya menghubunginya kapan saja dia membutuhkan bantuan.
Namun ekspresinya saat menerima undangan pertunangan Jeongguk membuat perutnya melilit—Felix tahu sesuatu, dia yakin. Namun dia menjejalkan undangan itu ke tangannya, berusaha mengulaskan senyuman terbaiknya—berusaha meyakinkan salah satu dari dua senior yang dianggapnya kakak bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia menginginkan ini.
“Dia gadis manis,” katanya kering, tersenyum lebar. Berusaha membuat dirinya terdengar bersemangat tentang pertunangannya sendiri; the engagement of the year. “Jika saja dia tidak sibuk, aku hendak memperkenalkannya padamu hari ini.”
Felix menatap undangannya, mengerjap—kebingungan nampak jelas di wajahnya sebelum dia mengangguk. Dia menatap Jeongguk, persis ke matanya. “Hanya jika kau yakin.” Katanya, menyelipkan undangan itu ke saku belakang celana seragamnya.
Jeongguk menelan ludah dengan sulit. “Aku yakin.” Katanya walaupun hatinya sama sekali tidak yakin—mau bagaimana lagi? Dia melakukan ini karena dia harus melakukannya. Dia tidak punya pilihan lagi jika Taehyung sudah tidak mau menerimanya—dia hanya menginginkan Taehyung, tidak ada orang lain lagi.
Jika Taehyung tidak menginginkannya maka keluarganya bebas melakukan apa saja pada tubuh Jeongguk karena dia tidak membutuhkannya tanpa Taehyung.
Felix kembali menatapnya, hening sejenak sebelum mendesah. “Baiklah.” Katanya dan Jeongguk bersyukur dia tidak mengatakan apa pun lagi setelahnya karena jika dia melakukannya, Jeongguk akan remuk sekali lagi.
Dia sungguh tidak ingin menghabiskan waktu di UGD, apalagi Yugyeom sedang di Nusa Dua.
Arsa mengakhiri acara malam itu dengan membagikan sebotol wine ke semua orang, mengangkat gelas ke udara dan melakukan toast ke udara sebelum menyesapnya. Semua orang bersorak, bergembira menikmati pesta mereka—makanan, cemilan, minuman. Segala hal yang berputar di sekitar Jeongguk begitu mendebarkan, semangat dan adrenalin. Namun dia kosong, lelah, dan hanya ingin meringkuk di ranjangnya.
Dia memijat pelipisnya, mendudukkan diri di salah satu kursi yang dipinggirkan demi memberi ruang standing party mereka. Jeongguk duduk di sana, sudut matanya menangkap Taehyung yang sedang bicara dengan Arsa—keduanya menempel sejak awal acara. Arsa sedang mendengarkannya bicara dengan alis berkerut serius. Jeongguk mengedikkan bahu, mereka pasti membicarakan resep.
Dia meraih ponselnya, merasa ingin pulang dan mengecek apakah Mirah bisa menjemputnya ke Ubud sekarang dan meminjam mobil gadis itu untuk pulang ke Karangasem karena dia tidak ingin mengganggu waktu Taehyung menikmati pestanya. Jeongguk baru mengetik pesan dengan status obrolan Mirah 'daring' saat aroma parfum Taehyung menghambur ke indra penciumannya.
Jeongguk mendongak dan bertemu pandang dengan Taehyung.
Hal ini tidak sehat, sama sekali tidak. Bagaimana tatapan itu selalu melemahkan Jeongguk, dia ingin memeluk Taehyung—demi Tuhan dia sangat merindukannya. Dia ingin kembali ke masa-masa di mana mereka tersambung dalam telepon malam, tertawa bersama—berbisik-bisik karena tidak ingin membangunkan siapa pun. Pesan-pesan nakal, senyuman-senyuman rahasia, aroma tubuh Taehyung dalam pelukannya.
Dia sangat merindukan Taehyung hingga hatinya nyeri. Bahkan 'rindu' sekali pun terdengar begitu remeh untuk menjelaskan perasaan membutuhkan yang dirasakan Jeongguk sekarang—perasaan yang menggila karena segala hal yang diinginkannya di dunia ini berada dalam jangkauannya, namun tidak boleh diraihnya.
“Ayo pulang.” Katanya, melepas kancing teratas kemejanya dan menggulung lengan panjangnya. Rambut pendek membuat Taehyung sangat berbeda—Jeongguk tidak bisa memutuskan apakah dia menyukai rambut itu atau tidak.
“Aku bisa menghubungi Mirah untuk menjemputku, tidak masalah.” Sahut Jeongguk lalu mengatupkan mulutnya dengan keras—menyadari betapa salah kalimatnya saat wajah Taehyung berubah di hadapannya.
Rambut pendek itu juga yang membuat perubahan emosi di wajahnya nampak dua kali lebih jelas. Matanya berkilat dengan rasa tidak suka yang menikam jantung Jeongguk dan membuatnya menahan napas. Dia seharusnya tutup mulut saja alih-alih merusak pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.
“Bagaimana mungkin,” katanya dengan nada lebih dingin yang membuat Jeongguk bergidik. “Kau meminta,” dia diam sejenak—menggertakkan giginya dan Jeongguk melihat betapa keras usahanya dalam mengucapkan kata selanjutnya. “Tunanganmu,” dia menggertakkan rahangnya. “Untuk berkendara dari Denpasar sendirian untuk menjemputmu semalam ini?”
Jeongguk mengerjap, seolah baru saja ditampar. Dia sungguh tidak memikirkan itu sama sekali. Syukurlah dia belum mengetikkan apa pun pada Mirah dan mendesah panjang saat mengetik: Tidak apa-apa, maaf. Kembalilah tidur. lalu menyimpan ponselnya. Tidak ingin membaca balasannya sekarang.
“Yah, kau benar.” Katanya berdiri, melicinkan pakaiannya—merasa kelelahan, dia butuh berbaring sekarang. “Jika kau sudah selesai dengan Arsa, mari kita pulang. Aku...,” dia menggeleng kecil, mulai sedikit pusing. “Aku butuh berbaring.”
Taehyung menatapnya sejenak—ekspresinya tidak terbaca sebelum mengangguk. “Duduklah.” Katanya dengan nada yang sedikit lebih lunak. “Aku akan berpamitan pada semua orang.” Tambahnya, sejenak diam menunggu hingga Jeongguk kembali duduk dengan penuh syukur sebelum bergegas menyeberangi ruangan menghampiri Arsa.
Felix sudah pamit terlebih dulu, menawari Jeongguk untuk pulang bersamanya—menawarinya menggunakan mobil pasangannya, Christian untuk digunakan pulang. Jeongguk menolaknya, sedikit bersyukur karena dia ternyata tidak sanggup mengemudi sekarang. Dia terus dan terus melemah, dia tidak paham apa yang terjadi pada dirinya—seolah kehidupan dihisap habis dari dirinya tiap kali dia harus bertemu orang-orang selain keluarganya.
Servis selama delapan jam nyaris selalu membunuhnya hingga dia beberapa kali melemparkan pekerjaan ke Namjoon karena dia harus mendudukkan diri sebelum ambruk atau bahkan Namjoon sendiri yang memaksanya duduk karena wajahnya seputih kertas. Dia berusaha mengembalikan kekuatannya yang dulu, stamina dan daya tahannya namun olahraga membuatnya pusing dan nyaris ambruk dari treadmill beberapa waktu lalu. Nafsu makannya turun, organ-organ di dalam tubuhnya entah bagaimana selalu nyeri secara berkala dan dia selalu terserang pusing yang mencengkeram tengkoraknya.
Pada titik ini, jika dia mati, Jeongguk sudah tidak lagi terkejut.
Betapa hebatnya patah hati berhasil merusaknya hanya karena dia membiarkan sakit itu menyebar di tubuhnya—menyuntikkan racun ke semua sistem tubuhnya, melemahkan semua organnya dan membuat otaknya macet. Jeongguk menyandarkan dirinya ke kursi, sepenuhnya—berharap dia bisa tiba di rumah saat itu juga untuk merangkak ke atas kasur lalu mengasihani dirinya sendiri karena begitu mencintai dan merindukan Taehyung.
Taehyung yang sudah tidak membutuhkan apa pun darinya.
“Kau bisa berdiri?”
Dia mengerjap, menatap Taehyung yang balas menatapnya dengan alis berkerut—setitik rasa khawatir berkelip di matanya, seperti Venus yang terbit terlalu awal dan dia tersenyum di dalam hatinya. Setidaknya Taehyung masih peduli padanya. Apakah jika dia terus sakit Taehyung akan terus peduli padanya? Bisakah dia melakukan itu demi mendapatkan perhatian Taehyung?
“Bisa.” Katanya, berdeham parau lalu berdiri. Sejenak diam, menyeimbangkan dirinya sebelum mengangguk.
“Aku sudah pamit pada semuanya.” Gumam Taehyung dan Jeongguk mengangguk, dia melambai pada Arsa yang membuka botol wine kedua dengan kedua sous chef-nya dan Raditya, sementara Kinan memasang wajah jengkel di sisinya dengan segelas jus di tangannya.
“Hati-hati di jalan!” Seru Arsa melambai saat keduanya menuruni undakan.
Jeongguk mengangguk, melambai lalu menuruni undakan sambil menggenggam pembatas di sisinya, berusaha agar tidak oleng karena dia sangat kelelahan. Bagaimana bisa dia jadi sangat lemah begini? Apa yang salah dengan tubuhnya?
“Kehilangan setidaknya 5 kilogram dan berjam-jam tidur nyenyak.” Kata-kata Kinan terngiang di kepalanya dan dia menyentuh tubuhnya sendiri—dia memang merasa lebih ringan belakangan ini, celananya melonggar. Tapi dia tidak menimbang badannya. “Aku pernah melihat yang lebih mengerikan.”
Jika Jeongguk tidak segera menyelamatkan dirinya sendiri, dia mungkin akan menjadi 'semengerikan' apa yang dihadapi Kinan. Dia mendesah, dia harus mulai kembali ke jalurnya—dia harus melakukan sesuatu karena Taehyung nampak sangat sehat dan sangat normal. Tidak seperti Jeongguk yang mungkin menghabiskan waktunya menangisi orang yang tidak memikirkannya.
Taehyung menunggunya naik ke kursi penumpang sebelum bergegas naik ke kursi pengemudi. Dia menyalakan mesinnya, memutar di halaman parkir yang sepi lalu meluncur pulang.
“Aku akan mengantarmu pulang.” Katanya tegas, menyugar rambut pendeknya—nampak sedikit belum terbiasa dengan panjangnya sekarang. “Kau kelihatan siap tumbang kapan saja. Tidak masalah memutar, aku sudah bilang pada Mbok Gek aku pulang terlambat.” Taehyung memasang sein, menyalip motor di depannya—mengemudi dengan cepat membelah jalanan yang mulai lenggang.
“Trims.” Sahut Jeongguk, sudah tidak ingin lagi mendebat siapa pun. “Aku akan tidur sebentar.” Tambahnya sebelum menumpukan lengannya di atas matanya agar cahaya lampu jalanan tidak menyakiti kelopak matanya. “Bangunkan saja jika tiba.”
Taehyung mengangguk. “Tidurlah.” Ujarnya setuju. “Kau sudah makan? Ingin kubelikan sesuatu?”
Jeongguk menghela napas; Taehyung harus berhenti melakukannya. Dia harus berhenti bersikap perhatian pada Jeongguk karena hatinya tidak kuat lagi menahannya; bagaimana dia nampak utuh, sempurna dan sehat sementara Jeongguk merana—kehidupan dihisap habis oleh kesedihannya. Jeongguk merasa begitu menyedihkan, merasa tidak berguna.
Malu.
Karena begitu mencintai orang yang sama sekali tidak memikirkannya.
“Sudah.” Katanya parau, bibir bawahnya gemetar saat sakit menyeruak di dadanya—perih sekali. Seperti alkohol yang dituang ke atas luka yang segar, menyengat dengan cara yang membuat tulangnya ngilu. “Fokuslah mengemudi.” Tambahnya, berharap Taehyung menangkap pesan tak terutarakannya, 'diam'.
Dan dia melakukannya, diam sepanjang perjalanan yang sunyi tanpa lantunan lagu atau apa pun kecuali suara derum mobil dan klakson dari kejauhan. Jeongguk terombang-ambing, dalam keadaan sadar dan tidak sadar—ingin segera menangisi dirinya sendiri di kamarnya, ingin menyerah pada rasa sakit ini, ingin semuanya berhenti.
Ingin keluar dari kepalanya sendiri.
Dia sedang mengapung di atas air yang tenang, bergolak antara kesadaran dan ketidak sadaran saat mobil berhenti dan tangan menyentuh bahunya. Jeongguk berusaha melawan selaput kantuk yang menyelubunginya namun dia lemah sekali, dia lelah sekali—sakit hati melumpuhkannya. Sesuatu dicabut dari dirinya, diremukkan hingga menjadi bubuk. Jeongguk tidak lagi ingin melawannya atau bersikap seolah dia baik-baik saja.
Dia seharusnya tidak datang ke acara ini sama sekali; tidak mendekat ke Taehyung karena dia selalu tahu dia hanya akan jadi seperti ngengat yang terbang ke arah cahaya. Membutuhkan cahaya itu.
Taehyung adalah mataharinya, pusat semestanya—padanyalah Jeongguk berotasi, mengelilinginya. Dia menjaga Jeongguk tetap waras, menjaga Jeongguk tetap bersemangat melewati harinya, membuatnya tetap bahagia. Jeongguk bahkan tidak tahu dia bisa mencintai seseorang sehebat ini sebelumnya hingga Taehyung memasuki hidupnya—cinta sinting yang tidak manusiawi.
“Gung?” Suara Taehyung terdengar dari luar kabut rasa kantuk dan lemah Jeongguk. “Gung?” Ulangnya. “Kita.... sampai.... turun? Bisa... kuantar?”
Jeongguk memaksa dirinya bangun, tersengat vertigo ringan saat dia akhirnya membuka matanya. Mereka berada di dekat Puri Jeongguk, di seberang lapangan kota yang sepi. Tidak heran karena Karangasem sudah tidur pukul sembilan malam dan ini sudah lewat tengah malam. Dia mengerang, memijat kepalanya sebelum berdeham—sejenak diam, mengumpulkan nyawanya.
“Sebentar.” Gumamnya parau, memejamkan matanya. Lalu dia membuka mulut, hendak mengatakan terima kasih dan maaf merepotkan Taehyung namun kalimat yang terlontar malah, “Apakah kau bahagia?”
Dia merasakan Taehyung menegang di sisinya, atmsofer mobil langsung turun drastis. Jeongguk tetap memejamkan matanya, karena tahu jika dia membukanya dia akan meledak dalam tangisan memalukan. Dia tidak akan menangis di hadapan lelaki yang mencampakkannya; Taehyung tidak perlu tahu betapa menderitanya Jeongguk dan betapa menyedihkannya dia dengan terus menerus mengirimkan pesan ke ponselnya walaupun tahu pesannya tidak akan terkirim.
Jeongguk sangat menyedihkan dan hatinya remuk karena menyadari itu, seperti cangkang telur yang ditumbuk hingga menjadi bubuk.
“Jeongguk.” Bisik Taehyung, suaranya gemetar. “Kuantar masuk.”
“Kau bahagia?” Ulang Jeongguk, paru-parunya mulai terbakar tangisan—dia tersengal, berusaha keras menahan tangisannya sekarang.
“Jeongguk.” Bisik Taehyung lagi, suaranya melemah. Mereka duduk bersisian di mobil yang mati di jalanan yang kosong, diterangi lampu jalanan yang temaram dan suara gemerisik daun pohon sisi jalan yang diterpa angin.
Dan Jeongguk tidak ingin hari ini berakhir; dia masih merindukan Taehyung, dia ingin terus berada di sisinya, menghirup aroma parfumnya. Ingin memeluknya, ingin menciumnya—ingin bersama Taehyung, terus selamanya. Ingin membuang segalanya demi mencintai Taehyung secara sederhana.
“Kau bahagia.” Bisiknya, kali ini tidak lagi bertanya—mulutnya terbuka dan dia tersengal, isak tanpa tangis mulai terbit dari bibirnya disertai amarah yang bergulung-gulung naik. Taehyung bahagia.
“Kau bahagia.” Ulangnya, berkali-kali seperti mantra—semakin dan semakin lirih saat kenyataan itu menghantamnya dengan hebat seperti ditonjok di ulu hatinya.
“Jeongguk.”
Jeongguk mengabaikannya, “Kau bahagia.”
“Bisakah kau diam?!”
Jeongguk terkesiap mendengar bentakan Taehyung, dia menurunkan lengan dari wajahnya dan membuka matanya, merasakan air mata hangat dan asin meleleh ke pipinya. Dia menoleh dan menyadari wajah Taehyung yang merah padam hingga ke garis batas rambutnya dan air mata yang meleleh di sudut matanya.
“Bisakah kau diam?” Ulangnya, sekarang gemetar berbisik parau. Dia menyentuh dadanya sendiri, meringkuk seperti seekor kucing yang kedinginan—mulutnya terbuka saat dia berusaha bernapas. “Diam. Diam.” Bisiknya. “Diam.”
Jeongguk mengulurkan tangannya, hendak meraih Taehyung namun sejenak ragu. “Maaf,” dia bergumam parau. “Maafkan aku, maaf.” Dia mengulurkan tangan ke tubuh Taehyung yang berguncang lembut di balik kemudi.
Dia mengulurkan jemarinya, menyentuh bahu Taehyung yang tidak bergeming oleh sentuhannya. “Wigung?” Panggilnya lirih, suaranya pecah—rindu yang menyeruak di dadanya memusingkan. Dia ingin meremukkan Taehyung dalam pelukannya, dia ingin membuat Taehyung mendesah—membuatnya senag. Dia benci melihatnya menangis.
“Wigung?” Ulangnya.
Taehyung mendongak mendadak, menatapnya dengan mata merah padam dan jejak air mata di wajahnya. “Gung,” katanya parau, suaranya terdengar seperti berkumur-kumur karena tangis yang ditahannya.
Jeongguk mengulurkan jemarinya, menyentuh wajah Taehyung dan pemuda itu langsung meleleh dalam sentuhannya. Menyandarkan wajahnya di telapak tangan Jeongguk—memejamkan matanya dengan kening berkerut seolah menahan sakit yang teramat sangat. Jeongguk menjulurkan tubuhnya mendekat secara naluriah ke Taehyung, mengulurkan tangannya yang lain dan menangkup wajah di sisi satunya.
Betapa benarnya Taehyung terasa dalam genggamannya akan selalu menjadi hal paling magis dan menakjubkan bagi Jeongguk. Dia seperti kepingan mozaik yang cocok dengan setiap lekuk tubuh Jeongguk.
“Wigung?” Bisiknya lagi, menatap bibir Taehyung yang gemetar—jika esok dia harus mati, maka dia tidak keberatan mendapatkan cinderamata dari Taehyung.
Sedikit saja, dia tidak akan rakus.
“Bolehkah aku...,” dia menatap wajah Taehyung yang indah—berkilau seperti bulan purnama. Air matanya berdenyar oleh cahaya lampu murahan jalan raya, disepuh warna oranye tajam.
“Bolehkah aku menciummu?” Bisiknya gemetar, jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya nyeri. “Sekali saja, kumohon. Lalu kita anggap tidak ada yang terjadi.”
Taehyung mengulurkan tangannya, mengalungkannya di leher Jeongguk yang langsung bereaksi dengan merundukkan wajahnya—mendaratkan bibirnya di bibir Taehyung yang terkuak. Keduanya mendesah keras saat bibir mereka bertemu dan Jeongguk seketika meraih Taehyung mendekat ke arahnya—seketika mabuk oleh rasa Taehyung yang meledak di rongga mulutnya. Melupakan sepenuhnya janji untuk tidak rakus.
Ini Taehyung, Jeongguk akan mereguknya hingga habis seperti pecandu. Tidak bisa berhenti sebelum Taehyung habis.
Jeongguk mengerang, tubuhnya menjerit karena perasaan lega yang teramat sangat hingga dia pening. Mereka menarik wajah mereka, terengah kehabisan napas. Taehyung bergegas memanjat kursinya, merangkak ke arah Jeongguk, melompati persneling hingga kepalanya terbentur kap dan mendarat di pangkuannya.
“Oof!” Gumam Jeongguk saat menerima beban Taehyung di pangkuannya dan keduanya kemudian mendesah keras saat Taehyung dengan sengaja menggesekkan selangkangannya pada Jeongguk. “Wigung,” desahnya panjang—terengah.
Sejenak mereka berpandangan dalam kegelapan. Dia menyadari kepala Taehyung menempel di kap hingga lehernya tertekuk ke arah yang tidak nyaman. Maka Jeongguk menurunkan kursinya sehingga kepala Taehyung tidak terbentur kap mobil. Kursi diturunkan nyaris lurus di bawah Jeongguk dan dia melirik ke jalanan—yakin tidak akan ada siapa pun yang lewat hingga setidaknya jam tiga pagi.
Atau menyelundupkan Taehyung ke kamarnya.
Jeongguk menelan ludahnya menatap Taehyung yang menunduk di atasnya sebelum Taehyung menunduk, tidak sabaran saat memangut bibir Jeongguk yang mengerang keras sekali lagi disertai bisikan pecah oleh isak tangis:
“Aku sangat merindukanmu.”
Author's Note.
WOOOOOO 5,3K EVERYONE! HAHAHAHA have a feast! see you tomorrow on privatter wink-wonk!
ire, x