Gourmet Meal 189
tw // come out reaction , insecurity .
Author's note. Mohon maaf sebelumnya, karena saya hanya ally bagi teman-teman komunitas, jadi momen come out Jeongguk saya skip karena saya merasa saya tidak cukup pantas untuk menceritakan momen sepenting dan sesensitif itu padahal saya bukan anggota komunitas. Walaupun saya ingin sekali tapi saya tetap merasa tidak nyaman. Setelah berpikir panjang, akhirnya saya memutuskan untuk tidak menceritakannya. Terima kasih banyak. Ire, x
Jeongguk menghela napas, setelah bersitegang dengan dirinya sendiri dia akhirnya berhasil membuat dirinya mengatakannya.
Sudah lima menit, Yugyeom duduk di depannya dengan wajah terpana. Garpu plastik murahan yang digunakannya untuk menyuap mie instan kemasan kesukaannya masih tergenggam di tangannya, ternoda kuah merah berminyak dan sekarang Jeongguk mulai takut telah melakukan kesalahan karena memburu dirinya untuk come out pada adik kandungnya sendiri.
Namun nasi sudah menjadi bubur, Jeongguk harus menerimanya.
Jeongguk sudah siap melihat ekspresi kecewa, kaget, bingung dan bahkan jijik di wajah Yugyeom saat dia menyebutkan orientasi seksualnya namun alih-alih, adiknya menghela napas dalam-dalam, keras sebelum tersenyum lebar hingga Jeongguk merasa baru saja ditampar.
”'Kan.” Katanya sebelum meraih gelas mie instannya, nampak sangat rileks hingga Jeongguk merasa ketakutan, perutnya terasa diaduk-aduk sekarang. “Sudah kuduga.”
Matanya mengerjap, otaknya macet. “Hah?” Hanya itu yang lolos dari mulutnya, kebingungan.
“Sudah lama kok, aku curiga.” Kata adiknya, menatapnya dengan tenang hingga Jeongguk ingin muntah. “Sejak Wiktu bercerita tentang siapa...? Wik Tjok? Bertahun-tahun seperti kekasih yang gagal move on.” Dia meletakkan kemasan mie instan kosong di hadapannya dan menghela napas. “Wiktu... Tidak terdengar seperti seseorang yang kehilangan sahabat, lebih seperti kehilangan kekasih.”
Jeongguk diam, menatap adiknya yang ternyata menyadari banyak hal. Atau apakah Jeongguk memang sangat transparan tentang perasaannya untuk Taehyung?
“Kita sampai memiliki kode sendiri jika Wiktu ingin bercerita tentang orang ini, 'kan?” Tambah adiknya, perlahan dan hati-hati dalam memilih kata-katanya. “Namun, aku bangga sekali Wiktu berani terbuka padaku tentang hal sebesar ini. Pasti berat sekali untuk Wiktu hingga akhirnya tiba pada keputusan memberi tahuku.” Yugyeom menatapnya, tersenyum menyemangati.
“Terima kasih karena Wiktu sudah mau percaya padaku.” Dia mengulurkan tangan, menepuk hangat paha Jeongguk yang duduk bersila di hadapannya di kamar Jeongguk yang apak khas seperti bangunan tua. “Tenang saja, Wiktu tetap kakakku apa pun alasannya.”
“Lagi pula,” dia nyengir. “Banyak temanku yang juga anggota komunitas. Sudah bukan kejutan lagi. Ogik sangat menghormati pilihan mereka dan pilihan-pilihan Wiktu dalam hidup.
“Hanya karena benar mereka tidak sesuai dengan benar yang diajarkan lingkungan padaku atau konsep benarku sendiri, bukan berarti benar mereka adalah salah, 'kan?” Dia menyugar rambutnya dan Jeongguk menyadari, adiknya sudah bukan lagi balita yang berlarian mencoba menirunya—mengganggu Jeongguk, mengejarnya, merengek padanya, menangis saat Jeongguk mengabaikannya.
Dia sudah dewasa, sudah memiliki suara dan pemikirannya sendiri. Tumbuh menjadi remaja tenang, dewasa dan sedikit pendiam pada orang selain kakaknya sendiri. Entah sejak kapan Jeongguk lupa memerhatikan adiknya—lupa menyadari bahwa dia sudah tumbuh dewasa dengan tinggi nyaris menyamai Jeongguk. Mungkin dia harus mengembalikan akhir pekan bersama mereka; pergi berenang ke Tirta Gangga lalu makan hingga kenyang dan bermalas-malasan hanya untuk memastikan adiknya hidup di jalan yang diinginkannya.
“Benar itu, 'kan, konsep yang diciptakan sekelompok orang lalu dipercayai. Subjektif. Dan tentu, maknanya bisa bergeser tergantung kebutuhan saat itu. Dulu mungkin perempuan tinggal di rumah sebagai ibu rumah tangga adalah benar, mutlak untuk saat itu. Dalam relevansi waktu tertentu. Tapi seiring peradaban bergerak, konsepnya berubah. Sekarang perempuan berhak untuk memilih karirnya sendiri.
“Sama seperti lelaki yang diizinkan memiliki emosi—diizinkan menangis, lelah, dan lemah. Tidak harus selalu kuat dan dominan. Lelaki, 'kan, juga manusia. Punya hati, punya perasaan. Jadi ketika orang lain memiliki ketertarikan yang berbeda denganku, itu hak mereka sepenuhnya dan aku tidak punya hak untuk mengoreksinya.”
Hati Jeongguk merekah, terasa ringan dan sangat hangat saat adiknya mengatakan itu. Tidak pernah merasa sesenang ini saat akhirnya satu dari beberapa orang yang dijaganya dekat dengan jantungnya menerimanya apa adanya dan tidak—bahkan tidak mengatakan betapa dia kecewa tentang pilihan Jeongguk.
Adiknya besar di lingkungan yang tepat. Syukurlah.
Jeongguk menghela napas lalu entah dari mana, meledak dalam tangis karena hatinya begitu lega. Dia tertawa sementara Yugyeom balas tergelak dan bergegas menyambar kantung tisu untuknya. Dia melemparkan benda itu ke Jeongguk yang masih menangis sambil tertawa, setengah histeris. Kemasan itu menghantam dada Jeongguk dan dia menangkapnya, menarik beberapa lembar lalu membekap wajahnya di sana.
Bersyukur sepenuh hati.
Yugyeom menerimanya. Yugyeom tidak mengadilinya. Dia tidak memojokkan Jeongguk. Dia menerima kakaknya, bahkan memberi tahunya betapa dia bangga pada Jeongguk karena berani mengakuinya, berani menerimanya. Jeongguk tidak pernah merasa sesenang ini, seringan ini—sepenuh dan semenakjubkan ini. Seolan beban langit baru saja diangkat dari bahunya.
“Terima kasih.” Bisiknya masih tertawa dengan air mata meleleh di wajahnya lalu mengulurkan tangan, merengkuh Yugyeom yang tergelak ke dalam pelukannya. Dia menghirup aroma rambut adiknya—merasakan sayang yang tak terhingga membanjir di hatinya untuk Yugyeom.
Orang lain mungkin memiliki hubungan yang tidak terlalu akrab dengan saudara mereka. Namun perbedaan usianya dengan Yugyeom yang lebih dari sepuluh tahun membuat Yugyeom sangat dekat dengannya alih-alih menjauh. Jeongguk tidak mengizinkan adiknya menjauh; dia terus menemaninya sejak kecil, tidak pernah marah saat Yugyeom mengganggunya, tidak pernah mengusirnya atau mengucilkannya.
Dia selalu ada untuk adiknya, melindunginya, menyayanginya—berharap Yugyeom suatu hari nanti tidak akan memunggunginya sebagaimana saudara pada umumnya karena hanya Yugyeom-lah yang dipercayainya di dunia ini.
Maka saat Yugyeom menerimanya seutuhnya, Jeongguk berterima kasih pada dirinya di masa lalu—dirinya yang berusia 10 tahun karena tidak mengabaikan Yugyeom, tidak mengucilkannya. Berterima kasih karena dirinya yang berusia 10 tahun merengkuh adiknya dan bertumbuh bersamanya sehingga ikatan yang mereka miliki jauh lebih kuat dari apa pun.
“Tidak ada yang perlu diterima kasihi,” Yugyeom tergelak di pelukannya—menepuk bahu kakaknya hangat. “Aku yang berterima kasih karena Wiktu sudah mau membagi ini denganku. Aku bangga sekali padamu.”
Jeongguk mengeratkan pelukannya, jantungnya berdebar begitu kuat sekarang namun karena bahagia yang membuncah di hatinya. Mendengar adiknya menerimanya begitu saja tanpa meragukannya sama sekali—tegas dan lugas, tanpa keraguan sama sekali. Dan itu benar-benar menolong Jeongguk, membuatnya merasa jauh lebih baik.
“Jadi,” kata adiknya kemudian, nyengir. “Hari ini giliranku memilih film!”
Jeongguk tergelak parau, menyeka air matanya dan menenangkan aliran darahnya yang menderu seperti banjir bah di pembuluh darahnya. “Ya, ya. Oke.” Katanya sengau lalu menghela napas dan menatap adiknya yang bergegas menghampiri televisi di kamarnya untuk mencari film di Netflix.
“Oh.” Seru Yugyeom kemudian, mendadak berhenti dari kegiatannya memilih film. “Ada yang Wiktu ingin ceritakan lagi?”
Jeongguk terdiam, menatap adiknya sejenak sebelum menghela napas. “Mungkin... ada?” Katanya kemudian dan Yugyeom langsung meraih pengendali jarak jauh televisi dan mematikannya sebelum bergegas kembali ke sisinya.
“Aku juga baru menyadari,” katanya kemudian meraih bungkus cemilan besar dari kantung plastik mini market yang dibawa Jeongguk tadi. “Bagaimana tentang perjodohan Wiktu?”
Dia menghela napas, menatap adiknya. “Entahlah.” Sahutnya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak yakin bagaimana caranya mengeluarkan diri dari keputusan ayahnya yang itu sementara Mirah adalah perempuan paling sopan dan manis yang pernah dikenalnya.
Setidaknya jauh—jauh lebih baik dari semua mantan kekasih narsisnya yang menyebalkan. Mereka semua sudah menikah omong-omong, sudah memiliki anak. Jeongguk datang ke pernikahan mereka semua hanya untuk dipameri betapa hidup mereka tanpa Jeongguk baik-baik saja. Seolah hidup Jeongguk tidak lebih luar biasa hanya karena dia belum menikah.
“Wiktu punya pacar?” Tanya Yugyeom, nampak sangat rileks tentang orientasi seksual Jeongguk hingga dia sejenak takut. Namun dia menepis keraguannya, mempercayai Yugyeom yang selama ini menemaninya. Adiknya tidak akan mengkhianatinya—dia tidak pernah mengadu tiap Jeongguk menyelundupkan apa pun ke Puri. Mereka rekan bekerja sama.
Jeongguk mengangguk. “Belum pacar, sih. Tapi, kami saling mencintai.” Dia mengerjap lalu menambahkan dengan getir. “Kurasa.”
Yugyeom menjejalkan segenggam keripik kentang ke mulutnya, mengunyah dengan suara berisik namun ekspresinya nampak sangat bersimpati hingga hati Jeongguk tergelitik. “Wik Tjok itu, ya?”
Dia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Yugyeom. “Begitulah.” Akunya perlahan. “Jika aku beruntung mendapatkanmu sebagai saudara, yang menerima begitu saja dengan bangga. Ada beberapa orang yang tidak terlalu beruntung.”
Yugyeom merogoh kemasan cemilannya lagi, membawa naik segenggam keripik kentang bersalut bubuk bumbu tebal. “Yah, jika aku tidak bergaul dengan orang-orang yang keren, aku mungkin tidak akan bersikap setenang ini.” Dia membuka mulutnya, menjejalkan makanan itu lalu menghancurkannya dengan geliginya.
Dia menelan kunyahannya sementara Jeongguk berbaring di karpet tebal kamarnya, menatap langit-langit memikirkan ekspresi Taehyung saat mengajaknya menjadi friends with benefit. Dia seperti baru saja menikam dirinya sendiri dengan belati saat mengatakannya; mengorbankan banyak hal untuk melakukannya.
Jeongguk tahu dia takut, dia bingung. Asing pada keseluruhan emosinya sekarang; tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Maka semua hal yang keluar dari mulutnya terasa begitu defensif dan melukai. Jeongguk paham, dan memutuskan untuk memberikannya waktu untuk mengeksplorasi emosi serta dirinya sendiri. Dia yakin Taehyung akan kembali padanya; selalu kembali seperti boomerang.
“Kalian backstreet?” Tanya Yugyeom, melongok ke dalam kemasan cemilannya untuk meraih remah sisa makanan di dasar kemasan.
Jeongguk menghela napas, “Dia belum menerima bahwa dia jatuh cinta.” Dia menerawang ke lampu di langit-langit kamarnya, membayangkan wajah Taehyung yang keras dan dingin—dia begitu keras pada dirinya sendiri hingga Jeongguk merasa ngilu. “Dia menolak perasaannya dan menjauh, terus berusaha kabur namun selalu kembali.”
Yugyeom berhenti makan, dia menatap kakaknya yang berbaring di lantai. “Lalu Wiktu bertahan dengannya?”
“Bodoh, ya?” Tanya Jeongguk tanpa memalingkan pandangannya dari lampu yang seolah menyihirnya.
“Tidak.” Yugyeom mengedikkan bahunya kalem saat meraih cemilan lain—tidak pernah kenyang dengan nafsu makan serta kebiasaan olahraganya yang sinting. “Itu wajar. Namanya juga jatuh cinta. Tapi Wiktu memang orang paling sabar di seluruh dunia.” Dia menatap kakaknya, tersenyum.
“Tapi,” Jeongguk menghela napas. “Tidak ada jalan keluar sama sekali.” Katanya, untuk pertama kalinya mengeluarkan emosinya pada adiknya yang menyadari nada suaranya dan memutuskan untuk menaruh seluruh perhatiannya pada Jeongguk.
“Dia pewaris utama Puri besar, dia punya tanggung jawab adat yang besar. Dia harus mengurus ibu dan kakaknya, juga ayahnya yang gagal. Dia punya begitu banyak beban dan menjadi seorang homoseksual hanya akan membuatnya semakin menderita!”
Air mata menyengat mata Jeongguk lagi saat mengeluarkan semuanya—menyadari betapa beratnya Taehyung yang berusaha hidup terseok-seok, berusaha tetap waras di tengah segala kegilaan di hidupnya. Dia membersit, menghela napas dan berusaha menelan tangisannya lagi—cukup satu tangisan dalam sehari. Dia tidak sanggup lagi.
“Wiktu menyesal?” Tanya Yugyeom lembut setelah sejenak membiarkan kakaknya menenangkan diri. “Menyesal karena jatuh cinta padanya? Dan mungkin saja membuatnya bahagia? Siapa tahu dia juga sebenarnya sedang mencari jati diri dan Wiktu baru saja menunjukkannya? Membantunya, mungkin?”
Jeongguk diam. Dia tidak pernah menyesal mencintai Taehyung tidak peduli seberapa berengseknya dia pada emosi Jeongguk. Dia hanya selalu berpikir Taehyung memiliki alasannya sendiri—dan mendengar nada suara ayahnya saat terperangkap di bawah ranjangnya kemarin membuktikan pada Jeongguk betapa besar teror yang harus dihadapi Taehyung setiap harinya di rumah itu.
Bagaimana dia dan kakaknya seketika diam dan tunduk secara absolut pada kehadiran ayah mereka membuat Jeongguk rikuh. Ayahnya sendiri memang sangat keras kepala namun dia masih mengizinkan anaknya—setidaknya Yugyeom untuk berbicara. Tidak pernah menghadirkan keheningan menggelisahkan saat dia muncul. Dia bicara dengan anaknya seolah anaknya memang anaknya—bukan semacam proyek untuk memperbaiki masa depannya yang rusak.
Namun ayah Taehyung.
Jeongguk bergidik, teringat nada suaranya dengan emosi yang sangat mendominasi. Seolah Jeongguk membuatnya kecewa hanya dengan bernapas. Keheningan dari kedua saudara itu dan bagaimana mereka nampak secara natural takut pada ayah mereka—refleks, seolah itu hal yang wajar untuk merasa inferior sehebat itu.
“Tidak.” Kata Jeongguk kemudian, menyadari sepenuhnya bahwa dia memang tidak menyesali apa pun dalam hubungannya dengan Taehyung. “Tidak ada.”
Yugyeom menatapnya, “Ya sudah. Berarti baik-baik saja.” Dia membuka kemasan cemilan baru dan aroma penguat rasa serta bubuk rumput laut kering bergulung-gulung memenuhi ruangan. “Lagi pula, dia sendiri yang memilih untuk menyambut Wiktu dalam hidupnya, 'kan? Dia yang memilih. Kenapa Wiktu menyalahkan diri sendiri?”
“Karena Wiktu yang menggiringnya?” Balas Jeongguk sementara adiknya mengunyah cemilan dengan aktif seperti balita yang baru tahu fungsi geliginya dan gatal ingin mengunyah.
“Memengaruhinya begitu?” Tanya Yugyeom, nampak tidak suka pada kata-kata Jeongguk. Dia berdecak keras. “Dia, 'kan, lelaki dewasa yang sudah memiliki pemikiran sendiri. Tentu saja dia tahu mana yang diinginkannya dan mana yang tidak, 'kan?”
Jeongguk menatap adiknya—merasa sedikit sia-sia berusaha menceritakan hal sekompleks hubungannya dengan Taehyung kepada seseorang. Itulah mengapa dia memilih menyimpan semuanya sendiri karena dia tidak bisa menjelaskan perasaannya sendiri, tidak bisa menjelaskan perasaan Taehyung dan tidak bisa menjabarkan hubungan mereka sekarang.
“Aku tidak ingin merepotkanmu dengan perasaan.” Kata Taehyung, dingin dan berjarak. “Kau sendiri yang lelah dengan semua emosiku, 'kan? Maka lebih baik tidak melibatkan emosi sama sekali di dalam hubungan kita kecuali gairah. Praktis.”
Taehyung benar-benar memiliki masalah serius dengan emosinya karena tiap kali dia merasakan sesuatu, dia merasa bersalah atas perasaan itu. Jeongguk memijat kepalanya—merasa pening. Dia bisa saja jatuh cinta pada Mirah, atau berusaha setidaknya. Maka hidupnya pasti akan sangat mudah; mengalir dengan mulus.
Namun tidak. Dia jatuh cinta pada adrenalin dan petualangan bernama Taehyung—lelaki misterius dingin yang selalu membuatnya penasaran. Lelaki yang nyatanya lembut dan hangat di ranjang; memeluknya, tersenyum, tertawa, mendesah bersamanya, merona dalam genggamannya.
Taehyung.
Taehyung-nya.
“Tapi,” suara Yugyeom muncul, memecahkan gelembung di sekitar Jeongguk dan melenyapkan bayangan tentang Taehyung dari kepalanya. Dia mengerjap dan menoleh ke adiknya yang nampak cemas menatapnya.
“Kadang aku takut kesabaranmu akan disalahgunakan oleh orang lain atau malah membuat dirimu sendiri terluka karena....” Yugyeom mengedikkan bahunya, resah. “Kau tahu, terlalu baik.”
Kata-kata itu kemudian membuat Jeongguk terjaga semalaman. Dia terbaring di ranjangnya, nyalang menatap langit-langit kamarnya setelah mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidurnya. Memikirkan kalimat itu dengan seksama—mungkinkah?
Mungkinkah Taehyung sedang memanfaatkannya sekarang? Menggunakannya untuk mengeksplor diri lalu membuangnya setelah dia selesai? Apakah dia memang mencintai Jeongguk atau... Jeongguk yang berkhayal ada cinta di matanya untuk Jeongguk?
Setitik hatinya yang sejak dulu meragu, kini menguat. Menemukan suaranya yang sejak dulu disingkirkan dan dibungkam Jeongguk. Sekarang dia berteriak nyaring di kepala Jeongguk—mendesakkan rasa tidak percaya, takut, dan terekspos yang membuat Jeongguk menggigil, merasa seperti bayi yang baru lahir.
“Jika kita bertemu secara reguler hanya untuk bercinta, tidak akan ada yang disulitkan. Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan dengan Mirah dan aku dengan Devy. Semua senang.”
Jeongguk memejamkan matanya yang panas, hatinya nyeri. Sakit itu merekah di hatinya, menyebar perlahan di atas permukaan organnya yang berdenyut dan memastikan seluruh sarafnya merasakan nyeri itu. Menyengatnya berkali-kali seperti lebah yang marah—membuat hatinya sejenak kebas dan mati rasa. Lalu panas menyeruak, membuat paru-parunya sesak dan mengerut berusaha mengembang menampung oksigen, gagal.
Memanfaatkanmu.... Terlalu baik....
Apakah Jeongguk benar dengan mempersembahkan hatinya pada Taehyung yang sejak awal tidak ingin menerimanya? Apakah Taehyung memang seperti apa yang dipikirkannya karena lelaki itu sungguh tidak pernah mengatakan sesuatu tentang cinta dan sayang padanya.
Alih-alih terus merayunya bercinta lalu pergi saat dia puas.
“Friends with benefit. Praktis.
Jeongguk mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menusuk ke telapak tangannya, menimbulkan bekas ceruk mungil seperti bulan sabit perak di atasnya. Kepalanya perih sekali saat memikirkan ini—memikirkan kemungkinan bahwa Taehyung sedang menggunakannya.
Rasa ragu itu menyebar seperti racun di kepalanya—seperti kabut yang melingkupi otaknya dan membuatnya kebingungan. Seperti tersesat di dalam hutan yang penuh oleh kabut; matanya tidak tahu ke mana harus melangkah. Dia diteriaki, diminta menyerah dan kabur. Menjauh dari Taehyung, menjauh dari predator. Otaknya teracuni dan Jeongguk terkesiap kecil; rasa ragu itu menamparnya, keras sekali di wajahnya.
Apa yang harus dilakukan Jeongguk sekarang?
Dia terjebak.
Atau... benarkah dia terjebak?
*