Gourmet Meal 259
ps. irrelevant but i was listening to We The Kings – Sad Song while writing this one. enjoy! x
Taehyung meluncur memasuki Alila mengendarai motornya, mengangguk pada beberapa orang yang menyapanya di jalan sebelum memarkir motornya di tempat parkir karyawan. Dia melepaskan helm juga jaket berkendaranya sebelum menyugar rambutnya yang terasa kusut karena berhamburan oleh angin, dia lupa mengikatnya dan mencabut kunci motornya.
Taehyung menguap tertahan, beranjak ke pintu masuk khusus karyawan dan langsung mengambil seragamnya. Hari ini jadwalnya lumayan kosong, tidak ada reservasi atau group lunch yang harus diurusnya, serta belakangan ini dia mendapat cukup tidur. Lima jam semalam, jauh lebih baik daripada lima jam dalam dua hari. Dia memijat tengkuknya, merasa sedikit kelelahan karena kurang tidur dengan kantung makanan di tangannya.
Dia masih belum yakin bagaimana menyikapi Devy selama ini; dia berusaha memerankan peran calon suami yang baik sebisanya dan gadis itu nampak bahagia bersamanya. Taehyung hanya perlu menemaninya mondar-mandir, menanggapinya sesekali, membalas pesannya dan mengangkat teleponnya. Tidak terlalu sulit, kecuali di bagian dia melemparkan kata-kata cinta yang membuat Taehyung takut dan risih.
Dia tidak pernah suka pada kata-kata cinta, dia selalu menghindari pertunjukan emosi karena sejak kecil dia tidak pernah ditunjukkan caranya mengapresiasi perasaan. Taehyung tidak fasih berbicara tentang perasaannya sendiri; dia malah berakhir salah menanggapinya dengan mengucapkan terima kasih. Maka setiap kali gadis itu melemparkan kata-kata tentang perasaan, Taehyung hanya akan tersenyum dan merangkulnya—berharap sentuhan fisik mungkin cukup bagi gadis itu untuk menyadari bahwa Taehyung juga merasakan hal yang sama.
Setidaknya berusaha merasakan hal yang sama.
Aroma makanan yang dibawanya lezat sekali; Taehyung memujinya dengan tulus. Gadis itu mengerahkan usahanya dan mengorbankan waktunya yang berharga untuk memasakkan bekal untuk Taehyung; dia mengapresiasi itu. Menu hari ini daging dengan bumbu marinasi; gadis itu memamerkan masakannya dengan bangga. Membekali Taehyung dengan buah, sayuran, dan nasi lebih banyak dari biasanya.
“Agar Wigung tidak kelaparan.” Katanya tersenyum lebar saat Taehyung berdiri di atas motornya yang terparkir di halaman griya gadis itu, menunggu bekalnya dengan helm diletakkan di atas tangki. “Selamat bekerja! Jangan lupa berdoa.”
Anak manis, Devy itu. Selalu ceria, menebarkan aura positif ke orang di sekitarnya. Walaupun terkadang kelewatan, dia tetap anak yang sopan dan tidak rewel jika Taehyung menjelaskan posisinya. Kebiasaannya mengadu pada ayahnya masih berlanjut dan Taehyung memutuskan itu adalah sifat bawaannya. Karena belakangan ini dia bahagia dengan Taehyung, semua laporannya berisi rasa bahagia yang membuat ayah Taehyung semakin senang.
Semua orang Puri, saudara-saudara ayahnya sekarang menyapanya setiap bertemu. Bersikap ramah dan sopan pada kakak dan ibu Taehyung. Acara-acara desa yang dihadirinya sebagai perwakilan Puri juga lebih hangat saat dia menggandeng Devy di lengannya—gadis itu natural dengan orang-orang baru. Mungkin pembawaan itulah yang membuatnya cocok menjadi seorang dokter.
Hidup berjalan baik, persis seperti apa yang mungkin Taehyung harapkan sebelum terperosok ke dalam pesona Jeongguk.
Tiap kali Devy memanggilnya 'Wigung', hatinya tersengat rasa rindu yang luar biasa. Teringat cara Jeongguk menyebutkan nama itu ketika memohon. Terkadang dia butuh satu menit penuh untuk memulihkan diri dari panggilan itu, namun lama-kelamaan dia membiasakan dirinya; dia tidak bisa terus-terusan merasa tersengat oleh nama panggilan sederhana yang bisa digunakan siapa saja.
Belakangan ini, dia memanfaatkan keceriaan dan celotehan Devy untuk mengalihkan pikirannya. Dia akan mendengarkan Devy mengomel, memaksa kepalanya fokus kepada tiap kata yang diucapkannya alih-alih memikirkan hal lain yang membuatnya sedih. Dia mengandalkan Devy, dia bergantung pada gadis itu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya.
Tapi mendengarkannya mengomel tentang pelajarannya, tentang presentasi, tentang catatannya, tentang urusan koas yang menyebalkan berhasil membuat pikiran tentang Jeongguk setidaknya redup di belakang sana.
Redup. Tidak pernah lenyap.
Taehyung membawa seragamnya ke loker, dia meletakkan makanannya di loker sebelum mulai mengganti bajunya. Dia menghadap cermin, mengamati tubuhnya saat melepaskan kaus dari kepalanya. Sejak kapan tubuhnya menjadi lembek begini? Apakah kesedihan sungguh menghisap hidup Taehyung? Dia menyentuh dadanya, merasakan tekstur ototnya yang mulai melentur—tidak lagi kencang. Dia harus mulai berolahraga lagi, dia harus menjaga tubuhnya karena dia tidak lagi muda.
Dia meraih kemeja seragam chef-nya, mulai mengenakannya lalu mengancingkannya perlahan—membiarkan otaknya fokus pada kegiatan itu alih-alih melanglang buana memikirkan hal lain. Dia mengangkat kepalanya, memandang dirinya sendiri yang nampak lelah di cermin saat melicinkan seragamnya sebelum melepas celana jisnya dan menggantinya dengan celana kain hitam panjang seragamnya.
Taehyung meraih apron putihnya dengan bordiran Alila di bagian sudutnya lalu mengikatnya di pinggangnya—sedikit terlalu kencang karena tubuhnya menyusut tanpa disadarinya. Dia menghela napas saat mengangkat tangan dan mulai menggelung rambutnya—dia harus memotong rambutnya, sudah terlalu panjang.
Dia mengenakan harnet untuk menjaga rambutnya tetap di sana sebelum meraih toque-nya dan menyeimbangkannya di kepalanya. Menyematkan name tag-nya di dada kiri, Taehyung kemudian membersihkan seragamnya sebelum meraih kotak makannya dan mengunci lokernya. Dia beranjak ke dapur yang mulai bergerak untuk menyiapkan makan siang.
“Pagi, Chef!” Sapa CDP-nya yang semalam bertugas.
“Pagi.” Sapa Taehyung mendorong pintu ruangannya, dia meletakkan bekal Devy di atas meja untuk dimakan nanti sebelum kembali ke luar. “Hari ini tidak ada reservasi mendadak, ya? Tetap kosong?”
CDP-nya mengangguk, nampak sedikit lega bisa beristirahat dari reservasi. “Kosong, Chef. Kecuali intimate lunch hanya dua pax. Sudah saya siapkan juga.”
Taehyung mengangguk, hanya dua pax tidak akan menambah masalah di dapur. Dia harus bertemu GM hari ini membahas menu baru yang akan mereka luncurkan; Taehyung mengerjakan menu itu di sela-sela kesedihannya, mencoba mengalihkan pikirannya dari pedih tiap kali teringat Jeongguk yang menghantui kamarnya. Dia mencurahkan segala perhatian dan kemampuannya ke menu itu, ditemani Devy yang menontonnya dengan ceria saat Taehyung mengecek rasanya di rumah sebelum membawanya ke dapur hotel.
Jika menu itu terbukti laku di Alila Manggis maka Alila Regional menginginkan menu itu tersedia di semua Alila di Indonesia. Semua head chef Alila akan bertemu di Alila Manggis untuk mendapatkan demo memasak dari Taehyung serta resep mengerjakan menu itu. Namanya akan tercantum sebagai kredit tiap kali menu itu ditampilkan seperti biasa.
Sejauh ini sudah ada tiga menu buatan Taehyung yang tersedia di Alila seluruh Indonesia. Disajikan dengan food tag akrilik “by Chef Taehyung, Alila Manggis – Bali, Indonesia”.
Dan dia belum juga mendapatkan izin untuk transfer kerja ke Alila Uluwatu.
“Saya hari ini akan bertemu Bapak,” katanya pada CDP-nya yang langsung mengangguk. “Mungkin seharian. Jadi jika ada yang penting langsung telepon saja ke Executive Office, ya?” Tambahnya. “Hari ini saya minta DCDP-mu untuk masuk in charge pagi hingga Hoseok masuk.”
“Iya, sudah, Chef.” Sahut CDP-nya, berdiri di dekatnya untuk melaporkan semua yang terjadi tadi malam. “Log book malam sudah saya letakkan di meja Chef untuk dicocokkan dengan Night Report dari Pak Mingyu.”
Taehyung mengangguk, jika Duty Manager yang in charge tadi malam Mingyu maka seharusnya semua aman karena dia punya tingkat ketelitian di atas rata-rata dan juga galak saat patroli malam. Dia pernah melaporkan commis yang ketahuan mengudap makanan diam-diam di chiller langsung pada Taehyung dan setelah mendapatkan surat peringatan, commis itu memutuskan mengundurkan diri.
Mingyu tidak segan melakukan apa pun maka Taehyung memercayakan dapur padanya.
Taehyung mengangguk, “Saya akan naik mengecek breakfast lalu bertemu Bapak, jadi jika ada yang penting hubungi saya.” Katanya melirik jam dinding di dapur sebelum CDP-nya mengangguk dan Taehyung beranjak bersama desir apronnya yang tertiup angin.
Dia melangkah dalam langkah panjangnya menuju restoran Alila, mengecek menu buffet breakfast sebelum tamu berdatangan dan sengaja memilih jalan pintas depan yang terbuka sekalian menenangkan diri. Saat dia tiba, beberapa tamu sudah mulai beranjak untuk menikmati pagi di tepi kolam renang mereka yang menghadap langsung ke lepas lautan yang biru. Langit sedikit mendung, awan kelabu menggantung tipis di garis horizon dan Taehyung sejenak berhenti di sana, menatap lautan luas yang membuatnya merasa kecil.
Menatap semburat cahaya matahari tipis yang mengintip dari celah-celah awan kelabu, membuat suasana pagi menjadi begitu melankolis untuk kembali ke balik selimut meringkuk dengan orang terkasih. Menikmati pagi yang malas, sedikit minuman hangat dan bercinta.
Taehyung menghela napas dalam—teringat pagi malas di sudut Ubud berjuta tahun lalu dengan tubuh hangat Jeongguk dalam pelukannya. Ciuman yang ditempelkan ke wajahnya, ke pelipisnya, ke telapak tangannya. Hangat tubuh Jeongguk, aroma keringat dan parfumnya yang menggantung di kepala Taehyung. Bisikkan parau nakal di telinganya, tangan Jeongguk yang bergerak di tubuhnya—akrab dengan setiap lekuk tubuh Taehyung yang bahkan belum pernah dia sendiri sentuh.
Dia merindukan kehidupan itu, kemewahan rasa bahagia yang sama sekali asing di hidupnya. Taehyung menghela napas, menikmati udara pagi yang bersih dan menggigit sebelum melangkah ke restoran yang sudah mulai ramai dipersiapkan semua anak-anak servis yang menyapanya. Tidak peduli seberapa inginnya dia kembali meringkuk di ranjang, dia harus bekerja.
“Halo, Chef. Pagi.” Sapa FB Captain pagi yang sudah mulai menunduk di komputer sistem, mengecek jumlah tamu hari itu untuk menyesuaikan breakfast.
“Pagi.” Sapa Taehyung mengangguk dan melangkah ke makanan—mengeceknya dengan anak-anak servis bergerak di sekitarnya membawa piring-piring porselen putih yang sudah dipoles dan sendok garpu yang bergemericing.
Menu hari itu sempurna; semuanya baik. Tidak ada masalah yang bisa Taehyung lihat di permukaan. Dia mengambil sendok saji yang diletakkan di sisinya dan menggunakannya untuk sedikit mengaduk makanan tanpa merusak tata letaknya sebelum mengembalikannya. Dia berkeliling dan berhenti di dekat kasir, di mana FB Captain bersiaga persis saat tamu pertama memasuki restoran bersama anak-anak mereka.
“Hari ini kamar bagaimana?” Tanya Taehyung setelah FB Captain memindai kunci kamar tamu itu ke sistem, mengecek breakfast yang sudah termasuk ke dalam harga kamar.
“Penuh, Chef.” Sahut FB Captain mengangguk, nampak senang. Anak-anak servis jauh lebih suka jika mereka lelah karena bekerja back-to-back daripada lelah karena berdiam diri saat hotel sepi.
Taehyung juga merasakan perasaan itu. Lebih suka saat dia berkeringat berjibaku menyiapkan menu daripada harus diam, duduk mendengarkan orang berdiskusi seperti apa yang akan dilakukannya sekarang. Namun dia tidak punya pilihan lain. Dia pamit dari restoran saat menyadari dia tidak punya sesuatu untuk dilakukan lagi dan menuju ruangan GM yang sudah menunggunya.
Menu yang diajukan Taehyung adalah kombinasi yang tidak pernah salah dari ikan dan bunga kecombrang yang harum. Aroma kuat bunga itu akan mengurangi aroma amis ikan yang akan dimasak bersamanya; tidak banyak restoran yang berani menyajikan sambal kecombrang karena tidak semua tamu memiliki nyali untuk mencoba makanan eksotis ini. Aroma bunga yang kuat, manis, dan nyaris memabukkan akan menetralisir bau amis ikan, memberikan sensasi makan baru yang luar biasa.
Taehyung sudah memodifikasi menunya, mencari teknik masak terbaik untuk membuat ikannya selembut mentega. Lakshmi dan Devy secara harfiah berseru senang saat Taehyung menyajikan ikan yang dimasaknya dengan alat terbatas di rumah—membayangkan hasilnya jika dia memiliki semua alat-alat dapur berkelas. Mereka tidak perlu mengunyah ikannya karena dagingnya meleleh di mulut begitu menyentuh lidah mereka. Devy mengambil banyak foto makanan itu dan memamerkannya ke sosial media, memamerkan calon suaminya yang berbakat.
“Kecombrang?” Tanya Felix seolah menanyakan akal sehatnya saat Taehyung memberi tahunya lewat telepon ketika dia mengecek kecombrang cantik berwarna merah jambu yang dibelikan Lakshmi untuknya; aromanya menyengat, harum manis yang membuat pangkal hidungnya pedih. “Kau yakin akan menggunakan bahan beraroma sekuat itu?“
Taehyung mengedikkan bahu, “Aku tidak keberatan melakukan gambling.” Sahutnya dan berpikir untuk bertanya pada Arsa tentang ini karena dia 'rajanya' Indonesian fusion namun tidak mendapat waktu sama sekali karena dia sibuk mondar-mandir tentang mempersiapkan restoran barunya.
Tapi toh tanpa Arsa pun dia berhasil melakukannya. Mungkin dia akan membawa menu itu ke Le Paradis sebelum membiarkan Alila mengambilnya. Dia tetap butuh pendapat kedua dari ahli. Saat dia memasak kecombrangnya, Devy berdiri di sekitarnya—mengamati dengan tertarik dan Taehyung belum pernah merasakan ketertarikan sebesar itu dari orang lain pada dunia yang dianggapnya biasa saja.
“Tidak biasa,” sahut gadis itu menggeleng tegas saat Taehyung memintanya menjauh. “Ini, 'kan, kesukaan Wigung. Tentu saja Ayu mendukung!”
Alih-alih mendukung, dia sebenarnya hanya mengacau tapi Taehyung mengabaikannya. Dia boleh melakukan apa saja selama menjaga jarak satu meter dari ruang bekerja Taehyung. Untuk pertama kali setelah berbulan-bulan, Taehyung merasa kembali hidup dengan kreasi barunya; mencium aroma kecombrang yang lembut setelah diolah ditemani ikan yang meleleh di mulut serta seru bahagia Lakshmi saat mencicipinya.
Taehyung mendapatkan suntikan rasa percaya diri lagi sekarang saat dia mempresentasikan menunya ke GM yang mendengarkan dengan serius. Taehyung menjelaskan konsepnya, menjelaskan semua aspek menunya dan bagaimana makanan itu akan menjadi sukses seperti semua menunya yang lain. Dia juga memberi tahu GM dia akan meminta pendapat kedua dari seseorang yang lebih ahli demi mendapatkan kesempurnaan.
“Boleh tolong sajikan satu untuk makan siang atau makan malam saya?” Tanya GM kemudian setelah Taehyung selesai menjelaskan dan juru masak kepala itu mengangguk. “Saya ingin mencicipi sebelum dan sesudah pendapat ahli.”
Taehyung menyunggingkan senyuman tipis; mencatat dalam hati untuk menghubungi Arsa sore ini, memaksanya memberikan waktu beberapa jam untuk mendengarkan resepnya. “Baik, Bapak. Saya akan infokan Bapak jika saya sudah mendapatkan kecombrangnya.” Katanya sebelum berpamitan dan kembali ke dapur.
Beberapa jam lagi makan siang, Taehyung harus mencari kecombrang yang sesuai untuk masakannya. Mereka tidak pernah menyetok makanan berbau kuat itu di chiller karena bisa merusak bahan makanan lain dengan aroma manisnya. Taehyung melangkah turun, bergegas kembali ke dapur untuk meminta seseorang menghubungi suplayer mereka demi kecombrang. Dia hanya butuh seikat yang segar.
“Dian.” Katanya begitu mendorong pintu dapur, DCDP-nya mendongak dari kesibukannya mengecek potongan sayur anak magang. Gadis itu bergegas mengelap tangannya dan menghampiri Taehyung yang memasuki ruangannya.
“Apakah kita punya kecombrang?” Tanyanya, menyingkirkan tas makanan Devy dari atas meja dan mulai meraih buku agendanya yang terisi coretan menu-menu yang ditulisnya saat melamun. “Atau bisakah suplayer mendapatkan seikat? Saya harus memasakkan menu baru untuk Bapak hari ini.”
DCDP-nya nampak kaget dengan permintaan di luar kebiasaan mereka itu. “Kecombrang, Chef?” Ulangnya, meragukan pendengarannya sendiri. “Coba saya minta Receiving untuk mengecek ke suplayer. Agak sulit juga, Chef.”
Taehyung mendengus, benar. Lakshmi butuh beberapa hari untuk mendapatkan kecombrang, bagaimana caranya mendapatkan benda itu dalam satu hari? Tapi tidak ada salahnya mencoba. “Dicoba saja.” Katanya lalu DCDP-nya mengangguk sebelum bergegas keluar memenuhi kebutuhan head chef-nya.
Taehyung berdiri, menggulung lengan kemejanya lalu bergegas keluar. Dia harus mengerjakan ikannya jika memang akan memasak menu barunya. Butuh waktu untuk membuat ikannya selembut mentega. Taehyung melangkah ke Butcher, mengecek apakah mereka punya ikan yang dibutuhkannya.
Tempat itu lebih dingin dari Pastry, beraroma tajam daging mentah dan darah binatang. Dia secara personal kagum pada mereka yang bekerja di Butcher karena ruangan itu beraroma seperti rumah jagal. Ada noda-noda darah dan lemak yang sulit hilang di permukaan mejanya, aroma darah yang memualkan, daging-daging mentah; Taehyung sendiri tidak pernah kuat berada di sana.
“Kalian punya ikan?” Tanyanya pada commis Butcher yang bergegas menuju chiller diikuti Taehyung untuk mengecek ketersediaan protein mereka.
Taehyung memilih ikan yang ada, tidak terlalu bagus karena mereka tidak punya banyak menu ikan tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Dia meminta Butcher membersihkannya, memotong sesuai kebutuhannya sebelum membawanya di atas piring aluminium untuk diproses, dimarinasi sebelum siap dimasak. Dia melangkah keluar dari Butcher saat DCDP-nya kembali masuk.
“Chef, kata suplayer mereka punya seikat tapi tidak terlalu bagus. Chef berkenan?” Tanyanya.
“Tidak apa-apa, saya akali.” Taehyung mengangguk. “Tolong diantar ke hotel sekarang juga.”
Dian, DCDP-nya mengangguk. “Siap, Chef.” Lalu dia bergegas berbalik, menjejak safety shoes-nya yang bersol tebal hendak melangkah memberi tahu Receiving tentang permintaan Taehyung saat dia mendadak berhenti.
“Oh, Chef, maaf.” Dia merogoh kantung apronnya dan mengeluarkan sesuatu. Taehyung yang sudah berbalik hendak pergi ke meja prep untuk mengurus ikannya berhenti dan menoleh.
Dia melihat sepucuk surat di tangan DCDP-nya, berwarna putih gading dengan pinggiran merah jambu yang nampak sederhana dan cantik terbalut plastik. DCDP-nya menghampiri Taehyung dan menyerahkannya, dengan kondisi terbalik sehingga Taehyung tidak bisa melihat isinya.
“Ada undangan yang dititipkan ke Security hari ini untuk Chef.” Katanya mengulurkan tangannya dan Taehyung meraihnya.
“Oh, ya.” Katanya, menyatukan potongan informasi hari ini tentang undangan yang dimaksud Lakshmi—mungkin ini undangannya. Dia akan memberi tahu Devy agar bersiap menghadiri upacara adat lain sebagai pasangannya. “Saya sudah menunggu undangannya.”
DCDP-nya menatapnya sejenak. “Saya tidak menyangka,” katanya kemudian, meringis geli seraya mengedikkan bahu. “Akhirnya Head Chef Amankila akan menikah. Sayang sekali saya tidak mendapat kesempatan mendekatinya.”
Jantung Taehyung seketika mencelos, terjun bebas ke dasar perutnya—menghantam permukaan lalu pecah berserakan. Napasnya lenyap, rasa dingin aneh merebak di hatinya, membuat jantungnya sejenak berdetak dengan kepedihan yang mustahil diabaikan. Air es disiramkan ke punggungnya, membuat jemari kaki dan tangannya mendadak dingin serta mati rasa.
Siapa katanya....? “Siapa...?” Bisiknya pecah, genggamannya di undangan di tangannya menguat hingga kertas tebal itu remuk di tangannya. “Siapa katamu?” Ulangnya, napasnya memburu saat paru-parunya diserang rasa kaget dingin itu.
Ujung-ujung jemarinya berubah mati rasa, begitu dingin hingga dia bergidik. Bahkan kata 'terkejut' sekali pun melemahkan ledakan emosi yang sekarang dirasakan Taehyung—seolah langit runtuh di atasnya, menimbunnya dalam emosi yang tidak tergambarkan.
Dia merasa seperti baru saja dihajar, persis di wajahnya dengan wajan.
DCDP-nya mengerjap, menyadari cengkeraman kuat Taehyung di sudut undangan cantik yang diserahkannya. Ragu-ragu, “Chef Jeongguk, Chef.” Katanya, lebih terdengar seperti pertanyaan alih-alih pernyataan. “Tertulis di undangan. Maaf saya mengintip karena tidak diamplop.”
Taehyung menghela napas tajam, suaranya terdengar nyaring di dapur yang mendadak hening merespons ledakan emosinya. Dia berusaha melonggarkan cengkeramannya di undangan itu. Jemarinya terkunci, tidak mau diajak bekerja sama tidak peduli seberapa kuat otaknya memerintahkan jemarinya untuk membuka. Taehyung gemetar, tulang punggungnya bergoyang dengan cara yang membuatnya syok.
Dia mencengkeram ikan di tangannya yang lain, merasakan dinginnya piring aluminium saat dia berusaha membalik undangan yang remuk di tangannya. Matanya berkunang-kunang, dipenuhi kerlip putih aneh membutakan yang merebak. Dia mengerjap, berusaha mengenyahkannya namun malah semakin memperbanyaknya. Dia membuka mulutnya, bernapas dari sana—mendengar napasnya sendiri menderu dan berpusing masuk ke paru-parunya.
Taehyung mengerjap, berusaha membuat matanya fokus saat menatap undangan di tangannya.
Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.
Piring di tangan Taehyung lepas, meluncur jatuh ke lantai dapur. Membenturnya dengan suara denging keras dan ikan di atasnya remuk. Sesuatu dicabut dari diri Taehyung; untuk kedua kalinya. Organ yang tidak dikenalnya, sekarang dicabut paksa lalu dicacah, diremukkan. Meninggalkan lubang menganga yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Separuh diri Taehyung terasa lenyap, meninggalkan lubang kosong menyiksa yang membuatnya lemas. Seluruh dapur hening, menunggu juru masak kepala mereka bereaksi. Taehyung berdiri di sana, di tengah dapur dengan undangan diremas di tangannya dan protein remuk di kakinya.
Pertunangan.
Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.
Kata-kata itu menari di matanya yang berkabut, jutaan kunang-kunang berterbangan di balik kelopak matanya—menyinari irisnya dengan cahaya yang membutakan sementara Taehyung berusaha menjaga dirinya sendiri namun dia oleng. Nyaris ambruk jika seorang commis tidak bergegas meraihnya, langsung menyangganya dengan kedua lengannya yang kokoh saat udara dihisap habis dari paru-parunya.
Pertunangan.
“Chef!” Seru DCDP-nya, namun semua suara itu memudar di kejauhan—menyisakan Taehyung dan undangan berwarna gading di tangannya.
“Kau layak mendapatkan seseorang yang tidak ragu membuang segalanya demi bahagia bersamamu.”
Dia mendengar dirinya sendiri bicara; mendengung di kepalanya yang kosong dan dingin, menatap Jeongguk yang berlinang air mata memohonnya tinggal, memohonnya untuk membalas cinta yang Taehyung tahu tidak bisa dibalasnya.
“Mari... kita akhiri.”
“Berbahagialah, Jeongguk.”
Lalu mengapa.... bahagia ini begitu menyakitkan?
*