Gourmet Meal 182

tw // gas-lighting , trauma , manipulation , insecurity , internalized homophobia , suicidal thoughts .


Taehyung tidak fokus sama sekali sepanjang sisa malam.

Dia bahkan tidak bergeming saat Devy mengajaknya mengobrol sambil makan malam. Dia membiarkan gadis itu memilih restorannya dan dia mengemudi dengan kepala kosong—nyaris tidak benar-benar menyadari ke mana Devy membawanya. Dia membelok saat gadis itu bilang belok, berhenti saat harus berhenti. Mereka pergi ke Warung Legong, Blahbatuh. Taehyung baru menyadarinya saat mereka berhenti dan Devy bergegas turun dengan semangat.

Taehyung tidak tahu apa yang ada di kepala gadis itu, tidak peduli seberapa dinginnya dia meladeninya, Devy tidak pernah menyerah. Dia menunggu hingga Taehyung turun dan mengunci mobilnya sebelum menyamakan langkah mereka memasuki restoran yang ramai. Mereka tiba nyaris terlalu malam karena Taehyung membereskan urusannya dengan Jeongguk sebelum berangkat.

Ayahnya luar biasa senang—dia menelepon Taehyung, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dan memujinya. Memintanya bersikap baik pada Devy. Hatinya teriris saat mendengar suara senang dan bangga ayahnya—mungkin inilah yang seharusnya dilakukannya. Menuruti ayahnya nyatanya selalu membuat hidup Taehyung mudah, membuatnya nyaman. Semua orang mendadak bersikap sangat ramah padanya, sayang padanya, mendengarkannya; dia merasa dihargai, diterima.

Namun ketika dia melakukan sesuatu sedikit saja diluar keinginan ayahnya maka satu Puri sepakat untuk menganggapnya tidak pernah ada. Teringat keributan di Puri saat pertama kali dia mengumumkan keinginannya untuk melepas kastanya dan pergi dari Puri. Teringat ibunya yang menangis, memohonnya tinggal dan bagaimana Lakshmi nampak seperti baru saja ditonjok.

Maka hari itu, Taehyung memutuskan untuk menelan semua keinginannya dan mengedepankan hal yang akan membuat semua orang senang.

Seperti mengajak Devy pergi makan.

Taehyung mendesah saat mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang dipilih Devy—mengapresiasi interior tempat itu serta suasananya yang hangat. Ada beberapa rombongan wisatawan yang makan beberapa kursi dari mereka, tertawa hangat dengan aroma bir di udara.

“Wigung ingin makan apa?” Tanya Devy dan Taehyung menoleh ke arahnya, mencoba mengapresiasi pilihan berpakaiannya, rambutnya yang di-blow-dry, riasan wajahnya yang sempurna.

Gagal.

Dia tidak tertarik sama sekali pada gadis di hadapannya tidak peduli seberapa cantik dan pintarnya dia. Hatinya sama sekali tidak bereaksi pada kecantikannya. Gadis itu memesan makanan, nampak senang saat Taehyung akhirnya menyambutnya dengan beradab. Tidak lagi memperlakukannya dengan dingin dan berjarak.

Semua orang senang, Taehyung menyadari itu saat Devy tersenyum lebar. Teringat telepon dari ayahnya yang untuk pertama kalinya terdengar bangga dan puas padanya. Semua orang senang. Walaupun hatinya sendiri sesak dan diremas perasaan tidak puas, perasaan ingin memberontak dan ingin kabur dari semuanya. Namun semua orang senang.

Semua orang senang.

Semuanya, kecuali Taehyung. Tetapi mungkin, pikirnya saat makanannya dan Devy datang. Anak itu bercerita tentang persiapan koasnya di salah satu rumah sakit di kota dan berpikir apakah dia sebaiknya kos saja. Membicarakan tentang ilmu-ilmu yang tidak sabar dicobanya, perasaan bersemangat untuk segera mengabdikan dirinya. Membuat dirinya berguna.

Mungkin jika Taehyung berpura-pura bahagia, berpura-pura baik-baik saja, terus memalsukan kebahagiaan dan kedamaiannya.... Mungkin perasaan itu akan menjadi nyata. Mungkin suatu hari nanti, kebohongan itu cukup untuk menambal lubang kosong di hatinya yang sekarang menganga dan berdenyut—merintih ingin diisi namun Taehyung tidak tahu cara untuk mengisinya.

Dia sudah mencoba mengisinya dengan karir, uang, hobinya—lubang itu tidak menutup, alih-alih semakin membesar dan membuatnya menderita. Dia merasa kosong, kebingungan berusaha mencari arah yang benar. Tiap kali dia melakukan apa yang diinginkannya, seluruh dunia seolah menyalahkannya. Mengoreksinya, memojokkannya dan menunjukkan padanya dengan keras betapa keinginannya adalah hal yang salah.

Taehyung belajar, melakukan apa yang Puri inginkan selalu membuatnya merasa diterima dan lebih baik. Maka mungkin, inilah yang harus dilakukannya.

Dia menatap Devy yang masih berceloteh, menyingkirkan ekor udang yang sedang dimakannya. Mengatakan sesuatu tentang gigi dan hal-hal yang tidak dipahami Taehyung, namun dia mungkin bisa berusaha.

“Maaf,” katanya pelan dan Devy berhenti bicara, mendongak dari kesibukannya bertarung melawan udang di makanannya. Gadis itu terpana mendengarnya bicara untuk pertama kalinya setelah sejak tadi Taehyung hanya melamun, sama sekali tidak menaruh perhatian pada kalimatnya.

“Tadi kau membicarakan apa? Maaf, Wigung tidak mendengarkan. Gigi...?”

Devy mengerjap. “Wigung mendengarkan?” Tanyanya, sedikit kebingungan dan dia sama sekali tidak menyembunyikannya.

Taehyung tersenyum, mengabaikan denyutan di hatinya yang semakin menggila. Menghela napas dan mengencangkan otot perutnya, berusaha menghalau sakit itu agar tidak mengganggunya—berharap suatu hari nanti luka itu akan sembuh.

“Tadi tidak, maaf. Wigung memikirkan hal lain,” katanya menyeka anak rambutnya. “Sekarang aku akan mendengarkan.”

Devy tersenyum—cerah sekali hingga Taehyung harus menggertakkan giginya, berusaha mengabaikan teriakan di dalam kepalanya tentang betapa tidak melakukan apa yang diinginkannya membuat semua orang bahagia. Taehyung harus mulai berhenti melakukan apa yang diinginkannya dan fokus pada apa yang dibutuhkannya. Apa yang keluarganya butuh dia untuk lakukan.

Sementara Devy bicara, dua kali lebih bersemangat karena Taehyung bertanya padanya, Taehyung berusaha memfokuskan dirinya pada kata-kata gadis itu dan bertanya; sesuatu tentang ondontektomi, jaringan periodontal, hal-hal yang seluruhnya asing dengan kehidupan Taehyung yang lebih banyak berkutat dengan bahasa Prancis.

Taehyung berusaha membuat dirinya nampak tertarik pada dunianya. Karena... gadis ini yang akan diajaknya menghabiskan kehidupannya ini, 'kan? Maka Taehyung akan belajar berpura-pura tertarik, berpura-pura bahagia; berharap suatu hari nanti, bahagia itu menjadi kenyataan dan mengisi lubang besar di hatinya penuh-penuh.

Tiap kali kepalanya berpindah ke kejadian tadi di Alila, dia akan mencubit pahanya sendiri atau bahkan memukulnya—berusaha membawa kembali kepalanya ke masa sekarang, mendengarkan Devy yang menjelaskan cara untuk melakukan perawatan pada gigi berlubang yang sudah menginfeksi akarnya. Taehyung tidak paham apa menariknya membicarakan gigi busuk di depan makanan hangat namun dia tidak keberatan.

Jika itu membuat Devy senang, maka akan dilakukannya. Kesenangan gadis ini membuat ayahnya senang—membuat ibu dan kakaknya aman. Membuatnya tidak lagi transparan di dalam Puri, membuatnya didengar dan diapresiasi; seperti efek domino. Seharusnya pengorbanan ini sama sekali tidak berat, 'kan? Semua orang bahagia. Kebahagiaan Taehyung bisa menyingkir sebentar karena dia punya kepentingan orang lain yang lebih banyak.

”... Lalu setelahnya, jika semua sarafnya sudah mati, barulah gigi ditutup.” Devy menyingkirkan cabai di piringnya, meraih sepotong udang dengan garpunya dan menyuapnya.

“Kau memang ingin jadi dokter, ya?” Tanya Taehyung saat gadis itu bernapas sebelum mulai berceloteh lagi. “Ingin mengambil spesialis?”

Devy mengangguk, semangat—Taehyung menyadari dia baru saja menyentuh bagian yang tepat karena dia nampak bersinar karena senang. “Gigi anak!” Katanya, nampak sangat ceria hingga Taehyung tidak bisa tidak tersenyum bersamanya.

“Kau suka anak-anak?” Tanyanya sopan, menyuap makanannya yang terasa seperti kardus lembek sekarang karena dia sangat mual dan lelah. Namun dia masih harus melakukan ini, teringat betapa puas dan bangga ayahnya saat menghubunginya tadi.

Sedikit lagi, Taehyung, pikirnya memaksa dirinya menelan kardus yang dikunyahnya. Jangan menyerah sekarang.

“Ya.” Devy menjawab dengan nada 'tentu saja' yang membuat Taehyung tersenyum kecil. “Nanti kita akan punya anak berapa?” Tanyanya kemudian dan Taehyung nyaris tersedak. “Tiga boleh?”

Makanan yang baru saja ditelan Taehyung secara paksa bergolak kembali—menyodok tenggorokannya berusaha kembali ke rongga mulutnya bersama asam lambung yang mendidih. Dia berdeham keras, berusaha menelan kembali makanan yang membakar tenggorokannya dan memaksakan seulas senyuman yang terasa kaku dan asing di wajahnya.

“Terlalu dini,” katanya, nyaris menggigit lidahnya sendiri saat berusaha bicara. “Untuk membicarakan anak. Silakan kejar mimpimu, jadilah dokter sebelum kita memkirkan,” dia menggertakkan giginya. “Memikirkan...”

Ayolah, Taehyung! Dia menghela napas, mengabaikan sakit yang berdenyar di hatinya serta rasa muak yang bercokol di ulu hatinya, membakarnya dengan cara tidak masuk akal.

“Anak.” Katanya kemudian, nyaris menyemburkan kata itu karena dia sama sekali tidak tertarik pada konsep itu.

Namun dia harus memiliki anak. Devy menginginkan anak, ayahnya menginginkan anak, Puri membutuhkan penerus; maka Taehyung tidak punya pilihan lain. Dia harus melakukannya tidak peduli seberapa tidak nyamannya dia pada konsep bercinta dengan perempuan. Semua orang kecuali dirinya menginginkan anak itu, maka Taehyung akan melakukan apa yang semua orang inginkan; selalu begitu sejak dia beranjak dewasa.

Seharusnya dia sudah mulai terbiasa. Dia sudah melakukan ini bertahun-tahun, namun entah kenapa semakin hari semakin terasa berat—tidak pernah semakin ringan dan mudah. Taehyung mungkin harus berusaha lebih kuat lagi.

“Tidak apa-apa, kok!” Devy menyeka rambutnya, mulai meraih makanan penutupnya. “Aku ingin segera punya anak setelah menikah sebelum melanjutkan pendidikan. Anak lelaki, 'kan? Semuanya bisa diakali.”

Taehyung berusaha untuk tidak memasang wajah mual—bisakah dia menjadi ayah yang baik bagi mereka? Bisakah dia? Atau dia akan berakhir menjadi bajingan tua bangka yang tidak bisa mengurus anaknya sendiri seperti ayahnya? Mengorbankan anaknya untuk kejahatan yang dilakukannya seperti meletakkan Lakshmi pada kaum 'buangan', menanggung kesalahannya seumur hidup sebagai 'aib' yang berjalan? Memaksa anak lelakinya dewasa sebelum waktunya, memaksa anak itu mengorbankan kebahagiaannya demi kepentingan orang lain? Taehyung mual.

Dia tidak mau meletakkan siapa pun di posisinya sekarang, apalagi anaknya.

“Masih banyak waktu,” tukasnya, berusaha mengalihkan Devy dari pembicaraan tentang anak. “Kita pikirkan nanti.”

Saat dia mengemudi pulang setelah menurunkan Devy di rumah, Taehyung akhirnya tidak bisa menahan dirinya sendiri dan membiarkan kenangan tadi membanjir di kepalanya. Bagaimana Jeongguk nampak seolah sedang dipelintir ke arah yang salah, seolah seluruh tulangnya remuk—wajahnya berkerut dan nampak sangat kesakitan saat dia bertanya:

“Kau mencintaiku?”

Taehyung ingin menyerah pada perasaan itu, ingin merengkuhnya dan berharap perasaan itu bisa mengisi rongga di dadanya penuh-penuh. Berharap Jeongguk-lah sesuatu yang kurang dalam hidupnya, yang akan membuatnya utuh dan bahagia. Sempurna. Namun dibayangi kepentingan Puri, dibayangi ayahnya, dibayangi begitu banyak ketidakbahagiaan orang lain, begitu banyak risiko besar yang harus ditanggungnya sendirian....

Taehyung tidak bisa. Biarlah Jeongguk menganggapnya pengecut, menganggapnya payah karena tidak berani membuang segalanya demi Jeongguk; karena Taehyung memang tidak bisa. Cinta Jeongguk membuatnya takut; betapa hebat dan tulusnya pemuda itu demi dirinya membuatnya gelisah. Dia tidak bisa membalas perasaan itu sama hebatnya, sama tulusnya.

Dia punya begitu banyak kepala untuk dipikirkan, begitu banyak orang yang menunggunya melakukan apa yang mereka inginkan. Menarik temali yang menjeratnya, memaksanya menari sesuai musik yang mereka putar. Tiap Taehyung bergerak berlawanan dengan tali mereka, mereka murka dan menghukumnya dengan mengabaikannya. Memberikannya silent treatment, membuat Taehyung mempertanyakan emosinya sendiri.

Maka saat Taehyung tidak kunjung menjawab, Jeongguk menghela napas. Masih menatapnya dengan kasih dan cinta tulus yang membuat Taehyung merasa seperti baru saja dihajar. Jika saja, jika saja ada sedikit tempat di hidupnya untuk egois—maka dia akan menjejalkan cintanya untuk Jeongguk di sana. Seketika itu juga tanpa perlu berpikir lagi.

“Mari coba lakukan apa yang kauinginkan.” Katanya membuat Taehyung terpana. Dia baru saja menawarkan diri untuk menginjak Jeongguk, meremasnya dan mencekiknya hingga mati dengan kepengecutannya dalam dunia ini. Namun pemuda itu tetap dan selalu tetap mencintainya—selalu begitu sejak dulu.

“Aku tidak akan melakukan apa pun pada Mirah karena aku memang tidak tertarik sama sekali padanya.” Dia meraih tangan Taehyung, meremasnya hangat. “Aku milikmu; hati, tubuh, pikiranku. Semuanya milikmu. Genggam aku dalam tanganmu; remuk atau utuh, semua ada di tanganmu.

“Aku tahu kau sedang takut, aku tahu kau sedang kebingungan. Maka mari berpikir, mari selesaikan bersama. Akan kubantu menguraikan semuanya pelan-pelan; jangan menghukum dirimu sendiri atas ini karena ini pilihanku.

“Aku memilih ini. Memilih bertahan jatuh cinta padamu ketika aku punya pilihan lain yang nampak jauh lebih masuk akal,” dia tersenyum getir, sudut bibirnya gemetar dan Taehyung menyentuhnya lembut.

Jeongguk meraih tangannya, mencium pergelangan tangannya dengan lembut—menghirup aroma Taehyung seperti menghirup inhaler. “Aku memilih gila bersamamu, memilih terjun dalam gilanya perasaanmu; gilanya hidupmu. Aku memilih untuk berada di sini, maka jangan.

“Jangan pernah berpikir ini semua salahmu. Aku bisa pergi dari sini sekarang, meninggalkanmu. Namun aku memilih untuk tinggal bersamamu karena aku tahu, kau membutuhkanku.”

Dia membuka matanya, menatap Taehyung yang hatinya baru saja compang-camping oleh tikaman belati panas bergerigi. Berkali-kali hingga hatinya koyak karena ketulusan Jeongguk.

“Kau harus berani, suatu hari nanti, untuk memilih bahagia, Wigung.”

Lalu menambahkan sebelum mereka pergi dengan wajah terluka yang menyayat hati Taehyung. “Semoga kau menyadari,” katanya dengan tangan Taehyung dalam genggamannya, telapak tangan menghadap ke atas. “Betapa pentingnya benda yang berada dalam genggamanmu.”

Dia kemudian menutup jemari Taehyung, seolah meletakkan sesuatu di sana yang langsung membuat tangan Taehyung terasa berat dan berdenyut. Jeongguk meletakkan hatinya di sana, mengizinkan Taehyung menghancurkannya kapan pun dia mau dan Taehyung tidak juga memiliki keberanian untuk menyerah pada segalanya.

Untuk memilih bahagia.

Ban mobil menggelinding ke pinggir, Taehyung membiarkan mobilnya berhenti di badan jalan yang lumayan sepi dengan penerangan minim dan melepaskan tangannya dari roda kemudi. Hatinya sesak saat dia membiarkan mobil berhenti, dia membuka tangan kanannya—mencoba mengecek apakah hati Jeongguk berdenyut di sana dan apakah dia belum meremukkannya dalam genggamannya.

Dia menyandarkan kepalanya ke roda kemudi, bernapas dengan mulutnya saat tangis mengguncang tubuhnya. Taehyung terisak di dalam mobil yang berheti di pinggir jalan, berusaha mengenyahkan sakit yang berdenyut hebat di dalam hatinya sekarang. Berusaha melawan rasa kosong dan hampa yang menyiksanya; seolah sebuah organ baru saja dicabut dari sana dan tidak ada satu pun organ lain yang bisa menggantikannya.

Organ yang berdenyut atas dan untuk Jeongguk.

Organ yang selama beberapa hari ini melonjak ceria, berdesir tiap kali Jeongguk berada di sekitarnya. Organ yang meniupkan rasa bahagia aneh yang memabukkan—perasaan asing yang membuatnya kecanduan. Mungkin Taehyung sudah memanfaatkan Jeongguk demi dirinya sendiri; meraih pemuda itu ke dalam pelukannya walaupun dia tahu dia tidak bisa memberikan apa pun untuknya.

Dia seharusnya tidak meminum vodkanya hari itu. Dia seharusnya tidak mengizinkan Jeongguk memasuki kehidupannya—mereka seharusnya tetap di jalan mereka masing-masing.

Sekarang benang mereka kusut, saling membelit dan mustahil untuk diuraikan kecuali dengan gunting besar yang memutus semuanya. Taehyung harus mengguntingnya—harus memutuskan hubungannya dengan Jeongguk sebelum semuanya terlambat.

Tapi dia jatuh cinta pada pemuda itu—cinta yang tidak seharusnya bersemi, cinta yang bagi semua orang di hidupnya adalah kesalahan. Dosa. Aib. Kegagalan. Tidak normal.

Adilkah jika cinta yang Tuhan sendiri hadirkan merupakan dosa bagi umatnya?

Taehyung tidak tahu apa pun di dunia ini, menyerah berusaha memahaminya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, peran apa yang harus dilakoninya sebagai Tjokorda Lanang Agung Taehyung Mahatma. Dia tidak tahu naskahnya, dia tidak tahu alur ceritanya; dia dijebloskan ke panggung pertunjukkan tanpa persiapan dan dipaksa untuk melakukan yang terbaik.

“Aku akan tetap di sini,” bisik Jeongguk lagi—mendengung di kepalanya seperti seekor lebah yang marah sementara mulutnya terbuka dengan isakan tanpa suara yang memilukan lolos dari sana.

“Selalu di sini untukmu, kapan pun kau berubah pikiran. Aku akan menyambutmu. Karena aku tidak akan pernah mencintai lagi, tidak sehebat cinta ini untukmu.”

Taehyung meledak dalam tangisan tanpa suara yang semakin memilukan, menghisap semua udara dari paru-parunya dan membuat tubuhnya mengerut oleh rasa ngilu. Dia membenturkan keningnya di roda kemudi; sekali, dua kali.... Berkali-kali hingga keningnya nyeri namun tidak ada yang bisa mengubah rasa sakit yang bercokol di hatinya.

Tidak ada sakit yang bisa mengalihkan sarafnya dari rasa panas terbakar yang membakar titik di belakang jantung dan paru-parunya. Membakar tenggorokkannya. Taehyung mencubit pahanya, sekuat mungkin berusaha mengalahkan rasa sakit itu namun dia mati rasa—seluruh tubuhnya kebas. Sakit itulah satu-satunya rasa yang berdenyut sekarang. Membuatnya sesak, membuatnya sinting.

Taehyung ingin membuang segalanya. Ingin mengulang kehidupannya, ingin terlahir kembali menjadi orang lain. Ingin membebaskan diri dari perasaan terjebak dan tersesat ini; Taehyung ingin bebas. Dia ingin melepaskan diri. Dia ingin lari, menjauh dari semua orang yang terus menerus mendesaknya melakukan apa yang mereka inginkan—memaksa Taehyung bertanggung jawab atas emosi mereka.

Melemparkan kekecewaan mereka pada Taehyung, memaksanya melakukan sesuatu agar mereka tidak lagi kecewa padanya. Menyetirnya, merampas kehidupan yang tidak pernah jadi miliknya. Dia tidak ingin melibatkan Jeongguk, dia ingin pemuda itu pergi darinya—melangkah menjauh dari benda rusak seperti Taehyung.

Namun Jeongguk bertahan. Entah hatinya terbuat dari apa hingga tidak juga lelah meladeni Taehyung yang lelah dengan dirinya sendiri.

Dia memukul dadanya, berkali-kali berusaha mengenyahkan sakit yang berdenyut di sana. Berusaha mengalihkan otaknya dari kesakitan itu, memaksanya untuk melanjutkan hidup. Namun tidak ada yang terjadi.

Lubang besar itu terus menganga, berdarah dan berdenyut nyeri. Tidak peduli sehebat apa Taehyung berusah membebatnya, berusaha menutupnya; darah terus mengalir dari sana—melahapnya hidup-hidup. Membunuh Taehyung perlahan, menghabisi hidupnya.

Jika saja ada satu jalan keluar dari semua ini, satu jalan yang membuat Taehyung melepaskan semua tanggung jawabnya dan menjadi bukan siapa-siapa, dia akan melakukannya.

Dia akan melakukannya.


Author's note.

Tidak peduli seberapa bencinya kalian pada karakter Taehyung, saya senang masih ada orang sehebat Wiktu yang masih mau mencoba memahami seseorang dengan beban mental sehebat Wigung alih-alih mengambil cara mudah dengan meninggalkan. Bertahan itu sulit, maka hanya bisa dilakukan oleh orang-orang hebat.

Tapi karena polling yang menang adalah dia pergi, maka be ready. He won't be around for a long time from now.

ire, x