Gourmet Meal 237

tw // suicidal thoughts , internalized homophobia , age gap.

cw // Taehyung's interaction with girl.

ps. tolong jaga ketikan. unedited bcs im soooooooooo sleepppyyyyyy


Taehyung duduk di teras rumahnya, menemani Devy yang sibuk membaca jurnal-jurnal untuk persiapan koasnya. Dia akan wisuda minggu depan dan akan terjun untuk koas di rumah sakit setelahnya; Taehyung bersyukur tentang itu, setidaknya itu berarti Devy akan sedikit lebih sibuk dan tidak akan merecokinya terlalu sering.

Gadis itu sedang belajar dengan iPad-nya, duduk bersila di sisi Taehyung dengan seteko teh dan cemilan yang disajikan ibu Taehyung saat dia datang. Mereka menggelar tikar di teras yang terang dan sepoi-sepoi, Taehyung menemaninya belajar sambil mengecek grup koordinasi dapur dan hotel karena hari ini ada even kecil yang tidak membutuhkannya.

Sejak Taehyung 'menerima' Devy, dia jadi lebih sering mampir ke Puri membawa makanan atau hanya sekadar membantu Lakshmi dengan janurnya. Terkadang menunggu Taehyung pulang untuk makan malam bersama sebelum pulang. Seluruh anggota Puri sudah akrab dengannya, bahkan Tuniang secara mengejutkan. Tidak sekali dua kali Taehyung menemukan Devy duduk di kaki Tuniang, mendengarkan perempuan itu bercerita sambil mengemut pinang di mulutnya.

Dan Devy nampak sangat natural dengan semua orang—dia ramah, ceria, meletup-letup seperti kembang api. Taehyung mendesah, sekarang kehidupan Puri sangat damai.

Ayahnya tidak pernah marah lagi sekarang, dia bahkan mulai mengobrol akrab dengan Taehyung saat senggang. Bertanya tentang pekerjaannya, menepuk bahunya hangat, dan memintanya makan. Nampak sangat bangga pada Taehyung. Keramahan yang belum pernah dirasakan Taehyung selama ini. Nyatanya setelah dia menuruti mau Puri, semua orang menerimanya dengan terbuka dan hangat. Kakaknya pun nampak sedikit lebih rileks, bahunya melemas.

Jadi mungkin mengorbankan kebahagiaannya tidak terasa seburuk itu saat semua orang senang.

“Tugek, istirahat dulu. Ayo, makan.”

Taehyung mengerjap, menoleh dari jurnal Devy yang dipandanginya tanpa benar-benar meresapi kata-kata di atasnya karena kepalanya melanglang buana dan menemukan ibunya tersenyum pada mereka—dia nampak lebih muda sekarang, setelah semuanya terasa damai. Rapi, cantik, dan hangat. Tidak lagi nampak lelah dan tertekan.

Taehyung mendesah, ibunya bahagia sekarang. Dia melakukan hal yang benar dengan melepaskan Jeongguk dan merengkuh apa yang Puri ingin dia lakukan sehingga semua orang mendapatkan porsi bahagianya sendiri. Siapa tahu, suatu hari nanti, Taehyung juga akan bahagia—suatu hari nanti, entah dengan cara apa.

Devy menyeka rambutnya, mendongak dari pekerjaannya juga. “Iya, Ibuk. Sebentar, nggih.” Katanya tersenyum lebar sebelum kembali menunduk ke tab-nya yang penuh dengan hitungan dan catatan yang tidak dipahami Taehyung sama sekali.

Satu hal yang sangat dihargai Taehyung dari Devy adalah gadis itu tidak memperlakukan ibunya seperti kebanyakan orang berkasta. Dia tidak memandang ibunya sebelah mata, dia memandang ibunya sama dengan orang lain di sekitarnya. Dia selalu memberi perhatian ibunya lebih banyak daripada orang lain. Dia juga menghargai kakak Taehyung. Padahal dia tahu mereka berasal dari kasta yang berada jauh di bawahnya.

Apa pun motifnya, Taehyung tidak ingin memikirkannya karena dia senang seseorang memperlakukan ibu dan kakaknya seperti manusia. Dia ramah pada semua orang, dia menarik dengan caranya sendiri. Namun bukanlah sesuatu yang menarik hati Taehyung untuk jatuh cinta padanya.

“Makan dulu. Ayo, Wigung lapar.” Kata Taehyung membereskan jurnal di sekitar mereka—merapikannya sebisa mungkin. Biasanya hari libur akan digunakan Taehyung untuk menyuci kendaraannya dan bersantai, tidur seharian setelah lima hari dalam seminggu bekerja seperti orang sinting.

Sekarang dia punya tanggung jawab baru untuk mengasuh Devy.

Syukurlah gadis itu bukanlah bayi dengan liur menetes dari mulutnya dan gemar melemparkan dot bayinya karena jika begitu Taehyung akan menyerah. Dia hanya perlu menemani Devy belajar, mendengarkannya bercerita—sesuatu yang kadang dilakukannya sambil terkantuk-kantuk jika pulang bekerja. Secara tidak langsung mengusir Devy dari rumahnya lebih cepat.

Dia makan bersama Devy dan ibunya kemudian. Mereka tidak pernah makan bersama di rumah karena Taehyung dan Lakshmi selalu pulang malam sehingga makanan biasanya tersaji di dapur dan siapa yang terakhir makan membereskan piring kotornya. Biasanya Lakshmi walaupun Taehyung yang selalu pulang terakhir. Taehyung mendengarkan dengan senyuman palsu yang sudah dipasangnya seharian saat Devy dan ibunya mengobrol akrab—ibunya sangat menyayangi Devy.

Dia menatap Devy dengan rasa sayang dan hormat yang membuat hati Taehyung diremas-remas. Jika suatu hari nanti dia cukup berani untuk memperjuangkan bahagianya bersama Jeongguk, akankah ibunya menerima orientasi seksualnya yang sama sekali tidak seperti apa yang diharapkannya?

Akankah dia menatap Jeongguk sesayang dan sehormat dia memandang Devy? Atau malah jijik dan kecewa karena Taehyung memilih seseorang dengan jenis kelamin yang tidak pernah dibayangkannya?

Taehyung menghela napas, menatap makanannya. Ibunya memasak makanan enak hari ini—membuat tumis pakis dan ayam bumbu kuning yang beraroma harum kunyit. Rasanya enak, biasanya Lakshmi yang akan memasak namun karena Devy jadi sering mampir, ayah mereka meminta ibu Taehyung yang memasak. Taehyung kembali menyuap makanannya sementara Devy berceloteh ceria seperti bayi balita yang gembira dengan ibunya yang mendengarkan dengan senyuman di bibirnya.

Dia memainkan peran sebagai anak sulung di keluarga bahagia dengan baik.

Dia menjadi calon suami yang baik bagi Devy—berusaha keras tidak memikirkan usia Devy sama sekali dan bagaimana semua orang berpikir hal itu normal. Taehyung menjadi anak yang berbakti dengan menuruti mau ayahnya. Dan menjadi pewaris Puri yang taat dengan datang ke setiap acara keagamaan di sekitar Puri bersama Devy yang nyatanya diterima semua orang karena berasal dari salah satu griya terpandang di Klungkung.

Taehyung menjalankan perannya dengan baik, sangat baik. Bersikap tenang, gagah, dan tidak tersentuh namun juga ramah dan pengertian. Dia muncul di depan semua orang sebagai pewaris Puri yang tenang dengan Devy di sisinya, membuat Puri senang dengan sikapnya.

Sangat baik hingga hanya Lakshmi yang menyadari isi hatinya yang sebenarnya.

“Hati-hati di jalan.” Kata Taehyung, berdiri di sisi pintu penumpang Jazz RS Devy yang menderum lembut sementara dia menata tas dan semua jurnalnya sebelum mengemudi.

Dia pulang setelah makan malam, persis sebelum Puja Tri Sandya pukul enam sore berkumandang. Langit bersemburat jingga keunguan menemani saat Taehyung mengantarnya ke mobil yang terparkir di halaman sambil membawakan tasnya yang terisi jurnal dan tab-nya.

Jendela terbuka, menampilkan Devy yang sedang berkutat dengan sabuk pengamannya. Taehyung menunggu dengan sabar, terbalut kaus longgar dan celana rumahan nyaman dan rambut diikat tinggi di kepalanya. Devy menyugar rambutnya, menyeka semuanya ke balik bahunya sebelum bersiap. Menoleh ke Taehyung yang menunduk sehingga bisa memandang wajahnya, mengulaskan senyuman paling tulus yang bisa diusahakannya dalam kepalsuan.

Bagus juga Taehyung sudah melakukan ini sejak kecil, latihan bertahun-tahun membuatnya ahli.

Dadah, Wigung!” Dia tersenyum lebar, melambaikan tangannya sebelum memasukkan persneling. “Swastyastu!”

Taehyung menghela napas, “Swastyastu.” Katanya lalu melambai hingga mobil keluar dari halaman Puri dan lenyap di jalanan sebelum menurunkan tangan.

Senyumnya lenyap. Pipinya yang sejak tadi ditarik untuk tersenyum terasa pegal, hatinya terasa lelah karena seharian bersikap ceria—ternyata berpura-pura senang tidak membuat rasa bahagia itu terasa nyata. Alih-alih semakin membuat tiap menitnya terasa berat. Taehyung menghela napas dalam-dalam sebelum berbalik dan melangkah kembali ke dalam Puri.

Dia bertemu kakaknya yang sedang bersiap untuk berdoa, membawa senampan canang beraroma harum pandan dan pelbagai bebungaan serta dupa yang asapnya terasa begitu akrab dengan Taehyung. Kakaknya berdiri di depan pintu dapur dengan nampan di atas tangannya.

“Kau tidak harus terus melakukannya.” Kata kakaknya, menatapnya serius dan Taehyung menggeleng, melambaikan tangannya. “Tidak untuk siapa pun, Tugung.”

Mbok Gek,” selanya, menggeleng. “Aku tidak mau membicarakannya.” Dia kemudian berlalu dari sana, menolak pembicaraan apa pun tentang perasaannya.

Mudah bagi Lakshmi memintanya egois, memintanya bahagia saat bukan dia yang mendapatkan tekanan ekspektasi yang mencekik. Bukan dia yang lehernya ditekan dengan pedang yang siap memenggalnya jika Taehyung sedikit saja melakukan kesalahan. Taehyung melangkah ke kamarnya, mendadak merasa begitu hampa dan kosong setelah tidak lagi harus berpura-pura bahagia.

Dia mendorong pintu kamarnya, menatap ruangan itu lalu memejamkan mata sambil menutup pintu di belakangnya sebelum melangkah ke ranjang dan membanting tubuhnya ke kasur yang berderit.

Taehyung lelah sekali—dia tidak bisa tidur nyenyak. Selalu terbangun setiap beberapa jam, merasa Jeongguk ada di sekitarnya. Terbayang wajahnya yang merah padam saat berlutut memohonnya untuk tinggal. Terkadang dia bermimpi kali pertama mereka bercinta di Ubud—mendengar suara lembut Jeongguk saat membimbingnya menuju orgasme. Bagaimana Jeongguk terengah di atasnya, kepalanya mendongak dengan mulut terbuka; ekspresi nikmat yang membuat hati Taehyung berdesir senang.

Dia yang amatir dan sama sekali tidak paham seks anal berhasil membuat Jeongguk begitu puas hingga wajahnya merah padam seolah kehidupan meninggalkan raganya karena kenikmatan. Taehyung masih ingat bagaimana dia menggeram saat menyelipkan dirinya masuk setelah memastikan Taehyung cukup liat untuk menerimanya.

Dalam mimpinya, dia kadang bisa merasakan napas hangat Jeongguk di wajahnya—bibirnya yang basah dan lembut di bibirnya. Sentuhannya, ciumannya, desahannya....

Caranya menyebutkan nama Taehyung, merengek saat menggerakkan pinggulnya semakin cepat beberapa menit sebelum orgasme. Taehyung selalu menyukai menit-menit itu saat Jeongguk mengerang, berteriak tertahan dan mengeluarkan suara-suara penuh kenikmatan yang membuatnya merinding, saat dia memanggil Taehyung berulang kali sebelum menggeram panjang saat orgasme menyapu akal sehatnya.

Taehyung bergidik, hatinya koyak karena tahu dia tidak akan bisa mendapatkannya lagi. Sekarang dia harus hidup dengan kenangan itu selamanya, mengingatnya dalam mimpi setiap kali merindukan Jeongguk dan sentuhannya. Taehyung berguling terlentang, menatap langit-langit kamarnya dengan nanar merasakan hatinya yang hampa.

Seperti ada lubang besar yang menganga di sana walaupun saat dia menyentuhnya, dadanya utuh dan padat. Seperti angin mendesir melewati lubang itu, membuat Taehyung tidak nyaman dan gelisah. Satu organ baru dicabut dari sana, direnggut paksa hingga meninggalkan luka besar yang berdenyut dan bernanah karena tidak juga disembuhkan.

Taehyung tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyembuhkan luka ini sekarang. Dia tidak bisa kembali ke Jeongguk, tidak saat kehidupan mulai berjalan sangat baik untuk semua orang di dalam Puri-nya. Dia tidak bisa menyerah sekarang, dia belum setengah jalan. Dia melirik jendela yang menghadap Merajan dan melihat kakaknya sedang berdoa.

Oh, tentu saja. Sudah. Dia sudah berusaha mengisi luka itu dengan doa, berserah diri pada Tuhan dan bersyukur seperti kata semua orang padanya. Dia mensyukuri segala hal dalam hidupnya bahkan terbangun dalam keadaan utuh dan hidup. Dia berusaha menyikapi semua hal dengan positif—ini sulit karena dia 3 kali lebih mudah marah sekarang. Namun tidak ada yang bisa menyembuhkannya.

Persetan dengan bersyukur, sama sekali tidak menyembuhkan Taehyung.

Hal lain yang benar-benar mengganggunya sekarang adalah pemikiran abstrak yang kerap kali muncul secara tiba-tiba. Begitu saja, cepat namun sangat kuat hingga dia selalu nyaris kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dia mengangkat tangannya, menatap jemarinya yang kurus dan kapalan setelah bekerja bertahun-tahun sebagai juru masak. Ada banyak bekas luka dan luka bakar di sana, luka-luka yang sudah tidak lagi disadarinya hingga dia mencuci tangannya sebelum pulang.

Dia sudah sering mempertanyakan alasannya hidup di dunia ini, tujuannya berada di sini dan dihadirkan. Apa yang harus dilakukannya? Tugas apa? Pelajaran apa yang harus didapatkannya dan apa tujuan akhir dari kehidupan ini? Dan tidak pernah mendapatkan jawabannya. Sekarang, entah dari mana datangnya, dia selalu mendapatkan sentakan rasa ingin bunuh diri yang begitu kuat.

Taehyung bahkan sempat nyaris meluncur keluar jalur di atas sepeda motornya hingga membuat kekacauan saat dia menarik rem—menyadari pikiran itu persis sebelum terlambat. Ada saat di mana otaknya tiba-tiba mati dan melakukan insting kuat itu begitu saja. Untung, Taehyung berhasil mengambil alih kontrol kepalanya sebelum terlambat.

Dia takut pada dirinya sendiri—takut pada hal-hal yang mungkin dia bisa lakukan secara tidak sadar.

Semua orang berpikir dia baik-baik saja, tegar dan tenang. Tulang punggung Puri, bahunya semua orang—di mana semua masa depan dan kebahagiaan dijejerkan untuk diurus Taehyung. Semua, kecuali miliknya sendiri karena dia sudah membiarkan Jeongguk membawanya persis saat dia melangkah keluar.

“Pulanglah,” katanya hari itu pada Jeongguk yang menolak melepaskan kakinya. “Sudah malam. Kau masih harus mengemudi hingga Karangasem.”

Saat Lakshmi berhasil memaksnya pulang, Taehyung menatap kepergiannya. Mereka bertatapan, erat dan dalam saat Jeongguk berjalan mundur perlahan ke pintu—menolak pulang namun tidak menemukan alasan lagi untuk berada di sana tanpa ditegur ayah Taehyung.

“Berbahagialah.” Bisiknya pada Jeongguk sebelum dia lenyap dari sana. “Kau layak berbahagia.”

Taehyung menghela napas, mengusap wajahnya saat merasakan sakit menyentakkan dadanya hingga nyeri. Dia menyentuhnya, merasakan debaran jantungnya yang kuat dan berat—berusaha mencari sumber rasa nyeri itu dan membelainya agar tidak terlalu menyakitkan. Berharap di mana pun Jeongguk sekarang, pemuda itu sedang berbahagia tanpanya.

Karena sungguh, Taehyung tidak pernah merasa dia memberikan kebahagiaan pada Jeongguk. Dia hanya bersikap bajingan sepanjang waktu—memanfaatkan ketulusannya demi keegoisannya sendiri yang baru pertama kali mencecap bahagia. Dia terus menggunakan cinta Jeongguk demi dirinya sendiri. Memaksa pemuda itu melakukan apa saja untuknya karena Taehyung tahu dia akan melakukannya untuk Taehyung.

Dia sudah bersikap tidak sopan pada perasaan Jeongguk, tahu dia tidak bisa membalasnya namun tetap hadir di sana menerima begitu banyak dan tidak pernah memberikan apa pun.

Jika saja hidup mereka sedikit lebih tidak mencekik, jika saja mereka berdua tidak berasal dari kasta Ksatria atau Brahmana, Taehyung tidak akan ragu untuk kabur dari rumahnya sendiri dan mengejar kebahagiaan mereka. Dia seorang chef senior dengan pengalaman nyaris bertahun-tahun, mencari pekerjaan baru tidak akan sulit sama sekali.

Namun apa mau dikata, mereka terjebak sebagai seorang pewaris Puri yang sama besarnya.

Tidak ada jalan keluar. Setidaknya sekarang, mungkin sekarang.

Taehyung mendesah saat ponselnya berdering, dia mengulurkan tangan ke saku celananya meraih benda itu dan mengerang tertahan saat melihat nama Devy di layar—dia selalu melakukannya. Tidak peduli seberapa lama mereka menghabiskan waktu, dia akan langsung kembali menelepon Taehyung begitu berpisah.

Kenapa dia tidak bisa membiarkan Taehyung istirahat?

Dia berdeham lalu tersenyum, mencoba membuat dirinya terdengar ramah. “Halo, swastyastu, Ayu?” Sapanya menarik dirinya duduk di ranjang dan melepas karet rambutnya. “Sudah di rumah?”

Wigung, swastyastu!” Balas suara ceria dari seberang disertai suara pintu mobil yang dibanting. “Maaf, aku menelepon. Hanya ingin memberi tahu jika setelan endek untuk wisudaku besok sudah siap di rumah. Kuantarkan ke Puri besok?”

Taehyung nyaris mengerang saat teringat dia harus menghadiri wisuda Devy dengan pakaian seragam yang dijahit bersama orang tuanya. Mereka mengenakan endek, kain tradisional Bali. Taehyung mendapat satu kemeja licin yang warnanya senada dengan kebaya wisuda Devy dan sudah mengurus cuti bekerja karena harus duduk di dalam ruangan sebagai pendamping wisuda.

Prospeknya sangat tidak menarik namun dia harus melakukannya.

“Boleh,” sahutnya dengan suara ceria palsunya yang selama ini berhasil menipu semua orang—hampir semua orang karena kakak tersayangnya selalu melemparkan tatapan tidak setuju dengan nada itu.

Yah, Lakshmi bisa diam karena Taehyung tidak akan berhenti.

“Nanti Wigung ambil sekalian mampir makan malam.” Katanya, memijat kulit kepalanya dan merasakan rambutnya sudah menembal oleh minyak—berpikir dia akan mencucinya malam ini.

Mampir ke rumah atau kita jalan-jalan ke kebun binatang boleh, tidak?” Tanya gadis itu dan Taehyung membuka mulutnya, berteriak tanpa suara seraya melayangkan kepalan tangannya ke udara dengan jengkel. “Ayu muak belajar. Pergi ke Bali Zoo saja!”

Dia berdeham, tidak peduli seberapa besar keinginannya untuk marah dia harus tetap tenang. “Boleh, boleh.” Katanya. “Tapi Minggu pasti ramai sekali, bagaimana jika Sabtu minggu depan?”

Oke!” Sahut Devy, terdengar sangat senang hingga sejenak Taehyung terhibur—setidaknya dia senang walaupun Taehyung harus menderita karena dia sungguh tidak ingin mendatangi kebun binatang mana pun dan melihat semua binatang itu dikurung.

“Oke,” Taehyung menambahkan tawa lembut di akhir katanya sehingga Devy terdengar semakin senang. Dia memerankan diri sebagai calon suami lembut penyabar dengan baik sejauh ini. “Sekarang istirahatlah. Masih ada catatan yang harus dibaca?”

Tidak,” sahut Devy dari seberang disertai suara pintu menutup. “Ayu akan mandi lalu menelepon teman sebentar.”

Taehyung mengangguk, “Kedengaran menyenangkan.” Komentarnya tenang sebelum sambungan dimatikan dan dia seketika kembali merasa kosong.

Setiap kali berhenti memalsukan bahagianya, perasaan kosong itu semakin menjadi-jadi. Terkadang terasa mencekik paru-parunya hingga dia sulit bernapas, terkadang membuatnya gelisah, terkadang membuat asmanya kumat. Luar biasa apa yang emosi bisa lakukan pada fisiknya belakangan ini.

“Tugung?”

Taehyung menoleh dengan tangan di dadanya, mencoba menekan rasa hampa itu menjauh. Menemukan Lakshmi berdiri dengan pakaian sehabis berdoa, ada bija di kening dan titik di antara tulang selangkanya. Berpikir sejenak apakah kakaknya mendengar teleponnya dengan Devy tadi? Lalu memutuskan untuk tidak peduli.

“Sembahyang.” Katanya lembut, menatap adiknya dengan tatapan simpati kental yang membuat Taehyung tidak nyaman.

“Ya.” Dia mengangguk lalu memalingkan wajah, berharap kakaknya akan pergi dan mengabaikannya. Tetapi dia seharusnya tahu kakaknya tidak akan semudah itu menyerah.

Lakshmi mendesah, memasuki ruangan dan menutup pintu kamar Taehyung sebelum duduk di sisinya—membawa aroma pekat bunga dan dupa yang digunakannya berdoa tadi sebelum mengulurkan tangan lalu meraih tangan Taehyung, meremasnya. Tangan Lakshmi terasa dingin setelah berdoa dan kasar karena bekerja dengan pisau serta janur setiap hari.

“Tugung,” bisiknya, menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung lalu menggenggamnya sayang. “Mbok Gek senang sekali jika Tugung melakukan banyak hal untuk Mbok Gek. Sungguh. Senang sekali.” Dia menatap tangan mereka yang bertautan dan hati Taehyung terasa diremas-remas.

Dia tahu apa yang akan kakaknya bicarakan.

“Tapi,” dia menelan ludah, tercekat saat menatap adiknya—wajahnya sendu. Begitu cantik hingga Taehyung mengutuk kehidupan karena memilih Lakshmi sebagai korbannya dengan meletakkannya di kaum 'buangan'.

Tidak ada perempuan berkasta mana pun yang bisa secantik, selembut, dan setenang kakaknya. Tidak ada. Namun dia adalah seorang Astra, maka semua kualitas baiknya diabaikan semua orang.

“Jika itu berarti menyakiti Tugung,” dia menepuk tangan Taehyung dalam genggamannya—mengusapnya lembut. “Maka harganya terlalu mahal.” Dia menatap Taehyung. “Mahal sekali, Tugung. Tidak boleh ada yang menderita demi bahagia orang lain—apalagi Tugung. Kita harus bahagia bersama.”

Taehyung membuka mulut, hendak menjelaskan betapa mustahilnya itu karena jika dia bahagia maka kakaknya harus menerima cercaan semua orang, perilaku kasar orang Puri yang menganggapnya beban dan bayangan. Dia mengorbankan bahagianya demi Lakshmi dan ibu mereka—demi kebahagiaan mereka bersama.

Namun dia menutup mulutnya kembali karena yakin Lakshmi tidak akan memahaminya. Dia menghela napas, memejamkan matanya—dia lelah sekali. Dia ingin tidur panjang, merilekskan kepalanya yang berdenyut sepanjang waktu dan hatinya yang ngilu merindukan Jeongguk. Membayangkan dia yang tengah sakit dan diurus dengan baik oleh Mirah.

Hatinya berdenyut saat mengingat nama itu—koyak dengan cara yang sangat mengerikan karena menyadari dia tidak bisa melakukan banyak hal yang bisa dilakukan Mirah dan dia menghela napas dengan tajam. Lakshmi menyadari napas itu dan menoleh, mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya dan menyisir rambutnya hingga Taehyung mendesah dan memejamkan mata dalam sentuhannya.

“Kau sudah berjuang sangat hebat,” bisik kakaknya sayang saat Taehyung berbaring di pangkuannya—berharap rasa hampa dan sakit yang merobek dirinya bisa membaik dalam pelukan kakaknya. “Kau sudah membuat Mbok Gek dan Ibuk sangat bahagia.”

Taehyung memejamkan matanya, menarik tubuhnya menjadi bola—meringkuk demi melindungi luka di hatinya. Mencoba mengabaikan denyutannya saat jemari lentik Lakshmi menyisir rambutnya.

“Berbahagialah sesekali,” Lakshmi kembali berbisik. “Berhenti berusaha membahagiakan semua orang karena Tugung tidak akan bisa melakukannya.”

Bisa, pikirnya getir. Dia sedang melakukannya sekarang, membahagiakan semua orang kecuali dirinya sendiri. Tapi apalah bahagianya jika dibandingkan kepentingan semua orang, 'kan?

Taehyung diam, mendengarkan Lakshmi karena dia tidak akan berubah pikiran. Dia akan tetap melakukan ini hingga tubuhnya lebur berusaha menanggung sakit demi semua orang—dia melakukan hal yang benar. Dia sudah menjadi Taehyung yang diharapkan semua orang. Beberapa hari gilanya bersama Jeongguk akan menjadi kenangan paling berharga di sisa hidupnya.

Bahwa dia ternyata bisa jatuh cinta.

Bahwa dia ternyata bisa bahagia.

Bahwa Taehyung ternyata, di balik semua topengnya, tetap hanyalah manusia biasa.

Dan Jeongguk-lah satu-satunya manusia di dunia ini yang menyentuh hatinya dengan tepat hingga Taehyung merekah dalam sentuhannya—seperti sekuntum bunga untuk dicumbu dan direngkuh.

Tidak akan ada siapa pun lagi karena Taehyung tidak butuh siapa pun. Jika dia tidak bisa memiliki Jeongguk, maka dia tidak akan memiliki siapa pun.

*