Gourmet Meal 226

tw // toxic masculinity , gender stereotype , insecurity , anxiety , power dominance , suicidal thoughts .

cw // throwing up scenes .

ps. STREAM 'FILM OUT'!


Jeongguk menghembuskan napas lega saat menghampiri mobilnya yang menanjak naik dari bawah ke gerbang utama Amankila. Security yang sudah mengenal plat nomor mobil Jeongguk melambai ramah pada Yugyeom yang mengklaksonnya sebelum meluncur ke arahnya.

Amankila sangat ketat pada orang-orang yang datang ke wilayah hotel. Semua akan ditanyai kepentingannya karena mereka sangat menjaga privasi tamu-tamu mereka dengan mensterilisasi lingkungan hotel dari tamu luar tanpa kepentingan. Karyawan yang membawa kendaraan dibatasi hanya dari level Department Head dan diwajibkan mendata kendaraan mereka untuk diawasi dan diberikan lahan parkir sendiri. Maka itulah Jeongguk lebih suka memilih Alila untuk bertemu dengan Taehyung, mereka lebih longgar tentang tamu luar hotel.

Jeongguk mengerjap, menggeleng kuat hingga kepalanya pening karena Taehyung terbit di kepalanya tanpa izin. “Sialan,” geramnya di bawah napasnya.

Mengingat Taehyung membuat suasana hatinya kembali buruk. Sudah beberapa hari, namun Jeongguk belum juga terbiasa pada sengatan rasa nyeri yang selalu dirasakannya tiap kali tidak sengaja mengingat Taehyung. Terkadang rasanya begitu mengerikan hingga dia harus menghela napas, menekan dadanya dan terengah—mencoba menenangkan sakit yang merobek dan mencabiknya menjadi serpihan. Di waktu lain, sakit itu membuatnya terserang serangkaian batuk mengerikan yang menggaruk tenggorokkannya.

Dia sering terbangun tengah malam, menangis tanpa sebab dan tersentak oleh sakit yang menusuk jantungnya begitu tiba-tiba. Merindukan Taehyung, merindukan waktu mereka bersama. Kenangan kali pertama mereka bercinta menghantui Jeongguk seperti mimpi buruk sekarang—membuatnya terjaga bermalam-malam dan mengerang frustrasi karena tidak bisa mengenyahkannya dari kepalanya.

Mimpi itu terkadang terasa begitu nyata, hangat tubuh Taehyung di bawah telapak tangannya sungguh terasa. Dia tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan mana mimpi karena saat dia tersentak terbangun dan tidak menemukan Taehyung di sisinya, dia kembali hancur lebur. Digerus kenangan yang tak kunjung bersikap baik hati padanya.

Tubuh Jeongguk kebingungan, menginginkan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi digenggamnya. Sesuatu yang sudah dilepaskan untuk terbang menjauh dan menemukan bahagianya sendiri. Bahkan hingga di detik terakhir, Taehyung sama sekali tidak berani untuk memilih bahagia.

Jeongguk menghela napas tajam, berusaha mengenyahkan Taehyung dari kepalanya saat menghampiri mobil yang berhenti di dekat pintu masuk karyawan. Dia meraih gagang pintu, membukanya dan disambut aroma bawang putih dan ayam yang bergulung-gulung serta membuatnya mual.

“Oh.” Katanya dengan wajah mengerut—sejak adiknya yang mengurus mobilnya, benda itu nampak jadi lebih rapi. Pakaian Jeongguk dikeluarkan, dirapikan Yugyeom dan ibunya saat Jeongguk terserang demam tinggi sehari setelah kepulangannya dari Puri Taehyung.

Sekarang mobilnya sangat rapi, pakaiannya yang digantung dibelakang dikaitkan ke jendela dengan kain, agar tidak bergoyang. Kotaknya yang terisi pakaian adat diletakkan di bawah kursi, memberi cukup ruang untuk orang lain berada di kursi penumpang belakang. Aromanya juga lembut pengharum, Yugyeom benar-benar apik merawat barang-barang. Jeongguk berpikir menghadiahinya mobil setelah dia lulus besok.

“Kau membeli...,” dia mengerutkan wajahnya, tidak suka aroma makanan sama sekali.

Dia belum makan sejak pagi, melewatkan sarapan dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sehingga harus berangkat lebih awal. Yugyeom bersikeras tetap mengantarnya maka Jeongguk mengemudi sementara Yugyeom makan di kursi penumpang sebelum mereka bertukar kursi di perbatasan Amlapura.

Jeongguk juga tidak makan siang karena terlalu mual, dia mengecek makanan di EDR lalu keluar sebelum asam lambungnya mendidih mendengar suara orang mengunyah makanan, mencium aroma makanan—dapur terasa seperti neraka belakangan ini apalagi jika dia harus mengecek protein mentah dan sekarang dia harus mencium aroma ayam dan bawang putih pekat di dalam mobil.

“Oh? Wiktu tidak suka?” Yugyeom bergegas melepaskan sabuk pengamannya dan menjulurkan tubuhnya ke belakang—meraih kantung belanjaan yang beraroma pekat ayam bersalut bumbu. “Aku letakkan di bagasi belakang.” Katanya bergegas turun.

Jeongguk memejamkan mata. “Maaf,” gumamnya parau saat membuka pintu penumpang dan menyelipkan dirinya masuk. Dia menurunkan jendela dan mematikan penyejuk kabin, membiarkan angin laut yang lembab dan berat memasuki mobil.

“Tidak masalah!” Yugyeom berseru dari belakang, membanting bagasi menutup sebelum bergegas kembali ke kursi pengemudi dan memasang sabuk pengamannya. “Ayo, pulang.” Dia tersenyum lebar pada kakaknya yang mendesah berat.

Jeongguk menurunkan kursinya, berbaring di sana sementara angin petang berhembus ke dalam mobil menampar wajahnya. Dia memejamkan mata, menikmati lagu Bali yang diputar di radio dan gumaman rendah Yugyeom mengikuti lagunya. Dia menjulurkan kakinya, sejauh apa yang ruang di bawah mobilnya izinkan dan menghela napas.

“Wiktu mau cerita?” Tanya Yugyeom kemudian, mengecilkan volume radio agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman.

Jeongguk menggeleng, dia lelah. Terlalu lelah bahkan untuk berbicara. “Tidak, aku baik-baik saja.” Katanya, merasakan pahit di lidahnya saat mengatakan itu karena seluruh tubuhnya menjerit kesakitan sekarang—tidak ada yang baik-baik saja.

Bagaimana Taehyung selalu berhasil melakukannya? Seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka berkali-kali selama ini? Bagaimana caranya dia bersikap seolah semuanya biasa saja? Bagaimana bisa dia memasang wajah setenang itu sementara di sini Jeongguk porak-poranda? Bagaimana bisa dia melakukannya....?

Jeongguk butuh diajari karena dia sama sekali tidak bisa melakukannya.

Tiap dia memejamkan mata, wajah Taehyung berada di balik kelopak matanya. Aroma tubuhnya menempel di cuping hidung Jeongguk, menolak lenyap bahkan setelah Jeongguk dengan putus asa mencuci hidungnya seperti orang gila di tengah malam karena dia terbangun merindukan Taehyung.

“Mari kita akhiri ini.”

Suara Taehyung selalu menghantuinya, terulang-ulang di setiap mimpi buruknya yang mencekam. Pada setiap saat dia menutup matanya, pada setiap kali dia membuka matanya. Taehyung ada di mana-mana di seluruh tubuhnya, di kepalanya, di hatinya; mengisi semua ceruk, semua celah yang bisa diisinya. Menekannya, meremukkannya seperti sehelai daun kering hingga menjadi remah-remah kecil tidak penting. Seperti gelas yang pecah berantakan, menyisakan bubuk kemilau di udara.

Jeongguk tidak bisa melewati ini. Hatinya koyak, tercabut paksa dari tempatnya saat Taehyung mengakhiri hubungan mereka. Memintanya pergi, mempersilakannya keluar dari satu-satunya rumah yang dibutuhkan Jeongguk. Taehyung membawa hatinya pergi, meremukkannya sebelum melemparnya. Meninggalkan Jeongguk dengan lubang menganga di dadanya, berdarah dan busuk oleh luka setelah hatinya dicabut.

Tangan Yugyeom mengusap bahunya dan Jeongguk terkesiap, dia membuka matanya—menyadari air mata meleleh di sudut matanya dengan erangan kecil. Yugyeom di sisinya tersenyum sendu, menatap jalanan dengan sesekali melempar lirikan untuk memastikan kakaknya baik-baik saja.

“Tidak apa-apa.” Bisik Yugyeom, menenangkan dan hangat. “Menangis saja. Tidak ada yang melarang Wiktu.”

Hari Jeongguk kembali dari Puri Taehyung, dia praktis seorang zombi. Keajaibanlah yang membuat Jeongguk berhasil berkendara hingga Puri lalu melemah di atas kursi mobilnya sendiri dan menelepon Yugyeom, meminta adiknya memapahnya ke kamar karena sakit di hatinya sungguh tidak bisa ditahankan.

Yugyeom nyaris menyeretnya ke kamar, membantunya berganti baju sementara Jeongguk menatap kosong ke langit-langit kamarnya dengan mata dan wajah pucat pasi, bibirnya kering dan putih. Keesokan harinya dia terbangun dengan wajah bengkak dan demam tinggi karena dehidrasi. Ayahnya mendatangi kamarnya, mengecek tubuhnya sebelum menelepon temannya—direktur operasional rumah sakit umum daerah Karangasem dan memintanya datang ke Puri.

Jeongguk diberi obat, dipaksa minum air lebih banyak dan makan.

“Kelelahan.” Kata dokter setelah mengeceknya, tersenyum pada Jeongguk seolah itu hal yang biasa. “Kegiatannya dikurangi dulu, ya, Gung Wah.” Dia menepuk kepala Jeongguk sayang—dokter itu sudah jadi dokter keluarga mereka sejak Jeongguk kecil, selalu tahu obat apa yang tepat untuk Jeongguk. “Makan dan minumnya diperbanyak.”

Yugyeom di sudut kamarnya saat dokter datang, menatap kakaknya dengan wajah prihatin karena dia tahu. Jeongguk bukan kelelahan. Dia patah hati, remuk redam oleh cinta yang koyak. Baru saja diusir dari satu-satunya rumah yang diinginkannya, merangkak berusaha tetap berdiri dan bertahan. Yugyeom tidur bersama kakaknya malam itu, memeluknya saat Jeongguk menangis terbangun malam-malam.

Berbagi sakit dan air mata, selalu sejak mereka berdua kecil.

Jeongguk akan selalu memeluknya kapan pun Yugyeom terbangun oleh rasa sakit. Memanjat ke ranjang rumah sakitnya yang bergoyang menerima beban tubuh mereka berdua saat Yugyeom operasi usus buntu dan terbangun karena kesakitan untuk memeluknya, meninabobokannya hingga lelap kembali. Maka Yugyeom melakukan hal yang sama walaupun dia tidak bisa mengusap luka Jeongguk untuk meringankan sakitnya.

“Hari ini makan, ya?” Bujuk Yugyeom saat mereka membelok memasuki Sang Hyang Ambu yang berkelok—Yugyeom mengemudi dengan perlahan, menghindari jalanan yang rusak.

Jeongguk menggumam tidak jelas, mengabaikan adiknya karena dia sungguh tidak ingin memasukkan apa pun ke mulutnya. Dia bersidekap, memejamkan matanya kuat-kuat berharap dia tertidur sehingga dia tidak harus mengingat Taehyung sama sekali. Dia ingin menyentop otaknya, membuatnya berhenti mengingat dan berpikir karena Jeongguk sangat butuh istirahat.

Mereka tiba di Puri, Yugyeom turun dari mobil untuk membuka garasi dan melihat ayah mereka sedang membersihkan mobilnya sendiri. Jeongguk mendesah, dia sungguh lelah dan tidak punya tenaga untuk meladeni ayahnya sekarang. Yugyeom berbalik, memandang Jeongguk dari balik kaca depan mobil dengan wajah simpati. Ayah mereka tidak pernah suka pertunjukan emosi negatif apa pun termasuk kesedihan. Menjunjung tinggi toxic masculinity tentang bagaimana lelaki harus tegar dan tidak boleh bersikap lemah.

Itulah yang membentuk ikatan emosi lebih kuat antara Jeongguk dan Yugyeom karena mereka bekerja sama menyembunyikan emosi mereka dari ayah mereka, selihai mereka menyembunyikan mie instan cup yang dibenci ibu mereka. Seperti dua pencuri cilik.

“Ogik yang mengemudi?” Tanya ayahnya, berdiri di sisi Land Cruiser-nya dengan lap di tangannya.

Yugyeom mengangguk, menyandarkan tangannya di pintu mobil. “Tidak apa-apa, kok, Ajung.” Katanya melirik kakaknya yang menghela napas di dalam mobil. “Ogik sedang ingin mengemudi.”

“Kakakmu?” Tanya ayahnya, mengerutkan alis tidak suka. “Kenapa lagi dia tidak bisa mengemudi?”

Jeongguk menggertakkan giginya. Dia memang harus menghadapi ini. Dia melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Memasang wajah normal terbaiknya saat menghadapi ayahnya yang memicingkan mata, menilai.

“Sudah enakan?” Tanya ayahnya, menghampirinya dan menyentuh kening Jeongguk yang beberapa senti lebih tinggi darinya. “Panasnya sudah turun.”

Jeongguk mengangguk, berusaha keras mempertahankan wajah tenangnya. “Sudah, Ajung.” Katanya tenang.

“Hari ini makan.” Tukas ayahnya kemudian, berbalik kembali mengerjakan mobilnya. “Kemarin kau sudah tidak makan.” Dia meraih kemoceng dan mulai membersihkan mobilnya. “Apa, sih, yang membuatmu sedih begitu? Tidak berguna menangisi hal semacam itu. Lelaki seharusnya kuat dan tidak lemah begitu. Memangnya kau ini perempuan?”

Yugyeom memasukan mobil Jeongguk ke garasi, membiarkan mesinnya menyala sejenak sebelum mematikannya. Dia keluar, Jeongguk berdiri di sana—memejamkan mata dan menghela napas perlahan, berusaha untuk tidak menjawab dengan cara yang akan membuatnya mendapat masalah.

Nggih, Ajung.” Katanya parau, sesuatu menyumbat tenggorokannya. Kental dan bergerigi, membuatnya terasa nyeri.

“Bagaimana dengan Mirah?” Tanya ayahnya kemudian, membereskan benda yang digunakannya untuk membersihkan mobil. “Kemarin ayahnya menelepon Ajung.”

Perasaan Jeongguk tidak enak. Sesuatu merayap di punggungnya, membuatnya merasa geli. Seperti seember air dingin disiramkan ke punggungnya dan jantungnya mencelos. Yugyeom bergegas menghampirinya, menyentuh bahunya—menjaga Jeongguk jika sewaktu-waktu terhuyung membawa aroma pekat ayam dan bawang putih sialannya.

“Ada dewasa ayu bulan depan,” ayahnya menoleh dan menatap Jeongguk langsung ke matanya—hal yang hanya dilakukannya jika dia ingin memanipulasi emosi Jeongguk. “Bagaimana menurutmu jika kalian menikah saja?”

Yugyeom menghela napas tajam, kaget di sisi Jeongguk yang merasa jantungnya mencelos terjun bebas ke dasar perutnya. Seluruh tubuhnya lemah seperti sesuatu baru saja dicabut dari sana, suhu tubuhnya turun drastis mendengar kata pernikahan sementara dia baru saja bersikap kasar pada Mirah. Dia mungkin harus menelepon gadis itu nanti, meminta maaf dengan benar karena melampiaskan amarahnya pada seseorang yang sama sekali tidak tahu apa pun.

Tidak ada yang bisa disalahkan di sini, Jeongguk paham. Mirah mungkin juga terjebak dalam perjodohan ini, mungkin mendapati jodohnya sesuai dengan apa yang diinginkannya dan tidak tahu bahwa Jeongguk tidak bisa memberikan apa pun yang dibutuhkan Mirah. Dia ingin mengusir gadis itu, memintanya mencari lelaki lain yang akan mencintai dan mengapresiasi kehadirannya secara layak.

Dan lelaki itu bukan Jeongguk.

Namun menatap ayahnya yang berdiri di depannya dengan wajah keras, Jeongguk tahu dia harus menerima ini. Dia harus melakukannya—setidaknya hingga dia menemukan cara untuk melepaskan diri. Atau bekerja sama dengan Mirah. Jika gadis itu tidak jatuh cinta padanya, Jeongguk mungkin bisa mengajaknya bekerja sama.

“Kau sudah mapan. Sudah bekerja. Mirah juga sudah bekerja. Tidak ada gunanya menunda-nunda lagi.” Ayahnya menutup kabinet tempat mereka menyimpan alat cuci mobil sebelum berbalik menatap anak sulungnya sambil mengelap tangannya dengan lap. “Bagaimana?”

Jeongguk menelan ludah, tidak yakin harus menjawab apa. Otaknya berputar dengan cara tidak sehat, menyakiti dirinya sendiri dengan pikiran tajam yang bergerak cepat—menyengatnya seperti kawanan lebah dan membuatnya sejenak lumpuh.

“Bagaimana....,” dia berhasil berkata, berdeham berat. Merasakan laba-laba raksasa bergerak di tubuhnya, menginjak bahunya dan membebaninya hingga tengkuknya nyeri—titik persis di garis rambut di tengkuknya, berdenyut. “Bagaimana jika pertunangan dulu saja, Ajung?”

Ayahnya berdecak semakin jengkel. “Memangnya kau menunggu apa lagi?” Tanyanya tidak puas dan Jeongguk menggertakkan giginya. “Kau memang tidak pernah bisa jadi seperti adikmu. Selalu saja membantah, selalu punya jawaban.”

Seperti adikmu. Jeongguk menghela napas dari mulutnya, berusaha menenangkan diri agar tidak meledak. “Gung dan Mirah baru berkenalan sebentar, mungkin berikan sedikit waktu bagi kami untuk saling berkenalan lebih dalam?”

Ayahnya diam sejenak, memikirkannya lalu mengerutkan kening. “Berkenalan setelah menikah saja. Ajung dan Biang begitu dan kami baik-baik saja.” Katanya dan Jeongguk nyaris berteriak—amarah menggelegak di perutnya yang kosong dan membuatnya tidak nyaman.

Dia membuka mulut hendak memberikan argumentasi baru saat adiknya menjawab dari sisinya, “Mungkin betul, Ajung. Biarkan Wiktu dan Migek berkenalan lebih lama dulu sebelum menikah?”

Jeongguk nyaris mencium adiknya karena ayahnya akan mendengarkan apa saja—apa saja yang dikatakannya. Dan dia menatap ekspresi ayahnya yang berubah menjadi lunak saat Yugyeom bicara sebelum mendesah keras lalu menatap Jeongguk dengan sorot kecewa yang sudah akrab dengan diri Jeongguk.

Dia selalu memberikan Jeongguk tatapan itu, membuat perut Jeongguk terasa dipelintir. Semakin dia dewasa, semakin Jeongguk terbiasa dengan tatapan itu. Ayahnya boleh membencinya sesuka hati, Jeongguk tidak peduli lagi.

“Ya sudah.” Katanya kemudian, “Mandi dan makan.” Tambahnya, menekankan nadanya di kata 'makan' sebelum beranjak ke dalam rumah, meninggalkan Jeongguk dan Yugyeom yang menghembuskan napas lega berbarengan.

“Trims.” Kata Jeongguk kering pada adiknya.

Yugyeom menatapnya, nampak penuh simpati hingga Jeongguk tidak sanggup membalas tatapannya. “Apakah...,” dia menghela napas. “Apakah memang tidak ada yang bisa dilakukan dengan,” dia diam, sejenak ragu sebelum menambahkan. “Dia?”

Jeongguk tahu persis siapa dia yang dimaksud Yugyeom dan sudah meminta adiknya agar tidak menyebut nama Taehyung sama sekali karena dia tidak akan sanggup menangguhkannya. Jeongguk menggeleng, nafsu makannya lenyap sama sekali dia hanya ingin berbaring dan mengasihani dirinya sendiri sekarang. Namun teringat orang tuanya menunggu di meja makan dengan keras kepala, nampaknya Jeongguk harus memaksa makanan masuk ke tubuhnya.

Yugyeom menatap punggungnya saat mereka beranjak ke halaman Puri mereka. Kamar Jeongguk berada paling dekat dengan pintu samping dan garasi maka dia yang pertama berhenti, mengambil kunci kamar dari bawah salah satu pot bunga dan membuka pintunya sementara Yugyeom berdiri di sana, di teras kamarnya menunggu.

Jeongguk menyentakkan pintu terbuka lalu menoleh pada Yugyeom. “Mandilah.” Katanya parau. “Ajung dan Biang menunggu untuk makan.” Tambahnya sebelum memasuki kamarnya, menutup pintu di belakangnya sebelum Yugyeom sempat mengatakan apa pun karena Jeongguk tidak mau mendengarkan simpati apa pun lagi.

Dia berdiri di kamarnya yang temaram, cahaya yang masuk hanya melalui celah tirai jendelanya dari lampu teras kamarnya. Dia menatap keremangan, merasakan dingin memeluknya perlahan—merayap dari ujung kaki dan tangannya, terus ke arah hatinya. Mencengkeramnya dengan suhu dingin menggigit yang membuatnya mengerang dan bersandar di pintunya.

Sudah berhari-hari, Jeongguk tidak juga sanggup membuat dirinya tegar berdiri. Padahal ini bukan kali pertama Taehyung mempermainkan hatinya seperti seekor anjing penurut yang duduk saat diperintahkan. Jeongguk menyentuh jantungnya yang berdebar lebih lambat, menyiksa karena terkunci oleh rasa dingin yang menjalar di atas permukaannya—nyeri sekali.

Bagaimana cara Taehyung melakukannya?

Jeongguk menunduk, membuka mulutnya dan bernapas dari sana—merasakan napas menderu masuk ke tubuhnya. Ujung hidungnya terasa dingin seperti saat dia berenang dan air masuk melalui hidungnya—perih dan pedih. Jeongguk merasa berkunang-kunang, sakit di hatinya tidak lagi terasa normal.

Lelah yang dirasakannya setiap hari karena kesulitan tidur akibat memimpikan Taehyung tiap kali menutup matanya. Terbangun dari mimpi yang sangat nyata—dia bisa merasakan hangat Taehyung, aroma tubuhnya. Namun dia sendirian.

Hidupnya kosong, Jeongguk merasa hampa di dalam hatinya. Tidak lagi memiliki energi untuk bersikap sabar dan toleran pada semua orang. Dia menjadi reaktif, menjengkelkan dan melelahkan. Dia mudah sekali marah hanya karena hal-hal kecil—semua disebabkan jam tidurnya yang tidak sehat sama sekali. Punggungnya nyeri, tengkuknya nyeri, seluruh tubuhnya nyeri.

Dia sudah tidak bisa lagi membedakan sakit fisik dan emosional sekarang.

Jeongguk menyeret dirinya sendiri ke kamar mandi, membasuh tubuhnya tanpa benar-benar memerhatikan apa yang dilakukannya sebelum dengan kepala kosong mengeringkan tubuhnya. Dia menatap bayangannya sendiri di cermin lemarinya, menyisir rambutnya dan mengikatnya longgar di atas kepalanya karena kulit kepalanya nyeri setelah seharian mengikatnya kencang agar tidak meloloskan diri dari harnet. Lalu dia mengenakan kaus dan celana pendek.

Dia berdiri di sana, menatap tubuhnya yang kisut dan semakin kurus setelah beberapa hari tidak makan dan tidak istirahat. Mungkin inilah yang dirasakan Taehyung setiap hari sehingga suasana hatinya buruk selalu? Kelelahan, kepala yang berasap oleh pemikiran-pemikiran abstrak yang menggangguk, anxiety yang berlarian; Jeongguk bisa meledak kapan saja.

Jeongguk menyeret dirinya ke rumah utama, bergabung dengan keluarganya untuk makan malam. Dia menelan ludahnya, menahan asam lambungnya agar tidak melompat keluar saat melihat makanan masakan ibunya tersaji di meja. Menu kesukaan Jeongguk, ibunya sengaja bertanya apakah Jeongguk mengingikan sesuatu untuk makan malam tadi.

Namun dia tidak bisa menemukan nafsu makan. Dia menahan napasnya saat memasuki ruang makan yang beraroma pekat makanan, bernapas dari mulutnya—terengah seperti seekor anjing agar aroma makanan tidak menodai kepalanya. Pelipisnya berdenyut dan dia ingin sekali berbaring.

Ayam bersalut bumbu Korea yang dibawa Yugyeom tadi dihangatkan, tersaji di sisi gurame asam manis kesukaan Jeongguk dan plecing kangkung. Jeongguk mengencangkan otot perutnya saat ibunya membantunya mengambil makanan.

“Gung Wah tidak apa-apa?” Tanya ibunya, menyentuh bahunya lembut dan Jeongguk menggeleng—merasa semakin mual. “Tidak mau makan lagi? Tidak apa-apa. Mau berbaring saja? Biang buatkan teh?” Tanyanya lembut.

“Ck.” Ayah mereka di kepala meja menyela dengan tajam, mulai makan dengan tenang. “Jangan dimanjakan lagi.” Dia meraih lauk dan mulai makan dengan Yugyeom yang cemas di sisinya, berseberangan dengan Jeongguk. “Dia harus makan. Dipaksa, jangan dimanjakan terus.”

Jeongguk menggertakkan gigi. Dia sudah tiga puluh dua tahun dan ayahnya tetap memperlakukannya seperti seorang anak kecil nakal yang harus selalu dihukum. Dia meraih sendoknya, dia harus melakukan ini agar ayahnya diam karena sungguh dia bisa saja meledak karena mendengarkannya.

“Jangan dipaksa,” bisik ibunya lagi, lebih lirih agar ayah mereka tidak mendengarnya. “Nanti Gung Wah muntah.” Dia meletakkan tangannya di paha Jeongguk, menepuknya sayang dan menatapnya cemas.

“Jangan dimanjakan.” Tegur ayah mereka sekali lagi, lebih keras hingga ibu mereka berjengit kaget—tidak menyangka dia akan mendengar bisikannya. “Biar dia makan. Dia sudah besar, tidak harus dibegitukan terus.”

Jeongguk menghela napas dan menyendok makanannya. “Nggih, Ajung.” Gumamnya.

“Makan.” Kata ayahnya lagi, diam dan menatapnya—menunggu hingga Jeongguk menyuap makanannya dengan alis berkerut penuh amarah.

Kenapa ayahnya tidak bisa memberikan Jeongguk sedikit ruang dan waktu untuk sendiri sebentar? Menata emosi, harga diri, dan hatinya yang porak poranda sebentar? Mengapa dia harus selalu memaksakan kehendaknya? Memaksa Jeongguk jadi apa yang diinginkannya tanpa menanyakan apa yang Jeongguk inginkan seperti apa yang dilakukannya ke Yugyeom?

Tidak bisakah Jeongguk... merasakan sesuatu?

“Karena Gung Wah anak sulung Biang,” begitu biasanya ibunya menjawab saat Jeongguk bertanya. “Anak sulung harus kuat. Harus lebih tenang dan paham prioritas mana yang harus didahulukan. Ogik, 'kan, nanti akan mengikuti Gung Wah. Jadi, Gung Wah-lah nahkoda kapalnya. Nahkoda harus kuat.”

Dan Jeongguk muak—sungguh muak pada toxic masculinity yang dijejalkan ke mulutnya oleh keluarga besar mereka termasuk penghuni Puri Kanginan yang gemar sekalin menyindir usia Jeongguk. Karena semua saudara sepupunya sudah menikah dan bahagia, hanya dia yang tersisa.

Jeongguk juga kebetulan pewaris utama Puri.

Jeongguk membawa makanan itu ke mulutnya, menahan napasnya agar tidak mencium aroma makanannya. Dari sudut matanya, dia menyari tatapan cemas ibu dan Yugyeom. Namun ayahnya memandanginya, jengkel sekarang maka Jeongguk melakukan apa yang dimintanya.

Apa saja agar dia cepat meninggalkan Jeongguk sendirian.

Dia menyuap makannya dan perutnya seketika mengejang. Menolak mentah-mentah makanan itu namun Jeongguk balas menyerangnya—memaksa mereka menelan makanan itu, mengunyahnya terburu-buru sementara mual bergulung-gulung naik, menyiksa perutnya. Jeongguk berdeguk, nyaris memuntahkan makanannya.

“Gung!” Ibunya berbisik, menyentuhnya dan bersiap menahannya jika dia muntah.

Namun ayahnya tidak peduli. “Telan.” Katanya dingin. “Jangan dimanjakan badanmu, dilawan. Kau harus makan. Telan makannya, paksa tubuhmu menelannya. Dituruti terus kemauannya, begitulah kenapa kau terus sakit.”

Jeongguk ingin memukul sesuatu, seseorang atau apa saja. Ingin melampiaskan amarah yang bercokol di belakang kepalanya, membuatnya kesemutan. Dia marah, pada semua orang—pada ayahnya, pada Taehyung. Marah pada kehidupan ini, marah pada identitasnya sebagai Anak Agung.

Dia marah.

Dia menelan makanannya, memaksa benda itu turun ke perutnya namun tidak semudah itu. Asam lambungnya bergolak saat itu juga dan Jeongguk terlambat menahannya.. Dia tersedak, berdeguk keras seperti seekor anjing yang tersedak.

“Gung!” Seru ibunya dan Yugyeom bergegas berdiri, hendak meraih kakaknya jika dia oleng karena ibunya yang mungil tidak akan sanggup menahan tubuh Jeongguk yang dua kali lebih tinggi darinya.

“Dilawan coba.” Gerutu ayahnya, menatap jengkel dari kepala meja. Tidak puas pada cara anak sulungnya menanggulangi dirinya sendiri.

Jeongguk mengabaikannya, dia bergegas menumpukan tangannya di pinggir meja saat makanan didorong naik. Kursinya berderit saat dia dengan panik mendorongnya dengan kaki, terburu-buru hendak pergi ke tempat cuci piring untuk memuntahkan makanannya dengan tangan menutupi mulutnya.

Makanan sudah berada di pangkal tenggorokannya, asam lambung merebak di lidahnya. Dia terlambat menelannya. Jeongguk berdeguk sekali lagi, keras dan nyaring. Ibunya terkesiap keras saat Jeongguk memuntahkan makanannya di sana, di atas lantai. Asam lambung kental berwarna pekat yang beraroma tengik dengan makanan setengah terkunyah yang membuatnya berkunang-kunang.

Taehyung, pikirnya mabuk persis sebelum dia berdeguk keras sekali lagi dan jatuh berlutut di lantai, menyenggol kursinya sendiri hingga jatuh menghantam lantai dengan suara keras.

Dia muntah sekali lagi dengan suara air berderai keras di telinganya, asam lambung menyelip dari hidungnya—menetes dan meninggalkan rasa perih luar biasa di pangkal hidungnya. Jeongguk menunduk, ibunya berlutut di sisinya—menyeka anak rambutnya agar tidak terkena muntah dan memijat tengkuknya.

Jeongguk berdeguk, muntah lagi walaupun perutnya sama sekali tidak terisi apa pun sebelum mengerang keras—kepalanya berdenyut, hatinya berdenyut, seluruh tubuhnya diremas rasa sakit luar biasa yang membingungkan.

Dia begitu kacau balau hingga berpikir kematian akan terasa jauh lebih menyenangkan dari kesakitan ini.

*