Gourmet Meal 212

tw // implied and internalized homophobia

ps. please listen to Duncan Laurence – Arcade <3 pss. this one gonna break your heart.


“Aku sungguh minta maaf karena aku harus berangkat lebih awal.”

Taehyung mengangguk, menatap Jimin yang sekarang membereskan barang-barangnya setelah dua hari menginap di kamarnya. Dia bisa memilih hotel mana pun yang dia inginkan namun dia memutuskan untuk menoleransi ayah Taehyung dan menemaninya selama sakit. Dia bersikeras menemani Taehyung selama sakit; mengambil peran sebagai perawat super yang selalu siaga tiap Taehyung mengerang.

Mereka sudah pergi ke dokter, namun dokter menyatakan seluruh organ Taehyung dalam keadaan sehat dan memberikan obat demam serta pengurang rasa sakit. Taehyung meminum obatnya dengan tekun, makan dengan baik—setidaknya dia berusaha, namun sakit tidak juga meninggalkan dirinya. Dia sering terserang rasa pusing menyengat di tengkoraknya, terkadang mustahil diabaikan padahal dia tidak memiliki riwayat vertigo sama sekali.

Dia cepat lelah padahal tidak melakukan apa pun. Tengkuknya nyeri dan dia sulit bernapas. Seperti ada sesuatu yang mencekiknya, seolah dia sedang ditenggelamkan ke air dan paru-parunya penuh oleh air.

“Kau stres,” kata Jimin saat berbaring di sisinya malam itu, mengusapnya sayang. Kasur Taehyung cukup luas untuk ditiduri dua orang dengan ruang kosong yang nyaman di antaranya. “Ayo, cobalah merilekskan isi kepalamu sedikit.” Dia menepuk kening Taehyung lembut, bergurau.

Taehyung suka saat Jimin memijat keningnya, membuat sakitnya berkurang sebelum kembali lagi. Dia juga terserang insomnia parah, hanya tidur 3 jam sehari atau bahkan 3 jam dalam dua hari. Taehyung merasa begitu kacau dan kelelahan sehingga sakitnya sulit sembuh. Dia berpikir Jimin benar, mungkin kepalanyalah yang membuatnya sakit.

Keberadaan Jeongguk biasanya mengurangi sakit kepalanya, aroma parfumnya pun cukup untuk membuat Taehyung nyaman dengan dirinya sendiri. Namun kemewahan dengan mengundang Jeongguk ke kamarnya membuatnya takut; dia tidak bisa terus-terusan menerima saat dia tahu dia tidak bisa membalas Jeongguk dengan hal yang pemuda itu paling inginkan. Dia mendesah saat Jimin mengenakan jaketnya, teringat pesan terakhir yang dikirimkan Jeongguk.

“Hei,” katanya parau pada Jimin yang bertarung dengan ritsleting tasnya.

“Apa?” Tanya pemuda itu, menyeka anak rambutnya yang meluruh ke keningnya saat dia membungkuk.

Taehyung menatap tangannya sendiri, mencari hati yang dititipkan Jeongguk ke genggamannya. Berusaha merasakan denyutannya, meyakinkan dirinya sendiri. Sebelum teringat semua beban yang harus ditangguhkannya dan suara bangga ayahnya saat dia mengajak Devy makan malam. Teringat secercah aroma parfum feminim di pakaian Jeongguk hari dia datang setelah mengantar Mirah. Dia juga beraroma keringat serta sinar matahari; menghabiskan seharian menemani Mirah.

Mereka seharusnya melakukan hal yang diinginkan Puri mereka masing-masing.

Kenyataan itu menghantam Taehyung begitu kuatnya hingga dia menghela napas tajam. Sudah lama dia memikirkan ini, tentang dirinya dan Jeongguk, tentang lingkungan yang tidak mendukung mereka. Tentang para jodoh mereka yang berada di sekitar mereka setiap hari, harus diprioritaskan karena mereka membawa nama keluarga di dalamnya. Semakin hari, dia semakin ragu—bukan karena sikap Jeongguk, namun karena semakin banyak hal-hal yang terjadi di sekitar mereka yang seolah menihilkan usaha mereka.

Taehyung mulai lelah, mulai takut. Instingnya memintanya mundur, beralih ke kenyamanan dengan melakukan apa yang ayahnya inginkan. Tidak ada ruang untuk egoisme di hidup Taehyung, tidak ada ruang untuk pilihannya sendiri.

“Kau tidak apa-apa?” Jimin bergegas kembali ke sisinya, duduk di tepi ranjang.

Taehyung mendongak, menatapnya dengan wajah merah dan mata yang tersengat air mata. Hatinya nyeri membayangkan jika dia memang harus menyerah pada hubungannya dengan Jeongguk, menyerah pada cinta pertama yang pernah mekar di hatinya—menyerah karena memang tidak ada tempat untuk cinta itu di sini.

Menyerah....

“Hei, hei!” Jimin menyadari air mata yang terbit di sudut mata Taehyung dan langsung merengkuhnya, memeluknya hangat—pelukan Jimin terasa nyaman, hangat, namun tidak terasa 'benar' seperti pelukan Jeongguk.

“Ada apa? Kenapa?” Bisiknya lembut. “Apa yang kaupikirkan?” Dia membelai punggung Taehyung yang hangat dengan telapak tangannya, mengusapnya dengan lembut—berusaha menenangkan Taehyung.

“Jiji,” bisiknya parau, kaku dalam pelukan Jimin. “Aku menginginkan sesuatu yang tidak bisa kumiliki. Tidak di kehidupan ini.”

Jimin menegang lalu mengurai pelukan mereka hanya untuk menggenggam kedua bahu Taehyung dan menatapnya. “Kau bisa memilikinya.” Katanya berbisik, perih karena menyadari apa yang dibicarakan Taehyung. “Tentu saja bisa. Semua tergantung seberapa besar kau menginginkannya dan mau memperjuangkannya.”

“Haruskah aku memperjuangkan sesuatu yang kutahu tidak akan berhasil sama sekali?” Balas Taehyung menatapnya, rambutnya terasa lengket sekarang. Sudah beberapa hari dia tidak mencucinya, mereka membentuk rambutnya menjadi cepol lepek yang berat dan gatal di kepalanya.

Jimin mengusap rambut di wajahnya, mengaitkan anak rambut di balik telinganya. “Mungkin sekarang belum ada jalan keluarnya, semua terasa membingungkan. Siapa tahu jika kau cukup kuat dan teguh memperjuangkannya, dia bisa jadi kenyataan? Bisa jadi milikmu selamanya?” Sahut Jimin, menatapnya sayang. “Jangan menyerah sebelum mencoba, oke?”

“Sayang,” kata Jimin sekali lagi sebelum dia pergi berangkat ke bandara dengan kopernya, menatap Taehyung dari kacamata hitamnya yang nampak luar biasa di tulang hidungnya. Namun pedih di matanya, menembus kaca itu dan hinggap di mata Taehyung.

“Buatku, homoseksualitas bukan dosa. Itu pilihan personal, masalah selera. Dan tidak ada yang boleh menyalahkanmu atas seleramu.” Dia menghela napas dan mengerutkan keningnya. “Bahkan tidak orang tuamu.”

Taehyung berbaring di ranjang setelahnya, memikirkan kalimat Jimin dengan seksama sementara Lakshmi membawakan makanan dan membantunya mandi dengan Taehyung yang tidak menyadarinya sama sekali. Kakaknya membasuh rambutnya, menggosok kulit kepalanya lembut dan mengeringkannya dengan hair-dryer. Senang akhirnya Taehyung cukup sehat untuk mandi.

Namun Taehyung tidak berhenti berpikir, mencoba mencari isi kepalanya—mencoba mencari jawaban yang tidak juga ditemukannya.

Dia memikirkan banyak sekali hal; kakaknya, ibunya, ayahnya, dan sekarang Devy. Orang-orang Puri yang selalu mencemooh mereka, mengatakan sesuatu tentang terpaksa menerima Taehyung sebagai pewaris walaupun dia bukan keturunan murni karena ibunya seorang Sudra. Lebih baik daripada tidak sama sekali, katanya. Itulah kemudian yang menumbuhkan banyak standar baru yang memusingkan Taehyung; kesalahannya akan dikaitkan dengan kasta ibunya. Kasta kakaknya.

Belum lagi berita-berita miring yang didengarnya tentang kakaknya dan calon suaminya yang merupakan seorang Brahmana dari griya yang cukup besar. Taehyung berusaha menahan berita itu agar tidak hinggap pada kakaknya, memasang tubuhnya sebagai benteng berita itu, namun sepertinya dia gagal karena para manusia yang membenci selalu berusaha memberi tahu orang yang dibencinya tentang betapa mereka membenci. Reaksi orang yang mereka benci atas kebencian merupakan hal yang membuat mereka bahagia, membuat mereka utuh.

Bayangkan betapa getir dan pahit hidupnya karena bernapas dengan kesedihan orang lain. Bayangkan betapa busuk hatinya karena terus menebar kebencian untuk orang yang sama sekali tidak bersalah. Dikuasai iri dengki dan amarah kekanakan yang membuatnya terus berkoar-koar tentang kebenciannya; berharap seluruh dunia akan membela dan memvalidasi emosinya.

Hidup yang sangat menyedihkan.

Taehyung memejamkan matanya; berpikir kenapa dia memiliki begitu banyak tanggung jawab di bahunya. Sejak kapan hidup berubah menjadi begitu berat untuknya? Lalu ketika dia menemukan setitik kebahagiaan, kenyamanan, dan sesuatu yang membuatnya ingin terus bertahan, dia tidak bisa memilikinya.

Dia berharap dengan menjadi friends with benefit, dia tetap merangkul Jeongguk cukup dekat dengan hidupnya namun juga tidak membatasi ruang geraknya tentang kewajiban Puri-nya. Taehyung berharap dia bisa menemukan keberaniannya karena dia tidak sanggup mengusir Jeongguk dari hidupnya. Dia berharap solusi itu yang terbaik....

Berharap dengan mengeluarkan perasaan dari hubungan mereka, dia bisa lebih nyaman untuk sejenak memikirkan perasaannya sendiri—menyusunnya, memastikan dirinya cukup kuat untuk merengkuh segalanya. Mempersiapkan diri pada badai yang akan menghantam mereka di masa depan dengan 'benar' mereka yang tidak sesuai 'benar' lingkungan mereka.

Taehyung berharap.

Kau mencintaiku?

Jika dia punya keberanian dan ruang untuk egois tentang ini, dia akan menjawabnya dengan lantang. Betapa Jeongguk telah menjungkir balikkan dunianya, memberikannya napas kehidupan baru yang lebih mendebarkan, memberi Taehyung begitu banyak kenangan dan hal-hal baru. Dia membimbing Taehyung memahami dirinya sendiri. Dengan usianya yang lebih muda dari Taehyung, dia mengisi ruang-ruang kosong emosional seorang ayah di diri Taehyung dengan sikap lembutnya.

Dia seperti tongkat yang dilemparkan ke arahnya ketika Taehyung buta arah.

Haruskah Taehyung tetap menggenggamnya, dekat dengan hatinya seperti membutuhkan udara untuk bernapas? Atau melepaskannya sehingga mereka bisa berbahagia di jalan mereka masing-masing? Bersikap seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka? Bisakah Taehyung kembali ke kehidupannya yang lama sebelum Jeongguk datang dan mengubahnya?

Atau, bisakah dia.... berusaha?

“Tugung?”

Taehyung tersentak, menoleh ke pintu dan menemukan kakaknya berdiri di sana dengan kain dan kebaya sehabis berdoa, wajahnya cemas dan tegang. Dia menarik dirinya, mendudukkan diri di ranjang dan mendesah—melirik kursi di sisi mejanya dan mendapati makanan terakhir yang diberikan Lakshmi padanya belum tersentuh.

Dia harus makan. Tapi tidak memiliki energi untuk sekadar membawa makanan ke mulutnya dan membayangkan dirinya sendiri mengunyah makanan itu membuatnya mual. Taehyung mendesah, menghela napas. Dia sudah terlalu lama absen, HRD sudah datang menjenguknya kemarin dan dia harus segera kembali. Hoseok memang oke, tapi ada banyak hal yang dia belum paham dari dapur Alila yang dihuninya bertahun-tahun.

Haruskah dia pindah ke Alila Uluwatu? Dia tidak harus bertemu Jeongguk lagi jika begitu. Mungkin kembali bergabung dengan Felix, nongkrong bersamanya seperti dahulu. Namun memikirkan harus berangkat dari Klungkung ke Uluwatu membuatnya menghela napas.

“Ya, Mbok Gek?” Tanyanya setengah mengerang, kepalanya terasa berat entah karena dia sakit atau karena terlalu banyak berbaring. Dia sudah tidak bisa membedakan rasa sakit di tubuhnya; fisik atau emosional. Semua bercampur menjadi satu, memilin tubuhnya dengan cara tidak masuk akal.

Lakshmi diam sejenak sebelum menghela napas, “Ada Turah di depan, Mbok Gek antarkan masuk?”

Jantung Taehyung mencelos, mendadak kakinya terasa sangat dingin karena ketakutan dan kepalanya terserang nyeri yang melumpuhkan. Dia menghela napas, menahan rasa sakit dan menatap kakaknya. Dia harus menghadapinya, 'kan?

“Boleh, Mbok Gek.” Bisiknya parau, merasa tenggorokannya tercekat gumpalan pahit berduri yang menyakitinya.

Dia belum memutuskan apa pun dan Jeongguk sudah datang. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang harus dikatakannya? Siapkah dia melepaskan Jeongguk sekarang setelah segala kebahagiaan candu yang diberikannya untuk Taehyung? Siapkah dia kembali ke kehidupannya yang getir dan monokromatis yang sekarang tidak lagi menarik?

Saat Jeongguk memasuki ruangan, rasa lega membanjiri tubuhnya. Dia menahan napas saat melihat pemuda itu sedikit menunduk di pintu kamarnya untuk masuk. Jeongguk mengenakan kemeja denim di luar kaus abu-abu sederhana dan celana jins ketat yang membalut kakinya yang luar biasa. Wajahnya nampak keras dan Taehyung tidak bisa tidak merasakan sengatan di hatinya bahwa dialah yang menyebabkan ekspresi itu. Dia jangkung, memesona, mendominasi, dan terganggu.

Mbok Gek,” katanya lembut pada kakaknya yang berkerut cemas. “Boleh tinggalkan kami sebentar?”

Lakshmi mengerjap, menatap adiknya dengan alis sedikit berkerut—nampak tidak yakin meninggalkan mereka berdua di kamar dengan pintu tertutup sementara orang tua mereka masih bangun. Namun dia menyadari atmosfer yang melingkupi keduanya sehingga dia mendesah dan mengangguk.

“Hati-hati, ya?” Bisiknya sebelum menarik pintu menutup.

Meninggalkan keduanya di kamar Taehyung untuk kesekian kalinya dalam keadaan beradab. Kali pertama Jeongguk di sana, dia harus menjejalkan dirinya ke dalam kolong tempat tidur Taehyung. Namun beberapa kali kemudian, dia datang sebagai tamu menemani Jimin. Tidak harus melukai dirinya sendiri melewati pintu rahasia atau membuat tubuhnya kram bersembunyi di bawah ranjang.

Jeongguk membuka mulutnya dan Taehyung bergegas menyelanya. “Peluk aku sebentar, tolong.” Bisiknya nyaris gemetar saat menyadari dia mungkin sudah memutuskan sesuatu untuk hubungan mereka.

Waktu berdetak, terus maju—habis dalam genggamannya. Dia harus melepaskan ini. Dia tidak bisa terus egois mempertahankan Jeongguk sementara dia tidak yakin pada segalanya.

Jeongguk tidak pernah membuang waktunya tiap kali Taehyung meminta sesuatu. Dia langsung memberikannya detik Taehyung menyelesaikan kalimatnya. Maka bukan kejutan lagi saat dia menyeberangi kamar dalam dua langkah panjang dan merengkuh Taehyung dalam pelukannya. Taehyung mendesah, membenamkan wajahnya dalam pakaian Jeongguk dan menghirup aroma tubuhnya yang begitu mendebarkan. Dia membiarkan hidungnya mengembang, meraup sebanyak mungkin aroma keringat Jeongguk—mencoba membuat aroma itu menempel di ceruk kepalanya.

Karena jika nantinya Jeongguk pergi, Taehyung tidak akan bisa mendapatkan ini lagi.

Lengan Jeongguk memeluknya erat, napasnya menderu di telinga Taehyung sementara jantungnya di bawah telapak tangan Taehyung berdebar dengan keras—seperti sayap burung elang yang mengepak. Taehyung menempelkan tangannya, mendengar Jeongguk terkesiap oleh sentuhannya dan merasakan debaran itu di kulitnya. Denyutan jantung Jeongguk yang membuatnya tenang; membuatnya nyaman karena apa pun yang terjadi jantung Jeongguk masih berdetak.

Dia masih bernapas. Hidup dan menjejak tanah yang sama dengan Taehyung. Hal sesederhana itu berhasil membuatnya lega dan rileks. Jeongguk bersamanya—walaupun di kemudian hari dia tidak lagi bisa memeluknya, tidak lagi bisa bercinta dengannya, atau dihadiahi tawanya yang menggemaskan; selama Taehyung teringat debaran jantungnya, dia baik-baik saja.

Jeongguk hidup. Walaupun bukan dalam pelukannya, cukup untuk Taehyung.

Taehyung meraih tepian kemejanya, merasakan tangis mulai merebak di matanya. “Cium aku?” Bisiknya parau.

Napas Jeongguk menderu, seperti seekor binatang eksotis yang terganggu. Namun tangannya begitu lembut saat meraih dagu Taehyung lalu membuatnya mendongak. Taehyung memejamkan matanya, tidak ingin Jeongguk menyadari air mata yang mulai terbit di matanya saat bibir mereka bertemu.

Taehyung mendesah, meleleh dalam rasa Jeongguk yang memenuhi rongga mulutnya. Tangannya meraih sisi leher Jeongguk, menangkupnya lembut saat Jeongguk memperdalam ciuman mereka—meraih lidahnya dengan lembut hingga Taehyung mengerang tertahan. Tangan Jeongguk yang panas menempel di punggungnya, menembus lapisan pakaiannya dan membakar kulitnya seperti cap panas.

Secara insting, dia mendekatkan dirinya pada Jeongguk—mencari perlindungan seperti seekor anak ayam yang baru menetas dari telurnya. Mencari kehangatan Jeongguk. Kehadirannya membuat Taehyung mabuk setiap kalinya. Taehyung menghela napas, tercekat seperti baru saja tenggelam di air yang dalam saat bibir Jeongguk menggelincir ke lehernya dan mengecupnya lembut—berkali-kali hingga Taehyung mengeluarkan suara dekut seperti burung merpati dari tenggorokannya.

Jeongguk mengecup jakunnya, menjilatnya lembut hingga Taehyung gemetar dan berpegangan erat pada tubuhnya berharap akal sehatnya tidak menggelincir jatuh. Jeongguk menggeram di kulitnya, mengirimkan sensasi menggelitik yang membuat tubuh Taehyung panas dan kali ini bukan karena demamnya.

“Ini,” bisiknya tercekat, nyaris menggigit lidahnya sendiri saat meremas lengan Jeongguk yang kencang memeluknya. “Ini di rumahku.” Dia terkesiap saat Jeongguk menjulurkan lidah dan menjilat cuping telinganya. “Ada Ajung.”

Kata 'Ajung' menampar Jeongguk hingga dia langsung menarik dirinya menjauh, begitu tiba-tiba dan meninggalkan Taehyung terengah di tempatnya—mabuk karena demam dan ciuman Jeongguk yang dibumbui kemarahan. Jeongguk nampak kacau, anak rambut meleleh di keningnya yang tinggi dan wajahnya merah padam. Bibirnya menebal dan bengkak kemerahan. Taehyung mengulurkan tangan, menyentuhnya dengan ibu jarinya—lembut seperti menyentuh sayap kupu-kupu.

Jeongguk menyerah dalam sentuhannya, memejamkan mata dan memegang pergelangan tangannya. Napasnya menderu di bawah telapak tangan Taehyung yang basah karena suhu tubuhnya dan Taehyung mendesah. Dia mencondongkan tubuhnya lalu menumpukan keningnya pada Jeongguk.

Napasnya beradu dengan napas Jeongguk, menderu di pendengarannya sendiri seperti air terjun atau hujan deras yang membuat pandangan menjadi putih. Jeongguk masih menggenggam tangannya, tidak mengatakan apa pun sementara Taehyung duduk di sana—mendengarkan napas dan detak jantungnya.

“Aku tahu.” Bisik Jeongguk lirih, napasnya membelai wajah Taehyung yang panas karena demam. Membuat Taehyung bergidik oleh aroma peppermint yang menguar dari napasnya.

Jantungnya mencelos, berdebar dengan cara yang begitu menyakitkan hingga secara reaktif, dia membuka mulutnya dan bernapas dari sana. Berusaha memaksa paru-parunya tetap bekerja agar otaknya tidak mati. Tahu.... apa?

Taehyung membuka mulutnya yang kering, hendak bertanya namun Jeongguk bergegas melanjutkan dengan nada paling nyeri yang pernah didengar Taehyung. Suaranya pecah, berderak seperti sebuah gelas kaca yang dilempar ke lantai. Dia bisa mendengar perih dan betapa banyak luka yang ditangguhkan Jeongguk saat mengatakannya.

“Aku tahu kau akan mengakhiri ini.” Bisik Jeongguk, pecah.

Namun dia tidak bisa membantunya karena dia juga menanggung luka yang sama. Tidak menemukan cara lain selain ini untuk hubungan mereka. Berharap, Jeongguk akan menemukan kebahagiaannya walaupun itu bukan bersamanya. Taehyung memejamkan mata, mengencangkan otot perutnya demi menangguhkan sakit itu.

“Gung,” bisiknya lembut, gemetar dalam sentuhan Jeongguk. “Kita bahkan tidak memulai apa pun.”

Jeongguk menggertakkan giginya, gemetar entah menahan sakit atau amarah namun Taehyung menghela napas. Berusaha menekan sakit yang menyeruak di dadanya, menikamnya seperti belati panas bergerigi yang langsung merusak hatinya—atau organ apa pun itu yang bertanggung jawab atas rasa sakit di balik paru-paru dan jantungnya.

“Wigung,” bisik Jeongguk, gemetar oleh tangis sekarang—Taehyung bisa mendengar isakannya. “Wigung, jangan. Diholas. Kita... bicarakan dulu? Boleh?”

Hati Taehyung berdenyut, nyeri sekali hingga dia sejenak menghela napas tajam karena rasa sakitnya yang luar biasa. Nyaris seperti seseorang baru saja menusuknya dengan pisau, menembus tubuhnya lalu disentakkan hingga keluar. Sakitnya begitu melumpuhkan.

Dia sudah membaca ini berulang kali di ruang obrolan mereka, merasakan pedih yang sama berulang kali. Namun mendengar Jeongguk memohon padanya langsung dengan suara pecah menahan tangis membuat isak Taehyung merebak. Dia meremas tangan Jeongguk yang terengah oleh isaknya sendiri, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara dalam tangisnya.

“Wigung, tolong.” Bisiknya berulang-ulang, gemetar dan ketakutan. “Jangan pergi, jangan. Jangan.” Dia menggeleng, mencondongkan tubuhnya dengan gemetar berusaha meraih Taehyung. “Jangan, jangan.... Jangan.”

“Gung,” balas Taehyung lembut, rapuh menahan lukanya sendiri dan berusaha keras berpikir bahwa inilah yang terbaik untuk mereka berdua—memikirkan ibunya, kakaknya, Puri, dan juga Devy.

Dan Mirah. Gadis manis dan sopan yang akan jadi pendamping sempurna untuk Jeongguk. Taehyung harus berhenti berusaha memisahkan mereka.

“Aku tidak....” Dia menghela napas, tercekat nyaris menggigit lidahnya sendiri. “Aku tidak bisa. Keputusanku sudah bulat. Tidak ada jalan keluar dari sini. Mari selesaikan sebelum semuanya terlambat.”

Jeongguk menggeram, suara geraman itu membelai kulit Taehyung dengan cara yang membuatnya berdebar. “Apa.... yang terlambat?” Tanyanya, praktis menggeram dari sela geliginya yang terkatup rapat.

“Mirah.” Sahut Taehyung, membawa satu-satunya luka di hatinya naik ke permukaan. Menyiramkan asam ke atas luka, menggosokkan garam ke kulitnya yang menganga. “Dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Bukan aku, Gung. Tidak dikehidupan ini.”

“Aku menginginkanmu.” Geram Jeongguk, sekarang gemetar oleh amarah yang membuat Taehyung lemah. “Sesulit itukah memahamiku? Kau. Aku menginginkanmu, tidak ada yang lain di dunia ini.”

“Kau hanya sedang mengalami fase.” Tukas Taehyung dan Jeongguk menyentakkan wajahnya dari Taehyung—menatapnya dengan rasa tersinggung kental yang nyata tergurat di wajahnya. “Itu hanya fase, meledak-ledak sesaat lalu berakhir. Percayalah.”

Don't.” Geramnya seperti seekor binatang buas yang terganggu. “Don't tell me what to feel and what not to.”

“Maaf.” Bisik Taehyung seketika itu juga, tidak berani menatap Jeongguk yang melemah di sisinya—dia menumpukan kepalanya di bahu Taehyung dan Taehyung langsung membelai punggungnya. “Maaf, tapi aku sudah memutuskan.”

“Wigung,” bisiknya rapuh berulang-ulang. Mencium leher Taehyung dengan lembut. “Wigung, tolong. Tolong jangan begini. Kita bicarakan saja. Apa pun yang kauinginkan, akan kulakukan. Tapi jangan.” Dia tercekat, meremas pakaian Taehyung yang menangis. “Jangan meninggalkanku lagi. Jangan. Jangan.”

“Gung.” Taehyung membuka mulutnya, berusaha bernapas seperti seekor ikan yang ditarik ke permukaan. Bibir bawahnya gemetar. “Gung, maaf. Maaf.”

“Wigung.” Jeongguk memohon, dia merosot dari sisi Taehyung dan berlutut di lantai dengan wajah merah padam. Lututnya menghantam lantai dengan suara keras namun dia sama sekali tidak berjengit saat mendongak menatapnya—memohon.

Taehyung akan dihantui mimpi buruk setelah ini karena ekspresi Jeongguk benar-benar terluka hingga Taehyung merasa dia tidak layak mendapatkan luka sedalam ini, cinta sehebat ini dari Jeongguk.

Dia berhak mendapatkan orang lain yang lebih baik.

Walaupun ini melukai Taehyung, dia yakin—amat yakin inilah yang terbaik dan dia akan menghadapi apa pun risikonya nanti. Dia akan mengambil transfer ke Alila Uluwatu, menjauh dari Amankila. Mencari kos di sekitar sana. Dia harus pergi dari sini, dia tidak bisa terus bekerja di tempat yang berdekatan dengan surga pribadinya tanpa ingin terjun ke dalamnya.

“Aku hanya menginginkanmu. Selalu hanya dirimu. Tolong.” Dia mulai menangis, memeluk kaki Taehyung—memohon dengan sangat pilu dan menyedihkan hingga Taehyung meledak dalam tangisannya sendiri. Wajahnya terbenam di pangkuan Taehyung, air mata merebak di pakaian Taehyung.

“Gung, jangan.” Dia berusaha melepaskan tangan Jeongguk dari kakinya namun pemuda itu bersikeras. “Jangan begini. Jangan.” Tangannya gemetar saat meraih tangan Jeongguk yang menempel seperti lintah, terpeleset karena keringat saat berusaha menariknya. “Jangan, aku tidak layak untuk ini.”

“Kau layak untuk segalanya, selalu layak. Bahkan untuk dicintai.” Balas Jeongguk, memeluknya semakin erat hingga Taehyung memejamkan mata, nyeri.

“Aku melakukan ini untuk kita. Untuk kebaikanmu sendiri. Kita tidak bisa begini. Aku tidak bisa.” Dia berhasil melepaskan tangan Jeongguk dan pemuda itu mendongak dengan air mata di pipinya, menetes ke lantai dari dagu dan ujung hidungnya.

“Gung,” bisiknya, menahan tangisnya sendiri walaupun dia bisa merasakan air mata di lidahnya—asin dan hangat. Matanya buram saat berusaha menatap Jeongguk yang berlutut di hadapannya.

Dia harus melakukan ini. Pengorbanan besar harus dilakukan demi menyelamatkan semua orang, demi kepentingan mayoritas. Taehyung menyadari dia tidak bisa menjadi seegois ini dengan mempermainkan perasaan Jeongguk karena perasaannya sendiri yang terombang-ambing. Cukup sudah kerusakan yang dibuatnya pada Jeongguk.

Mereka harus berhenti saling menyakiti.

Taehyung tidak bisa merengkuh bahagia ini, tidak bisa egois demi dirinya sendiri. Maka dia memutuskan melepaskannya—mengikhlaskannya untuk orang lain. Dia akan tetap bahagia—berusaha tetap bahagia walaupun hanya melihat Jeongguk menjejak bumi yang sama dan menjunjung langit yang sama dengannya. Harus cukup, Taehyung tidak bisa mendapat lebih banyak lagi.

Hanya itulah yang bisa dimilikinya di kehidupan ini.

“Mari akhiri ini.”

Semoga Jeongguk bahagia dengan siapa pun pilihannya nanti.

“Kita.... akhiri ini.”

*