eclairedelange

i write.

tw // dub-con , guilt tripping , inferiority , toxic relationship . cw // bottom on top .


author's note: siapa saja yang sudah tidak nyaman dengan cerita atau dinamis taekook di sini, silakan berhenti membaca. saya tidak memaksa siapa pun untuk membaca cerita saya dan saya tidak bertanggung jawab atas emosi apa pun yang mungkin kalian rasakan karena saya sudah memberikan warning dan tags sebelum membaca. trims. ire, x


Jeongguk tidak yakin apa yang sedang dilakukannya sekarang saat memarkir mobilnya di halaman Alila dan bergegas masuk melalui pintu depan—beberapa karyawan, khususnya Security yang sudah mengenalnya mengangguk ramah dan Jeongguk membalas sapaan mereka sebelum memasuki lobi Alila yang bernuansa lembut dan hangat.

Dia bertemu Mingyu di meja depan dan mendesah, “302.” Katanya dengan ekspresi yang sudah diusahakannya nampak menyedihkan dan butuh bantuan.

Mingyu terkekeh, dia mengenakan jas supervisor-nya yang licin dan tajam. Nampak sangat cerdas dalam balutan seragam rapi itu. Dia mengecek di komputer di hadapannya lalu mencari pemesanan kamar itu di sistem sebelum mendongak—menatap Jeongguk yang menghela napas berat.

Fishy,” komentarnya sopan seraya meraih kartu kunci dan memprosesnya. “Dipesan atas nama Chef Taehyung, dengan employee rate satu malam.” Dia kemudian menyelipkan kartu itu ke dalam amplop mungil berlambang Alila. “Tolong beri tahu kekasihmu,” dia merendahkan suaranya. “Agar ke Front Office sebelum check out, aku butuh fotokopi KTP-nya.”

Dia menyerahkan kunci itu. “Selamat bersantai.” Dia menyerigai dan Jeongguk mendenguskan senyuman lemah—seolah dia memang akan bersantai hari ini. Karena dari reaksi Taehyung tadi, Jeongguk ragu dia akan bersantai dengan Taehyung.

Dia meraih kunci yang diberikan Mingyu. “Ke mana, ya, Pak Mingyu kamarnya?” Tanyanya dengan nada menyindir dan Mingyu terbahak serak sebelum bergegas keluar dari balik konter.

“Mari, Bapak Gung Ngurah, saya antarkan.” Katanya sebelum mengambil kembali kunci dari genggaman Jeongguk dan bergegas membimbingnya ke kamar yang dimaksud. “Kenapa kalian tidak memesan kamar di hotel lain, sih?” Tanyanya berbisik kemudian saat mereka berada di lorong yang sedikit sepi.

“Aku hanya ikut Taehyung.” Sahut Jeongguk kalem, mengekor Mingyu—di dalam tasnya sudah ada kondom dan lubrikan, apa pun yang terjadi dia yakin Taehyung akan mengajaknya bercinta sebelum benar-benar mendengarkan apa pun.

“Aku tidak melarang, sih,” kata Mingyu kemudian berhenti di salah satu kamar dan mengetuknya sesuai standar sebelum menyelipkan kunci lalu mendorongnya terbuka. “Maksudku, terlalu riskan. Banyak yang mengenal Taehyung di sini, syukur saja tadi aku yang berada di konter.” Dia menyelipkan kunci di tempat listrik sebelum menatap Jeongguk.

Jeongguk mengedikkan bahunya saat mendudukkan dirinya di ranjang, “Sungguh, Mingyu. Pilihanku tidak banyak jika itu tentang Taehyung.” Katanya, mendesah karena betapa benarnya kalimat itu terasa di bibirnya dan di hatinya.

Dia begitu lemah di depan Taehyung, begitu mencintainya hingga dia lupa memerhatikan dirinya sendiri. Mungkin benar kata Jimin, selama ini dia terkadang lelah meladeni keinginan Taehyung yang sulit. Suasana hatinya yang berubah dengan ekstrim, belum lagi kecenderungannya untuk memberikan silent treatment tiap kali Jeongguk mungkin keliru di hadapannya lalu menyelesaikan semua masalah dengan seks.

Jeongguk tidak keberatan dengan seks mereka, semuanya luar biasa. Dan dia sendiri menyadari betapa dia tidak bisa menjauhkan tangannya dari Taehyung. Namun terkadang hal-hal penting, pembicaraan-pembicaraan yang seharusnya mereka lakukan menjadi terabaikan. Mungkin dia sebaiknya membicarakan semuanya malam ini jika Taehyung mau bekerja sama dengannya.

“Tidak heran.” Sahut Mingyu, nyengir dengan menyebalkan. “Kau, 'kan, memang menyedihkan.” Tambahnya lalu membuka mulut hendak menyindir Jeongguk lagi saat seseorang muncul di balik pintu.

“Mingyu.” Katanya dingin dan pemuda itu langsung terlonjak, nyaris terjatuh karena kaget.

Keduanya menoleh, menemukan Taehyung berdiri dengan rambut setengah basah dan pakaian sederhana—kaus dan celana jins biasa namun Jeongguk mendadak ingin meraihnya. Menjabak rambutnya lalu menciumnya hingga dia merengek dalam sentuhannya. Ekspresi kerasnya membuat Jeongguk merasa tertantang, ingin 'menjinakkannya'. Ingin membuatnya mendengkur senang. Ingin membuatnya rileks, merona dan merekah di bawahnya.

“Oh, Chef!” Sapa Mingyu sebelum bergegas berpamitan. “Selamat beristirahat.” Katanya mengerling Jeongguk dengan cemas karena ekspresi Taehyung sebelum bergegas pergi dari sana.

Taehyung menatap Mingyu sebentar sebelum melangkah masuk dan menutup pintu. “Dia... tahu?” Tanyanya, sekarang nampak cemas dan Jeongguk bergegas bangkit dan menghampirinya.

“Tahu, tapi tidak masalah.” Katanya memeluk Taehyung yang langsung meleleh dalam pelukannya, mendesah panjang menyandarkan kepalanya di bahu Jeongguk. “Dia sahabatku, dia tidak akan mengatakan apa pun kepada siapa pun.” Dia membelai punggung Taehyung sayang, mengusapnya naik turun dengan lembut.

“Hari ini menyebalkan, ya?” Bisiknya di rambut Taehyung yang lembab. “Aku membuatmu jengkel, ya? Maaf, ya?” Tambahnya, mengecup pelipis Taehyung lalu mengeratkan pelukannya, mendesah karena pelukan itu membuatnya merasa nyaman dan hangat. Dia tersenyum saat Taehyung membalas pelukannya, mengaitkan jemarinya di balik punggung Jeongguk.

Seberapa marahnya pun dia pada Taehyung, semuanya lenyap begitu saja detik pemuda itu meleleh dalam pelukan Jeongguk. Dia begitu mencintai Taehyung, begitu sangat membutuhkannya dalam hidupnya hingga dia nyaris buta arah. Dia memeluk Taehyung, memastikan jantung mereka berdebar bersama—bersentuhan di balik pakaian dan rusuk mereka.

“Maaf aku membuatmu jengkel.” Bisik Jeongguk lalu mengecup puncak kepalanya sebelum menarik tubuhnya untuk menatap Taehyung yang tersenyum tipis. “Kau sudah makan?”

Taehyung mengangguk, “Tadi.” Katanya, mengulurkan kedua lengannya dan kembali memeluk Jeongguk hingga pemuda itu terkekeh parau—membalas pelukannya dengan senang hati.

“Kenapa kau manja sekali hari ini?” Tanyanya, menyisir rambut Taehyung dengan jemarinya.

Mereka masih berdiri di lorong sempit di depan pintu kamar, enggan beranjak karena pelukan mereka terasa begitu hangat. Jeongguk memejamkan mata, menikmati waktu mewah mereka bersama dan senang memutuskan untuk membatalkan janjinya dengan Mirah karena ternyata memeluk Taehyung terasa jauh lebih menyenangkan. Dia menghela napas, merengkuh Taehyung lebih erat lagi dalam kedua lengannya.

“Kangen.” Gumam Taehyung dalam pelukannya, mengeratkan pelukannya seolah mereka bisa lebih dekat lagi. “Dan kau menyebalkan hari ini.”

Jeongguk tergelak, “Maafkan aku, oke?” Dia mengecup Taehyung sebelum mendesah dan mengurai pelukan mereka perlahan. Taehyung merengek kecil namun Jeongguk bergegas meraih wajahnya, menangkupnya dengan kedua telapak tangannya sebelum mencium bibirnya.

Taehyung melenguh kecil, mengalungkan kedua lengannya ke leher Jeongguk dan membalas ciumannya dalam. Mereka berdua terhuyung, Jeongguk membimbing Taehyung ke ranjang. Membaringkannya di sana dengan lembut tanpa memisahkan ciumannya. Lidahnya menyelip masuk, puas mendengar suara Taehyung yang mendengkur senang lalu membelai geliginya. Dia menarik ciuman mereka, menatap Taehyung yang merona di ranjang—terpenjara di antara kedua lengannya.

“Aku akan memberimu satu seks,” gumamnya lembut, membelai wajah Taehyung—menyeka anak rambut dari wajahnya dan menyapukan pandangan terpesona yang takzim pada Taehyung. “Setelahnya, kita bicara, oke?”

Taehyung menatapnya—konflik berkilat di matanya dan hati Jeongguk mencelos. Perasaannya sama sekali tidak enak saat melihat ekspresi Taehyung namun saat dia membuka mulut hendak bertanya, Taehyung meraihnya. Tidak memberikannya kesempatan untuk berpikir saat merayunya pada seks paling menakjubkan yang pernah dirasakan Jeongguk.

Dia mendesah keras, nyaris meledak oleh gairahnya sendiri saat Taehyung naik ke atasnya dan menyatukan tubuh mereka. Jeongguk menggertakkan rahangnya, meremas kedua bahu Taehyung saat dia bergerak di atasnya dengan lembut—nyaris menyiksanya dengan menggerakkan pinggulnya begitu perlahan. Jeongguk terengah, mulutnya terbuka dan matanya terasa buta oleh cahaya putih akibat seks yang begitu menakjubkan.

“Oh,” sengalnya saat Taehyung mengangkat tubuhnya lalu turun dengan sangat perlahan hingga Jeongguk menggigil. Dia meremas pinggul Taehyung, menggerakkannya sesuai apa yang diinginkannya namun Taehyung menolaknya—dia bergerak sesuai apa yang hasratnya inginkan dan begitu lambat hingga Jeongguk menggertakkan giginya.

“Wigung,” sengalnya, nyaris merengek saat Taehyung bergerak di atas selangkangannya, memastikan dia merasakan tiap gesekan kulit mereka di indra sentuhannya. “Oooh....” Erangnya panjang saat Taehyung melakukan manuver dengan pinggulnya, memijat tubuhnya dengan cara yang amat sangat menakjubkan.

Taehyung merunduk, terengah dengan rambut membentuk tirai di kedua sisi wajahnya dan mencium Jeongguk yang berdeguk di bawahnya. Lidah mereka saling membelit, menari licin dengan saliva mereka sementara Jeongguk menggerakkan pinggul Taehyung yang merengek karena sensasi gesekan itu. Taehyung menumpukan kedua lengannya di kedua sisi kepala Jeongguk, wajahnya berkerut penuh kenikmatan dengan mulut terbuka—desahan lembut terus meloloskan diri dari sana, melecut gairah yang mendebarkan ke kepala Jeongguk.

Taehyung adalah manusia paling indah dalam hidup Jeongguk—dia hangat, dia lembut, dia menyenangkan, dia begitu mendebarkan. Jeongguk takkan pernah terbiasa menyentuhnya, merasakan lembut kulit Taehyung di jemarinya, merasakan pelukan tubuhnya yang mengencang, merasakan ciumannya. Dia begitu mencintai Taehyung, begitu menyayanginya.

Dia menggeram keras, melenguh saat Taehyung mendesah tercekat, orgasme dengan indah di atas perutnya dan tersengal—keringat meleleh dari keningnya yang tinggi dan Jeongguk menyekanya. Mengecupnya sayang, merasakan asin keringatnya sebelum menggumamkan permisi—menyelesaikan gilirannya hingga Taehyung mengeluarkan suara merengek panjang yang membuat Jeongguk nyaris sinting oleh gairah.

“Kau indah,” sengalnya terengah, menciumi wajah Taehyung yang merengek saat Jeongguk bergerak. “Kau indah sekali, kau indah. Kau indah sekali.” Gumamnya, menggeram saat orgasme melilit di dasar perutnya, memberontak hendak meloloskan diri. “Aku sangat,” bisiknya parau. “Sangat mencintaimu.”

Taehyung melolong, melempar kepalanya ke belakang saat Jeongguk bergerak semakin intens—menggerakkan pinggulnya nyaris seperti kesetanan saat mengejar orgasme yang berkelip seperti bintang di balik kelopak matanya. Jeongguk menggeram disela rengekan Taehyung sebelum meledak menjadi debu karena orgasmenya.

Dia tersengal, lelah dan puas saat akhirnya mereka mencapai orgasme bersama dan berbaring bersisian di atas ranjang yang lembab oleh keringat. Jeongguk meraih Taehyung, memeluknya dan membiarkan pemuda itu membelitkan kakinya pada kaki Jeongguk. Mereka telanjang, membuat bagian-bagian tubuh mereka bergesekan dengan menarik. Jeongguk membelai rambutnya, sayang dan lembut.

Malam ini, dia berencana akan memberi tahu Yugyeom tentang orientasi seksualnya. Mungkin sudah saatnya dia membuka diri pada adiknya, membebaskan satu beban dari pundaknya sehingga dia bisa sedikit bernapas. Berharap adiknya akan menerimanya lalu membantunya menghadapi kehidupan ini seperti apa yang selalu mereka lakukan selama ini.

Dia berharap, dengan menceritakannya pada Yugyeom, dia bisa memiliki tempat untuk bernaung. Penerimaan Lakshmi pada orientasi seksual Taehyung membuatnya terinspirasi—meyakinkan dirinya untuk memberi tahu Yugyeom. Merasa betapa aman dan nyamannya jika saudaranya tahu dan mendukungnya seperti itu.

Walaupun dia tidak berani berharap banyak Yugyeom akan menerimanya dengan baik.

Dia menggeleng lembut, tidak ingin merusak malamnya dengan Taehyung memikirkan itu. Dia akan mengurusnya nanti.

Taehyung menggeliat dalam pelukannya, mendesah keras lalu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Jeongguk—menggumam nyaman dan Jeongguk tergelak, dia membelai Taehyung dengan sayang. Menyadari benar tubuhnya yang lembut, lembab dan hangat dalam pelukannya—merona setelah orgasme.

Taehyung menekuk lututnya, menggunakan ujungnya untuk mengusap selangkangan Jeongguk hingga dia gemetar. Mendesis karena sensasi itu melecut gairah anyar yang memusingkan di tubuhnya. Dia mengecup wajah Taehyung—bibirnya, pipinya, semua tempat yang bisa diraihnya. Mulai kembali panas.

“Kita akan bicara sebelum aku naik ke atasmu, oke?” Bisiknya, memutuskan untuk sekali saja bersikap tegas pada Taehyung setelah sekian lama membiarkan dirinya dirayu untuk melakukan seks. “Beri tahu aku apa yang kaurasakan tentang hubunganku dan Mirah.”

Menyebut nama itu bukanlah hal yang tepat karena ekspresi Taehyung langsung berubah seketika—mendung menggelayut di wajahnya, dia langsung jengkel dan sangat terganggu. Maka Jeongguk mengeratkan pelukannya, membelainya sayang dan berusaha meredakan amarahnya.

“Aku mendengar banyak sekali masalah tentang itu dari Jimin, aku harus mendengarnya darimu.” Bisiknya lagi, selembut mungkin—berusaha keras agar tidak melukai perasaan Taehyung dan merusak suasana mereka. “Katakan padaku, Taehyung. Katakan semua yang mengganggumu dalam hubungan ini padaku. Bukan pada orang lain.”

Jeongguk diam, membiarkan Taehyung mencerna kata-katanya sebelum menambahkan dengan nada mendayu-dayu. “Jika kau membicarakannya pada Mbok Gek atau Jimin, itu tidak akan menyelesaikan masalah kita. Hanya akan menambah kepala dan mulut yang ikut campur—alih-alih menyelesaikan masalah, hanya akan menambah masalah.”

“Kau tahu aku sangat mencintaimu,” bisiknya lagi, mengecup Taehyung dalam. “Aku akan membakar diriku sendiri untukmu, berjalan di bara api—apa saja. Aku akan melompat ke api untukmu. Segalanya untukmu.

“Aku minta maaf jika sikapku pada Mirah membuatmu meragukan perasaanku.” Dia menatap Taehyung yang gemetar halus dalam pelukannya dan sejenak rasa takut serta nyeri merebak di hatinya—menyadari bahwa obrolan itu membuat Taehyung tidak nyaman.

Taehyung jarang sekali membicarakan emosinya, dia lebih suka menelannya saja. Mengabaikannya. Jeongguk tahu itu. Taehyung mungkin tidak menyadari seberapa banyak Jeongguk mengenalnya—dia mirip dengan Jeongguk. Membotolkan emosi mereka karena membicarakannya tidak akan membuat perasaan itu membaik—tidak akan ada yang memahami mereka, memahami emosi mereka karena tumbuh di lingkungan yang menabukan segala hal tentang lelaki dan emosi.

“Beri tahu aku apa yang membuatmu tidak nyaman.”

“Kau sudah tahu apa,” gumam Taehyung dan Jeongguk menggeleng.

“Tidak,” katanya sabar, menatap Taehyung yang menggertakkan giginya tanpa suara. “Kau harus memberi tahuku sekarang, kau sendiri. Bukan Jimin, bukan Mbok Gek. Kita selesaikan bersama, oke? Lalu aku bisa mengatur bagaimana caraku bersikap agar tidak membuatmu jengkel.”

Taehyung menatapnya, sejenak ragu dengan kilatan emosi di matanya yang membuat hati Jeongguk terasa diremas-remas sebelum dia akhirnya membuka mulut—butuh beberapa menit, dia membuka dan menutup mulutnya. Ragu, menghela napas, sebelum akhirnya menghembuskannya.

“Kau terlalu baik padanya.” Katanya dan Jeongguk langsung menghadiahinya satu ciuman hingga dia mengerang.

“Dan?” Tanyanya lembut, “Jelaskan padaku apa yang kaurasakan.”

Taehyung menatapnya. “Kau terlalu menuruti maunya, kau bersikap lembut dan sopan padanya. Kau selalu.... memahaminya. Kalian nampak sangat serasi berdua dan itu sangat menggangguku.” Dia meledak, semua emosinya membanjir tumpah ruang di ranjang mereka hingga sejenak Jeongguk kelabakan saat berusah menampungnya.

“Fakta bahwa dia perempuan yang keluargamu anggap 'pantas' untukmu sama sekali tidak menolong. Aku terus di sini, berpikir kau mungkin tertarik pada perempuan itu karena sikapmu yang lembut dan sabar padanya, sopan dan menarik. Kau memesonanya, dia jatuh cinta padamu.

“Detik kau jatuh cinta padanya akan menjadi sebuah skenario Disney—saling jatuh cinta dan bahagia selama-lamanya. Aku berusaha mengabaikannya, Tuhan tahu aku berusah—berusaha meyakinkan diri bahwa kau mencintaiku, tapi tidak. Tidak ada yang bisa membuat perasaanku lebih baik.”

“Maka kemudian, seks adalah satu-satunya penenangku.”

Jeongguk menatap Taehyung, yang merona setelah melepaskan semua sampah yang berada di hatinya—rona di wajahnya adalah amarah, emosi yang paling sering terbit di wajahnya. Membuat keningnya berkerut, wajahnya mengernyit dengan cara yang membuat hati Jeongguk terasa dipelintir. Dia mengulurkan tangan, menyentuh wajah Taehyung—mengusap kerutan itu lembut, meluruskannya namun Taehyung tidak meresponsnya.

“Memikirkan bahwa kau masih tertarik secara seksual padaku, bercinta denganku dan mendesahkan namaku membuatku merasa aman.” Gumam Taehyung, sekarang tidak lagi menatap Jeongguk. “Membuatku merasa bahwa kau memang milikku.”

Jeongguk tersenyum, memeluk Taehyung erat ke dadanya. “Maka jadikan aku milikmu.” Bisiknya di rambut Taehyung. “Jadilah pacarku.”

Tubuh Taehyung menegang dalam pelukannya dan Jeongguk meresponsnya dengan menarik tubuhnya, menatap Taehyung yang menolak menatapnya. Sejenak Jeongguk berpikir apakah dia terburu-buru dengan mengatakan itu karena mereka baru menjalani keadaan beradab ini beberapa hari. Mungkin dia seharusnya menunggu lebih lama, menunggu hingga Taehyung nyaman dengan orientasi seksualnya alih-alih memaksakan kehendaknya.

Jeongguk mendesah, merasa seperti seorang bajingan sekarang. “Tidak, tidak.” Katanya lembut. “Kita tidak harus membicarakan itu sekarang. Mari kita mengeksplor hubungan kita dulu kedepannya, menemukan hal-hal yang kita sukai, menyesuaikan diri dan—”

FWB.

Jeongguk berhenti seketika, mulutnya terkatup dengan suara keras saat mendengar kata-kata Taehyung. Apakah dia salah mendengarnya? “Apa?” Tanyanya, meragukan pendengarannya sendiri. “Apa katamu barusan?”

Taehyung nampak bertekad kuat, matanya berkilat dan Jeongguk sama sekali tidak menyukainya. Rahangnya keras, matanya tajam—dia tidak suka Taehyung yang ini bergabung di ranjang bersamanya. Dia lebih suka Taehyung yang lembut, merengek, merajuk padanya. Mendengkur saat Jeongguk menciumnya, mendesah panjang saat Jeongguk bercinta dengannya.

Bukan Taehyung yang ini.

Friends with benefit.” Ulang Taehyung dan Jeongguk harus menahan napasnya karena sakit yang ditorehkan setiap kata itu membuatnya nyeri. “Jika kita bertemu secara reguler hanya untuk bercinta, tidak akan ada yang disulitkan. Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan dengan Mirah dan aku dengan Devy. Semua senang.”

Mulut Jeongguk terbuka, tidak menyangka Taehyung akan mengatakan hal semacam itu padanya—tidak menyangka kata itu meluncur dengan mudahnya dari bibir Taehyung. Tidakkah dia menyadari cinta yang dimiliki Jeongguk untuknya? Tidakkah dia menyadari betapa Jeongguk sangat menginginkannya hingga seluruh dirinya ngilu? Tidakkah dia tahu Jeongguk siap membuang segalanya demi bersama Taehyung?

Dan dia mengajak Jeongguk menjadi teman seks?

“Kau sudah sinting, ya?” Katanya, amarah menggelegak di dasar perutnya—setelah semua hal yang dilakukannya untuk Taehyung, semua pengorbanannya, semua amarah yang ditelannya, semuanya.

Semuanya.

Dia hanya menginginkan Jeongguk sebagai teman seks?

“Aku tidak ingin merepotkanmu dengan perasaan.” Kata Taehyung, dingin dan berjarak. “Kau sendiri yang lelah dengan semua emosiku, 'kan? Maka lebih baik tidak melibatkan emosi sama sekali di dalam hubungan kita kecuali gairah. Praktis.”

“Praktis.” Ulang Jeongguk, terserang tawa histeris aneh—dia tergelak kebingungan, merasa ironis bagaimana Taehyung membicarakan hati dan perasaan Jeongguk seolah benda itu hanyalah seonggok sampah. “Kau ingin hubungan yang praktis.” Ulangnya.

“Kau lelah dengan suasana hatiku yang selalu berganti.” Sahut Taehyung dan Jeongguk merasa pusing karenanya. “Kau lelah meladeni perubahannya, kau lelah berusaha menebak perasaanku, lelah saat aku mendadak jengkel; maka mari kita keluarkan perasaan dari hubungan ini dan—”

“Taehyung.” Sela Jeongguk, menguraikan pelukannya dari Taehyung—merasa mual mendengarkan omong kosong yang diracaukan Taehyung seperti bayi yang baru tahu caranya menghasilkan suara. “Taehyung, berhenti.” Dia menarik dirinya.

Menyadari kilatan luka di mata Taehyung saat dia melakukannya—dia tahu Taehyung mencintainya. Dia tahu Taehyung memiliki perasaan yang sama namun dia menolak menerimanya—menolak merengkuh perasaan itu dan membiarkannya berdenyut. Taehyung menginjaknya, dengan kejam mencabutnya lalu mencincangnya habis tiap kali dia berusaha menguncup dan merekah.

Taehyung tidak pernah bersikap baik hati pada perasaannya sendiri, tidak memberi ruang untuk hatinya yang dingin bersemi. Dia selalu mencabut semua emosi dari sana, mencatutnya lepas dan membakarnya jadi abu. Dan sekarang, dia melakukannya pada perasaan Jeongguk.

Praktis.

Maka lebih baik keluarkan perasaan dari hubungan ini.

Jeongguk pusing, dia menurunkan kakinya dari ranjang—menyentuh lantai hanya agar kakinya yang dingin tidak mati rasa. Dia mual karena memikirkan hubungan yang ditawarkan Taehyung. Selama ini dia berusaha meyakinkan Taehyung tenang perasaannya, menyayangi pemuda itu bahkan lebih dari dirinya sendiri dan satu-satunya hal yang diinginkannya dari Jeongguk hanyalah seks.

“Kau dengar apa yang kaukatakan?” Tanyanya parau, tidak lagi mengenali suaranya sendiri saat bicara—perutnya bergolak sekarang. “Kau dengar dirimu sendiri, Taehyung?”

Tidak ada jawaban dari balik bahunya—dari Taehyung yang duduk di atas ranjang. Keduanya masih telanjang, masing lengket setelah bercinta. Jeongguk berpikir setelah mereka bicara dan berbaikan, mereka akan kembali bercinta lalu saling memaafkan. Kembali menjalin hubungan yang selama ini membuat Jeongguk merasa sangat bahagia—memiliki semangat untuk menjalani hari demi hari yang tidak lagi membosankan.

Taehyung menuang begitu banyak warna di hidupnya, melukiskan begitu banyak bentuk dan rona di langitnya. Dan sekarang dia dihantam kenyataan bahwa satu-satunya yang Taehyung butuhkan darinya adalah seks.

Jeongguk baru saja mempersembahkan hatinya kepada monster berdarah dingin yang sudah tidak memiliki hati. Dengan senang hati meraihnya, menggenggamnya dalam tangannya lalu meremasnya hingga remuk, menggerusnya hingga menjadi cairan kental yang menetes di kakinya.

Taehyung tidak segan meremukkan hatinya. Dan Jeongguk baru saja mengizinkannya melakukannya—dengan senang hati.

“Jika itu yang kauinginkan,” katanya, menelan ludah dengan sulit—jantungnya berdebar dengan ritme yang menyakiti rusuknya.

Setengah hatinya yang remuk memaksanya untuk bangkit dan pergi, menjauhi monster yang berada di ranjangnya—menyelamatkan dirinya. Menyelamatkan hidup dan hatinya. Namun setengahnya lagi memohon Jeongguk untuk tinggal, memaksanya menerima bahwa hubungan apa pun dengan Taehyung takkan melukainya. Memaksanya berpuas diri atas seks—merasa sedikit senang karena Taehyung memilihnya.

Jeongguk sangat membutuhkan Taehyung—dia sungguh sangat membutuhkannya. Nyaris seperti pecandu yang membutuhkan narkoba, menghirupnya dan membiarkan Taehyung meracuni seluruh sistem tubuhnya dengan senang hati. Dia membiarkan Taehyung menancapkan kukunya di hati Jeongguk, meremasnya, melukainya.

Dia membiarkannya.

Dia mengizinkan Taehyung melakukannya.

Akankah dia mengizinkannya melakukannya lagi dengan cara yang jauh lebih kejam lagi sekarang?

“Friends with benefit, menyingkirkan emosi dan perasaan dari hubungan ini.

Akankah Jeongguk....?

*

tw // implied and internalized homophobia .


Nyatanya, Jeongguk tidak bisa keluar dari bawah ranjang dengan heroik karena kakinya kesemutan.

Maka Taehyung harus berbaring di lantai dan membantunya keluar sementara Lakshmi mengawasi sekitar agar ayah mereka tidak lagi memergoki mereka. Butuh beberapa menit hingga akhirnya Jeongguk bisa keluar dari bawah kasur dengan rambut penuh sarang laba-laba. Setelah Taehyung mendorong dipan sedikit agar dia bisa meraih Jeongguk, menariknya keluar.

Dia terbaring di lantai, mengerang keras karena seluruh tubuhnya nyeri sementara Taehyung bergegas mengancingkan celana jinsnya saat Lakshmi memalingkan wajah—membiarkan Jeongguk membereskan diri. Dia mendengar keduanya berbisik-bisik, mendesis dengan nada gemas yang membuatnya tanpa sadar tersenyum. Taehyung jarang bicara, dia lebih sering bergerak dan menjawab sekenannya—sesuai apa yang ditanyakan.

Dan mendengarnya aktif berkomunikasi dan nyaris mengomel, membuat Lakshmi senang.

“Kenapa Turah tidak bersembunyi di kamar mandi?” Tanyanya, membelakangi adiknya yang sedang membantu kekasihnya mengenakan pakaian karena tubuhnya mati rasa. Bajunya gemerisik saat Taehyung membantu Jeongguk mengenakan kausnya kembali.

“Karena Mbok Gek menggedor pintunya seperti orang kesurupan dan saya tidak sempat berpikir.” Sahut Jeongguk setengah berbisik, setengah mengeluh saat Taehyung membantunya duduk.

Aliran darah kembali berjalan dengan benar di tubuhnya dan Jeongguk merasa kepalanya berdenyut. Taehyung berlutut di sisinya, membantunya membersihkan sisa sarang laba-laba yang menyangkut di helai rambutnya dengan jemarinya lalu menyisir rambutnya. Lakshmi akhirnya menoleh setelah yakin Jeongguk sudah berpakaian, menatap kedua lelaki sehat yang duduk di lantai kamar adiknya.

Otaknya bergerak, menyadari sepenuhnya keadaan Jeongguk yang setengah telanjang saat ditarik keluar dan juga rona merah di leher Taehyung. Dia tidak bodoh, tidak juga polos. Dia tahu apa itu dan jelas bukan gigitan serangga. Tidak sulit menebak apa yang dilakukan adiknya sesaat sebelum Lakshmi mengetuk pintunya.

Lalu dia melihat sepatu itu. Dia hafal semua barang adiknya, juga seleranya. Sepatu-sandal kasual jelas bukan kesukaan adiknya yang memiliki banyak sandal gunung dan sepatu kets. Ayahnya mungkin tidak menyadarinya, juga menyadari bekas ciuman di leher Taehyung karena yakin ayahnya hanya pernah melakukan seks misionaris dengan ibunya tapi Lakshmi yang mengurus Taehyung sejak kecil tahu—ada seseorang di kamar adiknya.

Dan saat ayahnya bergerak ke pintu, dia melihat sesuatu bergerak di bawah ranjang. Sebuah kaki terjulur sejenak keluar dari bawah ranjang, ujung kakinya mengintip sebentar namun cukup untuk Lakshmi menyadari bahwa memang ada seseorang di sana.

Tidak sulit menebak siapa yang berada di kamar adiknya karena satu-satunya manusia yang membuat Taehyung tertarik adalah Jeongguk. Karena jika itu perempuan, dia pasti akan bersembunyi di kamar mandi. Hanya lelaki impulsif yang akan memilih bawah ranjang untuk bersembunyi, perempuan tidak akan melakukannya.

Maka dia membuktikannya dengan mengintip langsung ke sana.

Tidak habis pikir bagaimana seorang keturunan bangsawan Puri besar Karangasem menjejalkan dirinya di bawah dipan seseorang dan jika menilai dari posisi sepatunya, dia juga menjejalkan dirinya di gang rahasia mereka—bahkan Lakshmi yang paling langsing sekali pun kesempitan di sana.

Bagaimana lelaki setinggi 180 sentimeter dengan berat tidak mungkin kurang dari 75 kilogram menjejalkan dirinya di sana? Lakshmi tidak tahu.

“Diobati dulu lukanya,” bisik Lakshmi saat melihat bahu Jeongguk yang terluka, menyadari pemuda itu benar-benar menjejalkan dirinya ke gang itu demi menemui Taehyung. “Kenapa tidak datang dari pintu depan? Telepon tiang? Pasti tiang bukakan pintu dan antar ke kamar Tugung.”

Kedua pemuda di hadapannya diam. Memandang Lakshmi seolah ada dua tangan baru yang tumbuh dari lehernya hingga Lakshmi merona di bawah tatapan keduanya. Lalu Jeongguk menghela napas berat, mengusap rambutnya yang menjuntai karena dia kehilangan karet rambutnya lalu menatap Taehyung lemah.

Lakshmi selalu harus menahan napasnya tiap kali dia melakukannya—persis seperti hari itu di rumah sakit. Tatapan Jeongguk pada adiknya begitu intens, begitu penuh cinta. Nyaris terasa seolah Lakshmi sedang memergoki mereka di ranjang dalam keadaan telanjang. Pandangannya begitu sarat oleh perasaan cinta yang begitu personal hingga Lakshmi tidak tahan untuk tidak memalingkan wajah dari mereka.

Dia tidak yakin tentang bagaimana dia menyikapi ini; kenyataan bahwa adiknya ternyata tidak 'normal' sesuai dengan standar yang selama ini dipahaminya. Bahwa adiknya memilih hal yang berbeda dari apa yang keluarga mereka harapkan. Lakshmi belum bisa menerimanya sepenuhnya—masih ada sedikit perasaan mengganjal di hatinya dan juga pikiran tentang 'bagaimana mereka kedepannya?'.

“Karena kau bodoh.” Gerutu Taehyung dan Jeongguk mendelik sayang dan gemas padanya.

“Ya? Dan kau dramatis.” Balasnya dan senyuman kecil terbit di bibir Taehyung.

Lakshmi menoleh, menatap keduanya yang sekarang saling memelototi seperti dua anak kecil yang kalah bermain kelereng. Dia tersenyum, sudah lama tidak melihat adiknya nampak rileks. Dan dia bahkan kehilangan kerut di antara kedua alisnya sekarang—luar biasa sihir yang digunakan Jeongguk untuk membuat adiknya mengendurkan sarafnya yang selalu kencang sejak dia beranjak dewasa karena tekanan Puri.

“Pesan Mbok Gek,” katanya kemudian, mereka melepaskan tatapan dari satu sama lain dan menatapnya. “Tolong jangan di Puri.” Dia kemudian merona, berdeham saat memalingkan wajah dari keduanya. “Di sebelah ini dapur,” dia melanjutkan, menolak menatap keduanya karena rikuh membicarakan ini. “Mbok Gek mendengar kalian.... Anu,” dia berdeham, tidak sanggup melanjutkan karena malu.

Dan keduanya masih cukup beradab untuk nampak malu.

“Tugung tidak pernah berisik di kamar,” tambah Lakshmi memandang ke mana saja asal bukan adiknya. “Paling berdoa atau marah-marah di telepon, tapi tidak pernah...” Dia berhenti sejenak, ragu sebelum menelan ludah. “Mendesah.”

“Jadi,” dia bergegas mengubah topik pembicaraan, tidak mengizinkan kekikukan berlama-lama di udara. “Tolong jika kalian memang akan melakukannya, jangan di Puri. Ajung suka tiba-tiba menggedor kamar Tugung seenak hatinya—jika tadi Ajung yang menemukan pertama, Mbok Gek tidak tahu bagaimana nasib kalian.”

Setitik hatinya yang bermoral merasa tidak nyaman sama sekali membayangkan adiknya bercinta dengan lelaki. Dia berusaha mengabaikannya, berusaha memikirkan bahwa itulah yang membuat adiknya bahagia. Namun syukurlah dia tidak pernah berpikir hal itu adalah sesuatu yang menjijikkan—Jimin selama ini sudah sangat terbuka dengan orientasi seksualnya dan Lakshmi beradaptasi dengan sikapnya yang sangat santai sehingga dia mampu menyikapi suasana ini lebih baik lagi.

Mbok Gek tidak...,” Taehyung menutup mulutnya, rahangnya mengencang dan Jeongguk di sisinya menyentuh lengan atasnya—lembut, nyaris tidak menempel di kulit adiknya namun entah bagaimana itu berhasil membuat Taehyung rileks.

Hati Lakshmi terasa dipelintir.

Dari semua hal yang dia dan ibunya coba lakukan demi menolong Taehyung agar lebih rileks dan lebih terbuka tentang emosinya, tidak ada yang bisa membuat Taehyung seketika melepaskan genggamannya seperti apa yang dilakukan Jeongguk. Semakin lama berada di sekitar mereka, semakin Lakshmi merasa sedang mengganggu sesuatu yang sangat personal. Mereka seolah hidup dalam gelembung mereka sendiri, saling menatap—saling mengagumi dengan cara yang membuat hatinya diremas-remas.

Adiknya yang dingin, adiknya yang lembut dan penyayang namun selalu nampak tidak teraih dan jauh dari genggamannya, sekarang menatap lelaki di sisinya—nampak sangat rapuh dan lembut. Seperti kelopak mawar yang merekah, jatuh dari pegangannya karena sudah lelah. Lakshmi belum pernah melihat adiknya selembut itu, serapuh itu.

“Tidak jijik?” Tanyanya kemudian dengan gigi terkatup.

Lakshmi menyadari dengan sengatan rasa perih betapa banyak emosi yang ditekan adiknya demi mengatakan itu, konflik batinnya sendiri dan dia bisa melihat Jeongguk sama sekali tidak mengapresiasi pemilihan katanya. Dia mungkin bisa sedikit banyak menyadari dinamika hubungan mereka dari interaksi ini.

“Karena?” Tanyanya lembut, berusaha menekan debar jantungnya. “Tugung, 'kan, adik Mbok Gek.” Bisiknya. “Apa saja yang membuat Tugung bahagia, Mbok Gek dukung.”

Jeongguk menoleh ke arahnya, terkejut hingga wajahnya pucat pasi. “Mbok Gek... sudah tahu sebelum ini?” Tanyanya kemudian, tegas walaupun nampak tegang. Lakshmi menyadari apa yang membuat adiknya tertarik pada lelaki ini. “Karena jika ini pertama kalinya Mbok Gek tahu, tiang yakin reaksinya tidak akan seperti ini.”

Lakshmi menghabiskan masa remajanya bergantung pada Taehyung sebagai sosok ayah yang selalu melindungi dia dan ibunya. Bertanggung jawab atas mereka, bersikap sebagai seorang kepala keluarga—menghadiri banyak sekali acara-acara adat banjar atau rukun warga mereka menggantikan ayah mereka sejak usianya menginjak dua puluh tahun. Lakshmi tidak pernah memiliki sosok ayah selain Taehyung; dia yang selalu melindungi Lakshmi, selalu memastikan dia diperlakukan baik oleh kekasih-kekasihnya sejak dulu, menemani Lakshmi saat dia putus cinta.

Selalu Taehyung.

Terkadang dia berpikir apakah adiknya yang hidup di bawah atap keluarga rusak yang sama tidak membutuhkan sosok yang menguatkannya? Sosok yang akan dicontohnya, sosok yang melindunginya, mengayominya? Lakshmi pikir lelaki tidak membutuhkan sosok itu karena mereka adalah lelaki. Sebelum dia familier dengan konsep toxic masculinity.

Maka dia kemudian mempersilakan Taehyung menangis, mengeluh, dan bersikap lemah di hadapannya. Namun tetap bisa dihitung dengan jari, kesempatan Taehyung bersikap terbuka di depannya—dia selalu bersikap superior, kuat, tangguh, dan dingin. Menjadi ayah untuk Lakshmi dan pelindung bagi ibunya.

Dan melihat bagaimana Jeongguk di sisi adiknya, bahu dicondongkan ke arahnya dengan gestur melindungi dan bagaimana Taehyung nampak... menyerah padanya membuat perut Lakshmi terasa dipukul.

Dia memang menyadari adiknya mungkin membutuhkan sandaran, membutuhkan orang yang akan membuatnya merasa aman, seseorang yang bisa diandalkan. Namun dia tidak pernah menyadari bahwa kebutuhan itu begitu besarnya hingga dia melihat cara Jeongguk melindungi adiknya. Gestur tubuhnya sudah cukup untuk menggambarkan betapa dalam cinta yang dimiliki Jeongguk untuk adiknya; betapa tulusnya dia, betapa dia sangat menghormati Taehyung.

Tiang,” bisik Lakshmi perlahan, tenggorokkannya panas oleh isak yang hendak terbit. “Pernah berpikir apakah Tugung membutuhkan seseorang untuk bersandar? Apakah Tugung membutuhkan seseorang yang bisa diandalkan saat dia lelah? Apakah Tugung membutuhkan orang untuk mengadu? Bersikap lemah dan terbuka? Menangis dan mengeluh?

“Dan tiang berpikir orang itu adalah tiang. Karena selama ini Tugung selalu bersikap seperti itu pada tiang. Tiang pikir, tiang bisa menjadi seseorang seperti Tugung ke dia. Tiang bisa membantu Tugung menanggung bebannya.”

Lakshmi menatap Jeongguk sebelum menatap adiknya. Dia sayang sekali pada Taehyung—tidak peduli setinggi dan sebesar apa dia sekarang, Lakshmi selalu merasa dia adalah anak kecil yang dulu mengekornya ke mana-mana. Bertanya dengan penasaran tiap Lakshmi melakukan sesuatu, ikut mandi bersamanya, membantunya mencuci, menyiangi janur bersamanya, membuat canang....

Hatinya hangat namun juga perih tiap kali teringat apa yang harus ditanggung Taehyung demi keluarga mereka. Apa yang mereka bertiga harus alami di rumah ini. Maka Lakshmi berpikir, kemewahan kecil untuk adiknya tidak akan melukai siapa pun.

“Hingga tiang sadar,” bisiknya, mulai gemetar oleh tangis hingga reaksi spontan Taehyung adalah menghampirinya lalu meraih tangannya. “Tiang sadar, tiang ternyata tidak bisa. Tidak mampu memberikan itu untuk Tugung.” Dia menatap adiknya, mengulurkan tangan lalu membelai wajah Taehyung.

Lakshmi menyadari usia sudah mulai menggerogoti Taehyung, sama sepertinya. Sejak kapan dia punya kerutan di keningnya? Sejak kapan dia punya uban di rambutnya? Lakshmi tidak ingat adiknya bertumbuh besar menjadi lelaki paling bertanggung jawab dan paling mengayomi di hidupnya—menggantikan sosok ayah mereka bahkan sebelum Taehyung memahami sosok itu.

“Tugung butuh orang lain, nggih?” Bisiknya ke adiknya, tersenyum sementara air mata meluruh di wajahnya dan dia tertawa serak—kebingungan dan malu oleh air matanya. “Butuh orang yang bisa membuat Tugung nyaman dan aman, yang membuat Tugung berani untuk menyerah.” Dia menakup wajah adiknya sayang.

Mata dan wajah Taehyung mulai merah padam, merespons perkataan Lakshmi di hadapannya.

“Maaf,” bisiknya parau. “Maaf, Mbok Gek ternyata tidak bisa jadi apa yang Tugung butuhkan seperti Tugung melakukannya untuk Mbok Gek.” Lalu dia menghela napas, tercekat oleh isakannya sendiri sebelum menatap Jeongguk dari balik matanya yang kabur oleh air mata.

“Tapi,” dia tersenyum pada Jeongguk. “Tiang lihat Tugung bisa berani saat bersama Turah.” Dia menatap adiknya lagi yang menatapnya, mengerjap kaget. “Kalian kelihatan saling mendukung, Tugung kelihatan jauh lebih rileks saat bersama Turah. Hal-hal yang Mbok Gek tidak pernah lihat.

“Sudah lama, tiang berpikir apakah ada sesuatu antara kalian. Sejak di rumah sakit. Tapi tiang tidak mau berspekulasi apa-apa. Jika Tugung merasa tiang harus tahu, maka Tugung pasti membaginya pada Mbok Gek.”

Dia menepuk wajah Taehyung sayang. “Mbok Gek cuma punya Tugung di sini, tidak punya siapa-siapa lagi.” Gumamnya lembut, gemetar oleh isak yang menyumbat kerongkongannya. “Tugung itu segalanya buat Mbok Gek, jika tidak ada Tugung, entah bagaimana Ibuk dan Mbok Gek di sini.” Dia meraih tangan adiknya, meremasnya hangat.

“Jadi,” dia mengerjapkan air matanya jatuh ke pipinya. “Jika Tugung bahagia dengan pilihan ini, maka Mbok Gek akan mendukungnya. Seperti Tugung selalu mendukung Mbok Gek selama ini. Mungkin Mbok Gek masih sulit menerima karena.... tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini.” Dia mengangguk meminta maaf pada Jeongguk yang lekas menggeleng, menenangkannya.

“Sempat kecewa juga,” tambahnya perlahan lalu mengamati ekspresi adiknya, menilai reaksinya atas perkataannya. “Tapi, Mbok Gek berpikir lagi. Bahagia itu, 'kan, jenisnya banyak sekali, nggih, Tugung. Jadi mungkin bahagia Tugung berbeda bentuknya dengan bahagia Mbok Gek dan itu normal. Jadi, Mbok Gek berusaha menerima itu, berusaha berdamai dengan kekecewaan Mbok Gek sendiri supaya bisa mendukung Tugung sepenuhnya.”

“Tidak apa-apa,” bisiknya lembut pada Taehyung, tersenyum. “Tidak apa-apa, bagaimana pun bentuk bahagia Tugung, Mbok Gek dukung. Tapi, tolong.” Tambahnya dan menatap Jeongguk sekilas. “Jangan begini, ya? Kalau Ajung yang memergoki kalian bagaimana?”

Hal yang membuat Lakshmi geli kemudian adalah walaupun Taehyung sudah punya beberapa helai rambut putih karena dipaksa dewasa sebelum waktunya demi menggantikan ayah mereka, ternyata dia tetap saja adiknya. Dia masih bisa merona saat ditegur, kikuk saat tertangkap basah, dan... meledak-ledak.

Dia merona memikirkannya, tidak yakin bisa menatap Jeongguk dengan cara yang sama lagi setelah ini tanpa teringat mereka berdua bersebelahan dengan keadaan setengah telanjang—jins belum dikaitkan rapat setelah... bercinta.

Mereka bercinta. Untuk seorang gadis perawan yang baru pernah berciuman, hal itu terdengar sangat sakral dan magis. Serta tidak senonoh hingga dia merona.

Dan bayangan tentang tubuh Jeongguk dengan pakaian berantakan tadi masih bercokol di kepalanya dan akan sulit hilang karena Lakshmi seumur hidupnya belum pernah melihat pemuda lain selain ayahnya dan Taehyung berpakaian minim. Belum lagi bahwa Jeongguk adalah pemuda lembut yang sangat sopan padanya, nyaris membuat Lakshmi berpikir Jeongguk dan seks tidak akan pernah berada dalam satu kalimat.

Dia nampak terlalu beradab dan 'agung' untuk melakukan seks. Tapi apa mau dikata, dia hanyalah lelaki biasa pada akhirnya. Memiliki libidonya sendiri, gairahnya sendiri. Membayangkan dia mungkin berbaring di sisi adiknya, telanjang dan....

Wajah Lakshmi memanas, syukurlah dia menangis sehingga adiknya tidak akan salah menangkap rona itu sebagai Lakshmi memikirkan hal tidak senonoh tentang kedua lelaki sehat yang masing-masing akan mewarisi tahta Puri mereka masing-masing di masa depan.

Dia kemudian membantu adiknya menyelundupkan Jeongguk keluar dari Puri lewat pintu belakang ke garasi yang lebih aman. Lakshmi menunggu di depan gerbang, melirik ke semua arah—was-was seseorang melihatnya saat adiknya dan Jeongguk berlari tanpa suara ke arah mobil Jeongguk.

Lakshmi bersandar di tembok Puri, menatap bayangan adiknya dan Jeongguk di kejauhan di dekat mobil Jeongguk yang terparkir lumayan jauh dari Puri mereka. Teringat selalu bagaimana pandangan Jeongguk pada adiknya dan bagaimana Taehyung nampak 'melumer' dalam pelukannya—mereka mungkin bukan pasangan konvensional yang lingkungan mereka inginkan.

Tapi Lakshmi setuju, cinta mereka tidak memiliki bandingannya. Terasa jauh lebih intens dan murni karena mereka menerjang banyak 'normal' yang diatur oleh lingkungan mereka. Jika mereka berjuang hingga akhir, Lakshmi yakin cinta mereka akan tumbuh semakin dan semakin kuat hingga tidak mungkin dipisahkan.

Masalahnya sekarang hanyalah bagaimana cara memperjuangkannya karena Lakshmi tidak melihat jalan keluar sama sekali. Taehyung terjebak di Puri sebagai pewaris tunggal; apa pun yang akan dilakukannya tidak akan membuat ayahnya menyetujuinya jika dia melepaskan kastanya. Dan dia jelas tidak bisa mempertahankan hubungan itu jika dia masih akan mewarisi Puri karena dia harus menikahi perempuan, menjalankan tanggung jawab adatnya sebagai kepala keluarga.

“Sayang Mbok Gek,” bisiknya menatap siluet keduanya di kejauhan—pedih memikirkan rintangan mereka di depan sana, pedih memikirkan jalan buntu yang akan mereka hadapi.

Pedih memikirkan cinta hebat yang merekah di antara keduanya namun sebentar lagi akan terinjak-injak oleh lingkungan mereka. Dicabut paksa, diremukkan oleh standar normal yang digeneralisasi. Bunga yang bahkan belum mekar sempurna, namun sudah dipetik dari tangkainya untuk dihancurkan.

“Semoga Sang Hyang Widhi memberkati kalian.” Bisiknya, yakin Tuhan sendiri pasti tidak menganggap cinta mereka dosa karena cinta itu Dia sendiri yang hadirkan.

*


Mbok Gek mendengarmu kesakitan!”

Fuck!” Geram Jeongguk, seketika itu juga gairahnya lenyap—seperti lampu yang dimatikan saat menyadari mereka ketahuan.

Jeongguk langsung melompat turun dari atas Taehyung yang mengeluarkan suara marah dari dadanya—keduanya pening karena terpaksa menyelesaikan hubungan seks sebelum saatnya. Tubuh Jeongguk berdenyut, begitu pula otak dan seluruh tubuhnya. Mereka bergegas merapikan pakaian mereka walaupun sesungguhnya Taehyung sudah nampak seperti baru saja bercinta dengan wajah merah padam dan rona kemerahan di pangkal lehernya.

Tidak ada yang bisa dilakukan Taehyung untuk membuat dirinya nampak normal, Jeongguk berpikir dengan ngeri. Pemuda itu menggeleng, berusaha menjernihkan kepalanya yang berdenyut.

“Tugung? Tugung jawab Mbok Gek!” Seru Lakshmi teredam dari luar sana dan keduanya semakin panik.

Jeongguk bergegas menarik celananya, merasakan tubuhnya berdenyut namun terkalahkan rasa takut luar biasa yang menghantamnya sekarang. Dia mengumpat tanpa suara saat tidak bisa mengancingkan celananya dengan kedua tangannya yang gemetar oleh gairah yang gagal serta kepanikan. Dia limbung, tidak sempat memikirkan apa pun saat dia menendang pakaiannya ke kolong tempat tidur lalu menjatuhkan diri ke lantai dan merayap ke bawah dipan Taehyung seperti seekor tikus kecil.

“Apa yang kaulakukan?!” Desis Taehyung sementara di luar pintu, Lakshmi kembali mengetuk—kali ini tidak sabaran.

“Tugung?” Serunya lagi, mulai panik. Jeongguk mulai takut seseorang mendengar kehebohan Lakshmi dan memutuskan untuk datang mengecek dan Jeongguk berdoa siapa pun itu, dia bukan ayah Taehyung. “Tugung pingsan?!”

“Buka pintunya! Cepat sebelum kakakmu membangunkan seisi Puri!” Balas Jeongguk mendesis, berbaring menempel di lantai yang tidak terlalu besih dan sekarang tergencet di bawah ranjang Taehyung setelah menghabiskan malam untuk tergencet di gang kecil.

“Kau bisa bersembunyi di kamar mandi, demi Tuhan, Jeongguk!” Desis Taehyung dan Jeongguk nyaris berteriak karena frustrasi karena Taehyung masih sempat mengurus di mana dia bersembunyi saat masalah sebenarnya sedang menggedor pintu kamarnya.

“Buka pintunya!” Gertak Jeongguk dengan nada terganggu seperti seekor ular sanca yang terancam. “Demi Tuhan, Taehyung!”

Nada itu berhasil memukul Taehyung mundur, dia mengerjap. Menyadari masalah sebenarnya. Taehyung menegakkan tubuhnya, meraih kaus dan bergegas mengenakannya. Dia menggelung rambutnya saat melangkah ke depan pintu, Jeongguk melihat kakinya bergerak ke pintu dan membuka selotnya perlahan. Dia menahan napas, berusaha membuat dirinya setenang mungkin saat pintu kamar berderit terbuka dan Taehyung mengerang terganggu.

“Kenapa, Mbok Gek?” Tanyanya dengan suara mengantuk disertai seruan lega kakaknya saat pintu akhirnya terbuka dan Jeongguk dalam hati memuji bakat berakting Taehyung karena dia benar-benar terdengar seolah dia baru saja bangun. “Jangan berteriak.” Keluhnya.

“Tugung sakit?” Tanya kakaknya cemas, Jeongguk melihat kakinya memasuki ruangan—mendesak Taehyung masuk ke dalam kamarnya dan Jeongguk mengencangkan otot perutnya. “Mbok Gek buatkan teh hangat, ya?”

“Tidak, tidak.” Tolak Taehyung seketika. “Tugung baik kok, tinggal tidur saja.”

Kenapa dia tidak pergi saja?? Kenapa dia harus masuk ke kamar Taehyung? Jeongguk menempelkan pipinya ke lantai yang berdebu, jengkel karena gagal bercinta dan harus menjejalkan dirinya ke bawah kolong tempat tidur yang kotor. Bolehkah sebelum dia pulang nanti dia mandi sebentar di kamar mandi Taehyung? Lalu mendesah saat teringat dia bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup saja sudah cukup memuaskan.

“Benar?” Tanya Lakshmi lagi, khawatir. “Tugung belum makan juga, mau Mbok Gek ambilkan makan?”

“Benar.” Sahut Taehyung, mulai sedikit tidak sabaran. “Tidak apa-apa, Mbok Gek kembalilah tidur. Tugung tidak lapar.”

Jeongguk mulai mengenali emosi Taehyung sekarang—setitik perubahan dalam nada suaranya saja sudah cukup membuat Jeongguk menyadari perubahan emosinya. Khususnya emosi negatif—amarah, jengkel, terganggu. Dia mendengar rasa frustrasi Taehyung sekarang, berusaha mengusir kakaknya.

Dia berbaring di lantai yang dingin, bertelanjang dada karena tidak sempat mengenakan kausnya. Kancing celana jinsnya yang belum dikaitkan sekarang menekan perutnya, membuatnya nyeri. Dia berusaha bergerak, menggeser kancing itu namun tidak ada cukup ruang untuk lengannya dan malah berakhir menyikut dipan Taehyung dengan suara 'duk! keras yang membuatnya nyaris mati karena kaget.

Jeongguk tercekat lalu berteriak tanpa suara saat rasa sakit menggeranyam di sikunya, menjalar ke lengannya yang sejenak mati rasa karena ngilu oleh tumbukan itu. Dia membuka dan menutup mulutnya, berusaha agar tidak berteriak karena rasa sakit bukan main yang sekarang membuatnya terasa lumpuh.

Bangsat!” Pikirnya getir dengan siku berdenyut, mungkin juga luka karena terantuk sudut tajam dipan Taehyung.

Syukurlah Taehyung langsung menutupinya dengan menyalahkan binatang lain. “Tikus menyebalkan.” Gerutu Taehyung dan Jeongguk bisa mendengar setitik nada tegang di ujung kalimatnya. Dia meringis, meminta maaf pada Taehyung dalam hati karena dia tidak bisa diam.

“Tidak sakit kok.” Katanya kemudian pada kakaknya, mengalihkan perhatian Lakshmi dari suara benturan tadi. “Tugung tidak apa-apa. Sungguh. Maaf membuat Mbok Gek khawatir.”

Mereka berdiri beberapa meter di depan pintu, Lakshmi berada di ambang pintu dan Taehyung berada beberapa meter di seberangnya. Masih menggunakan celana pendeknya yang tadi dan Jeongguk tidak yakin dia bisa menyembunyikan selangkangannya dengan kain setipis itu.

Lakshmi masih bertahan di posisinya, tidak bergeming sama sekali hingga Jeongguk menggertakkan rahangnya—mengumpat kenapa dia tidak juga pergi padahal Taehyung sudah berusaha mengusirnya.

Mbok Gek kembalilah tidur,” desak Taehyung lagi, Jeongguk bisa melihatnya mengulurkan tangan dari pantulan bayangannya di lantai kamarnya—dia memegang daun pintu kamarnya, mendesak kakaknya pergi.

“Tugung tidak butuh apa-apa? Benar?” Tanya kakaknya lagi, masih keras kepala. Jeongguk nyaris mengerang keras kenapa perempuan itu tidak segera menyerah dan pergi saja jadi Jeongguk bisa membereskan diri lalu pulang.

Jeongguk menggertakkan rahangnya, menahan sakit karena kancing celana jinsnya yang menekan tubuhnya, siku yang sakit, dan tubuh depan yang kedinginan menempel di lantai. Dia harus setidaknya menyingkirkan kancing itu dari perutnya sebelum benda itu sungguh bisa melukainya.

Jeongguk menyelipkan jemarinya ke bawah perutnya yang dikencangkan, memberikan sedikit ruang untuk jemarinya masuk ke sana dan menyingkirkan kancing besi itu dari bawah perutnya. Punggungnya menempel ke bagian bawah dipan Taehyung, dia berkutat dengan jemarinya sendiri yang terjepit di antara lantai dan tubuhnya—nyaris mengumpat frustrasi karena terjepit.

Kemudian, seseorang bergabung dalam keramaian itu.

“Kenapa malam-malam ribut?”

Ayah Taehyung.

Jeongguk berhenti bergerak, seketika itu juga saat mendengar suara lelaki paruh baya menyela obrolan Taehyung dan Lakshmi. Dari bayangan mereka yang terpantul di lantai, kedua saudara itu nampak sama tegangnya dengan Jeongguk karena sudah mengundang ayah mereka ke masalah itu. Dia menarik tangannya, batal mengurus kancing sialan itu dan mengabaikannya. Dia berbaring semakin menempel ke lantai, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin walaupun dia harus menekuk kakinya agar tidak menjulur melewati dipan. Jantungnya berdebar begitu keras, menonjok rusuk dan menyumbat tenggorokannya.

Terdengar suara terseok langkah kaki terbalut sandal jepit di atas halaman rumah Taehyung yang pastilah tanah. Langkah itu mendekat ke kamar Taehyung, tiap langkahnya mengirimkan lecutan rasa takut ke tubuh Jeongguk. Dia bergidik—dia tidak bisa ditemukan sekarang. Apa alasan logis yang akan diberikannya karena berada di bawah ranjang Taehyung dengan keadaan setengah telanjang dan celana jins tidak dikancingkan.

Orang bodoh sekali pun tahu apa yang mereka lakukan.

Dan ayah Taehyung jelas bukan orang bodoh.

“Ajung,” sapa Taehyung tegang dan terganggu saat suara sandal dibuka terdengar dan ayahnya menaiki tangga ke teras kamarnya, menghampiri kedua anaknya. “Maaf, Ajung. Tadi Mbok Gek salah mendengar Tugung mengerang. Dipikirnya Tugung sakit.”

Lakshmi di sisinya mengangguk, nampak rikuh juga karena mengundang ayahnya ke masalah ini. “Nggih, Ajung. Maaf membangunkan Ajung.”

Ayah Taehyung berdiri di depan pintu, napasnya berat dan berdenging khas penderita asma berat. Tahulah Jeongguk dari siapa Taehyung menerima asma dan amarahnya karena dari nada suaranya, lelaki itu pasti selalu menaikkan nadanya saat bicara. Mudah terganggu dan angkuh.

“Persis anaknya,” pikir Jeongguk yang tergencet di bawah dipan Taehyung dengan masam. Dia bergerak, berusaha merilekskan kakinya yang mulai kesemutan, namun ruangannya sangat terbatas hingga dia menghela napas jengkel dan pasrah.

Badan Jeongguk yang terlalu besar atau dipan Taehyung yang terlalu rendah, entahlah.

“Itu,” kata ayahnya—nadanya membuat Jeongguk mengerjap. Ayahnya tidak pernah menggunakan nada semacam itu padanya. Nada yang seketika membuatmu merasa kecil dan bersalah bahkan karena tidak bisa membuat matahari terbit dari Barat. “Leher Tugung kenapa merah-merah? Luka?”

Jeongguk menahan napasnya, ulu hatinya terasa ditonjok. Dia mengumpat dalam hati—seharusnya dia tidak menandai Taehyung. Seharusnya dia menggunakan otaknya sekali saja—demi Tuhan! Seharusnya dia membawa Taehyung keluar dari Puri jika mereka ingin bercinta. Bedebah bangsat, Jeongguk ini. Otaknya nyeri, berusaha mengingat bagian mana saja di tubuh Taehyung yang sudah ditandainya karena kesetanan. Dan gagal karena dia sama sekali tidak melibatkan otaknya detik dia mencium Taehyung.

Dia menggertakkan rahangnya, jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya nyeri seolah dia baru saja melakukan kardio ekstrim tanpa pemanasan. Dadanya sesak, dia berusaha bernapas sepelan mungkin selama ayah Taehyung masih berada di ruangan.

“Oh,” kata Taehyung—bergetar dan Jeongguk berdoa dalam hati tidak ada siapa pun yang menangkap nada itu. “Gatal, Ajung.” Katanya menggaruk lehernya pelan. “Sudah Tugung beri obat tapi belum sembuh, nanti Tugung cek kasur dan bak mandi. Mungkin ada tungau.”

Bohong.

Jeongguk menggeleng, memejamkan matanya pedih karena nada itu. Perutnya mual karena takut—mereka akan ketahuan, dia yakin sekali. Dan dia tidak yakin bagaimana dia akan menyikapi kejadian ini. Atau ayahnya. Atau keluarga Puri-nya.

Khususnya keluarga Puri Jeongguk.

Kebohongan Taehyung mentah sekali sekarang karena dikuasai oleh takut atas kehadiran ayahnya. Suaranya gemetar, Jeongguk menggeleng di bawah dipan—habis sudah. Jeongguk tamat. Dia akan diarak ke balai desa dan diadili di sana, tidak terbayang apa yang akan dilakukan ayahnya setelah ini padanya karena menyusup ke Puri orang lain lalu bercinta dengan anaknya.

Jika itu Lakshmi, mungkin bisa dibicarakan baik-baik sebelum mereka dinikahkan untuk menghindari aib dan gunjingan tetangga.

Namun sayangnya, Jeongguk berada di ranjang anak lelakinya. Bayangkan gosip dan aib yang akan menimpa kedua nama besar Puri mereka masing-masing.

Dia menahan napas, mendengarkan ayah Taehyung yang napasnya berbunyi keras—mendesing memasuki paru-parunya dan keluar. Membuat saraf-saraf Jeongguk yang malang semakin menegang dengan menyedihkan—seperti senar gitar yang disetel terlalu kencang.

Sejenak hening dan dari bayangan di lantai, Jeongguk melihat ayah Taehyung mengulurkan tangan dan menyentuh kening Taehyung yang nyaris berjengit menjauhi sentuhannya. Dia tidak mengatakan apa-apa, namun kehadirannya sudah cukup membuat Jeongguk tegang—ayahnya tidak ada apa-apanya dibanding ayah Taehyung. Dia terlihat sangat mendominasi dan otoriter, jenis kepala keluarga yang tidak akan segan melakukan apa pun untuk mendisiplinkan anak-anaknya.

Termasuk kekerasan.

“Badan Tugung panas.” Katanya kemudian, menyentuh kening dan leher Taehyung. Jeongguk menahan napasnya—tentu saja panas, tapi bukan jenis panas yang bisa diredakan dengan parasetamol, pikirnya. “Minum obat lalu istirahat. Pakai pakaian yang lebih hangat.”

“Ya, Ajung.” Sahut Taehyung tercekat, dia bergerak mundur sedikit dari ayahnya—menjauhi jangkauannya dan hati Jeongguk terasa diremas-remas melihatnya.

Taehyung yang congkak, angkuh, dingin dan tidak tersentuh. Taehyung yang selalu membuat orang-orang terintimidasi karena kehadirannya, karena ekspresi kerasnya yang sulit disenangkan, keningnya yang berkerut dalam, wajah jengkel nyaris permanen, sekarang takut. Takut pada ayahnya, seperti seorang anak kecil berusia lima tahun yang digencet kakak tingkatnya.

Dari bayangan hitam kabur di lantai, Jeongguk mengamati ayah mereka bergerak—mulai berbalik hendak kembali ke kamarnya. Namun persis saat Jeongguk akan menghembuskan napas lega, dia berbalik lagi dan membuat semuanya terkesiap, bahkan Taehyung dan Lakshmi.

Hidup dengan ayah Taehyung terlalu lama akan meningkatkan potensi meninggal karena serangan jantung, Jeongguk bersumpah. Beberapa menit di rumah ini sudah membuat usianya terasa dihisap beberapa tahun, dikurangi karena tegang. Jika setelah ini dia beruban, dia tidak akan kaget.

“Pintu itu kenapa terbuka?” Tanyanya, menunjuk pintu belakang Taehyung yang belum diselot karena terburu-buru mencumbu Jeongguk tanpa memikirkan risiko sama sekali.

“Dungu,” pikir Jeongguk ke dirinya sendiri. Bersumpah tidak akan bercinta di Puri siapa pun lagi setelah ini. Lebih baik mereka menyewa kamar di suatu tempat daripada seperti ini—tergencet di bawah ranjang dan tergencet gang sempit yang nyaris membuat tubuh Jeongguk jadi setipis kertas.

“Oh,” kata Taehyung—sekarang terdengar sedikit panik. “Tadi Tugung yang buka, agak kepanasan di kamar. Belum Tugung kunci.”

Jeongguk yang berada di bawah ranjang melihat ayah Taehyung memasuki ruangan, menyeberangi ruang kamar Taehyung ke arah pintu. “Itulah,” kata ayahnya dengan nada jengkel kental yang membuat Jeongguk menahan napas—nadanya begitu intens, penuh dengan kritik hingga Jeongguk merasa resah. “Kenapa Tugung jadi masuk angin.” Tegurnya.

Dia mengulurkan tangan ke arah pintu itu dan Jeongguk menyadari sesuatu dengan amat sangat terlambat.

Sepatunya masih di sana!

Dia mengumpat tanpa suara di dalam kepalanya yang berdenyut mengerikan, dicekam teror dan ketakutan karena berada di bawah ranjang. Dia menempelkan pipinya ke lantai, berusaha bernapas dengan tenang disela semua jaring laba-laba di bawah dipan Taehyung. Dia memejamkan mata dengan ngeri, merasa tubuhnya ngilu oleh ketakutan saat mendengar suara derit pintu.

“Pintu ini masih bisa dipakai, ya?” Komentar lelaki paruh baya itu, menariknya terbuka—engsel pintu yang tua berderit keras di tengah heningnya malam. Jeongguk yakin Taehyung sama sekali tidak bernapas sekarang. “Ajung kira sudah tidak bisa.” Gumamnya.

Dia menahan napas saat ayah Taehyung mengecek pintunya, membuka dan menutupnya untuk menguji engselnya yang berderit semakin keras. Dia melirik bayangan Taehyung dan Lakshmi yang berdiri berdekatan di dekat pintu. Jeongguk seperti kecoa menyedihkan yang terjebak di bawah ranjang dan sekarang tidak yakin kapan dia akan keluar dari sana—dan kancing celana jins sialannya menyakiti perutnya.

“Kurang minyak.” Komentar ayah Taehyung kemudian lebih ke dirinya sendiri, mendorong pintu tertutup sementara Jeongguk memanjatkan doa dalam hati agar dia segera pergi dari sana karena tubuh Jeongguk sudah mulai kesemutan dan mati rasa.

Jeongguk sedang berusaha menggerakkan kakinya, agar pembuluh darahnya tidak terjepit, dia menggertakkan rahangnya berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak mengerang karena kakinya yang mati rasa.

“Hm? Ini sepatu siapa?” Tanya ayah Taehyung kemudian, tiba-tiba saja dan bersyukurlah Jeongguk tidak terantuk dipan karena terkejut.

Dia terkesiap tertahan, seperti seekor tikus saat ayah Taehyung menjulurkan tubuhnya keluar dan membawa sepasang sepatu. Dia membungkuk, rendah sekali jika di menoleh ke bawah dipan anaknya dia akan menemukan Jeongguk yang meringkuk di sana. Jeongguk menahan napasnya saat ayah Taehyung yang wajahnya sekarang nampak dari tempat Jeongguk bersembunyi mengulurkan tangan, menjangkau sepatu Jeongguk.

Jeongguk baru menghembuskan setengah napasnya saat ayah Taehyung menegakkan tubuhnya dengan sepatu Jeongguk di tangannya; tidak menoleh ke bawah dipan anaknya. Dia menjatuhkannya di lantai dengan suara keras, menggema di ruangan yang hening persis di depan wajah Jeongguk di bawah dipan. Jeongguk rasanya ingin mati saja karena rasa tegang yang membanjiri pembuluh darahnya.

“Sepatu Tugung.” Sahut Taehyung seketika, nyaris panik. “Lupa Tugung masukkan tadi.”

Ayahnya diam, memproses kata-kata Taehyung. “Kenapa sepatu Tugung di sana?” Tanyanya kemudian, heran.

“Mampus,” pikir Jeongguk getir. Apa yang akan dikatakan Taehyung sekarang? Jeongguk tidak bisa memikirkan alasan apa pun yang masuk akal untuk sepatu yang berada di undakan pintu tidak terpakai.

“Tugung jemur tadi, agak bau, Ajung.” Sahut Taehyung, masih tegang—Jeongguk bertaruh dia juga menahan diri agar tidak mengusir ayahnya dari sana. “Lupa Tugung masukkan.”

Ayahnya diam lagi, mencerna alasan Taehyung sebelum mengedikkan bahunya, menerima alasan itu. “Syukur tidak kehujanan.” Katanya kemudian lalu melangkah ke arah pintu masuk, menyeberangi ruangan.

“Istirahat.” Tambahnya. “Besok sebelum kerja ketemu Ajung masalah Dayu tadi.” Jeongguk mendengar ayah Taehyung mengenakan sandal jepitnya dengan berisik di undakan teras kamar Taehyung.

“Ya, Ajung.” Sahut Taehyung dengan nada hormat yang mutlak.

“Lakshmi, jangan ganggu adikmu.” Ayah Taehyung menegur dengan keras saat suara langkah kakinya terseok-seok menjauhi kamar Taehyung. Suaranya tidak tinggi, Jeongguk menyadari. Namun ada sesuatu dalam nada itu yang membuat Jeongguk sakit hati—padahal bukan dia yang sedang dimarahi. “Kembali tidur. Jangan buat keributan. Seperti di hutan saja.”

Nggih, Ajung. Maaf.” Sahut Lakshmi pelan sebelum suasana kembali hening.

Jeongguk menghembuskan napasnya perlahan, namun dia belum selamat karena Lakshmi masih di ruangan bersama Taehyung sementara setengah tubuhnya sekarang sudah terasa mati rasa dan perutnya nyeri oleh dinginnya lantai. Dia tidak yakin dia bisa menarik dirinya keluar dari sini—Taehyung harus menyeretnya nanti.

“Selamat istirahat, Mbok Gek.” Kata Taehyung kemudian, sedikit mengusir kakaknya agar keluar dari kamarnya karena sungguh lima menit lagi dalam posisi ini maka Jeongguk tidak akan tertolong lagi.

Dia butuh Lakshmi segera pergi dari sana sehingga dia bisa bergegas pulang dan meregangkan kakinya. Mungkin mencium Taehyung selamat malam sebelum menjejalkan dirinya lagi ke gang terkutuk itu dan mengemudi pulang—menilai dari kakinya yang mati rasa, dia sepertinya harus diam lama sekali hingga benda itu berfungsi normal.

Alih-alih pergi, Lakshmi mendorong Taehyung masuk ke kamarnya lalu membanting pintu kamarnya tertutup dengan sedikit terlalu keras hingga dia sendiri terkesiap lalu bergegas menyelotnya dengan suara keras. Jeongguk mengejang—apa lagi ini?!

Mbok Gek?” Tanya Taehyung kaget, kebingungan dan mulai panik sekarang—Jeongguk bisa mendengar kepanikan di suaranya dan itu sangat berbahaya. Lakshmi bisa menyadari kebohongannya. “Kata Ajung—!” Mulainya, berusaha mengusir Lakshmi dari kamarnya namun tanpa diduga gadis itu melangkah ke kamar.

Dia menjejak kuat-kuat di lantai lalu berjongkok di lantai, menumpukan kedua tangannya di lantai untuk berbaring. Taehyung terkesiap, bergegas menghampiri kakaknya untuk mencegahnya. Jeongguk terkesiap, menahan napasnya dan memejamkan mata—dia tidak punya tempat kabur lagi!

“Wigung!” Serunya di dalam kepalanya, memohon diselamatkan—memohon Taehyung untuk melakukan apa saja agar dia tidak ketahuan. Apa saja agar Lakshmi segera pergi dari sana dan dia bisa kabur dari Puri dan tidak akan pernah melalukan ini lagi.

Dia bersumpah!

Mbok Gek!” Seru Taehyung kaget dan panik, berusaha menangkapnya namun Lakshmi menepis tangannya, bergegas menjatuhkan dirinya ke lantai dan menempelkan pipinya ke lantai—dan bertemu mata langsung dengan Jeongguk yang terkesiap keras.

Sejenak semuanya diam, jantung Jeongguk menghantam rusuknya dengan keras hingga terasa nyeri. Dia ketahuan.

“Sudah tiang duga.” Katanya tegang, wajahnya pucat pasi dan Jeongguk tidak bisa menyalahkannya. Jika itu Jeongguk, dia pasti akan sama tegang dan kagetnya menemukan penyusup setengah telanjang di bawah ranjang adiknya.

“Turah,” panggilnya gemetar, masih dengan wajah menempel di lantai lurus dengan Jeongguk yang bersembunyi seperti kecoa di bawah dipan.

“Tolong keluarlah dari sana.”

*

tw // bloods , violence . cw // taekook interaction with girls


Taehyung menatap ruang obrolannya dengan Jeongguk lalu menyimpan ponselnya ke saku bajunya saat melihat Devy melangkah dari dalam rumah dengan setelan kebaya yang sedikit tidak serasi dengan warna bajunya—dia mengenakan kebaya bordiran semi-Prancis yang membalut tubuhnya dengan sempurna berwarna burgundy.

Syukurlah dia mengenakan kebaya konvensional berlengan panjang karena jika dia menggunakan kebaya kekinian dengan lengan pendek dan kain kebaya menggantung di atas pantat, Taehyung akan langsung memintanya mengganti kebayanya. Matanya melirik ujung kain yang membalut kaki Devy, puas saat melihatnya menutup mata kakinya dengan kain.

Katakanlah Taehyung kuno, tapi menurutnya kebaya memang digunakan untuk menutup tubuh dan sebaiknya tetap mengikuti model konvensional lama. Dia lebih menyukai itu. Kakaknya tetap nampak cantik dengan kebaya konvensional.

Rambutnya disanggul sederhana, dengan bunga anggrek bulan ungu segar disematkan di rambutnya, poninya dibentuk dengan apik serta beberapa anak rambut yang diikalkan menggantung di sisi wajahnya. Riasannya sempurna. Dia bisa saja jadi perempuan yang manis dan penurut namun kedamaian Taehyung langsung pecah berantakan saat dia membuka mulut.

“Wik!” Serunya sebal di depan pintu penumpang. “Bagaimana caranya naik?!”

Taehyung menghela napas sebelum membuka pintu pengemudi dan melompat turun dari mobilnya. Dia bergegas ke sisi penumpang dan membantu Devy memanjat naik dengan mempersilakan gadis itu memegang tangan dan lengannya sebagai tumpuan tambahan. Devy memanjat naik, nyaris terjungkal karena kainnya yang ketat dan mobil Taehyung yang lumayan tinggi.

“Kakimu.” Katanya sebelum menutup pintu mobil dan bergegas menuju pintu pengemudi, dia memanjat naik dan menyadari Devy sedang memperbaiki tatanan pakaiannya setelah memanjat naik.

“Nanti dibantu turun, ya, Wik?” Katanya setelah menutup kakinya dengan kainnya—mengecek riasannya di cermin yang dibawanya dalam tas tangannya. “Kenapa tidak pakai mobil yang lebih normal, sih?” Tanyanya.

Taehyung memutar bola matanya. “Mobil di rumah hanya ada satu.” Sahutnya sebelum memasukkan persneling dan mulai mengemudi ke arah Tenganan.

“Wik.” Panggilnya lagi saat mobil melaju menuju jalan bypass.

Duh. “Kenapa?” Tanyanya dan berhasil menyetop dirinya sendiri sebelum menambahkan, “lagi” dengan jengkel.

“Sudah pernah menonton Geret Pandan?” Devy menoleh, menatapnya mengemudi.

“Sudah.” Dia mengangguk, mengabaikan tatapan Devy di sisi wajahnya dengan risih. “Aku selalu datang setiap tahun mewakili Ajung.”

Devy mengangguk-angguk, menatap ke luar jendela menikmati perjalanan dengan jendela tertutup karena dia tidak mau rambutnya berterbangan. Taehyung tidak akan terbiasa dengan aroma parfum feminim—terlalu manis, hidungnya perih. Kakaknya tidak pernah menggunakan parfum dengan aroma seperti ini—aroma-aroma yang dipilih Lakshmi selalu lembut dan tidak menyengat.

Perempuan harus berhenti memilih parfum beraroma menyengat, Taehyung sungguh tidak bisa memahaminya.

Mobilnya meluncur ke arah Karangasem, keluar dari Klungkung dan memasuki wilayah Yeh Malet. Tenganan tidak terlalu jauh dari Klungkung, walaupun sebenarnya dia tidak pernah paham kenapa Puri-nya diundang menghadiri hari pertama Geret Pandan setiap tahun kecuali bahwa ayahnya bersahabat baik dengan tetua adat mereka.

Mereka memasuki wilayah Manggis yang tidak seramai jalan bypass Karangasem-Denpasar. Melewati Amankila, mereka kemudian tiba di Candidasa dan membelok ke arah Tenganan Pegringsingan, tempat dilaksanakannya agenda tahunan itu. Jalan Raya Nyuh Tebel mulai terasa ramai dan matahari mulai bersinar naik saat mobil Taehyung meluncur di jalan raya yang halus menuju Tenganan yang berada di ujung jalan ini.

Mereka tiba di lokasi parkir Tenganan yang mulai semarak dengan panji-panji dan hiasan—acara Geret Pandan atau Perang Pandan merupakan salah satu daya tarik wisata Karangasem, itulah mengapa dia selalu bertemu Jeongguk di sini selaku perwakilan dari salah satu Puri di Karangasem setiap tahunnya. Seorang Pecalang mengenali Taehyung dan langsung meminta seseorang mengantarnya ke dalam lalu membantunya parkir.

Taehyung berterima kasih sebelum membuka pintu penumpang dan membantu Devy menuruni mobilnya, nyaris mematahkan pergelangan kakinya karena heels-nya terperosok ke jalanan Tenganan yang dibangun dari batu-batu sungai yang ditanam ke tanah. Taehyung menggenggamnya kuat-kuat saat gadis itu oleng.

“Hati-hati.” Kata Taehyung, nyaris mengeluh saat membantu gadis itu menyeimbangkan dirinya di atas heels.

“Sudah.” Gadis itu tersenyum pada Taehyung namun tidak melepaskan genggamannya pada lengan Taehyung. Terkadang dia sungguh bingung pada sikap Devy karena tidak peduli seberapa dinginnya Taehyung memperlakukannya, dia tidak pernah tersinggung.

Dia menatap tangannya dan memejamkan mata sejenak sebelum mendesah, “Baiklah.” Katanya lalu membenahi udeng-nya sebelum hendak melangkah ke panggung utama di depan Pura Desa Tenganan.

“Sebentar,” kata gadis itu—menyentuh bahunya dan mengulurkan tangan, menggumamkan kata permisi lalu membantu Taehyung membenahi bulu merak di ikat kepalanya.

Taehyung nyaris menepis tangannya sebagai reaksi spontan atas sentuhan itu, berhasil menahan dirinya sendiri dan menahan napas kuat-kuat saat tangan gadis itu bergerak di kepalanya—membantunya memasang hiasannya dengan benar.

“Nah, sudah.” Katanya senang, menurunkan tangan lalu kembali melingkarkan lengannya di lekukan siku Taehyung. “Ayo.”

Taehyung harus menahan dirinya agar tidak menepis tangan Devy lagi darinya dan untuk pertama kali merasa benar-benar risih pada sentuhan orang lain di tubuhnya selain kakak, ibunya, dan Jeongguk. Namun dia menggertakkan gigi, membiarkan setan cilik itu melakukan apa saja yang diinginkannya hanya agar ibu dan kakaknya baik-baik saja.

“Perlakukan Dayu dengan sopan.” Begitu ancaman ayahnya pagi tadi saat Taehyung berpamitan untuk menjemputnya setelah mengikat udeng lembarannya yang bermotif kuno.

Maka di sinilah Taehyung, berusaha bersikap sopan pada setan cilik yang sekarang nampak takjub pada sekitarnya saat melangkah perlahan di jalan setapak Tenganan yang tidak rata—Taehyung beberapa kali harus menahannya karena nyaris terhuyung, menggigit lidahnya agar tidak membentak Devy memintanya memerhatikan di mana kakinya melangkah.

“Demi Tuhan, perhatikan jalanmu!” Toh, akhirnya dia menyerah juga mendesis saat mereka hampir tiba di panggung Perang Pandan ketika Devy nyaris terjerembab untuk kesekian kalinya.

“Kau memang tidak sabaran.” Balas Devy, alih-alih jengkel terdengar sangat terhibur hingga Taehyung semakin dongkol. “Kalau kau marah-marah terus, nanti cepat tua.”

Ruang terbuka di depan Pura Desa Tenganan sekarang dipenuhi dengan para pemuda-pemudi Tenganan yang mengenakan setelan pakaian adat desa mereka yang terbuat dari kain tenunan mereka yang terkenal, kain Gringsing. Motif-motifnya mewah dengan warna monotun merah-hitam-putih atau Tri Datu, melambangkan tiga warna dewa besar Hindu dengan sedikit sentuhan warna cokelat. Ada ayunan kayu raksasa yang sekarang berayun lembut dengan beberapa anak gadis di atasnya, tertawa ceria menikmati ayunan yang didorong oleh lelaki dewasa.

Semua pandan berduri yang akan digunakan untuk bertarung hari ini dijajarkan di bawah balai desa yang mulai dipenuhi para tamu dan peserta, dijemur bersama tameng-tameng yang terbuat dari anyaman rotan. Taehyung disambut sahabat ayahnya yang langsung mempersilakannya naik ke balai dan duduk untuk menonton Perang Pandan bersama beberapa tetua adat Tenganan.

Taehyung membantu Devy menaiki tangga ke arah balai sebelum menaikinya dan duduk di kursi yang disediakan untuknya. Dia langsung bertemu dengan Mingyu, salah satu Front Office Supervisor di Alila yang mengenakan kain di pinggangnya, udeng serta bertelanjang dada.

“Wah! Halo, Chef!” Sapanya mengulurkan tangan dan Taehyung menyambutnya hangat. “Terima kasih atas kedatangannya hari ini.” Tambahnya sebelum menyalami Devy dengan sopan.

“Kembali kasih.” Sahut Taehyung menatapnya. “Kau akan ikut hari ini?” Tanyanya menyadari pakaian Mingyu yang terbuka.

“Saya selalu ikut, Chef.” Balas Mingyu, nyengir dan nampak sangat bersemangat mengikuti acara hari ini. “Sebagai ketua Karang Taruna.”

Taehyung mengangguk, menepuk bahunya akrab. “Selamat berjuang. Semoga semuanya baik-baik saja.” Katanya pada Mingyu yang mengangguk, berterima kasih lalu bergabung kembali ke rekan-rekannya.

Taehyung bersandar di tempatnya, menunggu tetua adat yang sedang menyucikan semua sarana upacara, meminta restu dari leluhur agar acara berjalan lancar dan memberikan berkat kepada semua pemuda Tenganan yang akan melakukan Perang Pandan hari ini. Aroma dupa dan bunga segar mengisi udara di sekitar Taehyung disertai aroma khas Tenganan yang tercium seperti rempah dan kain apak yang anehnya terasa akrab serta menenangkan.

Devy di sisinya mulai mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa gambar, Taehyung tergoda untuk menegurnya namun akhirnya memilih mengabaikannya; anak itu boleh menikmati waktunya sebagai gen Z. Dia melirik kursi beberapa meter darinya, diselingi dua kursi lain yang biasanya diisi Jeongguk. Setiap tahun, mereka menghadiri prosesi ini sendirian mewakili keluarga mereka masing-masing namun tahun ini mereka menghadirinya berdua dengan calon istri mereka masing-masing.

Dia belum mengatakan apa pun tentang Devy ke ayahnya; apakah dia setuju pada perjodohan itu atau tidak. Tentu saja tidak. Dan dia juga belum bertanya pada Jeongguk apakah dia menerima calon istrinya yang jika menilik dari cara Jeongguk menceritakannya, nampak sopan dan baik. Taehyung secara personal merasa senang Jeongguk mendapatkan perempuan sopan, baik, dan menghormatinya sebagai lelaki.

Bukan setan cilik yang bertingkah sesukanya seperti gadis di sisi Taehyung yang sekarang merapikan riasannya—mulai nampak bosan karena acara belum juga dimulai. Taehyung baru saja akan menegurnya, memintanya mengatur ekspresinya agar para tetua Tenganan tidak tersinggung saat dia melihat Jeongguk memasuki lapangan.

Taehyung menahan napasnya.

Dia menawan sekali dengan pakaiannya—dia mengenakan baju safari merah marun lembut, kain endek khas Karangasem yang mewah dengan benang emas membentuk motifnya, udeng yang terikat rapi sempurna dengan bulu merak cantik mengintip dari simpulnya serta senyuman ramah di bibirnya. Dia bersinar, Taehyung selalu tahu Jeongguk bersinar di mana pun dia berada—menarik perhatian dengan wajah dan pembawaannya.

Jeongguk ditemani satu tetua Tenganan, membicarakan sesuatu dengan serius saat pandangan Taehyung jatuh ke gadis di sisinya.

Rasa dengki dan jengkel seketika menyeruak di dadanya saat menyadari warna kebaya yang digunakan Mirah persis dengan warna baju safari yang digunakan Jeongguk—nyaris seolah mereka memesan khusus keduanya untuk hari ini. Dia gadis menarik dengan wajah bulat yang cantik, riasannya tipis dan natural dengan rambut disanggul modifikasi. Dia berjalan anggun di sisi Jeongguk, sama sekali tidak goyah dengan jalanan tidak rata di bawah heels-nya—tersenyum ramah pada perkataan tetua di sisi Jeongguk.

Mereka sangat serasi, jika saja hati Taehyung yang getir tidak menolak mengakuinya. Jeongguk sedang mengatakan sesuatu sambil tertawa dengan lengan Mirah di lekukan sikunya, juga tersenyum—merespons Jeongguk dengan sopan. Jeongguk berhenti, membantu Mirah melewati jalanan tidak rata nyaris dengan kesabaran yang sama seperti saat dia membantu Taehyung.

Nyeri menyeruak di dada Taehyung dan dia harus menghela napas tajam demi menahan sakit itu saat Jeongguk menunduk ke gadis di sisinya dengan wajah khawatir (khawatir!). Mengatakan sesuatu dan Mirah tersenyum padanya, menggeleng sebelum mereka kemudian melangkah ke arah panggung. Jeongguk memastikan gadis itu menaiki tangga sebelum dirinya menaiki tangga.

Taehyung mengalihkan pandangannya, mengamati siapa saja kecuali Jeongguk yang tengah disambut para tetua adat dengan ramah. Jeongguk menyalami semua orang, mengangguk dengan senyuman lebar di bibirnya sementara Mirah berdiri di sisinya dengan sopan.

“Wah, cantik sekali.” Komentar Devy di sisinya dan Taehyung tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang dibicarakannya.

Karena Taehyung sendiri setuju, Mirah memang cantik dan dia cocok dengan keseluruhan aura Jeongguk. Mereka akan menjadi pasangan yang sempurna untuk mewarisi Puri Jeongguk. Sama-sama rupawan, tenang, dan ramah.

“Mereka cocok, ya, Wik.” Tambahnya, tersenyum kecil tidak menoleh ke Taehyung sehingga tidak menyadari ekspresi masam Taehyung. “Kebayanya cantik, aku ingin tahu di mana dia membeli kainnya...” Sisa kalimat Devy adalah gumaman untuk dirinya sendiri dan Taehyung tidak mau mendengarkannya.

Dia menyilangkan kakinya di kursi, menatap lurus ke tanah lapang di bawah panggung yang akan digunakan untuk prosesi Perang Pandan hari ini saat parfum Jeongguk menghampiri hidungnya—aroma parfum yang takkan gagal dikenalinya di mana pun dia berada.

“Tjok Taehyung.” Sapa Jeongguk formal dan ramah, berdiri di depan kursinya dengan pakaian berwarna nyaris identik—jika saja Mirah tidak menggunakan warna yang sama, berikut bros kecil dan bulu merak mereka.

Aneh mendengar suara itu menyebutkan nama Taehyung setelah sekian lama dia memanggil Taehyung dengan sebutan 'Wigung' atau 'Sayang'. Taehyung tidak menyukai panggilan lain selain keduanya lolos dari bibir Jeongguk—sama sekali tidak. Dia melirik Mirah yang tersenyum sopan padanya, terlalu sopan hingga hatinya sejenak tidak bisa membencinya.

“Oh,” katanya bergegas berdiri, merapikan kainnya. “Halo, Gung Ngurah.” Sapanya menjabat tangan Jeongguk—mengguncangkannya hangat dan tegas sekali sebelum bergegas melepaskannya, nyaris menepis tangan Jeongguk darinya dikuasai rasa jengkel.

Dia tidak menghabiskan semalaman berusaha mencocokkan warna pakaiannya dengan Jeongguk lewat video call hanya untuk mendapati gadis lain meniru warna itu. Dia menatap Jeongguk yang mengerjap—menyadari perubahan suasana hatinya dan menghela napas lembut, matanya berkilau dan Taehyung mengabaikannya.

Memangnya Jeongguk tidak bisa menipu pasangannya sedikit seperti Taehyung menipu Devy yang sekarang mengenakan kebaya burgundy? Kenapa dia harus mengatakan warna yang persis sehingga gadis itu bisa mencari kebaya yang benar-benar senada?

Mirah menyalami Devy yang menyambutnya dengan ramah, langsung akrab—tidak heran karena Devy memiliki bakat itu. “Mbok Gek,” sapanya tersenyum. “Saya suka sekali kebayanya!”

Taehyung menatap Jeongguk yang balas menatapnya, rahang Taehyung kencang dan dia memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatapnya lagi karena dia benar-benar jengkel melihat betapa natural interaksinya dengan Mirah. Membuat Taehyung seketika meragukan semua kata cinta yang diucapkannya ke Taehyung, membuatnya takut dan dicengkeram rasa tidak percaya diri.

Dia kembali duduk, memastikan kainnya tidak menyangkut saat menyadari Jeongguk duduk di sisinya—persis di sisinya. Tidak terhalang dua kursi sebagaimana biasanya dan dia meliriknya dengan ekor matanya. Jeongguk membalas tatapannya sementara Mirah di sisinya mengatakan sesuatu, pemuda itu langsung memalingkan wajah untuk membantu Mirah.

Taehyung merasa dia baru saja ditonjok persis di ulu hatinya saat Jeongguk melepaskan tatapan darinya untuk membantu Mirah di sisinya.

Dia terenyak, bersandar di kursinya dengan hati berdenyut nyeri hingga Devy menoleh kaget. Dia tidak tahu bagaimana rupanya sekarang namun dari tatapan Devy sepertinya dia terlambat menahan ekspresinya sendiri agar tidak mengumumkan suasana hatinya.

“Wigung?” Devy mencondongkan tubuhnya ke arah Taehyung, mengulurkan tangan menyentuh bahunya dan Taehyung harus menggertakkan giginya agar tidak berjengit oleh sentuhan itu. “Kau tidak apa-apa?”

Taehyung menggeleng, menyentuh dadanya dan berusaha menekan rasa sakit anyar itu. Berusaha mengabaikannya. Namun rasa panas aneh menjalar di belakang paru-paru dan jantungnya, membuat napasnya tercekat dan debar jantungnya berubah.

“Eh? Dadanya sakit?” Desak gadis itu, nampak benar-benar cemas hingga Taehyung sejenak terserang keinginan untuk tertawa histeris karena sakit yang dirasakannya di dadanya.

“Dayu,” panggilnya, parau. “Air, tolong.”

Devy mengangguk sedikit panik, bergegas meraih botol air mineral di meja di depan mereka lalu membukakan tutupnya untuk Taehyung. Dia menyelipkan sedotan plastik ke dalamnya, mengulurkannya ke Taehyung yang menerimanya dengan penuh syukur—membiarkan air mineral membasuh perasaan tidak nyaman itu, berusaha mengenyahkan bayangan Jeongguk yang memalingkan wajah darinya tadi.

“Kenapa?” Terdengar suara dari sisi kiri Taehyung dan dia nyaris mengerang saat menyentuh botol, meminta Devy menurunkannya. “Kau sakit?” Tanya Jeongguk, mencondongkan tubuhnya untuk melihat ekspresi Taehyung yang menolak menatapnya.

Devy merogoh tas tangannya, mengeluarkan tisu yang diterima Taehyung. Dia menyeka selapis keringat di keningnya sebelum mengangguk pada Devy yang masih menegakkan tubuhnya, nampak cemas pada perubahan ekspresi Taehyung yang pastinya sangat berbeda drastis dari ekspresinya yang biasa.

Bayangan Jeongguk yang memalingkan wajah darinya terngiang di kepalanya dan membuatnya semakin mual.

You like her? Of course. She's fine.

Pada titik ini, Taehyung tidak akan percaya apa pun yang dikatakan Jeongguk padanya. Dia hanya akan mempercayai apa yang dilihatnya, bukan apa yang didengarnya.

“Tidak apa-apa.” Katanya, memastikan kata itu cukup beracun untuk Jeongguk dan menyadari dengan puas saat Jeongguk mengerjap oleh nada itu sebelum mundur.

Dia lalu menoleh ke Devy, “Trims.” Katanya sebelum memandang ke lapangan yang mulai dipenuhi tamu.

Semuanya membentuk lingkaran, seperti menonton sambung ayam. Pemuda-pemuda Tenganan bertelanjang dada dengan kain di pinggang mereka dan udeng berdiri melingkar di bagian paling depan, bertugas memisahkan jika pertarungan terlalu sengit. Beberapa wisatawan internasional dan domestik ikut bergabung dalam keramaian, beberapa membawa kamera untuk mengabadikan prosesi itu sementara beberapa tetua datang membawa sekendi air suci dan mulai memberikan berkat pada semua pemuda yang akan bertarung. Mingyu berada di kerumunan itu, menerima tirta dengan bersemangat.

Perang Pandan dimulai oleh lelaki tertua dan Mingyu merupakan salah satu dari beberapa yang membuka prosesi itu. Dia dan lawannya berdiri di tengah lapangan, tersenyum ceria seolah mereka hanya akan bermain kelereng alih-alih berusaha saling menyakiti dengan seikat pandan berduri digenggaman mereka. Mingyu mengenakan tameng di lengan bawah kirinya, menggenggam pandan berduri yang diikat dengan benang Tri Datu di tangan kaannya.

Dia mengetes kekuatan senjatanya sebelum mendengus puas, siap bertarung. Beberapa pemuda menyoraki mereka, persis seperti melakukan sambung ayam namun dengan manusia. Cahaya matahari mulai terik, kerumunan di sekitar lokasi mulai semakin ramai.

Taehyung berusaha memfokuskan kepalanya ke sana alih-alih ke Jeongguk di sisinya yang sedang bicara dengan suara sayup-sayup ke Mirah. Memangnya dia tidak bisa mengabaikan pasangannya seperti yang dilakukan Taehyung? Kenapa Jeongguk harus terlahir sebagai lelaki baik, bertanggung jawab, dan sopan?

Di lapangan, Mingyu mulai menyerang. Dia dan lawannya berpelukan di tengah lapangan, tangan kanannya yang menggenggam pandan dipukulkan ke punggung lawannya lalu dia menggesekkan duri itu ke punggung lawannya hingga dia mengerang tertahan. Darah pertama terbit dan menetes ke tanah tandus. Wasit memisahkan mereka dan Mingyu tersenyum lebar, gigi gingsulnya terbit—nampak puas dengan dirinya sendiri karena berhasil menyerang duluan.

Dalam perang pandan, mereka dipersilakan melukai lawannya. Malah diwajibkan melukai lawan mereka dengan pandan berduri yang disiapkan. Mingyu menyalami lawannya sebelum mereka mundur, berpisah dan bersiap kembali untuk ronde berikutnya. Mingyu bertahan, menepis semua serangan lawannya sebelum menyabetkan ikatan pandannya yang langsung melukai lengan lawannya.

Darah kedua terbit dan menetes ke tanah. Mingyu mendengus, terlalu cepat senang dan menurunkan pertahanan dirinya lalu mendadak lawannya menubruknya, menyabetkan pandannya ke punggung Mingyu—memastikan benda itu menancap sempurna sebelum menariknya hingga Mingyu menggeram. Darahnya menetes ke tanah dan wasit bergegas memisahkan mereka.

Devy terkesiap keras tiap kali pandan mengenai tubuh para pemuda, meringis saat darah menetes ke tanah dan nampak takut namun juga bersemangat. Taehyung menyadari betapa emosinya masih seperti anak usiannya; meledak-ledak, penasaran, dan mencari-cari.

Perang akan dihentikan ketika kedua pemuda babak belur. Mingyu dan lawannya tertawa setelah ronde terakhir, dengan badan carut marut dan babak belur setelah diserang dengan pandan lalu mundur ke sudut.

“Mereka tidak apa-apa?” Devy mendekatkan kepalanya lalu berbisik ke Taehyung yang mengangguk.

“Mereka akan diberikan obat dari desa. Dari tumbuh-tumbuhan.” Taehyung mengedikkan dagunya ke Mingyu yang sekarang membantu lawannya mengoleskan tumbukan dedaunan ke luka mereka. “Membuat lukanya cepat sembuh.”

Devy mengangguk-angguk paham. “Itu sakit, 'kan?” Tanyanya lagi.

“Tentu saja sakit.” Sahut Taehyung, mengamati saat Mingyu memanjat naik ke posisinya setelah mengobati lukanya nampak nyengir menyambut high five semua orang seolah luka di badannya bukan apa-apa.

Perang dilanjutkan. Sepasang demi sepasang pemuda bertarung di lapangan dengan senjata pandan berduri tajam dan tameng anyaman rotan di tangan kiri mereka. Sorakan para pemuda lain menambah suasana meriah perang pandan tahun ini. Tahun ini masyarakat non-Tenganan tidak diperkenankan ikut karena kejadian tahun lalu saat seorang wisatawan internasional terluka parah oleh serangan lawannya. Tetua memutuskan bahwa melarang masyarakat non untuk ikut adalah hal paling aman.

“Terima kasih,” kata Taehyung saat menyalami Mingyu saat membubarkan diri seusai acara, dia akan mengantar Devy pulang lalu beristirahat karena dia benar-benar lelah seharian ini. “Semoga lukamu cepat sembuh.” Dia mengerling pasta tumbuhan di tubuh Mingyu.

“Trims, Chef!” Katanya ceria. “Mampir sebentar, jalan-jalan sebelum pulang.”

Taehyung menggeleng. “Sudah bertahun-tahun saya menghadiri acara ini.” Katanya dan Mingyu terkekeh sebelum akhirnya mereka berpisah.

Nyatanya, Devy menahan mereka di sana untuk menikmati festivalnya. Dia berhenti untuk melihat-lihat kain tenun yang dipajang oleh para masyarakat dan berakhir membeli selendang tenun Gringsing kecil seharga satu juta lima ratus. Taehyung sudah bersiap merogoh dompetnya jika Devy ternyata tidak membawa cukup uang namun ternyata teknologi sudah menjangkau mereka sehingga transaksi bisa diselesaikan dengan e-money.

“Kau belum punya tenun Gringsing?” Tanya Taehyung saat Devy menerima kainnya yang halus dan berserat—ditenun manual oleh masyarakat Tenganan, menggunakan benang yang dipintal sendiri serta perwarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Kain itu merupakan satu-satunya kain tenun di Indonesia yang menggunakan tenik ikat-ganda yang memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu lembarnya. Taehyung punya selembar selendang Gringsing yang hanya digunakannya untuk acara penting karena kain itu harus dicuci dengan air hujan tanpa sabun. Air PDAM yang menggunakan cairan penjernih akan melunturkan warna alaminya maka tiap kali kain tenunnya digunakan, Lakhsmi harus bekerja ekstra untuk mencucinya.

“Belum.” Devy menggeleng, nampak senang dengan belanjaannya. “Ini pertama kalinya aku ke Tenganan dan memutuskan membelinya saja.” Dia kemudian kesulitan menyimpan ponselnya ke tasnya maka Taehyung meraih kantung kertas terisi kainnya dan membantunya memasukkan ponselnya.

Dia tidak sengaja mendongak dan melihat Jeongguk berdiri beberapa meter darinya dengan Mirah dalam genggamannya, matanya menatap tangan Taehyung di lengan Devy. Sakit yang sama menyeruak di dadanya, dia menghela napas tajam hingga Devy mendongak dari kegiatannya bertarung dengan ritsleting tas tangannya.

Lucu bagaimana saat mendengar nama gadis itu diucapkan, Taehyung tidak pernah menganggapnya ancaman—nyaris berpikir gadis itu hanyalah sebuah khayalan. Dan saat dia berdiri di sana, nampak cantik dan sopan, seperti seorang bangsawan pada umumnya, Taehyung merasakan tikaman rasa cemburu yang begitu liar.

Sekarang Mirah bukan lagi khayalan, dia nyata. Dan dia nampak serasi dengan Jeongguk.

“Ayo, pulang.” Ajak Taehyung, tidak ingin bertemu Jeongguk namun dia terlambat karena ternyata pemuda itu jauh lebih cepat tiba di sisinya.

“Tjok.” Sapanya ramah dan hangat, menahan mereka.

Taehyung nyaris mengerang dan memutar bola matanya. Dan mendadak, Devy mendenguskan senyuman dan dia menoleh ke anak itu—senyumannya lebar sekali dan Taehyung menyadari dia baru saja kelepasan memasang wajah jengkel. Dan sejak kapan mereka jadi akrab? Taehyung tidak yakin. Namun hari ini pengecualian, Devy adalah rekan kerjanya.

“Halo, Gung.” Sapanya menoleh lalu mengangguk pada Mirah yang tersenyum—masih menggelayuti Jeongguk seperti anak monyet. “Mau pulang?”

“Ya,” sahut pemuda itu, matanya mencari namun Taehyung mengabaikannya—dia melirik setan cilik di sisinya dan menyadari anak itu memahami sesuatu dari senyuman lebar di bibirnya. “Tadi Mirah menyarankan untuk pergi makan bersama, jika kau ada waktu.”

Taehyung tidak punya waktu untuk apa pun yang disarankan Mirah, Jeongguk sebaiknya memahami itu.

“Kau sudah bertukar nomor dengan Mirah?” Tanyanya dengan suara rendah pada Devy mendadak hingga anak itu mengerjap.

“Memangnya kenapa?” Balasnya bertanya pada Taehyung, memandangnya dengan bola mata dilapisi lensa kontak berwarna manis.

“Bukankah kau ingin bertanya di mana dia membeli kebayanya?”

Devy mengerjap, “Oh.” Katanya kemudian mengedikkan bahu. “Kami sudah bertukar akun Instagram kok. Kenapa, Wik?” Tanyanya lagi.

Taehyung mengangguk lalu menoleh ke Jeongguk. “Sayang sekali aku harus menolaknya karena Dayu mengeluh lelah. Jadi aku akan mengantarnya pulang sekarang.” Dia kemudian mencubit lengan Devy tepat saat gadis itu membuka mulut untuk protes karena sejak tadi yang mengeluh lelah adalah Taehyung.

Setan cilik itu mencibir, namun kemudian tersenyum pada Jeongguk dan Mirah. “Iya,” sahutnya. “Kami akan pulang saja. Mungkin lain kali, ya, Mbok Gek, Bli Gung.”

Jeongguk menyapukan pandangannya ke wajah Taehyung yang balas menatapnya sengit—memberi tahunya bahwa Taehyung tidak sudi berdekatan dengan Mirah atau dengan Jeongguk jika Mirah masih menggelayut di lengannya. Jeongguk kemudian menghela napas lalu menoleh ke pasangannya, mengatakan sesuatu dan Taehyung melihat Mirah mengangguk—melepaskan tangannya dari Jeongguk.

Dari milik Taehyung.

“Dayu,” katanya pada Devy dengan Karangasem manner-nya yang lembut hingga Devy mengerjap kaget. Dia tersenyum, menarik dan menyihir sekali. “Saya pinjam Tjok sebentar, nggih?”

“Kau tidak dengar dia lelah dan ingin pulang?” Tukas Taehyung seketika, mencegah Devy melepaskan tangannya dari lengannya. “Aku akan mengantarnya pulang. Apa pun yang akan kaukatakan, bisa dilakukan lewat telepon.”

Jeongguk menatapnya, nampak tidak senang. “Sebentar saja.” Katanya, nyaris menegur dan Taehyung menahan napasnya—dia tidak suka nada itu, dia benci nada itu.

Devy juga sepertinya menangkap nada itu karena dia kemudian berbisik, “Ya sudah, Wik, tidak apa-apa.” Katanya menatap Taehyung yang menggertakkan rahangnya. “Jangan dipukul.” Tambahnya mendesis.

“Memangnya aku lelaki seperti itu?” Balasnya jengkel pada Devy yang mengedikkan bahu.

“Kau kelihatan bisa menonjoknya kapan saja.” Katanya sebelum melepaskan tangannya dari Taehyung lalu melangkah ke Mirah yang menunggu beberapa meter dari mereka.

“Berteduhlah.” Kata Jeongguk ke Mirah yang mengangguk sebelum memimpin Taehyung menjauhi mereka, pergi ke sudut balai yang sepi karena semua orang berkumpul di lapangan.

“Apa lagi yang salah sekarang?” Tanya Jeongguk begitu balai menyembunyikan setengah tubuh mereka dari Mirah dan Devy. Dia menatap Taehyung dengan pandangan nyaris memohon yang memilukan, namun Taehyung mengabaikannya.

“Tidak ada yang salah.” Sahutnya, bersidekap—menjaga jarak dari Jeongguk. “Memangnya apa yang salah menurutmu?”

“Kau mengabaikanku.” Jeongguk praktis menggeram, dia menatap Taehyung lekat-lekat sementara lawan bicaranya menatap dengan dingin.

And?” Balas Taehyung, menyadari sepenuhnya kalimat yang akan dikatakannya akan menyakiti Jeongguk namun dia tidak peduli lagi. Dia menarik napas dan melepaskannya, “What's the surprise?”

Jeongguk terenyak di tempatnya, matanya melebar kaget saat mendengar jawaban Taehyung yang menggertakkan rahangnya—menahan dagunya tetap naik saat menatap Jeongguk memproses kalimatnya. Apakah Taehyung kelewatan? Oh, peduli setan.

“Kita akan bicara setelah ini.” Jeongguk menatapnya, mulai nampak terganggu dan Taehyung tidak peduli—tidak ingin meladeninya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Dia kemudian melangkah melewati Jeongguk. “Aku pulang duluan.” Tandasnya menghampiri Devy yang mengamatinya dengan tertarik.

Taehyung mengulurkan tangan, “Ayo pulang.” Katanya dan Devy menatap tangan itu, kaget karena Taehyung bersikap beradab padanya setelah sekian lama. Namun dia tetap meraihnya. “Mari, Tjok Mirah.” Dia mengangguk pada gadis itu yang bergegas balas mengangguk dan tersenyum bingung.

Dia melangkah dari sana, tidak menoleh sama sekali pada Jeongguk.


Author's note.

Tidak semua sesi geret pandan terjadi luka serius, sering kali hanya dilakukan untuk bersenang-senang. Tapi tidak menutup kemungkinan terjadi luka serius jika penyerangan dilakukan berlebihan.

Aku nonton udah lama banget tahun 2009/2010 jadi kurang tahu yang sekarang seperti apa. Kurang lebihnya, aku minta maaf sksksk

love, ire x

cw // public quickie.


Jeongguk berhenti beberapa meter di depan pintu masuk Alila yang merupakan jalan menurun ke arah kompleks hotel dan memarkir Yaris-nya di sana sebelum meraih ponselnya.

Dia terlambat nyaris satu jam karena masalah protein yang salah potong dan harus mengurus potongan daging dulu sebelum akhirnya bisa menyerahkan kendali pada Namjoon dan meloloskam diri dari dapur.

Jeongguk sebenarnya tidak punya waktu untuk mandi namun dia memaksakan sisa waktunya untuk mandi karena tidak mau duduk di sebelah Taehyung dengan aroma seafood dan daging merah mentah.

Dia membuka laci dasbor saat ponsel menyala dengan nomor Taehyung terpanggil dan meraih parfum cadangannya, dia menyemprotkan parfum sekali ke kabin mobil lalu mengibaskannya agar aroma mobil lebih layak.

Dia belum pernah menyambut Taehyung ke mobilnya. Menyadari dengan resah pakaiannya yang digantung di jok belakang—pakaian adat dan beberapa pakaian biasa karena dia praktis tinggal di mobilnya. Dia menjulurkan tubuhnya ke belakang, berusaha merapikan semampunya.

Dia menoleh saat sambungan telepon mati tidak terangkat dan baru hendak kembali menelepon Taehyung saat dia melihat chef senior itu melangkah keluar gerbang Alila.

Dan terpesona.

Taehyung bisa saja mengenakan kemeja denim ringan dan halus, jins longgar dengan rambut diikat longgar rendah di tengkuknya—semua nampak sangat natural tapi dia terlihat seperti model papan atas.

Atau dewa muda.

Jeongguk bersandar di kursinya, menatap bagaimana pemuda itu melangkah dengan tegas menghampiri mobilnya dengan alis berkerut—dia selalu mengerutkan alisnya. Nyaris menggelikan karena dia selalu nampak terganggu bahkan jika seseorang bernapas terlalu keras. Jeongguk ingin mengecup kerutan itu, membuatnya rileks dan menyerah di bawah genggamannya.

Taehyung mempercepat langkahnya saat melihat mobil Jeongguk, menoleh ke jalan sebelum bergegas menghampiri pintu penumpang yang berada di badan jalan dan membukanya. Dia menariknya terbuka dan lampu kabin menyala; Jeongguk menahan napas saat cahaya menyinari wajah Taehyung.

Karena dia akan selalu menjadi manusia paling indah yang pernah ditemui Jeongguk.

Taehyung menyelipkan dirinya masuk disusul aroma jalanan lembut, parfum maskulin tipis, dan sabun mandi sebelum suara debum pintu ditutup dan lampu mati.

Jeongguk mendesah, hendak memprotes Taehyung karena tidak menjawab panggilannya saat satu ciuman didaratkan ke bibirnya—lembut, basah, cepat dan terasa pekat seperti permen karet peppermint.

“Wow.” Katanya menyerigai, kaget namun juga senang saat Taehyung mundur dan memasang sabuk pengamannya. “Untuk apa itu?”

“Karena kau terlihat pantas mendapatkan ciuman.” Taehyung tersenyum dalam gelap—Jeongguk bersyukur dia memarkir mobilnya cukup jauh dari jangkauan lampu temaram Alila dan juga pos Security.

“Kotak makanmu akan kukembalikan besok.” Kata Taehyung dan Jeongguk mengangguk. “Kau mau kubuatkan roti isi atau?”

Alis Jeongguk naik sebelah, antisipatif. “Apa saja.” Katanya dengan jantung melonjak senang—membayangkan Taehyung akan memasakkannya sesuatu.

Taehyung mengangguk, menyeka anak rambutnya. “Baiklah. Kutitipkan Security besok.”

Dia terkekeh saat menyalakan mesin mobilnya. “Kita ke Lotus Seaview?” Tanyanya dan Taehyung mengangguk. “Aku belum memesan meja, maaf. Dapur sibuk hari ini, jadi semoga tidak terlalu ramai.”

Taehyung melirik jam tangannya, “Kurasa mungkin lumayan penuh.” Sahutnya saat Jeongguk mengemudi mulus menuju arah Karangasem.

Taehyung kemudian mendesah, menoleh ke jok belakang dengan iseng. “Masih berantakan ternyata.”

Jeongguk meringis, “Begitulah. Aku benar-benar harus membereskannya ternyata. Akan kulakukan hari Sabtu.”

Taehyung menegang dalam kegelapan. “Kenapa Sabtu?” Tanyanya nyaris ketus hingga Jeongguk menoleh ke arahnya sekali sebelum kembali memandang jalanan—gagal melihat ekspresinya dalam kegelapan.

“Karena aku libur hari itu.” Sahut Jeongguk lebih ke bertanya alih-alih pernyataan—tidak yakin kenapa Taehyung bersikap begitu.

Lalu pemahaman menyambar kepalanya detik berikunya dan dia langsung meraih tangan Taehyung, meremasnya hangat.

“Wigung,” katanya lembut. “Aku tidak melakukanya karena aku akan menjemput Mirah. Aku melakukannya hari itu karena aku libur. Oke?”

Taehyung masih diam dan Jeongguk mendesah—merasakan hatinya berdenyut nyeri, takut Taehyung akan mendadak meninggalkannya lagi seperti dua tahun lalu. Hanya karena salah paham sepele.

“Baiklah.” Jeongguk meremas tangannya sekali sebelum bergegas melepaskannya untuk mengganti gigi. “Aku tidak akan membereskannya. Akan kubereskan minggu depan. Bagaimana?”

Taehyung masih diam, nampak berpikir dan Jeongguk menunggu—tidak yakin apa yang bisa dilakukannya untuk membuat Taehyung percaya. Namun akhirnya pemuda itu menghela napas.

“Oke.” Katanya, mengangguk dan Jeongguk menghembuskan napas lega.

Mereka memasuki wilayah Candidasa yang ramai oleh wisatawan yang datang untuk snorkeling. Jeongguk memperlambat laju mobilnya, memprioritaskan pejalan kaki yang tumpah ke jalan mencari makan malam di restoran yang berjajar di sepanjang jalan. Menu-menu dipasang ditrotoar, bisa dilihat oleh tamu sebelum memutuskan di mana mereka makan.

Jeongguk memasang sein, membelok ke arah lahan parkir Lotus Seaview, beach club milik Lotus Bungalows—salah satu hotel di sekitaran Candidasa. Mereka memiliki bar yang lepas menghadap laut dengan open kitchen yang menyajikan menu seafood dan western.

Dia memarkir mobilnya, menarik rem tangan sebelum menoleh ke Taehyung yang balas menatapnya. Di depan mereka terbentang pantai dengan pasir vulkanik, suara deburan ombaknya sejenak membuat saraf Jeongguk rileks dan dia lapar.

“Kemari,” gumamnya lembut, mengulurkan tangannya dan Taehyung langsung menyambutnya.

Jeongguk mengecup bibirnya, kecil sebelum mengecup kening dan kedua pipinya sayang—merasakan jenggot tipis Taehyung yang sedikit tajam di bibirnya.

“Jangan marah-marah lagi, ya?” Dia mengusap rambut Taehyung sayang. “Ayo makan, aku traktir.”

Jeongguk melepaskan Taehyung. Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju pintu masuk restoran. Langsung disambut anak FB Service yang mengarahkan mereka ke meja kosong yang tersedia di sudut restoran.

Restoran itu bernuansa kental Bali dengan dinding dihiasi gebyok Bali dan ukiran-ukiran Bali. Langit-langit rendah dengan tiang penyangga atau saka yang dibalut kain bermotif Bali. Lampu-lampu dibalut sarung anyaman rotan menggantung di atas mereka sementara angin laut berdebur ke restoran—menggoyangkan lampu. Ada beberapa wisatawan yang sedang menikmati bir dan cemilan di sekitar mereka sementara sisa-sisa matahari terbenam sudah nyaris lenyap dari langit.

“Maaf,” gumam Jeongguk saat menerima menu dari anak servis setelah mereka duduk di dua dari empat kursi rotan rendah dengan bantalan yang mengelilingi meja mereka. “Aku terlambat dan kita kehilangan sunset-nya.”

Taehyung mengedikkan bahunya kalem, “Tidak apa-apa.” Katanya singkat dan Jeongguk menangkap nada dingin berjarak itu—nada yang akan selalu digunakan Taehyung kapan pun mereka berada di publik.

Maka Jeongguk mengangguk, mengikuti cara main Taehyung. Dia mengamati buku menu, menunggu Taehyung memesan.

Salsiccia satu,” kata Taehyung lalu menambahkan. “Berapa potong, ya, satu loyangnya?”

Anak servis yang menerima pesanan mereka menjawab dengan lugas, “Kebetulan kami hanya menyediakan ukuran large dengan 8 slice di satu loyangnya.”

Taehyung mengangguk, “Dua kalau begitu.” Katanya lalu mendongak pada Jeongguk. “Atau kau mau yang lain?”

Jeongguk membalik buku menunya, “Itu wood oven pizza, ya?” Gumamnya mencari daftar piza dalam buku menu dan anak servis membantu mengarahkannya.

“Disebelah sini, Pak.” Katanya ramah membantu Jeongguk menemukan halamannya.

Jeongguk mengangguk ramah, “Trims.” Katanya pada anak itu lalu menelitinya. “Tadi kau pesan...?” Tanyanya pada Taehyung.

Salsiccia,” sahut Taehyung. “Mozarela, tomat, dan sosis babi.”

Jeongguk mangut-mangut, tertarik pada rasanya. “Greca kalau begitu. Agar seimbang.” Katanya saat memilih piza vegetarian sebagai menu kedua mereka. “Tolong bir large satu,” tambahnya saat mengembalikan buku menu.

“Dua,” koreksi Taehyung juga mengembalikan buku menunya. “Nanti jika ada tambahan kami infokan.” Dia mengangguk dan anak servis itu mengangguk—berlalu setelah mengulang pesanan mereka.

Bir mereka datang pertama dengan semangkuk kacang dan dua gelas tinggi yang dibekukan. Jeongguk berterima kasih sebelum menuang birnya ke gelas, meneguknya dengan lega seolah baru minum air putih sejak pagi.

“Besok kau akan menjemput... Siapa tadi?” Tanya Taehyung saat menyelipkan gelasnya ke mulut botol lalu menuangnya, mencegah busa bir jika menuangnya langsung ke gelas. “Nama perempuan yang dijodohkan denganmu?”

Jeongguk menyerigai kecil—ada sesuatu dari cara Taehyung mengatakan kalimat itu yang membuat Jeongguk ingin sekali memeluk lalu menciumnya keras-keras agar dia tahu, tidak peduli sebaik dan secantik apa pun Mirahn dia tidak akan berpaling dari Taehyung.

“Mirah.” Kata Jeongguk kalem, meneguk binya. Mengamati Taehyung dengan ekor matanya saat pemuda itu meneguk minumannya.

“Ya. Mirah.” Ulang Taehyung, berjengit saat menyebut namanya seolah itu akan membawa sial untuknya dan Jeongguk tergelak kecil.

“Tidak ada yang bisa dibenci darinya.” Dia mengedikkan bahu. “Anaknya baik dan sopan.” Dia menatap Taehyung yang mencibir kecil. “Walaupun aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang bayi barumu.”

Taehyung bereaksi, mengerang kesal dan Jeongguk terkekeh. Mereka menghabiskan malam mendengarkan Taehyung menceritakan Devy dan bencana di makan malamnya—tentang under the table flirt-nya yang membuat Jeongguk terbelah antara cemburu dan juga geli pada ekspresi Taehyung yang benar-benar jijik serta juga obrolan tentang pernikahan yang membuat Taehyung mual.

Makanan mereka datang, beraroma tajam rempah Italia dan saus tomat. Pesanan Taehyung terbukti lezat, Jeongguk mencacatnya dalam hati. Akan membelikan Yugyeom kapan-kapan. Mereka makan sambil mengobrol, memandang lautan lepas yang berdebur di bawah cahaya temaram lampu-lampu hotel dan titik-titik cahaya dari kapal nelayan yang berangkat melaut dengan kapal-kapal mereka.

Keduanya tidak memesan bir lebih dari 1 botol karena masih harus mengemudi pulang. Jeongguk memesan minuman lain saat birnya habis namun makanan mereka masih banyak. Mereka sepakat akan bertemu di panggung saja karena Taehyung juga harus menjemput Devy di griya-nya. Jeongguk di sisi lain harus agak memutar menjemput Mirah ke Puri-nya di Denpasar.

“Sungguh sial aku harus mengurus bayi.” Gerutu Taehyung saat mereka selesai makan dan kembali ke mobil.

“Selera ayahmu payah.” Sahut Jeongguk sopan lalu mengaduh geli saat Taehyung memukul bahunya main-main sebelum bergerak memutari mobil ke arah kursi penumpang. “No offense.”

Dia mengantar Taehyung kembali ke Alila, ke mobilnya yang terparkir di sudut halaman. Alila mengkhususkan karyawan yang membawa mobil untuk parkir di belakang nyaris yang terjauh dan memprioritaskan parkiran depan terdekat dengan pintu masuk hotel untuk tamu.

“Kau akan pulang?” Tanya Jeongguk saat memarkir mobilnya di sisi Jeep Taehyung, membiarkan mesinnya menyala sehingga penyejuk masih bekerja.

Taehyung mengulurkan tangan dan menyentuh selangkangan Jeongguk—napasnya terdengar berat dalam keheningan ditingkahi debur ombak pantai Alila. Jeongguk bergidik karena sentuhannya—tangan Taehyung bergerak lembut dan perlahan.

Oh, dia suka ini.

“Punya ide yang lebih baik?” Tanya Taehyung, menatapnya dengan mata sayunya yang gelap.

“Selalu.” Sahutnya parau, menggeleng berusaha menjernihkan kepalanya yang berkabut oleh gairah sebelum mencium Taehyung yang merengek dalam ciumannya.

Jeongguk tidak peduli, sungguh.

Siapa yang peduli alasan kenapa mereka melarang karyawan parkir di depan karena dia suka tempat parkir ini. Suka suasananya yang temaram sehingga dia bisa membungkuk ke arah Taehyung dan memberikannya satu blowjob paling mendebarkan hingga Taehyung nyaris melolong.

Pemuda itu bersandar sepenuhnya ke kursinya yang diturunkan saat Jeongguk mengulumnya—menggigit kepalan tangannya sementara tangan Jeongguk memanjakannya.

Fuck, Wiktu. Wiktuwiktuwiktu.” Desahnya tercekat, tersengal dan Jongguk bisa saja sinting di sana saat itu juga.

Adrenalin yang membuncah saat mereka melakukannya di ruang terbuka membuat Jeongguk semakin bergairah. Dia tidak pernah berpikir dirinya bisa melakukan ini, nyaris tidak seperti dirinya sendiri yang gemar menantang maut namun Taehyung selalu bisa membangkitkan sisinya yang liar sekali pun. Jeongguk tidak keberatan.

Mereka bisa saja bercinta di jok belakang jika Jeongguk tidak kehabisan kondom dan lubrikan. Dia tidak mau mengambil risiko bercinta dengan Taehyung tanpa cairan pelumas maka mereka akhirnya berpisah setelah Taehyung membalas blowjob-nya dengan teknik hand-job kesukaannya seraya bertukar ciuman di jok belakang.

Teknik yang terbukti membuat kepala Jeongguk terasa lepas dari lehernya karena begitu ringan dan punggungnya melengkung menyambut orgasme yang menyapunya.

Satu jam yang panas dan magis, Jeongguk yang pening berkendara pulang perlahan berusaha menata dirinya yang berantakan karena Taehyung. Dia tidak akan pernah terbiasa dengan gairah Taehyung yang meledak-ledak, sungguh.

Dan sekali pun begitu, dia tidak protes. Walaupun dia harus membersihkan mobilnya malam ini jika tidak mau Mirah mencium aroma amis orgasme mereka.

Alisnya berkerut sejenak saat meluncur memasuki Amlapura yang mulai sepi sebelum dia tertawa parau. Menyadari kelicikan yang baru saja dilakukan Taehyung tanpa disadarinya sama sekali.

“Pintar sekali.” Katanya serak saat menyadari mengapa Taehyung menggodanya sehingga mereka make out di dalam mobilnya.

Antara dia memang bergairah atau dia ingin menandai daerah kekuasaannya sebelum Mirah memasuki mobil.

Jeongguk menyerigai, merasakan gairah lain melecut di dalam tubuhnya. “Nakal sekali,” gumamnya terhibur mengusap selangkangannya yang bereaksi karena memikirkan Taehyung—teringat lenguhannya saat orgasme tadi. “Harus dihukum.”

Dia akan memberi pelajaran Taehyung setelah ini. Sabtu saat dia memiliki Taehyung untuk dirinya sendiri di kamar tertutup.

*

tw // age gap , mention of pedophilia . cw // a little spice .


note. Panggilan 'setan cilik' di sini terjemahan dari kata 'little devil' dan sama sekali tidak berarti offensive dalam bahasa Inggris. Panggilan biasa antarsudara karena saya rasa.... cocok. Trims! x


Namun mungkin dia terlalu cepat senang karena ketika dia akhirnya memarkir motornya di halaman griya milik Devy, dia merasa dia ingin muntah.

Dia tidak paham sama sekali dengan isi kepala ayahnya. Apakah dia lupa anaknya lahir tahun 1984? Atau dia memang sama sekali tidak bisa menghitung usia Taehyung karena sibuk memperlakukannya seperti bayi alih-alih lelaki dewasa yang mandiri? Dan gagal menyadari perbedaan usianya dengan Devy yang lebih dari sepuluh tahun?

Atau mungkin dia merasa baik-baik saja anaknya dilabeli pedofilia karena menikahi gadis yang 10 tahun lebih muda darinya dan Taehyung sungguh tidak berencana menambahkan bencana ke dalam hidupnya—khususnya perempuan. Dia punya tiga perempuan.

Satu perempuan lagi, khususnya perempuan Brahmana yang gemar memaksakan dirinya pada Taehyung jelas bukanlah perempuan yang akan dipilihnya untuk membantunya membangun kehidupan—bahkan jika dia terpaksa harus melakukannya.

Namun dia tetap melakukan ini. Seberapa inginnya pun dia melarikan diri karena jika dia tidak melakukannya, setan cilik itu akan melaporkannya ke ayahnya dan Tuhan tahu apa yang akan terjadi pada ibunya yang hangat jika ayahnya tidak puas pada kelakukannya. Maka Taehyung memarkir motornya di halaman griya yang rindang, meraih kantung kertas yang terisi beberapa potong pastry yang dipesannya mendadak siang tadi sebelum makan dan dikerjakan saat itu juga oleh anak pastry untuknya.

Dia menatap isi kantung kertas berlogo Alila besar itu dengan tidak ikhlas—Tuhan tahu betapa bencinya dia melakukan ini. Dia merogoh sakunya, hendak meraih ponsel untuk menghubungi si Little Devil bahwa dia sudah di rumahnya saat seorang gadis berlari dari dalam rumah dengan rambut panjang yang mengikal di bawah.

There she is,” pikir Taehyung masam, menyimpan kembali ponselnya dan mendesah. Toh, dia juga mandi tadi membubuhkan parfum ke pakaiannya—semuanya demi ibunya. Dia tidak melakukan ini demi Devy. Ini demi ibu dan kakakknya—demi melindungi mereka dari ayahnya.

Jika Guest Comment Card dari Devy baik, maka ayahnya tidak akan marah. Semua senang.

“Wik!” Seru gadis itu, tersenyum cerah di bawah sinar lampu teras rumahnya.

Taehyung menghela napas, menyunggingkan senyuman terbaik yang dimilikinya—mendorong jauh-jauh perasaan dongkol yang berusaha merambat ke hatinya. Dia tidak boleh merusak malam ini. Devy menandak ke arahnya seperti seekor kucing—mengenakan kaus dan celana longgar berwarna hangat. Dia mengikat rambutnya menjadi pony tail dengan selapis poni tipis di keningnya, dia membubuhkan riasan wajah tipis di wajahnya—Taehyung menyadari itu.

Dia nampak cantik, jika Taehyung suka keindahan jenis itu. Sayangnya dia tidak menyukainya karena kakaknya jauh lebih cantik dengan kecantikan purbanya yang eksotis. Devy tiba di depannya dengan selapis aroma parfum feminim yang sejenak membuat Taehyung kebingungan—tidak terbiasa mencium aroma fruity sekuat itu.

“Halo,” sapanya—berusaha keras tidak terdengar menggeram atau membentak. “Maaf terlambat.” Katanya, melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan menyadari dia tiba lima belas menit terlambat.

“Tidak apa-apa!” Sahut gadis itu, tersenyum lebar.

Taehyung mengulurkan kantung kertas di tangannya yang langsung diterimanya dengan seruan senang. Dilihat dari mana pun, dia lebih cocok jadi adik Taehyung alih-alih istrinya. Dia tidak bisa membayangkan dirinya harus mengurus anak ini seumur hidup.

Lalu tambahkan bayi di sana.

Ayahnya sedang merencakan pembunuhannya.

Devy kemudian mengajaknya masuk, Taehyung menyusuri halaman griya yang rindang dengan banyak pohon kamboja berdahan besar dan rendah. Meniupkan aroma lembut yang sangat akrab dengan dirinya sendiri sebagai seorang yang lahir dan besar di Bali. Suara gemericik air dari kolam berair terjun buatan di sudut serta suara binatang malam membuatnya sedikit banyak menyukai tempat itu.

“Ajik! Wikgung datang!” Seru Devy ceria dan Taehyung menghela napas sebal—berapa kali dia harus memperingatinya agar tidak memanggil Taehyung dengan sebutan 'Wigung' karena itu milik Jeongguk.

Dia tidak sudi siapa pun menggunakan panggilan itu untuknya kecuali Jeongguk. Nanti, Taehyung akan membicarakannya nanti. Dan memastikan setan cilik itu tidak mengadu ke ayahnya. Dengan keras.

“Swastyastu.” Sapanya sopan saat melepaskan sepatunya di depan teras dan seorang pria paruh baya bangkit dari sofa ruang tengah—mengenakan celana longgar dan kaus polo yang membalut tubuhnya yang berisi.

Taehyung tersenyum—senyuman yang selalu digunakannya saat dia harus bertemu orang-orang sebagai kewajiban adat yang ditanggungnya sebagai anak pertama dari anak lelaki pertama. Senyuman palsu yang dilatihnya bertahun-tahun hingga nampak natural dan tulus.

Dia menangkupkan tangannya di dada sebelum menjabat tangan ayah Devy yang sama sekali tidak diingatnya sebagai teman ayahnya. “Swastyastu, Ajik.” Sapanya tersenyum lebar. “Maaf, tiang terlambat. Tadi ada pesanan mendadak sebelum bisa pulang.”

Ayah Devy menatapnya sejenak sebelum tersenyum dan menepuk bahunya hangat. “Oh, tidak apa-apa.” Dia mengusap bahunya hangat walaupun Taehyung nyaris 10 senti lebih tinggi darinya. “Belum makan, 'kan? Ayo makan-makan.” Dia membimbing Taehyung ke ruang makan.

Taehyung mengangguk, “Maaf jadi menunda waktu makan siang Ajik dan Biang,” dia menyalami ibu Devy yang sekarang tersenyum lebar—lebar sekali hingga Taehyung takut dia melukai pipinya sendiri.

Dia nampak berpuas diri, seolah baru saja memenangkan lotere karena mendapatkan Taehyung sebagai calon suaminya. Jika saja Taehyung bisa bersimpati padanya karena dia tidak terlalu antusias dengan calon istrinya.

Taehyung disambut di meja makan yang terisi menu lengkap yang membuatnya merasa tidak enak. Ada gurami bakar yang harum, plecing kangkung lengkap dengan kacang tanah, nasi hangat dan pelengkap lainnya—bahkan buah-buahan. Taehyung mengerjap—mereka benar-benar menginginkan Taehyung jadi menantu mereka padahal sekara teknis anak mereka akan nyerod atau turun kasta jika menikahinya?

Apa yang mereka incar dari keluarga Taehyung? Dia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak berpikir begitu. Keluarga Brahaman jarang merelakan anak perempuan mereka menikah dengan kasta di bawah mereka. Apakah karena Taehyung berasal dari salah satu Puri yang masih sangat aktif? Mungkin posisinya dianggap lebih menjanjikan?

Namun dia tidak bisa menemukan motif apa pun dari ekspresi hangat keluarga Devy yang menyambutnya seperti anak lelaki kandung mereka. Devy duduk di sisinya, sudah jelas dan membantunya—sangat membantunya untuk makan dan Taehyung harus menendang kakinya di bawah meja karena tidak nyaman dengan caranya menyentuh kaki Taehyung seraya mempertahankan senyuman ramahnya pada ayah Devy.

“Jauhkan kakimu.” Gertaknya di bawah senyumannya saat gadis itu menuangkan air mineral ke gelas Taehyung.

Alih-alih menurut, gadis itu mendongak—menatapnya menantang dengan matanya yang dihiasi lensa kontak berwarna natural. “Jika aku tidak mau?” Balasnya lirih lalu membelitkan kakinya ke betis Taehyung hingga dia nyaris mendesis dan terlonjak kaget dari kursinya—syukurlah dia berhasil menahan diri dan hanya mengeluarkan suara batuk keras yang membuat kedua orang tua setan cilik itu mendongak.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya ayahnya dan Devy memasang wajah khawatir, mengusap bahunya dan Taehyung harus menahan reaksi impulsifnya untuk mengedikkan tangan Devy menjauh dari tubuhnya.

Taehyung meneguk airnya, berusaha menenangkan diri. “Tidak, Jik, tidak apa-apa.” Katanya tersenyum, menendang kaki Devy di bawah meja hanya untuk mendapati kakinya kembali menempel di betisnya—seperti lintah.

Demi Tuhan!

Dia kemudian ditinggalkan berdua di teras dengan Devy untuk mengobrol dan sungguh, hal terakhir yang diinginkan Taehyung sekarang adalah pulang, mandi lalu menelepon Jeongguk. Dia sudah tidak punya tenaga lagi meladeni si setan cilik yang sekarang duduk di sebelahnya tersenyum lebar seperti seorang psikopat. Ponselnya bergetar sejak tadi—dia melihat nama Jimin dan Jeongguk. Teringat dia belum mengabari Jimin sejak kemarin dan Jeongguk sejak makan siang karena dia sibuk mengurus gurita menjijikkan untuk menu tamu lalu terburu-buru ke griya Devy.

“Wikgung,”

“Jangan panggil aku Wikgung. Wik Tjok atau Taehyung saja.” Koreksinya seketika, gatal ingin meraih ponselnya namun juga tidak bisa mengabaikan sopan santunnya sendiri.

Devy mencibir. “Memangnya kenapa, sih? Itu, 'kan, nama Wik.”

Taehyung mengerutkan alisnya. Dia ini memang tidak bisa menurut, ya? Lalu bagaimana dia berpikir dia bisa menjadi istri seseorang jika masih bertingkah seperti ini?

Bali menganut sistem patriarki yang keras nyaris absolut—perkataan lelaki masih menjadi sebuah keharusan, bahkan kewajiban bagi perempuan untuk didengarkan. Keputusan berada di tangannya, apalagi di sistem keluarga berkasta seperti Taehyung. Devy harus belajar mendengarkan dan menurut padanya jika dia ingin menjadi istrinya—walaupun Taehyung sedang memikirkan cara untuk meloloskan diri. Dia diizinkan memiliki suara, Taehyung tidak sekolot itu namun dia juga tetap harus mendengarkan jika Taehyung mengatakan sesuatu.

“Kau harus mendengarkanku,” dia akhirnya memutuskan menggunakan kuasanya untuk mengatur setan cilik di sisinya yang langsung mendongak mendengar perubahan nada suaranya. “Jika kau memang mau jadi istriku. Kurasa itu hal yang sangat wajar di Bali.”

Devy sejenak tertegun—menyadari perubahan aura dan nada suara Taehyung. Dia tidak pernah menggunakan sisi dirinya yang itu pada siapa pun perempuan di rumahnya kecuali Tuniang saat dia menyebalkan. Sebenci apa pun dia pada ayahnya, dia mewarisi sedikit sifat bajingannya. Dan sifat berkuasanya, toxic masculinity-nya.

Dia pewaris Puri, jelas dia harus memiliki itu.

“Ya,” kata setan cilik itu akhirnya, mengerjap. “Nggih,” katanya lagi, lebih normal dari sebelumnya dan Taehyung menyadarinya dengan lega. “Wik Tjok.”

Taehyung menghembuskan napas. “Good.” Katanya, bersandar di kursi—mengamati halaman di depannya sementara Devy duduk di sisinya.

“Wik kerja di mana?” Tanyanya kemudian dan Taehyung menghela napas—dia memang harus melakukan ini ternyata.

“Alila Karangasem, di Manggis.” Sahutnya dan Devy mengeluarkan suara 'ooh' panjang yang halus saat mengetahuinya. “Kau kuliah di mana?”

“Udayana.” Devy tersenyum ceria dan Taehyung balas tersenyum—dia sebenarnya anak manis jika saja dia menurut dan tidak bersikap menyebalkan, mendesakkan dirinya ke ruang personal Taehyung. Senyumannya menular. “Kedokteran Gigi.”

Alis Taehyung naik mendengarnya. “Bukankah kau seharusnya koas sekarang?” Tanyanya.

Devy mengangguk. “Sedang menunggu wisuda, lalu baru bisa mendaftar untuk koas.” Katanya lugas, nampak menyukai jurusannya dan Taehyung menghargai perempuan yang memiliki kesukaan pada jurusan kuliahnya—paham apa yang dilakukannya, persis seperti kakaknya.

Namun kekagumannya langsung meletus seperti balon sabun saat Devy melanjutkan, “Kata Ajik, koas setelah menikah juga tidak apa-apa.”

Anak ini memang terobsesi menikah sepertinya. Taehyung mendesah berat, “Memangnya kau tidak ingin menikmati waktumu melajang dulu sebelum menikah?” Tanyanya. Setidak suka apa pun Taehyung padanya, dia tetap seorang dewasa yang menganggap Devy adiknya—dia mencemaskan keputusan dini ini.

Devy punya hidup membentang di hadapannya, siap dijelajahi. Petualangan baru yang menantinya, namun dia memutuskan untuk mengikat dirinya pada lelaki pertama yang ditawarkan ayahnya. Membatasi geraknya sebagai perempuan yang mendapat banyak sekali pengurangan hak setelah menikah karena tanggung jawab rumah tangga.

“Tidak.” Tandas gadis itu, tegas hingga Taehyung menoleh—kaget. “Aku bisa menikmati banyak hal juga setelah menikah.” Dia mengedikkan bahu santai seolah menikah hanyalah perkara membeli pakaian baru yang digemarinya.

“Kau tahu aku ini 14 tahun lebih tua darimu, 'kan?” Tanya Taehyung lagi, alisnya berkerut dan merasa mual memikirkan pernikahan dengan anak kecil ini. Bagaimana dia akan mengurus Taehyung sementara mengurus dirinya sendiri saja rasanya dia belum sanggup. “Empat belas tahun, Dayu.”

Emosinya rapuh sekali, dia belum stabil sama sekali. Dia seharusnya pergi jalan-jalan dengan teman-temannya, pulang tengah malam, minum hingga mabuk sesekali, menikmati hidup lajangnya sebelum mengabdikan dirinya pada suami sepenuhnya—bahasa yang akan digunakan ayahnya. 'Mengabdikan' diri.

Menilik dari caranya dilayani dua perempuan, Taehyung paham betapa ayahnya menggemari kata yang secara tidak langsung meletakkan posisi perempuan sebagai inferior itu. 'Mengabdi'.

Memangnya dia siapa? Tuhan?

Devy menatapnya, nampak tidak menangkap masalahnya sama sekali sementara Taehyung berjuang dengan dirinya sendiri agar tidak jijik pada kenyataan itu. Dia akan menikahi anak kecil, demi Tuhan. Ayahnya melemparkannya ke lembah dosa lagi dan lagi—tidak juga puas dengan agendanya.

“Lalu kenapa?” Tanya Devy kemudian. “Lelaki memang seharusnya lebih tua dari perempuan dalam pernikahan, 'kan?”

Taehyung nyaris mengerang frustrasi. Lalu kenapa katanya??

Apakah hanya Taehyung yang waras di dunia ini? Apakah hanya dia yang memikirkan kondisi mental anak ini? Anak dua puluh dua tahun yang baru saja menetas di kehidupan yang keras ini? Belum, karena dia masih harus menjalani banyak stase sebelum siap bekerja—siap menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa dengan tagihan seumur hidup.

Bahkan orang tuanya pun tidak menganggap perbedaan umur 14 tahun ini adalah sesuatu yang mengkhawatirkan.

Kepalanya pusing sekali saat akhirnya dia berkendara kembali pulang setelah berpamitan dengan keluarga Devy karena sudah terlalu malam. Devy mengantarnya hingga halaman, melambai ceria padanya. Terlepas dari betapa Taehyung tidak tertarik pada prospek menikahinya, Devy anak manis. Dia cerdas, dia memiliki ketertarikan yang besar pada jurusannya sendiri—Taehyung tidak keberatan mendengarkannya menjelaskan tentang tugasnya.

Dia layak menjadi adik Taehyung.

Seperti Yugyeom mungkin yang berjarak 12 tahun dengan Jeongguk—dekat sekali dengan kakaknya, lengket karena Jeongguk memanjakannya nyaris seperti seorang raja. Taehyung tidak membayangkan memiliki Devy sebagai istrinya—istri. Sinting.

Dia berkendara pulang, senang memutuskan menggunakan motor hari ini karena angin malam selama perjalanan yang menampar wajahnya membantunya menjernihkan pikirannya yang berat setelah bertemu calon jodohnya yang praktis seorang anak kecil. Mungkin tidak terlalu bocah, namun jika dibandingkan dengan Taehyung yang nyaris 40 tahun.....

Taehyung menggeleng pelan, mengenyahkan pikiran itu dan mengoper gigi motor kesayangannya yang menderum di atas jalanan menuju rumahnya. Ayahnya tidak terlalu suka pilihan kendaraannya—Wrangler Jeep Hard Top dan Bullit Bluroc retro 125cc buatan Inggris. Tapi siapa yang peduli pendapat ayahnya? Taehyung membeli semuanya dengan tabungannya sendiri dan ayahnya bisa menikmati amarahnya sendirian.

Motornya meluncur masuk ke garasi Puri-nya, diparkir di sisi mobilnya. Dia melepas helmnya dan langsung bergegas memasuki Puri melewati pintu kecil di sisinya yang mengarah ke halaman rumahnya. Pintu kamar ayahnya sudah tertutup dan dia menghembuskan napas lega, senang dia tiba saat ayahnya sudah tidur. Bergegas ke kamarnya sebelum siapa saja menyadari dia pulang, Taehyung langsung membanting pintunya tertutup.

Dia merogoh sakunya, meletakkan jaketnya di kursi dan mengecek pesan. Jeongguk yang pertama diraihnya, menekan tombol 'telepon' pada nomornya dan menekan hands-free seraya melepaskan pakaiannya.

Terdengar nada sambung beberapa kali, Taehyung melirik jam—menyadari sudah pukul sebelas lebih dan berpikir Jeongguk pasti sudah tidur. Dia hendak mematikan sambungan saat telepon diangkat.

Sejenak suara erangan mengantuk Jeongguk terdengar di kamar Taehyung dan membuatnya seketika merinding—merindukan sensasi terbangun di sisinya dengan aroma tubuh Jeongguk yang pekat, ciuman lembut di wajahnya, dan seks lambat sebelum memulai hari....

Dan dia menegang—semudah itu. Dia mengumpat.

Lalu untuk memperkeruh suasana, suara Jeongguk yang parau terdengar—jelas sekali. “Wigung?” Dia menghela napas, berusaha menjernihkan kepalanya yang mengantuk—menggeliat di kasurnya dengan suara lenguhan khas orang mengantuk yang membuat Taehyung semakin pening.

Wawu mantuk, nggih?” Baru pulang, ya?

Oh, fuck! Taehyung bergidik, seluruh tubuhnya bereaksi terhadap suara Jeongguk dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal. Dia menjatuhkan pakaiannya ke lantai, meraih ponselnya dan mematikan hands-free. Berbaring di ranjang yang berderit menerima beban tubuhnya, dia menempelkannya ke telinga.

“Hei,” sapanya, sedikit terengah. “Kau sudah tidur? Maafkan aku tidak mengecek jam.”

Jeongguk melenguh sekali lagi dan Taehyung bisa saja menyenangkan dirinya sekarang di sini, mendengarkannya melenguh berusaha mengumpulkan nyawanya demi mendengarkan cerita Taehyung di tengah malam. “Ya,” katanya parau, menguap tertahan. “Tadi aku makan mie instan sebelum tidur, wajahku bengkak.”

Taehyung tersenyum, “Kembalilah tidur.” Katanya kemudian, tidak ingin mengambil risiko mengubah telepon romantis mereka menjadi phone call sex karena hasratnya sendiri yang tidak tahu diri. “Aku akan mandi lalu tidur.”

Maaf,” gumam Jeongguk mengantuk dan Taehyung terserang perasaan hebat ingin menyusupkan diri ke dalam pelukannya lalu tidur di sana—pasti hangat dan nyaman sekali. Jeongguk selalu membelainya hingga lelap, mendendangkannya lagu lembut setengah mengantuk yang disukainya. “Kau bisa menceritakan makan malam dengan calon jodohmu besok, oke?”

Taehyung mengedikkan bahunya, “Tidak penting, sih. Tapi jika kau ingin tahu, tidak apa-apa.” Dia memisahkan kancing celana jinsnya, menggerakkan pinggulnya agar celana itu turun tanpa disentuh dan menyadari ukuran selangkangannya dengan jengkel.

“Kau tahu,” katanya bergegas, mengusapnya—dia harus membereskannya atau dia tidak bisa tidur. “Kembalilah tidur. Sana, cepat. Aku harus mengurus,” dia berdeham. “Beberapa hal.” Setengah berharap Jeongguk menawarkan diri untuk membantunya.

Dia bisa mendengar senyuman di bibir Jeongguk saat dia menangkap maksud Taehyung. “Hmm...” Gumamnya parau dan panjang, Taehyung bersumpah dia yakin Jeongguk sengaja melakukannya. “Apa itu 'beberapa hal'? Boleh kubantu?

Taehyung menahan napasnya, jantungnya berdebar. Dia merangkak dari kasurnya, menyelot pintu kamarnya agar keluarganya yang sama sekali tidak tahu privasi dalam memasuki kamarnya tidak tiba-tiba menjeblak masuk ketika dia mengurus dirinya sendiri. Dia bergegas kembali ke kasur, jantungnya menyumbat kerongkongannya sekarang karena tegang.

Wigung?” Panggil Jeongguk dari seberang, suaranya berat dan Taehyung nyaris merintih karenanya. “Kau... tegang?” Goda yuniornya itu, terkekeh parau dan terhibur. “Sungguh? Dan karena apa??”

“Oh, diam!” Gerutu Taehyung, mengusap tubuhnya yang tegang. “Ini karenamu, oke?!”

Hei?” Balas Jeongguk tidak terima, geli dan kantuk mulai lenyap darinya sekarang—dia tertarik membantu Taehyung. “Aku hanya bernapas??”

Taehyung mengerang lalu terlonjak kaget saat Jeongguk mengganti sambungan mereka menjadi video call. Nyaris menjatuhkan ponselnya ke kasur. “Kau sinting, ya?!” Desisnya ke ponselnya, tidak menerima panggilan itu.

Percayalah. Kau tidak akan mau melewatkan ini,” gumam Jeongguk dari seberang dengan suara Jeongguk 'Ayo Bercinta' Nomor 1-nya yang membuat tulang punggung Taehyung gemetar—dia siap berlutut di kaki Jeongguk, memohon digagahi dengan suara ini.

Maka dia menghela napas, merasakan seluruh tubuhnya berdenyut antisipatif saat dia menerima panggilan itu. Dia menarik napas tajam saat akhirnya kamera mereka terkoneksi dan Jeongguk benar—mendapati apa yang memenuhi layar sekarang, Taehyung pasti akan sangat menyesal jika melewatkan ini.

Hei,” sapa bajingan sial di seberang sana sementara mata Taehyung mengamatinya dengan sangat seksama—bahkan jauh lebih fokus daripada saat dia mem-plating makanannya.

Dia terengah dan menelan ludah dengan sulit sementara Jeongguk menyunggingkan senyuman bajingan di wajahnya yang setengah mengantuk, “Bagian mana yang bisa Wiktu bantu untukmu?”

Taehyung mengerang.


Glosarium:

  • Ajik: panggilan ayah untuk lelaki berkasta.

  • Biang: panggilan ibu untuk perempuan berkasta.


Taehyung mengancingkan chef jacket-nya di depan cermin loker khusus karyawan lelaki.

Dia menatap wajahnya yang agak sembab kelelahan dan kerutan yang nampak permanen di keningnya—dia benci memulai hari dengan amarah karena itu berarti dia akan menghabiskan sisa hari itu dengan amarah. Menyadari sepenuhnya ketidakmampuannya dalam mengendalikan suasana hati dan emosinya sendiri. Namun entah mengapa kehidupan selalu memiliki sarapan untuk disurukkan ke hidungnya, membuatnya jengkel hingga ke tulangnya.

Semalam, setibanya di rumah ayahnya sudah tidur maka dia bergegas ke kamar—membereskan diri, menolak mandi karena sudah terlalu dingin lalu pergi ke Merajan untuk berdoa sebentar sebelum kembali ke kamar. Memutuskan jika dia berpura-pura tidak tahu, maka ayahnya juga akan lupa.

Namun dia salah, tentu saja.

Pagi itu ayahnya sendiri yang membangunkannya, pukul lima pagi dan langsung menegurnya karena pulang terlalu malam dalam kondisi setengah terbangun dan badan remuk redam. Ayahnya keluar satu jam kemudian, setelah memberikan wejangan panjang yang sama sekali tidak didengarkan Taehyung dan menyisakan nyaris tidak banyak waktu untuk Taehyung bersiap-siap bekerja. Maka dia menyeret dirinya sendiri bersiap dan memutuskan akan mandi di hotel saja.

Dia bahkan mengabaikan Lakhsmi yang menawarkan sarapan sebelum dia sendiri dijemput kekasihnya dan berangkat bekerja. Dia benar-benar berada di suasana hati paling buruk namun tidak menolak saat Lakhsmi membekalinya dengan sekotak makanan buatannya. Dia menguncir rambutnya yang kusut asal-asalan dan bergegas menuruni tangga menuju motornya—memutuskan bermotor akan membuat kepalanya sedikit rileks saat setan cilik itu memutuskan untuk merusak suasana hatinya lebih buruk lagi.

Taehyung menyadari dia berbakat sekali melakukannya—merusak suasana hati Taehyung maksudnya.

Ayu bilang Ajikgung.

Taehyung menggertakkan giginya. Sekarang, selain ibu dan kakaknya serta Tuniang, dia punya satu perempuan lagi untuk diurus. Seolah tiga perempuan belum cukup untuk membuatnya pening, ayahnya memutuskan dia perlu lebih banyak perempuan lagi di hidupnya—untuk menjilati egoisme lelakinya, membuatnya merasa agung dan memiliki banyak pelayan.

Jika saja lelaki tua itu paham caranya mengurus perempuannya, mungkin Taehyung tidak akan selelah ini. Masalahnya dia menambah perempuan dan menolak mengurus mereka. Tidak tahu cara mengurus mereka sama sekali, membiarkan Taehyung bertanggung jawab atas mereka semua.

Panjang umur ayahnya.

Taehyung melicinkan pakaiannya, menghela napas dan mencoba menenangkan debaran jantungnya yang melonjak saat dia marah. Ada begitu banyak emosi yang ingin dilepaskan hari ini dan dia sangat berharap dapur berjalan aman hari ini karena dia tidak mau melampiaskan ini pada siapa pun.

“Maka bukankah itu tidak adil untukku jika kau melampiaskannya padaku jika itu bahkan tidak berhubungan denganku?”

Dia tidak memahami konsep itu.

Taehyung meraih harnet dan mulai merapikan rambutnya seraya memikirkan ucapan Jeongguk kemarin sementara di sekitarnya semua anak-anak pagi mulai mengisi loker—bergerak perlahan agar tidak mengganggu singa buas yang sedang berdiri di depan cermin dengan seragam chef-nya lengkap dengan apron yang sudah diikat kencang di pinggangnya yang kecil.

Tangannya bergerak nyaris tanpa benar-benar menyadarinya—menggelung rambutnya rapi, mengikatnya dengan karet hitam tipis lalu menggunakan harnet untuk menjaga semuanya tetap di dalam. Dia menatap dirinya sendiri.

Taehyung tidak pernah memahami ketidakadilan melampiaskan emosi kepada orang lain karena dia selalu menjadi kantung tinju emosi ayahnya. Belum lagi ketika dia bersikap tidak sesuai dengan apa yang keluarga mereka inginkan, ibu dan kakaknya harus menanggung semuanya. Dia tidak paham bahwa melampiaskan kekesalan karena keadaan atau karena hal lain kepada orang lain merupakan kesalahan yang tidak boleh dilakukan.

Karena dia selalu menjadi korbannya.

Taehyung meraih toque-nya, memasangnya di kepalanya lalu meluruskannya. Memastikan benda itu terpasang kuat di kepalanya sebelum menghela napas dalam-dalam, berusaha menelan amarahnya yang mulai bergolak seperti sepanci sup. Taehyung merasa kepalanya berdenyut dan ini bahkan baru pukul tujuh pagi—terlalu pagi untuk merasa marah.

Dia meraih ponsel di saku celananya, teringat pesan Jeongguk yang belum dibalasnya dan membuka ruang obrolan mereka.

I love you.

Senyuman kecil terbit di bibirnya—di tengah segala pusaran kesintingan ini, setidaknya dia memiliki Jeongguk yang akan selalu menjaganya tetap waras. Akan menjaganya tetap di bumi dan tidak tenggelam karena sungguh, Taehyung tidak sanggup lagi jika dia harus berdiri sendirian dengan semua perempuan yang dilemparkan ayahnya padanya.

Taehyung menggenggam Jeongguk, erat dengan jemarinya—seperti bayi menggenggam botol susunya atau mainan favoritnya.

Dia mengetik: I love you too

Dia berhenti.

Dia menghapusnya.

Dia mengetik lagi: Have a nice day too for you.

Dia diam, menatap kata-kata itu menari di layar ponselnya. Lalu memencet kirim.

Menghela napas tajam, Taehyung belum sanggup melakukannya. Mengakui perasaan itu pada Jeongguk akan membuat perasaan itu semakin subur—dia tidak bisa memelihara perasaan itu ketika hatinya belum teguh dan siap dengan segalanya. Dia belum berani membuang semuanya demi bersama Jeongguk—belum berani bermain kucing-kucingan dengan kedua keluarga besar mereka mengenai orientasi seksual mereka.

Dia belum siap.

Taehyung menyelipkan ponselnya kembali ke dalam sakunya lalu menghela napas dan berbalik. Mendorong pintu loker terbuka dan menuju presensi karyawan untuk memindai sidik jarinya sebelum ke dapur mengecek breakfast buffet yang akan buka sebentar lagi.

Dia melangkah melewati lorong menuju pintu dapur—setiap hotel memiliki sistem jalur belakang karyawan yang unik. Pada hari pertama bekerja, anak magang yang tersesat merupakan pemandangan yang normal maka saat melihat dua anak magang kikuk yang berdiri di persimpangan dengan wajah bingung, Taehyung menghela napas. HRD selalu melakukan ini, entah sudah berapa kali Taehyung menegur mereka.

“Kalian tidak diberi tahu HRD jalannya?” Tanyanya dengan suara yang dianggapnya pelan namun kedua perempuan itu melonjak kaget—menoleh panik dan dengan cepat melirik dada kirinya, mencari name tag.

“Pagi, Chef!” Sapa mereka nyaris kompak dan terlalu keras sa