Gourmet Meal 131
tw // age gap , mention of pedophilia . cw // a little spice .
note. Panggilan 'setan cilik' di sini terjemahan dari kata 'little devil' dan sama sekali tidak berarti offensive dalam bahasa Inggris. Panggilan biasa antarsudara karena saya rasa.... cocok. Trims! x
Namun mungkin dia terlalu cepat senang karena ketika dia akhirnya memarkir motornya di halaman griya milik Devy, dia merasa dia ingin muntah.
Dia tidak paham sama sekali dengan isi kepala ayahnya. Apakah dia lupa anaknya lahir tahun 1984? Atau dia memang sama sekali tidak bisa menghitung usia Taehyung karena sibuk memperlakukannya seperti bayi alih-alih lelaki dewasa yang mandiri? Dan gagal menyadari perbedaan usianya dengan Devy yang lebih dari sepuluh tahun?
Atau mungkin dia merasa baik-baik saja anaknya dilabeli pedofilia karena menikahi gadis yang 10 tahun lebih muda darinya dan Taehyung sungguh tidak berencana menambahkan bencana ke dalam hidupnya—khususnya perempuan. Dia punya tiga perempuan.
Satu perempuan lagi, khususnya perempuan Brahmana yang gemar memaksakan dirinya pada Taehyung jelas bukanlah perempuan yang akan dipilihnya untuk membantunya membangun kehidupan—bahkan jika dia terpaksa harus melakukannya.
Namun dia tetap melakukan ini. Seberapa inginnya pun dia melarikan diri karena jika dia tidak melakukannya, setan cilik itu akan melaporkannya ke ayahnya dan Tuhan tahu apa yang akan terjadi pada ibunya yang hangat jika ayahnya tidak puas pada kelakukannya. Maka Taehyung memarkir motornya di halaman griya yang rindang, meraih kantung kertas yang terisi beberapa potong pastry yang dipesannya mendadak siang tadi sebelum makan dan dikerjakan saat itu juga oleh anak pastry untuknya.
Dia menatap isi kantung kertas berlogo Alila besar itu dengan tidak ikhlas—Tuhan tahu betapa bencinya dia melakukan ini. Dia merogoh sakunya, hendak meraih ponsel untuk menghubungi si Little Devil bahwa dia sudah di rumahnya saat seorang gadis berlari dari dalam rumah dengan rambut panjang yang mengikal di bawah.
“There she is,” pikir Taehyung masam, menyimpan kembali ponselnya dan mendesah. Toh, dia juga mandi tadi membubuhkan parfum ke pakaiannya—semuanya demi ibunya. Dia tidak melakukan ini demi Devy. Ini demi ibu dan kakakknya—demi melindungi mereka dari ayahnya.
Jika Guest Comment Card dari Devy baik, maka ayahnya tidak akan marah. Semua senang.
“Wik!” Seru gadis itu, tersenyum cerah di bawah sinar lampu teras rumahnya.
Taehyung menghela napas, menyunggingkan senyuman terbaik yang dimilikinya—mendorong jauh-jauh perasaan dongkol yang berusaha merambat ke hatinya. Dia tidak boleh merusak malam ini. Devy menandak ke arahnya seperti seekor kucing—mengenakan kaus dan celana longgar berwarna hangat. Dia mengikat rambutnya menjadi pony tail dengan selapis poni tipis di keningnya, dia membubuhkan riasan wajah tipis di wajahnya—Taehyung menyadari itu.
Dia nampak cantik, jika Taehyung suka keindahan jenis itu. Sayangnya dia tidak menyukainya karena kakaknya jauh lebih cantik dengan kecantikan purbanya yang eksotis. Devy tiba di depannya dengan selapis aroma parfum feminim yang sejenak membuat Taehyung kebingungan—tidak terbiasa mencium aroma fruity sekuat itu.
“Halo,” sapanya—berusaha keras tidak terdengar menggeram atau membentak. “Maaf terlambat.” Katanya, melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan menyadari dia tiba lima belas menit terlambat.
“Tidak apa-apa!” Sahut gadis itu, tersenyum lebar.
Taehyung mengulurkan kantung kertas di tangannya yang langsung diterimanya dengan seruan senang. Dilihat dari mana pun, dia lebih cocok jadi adik Taehyung alih-alih istrinya. Dia tidak bisa membayangkan dirinya harus mengurus anak ini seumur hidup.
Lalu tambahkan bayi di sana.
Ayahnya sedang merencakan pembunuhannya.
Devy kemudian mengajaknya masuk, Taehyung menyusuri halaman griya yang rindang dengan banyak pohon kamboja berdahan besar dan rendah. Meniupkan aroma lembut yang sangat akrab dengan dirinya sendiri sebagai seorang yang lahir dan besar di Bali. Suara gemericik air dari kolam berair terjun buatan di sudut serta suara binatang malam membuatnya sedikit banyak menyukai tempat itu.
“Ajik! Wikgung datang!” Seru Devy ceria dan Taehyung menghela napas sebal—berapa kali dia harus memperingatinya agar tidak memanggil Taehyung dengan sebutan 'Wigung' karena itu milik Jeongguk.
Dia tidak sudi siapa pun menggunakan panggilan itu untuknya kecuali Jeongguk. Nanti, Taehyung akan membicarakannya nanti. Dan memastikan setan cilik itu tidak mengadu ke ayahnya. Dengan keras.
“Swastyastu.” Sapanya sopan saat melepaskan sepatunya di depan teras dan seorang pria paruh baya bangkit dari sofa ruang tengah—mengenakan celana longgar dan kaus polo yang membalut tubuhnya yang berisi.
Taehyung tersenyum—senyuman yang selalu digunakannya saat dia harus bertemu orang-orang sebagai kewajiban adat yang ditanggungnya sebagai anak pertama dari anak lelaki pertama. Senyuman palsu yang dilatihnya bertahun-tahun hingga nampak natural dan tulus.
Dia menangkupkan tangannya di dada sebelum menjabat tangan ayah Devy yang sama sekali tidak diingatnya sebagai teman ayahnya. “Swastyastu, Ajik.” Sapanya tersenyum lebar. “Maaf, tiang terlambat. Tadi ada pesanan mendadak sebelum bisa pulang.”
Ayah Devy menatapnya sejenak sebelum tersenyum dan menepuk bahunya hangat. “Oh, tidak apa-apa.” Dia mengusap bahunya hangat walaupun Taehyung nyaris 10 senti lebih tinggi darinya. “Belum makan, 'kan? Ayo makan-makan.” Dia membimbing Taehyung ke ruang makan.
Taehyung mengangguk, “Maaf jadi menunda waktu makan siang Ajik dan Biang,” dia menyalami ibu Devy yang sekarang tersenyum lebar—lebar sekali hingga Taehyung takut dia melukai pipinya sendiri.
Dia nampak berpuas diri, seolah baru saja memenangkan lotere karena mendapatkan Taehyung sebagai calon suaminya. Jika saja Taehyung bisa bersimpati padanya karena dia tidak terlalu antusias dengan calon istrinya.
Taehyung disambut di meja makan yang terisi menu lengkap yang membuatnya merasa tidak enak. Ada gurami bakar yang harum, plecing kangkung lengkap dengan kacang tanah, nasi hangat dan pelengkap lainnya—bahkan buah-buahan. Taehyung mengerjap—mereka benar-benar menginginkan Taehyung jadi menantu mereka padahal sekara teknis anak mereka akan nyerod atau turun kasta jika menikahinya?
Apa yang mereka incar dari keluarga Taehyung? Dia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak berpikir begitu. Keluarga Brahaman jarang merelakan anak perempuan mereka menikah dengan kasta di bawah mereka. Apakah karena Taehyung berasal dari salah satu Puri yang masih sangat aktif? Mungkin posisinya dianggap lebih menjanjikan?
Namun dia tidak bisa menemukan motif apa pun dari ekspresi hangat keluarga Devy yang menyambutnya seperti anak lelaki kandung mereka. Devy duduk di sisinya, sudah jelas dan membantunya—sangat membantunya untuk makan dan Taehyung harus menendang kakinya di bawah meja karena tidak nyaman dengan caranya menyentuh kaki Taehyung seraya mempertahankan senyuman ramahnya pada ayah Devy.
“Jauhkan kakimu.” Gertaknya di bawah senyumannya saat gadis itu menuangkan air mineral ke gelas Taehyung.
Alih-alih menurut, gadis itu mendongak—menatapnya menantang dengan matanya yang dihiasi lensa kontak berwarna natural. “Jika aku tidak mau?” Balasnya lirih lalu membelitkan kakinya ke betis Taehyung hingga dia nyaris mendesis dan terlonjak kaget dari kursinya—syukurlah dia berhasil menahan diri dan hanya mengeluarkan suara batuk keras yang membuat kedua orang tua setan cilik itu mendongak.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya ayahnya dan Devy memasang wajah khawatir, mengusap bahunya dan Taehyung harus menahan reaksi impulsifnya untuk mengedikkan tangan Devy menjauh dari tubuhnya.
Taehyung meneguk airnya, berusaha menenangkan diri. “Tidak, Jik, tidak apa-apa.” Katanya tersenyum, menendang kaki Devy di bawah meja hanya untuk mendapati kakinya kembali menempel di betisnya—seperti lintah.
Demi Tuhan!
Dia kemudian ditinggalkan berdua di teras dengan Devy untuk mengobrol dan sungguh, hal terakhir yang diinginkan Taehyung sekarang adalah pulang, mandi lalu menelepon Jeongguk. Dia sudah tidak punya tenaga lagi meladeni si setan cilik yang sekarang duduk di sebelahnya tersenyum lebar seperti seorang psikopat. Ponselnya bergetar sejak tadi—dia melihat nama Jimin dan Jeongguk. Teringat dia belum mengabari Jimin sejak kemarin dan Jeongguk sejak makan siang karena dia sibuk mengurus gurita menjijikkan untuk menu tamu lalu terburu-buru ke griya Devy.
“Wikgung,”
“Jangan panggil aku Wikgung. Wik Tjok atau Taehyung saja.” Koreksinya seketika, gatal ingin meraih ponselnya namun juga tidak bisa mengabaikan sopan santunnya sendiri.
Devy mencibir. “Memangnya kenapa, sih? Itu, 'kan, nama Wik.”
Taehyung mengerutkan alisnya. Dia ini memang tidak bisa menurut, ya? Lalu bagaimana dia berpikir dia bisa menjadi istri seseorang jika masih bertingkah seperti ini?
Bali menganut sistem patriarki yang keras nyaris absolut—perkataan lelaki masih menjadi sebuah keharusan, bahkan kewajiban bagi perempuan untuk didengarkan. Keputusan berada di tangannya, apalagi di sistem keluarga berkasta seperti Taehyung. Devy harus belajar mendengarkan dan menurut padanya jika dia ingin menjadi istrinya—walaupun Taehyung sedang memikirkan cara untuk meloloskan diri. Dia diizinkan memiliki suara, Taehyung tidak sekolot itu namun dia juga tetap harus mendengarkan jika Taehyung mengatakan sesuatu.
“Kau harus mendengarkanku,” dia akhirnya memutuskan menggunakan kuasanya untuk mengatur setan cilik di sisinya yang langsung mendongak mendengar perubahan nada suaranya. “Jika kau memang mau jadi istriku. Kurasa itu hal yang sangat wajar di Bali.”
Devy sejenak tertegun—menyadari perubahan aura dan nada suara Taehyung. Dia tidak pernah menggunakan sisi dirinya yang itu pada siapa pun perempuan di rumahnya kecuali Tuniang saat dia menyebalkan. Sebenci apa pun dia pada ayahnya, dia mewarisi sedikit sifat bajingannya. Dan sifat berkuasanya, toxic masculinity-nya.
Dia pewaris Puri, jelas dia harus memiliki itu.
“Ya,” kata setan cilik itu akhirnya, mengerjap. “Nggih,” katanya lagi, lebih normal dari sebelumnya dan Taehyung menyadarinya dengan lega. “Wik Tjok.”
Taehyung menghembuskan napas. “Good.” Katanya, bersandar di kursi—mengamati halaman di depannya sementara Devy duduk di sisinya.
“Wik kerja di mana?” Tanyanya kemudian dan Taehyung menghela napas—dia memang harus melakukan ini ternyata.
“Alila Karangasem, di Manggis.” Sahutnya dan Devy mengeluarkan suara 'ooh' panjang yang halus saat mengetahuinya. “Kau kuliah di mana?”
“Udayana.” Devy tersenyum ceria dan Taehyung balas tersenyum—dia sebenarnya anak manis jika saja dia menurut dan tidak bersikap menyebalkan, mendesakkan dirinya ke ruang personal Taehyung. Senyumannya menular. “Kedokteran Gigi.”
Alis Taehyung naik mendengarnya. “Bukankah kau seharusnya koas sekarang?” Tanyanya.
Devy mengangguk. “Sedang menunggu wisuda, lalu baru bisa mendaftar untuk koas.” Katanya lugas, nampak menyukai jurusannya dan Taehyung menghargai perempuan yang memiliki kesukaan pada jurusan kuliahnya—paham apa yang dilakukannya, persis seperti kakaknya.
Namun kekagumannya langsung meletus seperti balon sabun saat Devy melanjutkan, “Kata Ajik, koas setelah menikah juga tidak apa-apa.”
Anak ini memang terobsesi menikah sepertinya. Taehyung mendesah berat, “Memangnya kau tidak ingin menikmati waktumu melajang dulu sebelum menikah?” Tanyanya. Setidak suka apa pun Taehyung padanya, dia tetap seorang dewasa yang menganggap Devy adiknya—dia mencemaskan keputusan dini ini.
Devy punya hidup membentang di hadapannya, siap dijelajahi. Petualangan baru yang menantinya, namun dia memutuskan untuk mengikat dirinya pada lelaki pertama yang ditawarkan ayahnya. Membatasi geraknya sebagai perempuan yang mendapat banyak sekali pengurangan hak setelah menikah karena tanggung jawab rumah tangga.
“Tidak.” Tandas gadis itu, tegas hingga Taehyung menoleh—kaget. “Aku bisa menikmati banyak hal juga setelah menikah.” Dia mengedikkan bahu santai seolah menikah hanyalah perkara membeli pakaian baru yang digemarinya.
“Kau tahu aku ini 14 tahun lebih tua darimu, 'kan?” Tanya Taehyung lagi, alisnya berkerut dan merasa mual memikirkan pernikahan dengan anak kecil ini. Bagaimana dia akan mengurus Taehyung sementara mengurus dirinya sendiri saja rasanya dia belum sanggup. “Empat belas tahun, Dayu.”
Emosinya rapuh sekali, dia belum stabil sama sekali. Dia seharusnya pergi jalan-jalan dengan teman-temannya, pulang tengah malam, minum hingga mabuk sesekali, menikmati hidup lajangnya sebelum mengabdikan dirinya pada suami sepenuhnya—bahasa yang akan digunakan ayahnya. 'Mengabdikan' diri.
Menilik dari caranya dilayani dua perempuan, Taehyung paham betapa ayahnya menggemari kata yang secara tidak langsung meletakkan posisi perempuan sebagai inferior itu. 'Mengabdi'.
Memangnya dia siapa? Tuhan?
Devy menatapnya, nampak tidak menangkap masalahnya sama sekali sementara Taehyung berjuang dengan dirinya sendiri agar tidak jijik pada kenyataan itu. Dia akan menikahi anak kecil, demi Tuhan. Ayahnya melemparkannya ke lembah dosa lagi dan lagi—tidak juga puas dengan agendanya.
“Lalu kenapa?” Tanya Devy kemudian. “Lelaki memang seharusnya lebih tua dari perempuan dalam pernikahan, 'kan?”
Taehyung nyaris mengerang frustrasi. Lalu kenapa katanya??
Apakah hanya Taehyung yang waras di dunia ini? Apakah hanya dia yang memikirkan kondisi mental anak ini? Anak dua puluh dua tahun yang baru saja menetas di kehidupan yang keras ini? Belum, karena dia masih harus menjalani banyak stase sebelum siap bekerja—siap menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa dengan tagihan seumur hidup.
Bahkan orang tuanya pun tidak menganggap perbedaan umur 14 tahun ini adalah sesuatu yang mengkhawatirkan.
Kepalanya pusing sekali saat akhirnya dia berkendara kembali pulang setelah berpamitan dengan keluarga Devy karena sudah terlalu malam. Devy mengantarnya hingga halaman, melambai ceria padanya. Terlepas dari betapa Taehyung tidak tertarik pada prospek menikahinya, Devy anak manis. Dia cerdas, dia memiliki ketertarikan yang besar pada jurusannya sendiri—Taehyung tidak keberatan mendengarkannya menjelaskan tentang tugasnya.
Dia layak menjadi adik Taehyung.
Seperti Yugyeom mungkin yang berjarak 12 tahun dengan Jeongguk—dekat sekali dengan kakaknya, lengket karena Jeongguk memanjakannya nyaris seperti seorang raja. Taehyung tidak membayangkan memiliki Devy sebagai istrinya—istri. Sinting.
Dia berkendara pulang, senang memutuskan menggunakan motor hari ini karena angin malam selama perjalanan yang menampar wajahnya membantunya menjernihkan pikirannya yang berat setelah bertemu calon jodohnya yang praktis seorang anak kecil. Mungkin tidak terlalu bocah, namun jika dibandingkan dengan Taehyung yang nyaris 40 tahun.....
Taehyung menggeleng pelan, mengenyahkan pikiran itu dan mengoper gigi motor kesayangannya yang menderum di atas jalanan menuju rumahnya. Ayahnya tidak terlalu suka pilihan kendaraannya—Wrangler Jeep Hard Top dan Bullit Bluroc retro 125cc buatan Inggris. Tapi siapa yang peduli pendapat ayahnya? Taehyung membeli semuanya dengan tabungannya sendiri dan ayahnya bisa menikmati amarahnya sendirian.
Motornya meluncur masuk ke garasi Puri-nya, diparkir di sisi mobilnya. Dia melepas helmnya dan langsung bergegas memasuki Puri melewati pintu kecil di sisinya yang mengarah ke halaman rumahnya. Pintu kamar ayahnya sudah tertutup dan dia menghembuskan napas lega, senang dia tiba saat ayahnya sudah tidur. Bergegas ke kamarnya sebelum siapa saja menyadari dia pulang, Taehyung langsung membanting pintunya tertutup.
Dia merogoh sakunya, meletakkan jaketnya di kursi dan mengecek pesan. Jeongguk yang pertama diraihnya, menekan tombol 'telepon' pada nomornya dan menekan hands-free seraya melepaskan pakaiannya.
Terdengar nada sambung beberapa kali, Taehyung melirik jam—menyadari sudah pukul sebelas lebih dan berpikir Jeongguk pasti sudah tidur. Dia hendak mematikan sambungan saat telepon diangkat.
Sejenak suara erangan mengantuk Jeongguk terdengar di kamar Taehyung dan membuatnya seketika merinding—merindukan sensasi terbangun di sisinya dengan aroma tubuh Jeongguk yang pekat, ciuman lembut di wajahnya, dan seks lambat sebelum memulai hari....
Dan dia menegang—semudah itu. Dia mengumpat.
Lalu untuk memperkeruh suasana, suara Jeongguk yang parau terdengar—jelas sekali. “Wigung?” Dia menghela napas, berusaha menjernihkan kepalanya yang mengantuk—menggeliat di kasurnya dengan suara lenguhan khas orang mengantuk yang membuat Taehyung semakin pening.
“Wawu mantuk, nggih?” Baru pulang, ya?
Oh, fuck! Taehyung bergidik, seluruh tubuhnya bereaksi terhadap suara Jeongguk dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal. Dia menjatuhkan pakaiannya ke lantai, meraih ponselnya dan mematikan hands-free. Berbaring di ranjang yang berderit menerima beban tubuhnya, dia menempelkannya ke telinga.
“Hei,” sapanya, sedikit terengah. “Kau sudah tidur? Maafkan aku tidak mengecek jam.”
Jeongguk melenguh sekali lagi dan Taehyung bisa saja menyenangkan dirinya sekarang di sini, mendengarkannya melenguh berusaha mengumpulkan nyawanya demi mendengarkan cerita Taehyung di tengah malam. “Ya,” katanya parau, menguap tertahan. “Tadi aku makan mie instan sebelum tidur, wajahku bengkak.”
Taehyung tersenyum, “Kembalilah tidur.” Katanya kemudian, tidak ingin mengambil risiko mengubah telepon romantis mereka menjadi phone call sex karena hasratnya sendiri yang tidak tahu diri. “Aku akan mandi lalu tidur.”
“Maaf,” gumam Jeongguk mengantuk dan Taehyung terserang perasaan hebat ingin menyusupkan diri ke dalam pelukannya lalu tidur di sana—pasti hangat dan nyaman sekali. Jeongguk selalu membelainya hingga lelap, mendendangkannya lagu lembut setengah mengantuk yang disukainya. “Kau bisa menceritakan makan malam dengan calon jodohmu besok, oke?”
Taehyung mengedikkan bahunya, “Tidak penting, sih. Tapi jika kau ingin tahu, tidak apa-apa.” Dia memisahkan kancing celana jinsnya, menggerakkan pinggulnya agar celana itu turun tanpa disentuh dan menyadari ukuran selangkangannya dengan jengkel.
“Kau tahu,” katanya bergegas, mengusapnya—dia harus membereskannya atau dia tidak bisa tidur. “Kembalilah tidur. Sana, cepat. Aku harus mengurus,” dia berdeham. “Beberapa hal.” Setengah berharap Jeongguk menawarkan diri untuk membantunya.
Dia bisa mendengar senyuman di bibir Jeongguk saat dia menangkap maksud Taehyung. “Hmm...” Gumamnya parau dan panjang, Taehyung bersumpah dia yakin Jeongguk sengaja melakukannya. “Apa itu 'beberapa hal'? Boleh kubantu?“
Taehyung menahan napasnya, jantungnya berdebar. Dia merangkak dari kasurnya, menyelot pintu kamarnya agar keluarganya yang sama sekali tidak tahu privasi dalam memasuki kamarnya tidak tiba-tiba menjeblak masuk ketika dia mengurus dirinya sendiri. Dia bergegas kembali ke kasur, jantungnya menyumbat kerongkongannya sekarang karena tegang.
“Wigung?” Panggil Jeongguk dari seberang, suaranya berat dan Taehyung nyaris merintih karenanya. “Kau... tegang?” Goda yuniornya itu, terkekeh parau dan terhibur. “Sungguh? Dan karena apa??”
“Oh, diam!” Gerutu Taehyung, mengusap tubuhnya yang tegang. “Ini karenamu, oke?!”
“Hei?” Balas Jeongguk tidak terima, geli dan kantuk mulai lenyap darinya sekarang—dia tertarik membantu Taehyung. “Aku hanya bernapas??”
Taehyung mengerang lalu terlonjak kaget saat Jeongguk mengganti sambungan mereka menjadi video call. Nyaris menjatuhkan ponselnya ke kasur. “Kau sinting, ya?!” Desisnya ke ponselnya, tidak menerima panggilan itu.
“Percayalah. Kau tidak akan mau melewatkan ini,” gumam Jeongguk dari seberang dengan suara Jeongguk 'Ayo Bercinta' Nomor 1-nya yang membuat tulang punggung Taehyung gemetar—dia siap berlutut di kaki Jeongguk, memohon digagahi dengan suara ini.
Maka dia menghela napas, merasakan seluruh tubuhnya berdenyut antisipatif saat dia menerima panggilan itu. Dia menarik napas tajam saat akhirnya kamera mereka terkoneksi dan Jeongguk benar—mendapati apa yang memenuhi layar sekarang, Taehyung pasti akan sangat menyesal jika melewatkan ini.
“Hei,” sapa bajingan sial di seberang sana sementara mata Taehyung mengamatinya dengan sangat seksama—bahkan jauh lebih fokus daripada saat dia mem-plating makanannya.
Dia terengah dan menelan ludah dengan sulit sementara Jeongguk menyunggingkan senyuman bajingan di wajahnya yang setengah mengantuk, “Bagian mana yang bisa Wiktu bantu untukmu?”
Taehyung mengerang.
Glosarium:
Ajik: panggilan ayah untuk lelaki berkasta.
Biang: panggilan ibu untuk perempuan berkasta.