Gourmet Meal 141

cw // public quickie.


Jeongguk berhenti beberapa meter di depan pintu masuk Alila yang merupakan jalan menurun ke arah kompleks hotel dan memarkir Yaris-nya di sana sebelum meraih ponselnya.

Dia terlambat nyaris satu jam karena masalah protein yang salah potong dan harus mengurus potongan daging dulu sebelum akhirnya bisa menyerahkan kendali pada Namjoon dan meloloskam diri dari dapur.

Jeongguk sebenarnya tidak punya waktu untuk mandi namun dia memaksakan sisa waktunya untuk mandi karena tidak mau duduk di sebelah Taehyung dengan aroma seafood dan daging merah mentah.

Dia membuka laci dasbor saat ponsel menyala dengan nomor Taehyung terpanggil dan meraih parfum cadangannya, dia menyemprotkan parfum sekali ke kabin mobil lalu mengibaskannya agar aroma mobil lebih layak.

Dia belum pernah menyambut Taehyung ke mobilnya. Menyadari dengan resah pakaiannya yang digantung di jok belakang—pakaian adat dan beberapa pakaian biasa karena dia praktis tinggal di mobilnya. Dia menjulurkan tubuhnya ke belakang, berusaha merapikan semampunya.

Dia menoleh saat sambungan telepon mati tidak terangkat dan baru hendak kembali menelepon Taehyung saat dia melihat chef senior itu melangkah keluar gerbang Alila.

Dan terpesona.

Taehyung bisa saja mengenakan kemeja denim ringan dan halus, jins longgar dengan rambut diikat longgar rendah di tengkuknya—semua nampak sangat natural tapi dia terlihat seperti model papan atas.

Atau dewa muda.

Jeongguk bersandar di kursinya, menatap bagaimana pemuda itu melangkah dengan tegas menghampiri mobilnya dengan alis berkerut—dia selalu mengerutkan alisnya. Nyaris menggelikan karena dia selalu nampak terganggu bahkan jika seseorang bernapas terlalu keras. Jeongguk ingin mengecup kerutan itu, membuatnya rileks dan menyerah di bawah genggamannya.

Taehyung mempercepat langkahnya saat melihat mobil Jeongguk, menoleh ke jalan sebelum bergegas menghampiri pintu penumpang yang berada di badan jalan dan membukanya. Dia menariknya terbuka dan lampu kabin menyala; Jeongguk menahan napas saat cahaya menyinari wajah Taehyung.

Karena dia akan selalu menjadi manusia paling indah yang pernah ditemui Jeongguk.

Taehyung menyelipkan dirinya masuk disusul aroma jalanan lembut, parfum maskulin tipis, dan sabun mandi sebelum suara debum pintu ditutup dan lampu mati.

Jeongguk mendesah, hendak memprotes Taehyung karena tidak menjawab panggilannya saat satu ciuman didaratkan ke bibirnya—lembut, basah, cepat dan terasa pekat seperti permen karet peppermint.

“Wow.” Katanya menyerigai, kaget namun juga senang saat Taehyung mundur dan memasang sabuk pengamannya. “Untuk apa itu?”

“Karena kau terlihat pantas mendapatkan ciuman.” Taehyung tersenyum dalam gelap—Jeongguk bersyukur dia memarkir mobilnya cukup jauh dari jangkauan lampu temaram Alila dan juga pos Security.

“Kotak makanmu akan kukembalikan besok.” Kata Taehyung dan Jeongguk mengangguk. “Kau mau kubuatkan roti isi atau?”

Alis Jeongguk naik sebelah, antisipatif. “Apa saja.” Katanya dengan jantung melonjak senang—membayangkan Taehyung akan memasakkannya sesuatu.

Taehyung mengangguk, menyeka anak rambutnya. “Baiklah. Kutitipkan Security besok.”

Dia terkekeh saat menyalakan mesin mobilnya. “Kita ke Lotus Seaview?” Tanyanya dan Taehyung mengangguk. “Aku belum memesan meja, maaf. Dapur sibuk hari ini, jadi semoga tidak terlalu ramai.”

Taehyung melirik jam tangannya, “Kurasa mungkin lumayan penuh.” Sahutnya saat Jeongguk mengemudi mulus menuju arah Karangasem.

Taehyung kemudian mendesah, menoleh ke jok belakang dengan iseng. “Masih berantakan ternyata.”

Jeongguk meringis, “Begitulah. Aku benar-benar harus membereskannya ternyata. Akan kulakukan hari Sabtu.”

Taehyung menegang dalam kegelapan. “Kenapa Sabtu?” Tanyanya nyaris ketus hingga Jeongguk menoleh ke arahnya sekali sebelum kembali memandang jalanan—gagal melihat ekspresinya dalam kegelapan.

“Karena aku libur hari itu.” Sahut Jeongguk lebih ke bertanya alih-alih pernyataan—tidak yakin kenapa Taehyung bersikap begitu.

Lalu pemahaman menyambar kepalanya detik berikunya dan dia langsung meraih tangan Taehyung, meremasnya hangat.

“Wigung,” katanya lembut. “Aku tidak melakukanya karena aku akan menjemput Mirah. Aku melakukannya hari itu karena aku libur. Oke?”

Taehyung masih diam dan Jeongguk mendesah—merasakan hatinya berdenyut nyeri, takut Taehyung akan mendadak meninggalkannya lagi seperti dua tahun lalu. Hanya karena salah paham sepele.

“Baiklah.” Jeongguk meremas tangannya sekali sebelum bergegas melepaskannya untuk mengganti gigi. “Aku tidak akan membereskannya. Akan kubereskan minggu depan. Bagaimana?”

Taehyung masih diam, nampak berpikir dan Jeongguk menunggu—tidak yakin apa yang bisa dilakukannya untuk membuat Taehyung percaya. Namun akhirnya pemuda itu menghela napas.

“Oke.” Katanya, mengangguk dan Jeongguk menghembuskan napas lega.

Mereka memasuki wilayah Candidasa yang ramai oleh wisatawan yang datang untuk snorkeling. Jeongguk memperlambat laju mobilnya, memprioritaskan pejalan kaki yang tumpah ke jalan mencari makan malam di restoran yang berjajar di sepanjang jalan. Menu-menu dipasang ditrotoar, bisa dilihat oleh tamu sebelum memutuskan di mana mereka makan.

Jeongguk memasang sein, membelok ke arah lahan parkir Lotus Seaview, beach club milik Lotus Bungalows—salah satu hotel di sekitaran Candidasa. Mereka memiliki bar yang lepas menghadap laut dengan open kitchen yang menyajikan menu seafood dan western.

Dia memarkir mobilnya, menarik rem tangan sebelum menoleh ke Taehyung yang balas menatapnya. Di depan mereka terbentang pantai dengan pasir vulkanik, suara deburan ombaknya sejenak membuat saraf Jeongguk rileks dan dia lapar.

“Kemari,” gumamnya lembut, mengulurkan tangannya dan Taehyung langsung menyambutnya.

Jeongguk mengecup bibirnya, kecil sebelum mengecup kening dan kedua pipinya sayang—merasakan jenggot tipis Taehyung yang sedikit tajam di bibirnya.

“Jangan marah-marah lagi, ya?” Dia mengusap rambut Taehyung sayang. “Ayo makan, aku traktir.”

Jeongguk melepaskan Taehyung. Mereka berdua keluar dari mobil dan menuju pintu masuk restoran. Langsung disambut anak FB Service yang mengarahkan mereka ke meja kosong yang tersedia di sudut restoran.

Restoran itu bernuansa kental Bali dengan dinding dihiasi gebyok Bali dan ukiran-ukiran Bali. Langit-langit rendah dengan tiang penyangga atau saka yang dibalut kain bermotif Bali. Lampu-lampu dibalut sarung anyaman rotan menggantung di atas mereka sementara angin laut berdebur ke restoran—menggoyangkan lampu. Ada beberapa wisatawan yang sedang menikmati bir dan cemilan di sekitar mereka sementara sisa-sisa matahari terbenam sudah nyaris lenyap dari langit.

“Maaf,” gumam Jeongguk saat menerima menu dari anak servis setelah mereka duduk di dua dari empat kursi rotan rendah dengan bantalan yang mengelilingi meja mereka. “Aku terlambat dan kita kehilangan sunset-nya.”

Taehyung mengedikkan bahunya kalem, “Tidak apa-apa.” Katanya singkat dan Jeongguk menangkap nada dingin berjarak itu—nada yang akan selalu digunakan Taehyung kapan pun mereka berada di publik.

Maka Jeongguk mengangguk, mengikuti cara main Taehyung. Dia mengamati buku menu, menunggu Taehyung memesan.

Salsiccia satu,” kata Taehyung lalu menambahkan. “Berapa potong, ya, satu loyangnya?”

Anak servis yang menerima pesanan mereka menjawab dengan lugas, “Kebetulan kami hanya menyediakan ukuran large dengan 8 slice di satu loyangnya.”

Taehyung mengangguk, “Dua kalau begitu.” Katanya lalu mendongak pada Jeongguk. “Atau kau mau yang lain?”

Jeongguk membalik buku menunya, “Itu wood oven pizza, ya?” Gumamnya mencari daftar piza dalam buku menu dan anak servis membantu mengarahkannya.

“Disebelah sini, Pak.” Katanya ramah membantu Jeongguk menemukan halamannya.

Jeongguk mengangguk ramah, “Trims.” Katanya pada anak itu lalu menelitinya. “Tadi kau pesan...?” Tanyanya pada Taehyung.

Salsiccia,” sahut Taehyung. “Mozarela, tomat, dan sosis babi.”

Jeongguk mangut-mangut, tertarik pada rasanya. “Greca kalau begitu. Agar seimbang.” Katanya saat memilih piza vegetarian sebagai menu kedua mereka. “Tolong bir large satu,” tambahnya saat mengembalikan buku menu.

“Dua,” koreksi Taehyung juga mengembalikan buku menunya. “Nanti jika ada tambahan kami infokan.” Dia mengangguk dan anak servis itu mengangguk—berlalu setelah mengulang pesanan mereka.

Bir mereka datang pertama dengan semangkuk kacang dan dua gelas tinggi yang dibekukan. Jeongguk berterima kasih sebelum menuang birnya ke gelas, meneguknya dengan lega seolah baru minum air putih sejak pagi.

“Besok kau akan menjemput... Siapa tadi?” Tanya Taehyung saat menyelipkan gelasnya ke mulut botol lalu menuangnya, mencegah busa bir jika menuangnya langsung ke gelas. “Nama perempuan yang dijodohkan denganmu?”

Jeongguk menyerigai kecil—ada sesuatu dari cara Taehyung mengatakan kalimat itu yang membuat Jeongguk ingin sekali memeluk lalu menciumnya keras-keras agar dia tahu, tidak peduli sebaik dan secantik apa pun Mirahn dia tidak akan berpaling dari Taehyung.

“Mirah.” Kata Jeongguk kalem, meneguk binya. Mengamati Taehyung dengan ekor matanya saat pemuda itu meneguk minumannya.

“Ya. Mirah.” Ulang Taehyung, berjengit saat menyebut namanya seolah itu akan membawa sial untuknya dan Jeongguk tergelak kecil.

“Tidak ada yang bisa dibenci darinya.” Dia mengedikkan bahu. “Anaknya baik dan sopan.” Dia menatap Taehyung yang mencibir kecil. “Walaupun aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang bayi barumu.”

Taehyung bereaksi, mengerang kesal dan Jeongguk terkekeh. Mereka menghabiskan malam mendengarkan Taehyung menceritakan Devy dan bencana di makan malamnya—tentang under the table flirt-nya yang membuat Jeongguk terbelah antara cemburu dan juga geli pada ekspresi Taehyung yang benar-benar jijik serta juga obrolan tentang pernikahan yang membuat Taehyung mual.

Makanan mereka datang, beraroma tajam rempah Italia dan saus tomat. Pesanan Taehyung terbukti lezat, Jeongguk mencacatnya dalam hati. Akan membelikan Yugyeom kapan-kapan. Mereka makan sambil mengobrol, memandang lautan lepas yang berdebur di bawah cahaya temaram lampu-lampu hotel dan titik-titik cahaya dari kapal nelayan yang berangkat melaut dengan kapal-kapal mereka.

Keduanya tidak memesan bir lebih dari 1 botol karena masih harus mengemudi pulang. Jeongguk memesan minuman lain saat birnya habis namun makanan mereka masih banyak. Mereka sepakat akan bertemu di panggung saja karena Taehyung juga harus menjemput Devy di griya-nya. Jeongguk di sisi lain harus agak memutar menjemput Mirah ke Puri-nya di Denpasar.

“Sungguh sial aku harus mengurus bayi.” Gerutu Taehyung saat mereka selesai makan dan kembali ke mobil.

“Selera ayahmu payah.” Sahut Jeongguk sopan lalu mengaduh geli saat Taehyung memukul bahunya main-main sebelum bergerak memutari mobil ke arah kursi penumpang. “No offense.”

Dia mengantar Taehyung kembali ke Alila, ke mobilnya yang terparkir di sudut halaman. Alila mengkhususkan karyawan yang membawa mobil untuk parkir di belakang nyaris yang terjauh dan memprioritaskan parkiran depan terdekat dengan pintu masuk hotel untuk tamu.

“Kau akan pulang?” Tanya Jeongguk saat memarkir mobilnya di sisi Jeep Taehyung, membiarkan mesinnya menyala sehingga penyejuk masih bekerja.

Taehyung mengulurkan tangan dan menyentuh selangkangan Jeongguk—napasnya terdengar berat dalam keheningan ditingkahi debur ombak pantai Alila. Jeongguk bergidik karena sentuhannya—tangan Taehyung bergerak lembut dan perlahan.

Oh, dia suka ini.

“Punya ide yang lebih baik?” Tanya Taehyung, menatapnya dengan mata sayunya yang gelap.

“Selalu.” Sahutnya parau, menggeleng berusaha menjernihkan kepalanya yang berkabut oleh gairah sebelum mencium Taehyung yang merengek dalam ciumannya.

Jeongguk tidak peduli, sungguh.

Siapa yang peduli alasan kenapa mereka melarang karyawan parkir di depan karena dia suka tempat parkir ini. Suka suasananya yang temaram sehingga dia bisa membungkuk ke arah Taehyung dan memberikannya satu blowjob paling mendebarkan hingga Taehyung nyaris melolong.

Pemuda itu bersandar sepenuhnya ke kursinya yang diturunkan saat Jeongguk mengulumnya—menggigit kepalan tangannya sementara tangan Jeongguk memanjakannya.

Fuck, Wiktu. Wiktuwiktuwiktu.” Desahnya tercekat, tersengal dan Jongguk bisa saja sinting di sana saat itu juga.

Adrenalin yang membuncah saat mereka melakukannya di ruang terbuka membuat Jeongguk semakin bergairah. Dia tidak pernah berpikir dirinya bisa melakukan ini, nyaris tidak seperti dirinya sendiri yang gemar menantang maut namun Taehyung selalu bisa membangkitkan sisinya yang liar sekali pun. Jeongguk tidak keberatan.

Mereka bisa saja bercinta di jok belakang jika Jeongguk tidak kehabisan kondom dan lubrikan. Dia tidak mau mengambil risiko bercinta dengan Taehyung tanpa cairan pelumas maka mereka akhirnya berpisah setelah Taehyung membalas blowjob-nya dengan teknik hand-job kesukaannya seraya bertukar ciuman di jok belakang.

Teknik yang terbukti membuat kepala Jeongguk terasa lepas dari lehernya karena begitu ringan dan punggungnya melengkung menyambut orgasme yang menyapunya.

Satu jam yang panas dan magis, Jeongguk yang pening berkendara pulang perlahan berusaha menata dirinya yang berantakan karena Taehyung. Dia tidak akan pernah terbiasa dengan gairah Taehyung yang meledak-ledak, sungguh.

Dan sekali pun begitu, dia tidak protes. Walaupun dia harus membersihkan mobilnya malam ini jika tidak mau Mirah mencium aroma amis orgasme mereka.

Alisnya berkerut sejenak saat meluncur memasuki Amlapura yang mulai sepi sebelum dia tertawa parau. Menyadari kelicikan yang baru saja dilakukan Taehyung tanpa disadarinya sama sekali.

“Pintar sekali.” Katanya serak saat menyadari mengapa Taehyung menggodanya sehingga mereka make out di dalam mobilnya.

Antara dia memang bergairah atau dia ingin menandai daerah kekuasaannya sebelum Mirah memasuki mobil.

Jeongguk menyerigai, merasakan gairah lain melecut di dalam tubuhnya. “Nakal sekali,” gumamnya terhibur mengusap selangkangannya yang bereaksi karena memikirkan Taehyung—teringat lenguhannya saat orgasme tadi. “Harus dihukum.”

Dia akan memberi pelajaran Taehyung setelah ini. Sabtu saat dia memiliki Taehyung untuk dirinya sendiri di kamar tertutup.

*