Gourmet Meal 130
Taehyung mengancingkan chef jacket-nya di depan cermin loker khusus karyawan lelaki.
Dia menatap wajahnya yang agak sembab kelelahan dan kerutan yang nampak permanen di keningnya—dia benci memulai hari dengan amarah karena itu berarti dia akan menghabiskan sisa hari itu dengan amarah. Menyadari sepenuhnya ketidakmampuannya dalam mengendalikan suasana hati dan emosinya sendiri. Namun entah mengapa kehidupan selalu memiliki sarapan untuk disurukkan ke hidungnya, membuatnya jengkel hingga ke tulangnya.
Semalam, setibanya di rumah ayahnya sudah tidur maka dia bergegas ke kamar—membereskan diri, menolak mandi karena sudah terlalu dingin lalu pergi ke Merajan untuk berdoa sebentar sebelum kembali ke kamar. Memutuskan jika dia berpura-pura tidak tahu, maka ayahnya juga akan lupa.
Namun dia salah, tentu saja.
Pagi itu ayahnya sendiri yang membangunkannya, pukul lima pagi dan langsung menegurnya karena pulang terlalu malam dalam kondisi setengah terbangun dan badan remuk redam. Ayahnya keluar satu jam kemudian, setelah memberikan wejangan panjang yang sama sekali tidak didengarkan Taehyung dan menyisakan nyaris tidak banyak waktu untuk Taehyung bersiap-siap bekerja. Maka dia menyeret dirinya sendiri bersiap dan memutuskan akan mandi di hotel saja.
Dia bahkan mengabaikan Lakhsmi yang menawarkan sarapan sebelum dia sendiri dijemput kekasihnya dan berangkat bekerja. Dia benar-benar berada di suasana hati paling buruk namun tidak menolak saat Lakhsmi membekalinya dengan sekotak makanan buatannya. Dia menguncir rambutnya yang kusut asal-asalan dan bergegas menuruni tangga menuju motornya—memutuskan bermotor akan membuat kepalanya sedikit rileks saat setan cilik itu memutuskan untuk merusak suasana hatinya lebih buruk lagi.
Taehyung menyadari dia berbakat sekali melakukannya—merusak suasana hati Taehyung maksudnya.
Ayu bilang Ajikgung.
Taehyung menggertakkan giginya. Sekarang, selain ibu dan kakaknya serta Tuniang, dia punya satu perempuan lagi untuk diurus. Seolah tiga perempuan belum cukup untuk membuatnya pening, ayahnya memutuskan dia perlu lebih banyak perempuan lagi di hidupnya—untuk menjilati egoisme lelakinya, membuatnya merasa agung dan memiliki banyak pelayan.
Jika saja lelaki tua itu paham caranya mengurus perempuannya, mungkin Taehyung tidak akan selelah ini. Masalahnya dia menambah perempuan dan menolak mengurus mereka. Tidak tahu cara mengurus mereka sama sekali, membiarkan Taehyung bertanggung jawab atas mereka semua.
Panjang umur ayahnya.
Taehyung melicinkan pakaiannya, menghela napas dan mencoba menenangkan debaran jantungnya yang melonjak saat dia marah. Ada begitu banyak emosi yang ingin dilepaskan hari ini dan dia sangat berharap dapur berjalan aman hari ini karena dia tidak mau melampiaskan ini pada siapa pun.
“Maka bukankah itu tidak adil untukku jika kau melampiaskannya padaku jika itu bahkan tidak berhubungan denganku?”
Dia tidak memahami konsep itu.
Taehyung meraih harnet dan mulai merapikan rambutnya seraya memikirkan ucapan Jeongguk kemarin sementara di sekitarnya semua anak-anak pagi mulai mengisi loker—bergerak perlahan agar tidak mengganggu singa buas yang sedang berdiri di depan cermin dengan seragam chef-nya lengkap dengan apron yang sudah diikat kencang di pinggangnya yang kecil.
Tangannya bergerak nyaris tanpa benar-benar menyadarinya—menggelung rambutnya rapi, mengikatnya dengan karet hitam tipis lalu menggunakan harnet untuk menjaga semuanya tetap di dalam. Dia menatap dirinya sendiri.
Taehyung tidak pernah memahami ketidakadilan melampiaskan emosi kepada orang lain karena dia selalu menjadi kantung tinju emosi ayahnya. Belum lagi ketika dia bersikap tidak sesuai dengan apa yang keluarga mereka inginkan, ibu dan kakaknya harus menanggung semuanya. Dia tidak paham bahwa melampiaskan kekesalan karena keadaan atau karena hal lain kepada orang lain merupakan kesalahan yang tidak boleh dilakukan.
Karena dia selalu menjadi korbannya.
Taehyung meraih toque-nya, memasangnya di kepalanya lalu meluruskannya. Memastikan benda itu terpasang kuat di kepalanya sebelum menghela napas dalam-dalam, berusaha menelan amarahnya yang mulai bergolak seperti sepanci sup. Taehyung merasa kepalanya berdenyut dan ini bahkan baru pukul tujuh pagi—terlalu pagi untuk merasa marah.
Dia meraih ponsel di saku celananya, teringat pesan Jeongguk yang belum dibalasnya dan membuka ruang obrolan mereka.
I love you.
Senyuman kecil terbit di bibirnya—di tengah segala pusaran kesintingan ini, setidaknya dia memiliki Jeongguk yang akan selalu menjaganya tetap waras. Akan menjaganya tetap di bumi dan tidak tenggelam karena sungguh, Taehyung tidak sanggup lagi jika dia harus berdiri sendirian dengan semua perempuan yang dilemparkan ayahnya padanya.
Taehyung menggenggam Jeongguk, erat dengan jemarinya—seperti bayi menggenggam botol susunya atau mainan favoritnya.
Dia mengetik: I love you too
Dia berhenti.
Dia menghapusnya.
Dia mengetik lagi: Have a nice day too for you.
Dia diam, menatap kata-kata itu menari di layar ponselnya. Lalu memencet kirim.
Menghela napas tajam, Taehyung belum sanggup melakukannya. Mengakui perasaan itu pada Jeongguk akan membuat perasaan itu semakin subur—dia tidak bisa memelihara perasaan itu ketika hatinya belum teguh dan siap dengan segalanya. Dia belum berani membuang semuanya demi bersama Jeongguk—belum berani bermain kucing-kucingan dengan kedua keluarga besar mereka mengenai orientasi seksual mereka.
Dia belum siap.
Taehyung menyelipkan ponselnya kembali ke dalam sakunya lalu menghela napas dan berbalik. Mendorong pintu loker terbuka dan menuju presensi karyawan untuk memindai sidik jarinya sebelum ke dapur mengecek breakfast buffet yang akan buka sebentar lagi.
Dia melangkah melewati lorong menuju pintu dapur—setiap hotel memiliki sistem jalur belakang karyawan yang unik. Pada hari pertama bekerja, anak magang yang tersesat merupakan pemandangan yang normal maka saat melihat dua anak magang kikuk yang berdiri di persimpangan dengan wajah bingung, Taehyung menghela napas. HRD selalu melakukan ini, entah sudah berapa kali Taehyung menegur mereka.
“Kalian tidak diberi tahu HRD jalannya?” Tanyanya dengan suara yang dianggapnya pelan namun kedua perempuan itu melonjak kaget—menoleh panik dan dengan cepat melirik dada kirinya, mencari name tag.
“Pagi, Chef!” Sapa mereka nyaris kompak dan terlalu keras saat menyadari jabatan yang tertulis di bawah nama Taehyung: Executive Head Chef. Suara mereka yang memantul di lorong sejenak membuat Taehyung berjengit kaget. “Maaf, belum, Chef!”
“Hari ini kami general orientation,” sahut gadis satunya yang nampaknya berada di Pastry jika menilai dari seragamnya dan Taehyung mengangguk—dia harus mengatakan sesuatu pada HRD tentang ini.
Mereka selalu membiarkan anak-anak magang kebingungan dan tersesat di hari pertama seperti ini. Taehyung tidak terlalu mengapresiasinya karena seragam mereka tentu bukan seragam yang akan diapresiasi General Manager mereka nampak di Public Area.
Taehyung mengangguk dengan alis berkerut, “Ikut saya.” Katanya sebelum berbelok ke arah dapur, membiarkan kedua anak magang itu mengekornya dengan suara gemerisik seragam dan sepatu mereka.
Dia membelok di satu lorong lagi dan langsung muncul di dekat dish washer milik Steward. Anak-anak itu mengikutinya, meluncur masuk ke wilayah dapur yang sudah mulai sibuk bekerja—ada beberapa commis yang mulai memotongi sayuran dan rempah di sudut-sudut, protein-protein segar diantarkan langsung ke dekat chiller dan aroma amisnya sejenak membuat Taehyung pening.
Dia menyadari bahwa acara malam ini punya menu seafood di dalamnya saat melihat sekeranjang gurita diangkat dari mobil pemasok protein mereka. Itu menjelaskan bau amis menyengat di dekat walk-in chiller milik Butcher.
“Kalian masing-masing di mana?” Dia berbalik dan bertanya pada dua anak magang yang berjengit kaget lagi oleh suara Taehyung—beberapa commis mendongak dari pekerjaan mereka, penasaran. “Sudah diberi tahu HRD atau Hoseok?”
Anak magang itu saling menatap lalu menggeleng taku-takut dan Taehyung menghela napas—dia mencoba menelan amarahnya, terlalu pagi jika dia memutuskan untuk mengamuk sekarang. Anak magang itu mungkin sudah cukup ketakutan karena harus berurusan dengan head chef mereka di hari pertama mereka magang, maka dia berusaha agar tidak menakuti mereka lebih lagi. Dia membuka matanya, menatap anak magang itu dan menggertakkan rahangnya; apa saja agar tidak membentak.
“Hoseok hari ini masuk apa, ya?” Tanyanya pada dapur dan seseorang, CDP Butcher-nya langsung menjawab dari pintu chiller karena dia yang in charge bersama Taehyung hari ini sebagai orang nomor dua.
“Sore, Chef!” Sahutnya dan Taehyung menghela napas, terganggu. Dia butuh Hoseok untuk mengurus semua anak-anak magang ini, dia tidak punya kesabaran untuk mengurus mental-mental baru.
“Sudah ada yang diinfo di mana anak-anak magang ini diposisikan?” Tanyanya lagi, menatap dapur dengan kaki diketukkan ke lantai dengan tidak sabar—mata elangnya mengawasi pekerjaan semua commis yang menyiapkan bahan baku untuk mereka running hari ini.
CDP tadi muncul, bergegas menghampiri Taehyung. “Satu di hot kitchen dan satu di Pastry kalau tidak salah. Nanti saya konfirmasi ke HRD.”
Taehyung mengangguk, “Tolong, ya.” Katanya sebelum melangkah ke ruangannya. “Breakfast bagaimana?” Tanyanya kemudian pada CDP itu yang bergegas meminta anak magang itu ke section mereka masing-masing.
“Sudah siap, Chef.” Sahutnya lagi, memilih mengabaikan proteinnya dulu dan meladeni mau Taehyung. “Akan dicek dulu?”
Taehyung mengangguk, menyalakan laptopnya karena dia harus mengerjakan Weekly hari ini sebelum kembali bangkit hanya untuk beranjak ke restoran. “Saya cek sebentar.” Katanya pada CDP yang mengangguk dan kembali mengurus protein yang baru tiba dengan aroma amis yang membuat Taehyung pening.
Dia benci sekali menu seafood. Baunya sulit hilang dari dapur, kenapa orang-orang gemar makan seafood? Taehyung tidak paham.
Kakinya melangkah melewati lorong-lorong ajaib Alila, tersembunyi di balik dinding mereka—memberikan akses antardepartemen tanpa melewati wilayah tamu atau Public Area. Dia melewati beberapa Steward yang mendorong troli terisi piring-piring bersih untuk dipoles anak-anak FB Service sebelum digunakan para tamu sebelum muncul di kantor FB yang merupakan pintu belakang restoran.
“Pagi, Chef!” Sapa FB Captain pagi hari itu ceria dengan lap di tangannya untuk mencontohkan pada anak-anak magang caranya memoles perlengkapan makan sesuai standar hotel mereka.
“Pagi,” Taehyung mengangguk pada semua anak yang siap bekerja dengan berkerat-kerat gelas dan piring yang harus mereka keringkan sebelum digunakan para tamu. “Saya akan mengecek buffet sebentar.” Katanya lalu melangkah ke pintu belakang restoran dan mendorongnya terbuka.
Di konter ada FB Captain malam sedang mengecek sesuatu di dalam sistem hotel yang mereka gunakan untuk mencatat transaksi masuk-keluar. Lampu restoran menyala redup, sebentar lagi tamu akan berdatangan untuk mulai sarapan dan Taehyung harus bergegas—mengutuk ayahnya yang mengambil waktunya untuk memberikannya wejangan yang bahkan tidak lagi diingatnya tentang apa.
Taehyung menghampiri caving dish roll-up yang tersusun rapi di meja dan membukanya satu per satu, mengecek makanan di dalamnya dengan matanya dan membungkuk meraih sendok di rak di bawah buffet untuk mengecek sedikit lebih dalam. Dia tenang saat bergerak di sekeliling restoran, mengecek semua menu dan kualitas makanan yang disajikan sebelum akhirnya menutup semua caving dish.
Dia beranjak ke bagian pastry, mengecek semua roti dan danish yang disajikan. Memperbaiki beberapa posisi display yang miring dan memastikan semua makanan berkilauan. Dia tidak pernah mau ditemani siapa pun saat mengecek makanan kecuali Hoseok, merasa mereka hanya akan mengganggunya dengan menjelaskan begitu banyak hal padahal Taehyung tidak bertanya sama sekali.
Head Chef itu juga mampir sebentar mengecek potongan buah yang membuat alisnya berkerut karena terlalu kecil dan mengecek jus yang nampak terlalu encer tapi tidak akan jadi masalah. Dia akan meminta anak-anak untuk memastikan konsistensi buah lebih besar dari air lain kali. Dia mengetuk meja dua kali sebelum mengangguk pada FB Captain yang menerima telepon lalu beranjak kembali ke belakang.
“Tolong api di bawah sup dibesarkan sedikit.” Katanya pada FB Captain pagi di belakang.
“Baik, Chef!” Sahutnya mengangguk pada Taehyung yang beranjak kembali ke Kitchen.
Dia mulai merasa hari ini dia mungkin bisa baik-baik saja dan tidak harus mengamuk saat menuruni tangga menuju Kitchen yang mulai berisik bersiap-siap. Dia mendengar suara api yang dibesarkan, wok yang bergerak dan suara-suara para rekan timnya mempersiapkan hari mereka. Taehyung mengangguk pada semua commis dan helper yang menyapanya sopan dan langsung berlalu ke ruangannya.
Dia punya segudang laporan untuk diselesaikan hari ini sebelum berjibaku dengan rekan timnya di hot kitchen. Dia memulai dengan mengecek surelnya; mengecek BEO yang dikirimkan Sales padanya termasuk BEO untuk wedding akhir pekan ini yang termasuk wedding cake. Taehyung menghela napas seraya membaca satu per satu surel penting yang diberi tanda 'Penting!' oleh pengirimnya—mencermati satu per satu walaupun semua otot dan sarafnya sudah berdenyut memaksanya bergerak alih-alih dia mengamati layar laptopnya.
Taehyung harus menyelesaikan laporannya. Dia mengecek surel dari Duty Manager tadi malam yang termasuk laporan Kitchen dan meraih log book Kitchen untuk mengecek kegiatan anak-anak malam dan dicocokkan dengan laporan Duty Manager. Dia sedang tenggelam dalam laporannya, berusaha menyelesaikannya dengan cepat sebelum terlalu siang saat ponselnya berdenting.
Jangan lupa makan siang.
Jeongguk.
Dan senyuman kecil langsung terbit di bibirnya, begitu saja tidak peduli seberapa jengkel dan lelahnya dia. Nama Jeongguk selalu berhasil membuat suasana hatinya sedikit lebih baik. Di bawahnya ada pesan dari Devy, dia mengabaikannya—bisa dibalas nanti. Dia menekan ruang obrolannya dengan Jeongguk dan membalas.
Kau juga.
Jawabannya datang seketika itu juga: Kangen.
Taehyung mendenguskan senyuman tipis: Memangnya kau tidak punya pekerjaan?
Ada. Banyak sekali. Ini Senin.
Ya sudah. Sana kerjakan.
Tapi Wiktu kangen.
Taehyung mendenguskan tawa singkat dan keras yang membuat satu commis yang berjalan melewati ruangannya dengan sebaskom sayuran untuk dicuci di Steward tersentak karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun bekerja di dapur Taehyung, dia mendengar juru masak kepalanya tertawa.
Dia melirik ke dalam, memastikan pendengarannya sebelum bergegas kabur dari sana sebelum Taehyung menyadari dia sedang mengintip.
Konyol.
Tidak sekonyol fakta bahwa kau juga sedang merindukanku. Sahut Jeongguk seketika.
Taehyung menatap layar, menatap nama panggilan yang digunakan Jeongguk untuk menyebut dirinya sendiri. Dia tersenyum ke layar sebelum meletakkan kembali ponselnya, memanfaatkan kebahagiaan yang diberikan Jeongguk untuk menyelesaikan laporannya dan mengirimkannya ke GM mereka melalui surel.
Dia kemudian bangkit, merasa sedikit lebih baik saat kehidupan memutuskan untuk menguji kesabarannya. Taehyung baru saja keluar, melicinkan apronnya saat seorang FB Service masuk membawa piring dengan sisa makanan di atasnya dan Taehyung langsung menarik napas—nyaris serentak dengan semua commis-nya.
“Indri,” katanya pada anak FBS yang datang membawa piring ditemani satu anak magang FBS yang membawa nampan caving dish terisi menu yang tadi diceknya.
Berengsek.
“Chef,” kata anak itu takut-takut. Tidak ada karyawan mana pun yang suka berurusan dengan Kitchen di shift pagi karena yang in charge adalah Taehyung—mereka selalu lebih suka ke dapur saat Hoseok yang in charge karena pemuda itu jauh lebih bisa mengendalikan emosinya, berfokus pada solusi alih-alih mencari siapa yang salah.
Taehyung, sayangnya, lebih suka mencari siapa yang salah sebelum solusi—yang bisanya memang lekas tuntas karena melibatkan dirinya sendiri. Chef itu menatap piring di tangan FBS dan menemukan masalahnya; ada sehelai rambut di makanannya dan dia menghela napas dalam-dalam, menghitung hingga sepuluh agar tidak meledak.
“When you're angry, count to 10,” suara lembut Jeongguk terdengar di belakang kepala Taehyung seketika itu juga, sejenak membuatnya kaget. “When you're very angry, count to 100.”
Taehyung menghela napas, “Satu... Dua...,”
“Ada keluhan, Chef, baru saja.” Tambah anak FBS menyerahkan piring ke Taehyung yang menerimanya dengan kaku. “Kami sudah mengecek makanannya dan rambutnya ada di dalam makanan, tercampur. Pak Dodek yang menariknya sendiri dari makanan tamu.”
3... 5.... “Tamunya di mana?” Tanyanya saat menggunakan tangan telanjangnya mengorek makanan di atas piring dan menarik sehelai rambut itu naik. Rambutnya tidak terlalu panjang, tidak juga terlalu pendek; rambut lelaki. Anak malam yang memasak breakfast.
Dia mengangkat rambut itu ke udara. “Hei.” Katanya dingin, namun semua orang langsung diam dan mendongak. “Hei, halo.” Tambahnya setengah menyindir pada beberapa anak yang masih sibuk di section mereka hingga menoleh.
Anak FBS tadi mundur selangkah dari Taehyung secara insting menjauhi predator. Taehyung menghela napas. 6....
7... 8.... “Kalian lihat ini?” Tanyanya menggoyangkan rambut itu, kepalan tangannya sudah berada di meja prep—dikencangkan hingga buku-buku jemarinya memutih.
Mungkin sebenarnya menjadi chef bukanlah pilihan karir yang cocok untuk Taehyung karena pengendalian emosinya jelek sekali, ditambah rushing hour, panasnya dapur, standar dan kecepatan yang dipaksakan yang membuat sarafnya semakin kencang. Dia seharusnya menjadi petani saja, guru yoga atau pekerjaan lain yang akan memaksanya tersenyum tenang dan anggun. Tidak marah-marah melempar piring atau mengatai anak orang dengan sebutan paling tidak sopan persis di mukanya.
“Kecuali kalian memang ingin menyantet tamunya, saya rasa ini tidak sesuai standar, ya?” Katanya, berusaha keras mengendalikan dirinya—masih pagi, masih terlalu pagi.
Tidak ada yang berani menjawab, semuanya menghindari tatapan Taehyung. Dan CDP-nya menahan napas—jelas tidak suka mendapatkan masalah saat head chef-nya yang in charge. “Saya akan telusuri, Chef.” Katanya.
Taehyung menatapnya. “Apa yang akan kautelusuri?” Tanyanya dengan gigi gemeletuk menahan amarah. 12... 14....
“Siapa yang memasak hari ini.” CDP-nya menatap Taehyung, berusaha tenang walaupun hatinya sekarang mungkin mengerang keras karena harus berurusan dengan Taehyung. “Dan apakah mereka mengenakan penutup kepala dengan baik. Semalam commis 1 saya yang in charge.”
Taehyung mengangguk. “Tamunya sudah diberikan apa?” Tanyanya pada FBS yang berjengit kaget saat diajak bicara. 15... 16....
“Sudah diberikan complimentary voucher lunch, Chef.” Sahut anak FBS itu. “Makanannya belum dimakan, baru hendak disendok dan beliau menemukan rambutnya. Jadi kami langsung mengambil makanannya dan menarik menu itu turun.”
Taehyung mengangguk kaku, “Trims.” Katanya, otomatis mengusir FBS yang bergegas menggunakan kesempatan itu untuk kabur. “Nanti saya bertemu FBM.”
Dia kemudian menatap anak-anak buahnya yang masih berdiam di sekitarnya. “Kalian memasak dengan penutup kepala terpasang?” Tanyanya setengah menggeram. 18... 19....
“Terpasang, Chef!”
“Lalu rambut siapa yang jatuh ke makanan?” Taehyung melambaikan rambut itu lagi. “Karena rambutnya terjalin ke makanan, berada di dalam makanan. Jika itu rambut tamu, jelas tidak akan berada di makanan, 'kan?”
“Ya, Chef!”
“Mungkin tadi malam,” 20... 22.... “Ada Calon Arang yang datang ke dapur menemani kalian memasak dan rambutnya jatuh, ya?” Tanya Taehyung lagi yang jika dalam situasi normal mungkin akan membuat beberapa anak tertawa namun saat mereka berdiri dengan pisau ditekan ke tenggorokan mereka, mungkin sebaiknya tidak tertawa.
“Anak yang memasak ini mungkin sudah pulang sekarang.” Dia melirik jam dinding, menyadari sudah pukul delapan lewat—shift malam sudah berakhir dan dia tidak suka menahan siapa pun lebih lama di tempat kerja. “Tapi tolong,” katanya kemudian, praktis menggeram sekarang.
“Gunakan penutup kepala kalian dengan benar. Jangan dilepaskan apa pun alasannya kecuali benda itu terbakar.” Dia menatap anak buahnya satu per satu, berusaha mengatur napasnya agar tidak meledak. “Jika ingin menyisir rambut atau apa, lakukan di loker. Setelah makan, pastikan self-hygiene kalian sebelum kembali ke dapur. Cuci tangan. Kenakan semua attire dengan benar.”
25.... 26.... 27....
Beberapa commis saling melirik, menyadari bagaimana Taehyung hari ini tidak mengamuk seperti biasanya bahkan biasanya hanya karena hal-hal sepele seperti chiffonade mereka tidak setipis apa yang diinginkannya atau jardiniere wortel mereka terlalu tebal seperti 'memberi makan kambing!'.
“Siap, Chef!” Sahut beberapa anak dengan serentak, mulai bersyukur Taehyung tidak melemparkan amukan ke wajah mereka.
“Makanan ini masih ada?” Tanyanya pada CDP-nya yang bergegas mengangguk. “Tolong diganti semuanya, ini dicek apakah masih ada sampahnya atau tidak lalu ditransfer ke EDR saja.”
Taehyung menggertakkan giginya, puas pada dirinya sendiri saat mundur dan membiarkan commis mengambil alih nampan caving dish lalu membereskannya.
“Di-refill setengah saja, sebentar lagi bfast ditutup.” Katanya sebelum menghela napas dalam-dalam; senang karena berhasil mengendalikan amarahnya. 30... 32....
Dia masih punya tujuh jam dan acara makan malam sialan yang terpaksa dihadirinya, dia sebaiknya tidak menghabiskan amarahnya sekarang dan merusak suasana hatinya seharian. Dia tidak bisa membiarkan siapa pun—khususnya ibu dan kakaknya menanggung hasil dari kecerobohannya hari ini. Taehyung berdiri di sana, menatap commis yang membawa naik nampan terisi makanan baru sebelum menghembuskan napas dari mulutnya.
“Trims.” Katanya sebelum memasuki ruangannya.
40.
Dia terenyak di kursinya, menatap wajahnya sendiri yang terpantul di layar laptopnya yang gelap. Dia baru saja berhasil mengendalikan amarahnya, itu baru.
When you're mad, count to 10. When you're very mad, count to 100.
Taehyung tersenyum, matanya terpejam. “Jeongguk,” gumamnya pada dirinya sendiri. Dia menumpukan keningnya di kepalan tangannya di atas meja, mulutnya terbuka membentuk senyuman.
“Jeongguk, Jeongguk, Jeongguk...”
Glosarium:
Chiffonade: teknik memotong berupa irisan tipis melintang. Biasanya potongan sayuran yang menggunakan teknik ini ditemukan di makanan seperti bakwan atau salad.
Jardinere: teknik memotong sayuran berbentuk balok. Umumnya sayur wortel, lobak, dan kentang. Untuk membuat potongan jenis ini caranya adalah memotong sayur dengan ukuran panjangnya berkisar 3 cm terutama wortel atau lobak.
I decided to separate the narration. Karena takut kepanjangan banget hahaha brb! Aku ketik part 2 <3