Gourmet Meal 161


Mbok Gek mendengarmu kesakitan!”

Fuck!” Geram Jeongguk, seketika itu juga gairahnya lenyap—seperti lampu yang dimatikan saat menyadari mereka ketahuan.

Jeongguk langsung melompat turun dari atas Taehyung yang mengeluarkan suara marah dari dadanya—keduanya pening karena terpaksa menyelesaikan hubungan seks sebelum saatnya. Tubuh Jeongguk berdenyut, begitu pula otak dan seluruh tubuhnya. Mereka bergegas merapikan pakaian mereka walaupun sesungguhnya Taehyung sudah nampak seperti baru saja bercinta dengan wajah merah padam dan rona kemerahan di pangkal lehernya.

Tidak ada yang bisa dilakukan Taehyung untuk membuat dirinya nampak normal, Jeongguk berpikir dengan ngeri. Pemuda itu menggeleng, berusaha menjernihkan kepalanya yang berdenyut.

“Tugung? Tugung jawab Mbok Gek!” Seru Lakshmi teredam dari luar sana dan keduanya semakin panik.

Jeongguk bergegas menarik celananya, merasakan tubuhnya berdenyut namun terkalahkan rasa takut luar biasa yang menghantamnya sekarang. Dia mengumpat tanpa suara saat tidak bisa mengancingkan celananya dengan kedua tangannya yang gemetar oleh gairah yang gagal serta kepanikan. Dia limbung, tidak sempat memikirkan apa pun saat dia menendang pakaiannya ke kolong tempat tidur lalu menjatuhkan diri ke lantai dan merayap ke bawah dipan Taehyung seperti seekor tikus kecil.

“Apa yang kaulakukan?!” Desis Taehyung sementara di luar pintu, Lakshmi kembali mengetuk—kali ini tidak sabaran.

“Tugung?” Serunya lagi, mulai panik. Jeongguk mulai takut seseorang mendengar kehebohan Lakshmi dan memutuskan untuk datang mengecek dan Jeongguk berdoa siapa pun itu, dia bukan ayah Taehyung. “Tugung pingsan?!”

“Buka pintunya! Cepat sebelum kakakmu membangunkan seisi Puri!” Balas Jeongguk mendesis, berbaring menempel di lantai yang tidak terlalu besih dan sekarang tergencet di bawah ranjang Taehyung setelah menghabiskan malam untuk tergencet di gang kecil.

“Kau bisa bersembunyi di kamar mandi, demi Tuhan, Jeongguk!” Desis Taehyung dan Jeongguk nyaris berteriak karena frustrasi karena Taehyung masih sempat mengurus di mana dia bersembunyi saat masalah sebenarnya sedang menggedor pintu kamarnya.

“Buka pintunya!” Gertak Jeongguk dengan nada terganggu seperti seekor ular sanca yang terancam. “Demi Tuhan, Taehyung!”

Nada itu berhasil memukul Taehyung mundur, dia mengerjap. Menyadari masalah sebenarnya. Taehyung menegakkan tubuhnya, meraih kaus dan bergegas mengenakannya. Dia menggelung rambutnya saat melangkah ke depan pintu, Jeongguk melihat kakinya bergerak ke pintu dan membuka selotnya perlahan. Dia menahan napas, berusaha membuat dirinya setenang mungkin saat pintu kamar berderit terbuka dan Taehyung mengerang terganggu.

“Kenapa, Mbok Gek?” Tanyanya dengan suara mengantuk disertai seruan lega kakaknya saat pintu akhirnya terbuka dan Jeongguk dalam hati memuji bakat berakting Taehyung karena dia benar-benar terdengar seolah dia baru saja bangun. “Jangan berteriak.” Keluhnya.

“Tugung sakit?” Tanya kakaknya cemas, Jeongguk melihat kakinya memasuki ruangan—mendesak Taehyung masuk ke dalam kamarnya dan Jeongguk mengencangkan otot perutnya. “Mbok Gek buatkan teh hangat, ya?”

“Tidak, tidak.” Tolak Taehyung seketika. “Tugung baik kok, tinggal tidur saja.”

Kenapa dia tidak pergi saja?? Kenapa dia harus masuk ke kamar Taehyung? Jeongguk menempelkan pipinya ke lantai yang berdebu, jengkel karena gagal bercinta dan harus menjejalkan dirinya ke bawah kolong tempat tidur yang kotor. Bolehkah sebelum dia pulang nanti dia mandi sebentar di kamar mandi Taehyung? Lalu mendesah saat teringat dia bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup saja sudah cukup memuaskan.

“Benar?” Tanya Lakshmi lagi, khawatir. “Tugung belum makan juga, mau Mbok Gek ambilkan makan?”

“Benar.” Sahut Taehyung, mulai sedikit tidak sabaran. “Tidak apa-apa, Mbok Gek kembalilah tidur. Tugung tidak lapar.”

Jeongguk mulai mengenali emosi Taehyung sekarang—setitik perubahan dalam nada suaranya saja sudah cukup membuat Jeongguk menyadari perubahan emosinya. Khususnya emosi negatif—amarah, jengkel, terganggu. Dia mendengar rasa frustrasi Taehyung sekarang, berusaha mengusir kakaknya.

Dia berbaring di lantai yang dingin, bertelanjang dada karena tidak sempat mengenakan kausnya. Kancing celana jinsnya yang belum dikaitkan sekarang menekan perutnya, membuatnya nyeri. Dia berusaha bergerak, menggeser kancing itu namun tidak ada cukup ruang untuk lengannya dan malah berakhir menyikut dipan Taehyung dengan suara 'duk! keras yang membuatnya nyaris mati karena kaget.

Jeongguk tercekat lalu berteriak tanpa suara saat rasa sakit menggeranyam di sikunya, menjalar ke lengannya yang sejenak mati rasa karena ngilu oleh tumbukan itu. Dia membuka dan menutup mulutnya, berusaha agar tidak berteriak karena rasa sakit bukan main yang sekarang membuatnya terasa lumpuh.

Bangsat!” Pikirnya getir dengan siku berdenyut, mungkin juga luka karena terantuk sudut tajam dipan Taehyung.

Syukurlah Taehyung langsung menutupinya dengan menyalahkan binatang lain. “Tikus menyebalkan.” Gerutu Taehyung dan Jeongguk bisa mendengar setitik nada tegang di ujung kalimatnya. Dia meringis, meminta maaf pada Taehyung dalam hati karena dia tidak bisa diam.

“Tidak sakit kok.” Katanya kemudian pada kakaknya, mengalihkan perhatian Lakshmi dari suara benturan tadi. “Tugung tidak apa-apa. Sungguh. Maaf membuat Mbok Gek khawatir.”

Mereka berdiri beberapa meter di depan pintu, Lakshmi berada di ambang pintu dan Taehyung berada beberapa meter di seberangnya. Masih menggunakan celana pendeknya yang tadi dan Jeongguk tidak yakin dia bisa menyembunyikan selangkangannya dengan kain setipis itu.

Lakshmi masih bertahan di posisinya, tidak bergeming sama sekali hingga Jeongguk menggertakkan rahangnya—mengumpat kenapa dia tidak juga pergi padahal Taehyung sudah berusaha mengusirnya.

Mbok Gek kembalilah tidur,” desak Taehyung lagi, Jeongguk bisa melihatnya mengulurkan tangan dari pantulan bayangannya di lantai kamarnya—dia memegang daun pintu kamarnya, mendesak kakaknya pergi.

“Tugung tidak butuh apa-apa? Benar?” Tanya kakaknya lagi, masih keras kepala. Jeongguk nyaris mengerang keras kenapa perempuan itu tidak segera menyerah dan pergi saja jadi Jeongguk bisa membereskan diri lalu pulang.

Jeongguk menggertakkan rahangnya, menahan sakit karena kancing celana jinsnya yang menekan tubuhnya, siku yang sakit, dan tubuh depan yang kedinginan menempel di lantai. Dia harus setidaknya menyingkirkan kancing itu dari perutnya sebelum benda itu sungguh bisa melukainya.

Jeongguk menyelipkan jemarinya ke bawah perutnya yang dikencangkan, memberikan sedikit ruang untuk jemarinya masuk ke sana dan menyingkirkan kancing besi itu dari bawah perutnya. Punggungnya menempel ke bagian bawah dipan Taehyung, dia berkutat dengan jemarinya sendiri yang terjepit di antara lantai dan tubuhnya—nyaris mengumpat frustrasi karena terjepit.

Kemudian, seseorang bergabung dalam keramaian itu.

“Kenapa malam-malam ribut?”

Ayah Taehyung.

Jeongguk berhenti bergerak, seketika itu juga saat mendengar suara lelaki paruh baya menyela obrolan Taehyung dan Lakshmi. Dari bayangan mereka yang terpantul di lantai, kedua saudara itu nampak sama tegangnya dengan Jeongguk karena sudah mengundang ayah mereka ke masalah itu. Dia menarik tangannya, batal mengurus kancing sialan itu dan mengabaikannya. Dia berbaring semakin menempel ke lantai, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin walaupun dia harus menekuk kakinya agar tidak menjulur melewati dipan. Jantungnya berdebar begitu keras, menonjok rusuk dan menyumbat tenggorokannya.

Terdengar suara terseok langkah kaki terbalut sandal jepit di atas halaman rumah Taehyung yang pastilah tanah. Langkah itu mendekat ke kamar Taehyung, tiap langkahnya mengirimkan lecutan rasa takut ke tubuh Jeongguk. Dia bergidik—dia tidak bisa ditemukan sekarang. Apa alasan logis yang akan diberikannya karena berada di bawah ranjang Taehyung dengan keadaan setengah telanjang dan celana jins tidak dikancingkan.

Orang bodoh sekali pun tahu apa yang mereka lakukan.

Dan ayah Taehyung jelas bukan orang bodoh.

“Ajung,” sapa Taehyung tegang dan terganggu saat suara sandal dibuka terdengar dan ayahnya menaiki tangga ke teras kamarnya, menghampiri kedua anaknya. “Maaf, Ajung. Tadi Mbok Gek salah mendengar Tugung mengerang. Dipikirnya Tugung sakit.”

Lakshmi di sisinya mengangguk, nampak rikuh juga karena mengundang ayahnya ke masalah ini. “Nggih, Ajung. Maaf membangunkan Ajung.”

Ayah Taehyung berdiri di depan pintu, napasnya berat dan berdenging khas penderita asma berat. Tahulah Jeongguk dari siapa Taehyung menerima asma dan amarahnya karena dari nada suaranya, lelaki itu pasti selalu menaikkan nadanya saat bicara. Mudah terganggu dan angkuh.

“Persis anaknya,” pikir Jeongguk yang tergencet di bawah dipan Taehyung dengan masam. Dia bergerak, berusaha merilekskan kakinya yang mulai kesemutan, namun ruangannya sangat terbatas hingga dia menghela napas jengkel dan pasrah.

Badan Jeongguk yang terlalu besar atau dipan Taehyung yang terlalu rendah, entahlah.

“Itu,” kata ayahnya—nadanya membuat Jeongguk mengerjap. Ayahnya tidak pernah menggunakan nada semacam itu padanya. Nada yang seketika membuatmu merasa kecil dan bersalah bahkan karena tidak bisa membuat matahari terbit dari Barat. “Leher Tugung kenapa merah-merah? Luka?”

Jeongguk menahan napasnya, ulu hatinya terasa ditonjok. Dia mengumpat dalam hati—seharusnya dia tidak menandai Taehyung. Seharusnya dia menggunakan otaknya sekali saja—demi Tuhan! Seharusnya dia membawa Taehyung keluar dari Puri jika mereka ingin bercinta. Bedebah bangsat, Jeongguk ini. Otaknya nyeri, berusaha mengingat bagian mana saja di tubuh Taehyung yang sudah ditandainya karena kesetanan. Dan gagal karena dia sama sekali tidak melibatkan otaknya detik dia mencium Taehyung.

Dia menggertakkan rahangnya, jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya nyeri seolah dia baru saja melakukan kardio ekstrim tanpa pemanasan. Dadanya sesak, dia berusaha bernapas sepelan mungkin selama ayah Taehyung masih berada di ruangan.

“Oh,” kata Taehyung—bergetar dan Jeongguk berdoa dalam hati tidak ada siapa pun yang menangkap nada itu. “Gatal, Ajung.” Katanya menggaruk lehernya pelan. “Sudah Tugung beri obat tapi belum sembuh, nanti Tugung cek kasur dan bak mandi. Mungkin ada tungau.”

Bohong.

Jeongguk menggeleng, memejamkan matanya pedih karena nada itu. Perutnya mual karena takut—mereka akan ketahuan, dia yakin sekali. Dan dia tidak yakin bagaimana dia akan menyikapi kejadian ini. Atau ayahnya. Atau keluarga Puri-nya.

Khususnya keluarga Puri Jeongguk.

Kebohongan Taehyung mentah sekali sekarang karena dikuasai oleh takut atas kehadiran ayahnya. Suaranya gemetar, Jeongguk menggeleng di bawah dipan—habis sudah. Jeongguk tamat. Dia akan diarak ke balai desa dan diadili di sana, tidak terbayang apa yang akan dilakukan ayahnya setelah ini padanya karena menyusup ke Puri orang lain lalu bercinta dengan anaknya.

Jika itu Lakshmi, mungkin bisa dibicarakan baik-baik sebelum mereka dinikahkan untuk menghindari aib dan gunjingan tetangga.

Namun sayangnya, Jeongguk berada di ranjang anak lelakinya. Bayangkan gosip dan aib yang akan menimpa kedua nama besar Puri mereka masing-masing.

Dia menahan napas, mendengarkan ayah Taehyung yang napasnya berbunyi keras—mendesing memasuki paru-parunya dan keluar. Membuat saraf-saraf Jeongguk yang malang semakin menegang dengan menyedihkan—seperti senar gitar yang disetel terlalu kencang.

Sejenak hening dan dari bayangan di lantai, Jeongguk melihat ayah Taehyung mengulurkan tangan dan menyentuh kening Taehyung yang nyaris berjengit menjauhi sentuhannya. Dia tidak mengatakan apa-apa, namun kehadirannya sudah cukup membuat Jeongguk tegang—ayahnya tidak ada apa-apanya dibanding ayah Taehyung. Dia terlihat sangat mendominasi dan otoriter, jenis kepala keluarga yang tidak akan segan melakukan apa pun untuk mendisiplinkan anak-anaknya.

Termasuk kekerasan.

“Badan Tugung panas.” Katanya kemudian, menyentuh kening dan leher Taehyung. Jeongguk menahan napasnya—tentu saja panas, tapi bukan jenis panas yang bisa diredakan dengan parasetamol, pikirnya. “Minum obat lalu istirahat. Pakai pakaian yang lebih hangat.”

“Ya, Ajung.” Sahut Taehyung tercekat, dia bergerak mundur sedikit dari ayahnya—menjauhi jangkauannya dan hati Jeongguk terasa diremas-remas melihatnya.

Taehyung yang congkak, angkuh, dingin dan tidak tersentuh. Taehyung yang selalu membuat orang-orang terintimidasi karena kehadirannya, karena ekspresi kerasnya yang sulit disenangkan, keningnya yang berkerut dalam, wajah jengkel nyaris permanen, sekarang takut. Takut pada ayahnya, seperti seorang anak kecil berusia lima tahun yang digencet kakak tingkatnya.

Dari bayangan hitam kabur di lantai, Jeongguk mengamati ayah mereka bergerak—mulai berbalik hendak kembali ke kamarnya. Namun persis saat Jeongguk akan menghembuskan napas lega, dia berbalik lagi dan membuat semuanya terkesiap, bahkan Taehyung dan Lakshmi.

Hidup dengan ayah Taehyung terlalu lama akan meningkatkan potensi meninggal karena serangan jantung, Jeongguk bersumpah. Beberapa menit di rumah ini sudah membuat usianya terasa dihisap beberapa tahun, dikurangi karena tegang. Jika setelah ini dia beruban, dia tidak akan kaget.

“Pintu itu kenapa terbuka?” Tanyanya, menunjuk pintu belakang Taehyung yang belum diselot karena terburu-buru mencumbu Jeongguk tanpa memikirkan risiko sama sekali.

“Dungu,” pikir Jeongguk ke dirinya sendiri. Bersumpah tidak akan bercinta di Puri siapa pun lagi setelah ini. Lebih baik mereka menyewa kamar di suatu tempat daripada seperti ini—tergencet di bawah ranjang dan tergencet gang sempit yang nyaris membuat tubuh Jeongguk jadi setipis kertas.

“Oh,” kata Taehyung—sekarang terdengar sedikit panik. “Tadi Tugung yang buka, agak kepanasan di kamar. Belum Tugung kunci.”

Jeongguk yang berada di bawah ranjang melihat ayah Taehyung memasuki ruangan, menyeberangi ruang kamar Taehyung ke arah pintu. “Itulah,” kata ayahnya dengan nada jengkel kental yang membuat Jeongguk menahan napas—nadanya begitu intens, penuh dengan kritik hingga Jeongguk merasa resah. “Kenapa Tugung jadi masuk angin.” Tegurnya.

Dia mengulurkan tangan ke arah pintu itu dan Jeongguk menyadari sesuatu dengan amat sangat terlambat.

Sepatunya masih di sana!

Dia mengumpat tanpa suara di dalam kepalanya yang berdenyut mengerikan, dicekam teror dan ketakutan karena berada di bawah ranjang. Dia menempelkan pipinya ke lantai, berusaha bernapas dengan tenang disela semua jaring laba-laba di bawah dipan Taehyung. Dia memejamkan mata dengan ngeri, merasa tubuhnya ngilu oleh ketakutan saat mendengar suara derit pintu.

“Pintu ini masih bisa dipakai, ya?” Komentar lelaki paruh baya itu, menariknya terbuka—engsel pintu yang tua berderit keras di tengah heningnya malam. Jeongguk yakin Taehyung sama sekali tidak bernapas sekarang. “Ajung kira sudah tidak bisa.” Gumamnya.

Dia menahan napas saat ayah Taehyung mengecek pintunya, membuka dan menutupnya untuk menguji engselnya yang berderit semakin keras. Dia melirik bayangan Taehyung dan Lakshmi yang berdiri berdekatan di dekat pintu. Jeongguk seperti kecoa menyedihkan yang terjebak di bawah ranjang dan sekarang tidak yakin kapan dia akan keluar dari sana—dan kancing celana jins sialannya menyakiti perutnya.

“Kurang minyak.” Komentar ayah Taehyung kemudian lebih ke dirinya sendiri, mendorong pintu tertutup sementara Jeongguk memanjatkan doa dalam hati agar dia segera pergi dari sana karena tubuh Jeongguk sudah mulai kesemutan dan mati rasa.

Jeongguk sedang berusaha menggerakkan kakinya, agar pembuluh darahnya tidak terjepit, dia menggertakkan rahangnya berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak mengerang karena kakinya yang mati rasa.

“Hm? Ini sepatu siapa?” Tanya ayah Taehyung kemudian, tiba-tiba saja dan bersyukurlah Jeongguk tidak terantuk dipan karena terkejut.

Dia terkesiap tertahan, seperti seekor tikus saat ayah Taehyung menjulurkan tubuhnya keluar dan membawa sepasang sepatu. Dia membungkuk, rendah sekali jika di menoleh ke bawah dipan anaknya dia akan menemukan Jeongguk yang meringkuk di sana. Jeongguk menahan napasnya saat ayah Taehyung yang wajahnya sekarang nampak dari tempat Jeongguk bersembunyi mengulurkan tangan, menjangkau sepatu Jeongguk.

Jeongguk baru menghembuskan setengah napasnya saat ayah Taehyung menegakkan tubuhnya dengan sepatu Jeongguk di tangannya; tidak menoleh ke bawah dipan anaknya. Dia menjatuhkannya di lantai dengan suara keras, menggema di ruangan yang hening persis di depan wajah Jeongguk di bawah dipan. Jeongguk rasanya ingin mati saja karena rasa tegang yang membanjiri pembuluh darahnya.

“Sepatu Tugung.” Sahut Taehyung seketika, nyaris panik. “Lupa Tugung masukkan tadi.”

Ayahnya diam, memproses kata-kata Taehyung. “Kenapa sepatu Tugung di sana?” Tanyanya kemudian, heran.

“Mampus,” pikir Jeongguk getir. Apa yang akan dikatakan Taehyung sekarang? Jeongguk tidak bisa memikirkan alasan apa pun yang masuk akal untuk sepatu yang berada di undakan pintu tidak terpakai.

“Tugung jemur tadi, agak bau, Ajung.” Sahut Taehyung, masih tegang—Jeongguk bertaruh dia juga menahan diri agar tidak mengusir ayahnya dari sana. “Lupa Tugung masukkan.”

Ayahnya diam lagi, mencerna alasan Taehyung sebelum mengedikkan bahunya, menerima alasan itu. “Syukur tidak kehujanan.” Katanya kemudian lalu melangkah ke arah pintu masuk, menyeberangi ruangan.

“Istirahat.” Tambahnya. “Besok sebelum kerja ketemu Ajung masalah Dayu tadi.” Jeongguk mendengar ayah Taehyung mengenakan sandal jepitnya dengan berisik di undakan teras kamar Taehyung.

“Ya, Ajung.” Sahut Taehyung dengan nada hormat yang mutlak.

“Lakshmi, jangan ganggu adikmu.” Ayah Taehyung menegur dengan keras saat suara langkah kakinya terseok-seok menjauhi kamar Taehyung. Suaranya tidak tinggi, Jeongguk menyadari. Namun ada sesuatu dalam nada itu yang membuat Jeongguk sakit hati—padahal bukan dia yang sedang dimarahi. “Kembali tidur. Jangan buat keributan. Seperti di hutan saja.”

Nggih, Ajung. Maaf.” Sahut Lakshmi pelan sebelum suasana kembali hening.

Jeongguk menghembuskan napasnya perlahan, namun dia belum selamat karena Lakshmi masih di ruangan bersama Taehyung sementara setengah tubuhnya sekarang sudah terasa mati rasa dan perutnya nyeri oleh dinginnya lantai. Dia tidak yakin dia bisa menarik dirinya keluar dari sini—Taehyung harus menyeretnya nanti.

“Selamat istirahat, Mbok Gek.” Kata Taehyung kemudian, sedikit mengusir kakaknya agar keluar dari kamarnya karena sungguh lima menit lagi dalam posisi ini maka Jeongguk tidak akan tertolong lagi.

Dia butuh Lakshmi segera pergi dari sana sehingga dia bisa bergegas pulang dan meregangkan kakinya. Mungkin mencium Taehyung selamat malam sebelum menjejalkan dirinya lagi ke gang terkutuk itu dan mengemudi pulang—menilai dari kakinya yang mati rasa, dia sepertinya harus diam lama sekali hingga benda itu berfungsi normal.

Alih-alih pergi, Lakshmi mendorong Taehyung masuk ke kamarnya lalu membanting pintu kamarnya tertutup dengan sedikit terlalu keras hingga dia sendiri terkesiap lalu bergegas menyelotnya dengan suara keras. Jeongguk mengejang—apa lagi ini?!

Mbok Gek?” Tanya Taehyung kaget, kebingungan dan mulai panik sekarang—Jeongguk bisa mendengar kepanikan di suaranya dan itu sangat berbahaya. Lakshmi bisa menyadari kebohongannya. “Kata Ajung—!” Mulainya, berusaha mengusir Lakshmi dari kamarnya namun tanpa diduga gadis itu melangkah ke kamar.

Dia menjejak kuat-kuat di lantai lalu berjongkok di lantai, menumpukan kedua tangannya di lantai untuk berbaring. Taehyung terkesiap, bergegas menghampiri kakaknya untuk mencegahnya. Jeongguk terkesiap, menahan napasnya dan memejamkan mata—dia tidak punya tempat kabur lagi!

“Wigung!” Serunya di dalam kepalanya, memohon diselamatkan—memohon Taehyung untuk melakukan apa saja agar dia tidak ketahuan. Apa saja agar Lakshmi segera pergi dari sana dan dia bisa kabur dari Puri dan tidak akan pernah melalukan ini lagi.

Dia bersumpah!

Mbok Gek!” Seru Taehyung kaget dan panik, berusaha menangkapnya namun Lakshmi menepis tangannya, bergegas menjatuhkan dirinya ke lantai dan menempelkan pipinya ke lantai—dan bertemu mata langsung dengan Jeongguk yang terkesiap keras.

Sejenak semuanya diam, jantung Jeongguk menghantam rusuknya dengan keras hingga terasa nyeri. Dia ketahuan.

“Sudah tiang duga.” Katanya tegang, wajahnya pucat pasi dan Jeongguk tidak bisa menyalahkannya. Jika itu Jeongguk, dia pasti akan sama tegang dan kagetnya menemukan penyusup setengah telanjang di bawah ranjang adiknya.

“Turah,” panggilnya gemetar, masih dengan wajah menempel di lantai lurus dengan Jeongguk yang bersembunyi seperti kecoa di bawah dipan.

“Tolong keluarlah dari sana.”

*