Gourmet Meal 181

tw // dub-con , guilt tripping , inferiority , toxic relationship . cw // bottom on top .


author's note: siapa saja yang sudah tidak nyaman dengan cerita atau dinamis taekook di sini, silakan berhenti membaca. saya tidak memaksa siapa pun untuk membaca cerita saya dan saya tidak bertanggung jawab atas emosi apa pun yang mungkin kalian rasakan karena saya sudah memberikan warning dan tags sebelum membaca. trims. ire, x


Jeongguk tidak yakin apa yang sedang dilakukannya sekarang saat memarkir mobilnya di halaman Alila dan bergegas masuk melalui pintu depan—beberapa karyawan, khususnya Security yang sudah mengenalnya mengangguk ramah dan Jeongguk membalas sapaan mereka sebelum memasuki lobi Alila yang bernuansa lembut dan hangat.

Dia bertemu Mingyu di meja depan dan mendesah, “302.” Katanya dengan ekspresi yang sudah diusahakannya nampak menyedihkan dan butuh bantuan.

Mingyu terkekeh, dia mengenakan jas supervisor-nya yang licin dan tajam. Nampak sangat cerdas dalam balutan seragam rapi itu. Dia mengecek di komputer di hadapannya lalu mencari pemesanan kamar itu di sistem sebelum mendongak—menatap Jeongguk yang menghela napas berat.

Fishy,” komentarnya sopan seraya meraih kartu kunci dan memprosesnya. “Dipesan atas nama Chef Taehyung, dengan employee rate satu malam.” Dia kemudian menyelipkan kartu itu ke dalam amplop mungil berlambang Alila. “Tolong beri tahu kekasihmu,” dia merendahkan suaranya. “Agar ke Front Office sebelum check out, aku butuh fotokopi KTP-nya.”

Dia menyerahkan kunci itu. “Selamat bersantai.” Dia menyerigai dan Jeongguk mendenguskan senyuman lemah—seolah dia memang akan bersantai hari ini. Karena dari reaksi Taehyung tadi, Jeongguk ragu dia akan bersantai dengan Taehyung.

Dia meraih kunci yang diberikan Mingyu. “Ke mana, ya, Pak Mingyu kamarnya?” Tanyanya dengan nada menyindir dan Mingyu terbahak serak sebelum bergegas keluar dari balik konter.

“Mari, Bapak Gung Ngurah, saya antarkan.” Katanya sebelum mengambil kembali kunci dari genggaman Jeongguk dan bergegas membimbingnya ke kamar yang dimaksud. “Kenapa kalian tidak memesan kamar di hotel lain, sih?” Tanyanya berbisik kemudian saat mereka berada di lorong yang sedikit sepi.

“Aku hanya ikut Taehyung.” Sahut Jeongguk kalem, mengekor Mingyu—di dalam tasnya sudah ada kondom dan lubrikan, apa pun yang terjadi dia yakin Taehyung akan mengajaknya bercinta sebelum benar-benar mendengarkan apa pun.

“Aku tidak melarang, sih,” kata Mingyu kemudian berhenti di salah satu kamar dan mengetuknya sesuai standar sebelum menyelipkan kunci lalu mendorongnya terbuka. “Maksudku, terlalu riskan. Banyak yang mengenal Taehyung di sini, syukur saja tadi aku yang berada di konter.” Dia menyelipkan kunci di tempat listrik sebelum menatap Jeongguk.

Jeongguk mengedikkan bahunya saat mendudukkan dirinya di ranjang, “Sungguh, Mingyu. Pilihanku tidak banyak jika itu tentang Taehyung.” Katanya, mendesah karena betapa benarnya kalimat itu terasa di bibirnya dan di hatinya.

Dia begitu lemah di depan Taehyung, begitu mencintainya hingga dia lupa memerhatikan dirinya sendiri. Mungkin benar kata Jimin, selama ini dia terkadang lelah meladeni keinginan Taehyung yang sulit. Suasana hatinya yang berubah dengan ekstrim, belum lagi kecenderungannya untuk memberikan silent treatment tiap kali Jeongguk mungkin keliru di hadapannya lalu menyelesaikan semua masalah dengan seks.

Jeongguk tidak keberatan dengan seks mereka, semuanya luar biasa. Dan dia sendiri menyadari betapa dia tidak bisa menjauhkan tangannya dari Taehyung. Namun terkadang hal-hal penting, pembicaraan-pembicaraan yang seharusnya mereka lakukan menjadi terabaikan. Mungkin dia sebaiknya membicarakan semuanya malam ini jika Taehyung mau bekerja sama dengannya.

“Tidak heran.” Sahut Mingyu, nyengir dengan menyebalkan. “Kau, 'kan, memang menyedihkan.” Tambahnya lalu membuka mulut hendak menyindir Jeongguk lagi saat seseorang muncul di balik pintu.

“Mingyu.” Katanya dingin dan pemuda itu langsung terlonjak, nyaris terjatuh karena kaget.

Keduanya menoleh, menemukan Taehyung berdiri dengan rambut setengah basah dan pakaian sederhana—kaus dan celana jins biasa namun Jeongguk mendadak ingin meraihnya. Menjabak rambutnya lalu menciumnya hingga dia merengek dalam sentuhannya. Ekspresi kerasnya membuat Jeongguk merasa tertantang, ingin 'menjinakkannya'. Ingin membuatnya mendengkur senang. Ingin membuatnya rileks, merona dan merekah di bawahnya.

“Oh, Chef!” Sapa Mingyu sebelum bergegas berpamitan. “Selamat beristirahat.” Katanya mengerling Jeongguk dengan cemas karena ekspresi Taehyung sebelum bergegas pergi dari sana.

Taehyung menatap Mingyu sebentar sebelum melangkah masuk dan menutup pintu. “Dia... tahu?” Tanyanya, sekarang nampak cemas dan Jeongguk bergegas bangkit dan menghampirinya.

“Tahu, tapi tidak masalah.” Katanya memeluk Taehyung yang langsung meleleh dalam pelukannya, mendesah panjang menyandarkan kepalanya di bahu Jeongguk. “Dia sahabatku, dia tidak akan mengatakan apa pun kepada siapa pun.” Dia membelai punggung Taehyung sayang, mengusapnya naik turun dengan lembut.

“Hari ini menyebalkan, ya?” Bisiknya di rambut Taehyung yang lembab. “Aku membuatmu jengkel, ya? Maaf, ya?” Tambahnya, mengecup pelipis Taehyung lalu mengeratkan pelukannya, mendesah karena pelukan itu membuatnya merasa nyaman dan hangat. Dia tersenyum saat Taehyung membalas pelukannya, mengaitkan jemarinya di balik punggung Jeongguk.

Seberapa marahnya pun dia pada Taehyung, semuanya lenyap begitu saja detik pemuda itu meleleh dalam pelukan Jeongguk. Dia begitu mencintai Taehyung, begitu sangat membutuhkannya dalam hidupnya hingga dia nyaris buta arah. Dia memeluk Taehyung, memastikan jantung mereka berdebar bersama—bersentuhan di balik pakaian dan rusuk mereka.

“Maaf aku membuatmu jengkel.” Bisik Jeongguk lalu mengecup puncak kepalanya sebelum menarik tubuhnya untuk menatap Taehyung yang tersenyum tipis. “Kau sudah makan?”

Taehyung mengangguk, “Tadi.” Katanya, mengulurkan kedua lengannya dan kembali memeluk Jeongguk hingga pemuda itu terkekeh parau—membalas pelukannya dengan senang hati.

“Kenapa kau manja sekali hari ini?” Tanyanya, menyisir rambut Taehyung dengan jemarinya.

Mereka masih berdiri di lorong sempit di depan pintu kamar, enggan beranjak karena pelukan mereka terasa begitu hangat. Jeongguk memejamkan mata, menikmati waktu mewah mereka bersama dan senang memutuskan untuk membatalkan janjinya dengan Mirah karena ternyata memeluk Taehyung terasa jauh lebih menyenangkan. Dia menghela napas, merengkuh Taehyung lebih erat lagi dalam kedua lengannya.

“Kangen.” Gumam Taehyung dalam pelukannya, mengeratkan pelukannya seolah mereka bisa lebih dekat lagi. “Dan kau menyebalkan hari ini.”

Jeongguk tergelak, “Maafkan aku, oke?” Dia mengecup Taehyung sebelum mendesah dan mengurai pelukan mereka perlahan. Taehyung merengek kecil namun Jeongguk bergegas meraih wajahnya, menangkupnya dengan kedua telapak tangannya sebelum mencium bibirnya.

Taehyung melenguh kecil, mengalungkan kedua lengannya ke leher Jeongguk dan membalas ciumannya dalam. Mereka berdua terhuyung, Jeongguk membimbing Taehyung ke ranjang. Membaringkannya di sana dengan lembut tanpa memisahkan ciumannya. Lidahnya menyelip masuk, puas mendengar suara Taehyung yang mendengkur senang lalu membelai geliginya. Dia menarik ciuman mereka, menatap Taehyung yang merona di ranjang—terpenjara di antara kedua lengannya.

“Aku akan memberimu satu seks,” gumamnya lembut, membelai wajah Taehyung—menyeka anak rambut dari wajahnya dan menyapukan pandangan terpesona yang takzim pada Taehyung. “Setelahnya, kita bicara, oke?”

Taehyung menatapnya—konflik berkilat di matanya dan hati Jeongguk mencelos. Perasaannya sama sekali tidak enak saat melihat ekspresi Taehyung namun saat dia membuka mulut hendak bertanya, Taehyung meraihnya. Tidak memberikannya kesempatan untuk berpikir saat merayunya pada seks paling menakjubkan yang pernah dirasakan Jeongguk.

Dia mendesah keras, nyaris meledak oleh gairahnya sendiri saat Taehyung naik ke atasnya dan menyatukan tubuh mereka. Jeongguk menggertakkan rahangnya, meremas kedua bahu Taehyung saat dia bergerak di atasnya dengan lembut—nyaris menyiksanya dengan menggerakkan pinggulnya begitu perlahan. Jeongguk terengah, mulutnya terbuka dan matanya terasa buta oleh cahaya putih akibat seks yang begitu menakjubkan.

“Oh,” sengalnya saat Taehyung mengangkat tubuhnya lalu turun dengan sangat perlahan hingga Jeongguk menggigil. Dia meremas pinggul Taehyung, menggerakkannya sesuai apa yang diinginkannya namun Taehyung menolaknya—dia bergerak sesuai apa yang hasratnya inginkan dan begitu lambat hingga Jeongguk menggertakkan giginya.

“Wigung,” sengalnya, nyaris merengek saat Taehyung bergerak di atas selangkangannya, memastikan dia merasakan tiap gesekan kulit mereka di indra sentuhannya. “Oooh....” Erangnya panjang saat Taehyung melakukan manuver dengan pinggulnya, memijat tubuhnya dengan cara yang amat sangat menakjubkan.

Taehyung merunduk, terengah dengan rambut membentuk tirai di kedua sisi wajahnya dan mencium Jeongguk yang berdeguk di bawahnya. Lidah mereka saling membelit, menari licin dengan saliva mereka sementara Jeongguk menggerakkan pinggul Taehyung yang merengek karena sensasi gesekan itu. Taehyung menumpukan kedua lengannya di kedua sisi kepala Jeongguk, wajahnya berkerut penuh kenikmatan dengan mulut terbuka—desahan lembut terus meloloskan diri dari sana, melecut gairah yang mendebarkan ke kepala Jeongguk.

Taehyung adalah manusia paling indah dalam hidup Jeongguk—dia hangat, dia lembut, dia menyenangkan, dia begitu mendebarkan. Jeongguk takkan pernah terbiasa menyentuhnya, merasakan lembut kulit Taehyung di jemarinya, merasakan pelukan tubuhnya yang mengencang, merasakan ciumannya. Dia begitu mencintai Taehyung, begitu menyayanginya.

Dia menggeram keras, melenguh saat Taehyung mendesah tercekat, orgasme dengan indah di atas perutnya dan tersengal—keringat meleleh dari keningnya yang tinggi dan Jeongguk menyekanya. Mengecupnya sayang, merasakan asin keringatnya sebelum menggumamkan permisi—menyelesaikan gilirannya hingga Taehyung mengeluarkan suara merengek panjang yang membuat Jeongguk nyaris sinting oleh gairah.

“Kau indah,” sengalnya terengah, menciumi wajah Taehyung yang merengek saat Jeongguk bergerak. “Kau indah sekali, kau indah. Kau indah sekali.” Gumamnya, menggeram saat orgasme melilit di dasar perutnya, memberontak hendak meloloskan diri. “Aku sangat,” bisiknya parau. “Sangat mencintaimu.”

Taehyung melolong, melempar kepalanya ke belakang saat Jeongguk bergerak semakin intens—menggerakkan pinggulnya nyaris seperti kesetanan saat mengejar orgasme yang berkelip seperti bintang di balik kelopak matanya. Jeongguk menggeram disela rengekan Taehyung sebelum meledak menjadi debu karena orgasmenya.

Dia tersengal, lelah dan puas saat akhirnya mereka mencapai orgasme bersama dan berbaring bersisian di atas ranjang yang lembab oleh keringat. Jeongguk meraih Taehyung, memeluknya dan membiarkan pemuda itu membelitkan kakinya pada kaki Jeongguk. Mereka telanjang, membuat bagian-bagian tubuh mereka bergesekan dengan menarik. Jeongguk membelai rambutnya, sayang dan lembut.

Malam ini, dia berencana akan memberi tahu Yugyeom tentang orientasi seksualnya. Mungkin sudah saatnya dia membuka diri pada adiknya, membebaskan satu beban dari pundaknya sehingga dia bisa sedikit bernapas. Berharap adiknya akan menerimanya lalu membantunya menghadapi kehidupan ini seperti apa yang selalu mereka lakukan selama ini.

Dia berharap, dengan menceritakannya pada Yugyeom, dia bisa memiliki tempat untuk bernaung. Penerimaan Lakshmi pada orientasi seksual Taehyung membuatnya terinspirasi—meyakinkan dirinya untuk memberi tahu Yugyeom. Merasa betapa aman dan nyamannya jika saudaranya tahu dan mendukungnya seperti itu.

Walaupun dia tidak berani berharap banyak Yugyeom akan menerimanya dengan baik.

Dia menggeleng lembut, tidak ingin merusak malamnya dengan Taehyung memikirkan itu. Dia akan mengurusnya nanti.

Taehyung menggeliat dalam pelukannya, mendesah keras lalu menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Jeongguk—menggumam nyaman dan Jeongguk tergelak, dia membelai Taehyung dengan sayang. Menyadari benar tubuhnya yang lembut, lembab dan hangat dalam pelukannya—merona setelah orgasme.

Taehyung menekuk lututnya, menggunakan ujungnya untuk mengusap selangkangan Jeongguk hingga dia gemetar. Mendesis karena sensasi itu melecut gairah anyar yang memusingkan di tubuhnya. Dia mengecup wajah Taehyung—bibirnya, pipinya, semua tempat yang bisa diraihnya. Mulai kembali panas.

“Kita akan bicara sebelum aku naik ke atasmu, oke?” Bisiknya, memutuskan untuk sekali saja bersikap tegas pada Taehyung setelah sekian lama membiarkan dirinya dirayu untuk melakukan seks. “Beri tahu aku apa yang kaurasakan tentang hubunganku dan Mirah.”

Menyebut nama itu bukanlah hal yang tepat karena ekspresi Taehyung langsung berubah seketika—mendung menggelayut di wajahnya, dia langsung jengkel dan sangat terganggu. Maka Jeongguk mengeratkan pelukannya, membelainya sayang dan berusaha meredakan amarahnya.

“Aku mendengar banyak sekali masalah tentang itu dari Jimin, aku harus mendengarnya darimu.” Bisiknya lagi, selembut mungkin—berusaha keras agar tidak melukai perasaan Taehyung dan merusak suasana mereka. “Katakan padaku, Taehyung. Katakan semua yang mengganggumu dalam hubungan ini padaku. Bukan pada orang lain.”

Jeongguk diam, membiarkan Taehyung mencerna kata-katanya sebelum menambahkan dengan nada mendayu-dayu. “Jika kau membicarakannya pada Mbok Gek atau Jimin, itu tidak akan menyelesaikan masalah kita. Hanya akan menambah kepala dan mulut yang ikut campur—alih-alih menyelesaikan masalah, hanya akan menambah masalah.”

“Kau tahu aku sangat mencintaimu,” bisiknya lagi, mengecup Taehyung dalam. “Aku akan membakar diriku sendiri untukmu, berjalan di bara api—apa saja. Aku akan melompat ke api untukmu. Segalanya untukmu.

“Aku minta maaf jika sikapku pada Mirah membuatmu meragukan perasaanku.” Dia menatap Taehyung yang gemetar halus dalam pelukannya dan sejenak rasa takut serta nyeri merebak di hatinya—menyadari bahwa obrolan itu membuat Taehyung tidak nyaman.

Taehyung jarang sekali membicarakan emosinya, dia lebih suka menelannya saja. Mengabaikannya. Jeongguk tahu itu. Taehyung mungkin tidak menyadari seberapa banyak Jeongguk mengenalnya—dia mirip dengan Jeongguk. Membotolkan emosi mereka karena membicarakannya tidak akan membuat perasaan itu membaik—tidak akan ada yang memahami mereka, memahami emosi mereka karena tumbuh di lingkungan yang menabukan segala hal tentang lelaki dan emosi.

“Beri tahu aku apa yang membuatmu tidak nyaman.”

“Kau sudah tahu apa,” gumam Taehyung dan Jeongguk menggeleng.

“Tidak,” katanya sabar, menatap Taehyung yang menggertakkan giginya tanpa suara. “Kau harus memberi tahuku sekarang, kau sendiri. Bukan Jimin, bukan Mbok Gek. Kita selesaikan bersama, oke? Lalu aku bisa mengatur bagaimana caraku bersikap agar tidak membuatmu jengkel.”

Taehyung menatapnya, sejenak ragu dengan kilatan emosi di matanya yang membuat hati Jeongguk terasa diremas-remas sebelum dia akhirnya membuka mulut—butuh beberapa menit, dia membuka dan menutup mulutnya. Ragu, menghela napas, sebelum akhirnya menghembuskannya.

“Kau terlalu baik padanya.” Katanya dan Jeongguk langsung menghadiahinya satu ciuman hingga dia mengerang.

“Dan?” Tanyanya lembut, “Jelaskan padaku apa yang kaurasakan.”

Taehyung menatapnya. “Kau terlalu menuruti maunya, kau bersikap lembut dan sopan padanya. Kau selalu.... memahaminya. Kalian nampak sangat serasi berdua dan itu sangat menggangguku.” Dia meledak, semua emosinya membanjir tumpah ruang di ranjang mereka hingga sejenak Jeongguk kelabakan saat berusah menampungnya.

“Fakta bahwa dia perempuan yang keluargamu anggap 'pantas' untukmu sama sekali tidak menolong. Aku terus di sini, berpikir kau mungkin tertarik pada perempuan itu karena sikapmu yang lembut dan sabar padanya, sopan dan menarik. Kau memesonanya, dia jatuh cinta padamu.

“Detik kau jatuh cinta padanya akan menjadi sebuah skenario Disney—saling jatuh cinta dan bahagia selama-lamanya. Aku berusaha mengabaikannya, Tuhan tahu aku berusah—berusaha meyakinkan diri bahwa kau mencintaiku, tapi tidak. Tidak ada yang bisa membuat perasaanku lebih baik.”

“Maka kemudian, seks adalah satu-satunya penenangku.”

Jeongguk menatap Taehyung, yang merona setelah melepaskan semua sampah yang berada di hatinya—rona di wajahnya adalah amarah, emosi yang paling sering terbit di wajahnya. Membuat keningnya berkerut, wajahnya mengernyit dengan cara yang membuat hati Jeongguk terasa dipelintir. Dia mengulurkan tangan, menyentuh wajah Taehyung—mengusap kerutan itu lembut, meluruskannya namun Taehyung tidak meresponsnya.

“Memikirkan bahwa kau masih tertarik secara seksual padaku, bercinta denganku dan mendesahkan namaku membuatku merasa aman.” Gumam Taehyung, sekarang tidak lagi menatap Jeongguk. “Membuatku merasa bahwa kau memang milikku.”

Jeongguk tersenyum, memeluk Taehyung erat ke dadanya. “Maka jadikan aku milikmu.” Bisiknya di rambut Taehyung. “Jadilah pacarku.”

Tubuh Taehyung menegang dalam pelukannya dan Jeongguk meresponsnya dengan menarik tubuhnya, menatap Taehyung yang menolak menatapnya. Sejenak Jeongguk berpikir apakah dia terburu-buru dengan mengatakan itu karena mereka baru menjalani keadaan beradab ini beberapa hari. Mungkin dia seharusnya menunggu lebih lama, menunggu hingga Taehyung nyaman dengan orientasi seksualnya alih-alih memaksakan kehendaknya.

Jeongguk mendesah, merasa seperti seorang bajingan sekarang. “Tidak, tidak.” Katanya lembut. “Kita tidak harus membicarakan itu sekarang. Mari kita mengeksplor hubungan kita dulu kedepannya, menemukan hal-hal yang kita sukai, menyesuaikan diri dan—”

FWB.

Jeongguk berhenti seketika, mulutnya terkatup dengan suara keras saat mendengar kata-kata Taehyung. Apakah dia salah mendengarnya? “Apa?” Tanyanya, meragukan pendengarannya sendiri. “Apa katamu barusan?”

Taehyung nampak bertekad kuat, matanya berkilat dan Jeongguk sama sekali tidak menyukainya. Rahangnya keras, matanya tajam—dia tidak suka Taehyung yang ini bergabung di ranjang bersamanya. Dia lebih suka Taehyung yang lembut, merengek, merajuk padanya. Mendengkur saat Jeongguk menciumnya, mendesah panjang saat Jeongguk bercinta dengannya.

Bukan Taehyung yang ini.

Friends with benefit.” Ulang Taehyung dan Jeongguk harus menahan napasnya karena sakit yang ditorehkan setiap kata itu membuatnya nyeri. “Jika kita bertemu secara reguler hanya untuk bercinta, tidak akan ada yang disulitkan. Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan dengan Mirah dan aku dengan Devy. Semua senang.”

Mulut Jeongguk terbuka, tidak menyangka Taehyung akan mengatakan hal semacam itu padanya—tidak menyangka kata itu meluncur dengan mudahnya dari bibir Taehyung. Tidakkah dia menyadari cinta yang dimiliki Jeongguk untuknya? Tidakkah dia menyadari betapa Jeongguk sangat menginginkannya hingga seluruh dirinya ngilu? Tidakkah dia tahu Jeongguk siap membuang segalanya demi bersama Taehyung?

Dan dia mengajak Jeongguk menjadi teman seks?

“Kau sudah sinting, ya?” Katanya, amarah menggelegak di dasar perutnya—setelah semua hal yang dilakukannya untuk Taehyung, semua pengorbanannya, semua amarah yang ditelannya, semuanya.

Semuanya.

Dia hanya menginginkan Jeongguk sebagai teman seks?

“Aku tidak ingin merepotkanmu dengan perasaan.” Kata Taehyung, dingin dan berjarak. “Kau sendiri yang lelah dengan semua emosiku, 'kan? Maka lebih baik tidak melibatkan emosi sama sekali di dalam hubungan kita kecuali gairah. Praktis.”

“Praktis.” Ulang Jeongguk, terserang tawa histeris aneh—dia tergelak kebingungan, merasa ironis bagaimana Taehyung membicarakan hati dan perasaan Jeongguk seolah benda itu hanyalah seonggok sampah. “Kau ingin hubungan yang praktis.” Ulangnya.

“Kau lelah dengan suasana hatiku yang selalu berganti.” Sahut Taehyung dan Jeongguk merasa pusing karenanya. “Kau lelah meladeni perubahannya, kau lelah berusaha menebak perasaanku, lelah saat aku mendadak jengkel; maka mari kita keluarkan perasaan dari hubungan ini dan—”

“Taehyung.” Sela Jeongguk, menguraikan pelukannya dari Taehyung—merasa mual mendengarkan omong kosong yang diracaukan Taehyung seperti bayi yang baru tahu caranya menghasilkan suara. “Taehyung, berhenti.” Dia menarik dirinya.

Menyadari kilatan luka di mata Taehyung saat dia melakukannya—dia tahu Taehyung mencintainya. Dia tahu Taehyung memiliki perasaan yang sama namun dia menolak menerimanya—menolak merengkuh perasaan itu dan membiarkannya berdenyut. Taehyung menginjaknya, dengan kejam mencabutnya lalu mencincangnya habis tiap kali dia berusaha menguncup dan merekah.

Taehyung tidak pernah bersikap baik hati pada perasaannya sendiri, tidak memberi ruang untuk hatinya yang dingin bersemi. Dia selalu mencabut semua emosi dari sana, mencatutnya lepas dan membakarnya jadi abu. Dan sekarang, dia melakukannya pada perasaan Jeongguk.

Praktis.

Maka lebih baik keluarkan perasaan dari hubungan ini.

Jeongguk pusing, dia menurunkan kakinya dari ranjang—menyentuh lantai hanya agar kakinya yang dingin tidak mati rasa. Dia mual karena memikirkan hubungan yang ditawarkan Taehyung. Selama ini dia berusaha meyakinkan Taehyung tenang perasaannya, menyayangi pemuda itu bahkan lebih dari dirinya sendiri dan satu-satunya hal yang diinginkannya dari Jeongguk hanyalah seks.

“Kau dengar apa yang kaukatakan?” Tanyanya parau, tidak lagi mengenali suaranya sendiri saat bicara—perutnya bergolak sekarang. “Kau dengar dirimu sendiri, Taehyung?”

Tidak ada jawaban dari balik bahunya—dari Taehyung yang duduk di atas ranjang. Keduanya masih telanjang, masing lengket setelah bercinta. Jeongguk berpikir setelah mereka bicara dan berbaikan, mereka akan kembali bercinta lalu saling memaafkan. Kembali menjalin hubungan yang selama ini membuat Jeongguk merasa sangat bahagia—memiliki semangat untuk menjalani hari demi hari yang tidak lagi membosankan.

Taehyung menuang begitu banyak warna di hidupnya, melukiskan begitu banyak bentuk dan rona di langitnya. Dan sekarang dia dihantam kenyataan bahwa satu-satunya yang Taehyung butuhkan darinya adalah seks.

Jeongguk baru saja mempersembahkan hatinya kepada monster berdarah dingin yang sudah tidak memiliki hati. Dengan senang hati meraihnya, menggenggamnya dalam tangannya lalu meremasnya hingga remuk, menggerusnya hingga menjadi cairan kental yang menetes di kakinya.

Taehyung tidak segan meremukkan hatinya. Dan Jeongguk baru saja mengizinkannya melakukannya—dengan senang hati.

“Jika itu yang kauinginkan,” katanya, menelan ludah dengan sulit—jantungnya berdebar dengan ritme yang menyakiti rusuknya.

Setengah hatinya yang remuk memaksanya untuk bangkit dan pergi, menjauhi monster yang berada di ranjangnya—menyelamatkan dirinya. Menyelamatkan hidup dan hatinya. Namun setengahnya lagi memohon Jeongguk untuk tinggal, memaksanya menerima bahwa hubungan apa pun dengan Taehyung takkan melukainya. Memaksanya berpuas diri atas seks—merasa sedikit senang karena Taehyung memilihnya.

Jeongguk sangat membutuhkan Taehyung—dia sungguh sangat membutuhkannya. Nyaris seperti pecandu yang membutuhkan narkoba, menghirupnya dan membiarkan Taehyung meracuni seluruh sistem tubuhnya dengan senang hati. Dia membiarkan Taehyung menancapkan kukunya di hati Jeongguk, meremasnya, melukainya.

Dia membiarkannya.

Dia mengizinkan Taehyung melakukannya.

Akankah dia mengizinkannya melakukannya lagi dengan cara yang jauh lebih kejam lagi sekarang?

“Friends with benefit, menyingkirkan emosi dan perasaan dari hubungan ini.

Akankah Jeongguk....?

*