Gourmet Meal 148

tw // bloods , violence . cw // taekook interaction with girls


Taehyung menatap ruang obrolannya dengan Jeongguk lalu menyimpan ponselnya ke saku bajunya saat melihat Devy melangkah dari dalam rumah dengan setelan kebaya yang sedikit tidak serasi dengan warna bajunya—dia mengenakan kebaya bordiran semi-Prancis yang membalut tubuhnya dengan sempurna berwarna burgundy.

Syukurlah dia mengenakan kebaya konvensional berlengan panjang karena jika dia menggunakan kebaya kekinian dengan lengan pendek dan kain kebaya menggantung di atas pantat, Taehyung akan langsung memintanya mengganti kebayanya. Matanya melirik ujung kain yang membalut kaki Devy, puas saat melihatnya menutup mata kakinya dengan kain.

Katakanlah Taehyung kuno, tapi menurutnya kebaya memang digunakan untuk menutup tubuh dan sebaiknya tetap mengikuti model konvensional lama. Dia lebih menyukai itu. Kakaknya tetap nampak cantik dengan kebaya konvensional.

Rambutnya disanggul sederhana, dengan bunga anggrek bulan ungu segar disematkan di rambutnya, poninya dibentuk dengan apik serta beberapa anak rambut yang diikalkan menggantung di sisi wajahnya. Riasannya sempurna. Dia bisa saja jadi perempuan yang manis dan penurut namun kedamaian Taehyung langsung pecah berantakan saat dia membuka mulut.

“Wik!” Serunya sebal di depan pintu penumpang. “Bagaimana caranya naik?!”

Taehyung menghela napas sebelum membuka pintu pengemudi dan melompat turun dari mobilnya. Dia bergegas ke sisi penumpang dan membantu Devy memanjat naik dengan mempersilakan gadis itu memegang tangan dan lengannya sebagai tumpuan tambahan. Devy memanjat naik, nyaris terjungkal karena kainnya yang ketat dan mobil Taehyung yang lumayan tinggi.

“Kakimu.” Katanya sebelum menutup pintu mobil dan bergegas menuju pintu pengemudi, dia memanjat naik dan menyadari Devy sedang memperbaiki tatanan pakaiannya setelah memanjat naik.

“Nanti dibantu turun, ya, Wik?” Katanya setelah menutup kakinya dengan kainnya—mengecek riasannya di cermin yang dibawanya dalam tas tangannya. “Kenapa tidak pakai mobil yang lebih normal, sih?” Tanyanya.

Taehyung memutar bola matanya. “Mobil di rumah hanya ada satu.” Sahutnya sebelum memasukkan persneling dan mulai mengemudi ke arah Tenganan.

“Wik.” Panggilnya lagi saat mobil melaju menuju jalan bypass.

Duh. “Kenapa?” Tanyanya dan berhasil menyetop dirinya sendiri sebelum menambahkan, “lagi” dengan jengkel.

“Sudah pernah menonton Geret Pandan?” Devy menoleh, menatapnya mengemudi.

“Sudah.” Dia mengangguk, mengabaikan tatapan Devy di sisi wajahnya dengan risih. “Aku selalu datang setiap tahun mewakili Ajung.”

Devy mengangguk-angguk, menatap ke luar jendela menikmati perjalanan dengan jendela tertutup karena dia tidak mau rambutnya berterbangan. Taehyung tidak akan terbiasa dengan aroma parfum feminim—terlalu manis, hidungnya perih. Kakaknya tidak pernah menggunakan parfum dengan aroma seperti ini—aroma-aroma yang dipilih Lakshmi selalu lembut dan tidak menyengat.

Perempuan harus berhenti memilih parfum beraroma menyengat, Taehyung sungguh tidak bisa memahaminya.

Mobilnya meluncur ke arah Karangasem, keluar dari Klungkung dan memasuki wilayah Yeh Malet. Tenganan tidak terlalu jauh dari Klungkung, walaupun sebenarnya dia tidak pernah paham kenapa Puri-nya diundang menghadiri hari pertama Geret Pandan setiap tahun kecuali bahwa ayahnya bersahabat baik dengan tetua adat mereka.

Mereka memasuki wilayah Manggis yang tidak seramai jalan bypass Karangasem-Denpasar. Melewati Amankila, mereka kemudian tiba di Candidasa dan membelok ke arah Tenganan Pegringsingan, tempat dilaksanakannya agenda tahunan itu. Jalan Raya Nyuh Tebel mulai terasa ramai dan matahari mulai bersinar naik saat mobil Taehyung meluncur di jalan raya yang halus menuju Tenganan yang berada di ujung jalan ini.

Mereka tiba di lokasi parkir Tenganan yang mulai semarak dengan panji-panji dan hiasan—acara Geret Pandan atau Perang Pandan merupakan salah satu daya tarik wisata Karangasem, itulah mengapa dia selalu bertemu Jeongguk di sini selaku perwakilan dari salah satu Puri di Karangasem setiap tahunnya. Seorang Pecalang mengenali Taehyung dan langsung meminta seseorang mengantarnya ke dalam lalu membantunya parkir.

Taehyung berterima kasih sebelum membuka pintu penumpang dan membantu Devy menuruni mobilnya, nyaris mematahkan pergelangan kakinya karena heels-nya terperosok ke jalanan Tenganan yang dibangun dari batu-batu sungai yang ditanam ke tanah. Taehyung menggenggamnya kuat-kuat saat gadis itu oleng.

“Hati-hati.” Kata Taehyung, nyaris mengeluh saat membantu gadis itu menyeimbangkan dirinya di atas heels.

“Sudah.” Gadis itu tersenyum pada Taehyung namun tidak melepaskan genggamannya pada lengan Taehyung. Terkadang dia sungguh bingung pada sikap Devy karena tidak peduli seberapa dinginnya Taehyung memperlakukannya, dia tidak pernah tersinggung.

Dia menatap tangannya dan memejamkan mata sejenak sebelum mendesah, “Baiklah.” Katanya lalu membenahi udeng-nya sebelum hendak melangkah ke panggung utama di depan Pura Desa Tenganan.

“Sebentar,” kata gadis itu—menyentuh bahunya dan mengulurkan tangan, menggumamkan kata permisi lalu membantu Taehyung membenahi bulu merak di ikat kepalanya.

Taehyung nyaris menepis tangannya sebagai reaksi spontan atas sentuhan itu, berhasil menahan dirinya sendiri dan menahan napas kuat-kuat saat tangan gadis itu bergerak di kepalanya—membantunya memasang hiasannya dengan benar.

“Nah, sudah.” Katanya senang, menurunkan tangan lalu kembali melingkarkan lengannya di lekukan siku Taehyung. “Ayo.”

Taehyung harus menahan dirinya agar tidak menepis tangan Devy lagi darinya dan untuk pertama kali merasa benar-benar risih pada sentuhan orang lain di tubuhnya selain kakak, ibunya, dan Jeongguk. Namun dia menggertakkan gigi, membiarkan setan cilik itu melakukan apa saja yang diinginkannya hanya agar ibu dan kakaknya baik-baik saja.

“Perlakukan Dayu dengan sopan.” Begitu ancaman ayahnya pagi tadi saat Taehyung berpamitan untuk menjemputnya setelah mengikat udeng lembarannya yang bermotif kuno.

Maka di sinilah Taehyung, berusaha bersikap sopan pada setan cilik yang sekarang nampak takjub pada sekitarnya saat melangkah perlahan di jalan setapak Tenganan yang tidak rata—Taehyung beberapa kali harus menahannya karena nyaris terhuyung, menggigit lidahnya agar tidak membentak Devy memintanya memerhatikan di mana kakinya melangkah.

“Demi Tuhan, perhatikan jalanmu!” Toh, akhirnya dia menyerah juga mendesis saat mereka hampir tiba di panggung Perang Pandan ketika Devy nyaris terjerembab untuk kesekian kalinya.

“Kau memang tidak sabaran.” Balas Devy, alih-alih jengkel terdengar sangat terhibur hingga Taehyung semakin dongkol. “Kalau kau marah-marah terus, nanti cepat tua.”

Ruang terbuka di depan Pura Desa Tenganan sekarang dipenuhi dengan para pemuda-pemudi Tenganan yang mengenakan setelan pakaian adat desa mereka yang terbuat dari kain tenunan mereka yang terkenal, kain Gringsing. Motif-motifnya mewah dengan warna monotun merah-hitam-putih atau Tri Datu, melambangkan tiga warna dewa besar Hindu dengan sedikit sentuhan warna cokelat. Ada ayunan kayu raksasa yang sekarang berayun lembut dengan beberapa anak gadis di atasnya, tertawa ceria menikmati ayunan yang didorong oleh lelaki dewasa.

Semua pandan berduri yang akan digunakan untuk bertarung hari ini dijajarkan di bawah balai desa yang mulai dipenuhi para tamu dan peserta, dijemur bersama tameng-tameng yang terbuat dari anyaman rotan. Taehyung disambut sahabat ayahnya yang langsung mempersilakannya naik ke balai dan duduk untuk menonton Perang Pandan bersama beberapa tetua adat Tenganan.

Taehyung membantu Devy menaiki tangga ke arah balai sebelum menaikinya dan duduk di kursi yang disediakan untuknya. Dia langsung bertemu dengan Mingyu, salah satu Front Office Supervisor di Alila yang mengenakan kain di pinggangnya, udeng serta bertelanjang dada.

“Wah! Halo, Chef!” Sapanya mengulurkan tangan dan Taehyung menyambutnya hangat. “Terima kasih atas kedatangannya hari ini.” Tambahnya sebelum menyalami Devy dengan sopan.

“Kembali kasih.” Sahut Taehyung menatapnya. “Kau akan ikut hari ini?” Tanyanya menyadari pakaian Mingyu yang terbuka.

“Saya selalu ikut, Chef.” Balas Mingyu, nyengir dan nampak sangat bersemangat mengikuti acara hari ini. “Sebagai ketua Karang Taruna.”

Taehyung mengangguk, menepuk bahunya akrab. “Selamat berjuang. Semoga semuanya baik-baik saja.” Katanya pada Mingyu yang mengangguk, berterima kasih lalu bergabung kembali ke rekan-rekannya.

Taehyung bersandar di tempatnya, menunggu tetua adat yang sedang menyucikan semua sarana upacara, meminta restu dari leluhur agar acara berjalan lancar dan memberikan berkat kepada semua pemuda Tenganan yang akan melakukan Perang Pandan hari ini. Aroma dupa dan bunga segar mengisi udara di sekitar Taehyung disertai aroma khas Tenganan yang tercium seperti rempah dan kain apak yang anehnya terasa akrab serta menenangkan.

Devy di sisinya mulai mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa gambar, Taehyung tergoda untuk menegurnya namun akhirnya memilih mengabaikannya; anak itu boleh menikmati waktunya sebagai gen Z. Dia melirik kursi beberapa meter darinya, diselingi dua kursi lain yang biasanya diisi Jeongguk. Setiap tahun, mereka menghadiri prosesi ini sendirian mewakili keluarga mereka masing-masing namun tahun ini mereka menghadirinya berdua dengan calon istri mereka masing-masing.

Dia belum mengatakan apa pun tentang Devy ke ayahnya; apakah dia setuju pada perjodohan itu atau tidak. Tentu saja tidak. Dan dia juga belum bertanya pada Jeongguk apakah dia menerima calon istrinya yang jika menilik dari cara Jeongguk menceritakannya, nampak sopan dan baik. Taehyung secara personal merasa senang Jeongguk mendapatkan perempuan sopan, baik, dan menghormatinya sebagai lelaki.

Bukan setan cilik yang bertingkah sesukanya seperti gadis di sisi Taehyung yang sekarang merapikan riasannya—mulai nampak bosan karena acara belum juga dimulai. Taehyung baru saja akan menegurnya, memintanya mengatur ekspresinya agar para tetua Tenganan tidak tersinggung saat dia melihat Jeongguk memasuki lapangan.

Taehyung menahan napasnya.

Dia menawan sekali dengan pakaiannya—dia mengenakan baju safari merah marun lembut, kain endek khas Karangasem yang mewah dengan benang emas membentuk motifnya, udeng yang terikat rapi sempurna dengan bulu merak cantik mengintip dari simpulnya serta senyuman ramah di bibirnya. Dia bersinar, Taehyung selalu tahu Jeongguk bersinar di mana pun dia berada—menarik perhatian dengan wajah dan pembawaannya.

Jeongguk ditemani satu tetua Tenganan, membicarakan sesuatu dengan serius saat pandangan Taehyung jatuh ke gadis di sisinya.

Rasa dengki dan jengkel seketika menyeruak di dadanya saat menyadari warna kebaya yang digunakan Mirah persis dengan warna baju safari yang digunakan Jeongguk—nyaris seolah mereka memesan khusus keduanya untuk hari ini. Dia gadis menarik dengan wajah bulat yang cantik, riasannya tipis dan natural dengan rambut disanggul modifikasi. Dia berjalan anggun di sisi Jeongguk, sama sekali tidak goyah dengan jalanan tidak rata di bawah heels-nya—tersenyum ramah pada perkataan tetua di sisi Jeongguk.

Mereka sangat serasi, jika saja hati Taehyung yang getir tidak menolak mengakuinya. Jeongguk sedang mengatakan sesuatu sambil tertawa dengan lengan Mirah di lekukan sikunya, juga tersenyum—merespons Jeongguk dengan sopan. Jeongguk berhenti, membantu Mirah melewati jalanan tidak rata nyaris dengan kesabaran yang sama seperti saat dia membantu Taehyung.

Nyeri menyeruak di dada Taehyung dan dia harus menghela napas tajam demi menahan sakit itu saat Jeongguk menunduk ke gadis di sisinya dengan wajah khawatir (khawatir!). Mengatakan sesuatu dan Mirah tersenyum padanya, menggeleng sebelum mereka kemudian melangkah ke arah panggung. Jeongguk memastikan gadis itu menaiki tangga sebelum dirinya menaiki tangga.

Taehyung mengalihkan pandangannya, mengamati siapa saja kecuali Jeongguk yang tengah disambut para tetua adat dengan ramah. Jeongguk menyalami semua orang, mengangguk dengan senyuman lebar di bibirnya sementara Mirah berdiri di sisinya dengan sopan.

“Wah, cantik sekali.” Komentar Devy di sisinya dan Taehyung tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang dibicarakannya.

Karena Taehyung sendiri setuju, Mirah memang cantik dan dia cocok dengan keseluruhan aura Jeongguk. Mereka akan menjadi pasangan yang sempurna untuk mewarisi Puri Jeongguk. Sama-sama rupawan, tenang, dan ramah.

“Mereka cocok, ya, Wik.” Tambahnya, tersenyum kecil tidak menoleh ke Taehyung sehingga tidak menyadari ekspresi masam Taehyung. “Kebayanya cantik, aku ingin tahu di mana dia membeli kainnya...” Sisa kalimat Devy adalah gumaman untuk dirinya sendiri dan Taehyung tidak mau mendengarkannya.

Dia menyilangkan kakinya di kursi, menatap lurus ke tanah lapang di bawah panggung yang akan digunakan untuk prosesi Perang Pandan hari ini saat parfum Jeongguk menghampiri hidungnya—aroma parfum yang takkan gagal dikenalinya di mana pun dia berada.

“Tjok Taehyung.” Sapa Jeongguk formal dan ramah, berdiri di depan kursinya dengan pakaian berwarna nyaris identik—jika saja Mirah tidak menggunakan warna yang sama, berikut bros kecil dan bulu merak mereka.

Aneh mendengar suara itu menyebutkan nama Taehyung setelah sekian lama dia memanggil Taehyung dengan sebutan 'Wigung' atau 'Sayang'. Taehyung tidak menyukai panggilan lain selain keduanya lolos dari bibir Jeongguk—sama sekali tidak. Dia melirik Mirah yang tersenyum sopan padanya, terlalu sopan hingga hatinya sejenak tidak bisa membencinya.

“Oh,” katanya bergegas berdiri, merapikan kainnya. “Halo, Gung Ngurah.” Sapanya menjabat tangan Jeongguk—mengguncangkannya hangat dan tegas sekali sebelum bergegas melepaskannya, nyaris menepis tangan Jeongguk darinya dikuasai rasa jengkel.

Dia tidak menghabiskan semalaman berusaha mencocokkan warna pakaiannya dengan Jeongguk lewat video call hanya untuk mendapati gadis lain meniru warna itu. Dia menatap Jeongguk yang mengerjap—menyadari perubahan suasana hatinya dan menghela napas lembut, matanya berkilau dan Taehyung mengabaikannya.

Memangnya Jeongguk tidak bisa menipu pasangannya sedikit seperti Taehyung menipu Devy yang sekarang mengenakan kebaya burgundy? Kenapa dia harus mengatakan warna yang persis sehingga gadis itu bisa mencari kebaya yang benar-benar senada?

Mirah menyalami Devy yang menyambutnya dengan ramah, langsung akrab—tidak heran karena Devy memiliki bakat itu. “Mbok Gek,” sapanya tersenyum. “Saya suka sekali kebayanya!”

Taehyung menatap Jeongguk yang balas menatapnya, rahang Taehyung kencang dan dia memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatapnya lagi karena dia benar-benar jengkel melihat betapa natural interaksinya dengan Mirah. Membuat Taehyung seketika meragukan semua kata cinta yang diucapkannya ke Taehyung, membuatnya takut dan dicengkeram rasa tidak percaya diri.

Dia kembali duduk, memastikan kainnya tidak menyangkut saat menyadari Jeongguk duduk di sisinya—persis di sisinya. Tidak terhalang dua kursi sebagaimana biasanya dan dia meliriknya dengan ekor matanya. Jeongguk membalas tatapannya sementara Mirah di sisinya mengatakan sesuatu, pemuda itu langsung memalingkan wajah untuk membantu Mirah.

Taehyung merasa dia baru saja ditonjok persis di ulu hatinya saat Jeongguk melepaskan tatapan darinya untuk membantu Mirah di sisinya.

Dia terenyak, bersandar di kursinya dengan hati berdenyut nyeri hingga Devy menoleh kaget. Dia tidak tahu bagaimana rupanya sekarang namun dari tatapan Devy sepertinya dia terlambat menahan ekspresinya sendiri agar tidak mengumumkan suasana hatinya.

“Wigung?” Devy mencondongkan tubuhnya ke arah Taehyung, mengulurkan tangan menyentuh bahunya dan Taehyung harus menggertakkan giginya agar tidak berjengit oleh sentuhan itu. “Kau tidak apa-apa?”

Taehyung menggeleng, menyentuh dadanya dan berusaha menekan rasa sakit anyar itu. Berusaha mengabaikannya. Namun rasa panas aneh menjalar di belakang paru-paru dan jantungnya, membuat napasnya tercekat dan debar jantungnya berubah.

“Eh? Dadanya sakit?” Desak gadis itu, nampak benar-benar cemas hingga Taehyung sejenak terserang keinginan untuk tertawa histeris karena sakit yang dirasakannya di dadanya.

“Dayu,” panggilnya, parau. “Air, tolong.”

Devy mengangguk sedikit panik, bergegas meraih botol air mineral di meja di depan mereka lalu membukakan tutupnya untuk Taehyung. Dia menyelipkan sedotan plastik ke dalamnya, mengulurkannya ke Taehyung yang menerimanya dengan penuh syukur—membiarkan air mineral membasuh perasaan tidak nyaman itu, berusaha mengenyahkan bayangan Jeongguk yang memalingkan wajah darinya tadi.

“Kenapa?” Terdengar suara dari sisi kiri Taehyung dan dia nyaris mengerang saat menyentuh botol, meminta Devy menurunkannya. “Kau sakit?” Tanya Jeongguk, mencondongkan tubuhnya untuk melihat ekspresi Taehyung yang menolak menatapnya.

Devy merogoh tas tangannya, mengeluarkan tisu yang diterima Taehyung. Dia menyeka selapis keringat di keningnya sebelum mengangguk pada Devy yang masih menegakkan tubuhnya, nampak cemas pada perubahan ekspresi Taehyung yang pastinya sangat berbeda drastis dari ekspresinya yang biasa.

Bayangan Jeongguk yang memalingkan wajah darinya terngiang di kepalanya dan membuatnya semakin mual.

You like her? Of course. She's fine.

Pada titik ini, Taehyung tidak akan percaya apa pun yang dikatakan Jeongguk padanya. Dia hanya akan mempercayai apa yang dilihatnya, bukan apa yang didengarnya.

“Tidak apa-apa.” Katanya, memastikan kata itu cukup beracun untuk Jeongguk dan menyadari dengan puas saat Jeongguk mengerjap oleh nada itu sebelum mundur.

Dia lalu menoleh ke Devy, “Trims.” Katanya sebelum memandang ke lapangan yang mulai dipenuhi tamu.

Semuanya membentuk lingkaran, seperti menonton sambung ayam. Pemuda-pemuda Tenganan bertelanjang dada dengan kain di pinggang mereka dan udeng berdiri melingkar di bagian paling depan, bertugas memisahkan jika pertarungan terlalu sengit. Beberapa wisatawan internasional dan domestik ikut bergabung dalam keramaian, beberapa membawa kamera untuk mengabadikan prosesi itu sementara beberapa tetua datang membawa sekendi air suci dan mulai memberikan berkat pada semua pemuda yang akan bertarung. Mingyu berada di kerumunan itu, menerima tirta dengan bersemangat.

Perang Pandan dimulai oleh lelaki tertua dan Mingyu merupakan salah satu dari beberapa yang membuka prosesi itu. Dia dan lawannya berdiri di tengah lapangan, tersenyum ceria seolah mereka hanya akan bermain kelereng alih-alih berusaha saling menyakiti dengan seikat pandan berduri digenggaman mereka. Mingyu mengenakan tameng di lengan bawah kirinya, menggenggam pandan berduri yang diikat dengan benang Tri Datu di tangan kaannya.

Dia mengetes kekuatan senjatanya sebelum mendengus puas, siap bertarung. Beberapa pemuda menyoraki mereka, persis seperti melakukan sambung ayam namun dengan manusia. Cahaya matahari mulai terik, kerumunan di sekitar lokasi mulai semakin ramai.

Taehyung berusaha memfokuskan kepalanya ke sana alih-alih ke Jeongguk di sisinya yang sedang bicara dengan suara sayup-sayup ke Mirah. Memangnya dia tidak bisa mengabaikan pasangannya seperti yang dilakukan Taehyung? Kenapa Jeongguk harus terlahir sebagai lelaki baik, bertanggung jawab, dan sopan?

Di lapangan, Mingyu mulai menyerang. Dia dan lawannya berpelukan di tengah lapangan, tangan kanannya yang menggenggam pandan dipukulkan ke punggung lawannya lalu dia menggesekkan duri itu ke punggung lawannya hingga dia mengerang tertahan. Darah pertama terbit dan menetes ke tanah tandus. Wasit memisahkan mereka dan Mingyu tersenyum lebar, gigi gingsulnya terbit—nampak puas dengan dirinya sendiri karena berhasil menyerang duluan.

Dalam perang pandan, mereka dipersilakan melukai lawannya. Malah diwajibkan melukai lawan mereka dengan pandan berduri yang disiapkan. Mingyu menyalami lawannya sebelum mereka mundur, berpisah dan bersiap kembali untuk ronde berikutnya. Mingyu bertahan, menepis semua serangan lawannya sebelum menyabetkan ikatan pandannya yang langsung melukai lengan lawannya.

Darah kedua terbit dan menetes ke tanah. Mingyu mendengus, terlalu cepat senang dan menurunkan pertahanan dirinya lalu mendadak lawannya menubruknya, menyabetkan pandannya ke punggung Mingyu—memastikan benda itu menancap sempurna sebelum menariknya hingga Mingyu menggeram. Darahnya menetes ke tanah dan wasit bergegas memisahkan mereka.

Devy terkesiap keras tiap kali pandan mengenai tubuh para pemuda, meringis saat darah menetes ke tanah dan nampak takut namun juga bersemangat. Taehyung menyadari betapa emosinya masih seperti anak usiannya; meledak-ledak, penasaran, dan mencari-cari.

Perang akan dihentikan ketika kedua pemuda babak belur. Mingyu dan lawannya tertawa setelah ronde terakhir, dengan badan carut marut dan babak belur setelah diserang dengan pandan lalu mundur ke sudut.

“Mereka tidak apa-apa?” Devy mendekatkan kepalanya lalu berbisik ke Taehyung yang mengangguk.

“Mereka akan diberikan obat dari desa. Dari tumbuh-tumbuhan.” Taehyung mengedikkan dagunya ke Mingyu yang sekarang membantu lawannya mengoleskan tumbukan dedaunan ke luka mereka. “Membuat lukanya cepat sembuh.”

Devy mengangguk-angguk paham. “Itu sakit, 'kan?” Tanyanya lagi.

“Tentu saja sakit.” Sahut Taehyung, mengamati saat Mingyu memanjat naik ke posisinya setelah mengobati lukanya nampak nyengir menyambut high five semua orang seolah luka di badannya bukan apa-apa.

Perang dilanjutkan. Sepasang demi sepasang pemuda bertarung di lapangan dengan senjata pandan berduri tajam dan tameng anyaman rotan di tangan kiri mereka. Sorakan para pemuda lain menambah suasana meriah perang pandan tahun ini. Tahun ini masyarakat non-Tenganan tidak diperkenankan ikut karena kejadian tahun lalu saat seorang wisatawan internasional terluka parah oleh serangan lawannya. Tetua memutuskan bahwa melarang masyarakat non untuk ikut adalah hal paling aman.

“Terima kasih,” kata Taehyung saat menyalami Mingyu saat membubarkan diri seusai acara, dia akan mengantar Devy pulang lalu beristirahat karena dia benar-benar lelah seharian ini. “Semoga lukamu cepat sembuh.” Dia mengerling pasta tumbuhan di tubuh Mingyu.

“Trims, Chef!” Katanya ceria. “Mampir sebentar, jalan-jalan sebelum pulang.”

Taehyung menggeleng. “Sudah bertahun-tahun saya menghadiri acara ini.” Katanya dan Mingyu terkekeh sebelum akhirnya mereka berpisah.

Nyatanya, Devy menahan mereka di sana untuk menikmati festivalnya. Dia berhenti untuk melihat-lihat kain tenun yang dipajang oleh para masyarakat dan berakhir membeli selendang tenun Gringsing kecil seharga satu juta lima ratus. Taehyung sudah bersiap merogoh dompetnya jika Devy ternyata tidak membawa cukup uang namun ternyata teknologi sudah menjangkau mereka sehingga transaksi bisa diselesaikan dengan e-money.

“Kau belum punya tenun Gringsing?” Tanya Taehyung saat Devy menerima kainnya yang halus dan berserat—ditenun manual oleh masyarakat Tenganan, menggunakan benang yang dipintal sendiri serta perwarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Kain itu merupakan satu-satunya kain tenun di Indonesia yang menggunakan tenik ikat-ganda yang memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk menyelesaikan satu lembarnya. Taehyung punya selembar selendang Gringsing yang hanya digunakannya untuk acara penting karena kain itu harus dicuci dengan air hujan tanpa sabun. Air PDAM yang menggunakan cairan penjernih akan melunturkan warna alaminya maka tiap kali kain tenunnya digunakan, Lakhsmi harus bekerja ekstra untuk mencucinya.

“Belum.” Devy menggeleng, nampak senang dengan belanjaannya. “Ini pertama kalinya aku ke Tenganan dan memutuskan membelinya saja.” Dia kemudian kesulitan menyimpan ponselnya ke tasnya maka Taehyung meraih kantung kertas terisi kainnya dan membantunya memasukkan ponselnya.

Dia tidak sengaja mendongak dan melihat Jeongguk berdiri beberapa meter darinya dengan Mirah dalam genggamannya, matanya menatap tangan Taehyung di lengan Devy. Sakit yang sama menyeruak di dadanya, dia menghela napas tajam hingga Devy mendongak dari kegiatannya bertarung dengan ritsleting tas tangannya.

Lucu bagaimana saat mendengar nama gadis itu diucapkan, Taehyung tidak pernah menganggapnya ancaman—nyaris berpikir gadis itu hanyalah sebuah khayalan. Dan saat dia berdiri di sana, nampak cantik dan sopan, seperti seorang bangsawan pada umumnya, Taehyung merasakan tikaman rasa cemburu yang begitu liar.

Sekarang Mirah bukan lagi khayalan, dia nyata. Dan dia nampak serasi dengan Jeongguk.

“Ayo, pulang.” Ajak Taehyung, tidak ingin bertemu Jeongguk namun dia terlambat karena ternyata pemuda itu jauh lebih cepat tiba di sisinya.

“Tjok.” Sapanya ramah dan hangat, menahan mereka.

Taehyung nyaris mengerang dan memutar bola matanya. Dan mendadak, Devy mendenguskan senyuman dan dia menoleh ke anak itu—senyumannya lebar sekali dan Taehyung menyadari dia baru saja kelepasan memasang wajah jengkel. Dan sejak kapan mereka jadi akrab? Taehyung tidak yakin. Namun hari ini pengecualian, Devy adalah rekan kerjanya.

“Halo, Gung.” Sapanya menoleh lalu mengangguk pada Mirah yang tersenyum—masih menggelayuti Jeongguk seperti anak monyet. “Mau pulang?”

“Ya,” sahut pemuda itu, matanya mencari namun Taehyung mengabaikannya—dia melirik setan cilik di sisinya dan menyadari anak itu memahami sesuatu dari senyuman lebar di bibirnya. “Tadi Mirah menyarankan untuk pergi makan bersama, jika kau ada waktu.”

Taehyung tidak punya waktu untuk apa pun yang disarankan Mirah, Jeongguk sebaiknya memahami itu.

“Kau sudah bertukar nomor dengan Mirah?” Tanyanya dengan suara rendah pada Devy mendadak hingga anak itu mengerjap.

“Memangnya kenapa?” Balasnya bertanya pada Taehyung, memandangnya dengan bola mata dilapisi lensa kontak berwarna manis.

“Bukankah kau ingin bertanya di mana dia membeli kebayanya?”

Devy mengerjap, “Oh.” Katanya kemudian mengedikkan bahu. “Kami sudah bertukar akun Instagram kok. Kenapa, Wik?” Tanyanya lagi.

Taehyung mengangguk lalu menoleh ke Jeongguk. “Sayang sekali aku harus menolaknya karena Dayu mengeluh lelah. Jadi aku akan mengantarnya pulang sekarang.” Dia kemudian mencubit lengan Devy tepat saat gadis itu membuka mulut untuk protes karena sejak tadi yang mengeluh lelah adalah Taehyung.

Setan cilik itu mencibir, namun kemudian tersenyum pada Jeongguk dan Mirah. “Iya,” sahutnya. “Kami akan pulang saja. Mungkin lain kali, ya, Mbok Gek, Bli Gung.”

Jeongguk menyapukan pandangannya ke wajah Taehyung yang balas menatapnya sengit—memberi tahunya bahwa Taehyung tidak sudi berdekatan dengan Mirah atau dengan Jeongguk jika Mirah masih menggelayut di lengannya. Jeongguk kemudian menghela napas lalu menoleh ke pasangannya, mengatakan sesuatu dan Taehyung melihat Mirah mengangguk—melepaskan tangannya dari Jeongguk.

Dari milik Taehyung.

“Dayu,” katanya pada Devy dengan Karangasem manner-nya yang lembut hingga Devy mengerjap kaget. Dia tersenyum, menarik dan menyihir sekali. “Saya pinjam Tjok sebentar, nggih?”

“Kau tidak dengar dia lelah dan ingin pulang?” Tukas Taehyung seketika, mencegah Devy melepaskan tangannya dari lengannya. “Aku akan mengantarnya pulang. Apa pun yang akan kaukatakan, bisa dilakukan lewat telepon.”

Jeongguk menatapnya, nampak tidak senang. “Sebentar saja.” Katanya, nyaris menegur dan Taehyung menahan napasnya—dia tidak suka nada itu, dia benci nada itu.

Devy juga sepertinya menangkap nada itu karena dia kemudian berbisik, “Ya sudah, Wik, tidak apa-apa.” Katanya menatap Taehyung yang menggertakkan rahangnya. “Jangan dipukul.” Tambahnya mendesis.

“Memangnya aku lelaki seperti itu?” Balasnya jengkel pada Devy yang mengedikkan bahu.

“Kau kelihatan bisa menonjoknya kapan saja.” Katanya sebelum melepaskan tangannya dari Taehyung lalu melangkah ke Mirah yang menunggu beberapa meter dari mereka.

“Berteduhlah.” Kata Jeongguk ke Mirah yang mengangguk sebelum memimpin Taehyung menjauhi mereka, pergi ke sudut balai yang sepi karena semua orang berkumpul di lapangan.

“Apa lagi yang salah sekarang?” Tanya Jeongguk begitu balai menyembunyikan setengah tubuh mereka dari Mirah dan Devy. Dia menatap Taehyung dengan pandangan nyaris memohon yang memilukan, namun Taehyung mengabaikannya.

“Tidak ada yang salah.” Sahutnya, bersidekap—menjaga jarak dari Jeongguk. “Memangnya apa yang salah menurutmu?”

“Kau mengabaikanku.” Jeongguk praktis menggeram, dia menatap Taehyung lekat-lekat sementara lawan bicaranya menatap dengan dingin.

And?” Balas Taehyung, menyadari sepenuhnya kalimat yang akan dikatakannya akan menyakiti Jeongguk namun dia tidak peduli lagi. Dia menarik napas dan melepaskannya, “What's the surprise?”

Jeongguk terenyak di tempatnya, matanya melebar kaget saat mendengar jawaban Taehyung yang menggertakkan rahangnya—menahan dagunya tetap naik saat menatap Jeongguk memproses kalimatnya. Apakah Taehyung kelewatan? Oh, peduli setan.

“Kita akan bicara setelah ini.” Jeongguk menatapnya, mulai nampak terganggu dan Taehyung tidak peduli—tidak ingin meladeninya.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Dia kemudian melangkah melewati Jeongguk. “Aku pulang duluan.” Tandasnya menghampiri Devy yang mengamatinya dengan tertarik.

Taehyung mengulurkan tangan, “Ayo pulang.” Katanya dan Devy menatap tangan itu, kaget karena Taehyung bersikap beradab padanya setelah sekian lama. Namun dia tetap meraihnya. “Mari, Tjok Mirah.” Dia mengangguk pada gadis itu yang bergegas balas mengangguk dan tersenyum bingung.

Dia melangkah dari sana, tidak menoleh sama sekali pada Jeongguk.


Author's note.

Tidak semua sesi geret pandan terjadi luka serius, sering kali hanya dilakukan untuk bersenang-senang. Tapi tidak menutup kemungkinan terjadi luka serius jika penyerangan dilakukan berlebihan.

Aku nonton udah lama banget tahun 2009/2010 jadi kurang tahu yang sekarang seperti apa. Kurang lebihnya, aku minta maaf sksksk

love, ire x