Gourmet Meal 162

tw // implied and internalized homophobia .


Nyatanya, Jeongguk tidak bisa keluar dari bawah ranjang dengan heroik karena kakinya kesemutan.

Maka Taehyung harus berbaring di lantai dan membantunya keluar sementara Lakshmi mengawasi sekitar agar ayah mereka tidak lagi memergoki mereka. Butuh beberapa menit hingga akhirnya Jeongguk bisa keluar dari bawah kasur dengan rambut penuh sarang laba-laba. Setelah Taehyung mendorong dipan sedikit agar dia bisa meraih Jeongguk, menariknya keluar.

Dia terbaring di lantai, mengerang keras karena seluruh tubuhnya nyeri sementara Taehyung bergegas mengancingkan celana jinsnya saat Lakshmi memalingkan wajah—membiarkan Jeongguk membereskan diri. Dia mendengar keduanya berbisik-bisik, mendesis dengan nada gemas yang membuatnya tanpa sadar tersenyum. Taehyung jarang bicara, dia lebih sering bergerak dan menjawab sekenannya—sesuai apa yang ditanyakan.

Dan mendengarnya aktif berkomunikasi dan nyaris mengomel, membuat Lakshmi senang.

“Kenapa Turah tidak bersembunyi di kamar mandi?” Tanyanya, membelakangi adiknya yang sedang membantu kekasihnya mengenakan pakaian karena tubuhnya mati rasa. Bajunya gemerisik saat Taehyung membantu Jeongguk mengenakan kausnya kembali.

“Karena Mbok Gek menggedor pintunya seperti orang kesurupan dan saya tidak sempat berpikir.” Sahut Jeongguk setengah berbisik, setengah mengeluh saat Taehyung membantunya duduk.

Aliran darah kembali berjalan dengan benar di tubuhnya dan Jeongguk merasa kepalanya berdenyut. Taehyung berlutut di sisinya, membantunya membersihkan sisa sarang laba-laba yang menyangkut di helai rambutnya dengan jemarinya lalu menyisir rambutnya. Lakshmi akhirnya menoleh setelah yakin Jeongguk sudah berpakaian, menatap kedua lelaki sehat yang duduk di lantai kamar adiknya.

Otaknya bergerak, menyadari sepenuhnya keadaan Jeongguk yang setengah telanjang saat ditarik keluar dan juga rona merah di leher Taehyung. Dia tidak bodoh, tidak juga polos. Dia tahu apa itu dan jelas bukan gigitan serangga. Tidak sulit menebak apa yang dilakukan adiknya sesaat sebelum Lakshmi mengetuk pintunya.

Lalu dia melihat sepatu itu. Dia hafal semua barang adiknya, juga seleranya. Sepatu-sandal kasual jelas bukan kesukaan adiknya yang memiliki banyak sandal gunung dan sepatu kets. Ayahnya mungkin tidak menyadarinya, juga menyadari bekas ciuman di leher Taehyung karena yakin ayahnya hanya pernah melakukan seks misionaris dengan ibunya tapi Lakshmi yang mengurus Taehyung sejak kecil tahu—ada seseorang di kamar adiknya.

Dan saat ayahnya bergerak ke pintu, dia melihat sesuatu bergerak di bawah ranjang. Sebuah kaki terjulur sejenak keluar dari bawah ranjang, ujung kakinya mengintip sebentar namun cukup untuk Lakshmi menyadari bahwa memang ada seseorang di sana.

Tidak sulit menebak siapa yang berada di kamar adiknya karena satu-satunya manusia yang membuat Taehyung tertarik adalah Jeongguk. Karena jika itu perempuan, dia pasti akan bersembunyi di kamar mandi. Hanya lelaki impulsif yang akan memilih bawah ranjang untuk bersembunyi, perempuan tidak akan melakukannya.

Maka dia membuktikannya dengan mengintip langsung ke sana.

Tidak habis pikir bagaimana seorang keturunan bangsawan Puri besar Karangasem menjejalkan dirinya di bawah dipan seseorang dan jika menilai dari posisi sepatunya, dia juga menjejalkan dirinya di gang rahasia mereka—bahkan Lakshmi yang paling langsing sekali pun kesempitan di sana.

Bagaimana lelaki setinggi 180 sentimeter dengan berat tidak mungkin kurang dari 75 kilogram menjejalkan dirinya di sana? Lakshmi tidak tahu.

“Diobati dulu lukanya,” bisik Lakshmi saat melihat bahu Jeongguk yang terluka, menyadari pemuda itu benar-benar menjejalkan dirinya ke gang itu demi menemui Taehyung. “Kenapa tidak datang dari pintu depan? Telepon tiang? Pasti tiang bukakan pintu dan antar ke kamar Tugung.”

Kedua pemuda di hadapannya diam. Memandang Lakshmi seolah ada dua tangan baru yang tumbuh dari lehernya hingga Lakshmi merona di bawah tatapan keduanya. Lalu Jeongguk menghela napas berat, mengusap rambutnya yang menjuntai karena dia kehilangan karet rambutnya lalu menatap Taehyung lemah.

Lakshmi selalu harus menahan napasnya tiap kali dia melakukannya—persis seperti hari itu di rumah sakit. Tatapan Jeongguk pada adiknya begitu intens, begitu penuh cinta. Nyaris terasa seolah Lakshmi sedang memergoki mereka di ranjang dalam keadaan telanjang. Pandangannya begitu sarat oleh perasaan cinta yang begitu personal hingga Lakshmi tidak tahan untuk tidak memalingkan wajah dari mereka.

Dia tidak yakin tentang bagaimana dia menyikapi ini; kenyataan bahwa adiknya ternyata tidak 'normal' sesuai dengan standar yang selama ini dipahaminya. Bahwa adiknya memilih hal yang berbeda dari apa yang keluarga mereka harapkan. Lakshmi belum bisa menerimanya sepenuhnya—masih ada sedikit perasaan mengganjal di hatinya dan juga pikiran tentang 'bagaimana mereka kedepannya?'.

“Karena kau bodoh.” Gerutu Taehyung dan Jeongguk mendelik sayang dan gemas padanya.

“Ya? Dan kau dramatis.” Balasnya dan senyuman kecil terbit di bibir Taehyung.

Lakshmi menoleh, menatap keduanya yang sekarang saling memelototi seperti dua anak kecil yang kalah bermain kelereng. Dia tersenyum, sudah lama tidak melihat adiknya nampak rileks. Dan dia bahkan kehilangan kerut di antara kedua alisnya sekarang—luar biasa sihir yang digunakan Jeongguk untuk membuat adiknya mengendurkan sarafnya yang selalu kencang sejak dia beranjak dewasa karena tekanan Puri.

“Pesan Mbok Gek,” katanya kemudian, mereka melepaskan tatapan dari satu sama lain dan menatapnya. “Tolong jangan di Puri.” Dia kemudian merona, berdeham saat memalingkan wajah dari keduanya. “Di sebelah ini dapur,” dia melanjutkan, menolak menatap keduanya karena rikuh membicarakan ini. “Mbok Gek mendengar kalian.... Anu,” dia berdeham, tidak sanggup melanjutkan karena malu.

Dan keduanya masih cukup beradab untuk nampak malu.

“Tugung tidak pernah berisik di kamar,” tambah Lakshmi memandang ke mana saja asal bukan adiknya. “Paling berdoa atau marah-marah di telepon, tapi tidak pernah...” Dia berhenti sejenak, ragu sebelum menelan ludah. “Mendesah.”

“Jadi,” dia bergegas mengubah topik pembicaraan, tidak mengizinkan kekikukan berlama-lama di udara. “Tolong jika kalian memang akan melakukannya, jangan di Puri. Ajung suka tiba-tiba menggedor kamar Tugung seenak hatinya—jika tadi Ajung yang menemukan pertama, Mbok Gek tidak tahu bagaimana nasib kalian.”

Setitik hatinya yang bermoral merasa tidak nyaman sama sekali membayangkan adiknya bercinta dengan lelaki. Dia berusaha mengabaikannya, berusaha memikirkan bahwa itulah yang membuat adiknya bahagia. Namun syukurlah dia tidak pernah berpikir hal itu adalah sesuatu yang menjijikkan—Jimin selama ini sudah sangat terbuka dengan orientasi seksualnya dan Lakshmi beradaptasi dengan sikapnya yang sangat santai sehingga dia mampu menyikapi suasana ini lebih baik lagi.

Mbok Gek tidak...,” Taehyung menutup mulutnya, rahangnya mengencang dan Jeongguk di sisinya menyentuh lengan atasnya—lembut, nyaris tidak menempel di kulit adiknya namun entah bagaimana itu berhasil membuat Taehyung rileks.

Hati Lakshmi terasa dipelintir.

Dari semua hal yang dia dan ibunya coba lakukan demi menolong Taehyung agar lebih rileks dan lebih terbuka tentang emosinya, tidak ada yang bisa membuat Taehyung seketika melepaskan genggamannya seperti apa yang dilakukan Jeongguk. Semakin lama berada di sekitar mereka, semakin Lakshmi merasa sedang mengganggu sesuatu yang sangat personal. Mereka seolah hidup dalam gelembung mereka sendiri, saling menatap—saling mengagumi dengan cara yang membuat hatinya diremas-remas.

Adiknya yang dingin, adiknya yang lembut dan penyayang namun selalu nampak tidak teraih dan jauh dari genggamannya, sekarang menatap lelaki di sisinya—nampak sangat rapuh dan lembut. Seperti kelopak mawar yang merekah, jatuh dari pegangannya karena sudah lelah. Lakshmi belum pernah melihat adiknya selembut itu, serapuh itu.

“Tidak jijik?” Tanyanya kemudian dengan gigi terkatup.

Lakshmi menyadari dengan sengatan rasa perih betapa banyak emosi yang ditekan adiknya demi mengatakan itu, konflik batinnya sendiri dan dia bisa melihat Jeongguk sama sekali tidak mengapresiasi pemilihan katanya. Dia mungkin bisa sedikit banyak menyadari dinamika hubungan mereka dari interaksi ini.

“Karena?” Tanyanya lembut, berusaha menekan debar jantungnya. “Tugung, 'kan, adik Mbok Gek.” Bisiknya. “Apa saja yang membuat Tugung bahagia, Mbok Gek dukung.”

Jeongguk menoleh ke arahnya, terkejut hingga wajahnya pucat pasi. “Mbok Gek... sudah tahu sebelum ini?” Tanyanya kemudian, tegas walaupun nampak tegang. Lakshmi menyadari apa yang membuat adiknya tertarik pada lelaki ini. “Karena jika ini pertama kalinya Mbok Gek tahu, tiang yakin reaksinya tidak akan seperti ini.”

Lakshmi menghabiskan masa remajanya bergantung pada Taehyung sebagai sosok ayah yang selalu melindungi dia dan ibunya. Bertanggung jawab atas mereka, bersikap sebagai seorang kepala keluarga—menghadiri banyak sekali acara-acara adat banjar atau rukun warga mereka menggantikan ayah mereka sejak usianya menginjak dua puluh tahun. Lakshmi tidak pernah memiliki sosok ayah selain Taehyung; dia yang selalu melindungi Lakshmi, selalu memastikan dia diperlakukan baik oleh kekasih-kekasihnya sejak dulu, menemani Lakshmi saat dia putus cinta.

Selalu Taehyung.

Terkadang dia berpikir apakah adiknya yang hidup di bawah atap keluarga rusak yang sama tidak membutuhkan sosok yang menguatkannya? Sosok yang akan dicontohnya, sosok yang melindunginya, mengayominya? Lakshmi pikir lelaki tidak membutuhkan sosok itu karena mereka adalah lelaki. Sebelum dia familier dengan konsep toxic masculinity.

Maka dia kemudian mempersilakan Taehyung menangis, mengeluh, dan bersikap lemah di hadapannya. Namun tetap bisa dihitung dengan jari, kesempatan Taehyung bersikap terbuka di depannya—dia selalu bersikap superior, kuat, tangguh, dan dingin. Menjadi ayah untuk Lakshmi dan pelindung bagi ibunya.

Dan melihat bagaimana Jeongguk di sisi adiknya, bahu dicondongkan ke arahnya dengan gestur melindungi dan bagaimana Taehyung nampak... menyerah padanya membuat perut Lakshmi terasa dipukul.

Dia memang menyadari adiknya mungkin membutuhkan sandaran, membutuhkan orang yang akan membuatnya merasa aman, seseorang yang bisa diandalkan. Namun dia tidak pernah menyadari bahwa kebutuhan itu begitu besarnya hingga dia melihat cara Jeongguk melindungi adiknya. Gestur tubuhnya sudah cukup untuk menggambarkan betapa dalam cinta yang dimiliki Jeongguk untuk adiknya; betapa tulusnya dia, betapa dia sangat menghormati Taehyung.

Tiang,” bisik Lakshmi perlahan, tenggorokkannya panas oleh isak yang hendak terbit. “Pernah berpikir apakah Tugung membutuhkan seseorang untuk bersandar? Apakah Tugung membutuhkan seseorang yang bisa diandalkan saat dia lelah? Apakah Tugung membutuhkan orang untuk mengadu? Bersikap lemah dan terbuka? Menangis dan mengeluh?

“Dan tiang berpikir orang itu adalah tiang. Karena selama ini Tugung selalu bersikap seperti itu pada tiang. Tiang pikir, tiang bisa menjadi seseorang seperti Tugung ke dia. Tiang bisa membantu Tugung menanggung bebannya.”

Lakshmi menatap Jeongguk sebelum menatap adiknya. Dia sayang sekali pada Taehyung—tidak peduli setinggi dan sebesar apa dia sekarang, Lakshmi selalu merasa dia adalah anak kecil yang dulu mengekornya ke mana-mana. Bertanya dengan penasaran tiap Lakshmi melakukan sesuatu, ikut mandi bersamanya, membantunya mencuci, menyiangi janur bersamanya, membuat canang....

Hatinya hangat namun juga perih tiap kali teringat apa yang harus ditanggung Taehyung demi keluarga mereka. Apa yang mereka bertiga harus alami di rumah ini. Maka Lakshmi berpikir, kemewahan kecil untuk adiknya tidak akan melukai siapa pun.

“Hingga tiang sadar,” bisiknya, mulai gemetar oleh tangis hingga reaksi spontan Taehyung adalah menghampirinya lalu meraih tangannya. “Tiang sadar, tiang ternyata tidak bisa. Tidak mampu memberikan itu untuk Tugung.” Dia menatap adiknya, mengulurkan tangan lalu membelai wajah Taehyung.

Lakshmi menyadari usia sudah mulai menggerogoti Taehyung, sama sepertinya. Sejak kapan dia punya kerutan di keningnya? Sejak kapan dia punya uban di rambutnya? Lakshmi tidak ingat adiknya bertumbuh besar menjadi lelaki paling bertanggung jawab dan paling mengayomi di hidupnya—menggantikan sosok ayah mereka bahkan sebelum Taehyung memahami sosok itu.

“Tugung butuh orang lain, nggih?” Bisiknya ke adiknya, tersenyum sementara air mata meluruh di wajahnya dan dia tertawa serak—kebingungan dan malu oleh air matanya. “Butuh orang yang bisa membuat Tugung nyaman dan aman, yang membuat Tugung berani untuk menyerah.” Dia menakup wajah adiknya sayang.

Mata dan wajah Taehyung mulai merah padam, merespons perkataan Lakshmi di hadapannya.

“Maaf,” bisiknya parau. “Maaf, Mbok Gek ternyata tidak bisa jadi apa yang Tugung butuhkan seperti Tugung melakukannya untuk Mbok Gek.” Lalu dia menghela napas, tercekat oleh isakannya sendiri sebelum menatap Jeongguk dari balik matanya yang kabur oleh air mata.

“Tapi,” dia tersenyum pada Jeongguk. “Tiang lihat Tugung bisa berani saat bersama Turah.” Dia menatap adiknya lagi yang menatapnya, mengerjap kaget. “Kalian kelihatan saling mendukung, Tugung kelihatan jauh lebih rileks saat bersama Turah. Hal-hal yang Mbok Gek tidak pernah lihat.

“Sudah lama, tiang berpikir apakah ada sesuatu antara kalian. Sejak di rumah sakit. Tapi tiang tidak mau berspekulasi apa-apa. Jika Tugung merasa tiang harus tahu, maka Tugung pasti membaginya pada Mbok Gek.”

Dia menepuk wajah Taehyung sayang. “Mbok Gek cuma punya Tugung di sini, tidak punya siapa-siapa lagi.” Gumamnya lembut, gemetar oleh isak yang menyumbat kerongkongannya. “Tugung itu segalanya buat Mbok Gek, jika tidak ada Tugung, entah bagaimana Ibuk dan Mbok Gek di sini.” Dia meraih tangan adiknya, meremasnya hangat.

“Jadi,” dia mengerjapkan air matanya jatuh ke pipinya. “Jika Tugung bahagia dengan pilihan ini, maka Mbok Gek akan mendukungnya. Seperti Tugung selalu mendukung Mbok Gek selama ini. Mungkin Mbok Gek masih sulit menerima karena.... tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini.” Dia mengangguk meminta maaf pada Jeongguk yang lekas menggeleng, menenangkannya.

“Sempat kecewa juga,” tambahnya perlahan lalu mengamati ekspresi adiknya, menilai reaksinya atas perkataannya. “Tapi, Mbok Gek berpikir lagi. Bahagia itu, 'kan, jenisnya banyak sekali, nggih, Tugung. Jadi mungkin bahagia Tugung berbeda bentuknya dengan bahagia Mbok Gek dan itu normal. Jadi, Mbok Gek berusaha menerima itu, berusaha berdamai dengan kekecewaan Mbok Gek sendiri supaya bisa mendukung Tugung sepenuhnya.”

“Tidak apa-apa,” bisiknya lembut pada Taehyung, tersenyum. “Tidak apa-apa, bagaimana pun bentuk bahagia Tugung, Mbok Gek dukung. Tapi, tolong.” Tambahnya dan menatap Jeongguk sekilas. “Jangan begini, ya? Kalau Ajung yang memergoki kalian bagaimana?”

Hal yang membuat Lakshmi geli kemudian adalah walaupun Taehyung sudah punya beberapa helai rambut putih karena dipaksa dewasa sebelum waktunya demi menggantikan ayah mereka, ternyata dia tetap saja adiknya. Dia masih bisa merona saat ditegur, kikuk saat tertangkap basah, dan... meledak-ledak.

Dia merona memikirkannya, tidak yakin bisa menatap Jeongguk dengan cara yang sama lagi setelah ini tanpa teringat mereka berdua bersebelahan dengan keadaan setengah telanjang—jins belum dikaitkan rapat setelah... bercinta.

Mereka bercinta. Untuk seorang gadis perawan yang baru pernah berciuman, hal itu terdengar sangat sakral dan magis. Serta tidak senonoh hingga dia merona.

Dan bayangan tentang tubuh Jeongguk dengan pakaian berantakan tadi masih bercokol di kepalanya dan akan sulit hilang karena Lakshmi seumur hidupnya belum pernah melihat pemuda lain selain ayahnya dan Taehyung berpakaian minim. Belum lagi bahwa Jeongguk adalah pemuda lembut yang sangat sopan padanya, nyaris membuat Lakshmi berpikir Jeongguk dan seks tidak akan pernah berada dalam satu kalimat.

Dia nampak terlalu beradab dan 'agung' untuk melakukan seks. Tapi apa mau dikata, dia hanyalah lelaki biasa pada akhirnya. Memiliki libidonya sendiri, gairahnya sendiri. Membayangkan dia mungkin berbaring di sisi adiknya, telanjang dan....

Wajah Lakshmi memanas, syukurlah dia menangis sehingga adiknya tidak akan salah menangkap rona itu sebagai Lakshmi memikirkan hal tidak senonoh tentang kedua lelaki sehat yang masing-masing akan mewarisi tahta Puri mereka masing-masing di masa depan.

Dia kemudian membantu adiknya menyelundupkan Jeongguk keluar dari Puri lewat pintu belakang ke garasi yang lebih aman. Lakshmi menunggu di depan gerbang, melirik ke semua arah—was-was seseorang melihatnya saat adiknya dan Jeongguk berlari tanpa suara ke arah mobil Jeongguk.

Lakshmi bersandar di tembok Puri, menatap bayangan adiknya dan Jeongguk di kejauhan di dekat mobil Jeongguk yang terparkir lumayan jauh dari Puri mereka. Teringat selalu bagaimana pandangan Jeongguk pada adiknya dan bagaimana Taehyung nampak 'melumer' dalam pelukannya—mereka mungkin bukan pasangan konvensional yang lingkungan mereka inginkan.

Tapi Lakshmi setuju, cinta mereka tidak memiliki bandingannya. Terasa jauh lebih intens dan murni karena mereka menerjang banyak 'normal' yang diatur oleh lingkungan mereka. Jika mereka berjuang hingga akhir, Lakshmi yakin cinta mereka akan tumbuh semakin dan semakin kuat hingga tidak mungkin dipisahkan.

Masalahnya sekarang hanyalah bagaimana cara memperjuangkannya karena Lakshmi tidak melihat jalan keluar sama sekali. Taehyung terjebak di Puri sebagai pewaris tunggal; apa pun yang akan dilakukannya tidak akan membuat ayahnya menyetujuinya jika dia melepaskan kastanya. Dan dia jelas tidak bisa mempertahankan hubungan itu jika dia masih akan mewarisi Puri karena dia harus menikahi perempuan, menjalankan tanggung jawab adatnya sebagai kepala keluarga.

“Sayang Mbok Gek,” bisiknya menatap siluet keduanya di kejauhan—pedih memikirkan rintangan mereka di depan sana, pedih memikirkan jalan buntu yang akan mereka hadapi.

Pedih memikirkan cinta hebat yang merekah di antara keduanya namun sebentar lagi akan terinjak-injak oleh lingkungan mereka. Dicabut paksa, diremukkan oleh standar normal yang digeneralisasi. Bunga yang bahkan belum mekar sempurna, namun sudah dipetik dari tangkainya untuk dihancurkan.

“Semoga Sang Hyang Widhi memberkati kalian.” Bisiknya, yakin Tuhan sendiri pasti tidak menganggap cinta mereka dosa karena cinta itu Dia sendiri yang hadirkan.

*