Gourmet Meal 197

note. 4,5k and unedited sorry i kind of lost my grip somewhere in the middle. semoga gak busuk. trims x


Jeongguk duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruang makan griya Mirah yang nyatanya sejuk dengan kebun jeruk Kintamani dan buah naga ungu di dekat Merajan-nya. Bunga kamboja bermekaran beraneka warna; putih, kuning, merah muda dan merah. Aromanya semerbak ditemani aroma bunga kacapiring, kenanga, dan kembang sepatu.

Saat memasuki griya, dia disambut patung 1,5 kali manusia Dewa Siwa Nataraja* serta lingga yoni dan tempat melakukan ritual Agnihorta*. Jeongguk disambut keluarganya yang ramah sekali termasuk Ratu Pedanda sendiri yang menepuk bahunya akrab dan mengomentari rambutnya.

“Sudah cocok, ya, Ekajati*. Rambutnya sudah gondrong.” Beliau terkekeh dengan pakaian putih longgar serta rambut keperakan yang digelung di atas kepalanya dan Jeongguk membalas gurauannya dengan tawa. “Makan dulu makan sebelum mengantar Mirah.”

Maka kemudian Jeongguk duduk di meja makan dengan nenek Mirah yang menyiapkan makanan untuknya bersama Mirah. Dia duduk di sana, menerima perlakuan yang sangat berbeda dari yang biasa didapatkannya. Mirah mengambilkannya makanan dengan cara yang membuatnya rikuh; mereka belum menikah, Jeongguk bahkan belum mengatakan sesuatu tentang setuju pada perjodohan mereka namun gadis itu sudah 'mengabdikan' dirinya dengan cara yang membuatnya tidak nyaman.

“Terlalu baik pada semua orang.”

Jeongguk menghela napas tajam, perutnya mengejang seolah baru saja ditonjok saat Mirah meletakkan piring Jeongguk yang diisinya makanan di hadapannya. Neneknya nampak puas dengan cara Mirah memperlakukan Jeongguk namun lelaki itu sendiri merasa mual.

“Kau tidak perlu melakukannya.” Kata Jeongguk kemudian, berbisik kering namun Mirah yang duduk di sebelahnya mengedikkan bahu, tersenyum.

“Tidak masalah kok, Bli. Tiang selalu melakukannya untuk Ajik.” Sahut gadis itu kalem lalu mengambil makanan untuk neneknya sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.

Nyatanya acara makan itu sama sekali tidak membuat perasaan Jeongguk lebih baik karena terus menerus dirongrong tentang pernikahan. Belum lagi Ratu Pedanda sendiri yang menanyainya tentang wuku kelahirannya lalu menghitung hari baik untuk keduanya menikah. Jeongguk tersenyum, berusaha bersikap sopan walaupun asam lambungnya bergulung-gulung naik karenanya.

“Jangan lama-lama.” Pesan Ratu Pedanda saat Jeongguk berdiri di sisi mobilnya hendak berangkat menemani Mirah seraya tersenyum hangat. “Ada hari baik untuk menikah bulan depan. Dimanfaatkan saja sebelum Galungan.”

Jeongguk sungguh akan muntah jika berada di sana lebih dari lima menit lagi. Maka mereka bergegas berpamitan dan Jeongguk mengemudi menjauh—berdoa dalam hati dia tidak harus ke sana lagi. Mirah nampak menyadari suasana hatinya dan berdeham kikuk.

“Maaf, ya, Bli Gung.” Katanya pelan saat mobil meluncur ke arah Klungkung. “Ratu Pedanda tidak bermaksud apa-apa, kok. Hanya suka bercanda. Kalau Bli Gung belum siap, tidak apa-apa.”

Jeongguk nyaris berteriak. Siap apa?! Namun dia menjawab dengan suara tawa getir, “Tidak apa-apa, saya tahu mereka bercanda.” Dia memindahkan persneling lalu menginjak gas sedikit lebih dalam.

Bohong jika seharian menemani Mirah Jeongguk sama sekali tidak memikirkan pesan Lakshmi yang dikirimkannya pagi tadi. Dia menolak karena dia paham dia tidak bisa membatalkan janji ini sekali lagi dengan keluarga Mirah. Tidak hanya namanya yang menjadi jelek, dia juga membawa nama orang tua dan Puri-nya. Membatalkan janji satu kali mungkin terdengar tidak masalah namun membatalkan janji yang sama dua kali pada orang yang sama akan membuat Jeongguk berada dalam masalah.

Maka dia harus memilih untuk menyelesaikan urusan Puri sebelum meladeni Taehyung; dia mungkin mementingkan Taehyung, namun dia juga punya kehidupan lain di luar hubungannya dengan Taehyung yang harus dilakoninya. Dia berharap, sungguh berharap Taehyung bisa memahami posisinya karena dia tidak lebih baik dari Taehyung. Mereka sama-sama terjebak dalam tanggung jawab keluarga dan perjodohan yang mereka tidak kehendaki.

Lagi pula, dia sehat dan dia sendiri yang memilih untuk mengabaikan Jeongguk sejak hari terakhir mereka bertemu di Alila dan bercinta. Jeongguk mendesah, menyandarkan kepalanya di roda kemudi saat Mirah berlari kecil ke arah mini market hendak membeli minuman dingin untuk mereka berdua. Kalimat Yugyeom tentang dimanfaatkan karena terlalu baik terus berputar di kepalanya sejak hari itu; membuatnya tidak nyaman saat bekerja.

Belum lagi sikap diam Taehyung selama dua hari ini. Apakah sesulit itu membalas pesan Jeongguk atau mengangkat teleponnya? Taehyung bisa sangat egois jika dia mau tentang Jeongguk. Jika mereka benar-benar akan menjadi sepasang kekasih, dia berharap Taehyung bisa setidaknya bekerja sama dengan Jeongguk.

“Mampirlah ke Puri jika senggang, Turah.”

Jeongguk menghela napas, menatap jalan raya di hadapannya yang ramai. Haruskah dia mampir ke Puri Taehyung malam ini setelah menurunkan Mirah di kosannya? Atau dia hanya akan membawa banyak masalah? Dia berpikir tentang datang membawa bingkisan, sebagai rekan sejawat Taehyung. Tentunya ayah Taehyung tidak akan melarang temannya datang ke rumah, 'kan?

“Bli Gung?”

Jeongguk menoleh dengan sedikit kaget dan panik pada Mirah yang terkesiap karena dia tersentak oleh panggilan sehalus itu. “Oh, kau.” Katanya, menghembuskan napas keras—merasakan jantungnya berdebar keras sekali dengan gelisah.

Dia setegang kawat hari ini.

“Bli Gung sakit?” Tanyanya lembut, membanting pintu tertutup dengan wajah cemas yang tulus. “Gek belikan obat?”

Jeongguk menggeleng, “Tidak, tidak.” Dia menegakkan tubuhnya, menghela napas berusaha membuat kepalanya fokus sementara Mirah memasang sabuk pengamannya. “Kita harus berangkat sebelum terlalu siang.” Dia menurunkan rem tangan, memasukkan persneling sebelum kembali bergabung ke jalanan.

“Aku belikan kopi.” Mirah meletakkan gelas kertas terisi kopi hangat di kompartemen kecil di belakang persneling—aroma kopi membuat saraf Jeongguk siaga dan dia senang mendapatkannya.

“Trims, Mirah.” Katanya mengangguk berterima kasih sebelum memasang sein dan menginjak gas menyalip mobil di hadapannya.

Di kursi penumpang, Mirah mengulurkan tangan ke radio, memutar lagu yang disukainya dan Jeongguk membiarkannya. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil Jeongguk, seraya menyesap minumannya dan mengamati jalan raya. Dia nampak rapi dan menarik hari ini, Jeongguk mengapresiasi pilihan berpakaiannya. Dia mengenakan blus berwarna lembut yang membalut tubuhnya dengan indah serta celana jins ketat yang memberikan efek jenang dan tinggi pada kakinya. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi, berayun saat dia bergerak dan keningnya bersih dari anak rambut.

Dia mengenakan riasan tipis yang nampak natural—perona pipi secukupnya dengan eyeliner tipis dan lipstik sewarna bibir. Jeongguk mengapresiasi kemampuannya menyesuaikan suasana kapan harus mengenakan riasan wajah agak berat dan kapan natural ringan. Berpikir saat mobil meluncur memasuki bypass apakah jika dia bertemu Mirah sebelum semua ini, mereka pasti akan berpacaran langgeng?

Mirah sangat sopan, pengertian, dan telaten. Dia tidak pernah merajuk, tidak seperti semua mantan kekasih Jeongguk. Pengendalian dirinya, emosinya; semuanya luar biasa. Jeongguk mengapresiasi pilihan ayahnya. Sayang sekali bahwa Jeongguk menyadari bahwa kegagalannya dalam membina hubungan sejak dahulu sama sekali bukan kesalahan para perempuan itu tapi karena Jeongguk yang tidak tertarik pada mereka.

Dia menyadari ini persis saat dia berkenalan dengan Taehyung melalui Felix Hamilton. Lelaki itu, pada masa mereka dekat dan tentram, bersikap amat lembut dan dewasa padanya. Membantu Jeongguk menaikkan percaya dirinya, mengajari banyak hal tentang memimpin dapur setelah mendengar isu Felix akan mengundurkan diri dari Amankila karena adiknya menikah.

Taehyung mengajarinya banyak hal. Namun entah mengapa, hubungan mereka mendadak terjun bebas ke jurang yang dalam. Semuanya jungkir balik dan begitu melelahkan sekarang. Siapa sangka Taehyung yang saat menjadi teman dan seniornya ternyata begitu berbeda dengan Taehyung saat menjadi kekasihnya, saat naik ke ranjang bersamanya.

“Kita ke mana?” Tanya Jeongguk kemudian saat Yaris-nya meluncur memasuki Denpasar, menyingkirkan Taehyung dari kepalanya yang malang.

Mirah bergegas mengeluarkan ponselnya, “Jalan Tukad Badung, Bli Gung. Ada satu kosan di sana yang aku tertarik.” Katanya dan Jeongguk mengangguk—dia lumayan hafal kawasan Denpasar.

“Kosnya sudah terisi atau kau harus membeli isiannya?” Tanya Jeongguk saat membelok di depan patung Titi Banda ke arah Denpasar Selatan.

“Sudah,” Mirah mengangguk, mencermati ponselnya. “Setidaknya lemari dan kasur sudah terisi. Jadi tinggal membeli benda-benda seperti rak sepatu dan sebagainya.” Dia kemudian diam sejenak. “Jika Bli Gung ada waktu? Jika tidak mungkin aku akan berangkat dengan ojek daring.”

Jeongguk menggeleng, mengoper persneling dan melirik spion sebelum meluncur melewati lampu lalin yang kebetulan menyala hijau. “Tidak, aku antar saja. Membawa barang banyak menyulitkan.” Katanya sementara kepalanya berputar tentang apakah dia harus mampir ke Puri Taehyung atau tidak.

Mirah menatapnya lalu tersenyum kecil, “Baiklah, Bli Gung.” Dia menghela napas, bersandar di kursi dengan senyuman masih bermain di bibirnya. “Terima kasih, sangat membantu.” Katanya.

“Sama-sama, tidak masalah kok.” Balas Jeongguk yang sama sekali tidak memerhatikannya—sibuk mengamati jalanan dan berusaha memutuskan tentang Taehyung, tidak menyadari sama sekali gadis di sisinya yang sekarang merasa senang bukan main.

“Bli Gung pakai parfum apa?” Tanyanya kemudian dan Jeongguk mengerjap, kebingungan sejenak sebelum menoleh sekilas pada Mirah yang menatapnya.

“Bukan sesuatu yang mahal kok,” kata Jeongguk mengedikkan bahunya. “Ada cadangan di dasbor jika kau ingin menggunakannya.” Tambahnya nyaris tanpa berpikir sementara mengemudi, menyelip di sela lalu lintas Denpasar yang semakin lama semakin memusingkan.

Mirah meraih dasbor, membukanya dan menemukan parfum cadangan Jeongguk. “Oh, AXE.” Katanya menatap botol di tangannya dan mendongak pada Jeongguk yang fokus mengemudi. “Boleh kuminta?”

Jeongguk mengangguk, “Pakai saja. Itu hanya parfum.” Katanya mengoper gigi dan menginjak gas, mendesah jengkel karena terjebak kemacetan di depan lampu merah.

Mirah menatap benda di tangannya lalu memutar tutupnya, menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya. Aroma cokelat manis-pahit sejenak menguar di udara kabin mobil sebelum penyejuk udara bergegas mengganti udara di dalam mobil. Jeongguk sama sekali tidak memikirkan apa pun yang dilakukan Mirah selama perjalanan. Jelas juga tidak memikirkan bahwa meminta parfum lelaki adalah sesuatu yang luar biasa.

Mereka tiba di satu kosan yang dipilih Mirah dan Jeongguk merasa tempat itu sesuai. Lingkungannya nyaman, gerbangnya memiliki kunci yang akan diberikan pada semua anak, tempatnya lega dengan kasur rapi. Nyaris seperti hotel dengan harga yang lumayan miring. Pemandangan kamar yang dipilihkan ibu kos untuk Mirah menghadap Utara sehingga dia bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam dengan sempurna dari balkon kamarnya.

“Aku suka yang ini.” Kata Jeongguk saat mereka di dalam kamar untuk mengeceknya. “Tempatnya juga aman.” Dia lalu menoleh ke ibu kos. “Ada CCTV dan penjaga setiap saat, 'kan?”

Ibu kos mengangguk, nampak geli dan tersenyum. “Ada, Pak.” Sahutnya. “Nanti setiap anak kos akan mendapat kunci sendiri tapi setelah jam malam, jam 12 kunci akan diganti jadi jika anak kos akan pulang lewat dari jam tersebut bisa menghubungi penjaga untuk dibukakan pintu.”

Jeongguk mengangguk-angguk, “Di sini saja.” Katanya pada Mirah yang berdiri di sisinya, wajahnya merona hingga Jeongguk berpikir mungkin kamarnya terlalu panas. “Ada AC-nya juga. Harusnya kau tidak akan kepanasan.”

Dia hanya ingin bergegas menyelesaikan hari ini sehingga bisa kembali pulang atau mampir ke Puri Taehyung. Perasaannya tidak enak—sesuatu bergerak di dasar perutnya membuatnya meyakinkan diri sepertinya dia memang harus mampir ke Puri Taehyung. Tidak peduli apa yang lelaki itu lakukan padanya, dia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa dia sehat.

Dia sudah membatalkan kamarnya, tidak mendapatkan refund karena dibatalkan di hari kedatangan. Tidak masalah untuk Jeongguk, dia mempersilakan hotel menyimpan depositnya dan mematikan sambungan sebelum kembali bergabung dengan Mirah yang sedang mengobrol dengan ibu kosnya.

“Kau ingin melihat kosan satunya atau sudah yakin di sini?” Tanya Jeongguk, menyelipkan ponselnya di saku. “Jika yakin, kita beli isinya saja.”

Mirah mengangguk. “Di sini saja, Bli Gung. Kata Ibu, ada jalan pintas menuju kantor di belakang sana. Bisa dilalui motor jadi lebih nyaman di sini.”

Jeongguk mengerjap sebelum menatap ibu kos yang nampak ceria sekali entah karena apa, senyuman tidak meninggalkan bibirnya. Mungkin senang mendapat anak kos baru. “Jalan pintasnya aman, Bu?” Tanyanya sopan. “Jika sepi, mungkin sebaiknya pulang memutar saja demi keamanan.” Tambahnya pada Mirah yang terpana menatapnya.

Mirah mengerjap lalu mengangguk, tersenyum tipis. “Nggih, Bli Gung.” Sahutnya tenang.

Jeongguk mendesah, senang karena berhasil menghemat waktu. “Baiklah, jika begitu ayo kita beli isian kamarmu.” Katanya meraih kunci motornya dari saku celana jinsnya. “Sebelum terlalu siang dan panas di jalan.”

Mereka berpamitan pada ibu kos yang melambai ceria lalu berangkat ke pusat perbelanjaan terdekat untuk mencari alat-alat kosan yang mungkin dibutuhkan Mirah. Jeongguk membantunya memilih, secara sopan mendesaknya agar cepat karena perasaannya semakin tidak enak sekarang sementara jarum jam berdetak di pergelangan tangannya. Dia mulai diserang rasa cemas tentang keadaan Taehyung.

Dia mengirimi pemuda itu pesan, menanyakan keadaannya namun tidak dibalas. Dia meneleponnya hanya untuk mendapati teleponnya tidak dijawab. Jeongguk menghela napas berat saat Mirah meraih tempat sampah plastik kecil di kakinya, dia menatap layar ponselnya. Berpikir jika dia menggenggam Taehyung sekarang, dia akan mematahkan tulang punggungnya karena membuat Jeongguk sangat khawatir.

Atau mungkin itu hanya Jeongguk? Dia bersikap cemas berlebihan padahal Lakshmi sudah dengan jelas memberi tahunya bahwa Taehyung sehat. Mungkin dia sekarang sedang di luar dengan ayahnya, tidak sempat melihat ponselnya dan Jeongguk bersikap berlebihan.

Dia mengecek jam tangannya, sebentar lagi makan siang jika lancar dia seharusnya akan menemani Mirah untuk makan sebentar. Mendesah saat menyadari dia mungkin masih harus menemani gadis itu hingga petang memindahkan barang-barangnya dari Puri-nya di Gianyar.

“Kau akan memindahkan pakaian dan sebagainya juga, 'kan?” Tanya Jeongguk dan Mirah mengangguk, menatapnya sementara mereka mengantri di kasir dengan keranjang belanja di tangannya.

“Bli Gung buru-buru?” Tanyanya kemudian dengan sangat sopan, nampak menyadari gesur tubuh Jeongguk yang tidak sabaran hingga Jeongguk terserang perasaan tidak enak jika harus memotong singkat bantuannya—dia melirik jam tangannya dan menghela napas.

Jika Taehyung sehat, maka tidak apa-apa jika dia menunggu sebentar, 'kan?

“Tidak kok.” Katanya pada Mirah, mengulaskan senyum menenangkan sebelum mendesah. “Kau akan membeli apa lagi?”

Maka kemudian Jeongguk menghabiskan waktunya untuk menemani Mirah berkeliling. Gadis itu bersikeras membelikan Jeongguk minuman manis setelah membawakan belanjaannya. Jeongguk menerima boba dengan tangannya yang bebas sementara kantung belanja menggantung di lengan satunya, tidak yakin karena dia jarang menikmati minuman seperti ini namun toh tetap menerima gelas plastiknya setelah Mirah menancapkan sedotan untuknya sebelum kembali melangkah bersisian dengan Mirah.

Dia menatap minumannya dan merasakan bahwa menikmati hidup seperti ini ternyata terasa menyenangkan. Rileks dan santai, berkeliling melihat-lihat sambil minum sesuatu—berpikir apakah Taehyung mau jika dia mengajaknya melakukan ini ataukah dia tidak nyaman jika berada di keramaian bersama Jeongguk?

Jeongguk memasukkan semua belanjaan Mirah ke bagasi belakang mobilnya sebelum kemudian mereka mengemudi kembali ke kosan Mirah. Dia membawa kunci yang diberikan ibu kos, dibantu Jeongguk menata kamarnya. Jeongguk melepas kemejanya, mengenakan kaus tipis di dalam pakaiannya saat membantu Mirah memasang seprai dan membereskan kamarnya.

Mereka kemudian makan di kamar Mirah, memesan makanan dari ojek daring agar tidak berkeliling.

“Bli Gung makan fast food?” Tanya Mirah terpana saat Jeongguk memilih memesan makanan cepat saji saja agar tidak menunggu lama.

Jeongguk tergelak, dia mendapatkan banyak sekali pertanyaan seperti ini sejak dulu berkencan dengan perempuan. Menganggap pola hidup seorang juru masak pastilah sangat sehat dan menghindari makanan berminyak serta berlemak. Tentu saja dia menikmati sedikit sodium dan lemak, menikmati hidupnya sesekali.

“Tentu saja.” Katanya, “Pesanlah.” Lalu mengeluarkan dompetnya, mempersilakan Mirah menggunakan uangnya untuk membayar makanannya sementara dia mengeringkan keringatnya setelah membantu Mirah membereskan makanan.

Gadis itu menatap dompet yang diserahkan Jeongguk, menatap Jeongguk yang mendesah kepanasan padahal penyejuk sudah dinyalakan di suhu 18 derajat lalu kembali menatap dompet Jeongguk sebelum perlahan meraihnya.

“Aku buka sendiri, ya, Bli Gung?” Tanyanya, sejenak ragu membuka dompet Jeongguk.

“Buka saja, tidak ada apa-apanya kok.” Jeongguk mengedikkan bahu santai, berdiri di bawah penyejuk demi mendapatkan udara paling dingin. Dia selalu melakukannya pada Yugyeom, meminta anak itu mengambil sendiri uang di dompetnya dan tidak merasa hal itu sesuatu yang aneh.

Mirah menatap punggung Jeongguk, membuka dompetnya perlahan sebelum menarik selembar uang seratus ribu dari sana. Berusaha keras untuk tidak mengintip foto SIM A dan KTP Jeongguk yang terselip di tempat kartu paling depan. Jeongguk menyelipkan foto Yugyeom dengan latar belakang biru dan jas almamater STP Nusa Dua di bagian foto dan Mirah tersenyum kecil.

“Bli Gung sayang sekali pada Ogik, ya?” Tanyanya, meletakkan kembali dompet Jeongguk di lantai.

Jeongguk menoleh, teringat foto Yugyeom di dompetnya. “Oh,” dia tertawa. “Ya, begitulah.” Sahutnya, menarik lepas karet rambutnya lalu menggelung ulang rambutnya yang agak lembab oleh keringat.

Mereka kemudian makan sambil mengobrol tentang pekerjaan baru Mirah dan karir Jeongguk. Mirah mendengarkan dengan seksama, menanggapi dengan tulus dan tertawa saat Jeongguk melemparkan gurauan. Dia sangat natural hingga Jeongguk berpikir jika dia seorang heteroseksual, dia pasti akan menyambut perjodohan itu dengan tangan terbuka.

Sayang sekali karena dia sungguh tidak tertarik pada Mirah selain sebagai adik atau sahabat. Dia mungkin harus mengatakan ini pada ayahnya sehingga Mirah tidak harus membuang-buang waktu dengannya. Dia berhak mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari Jeongguk.

Setelah makan, mereka memindahkan isi kamar Mirah di Puri ke kosan. Disambut ayah dan ibu Mirah yang nyatanya sangat menyukai Jeongguk. Dia ditawari makan, dibekali banyak cemilan kering buatan ibunya sebelum pulang. Jeongguk membantu Mirah memindahkan barang-barangnya ke bagasi mobilnya—mendorong barang-barangnya sendiri ke sudut untuk memberi ruang untuk barang Mirah. Mereka pamit kembali ke Denpasar setelah Jeongguk berjanji akan datang ke Puri untuk makan malam bersama.

Dia akhirnya lepas dari Mirah pukul tujuh malam sementara langit bersemburat jingga keunguan, dia akan mengemudi cepat ke Klungkung sekarang. Mirah berdiri di depan gerbang, mengenakan pakaian rumahan berbahan katun yang nyaman setelah membereskan kosannya dibantu Jeongguk.

“Semoga betah di pekerjaan barumu.” Jeongguk melambai sebelum bergegas memasuki mobilnya, gelisah karena memikirkan Taehyung. “Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku.”

Mirah mengangguk, tersenyum senang dan Jeongguk menghela napas—setidaknya dia tidak membuat nama Puri jelek karena Mirah nampak senang. “Siap, Bli Gung. Hati-hati di jalan. Terima kasih banyak hari ini.”

Jeongguk mengklakson sekali sebelum melaju pergi, melihat Mirah melambai dari spion tengah sebelum memfokuskan dirinya pada jalanan. Sekarang dia harus membeli sesuatu untuk dibawa ke Puri Taehyung. Dia menghubungi Lakshmi, menekan tombol telepon.

Sejenak panggilannya tidak diangkat, dia sudah akan mematikannya saat Lakshmi menjawabnya. “Halo, Atu Ngurah?” Sapanya membuat Jeongguk terserang perasaan risih karena caranya memanggil Jeongguk.

“Halo, Mbok Gek,” sapanya seraya mengemudi di jalanan Denpasar yang semakin malam semakin ramai. “Saya akan mampir ke Puri sebentar lagi, Wigung sudah di Puri belum, ya?”

Lakshmi sejenak diam lalu terdengar suara gemeresak beberapa menit hingga Jeongguk menoleh sejenak ke ponselnya yang tergeletak di pahanya sebelum kembali ke jalanan. Lakshmi kembali dengan suara lebih pelan, seolah menjauhkan ponsel dari mulutnya saat bicara.

“Ada di Puri kok, Turah. Baru...” Lakshmi sejenak diam sebelum menghela napas dan menambahkan, “Baru saja pulang.”

Alis Jeongguk berkerut, menangkap keraguan di suaranya. “Saya boleh mampir?” Tanyanya, mengoper persneling dan menginjak gas lebih dalam—jantungnya berdebar tidak enak sekarang. Firasatnya mengatakan dia harus bergegas tiba di Puri, sesuatu merayap di punggungnya—membuatnya tidak nyaman.

Di seberang Lakshmi terdengar ragu-ragu sejenak. “Boleh, Turah. Nanti tiang jemput ke depan. Mungkin setelah jam delapan malam jadi Ajung sudah di kamar?”

Jeongguk mengerjap, melaju mulus keluar dari Denpasar bergabung pada lalu lintas kencang di bypass yang luas dan lenggang. Dia harus tiba sesegera mungkin di Puri demi membunuh rasa tidak nyaman di hatinya ini. Dia melirik jam tangannya, ini pukul setengah delapan malam dengan lalu lintas begini, dia mungkin tiba di Puri Taehyung setidaknya pukul setengah sembilan.

“Tidak masalah.” Katanya lalu memasang sein, berhenti di mini market untuk membeli beberapa makanan—dia hanya melakukannya, tidak yakin kenapa namun dia merasa dia butuh membawa sesuatu.

Hatinya semakin tidak nyaman, berat dan berdesir dengan cara yang membuatnya gelisah saat mematikan sambungan pada Lakshmi yang akan menunggunya di depan jika Jeongguk sudah dekat. Jeongguk berlari kecil ke mobilnya, membawa kantung belanja yang terpaksa dibelinya karena dia lupa membawa kantung belanjanya sendiri lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia melempar kantung itu ke kursi penumpang lalu melanju ke Klungkung di atas kecepatannya yang biasa.

Dia membelok ke arah Puri Taehyung, memelankan mobilnya saat melihat Puri dari kejauhan dan menekan telepon ke nomor Lakshmi, memberi tanda bahwa dia sudah dekat. Dia menunggu beberapa meter dari pintu masuk, menunggu hingga Lakshmi muncul di depan gerbang dengan kain yang membalut kakinya setelah bersembahyang. Jeongguk bergegas mematikan mesin mobilnya, menyambar belanjaannya dan keluar dari sana.

Lakshmi yang hendak mengangkat ponselnya untuk menghubungi Jeongguk terkesiap kecil saat pemuda itu tiba di sisinya. “Oh, Turah.” Sapanya sopan, membawa aroma lembut kamboja, tirta harum kenanga, dan dupa. “Silakan masuk.”

Dia kemudian memimpin Jeongguk ke dalam Puri, sedikit memutar agar tidak melewati kamar ayah mereka hingga tiba di kamar Taehyung yang tertutup. Jeongguk berhenti di sana, kebingungan saat Lakshmi menghela napas lalu menoleh ke arahnya.

“Saya minta maaf,” bisiknya kemudian, sekarang nampak gelisah dan juga sedih. “Tugung demam tinggi sudah tiga hari hingga sekarang. Tidak turun dari angka 38-38,5. Kami takut sekali dia mungkin akan kejang-kejang karena panasnya tapi menolak dibawa ke rumah sakit.”

Jeongguk berdiri di sana, seolah sesuatu baru saja dibanting pecah di dalam dirinya—berhamburan dengan suara desir seperti pasir. Jantungnya mencelos, terjun bebas ke dasar hatinya. Seketika menyesali kenapa dia membantu Mirah terlalu lama, jika saja dia memotong waktunya dan bergegas datang.

Namun sebagian hatinya yang lain menolak disalahkan karena dia memang tidak tahu apa pun, maka tentu saja wajar jika dia datang terlambat. Dan untuk pertama kalinya, Jeongguk mendengarkan sisi dirinya yang ini sejenak—menyadari benar dia tidak tahu apa-apa dan menolak menyalahkan diri sendiri.

Dia kemudian menghalau semua pemikiran itu, bergegas melewati Lakshmi membuka sepatunya di depan undakan kamar Taehyung lalu melompati tiga anak tangganya naik ke teras kamarnya. Lakshmi bergegas mengkutinya, sedikit tergopoh-gopoh karena kain yang membalut kakinya dan Jeongguk mengetuk pintu itu dua kali.

Terdengar suara erangan dari dalam, “Ya?” Tanya suara Taehyung yang terdengar sangat mengerikan—parau, dalam, serak, dan penuh kesakitan. “Tugung tidak mau makan, Mbok Gek.”

Jeongguk meraih gagang pintu lalu menyentakkannya terbuka dengan sedikit terlalu dramatis hingga engselnya berderit keras dan daun pintu berderak. Suaranya keras di tengah keheningan kamar Taehyung dan itu membuat Taehyung mengerang keras, terbatuk-batuk dan berbalik.

“Demi Tuhan, jangan berisik,” keluhnya lalu terserang serangkaian batuh berat yang menyakitkan, napasnya mendenging keras.

Dia berada di kamar Taehyung yang sekarang terasa panas dan beraroma pekat minyak kayu putih serta penyakit. Chef senior itu berbaring di ranjang, terbalut selimut dengan kaus lengan panjang dan celana training. Terbatuk-batuk dan menggigil. Di sisi kasurnya ada kursi kayu yang terisi semangkuk bubur yang dari bentuknya nampak seperti sudah berada di sana sejak zaman Majapahit. Ada obat-obatan juga serta sebotol air yang penuh. Segelas teh yang ditutup agar tidak ada serangga yang hinggap.

Taehyung sedang membelakanginya, meringkuk berusaha membentuk dirinya sendiri seperti bola agar hangat tidak melepaskan diri dari tubuhnya. Dia terbatuk lagi, keras dan menghela napas dengan tersiksa. Dia mendesah keras, mengerat giginya saat Jeongguk bergegas masuk, melangkah menyeberangi ruangan lalu duduk di sisi ranjangnya yang berderit. Taehyung sedang memejamkan mata, wajahnya merah padam dengan bibir terbuka menggigil karena panas tubuhnya.

Menyadari aroma parfum Jeongguk, Taehyung sejenak diam sebelum membuka matanya dan menoleh. Dia mengerjap sebelum mengerang panjang, memprotes kehadiran Jeongguk dengan cara yang sangat menggemaskan hingga sejenak Jeongguk melupakan amarahnya.

Lakshmi bergegas menutup pintu kamar adiknya, menyelotnya dan juga menyentakkan tirai jendela Taehyung yang menghadap Merajan dan kamar nenek mereka sebelum berdiri di sudut, memberi ruang sepenuhnya untuk adiknya dan Jeongguk, berusaha mengecilkan diri agar tidak mengganggu. Mudah melakukannya karena dia menghabiskan hidupnya untuk dilupakan di latar belakang.

“Kau ini benar-benar.” Gerutu Jeongguk lalu mengulurkan tangan, menyentil keningnya yang terasa panas membara. “Ayo, kita ke rumah sakit.”

Taehyung menepis lengan Jeongguk yang hendak meraihnya. “Tidak perlu.” Gumamnya parau lalu terbatuk keras sekali lagi dan mendesah karena batuk itu menyakitinya.

“Wigung,” bisik Jeongguk sebelum berlutut di lantai agar bisa lebih dekat dengan Taehyung. “Kemari.” Dia mengulurkan tangan, menyentakkan lembut Taehyung agar menoleh ke arahnya.

Pemuda itu mengerang saat berguling menatapnya, wajahnya merah padam dan sekarang matanya berkilau oleh air mata, mungkin karena rasa sakit dan demamnya. Jeongguk mendesah, merasakan hatinya diremas-remas saat mengulurkan tangan dan menyentuh wajahnya yang membara.

“Bisakah sehari saja kau tidak membuatku khawatir?” Bisiknya lembut, berharap Lakshmi tidak mendengar apa pun. Ibu jarinya mengusap pipi Taehyung lembut, merasakan suhu tubuhnya yang menyengat. “Bagaimana caraku berhenti mencintaimu jika kau terus-terusan menarikku kembali?” Tambahnya di bawah napasnya, tidak yakin Taehyung mendengarnya.

Taehyung menatapnya, menghela napas berat, udara berpusing memasuki paru-parunya dengan suara denging keras sebelum dia berbatuk. “Kau habis kencan dengan Mirah, 'kan?” Tanyanya parau.

Jeongguk memutar bola matanya. “Jangan begitu.” Tegurnya sebelum mengulurkan tangan dan mengangkat tubuhnya, dia memeluk Taehyung yang berbaring di ranjangnya—bergidik saat suhu tubuh Taehyung bertemu dengan suhu tubuhnya sendiri.

Dia panas sekali dan bagaimana dia berhasil menolak untuk dibawa ke rumah sakit setelah tiga hari membuktikan betapa keras kepalanya dia. Jeongguk merengkuhnya, perlahan menariknya hingga duduk di ranjangnya dan pemuda itu terbatuk-batuk. Jeongguk duduk di sisi ranjang, dekat dengannya. Taehyung menatapnya, terbatuk sekali sebelum mengulurkan kedua lengannya dan Jeongguk mendesah—lenyap sudah semua amarah dan rasa jengkelnya sejak dua hari lalu saat dia merengkuh Taehyung dalam pelukannya.

Taehyung mendesah, memejamkan mata saat menumpukan dagunya di bahu Jeongguk. Dia mengeratkan pelukannya di bahu Jeongguk sementara pemuda itu membelai punggungnya—merasakan suhu tubuhnya dari luar pakaiannya. Jeongguk mendesah, mengecup bahu Taehyung dari pakaiannya yang beraroma keringat dan obat.

“Ayo ke rumah sakit,” bisiknya lagi dan Taehyung menggeleng.

“Minum obat saja.” Sahutnya berbisik, terdengar mengantuk dalam pelukan Jeongguk. “Kau sudah datang.” Tambahnya. “Semua akan baik-baik saja.”

Hati Jeongguk terasa diparut sekarang—nyeri dan ngilu. “Lalu kenapa kau tidak memberi tahuku bahwa kau sakit sehingga aku bisa datang lebih awal alih-alih mengabaikan semua pesanku?”

Taehyung mendesah, “Kau ada janji dengan Mirah hari ini. Jika aku memberi tahumu aku sakit, kau terpaksa membatalkan janjimu dengannya. Kau sudah melakukannya sekali kemarin.”

Jeongguk mengerjap. “Wow.” Bisiknya, memeluk tubuh panas Taehyung semakin erat. “Dari mana pengertian itu datang?”

“Aku mabuk karena panas. Diam.” Balas Taehyung, mengaitkan jemarinya di balik punggung Jeongguk yang tersenyum geli lalu mendesah. “Kau nyaman.” Gumamnya senang. “Lembut dan hangat, dan menyenangkan.”

Jeongguk menghela napas, tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak berpikir: jika mereka merupakan friends with benefit, Jeongguk tidak seharusnya merasa jantungnya berdebar lebih kuat karena cinta yang mengalir di pembuluh darahnya untuk Tehyung.

Jika mereka hanya teman seks, dia tidak seharusnya merasa sesenang ini hanya karena Taehyung memeluknya. Itulah yang dibutuhkan Taehyung sekarang—menyentuhnya. Jeongguk tidak seharusnya membiarkan hatinya mengepak bahagia karena Taehyung memeluknya, mendesah dan lumer dalm pelukannya karena itulah yang dibutuhkan Taehyung.

Lelaki itu mungkin sama sekali tidak mencintainya. Dia hanya membutuhkan Jeongguk secara fisik—memeluk dan menciumnya. Bukan secara emosional. Keraguan yang dua hari lalu tumbuh semakin subur karena Taehyung mengabaikan pesannya membuat hati Jeongguk mengerut sekarang. Dia selalu yakin Taehyung sedang kebingungan, sedang berproses mencari jati dirinya sendiri; namun tiap kali mereka bersentuhan secara fisik dan Taehyung sangat menikmatinya, Jeongguk meragu.

Dimanfaatkan karena.... Kau tahu, terlalu baik.”

Taehyung menyukai sentuhan Jeongguk namun tidak pernah membalas kata-kata cintanya. Jeongguk merasa dia terlalu memburu Taehyung, mendesaknya untuk menerima identitas barunya agar Jeongguk bisa mengklaimnya sebagai miliknya. Namun saat mereka saling menyentuh, bercinta dan berciuman; Taehyung nampak sangat luar biasa. Bahkan menangis karena sangat menikmati seks mereka.

Hatinya retak saat dia mulai menerima bahwa Taehyung mungkin saja sedang benar-benar menggunakannya. Hanya datang padanya karena dia membutuhkan seseorang untuk menyentuhnya—menggunakan Jeongguk dengan cara yang membuat Jeongguk mual.

Dia sedang jatuh cinta sendirian.

Jeongguk memejamkan matanya, keraguan yang merambat di seluruh organnya sekarang mencekiknya. Membuatnya sulit bernapas dan pusing—jika Taehyung benar hanya menggunakannya....

“Aku sungguh mencintaimu.” Bisik Jeongguk lembut di telinga Taehyung, memeluknya semakin erat—merasakan waktu yang dimilikinya untuk memeluk Taehyung semakin menipis.

Berharap, walaupun ragu meracuni pernapasannya, sedikit saja. Sedikit saja, Taehyung akan membalasnya.

Pemuda itu bergeming, memeluknya. Napasnya menderu dan tubuhnya hangat namun tidak menjawab. Jeongguk menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri saat nyeri menyeruak di hatinya. Dia mengusap punggung Taehyung, membelainya lembut senada dengan detak jantungnya—mengatur napasnya agar dia tidak jengkel.

Karena Taehyung membutuhkannya.

Jeongguk sedang jatuh cinta sendirian.

Dia menghela napas, mengencangkan otot perutnya agar nyeri tidak membuat napasnya sesak. Jeongguk berpikir terlalu dini untuk memutuskan apakah dia memang jatuh cinta sendirian dan mengizinkan Taehyung memikirkan perasaannya sendiri.

Berharap dia akan segera membalas perasaan Jeongguk.

Segera.


Glosarium: * Siwa Nataraja: Dewa Siwa saat sedang menari. * Agnihotra: upacara membakar sesaji untuk para dewa seperti yang dilakukan umat Hindu India saat pernikahan. * Ekajati dan Dwijati: upacara yang bermakna lahir kembali untuk pertama (eka) dan kedua (dwi) kalinya sebagai seorang sulinggih atau pemimpin upacara agama. Pemuka agama Hindu, Ratu Pedanda (lelaki), memiliki rambut panjang yang dibentuk cepol di atas kepalanya untuk menyematkan mahkota saat memimpin upacara dan biasanya datang dari kalangan Brahmana. * Wuku: weton dalam Hindu.