Gourmet Meal 270

tw // anxiety , suicidal thoughts , insecurity , self-doubt .


Bukan pilihan terbaik dengan pergi ke Bukit Asah sepulang bekerja karena sudah mulai malam. Tapi setidaknya Taehyung bisa duduk beralaskan rumput empuk yang rapi menatap lepas matahari tenggelam yang beranjak malas dan perlahan, meninggalkan jejak jingga pekat di belakangnya.

Dan dia menyukainya—mengapresiasi waktu yang bergerak lambat saat dia diam, menyaksikan samudra yang nampak tak bergerak di kejauhan.

Tempat itu hanya berjarak beberapa menit dari tempatnya bekerja. Melewati medan yang lumayan dengan tanjakan ekstrim namun bukan masalah untuk motornya. Dia tiba di sana sesaat sebelum matahari tenggelam dimulai, cahaya jingga membanjiri semua tempat membuatnya sejenak pusing karena warnanya yang tajam. Taehyung melangkah ke sudut, mencari posisi untuk dirinya sendiri duduk merenungi hidup, merenungi hatinya yang remuk oleh ulahnya sendiri.

Di kejauhan, beberapa anak sedang menyalakan api unggun di sekitar kemah-kemah mereka. Taehyung yang duduk sendirian berpikir mungkin menyenangkan jika berkemah sesekali—menikmati hidup, rileks. Terbangun tanpa beban, menyaksikan matahari terbit dari garis cakrawala.

Namun menyadari bahwa “terbangun tanpa beban” adalah sebuah kemewahan untuknya—kemewahan yang mustahil dibelinya dengan uang. Taehyung memalingkan wajahnya dari anak-anak yang berteriak-teriak, terbahak-bahak menikmati masa muda mereka yang belum dipenuhi ekspektasi-ekspektasi sinting tentang menjadi orang dewasa.

Dia dan Jimin selalu mengatakan, “Kita naik level, bukan menua!” tiap kali salah satu dari mereka berulang tahun. Melakukannya sejak SMA, bersiap bahwa semakin tinggi level mereka, semakin mendebarkan lawan mereka.

Taehyung yakin lawannya di level 36 adalah yang terkuat sejauh ini. Apakah ini level finalnya? Haruskah Taehyung menyerah dan keluar dari permainan karena tidak yakin apakah dia bisa melalui level 37 setelah ini? Taehyung mendesah, menatap langit yang bersemburat keunguan.

Cahaya remang-remang datang dari warung kecil di belakangnya—menyediakan MCK dan kebutuhan mendesak bagi para pekemah di bukit perkemahan itu. Dia tidak keberatan dilingkupi kegelapan sekarang karena dalam limpahan cahaya matahari pun dia merasa tersesat dan kebingungan. Kegelapan, di sisi lain, membuatnya merasa nyaman—dia tidak bisa melihat sekitarnya. Perasaan nyaman aneh yang nyatanya membuat Taehyung betah.

Sisa remah cahaya matahari berkilauan di lepas lautan di hadapan Taehyung. Dia duduk di tanah yang agak landai, turun ke bawah dilapisi rerumputan subur dan bebatuan kecil. Ada pepohonan, rimbun pandan berduri serta kaktus tajam yang berkerumun di bawah sana sebelum tepian tebing, dibentuk menjadi pagar pembatas alami oleh pengelola bukit. Beberapa kaktus sedang berbunga, berayun oleh angin laut yang berat.

Taehyung harus pulang sebelum ayahnya bingung, namun dia tidak memiliki energi untuk bangkit dan beranjak. Menyesal kenapa dia memutuskan membawa motornya pagi tadi. Dia menumpukan keningnya di lututnya yang dilipat, pesan Devy menari di kepalanya.

Wedding of the Year Karangasem.

Dia menghela napas tajam, menatap rumput di bawahnya.

Selama ini dia selalu memberi tahu dirinya sendiri bahwa inilah yang terbaik, hal paling benar yang dilakukannya. Dia menghindari Jeongguk seolah dia penderita lepra—dia memblokir nomor Jeongguk karena dia tahu, jika tidak dia akan langsung melenting kembali ke arahnya seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya.

Dia menahan dirinya, selalu menahan dirinya agar tidak mencari tahu tentang Jeongguk karena dia tahu dia akan kembali pada Jeongguk seketika itu juga. Dia harus bertahan, dia harus menjaga jarak karena dia tidak bisa kehilangan segala kenyamanan ini; tidak untuk ibunya, tidak untuk kakaknya. Mereka berdua sudah cukup tersiksa selama ini karena tingkah kekanakannya saat remaja, sekarang mereka merasa seperti di rumah.

Untuk pertama kali sejak berpuluh-puluh tahun, mereka diperlakukan selayaknya manusia oleh seluruh penghuni Puri—oleh semua saudara ayahnya. Tentu saja Taehyung tidak mau kemewahan ini lenyap. Tidak mau ibunya kembali diperlakukan tidak adil dan semena-mena. Melihat bagaimana ibunya sekarang nampak lebih rileks dan bahagia, tertawa dan tersenyum bersama Devy yang memperlakukannya dengan sangat hormat. Ibunya untuk pertama kali diperlakukan manusiawi oleh keluarganya sendiri.

Taehyung sungguh tidak bisa menggunakan ini untuk membayar keegoisannya demi mencintai Jeongguk.

Gus, sudah malam, lho? Gelap di sana.”

Taehyung mengerjap, menoleh ke warung dan menemukan ibu penjaga menatapnya cemas dari bawah lampu kuning temaram warungnya. Anak-anak pekemah sedang menyanyi di bawah gelapnya langit diterangi api unggun yang berkeretak. Sementara Taehyung meringkuk sendiri di sudut, mengasihani dirinya sendiri.

“Duduk di sini saja, mengobrol dengan Ibu.” Tawar ibu itu lagi, ramah dan tersenyum.

Terkadang, Taehyung benci sekali sikap ramah karena dia tidak ingin meladeni siapa pun, tidak memiliki energi untuk bersikap palsu dengan berbasa-basi. Dia hanya ingin duduk sendiri, mengasihani dirinya. Namun dia juga tidak bisa menyalahkan orang lain karena bersikap ramah padanya. Ibu itu mungkin khawatir karena Taehyung duduk di sana seperti orang putus asa, takut dia akan berlari menembus rimbun pandan berduri dan melompat ke laut. Maka dia mengajak Taehyung bicara.

Masih syukur dia tidak menelepon Basarnas.

Mungkin Taehyung sempat memikirkannya, melompat ke bawah sana dan melupakan segalanya. Tenggelam dalam amukan gelombang laut karena sungguh isi kepalanya riuh sekali hingga dia sendiri tidak bisa mengejar ketertinggalan dari otaknya yang melesat jauh—mengkhawatirkan masa depan, menyesali masa lalu.

Mungkin.... Dia berharap dia cukup berani untuk mengakhiri penderitaannya sendiri. Cukup berani untuk memutuskan dia tidak sanggup lagi, berani untuk menyerah. Namun nyatanya, dia tetap takut. Memikirkan ibunya, memikirkan kakaknya, memikirkan apa yang Puri mungkin lakukan pada mereka jika Taehyung tidak ada.

Maka dia urung. Bertahan hidup tanpa kehidupan demi ibu dan kakaknya. Mereka layak mendapatkan rasa hormat dan kebahagiaan setelah tahun-tahun muram yang mereka lalui membesarkan Taehyung. Ini saatnya Taehyung membalas kebaikan mereka.

“Oh, iya, Bu.” Katanya, tersenyum sebelum bangkit, meregangkan tubuhnya—membersihkan rerumputan dari pakaiannya. “Saya pulang saja.” Karena dia sudah menarik perhatian, berarti waktunya sendirian sudah habis.

Dia berdiri di sana, menatap lepas pantai sekali lagi. Menghirup udara lembab lautan yang asin, menatap sisa warna ungu yang menghampar di langit sebelum berbalik. Berpamitan pada ibu penjual setelah membeli sebotol air hanya karena dia tidak enak hati sebab beliau sudah perhatian padanya lalu melangkah ke tempat parkir melewati jalan setapak kecil berbatu yang diapit pepohonan.

Taehyung tidak terlalu menyadari perjalanan pulang setelahnya, dia mengemudi nyaris melamun. Berusaha keras mengendalikan otaknya agar tidak tergelincir dan kosong karena dia harus mengemudi melewati truk-truk pengangkut pasir yang berangkat ke Denpasar dari Karangasem.

Dia berhasil tiba di Puri dengan selamat walaupun nyaris tergelincir beberapa kali di jalanan yang licin karena pasir yang tumpah dari muatan truk. Beberapa kali harus berhenti di mini market karena kelelahan saat memfokuskan seluruh energinya untuk fokus berkendara—dia tidak pernah selelah itu saat mengendarai motor. Dia membeli susu cokelat kemasan kesukaannya dan berhenti di depan pendingin, menatap kemasan itu dengan sedih teringat hari di mana Jeongguk muncul dengan dua kotak susu untuk menghiburnya.

Taehyung menggertakkan giginya, menggenggam kotak susu itu dan berusaha melupakannya saat dia melangkah ke kasir untuk membayarnya. Dia menandaskan isinya dalam satu tegukan, tidak ingin membiarkan kenangan sialan mengambil alih isi kepalanya sebelum meremukkan kotaknya, melemparnya ke tong sampah lalu melanjutkan perjalanan.

Syukurlah dia tiba dengan selamat walaupun setitik hatinya berharap dia tiba-tiba menghilang begitu saja, namun jika teringat ibu dan kakaknya hanya memiliki dia untuk melindungi diri; Taehyung menghela napas, dia harus bertahan demi ibu dan kakaknya.

Posisinya memang berat, namun sejak dia jatuh cinta pada Jeongguk, terasa semakin dan semakin berat. Dia berpikir mungkin sebaiknya dia memang melepaskan pemuda itu, melepaskan satu beban dari bahunya sehingga dia bisa fokus pada hal-hal lain yang lebih penting dari keegoisannya sendiri. Dan setelah dia melepaskan Jeongguk, dia merasa lega—patah hati, tentu namun dia juga lega karena telah melepaskan satu tanggung jawab. Melepaskan satu beban pikiran dari kepalanya.

Dia berharap Jeongguk suatu hari nanti paham dengan keputusan ini.

“Oh, Dewa Betara! Tugung!”

Taehyung menoleh mendengar seruan kaget itu, dengan helm di tangannya menatap kakaknya yang nampak cemas dengan nampan terisi canang dan dupa yang beraroma harum.

“Oh, Mbok Gek.” Sapanya lesu, kelelahan karena berusaha fokus dengan begitu kuat hingga dia berkeringat dingin. “Maaf terlambat, tadi ada reservasi mendadak.” Dia turun dari motornya, mengunci stangnya lalu melepas sarung tangan dan masker yang menutup wajahnya.

Bahu Lakshmi merileks saat Taehyung menaiki undakan ke arahnya, mengulurkan lengannya untuk memeluk setengah tubuhnya lalu mencium keningnya—menghirup aroma lembut bebungaan dan air yang segar dari rambut Lakshmi. Aroma kakaknya selalu menenangkan Taehyung, membuatnya merasa kembali kuat—mengingatkan Taehyung untuk siapa dia bertahan hingga sejauh ini.

Mbok Gek kira ada apa karena Tugung tidak menjawab pesan,” desah kakaknya, sekarang nampak lega. “Dan kata Dayu, Tugung tidak ke Griya.”

Taehyung mengulaskan senyuman kecil, terlepas dari betapa remuk dan hancur dirinya saat ini. “Tidak apa-apa, kok.” Dia menyelipkan sarung tangan berkendaranya ke saku celananya. “Ajung menunggu?” Tanyanya.

Lakshmi menggeleng. “Mbok Gek bilang Tugung di Griya, jadi Ajung tidak bertanya-tanya lagi. Tidur lebih awal, agak pusing katanya.” Tambah Lakshmi membenahi dupa di nampannya agar asapnya tidak membuat matanya perih.

Hati Taehyung mencelos, “Ajung sakit?” Tanyanya.

Lakshmi menggeleng lagi, meletakkan satu canang di tengah halaman, menyelipkan setangkai dupa di sana sebelum memercikinya dengan air. Dia kemudian berdiri dan menjawab, “Tadi sudah makan dan minum obat. Seharusnya aman. Besok Mbok Gek panggilkan perawat Ajung untuk mengecek tensinya. Tadi tidur siang terlalu lama.”

Taehyung menghembuskan napas, sebenci apa pun dia pada ayahnya jika dia meninggal Taehyung tidak siap sama sekali. Dia tidak siap tidak memiliki benteng pelindung dari keluarga Puri. Selama ini, tidak ada yang berani mencercanya dengan kasar karena ayahnya—anak sulung Puri yang tegas dan berhati dingin. Auranya melindungi Taehyung, membuatnya aman. Tiap kali mendengar kondisi kesehatan ayahnya menurun, Taehyung merasa jiwanya dicabik—kehidupan dihisap sedikit dari tubuhnya.

Dia belum siap berdiri sendiri sebagai pewaris Puri, dia masih membutuhkan perlindungan ayahnya. Masih sangat membutuhkannya hingga dia kadang ketakutan jika harus menghadapi saudara-saudara ayahnya yang selalu mencemooh ibu dan kakaknya, selalu mencibir padanya karena dia tidak layak.

“Besok Tugung belikan vitamin.” Katanya sebelum menyugar rambutnya dan hendak beranjak, ingin mandi lalu berbaring karena tubuhnya nyeri sekali—otaknya lelah, terasa seperti bubur.

Namun Lakshmi menyentuh lengan atasnya, menatapnya dengan mata bulatnya yang indah dan besar—mata seorang penari yang lentik. “Tugung,” katanya dan Taehyung menyadari nada itu dengan pedih.

Ternyata dia memang harus menghadapi pembicaraan ini, tidak bisa berkelit sama sekali.

Maka dia merogoh ke dalam jaket berkendaranya, menarik ritsletingnya turun dan mengeluarkan undangan yang remuk karena digenggamnya terlalu kuat. Dia tidak berusaha melicinkannya sama sekali saat menyerahkannya ke Lakshmi yang menerimanya dengan kaget lalu beranjak, tidak menoleh lagi.

“Tanggal 12 bulan depan. Tugung ke sana bersama Dayu.” Tambahnya, memejamkan mata seraya melangkah—berusaha menekan sakit yang merebak di dadanya saat menangkap sekilas nama Jeongguk di undangan itu.

Pertunangan.

Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.

Taehyung menghela napas dalam-dalam.

“Iya,” bisik Lakshmi pecah, beberapa meter di belakangnya—nyaris tidak terdengar. “Mbok Gek dan Tugus juga diundang oleh Ajung Turah.”

Taehyung berhenti di tengah perjalanan menuju kamarnya dan menelan dengan sulit. Tentu saja kekasih kakaknya di undang, dia berasal dari griya yang cukup terpandang di Bali—semua orang mengenal kakeknya yang adalah Pedanda paling terkenal di Bali, paling sepuh dan paling senior. Taehyung tidak lagi terkejut kakaknya tahu lebih dulu darinya.

Dia membuka mulutnya, “Inikah undangan yang Mbok Gek maksud tadi pagi?” Tanyanya.

Lakshmi diam dan itu cukup untuk Taehyung.

Dia kembali beranjak, tidak menoleh sama sekali karena takut Lakshmi melihat air mata yang menyengat kedua matanya—dia bergegas menunduk, menyelip melompati tanaman ibunya untuk mencapai kamarnya dengan lebih cepat. Dia melepas sepatunya, bergegas masuk dan membanting pintu kamarnya.

Menguncinya karena dia sungguh tidak ingin siapa pun mengganggunya saat dia menangis mengasihani dirinya sendiri. Taehyung berdiri di sana, di kamarnya yang agak apak karena sejak pagi tertutup lalu menjatuhkan kunci motornya ke lantai. Dia menghela napas melalui mulutnya, dia memukul dadanya—kuat, berusaha mengenyahkan sakit yang bercokol di sana sebelum tersedak dan merosot ke lantai.

Pertunangan.

Anak Agung Ngurah Agung Jeongguk Satria Dj. dan Cokorda Agung Istri Mirah Pradnyewati.

Ini pilihan Taehyung, dia yang memutuskan melepaskan Jeongguk dari hidupnya—melepaskan salah satu beban dari bahunya antara keluarganya, Puri, atau Jeongguk. Dia tidak bisa melepaskan dua pertama, maka dia terpaksa mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi semua orang.

Jimin benar, dia melangkah ke tiang pancungnya sendiri—siap digantung demi kebahagiaan semua orang. Dia siap mati demi semua orang. Mau bagaimana lagi? Jika Bali masih menganut sistem monarki, dia jelas akan naik tahta sebentar lagi—menjadi seorang raja dan harus mengorbankan segalanya demi rakyatnya. Termasuk menikahi gadis sesuai dengan apa yang orang-orang inginkan untuk menjadi ratunya.

Tidak ada ruang untuk dirinya sendiri, dia harus mengedepankan kebutuhkan publik. Kepentingan orang banyak yang secara adat bergantung padanya. Taehyung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menelan isakannya karena tidak ingin ada yang mendengarnya menangis—mendengar betapa lemahnya dia, betapa calon pewaris Puri begitu lemah menangisi cintanya yang karam.

Serta pemilik hatinya yang sebentar lagi melabuhkan diri pada seseorang yang layak untuknya—fakta yang memeraskan jeruk nipis ke atas luka Taehyung yang menganga.

Jeongguk layak bahagia, layak mendapatkan banyak sekali hal yang Taehyung tidak bisa berikan. Dia harus ikhlas, dia harus bebesar hati karena ini keputusan Taehyung—tidak ada yang memaksanya untuk melepaskan Jeongguk, dia sendiri yang ingin. Maka tidak ada yang bisa disalahkan saat ini selain dirinya sendiri karena bersikap pengecut dengan melepaskan Jeongguk.

Mengusir pemuda itu dari hidupnya saat dialah satu-satunya alasan Taehyung bahagia dan 'hidup' belakangan ini.

Namun dia harus tetap hidup, dia harus memikirkan orang lain. Tidak bisa terus mengasihani dirinya sendiri. Dia akan bersikap lapang dada, berbesar hati untuk menghadiri acara itu dan menyalami Jeongguk—secara tulus mendoakan yang terbaik untuk masa depan Jeongguk. Mendoakan kebahagiaan tidak berujung karena Jeongguk layak mendapatkannya setelah semua luka dan penderitaan yang Taehyung berikan padanya.

Dia gemetar saat menatap tangannya sendiri sementara air mata meleleh di pipinya—berharap melihat hati yang Jeongguk titipkan padanya jutaan tahun lalu, berharap dia bisa percaya hati itu belum diambil kembali oleh Jeongguk untuk diberikan kepada orang lain.

Kepada... Mirah.

Dia terbatuk oleh nyeri yang menikam dadanya saat teringat gadis itu. Dia begitu mungil, menggemaskan dengan wajah cantik khas Bali. Giginya yang sedikit gingsul dan pembawaannya yang secerah matahari—dia nampak seperti istri yang baik karena dia selalu menatap Jeongguk dengan sopan, bicara padanya dengan sopan, tenang dan kalem. Tidak seperti Taehyung yang meledak-ledak dan begitu menjengkelkan.

Mirah tidak akan menyulitkan Jeongguk dengan sikap kekanakannya, dia akan mengimbangi Jeongguk yang tenang dengan baik. Mereka pasangan yang sangat serasi, Taehyung benci mengakuinya namun benar. Mereka serasi, baik fisik dan sifat. Mirah yang mungil seperti boneka porselen nampak sempurna bersanding dengan Jeongguk yang memancarkan kharisma seorang pemimpin yang tenang dan terstruktur.

Taehyung menghela napas, berusaha mengisi paru-parunya yang mengerut dengan udara. Dia berusaha berhenti memikirkan Mirah karena gadis itu menikam jantungnya dengan cara tidak manusiawi namun dia juga harus berusaha membiasakan dirinya agar tidak sakit nantinya—saat dia menghadiri pertunangan mereka.

Dia harus membiasakan diri pada sesuatu yang menyakitinya agar dia tidak lemah menghadapinya. Taehyung harus melakukannya, dia tidak bisa terus-terusan menangis mengasihani dirinya sendiri. Dia harus bangkit, harus berdiri lagi. Ini keputusannya maka Taehyung harus menerima semua risikonya.

Dia berdiri—sekarang dipenuhi amarah pada dirinya sendiri, beranjak ke arah cerminnya dan menatap dirinya sendiri. Dia nampak lelah, rambutnya kusut masai dan wajahnya merah padam dengan jejak sisa tangisan di wajahnya. Dia menyentuh rambutnya, melirik gunting di gelas yang digunakannya untuk menyimpan pulpen dan pensil.

Matanya terpaku ke wajahnya sendiri saat dia meraih gunting itu, membukanya dan menatap bilahnya yang berkilauan oleh cahaya lampu kamar. Dia menghela napas sebelum memejamkan mata dan mengangkat rambutnya. Menjulurkannya ke atas, dia kemudian membawa guntingnya ke sana.

Taehyung membuka matanya, menyelipkan rambut ke antara dua bilah guntingnya lalu menghela napas dalam-dalam.

Ayahnya membenci rambut ini, sudah berulang kali memaksanya memotong rambut itu. Maka mungkin inilah saatnya dia melakukannya. Tangannya gemetar saat menggenggam gunting itu.

Rambutnya adalah salah satu penanda pemberontakannya pada Puri. Semua anggota Puri—khususnya Tuniang membenci rambut panjangnya, Taehyung tidak tahu apa yang tidak dibenci Tuniang. Seperti perempuan katanya, memaksa Taehyung untuk memotongnya—menyindirnya bahkan mencelanya terang-terangan. Namun Taehyung bertahan, memberontak pada mereka semua. Melakukan segala hal yang diinginkannya dan mempertahankan rambut itu hanya untuk membuat semua orang jengkel padanya.

Memotongnya berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Puri. Menyerah kalah pada keinginan mereka dan tunduk semakin rendah di bawah kaki Tuniang yang menginjak ibunya, Lakshmi dan Taehyung.

Dia menatap matanya sendiri di cermin, meyakinkan dirinya sebelum perlahan menggerakkan jemarinya—memotong rambutnya. Terdengar suara kres keras dalam keheningan kamarnya saat rambutnya yang tebal perlahan terputus oleh mata pisau guntingnya—Taehyung membuka mulutnya, bernapas dari mulutnya saat tangannya kemudian bergerak di luar kekuasaannya sendiri.

Memotong habis rambut panjangnya.

Rambut yang selalu digenggam Jeongguk, diselipkan ke jemarinya untuk diciumi, membenamkan wajahnya di sana setelah orgasme, rambut yang dengan lembut dijalin Jeongguk agar tidak mengganggu Taehyung. Jeongguk selalu menyisir rambut Taehyung dengan jemarinya, mengaguminya dan mendesah seolah Taehyung adalah manusia terindah yang pernah ditemuinya.

Taehyung menghela napas tajam, melepaskan genggamannya pada rambut di tangannya dan membiarkan helaian rambutnya meluruh dari jemarinya.

Potongan rambut berjatuhan di lantai, di kakinya, menodai bahu dan pakaiannya. Dia terus memotongnya seperti orang sinting, tidak peduli lagi pada bentuk potongan rambutnya. Dia menyerahkan kebebasannya, menyerahkan segalanya pada Puri—Jeongguk sudah memutuskan bahagia, maka Taehyung juga harus bahagia. Dia mencengkeram rambutnya, memotongnya asal dan mengarahkan mata guntingnya ke mana saja selama ada rambut yang cukup untuk di potong di kepalanya.

Taehyung menghabisinya, hingga menyisakan rambut-rambut pendek kacau yang harus dirapikan oleh kapster berpengalaman jika tidak mau kepalanya pitak atau terluka karena guntingnya. Dia terengah, menurunkan tangannya yang memegang sisa rambutnya dan gunting yang kotor oleh potongan rambut. Dia nampak terekspos, gemetar oleh wajahnya sendiri yang sekarang nampak tegas dan... terang.

Membuatnya nyaris terserang perasaan yang berlawanan dengan klaustrofobia; takut pada perasaan terekspos itu. Kepalanya terasa ringan dan sejuk, wajahnya nampak dua kali lebih lelah dan mengerikan tanpa rambut untuk menyembunyikannya.

Taehyung baru saja mencukur habis tempat persembunyiannya.

Dia menunduk, menatap rambut yang berhamburan di kakinya saat matanya kembali kabur oleh air mata dan dia kembali menangis—kali ini, entah karena apa. Dia menjatuhkan gunting yang menghantam lantai dengan suara dentang keras, bergabung dengan rambutnya yang dipotong habis. Menandai penyerahan diri seutuhnya pada Puri, melepaskan Jeongguk dan keegoisannya sendiri demi kepentingan orang banyak.

Setengah hatinya menangis, menjerit menginginkan Jeongguk—begitu merindukannya hingga dia yakin jika dia tidak memblokir nomornya dan Jeongguk mengiriminya pesan, Taehyung akan seketika kembali padanya. Memeluknya dan melupakan segalanya, melupakan ibu dan kakaknya. Melupakan dirinya sendiri yang hidup sebagai pewaris Puri dan hidup sebagai Taehyung yang baru; yang jauh lebih sederhana dan jatuh cinta setengah mati pada Jeongguk.

Dia takut pada apa yang dirinya sendiri mampu lakukan jika dia tidak mengontrol dirinya. Taehyung takut dia akan melepaskan segalanya lalu kabur dari sini sementara dia punya tanggung jawab besar menantinya. Dia mengepalkan tangannya, dia harus bertahan.

Dia harus bertahan.

Taehyung harus bertahan.

Dia melakukan ini untuk mereka berdua, yakin Jeongguk suatu hari nanti akan berterima kasih padanya karena menyerah pada hubungan ini. Mereka akan baik-baik saja setelah sakit ini sembuh.

Taehyung yakin. Dia akan sembuh, dia akan kembali berbahagia—hidup di jalan yang berbeda dengan Jeongguk. Selama ini mereka melakukannya dengan baik-baik saja, tidak ada alasan mengapa mereka tidak bisa melakukannya lagi.

Taehyung hanya harus menangguhkan sakit ini sekarang, sebentar saja hingga dia sembuh dan lukanya mengering. Dia bisa melakukannya.

Dia bisa.

*